• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH MARKETING SOSIAL DAN OPTIMISME AMIL ZAKAT TERHADAP OPTIMALISASI FUNDRAISING DANA ZAKAT (Study on Amil Zakat Agency of Tangerang Selatan)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH MARKETING SOSIAL DAN OPTIMISME AMIL ZAKAT TERHADAP OPTIMALISASI FUNDRAISING DANA ZAKAT (Study on Amil Zakat Agency of Tangerang Selatan)"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH MARKETING SOSIAL

DAN OPTIMISME AMIL ZAKAT

TERHADAP OPTIMALISASI

FUNDRAISING

DANA ZAKAT

(Study on Amil Zakat Agency of Tangerang Selatan)

1

Yusrizal,

2

Abdul Ghafur,

3

Husni Sabri

1,2

Dosen Perbankan Syariah pada Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Tangerang, 3Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, IAIN Batusangkar.

Jl. Sudirman No.137 Kuburajo, Limakaum, Batusangkar, Sumatera Barat, Indonesia

ABSTRACT

Zakat is one of the pillars of Islam that has two dimensions at once, in addition to containing the dimension of worship, at the same time the charity has a social dimension, because zakat is one instrument that can be used to reduce the level of poverty. In essence, when Allah's word is understood (Q.S. At-Taubah: 103) zakat has a coercive nature, where zakat must be taken from

the muzakki by using the existing power, of course by the competent party. For the case of Indonesia, as the largest Muslim country in the world zakat has enormous potential, yet at the same time existing legislation has not regulated how zakat can be taken by force by authorized institution or institution. The existence of zakat amil agency is very important in the effort of collecting and distributing zakat funds. Amil zalcat agencies should be an institution that can be

an attraction for muzakki to want to be consistent and conscious in distributing zakat. Many factors affect the optimization of zakat fund collection, such as due to social marketing factor of

amil zakat institution, hard effort or optimism of zakat institution, education factor, faith, income level, attitudes toward property, and socialization conducted by zakat amil agency, and

other factors . The purpose of this research is to analyze the influence of social marketing and amil zakat optimism, to the optimization of fundraising of zakat fund. The approach used in this

research is quantitative approach, with causal relationship method. The number of samples used as many as 123 people in South Tangerang, with measuring tools using Likert scale to measure social marketing and optimism Amil Zakat. As for the test data analysis used in this study is multiple regression with the help of software SPSS 17. Results of data processing obtained regression value (R2) of 88.9% and 11.1% influenced by other factors, it states that

there is influence significant between social marketing and amil zakat optimism towards fundraising optimization of zakat fund in South Tangerang City.

Keywords: marketing social, optimisme lembaga zakat, optimalisasi fundraising dana zakat, bazda.

PENDAHULUAN

ardhawi (1966), dalam bukunya Musykilatul Faqri wa Kaifa 'Aalajaha al-Islam

menyampaikan pendapatnya bahwasalah satu upaya yang fundamental untuk mengentaskan kemiskinan adalah dengan cara mengoptimalkan pelaksanaan zakat. Hal itu dikarenakan zakat adalah sumber dana yang tidak akan pernah kering dan habis. Maksudnya, selama umat Islam memiliki kesadaran untuk berzakat, dana zakat tersebut mampu dikelola dengan baik, maka dana zakat akan selalu ada serta bermanfaat untuk kepentingan dan kemaslahatan masyarakat.

Munawir (1997) Secara bahasa zakat berasal dari kata (اوكز و– ءاكز– اكز) artinya امن tumbuh dan berkembang, داز bertambah danرهط menyucikan, membersihkan. ةاكزلا merupakan jamak dari

(2)

kataتاوكزو اكز. Lebih lanjut, Qardhawi (2010) menuliskan bahwa zakat dalam istilah fiqih berarti sejumlah harta tertentu yang diwajibkan Allah untuk diserahkan kepada orang-orang yang berhak. Nawawi mengutip pendapat wahidi bahwa jumlah yang dikeluarkan dari kekayaan itu disebut zakat karena yang dikeluakan itu menambah banyak, membuat lebih berarti, dan melindungi kekayaan itu dari kebinasaan.

Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang memiliki dua dimensi sekaligus. Satu sisi zakat merupakan sebagai wujud ibadah dan kepatuhan hamba pada Allah SWT (hablum minallah), dan pada saat yang bersamaan zakat mengandung dimensi sosial, dimana ketika seorang muslim telah membayarkan zakatnya, berarti ia telah mengurangi penderitaan dan mensejahterakan orang lain (hablum minannas).

Potensi Zakat

Indonesia merupakan salah satu negara dengan mayoritas penduduk Muslim yaitu sejumlah 216,66 juta penduduk atau dengan persentase Muslim sebesar 85 persen dari total populasi (BPS, 2015). Fakta ini menyiratkan bahwa zakat memiliki potensi besar dan dapat berkontribusi dalam mengurangi kemiskinan. Data zakat, infaq, dan sedekah (ZIS) di Indonesia menunjukkan bahwa terdapat kenaikan jumlah penghimpunan zakat dari tahun 2002 hingga 2015. Namun merujuk pada lembaga survei Amerika Serikat, Pew Research Center (2010), hasil studi yang bertajuk “Mapping the Global Muslim Population: A Report on the Size and Distribution of the World's Muslim Population”, ditemukan bahwa Indonesia adalah negara dengan populasi muslim terbesar

di dunia dengan 203 juta jiwa kaum Muslim, atau sekitar 13% dari total penduduk Muslim dunia. Jumlah ini menunjukkan bahwa Muslim Indonesia memiliki potensi yang luar biasa besar, baik di bidang sumber daya manusia, politik, keamanan, dan tentunya di bidang ekonomi. Bidang ekonomi, berarti termasuk di dalamnya zakat.

Menurut penelitian BAZNAS, potensi zakat nasional pada tahun 2015 sudah mencapai Rp 286 triliun. Angka ini dihasilkan dengan menggunakan metode ekstrapolasi yang mempertimbangkan pertumbuhan PDB pada tahun-tahun sebelumnya. Data terkini menunjukkan bahwa terdapat kesenjangan yang cukup tinggi antara potensi zakat dengan penghimpunan dana zakatnya. Hal ini dapat dilihat dari data aktual penghimpunan zakat, infaq dan sedekah nasional oleh OPZ resmi pada tahun 2015 yang baru mencapai Rp 3,7 triliun atau kurang dari 1,3 persen potensinya. Walaupun setiap tahunnya mengalami peningkatan dari nominal, namun bila dipersenkan, jumlah tersebut masih di bawah angka 5%.

Fenomena Zakat Indonesia

Bila dipahami lebih dalam dalam surat At-Taubah (9) ayat 103:

Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan mensucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya do’amu itu (menumbuhkan) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar, dan Maha Mengetahui”.

Ayat ini mengandung makna bahwa zakat harus diambil dari para muzakki dengan menggunakan kekuatan yang ada, tentunya oleh pihak yang mempunyai kompetensi. Lebih lanjut, ayat di atas menunjukkan bahwa konsep zakat harus diambil oleh lembaga atau institusi yang berwenang, dalam hal ini adalah pemerintah (ulil amri).

Dalam mengejawantahkan ayat di atas, pemerintah sebagai ulil amri telah mengeluarkan UU No. 38 tahun 1999 tentang pengelolaan zakat yang dijabarkan dengan keputusan Menteri

(3)

Agama RI No. 581 tahun 1999 tersebut, ini berarti bahwa zakat sudah mempunyai payung hukum yang jelas serta lembaga dan badan amil zakat sudah diakui eksistensinya di negara Indonesia ini.

Namun, bila merujuk pada hasil survei yang dilakukan oleh Center For The Study Of Religion And Culture (CSRC) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2002, dimana ditemukan hasil bahwa pola penyaluran zakat masyarakat masih tradisional dan berpatok pada kebiasaan. Berdasarkan data CSRC, hanya 5,3 persen masyarakat yang membayar zakat maal mereka ke lembaga-lembaga amil zakat. Sebesar 60 persen lebih memilih menyalurkan zakat mereka secara langsung baik ke masjid ataupun individu mustahik. Bahkan, sebanyak 85 persen masyarakat beralasan merasa lebih puas menyerahkan langsung ke mustahik

dari pada menyalurkannya ke lembaga.

Lebih lanjut hasil survei yang dilakukan oleh UIN Jakarta (2007), menggambarkan lembaga amil zakat ternyata belum bisa meyakinkan publik bahwa pengelolaan LAZ sudah dilakukan dengan semestinya, terutama dalam hal kualitas pelayanan yang diberikan oleh lembaga amil. Dalam surveinya UIN Jakarta menemukan sebesar 97% menghendaki LAZ bekerja secara akuntabel dan transparan. Tuntutan agar publik diberi akses untuk melakukan pengawasan terhadap dana yang dikelola 90%. Pemuatan laporan keuangan di media massa 92%. Perlunya mendata para donator 88%, dan keengganan masyarakat menyalurkan zakat yang tidak dikenal baik akuntabilitasnya sebesar 75%, bahkan mereka ingin memastikan bahwa dana publik yang disalurkan memang kepada yang berhak sebesar 63%.

Dari beberapa hasil survei di atas, terlihat ada beberapa persoalan mendasar yang menyebabkan terjadinya ketimpangan antara potensi zakat dengan dana zakat yang terkumpul, di antaranya: 1). Regulasi yang sudah dibuat oleh pemerintah melalui UU No. 38 tahun 1999 belum dirasakan sempurna karena baru sebatas mengatur bagaimana mengelola dana zakat, namun belum menyentuh persoalan yang lebih esensial yaitu bagaimana mengumpulkan zakat dari

muzakki, serta sanksi apa yang diberikan kepada yang enggan untuk menunaikan zakatnya. 2). Lembaga dan badan amil zakat yang telah ada, belum memberikan pelayanan yang semestinya terhadap masyarakat. Sehingga hal ini berdampak pada rendahnya kepercayaan (trust) masyarakat yang berujung pada keputusan untuk menyalurkan zakatnya kepada mustahik secara langsung bila dibandingkan ke lembaga atau badan amil zakat.

Berdasarkan hal di atas, peneliti ingin meneliti pengaruh dari marketing social dan optimisme badan amil zakat terhadap optimalisasi fundraising dana zakat.

Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah

1. Apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara marketing sosial lembaga zakat terhadap optimalisasi fundraising dana zakat?

2. Apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara optimisme lembaga zakat terhadap optimalisasi fundraising dana zakat?

3. Apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara marketing sosial dan optimisme lembaga zakat, terhadap optimalisasi fundraising dana zakat?

Tujuan Penelitian

Tujuan dalam penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh marketing sosial lembaga zakat terhadap optimalisasi fundraising dana zakat

2. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh optimisme lembaga zakat terhadap optimalisasi

fundraising dana zakat

3. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh, marketing sosial dan optimisme lembaga zakat terhadap optimalisasi fundraising dana zakat

(4)

Kontribusi Penelitian

Manfaat teoritis adalah penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan keilmuan bagi perkembangan ilmu pengetahuan di bidang ekonomi Islam terutama dalam kajian zakat.

Manfaat praktis dalam penelitian ini adalah

1. Penelitian ini diharapkan dapat mengungkap gambaran marketing sosial dan optimisme lembaga zakat terhadap optimalisasi fundraising dana zakat.

2. Hasil penelitian ini diharapkan bagi seluruh lembaga zakat untuk dapat meningkatkan marketing sosial dan optimisme sebagai tolok ukur bagi optimalisasi fundraising dana zakat.

LANDASAN TEORI Marketing Sosial

Marketing sosialmerupakan aplikasi strategi pemasaran komersil untuk ‘menjual’ gagasan dalam rangka mengubah sebuah paradigma yang berkembang pada masyarakat, terutama dalam manajemen yang mencakup analisa, perencanaan, implementasi dan pengawasan. Social marketing mempunyai karakter dan fungsi yang sama dengan pemasaran, tetapi penekanannya kepada bagaimana melakukan perubahan yang signifikan kepada masyarakat untuk melakukan sesuatu (Kotler, 2004).

Adapun yang menjadi unsur-unsur dari marketing sosial adalah (product, place, price, promotion).

Optimisme

Seligman (1991) menyatakan bahwa optimisme adalah suatu pandangan secara menyeluruh, melihat hal yang baik, berpikir positif dan mudah memberikan makna bagi diri. Individu yang optimis mampu menghasilkan sesuatu yang lebih baik dari yang telah lalu, tidak takut pada kegagalan, dan berusaha untuk tetap bangkit mencoba lagi bila kembali gagal.

Pengertian optimisme menurut Segestrom (1998) adalah cara berpikir yang positif dan realistis dalam memandang suatu masalah. Berpikir positif adalah berusaha mencapai hal terbaik dari keadaan terburuk. Lopez dan Snyder (2003) berpendapat optimisme adalah suatu harapan yang ada pada individu bahwa sesuatu akan berjalan menuju kearah kebaikan. Perasaan optimisme membaca individu pada tujuan yang diinginkan, yakni percaya pada diri dan kemampuan yang dimiliki. Sikap optimis menjadikan seseorang keluar dengan cepat dari permasalahan yang dihadapi karena adanya pemikiran dan perasaan memiliki kemampuan, juga didukung anggapan bahwa setiap orang memiliki keberuntungan sendiri-sendiri.

Dasar dari optimisme adalah bagaimana cara berpikir seseorang ketika menghadapi suatu masalah (Seligman,1995). Optimisme merupakan bagaimana seseorang bereaksi terhadap kegagalan sosial dalam kehidupannya (Myers, 2008). Dalam keadaan yang memicu stress pada diri seseorang terkadang membuat hilangnya semangat untuk berusaha, akan tetapi adanya rasa optimis yang muncul dapat merubah pencapaian negatif untuk hasil yang lebih maksimal atau mampu membahagiakan individu.

Sedangkan menurut Amirta (2008), optimisme adalah wujud prasangka baik kepada Tuhan atas pertolongan-Nya. Orang yang memiliki sikap optimistis akan tetap berdiri tegak dan kokoh ketika penderitaan menimpanya. Mereka mengambil cara pandang yang positif karena mereka yakin bahwa Tuhan senantiasa memberikan kebaikan dan bukan menyengsarakan. Dan menurut Weinstein (1980), optimisme adalah merupakan kecenderungan seseorang untuk meyakini bahwa mereka akan lebih banyak mengalami suatu peristiwa yang baik daripada mengalami suatu peristiwa yang buruk dibandingkan orang lain.

Konseptual optimisme yang digunakan dalam penelitian ini berlandaskan pada teori optimisme dari M. Seligman (2006). Konsep ini digunakan dengan pertimbangan bahwa kajian optimisme yang disampaikan oleh Seligman memiliki dimensi yang komprehensif dan jelas membedakan antara gambaran optimisme dengan pesimisme

(5)

Dimensi-dimensi Optimisme

Menurut Seligman (2005) terdapat beberapa cara individu memandang suatu peristiwa berhubungan erat dengan gaya penjelasan (explanatory style), yaitu:

a. Permanence

Gaya penjelasan peristiwa ini menggambarkan bagaimana individu melihat peristiwa berdasarkan waktu, yaitu bersifat sementara (temporary) dan menetap (parmanence). Orang-orang yang mudah menyerah (pesimis) percaya bahwa penyebab kejadian-kejadian buruk yang menimpa mereka bersifat permanen (kejadian itu akan terus berlangsung) selalu hadir mempengaruhi hidup mereka. Orang-orang yang melawan ketidakberdayaan (optimis) percaya bahwa penyebab kejadian buruk itu bersifat sementara.

Menurut Seligman (2005), gaya optimistis terhadap peristiwa baik berlawanan dengan gaya optimistis terhadap peristiwa buruk. Orang orang yang percaya bahwa peristiwa baik memiliki penyebab yang permanen lebih optimistis daripada mereka yang percaya bahwa penyebabnya temporer. Orang-orang yang optimistis menerangkan peristiwa dengan mengaitkannya dengan penyebab permanen, contohnya watak dan kemampuan. Orang yang pesimistis menyebutkan penyebab sementara seperti suasana hati dan usaha. Pervasive (spesific versus universal)

b. Personalization

Merupakan gaya penjelasan masalah yang berkaitan dengan sumber penyebab terjadinya hal buruk dari internal (dari dalam diri) atau eksternal (luar diri). Individu yang optimis akan memandang kejadian baik yang menimpa mereka sebagai sesuatu yang berasal dari dalam diri mereka sendiri (internal) dan menganggap kejadian buruk yang menimpa mereka sebagai sesuatu yang berasal dari luar diri mereka (eksternal).

Fundraising

Fundraising berakar dan dikenal pada lembaga nirlaba, dimana penghimpunan dana dimaksudkan untuk membantu pencapaian tujuan lembaga. Fundraising sendiri dalam kamus bahasa Inggris –Indonesia adalah pengumpulan dana, sedangkan orang yang mengumpulkan dana disebut fundraiser. Fundraising juga dapat diartikan sebagai kegiatan dalam rangka menghimpun dana dari masyarakat dan sumber daya lainnya dari masyarakat (baik individu, kelompok, organisasi, perusahaan ataupun pemerintah) yang akan digunakan untuk membiayai program dan kegiatan operasional organisasi sehingga mencapai tujuannya. Fundraising dalam pengertian ini memiliki ruang lingkup lebih luas fundraising tidak hanya mengumpulkan dana semata, melainkan dalam bentuk barangpun bisa yang bisa dimanfaatkan untuk keperluan lembaga.

Hal ini juga berarti bahwa fundraising pada sebuah lembaga zakat dapat diartikan sebagai suatu upaya atau proses kegiatan dalam rangka menghimpun dana zakat, infaq, dan shodaqah serta sumber daya lainnya dari masyarakat baik individu, kelompok, organisasi dan perusahaan yang akan disalurkan dan didayagunakan untuk mustahik.

Dari pengertian di atas kedudukan fundraising menjadi tidak dapat ditawar-tawar lagi mengingat, dalam sejarah perkembangan pengelolaan nirlaba, khususnya lembaga-lembaga zakat terdapat hubungan erat antara kemampuan menggalang dana (fundraising) dengan jumlah yang dihimpun sekaligus kemampuan aktivitas lembaga nirlaba. Dari sini, dapat diartikan dapat tidaknya sebuah organisasi nirlaba tetap eksis dengan aktivitas–aktivitasnya sangat bergantung pada proses fundraising yang selanjutnya dana yang diperoleh nantinya akan diperuntukkan untuk membiayai kegiatan, program dan operasional lembaga.

Pentingnya fundraising sendiri dapat dielaborasi lebih jauh, setidaknya pada empat urgensi

fundraising dalam sebuah komunitas sebagaimana dikemukakan Northon dalam bukunya The World Wide Fundraiser’s Handbook. A Guide to Fundraising for NGOs and Voluntary Organizations, yaitu; Pertama, setiap komunitas membutuhkan dana untuk membiayai operasional lembaganya agar dapat terus menerus hidup. Dana sangat penting bagi lembaga, ibarat tanpa dana, lembaga akan mati (tanpa aktivitas). Karena seluruh kegiatan yang ada dalam

(6)

sebuah lembaga tidak bisa dinamis apabila tidak memiliki dana. Perawatan lembaga, gaji karyawan, pembelian peralatan kantor dan masih banyak kebutuhan lain yang semuanya membutuhkan biaya yang disebut dana. Kedua, Lembaga kemasyarakatan membutuhkan dana untuk melakukan pengembangan dan memperbesar skala organisasi dan programnya. Lembaga yang bermutu adalah lembaga yang senantiasa ingin menangkap tantangan-tantangan masa depan, sehingga perlu memperluas dan senantiasa mengembangkan kegiatan, misalnya meningkatkan layanan-layanan yang bermutu, memperluas aktifitas secara teritorial ke daerah-daerah lain, melakukan riset-riset, kampanye, mengadakan eksperimen dan mencari terobosan-terobosan, semua ini membutuhkan suku cadang dana yang sangat besar. Ketiga; membangun landasan pendukung dan mengurangi hidup tergantung. Mengadakan program fundraising

bukanlah semata-mata mencari dana (uang), tetapi juga untuk mendapatkan sumber daya nondana, menggalang dukungan publik, menciptakan image,dan menciptakansimpati dari masyarakat. Sehingga yang kita dapatkan dari sumber donor tidak hanya uang tetapi bisa menjadi relawan, mengajak seseorang untuk ikut mendukung kegiatan organisasi kita. Banyak juga organisasi yang dibiayai oleh donor besar, tetapi ini menciptakan ketergantungan kepada sumber donor tersebut. Apabila terjadi pemberhentian bantuan darisumber donor, maka hal ini akan menimbulkan krisis keuangan. Sehingga lembaga akan kesulitan melakukan agenda kegiatannya. Oleh karena itulandasan untuk menggalang dana (fundraising) dengan cara mencari donor-donor lain dan menciptakan sumber penghasilan lain dapat mengurangi ketergantungan kepada satu pihak. Keempat; dana bagi lembaga kemasyarakatan sangat penting karena untuk memperkuat posisi tawar, menciptakan organisasi/lembaga yang efektif dan kokoh yang mampu hidup terus menerus dari tahun ke tahun di masa depan. Lembaga kemasyarakatan akan berdiri kokoh apabila bisa membangun jaringan, menciptakan kelompok donor yang besar dan aktif, mencari mitrak kerjasama sebanyak mungkin untuk bersedia memberi dukungan selama jangka waktu yang panjang. Misalnya mengadakan malam dana, menghimpun modal organisasi, menciptakan dana abadi (corpus fund), serta menyusun program-program kegiatan dalam rangka penggalangan dana. Mengingat urgensi fundraising tersebut di atas pelbagai lembaga nirlaba berupaya mencanangkan starategi fundraising yang kreatif dan inovatif demi menghimpun donasi sebanyak-banyaknya demi kelancaran program-program organisasi .Setidaknya terdapat dua strategi atau model utama yangdiperguanakan oleh lembaga nirlaba terutama lembaga zakat di tanah dalam proses fundraising , pertama, metode fundraising langsung (direct fundraising), dengan menggunakan teknik atau cara yang melibatkanpartisipasi donatur secara langsung, yaitu bentuk-bentuk fundraising dimana proses interaksi dan daya akomodasi terhadap respon donator bisa seketika (langsung) dilakukan. Apabila dalam diri donatur muncul keinginan untuk melakukan donasi setelah mendapatkan promosi dari fundraiser lembaga, maka segera dapat dilakukan dengan mudah dan semuakelengkapan informasi yang diperlukan untuk melakukan donasi sudah tersedia. Sebagai contoh dari metode adalah: direct mail, direct advertising,

telefundraising dan presentasi langsung. Kedua, Metode Fundraising tidak langsung (Indirect Fundraising).Metode tidak langsung adalah suatu metode yang menggunakan teknik-teknikatau cara-cara yang tidak melibatkan partisipasi donatur secara langsung, yaitu bentuk-bentuk

fundraising dimana tidak dilakukan dengan memberikan daya akomodasi langsung terhadap respon donatur seketika. Metode ini misalnya dilakukan dengan cara promosi yang mengarah kepada pembentukan citra lembaga yang kuat, tanpa secara khusus diarahkan untuk menjadi transaksi donasi pada saat itu. Sebagai contoh dari metode ini adalah: advertorial, Image Campaign, dan penyelenggaraan Event.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Pendekatan tersebut dipilih dengan pertimbangan bahwa data yang diperoleh dari penelitian akan dilakukan pengukuran dan pengujian secara analisa statistik. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah

causal relationship, yaitu jenis penelitian yang digunakan untuk melihat dan mengetahui kaitan sebab akibat atau pengaruh dari variabel independen terhadap variabel dependen. Dan akan dilihat

(7)

pengaruh marketing sosial dan dan optimisme amil zakat terhadap optimalisasi fundraising dana zakat.

Penelitian ini bersifat minimal studying event as they normally occure. Artinya penelitian ini tidak melakukan pemberian intervensi ataupun treatment terlebih dahulu pada subjek penelitian (non-experimental design). Sedangkan untuk studi setting dalam penelitian ini bersifat alamiah atau lazim disebut non contrived. Jumlah sampel minimal yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebanyak 123 orang.

Adapun variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas 2 (dua) variabel, yaitu variabel bebas atau independent variable, yaitu: marketing sosial danoptimisme amil zakat. Dan variabel terikat atau dependent variable, yaitu optimalisasi fundraising dana zakat

Uji instrumen dalam penelitian ini terdiri dari uji validitas dengan menggunakan content validity dan uji reliabilitas dengan menggunakan uji Alpha Cronchbach, serta uji discriminant item (daya pembeda item) dengan mengkorelasikan skor antar item dengan skor total item.

Sedangkan untuk pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan rumus regresi linier berganda yaitu untuk mencari pengaruh marketing sosial, optimisme Amil Zakat, terhadap optimalisasi dana zakat. Lalu peneliti menggunakan analisis regresi untuk mengetahui lebih jauh hubungan variabel dengan cara mencari nilai koefisien determinasi. Koefisien determinasi merupakan suatu nilai yang menggambarkan seberapa besar perubahan antar variasi variabel independen. Untuk penghitungannya dilakukan dengan menggunakan program SPSS versi 17.

HASIL PENELITIAN

Teknis komputasi regresi linier berganda dilakukan dengan beberapa tahapan berikut; 1. Menghitung pengaruh marketing sosial terhadap optimalisasi fundraising dana zakat (R²1).

Dari komputasi dengan model regresi linier dapat diketahui bahwa pengaruh marketing sosial terhadap optimalisasi fundraising dana zakat adalah 0.637. Dari sini dapat disimpulkan bahwa 63,7% variasi optimalisasi fundraising dana zakat dijelaskan oleh marketing sosial. Dengan mengacu pada nilai F = 760.51 yang memiliki nilai sig. ((0.000) > 0.05)) dapat disimpulkan bahwa pengaruh marketing sosial signifikan.

2. Menghitung pengaruh optimisme terhadap optimalisasi fundraising dana zakat (R²2). Dari

komputasi dengan model regresi linier dapat diketahui bahwa pengaruh optimisme terhadap optimalisasi fundraising dana zakat adalah 0.263. Dari sini dapat disimpulkan bahwa 26,3 % variasi fundraising dapat dijelaskan oleh optimisme. Dengan mengacu pada nilai F = 0.540 yang memiliki nilai sig. ((0.000) > 0.05) dapat disimpulkan bahwa pengaruh optimisme signifikan.

3. Menghitung R2

1.2.3 untuk persamaan regresi Y’ = a + b1X1 + b2X2 +b3+ e, di mana X1 adalah

Marketing sosial, X2 adalah optimisme amil zakat. Dalam komputasi dengan program SPSS

diperoleh hasil sebagai berikut;

Model Summary Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 .846a .889 .886 16.47687

a. Predictors: (Constant), Marketing Sosial dan Optimisme

R2

1.2.3 (0.001) menunjukkan bahwa 88.9% optimalisasi fundraising dana zakat yang dapat

dijelaskan dengan marketing sosial, dan optimisme amil zakat. Dengan demikian 11,1% optimalisasi fundraising dana zakat dipengaruhi oleh variabel lain.

(8)

ANOVAb

Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.

1 Regression 343028.581 3 114342.860 421.172 .000a Residual 40451.589 149 271.487

Total 383480.170 152

a. Predictors: (Constant), marketing sosial dan optimisme b. Dependent Variable: optimalisasi fundraising dana zakat

Dari Ftest didapat Fobserved = 0,421.172 dengan tingkat signifikansi sebesar 0.000. Oleh

karena nilai probabilitas (0,00) lebih kecil dari nilai alpha (0,05) maka model regresi ini dapat untuk memprediksi optimalisasi fundraising. Dengan kata lain marketing sosial, dan optimisme amil zakat dapat memprediksi optimalisasi fundraising dana zakat.

Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 38.893 9.928 3.918 .000 Marketing Social .452 .064 .468 7.012 .000 Optimisme .340- .095 .098- 3.585- .000

a. Dependent Variable: optimalisasi fundraising dana zakat

Optimalisasi fundraising = 38,893 + 0,452*X1 - 0,34*X2 + 0.515*X3, di mana X1 adalah

marketing sosial, X2 adalah optimisme amil zakat. Dari persamaan regresi dapat diketahui tanpa

ada Marketing sosial, dan optimisme amil zakat maka akan didapati Optimalisasi fundraising

dana zakat sebesar 38,893 (Y’= 38,893 + 0,452*0 - 0,34*0+0.515*0).

Dari penghitungan analisa data di atas, maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis penelitian diterima, dengan rincian sebagai berikut:

1. Ha diterima, artinya terdapat pengaruh yang signifikan antara marketing sosial amil zakat terhadap optimalisasi fundraising dana zakat

2. Ha diterima Terdapat pengaruh yang signifikan antara optimisme amil zakat dengan optimalisasi fundraising dana zakat

3. Ha diterima, artinya marketing sosial dan optimisme amil zakat secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap optimalisasi fundraising dana zakat

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil analisa data serta pengujian hipotesis yang telah ditemukan pada hasil penelitian di atas, maka kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: (i). Ada pengaruh yang signifikan antara marketing sosial dan optimisme amil zakat terhadap optimalisasi

fundraising dana zakat di Kota Tangerang Selatan, baik secara parsial maupun secara simultan; (ii). Terdapat hubungan yang negatif dan signifikan pada marketing sosial. Hal ini berarti bahwa optimalisasi fundraising dana zakat dapat ditingkatkan melalui optimisme amil zakat,

(9)

dibandingkan dengan marketing sosial. Dan marketing sosial amil zakat ini memberikan kontribusi yang lebih besar dan signifikan terhadap optimalisasi fundraising dana zakat.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’anul Karim, 1991, Terjemahan Bahasa Indonesia, Majelis Ulama Indonesia, Jakarta Abdurrahman Qadir, 1998, “Zakat dalam Dimensi Mahdhah dan Sosial”, RajaGrafindo Persada,

Jakarta

Abdul Rahman Shaleh, Abdul Muhbib Wahab, 2004, “Psikologi Suatu Pengantar” (dalam perspektif Islam), Prenada Media, Jakarta

Afzalurrahman, 1996, “Doktrin Ekonomi Islam” Jilid 3, Edisi terjemahan, Dana Bhakti Wakaf, Yogyakarta

Agus Widarjono, 2007, “Ekonometrika: Teori dan Aplikasi untuk Ekonomi dan Bisnis”, Edisi Kedua, Ekonisia, Yogyakarta

Ahmad Radzuan bin Ghazali, 2009, “Kesan Tahap Keagamaan dan Akuntabiliti Pribadi terhadap Niat Membayar Zakat Perniagaan di Kalangan Kontraktor Perniagaan Tunggal Pulau Pinang Malaysia”, Tesis: Universiti Sains Malaysia, Malaysia

Ahmad Wahid, dan Mohammad Adnan, 2006, “Peswastaan Institusi Zakat dan Kesannya terhadap Pembayaran secara Formal di Malaysia”, Artikel pada Jurnal Pusat Pengkajian Ekonomi, UKM, Malaysia.

Ajzen, 1988, ”Attitudes, Personality and Behavior”, Dorsey, Chicago

April Purwanto (2009), Manajemen Fundraising bagi Organisasi Pengelola Zakat, Yogyakarta: Sukses.

Bitta, Albert J. Della & David L. Loudon, 1993, “Consumer Behavior Concepts and Applications”, McGraw Hill Inc, US

Budi Budiman, 2003, “The Potential of ZIS Fund as an Instrument in Islamic Economy: Its Theory and Management Implementation”, IQTISAD Journal of Islamic Economics, Vol. 4, No. 2, Rajab 1424 H/September 2003

Chaider S. Bamualim, & Irfan Abu Bakar, 2005, “Revitalisasi Filantropi Islam: Studi Kasus Lembaga Zakat dan Wakaf di Indonesia”, PBB UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

Chaplin, C.P., 2000, “Kamus Lengkap Psikologi”, Rajawali Press, Jakarta

Didin Hafidhuddin, 2004, “Zakat dalam Perekonomian Modern”, Gema Insani, Jakarta

Eko Suprayitno, 2004, “Pengaruh Zakat Terhadap Makro Ekonomi di Indonesia”, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta

Gerungan, 2004, “Psikologi Sosial”, Refika Aditama, Bandung

Hairunnizam Wahid, Mohd Ali Noor, Sanep Ahmad, 2006, “Kesadaran Membayar Zakat: Apakah Faktor Penentunya?” Artikel pada Jurnal Pusat Pengajian Ekonomi, UKM, Malaysia

http://pustakaotonomis.org., 2007 http://www.muslimtionghoa.com., 2009

Hertanto Widodo, Teten Kustiawan, 2002, “Akuntasi dan Manajemen Keuangan untuk Organisasi Pengelola Zakat”, Institut Manajemen, Jakarta

Hill, Arthur, V., 1992, “Field Service Management: An Intregrate Approach to Increasing Customer Satisfaction”,Homewood, Illionis Business One Irwin

(10)

Ina Rahmawati, 2004, “Hubungan antara Sikap terhadap Uang, Kepuasan Kerja dan Kepuasan Hidup pada Karyawan Bank di Jakarta”, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Depok, Indonesia

Kotler, Philip., and Amstrong, 1991, “ThePrinciples of Marketing”, CV. Intermedia & Simon Schuster (Asia) Pte, Ltd, Jakarta

Kotler, P., 2000, “Management: The Millennium Edition”, Upper Saddle River, N.J., Prentice Hall International, Inc.

Kuncono, 2006, “Bahan Ajar Aplikasi Program SPSS”, YAI, Jakarta

Levesque, Joseph D., 2001, “The Human Resource Problem Solver’s Handbook”, Mc. Graw Hill Int. Ed, New York

Masdar Farid Mas’udi, 1991, “Agama Keadilan Risalah Zakat (Pajak) dalam Islam”, Pustaka

Firdaus, Jakarta

Mulya E. Siregar, 2007, “Zakat dan Pola Konsumsi yang Islami”, Artikel, Vibiznews.com Neiger, Brad L., Rosemary Thackeray., Michael D. Barnes., James F. McKenzie., 2003,

Positioning Social Marketing as a Planning Process for Health Education”, American Journal of Health Studies: 18(2/3)

Parasuraman, A. Valecia, Zeithaml, and Berry, Leonard., 1990, “Delivering Quality Service – Balancing Customer Perseption”, The Free Press, New York

Pew Research Center, 2010, “Mapping the Global Muslim Population: A Report on the Size and Distribution of the World's Muslim Population”, http://IslamOnline.net

Qardhawi, Yusuf, 1973, “Fiqhuz-Zakat”, Terj. Salman Harun, Didin Hafidhuddin, Hasanuddin. 2007, “Hukum Zakat”, Edisi 10, Litera Antar Nusa, Jakarta

---, 1966, “Musykilatul Faqri Wakaifa Ilm Juhal Aslam”, Al Aqsa, Beirut Sarlito W. Sarwono, 2006, “Psikologi Sosial”, Balai Pustaka, Jakarta

Supramono, & J.O. Haryanto, 2005, “Desain Proposal Penelitian Studi Pemasaran”, Andi, Yogyakarta

Sutisna, 2002, “Perilaku Konsumen dan Komunikasi Pemasaran”, Remaja Rosda Karya, Bandung

Thoriq Gunara & Yus Hardiono Sudibyo, 2006, “Marketing Muhammad”, Takbir Publishing House, Bandung

Taimiyah, Ibnu Syaikhul Islam, “Fiqih Zakat”, Terj. Majmu Al-Fatawa. Cet. I/1419H/1998M, Jilid 13. Maktabah Al-Ubaikhan, Riyadh-KSA

Tjiptono, F. & Anastasia, 1996, “Total Quality Management”, CV. Andi, Yogyakarta Tjiptono, F., 2006, “Pemasaran Jasa”, Bayumedia Publishing, Malang

Undang-undang No. 23 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Zakat

Uzaifah, (2010), “Manajemen Zakat Pasca Kebijakan Pemerintah Tentang Zakat Sebagai Pengurang Penghasilan Kena Pajak”, Jurnal Ekonomi Islam, Vol. IV, No. 1, Juli 2010.

Yusuf Wibisono, 2007, “Menarik Garis Kemiskinan Islam”, Republika Online, Jakarta

Zainol Bidin, Kamil Md. Idris, Faridahwati Mohd Shamsudin, 2009, “Predicting Compliance Intention on Zakah on Employment Income in Malaysia: an Application of Reasoned Action Theory”, Universiti Utara Malaysia, Malaysia

Zeithaml, V.A., A. Parasuraman and A. Malhotra, 2002, “Service Quality Delivery Through Web Sites: A Critical Review of Extant Knowledge”, Journal of The Academy of Marketing Science, Vol.30, No.4, pp. 362-375

Referensi

Dokumen terkait

Kata Kunci: Hasil Belajar, dan Model Pembelajaran Problem Based Learning ( PBL ). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui model Problem Based Learning dapat

Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan- perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia yang mengumumkan akuisisi dari tahun

Dari total pengamatan dapat dilihat bahwa hasil panen tertinggi diperoleh oleh perlakuan penggunaan rain shelter bentuk melengkung yang dipasang pada musim penghujan (D) + Atecu

Pelaksanaan pendidikan seni dapat dilakukan melalui kegiatan permainan.Tujuan pendidikan seni dapat dilakukan melalui kegiatan permainan.Tujuan pendidikan seni bukan

yang diamati dalam penelitian adalah persentasi tumbuh tanaman, tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, berat berangkasan basah tanaman, dan berat

Pakan yang mengandung campuran minyak jagung, minyak ikan dan minyak kelapa atau hanya minyak kelapa memberikan laju pertumbuhan tinggi dan konversi pakan

DESA LEBAKWANGI KECAMATAN ARJASARI KABUPATEN BANDUNG Sekretariat : Jalan Raya Arjasari Nomor 160 Kode Pos 40379.. DAFTAR PEMILIH

Telur yang menetas sampai stadium larva, ditelusuri parental nyamuk betina, sebagai bukti bahwa nyamuk jantan melakukan perkawinan poligami dengan nyamuk betina secara