1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan pasar modal Indonesia saat ini masih didominasi oleh para investor besar dan perusahaan. Masih banyak masyarakat awam yang belum mengetahui tentang pasar modal dan jenis instrumennya. Salah satu instrumen investasi yang saat ini dikenal di Indonesia selain deposito, saham, obligasi atau Efek lainnya adalah Reksa Dana.
Reksa dana adalah salah satu cara investor menginvestasikan dananya. Reksa dana merupakan pilihan instrumen yang cukup menarik untuk para investor dibandingkan dengan bunga deposito yang bunganya kurang menarik dan kurang diminati untuk berinvestasi di bank.
Di Indonesia reksa dana mulai berkembang pada awal tahun 1976 didirikan dan dikelola oleh PT. Danareksa dengan menerbitkan sertifikat yang dikenal dengan sertifikat Danareksa I dan II. Pada tahun 1995 pemerintah mengeluarkan peraturan tentang pasar modal yang di dalamnya terdapat peraturan mengenai reksa dana yaitu UU No. 8 tahun 1995 tentang pasar modal. UU tersebut menjadi pelopor munculnya instrument reksa dana pertama di Indonesia yang dikeluarkan oleh PT. BDNI berupa reksa dana tertutup yang terbit pada tahun 1995. Perkembangan produk reksa dana cukup pesat di Indonesia, sampai dengan saat ini sudah terdapat 1.589 jenis produk reksa dana yang aktif beroperasi dengan total dana yang dikelola sekitar 338 triliun rupiah dan dikelola oleh 85 Manajer Investasi (sumber: Otoritas Jasa Keuangan, www.ojk.go.id).
Beberapa keuntungan dalam berinvestasi dalam reksa dana adalah investor yang mempunyai dana terbatas dapat melakukan investasi. Dengan adanya manajer investasi, investor yang tidak memiliki banyak waktu dan pengetahuan tidak perlu
khawatir dalam mengelola dana mereka. Kemudian investor dapat melakukan diversifikasi investasi dalam efek, adanya transparasi dan likuiditas tinggi. Karena bersifat likuiditas tinggi investor dapat mencairkan dana yang mereka investasikan ketika mereka butuh. Itulah beberapa keuntungan berinvestasi di dalam reksa dana
(Kapoor, et al, 2010).
Kelebihan dan kemudahan yang ditawarkan oleh Reksa Dana membuat instrumen ini dijadikan pilihan yang menjanjikan oleh para investor. Reksa Dana merupakan instrumen investasi yang dikelola oleh Manajer Investasi sehingga investor memiliki informasi produk Reksa Dana yang valid dari pihak Manajer Investasi tersebut. Berinvestasi melalui Reksa Dana juga lebih murah dibandingkan instrumen lain karena Manajer Investasi memiliki tugas untuk mengumpulkan dan mengelola dana dari para investor untuk dialokasikan ke pasar modal.
Reksa Dana merupakan salah satu investasi yang berkembang pesat saat ini. Menurut UU No.8 tahun 1995 pasal 1 ayat 27 Reksa Dana didefinisikan sebagai “wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek oleh manajer investasi”.
Reksa Dana memiliki dua sub kategori, yaitu Reksa Dana Syariah dan Reksa Dana Konvesional. Reksa Dana syariah merupakan Reksa Dana yang dijalankan berdasar ketentuan dan prinsip syariat Islam. Di dalam Reksa Dana syariah terdapat proses screening dan proses cleansing. Proses screening adalah proses penyaringan sekuritas yang sesuai dengan syariat Islam, misalnya memilih aset perusahaan yang tidak memiliki aktivitas haram seperti riba, gharar, judi, produksi makanan atau minuman haram, seperti daging babi, minuman keras, rokok, dan sebagainya. Sedangkan proses cleansing adalah proses penghapusan sekuritas yang tidak sesuai syariat, sehingga keuntungan yang dihasilkan dari sekuritas tersebut harus dikeluarkan dan diamalkan dengan cara membayar zakat.
Reksa Dana Syariah bertujuan untuk memandu investor yang ingin menginvestasikan dananya sesuai dengan syariat Islam. Pada kenyataannya, keberadaan Reksa Dana Syariah akan memberi pilihan investasi yang lebih banyak
bagi masyarakat, khususnya para pemodal muslim. Tetapi disamping itu tetap saja masih ada kekhawatiran Reksa Dana Syariah tidak mampu memberikan imbal hasil (return) yang lebih baik dibandingkan Reksa Dana Konvensional. Keraguan tersebut muncul karena dugaan kurang optimalnya pengalokasian dalam portofolio investasinya, yang diakibatkan dari adanya proses screening yang membatasi investasi, karena produk yang menjadi objek investasi hanya yang sesuai dengan syariat Islam.
Pada dasarnya Reksa Dana Syariah dan Reksa Dana Konvensional tidak jauh berbeda. Seperti yang telah dipaparkan diatas, Reksa Dana Syariah memiliki kriteria yang berbeda dengan Reksa Dana Konvesional pada umumnya. Perbedaan pertama terletak pada pemilihan instrumen investasi. Reksa Dana Syariah hanya menempatkan dananya pada instrumen yang bebas dari praktik riba dan praktikpraktik yang tidak halal menurut syariat islam. Mekanisme investasi pada Reksa Dana Syariah pun tidak boleh bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah. Mekanisme operasional Reksa Dana Syariah antara pemodal dan manajer investasi dalah Wakalah, sedangkan antara manajer investasi dengan pengguna investasi adalah Mudharabah.
Wakalah adalah pelimpahan kekuasaan oleh suatu pihak kepada pihak lain dalam hal-hal yang boleh diwakilkan. Pemodal memberikan mandat kepada Manajer Investasi untuk melaksanakan kegiatan investasi bagi kepentingan pemodal sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam Prospektus Reksa Dana. Adapun mudharabah adalah di mana seseorang memberikan hartanya kepada orang lain untuk diperdagangkan dengan ketentuan bahwa keuntungan yang diperoleh dibagi di antara kedua belah pihak, sesuai dengan syarat-syarat yang disepakati.
Jadi perbedaan antara Reksa Dana syariah dengan konvensional terletak pada proses pemilihan asset yang membentuk portofolionya. Reksa Dana konvensional hanya menggunakan pertimbangan tingkat keuntungan dan risiko dalam mengatur portofolio investasi. Sementara Reksa Dana syariah harus mempertimbangkan kehalalan suatu produk keuangan di samping tingkat keuntungan dan risikonya. Oleh sebab itu, perbedaan pengelolaan portofoliolah
yang dapat mengakibatkan perbedaan kinerja antara Reksa Dana konvensional dengan Reksa Dana syariah.
Perkembangan reksa dana konvensional yang cukup pesat ternyata belum mampu memenuhi keinginan masyarakat muslim untuk ikut berinvestasi. Masyarakat muslim di Indonesia memandang bahwa di dalam mekanisme reksa dana konvensional masih ditemukan unsur-unsur yang bertentangan dengan syariat Islam, terutama unsur riba (bunga) dan gharar (ketidakpastian). Untuk itu perlu adanya produk reksa dana yang tidak bertentangan dengan unsur tersebut. Hadirnya sistem ekonomi Islam di Indonesia merupakan cara untuk menghindari unsur riba dan gharar, salah satunya ditandai hadirnya instrument pasar modal syariah dalam bentuk reksa dana yang diluncurkan oleh PT Danareksa Investment Management tahun 1997.
Tabel 1.1 Perkembangan Reksa Dana Syariah dari tahun 2014 – 2018 Tahun Reksa Dana Syariah
2014 74 2015 93 2016 136 2017 182 2018 224
Sumber: Otoritas Jasa Keuangan (2019)
Dilihat dari tabel 1.1 perkembangan reksa dana syariah mengalami peningkatan dari tahun 2014 sampai dengan tahun 2018. Hal tersebut membuktikan bahwa masyarakat sudah mulai mengenal produk reksa dana syariah dan reksa dana syariah sudah menjadi salah satu pilihan masyarakat Indonesia dalam berinvestasi serta mendapat respon yang cukup baik dari masyarakat.
Harga wajar dari suatu portofolio reksa dana dikenal dengan istilah Nilai Aktiva Bersih (NAB). NAB akan selalu diperbaharui setiap hari berdasarkan transaksi reksa dana pada hari tersebut. Informasi mengenai Nilai Aktiva Bersih per unit (NAB/unit) dan return reksa dana setiap hari dilaporkan di beberapa media cetak, maupun situs internet. Besarnya NAB suatu reksa dana merupakan alat ukur
untuk menilai kinerja reksa dana. Secara umum NAB suatu reksa dana sangat tergantung kepada kinerja sekuritas yang menjadi portofolio reksa dana yang bersangkutan yaitu apabila harga pasar dari asset-aset yang menjadi portofolio reksa dana mengalami kenaikan, maka secara otomatis NAB reksa dana juga akan mengalami kenaikan dan sebaliknya apabila aset-aset dalam portofolio reksa dana mengalami penurunan dipasar maka otomatis NAB reksa dana juga akan mengalami penurunan. Grafik 1.1 berikut menunjukkan perkembangan produk reksa dana syariah dan NAB reksa dana syariah di Indonesia pada tahun 2013 – 2018:
Sumber: www.ojk.go.id
Grafik 1.1 Perkembangan Reksa Dana Syariah Tahun 2013 – 2018
Pada tahun 2013 – 2018, NAB Reksa dana syariah mengalami peningkatan yang cukup signifikan, tahun 2013 Reksa dana syariah tercatat sebesar 9.432,19 miliar, tahun 2014 meningkat menjadi 11.158,00 miliar. Namun terjadi penurunan NAB reksa dana syariah pada tahun 2015 menjadi 11.019,43 miliar. Besar NAB reksa dana syariah meningkat kembali pada tahun 2016 hingga tahun 2018, dengan puncaknya pada tahun 2018 reksa dana syariah mengalami peningkatan menjadi 34.491,17 miliar. Secara keseluruhan, NAB reksa dana syariah meningkat selama 6 tahun terakhir.
Di tahun 2013 – 2014, tepatnya pada akhir tahun 2013 total NAB mencapai jumlah 9,432 triliun, padahal pada tahun tersebut Indonesia sedang mengalami krisis ekonomi. Di tahun 2013 dapat dikatakan krisis karena adanya ketidakpastian
ekonomi dunia dan kebijakan moneter Amerika Serikat terkait quantitative easing jilid III. Dari dalam negeri, inflasi melonjak tajam seiring kebijakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Pertumbuhan ekonomi berada di bawah angka 6%, tepatnya hanya 5,8% pada semester I 2013. IHSG terus anjlok, jauh meninggalkan posisi tertingginya. Dana asing keluar besar- besaran. Aksi jual terjadi dan membuat saham-saham sektor unggulan berguguran dan rupiah pun ikut goyang. Nilai tukar mata uang rupiah ambruk dan tak berdaya menghadapi makin kuatnya dolar AS. Maka dari itu, refleksi dari perlambatan pertumbuhan ekonomi tadi, dimana jika fundamental perekonomian Indonesia melemah, maka Rupiah sebagai “saham Indonesia” juga akan turut melemah. (www.businessnews.co.id diakses pada 05 Agustus 2019)
Lalu, di tahun 2014 – 2015 tepatnya pada tahun 2015, kondisi ekonomi global dan pasar modal yang kurang kondusif serta turunnya harga saham di pasar modal menyebabkan NAB reksa dana syariah mengalami penurunan di tahun 2015. Penyebab turunnya NAB reksa dana syariah pada tahun 2015, yaitu pengaruh dari turunnya NAB reksa dana syariah jenis saham syariah yang memiliki porsi lebih dari 40% industri. (www.Bareksa.com diakses pada 30 Juli 2019)
Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sepanjang Januari hingga Juli 2018 mencatat, produk reksa dana syariah memiliki total dana kelolaan (NAB) sebesar Rp 32,67 triliun atau sekitar 6,62 persen dari total dana kelolaan reksa dana sebesar Rp 493,41 triliun. Menurut Direktur Utama PT Bahana TWC Investment Managemen, kinerja reksa dana syariah tetap positif didorong meningkatnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat akan produk investasi halal ini. Karena pada kondisi global ekonomi yang terjadi saat ini telah memicu kenaikan suku bunga dalam negeri, sedangkan pasar obligasi dan pasar saham berfluktuasi cukup tinggi. Rekam jejak reksa dana syariah tergolong bagus bahkan mengalahkan reksa dana konvensional. Selama ini produk reksa dana syariah menarik karena return lebih tinggi. (www.ekonomi.kompas.com diakses pada 05 Agustus 2019)
Head of Investment Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengungkapkan, NAB reksa dana syariah secara historis memang mengalami
pertumbuhan. Namun, presentasinya tidak begitu besar dibandingkan dengan reksa dana konvensional. Ada sejumlah faktor utama yang menyebabkan NAB reksa dana syariah hanya bertumbuh pelan. Salah satunya, konsumen dan peminat produk ini cenderung terbatas. Kurang agresifnya perkembangan reksa dana syariah salah satu penyebabnya karena kurangnya sosialisasi serta pilihan portofolio yang lebih sedikit dibandingkan reksa dana konvesional. . (www.ekonomi.kompas.com diakses pada 05 Agustus 2019)
Dari pemaparan di atas, beberapa fenomena tersebut berdampak positif maupun negatif terhadap perkembangan reksa dana syariah. Inilah yang menjadi pertimbangan penulis memilih reksa dana syariah dalam penelitiannya.
Tabel 1.2 Total Produk Reksa Dana Syariah sampai periode 2018
Jenis Reksa Dana Jumlah
Syariah ETF-Saham 2 Syariah Saham 61 Syariah-Pasar Uang 37 Syariah-Mixed 25 Syariah-Fixed Income 35 Syariah Terproteksi 41 Syariah Indeks 7
Syariah Efek Luar Negeri 8
Syariah Sukuk 9
Total 224
Sumber: Otoritas Jasa Keuangan (diolah 2019)
Dalam hal ini penulis akan melakukan penelitian dengan menggunakan data reksa dana syariah, yaitu jenis reksa dana saham syariah yang terdapat pada tabel 1.2, karena produk reksa dana saham syariah lebih banyak dibandingkan dengan reksa dana lainnya. Reksa dana saham merupakan jenis produk reksa dana yang memiliki indikasi imbal hasil yang paling tinggi ketimbang reksa dana
lainnya, yakni 15 persen per tahun, bahkan bisa lebih. Namun, imbal hasil yang tinggi juga diikuti dengan risiko yang tinggi pula.
Markowitz (1952) dalam konsep portofolionya mengemukakan bahwa “high risk high return” yang berarti bahwa setiap investor yang menginginkan atau mengharapkan keuntungan yang tinggi juga dihadpkan pada risiko yang tinggi pula. Reksa dana saham merupakan reksa dana yang komposisi investasinya sekurangkurangnya 80% dari aktivanya dalam bentuk efek bersifat Ekuitas.
Meskipun reksa dana saham memberikan tingkat risiko yang lebih tinggi dibandingkan dengan reksa dana pendapatan tetap dan reksa dana terproteksi, ternyata tidak mengurangi minat masyarakat untuk membeli reksa dana saham karena mampu memberikan return yang lebih tinggi.
Tingginya minat dan perhatian masyarakat terhadap reksa dana saham syariah tidak terlepas dari peluang dan keuntungan yang menjanjikan dari sebuah reksa dana dan juga tidak memerlukan dana yang besar dalam berinvestasi. Investor tentunya mengharapkan kinerja dan reksa dana yang dipilih lebih baik dari waktu ke waktu, sehingga dapat memberikan return sesuai dengan yang diharapkan. Untuk mengetahui kinerja reksa dana yang berkaitan dengan return dan risiko (risk-adjusted performance) terdapat metode penilaian kinerja yang dapat digunakan oleh investor yaitu dengan metode Sharpe, Treynor, Jensen, dan Sortino (Irene, Sugeng, dan Robiyanto 2017) karena mempunyai karakteristik yang berbeda-beda setiap metodenya.
Setiap metode mempunyai perbedaan, metode Sharpe mengukur return suatu portofolio terhadap standar deviasi atau total risikonya. Tingkat pengembalian (return) merupakan premi reksa dana saham yang terdiri dari return dan rata-rata kinerja investasi bebas risiko reksa dana, semakin tinggi indeks Sharpe dibandingkan portofolio yang lain, semakin baik kinerja Reksa Dana tersebut. Metode Treynor dikatakan mirip dengan metode Sharpe hanya saja terdapat pembagi beta yang merupakan risiko fluktuasi relatif terhadap risiko pasar. Metode Jensen juga melibatkan faktor beta di dalam perhitungannya didasarkan pada perkembangan Capital Asset Pricing Model (CAPM). Model ini menilai kinerja
manajer investasi dalam menghasilkan nilai positif (alpha). Semakin tinggi nilainya, semakin baik kinerja dari Reksa Dana tersebut. Metode Sortino Metode ini hampir serupa dengan pengukuran yang dilakukan oleh metode Sharpe, namun menggunakan Minimum Acceptable Return (MAR) sebagai tingkat return minimal yang dapat diterima kembali oleh para investor.
Seperti penelitian yang telah dilakukan oleh Citrayani Tuerah (2013)
menggunakan metode Sharpe, Treynor, dan Jensen yang menunjukkan bahwa setiap metode berbeda signifikan antara return yang diharapkan dan dihasilkan dari setiap metode tersebut. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Qomariah, Sari, & Budiarti (2016); Irene dan Sugeng (2017); Robiyanto (2017); menyatakan bahwa Return Reksa Dana syariah terbesar mempunyai resiko besar, Reksa Dana saham syariah mempunyai return tinggi berarti mempunyai resiko yang tinggi juga. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Edy (2013); Vellani (2015) Nila dan Siska (2017) menghasilkan tidak adanya perbedaan yang signifikan atas hasil kinerja portofolio dalam suatu periode.
Berdasarkan data, fenomena dan research gap di atas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Analisis Kinerja Reksa Dana Saham
Syariah dengan Menggunakan Metode Sharpe, Treynor, Jensen dan Sortino (terdaftar pada Otoritas Jasa Keuangan Periode Januari 2014 – Desember 2018)”
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan sebelumnya, identifikasi masalah penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana kinerja Reksa Dana Saham Syariah menggunakan Risk Adjusted Return metode Sharpe periode Januari 2014 – Desember 2018?
2. Bagaimana kinerja Reksa Dana Saham Syariah menggunakan Risk Adjusted Return metode Treynor periode Januari 2014 – Desember 2018?
3. Bagaimana kinerja Reksa Dana Saham Syariah menggunakan Risk Adjusted Return metode Jensen periode Januari 2014 – Desember 2018?
4. Bagaimana kinerja Reksa Dana Saham Syariah menggunakan Risk Adjusted Return metode Sortino periode Januari 2014 – Desember 2018?
5. Apakah keempat metode pengukuran kinerja reksa dana saham syariah yang digunakan dalam penelitian ini memberikan hasil yang sama atau berbeda selama periode Januari 2014- Desember 2018?
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui kinerja Reksa Dana Saham Syariah terbaik dengan menggunakan metode Sharpe periode Januari 2014 – Desember 2018. 2. Untuk mengetahui kinerja Reksa Dana Saham Syariah terbaik dengan
menggunakan metode Treynor periode Januari 2014 – Desember 2018. 3. Untuk mengetahui kinerja Reksa Dana Saham Syariah terbaik dengan
menggunakan metode Jensen periode Januari 2014 – Desember 2018. 4. Untuk mengetahui kinerja Reksa Dana Saham Syariah terbaik dengan
menggunakan metode Sortino periode Januari 2014 – Desember 2018. 5. Untuk mengetahui keempat metode pengukuran memiliki hasil yang sama
atau terdapat perbedaan dalam mengukur kinerja reksa dana saham syariah periode Januari 2014 – Desember 2018.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat penulis harapkan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Bagi Investor
Memberikan rekomendasi dalam memilih Reksa Dana saham syariah yang terbaik dalam melakukan investasi berdasarkan kinerjanya.
2. Bagi Akademis
Hasil penelitian ini diharpakan dapat memberikan sumbangan pemikiran dalam menghitung kinerja reksa dana dan menjadi acuan, perbandingan, serta referensi untuk penelitian berikutnya. Selain itu penelitian ini diharapkan dapat melengkapi penelitian terdahulu.
3. Bagi Penulis
Untuk menambah wawasan dan pengetahuan yang berkaitan dengan investasi khususnya Reksa Dana saham syariah.
1.5 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan ini bertujuan memberikan gambaran atas skripsi yang ditulis, secara umum, skripsi ini terbagi dalam lima bab yang tersusun secara sistematis, yaitu:
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini menguraikan mengenai latar belakang penelitian yang menjadi dasar pemilihan topik dan judul mengenai reksa dan syariah, ruang lingkup yang ingin diteliti yaitu saham pada reksa dana syariah, serta tujuan dan manfaat penelitian bagi investor, akademis, dan penulis, lalu ringkasan metodologi.
BAB II LANDASAN TEORI
Bab ini menguraikan dengan jelas teori-teori yang relevan dengan topik dan mendukung untuk melakukan penelitian. Teori yang dijelaskan yaitu teori manajemen keuangan, investasi, reksa dana, pengukuran kinerja reksa dana, dan penelitian terdahulu yang relevan.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
Bab ini memberikan gambaran secara singkat mengenai instrument yang dijadikan objek penelitian dalam skripsi ini yaitu reksa dana syariah. Selain itu, bab ini juga menjelaskan jenis dan sumber data yang diperoleh, metode pengumpulan sampel, metode analisis dan penyajian data yang dilakukan.
BAB IV PEMBAHASAN
Bab ini menyajikan hasil analisis yang dilakukan terhadap objek dengan menggunakan teori-teori yang telah diuraikan pada bab dua.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini memaparkan kesimpulan yang diperoleh dari hasil analisis yang dilakukan, serta menjabarkan saran-saran yang dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi para manajer investasi, investor, dan penulis selanjutnya.