PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PBL
PADA MATAKULIAH GEOGRAFI EKONOMI
UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MAHASISWA KELAS A UNIVERSITAS KANJURUHAN
MALANG
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PBL
PADA MATAKULIAH GEOGRAFI EKONOMI
UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MAHASISWA KELAS A UNIVERSITAS KANJURUHAN
MALANG
Kondisi Riil di
Kelas
Kondisi Riil di
Kelas
(1)Pertanyaan yang diajukan mahasiswa pada saat
pembelajaran masih pada tingkat kognitif rendah/aspek ingatan dan pemahaman sebanyak 71% dari 38
mahasiswa, contohnya ”apakah yang dimaksud dengan mintakat pantai?”, ”Sebutkan syarat berkembangnya bentuk lahan!” .
(2)Jawaban yang dikemukakan mahasiswa pada saat
pembelajaran sering tidak relevan dengan substansinya sebanyak 65%.
(3) Pekerjaan mahasiswa pada lembar jawaban ujian tengah semester dan ujian akhir semester diketahui bahwa
mahasiswa mengalami kesulitan dalam merumuskan masalah, menyusun hipotesis serta menarik kesimpulan. (1)Pertanyaan yang diajukan mahasiswa pada saat
pembelajaran masih pada tingkat kognitif rendah/aspek ingatan dan pemahaman sebanyak 71% dari 38
mahasiswa, contohnya ”apakah yang dimaksud dengan mintakat pantai?”, ”Sebutkan syarat berkembangnya bentuk lahan!” .
(2)Jawaban yang dikemukakan mahasiswa pada saat
pembelajaran sering tidak relevan dengan substansinya sebanyak 65%.
(3) Pekerjaan mahasiswa pada lembar jawaban ujian tengah semester dan ujian akhir semester diketahui bahwa
Penyebab
Penyebab
Dosen memberikan perkuliahan
dalam bentuk transfer ilmu,
memberikan contoh, dan
latihan-latihan dalam bentuk
kuis maupun tugas.
Dosen memberikan perkuliahan
dalam bentuk transfer ilmu,
memberikan contoh, dan
latihan-latihan dalam bentuk
kuis maupun tugas.
Pembelajaran bukan sebagai
sarana pengembangan
kompetensi mahasiswa
melalui pencarian ilmu secara
mandiri ataupun terbimbing.
Pembelajaran bukan sebagai
sarana pengembangan
kompetensi mahasiswa
Kondisi Ideal
Kondisi Ideal
Pada jenjang pendidikan seperti ini
(S1) seharusnya mahasiswa memiliki
kemampuan berpikir kritis dengan
indikator sebagai berikut.
Pada jenjang pendidikan seperti ini
(S1) seharusnya mahasiswa memiliki
kemampuan berpikir kritis dengan
indikator sebagai berikut.
1) Merumuskan masalah 2) Memberikan argumen 3) Melakukan deduksi 4) Melakukan induksi 5) Melakukan evaluasi 6) Memutuskan dan
melaksanakan (Ennis, 1985)
1) Merumuskan masalah 2) Memberikan argumen 3) Melakukan deduksi 4) Melakukan induksi 5) Melakukan evaluasi 6) Memutuskan dan
Kemampuan Berpikir Kritis
Kemampuan Berpikir Kritis
Kemampuan ini harus dilatih melalui
pemberian stimulus yg menuntut seseorang berpikir kritis
Kemampuan ini harus dilatih melalui
pemberian stimulus yg menuntut seseorang berpikir kritis
Pentingnya mengajarkan dan
mengembangkan kemampuan berpikir kritis harus dipandang sebagai sesuatu yang
urgen dan tidak bisa disepelekan lagi Pentingnya mengajarkan dan
mengembangkan kemampuan berpikir kritis harus dipandang sebagai sesuatu yang
urgen dan tidak bisa disepelekan lagi
Diperkuat oleh hasil penelitian Mahanal dan Zubaidah (2007) tentang manfaat belajar berpikir kritis.
Alasan Pemilihan Model PBL
Alasan Pemilihan Model PBL
Pemberian masalah pada awal
pembelajaran model PBL dapat
merangsang kemampuan berpikir
kritis mahasiswa
Kehebatan Model PBL
Kehebatan Model PBL
Pembelajaran di awali dg pemberian
masalah, shg mahasiswa terangsang untuk
berpikir
Pembelajaran di awali dg pemberian
masalah, shg mahasiswa terangsang untuk
berpikir
PBL memadukan tiga landasan teori
pembelajaran
PBL memadukan tiga landasan teori
pembelajaran
Dibuktikan oleh beberapa hasil penelitian yg relevan
Definisi Operasional
Definisi Operasional
Kemampuan Berpikir
Kritis
Kemampuan Berpikir
Kritis
Model
Pembelajaran PBL
Model
Pembelajaran PBL
merupakan kemampuan mahasiswa yang dinilai dari indikator sebagai
berikut: (1) Merumuskan masalah, (2) Memberikan argumen, (3) Melakukan deduksi, (4) Melakukan induksi, (5) Melakukan evaluasi, dan (6)
Memutuskan dan melaksanakan.
merupakan model pembelajaran dengan sintaks sebagai berikut: (1) Mahasiswa diarahkan pada masalah aktual, (2) Mengorganisasi
mahasiswa untuk belajar (meneliti), (3) Membimbing penyelidikan
individu (mandiri) maupun kelompok, (4) Mengembangkan dan
Metode Penelitian
Instrumen
Penelitian
Instrumen
Penelitian
Tes
Esai
Tes
Esai
Lembar
Observa
si
Lembar
Observa
si
Catatan
Temuan
Lapanga
n
Catatan
Temuan
Lapanga
n
1. Lembar observasi
keterlaksanaan model PBL
2. Lembar observasi keaktifan bertanya 1. Lembar observasi
keterlaksanaan model PBL
Analisis Data
Analisis Data
1.
Mentranskrip data yang sudah terkumpul.
2.
Menelaah seluruh data, yaitu dari hasil
tes, lembar observasi, dan catatan
lapangan.
3.
Mengadakan reduksi data: membuat
rangkuman inti, proses, dan temuan
lapangan yang perlu dijaga keasliannya.
4. Menyajikan data.
5. Menarik kesimpulan.
1.
Mentranskrip data yang sudah terkumpul.
2.
Menelaah seluruh data, yaitu dari hasil
tes, lembar observasi, dan catatan
lapangan.
3.
Mengadakan reduksi data: membuat
rangkuman inti, proses, dan temuan
lapangan yang perlu dijaga keasliannya.
4. Menyajikan data.
Hasil
Penelitian
Hasil
Penelitian
Sangat Kritis Kritis Cukup Kritis Kurang Kritis Tidak Kritis 0
10 20 30 40
Kemampuan Berpikir Kritis
Ju
m
la
h
M
a
h
a
s
is
w
a
Sangat Kritis Kritis Cukup Kritis Kurang Kritis Tidak Kritis 0
10 20 30 40
Kemampuan Berpikir Kritis
Ju
m
la
h
M
ah
as
is
w
a
Temuan
Penelitian
Temuan
Penelitian
1. Kemampuan berpikir kritis pada
siklus I dengan kategori cukup
kritis.
1. Kemampuan berpikir kritis pada
siklus I dengan kategori cukup
kritis.
2. Kemampuan berpikir kritis pada
siklus II mencapai kategori kritis.
2. Kemampuan berpikir kritis pada
Pembahasan
Pembahasan
Siklus I : cukup kritis
1. Mahasiswa belum
terbiasa dengan
penerapan model
PBL
.
2. Mahasiswa belum
terbiasa belajar
dengan cara
memunculkan
masalah, menyelidiki,
dan menemukan
solusinya sendiri.
1. Mahasiswa belum
terbiasa dengan
penerapan model
PBL
.
2. Mahasiswa belum
terbiasa belajar
dengan cara
memunculkan
masalah, menyelidiki,
dan menemukan
solusinya sendiri.
Siklus II : kritis
1. Mahasiswa mulai terbiasa dengan model PBL.
2. Mahasiswa mulai terbiasa belajar belajar dengan cara memunculkan masalah,
menyelidiki, dan
menemukan solusinya sendiri.
3. Pemberian masalah dalam konteks riil memberikan tantangan bagi mahasiswa untuk berpikir dan
menemukan solusinya. 1. Mahasiswa mulai terbiasa
dengan model PBL.
2. Mahasiswa mulai terbiasa belajar belajar dengan cara memunculkan masalah,
menyelidiki, dan
menemukan solusinya sendiri.
3. Pemberian masalah dalam konteks riil memberikan tantangan bagi mahasiswa untuk berpikir dan
Temuan Tambahan
Temuan Tambahan
1) mahasiswa kurang antusias dalam mengikuti diskusi.
2) ada beberapa mahasiswa yang masih jalan-jalan pada saat diskusi dengan berbagai
macam alasan.
3) ada beberapa kelompok yang masih belum terjalin kerjasama yang optimal pada saat diskusi.
4) mahasiswa kurang cermat dalam memahami maksud pertanyaan yang terdapat pada LKM (Lembar Kerja Mahasiswa).
5) tahap presentasi dan tanya jawab didominasi oleh ketua kelompok.
1) mahasiswa kurang antusias dalam mengikuti diskusi.
2) ada beberapa mahasiswa yang masih jalan-jalan pada saat diskusi dengan berbagai
macam alasan.
3) ada beberapa kelompok yang masih belum terjalin kerjasama yang optimal pada saat diskusi.
4) mahasiswa kurang cermat dalam memahami maksud pertanyaan yang terdapat pada LKM (Lembar Kerja Mahasiswa).
5) tahap presentasi dan tanya jawab didominasi oleh ketua kelompok.
1) mahasiswa antusias dalam
mengikuti diskusi.
2) terjalin kerjasama yang optimal
pada saat diskusi.
3) memahami maksud pertanyaan
yang terdapat pada LKM (Lembar
Kerja Mahasiswa).
4) terdapat interaksi yang baik antara
kelompok presentasi dengan
peserta.
1) mahasiswa antusias dalam
mengikuti diskusi.
2) terjalin kerjasama yang optimal
pada saat diskusi.
3) memahami maksud pertanyaan
yang terdapat pada LKM (Lembar
Kerja Mahasiswa).
4) terdapat interaksi yang baik antara
kelompok presentasi dengan
peserta.
Kesimpulan
Kesimpulan
•
Pada siklus I nilai
rata-rata
kemampuan berpikir
kritis adalah 58,1
kategori cukup
kritis, sedangkan
pada siklus II nilai
rata-ratanya adalah
75,3 kategori kritis.
•
Pada siklus I nilai
rata-rata
kemampuan berpikir
kritis adalah 58,1
kategori cukup
kritis, sedangkan
pada siklus II nilai
rata-ratanya adalah
75,3 kategori kritis.
•
Dengan demikian, dapat
disimpulkan bahwa
dengan menerapkan
pembelajaran
model
PBL
dapat meningkatkan
kemampauan berpikir
kritis mahasiswa sebesar
17,2.
•
Dengan demikian, dapat
disimpulkan bahwa
dengan menerapkan
pembelajaran
model
PBL
dapat meningkatkan