BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Pneumonia 1. Definisi Pneumonia
Pneumonia adalah infeksi akut yang mengenai jaringan paru – paru (alveoli) dan
mempunyai gejala batuk, sesak nafas, ronki dan infiltrat pada foto rontgen. Terjadinya pneumonia pada anak sering kali bersamaan dengan terjadinya proses infeksi akut pada bronkhus yang disebut BronkoPneumonia (Direktorat Jenderal P2PL, 2009).
Pneumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru – paru (alveoli). Selain gambaran umum diatas, pneumonia dapat dikenali berdasarkan pedoman tanda –
tanda klinis lainnya dan pemeriksaan penunjang (Rontgen, Laboratorium) (Wilson, 2006).
Pneumonia adalah salah satu bentuk infeksi saluran nafas bawah akut (ISNBA)
yang tersering. Pneumonia merupakan peradangan yang mengenai parenkim paru, distal dari bronkiolus terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorius, dan alveoli, serta
menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan gangguan pertukaran udara setempat (Dahlan, 2007).
Jadi pneumonia pada balita adalah infeksi saluran pernafasan bawah akut
yang sering menyerang balita pada usia 1- 5 tahun yang sangat beresiko menyerang jaringan paru – paru (alveoli). Selain itu juga biasanya ditandai
Gejala penyakit pneumonia biasanya didahului dengan infeksi saluran napas atas akut selama beberapa hari. Selain didapatkan demam, menggigil,
suhu tubuh meningkat dapat mencapai 40 derajat Celcius, sesak napas, nyeri dada dan batuk dengan dahak kental, terkadang dapat berwarna kuning hingga
hijau. Pada sebagian penderita juga ditemui gejala lain seperti nyeri perut, kurang nafsu makan, dan sakit kepala.
Sebagian besar pneumonia disebabkan oleh mikroorganisme (virus/bakteri)
dan sebagian kecil disebabkan oleh hal lain seperti aspirasi dan radiasi. Di negara berkembang, pneumonia pada anak terutama disebabkan oleh bakteri.
Bakteri yang sering menyebabkan pneumonia adalah Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae, dan Staphylococcus aureus (Said, 2008).
2. Etiologi Pneumonia
Pneumonia yang ada di kalangan masyarakat umumnya disebabkan oleh
bakteri, virus mikoplasma (bentuk peralihan antara bakteri dan virus) dan protozoa (Djojodibroto, 2009).
a. Bakteri
Pneumonia yang dipicu bakteri bisa menyerang siapa saja, dari bayi sampai usia lanjut. Sebenarnya bakteri penyebab pneumonia yang paling
umum adalah Streptococcus pneumonia sudah ada di kerongkongan manusia sehat. Begitu pertahanan tubuh menurun oleh sakit, usia tua atau malnutrisi, bakteri segera memperbanyak diri dan menyebabkan
berkeringat, napas terengah-engah dan denyut jantungnya meningkat cepat.
b. Virus
Setengah dari kejadian pneumonia diperkirakan disebabkan oleh
virus.Virus yang tersering menyebabkan pneumonia adalah Respiratory Syncial Virus (RSV). Meskipun virus-virus ini kebanyakan menyerang
saluran pernapasan bagian atas, pada balita gangguan ini bisa memicu
pneumonia. Tetapi pada umumnya sebagian besar pneumonia jenis ini tidak berat dan sembuh dalam waktu singkat. Namun bila infeksi terjadi
bersamaan dengan virus influenza, gangguan bisa berat dan kadang menyebabkan kematian.
c. Mikroplasma
Mikroplasma adalah agen terkecil di alam bebas yang menyebabkan penyakit pada manusia. Mikroplasma tidak bisa diklasifikasikan sebagai
virus maupun bakteri, meski memiliki karakteristik keduanya. Pneumonia yang dihasilkan biasanya berderajat ringan dan tersebar luas. Mikroplasma menyerang segala jenis usia, tetapi paling sering pada anak pria remaja dan
usia muda. Angka kematian sangat rendah, bahkan juga pada yang tidak diobati.
d. Protozoa
Pneumonia yang disebabkan oleh protozoa sering disebut pneumonia pneumosistis. Termasuk golongan ini adalah Pneumocystitis Carinii
yang prematur. Perjalanan penyakitnya dapat lambat dalam beberapa minggu sampai beberapa bulan, tetapi juga dapat cepat dalam hitungan
hari. Diagnosis pasti ditegakkan jika ditemukan P. Carinii pada jaringan paru atau spesimen yang berasal dari paru.
3. Faktor Risiko Pneumonia
Hasil penelitian dari berbagai Negara termasuk Indonesia dan berbagai publikasi ilmiah dilaporkan faktor risiko baik yang meningkatkan insiden
(morbiditas) maupun kematian (mortalitas) akibat pneumonia (Direktorat Jenderal P2PL, 2009) adalah:
a. Faktor risiko yang meningkatkan insiden pneumonia meliputi:
1) Faktor risiko pasti (definite): malnutrisi, BBLR, tidak ASI Eksklusif, tidak dapat imunisasi campak, polusi udara dalam rumah dan kepadatan.
2) Faktor risiko hampir pasti (likely): asap rokok, defisiensi Zinc, kemampuan ibu merawat, penyakit penyerta (diare dan asma).
3) Kemungkinan faktor risiko (possible): pendidikan ibu, kelembaban, udara dingin, defisiensi vitamin A, polusi udara luar, urutan kelahiran dalam keluarga, kemiskinan.
b. Faktor risiko yang meningkatkan angka kematian pneumonia,
Faktor risiko yang meningkatkan angka kematian pneumonia ini perlu
mendapatkan perhatian kita semua agar upaya penurunan kematian karena pneumonia dapat dicapai. Faktor risiko ini merupakan gabungan faktor risiko insidens seperti tersebut diatas ditambah dengan faktor tatalaksana di
1) Ketersediaan pedoman tatalaksana
2) Ketersediaan tenaga kesehatan terlatih yang memadai
3) Kepatuhan tenaga kesehatan terhadap pedoman
4) Ketersediaan fasilitas yang diperlukan untuk tatalaksana pneumonia
(obat, oksigen, perawatan intensif) 5) Prasarana dan sistem rujukan. 4. Klasifikasi Pneumonia
a. Berdasarkan Umur
1) Kelompok umur < 2 bulan
a) Pneumonia berat
Bila disertai dengan tanda-tanda klinis seperti berhenti menyusu (jika sebelumnya menyusu dengan baik), kejang, rasa kantuk yang
tidak wajar atau sulit bangun, stridor pada anak yang tenang, mengi, demam (38ºC atau lebih) atau suhu tubuh yang rendah (di
bawah 35,5 ºC), pernapasan cepat 60 kali atau lebih per menit, penarikan dinding dada berat, sianosis sentral (pada lidah), serangan apnea, distensi abdomen dan abdomen tegang. Penderita
pneumonia berat juga mungkin disertai tanda-tanda lain seperti : (1) Napas cuping hidung, hidung kembang kempis waktu
bernafas. (2) Suara rintihan
(3) Sianosis (Kulit kebiru-biruan karena kekurangan oksigen).
b) Bukan pneumonia
Jika anak bernapas dengan frekuensi kurang dari 60 kali per menit
dan tidak terdapat tanda pneumonia seperti di atas. 2) Kelompok umur 2 bulan sampai < 5 tahun
a) Pneumonia sangat berat
Batuk atau kesulitan bernapas yang disertai dengan sianosis sentral, tidak dapat minum, adanya penarikan dinding dada, anak kejang
dan sulit dibangunkan. b) Pneumonia berat
Batuk atau kesulitan bernapas dan penarikan dinding dada, tetapi tidak disertai sianosis sentral dan dapat minum.
c) Pneumonia
Batuk atau kesulitan bernapas dan pernapasan cepat tanpa penarikan dinding dada.
d) Bukan pneumonia (batuk pilek biasa)
Batuk atau kesulitan bernapas tanpa pernapasan cepat atau penarikan dinding dada.
e) Pneumonia persisten
Balita dengan diagnosis pneumonia tetap sakit walaupun telah
diobati selama 10-14 hari dengan dosis antibiotik yang kuat dan antibiotik yang sesuai, biasanya terdapat penarikan dinding dada, frekuensi pernapasan yang tinggi, dan demam ringan. (WHO,
5. Gejala Klinis dan Tanda Pneumonia a. Gejala
Gejala penyakit pneumonia biasanya didahului dengan infeksi saluran napas atas akut selama beberapa hari. Selain didapatkan demam,
menggigil, suhu tubuh meningkat dapat mencapai 40 derajat Celcius, sesak napas, nyeri dada dan batuk dengan dahak kental, terkadang dapat berwarna kuning hingga hijau. Pada sebagian penderita juga ditemui gejala
lain seperti nyeri perut, kurang nafsu makan, dan sakit kepala (Misnadiarly, 2008)
b. Tanda
Menurut Misnadiarly (2008), tanda-tanda penyakit pneumonia pada balita antara lain :
Batuk nonproduktif , Ingus (nasal discharge), suara napas lemah, penggunaan otot bantu napas, demam , cyanosis (kebiru-biruan), thorax photo
menujukkan infiltrasi melebar , sakit kepala , kekakuan dan nyeri otot, sesak napas, menggigil, berkeringat, lelah, terkadang kulit menjadi lembab, dan mual dan muntah.
6. Cara penularan
Pada umumnya pneumonia termasuk kedalam penyakit menular yang
ditularkan melalui udara.Sumber penularan adalah penderita pneumonia yang menyebarkan kuman ke udara pada saat batuk atau bersin dalam bentuk droplet. Inhalasi merupakan cara terpenting masuknya kuman penyebab
samping itu terdapat juga cara penularan langsung yaitu melalui percikan droplet yang dikeluarkan oleh penderita saat batuk, bersin dan berbicara
kepada orang di sekitar penderita, transmisi langsung dapat juga melalui ciuman, memegang dan menggunakan benda yang telah terkena sekresi saluran
pernapasan penderita (Azwar,2002). 7. Pencegahan Pneumonia
Mengingat pneumonia adalah penyakit beresiko tinggi yang tanda awalnya
sangat mirip dengan flu, alangkah baiknya para orang tua tetap waspada dengan memperhatikan cara berikut ini (Misnadiarly, 2008).
a. Menghindarkan bayi atau anak dari paparan asap rokok, polusi udara, dan tempat keramaian yang berpotensi penularan.
b. Menghindarkan bayi atau anak dari kontak dengan penderita ISPA.
c. Membiasakan pemberian ASI Eksklusif selama 6 bulan.
d. Segera berobat jika mendapati anak mengalami panas, batuk, pilek.
Terlebih jika disertai suara serak, sesak nafas, dan adanya tarikan pada otot diantara rusuk (retraksi).
e. Periksakan kembali jika dalam dua hari belum menampakan perbaikan,
dan segera ke rumah sakit jika kondisi anak memburuk.
f. Imunisasi, untuk meningkatkan kekebalan tubuh terhadap penyakit infeksi
seperti imunisasi DPT (Difteri, Pertusis, Tetanus). 8. Diagnosis Pneumonia
Berdasarkan pedoman diagnosis dan tatalaksana pneumonia yang diajukan
a. Pneumonia sangat berat : bila ada sianosis dan tidak sanggup minum, harus dirawat di RS dan diberi antibiotik.
b. Pneumonia berat : bila ada retraksi, tanpa sianosis, dan masih sanggup minum, harus dirawat di RS dan diberi antibiotik.
c. Pneumonia : bila tidak ada retraksi tapi napas cepat : 1) > 60x/menit pada bayi < 2 bulan
2) > 50x/menit pada anak 2 bulan – 1 tahun
3) > 40x/menit pada anak 1 – 5 tahun
Bukan pneumonia : hanya batuk tanpa tanda dan gejala seperti di atas,
tidak perlu dirawat, tidak perlu antibiotik. 9. Perawatan Pneumonia pada balita di Rumah
Perawatan di rumah yang dapat dilakukan pada bayi atau anak balita
yang menderita pneumonia antara lain: a. Mengatasi demam
Untuk anak usia dua bulan sampai lima tahun, demam dapat diatasi dengan memberikan kompres air hangat, adalah kompres dengan air suam – suam kuku atau air hangat (Rudianto, 2010). Suatu prosedur menggunakan
kain atau handuk yang telah dicelupkan pada air hangat. Menurut Anneahira (2010), adapun manfaat kompres hangat adalah dapat memberikan rasa
b. Mengatasi batuk
Dianjurkan untuk memberikan obat batuk yang aman misalnya
ramuan tradisional yaitu jeruk nipis setengah sendok teh dicampur dengan kecap atau madu setengah sendok teh dan diberikan tiga kali sehari.
c. Pemberian makanan
Dianjurkan memberikan makanan yang cukup gizi, sedikit-sedikit tetapi berulang-ulang yaitu lebih sering dari biasanya, lebih-lebih jika terjadi
muntah. Pemberian ASI pada bayi yang menyusu tetap diteruskan. d. Pemberian minuman
Diusahakan memberikan cairan (air putih, air buah dan sebagainya) lebih banyak dari biasanya. Hal ini akan membantu mengencerkan dahak, selain itu kekurangan cairan akan menambah parah sakit yang diderita.
B. Konsep Keluarga 1) Pengertian Keluarga
Marilyn M. Friedman (1998) yang menyatakan bahwa keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang hidup bersama dengan
keterikatan aturan dan emosional dimana individu mempunyai peran masing – masing yang merupakan bagian dari keluarga.
saling berinteraksi satu dengan yang lain, mempunyai peran masing – masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu budaya.
2) Fungsi Keluarga
Fungsi – fungsi dasar keluarga adalah memenuhi kebutuhan –
kebutuhan anggota keluarga dan masyarakat yang lebih luas. Lima fungsi keluarga menurut Friedman (1998) adalah :
a. Fungsi afektif (affective function)
Berhubungan erat dengan fungsi internal keluarga, yang merupakan basis kekuatan keluarga. Fungsi afektif berguna untuk pemenuhan
kebutuhan psikososial. Keberhasilan melaksanakan fungsi afektif tampak pada kebahagiaan dan kegembiraan dari seluruh anggota keluarga. Tiap anggota keluarga saling mempertahankan iklim yang positif, perasaan
memiliki, perasaan yang berarti, dan merupakan sumber kasih sayang dan reinforcement. Hal tersebur dipelajari dan dikembangkan melalui interaksi
dan berhubungan dalam keluarga. Dengan demikian keluarga yang berhasil melaksanakan fungsi afektif, seluruh anggota keluarga dapat mengembangkan konsep diri yang positif. Fungsi afektif merupakan sumber
energi yang menentukan kebahagiaan keluarga. Perceraian, kenakalan anak atau masalah keluarga yang sering timbul sebagai akibat tidak terpenuhinya
b. Fungsi sosialisasi dan tempat bersosialisasi (sosialization and social placement function)
Fungsi ini sebagai tempat untuk melatih anak dan mengembangkan kemampuannya untuk berhubungan dengan orang lain di luar rumah.
Keluarga merupakan tempat individu untuk belajar bersosialisasi. Keberhasilan perkembangan individu dan keluarga dicapai melalui interaksi atau hubungan antara anggota keluarga yang ditujukan dalam sosialisasi.
Anggota keluarga belajar tentang disiplin, norma – norma, budaya dan perilaku melalui hubungan dan interaksi dalam keluarga.
c. Fungsi reproduksi (reproductive function)
Keluarga berfungsi untuk meneruskan kelangsungan dan menambah sumber daya manusia. Dengan adanya program keluarga berencana maka
fungsi ini sedikit terkontrol. Di sisi lain, banyak kelahiran yang tidak diharapkan atau di luar ikatan perkawinan sehingga lahirnya keluarga baru
dengan satu orang tua.
d. Fungsi ekonomi (economic function)
Keluarga berfungsi untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dan tempat
mengembangkan kemampuan individu untuk meningkatkan penghasilan dan memenuhi kebutuhan keluarga seperti makan, pakaian dan rumah.
Fungsi ini sukar dipenuhi oleh keluarga dibawah garis kemiskinan. e. Fungsi perawatan atau pemeliharaan kesehatan (health care function)
Fungsi ini untuk mempertahankan keadaan kesehatan keluarga agar
memberikan perawatan kesehatan mempengaruhi status kesehatan keluarga. Bagi tenaga kesehatan keluarga yang profesional, fungsi perawatan
kesehatan merupakan pertimbangan vital dalam pengkajian keluarga.
Untuk menempatkannya dalam perspektif, fungsi ini merupakan salah
satu fungsi keluarga dalam pemenuhan kebutuhan – kebutuhan fisik seperti makan, pakaian, tempat tinggal dan perawatan kesehatan. Keluarga menyediakan makanan, pakaian, perlindungan dan memelihara kesehatan.
Keluarga merawat anggota keluarga yang mengalami gangguan kesehatan. Keluarga pula yang menentukan kapan anggota keluarga yang terganggu
perlu meminta pertolongan tenaga profesional. Kemampuan keluarga dalam memberikan asuhan keperawatan mempengaruhi tingkat kesehatan keluarga dan individu. Tingkat pengetahuan keluarga tentang sehat – sakit juga
mempengaruhi perilaku keluarga dalam menyelesaikan masalah kesehatan keluarga.
C. Pelaksanaan Fungsi Perawatan Keluarga 1. Pengertian Perawatan Keluarga
Perawatan kesehatan keluarga adalah tingkat keperawatan kesehatan masyarakat yang dipusatkan pada keluarga sebagai unit satu kesatuan yang
dirawat dengan sehat sebagai tujuan pelayanan dan perawatan sebagai upaya mencegah penyakit. Sedangkan keluarga adalah sekumpulan orang dengan ikatan perkawinan, kelahiran dan adopsi yang bertujuan untuk menciptakan,
emosional serta sosial dari anggota keluarga. Keluarga adalah unit pelayanan kesehatan dan merupakan kumpulan dua orang atau lebih yang
ada dan tidak ada hubungan secara hukum akan tetapi berperan sebagai keluarga atau siapapun yang di katakan klien sebagai keluarganya
(Friedman, 1998).
Perawatan keluarga yang komprehensif merupakan suatu proses yang rumit, sehingga memerlukan suatu pendekatan yang logis dan sistematis
untuk bekerja dengan keluarga dan anggota keluarga. Pendekatan ini disebut proses keperawatan. Proses keperawatan merupakan inti dan sari
keperawatan, dimana proses adalah suatu aksi gerak yang dilakukan dengan sengaja dan sadar dari satu titik ke titik yang lain menuju pencapaian tujuan. Pada dasarnya, proses keperawatan merupakan suatu proses pemecahan
masalah yang sistematis, yang digunakan ketika bekerja dengan individu, keluarga, kelompok atau komunitas. Salah satu aspek terpenting dari
keperawatan adalah penekanan pada keluarga. Keluarga bersama dengan individu, kelompok dan komunitas adalah klien atau resipien keperawatan. Secara empiris, disadari bahwa kesehatan para anggota keluarga dan
kualitas kesehatan keluarga mempunyai hubungan yang erat. Akan tetapi, hingga saat ini sangat sedikit yang diberikan perhatian pada keluarga
2. Fungsi Perawatan Keluarga
Fungsi perawatan kesehatan merupakan hal yang penting dalam
pengkajian keluarga. Sejauh mana masing – masing anggota keluarga melaksanakan fungsinya antara lain termasuk fungsi afektif dalam
menyelesaikan masalah, fungsi sosialisasi dalam melakukan interaksi baik sesama anggota keluarga maupun dengan orang lain, fungsi kesehatan seperti yang dikemukakan oleh Friedman antara lain dalam mengenal
masalah, mengambil keputusan, merawat anggota keluarga yang sakit, memelihara dan memodifikasi lingkungan dan menggunakan sumber di
masyarakat. Fungsi kesehatan keluarga juga mengenai kebiasaan diet keluarga mempengaruhi status gizi sebagai faktor pendukung, pola istirahat dan tidur mempengaruhi status ketahanan tubuh, kebiasaan mengkonsumsi
obat atau zat aditif mempengaruhi berhasil atau tidaknya pengobatan, pola perawatan diri mempengaruhi proses penularan dan higiene seseorang,
lingkungan dan riwayat kesehatan keluarga berpengaruh dalam bertambah parah atau tidak masalah kesehatan yang dialami keluarga (Friedman, 1998).
3. Tugas Pelaksanaan Perawatan Kesehatan Keluarga
Terdapat beberapa tugas dalam pelaksanaan perawatan kesehatan
keluarga, yaitu (Friedman, 1998) :
a) Mengenal masalah kesehatan keluarga
Mengenal masalah kesehatan keluarga yaitu sejauh mana
pengertian, tanda dan gejala, penyebab dan yang mempengaruhi serta persepsi keluarga terhadap masalah. Dalam hal ini memerlukan data
umum keluarga yaitu nama keluarga, alamat, komposisi keluarga, tipe keluarga, suku, agama, status sosial ekonomi keluarga dan aktivitas
rekreasi keluarga.
b) Membuat keputusan mengenai tindakan kesehatan yang tepat
Mengambil sebuah keputusan kesehatan keluarga merupakan
langkah sejauh mana keluarga mengerti mengenai sifat dan luasnya masalah, apakah masalah dirasakan, menyerah terhadap masalah yang
dihadapi, takut akan akibat dari tindakan penyakit, mempunyai sikap negatif terhadap masalah kesehatan, dapat menjangkau fasilitas yang ada, kurang percaya terhadap tenaga kesehatan dan mendapat informasi
yang salah terhadap tindakan dalam mengatasi masalah. Dalam hal ini yang dikaji berupa akibat dan keputusan keluarga yang diambil.
Perawatan sederhana dengan melakukan cara – cara perawatan yang sudah dilakukan keluarga dan cara pencegahannya.
c) Merawat anggota keluarga yang mengalami masalah kesehatan
Anggota keluarga mengetahui keadaan penyakitnya, mengetahui sifat dan perkembangan perawatan yang dibutuhkan, mengetahui
sumber – sumber yang ada dalam keluarga (anggota keluarga yang bertanggung jawab, keuangan, fasilitas fisik, psikososial), mengetahui keberadaan fisik yang diperlukan untuk perawatan dan sikap keluarga
sederhana sesuai dengan kemampuan, dimana perawatan keluarga yang biasa dilakukan dan cara pencegahannya seminimal mungkin.
d) Memodifikasi lingkungan atau menciptakan suasana rumah yang sehat Sejauh mana mengetahui sumber – sumber keluarga yang
dimiliki, keuntungan atau manfaat pemeliharaan lingkungan, mengetahui pentingnya higiene sanitasi dan kekompakan antar anggota keluarga. Dengan memodifikasi lingkungan dapat membantu dalam
melakukan perawatan pada anggota keluarga yang mengalami masalah kesehatan, dalam bentuk kebersihan rumah dan menciptakan
kenyamanan agar anak dapat beristirahat dengan tenang tanpa adanya gangguan dari luar.
e) Merujuk pada fasilitas kesehatan masyarakat
Dimana keluarga mengetahui apakah keberadaan fasilitas kesehatan, memahami keuntungan yang diperoleh dari fasilitas
kesehatan, tingkat kepercayaan keluarga terhadap petugas kesehatan dan fasilitas tersebut terjangkau oleh keluarga. Dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan, dimana biasa mengunjungi pelayanan kesehatan
yang biasa dikunjungi dan cenderung yang paling dekat misalnya posyandu, puskesmas maupun Rumah Sakit. Hal ini dilakukan dengan
D. Tinjauan Umum Tentang Variabel Penelitian
Menurut hasil penelitian yang ada, dapat diketahui bahwa pneumonia
menyerang pada balita maupun bayi usia 1- 5 tahun, dimana pada usia tersebut tubuh bayi akan mudah terserang penyakit infeksi apabila tidak dirawat
kekebalan tubuhnya dengan baik. Hal ini bisa terjadi apabila keluarga dalam perawatan balita pneumonia tidak tepat dan bisa mengakibatkan kematian apabila pengobatan tidak dilakukan dengan baik dan tepat, faktor resiko yang
menyebabkan kemampuan perilaku keluarga dalam melakukan perawatan balita pneumonia (Sarwono, 1997) adalah:
1) Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil “tahu”, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjaadi
melalui panca indra manusia, yakni: indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh
melalui mata dan telinga. Menurut penelitian Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru), didalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan,
yakni:
a) Awareness (kesadaran), dimana orang tersebut menyadari dalam arti
mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (objek).
c) Evaluation (menimbang - nimbang) terhadap baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi.
d) Trial, dimana subjek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan apa
yang dikehendaki oleh stimulus.
e) Adoption, dimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan
pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting
dalam membentuk tindakan seseorang (overt behavior). Menurut Notoatmodjo (2003) menyebutkan bahwa pengetahuan yang dicakup dalam
domain kognitif mempunyai enam tingkat yaitu: a) Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap sebagai suatu yang spesifik dari seluruh bahan
yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu, “tahu” ini adalah merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain:
menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan dan sebagainya. b) Memahami (Comprehension)
menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.
c) Aplikasi (Application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang
telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan aplikasi atau penggunaan hukum – hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.
d) Analisis (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu
objek kedalam komponen – komponen, tetapi masih didalam suatu struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain.
e) Sintesis (Synthesis)
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian – bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang
baru. Dengan kata lain sintesis itu suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi- formulais yang ada.
f) Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan penilaian suatu materi atau objek sesuai kriteria – kriteria yang ada. Pengukuran
menurut Notoatmodjo (2003) dapat dikategorikan menjadi 4 (empat), yaitu:
(1) Pengetahuan baik : 61 – 100% (2) Pengetahuan cukup baik : 31 – 60%
(3) Pengetahuan tidak baik : 0 – 30%
Pengetahuan ibu tentang pneumonia dapat diperoleh baik dari pengalaman sendiri maupun dari pengalaman orang lain. Pengetahuan yang
mencakup cara mengenal pneumonia dan pengelolaan pneumonia akan berpengaruh menurunkan angka kesakitan dan angka kematian akibat
penyakit pneumonia. 2) Sikap
Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari
seseorang terhadap stimulus atau obyek. Sikap mengandung tiga komponen yang membentuk struktur sikap yaitu komponen kognitif (komponen
perseptual) yaitu komponen yang berkaitan dengan pengetahuan, keyakinan. Komponen afektif (komponen emosional dan komponen konaktif, komponen perilaku atau action component).
Sikap menggambarkan suka atau tidak sukanya seseorang pada suatu obyek, yang sering diperoleh dari pengalaman sendiri atau pengalaman
orang lain. Sikap yang positif terhadap nilai – nilai kesehatan terutama yag berkaitan dengan pneumonia, diharapkan terwujud dalam suatu tindakan yang mendukung hidup sehat yang dapat menurunkan kesakitan dan
3) Pendidikan
Pendidikan merupakan proses seseorang mengembangkan
kemampuan, sikap dan bentuk – bentuk tingkah laku lainnya didalam masyarakat, proses sosial yakni orang dihadapkan pada pengaruh
lingkungan yang terpilih dan terkontrol (khususnya yang datang dari sekolah), sehingga dia dapat memperoleh atau mengalami perkembangan kemampuan sosial dan kemampuan individu yang optimal. Pendidikan
terbagi dalam ruang lingkup yang meliputi pendidikan formal, informal dan non formal.
Notoatmodjo yang dikutip Alimin (2003), menyatakan bahwa orang dengan pendidikan formal lebih tinggi akan mempunyai pengetahuan yang lebih tinggi dibanding orang dengan tingkat pendidikan formal yang lebih
rendah, karena akan lebih mampu dan mudah memahami arti dan pentingnya kesehatan serta pemanfaatan pelayanan kesehatan.
4) Pekerjaan
Karakteristik pekerjaan seseorang dapat mencerminkan pendapatan, status sosial, pendidikan, status ekonomi, resiko cedera atau masalah
kesehatan dalam suatu kelompok populasi. Pekerjaan juga merupakan suatu determinan resiko dan determinan terpapar yang khusus dalam bidang
5) Sikap dan dukungan petugas kesehatan
Dukungan petugas kesehatan sangat besar pengaruhnya terhadap
penurunan angka kesakitan maupun kematian balita yang menderita pneumonia. Dimana dukungan petugas kesehatan ini bisa dilakukan pada
masyarakat terutama ibu balita yang anaknya menderita pneumonia supaya diberikan penyuluhan kesehatan tentang pencegahan dan perawatan pada balita dengan pneumonia, sehingga diharapkan keluarga lebih mengerti dan
termotivasi untuk melakukan tindakan pencegahan dan perawatan pada balita dengan pneumonia, sehingga diharapkan dapat mengurangi resiko
terjadinya pneumonia pada balita (Direktorat Jenderal P2PL, 2006). 6) Status Sosial Ekonomi
Sosial ekonomi adalah posisi seseorang dalam masyarakat berkaitan
dengan orang lain dalam arti lingkungan pergaulan prestasinya dan hak – hak serta kewajiban dalam hubungannya dengan sumber daya (Soerjono,
2002). Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan pendapatan orang tua adalah penghasilan berupa uang yang diterima sebagai balas jasa dari kegiatan baik dari sektor formal dan informal selama satu bulan dalam
satuan rupiah.
Besar kecilnya pendapatan yang diterima oleh setiap penduduk akan
bahwa pendapatan yang diterima oleh penduduk akan dipengaruhi oleh tinggi pendidikan yang dimilikinya.
Keadaan sosial ekonomi yang rendah pada umumnya berkaitan erat dengan berbagai masalah kesehatan yang mereka hadapi disebabkan karena
ketidakmampuan dan ketidaktahuan dalam mengatasi berbagai masalah yang mereka hadapi. Masalah kemiskinan akan sangat mengurangi kemampuan keluarga untuk memenuhi kebutuhan – kebutuhan keluarga
mereka terhadap gizi, perumahan dan lingkungan yang sehat, pendidikan dan kebutuhan – kebutuhan lainnya. Jelas kesemua itu akan dengan mudah
dapat menimbulkan penyakit (Effendy, 1998).
Berdasarkan standar UMR kabupaten Banjarnegara tahun 2011 pendapatan masyarakat Banjarnegara dibagi tiga kategori yaitu tinggi ≥
Rp.785.000, kategori sedang Rp.350.000 – Rp.785.000 dan kategori rendah < Rp 350.000 (Dinsosnakertrans, 2011).
E. Teori Perilaku
Masalah kesehatan masyarakat, terutama di negara – negara berkembang
pada dasarnya menyangkut dua aspek: aspek fisik dan non fisik, misalnya tersedianya sarana kesehatan dan pengobatan penyakit, sedangkan yang kedua
Perilaku manusia merupakan hasil daripada segala macam pengalamannya serta interaksi manusia dengan lingkungannya yang terwujud
dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan (Sarwono, 1997). Perilaku kesehatan adalah suatu respon seseorang (organisme) terhadap stimulus atau
obyek yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan dan minuman serta lingkungannya (Notoatmodjo, 2003).
Ada beberapa penelitian yang mengaitkan dengan peran keluarga dalam
perilaku mencari bantuan kesehatan. Menurut penelitian D’Souza (2003), meneliti tentang peran dari perilaku mencari bantuan kesehatan terhadap
kematian anak di perkampungan miskin di Karachi, Pakistan berdasarkan hasil penelitian bahwa pemilihan pelayanan kesehatan yang tepat oleh keluarga dapat menentukan apakah anak dapat bertahan hidup atau meninggal akibat
penyakit yang diderita.
Penilaian individu terhadap status kesehatannya ini merupakan salah satu
faktor yang menentukan perilakunya, yaitu perilaku sehat jika dia menganggap dirinya sehat, dan perilaku sakit jika merasa dirinya sakit (Sarwono,1997). Menurut Green yang dikutip oleh Sarwono (1997) mengatakan bahwa
kesehatan individu atau masyarakat dipengaruhi oleh dua faktor pokok, yaitu faktor perilaku dan faktor – faktor di luar perilaku. Faktor perilaku ditentukan
a. Faktor predisposisi (Predisposing factors)
Mencakup pengetahuan, sikap, kepercayaan, tradisi, norma sosial dan
unsur – unsur lain yang terdapat dalam diri individu dan masyarakat. Pada seseorang dengan pengetahuan rendah dan berdampak pada perilaku
perawatan pada balita pneumonia. Seseorang dengan pengetahuan yang cukup tentang perilaku perawatan pneumonia dan pencegahan maka keluarga tersebut akan besikap positif dan menuruti aturan pengobatan
disertai munculnya keyakinan untuk sembuh, tetapi terkadang masih ada yang percaya dengan pengobatan alternatif bukan medis yang dipengaruhi
oleh kebiasaan masyarakat yang sudah membudaya. b. Faktor pendukung (Enabling Factors)
Faktor ini mencakup ketersediaan sarana dan prasarana atau fasilitas
kesehatan bagi masyarakat.
Upaya pemeliharaan dan peningkatan kesehatan diwujudkan dalam suatu wadah pelayanan kesehatan yang disebut sarana kesehatan. Upaya
penyelenggaraan pelayanan kesehatan pada umumnya dibedakan menjadi tiga yaitu: sarana pemeliharaan kesehatan primer merupakan sarana yang
paling pertama menyentuh masalah kesehatan di masyarakat. Sarana pemeliharaan kesehatan sekunder merupakan sarana pelayanan kesehatan yang menangani kasus yang tidak atau belum ditangani oleh sarana
rujukan bagi kasus – kasus yang tidak ditangani oleh sarana pelayanan kesehatan primer dan pelayanan kesehatan sekunder (Notoatmodjo, 2003).
c. Faktor pendorong (Reinforcing Factors)
Adalah faktor – faktor yang mendorong atau memperkuat terjadinya perilaku antara lain:
1) Keaktifan petugas dalam memotivasi
Untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi
masyarakat, diselenggarakan upaya kesehatan dengan pendekatan pemeliharaan, peningkatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif) dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif) yang dilaksanakan secara
menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan.
Motivasi adalah upaya untuk menimbulkan rangsangan, dorongan
dan pembangkit tenaga pada seseorang ataupun sekelompok masyarakat tersebut mau berbuat dan bekerja sama secara optimal melaksanakan sesuatu yang telah direncanakan untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan ( Azwar, 1998). 2) Kedisiplinan petugas klinik
Arti disiplin adalah kepatuhan kepada peraturan (tata tertib), dalam melaksanakan tugasnya petugas kesehatan harus sesuai dengan mutu pelayanan. Pengertian mutu pelayanan untuk petugas kesehatan
berarti bebas melakukan segala sesuatu secara profesional untuk meningkatkan derajat kesehatan pasien dan masyarakat sesuai dengan
dan memenuhi standar yang baik (state of the art). Komitmen dan motivasi petugas tergantung dari kemampuan mereka untuk
melaksanakan tugas mereka dengan cara yang optimal.
F. Kerangka Teori
Gambar 2.1.Kerangka Teori
Kerangka Teori menurut Lawrence Green, 1980 Faktor Predisposisi
• Pengetahuan • Sikap
• Kepercayaan • Tradisi • Norma sosial
Faktor Pendukung Sarana dan prasarana pelayanan kesehatan
Faktor Pendorong
• Keaktifan petugas dalam memotivasi
• Kedisiplinan petugas klinik
Perilaku keluarga dalam merawat balita
G. Kerangka Konsep
Gambar 2.2. Kerangka Konsep
Faktor yang mempengaruhi kemampuan keluarga dalam merawat Balita dengan pneumonia
H. Hipotesis Penelitian
Hipotesis dalam penelitian ini adalah: ”Ada hubungan antara faktor
tingkat pendidikan ayah, pendidikan ibu, pekerjaan ayah, pekerjaan ibu, penghasilan keluarga, pengetahuan, sikap, sikap dan dukungan petugas kesehatan, terhadap kemampuan keluarga dalam merawat balita dengan
pneumonia di Wilayah Kerja Puskesmas Banjarmangu I Kabupaten Banjarnegara”.
Variabel Independent • Tingkat Pendidikan • Pengetahuan • Pekerjaan • Sikap
• Sikap dan Dukungan Petugas Kesehatan.
• Status sosial ekonomi
Variabel Dependent Kemampuan keluarga dalam merawat balita