• Tidak ada hasil yang ditemukan

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN SUSU PASTEURISASI HTST DAN LTLT YANG DITAMBAHKAN BERBAGAI LEVEL BUAH SIRSAK (Annona muricata L.)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "AKTIVITAS ANTIOKSIDAN SUSU PASTEURISASI HTST DAN LTLT YANG DITAMBAHKAN BERBAGAI LEVEL BUAH SIRSAK (Annona muricata L.)"

Copied!
57
0
0

Teks penuh

(1)

i

SKRIPSI

Oleh

IRMAYANA AYU ANITA

I 111 11 305

FAKULTAS PETERNAKAN

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2015

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN SUSU PASTEURISASI HTST DAN

LTLT YANG DITAMBAHKAN BERBAGAI LEVEL BUAH

(2)

ii

SKRIPSI

Oleh

IRMAYANA AYU ANITA

I 111 11 305

Skripsi sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh

Gelar Sarjana Peternakan pada Fakultas Peternakan

Universitas Hasanuddin

FAKULTAS PETERNAKAN

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2015

PERNYATAAN KEASLIAN

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN SUSU PASTEURISASI HTST DAN

LTLT YANG DITAMBAHKAN BERBAGAI LEVEL BUAH

(3)

iii

1. Yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : Irmayana Ayu Anita

NIM : I 111 11 305

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa :

a. Karya skripsi yang saya tulis adalah asli.

b. Apabila sebagian atau seluruhnya dari karya skripsi ini, terutama

dalam Bab Hasil dan Pembahasan, tidak asli atau plagiasi maka

bersedia dibatalkan dan dikenakan sanksi akademik yang berlaku.

2. Demikian pernyataan keaslian ini dibuat untuk dapat digunakan

seperlunya.

Makassar, 20 Agustus 2015

Ttd

(4)
(5)

v

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat ALLAH SWT, oleh karena atas

berkah, Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Salam

dan salawat kepada Rasulullah Muhammad SAW yang menjadi teladan dalam

menghantarkan kita selalu menuntut ilmu untuk bekal akhirat dan duniawi.

Terimakasih terucap bagi segenap pihak yang telah meluangkan waktu, pemikiran

dan tenaganya sehingga penulisan skripsi ini rampung. Oleh sebab itu,

sepantasnyalah penulis menyampaikan ucapan terimakasih kepada:

1. Ibu Dr. Wahniyathi Hatta,S. Pt, M. Si sebagai pembimbing utama dan

Bapak Prof.Dr.Ir.H. MS. Effendi Abustam, M.Sc. selaku pembimbing

anggota yang telah banyak meluangkan waktunya untuk membimbing dan

memberikan nasihat serta motivasi sejak awal penelitian sampai selesainya

penulisan skripsi ini.

2. Bapak Prof. Dr. Ir. H. Ambo Ako, M.Sc., Bapak Dr.Hikmah M. Ali, S.Pt.,

M.Si., dan Ibu Enda Murpi Ningrum., S.Pt., M.P. selaku penguji atas waktu

dan segala masukan yang bermanfaat dalam penyusunan skripsi ini.

3. Bapak Dekan Prof. Dr. Ir. H. Sudirman Baco, M.Sc., Ibu Wakil Dekan I dan

Ibu Wakil Dekan II serta Bapak Wakil Dekan III.

4. Ketua Program Studi Teknologi Hasil Ternak Bapak Dr. Muhammad Irfan

Said S.Pt, M.P dan Bapak Ketua Jurusan Produksi Ternak Dr. Muhammad

(6)

vi

5. Bapak Dr. Syahdar Baba, S.Pt., M.Si. selaku penasehat akademik atas segala

waktu dan bimbingannya selama masa studi ini.

6. Ibu dan Bapak Dosen serta Staf Tata Usaha tanpa terkecuali yang telah

membimbing dan memberikan bantuannya selama saya kuliah.

7. Kedua orang tua, ayahanda tercinta Arafah dan ibunda tercinta Bungamin atas

segala doa, motivasi, teladan, pengetahuan dan dukungan penuh kasih sayang

sehingga penulis selalu berusaha dengan semangat dan percaya diri. Kepada

keempat kakak penulis Harmiati, Darnawati, Lusnawati dan Rahmania yang

selalu memberikan doa, bantuan dan dukungan.

8. Tim Peneliti Susu Sirsak, kepada Fitriani, S.Pt, Sitti Sarah, Handayani, dan

Fitrianingsih. Sahabatku Sitti Masita, S. Pt, rekan-rekan seperjuangan selama

kuliah Kelas A dan SOLANDEVEN yang tidak bisa saya sebutkan satu

persatu atas segala bantuan dan dukungannya.

9. Saudaraku Herianti, Eka Sri Rahayu, Evo Tenri Ubba, S. Pt, Indri Ratna Sari,

S.Pt, Syirah dan Suryadin yang selalu memberi motivasi kepada penulis.

10.Semua pihak yang tidak dapat penulis sebut satu persatu, terima kasih telah

membantu dan banyak menjadi inspirasi bagi penulis.

Dengan segala kerendahan hati penulis perhadapkan kepada sidang

pembaca, semoga memberikan manfaat bagi pembaca pada umumnya serta

kepada pribadi penulis pada khususnya serta mohon disempurnakan atas segala

kekurangan.

Makassar, 20 Agustus 2015

(7)

vii

ABSTRAK

IRMAYANA AYU ANITA (I 111 11 305). Aktivitas Antioksidan Susu Pasteurisasi HTST dan LTLT yang Ditambahkan Berbagai Level Buah Sirsak (Annona muricata L). Dibawah bimbingan WAHNIYATHI HATTA sebagai pembimbing utama dan EFFENDI ABUSTAM sebagai pembimbing anggota.

Buah sirsak mengandung vitamin, dan senyawa antioksidan yang dapat berfungsi sebagai senyawa yang dapat menunda, memperlambat dan mencegah proses oksidasi lipid. Penambahan buah sirsak diharapkan dapat meningkatkan aktivitas antioksidan pada susu pasteurisasi HTST (High Temperatur Short Time) dan LTLT (Low Temperatur Long Time). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menjelaskan pengaruh level penambahan buah sirsak dan metode pasteurisasi terhadap aktivitas antioksidan pada susu pasteurisasi serta interkasi antara keduanya. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) pola factorial 2 x 3, masing-masing dengan 3 ulangan. Faktor A adalah metode pasteurisasi ( HTST dan LTLT) dan faktor B adalah level penambahan buah sirsak (0%, 7%, dan 14%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Metode pasteurisasi HTST maupun LTLT menghasilkan nilai DPPH, nilai TBA, dan aroma susu pasteurisasi buah sirsak yang sama. Peningkatan level buah sirsak hingga 7% dapat meningkatkan nilai DPPH, nilai TBA sementara nilai aroma susu pasteurisasi menurun . Tidak ada interaksi antara metode pasteurisasi dan level buah sirsak terhadap nilai DPPH, nilai TBA dan aroma susu pasteurisasi.

(8)

viii

ABSTRACT

IRMAYANA AYU ANITA (I 111 11 305). Antioxidant activity Milk Pasteurization HTST and that LTLT Level Added Various Fruit Soursop (Annona muricata L). Under the guidance of WAHNIYATHI HATTA main Supervisor and EFFENDI ABUSTAM as Co-Supervisor.

Soursop fruit contains vitamins and antioxidant compounds that can serve as a compound that could delay, slow down and prevent the oxidation of lipids. The addition of soursop fruit is expected to increase the antioxidant activity in pasteurized milk HTST (High Temperature Short Time) and LTLT (Low Temperature Long Time). This study aims to identify and explain the effect of the addition soursop level and method of pasteurization of antioxidant activity in pasteurized milk as well as the interaction between the two. This study uses a completely randomized design (CRD) factorial pattern 2 x 3, each with three replications. A factor is a method of pasteurization (HTST and LTLT) and factor B is the level of addition of soursop (0%, 7%, and 14%). The results showed that the method of pasteurization HTST or LTLT produce DPPH value, TBA value, and pasteurized milk aroma soursop same. Increased levels of up to 7% of soursop fruit can increase the value of DPPH, TBA value while decreasing the value of pasteurized milk aroma. There is no interaction between the pasteurization method and level soursop against DPPH value, TBA value and pasteurized milk aroma.

(9)

ix

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiii

PENDAHULUAN ... 1

TINJAUAN PUSTAKA Tinjauan Umum Susu ... 4

Tinjauan Umum Susu Pasteurisasi ... 5

Tinjauan Umum Sirsak ... 8

Tinjauan Umum Oksidasi dan Antioksidan ... 11

METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat ... 15

Materi Penelitian ... 15

Rancangan Penelitian ... 15

Prosedur Penelitian ... 16

Pengukuran Parameter ... 18

Analisis Data ... 20

HASIL DAN PEMBAHASAN Uji Nilai DPPH(diphenyl-picrylhydrazil) ... 21

Uji TBA (thiobarbituric acid) ... 23

Uji Organoleptik Aroma Susu Pasteurisasi setelah Penyimpanan ... 26

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 28

Saran ... 28

(10)

x

LAMPIRAN ... 33

(11)

xi

DAFTAR TABEL

No. Halaman

Teks

1. Syarat mutu susu pasteurisasi ... 8

2. Kandungan gizi dalam setiap 100 gram buah sirsak ... 10

3. Senyawa antioksidan pada bahan pangan ... 14

4. Nilai skor dan deskripsi penilaian aroma ... 20

5. Nilai rata-rata DPPH (diphenyl-picrylhydrazil) dari Berbagai Level Buah Sirsak (Annona muricata L.) yang Ditambahkan pada Susu Pasteurisasi HTST dan LTLT ... 21

6. Nilai rata-rata TBA (thiobarbituric-acid) dari Berbagai Level Buah Sirsak (Annona muricata L.) yang Ditambahkan pada Susu Pasteurisasi ... 23

7. Nilai rata-rata Aroma dari Berbagai Level Buah Sirsak (Annona muricata L.) yang Ditambahkan pada Susu Pasteurisasi HTST dan LTLT ... 26

(12)

xii

DAFTAR GAMBAR

No. Halaman

Teks

1. Diagram alir penyiapan buah sirsak ... 16

(13)

xiii

DAFTAR LAMPIRAN

No. Halaman

Teks

1. Lampiran data penelitian SPSS ... 33

(14)

1

PENDAHULUAN

Susu adalah bahan makanan yang memiliki nilai gizi tinggi karena mengandung hampir semua zat-zat yang dibutuhkan oleh tubuh. Tingginya kandungan gizi pada susu merupakan pemicu terjadinya kerusakan. Faktor penyebab kerusakan susu dapat meliputi faktor kimia, fisik, dan mikrobiologi. Oleh karena itu perlu dilakukan pengolahan dan pengawetan untuk memperpanjang daya simpan, seperti susu pasteurisasi, susu bubuk, susu kental manis, es krim, dangke, dan minuman susu buah. Pengolahan susu segar memerlukan mutu susu yang baik seperti susu segar yang disajikan dalam

bentuk susu pasteurisasi.

Pasteurisasi merupakan suatu proses pemanasan yang menggunakan suhu

rendah di bawah 100 0C. Proses pasteurisasi dapat dilakukan dengan cara HTST (High Temperature Short Time) dan LTLT (Low Temperature Long Time). Proses pasteurisasi HTST (minimum 720C selama 15 detik) dan LTLT (minimum 630C selama 30 menit). Cara pasteurisasi yang dilakukan juga berpengaruh terhadap kandungan gizi dan aroma produk pangan. Susu HTST dinilai lebih efektif karena lebih sedikit menimbulkan kerusakan pada kandungan gizi dan karakteristik fisik pada susu, dibandingkan dengan LTLT.

Dewasa ini telah banyak dikembangkan produk yang memadukan antara fungsi nutrisi dan kesehatan yang sering disebut pangan fungsional. Pangan fungsional merupakan produk pangan yang memberikan keuntungan terhadap kesehatan. Pangan fungsional dapat mencegah atau mengobati penyakit. Salah satu penyakit yang disebabkan oleh oksidan adalah kanker yang dapat dihambat

(15)

2 oleh antioksidan. Dalam melindungi tubuh dari serangan radikal bebas, substansi antioksidan berfungsi untuk menstabilkan radikal bebas dengan

melengkapi kekurangan elektron dari radikal bebas sehingga menghambat

terjadinya reaksi berantai. Antioksidan adalah senyawa yang dapat digunakan

untuk melindungi bahan pangan melalui perlambatan kerusakan, ketengikan atau

perubahan warna yang disebabkan oleh oksidasi.

Salah satu tumbuhan yang digunakan sebagai obat-obatan tradisional adalah tumbuhan sirsak (Annona muricata L). Tumbuhan sirsak ini dapat digunakan sebagai obat untuk menyembuhkan berbagai penyakit, mulai dari penyakit yang ringan seperti gatal-gatal pada kulit sampai penyakit berat seperti tumor dan kanker. Sebagai obat yang terbuat dari bahan tumbuhan, tentunya akan lebih aman jika dikonsumsi. Salah satu bagian tumbuhan sirsak yang dapat dimanfaatkan sebagai obat adalah buah. Buah sirsak mengandung vitamin, serat pangan, dan senyawa antioksidan yang dapat berfungsi sebagai senyawa yang dapat menunda, memperlambat dan mencegah proses oksidasi lipid. Penambahan buah sirsak diharapkan dapat meningkatkan aktivitas antioksidan pada produk.

Berdasarkan hal tersebut maka perlu dilakukannya penelitian mengenai aktivitas antioksidan susu pasteurisasi HTST dan LTLT yang ditambahkan berbagai level buah sirsak ( Annona muricata L.).

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui dan menjelaskan pengaruh level

penambahan buah sirsakterhadap aktivitas antioksidan pada susu pasteurisasi dan

pengaruh metode pasteurisasi terhadap aktivitas antioksidan susu pasteurisasi

(16)

3

sebagai sumber informasi ilmiah baik bagi mahasiswa, dosen, dan masyarakat

tentang pengaruh penambahan buah sirsak terhadap aktivitas antioksidan susu

(17)

4

TINJAUAN PUSTAKA

Tinjauan Umum Susu

Susu segar merupakan cairan dari kelenjar susu (mammary gland)

yang diperoleh dengan cara pemerahan sapi selama masa laktasi tanpa

adanya penambahan atau pengurangan komponen apapun pada cairan tersebut

(Hadiwiyoto, 1994). Aspek yang penting dalam menilai kualitas susu yakni,

komposisi dan cemaran mikroorganisme yang terkandung di dalamnya.

Standar susu segar yang dibuat oleh Badan Standarisasi Nasional (BSN)

berdasarkan SNI No. 01-3141-1998, yaitu susu yang berat jenisnya (pada suhu

27,5 0C) minimum 1,0280; kadar lemak minimum 3,0%; bahan kering tanpa

lemak minimum 8,0%; dan protein minimum 2,7%. Kualitas susu tidak

semata dilihat berdasarkan kandungan gizinya, namun juga diukur atau

ditentukan berdasarkan jumlah mikroorganisme dan jumlah sel radang

maksimum yang terkandung di dalamnya. Jumlah mikroorganisme maksimum 1

x 106cfu (coloni form unit) per ml dan jumlah sel radang maksimum 4 x 105 per

ml.

Susu merupakan cairan yang dieksresikan oleh kelenjar mammae pada

beberapa hewan ternak, contohnya sapi dan kambing. Susu memiliki

kandungan nutrisi yang sangat bermanfaat bagi tubuh. Kandungan air di dalam

susu sangat tinggi, yaitu sekitar 87,5%; dengan kandungan gula susu (laktosa)

sekitar 5%; protein sekitar 3,5%; dan lemak sekitar 3-4%. Susu juga

merupakan sumber mineral-mineral penting yaitu kalsium, dan fosfor (Widodo,

(18)

5

Susu adalah bahan pangan yang sangat baik bagi kehidupan manusia

karena komposisinya yang ideal, selain itu susu juga mengandung semua zat yang

dibutuhkan oleh tubuh. Susu akan mudah mengalami kerusakan apabila tidak ada

penanganan khusus, karena susu merupakan media yang baik bagi perkembangan

mikroorganisme (Warni, 2014).

Perkembangan teknologi yang semakin maju, saat ini sudah banyak

usaha-usaha pengolahan susu segar menjadi berbagai bentuk olahan.

Perkembangan teknologi ini dimaksudkan agar supaya konsumsi susu dapat

menyebar ke segala lapisan masyarakat, jumlah yang dikonsumsi masyarakat juga

semakin banyak, penganekaragaman hasil olahan sesuai dengan selera konsumen,

dan mencegah adanya kerusakan susu lebih banyak. Susu dapat diolah

menjadi berbagai macam produk, antara lain susu pasteurisasi, susu steril, susu

bubuk, es krim, susu kental, dan lain-lain. Bentuk-bentuk olahan tersebut,

perlu disadari bahwa untuk mengolah susu segar menjadi produk olahan yang

baik diperlukan mutu susu yang baik seperti susu segar yang disajikan

dalam bentuk segar atau dipasteurisasi (Hadiwiyoto, 1994).

Tinjauan Umum Susu Pasteurisasi

Susu pasteurisasi merupakan proses pemanasan susu di bawah titik

didih. Melalui pasteurisasi diharapkan bakteri pembusuk dan patogen yang

mungkin terdapat di dalam susu dapat dihilangkan. Susu pasteurisasi yang

disimpan pada suhu yang tepat, mempunyai daya simpan yang lebih baik dari

pada yang tidak dipasteurisasi bila ditinjau dari derajat keasaman pH dan angka

(19)

6

disimpan dalam lemari es yang bersuhu ±40 C tidak rusak dalam waktu 7 hari

(Hadiwiyoto,1994).

Susu pasteurisasi adalah susu segar yang diolah melalui proses pemanasan

dengan tujuan mencegah kerusakan susu akibat aktivitas mikroorganisme perusak

(patogen) dengan tetap menjaga kualitas nutrisi susu. Herendra (2009)

menyatakan bahwa pasteurisasi adalah proses sterilisasi bahan baku yang tidak

tahan panas seperti susu. Pasteurisasi tidak mematikan semua mikroorganisme

tetapi hanya mematikan kuman yang patogen dan yang tidak membentuk spora.

Proses ini sering diikuti teknik lain seperti pendinginan atau pemberian gula

dengan konsentrasi tinggi.

Pada umumnya proses pasteurisasi dilakukan dengan memanaskan susu

pada suhu 62 oC selama 30 menit. Bila ingin lebih cepat dapat digunakan suhu 72 o

C selama 15 detik. Meskipun bakteri patogen sudah dimusnahkan, tetapi bakteri

non patogen, terutama bakteri pembusuk masih hidup. Jadi susu pasteurisasi

bukan merupakan susu awet. Penyimpanan susu pasteurisasi digabungkan dengan

metode pendinginan. Untuk memperpanjang daya simpannya, susu pasteurisasi

disimpan pada suhu maksimal 10 oC, lebih dingin lebih baik. Pada suhu tersebut

mikroba pembusuk meskipun tidak mati, tetapi tidak dapat tumbuh dan

berkembang (Setya, 2012).

Pasteurisasi adalah salah satu proses terpenting dalam penanganan susu.

Apabila dilakukan dengan benar, proses ini membuat susu memiliki umur simpan

lebih lama. Suhu dan waktu pasteurisasi adalah faktor penting yang harus diukur

(20)

7

Metode Pasteurisasi yang umum digunakan menurut Setya (2012) adalah sebagai

berikut:

1. Pasteurisasi dengan suhu tinggi dan waktu singkat (High Temperature Short

Time/HTST), yaitu proses pemanasan susu selama 15 – 16 detik pada suhu

71,7 – 75 0C dengan alat Plate Heat Exchanger.

2. Pasteurisasi dengan suhu rendah dan waktu lama (Low Temperature Long

Time/LTLT) yakni proses pemanasan susu pada suhu 61 0C selama 30 menit.

3. Pasteurisasi dengan suhu sangat tinggi (Ultra High Temperature) yaitu

memanaskan susu pada suhu 131 0C selama 0,5 detik. Pemanasan dilakukan

dengan tekanan tinggi untuk menghasilkan perputaran dan mencegah

terjadinya pembakaran susu pada alat pemanas.

Badan Standarisasi Nasional (BSN) telah menetapkan SNI No.

01-3951-1995 tentang produk susu pasteurisasi, yakni produk susu yang

dihasilkan dari susu segar, susu rekonstitusi, atau susu rekombinasi yang

telah mengalami proses pemanasan. Susu segar ialah cairan yang diperoleh

dengan memerah sapi sehat dengan cara yang benar, sehat, dan bersih tanpa

mengurangi atau menambah sesuatu komponennya. Susu rekonstitusi ialah

susu yang diperoleh dari penyatuan kembali bagian–bagian dari susu yang

sudah dipisahkan. Susu rekombinasi ialah susu yang diperoleh dari

kombinasi bahan baku susu segar dengan susu konstitus.

Persyaratan mutu susu pasteurisasi berdasarkan BSN (1995) tentang

(21)

8

Tabel 1. Syarat mutu susu pasteurisasi

Karakteristik Syarat A B Bau Rasa khas khas khas khas

Warna khas khas

Kadar lemak minimum (g)

Kadar bahan kering tanpa lemak minimum (g)

Uji reduktase dengan methylen blue

Kadar protein minimum (g)

Uji fosfatase

Total plate count maksimum (cfu/g)

Koliform maksimum (cfu/g)

2.80 1.50 7.7 7.5 0 0 2.5 2.5 0 0 3 × 104 3 × 104 10 10

Sumber: Badan Standarisasi Nasional (1995) A = susu pasteurisasi tanpa penyedap cita rasa B = susu pasteurisasi yang diberi penyedap cita rasa

Tinjauan Umum Sirsak

Sirsak (Annona muricata L.) merupakan salah jenis tanaman dari

familia Annonaceae yang mempunyai manfaat besar bagi kehidupan manusia,

yaitu sebagai tanaman buah yang syarat dengan gizi dan merupakan bahan

obat tradisional yang memiliki banyak khasiat. Dalam industri makanan,

sirsak dapat diolah menjadi selai buah dan sari buah, sirup dan dodol sirsak

(22)

9

Sirsak (Annona muricata L) berupa tumbuhan atau potion yang berbatang

utama berukuran kecil dan rendah. Daunnya berbentuk bulat telur agak tebal dan

pada permukaan bagian atas yang halus berwarna hijau tua sedang pada bagian

bawahnya mempunyai warna lebih muda. Tumbuhan ini dapat tumbuh di

sembarang tempat, tetapi untuk memperoleh hasil buah yang banyak dan

besar-besar, maka yang paling balk ditanam di daerah yang tanahnya cukup

mengandung air. Di Indonesia, sirsak tumbuh dengan baik pada daerah yang

mempuyai ketinggian kurang dari 1000 meter di atas permukaan laut. Nama

Sirsak itu sendiri sebenarnya berasal dari bahasa Belanda Zuurzak yang kurang

lebih berarti kantung yang asam. Buah Sirsak yang sudah masak lebih berasa

asam daripada manis. Pengembangbiakan sirsak yang paling baik adalah melalui

okulasi dan akan menghasilkan buah pada usia 4 tahunan setelah ditanam.

(Thomas, 1992).

Klasifikasi tumbuhan sirsak menurut Tjitrosoepomo (1991) sebagai

berikut: Kingdom : Plantae Devisi : Spermatophyta Class : Dicotyledoneae Ordo : Renunculales Familiy : Annonaceae Genus : Annona

(23)

10

Khasiat dari buah sirsak memberikan efek anti tumor atau kanker yang

sangat kuat dan terbukti secara medis menyembuhkan segala jenis kanker. Selain

menyembuhkan kanker, buah sirsak juga berfungsi sebagai anti bakteri, anti

jamur, efektif melawan berbagai jenis parasit atau cacing, menurunkan tekanan

darah tinggi, depresi, stress, dan menormalkan kembali sistem saraf yang kurang

baik (Zuhud, 2011).

Dibawah ini adalah tabel yang menunjukkan komposisi kandungan gizi

dalam setiap 100 gram buah sirsak ditampilkan pada Tabel 2.

Tabel 2. Kandungan Gizi dalam Setiap 100 Gram Buah Sirsak.

Komposisi Jumlah Karbohidrat (g) Protein (g) Lemak (g) Serat (g) Besi (mg) Fosfor (mg) Vitamin C (mg) Kalium (mg) Kalsium (mg) 16,5 10 0,65 3,2 0,64 26,9 28.5 270 10,3 Sumber : (Rahmani, 2008)

Buah sirsak mengandung vitamin dan serat. Selain mengandung vitamin

A, B dan C sirsak juga mengandung gula sekitar 12%. Setiap buah sirsak terdiri

(24)

11

biji 8,5%; dan empedu 4% (bagian tengah pada buah sirsak sebagai tempat

melekatnya daging buah). Kandungan air pada buah sirsak cukup tinggi, yakni

sekitar 82% (Haryoto, 1998).

Salah satu kandungan kimia sirsak yang berperan penting untuk obat

adalah flavonoid. Flavonoid merupakan senyawa bahan alam dari golongan

fenolik (Sjahid, 2008). Manfaat flavonoid dalam tubuh manusia adalah sebagai

antioksidan sehingga sangat baik digunakan untuk pencegahan kanker,

melindungi struktur sel, meningkatkan efektivitas vitamin C, antiinflamasi,

mencegah keropos tulang dan antibiotik. Dalam kebanyakan kasus, flavonoid

dapat berperan secara langsung sebagai antibiotik dengan menggangu fungsi

organisme seperti bakteri atau virus (Subroto dan Saputro, 2006).

Buah sirsak mengandung vitamin, serat pangan dan senyawa antioksidan

yang dapat berfungsi sebagai senyawa yang dapat menunda, memperlambat dan

mencegah proses oksidasi lipid. Daging buah sirsak yang matang dapat dimakan

segar atau dibuat jus, namun sebagian besar dikonsumsi berupa minuman olahan.

Produk olahan lainnya adalah sebagai jely, permen atau dodol. Daging buah yang

ada dalam satu buah sirsak matang sekitar 67,5%, kulit buahnya sekitar 20%,

bijinya 8,5% dan 4% berupa tangkai buah (Ashari, 2006).

Buah sirsak kaya dengan antioksidan yang dapat mencegah atau

menunda oksidasi atau kerusakan lipid, protein dan asam nukleat oleh radikal

bebas (Shi dkk., 2001). Komponen yang bertanggung jawab sebagai antioksidan

(25)

12

polifenol dengan aktivitas antioksidan yang paling banyak adalah flavonoid

(Fleuriet and Macheix, 2003).

Tinjauan Umum Oksidasi dan Antioksidan

Antioksidan adalah zat yang dapat menunda, memperlambat dan

mencegah terjadinya proses oksidasi. Antioksidan sangat bermanfaat bagi

kesehatan dan berperan penting untuk mempertahankan mutu produk pangan.

Manfaat antioksidan bagi kesehatan dan kecantikan, misalnya untuk mencegah

penyakit kanker dan tumor, penyempitan pembuluh darah, penuaan dini, dan

lain-lain. Dalam produk pangan, antioksidan dapat digunakan untuk mencegah

terjadinya proses oksidasi yang dapat menyebabkan kerusakan, seperti

ketengikan, perubahan warna dan aroma, serta kerusakan fisik lainnya (Tamat

dkk., 2007).

Antioksidan adalah subtansi yang dapat menunda, mencegah,

menghilangkan kerusakan oksidatif pada molekul target, seperti lemak, protein,

dan DNA (Halliwell and Gutteridge, 2000). Antioksidan merupakan suatu

inhibitor dari proses oksidasi bahkan pada konsentrasi yang relatif kecil, dan

memiliki peran fisiologis yang beragam dalam tubuh (Kumar, 2011). Antioksidan

yang digunakan dalam sistem biologis berfungsi untuk mengatur kadar radikal

bebas agar kerusakan pada molekul penting dari tubuh tidak terjadi dan tercipta

sistem perbaikan yang diperlukan untuk mempertahankan kelangsungan hidup

dari sel (Milbury and Richer, 2008). Antioksidan berfungsi mencegah kerusakan

sel dan jaringan tubuh karena dalam hal ini antioksidan bertindak sebagai

(26)

13

Ada banyak bahan pangan yang dapat menjadi sumber antioksidan alami,

misalnya rempah-rempah, teh, coklat, dedaunan, biji-biji serelia, sayur-sayuran,

enzim dan protein. Kebanyakan sumber antioksidan alami adalah tumbuhan dan

umumnya merupakan senyawa fenolik yang tersebar di seluruh bagian tumbuhan

baik pada kayu, biji, daun, buah, akar, bunga maupun serbuk sari (Sarastani dkk.,

2002). Senyawa fenol atau polifenol antara lain dapat berupa golongan flavonoid.

Kemampuan flavonoid sebagai antioksidan telah banyak diteliti belakangan ini,

karena flavonoid memiliki kemampuan untuk merubah atau mereduksi radikal

bebas dan juga sebagai anti radikal bebas (Giorgio, 2000).

Antioksidan merupakan zat yang dapat menetralkan radikal bebas

sehingga dapat melindungi sistem biologi tubuh dari efek merugikan yang

timbul dari proses atau pun reaksi yang menyebabkan oksidasi yang berlebihan

(Hariyatimi, 2004). Radikal bebas adalah molekul yang sangat reaktif karena

memiliki elektron yang tidak berpasangan dalam orbit luarnya sehingga

dapat bereaksi dengan molekul sel tubuh dengan cara mengikat elektron

molekul sel tersebut (Wijaya, 1996).

Untuk menguji adanya aktivitas antioksidan dapat menggunakan

metode DPPH (diphenil-picrilhidrazil). Pengamatan terhadap penangkapan radikal

DPPH dapat dilakukan dengan mengamati penurunan absorbansi. Hal ini dapat

terjadi oleh karena adanya reduksi radikal oleh antioksidan atau bereaksi

dengan senyawa radikal lainnya (Yu dkk., 2002).

Antioksidan di dalam sel dibedakan menjadi dua, yaitu antioksidan

(27)

14

(pencegahan), terdiri dari superoxide dismutase (SOD), catalase, dan glutathion

peroxidase sementara antioksidan non enzimatik memiliki sifat memecah rantai

akibat peroksidasi lipid. Antioksidan non enzimatik ini digolongkan menjadi

beberapa kelompok, yaitu yang larut dalam lemak (tokoferol, karotenoid,

flavonoid, quinon, dan birilubin), larut dalam air (asam askorbat, asam urat,

protein pengikat logam, dan protein pengikat heme) (Winarsi, 2007). Tabel 3

menunjukkan senyawa Antioksidan pada bahan pangan.

Tabel 3. Senyawa Antioksidan pada Bahan Pangan Jenis Antioksidan Contoh Bahan Pangan

Biogenik amin Antioksidan berdasarkan fungsi amin dan fenol, contohnya dalam keju

Senyawa Fenol :

Tirosol, hidroksitirosol Vanilin, asam vanilat Timol Karpakrol Gingerol Zingeron Minyak zaitun Vanili

Minyak atsiri dari thyme Minyak thyme Minyak jahe Jahe Senyawa Polifenol : Flavonoid Tanin :

Asam galat dan Asam

Efektivitas sebagai antioksidan tergantung pada jumlah dan posisi OH, senyawa polifenol banyak terdapat dalam sayur-sayuran daun Banyak terdapat dalam teh, sayuran dan buah-buahan

Komponen Tetrapirolik :

Bahan pangan hewani : daging, udang, ikan, susu dan hasil olahannya

(28)

15

METODE PENELITIAN

Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April - Mei 2015, bertempat di

Laboratorium Bioteknologi Pengolahan Susu, Laboratorium Terpadu dan

Laboratorium Ilmu dan Teknologi Daging dan Telur Universitas Hasanuddin,

Makassar.

Materi Penelitian

Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah susu segar, buah sirsak,

aquades, DPPH (diphenil-picrilhidrazil), metanol, HCL dan TBA

(thiobarbituric-acid).

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah timbangan digital

(Denver Instrumen M-310), blender, termometer, kompor gas, panci pasteurisasi,

labu ukur, spektrofotometer UV-VIS, mikropipet, Erlenmeyer, destilator, dan

waring blander.

Rancangan Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola

Faktorial 2 x 3. Perlakuan pada penelitian ini merupakan kombinasi dari 2 faktor

yang diulang sebanyak 3 kali.

Faktor A adalah metode pasteurisasi, sebagai berikut:

A1= High Temperature Short Time (HTST)

(29)

16

Faktor B adalah level penambahan buah sirsak (g/v) yang dihitung

berdasarkan jumlah susu yang digunakan.

B1= level penambahan buah sirsak 0 %

B2= level penambahan buah sirsak 7 %

B3= level penambahan buah sirsak 14 %

Prosedur Penelitian

1. Penyiapan Buah Sirsak

Buah sirsak segar dipotong-potong dan dipisahkan dari biji. Buah

yang telah bersih dari biji selanjutnya ditambahkan air dengan perbandingan

1:1, kemudian diblender. Buah sirsak yang telah diblender dan disaring untuk

di pisahkan jus dan ektraknya. Jus hasil penyaringan menjadi salah satu bahan

dalam pembuatan susu pasteurisasi. Diagram alir penyiapan buah sirsak

disajikan pada Gambar 1.

Gambar 1. Diagram Alir Penyiapan Buah Sirsak. Buah Sirsak segar

Daging buah dipisahkan dari biji

Daging buah sirsak dicampur air 1:1

Diblender

Filtrat Ekstrak Disaring

(30)

17

2. Pembuatan Susu Pasteurisasi Buah Sirsak

Susu segar ditambahkan jus buah sirsak sesuai dengan perlakuan (0; 7;

dan 14 %). Selanjutnya campuran susu dan jus buah sirsak dipasteurisasi

dengan metode LTLT (650C selama 30 menit) dan HTST (750C selama 15

detik). Diagram alir pembuatan susu pasteurisasi buah sirsak disajikan pada

Gambar 2.

Jus sirsak (0; 7; dan 14%) Susu segar

Dihomogenkan

Dipasteurisasi dengan metode LTLT (suhu 65 0c selama 30 menit) dan metode HTST

(suhu 750C selama 15 detik)

Uji DPPH

Uji TBA Uji Organoleptik Aroma

Disimpan dalam refrigerator selama 7 hari Dikemas dengan plastik kaku

(31)

18

Gambar 2. Diagram Alir Pembuatan Susu Pasteurisasi Buah Sirsak.

Pengukuran Parameter

1. Uji DPPH (diphenil-picrilhidrazil).

Penentuan daya antioksidan ini menggunakan metode DPPH (Subagio dan

Marita, 2001). Sampel (0,1 g) disuspensikan dengan 20 ml metanol dalam

erlenmeyer dan distirer selama ± 10 menit. Selanjutnya disentrifus dengan

kecepatan 5000 rpm selama 5 menit. Kemudian diambil 1 ml filtrat ditambah

0,5 ml reagen DPPH (4 x 10-4 M) dan didiamkan selama 20 menit setelah

ditambahkan metanol sampai 5 ml. Absorban segera ditera pada panjang

gelombang 517 nm. Blangko dibuat dengan cara yang sama tetapi tanpa sampel.

Aktivitas antioksidan dinyatakan dalam jumlah DPPH radikal (mmol) yang

berkurang jumlahnya akibat dijerat oleh sampel (gram), dan dihitung berdasarkan

pengukuran absorban yang disebabkan oleh sampel atau besarnya aktivitas

antioksidan dihitung dengan rumus :

% Aktivitas Antioksidan = (ADPPH – Asample) х 100 % ADPPH

Ket:

Panjang ADPPH : Absorbansi DPPH Asample : Absorbansi sampel

2. Uji TBA (thiobarbituric-acid).

Penentuan bilangan TBA berdasarkan metode Tarladgis (1960) dalam

Apriantono (1989). Bahan ditimbang sebanyak 10 g dengan teliti, kemudian

dimasukkan ke waring blender, ditambahkan 50 ml aquades dan dihancurkan

(32)

19

distilasi sambil dicuci, setelah itu ditambahkan ± 2,5ml HCl 4 M sampai pH

menjadi 1,5. Batu didih ditambahkan kemudian dipasang labu destilasi pada alat

distilasi. Setelah itu, destilasi dijalankan dengan pemanasan tinggi sehingga

diperoleh 50 ml destilat selama 10 menit pemanasan. Distilat yang diperoleh

diaduk merata, dipipet 5 ml distilat ke dalam tabung reaksi bertutup. 5 ml pereaksi

TBA yang ditambahkan, ditutup, dicampur merata lalu dipanaskan selama 35

menit dalam air mendidih. Blanko dibuat dengan menggunakan 5 ml aquades dan

5ml pereaksi, dilakukan seperti penetapan sampel. Tabung reaksi didinginkan

dengan air pendingin selama ± 10 menit kemudian di ukur absorbansinya (D)

pada panjang gelombang 528 nm dengan larutan blanko sebagai titik nol dan

digunakan sampel sel berdiameter 1 cm. Dihitung bilangan TBA, dinyatakan

dalam mg malonaldehid-per kg sampel. Bilangan TBA = 7.8 D.

3. Uji Organoleptik Aroma

Susu yang telah ditambahkan buah sirsak dan dipasteurisasi kemudian

disimpan dalam refrigerator selama 7 hari, setelah itu dilakukan pengujian aroma

dengan 10 orang panelis semi terlatih (Kartika dkk., 1986). Nilai skor dan

deskripsi penilaian aroma disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4. Nilai Skor dan Deskripsi Penilaian Aroma Skor Deskripsi 1 Sangat menyimpang 2 Menyimpang 3 Agak menyimpang 4 Netral 5 Agak normal 6 Normal

(33)

20

Analisis Data

Data yang diperoleh pada penelitian ini dianalisis dengan Rancangan Acak

Lengkap (RAL) pola Faktorial 2 x 3.

Adapun model matematikanya yaitu:

i = 1, 2 (Faktor a)

j = 1, 2, 3 (Faktor b)

j = 1, 2, 3 (Ulangan)

Keterangan :

Yijk = variabel respon pengamatan

µ = nilai rata – rata perlakuan

αi = pengaruh metode pasteurisasi terhadap aktivitas antioksidan ke-i βj = Pengaruh level penambahan buah sirsak susu pasteurisasi terhadap

nilai TBA ke-j

(αβ)ij = Pengaruh interaksi metode pasteurisasi ke-i dan level penambahan buah sirsak ke-j.

Εijk = Pengaruh galat yang menerima metode pasteurisasi ke-i dan level penambahan buah sirsak ke-j dengan pengulangan ke-k.

Selanjutnya jika perlakuan menunjukkan pengaruh yang nyata, maka dilanjutkan dengan uji Duncan (Gaspersz, 1991).

(34)

21

HASIL DAN PEMBAHASAN

Uji Nilai DPPH (diphenyl-picrylhydrazil)

Antioksidan merupakan zat yang dapat menunda dan mencegah oksidasi

lipida serta menetralisir efek merugikan dari proses atau reaksi radikal bebas pada

suatu produk pangan. Salah satu metode yang dapat dilakukan untuk menguji

adanya aktivitas antioksidan adalah metode DPPH. Penangkapan radikal DPPH

bertujuan untuk mengamati penurunan absorbansi. Hal ini dapat terjadi karena

adanya reduksi radikal oleh antioksidan atau bereaksi dengan senyawa radikal

lainnya (Yu dkk., 2002). Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka

rata-rata nilai DPPH pada susu pasteurisasi HTST dan LTLT yang ditambahkan

berbagai level buah sirsak (Annona muricata L.) dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5.Nilai rata-rata DPPH (diphenyl- picrylhydrazil) susu pasteurisasi HTST dan LTLT yang ditambahkan berbagai level buah sirsak (Annona muricata L.)

Metode Pasteurisasi Level (%) Rata-rata 0 7 14

HTST 40,93 48,64 50,19 46,58 LTLT 42,86 48,63 50,14 47,21 Rata-rata 41,89a 48,63b 50,16b

Ket :Notasi huruf yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan pengaruh yang sangat nyata(P<0,01).

Analisis ragam menunjukkan bahwa metode pasteurisasi tidak

berpengaruh nyata terhadap nilai rata-rata DPPH susu pasteurisasi buah sirsak.

(35)

22

pasteurisasi memiliki interval nilai yang relatif sama. Hal ini disebabkan suhu

pemanasan pada metode HTST yang relatif tinggi dapat menyebabkan kerusakan

vitamin C pada susu pasteurisasi buah sirsak. Hal tersebut didukung oleh Setya

(2012) yang menyatakan bahwa pasteurisasi dapat merusak vitamin C dan

kemungkinan menjadikan laktosa, kasein, dan unsur lemak pada susu menjadi

kecil.

Analisis ragam menunjukkan bahwa level buah sirsak berpengaruh sangat

nyata (P<0,01) terhadap nilai rata-rata DPPH susu pasteurisasi. Hasil uji lanjut

Duncan menunjukkan bahwa nilai rata-rata DPPH susu pasteurisasi yang

ditambahkan buah sirsak pada level 0% terhadap level 7% dan 14% berbeda

sangat nyata (P<0,01), sedangakan antara level 7% dan level 14% adalah sama.

Hal ini menunjukkan bahwa nilai DPPH susu pasteurisasi meningkat seiring

dengan meningkatnya level buah sirsak. Peningkatan disebabkan karena buah

sirsak yang kaya akan senyawa fitokimia. Fitokimia dalam buah sirsak yang

berfungsi sebagai antioksidan diantaranya adalah vitamin C, selain itu juga

terdapat fenolik dan polifenolik yang mengandung senyawa antioksidan alami

yang sangat kuat dalam menghambat radikal bebas. Quezada (2004) menyatakan

bahwa komponen kimia yang berperan sebagai antioksidan adalah senyawa

golongan fenolik dan polifenolik. Senyawa tersebut banyak terdapat di alam,

terutama pada tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan yang memiliki kemampuan

untuk menangkap radikal bebas. Antioksidan yang banyak ditemukan pada bahan

pangan, antara lain vitamin E dan vitamin C. Vitamin C berperan sebagai donor

(36)

23

dan ekstraselular, selain itu vitamin C juga mampu menghilangkan senyawa

oksigen reaktif.

Analisis ragam menunjukkan bahwa interaksi antara level dan metode

pasteurisasi tidak berpengaruh nyata terhadap nilai rata-rata DPPH susu

pasteurisasi buah sirsak. Hal tersebut dapat dilihat dari nilai rata-rata DPPH level

0%, 7% dan 14% cenderung meningkat, sedangakan antara level 7% dan 14%

kurang lebih sama, meskipun nilai 14% merupakan nilai teringgi baik dengan

menggunakan metode HTST maupun LTLT.

Uji Nilai TBA (thiobarbituric-acid)

Oksidasi lemak pada susu pasteurisasi dengan penambahan barbagai level

buah sirsak dapat diketahui secara kimiawi yaitu dengan melihat nilai TBA.

Semakin tinggi nilai TBA maka semakin tinggi pula tingkat ketengikan atau

proses oksidasi yang terjadi. Berdasarkan hasil penelitian nilai rata-rata TBA dari berbagai level buah sirsak yang ditambahkan pada susu pasteurisasi HTST dan LTLT disajikan pada Tabel 6.

Tabel 6.Nilai rata-rata TBA (thiobarbituric-acid) pasteurisasi HTST dan LTLT yang ditambahkan berbagai level buah sirsak (Annona muricata L.)

Metode Pasteurisasi Level (%) Rata-rata 0 7 14

HTST 0,047 0,100 0,079 0,075 LTLT 0,072 0,084 0,075 0,077 Rata-rata 0,059a 0,092b 0,077b

Ket :Notasi huruf yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01).

(37)

24

Berdasarkan analisis ragam menununjukkan bahwa metode pasteurisasi

tidak berpengaruh nyata terhadap nilai rata-rata TBA. Nilai rata-rata TBA susu

pasteurisasi buah sirsak pada metode HTST dan metode LTLT sama, meskipun

nilai HTST adalah (0,075) lebih rendah daripada LTLT (0,77). Hal ini

kemungkinan karena pada proses pemanasan dan penyimpanan sehingga memicu

adanya penguraian lemak yang mengakibatkan oksidasi lemak. Hal ini sesuai

dengan pendapat Khamidinal et al. (2007) bahwa kerusakan lemak di dalam

bahan pangan dapat terjadi selama pengolahan, proses pemanasan maupun

penyimpanan. Kerusakan lemak ini menyebabkan bahan pangan berlemak

memiliki bau dan rasa yang tidak enak, sehingga menurunkan mutu dan nilai

gizinya. Penyebab kerusakan lemak dibedakan atas tiga golongan, yaitu

ketengikan karena oksidasi, enzim, dan hirolisis. Kerusakan lemak dapat

disebabkan oleh proses oksidasi terhadap asam lemak tidak jenuh. Proses ini dapat

terjadi dalam suhu kamar maupun selama pengolahan menggunakan suhu tinggi.

Analisis ragam menunjukkan bahwa level buah sirsak berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap nilai rata-rata TBA susu pasteurisasi buah sirsak. Hasil uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa nilai rata-rata TBA susu pasteurisasi yang ditambahkan buah sirsak pada level 0% terhadap level dan 7% berbeda sangat

nyata (P<0,01), sedangkan antara level 7% dan level 14% adalah sama. Hal ini

menunjukkan bahwa nilai rata-rata TBA susu pasteurisasi meningkatnya seiring dengan meningkatnya level buah sirsak sehingga kemungkinan menyebabkan tidak bekerja optimal untuk mencegah terjadinya oksidasi lemak (lipid). Hal ini didukung oleh Anggraini (2007) yang menyatakan bahwa antioksidan memiliki

(38)

25

keterbatasan yaitu antioksidan tidak dapat memperbaiki lemak yang sudah tengik,

mencegah kerusakan hidrogen, dan kerusakan oleh mikroba pada lipid. Menurut

Ketaren (1986) bahwa ketengikan terjadi karena proses oksidasi oleh oksigen di

dalam udara terhadap asam lemak tidak jenuh di dalam lemak. Menurut

Andarwulan dkk.(2011) senyawa aldehid bersifat tidak stabil dan terdekomposisi

menjadi senyawa yang lebih sederhana seperti malonaldehid yang dapat dideteksi

dengan pereaksi TBA.

Analisis ragam menunjukkan bahwa interaksi antara metode pasteurisasi

dan level buah sirsak tidak berpengaruh nyata terhadap nilai rata-rata TBA susu

pasteurisasi. Peningkatan level buah sirsak dapat meningkatkan nilai TBA, namun

metode pasteurisasi tidak dapat meningkatkan nilai TBA susu pasteurisasi. Hal ini

kemungkinan disebabakan adanya penyimpanan yang dapat memicu terjadinya

oksidasi lipid yang banyak sehingga menyebabkan bilangan TBA semakin

meningkat. Sammet dkk. (2006) menyebutkan dalam penelitiannya bahwa

semakin lama waktu penyimpanan maka bilangan TBA semakin meningkat.

Menurut Muchtadi dkk. (2011) selama penyimpanan minyak dan lemak

mengalami proses oksidasi menghasilkan komponen seperti aldehid, keton dan

asam lemak bebas yang menyebabkan ketengikan.

Uji Organoleptik Aroma

Aroma merupakan hal yang penting dalam suatu produk karena dapat menjadi penentu daya terima konsumen. Menurut Ratnaningtyas (2003) aroma tidak hanya ditentukan oleh satu komponen, tetapi merupakan perpaduan dari bahan bahan pembentuknya. Sunarlim dan Usmiati (2006) menyatakan

(39)

26 penilaian citarasa makanan menggunakan indera manusia sebagai alat penilaian dikenal dengan istilah penilaian organoleptik. Nilai skor aroma susu pasteurisasi HTST dan LTLT yang ditambahkan berbagai level buah sirsak

setelah penyimpanan selama 7 hari dalam refrigerator dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7.Nilai rata-rata Aroma susu pasteurisasi HTST dan LTLT yang ditambahkan berbagai level buah sirsak (Annona muricata L.).

Metode Pasteurisasi Level (%) Rata-rata

0 7 14

HTST 4,6 3,2 4,0 3,9

LTLT 4,9 3,6 3,8 4,1

Rata-rata 4,7a 3,4b 3,9ab

Ket : Notasi huruf yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan pengaruh yang nyata (P<0,05,); Nilai terendah 1 (sangat menyimpang) dan tertinggi 6 (Normal).

Analisis ragam menunjukkan bahwa metode pasteurisasi tidak

berpengaruh nyata terhadap aroma setelah penyimpanan. Hasil nilai rata-rata

aroma susu pasteurisasi buah sirsak setelah penyimpanan pada metode HTST dan

metode LTLT kurang lebih sama, meskipun nilai LTLT adalah (4,1) lebih tinggi

daripada HTST (3,9). Hal disebabkan karena penilaian panelis cenderung agak

menyimpang (agak tengik) hingga netral sedangkan nilai rata-rata aroma susu

pasteurisasi metode LTLT yaitu 4,1 yang berarti bahwa panelis penilaian pada

netral hingga agak normal. Menurut Maryam (2007) yang menyatakan bahwa

aroma dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu aroma bahan dasar dan aroma yang

timbul dari proses perebusan. Adnan (1984) menyatakan bahwasusu mempunyai

(40)

27

karena itu semakin pendek rantai atom carbon yang dimiliki lemak maka

susu mempunyai aroma yang lebih jelas karena lebih mudah menguap.

Analisis ragam menunjukkan bahwa level buah sirsak berpengaruh nyata

(P<0,05) terhadap aroma susu pasteurisasi. Hasil uji lanjut Duncan menunjukkan

bahwa nilai rata-rata aroma susu pasteurisasi yang ditambahkan buah sirsak pada

level 0% terhadap level 7% dan 14% berbeda nyata (P<0,05), sedangakan antara

level 7% dan level 14% adalah sama. Hal ini menunjukkan bahwa level 0 %

merupakan nilai aroma tertinggi (4,7) yaitu netral hingga agak normal sedangkan

level 7% dan 14% kurang lebih sama berkisar (3,4-3,9) yaitu nilai rata-rata aroma

agak menyimpang (agak tengik) hingga nertal. Hal ini menunjukkan bahwa aroma

sejalan dengan peningkatan nilai TBA yang meningkat seiring dengan

peningkatan level buah sirsak hingga 7 %. Hal ini kemungkinan disebabkan

karena terjadinya kerusakan lemak yang menyebabkan timbulnya aroma tengik

akibat oksidasi.

Analisis ragam menunjukkan bahwa interaksi antara level dan metode susu

pasteurisasi buah sirsak tidak berpengaruh nyata terhadap aroma. Peningkatan

level menyebabkan cenderung terjadi penurunanan penilaian panelis terhadap

aroma setelah penyimpanan meskipun nilai rata-rata aroma level 14% yakni (3,9)

mengalami peningkatan dibandingkan pada level 7% yakni (3,4). Hal ini

kemungkinan disebabkan karena buah sirsak memiliki peningkatan total asam

selama penyimpanan. Hal ini didukung oleh Buckle dkk. (1987) yang

(41)

28

menyebabkan peningkatan total asam sehingga bahan pangan menjadi asam

(42)

29

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa :

1. Metode pasteurisasi HTST maupun LTLT menghasilkan nilai DPPH, nilai

TBA, dan aroma susu pasteurisasi buah sirsak yang sama.

2. Peningkatan level buah sirsak hingga 7% dapat meningkatkan nilai DPPH,

nilai TBA sementara nilai aroma susu pasteurisasi menurun .

3. Tidak ada interaksi antara metode pasteurisasi dan level buah sirsak terhadap

nilai DPPH, nilai TBA dan aroma susu pasteurisasi.

Saran

Sebaiknya dalam pembuatan susu pasteurisasi dengan penambahan buah

(43)

30

DAFTAR PUSTAKA

Adnan. 1984. Kimia dan Teknologi Pengolahan Air Susu. Penerbit Andi Offet. Yogyakarta. 94 hal :1-77

Andarwulan, N., F. Kusnandar dan D. Herawati. 2011. Analisis Pangan. Dian Rakyat, Jakarta.

Anggraini, A. 2007. Pengaruh Jenis Dan Konsentrasi Antioksidan terhadap Ketahanan Oksidasi Biodiesel dari Jarak Pagar (Jatropha Curcas, L.). Skripsi. Fakultas Teknologi Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Apriantono, A., D. Fardiaz., N. L. Puspitasari., Sedarnawati dan S. Budiyantono.

1989. Analisis Pangan. Institut Pertanian Bogor (IPB Press), Bogor.

Ashari, S. 2006. Meningkatkan Keunggulan Berbuahan Tropis Indonesia. Penerbit ANDI, Yogyakarta.

Badan Standardisasi Nasional. 1995. Susu pasteurisasi. SNI No.01-3951-1995. BSN, Jakarta.

Badan Standarisasi Nasional Indonesia. 1998. Standarisasi susu segar. SNI No. 01-3141-1998. BSN, Jakarta.

Badan Standardisasi Nasional Indonesia. 2000. Batas maksimum cemaran mikroba dan batas maksimum residu dalam bahan makanan asal hewan. SNI No. 01-6366-2000 BSN, Jakarta.

Badan Standardisasi Nasional Indonesia. 2011. Susu segar. SNI 01-3141-2011. BSN, Jakarta.

Belleville-Nabet, F. 1996. Zat gizi antioksidan penangkal senyawa radikal pangan dalam sistem biologis. Prosiding Seminar Senyawa Radikal dan Sistem Pangan. CFNS-IPB dan kedutaan Besar Prancis-Jakarta.

Buckle, K.A., R.A. Edwards, G.H. Fleet dan M. Wotton. 1987. Ilmu Pangan. Terjemahan H. Purnomo dan Adiano. UI-Press, Jakarta.

Codex Alimentarius Comission. 2004. CAC/RCP 57-2004 : code of hygienic practice for milk and milk products. FAO and WHO, Rome.

Fleuriet, A and J. J. Macheix. 2003. Phenolic acid in fruits and vegetables. In C. A. rice-Evans & L. packer. Flavonoids in health and disease. Marcel Dekker Inc. Florida, South Africa.

(44)

31

Giorgio, P. 2000. Flavonoid an antioxidant. Journal National Product. 63: 1035-1045.

Hadiwiyoto, S. 1994. Teori dan Prosedur Pengujian Mutu Susu dan Hasil Olahannya. Liberty, Yogyakarta.

Halliwell, B. And J.M.C. Gutteridge. 2000. Free radical in biology and medicine. Ed 4th. Oxford University Press, New York.

Hariyatimi. 2004. Kemampuan vitamin e sebagai antioksidan terhadap radikal bebas pada lanjut usia. Jurnal MIPA, Universitas Muhamadiah Surakarta

Haryoto. 1998. Sirup Sirsak. Kanisius, Yogyakarta.

Herendra. 2009. Pengaruh proses distribusi terhadap peningkatan angka kuman pada susu sapi segar di peternakan ram kecamatan Mojosongo kabupaten Boyolali. Skripsi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

Jannah. R.N. 2010. Uji efektivitas ekstrak daun sirsak (Annona muricata L.) sebagai pestisida nabati terhadap pengendalian hama tanaman sawi (Brassica juncea L.). Skripsi Jurusan Biologi Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta

Kartika, B., P. Hastuti, san W. Supartono. 1998. Pedoman Uji Inderawi Bahan Pangan. Pusat antar Pangan dan Gizi Universitas Gadja Mada. Yokyakarta. Khamidinal., N. Hadipranoto dan Mudasir. 2007. Pengaruh antioksidan terhadap

kerusakan asam lemak omega-3 pada proses pengolahan ikan tongkol. Jurnal Ilmiah Kaunia, Yogyakarta.

Ketaren, S. 1986. Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan. Universitas Indonesia Press, Jakarta.

Kumar, S. 2011. Free radicals and antioxidants: human and food system. Adv. in Appl. Sci, Res.

Maryam, S. 2007. Penentuan Suhu Optimal Air Saat Menggiling Kedelai Untuk Menghasilkan Tahu Berkualitas.Jurnal Penelitian dan Pengembangan Sains & Humaniora. Vol. 1 No.2. Hal : 156-167

Milbury, P.E., and A.C. Richer. 2011. Understanding theantioxidant controversy: Scrutinizing the„fountain of youth. Greenwood Publishing Group, USA.

Muchtadi, T. R., Sugiono dan F.Ayustaningwarno. 2011. Ilmu Pengetahuan Bahan Pangan. Alfabeta,Bandung.

(45)

32

Quezada M, Asencio M, Valle JM, Aguilera JM. 2004. AAntioxidant activity of crude extract, alkaloid fraction, and flavonoid faction from Boldo Peumus boldus Molina) Leaves. “Food Sci” 69: C371-C376.

Rahmani, R. 2008. Penentuan fisik fisiko kimia dan komposisi asam lemak penyusun triglisarida serta optimasi kondisi reaksi sintetis biodesel (mitel ester) minyak biji sirsak (Annona muricata L). Skripsi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, Depok.

Ratnaningtyas, A. 2003. Tahu Dari Kacang Non Kedelai; Studi Kasus Kacang Komak. Skripsi. Fakultas Teknologi Pertanian. IPB, Bogor.

Sammet, K., R. Duehlmeier, H. P. Sallmann, C.von Canstein, T. von Mueffling and B.Nowak. 2006. Assessment of theantioxidative potential of dietary supplementation with a tocopherol in low nitrite salami type sausages. Meat Sci. 72:270–279.

Sen, S., R. Chakraborty, C.Sridharl, Y.S.R. Reddy, & B.De. 2010. Free radicals,antioxidants, diseases and phytomedicines: Current status and future prospect. Inter. J. Pharmaceu. Sci, Rev and Res.

Setya, A. W. 2012. Teknologi Pengolahan Susu. Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Slamet Riyadi, Surakarta

Sjahid. L. R. 2008. Isolasi dan Identifikasi Flavonoid dari Daun Dewandaru(Eugenia uniflora L.). Skripsi Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta.

Subagio, A dan Morita. 2001. No Effect of Esterification with Fatty Acid on Antioxidant Activity of Lutein. Food Res. Int., Tokyo.

Sunarlim, R., dan S. Usmiati. 2006. Sifat Mikrobiologi dan Sensori Dadih Susu Sapi yang Difermentasi Menggunakan Lactobacillus Plantarum dalam Kemasan yang Berbeda. Buletin Peternakan 30(4): 208 –216 Subroto, A. dan Saputro, H. 2006. Gempur Penyakit dengan Sarang Semut.

Penebar Swadaya, Jakarta.

Tamat S. R. T., Wikanta dan L. S. Maulina.2007. Aktivitas Antioksidan Dan Toksisitas Senyawa Bioaktif Dari Ekstrak Rumput Laut Hijau Ulva Reticulataforsskal.Fakultas Farmasi Universitas Pancasila, Jakarta.

Thomas, A. N. S. 1992. Tanaman Obat Tradisional 2. Cetakan ke-15. Kanisius, Yogyakarta.

Tjitrosoepomo, G. 1991. Taksonomi Tumbuhan. Penerbit UGM Press, Yogyakarta.

(46)

33

Warni. 2014. Kualitas susu sapi perah di kabupaten sinjai dan kaitannya dengan infeksi listeria monocytogenes. Fakultas Peternakan. Universitas Hasanuddin Makassar.

Widodo, W. 2002. Bioteknologi Fermentasi Susu.Pusat pengembangan Bioteknologi Universitas Muhammadiyah Malang, Malang

Wijaya, A. 1996. Radikal bebas dan parameter status antioksidan. Forum Diagnosticum, Prodia Diagnostic Educational Services.

Winarsi, H. 2007. Antioksidan Alami dan Radikal Bebas. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Yu, L, Scott., Jonathan., Mary., John and W. M. Qian. 2002. Free Radicals Scavenging Properties of Wheat Extracts. J.Agric Food Chem, Colorado.

Zuhud, E. 2011. Bukti Kedahsyatan Sirsak Menumpas Kanker. Agromedia Pustaka, Jakarta.

(47)
(48)

35

Lampiran 1. Analisis Ragam Nilai DPPH

Descriptive Statistics

Dependent Variable:Nilai_DPPH

Metode_Pasteurisasi

Level_Buah_

sirsak Mean Std. Deviation N

HTST Level 0% 40.9353 .85536 3 Level 14% 48.6435 2.48455 3 Level 7% 50.1995 6.76208 3 Total 46.5928 5.62275 9 LTLT Level 0% 42.8652 1.82501 3 Level 14% 48.6369 2.57316 3 Level 7% 50.1491 1.04453 3 Total 47.2171 3.72054 9 Total Level 0% 41.9003 1.65597 6 Level 14% 48.6402 2.26223 6 Level 7% 50.1743 4.32753 6 Total 46.9049 4.63628 18

Tests of Between-Subjects Effects Dependent Variable:Nilai_DPPH

Source

Type III Sum of

Squares df Mean Square F Sig.

Corrected Model 238.069a 5 47.614 4.487 .015 Intercept 39601.280 1 39601.280 3.732E3 .000 Metode_Pasteurisasi 1.754 1 1.754 .165 .692 Level_Buah_sirsak 232.479 2 116.239 10.953 .002 Metode_Pasteurisasi * Level_Buah_sirsak 3.837 2 1.918 .181 .837 Error 127.347 12 10.612 Total 39966.696 18 Corrected Total 365.416 17

(49)

36 Multiple Comparisons Dependent Variable:Nilai_DPPH (I) Level_Buah_sir sak (J) Level_Buah_ sirsak Mean Difference

(I-J) Std. Error Sig.

95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound LSD Level 0% Level 14% -6.7400* 1.88080 .004 -10.8379 -2.6420 Level 7% -8.2740* 1.88080 .001 -12.3719 -4.1761 Level 14% Level 0% 6.7400* 1.88080 .004 2.6420 10.8379 Level 7% -1.5341 1.88080 .431 -5.6320 2.5639 Level 7% Level 0% 8.2740* 1.88080 .001 4.1761 12.3719 Level 14% 1.5341 1.88080 .431 -2.5639 5.6320

Based on observed means.

The error term is Mean Square(Error) = 10.612. *. The mean difference is significant at the .05 level.

Lampiran 2. Analisis Ragam Nilai TBA

Descriptive Statistics Dependent Variable:Nilai_TBA

Level_Buah

_sirsak Metode_Pasteurisasi Mean Std. Deviation N

0% HTST .0475 .01761 3 LTLT .0722 .02014 3 Total .0599 .02165 6 14% HTST .0791 .01702 3 LTLT .0755 .01240 3 Total .0773 .01346 6 7% HTST .1006 .00653 3 LTLT .0845 .01201 3 Total .0926 .01238 6 Total HTST .0757 .02637 9 LTLT .0774 .01436 9 Total .0766 .02062 18

(50)

37

Tests of Between-Subjects Effects

Dependent Variable:Nilai_TBA

Source

Type III Sum of

Squares df Mean Square F Sig.

Corrected Model .005a 5 .001 4.041 .022

Intercept .106 1 .106 470.326 .000

Metode_Pasteurisasi 1.217E-5 1 1.217E-5 .054 .820

Level_Buah_sirsak .003 2 .002 7.152 .009 Metode_Pasteurisasi * Level_Buah_sirsak .001 2 .001 2.923 .092 Error .003 12 .000 Total .113 18 Corrected Total .007 17

a. R Squared = .627 (Adjusted R Squared = .472)

Multiple Comparisons Dependent Variable:Nilai_TBA (I) Level_B uah_Sir sak (J) Level_B uah_Sir sak Mean Difference

(I-J) Std. Error Sig.

95% Confidence Interval

Lower Bound Upper Bound

LSD 0% 14% -.0174 .00865 .067 -.0363 .0014 7% -.0327* .00865 .003 -.0515 -.0138 14% 0% .0174 .00865 .067 -.0014 .0363 7% -.0153 .00865 .103 -.0341 .0036 7% 0% .0327* .00865 .003 .0138 .0515 14% .0153 .00865 .103 -.0036 .0341

Based on observed means.

The error term is Mean Square(Error) = .000. *. The mean difference is significant at the .05 level.

(51)

38

Lampiran 3. Analisis Ragam Organoleptik Aroma Setelah Penyimpanan

Descriptive Statistics Dependent Variable:Aroma_Setelah_Penyimpanan

Metode_Pasteurisasi Level_Buah_sirsak Mean Std. Deviation N

HTST 0% 4.6000 1.07497 10 14% 4.0000 1.41421 10 7% 3.2000 1.47573 10 Total 3.9333 1.41259 30 LTLT 0% 4.9000 1.19722 10 14% 3.8000 1.75119 10 7% 3.6000 1.34990 10 Total 4.1000 1.51658 30 Total 0% 4.7500 1.11803 20 14% 3.9000 1.55259 20 7% 3.4000 1.39170 20 Total 4.0167 1.45546 60 Nilai_TBA Level_Buah_sirsak N Subset 1 2 Duncana 0% 6 .0599 14% 6 .0773 .0773 7% 6 .0926 Sig. .067 .103

Means for groups in homogeneous subsets are displayed. Based on observed means.

The error term is Mean Square(Error) = .000. a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 6.000.

(52)

39

Tests of Between-Subjects Effects

Dependent Variable:Aroma_Setelah_Penyimpanan

Source

Type III Sum of

Squares df Mean Square F Sig.

Corrected Model 20.083a 5 4.017 2.068 .084 Intercept 968.017 1 968.017 498.312 .000 Metode_Pasteurisasi .417 1 .417 .214 .645 Level_Buah_sirsak 18.633 2 9.317 4.796 .012 Metode_Pasteurisasi * Level_Buah_sirsak 1.033 2 .517 .266 .767 Error 104.900 54 1.943 Total 1093.000 60 Corrected Total 124.983 59

a. R Squared = .161 (Adjusted R Squared = .083)

Multiple Comparisons Dependent Variable:Aroma_Setelah_Penyimpanan (I) Level_B uah_sir sak (J) Level_B uah_sir sak Mean Difference

(I-J) Std. Error Sig.

95% Confidence Interval

Lower Bound Upper Bound

LSD 0% 14% .8500 .44075 .059 -.0336 1.7336 7% 1.3500* .44075 .003 .4664 2.2336 14% 0% -.8500 .44075 .059 -1.7336 .0336 7% .5000 .44075 .262 -.3836 1.3836 7% 0% -1.3500* .44075 .003 -2.2336 -.4664 14% -.5000 .44075 .262 -1.3836 .3836

Based on observed means.

(53)

40 Multiple Comparisons Dependent Variable:Aroma_Setelah_Penyimpanan (I) Level_B uah_sir sak (J) Level_B uah_sir sak Mean Difference

(I-J) Std. Error Sig.

95% Confidence Interval

Lower Bound Upper Bound

LSD 0% 14% .8500 .44075 .059 -.0336 1.7336 7% 1.3500* .44075 .003 .4664 2.2336 14% 0% -.8500 .44075 .059 -1.7336 .0336 7% .5000 .44075 .262 -.3836 1.3836 7% 0% -1.3500* .44075 .003 -2.2336 -.4664 14% -.5000 .44075 .262 -1.3836 .3836

*. The mean difference is significant at the .05 level.

Aroma_Setelah_Penyimpanan Level_Buah_sirsak N Subset 1 2 Duncana 7% 20 3.4000 14% 20 3.9000 3.9000 0% 20 4.7500 Sig. .262 .059

Means for groups in homogeneous subsets are displayed. Based on observed means.

The error term is Mean Square(Error) = 1.943. a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 20.000.

(54)
(55)

42

Lampiran 2. Dokumentasi Kegiatan Penelitian

Proses pemotongan buah birsak Proses pemisahan biji , kulit dan daging buah

Proses penambahan air dan diblender Proses penyaringan buah sisak

(56)

43

Pengenceran sampel Sampel uji DPPH

Proses uji DPPH Destilasi Sampel

(57)

44

RIWAYAT HIDUP

IRMAYANA AYU ANITA akrab disapa Irma, lahir di

Sanrangenge pada tanggal 13 Oktober 1993 dari seorang Ayah

yang bernama Arafah dan seorang Ibu yang bernama

Bungaming. Irma adalah anak kelima dari lima bersaudara .

Penulis memulai pendidikannya di Sekolah dasar SD Negeri NO.55 Otting, Bone

pada tahun 1999-2005. Setelah itu, melanjutkan lagi di tingkat pendidikan

menengah pertama di SMP Negeri 2 Tellu Siattinge pada tahun 2005 – 2008.

Kemudian melanjutkan ke tingkat Pendidikan Menengah Atas di SMA N 1

Tellusiattinge pada tahun 2008 – 2011. Selanjutnya pada tahun 2011 masuk ke

jenjang perkuliahan di tingkat perguruan tinggi negeri melalui jalur Seleksi

Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) yakni di Universitas

Hasanuddin Makassar tepatnya di Fakultas Peternakan hingga sekarang tahun

Gambar

Tabel 1. Syarat mutu susu pasteurisasi
Tabel 2. Kandungan Gizi dalam Setiap 100 Gram Buah Sirsak.
Gambar 1. Diagram Alir Penyiapan Buah Sirsak. Buah Sirsak segar
Tabel  4. Nilai Skor dan Deskripsi Penilaian Aroma  Skor  Deskripsi   1  Sangat menyimpang  2  Menyimpang   3  Agak menyimpang  4  Netral  5  Agak normal  6  Normal

Referensi

Dokumen terkait

[r]

kepada Pihak Pertama dan Pihak Pertama menerima penyerahan pekerjaan pengadaan barang tersebut terhitung dari tanggal ……… 20…..... Waktu pelaksanaan pekerjaan tidak melampaui

Dengan permasalahan tersebut maka siswa harus diberi perlakuan salah satunya dengan mencoba menerapkan Media Animasi model pembelajaran STAD Oleh karena itu,

perhitungan, hari pembalasan terhadap dosa dan pahala yang manusia perbuat selama mengurus harta di dunia. Manusia akan ditanya dari mana hartanya diperoleh dan untuk

Kemudian pada kondisi baseline (A2) dilaksanakan 4 kali pertemuan, kondisi ini merupakan kondisi setelah diberikan intervensi atau kondisi setelah tidak diberikan permainan

Conclusion of the Design Development Based on the results of the validation process of development and discussion of teaching materials in the form of laboratory work in the

Sebagaimana kita ketahui, jika alih fungsi lahan hutan tersebut dilakukan sesuai dengan peruntukannya, yaitu sesuai dengan lingkungan yang mempunyai ekosistem

Prediksi curah hujan dan debit air terbaik di Deli Serdang menggunakan BP-NN adalah prediksi 6 hari dengan kombinasi training:testing yaitu 60:40 dengan RMSE