TELA’AH ADOPSI DALAM
AL-
QUR’AN
Skripsi:
Disusun untuk Memenuhi Tugas Akhir Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu (S-1) dalam Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir
Oleh:
DEWI RAHMAWATI NIM: E03212006
PRODI ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR
JURUSAN AL-QUR’AN DAN HADIS FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
SURABAYA 2016
TELA’AH ADOPSI DALAM
AL-
QUR’AN
Skripsi Diajukan kepada
Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan
Dalam Menyelesaikan Program Sarjana Strata Satu (S-1) Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir
Oleh:
DEWI RAHMAWATI NIM: E03212006
PRODI ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR
JURUSAN AL-QUR’AN DAN HADIS FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
ABSTRAK
Dewi Rahmawati NIM E03212006, Tela’ah Adopsi Dalam Alquran. Skripsi Jurusan Tafsir dan Hadis, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Masalah yang diteliti dalam penelitian ini adalah: 1) Bagaimana kedudukan anak angkat dalam keluarga menurut Alquran. 2) Bagaimana hak-hak anak angkat dalam Alquran ?
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kedudukan anak angkat dalam keluarga beserta hak-haknya dalam Alquran dari berbagai penafsiran ayat-ayat yang terkait baik secara umumnya maupun secara khususnya.
Dalam menjawab permasalahan tersebut, penelitian ini bersifat
kepustakaan (Library Research) dan menggunakan metode maudhu’i (tematik)
yaitu menggambarkan atau menjelaskan penafsiran-penafsiran berdasarkan tema yang berkaitan dengan tela’ah adopsi dalam Alquran menurut ayat-ayat Alquran. Penelitian ini dilakukan karena hukum Islam dan Alquran melarang adanya adopsi yang menghilangkan segala sesuatu yang berasal dari orang tua kandungnya. Serta adanya faktor-faktor yang mempengaruhi adanya adopsi seperti halnya Allah menghendaki seseorang mempunyai anak laki-laki, dan anak perempuan dan Dia juga menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah pertama Kedudukan anak angkat dalam keluarga dalam Alquran tidak mempunyai hak sama dengan anak kandung, seperti halnya hubungan nasab, hubungan pernikahan, dan kewarisan. Kedua Hak-hak anak angkat itu untuk dididik, dipelihara, hanya bersifat pengasuhan dengan tujuan agar seorang anak tidak sampai terlantar atau menderita dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Anak angkat sampai kapanpun tidak dapat menjadi anak kandung karena hubungan darah tidak bisa dihilangkan begitu saja.
DAFTAR ISI
SAMPUL DALAM………...ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI………....iii
PENGESAHAN SKRIPSI………...iv
PERNYATAAN KEASLIAN………...v
MOTTO………vi PERSEMBAHAN………...vii
PEDOMAN TRANSLITERASI………viii
KATA PENGANTAR………...x
ABSTRAK………...………...xii
DAFTAR ISI………..xiii
BAB I : PENDAHULUAN A.Latar Belakang………..1
B.Identifikasi Masalah……….8
C.Rumusan Masalah………....9
D.Tujuan Penelitian………10
E. Kegunaan Penelitian………...10
F. Penegasan Judul………..11
G.Kajian Pustaka………12
H.Metodologi Penelitian………13 I. Sistematika Pembahasan………17
BAB II : ADOPSI A.Pengertian Adopsi………..18
B.Motif dan Tujuan Dari Adopsi………..22
C.Dasar Hukum Adopsi………..26
1. Pengaruh Adopsi Terhadap Hubungan Nasab………..34
2. Pengaruh Adopsi Terhadap Hubungan Pernikahan…..56
3. Pengaruh Adopsi Terhadap Waris……..………77
B.Hak Anak Angkat Dalam Alquran……….82
1. Wasiat Wajibah………83
2. Pengasuhan dan Pendidikan………88
3. Nafkah Bagi Anak Angkat……….90
4. Kasih Sayang Bagi Anak Angkat.………..92
BAB IV : PENUTUP A.Kesimpulan……….95
B.Saran………96
DAFTAR PUSTAKA
1
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang Masalah
Alquran telah menjelaskan bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan
aktifitas manusia sehari-hari tidak terlepas dari kehendak Allah semata. Begitu
pula Islam adalah agama yang universal, yang diturunkan dimuka bumi ini
sebagai rahmatan lil ‘a>lam yang mengatur segala kehidupan manusia dan sebagai
rahmat bagi seluruh alam. Sistem dan konsep yang dibawa Islam sesungguhnya
memberikan manfaat yang luar biasa kepada umat manusia. Konsepnya tidak
hanya berguna pada masyarakat muslim tetapi dapat dinikmati oleh siapapun.
Sistem Islam ini tidak mengenal batas, ruang dan waktu, tetapi selalu dimana
pun, tanpa menghilangkan faktor–faktor kekhususan masyarakat. Semakin utuh
konsep itu diaplikasikan, semakin besar manfaat yang diraih.1
Setiap manusia dalam kehidupan dunia juga akan dihiasi oleh keinginan
atau kecenderungan terhadap hawa nafsu (syahwat) yang cenderung mengikuti
bisikan setan, sebagaimana dalam firman-Nya disebutkan bahwasanya perhiasan
atau kesenangan manusia di dunia itu sebagai ujian, yang berbunyi:
2
فْلا ب لا رطْ ق ْلا رْي ا قْلا ْي ْلا ءاس لا ا شلا بح سا ل ي
س ْلا لْي ْلا
ْرحْلا اعْ ِْا
ق
ايْ لا يحْلا ات كلا
ص
.
ْلا ْسح ْ ع ه
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup didunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).2
Hal-hal tersebut yang menjadi sumber kesenangan (hiasan) dunia yang
cenderung untuk dimiliki oleh semua manusia. Namun harus diyakini dan
disadari bahwa semua kesenangan dunia itu ada batasnya dan akan ditinggalkan
ketika kontak kehidupan atau maut sudah menghampirinya, dan itu semua tiada
gunanya dan hanya di sisi Allah-lah sebenarnya tempat yang paling baik sebagai
tempat kembali yakni surga.
Itulah kesenangan dunia yang bermacam-macam, dan diantaranya adalah
seorang anak. Karena anak termasuk suatu hiasan dunia yang sangat indah dan
karena hadirnya seorang anak akan meneruskan sebuah keturunan dan cita-cita
baik untuk keluarganya, bangsa maupun Negara. Setiap orang menginginkan hal
tersebut, apalagi dalam sebuah pernikahan pastinya mendambakan adanya
keturunan.
Dalam ha}dis Nabi saw kepada kaum Muslimin saat mereka ingin memiliki
anak-anak, lalu Nabi bersabda yang berbunyi: ‚Nikahilah wanita yang akan
mengasihimu dan memberikan banyak anak, karena aku akan membanggakan
banyaknya umatku‛. Tetapi pada saat yang bersamaan, mereka juga yakin bahwa
3
segala sesuatu tidak akan terjadi kecuali atas kehendak Allah. Dengan merujuk
kepada karunia anak dan ketidak suburan atau kemandulan, Alqur`an menyatakan:
ْ ج يْ أ
ْك
إ ا ار
ا
اث
ص
ا يقع ءاشي ْ لعْجي
رْي ق ْي ع إ
.
. . .. . . Atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki maupun perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui Lagi Maha Kuasa.3
Alqur`an membuat rujukan paling tidak kepada dua orang Nabi, yaitu
Zakaria dan Ibrahim as yang isteri-isterinya tidak dapat mengandung tetapi
akhirnya mengandung ketika mereka telah berusia lanjut, sebagai contoh dari
Alqur`an ketika diberi kabar gembira bahwa mereka akan dikarunia keturunan.
Seperti halnya dalam surat Ali-Imron ayat 40 dan surat Hud ayat 72.
Kaum Muslimin yang tidak memiliki anak biasanya berharap bahwa
mereka seperti Nabi Ibrahim dan Zakaria as suatu hari akan di anugerahkan Allah
dengan keturunan. Karena itu harapan mereka yang pertama kali adalah
memohon kepada Allah agar menyembuhkan mereka dari kemandulan. Tetapi
harus dicatat bahwa walaupun memohon kepada Allah merupakan harapan
mereka yang pertama ada cara-cara lain yang dilakukan kaum muslim di berbagai
belahan bumi untuk mengatasi persoalan ini, diantaranya mengadopsi anak.
Dengan demikian, Alqur`an telah menjelaskan bahwa ada orang-orang yang tidak
4
bisa mengandung, meskipun demikian keadaan ini bisa berubah jika Allah
menghendaki.
Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga
mencakup seluruh aspek kehidupan baik politik, hukum, sosial dan budaya, serta
masalah adopsi. Adopsi ini lebih kenal dengan mengangkat seorang anak dari
orang tua lain disebabkan tidak bisa hamil (mandul), impotensi, dan alasan lain
sebagainya. Persoalan ini bisa dikatakan tidak baru, dalam catatan sejarah
persoalan ini telah dialami oleh berbagai bangsa dan orang telah mencoba untuk
mengatasinya dengan bermacam-macam cara.4
Islam juga agama yang sempurna syarat dengan ajaran kepedulian
terhadap sosial. Islam tidak membenarkan umatnya hidup rakus, egois dan tidak
peduli terhadap lingkungannya. Kalau diperhatikan secara cermat bahwa
mengangkat anak dalam Islam adalah pekerjaan yang sangat mulia. Sebab
didalamnya terdapat unsur tolong-menolong yang dapat mendekatkan diri
pelakunya kepada Allah SWT. Sudah seharusnya orang Islam yang kaya atau
orang yang belum dianugerahi anak atau siapa saja yang mampu untuk
mengambil bagian dalam pekerjaan mengangkat anak ini. Praktek adopsi yang
dilakukan di masyarakat Indonesia umumnya bertujuan untuk meneruskan
keturunan bila dalam perkawinan tidak memperoleh keturunan.
Dengan cara mengangkat anak orang lain (adopsi) apa yang mereka
lakukan adalah merupakan perbuatan sosial, bahkan dalam ajaran Islam
5
dianjurkan untuk memelihara atau melindungi anak yatim, miskin, terlantar dan
lain-lain. Tetapi tidak diperbolehkan memutuskan hubungan hak-haknya dengan
orang tua biologis (kandung). Pemeliharaan itu harus disandarkan atas
penyantunan semata-mata. Sesuai dengan firman Allah yaitu:
…
ا ْ عْلا ْث ْْا ع ا اعت ا ْقتلا ر ْلا ع ا اعت
ي ش ه إ ه ا قتا
اقعْلا
.
… Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.5
Pada zaman jahiliyah masyarakatnya telah mengenal luas adopsi, dan
telah menjadi kebiasaan. Tradisi ini pun telah dibenarkan di awal kedatangan
Islam6. Anak-anak yang diadopsi diperlakukan persis sama dengan anak kandung.
Nabi Muhammad saw sendiri sebelum menerima kerasulannya mempunyai anak
angkat yang bernama Zaid bin Haritsah, dia adalah seorang budak yang di
berikan oleh Kha>dijah binti Khuwailid (isteri Nabi). Kemudian Nabi
memerdekakannya dengan merubah status menjadi Zaid bin Muhammad. Lalu
Zaid menikah dengan Zainab binti Jahsy (sepupuh Nabi), tidak lama kemudian
Zaid menceraikannya lalu Nabi menikahinya. Sesuai dengan surat al-Ahza>b ayat
37 Allah memperbolehkan seseorang untuk menikahi bekas isteri anak
angkatnya. Dengan kejadian tersebut maka tradisi di zaman jahiliyah ini telah
dinasakh dengan turunnya Alquran surat al-Ahza>b ayat 4-5 yaitu:
5Alquran dan Terjemahnya 5:2.
6
> هف ْ ج ىف نْيبْ ق ْنم لجرل ه لعجام
ج
ْ ْ ر ظت ئلا كجا ْ أ لعجا
ْ كت أ
ْ كءا ْبأ ْ كءايعْ أ لعجا
ْ ك ا ْفأب ْ كلْ ق ْ كل
صْ ي
قحْلا ْ قي ه
.لْي سلا
Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya; dan dia tidak menjadikan isteri-isterimu yang kamu zhi>har itu sebagai ibumu, dan dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu dimulutmu saja. dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan dia menunjukkan jalan (yang benar).7
ا
ه دْنع طسْق ه ْ ئ بِ ْ ه ْ عْد
جنْيِدلا ىف ْ كنا ْخإف ْ كء باء آ م ْعت ْ ل ْنإف
ْ كْيلا م
جهب ْ تْ ط ْخ مْيف حانج ْ كْي ع سْيل
>ْ كب ْ ق ْتدَمعت اَم ْنكل
جْ فغ ه ناك
ار
امْيحَر
Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka. Maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. 8
Penafsiran terhadap ayat tentang adopsi, para mufassir mengartikan
zaman jahiliyah tidak benar yang mengadopsi dari orang lain tetapi nasab dari
orang tua kandungnya dihilangkan. Padahal dalam pandangan agama Islam dan
Alquran sudah jelas akan tidak memperbolehkannya menghilangkan nasab orang
tua kandung, tidak berkedudukan sebagai pewaris orang tua angkatnya tetapi
tetap sebagai pewaris orang tua kandung, tidak dapat pula bertindak sebagai wali
dalam pernikahan terhadap anak angkatnya, bahkan hukumnya haram.
7
Dalam aturan di Indonesia tidak ada yang menghilangkan nasab dari
orang tua kandungnya, karena sudah jelas-jelas dalam hukum Islam dan Alquran
tidaklah boleh menghilangkan nasab dari orang tua kandungnya. Berangkat pula
dari penafsiran para mufassir, maka skripsi ini berusaha menjelaskan tela’ah
adopsi dalam Alquran.
Maka dari itu penulis memaparkan ayat-ayat tentang adopsi yang
terdapat dalam surat al-Ahza>b ayat 4, 5, 37, dan ayat 40. Diantara surat-surat ini
yaitu:
ل ْ كلاجَر ْنِم دح ب دَمحم ناكام
نِيبَنلا تاخ ه ل ْ سَرلا ْنك
ى ق
َلكب ه ناك
.امْي ع ء ْيش
Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui Segala Sesuatu. 9
Penafsiran dari ayat diatas adalah: Beliau (Nabi) dilarang dengan
turunnya ayat ini saat menyebut Zaid bin Muhammad, yaitu dia bukanlah bapak
kandungnya sekalipun Nabi mengangkat sebagai anak kandungnya. Ada larangan
mengadopsi dengan nama orang tua angkatnya. Lalu kalimat selanjutnya, Dan
tidak ada Nabi setelah beliau. Penafsiran ayat diatas menurut salah satu mufassir
dinyatakan bahwasanya adopsi diperbolehkan dengan catatan tidak
menghilangkan nasab orang tua kandungnya.
8
Penulis membatasi ayat-ayat tentang adopsi ini dengan harapan bisa
dijelaskan secara detail, luas, dan sampel yang detail sebagai pendapatnya dari
berbagai mufassir agar tidak melebar kemana-mana. Ayat ini konteksnya
menentang adopsi dan ingin menghilangkan tradsi barat yang didukung oleh
aturan main atau undang-undangnya Negara tersebut.
Dengan jalan adopsi diharapkan anak-anak yang terlantar mendapatkan
pemenuhan hak seperti yang terdapat dalam Pasal 52 ayat (1) Undang-Undang
Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia, yang menyebutkan bahwa
setiap anak berhak atas perlindungan oleh orang tua, keluarga, masyarakat dan
negara.
B.Identifikasi dan Batasan Masalah
Dari uraian latar belakang diatas, dapat dipahami bahwa Alquran secara
umum telah menjelaskan pada umatnya agar menganjurkan untuk saling
tolong-menolong terhadap anak-anak yang terlantar, memelihara, dan melindungi
mereka. Alquran pula menjelaskan agar tidak memutuskan hubungan anak angkat
terhadap nasab dan hak-hak mereka pada orang tua kandungnya, tetap
berlakunya wali bagi orang tua kandung, dan tetap berlakunya mahram antara
anak angkat dengan orang tua angkatnya, sehingga bilamana orang tua angkat
9
Sedangkan pada zaman jahiliyah pengangkatan anak (adopsi) sudah
menjadi tradisi dan kebiasaan mereka. Bahwasanya anak-anak yang diadopsi
diperlakukan seperti anak kandungnya sendiri seperti halnya nasab dari orang tua
kandungnya dihilangkan dan diganti oleh orang tua angkatnya. Begitu pula
kedudukan anak angkat tersebut sebagai pewaris dari orang tua angkat,
menggunakan nama orang tua angkatnya secara langsung, dan orang tua angkat
bertindak sebagai wali dalam pernikahan terhadap anak tersebut.
Jadi berangkat dari inilah penulis akan fokus dalam hal penelitian tela’ah
adopsi dalam Alquran yang nantinya juga akan dimunculkan berbagai pendapat
dari para mufassir tentang masalah ini. Sehingga jelas pula apa yang
melatarbelakangi adopsi dalam Alquran dalam kajian tafsir tematik ini.
Untuk memperjelas pokok masalah yang akan dibahas pula dalam
penelitian, maka akan dibatasi yaitu:
1. Ayat-ayat yang berkaitan dengan adopsi dan penafsirannya.
2. Motivasi dalam adopsi itu sendiri.
3. Etika dalam adopsi.
4. Tata cara yang baik dalam mengadopsi menurut pandangan Alquran.
C.Rumusan Masalah
Dari identifikasi diatas akan menimbulkan berbagai penelitian yang dapat
10
keterbatasan dana dan waktu, akan di teliti dan dikaji beberapa masalah sebagai
berikut:
1. Bagaimana kedudukan anak angkat dalam keluarga menurut Alquran ?
2. Bagaimana hak-hak anak angkat dalam pandangan Alquran ?
D.Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian dan pembahasan rumusan masalah diatas dalam
rangka:
1. Untuk mendeskripsikan kedudukan anak angkat dalam keluarga menurut Alquran.
2. Untuk mengetahui hak-hak anak angkat itu apa saja dalam pandangan Alquran.
E. Kegunaan Penelitian
Beberapa hasil yang didapatkan dari studi yang diharapkan akan
bermanfaat sekurang-kurangnya untuk beberapa hal yaitu sebagai berikut:
1. Menambah khazanah keilmuan bagi semua golongan, khususnya dalam
bidang memahami penafsiran berbagai dari para mufassir.
2. Dapat dijadikan bahan pertimbangan atau dasar dalam memahami adopsi
yang ada didalam Alquran yang telah ditafsirkan dalam sebuah penafsiran
11
3. Penelitian ini mempunyai manfaat dan kegunaan dari segi umum, dan
merupakan kegiatan dalam rangka mengembangkan pengetahuan tentang
adopsi dizaman sekarang dan berkaca pada zaman jahiliyah dulu.
Khususnya pada bidang wacana tafsir melalui pendekatan metode
tematik. Sedangkan dalam segi khususnya, hasil penelitian ini dijadikan
sebagai landasan hukum dan pedoman untuk memahami tela’ah adopsi
dalam Alquran menurut pandangan berbagai mufassir.
4. Dapat dijadikan pertimbangan bagi peneliti dan penyusunan karya ilmiah
selanjutnya yang ada hubungannya dengan tema ini khususnya dalam
bidang adopsi.
F. Penegasan Judul
Untuk memperjelas penulisan dalam penelitian ini, serta untuk
menghindari adanya kesalahpahaman, maka akan dijelaskan secara singkat
mengenai maksud dari kata yang terdapat dalam judul penelitian ini, yaitu
sebagaimana berikut:
Adopsi : Pengangkatan anak dari orang lain sebagai anaknya sendiri.
Atau tindakan mengadopsi (mengangkat anak) itu untuk
mengambil ke dalam keluarga seseorang (anak dari orang
lain) yangmana hal ini dapat menimbulkan tindakan
12
Demikianlah penegasan judul diatas, dapat dipahami bahwa yang
dimaksud dengan judul penelitian ini yaitu untuk memberikan pemahaman
terhadap istilah yang digunakan Alquran prinsip dasar pada dirinya sendiri dan
orang lain, serta untuk saling tolong-menolong sesamanya. Dan sepengetahuan
dari penulis masih belum ada karya yang sama dengan judul skripsi ini.
G.Kajian Pustaka
Sudah cukup banyak ayat Alquran yang menerangkan, begitu pula para
mufassir yang memberikan komentarnya, baik dalam bentuk skripsi, tesis, jurnal,
maupun buku mengenai adopsi. Yang mempelajarinya dari sebagian disiplin
ilmu, kemudian ditarik batasan yang sesuai dengan spesialisasinya, tidak ada
yang membahas tentang topik pembahasan ini. Oleh karena itu penelitian yang
berjudul ‚Tela’ah Adopsi Dalam Alquran‛, merupakan karya ilmiah yang baru
dalam penafsiran Alquran dan sepengetahuan penulis belum ada yang membahas
secara spesifiksinya.
13
H.Metode Penelitian
1. Model Penelitian
Penelitian ini menggunakan metodologi penelitian kualitatif, sebuah
metode penelitian atau inkuiri naturalistik atau alamiah, perspektif ke dalam dan
interpretatif.10
Inkuiri naturalistik yaitu sebuah pertanyaan yang muncul dari diri
seseorang terkait persoalan tentang permasalahan yang diteliti. Perspektif ke
dalam adalah sebuah kaidah dalam menemukan kesimpulan khusus yang
semulanya didapatkan dari pembahasan umum. Sedang interpretatif adalah
penafsiran yang dilakukan oleh penulis dalam mengartikan maksud dari suatu
kalimat, ayat, atau pertanyaan.
2. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research)
Dengan cara mengumpulkan data dan informasi tertulis dari beberapa literatur
yang terkait baik berupa buku, artikel, penelitian, dan sebagainya. Sedangkan
metode yang digunakan dalam mengkaji topik ini adalah metode tafsir mawd}u’ i>
yang membahas ayat-ayat Alquran sesuai dengan judul atau tema yang telah
ditetapkan.11
10Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitain Kualitatif (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012), 2. 11
Nashruddin Baidan, Metodologi Penafsiran al-Qur’an, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012),
14
3. Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini
adalah dengan menggunakan metode dokumentasi. Mencari data mengenai
hal-hal atau variabel berupa catatan, buku, kitab, dan lain sebagainya. Melalui
metode dokumentasi, diperoleh data yang berkaitan dengan penelitian
berdasarkan konsep-konsep kerangka penulisan yang telah dipersiapkan
sebelumnya. Kemudian, data tersebut ditelaah sesuai dengan fokus pembahasan
yang sedang diteliti berdasarkan metode mawd}u‘i> (tema) yang mana prosedur
yang harus dilalui dalam menafsirkan ayat-ayat Alquran yaitu:
1) Menetapkan masalah yang akan dibahas.
2) Menghimpun ayat-ayat yang berkaitan dengan masalah tersebut.
3) Menyusun runtutan ayat sesuai dengan masa turunnya disertai
pengetahuan mengenai asba>b al-nuzulnya.
4) Memahami kondisi ayat-ayat tersebut dalam suratnya masing-masing.
5) Menyusun pembahasan dalam kerangka yang sempurna.
6) Melengkapi pembahasan dengan ha}dis-ha}dis yang relevan dengan pokok
bahasan.
7) Mempelajari ayat-ayat tersebut secara keseluruan dengan jalan
menghimpun ayat-ayatnya yang memiliki pengertian yang sama atau
15
muthlaq dan muqayyad atau yang pada lahirnya bertentangan sehingga
semuanya bertemu dalam satu muara tanpa pemaksaan.12
4. Teknik Analisis Data
Dalam penelitian ini, teknik analis data memakai pendekatan metode
deskriptif-analitis. yakni dengan cara mengumpulkan ayat-ayat yang berkaitan
dengan tela’ah adopsi dalam Alquran.
Penelitian yang bersifat tematik memaparkan data-data yang diperoleh
dari kepustakaan.13 Dengan metode ini akan dideskripsikan mengenai perihal
masalah tersebut. Selanjutnya setelah pendeskripsian tersebut, dianalisa dengan
melibatkan penafsiran beberapa mufassir.
5. Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penulisan karya tulis ilmiah ini yaitu
sumber data primer (sumber data pokok) dan sumber data sekunder (sumber data
pendukung).
a. Sumber data primer
Data primer merupakan data yang menjadi rujukan utama dalam
penelitian. Adapun data primer dalam penelitian ini antara lain:
1. Tafsir al-Azhar karya Hamka
2. Tafsir Fi< Dhilal Alquran karya Sayyid Qutub
12Shalah Abdu al Fattah al-Kholidy, al Tafsir al-Maudhu’i>, (Beirut: Dar al Fikr, 1997), 51. 13Ibnu Hajar, Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kuantitatif dalam Pendidikan, (Jakarta: PT. Raja
16
3. Tafsir al-Misbah karya M. Quraish Shihab
4. Tafsir al-Qur’an al-Adzi>m karya Ibnu Katsir
5. Tafsir al-Mara>ghi> karya Ahmad Musthafa al-Mara>ghi>
b. Sumber data sekunder
Sumber data sekunder yang menjadi referensi pelengkap terhadap data
primer di atas antara lain:
1. Dalam An-Nahdhah Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan
Volume 3, nomor 5 juni 2010 karya Muhsin Aseri, 13 hal. Buku ini
membahas tentang Anak angkat secara umum.
2. Buku ADOPSI Suatu Tinjauan Dari Segi Tiga Sistem Hukum karya
Muderis Zaini, Jakarta: Sinar Grafika 1985, 157 hal. Buku ini
membahas tentang pengangkatan anak (adopsi) dalam hukum
Belanda, Barat, Adat, Alquran.
3. Buku Hukum Pengangkatan Anak karya Rusli Pandika, Jakarta: Sinar
Grafika 2012, 275 hal. Buku ini membahas semua hukum tentang
pengangkatan anak (adopsi) baik di Indonesia maupun diluar negeri.
4. Buku Hukum Pengangkatan Anak Prespektif Islam karya Andi
Syamsu Alam dan M. Fauzan, Jakarta: Kencana Prenada Media Group
2008, 314 hal. Buku ini membahas tentang hukum-hukum
pengangkatan anak menurut Islam yang ada di Indonesia ini.
5. Buku Pengangkatan Anak Kewenangan Pengadilan Agama karya
17
tentang Pengangkatan Anak dalam wewenang pengadilan agama di
Indonesia.
I. Sistematika Pembahasan
Untuk lebih memudahkan pembahasan dalam skripsi ini, maka penulis
menyusun atas empat bab, sehingga dengan sistematika yang jelas hasil
penelitian ini yang berjudul Tela’ah Adopsi Dalam Alquran ini lebih baik dan
lebih terarah seperti yang diharapkan peneliti. Adapun sistematika karya ini
sebagai berikut:
BAB I : Pendahuluan yang meliputi: Latar Belakang, Identifikasi dan Batasan
Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Kegunaan Penelitian, Penegasan
Judul, Kajian Pustaka, Metodologi Penelitian, Dan dilanjutkan dengan
Sistematika Pembahasan.
BAB II : berisikan tentang Adopsi yang meliputi: Pengertian dari Adopsi, Motif
dan Tujuan Adopsi, Dasar Hukum Adopsi.
BAB III : berisikan tentang Tela’ah Adopsi Dalam Alquran yang meliputi:
Pengaruh Adopsi terhadap Hubungan Nasab, Hubungan Pernikahan, dan Waris.
Hak Anak Angkat Dalam Alquran.
BAB II
ADOPSI
A. Pengertian Adopsi
Istilah adopsi sudah berkembang di Indonesia, yang berasal dari bahasa
Inggris ‚adoption‛ mengangkat seorang anak1, yang mempunyai makna
‚mengangkat anak dari orang lain untuk dijadikan sebagai anak sendiri dan
mempunyai hak yang sama dengan anak kandung‛2. Dan secara etimologi adopsi
berasal dari bahasa Belanda yaitu ‚adoptie‛, atau ‚adopt‛ (adoption). Pada saat
Islam disampaikan oleh Nabi Muhammad saw bahwasanya adopsi telah menjadi
tradisi di kalangan mayoritas masyarakat Arab yang dikenal dengan istilah
tabanni ‚
تلا
‛ yang artinya ‚mengambil anak angkat‛3Sedangkan secara etimologis kata tabanni ‚
ا با تا
‛ adalah ‚mengambilanak‛4. Dan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia istilah ‚adopsi‛ ini disebut
juga dengan pengangkatan anak yakni pengambilan (pengangkatan) anak orang
lain secara sah menjadi anak sendiri.5 Istilah ‚Tabanni‛ yang mempunyai arti
seseorang mengangkat anak orang lain sebagai anaknya, dan diperlakukan semua
1Jonathan Crowther.(Ed.). Oxford Advanced Leaner’s Dictionary, (Oxford University: 1996),
hlm. 16.
2Simorangkir, JCT. Kamus Hukum, (Jakarta: Aksara Baru, 1987), hlm. 4.
3Ibrahim Anis, dan Abd. Halim Muntashir (et al.). Al-Mu’jam Al-Wasith. (Mesir: Majma’
al-Lughah al-Arabiyah, 1392 H/1972 M), Cet. II, Jilid I. hlm. 72.
4Ibid.
19
ketentuan hukum yang berlaku terhadap anak kandung pada orang tua angkat, 6
pengertian tersebut memiliki arti yang identik dengan istilah adopsi.
Adapun secara terminologis tabanni menurut pendapat Wahbah al-Zuhaili
yaitu ‚pengambilan anak yang dilakukan oleh seseorang terhadap anak yang jelas
nasabnya, kemudian anak tersebut dinasabkan pada dirinya‛7. Dalam kata lain
baik yang melakukan hal menasabkan anak tersebut pada dirinya itu laki-laki
maupun perempuan padahal anak tersebut telah mempunyai nasab yang jelas
pada orang tuanya. Adopsi sebagaimana pengertian ini jelas bertentangan dengan
hukum Islam, maka hal tersebut harus dibatalkan.
Adopsi atau tabanni adalah suatu pengangkatan anak orang lain sebagai
anaknya sendiri.8 Anak yang diadopsi disebut ‚anak angkat‛, peristiwa
hukumnya disebut ‚pengangkatan anak‛ dan istilah terakhir inilah yang
kemudian dalam pembahasan selanjutnya akan digunakan untuk mewakili istilah
adopsi. Adopsi dapat dijumpai dalam lapangan hukum keperdataan, khususnya
dalam lapangan hukum keluarga.
Anak angkat dalam bahasa Arab berasal dari kata9.
ق ي ف
لا ل لا يقلا
6Muhammad Ali Al-Sayis, Tafsir Ayat al-Ahkam, (Mesir: Mathba’ah Muhammad Ali Shabih wa
Auladih, 1372 H/1953 M. Jilid IV, hlm. 7.
7Wahbah al-Zuhaili, al-Fiqih al-Islami wa al-Adillatuhu, Juz 9, (Beirut: Dar Mughniyah,
al-Ahwal al-Syahsiyah ‘ala al-Madzahib al-Khamsah, (Beirut: Dar al-Ilmi Li al-Malayain, 1964), hlm. 86.
8Ibid.
9Ahmad Warson Munawwir, al Munawwir Kamus Arab Indonesia, (Yogyakarta: PP al
20
yang berarti anak angkat. Adapun Fuad Mohd. Fakhrudin menjelaskan bahwa
yang dimaksud anak angkat yaitu anak yang didapatkan dimanapun jua dan
dipelihara untuk menjauhkan dari kesengsaraan dan kehancuran pribadinya. 10
Adopsi di Indonesia pada umumnya dilakukan dengan upacara
keagamaan, diumumkan dan disaksikan pejabat dan tokoh agama, agar jelas
statusnya. Setelah selesai dari upacara, si anak menjadi anggota penuh dari
kerabat yang mengangkatnya dan terputus pula hak warisnya dari keluarga yang
lama.11
Pengertian dari adopsi menurut istilah dapat dikemukakan oleh para ahli,
antara lain:
1. Muderis Zaini, S.H., mengemukakan pendapat Hilman Hadi Kusuma,
S.H. dengan menyatakan: ‚Anak angkat adalah anak orang lain yang
dianggap anak sendiri oleh orang tua angkat dengan resmi menurut
hukum adat setempat dikarenakan tujuan untuk kelangsungan keturunan
dan pemeliharaan atas harta kekayaan rumah tangga‛.12
2. Surojo Wingjodipura, S.H. mengatakan pendapatnya yaitu: Adopsi
(mengangkat anak) yaitu suatu perbuatan pengambilan anak orang lain
kedalam keluarga sendiri sedemikian rupa sehingga antara orang yang
memungut anak dan anak yang dipunggut itu timbul suatu hukum
10Fuad Mohd. Fakhrudin, Masalah Anak Dalam Hukum Islam, Anak Kandung, Anak Tiri, Anak
Angkat, dan Anak Zina, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1976), hlm. 182.
11B. Teer Haar Ban, Beginselen en stelsel van het Adat Rech, Terjemah K. Ng Salbakti
Poespanoto, (Jakarta: Pradnya Paramita, 1976), hlm. 182.
21
kekeluargaan yang sama, seperti yang ada diantara orang tua dengan anak
kandungnya.13
Dua pakar diatas yang pendapatnya telah dikemukakan oleh Muderis
Zaini, S.H., mengatakan bahwasanya hukum adat membolehkan adopsi, yang
status anak tersebut disamakan dengan anak kandung sendiri. Begitu juga status
orang tua angkat, sama halnya dengan status orang tua kandung pada anak
angkat tersebut. Antara orang tua angkat dan anak angkat itu mempunyai hak
serta kewajiban yang persis antara anak kandung dan orang tua kandungnya.
3. Prof. DR. Asy-Syekh Mahmud Syaltut, mengemukakan dua definisi
yaitu:
أ ي تلا
ي ْ
اع اعيف سْف لإ رْيغ ْبا أ فرْعي لا لْفطلا لجرلا
ْ , ك ْأشب يا عْلا يبْرتلا ج ْ , ْي ع افْ ْإ فْطعْلا ج ْ ءا ْبأْا
ْ أ
قحْ ي
اف , س ب
ت ْ ي ا ,ايع ْرش ا ْبا ْ كي
لا اكْحأ ْ ئش ل
.
Artinya: Adopsi adalah seseorang yang mengangkat anak yang diketahui bahwa anak itu termasuk anak orang lain. Kemudian ia memperlakukan anak tersebut sama dengan anak kandungnya, baik dari segi kasih sayang maupun nafkahnya (biaya hidupnya) tanpa memandang perbedaan. Meskipun begitu agama tidak menganggap sebagai anak kandungnya, karena itu tidak dapat disamakan statusnya dengan anak kandung.14
Definisi tersebut menggambarkan bahwasanya anak angkat itu sekedar
mendapatkan pemeliharaan nafkah, kasih sayang, dan pendidikan tidak dapat
disamakan dengan status anak kandung. Baik dari segi perwarisan maupun dari
13Ibid.
22
segi perwalian. Hal ini dapat disamakan dengan anak asuh menurut istilah
sekarang. Selanjutnya pendapat kedua yang mengatakan:
, ل ل سْيل رْيغ ل أ فرْعي ,اْف سْف لإ صْ شلا بسْ ي ْ أ ي تلا
.حْيحصلا ْب ْْا ْس سْف لإ سْ ي
Artinya: Adopsi yaitu seseorang yang tidak memiliki anak, kemudian menjadikan seorang anak sebagai anak angkatnya, padahal ia mengetahui bahwa anak itu bukanlah anak kandungnya, tetapi ia menjadikannya sebagai anak yang sah.15
Pengertian tersebut menggambarkan bahwasanya adopsi itu sama dengan
adopsi di zaman jahiliyah, dimana anak angkat itu statusnya sama dengan anak
kandung, ia dapat mewarisi harta benda orang tua angkatnya dan dapat meminta
perwalian kepada orang tua angkatnya bila ia akan menikah. Adopsi kedua ini
jelas-jelas dilarang oleh Islam dan bertentangan pula dengan Hukum Islam
berdasarkan firman Allah surat al-Ahza>b ayat 4, dan ayat 5.
B. Motif dan Tujuan Dari Adopsi
Manusia sebagai makhluk sosial dalam kehidupan berkeluarga yang
merupakan kelompok masyarakat terkecil, merasa belum lengkap dan bahagia
apabila tidak terdiri dari Ayah, Ibu dan anak sehingga dapat dikatakan bahwa
dengan adanya anak merupakan penerus dari cita-cita perjuangan dari
keluarganya.
23
Akan tetapi tidak selalu dari tiga unsur tersebut dapat dipenuhi, sehingga
kadang-kadang terdapat suatu keluarga yang tidak mempunyai anak atau Ibu
bahkan lebih dari itu. Dengan demikian dapat dilihat eksistensi dari keluarga
sebagai kelompok masyarakat menyebabkan tidak kurangnya dari mereka untuk
menginginkan anak, sehingga terjadilah perpindahan anak dari suatu kelompok
keluarga yang satu pindah ke dalam kelompok keluarga yang lain.
Diantara sebab dan dorongan dari adopsi yaitu:
1. Karena pasangan suami istri tidak mempunyai anak.
2. Adanya rasa belas kasihan terhadap anak yang tidak mempunyai orang
tua (yatim piatu) atau disebabkan oleh keadaan orang tua yang tidak
mampu untuk memberikan nafkah anak sehingga anak tersebut terlantar.
3. Untuk suatu jaminan di hari tua.
4. Untuk mempererat hubungan kekeluargaan.
5. Telah mempunyai anak kandung sendiri dari pasangan tersebut, tetapi
semua laki-laki atau sebaliknya semua perempuan.
6. Karena unsur kepercayaan tertentu (mempunyai weton yang sama dengan
orang tuanya).16
7. Adanya kepercayaan bahwa dengan adanya anak dirumah maka akan
dapat mempunyai anak sendiri (pancingan).17
Dengan motivasi adopsi yang dilakukan orang di Indonesia, sehingg jelas
adanya lembaga adopsi merupakan pemenuhan kebutuhan masyarakat.
24
Dalam perkawinan mempunyai tujuan yang utama yaitu untuk hidup
bersama dalam suasana penuh kasih sayang, rukun serta sejahtera sampai akhir
hayat. Namun dalam suatu perkawinan tidak terlepas begitu saja dari
kemungkinan lahirnya seorang anak sebagai hasil dari perkawinan tersebut. Oleh
karena hidup bersama dalam suatu perkawinan rasanya belum dapat dikatakan
lengkap apabila suami istri belum dikaruniai seorang anak.
Keturunan sangatlah perlu guna mempertahankan lingkungan keluarga,
misalnya dalam lingkungan tersebut tidak mendapatkan keturunan (anak) sama
sekali, maka kelak dikemudian hari habislah riwayat keluarga itu. Maka dari itu
adopsi merupakan suatu kebiasaan yang tampak diseluruh Indonesia.
Adapun tujuan dan alasan dari adopsi bermacam-macam, tetapi yang
terpenting adalah:
1. Rasa belas kasihan terhadap anak terlantar atau anak yang orang tuanya
tidak mampu memeliharanya.
2. Tidak mempunyai anak, dan ingin mempunyai anak untuk menjaga dan
memeliharanya kelak kemudian dihari tua.
3. Untuk mendapatkan teman bagi anaknya yang sudah ada.
4. Untuk menambah atau mendapatkan tenaga kerja.
5. Untuk mempertahankan ikatan perkawinan atau kebahagiaan keluarga. 18
Dalam kompilasi Hukum Islam dijelaskan:
25
Anak angkat yaitu anak yang dalam pemeliharaan hidupnya sehari-hari, biaya pendidikan dan sebagianya beralih tanggung jawab dari orang tua kandung kepada orang tua angkatnya berdasarkan putusan pengadilan.19
Pada mulanya adopsi dilakukan semata-mata untuk melanjutkan dan
mempertahankan garis keturunan atau marga dalam suatu keluarga yang tidak
mempunyai anak kandung. Tetapi dalam perkembangannya, dengan sejalannya
perkembangan masyarakat, tujuan adopsi telah berubah untuk kesejahteraan
anak. Hal ini tercantum pula dalam pasal 12 ayat 1 Undang-undang Republik
Indonesia No.4/1979, tentang kesejahteraan anak yang berbunyi:
‚Pengangkatan anak menurut adat dan kebiasaan dilaksanakan dengan mengutamakan kepentingan kesejahteraan anak.‛
Dalam situasi ini, anak yang hendak diangkat atau diambil dari
lingkungan keluarga yang dekat jika tidak ada, baru dari lingkungan keluarga
yang jauh dan kalaupun tidak ada barulah mengangkat anak orang lain.
Tujuan pengangkatan anak antara lain untuk meneruskan keturunan
manakala dalam suatu perkawinan tidak memperoleh keturunan. Hal ini
termasuk motivasi yang dapat dibenarkan, dan merupakan salah satu jalan keluar
yang positif dan manusiawi terhadap naluri kehadiran seorang anak dalam
keluarga.
Selain itu juga dapat menambah jumlah keluarga, dengan maksud agar
anak angkat mendapat pendidikan yang baik, layak atau untuk mempererat
hubungan keluarga. Dalam arti yang lain merupakan suatu kewajiban bagi yang
26
mampu terhadap anak yang tidak mempunyai orang tua, sebagai misi dalam
Islam, dimana syariat Islam memberikan hak kepada orang-orang kaya untuk
mewariskan sebagian harta peninggalan kepada anak-anak angkatnya untuk
menutupi kebutuhan hidupnya di masa depan.
Syariat Islam menuntut masyarakat bertugas memelihara mereka sebagai
amal dari persaudaraan. Umat Islam dapat mengambil dan memelihara anak-anak
terlantar, lalu mendidiknya, dan menanggung nafkah mereka sehingga anak itu
dewasa dan tidak membutuhkan pemeliharaan lagi, tanpa menerapkan hak-hak
dan hukum-hukum anak kandung kepadanya. Pemeliharaan yang telah diterapkan
Islam itu sudah cukup untuk menjamin kesejahteraan mereka. 20
Secara garis besar tujuan adopsi dapat digolongkan menjadi dua. Pertama,
untuk mendapatkan atau melanjutkan keturunan keluarga orang tua angkat, hal
ini lebih mengarah pada penekanan kepentingan orang tua angkat dan tujuan
demikian itu termasuk adopsi di zaman dahulu. Yang kedua, untuk
mensejahterakan atau kepentingan yang terbaik bagi anak dan penekanannya
pada kepentingan terbaik bagi anak.
C. DASAR HUKUM ADOPSI
Dasar hukum adopsi dalam peraturan pemerintah Indonesia bahwasanya,
adopsi adalah suatu perbuatan hukum yang mengalihkan seorang anak dari
27
lingkungan kekuasaan orang tua, wali yang sah, dan membesarkan anak tersebut
ke dalam lingkungan keluarga orang tua angkatnya berdasarkan keputusan atau
penetapan pengadilan.
Dasar hukum adopsi di Indonesia adalah sebagai berikut:
1. Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 2 Tahun 1979 Tentang
Pengangkatan Anak.
2. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1979 Tentang Kesejahteraan Anak.
Dasar hukum ini digunakan, karena dalam Undang-undang ini dari Pasal 1
sampai 16 menyebutkan hak-hak anak, tanggung jawab orang tua
terhadap kesejahteraan anak dan usaha-usaha yang harus dilakukan untuk
kesejahteraan anak. Hal-hal tersebut juga berlaku bagi anak adopsi,
karena baik anak kandung maupun anak adopsi harus mendapatkan
hak-hak dan perlakuan yang sama.
3. Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 6 Tahun 1983 Tentang
Penyempurnaan Surat Edaran Nomor 2 Tahun 1979.
4. Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 4 Tahun 1989 Tentang Adopsi.
Dalam surat Edaran ini menyebutkan syarat-syarat adopsi, permohonan
pengesahan adopsi, pemeriksaan di pengadilan dan lain-lain.
5. Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.
Dalam Undang-undang ini benar-benar diatur bagaimana dalam
28
tentang hak dan kewajiban yang sama antara anak kandung dan anak
angkat.
6. Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 3 Tahun 2005 Te`ntang Adopsi.
7. Undang-undang Nomor 12 Tahun 2006 Tentang Kewarganegaraan
Republik Indonesia.
8. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama dan
telah diubah dengan Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006.
9. Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2007 Tentang Pelaksanaan
Adopsi.
10.Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia No. 110/HUK/2009 Tentang
Persyaratan Adopsi.
Sedangkan dasar adopsi dalam Islam, diantaranya menyebutkan bahwa
mengangkat anak sebagian dari tolong-menolong dalam hal kebajikan,
sebagaimana dalam firman-Nya:
ر ْلا ع ا اعت
ا ْ عْلا ْث ْْا ع ا اعت ا ْقتلا
…
…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan ketaqwaan. Dan janganlah kamu tolong-menolong dalam berbuat maksiat dan permusuhan.21
Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan
ر ْلا
kebajikan, yaknisegala bentuk dan macam hal yang membawa kepada kemaslahatan duniawi dan
atau ukhrawi dan demikian juga tolong-menolonglah dalam
ْقتلا
ketakwaan,
29
yakni segala upaya yang dapat menghindarkan bencana duniawi dan atau
ukhrawi, walaupun dengan orang-orang yang tidak seiman dengan kamu, dan
janganlah kamu tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.22 Firman
Allah tersebut, merupakan prinsip dasar untuk menjalin kerjasama dengan siapa
pun, selama tujuannya adalah kebaikan dan ketakwaan.
Kata
ا ْ عْلا
Al-‘Udwa>n yaitu melampaui batas-batas syari’at dan adat(‘uruf) dalam soal mu’amalat, dan tidak berlaku adil padanya. Dalam sebuah
hadis dikatakan:
.سا لا ْي ع ع طي ْ أ تْ رك سْف لا ف احا ْث ْْا ,ق ْلا ْسح ر ْلا
Kebaikan adalah akhlak yang baik, dan dosa ialah apa saja yang terdetik dalam hati, sedang kamu tidak ingin orang lain mengetahuinya. (HR. Muslim dan Asha>bus-Sunan).23
Perintah saling tolong-menolong dalam mengerjakan kebaikan dan takwa,
termasuk pokok-pokok sosial dalam Alquran. Karena ia mewajibkan kepada
manusia agar saling memberi bantuan satu sama lain dalam mengerjakan apa saja
yang berguna bagi umat manusia, baik pribadi maupun kelompok, baik dalam
perkara agama maupun dunia, juga dalam melakukan setiap perbuatan takwa,
yang dengan semua itu mereka mencegah terjadinya kerusakan dan bahaya yang
mengancam keselamatan mereka.24
22M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishba>h, Vol. 3, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm. 10.
23Ahmad Mustafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Mara>ghi, Terj. Mustafa Al-Babi Al-Halabi, Vol. VI
(Semarang: PT Karya Toha Putra, 1986), hlm. 85.
30
Mengangkat anak pula sama dengan memberi harapan hidup bagi masa
depan anak. Sebagaimana dalam firman-Nya:
اعْي ج سا لا ايْحأ ا اكف ا ايْحأ ْ
…
…Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka ia seolah-olah memelihara kehidupan manusia seluruhnya.25
Thaba}thaba}’i menguraikan persamaan antara lain dengan menyatakan
bahwa setiap manusia menyandang dalam dirinya nilai kemanusiaan, yang
merupakan nilai yang disandang oleh seluruh manusia. Seorang manusia bersama
manusia lain adalah perantara lahirnya manusia-manusia lain, bahkan seluruh
manusia. Diharapkan mereka hidup untuk waktu yang ditetapkan Allah, antara
lain untuk melanjutkan kehidupan jenis manusia seluruhnya. Membunuh
seseorang tanpa alasan yang sah bagaikan membunuh semua manusia yang
keberadaannya ditetapkan Allah demi kelangsungan hidup jenis manusia. Karena
itu pula, Habil tidak akan membunuh Qabil karena ia takut kepada Allah.26
Ayat ini sekaligus menunjukkan bahwa dalam pandangan Alquran semua
manusia, apapun ras, keturunan dan agamanya adalah sama dari segi
kemanusiaan. Ini sekaligus membatalkan pandangan yang mengklaim
keistimewaan satu ras atas ras yang lain, baik dengan memperatasnamakan
agama sebagai anak-anak dan kasih Allah, seperti orang-orang Yahudi maupun
25Alquran dan Terjemahannya 5:32.
31
atas nama ilmu dan kenyataan seperti pandangan kelompok rasialis Nazi dan
semacamnya.27
Ada semacam pula adopsi tetapi pada hakikatnya bukan adopsi yang
diharamkan dalam Islam, yakni menemukan anak yatim atau mendapatkannya di
jalan, kemudian memberinya sesuatu yangmana ia membutuhkannya.
Sebagaimana anjuran dalam Islam untuk memberi makan kepada anak-anak
terlantar dan anak yatim, dalam firman-Nya:
ارْيسأ ا ْيتي ا ْيكْس ح ع اعطلا ْ عْطي
Dan mereka memberi makan-makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang-orang yang ditawan.28
Dan di samping amalan-amalan yang bersifat sunnah, mereka juga dari
saat ke saat memberikan makanan sesuai kemampuan mereka atau atas
kesukaannya terhadap makanan itu, yakni kendati ia menginginkan makanan itu
namun mereka memberikannya kepada orang miskin yakni yang butuh, dan anak
yatim yakni yang meninggal ayahnya padahal ia masih belum dewasa dan orang
yang ditawan, baik tertawan dalam peperangan maupun karena terbelenggu oleh
perbudakan.29
Kata
ع
‘ala> atau yang dirangkai denganح
h>ubbihi kesukaannyamengisyaratkan betapa makanan itu menguasai jiwa mereka karena justru mereka
menginginkannya untuk diri mereka sedang makanan itu sendiri sangat sedikit.
27Ibid.
28Alquran dan Terjemahannya 76:8.
32
Ini mengisyaratkan kemurahan hati mereka serta kesediaan mereka
mendahulukan orang lain atas diri mereka sendiri. Bisa juga kata ‘ala> h>ubbihi
dipahami atas kecintaan kepada Allah yakni atas keihlasan yang penuh demi
karena Allah.30
Ayat ini pula bermaksud menggambarkan kepekaan hati al-Abra>r
terhadap lingkungan masyarakatnya. Kepekaan itu bisa diwujudkan dalam
pemberiaan pangan, atau kebutuhan lingkungan. Bisa juga dalam bentuk
pelayanan kesehatan, pendidikan, atau apa saja yang membantu meringankan
beban mereka yang butuh.31
Tentang fakir miskin dan anak yatim sudah banyak dibicarakan dalam
surat-surat yang lalu, Cuma dalam hal yang terakhir ini yaitu orang tawanan
yang patut diketahui secara luas. Menurut Ikrimah dan Said bin Jubair yang
dimaksud tawanan disini bukan semata-mata orang tawanan. Budak-budak,
hamba-hamba sahaya pun diperlakukan secara baik. Sehingga memerdekakan
budak dipandang suatu amalan yang utama. Sehingga pesan Rasulullah saw
sehari sebelum beliau wafat yaitu:
ْ ك ا ْيأ ْتك ا , اصلا
‚Peliharalah sembahyang dan pelihara pula hamba sahaya kamu‛.32
30Ibid.
31Ibid.
BAB III
TELA’AH ADOPSI DALAM ALQURAN
A. KEDUDUKAN ANAK ANGKAT
Anak angkat merupakan anak yang bukan keturunan dari suami maupun
isteri, ia mempunyai kedudukan untuk dididik, dipelihara dan hanya bersifat
pengasuhan dengan tujuan agar seorang anak tidak sampai terlantar atau
menderita dalam pertumbuhan dan perkembangannya.
Menurut agama Islam, anak angkat bukanlah anak kandung hubungan
darah dan tidak akan pernah putus antara ayah kandung dengan anak kandung.
Oleh sebab itu, seharusnya anak tersebut dipanggil menurut nama bapak
kandungnya. Dan oleh karena itu, menurut hukum Islam tidak ada halangan sama
sekali untuk menikah antara anak kandung dengan anak angkatnya.
Dalam Alquran pula kedudukan anak angkat telah jelas diterangkan
bahwasanya anak angkat tidaklah mendapatkan hubungan apapun dengan orang
tua angkatnya, selain cuma saling tolong-menolong dalam Islam, sebagaimana
yang akan diterangkan tentang adopsi dibawah ini.
Dari ayat-ayat Alquran yang terkait dengan hal tersebut jika disusun atau
diklasifikasikan berdasarkan tema meliputi sebagai berikut:
34
1. Pengaruh Adopsi Terhadap Hubungan Nasab
a. QS. al-Ahza>b ayat 4
ْي ْ ق ْ لجرل ه لعجا
> فْ ج ف
ْ ْ ر ظت ئلا كجا ْ أ لعجا
ْ كت أ
ْ كءا ْبأ ْ كءايعْ أ لعجا
ْ ك ا ْفأب ْ كلْ ق ْ كل
ص
ْ ي قحْلا ْ قي ه
.لْي سلا
Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya; dan dia tidak menjadikan isteri-isterimu yang kamu zhi>har itu sebagai ibumu, dan dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu dimulutmu saja. dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan dia menunjukkan jalan (yang benar).
Munasabah ayat ini dengan ayat sebelumnya bahwasanya ayat pertama
dari surat ini melarang mengikuti kehendak kafir dan munafik, selanjutnya ayat
kedua dijelaskan bahwa jalan yang akan ditempuh hanya satu yakni mengikuti
wahyu yang diturunkan Tuhan dari Alif sampai Yaa. Dari pangkal jalan sampai
ke ujung jalan, jangan sampai disela-sela dengan yang lain. Sebab jalan yang
lurus itu hanya satu, yaitu jalan Allah. Sedangkan ayat ketiga intinya pegangan
hidup bagi Rasul dan bagi tiap orang yang mengaku beriman kepada Allah dan
Rasul. Pangkal ayat keempat inilah dasar hidup untuk jadi pegangan bagi orang
yang mempunyai akidah Tauhid.1
Pendapat ulama lain yang menghubungakan ayat yang lalu dengan ayat
yang sekarang yaitu ayat yang lalu memerintahkan Nabi Muhammad saw
mengikuti tuntutan wahyu, dan tidak mematuhi saran-saran munafik dan kafir.
35
Jangan menggabungkan wahyu ilahi dan tuntunan setan, karena Allah tidak
menjadikan dua hati bagi seseorang.2 Sesuai dalam firman Allah:
فْ ج ف ْي ْ ق ْ لجرل ه لعجا
Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya ……
Tujuan dari ayat ini mengingatkan tentang kepalsuan sekian banyak hal
yang diakui atau dipercaya oleh masyarakat jahiliyah. Antara lain seperti
pengakuan seseorang yang dikenal kuat hafalannya dan sangat licik yaitu Jamil
Ibn Mu’ammar al-Jumah}y yang mengaku memiliki dua hati yaitu akal yang
saling bekerja sama, lalu mengaku dapat menghidangkan apa yang lebih baik dari
apa yang disampaikan oleh Rasulullah saw. Hal ini serupa pula dengan
pengakuan ‘Abdullah Ibn Khathal at-Ti>my.3
Setelah sentuhan tajam ini dalam menentukan manhaj dan jalan yang
benar, redaksi mulai membahas tentang pembatalan zhihar.4 Dalam firman-Nya:
ْكت أ ْ ْ ر ظت ئلا كجا ْ أ لعجا
…
…Dia tidak menjadikan isteri-isterimu yang kamu zhiha>r itu sebagai ibumu.
2M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishba>h, Vol. 15, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm. 219. 3Ibid.
36
Adat kebiasaan jahiliyah untuk menganiaya wanita yaitu wanita tersebut
tidak dicerai tapi dalam saat yang sama tidak memiliki hak-hak sebagai isteri.
Alquran turun melarang adat ini, dan barang siapa yang melakukannya dia tidak
boleh menggauli isterinya sampai dia membayar kaffarat yang disebutkan pada
(QS. al-Mumtah}anah 58: 3-4). Kalau dia enggan dan membiarkan isterinya tanpa
dia gauli dan tidak juga dia membayar kaffarat itu, maka sang isteri dapat
menuntut dan suami dinilai melakukan I}la>’. Apabila berlalu empat bulan sejak
pengungkapan zhiha>r dan suami masih tetap dalam posisinya, maka jatuh
perceraian dengan thala}q bain atas suami isteri itu.5
Kebiasaan orang Arab di zaman jahiliyah ini bilamana tidak menyukai
kepada isteri lagi, maka mereka katakan bahwa punggung isteri itu serupa
dengan punggung ibunya. Tentu saja kalau punggung isteri telah diserupakan
dengan punggung ibunya sendiri, maka kasih-sayang kepada isteri sudah
disamakan dengan kasih-sayang kepada ibu. Kalau persamaan itu terjadi maka
tentu dikacau-balaukan kasih-sayang kepada ibumu yang tidak boleh dinikahi
sudah disamakan dengan kasih-sayang kepada isteri yang yang menjadi teman
tidur. Kasih-sayang kepada isteri adalah disetubui dan menghasilkan anak.
Sedangkan kasih-sayang kepada ibu adalah buat dikhidmat. Oleh karena itu,
perbuatan seperti ini adalah perbuatan yang salah dan tidaklah benar.6
Selanjutnya tentang adat adopsi, firman Allah:
ْكءا ْبأ ْ كءايعْ أ لعجا
...
37
…Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri).
Dan Allah tidak sekali-kali menjadikan seseorang di antara kalian yang
mengangkat anak orang lain, bahwa anak itu hanya diakui berdasarkan
pengakuan saja tidak lebih. Dalam ungkapan ini terkandung pengertian yang
membatalkan tradisi yang berlaku di masa jahiliyah dan permulaan Islam.
Rasulullah saw telah mengangkat Zaid Ibnu Haritsah sebelum beliau diangkat
menjadi Rasul sebagai anak angkatnya, Umar bin Kattab mengambil ‘Amir Ibnu
Rabi’ah sebagai anak angkatnya, dan Abu Huza>ifah mengambil Salim sebagai
anak angkatnya.7
Didalam masyarakat Arab pada saat itu ada beberapa anak yang tidak
dikenal orang tuanya. Sehingga ada saja orang yang tertarik dengan salah seorang
dari mereka. Kemudian diadopsi sebagai anak, lalu menasabkan anak itu
kepadanya dan dipanggil sebagai anak sehingga antara keduanya saling mewarisi.
Ada pula yang status anak tersebut diketahui keluarganya dimana tetapi orang
yang mengadopsi tetap menasabkan anak itu kepadanya dan dipanggil sebagai
anaknya. Sehingga orang-orang mengenalnya sebagai anak kandungnya, dan
dimasukkan dalam anggota keluarganya.8
Perkara ini terjadi biasanya dalam tawanan perang ketika bayi, anak-anak,
dan remaja sering diculik dalam peperangan dan serangan-serangan bersenjata.
7Ahmad Mustafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi, Terj. Mustafa Al-Babi Al-Halabi, Vol. VIII,
(Semarang: PT. Karya Toha Putra, 1986), hlm. 241.
8Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, Terj. As’ad Yasin, dkk., Vol. XXI, (Jakarta: Gema
38
Sehingga bila ada seseorang yang ingin menasabkan salah seorang dari tawanan
itu, maka dia akan memasukkan dalam daftar keluarganya dan orang-orang
memanggil anak itu dengan nasabnya. Kemudian dia berhak atas hak-hak dan
kewajiban-kewajiban sebagai anak.9
Masyarakat jahiliyah mengenal luas tentang pengangkatan anak (adopsi),
dan anak yang diadopsi diperlakukan persis sama dengan anak kandung. Ayat ini
turun berkenaan dengan kasus Zaid Ibnu Haritsah al-Kalbi yang diadopsi oleh
Nabi Muhammad saw. Ia berasal dari kabilah Arab. Zaid yang meninggalkan
ayahnya dan dan dipelihara oleh kakeknya, suatu ketika diculik segerombolan
berkuda dari suku Tihamah dan ditawan pada masa kecilnya disuatu peperangan
zaman jahiliyah. Kemudian anak muda itu dibawa ke Makkah dan dibeli oleh
Ha>kim Ibn H}iza>m Ibn Khuwailid yang diberikan kepada saudara perempuan
ayahnya yaitu Khadijah binti Khuwailid. Wanita mulia yang setelah itu menjadi
isteri Nabi, setelah menikah Khadijah menghadiahkannya kepada Nabi saw. Zaid
tinggal bersama Rasulullah, mengetahui Zaid berada di Makkah bapak
kandungnya dan pamannya datang meminta kepada Nabi agar Zaid diberikan
kepada mereka.
Rasulullah pun mengizinkan bilamana Zaid kembali kepada keluarganya,
tanpa tebusan bila itu yang menjadi pilihannya. Dan Rasul memberikan hak
sepenuhnya kepada Zaid untuk memilih antara bapaknya atau hidup bersama
Rasul. Zaid ternyata memilih untuk hidup bersama Rasul. Ketika itu juga Nabi
39
mengumumkan kepada masyarakat Makkah, bahwa Zaid adalah putra beliau, dan
sejak itu ia dikenal dengan sebutan Zaid bin Muhammad.10
Kemudian Allah SWT berkehendak untuk memutuskan hubungan dan
nasab ini, dengan turunnya ayat tersebut, kemudian seperti firman Allah pula
dipertengahan surat ini:11
ه اك ق ي لا تاخ ه ْ سرلا ْ كل ْ كلاج ْ حأ بأ ح اكا
لكب
ا ْي ع ءْيش
Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki diantara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para Nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Ahza>b: 40).
Kemudian Allah mengukuhkan hal tersebut dengan firman-Nya:
ْك ا ْفأب ْ كلْ ق ْ كل …
…Yang demikian itu hanyalah perkataanmu dimulutmu saja…
Sesungguhnya hal tersebut hanyalah perkataan yang diucapkan oleh lisan
kalian dan tidak ada kenyataannya. Maka isteri selamanya tidak akan menjadi
ibu, dan pengakuan anak angkat tidak akan menjadikannya sebagai anak
senasab.12
Perkataan tidak bisa mengubah kenyataan. Juga tidak bisa menciptakan
hubungan lain selain hubungan darah, hubungan warisan yang dibawa oleh
10M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishba>h, Vol. 15, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm. 222. 11Ibnu Katsi>r, Tafsi>r Ibnu Katsir, Terj. M. Abdul Ghoffar dan Abu Insan al-Atsari, Vol. 6, (Bogor:
Pustaka Imam as-Syafi’i, 2004), hlm. 63.
12Ahmad Mustafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Mara>ghi, Terj. Al-Babi Al-Halabi, Vol. VIII, (Semarang:
40
karakter-karakter dalam sari mani, dan hubungan alami yang tumbuh dari
kenyataan bahwa anak merupakan darah daging dari orang tua yang hidup.13
Itu hanyalah ucapanmu dengan mulutmu yaitu bahwasanya mengatakan
anak orang lain jadi anak sendiri itu hanyalah ucapan mulut, bukan keadaan yang
sebenarnya. Sebab yang sebenarnya anak adalah aliran dari air dan darah
sendiri.14
Dan Allah menjelaskan ayat yang demikian itu hanyalah perkataanmu
dimulut saja bahwa pengakuan anak dari kalian itu hanyalah kata-kata yang tidak
dapat menghukumkan untuk menjadikannya anak yang sebenarnya. Karena ia
tetap diciptakan dari sulbi laki-laki lain. Tidak mungkin dia memiliki dua bapak,
sebagaimana tidak mungkin seseorang memiliki dua hati.15
Menurut Quraish Shihab dalam tafsirnya berkata, anak orang lain
bukanlah menjadi anakku, walaupun engkau umumkan di depan umum. Kalau
cara sekarangnya walaupun engkau kuatkan dengan kesaksian Notaris, dengan
surat-surat pemerintah yang sah, yakni sah menurut peraturan tapi tidak dari
Allah.
Potongan ayat selanjutnya yaitu:
لْي سلا ْ ي
قحْلا ْ قي ه
...
13Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, Terj. As’ad Yasin, dkk., Vol. XXI, (Jakarta: Gema
Insani, 2004), hlm. 220.
14Hamka, Tafsir Al-Azhar Vol. XXI, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 2002), hlm. 193.
15Ibnu Katsi>r, Tafsi>r Ibnu Katsir, Terj. M. Abdul Ghoffar dan Abu Insan al-Atsari, Vol. 6, (Bogor:
41
…Allah, Dia-lah yang Maha Besar, yang selalu mengucapkan kata yang benar (yang hak).
Firman-Nya mengatakan akan menjadi tetaplah kenasaban anak angkat,
begitu pula isteri dapat menjadi ibu apabila itu semua Allah menghendakinya.
Akan tetapi Dia menjelaskan kepada hamba-hamba-Nya jalan yang hak, dan
memberikan petunjuk kepada mereka jalan hidayah. Oleh karena itu,
tinggalkanlah perkataan yang demikian, dan peganglah firman Allah SWT saja.16
Sa’id bin Jubair berkata: Mengatakan yang sebenarnya, yaitu keadilan.
Qatadah berkata: Allah menunjukkan jalan yang lurus, yaitu jalan yang lurus.17
Jalan yang ditunjukkan oleh Allah adalah syariat Islam. Maka peraturan
yang lain termasuk peraturan orang kafir yang diajarkan dalam Dunia Islam.
Islam telah mengadakan aturan dalam menjaga nasab dan keturunan, sehingga
apabila ada seseorang meninggal dunia sudah ada ketentuan pembagian harta
pusaka (faraidh). Akan tetapi, mengangkat anak orang lain menjadi anaknya
sendiri lalu harta tersebut diserahkan kepada anak angkatnya itu melanggar
kepada ketentuan hak milik yang telah ditentukan pada syariat.18
Ayat diatas membatalkan adopsi Nabi, dan semua adopsi yang dilakukan
masyarakat muslim. Dengan turunnya ayat ini Nabi saw memperingatkan semua
16Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, Terj. As’ad Yasin, dkk., Vol. XXI, (Jakarta: Gema
Insani, 2004), hlm. 241.
17Ibnu Katsi>r, Tafsi>r Ibnu Katsir, Terj. M. Abdul Ghoffar dan Abu Insan al-Atsari, Vol. 6, (Bogor:
Pustaka Imam as-Syafi’i, 2004), hlm. 63.
42
orang agar tidak mengaku mempunyai garis keturunan dengan satu pihak padahal
hakikatnya tidak demikian. Beliaupun bersabda:
رح ْي ع جْلاف ْيبأ رْيغ اْس ْْا يف ابأ ع ا ْ
ا
‚Siapa yang mengakui seseorang yang bukan bapaknya sebagai bapaknya, maka surga haram bagimu‛ (HR. Bukha>ri melalui Sa’i>d Ibn Waqqa>sh).19
Haram pula membenci ayahnya sendiri, sebagaimana sabda Nabi
Muhammad saw:
ف ْيبأ ْ ع بغ ْ ف ْ كئابأ ْ ع اْ غْرتا اق ع ص ه ْ س إ ْ قي رْير بأ ْ ع
رْفك
Dari Abu Hurairah r.a bahwasanya Rasulullah saw bersabda: ‚Janganlah kamu membenci ayah-ayahmu, karena barang siapa membenci ayahnya maka ia adalah seorang yang kafir. (HR. Muslim)20
b. QS. al-Ahza>b ayat 5
ه ْ ع سْقأ ْ ئ بِ ْ ْ عْ ا
ْي لا ف ْ ك ا ْخ ف ْ كء باء آ ْعت ْ ل ْ ف
ْ كْيلا
ب ْ تْأطْخأ ْيف ا ج ْ كْي ع سْيل
>
ْ كبْ ق ْ عت ا ْ كل
ا ْ فغ ه اك
ا ْيح
Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka. Maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada
43
dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Munasabah ayat ini dengan ayat sebelumnya bahwasanya ayat yang lalu
adalah larangan mempersamakan status hukum anak angkat dengan anak
kandung. Oleh karena itu, untuk mengikis habis tradisi jahiliyah ini, maka ayat
ini memberi tuntutan.21
ه ْ ع سْقأ ْ ئ بِ ْ ْ عْ ا
Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah.
Panggillah anak-anak angkat kalian yang dimasukkan ke dalam nama
keluarga kalian dengan nama bapak-bapak mereka yang sebenarnya. Maka
katakanlah Zaid Ibnu Haritsah, dan jangan kalian katakan Zaid Ibnu Muhammad.
Yang demikian itu lebih adil di dalam hukum Allah, dan lebih besar dari pada
panggilan kalian yang memanggil mereka dengan nama bukan ayah mereka yang
sebenarnya.22
Sesungguhnya merupakan keadilan memanggil anak angkat itu dengan
sebutan ayah kandungnya (nasab aslinya). Adil bagi seorang ayah yang telah
menumbuhkan anaknya dari darah dagingnya sendiri, dan adil pula bagi anak
yang membawa nama