• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep Pendidikan Akhlak Istri Terhadap Suami dalam Kitab Al-Mar’ah Ash-Shalihah Karya KH. Masruhan Al-Maghfuri - Test Repository

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Konsep Pendidikan Akhlak Istri Terhadap Suami dalam Kitab Al-Mar’ah Ash-Shalihah Karya KH. Masruhan Al-Maghfuri - Test Repository"

Copied!
121
0
0

Teks penuh

(1)

I

KONSEP PENDIDIKAN AKHLAK ISTRI TERHADAP SUAMI DALAM KITAB AL-MAR’AH ASH-SHOLIHAH

KARYA KH. MASRUHAN AL-MAGHFURI

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Kewajiban dan Melengkapi Syarat

guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.)

Disusun oleh: Siti Munadiroh NIM: 111-14-110

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN (FTIK) JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

(2)
(3)

III

KONSEP PENDIDIKAN AKHLAK ISTRI TERHADAP SUAMI DALAM KITAB AL-MAR’AH ASH-SHOLIHAH

KARYA KH. MASRUHAN AL-MAGHFURI

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Kewajiban dan Melengkapi Syarat

guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.)

Disusun oleh: Siti Munadiroh NIM: 111-14-110

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN (FTIK) JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

(4)
(5)
(6)
(7)

VII MOTTO

:َلاَق ْمَلَسَو ِهْيَلَع ُالله ىَلَص ِالله ُلْىُسَر َنَااَمُهْىَع ُالله َيِضَرَرَمُع ِهْب ِاللهِدْبَع ْهَع

اَتَماَيْوُدلا

:ملسم{ ُتَحِلاَصلاُةَاْرَمْلا اَيْوُدلا ِعاَتَمُرْيَخَو ُع

4

/

871

}

Artinya: Diriwayatkan dari „Abdullah bin „Umar R.A: Rasulullah

SAW bersabda,“Dunia itu kesenangan, dan sebaik-baik

kesenangan dunia adalah wanita (istri) shalihah.” (4:178-Sahih

(8)

VIII

PERSEMBAHAN

Alhamdulillahi Robbil „Alamin Maha suci Allah yang telah memberi kebahagiaan, rasa syukur yang terdalam terpancar dalam butiran-butiran bening

di kala hati mulai tersenyum. Dengan segala kerendahan hati, skripsi ini penulis

persembahkan kepada:

1. Keluargaku Bapak Sunardi dan Ibu Maryatun. Selaku orang tua yang

dengan ridho dan do‟a mereka yang tiada henti, telah menemukan secercah

cahaya dalam tiap-tiap keinginan yang terus menggema.

2. Untuk adik-adikku yang manis Taufiku Rohmah dan Salsa Khoirun Nada,

semoga cita-citamu yang mulia dapat didengar oleh Allah dan dikabulkan

pada waktu yang telah tercatat dalam lauhul mahfudz.

3. Almaghfurllah Bapak Kyai Hawari Ichsan Al-Hafidz yang senantiasa selalu memberikan arahan serta nasihat-nasihatnya terhadap penulis.

4. Almaghfurllah pengasuh Pondok Pesantren Modern Bina Insani Bapak

Kyai Muhsoni dan Ibu Nyai Siti Munawaroh yang saya ta‟dzimi.

5. Almaghfurllah pengasuh Pondok Pesantren Al-Hasan Ibu Nyai Rasilah,

Bapak Kyai Ma‟arif, Ibu Nyai Kamalah Isom, S.E. dan Ustadz Khusnul

Kirom, S.Ag. serta keluarga besar pondok pesantren Al-Hasan yang

(9)

IX

6. Adik-adikku PP Al-Hasan dek Dani, Isti, Asri, Tika, Izza, Alif, Binti, Baiti,

Aini, Iis, Karimah dan saudaraku yang tidak bisa penulis sebutkan satu

persatu, terimakasih atas dukungan, do‟a serta semangatnya.

7. Keluarga, teman, musuh, dan sahabat Bina Insani mbk Pik, mbk Mboel,

mbk Ina, mbk Epa, mbk Lina, mbk Ook, mbk Prili yang sama-sama

berjuang bersama dari SMA hingga sekarang.

8. Keluarga PPL Griduta mb Mir, mb Mey, mb Copi, mb Eny, umik Apin, mb

Ismi, ms Farhan, ms Kamal, dan ms Masruhan.

9. Keluarga KKN Posko 59 ms Farid, ms Devan, ms Riyanto, mb Syawala,

mb Fatia, mb Halim, mb Lisna, dan mb Wiwin.

10. Teman-teman PAI angkatan 2014 dan teruntuk teman olah roso Kang Sani

yang selalu berkata heuheu.

11. Semua pihak yang selalu memberi semangat kepada penulis dalam

(10)

X

KATA PENGANTAR

Assalamu‟alaikum Wr. Wb

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha

Penyayang. Segala puji dan syukur senantiasa penulis haturkan kepada Allah

SWT. Atas segala limpahan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis

diberikan kemudahan dalam menyelesaikan skripsi ini. Shalawat serta salam

semoga tercurah kepada Rasulullah SAW, keluarga, sahabat dan para pengikut

setiaNya.

Skripsi ini dibuat untuk memenuhi persyaratan guna untuk memperoleh

gelar kesarjanaan dalam Ilmu Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN)

Salatiga. Dengan selesainya skripsi ini tidak lupa penulis mengucapkan terima

kasih yang sedalam-dalamnya kepada :

1. Bapak Dr. Rahmat Hariyadi, M.Pd., selaku Rektor IAIN Salatiga.

2. Bapak Suwardi, M.Pd., selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan.

3. Ibu Siti Rukhayati M.Ag., selaku Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam

(PAI).

4. Ibu Dra. Hj. Maryatin, M,Pd sebagai dosen pembimbing skripsi yang telah

dengan ikhlas mencurahkan pikiran dan tenaganya serta pengorbanan

waktunya dalam upaya membimbing penulis untuk menyelesaikan tugas ini.

5. Bapak Drs. Bahroni, M.Pd. selaku pembimbing akademik.

6. Bapak dan Ibu Dosen serta karyawan IAIN Salatiga yang telah banyak

(11)

XI

7. Bapak dan ibu serta saudara di rumah, yang telah mendoakan dan

mendukung penulis dalam menyelesaikan studi di IAIN Salatiga dengan

penuh kasih sayang dan kesabaran.

8. Seluruh teman-teman dan semua pihak yang telah membantu dan

mendukung dalam penyelesaian skripsi ini

Harapan penulis, semoga amal baik dari beliau mendapatkan balasan

dan mendapatkan ridho Allah SWT. Akhirnya, dengan tulisan ini semoga bisa

bermanfaat bagi penulis khususnya dan para pembaca umumnya.

Wassalamu‟alaikum Wr. Wb

Salatiga, 07 September 2018

(12)

XII ABSTRAK

Munadiroh, Siti. 2018. Konsep Pendidikan Akhlak Istri Terhadap Suami dalam

Kitab Al-Mar‟ah Ash-Shalihah Karya KH. Masruhan Al-Maghfuri. Skripsi. Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan. Jurusan Pendidikan Agama Islam. Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga. Pembimbing: Dra. Hj. Maryatin, M,Pd.

Kata Kunci: Konsep Pendidikan, Akhlak Istri Terhadap Suami.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep pendidikan akhlak

istri terhadap suami dalam kitab Al-Mar‟ah Ash-Shalihah karya KH. Masruhan

Al-Maghfuri, serta bagaimana relevansi konsep pendidikan akhlak istri

terhadap suami dalam kitab Al-Mar‟ah Ash-Shalihah jika dikaitkan dengan

konteks kekinian.

Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (Library research).

Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data dengan cara mencari, menelaah, dan menggunakan sumber-sumber pustaka yang relevan dengan permasalahan penelitian. Pengumpulan data dibagi menjadi dua sumber yaitu data primer dan data sekunder. Kemudian data dianalisis menggunakan metode

deskriptif, dokumen/teks, dan grounded theory/teori dasar. Kemudian peneliti

menganalisa, mengkategorikannya kedalam unsur-unsur yang hendak diteliti kemudian membuat sebuah analisa temuan dan kesimpulan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) konsep pendidikan akhlak istri

terhadap suami dalam kitab Al-Mar‟ah Ash-Shalihah yaitu di dalam suatu

rumah tangga hendaknya memiliki hubungan komunikasi yang baik, seorang istri harus menjaga kehormatan baik pada dirinya maupun suaminya, menjaga penampilan diri agar suami merasa betah jika berada di dekat istri, meminta izin suami ketika ingin pergi keluar rumah, serta taat terhadap perintah suami.2)

Relevansi konsep pendidikan akhlak istri terhadap suami dalam kitab

(13)

XIII DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL... i

HALAMAN BERLOGO... ii

HALAMAN DEKLARASI... iii

HALAMAN NOTA PEMBIMBING... iv

HALAMAN PENGESAHAN... v

MOTTO... vi

PERSEMBAHAN... vii

KATA PENGANTAR... ix

ABSTRAK... xi

DAFTAR ISI... xii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Rumusan Masalah... 8

C. Tujuan Penelitian... 9

D. Kegunaan Penelitian... 9

E. Penegasan Istilah... 10

F. Sistematika Penulisan... 14

BAB II LANDASAN TEORI A. Karya KH. Masruhan Al-Maghfuri... 17

(14)

XIV

C. Kajian Pustaka... 52

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian... 56

B. Lokasi Penelitian... 56

C. Sumber Data... 56

D. Prosedur Penelitian... 57

E. Analisis Data... 57

F. Tahap-Tahap Penelitian... 59

BAB IV ANALISIS DATA A. Temuan Penelitian... 60

B. Analisis Kitab Al-Mar‟ah Ash-Shalihah... 85

C. Kritik Terhadap Kitab Al-Mar‟ah Ash-Shalihah... 91

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan... 93

B. Saran... 94

DAFTAR PUSTAKA

(15)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang mengalami

proses perubahan ke arah yang lebih baik. Apa pun bentuknya, selama

suatu konsep atas objek yang diamati atau objek itu sendiri mengalami

proses perbaikan dalam arti perubahan ke arah yang lebih baik, maka

objek atau konsep tersebut berhak disebut sebagai pendidikan. Hal ini

juga sejalan dengan konsep yang dibuat Redjo Mudyaharjo bahwa

pendidikan adalah salah satu bentuk kegiatan dalam kehidupan manusia

yang berawal dari hal-hal yang bersifat aktual menuju kepada hal-hal

yang ideal. Oleh sebab itu, wajar bila pendidikan disebut proses

pembelajaran yang berlangsung seumur hidup dan disemua tempat

(Assegaf, 2004: 99).

Pendidikan Islam adalah suatu proses penggalian, pembentukan,

pendayagunaan dan pengembangan fitrah, dzikir dan kreasi serta potensi

manusia, melalui pengajaran, bimbingan, latihan, dan pengabdian yang

dilandasi dan dinapasi oleh nilai-nilai ajaran Islam, sehingga terbentuk

pribadi muslim yang sejati, mampu mengontrol, mengatur, dan

merekayasa kehidupan dengan penuh tanggung jawab berdasarkan

(16)

2

Akhlak adalah sifat yang sudah tertanam dalam jiwa yang

mendorong perilaku seseorang dengan mudah sehingga menjadi

perilaku kebiasaan. Jika sifat tersebut melahirkan suatu perilaku yang

terpuji menurut akal dan agama dinamakan akhlak baik (akhlak

mahmudah). Sebaliknya, jika ia melahirkan tindakan yang jahat, maka

disebut akhlak buruk (akhlak mazmumah). Menurut Al-Abrasy,

pendidikan akhlak adalah jiwa dari pendidikan Islam. Usaha maksimal

untuk mencapai suatu akhlak yang sempurna adalah tujuan sebenarnya

dari proses pendidikan Islam. Oleh karena itu, pendidikan akhlak

menempati posisi yang snagat penting dalam pendidikan Islam,

sehingga setiap aspek proses pendidikan Islam selalu dikaitkan dengan

pembinaan akhlak yang mulia (Makbuloh, 2013: 142)

Pernikahan merupakan perjanjian antara laki-laki dan perempuan

untuk bersuami istri dengan resmi (Kamus Umum Bahasa Indonesia,

2006: 800). Pernikahan yaitu ikatan perkawinan yang dilakukan sesuai

dengan ketentuan hukum dan ajaran agama (Kamus Besar Bahasa

Indonesia, 2007, 782 ). Dari pengertian diatas penulis dapat menarik

kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan pernikahan yaitu hubungan

yang dijalin antara laki-laki dan perempuan melalui ikatan perjanjian

sesuai dengan hukum ajaran agama masing-masing untuk menjadikan

pasangan tersebut telah menjadi pasangan yang sah.

Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang

(17)

3

Kompilasi Hukum Islam yang merumuskan demikan: ”Perkawinan ialah

ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai

suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang

bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (Suma,

2005: 46).

Pada hakikatnya manusia sebagai makhluk sosial tidak akan

pernah lepas dari hubungannya dengan individu yang lain. Hubungan

tersebut ada yang bersifat formal, yang hanya sekedar basa-basi

sehingga tidak mendalam dan ada pula hubungan yang mendalam,

seperti mencurahkan isi hati, berkeluh kesah, dan meminta tolong dalam

kesulitan.

Setiap makhluk hidup diciptakan berpasang-pasang untuk saling

menyayangi dan mengasihi. Ungkapan ini menunjukkan bahwa hal ini

akan terjadi dengan baik melalui hubungan pernikahan, dalam rangka

membentuk keluarga yang sakinah. Keluarga pada dasarnya merupakan

upaya untuk memperoleh kebahagiaan dan kesejahteraan hidup,

keluarga dibentuk untuk memadukan rasa kasih dan sayang diantara dua

makhluk berlainan jenis.

Untuk membentuk suatu keluarga perlulah untuk mempersiapkan

diri dengan matang, baik dalam segi biologis maupun pedagogis atau

pun dalam rasa tanggung jawab. Bagi seorang pria yang sudah siap

untuk berkeluarga, hendaknya harus siap untuk memikul beban

(18)

4

hal memberi nafkah kepada setiap anggota keluarga. Sedangkan bagi

seorang wanita tentu saja harus siap menjadi ibu rumah tangga yang

mana dalam hal ini wanita memiliki kewajiban untuk mengendalikan

rumah tangga, melahirkan, mendidik, dan mengasuh anak.

Sebagai seorang pria, ketika sudah berkeinginan untuk berkeluarga

hendaknya bisa memilah dan memilih pasangan mana yang baik

baginya dan keturunannya kelak. Begitupula dengan wanita, hendaknya

ia juga bisa menentukan mana pria yang baik dan bisa menjadi imam

bagi keluarga. Seperti firman Allah dalam surat an-Nur ayat 26

ََثْيِبَخْلَا

mereka (yang menuduh itu), bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga) (QS.An-Nuur:26). (Departemen Agama RI, 2009: 352)

Modernisasi, banyak sekali wanita yang memilih untuk berkarir

walaupun sudah berkeluarga. Hal ini dapat dilihat dari perubahan zaman

yang semakin maju dan berkembang membuat perempuan tidak mau

(19)

5

mengenyam bangku pendidikan tinggi. Ketika pemerintah

mengeluarkan suatu kebijakan yang mana kebijakan tersebut

memberikan suatu emansipasi terhadap wanita berupa bahwa

perempuan dan laki-laki itu sama, tidak ada perbedaan diantara laki-laki

maupun perempuan atau yang disebut dengan kesetaraan gender, dalam

perspekif Islam gender merupakan suatu bentuk yang dilakukan untuk

memperjuangkan hak-hak perempuan yang menjadi haknya dan

menghilangkan suatu persoalan yang dapat menjatuhkan harkat dan

martabat perempuan. Maka dapat diketahui bahwa dengan adanya

kesetaraan manusia ini perempuan masih bisa memilih untuk

kelangsungan hidup yang hendak dicapai. Firman Allah surat An-Nahl:

97 maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (QS. An-Nahl:97). (Departemen Agama RI, 2009: 278)

Akan tetapi, terkadang tidak sedikit dari pasangan suami istri

(20)

6

masalah demi masalah akan bermunculan, dari yang kecil hingga besar.

Perselisihan yang terjadi didalam rumah tangga merupakan sesuatu

yang wajar karena setiap individu yang sudah memilih untuk

berkeluarga pastilah akan mengalami hal-hal yang demikian, walaupun

permasalahan tersebut berbeda dengan permasalahan yang di alamai

oleh keluarga yang lain.

Sebagai perempuan hendaknya mengetahui etika ketika sudah

berkeluarga, perempuan yang baik mampu untuk menjaga dan

mempertahankan keutuhan rumah tangganya sehingga kehidupan

didalam rumah tangga pun akan terjalin dengan baik dan harmonis.

Dalam hal ini, peran seorang istri sangatlah penting karena perempuan

itu memiliki pengaruh yang sangat besar di dalam keluarga, seperti

menghormati suami, menjaga rahasia keluarga, menata rumah agar

selalu bersih dan rapi, dan masih banyak lagi yang lainnya yang menjadi

(21)

7

dunia adalah wanita (istri) shalihah.” (4:178-Sahih Muslim).

(Hafizh, 2009: 430)

Patuh dan bersikap baik terhadap suami merupakan salah satu

akhlak yang harus ada pada seorang istri. Yang dimaksud patuh dalam

hal ini tentu saja kepatuhannya dalam hal-hal yang baik dan dapat

dibenarkan oleh syariat, termasuk juga untuk hal-hal yang mubah. Hal

ini terkesan gampang, padahal di zaman sekarang tidak sedikit

perempuan-perempuan masa kini yang belum tentu bisa patuh terhadap

suami.

Saat ini, banyak dari kalangan istri yang mulai tidak menuruti

perintah suami. Hal ini disebabkan karena kebanyakan para wanita

terlalu terlena dalam menerapkan emansipasi yang telah ditetapkan oleh

pemerintah. Terutama bagi perempuan yang bekerja dan memiliki karir

di luar rumah. Dengan kata lain setiap perempuan yang berkarir pastilah

merasa bahwa dengan hal ini tidak perlu mematuhi suami karena merasa

mampu memperoleh penghasilan sendiri. Dengan adanya penurunan

akhlak istri terhadap suami yang terjadi dikalangan masyarakat saat ini,

hal ini menarik perhatian penulis untuk lebih mengetahui lagi akhlak

yang seperti apa dan bagaimana yang seharusnya dimiliki seorang istri

terhadap keluarganya pada zaman ini.

Berdasarkan latar belakang diatas penulis akan mengetahui apakah

kosep pendidikan akhlak istri terhadap suami dalam kitab Al-Mar‟ah

(22)

8

setelah melihat fenomena-fenomena yang terjadi dalam permasalahan

rumah tangga saat ini. Selain itu penulis juga akan mengetahui apakah

kitab Al-Mar‟ah Ash-Shalihah ini bisa diterapkan diluar pesantren atau

tidak. Karena kitab Al-Mar‟ah Ash-Sholihah ini banyak sekali

digunakan sebagai bahan kajian didalam pesantren, kitab ini merupakan

salah satu kitab yang membahas tentang akhlak seorang wanita

shalihah. Kitab Al-Mar‟ah Ash-Sholihah merupakan salah satu kitab

yang mana didalamnya berisi tentang tata cara atau bagaimana sikap

yang seharusnya dimiliki oleh perempuan-perempuan yang shalihah

terutama di dalam berkeluarga. Kitab Al-Mar‟ah Ash-Shalihah ini

merupakan salah satu kitab yang dapat dikategorikan sebagai kitab yang

mudah untuk dipahami dan diterapkan bagi pembacanya dalam

kehidupan sehari-hari. Kitab Al-Mar‟ah Ash-Shalihah terdiri dari 64

halaman dan terbagi dalam 16 bab.

Dengan demikian penulis bertujuan mengkaji lebih jauh dalam

sebuah penelitian dengan judul “KONSEP PENDIDIKAN AKHLAK

ISTRI TERHADAP SUAMI DALAM KITAB AL-MAR’AH ASH -SHOLIHAH KARYA KH. MASRUHAN AL-MAGHFURI”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka penulis dapat

merumuskan permasalahan sebagai berikut:

1. Bagaimana konsep pendidikan akhlak istri terhadap suami yang

(23)

9

2. Bagaimana relevansi konsep pendidikan akhlak istri terhadap suami

dalam kitab Al-Mar‟ah Ash-Sholihah dengan konteks kekinian pada

wanita karir?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Mendeskripsikan konsep pendidikan akhlak istri terhadap suami

dalam kitab Al-Mar‟ah Ash-Sholihah.

2. Menemukan relevansi konsep pendidikan akhlak istri terhadap

suami dalam kitab Al-Mar‟ah Ash-Sholihah dengan konteks

kekinian pada wanita karir.

D. Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan akan memberikan manfaat nantinya,

adapun manfaat yang diharapkan dalam penulisan ini sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritis

a. Memberi kejelasan secara teoritis tentang konsep pendidikan

akhlak istri terhadap suami dalam kitab Al-Mar‟ah Ash-Sholihah

karya KH. Masruhan Al-Maghfuri.

b. Menambah wawasan dan memperkaya keilmuan dalam dunia

pendidikan.

c. Memberi sumbangan data ilmiah di bidang pendidikan bagi

Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Jurusan Pendidikan

(24)

10

2. Manfaat Praktis

Setelah penelitian ini diselesaikan, diharapkan penelitian ini

dapat bermanfaat dalam memberikan penjelasan tentang konsep

pendidikan akhlak istri terhadap suami dalam kitab Al-Mar‟ah Ash

-Sholihah dan relevansinya dalam zaman kekinian, karena di dalam

kitab Al-Mar‟ah Ash-Sholihah ini berisikan tentang bagaimana

perilaku seorang istri dalam keluarga terutama terhadap suami.

Dengan demikian penulis berharap dalam penulisan ini bisa

memberikan manfaat di dalam dunia pendidikan maupun di dalam

keluarga, yaitu berupa wacana baru yang bisa dijadikan sebagai cara

pandang dan landasan pijak dalam memahami bagaimana relevansi

pendidikan akhlak istri terhadap suami untuk menghadapi zaman.

E. Penegasan Istilah

Untuk memudahkan atau menjaga agar tidak terjadi

kesalahfahaman, maka penulis kemukakan penegasan istilah dari judul

skripsi berikut:

1. Konsep Pendidikan

a. Konsep

Konsep adalah ide abstrak dari peristiwa konkret yang dapat

digunakan untuk mengadakan klasifikasi atau penggolongan

yang pada umumnya dinyatakan dengan suatu istilah atau

(25)

11

b. Pendidikan

Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku

seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan

manusia melalui upaya pengajaran dan latihan (KBBI,

2003:204). Atau pendidikan merupaan upaya yang dilakukan

dengan sadar untuk mendatangkan peruahan sikap dan perilaku

seseorang melalui pengajaran dan latihan (Ensiklopedi Nasional

Indonesia, 2004: 365).

Jadi dengan kata lain, pendidikan merupakan ikhtiar

manusia untuk membantu dan mengarahkan fitrah manusia

berkembang sampai kepada titik maksimal yang dicapai sesuai

dengan tujuan yang dicita-citakan.

2. Akhlak Istri Terhadap Suami

Menurut bahasa akhlak berasal dari kata akhlaqun (bentuk

jamak), sedangkan bentuk tunggalnya adalah khuluq yang berarti

perangai atau kelakuan, budi pekerti atau moral, kebiasaan atau

tabiat. Menurut istilah syar‟I akhlak merupakan ungkapan kondisi

jiwa, yang begitu mudah bisa menghasilkan perbuatan tanpa

membutuhkan pemikiran dan pertimbangan. Jika perbuatan itu baik,

maka disebut akhlak yang baik, dan jika buruk disebut akhlak yang

buruk. (Hadhiri, 2015:14).

Pendidikan akhlak dapat di artikan sebagai wujud usaha

(26)

12

manusia di ciptakan yaitu mewujudkan kebaikan di dunia dan di

akhirat.

a. Akhlak Istri

wanita atau istri adalah pemimpin dalam urusan ruma tangga

(Indra dkk, 2004: 6). Seorang istri tentu saja memiliki kewajiban

yang harus di laksanakan terhadap suaminya baik berupa

kewajiban jasmani maupun rohani. Sepertihalnya menjaga

kehormatan, harta dan keluarga serta patuh terhadap suami.

Selain itu, menjadi seorang istri tentu saja harus memiliki

perangan yang baik karena hal itu merupakan cerminan bagi

anaknya kelak, ketika seorang ibu mampu mendidik

anak-anaknya dengan baik maka akan terciptalah generasi yang baik

pula.

b. Akhlak Suami

Suami adalah pemimpin dalam urusan keluarga. (Indra dkk,

2004: 6). Laki-laki (suami) merupakan sebagai pelindung bagi

perempuan (istri), jadi sudah sepantasnya seorang suami

melindungi, mengasihi, dan menyayangi keluarganya karena

laki-laki memiliki kedudukan tertinggi di dalam keluarga yaitu

sebagai kepala keluarga. Seorang suami juga memiliki kewajiban

yang harus dilaksanakan, selain melindungi, mengasihi, dan

(27)

13

(mencari nafkah) bagi keluarganya dan menjaga kerukunan antar

anggota keluarga.

Jadi dari paparan di atas maka penulis dapat mengambil

kesimpulan bahwa akhlak istri terhadap suami sangatlah penting

untuk dipahami dan dipraktikkan di dalam lingkungan keluarga,

ketika istri memiliki akhlak yang baik sudah pasti keluarga

tersebut akan menjadi keluarga yang baik dan harmonis. Karena

di dalam sebuah keluarga peran seorang istri sangatlah

berpengaruh terhadap kehidupan keluarga. Berbakti serta taat

terhadap suami merupakan kunci menjadi keluarga yang sakinah.

Ketaatan seorang istri kepada suami merupakan suatu kewajiban

bagi istri, karena ridha seorang suami merupakan ridha Allah.

Maka untuk menjadai keluarga yang bahagia perlu adanya

kebijakan dari keduanya. Oleh sebab itu akhlak di dalam

berkeluarga sangatlah penting untuk dipraktikkan agar

kehidupan di dalam rumah tangga bisa berjalan dengan baik.

3. Kitab Al-Mar‟ah Ash-Sholihah

Kitab Al-Mar‟ah Ash-Sholihah adalah kitab yang berisikan

tentang akhlak seorang perempuan yang shalihah. Kitab ini

membahas tentang akhlak baik yang seharusnya dimiliki oleh

seorang perempuan seperti akhlak terhadap suami, orang tua, guru,

maupun keluarga. Dalam kitab Al-Mar‟ah Ash-Sholihah ini

(28)

14

baik maka apa yang ada di sekitarnya pun akan menjadi baik pula,

akan tetapi ketika seorang perempuan memiliki akhlak yang buruk

maka hal itu juga akan berdampak buruk bagi kehidupannya. Karena

dalam hal ini perempuan adalah salah satu kunci kemajuan dan

kesuksesan dalam Negaranya. Ketika seorang wanita mampu

mencetak generasi penerus bangsa yang baik maka Negara pun akan

maju. Kitab ini ditulis oleh seorang Ulama‟ yang bernama KH.

Masruhan Al-Maghfuri, beliau dilahirkan di Mranggen, Demak.

Kitab ini merupakan salah satu kitab yang mudah untuk di pahami

dan juga mudah untuk di praktikkan di dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam penulisan kitab Al-Mar‟ah Ash-Sholihah ini, pengarang

menggunakan Arab Pegon, yang mana kitab ini bertulisan arab

tetapi bahasa yang di gunakan adalah bahasa jawa. Sehingga hal ini

dapat mempermudah pembaca untuk memahami apa maksud dari isi

kitab Al-Mar‟ah Ash-Sholihah ini. kitab Al-Mar‟ah Ash-Sholihah

terdiri dari 64 halaman dan terbagi dalam 16 bab.

F. Sistematika Penulisan

Untuk memberikan gambaran yang jelas dan menyeluruh

sehingga pembaca nantinya dapat memahami tentang isi skripsi ini

dengan mudah, maka penulis memberikan sistematika penulisan dengan

penjeasan secara garis besar. Skripsi ini terdiri dari lima bab yang

(29)

15

BAB I :PENDAHULUAN, Bagian ini merupakan pendahuluan, yang

mana didalamnya terdapat beberapa sub bab diantaranya, yaitu: latar

belakang masalah, fokus penelitian, tujuan penelitian, kegunaan

penelitian, kajian penelitian terdahulu, sistematika penulisan.

BAB II : LANDASAN TEORI, Karya KH. Masruhan Al-Maghfuri

terdiri dari: Biografi KH. Masruhan Al-Maghfuri, pengertian kitab

Al-Mar‟ah Ash-Shalihah, sistematika penulisan kitab Al-Mar‟ah Ash

-Shalihah, isi kitab Al-Mar‟ah Ash-Shalihah. Kajian pustaka yang berupa

tinjauan umum tentang konsep pendidikan akhlak istri terhadap suamai

dalam kitab Al-Mar‟ah Ash-Sholihah karya KH. Masruhan Al-

Maghfuri, terdiri dari beberapa sub bab, diantaranya: telaah pustaka

yang terdiri dari konsep pendidikan, akhlak, akhlak istri terhadap suami,

dan kajian pustaka.

BAB III :METODE PENELITIAN, Bab ini berisikan tentang

pendekatan dan jenis penelitian, lokasi penelitian, sumber data, prosedur

penelitian, analisis data, dan tahap-tahap penelitian.

BAB IV :TEMUAN PENELITAN DAN ANALISIS, Bab ini terdiri dari

temuan penelitian dan analisis data dari kitab Al-Mar‟ah Ash-Sholihah

karya KH. Masruhan yang dikaitkan dengan konteks kekinian pada

wanita karir. Serta kritik terhadap kitab Al-Mar‟ah Ash-Shalihah.

BAB V :PENUTUP, Merupakan kajian paling akhir dari skripsi ini,

(30)

16

pembahasan yang telah dikemukakan dalam skripsi dan saran dari

(31)

17 BAB II

LANDASAN TEORI

A. Karya KH Masruhan Al-Maghfuri

1. Biografi KH. Masruhan Al-Maghfuri

KH. Masruhan memiliki nama lengkap KH. Masruhan Ichsan

dengan gelar Hafidz, karena beliau adalah seorang penghafal

Al-Qur‟an. Beliau lebih dikenal dengan nama KH. Masruhan Al

-Maghfuri. KH. Masruhan lahir di desa Bandungrejo, kecamatan

Mranggen, kabupaten Demak pada tahun 1925 M. dari pasangan

Ichsan dan Pariah. Beliau bukan berasal dari keturunan darah biru

atau kalangan bangsawan, kedua orang tua beliau adalah dari

kalangan masyarakat biasa.

Terlahir dari keluarga biasa membuat perjalanan hidup beliau

diwarnai dengan perjuangan yang cukup keras untuk mencapai apa

yang menjadi cita-cita dan harapan beliau. KH. Masruhan menuntut

ilmu dan menghafal Al-Qur‟an di Pondok Pesantren Tremas yang

didirikan oleh KH. Dimyati Abdullah. Setelah mendapatkan banyak

ilmu dan selesai menghafalkan Al-Qur‟an, beliau pulang ke

Mranggen, disana beliau mendirikan sebuah pondok pesantren yang

diberi nama Pondok Pesantren Putra Putri Al-Maghfuri, pondok

tersebut merupakan pondok pertama yang telah berdiri di daerah

(32)

18

pengasuh pondok yang telah beliau dirikan. Pondok pesantren ini

selain memberikan pendidikan informal, juga memandang

pentingnya pendidikan formal bagi putra-putri dan para santri. Hal

tersebut ditunjukkan dengan didirikannya SMP Al-Maghfuri yang

didirikan atas prakarsa KH. Masruhan pula.

Pada tahun 1949, beliau menikah dengan Nyai Hj. Masunah

Masruhan binti KH. Muchdlor dan dikaruniai delapan putra, yaitu:

KH. Agus Sholeh, M. Ag., Hj. Azizah Tahiyah, H. Abdullah Adib,

Lc., M.Pdi., Hj. Faridah Nasiyah, Muhlisin, Abdul Hayyi, S.Pd.,

Malichatul Basyiroh, S.Pd., dan Istijabatul Aisyah, S.T., M.T.

Dalam mendidik putra-putri dan santri-santri, beliau dikenal

dengan sosok yang tegas dan protektif. Terutama dalam hal yang

kurang bermanfaat bagi pendidikan, seperti menonton televise atau

menggunakan teknologi lainnya yang dianggap lebih banyak sisi

negatifnya. Selain mengasuh pesantren, beliau juga aktif dalam

organisasi masyarakat, terutama dalam organisasi Nahdatul Ulama

(NU) dan pada tahun 1970 beliau menjabat sebagai ketua NU se

Jawa Tengah.

Di tengah keseriusan mencurahkan perhatian dalam dunia

pendidikan di Pesantren Al-Maghfuri dan organisasi NU, beliau juga

menyusun kitab yang masih dipakai sampai saat ini yaitu kitab

(33)

19

memandang akan pentingnya pendidikan akhlak bagi generasi

muslimah dan permasalahan bagi perempuan seperti udhur, haid,

nifas, wiladah, dan lain-lain. Selain itu beliau juga memiliki jiwa

seni yang tinggi, terutama dalam bidang seni rupa khususnya seni

kaligrafi. Sebagai contoh semua peralatan untuk menguburkan orang

mati beliau lukis dengan kaligrafi-kaligrafi yang indah. Mulai dari

payung sampai kain penutup keranda, beliau lukis dengan

kalam-kalam Illahi. Pada tanggal 24 Juni 1982 M/2 Ramadhan 1402 H,

KH. Masruhan Ichsan berpulang ke sisi-Nya, karena penyakit

rematik dan hipertensi (darah tinggi) yang sudah diderita selama

lima tahun (Mahmudah, 2011: 34).

2. Pengertian Kitab Al-Mar‟ah Ash-Shalihah

Kitab Al-Mar‟ah Ash-Shalihah merupakan salah satu kitab

yang menjelaskan tentang akhlak perempuan yang sahalihah. Kitab

ini memberikan pemahaman tentang bagaimana mendidik akhlak

perempuan yang sesuai dengan hukum agama Islam agar generasi

muda terutama perempuan tidak terjerumus ke jalan yang salah

(tidak sesuai dengan syariat Islam). Kitab ini diharapkan bisa

dijadikan sebagai salah satu pedoman bagi perempuan agar mereka

mampu melaksanakan kewajiban setiap perempuan baik di dalam

rumah tangga, masyarakat, maupun Negaranya. Selain memberikan

(34)

20

perempuan, kitab ini juga menjelaskan tentang larangan-larangan/

hal-hal yang harus di jauhi oleh perempuan shalihah.

3. Sistematika Penulisan Kitab Al-Mar‟ah Ash-Sholihah

Kitab Al-Mar‟ah Ash-Sholihah karya KH. Masruhan memiliki

sistematika penulisan sebagai berikut: pertama-tama adalah halaman

judul, yang diikuti nama pengarangnya, halaman berikutnya KH.

Masruhan menuliskan hadis tentang wanita shalihah, dilanjutkan

dengan gambar yang menjelaskan tentang berbagai gambaran akhlak

yang dimiliki oleh setiap orang terutama perempuan.

Halaman berikutnya yaitu pembukaan kitab atau yang sering

disebut pengantar dari penyusun. Dengan menggunakan gaya bahasa

yang halus dan sopan, penulisannya didahului dengan bacaan

basmalah dan hamdalah kemudian diikuti dengan penjelasan tentang

pentingnya pendidikan akhlak kepada anak perempuan, supaya

dapat mengetahui apapun yang menjadi hak dan kewajiban sehingga

tidak akan terjerumus ke dalam pergaulan yang tidak baik, hal

tersebut yang mendorong KH. Masruhan untuk menyusun kitab

Al-Mar‟ah Ash-Sholihah. Pembahasan berikutnya tentang materi yang

berhubungan dengan akhlak perempuan shalihah yang di akhiri

(35)

21

KH. Masruan menyusun kitab Al-Mar‟ah Ash-Sholihah

dengan membagi menjadi 16 bab sesuai dengan pembahasan

masalah yang ada, sehingga memudahkan bagi pembacanya untuk

memahami isi kitab tersebut.

Secara ringkas, sistematika penulisan kitab Al-Mar‟ah Ash

-Sholihah dapat dibagi menjadi tiga bagian diantaranya, yaitu:

a. Halaman judul.

b. Pembukaan dan kata pengantar kitab.

c. Isi atau kandungan kitab yang diakhiri dengan daftar isi.

4. Isi kitab Al-Mar‟ah Ash-Sholihah

Kitab Al-Mar‟ah Ash-Sholihah terdiri dari 16 bab atau pokok

bahasan yang membahas tentang ilmu akhlak, bagaimana akhlak

perempuan yang baik dan sesuai dengan ajaran agama Islam.

Adapun yang dibahas dalam kitab Al-Mar‟ah Ash-Sholihah adalah

sebagai berikut:

a. Akhlak terhadap suami

Dalam Islam seorang istri mempunyai kewajiban yang harus

di penuhi terhadap suaminya, yaitu:

1) Dalam menghadapi suatu permasalah hendaknya dibicarakan

(36)

22

2) Ketika istri akan berpergian (keluar rumah), hendaknya

meminta ijin terlebih dahulu kepada suami.

3) Ketika suami berpergian, istri harus menjaga baik harta

maupun jiwanya dari hal-hal yang beresiko.

4) Jika ada tamu laki-laki dan bukan muhrimnya, istri tidak

boleh menemui, kecuali ada wakil (muhrim) untuk menemui

tamu tersebut.

5) Ketika berbicara hendaknya menggunakan bahasa yang

sopan dan lemah lembut, sehingga dapat menarik hati sang

suami.

6) Ketika bersama dengan suami jangan memberikan wajah

yang cemberut, akan tetapi dengan wajah yang berseri dan

penuh senyum.

7) Ketika dipanggil oleh suami hendaknya segera memberikan

jawaban yang lembut.

8) Ketika suami memberikan sesuatu (hadiah), hendaknya

menerima dengan menggunakan kedua tangan dan dengan

ekspresi yang menarik (manja).

9) Ketika suami membelikan barang apa saja, jangan sampai

mencela pemberiannya terlebih dengan wajah yang tidak

(37)

23

10)Semua rahasia antara suami istri atau dengan orang lain

harus di simpan dengan rapat.

11)Ketika suami hendak berpergian atau pulang dari berpergian,

dibiasakan istri bersalaman sambil mencium tangannya,

mengantar suami sampai ke depan pintu, selain itu ketika

suami pulang dari sholat jum‟at hendaknya istri bersalaman.

12)Jika suami ketiduran dan lupa belum mengerjakan sholat,

istri hendaknya membangunkan dengan tutur kata yang

halus. Begitu juga ketika suami lupa dengan janji-janjinya

atau lupa dalam hal apa saja.

13)Ketika makan diusahakan untuk bersama, agar ketika salah

satu lupa belum membaca do‟a

َِمْيِحَرلاَ ِنَمْحَرلاَِللهاَ ِمْسِب

bisa

saling mengingatkan. Ketika mengingatkannya

ditengah-tengah menyantap makanan hendaknya ditambahi dengan

َُهَرِخَاَوَُوَلَوَاَِمْيِحَرلاَِنَمْحَرلاَِللهاَِمْسِب

.

14)Ketika suami menyisakan makanannya, alangkah lebih baik

jika istri yang menghabiskannya.

15)Apabila ketika makan ada makanan yang berceceran, lebih

baik di ambil kemudian dimakan siapa tau makanan tersebut

(38)

24

16)Pakaian seorang suami sesungguhnya bukanlah kewajiban

seorang istri untuk mencucinya. Tetapi apabila tidak ada atau

suami tidak punya waktu untuk mencuci sendiri karena

kesibukannya maka lebih baik istrilah yang mencucikan

pakaian suaminya.

17)Jangan sampai seorang istri itu membantah pada suami, bila

ada ketidak sanggupan tidak berkenan ataupun kesalahan

pada perintah suami ingatkanlah dengan baik-baik

musyawarah yang baik dan dengan di sertai tutur kata yang

halus dan lembut.

18)Bila suaminya kedatangan tamu dan si suami ada di rumah,

maka istri cepat-cepatlah keluarkan apa-apa yang ada di

rumah (jamuan/hidangan) untuk segera di suguhkan.

19)Supaya bersih, rapi dan rajin mengatur dapur, kamar, badan

juga pakaian (istri).

20)Tidak usah untuk meminta dibelikan pakaian pada suami,

tetapi lebih utama untuk menunggu di belikan oleh suami.

21)Pangkat, dunia atau kelebihan dari suaminya jangan di

(39)

25

22)Jangan membanding-bandingkan suaminya dengan suami

tetangga ataupun dengan orang lain (mengunggulkan orang

lain, melebihkan orang lain di depan suami).

23)Jangan sampai seorang istri memerintah suami, menyuruh

pada suami yang suami tidak berkenan untuk melakukannya

atau menyuruh yang tidak pantas untuk dikerjakan oleh

laki-laki.

24)Seorang istri tidak baik apabila bersikap terlalu royal (boros)

juga tidak baik terlalu pelit (sedang-sedang saja).

25)Jangan sampai menyembunyikan makanan, atau apapun

yang itu adalah hak seorang suami.

26)Apabila dalam berumah tangga, suami istri sedang cekcok

(bertengkar) jangan sampai pertengkaran mereka di dengar

oleh anak-anaknya.

27)Seorang istri jangan terbiasa hutang, kecuali bila dalam

keadaan dhorurot (terpaksa sekali) itupun atas seizin

suaminya.

28)Lebih utama seorang istri dalam melaksanakan sholat fardhu

berjama‟ah (menjadi makmum suami) sebab sholat

(40)

26

29)Seorang istri tidak boleh melakuka sodaqoh sunnah kecuali

atas izin dari suaminya, namun bila zakat wajib itu harus

memaks, apalagi bila suaminya lupa tidak menunaikannya

istri wajib untuk mengingatkannya.

30)Bila sedang bermusyawarah, ketika suami sedang berbicara

meskipun bicaranya tidak lancar (karena belum terbiasa)

seorang istri tidak boleh memotong pembicaraan suaminya.

31)Saat bersikap dengan keluarga, bapak dan ibu dari suami

dalam bersikap harus disamakan dengan ketika dia bersikap

pada keluarganya (bapak ibunya sendiri).

32)Seorang istri tidak boleh melaksanakan puasa sunnah kecuali

atas izin dari suaminya, kecuali bila puasa wajib itu boleh

memaksa meskipun suami tidak mengizinkan.

33)Tidak boleh berdandan kecuali hanya untuk menyenangkan

(membahagiakan suaminya, khususnya ketika sedang makan

bersama).

34)Seorang istri supaya bisa untuk membedakan masakan apa

yang pas untuk di makan ketika sedang musim dingin atau

musim panas, dan masakan yang menjadi kesukaan suami.

35)Jangan menolak ketika suami memanggil apalagi ketika

(41)

27 B. Tinjauan Pustaka

1. Konsep Pendidikan

Dalam dunia pendidikan, sosok Ki Hajar Dewantara sebagai

bapak pendidikan bangsa Indonesia ini banyak mengajarkan

berbagai hal yang sangat terkenal di bidang pendidikan. Konsep

pendidikan nasional yang dikemukakan sangat membumi dan

berakar pada budaya nusantara, antara lain tutwuri handayani,

“tripusat” pendidikan (keluarga, sekolah, masyarakat), tringgo

(ngerti, ngroso, nglakoni).

Konsep pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara dengan

menerapkan “sistem among”, “tutwuri handayani” dan “tringa”.

Sistem among yaitu cara pendidikan yang dipakai dalam

Tamansiswa, mengemong (anak) berarti memberi kebebasan anak

bergerak menurut kemauannya, tetapi pamong/guru akan bertindak,

kalau perlu dengan paksaan apabila keinginan anak membahayakan

keselamatannya. Tutwuri handayani berarti pemimpin mengikuti

dari belakang, memberi kemerdekaan bergerak yang dipimpinnya,

tetapi handayani mempengaruhi dengan daya kekuatan, kalau perlu

dengan paksaan dan kekerasan apabila kebebasan yang diberikan

itu dipergunakan untuk menyeleweng dan akan membahayakan diri.

Tringa yang meliputi ngerti, ngrasa, dan nglakoni, mengingatkan

terhadap segala ajaran, cita-cita hidup yang kita anut diperlukan

(42)

28

Tahu dan mengerti saja tidak cukup, kalau tidak merasakan,

menyadari, dan tidak ada artinya kalau tidak melaksanakan dan

tidak memperjuangkan. Ki Hajar mengartikan pendidikan sebagai

daya upaya memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak,

agar dapat memajukan kesempurnaan hidup, yaitu hidup dan

menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya.

(Utami, diakses 31 Mei 2017 pukul 04:29

(http://e-ripository.perpus.iainsalatiga.ac.id/id/eprint/1717)

Konsep pendidikan Islam adalah upaya transformasi

nilai-nilai yang sesuai dengan ajaran Islam dengan meletakkan al-Qur‟an

dan Sunnah Nabi Muhammad SAW sebagai acuan utama. Secara

umum sitem pendidikan mempunyai karakter religius serta

kerangka etik dalam tujuan dan sasarannya. Pemikiran pendidikan

Ghazali secara umum bersifat religius-etis. Konsep pendidikan

menurut al-Ghazali, dapat diketahui antara lain dengan cara

mengetahui dan memahami pemikirannya yang berkenaan dengan

berbagai aspek yang berkaitan dengan pendidikan, yaitu tentang

faktor-faktor pendidikan seperti aspek tujuan pendidikan, pendidik,

anak didik, alat pendidikan, dan lingkungan yang mempengaruhi

anak didik. (Putra, diakses pada 24 Agustus 2017

(http://journal.uir.ac.id/index.php/althariqah/article/view/617)

Disini penulis dapat menarik kesimpulan bahwa konsep

(43)

Al-29

Ghazali tidaklah sama. Ki Hajar Dewantara lebih mengarah kepada

pembebasan terhadap tindakan yang dilakukan siswa selama

tindakan itu tidak membahayakan bagi siswa. Sedangkan menurut

Al-Ghazali konsep pendidikan yang ia kemukakan adalah mengenai

tujuan pendidikan, pendidik, anak didik, alat pendidikan serta

lingkungan yang mempengaruhi perkembangan anak didik.

2. Akhlak

Baik kata akhlak atau khuluq kedua-duanya dijumpai

pemakaiannya dalam al-Qur‟an maupun hadis sebagai berikut:

Dalam surat al-Qalam ayat 4, Allah SWT berfirman:

َِظَعَ ٍقُلُخَىَلَعَلََكَّنِاَو

:ملقلا[ٍَمْي

4

]

Artinya: “dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (QS. Al-Qalam:4) (Departemen Agama RI, 2009:

465)

Kata (

قلخ

) khuluq, jika tidak dibarengi dengan adjektifnya, ia

selalu berarti budi pekerti yang luhur, tingkah laku, dan watak

terpuji.

Kata (

ىلع

) „ala mengandung makna kemantapan. Disisi lain,

ia juga mengesankan bahwa Nabi Muhammad saw. yang menjadi

(44)

30

yang luhur, bukan sekadar berbudi pekerti luhur. Memang, Allah

menegur beliau jika bersikap dengan sikap yang hanya baik dan

telah biasa dilakukan oleh orang-orang yang dinilai sebagai

berakhlak mulia.

Keluhuran budi pekerti Nabi saw. yang mencapai puncaknya

itu bukan saja dilukiskan oleh ayat di atas dengan kata (

كّنإ

)

innaka/sesungguhnya engkau tetapi juga dengan tanwin (bunyi

dengung) pada kata (

قلخ

) khuluqin dan huruf (

ل

) lam yang

digunakan untuk mengukuhkan kandungan pesan yang menghiasi

kata (

ىلع

) „ala di samping kata „ala itu sendiri, sehingga berbunyi

(

ىلعل

) la‟ala, dan yang terakhir pada ayat ini adalah penyifatan

khuluq itu oleh Tuhan Yang Mahaagung dengan kata (

ميظع

)

„adzim/agung. Yang kecil bila menyifati sesuatu dengan “agung”

belum tentu agung menurut orang dewasa. Tetapi, jika Allah yang

menyifati sesuatu dengan kata agung maka tidak dapat terbayang

betapa keagungannya. Salah satu bukti dari sekian banyak bukti

tentang keagungan akhlak Nabi Muhammad saw.-menurut Sayyid

Quthub- adalah kemampuan beliau menerima pujian ini dari sumber

Yang Mahaagung itu dalam keadaan mantap tidak luluh di bawah

(45)

31

kepribadian beliau, yakni tidak menjadikan beliau angkuh. Beliau

menerima pujian itu dengan penuh ketenangan dan keseimbangan.

Keadaan beliau itu, menurut Sayyid Quthub, menjadi bukti

melebihi bukti yang lain tentang keagungan beliau.

Sementara ulama memahami kata (

ميظعَقلخ

) khuluqin „adzim

dalam arti agama berdasar firman-Nya innaka „ala shirathin

mustaqim (QS. Az-Zukhfur :43) 43, sedang shirat al-mustaqim

antara lain dinyatakan oleh al-Qur‟an sebagai agama. Sayyidah

„Aisyah ra., ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah, beliau

menjawab: Akhlak beliau adalah al-Qur‟an (HR. Ahmad). „Aisyah

ra. ketika ia membaca awal surah al-Mu‟minun untuk

menggambarkan sekelumit dari akhlak beliau itu. Jika demikian,

bukalah lembaran-lembaran al-Qur‟an dan temukan ayat-ayat

perintah atau anjuran, pahami secara benar kandungannya, Anda

akan menemukan penerapannya pada diri Rasul saw. Beliau adalah

bentuk nyata dari tuntunan al-Qur‟an. Selanjutnya karena kita tidak

mampu mendalami semua pesan al-Qur‟an, kita pun tidak mampu

melukiskan betapa luhur akhlak Rasulullah saw. karena itu pula

setiap upaya yang mengetengahkan sifat-sifat luhur Nabi

Muhammad saw., ia tidak lain hanya sekelumit darinya. Kita hanya

bagaikan menunjuk-dengan jari telunjuk gunung yang tinggi-karena

(46)

32

Dalam surat As-Syu‟ara ayat 137, Allah SWT berfirman:

َْنِا

yang mengantarnya melahirkan aneka kelakuan secara mudah dan

tanpa dibuat-buat. Potensi ini dikembangkan melalui pendidikan,

latihan, dan keteladanan. Jika positif, ia melahirkan khuluq/akhlak

yang baik, dan sebaliknya pun demikian. Nah, bila ucapan kaum

Hud itu dipahami dalam arti di atas, ini dapat mengandung dua

kemungkinan makna. Yang pertama adalah pujian kepada generasi

terdahulu, para leluhur mereka yang telah meninggalkan buat

generasi berikutnya amal-amal terpuji dan, dengan demikian,

mereka sebagai generasi pelanjut akan terus mempertahankan dan

(47)

33

generasi tua. Ini juga berarti kecaman dan penolakan terhadap

ajaran Nabu Hud as. Yang mereka nilai bertentangan dengan ajaran

dan kepercayaan leluhur yang mereka nilai sangat baik.

Makna lain yang dapat dipahami dari kata khuluq (dengan

huruf U) adalah tradisi lama. Ini berarti apa yang disampaikan oleh

Nabi Hud as. Itu adalah tradisi lama yang telah usang. Makna ini

sejalan dengan kecaman-kecama kaum musyrikin dalam setiap era

kepada setiap nabi dan rasul yang diutus Allah.

Bacaan kedua adalah (

قلخ

) khalaq, yakni fathah pada huruf

kha dan sukun pada huruf lam. Ia terambil dari kata khalaqa yang

berarti menciptakan atau menjadikan. Dari makna ini, lahir makna

baru, yaitu kebohongan, karena yang berbohong menciptakan

sesuatu dalam benaknya yang berbeda dengan kenyataan. Nah jika

Anda memahaminya dalam arti kebohongan, ucapan kaum

musyrikin itu berarti: ”Apa yang engkau sampaikan-wahai

Hud-kepada kami adalah kebohongan yang dibuat oleh geberasi

terdahulu.” Jika Anda memahami kata itu dalam arti

penciptaan/kejadian, ia berarti kaum musyrikin itu menyatakan:

”Kehidupan kita ini sama halnya dengan penciptaan dan kejadian

orang-orang dahulu kala, mereka itu hidup lalu mati, dan setelah itu

tiada lagi yang terjadi. Tidak ada kebangkitan, tidak ada kehidupan

(48)

34

ucapan mereka sekali-kali kmai tidak akan disiksa merupakan

penjelasan dan penegasan tentang penolakan adanya kebangkitan

setelah kematian. (Quraish, 2009: 301)

Jadi penulis dapat menarik kesimpulan bahwa ayat yang

pertama disebut di atas menggunakan kata khuluq untuk arti budi

pekerti, sedangkan ayat yang kedua menggunakan kata akhlak

untuk arti adat kebiasaan. Dengan demikian kata akhlaq atau khuluq

secara kebahasaan berarti budi pekerti, adat kebiasaan, perangai,

atau segala sesuatu yang sudah menjadi tabi‟at.

Pengertian akhlak dalam definisi Ibn Miskawih. Dalam

pandangan Miskawih, akhlak merupakan kondisi jiwa yang

mendorong seseorang melakukan tindakan tanpa memerlukan

pemikiran dan pertimbangan. Kondisi jiwa yang seperti itu dapat

diklasifikasikan menjadi dua sifat. Pertama, adalah kebiasaan yang

berasal dari watak dasar, seperti ketika orang yang marah hanya

karena sebab yang sederhan, orang yang tertawa terbahak-bahak

hanya karena melihat sesuatu yang mengejutkan, dan juga halnya

orang yang menyesal hanya karena urusan yang diterimanya.

Kedua, kebiasaan yang diperoleh seseorang melalui pelatihan dan

pembelajaran hingga menjadi sebuah tradisi yang melekat padanya.

Nurhayati, diakses pada tahun 2014

(http://jurnal.arraniry.ac.id/index.php/mudarrisuna/article/view/291/

(49)

35

Menurut bahasa akhlak berasal dari kata akhlaqun (bentuk

jamak), sedangkan bentuk tunggalnya adalah khuluq yang berarti

perangai atau kelakuan, budi pekerti atau moral, kebiasaan atau

tabiat. Menurut istilah syar‟I akhlak merupakan ungkapan kondisi

jiwa, yang begitu mudah bisa menghasilkan perbuatan tanpa

membutuhkan pemikiran dan pertimbangan. Jika perbuatan itu baik,

maka disebut akhlak yang baik, dan jika buruk disebut akhlak yang

buruk.

Kata akhlak dalam bahasa Indonesia, biasanya diterjemahkan

dengan budi pekerti atau sopan santun atau kesusilaan. Dalam

bahasa Inggris, kata akhlak disamakan dengan moral atau ethic,

yang sama-sama berasal dari bahasa Yunani, mores dan ethicos

yang berarti adat kebiasaan. Akhlak dapat dikatakan sebagai

kehendak yang dibiasakan, sehingga ia mampu menimbulkan

perbuatan dengan mudah, tanpa pertimbangan pemikiran terlebih

dahulu (Burhanudin, 2001: 39).

Akhlak memiliki tiga unsur pokok, yaitu:

a. Perbuatan sifat/keadaan jiwa seseorang.

Pembicaraan akhlak pada pokoknya berbicara mengenai

keadaan atau gejala-gejala jiwa seseorang yang menimbulkan

suatu perbuatan. Perbuatan-perbuatan orang yang sehat

(50)

36

b. Perbuatan yang muncul bukan paksaan, tetapi dengan mudah

dilakukan tanpa pertimbangan akal.

Akan tetapi adakalanya, bahkan tidak jarang perlu

pemaksaan pada tahap awal sebagai suatu bentuk pengajaran.

Dengan pengajaran itulah akhlak akan berubah.

c. Perbuatan yang dilakukan itu menjadi kebiasaan sehari-hari.

Perbuatan sehari-hari yang dilakukan dengan spontanitas

dalam menanggapi berbagai permasalahan itulah gambaran

yang muncul sebagai bentuk akhlak yang baik atau yang

buruk (Hadhiri, 2015:14).

Pendidikan akhlak dalam Islam adalah pendidikan yang

mengakui bahwa dalam kehidupan manusia menghadapi hal baik

dan hal buruk, kebenaran dan kebatilan, keadilan dan kedzaliman,

serta perdamaian dan peperangan. Untuk menghadapi hal-hal serba

kontra tersebut, Islam telah menetapkan nilai-nilai dan

prinsip-prinsip yang membuat manusia mampu hidup di dunia. Dengan

demikian, manusia mampu mewujudkan kebaikan di dunia dan di

akhirat, serta mampu berinteraksi dengan orang-orang yang baik

dan jahat (Mahmud, 2004: 121)

Jadi pendidikan akhlak dapat di artikan sebagai wujud usaha

manusia dalam mewujudkan manusia ke dalam tujuan utama

manusia di ciptakan yaitu mewujudkan kebaikan di dunia dan di

(51)

37 3. Hak-hak Suami Istri

a. Pernikahan

Menikah itu diperintah oleh Allah SWT dan disunnahkan

oleh Rasulullah SAW. Selain merupakan sunnah (dianjurkan/

diperintahkan dalam agama Islam) nikah juga fitrah, artinya

orang yang sudah baligh (cukup umur/dewasa) pasti

menginginkan untuk menikah. (Muchtar, 2008: 48)

Islam sangat memperhatikan terwujudnya tujuan spiritual

dalam pernikahan, menjadikannya sebagai fondasi bagi

tegaknya bangunan kehidupan rumah tangga. Tujuan spiritual

itu terwujud dalam bentuk ketentraman hati dan rasa cinta yang

terjalin antara suami istri, makin luasnya wilayah kasih sayang

dan keakraban diantara dua keluarga besar yang saling

berbesanan, makin sempurnanya perasaan lembut dan kasih

sayang, serta menyebarnya perasaan itu diantara orang tua dan

anak-anak. (Yusuf, 2007: 274)

b. Hukum Nikah

Menurut Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim dalam

kitabnya Fiqhu Sunnah Lin Nisa, berpendapat bahwa nikah

termasuk sunnah yang sangat ditekankan dan merupakan

(52)

38

Artinya: Dan sesungguhnya kami telah mengutus beberapa Rasul sebelummu dan kami memberikan kepada mereka istri-istri dan

keturunan. (QS. Ar-Ra‟d: 38) (Departemen Agama RI, 2009: 254)

Berdasarkan ayat-ayat dan hadits-hadits yang

menganjurkan pernikahan sebagaimana disebutkan di atas,

mayoritas ulama berpendapat bahwa menikah itu hukumnya

mustahab (sunnah).

Akan tetapi hukum menikah menjadi wajib bagi seseorang

jika dia khawatir terjerumus ke dalam perbuatan zina,

sementara dia mempunyai kemampuan untuk menikah. Karena

zina adalah haram, jika sesuatu yang haram hanya dapat

dicegah dengan sesuatu hal, maka hal tersebut hukumnya

wajib. (Malik, 2017: 604)

Menurut Abu Bakr Jabir Al-Jazairi dalam bukunya

Ensiklopedi Muslim Minhajul Muslim mengatakan bahwa

pernikahan itu wajib bagi orang yang sanggup membiayainya

dan ia khawatir terjerumus kedalam hal-hal haram. Pernikahan

(53)

39

tidak khawatir terjerumus ke dalam hal-hal haram. (Al-Jazairi,

2000: 574)

Menurut Hasbi Indra dkk di dalam bukunya Potret Wanita

Shalehah ia mengatakan bahwa hukum perkawinan ada lima,

yaitu:

1) Wajib, hukumnya wajib untuk menikah terhadap seseorang

yang sudah dewasa dan mampu secara lahir dan batin

untuk menikah, apalagi dorongan biologisnya sudah sangat

mendesak untuk segera disalurkan secara proporsional

terhadap lawan jenisnya. bila belum juga menikah,

dikhawatirkan akan terjerumus kepada perbuatan zina,

yang diharamkan agama. Menghindari diri dari perbuatan

haram dan wajib, sedangkan untuk menghindari hal itu

tidak ada jalan lain yang lebih baik kecuali kawin.

2) Sunnah, hukumnya sunnah bagi pria dan wanita dewasa

yang telah mampu untuk menikah, namun masih bisa

menahan diri atau berpuasa sehingga bisa terhindar dari

perbuatan zina.

3) Haram, hukumnya haram menikah bagi orang yang tidak

mampu memenuhi nafkah lahir dan batin kepada istrinya,

serta dorongan nafsu biologisnya pun tidak terlalu

(54)

40

4) Makruh, hukumnya makruh menikah, bila pihak pria

memiliki penyakit lemah syahwat sehingga tidak bisa

memberikan nafkah batin dan tidak mampu memberikan

nafkah bagi istrinya, walaupun ia tidak merugikan istrinya,

karena si istri kaya dan tidak memiliki keinginan syahwat

yang kuat.

5) Mubah, hukumnya mubah menikah, bila laki-laki tersebut

tidak terdesak oleh alasan-alasan yang mengharamkan dia

untuk menikah atau kawin. (Hasbi, 2004: 75)

Jadi hukum menikah diwajibkan bagi srtiap muslim yang

sudah dewasa dan siap, baik dalam segi lahir maupun batinnya.

Karena apabila tidak segera menikah dikhawatirkan akan

melakukan hal-hal yang dilarang oleh Islam. Serta menikah

dapat dihukumi sunnah apabila ia masih mampu untuk

menahan diri dari perbuatan yang dilarang oleh Islam.

c. Manfaat Pernikahan

(55)

41

4) Menjaga kemaluan dan kehormatan kaum wanita.

5) Mencegah tersebarnya perbuatan keji di antara kaum

muslimin.

6) Memperbanyak keturunan yang akan menjadi kebanggaan

Nabi SAW di hadapan seluruh Nabi dan umat mereka.

7) Mendapat pahala dari perbuatan jimak yang halal.

8) Mencintai apa yang dicintai Rasulullah SAW.

9) Mendapatkan keturunan yang beriman di mana kelak akan

menjadi pelindung negeri-negeri kaum muslimin dan

memohonkan ampunan bagi kaum mukmin.

10) Mengambil manfaat dari syafaat anak untuk masuk surga.

11) Memberikan ketenangan, kasih sayang, dan rahmat

diantara suami istri serta manfaat lain yang hanya diketahui

oleh Allah SWT. (Malik, 2017: 605)

Menurut Abu Bakr Jabir Al-Jazairi dalam bukunya

Ensiklopedi Muslim Minhajul Muslim mengatakan bahwa ada

beberapa hikmah dalam suatu pernikahan, diantaranya:

1) Melestarikan manusia dengan perkembangan biak yang

dihasilkan nikah.

2) Kebutuhan suami istri kepada pasangannya untuk menjaga

kemaluannya dengan melakukan hubungan sek yang

(56)

42

3) Kerjasama suami istri dalam mendidik anak dan menjaga

kehidupannya.

4) Mengatur hubungan laki-laki dengan wanita berdasarkan

asas pertukaran hak dan saling kerjasama yang produktif

dalam suasana cinta kasih dan perasaan saling

menghormati yang lain. (Al-Jazairi, 2000: 575)

Dari beberapa pernyataan diatas dapat ditarik kesimpulan

bahwa hikmah dari menikah yaitu beribadah kepada Allah dan

juga menjalankan sunnah Rasul yang sangat dianjurkan bagi

umatnya. Selain itu manfaat dari pernikahan yaitu melanjutkan

keturunan dan dapat menjaga diri dari perbuatan yang dilarang

oleh agama.

d. Hak Suami-Istri

1) Hak Suami atas Istrinya

Menurut Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim dalam

kitabnya Fiqhu Sunnah Lin Nisa mengatakan bahwa ada

beberapa hak yang dimiliki oleh suami atas istrinya, yaitu:

a) Taat melaksanakan apa yang perintah suami. Ketaatan

istri terhadap suami tidaklah bersifat mutlak, bagaimana

pun juga hal itu dilakukan dengan syarat tidak

mengandung unsur maksiat kepada Allah.

b) Tetap tinggal di rumah dan tidak keluar kecuali dengan

(57)

43

c) Menuruti kemauan suami jika dia mengajaknya

berhubungan badan.

d) Tidak mengizinkan siapa pun untuk masuk ke dalam

rumah kecuali dengan izin suami. Hal ini berlaku jika

istri tidak mengetahui apakah suaminya ridha (atau

tidak). Adapun jika dia tahu bahwa suaminya ridha, maka

memasukkan orang-orang tertentu tidaklah mengapa, jika

memang orang tersebut termasuk orang yang dibolehkan

menemuinya.

e) Tidak berpuasa sunnah ketika suami berada di rumah,

kecuali dengan izinnya.

f) Tidak membelanjakan harta suami kecuali dengan

izinnya.

g) Melayani suami dan anak-anaknya.

h) Menjaga kehormatan dirinya, anak-anak, dan harta

suaminya.

i) Berterimakasih kepada suami, tidak mengingkari

kelebihannya, dan mempergaulinya dengan baik. Yang

dimaksud terima kasih di sini bukan sekedar diucapkan,

tetapi dibarengi pula dengan rasa gembira dan nyaman

apapun kondisi kehidupannya dibawah naungan suami,

(58)

44

dengan tidak mengabaikannya, tidak mengeluhkannya

kepada orang lain, dan lainnya.

j) Berhias dan berdandan untuknya.

k) Tidak mengungkit-ungkit apabila istri pernah membantu

menafkahi suami dan anak-anaknya dari hartanya.

l) Merasa cukup dengan harta yang pas-pasan dan tidak

membebani suami melebihi kemampuannya.

m)Tidak melakukan sesuatu yang menyakiti dan

membuatnya marah.

n) Memperlakukan mertua dan kerabat suami dengan baik.

o) Selalu mendambakan kehidupan bersamanya dengan

tidak meminta talak tanpa sebab yang disyariatkan.

p) Berkabung atas kematian suami selama 4 bulan 10 hari.

(Malik, 2017: 697)

Menurut Abu Bakr Jabir Al-Jazairi dalam bukunya

Ensiklopedi Muslim Minhajul Muslim mengatakan bahwa

suami memiliki hak atas istrinya diantaranya:

a) Ia ditaati istrinya dalam kebaikan. Jadi istrinya

mentaatinya dalam hal-hal yang tidak merupakan maksiat

kepada Allah Ta‟ala dan dalam kebaikan.

b) Istri menjaga harta suaminya, menjaga kehormatannya,

(59)

45

c) Istri berpergian dengan suami jika suami

menginginkannya dan istri pada saat akad tidak

mensyaratkan tidak berpergian dengannya, karena

kepergian istri bersama suami termasuk ketaatan yang

diwajibkan kepadanya.

d) Istri menyerahkan dirinya kepada suami kapan saja

suaminya meminta untuk menikmatinya, karena

menikmatinya termasuk salah satu haknya.

e) Jika seorang istri ingin berpuasa sunnah dan suami berada

di rumah, ia harus meminta izin kepadanya. (Al-Jazairi,

2000: 587)

Menurut Syafi‟i Abdullah di dalam bukunya Seputar

Fiqih Wanita Lengkap mengatakan bahwa seorang istri

memiliki kewajiban terhadap suaminya, diantaranya:

a) Menjaga kehormatan.

b) Melepas dengan do‟a dan menyambut dengan ceria.

c) Cantik lahir dan batin.

d) Menjaga harta dan keluarga.

e) Mampu memberikan kepuasan sek. (Syafi‟i: 158)

Jadi penulis dapat menarik kesimpulan bahwa seorang

suami memiliki hak atas istrinya yang mana seorang istri

(60)

46

perintah dari suami asalkan perintah yang diberikan tidaklah

menyimpang dari syariat Islam.

2) Hak-hak Istri atas Suami

Menurut Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim dalam

kitabnya Fiqhu Sunnah Lin Nisa mengatakan bahwa ada

beberapa hak yang dimiliki oleh istri atas suami, yaitu:

a) Berlaku baik terhadap istri.

b) Berlemah lembut dan bercanda dengannya, termasuk

memperhatikan usianya jika istri ternyata masih belia.

c) Bercengkrama dengan istri, bercerita, dan mau

mendengarkan pembicaraannya.

d) Mengajarkan perkara agama kepada istri dan

mendorongnya untuk senantiasa taat kepada Allah.

e) Tidak memfokuskan perhatiannya pada sebagian

kekurangannya selama tidak melanggar syariat.

f) Tidak menyakitinya dengan memukul wajahnya tau

menjelek-jelekkannya.

g) Jika suami terpaksa mendiamkannya, hendaklah

dilakukan kecuali di rumah.

h) Selalu menjaga kehormatannya.

i) Memberinya izin jika dia meminta izin untuk mengikuti

shalat berjamaah atau mengunjungi kerabat jika memang

(61)

47

j) Tidak menyebarkan rahasia dan menyabut aib-aibnya.

k) Menafkahi dirinya dan anak-anaknya sesuai dengan

kemampuannya.

l) Hendaklah seorang suami berusaha berpenampilan

menarik untuk istrinya sebagaimana istri berdandan untuk

suaminya.

m)Berbaik sangka kepada istri.

n) Berlaku adil di antara para istri, baik dalam hal makanan,

minuman, pakaian, dan tempat tinggal. (Malik, 2017:

704)

Menurut Abu Bakr Jabir Al-Jazairi dalam bukunya

Ensiklopedi Muslim Minhajul Muslim mengatakan bahwa

seorang istri juga memiliki hak atas suaminya, yaitu:

a) Menafkahi istrinya dalam bentuk makanan, atau

minuman, atau tempat tinggal, dengan cara yang baik.

b) Memberinya kenikmatan.

c) Istri mendapatkan bagian yang adil dari suaminya jika

suaminya memiliki istri lain.

d) Suami berada di sisi istrinya pada hari pernikahan

dengannya selama seminggu jika istrinya gadis dan

selama tiga hari jika ia janda.

e) Suami disunnahkan mengizinkan istrinya merawat salah

Referensi

Dokumen terkait

Penggunaan dekok daun sirih hijau sebagai bahan teat dipping berpengaruh terhadap persentase penurunan California Mastitis Test dan jumlah bakteri pada susu pada Uji

Skripsi dengan judul Analisis Hukum Pidana Islam Terhadap Putusan Hakim Tentang Tindak Pidana Mencari Keuntungan Dari Perbuatan Cabul (Pengadilan Negeri Mojokerto Nomor

Analisis sidik ragam di peroleh bahwa perlakuan FMA dan pupuk fosfat serta interaksi keduanya berpengaruh tidak nyata pada parameter umur berbunga

Penambahan luas lahan budidaya secara dominan diperkirakan akibat adanya pertambahan jumlah penduduk dari tahun 2003 yaitu sebesar 255.847 jiwa menjadi 318.818

a). Penyisipan vokal /a/ dalam gugus konsonan dapat diketahui dari tabel 12. Vokal yang disisipkan pada gugus konsonan tersebut di atas adalah sejenis dengan vokal sebelumnya.

Selanjutnya menguraikan penyiapan data meteorologi, khusus untuk data hujan dan evaporasi yang banyak digunakan dalam penyusunan model hidrologi.. Penyiapan data

Oleh karena ini lah ia lebih dicintai dibandingkan peserta didik yang lain, dan tidak ada keraguan kepaanya bahwa suatu saat nanti ia termasuk dari orang-orang

Pada indikator 4, kemampuan siswa dalam memberikan alasan terhadap kebenaran suatu pernyataan masih rendah, karena terdapat 63,89% jumlah siswa yang memenuhi