• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

54

A. Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini untuk mengetahui gambaran pengetahuan dan tingkat stres pada klien TB Paru di wilayah kerja Puskesmas Bogor Selatan Kota Bogor dengan jumlah responden sebanyak 30 orang. Peneliti membuat diagram dan penjelasan mengenai distribusi frekuensi dari karakteristik berdasarkan umur, jenis kelamin, pendidikan terakhir, pendapatan, informasi pengetahuan mengenai TB Paru serta tingkat stres pada responden yang mengidap TB Paru. Tujuannya adalah untuk memperjelas hasil penelitian mengenai pengetahuan dan tingkat stres pada responden. Data-data yang didapatkan berdasarkan dari sumber primer dan sekunder yang diolah dari kuesioner seluruh responden. Setelah data diolah lalu didapatkanlah hasil penelitian yang dianalisis dengan cara analisis univariat dan dijelaskan hasil analisis sebagai berikut:

(2)

1. Karakteristik Responden a. Usia Responden

Diagram 5.1

Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Usia Di Puskesmas Bogor Selatan April 2020 (n=30)

Berdasarkan diagram 5.1 memaparkan bahwa dari 30 responden klien TB Paru didapatkan data bahwa lebih dari setengahnya 17 orang (57%) responden berumur 17-25 tahun dan sebagian kecil 1 orang (3%) responden berumur 26-35 tahun dan >65tahun. Responden dalam penelitian ini didominasi oleh responden yang berusia 17-25 tahun.

17-25 tahun 57% 26-35 tahun 3% 36-45 tahun 20% 46-55 tahun 10% 56-65 tahun 7% >65 tahun 3%

Usia Responden

17-25 tahun 26-35 tahun 36-45 tahun

(3)

b. Jenis Kelamin Responden

Diagram 5.2

Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Di Puskesmas Bogor Selatan April 2020 (n=30)

Berdasarkan diagram 5.2 memaparkan bahwa dari 30 responden klien TB Paru didapatkan data bahwa lebih dari setengahnya 19 orang (63%) responden berjenis kelamin perempuan dan kurang dari setengahnya 11 orang (37%) responden berjenis kelamin laki-laki.

Laki-laki 37%

Perempuan 63%

Jenis Kelamin Responden

(4)

c. Pendidikan Terakhir Responden

Diagram 5.3

Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir Di Puskesmas Bogor Selatan April 2020 (n=30)

Berdasarkan diagram 5.3 memaparkan bahwa dari 30 responden klien TB Paru didapatkan data bahwa lebih dari setengahnya 17 orang (57%) responden berpendidikan terakhir SMA, dan sebagian kecil 1 orang (3%) responden berpendidikan terakhir SMP. SD 7% SMP 3% SMA 57% DIPLOMA 13% SARJANA 20%

Pendidikan Terakhir Responden

(5)

d. Pendapatan Responden

Diagram 5.4

Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pendapatan Di Puskesmas Bogor Selatan April 2020 (n=30)

Berdasarkan diagram 5.4 memaparkan bahwa dari 30 responden klien TB Paru didapatkan data bahwa sebagian besar 29 orang (97%) responden berpendapatan <Rp4.189.708 dan sebagian kecil 1 orang (3%) responden berpendapatan >Rp4.189.708. <Rp4.189.708 97% >Rp4.189.708 3%

Pendapatan Responden

<Rp4.189.708 >Rp4.189.708

(6)

2. Pengetahuan Responden

Diagram 5.5

Distribusi Frekuensi Pengetahuan Pada Klien TB Paru Di Puskesmas Bogor Selatan April 2020 (n=30)

Berdasarkan diagram 5.5 memaparkan bahwa dari 30 responden klien TB Paru didapatkan data bahwa sebagian besar 25 orang (83%) responden memiliki tingkat pengetahuan baik dan sebagian kecil 5 orang (17%) responden memiliki tingkat pengetahuan cukup.

Pengetahuan Baik 83% Pengetahuan Cukup 17% Pengetahuan Kurang 0%

Tingkat Pengetahuan Responden

(7)

3. Tingkat Stres Responden

Diagram 5.6

Distribusi Frekuensi Tingkat Stres Pada Klien TB Paru Di Puskesmas Bogor Selatan April 2020 (n=30)

Berdasarkan diagram 5.6 memaparkan bahwa dari 30 responden klien TB Paru didapatkan data bahwa hampir setengahnya 12 orang (40%) responden tidak mengalami stres dan sebagian kecil 1 orang (3%) responden mengalami stres sangat berat. Tidak Stres 40% Stres Ringan 30% Stres Sedang 27%

Stres Sangat Berat 3%

Tingkat Stres Responden

(8)

B. Pembahasan Penelitian

Pada pembahasan ini akan diuraikan tentang tentang kesesuaian ataupun ketidaksesuaian antara konsep teoritik dengan hasil penelitian di lapangan mengenai pengetahuan dan tingkat stress pada klien TB Paru di wilayah kerja Puskesmas Bogor Selatan.

1. Usia

Hasil penelitian menunjukkan dari 30 responden klien TB Paru di wilayah kerja Puskesmas Bogor Selatan didapatkan data bahwa lebih dari setengahnya 17 orang (57%) responden berumur 17-25 tahun dan sebagian kecil 1 orang (3%) responden berumur >65tahun. Sejalan dengan penelitian Dotulong, et al (2017), bahwa responden terbanyak adalah responden dengan usia produktif. Lingkungan sekolah maupun lingkungan kerja yang padat serta berhubungan dengan banyak orang juga dapat meningkatkan resiko terjadinya penularan TB Paru. Kondisi demikian menyebabkan seseorang yang berusia produktif lebih mudah dan lebih banyak menderita TB Paru.

2. Jenis Kelamin

Hasil penelitian menunjukkan dari 30 responden klien TB Paru di wilayah kerja Puskesmas Bogor Selatan didapatkan data bahwa lebih dari setengahnya 19 orang (63%) responden berjenis kelamin perempuan dan kurang dari setengahnya 11 orang (37%) responden berjenis kelamin laki-laki. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Dotulong, et al (2017), dimana di dalam penelitiannya didapatkan bahwa respondennya

(9)

lebih dari setengahnya berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 58 orang (59,8%) responden. Namun hal ini tidak sejalan dengan yang diungkapkan oleh Naga (2012) bahwa jenis kelamin laki-laki lebih beresiko terpapar TB Paru karena kebiasaan laki-laki yang sering merokok dan mengkonsumsi minuman beralkohol yang dapat menurunkan sistem pertahanan tubuh. 3. Pendidikan

Hasil penelitian menunjukkan dari 30 responden klien TB Paru di wilayah kerja Puskesmas Bogor Selatan didapatkan data bahwa lebih dari setengahnya 17 orang (57%) responden berpendidikan terakhir SMA, dan sebagian kecil 1 orang (3%) responden berpendidikan terakhir SMP. Dalam Suyanto, et al (2017) tingkat pendidikan merupakan salah satu faktor pengendalian penularan TB Paru. Pendidikan merupakan usaha dasar untuk mengembangkan kemampuan dan kepribadian yang berlangsung seumur hidup. Semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin banyak pengetahuannya dan tinggi kesadarannya mengenai hak yang dimilikinya untuk memperoleh informasi tentang upaya pengendalian penularan TB Paru sehingga menuntut dirinya agar memperoleh keselamatan jiwanya.

4. Pendapatan

Hasil penelitian menunjukkan dari 30 responden klien TB Paru di wilayah kerja Puskesmas Bogor Selatan didapatkan data bahwa sebagian besar 29 orang (97%) responden berpendapatan <Rp4.189.708 dan sebagian kecil 1 orang (3%) responden berpendapatan >Rp4.189.708. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Rahmah, et al. (2016) menyatakan bahwa

(10)

pendepatan pada klien TB Paru tidak ada hubungannya dengan proses penularan maupun proses pengobatan.

5. Pengetahuan

Hasil penelitian menunjukkan dari 30 responden klien TB Paru di wilayah kerja Puskesmas Bogor Selatan didapatkan data bahwa sebagian besar 25 orang (83%) responden memiliki tingkat pengetahuan baik dan sebagian kecil 5 orang (17%) responden memiliki tingkat pengetahuan cukup. Hal tersebut sejalan berdasarkan penelitian Imas dan Nurul di RS Paru Sidawangi Cirebon Jawa Barat pada tahun 2016 dari 42 responden, menunjukkan bahwa responden yang mempunyai tingkat pengetahuan baik sebanyak 83.30%, tingkat pengetahuan cukup sebanyak 14.30%, tingkat pengetahuan kurang sebanyak 2.40%. Dari penelitian tersebut maka diketahui bahwa sebagian besar responden memiliki pengetahuan yang baik terhadap proses penyakit TB Paru.

Menurut Budiman & Riyanto (2013), pengetahuan adalah sebagai suatu pembentukan yang terus-menerus oleh seseorang yang setiap saat mengalami reorganisasi karena adanya pemahaman-pemahaman baru. Menurut Budiman dan Riyanto (2013) ada beberapa faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang, diantaranya adalah usia, pendidikan. sosial budaya dan ekonomi, dan lingkungan.

Usia mempengaruhi daya tangkap dan pola pikir seseorang. semakin bertambahnya usia akan semakin berkembang pula daya tangkap dan pola pikirnya sehingga pengetahuan yang diperolehnya semakin

(11)

membaik (Budiman dan Riyanto, (2013)). Pada penelitian ini setengahnya 17 orang (57%) responden berumur 17-25 tahun dan sebagian kecil 1 orang (3%) responden berumur >65tahun.

Pada faktor pendidikan, dalam penelitian ini lebih dari setengahnya 17 orang (57%) responden berpendidikan terakhir SMA, pada umumnya semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin mudah dalam menerima informasi. Maka hal ini sesuai dengan teori yang diungkapkan oleh Budiman dan Riyanto (2013). Berdasarkan hasil penelitian Imas dan Nurul (2016) pengetahuan memiliki hubungan yang bermakna terhadap pencegahan penularan TB Paru serta keberhasilan pengobatan.

Faktor yang lainnya ialah faktor sosial budaya dan ekonomi. Menurut Budiman dan Riyanto (2013), status ekonomi seseorang juga akan menentukan tersedianya suatu fasilitas yang diperlukan untuk kegiatan tertentu sehingga status sosial ekonomi ini akan mempengaruhi pengetahuan seseorang. Pada penelitian ini didapatkan data bahwa sebagian besar 29 orang (97%) responden berpendapatan <Rp4.189.708 dan sebagian kecil 1 orang (3%) responden berpendapatan >Rp4.189.708. 6. Tingkat Stress

Hasil penelitian menunjukkan dari 30 responden klien TB Paru di wilayah kerja Puskesmas Bogor Selatan dari 30 responden klien TB Paru didapatkan data bahwa hampir setengahnya 12 orang (40%) responden tidak mengalami stres dan sebagian kecil 1 orang (3%) responden mengalami stress sangat berat. Menurut Priyoto (2014) stres adalah reaksi/respon tubuh

(12)

tehadap stresor psikososial (tekanan mental/beban kehidupan). Sedangkan salah satu faktor yang mempengaruhi stres diantaranya adalah pengetahuan/informasi yang didapatkan, semakin banyaknya informasi yang didapatkan maka kemungkinan akan mengalami stress pun akan berkurang. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil dari pengukuran pengetahuan responden yang sebagian besar 25 orang (83%) responden memiliki tingkat pengetahuan baik sehingga sejalan dengan hasil pengukuran tingkat stress responden yang mendapatkan hasil hampir setengahnya 12 orang (40%) responden tidak mengalami stress. Hal ini sesuai dengan teori yang diungkapkan oleh Priyoto (2014).

(13)

C. Keterbatasan Penelitian

Dalam proses penelitian ini tidak selamanya berjalan sesuai dengan yang telah direncanakan oleh peneliti. Peneliti telah melakukan berbagai upaya untuk mendapatkan hasil yang optimal. Maka dari itu, terdapat berbagai hal yang menghambat penelitian ini, diantaranya adalah sedang terjadinya wabah pandemik COVID-19 sehingga diharuskannya melakukan physical distancing,

maka hal iniberdampak pada proses pengumpulan data. Pengumpulan data tidak bisa dilakukan secara langsung, namun pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner online dengan menggunakan google form, hal ini tentu menimbulkan kendala bagi responden yang tidak memiliki handphone sebagai media untuk mengisi kuesioner tersebut. Selain itu, hal in juga menyebabkan peneliti tidak bisa melakukan pengumpulan data di lokasi yang sebelumnya sudah peneliti tetapkan, begitu pun dengan responden penelitian ini yang kurang sesuai dengan kriteria inklusi yang sudah peneliti tetapkan.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian Elangovan dkk melaporkan bahwa walaupun menggunakan dializer yang luas, kec epatan aliran darah dan aliran dialisat yang tinggi penderita berat badan ³80 kg

28 Tahun 2007 tentang ketentuan umum dan tata cara Perpajakan dan diperbaharui lagi menjadi UU No 16 Tahun 2009 pasal 1, pajak adalah kontribusi wajib kepada

PDIP yang pada setiap pemilihan legislatif yakni pada tahun 2004 dan 2009 selalu menjadi partai pemenang di Provinsi Jawa Tengah, dan juga memenangkan

Barulah pada tanggal 29 September, tampaknya ada sesuatu yang dapat dianggap lebih konkret, dengan munculnya Brigjen Mustafa Sjarif Soepardjo melaporkan kepada

Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam Tugas Akhir ini adalah dapat merencanakan dan menentukan tebal perkerasan serta alternatif perbaikan tanah dasar guna mencegah

[r]

Gejala dari penyakit mulut dapat berupa rasa sakit, infeksi dan terganggunya fungsi mengunyah yang dapat menurunkan kualitas hidup pada lansia (Carranza, 2009). Tindakan awal yang

47 Tahun 1997 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional dapat menjadi dasar kebijaksanaan dalam upaya menjaga pemanfaatan dan pengelolaan danau dan waduk yang tetap