1
Artikel
Karya Seni “Jejak”
Fardian (Penata)
Dr. Ni Wayan Ardini, S.Sn., M.Si. (Pembimbing I) I Wayan Suweca, S.SKar., M.Mus. (Pembimbing II)
Institut Seni Indonesia Denpasar
Jalan Nusa Indah , telp/fax (0361) 227316/ (0361) 236100 e-mail: [email protected]
ABSTRAK
“Jejak” merupakan sebuah komposisi musik kolaboratif yang mengangkat tentang perjalanan kesenian gamelan Jawa di desa Pulungan, Sedati, Sidoarjo, yang semakin lama semakin hilang keberadaannya digerus globalisasi. Komposisi “Jejak” diangkat berdasarkan pengalaman penata saat tinggal di desa Pulungan antara tahun 2008 hingga 2012, dalam setiap hajatan masyarakat, musik gamelan tradisional yang dahulu menjadi identitas dan kebanggan justru tak ada lagi. Jenis musik Baratlah yang menggantikan. “Jejak” dikomposisi dalam tiga bagian. Bagian pertama menggambarkan kisah masuknya musik Barat ke Indonesia. Pada bagian ini instrument musik Barat lebih dominan dimainkan. Pada bagian kedua, diceritakan rasa gelisah dan lambat, dengan adanya transformasi musik Barat yang menimbulkan dampak-dampak yang terjadi, seperti adanya bentuk-bentuk kolaboratif antara warna musik Barat dan karawitan Jawa. Pada bagian ketiga, dituangkan segala upaya kebangkitan agar gamelan Jawa bangkit, hidup lagi, dan tidak punah. Melalui “Jejak” ingin dipesankan agar masyarakat setempat memiliki spirit untuk menjaga kelestariannya. Didukung 9 pemusik, “Jejak” menggunakan format: 4 buah instrumen gitar nylon; 1 buah instrumen piano; 2 buah instrumen gamelan saron; 1 buah instrumen gamelan demung; 1 buah intrumen piano; 2 instrumen violin; 1 instrumen viola; 1 instrumen cello; dan 2 vokalis.
▸ Baca selengkapnya: karya seni kriya dari cina yang sudah ada ribuan tahun lalu yang merupakan gagasan dan karya cipta yang tinggi adalah....
(2)2 Pendahuluan
Musik merupakan cabang seni yang dikenal oleh hampir seluruh masyarakat yang ada di Indonesia, kebutuhan dalam bermusik bahkan sudah banyak diminati oleh masyarakat. musik tidak hanya digunakan sebagai sarana penghibur, tetapi saat ini fungsi dari musik itu sendiri sangat beraneka ragam. Dalam berkesenian, musik merupakan media ekspresi penata (komposer) dalam bentuk karya musik yang diciptakan berdasarkan unsur-unsur musikal itu sendiri. Menurut para ahli, “musik mampu mengungkapkan hal-hal yang tidak dapat diekspresikan dengan kata-kata maupun jenis lainnya. mereka juga mengatakan bahwa musik akan lebih mampu dan ekspresif untuk mengungkapkan perasaaan dari bahasa baik lisan maupun tulisan” (Susantina, 2004 : 2).
Di Indonesia banyak terdapat keragaman jenis komposisi musik, salah satu yang tidak asing terdengar adalah Karawitan. “Karawitan adalah sebuah istilah komposisi musik baik instrumental maupun vokal yang digunakan di beberapa daerah di Indonesia” (I Wayan Suweca, 2009 : 44). Komposisi karawitan yang diangkat penata adalah gamelan Jawa. Hingga saat ini gamelan Jawa masih bertahan eksistensinya, namun hanya dikalangan atau daerah-daerah tertentu saja yang masih pempertahankan gamelan Jawa. Selain gamelan Jawa, di Indonesia juga banyak berkembang musik barat.
“Musik barat pertama dimainkan oleh para penjajah ketika mereka menyebar ke daerah lain di Indonesia, Para penjajah barat kemudian secara lambat laun mengangkat dan mempekerjakan orang-orang pribumi sebagai penghibur. Inilah cikal bakal proses awal musik barat dipelajari oleh penduduk pribumi” (Furnivall dalam Manalu, 2014 : 2).
Dalam ranah komposisi modern, aspek unsur musikal komposisi karawitan khususnya gamelan Jawa pada dasarnya memiliki kesamaan dengan musik barat, dimana unsur musikal tersebut meliputi melodi, tempo, ritme, harmoni, dimanika, dll, namun yang membedakan hanya saja dari etika cara memukul, maupun memainkan instrumen masing-masing. Di era saat ini Indonesia sedang mengalami globalisasi, dimana salah satu ciri adanya globalisasi adalah masuknya budaya asing ke Indonesia. Dampak masuknya budaya asing tersebut berpengaruh terhadap kesenian yang ada di indonesia, dimana berdampak pada eksistensi gamelan Jawa di kalangan masyarakat yang kian lama kondisinya cukup memperihatinkan. Realita yang ada di Indonesia adalah memudarnya semangat masyarakat dalam melestarikan kesenian gamelan Jawa, banyak masyarakat lebih senang memainkan atau mendengarkan musik barat dibandingkan musik gamelan Jawa.
Di Sidoarjo, Jawa Timur, banyak masyarakat lokal yang kurang memiliki minat terhadap gamelan jawa. Eksistensi gamelan di Sidoarjo tergolong terancam punah karena sangat jarang sekali dijumpai sanggar-sanggar atau komunitas gamelan yang masih aktif. Seperti fenomena yang pernah diamati oleh penata, bahwa pada tahun 2007 s/d 2012, penata pernah menjadi warga di desa Pulungan, Sedati, Sidoarjo, Jawa timur. selama enam tahun tinggal di desa tersebut, penata sama sekali tidak pernah menjumpai musik gamelan dari desa tersebut, berbeda dengan daerah-daerah yang kental akan seni budayanya, salah satunya di Bali, justru setiap masyarakat di desanya masih melestarikan kesenian gamelan Bali, sehingga kesenian gamelan Bali tetap terjaga sampai saat ini.
▸ Baca selengkapnya: suatu karya seni terapan /seni pakai yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan individual manusia secara ...
(3)3 “Jejak” penata mencoba mentransformasi sebuah semangat masyarakat desa Pulungan yang dulunya sangat antusias terhadap gamelan Jawa, kemudian lambat laun semangat masyarakat semakin memudar, sehingga sampai saat ini kondisi gamelan Jawa sudah hilang eksistensinya di desa Pulungan. Dalam karya komposisi “Jejak”, penata ingin memberikan pesan moral terhadap masyarakat bahwa mengikuti arus globalisasi tidak harus meninggalkan kesenian tradisi yang ada. Dewasa ini seharusnya gamelan Jawa justru dapat dikolaborasikan dengan musik barat, sehingga menjadi satu komposisi yang lebih inovatif dan menarik daya minat masyarakat lain untuk tetap menjaga kelestarian gamelan Jawa.
Metode Penciptaan
Dalam sebuah penciptaan karya komposisi, tentu setiap penata harus menjalani sebuah proses untuk dapat menciptakan sebuah garapan komposisi. Proses tersebut berlangsung cukup panjang, mulai dari menentukan ide garapan hingga pada tahap penyusunan struktur garapan yang meliputi melodi, harmoni, dll. Dalam sebuah proses penciptaan, seorang penata perlu memiliki pengalaman, wawasan yang luas dalam menciptakan komposisi, serta banyak mengapresisasi karya-karya lain. Tanpa hal tersebut, penata dapat kekurangan referensi dalam menciptakan garapan komposisi. Penata juga perlu memikirkan beberapafaktor-faktor agar dapat merealisasikan garapan yang akan dibuat, faktor tersebut adalah ketrampilan yang dimiliki pendukung garapan, tersedianya instrumen yang ada, dan biaya yang tidak berlebihan namun dapat menghasilkan karya yang sesuai konsep penata.
Menurut Jakob Sumardjo, kretifitas adalah kegiatan mental yang sangat individual yang merupakan manifestasi manusia sebagai individu. Manusia kreatif adalah manusia yang menghayati dan manjalankan kebebasan dirinya secara mutlak (2000:20). Proses penciptaan pada penata sangat diperlukan dalam menciptakan suatu karya komposisi agar dapat mengolah ide-ide yang telah ditentukan hingga menjadi suatu garapan komposisi. Pada proses penggarapan komposisi “Jejak” ini, penata melakukan proses secara konseptual. I Wayan Suweca menyatakan proses kreatif konseptual yaitu segala sesuatunya direncanakan secara matang dan mengikuti aturan yang lebih bersifat formal (2009:18). Proses kreatif secara konseptual meliputi beberapa tahapan, yaitu diawali dengan menentukan ide atau gagasan berdasarkan latar belakang maupun pengalaman estetik dari seorang penata, setelah menentukan ide atau gagasan, kemudian melakukan proses eksplorasi untuk mengumpulkan materi-materi yang diperlukan dalam garapan komposisi, selanjutnya melakukan ekspirimen dari materi-materi yang didapat oleh penata, dan melakukan tahapan pembentukan. Dalam tahapan pembentukan penata melakukan percobaan-percobaan dalam penulisan melodi maupun menentukan harmoni pada garapan agar dapat memenuhi kebutuhan estetis. Pada proses penciptaan, penata melakukan tiga tahapan yang meliputi tahap penjajagan (Eksplorasi), tahan percobaan (Improvisasi), dan tahap pembentukan (Forming). Ketiga tahapan tersebut dijabarkan sebagai berikut.
4 Sidoarjo. Setelah mengamati fenomena tersebut, penata berinisiatif menciptakan suatu garapan komposisi kolaborasi yang menceritakan jejak perjalanan kesenian gamelan Jawa di
desa Pulungan yang terancam punah, dengan demikian penata mengangkat “Jejak” sebagai
judul garapan.
Kemudian pada pada Februari 2017 penata mengajukan proposal garapan kepada jurusan musik Institut Seni Indonesia Denpasar. Setelah proposal dinyatakan lulus, penata melakukan berbagai langkah yang terkait dengan proses penggarapan karya komposisi lainnya. Salah satu proses, penata menentukan pendukung garapan, dalam garapan ini pendukung yang penata gunakan adalah beberapa mahasiswa jurusan musik Institut Seni Indonesia Denpasar angkatan 2013, 2014, 2015, dan 2016 yang kemudian dilanjutkan penentuan tempat dan jadwal latihan kepada pendukung.
Tahap eksplorasi dimulai pada tanggal 1 Februari 2017, sebagai tahap selanjutnya penata mulai melakukan percocobaan-percobaan pada gitar quatet dengan membuat tema komposisi. Pada tahap ini penata menulis beberapa motif kemudian dikembangkan sehingga menjadi satu tema, selama tahap penulisan penata menulis notasi dengan menggunakan software Sibelius. Sibelius merupakan software untuk mencatat notasi musik barat yg selama ini cukup dikenal dikalangan musisi. Selama beberapa kali menulis notasi pada akhirnya penata dapat menemukan tema garapan.
Selanjutnya pada tahap percobaan (Improvisasi). Tahap ini penata lebih banyak melakukan percobaan-percobaan pada penulisan partitur dengan sofware sibelius. Mulai dari bagian I penata berulang kali melakukan penulisan, selanjutnya hasil tulisan partitur tersebut diberikan kepada pendukung untuk dilakukan percobaan. penata selalu melakukan perbaikan komposisi setiap kali latihan jika ada kejanggalan pada motif-motif yang dibuat. Selama tahap percobaan ini untuk penggarapan pada instrumen gamelan saron dan demung dilakukan percobaan secara praktek langsung menggunakan alat, setelah motif-motif yang dibuat dirasa cocok, penata langsung menulis kedalam bentuk notasi kepatihan. Selektif dalam membuat tiap motif sangat penting agar mendapatkan bagian yang sesuai dengan konsep yang telah ditentukan penata.
Terakhir dilakukan adalah tahap pembentukan (Forming). Tahap ini merupakan tahap akhir dari garapan Jejak, yaitu tahap pembentukan menjadi sebuah garapan yang siap untuk disajikan dan diuji oleh Tim Penguji di Kampus ISI Denpasar. Hasil pada tahap pembentukan ini adalah sudah tesusunnya garapan hingga menjadi bentuk tiga baian, pada tahap pembentukan ini penata juga tidak menutup kemungkinan untuk merubah motif-motif yang telah dibuat hingga menjadi hasil final.
5 Deskripsi Garapan
Komposisi “Jejak” diangkat berdasarkan pengalam estetik penata selama tinggal di desa Pulungan, Sidoarjo pada tahun 2008-2012. Dimana selama itu penata merasakan suatu kejanggalan sosial yaitu meredupnya semangat masyarakat dalam melestarikan kesnian gamelan Jawa, sehingga memicu inisiatif penata untuk menciptakan suatu garapan komposisi berdasarkan fenomena tersebut. Komposisi “Jejak” diangkat dengan tema kebangkitan dengan merepresentasikan perjalanan kesenian gamelan Jawa yang kian lama semakin kurang diminati oleh masyarakat desa Pulungan kedalam bentuk karya komposisi musik. didalam bentuk komposisi “Jejak”, penata menggunakan konsep kolaborasi secara instrumentasi maupun gaya-gaya permainan yang terkandung antara musik barat dan Karawitan Jawa.
Maksud dari komposisi “Jejak” adalah representasi pengalaman penata kedalam suatu karya musik dimana di era yang sudah modern ini kesenian gamelan jawa kian lama semakin kurang diminati oleh masyarakat desa Pulungan, sebagian besar masyarakat desa setempat lebih meminati musik yang bernuansa atau lebih banyak menggunakan idium musik barat salah satunya adalah musik dangdut sehingga mengakibatkan kesenian gamelan jawa terancam punah. perlambangan nuansa demikian telah dituangkan penata kedalam beberapa bagian yang ada pada komposisi “Jejak”, namun pada bagian akhir penata ingin membangkitkan kembali dengan wara musik yang berbeda dari bagian-bagian sebelumnya yaitu dengan menojolkan nuansa kolaborasi lebih banyak. Disamping itu penata juga berharap, setelah terwujudnya karya komposisi “Jejak” ini dapat memberikan pesan moral bahwa di zaman modern ini kesenian tradisional tidak perlu ditinggalkan, namu dapat kita jadikan suatu kreatifitas dalam musik sehingga menghasilkan warna musik yang berda.
Bentuk dan Struktur Garapan
Dalam sebuah garapan komposisi musik, struktur komposisi sangat berperan penting dan perlu dipertimbangkan dalam membuat suatu komposisi musik agar menghasilkan karya yang sesuai dengan konsep. Unsur-unsur yang terkandung dalam struktur garapan “Jejak” yaitu meliputi harmoni, melodi, ritme, dan penggunaan tehnik-tehnik lain. Secara bentuk, garapan “Jejak” mengunakan bentuk garapan tiga bagian kompleks atau besar, bentuk musik tiga bagian komplek pada komposisi “Jejak” merupakan bentuk komposisi yang terdapat subbagian pada bagian I, II, dan III, adapun sekema bentuk pada garapan “Jejak”adalah :
I II III
6 Analisa Estetis
Estetis merupakan salah satu bagian penting dalam penggarapan sebuah karya seni. Keindahan membuat seseorang menjadi senang, enak dipandang, dan menimbulkan rasa bahagia. Penilaian terhadap keindahan tergantung bagaimana persepsi dan pandangan masing-masing orang dalam menikmati karya yang disajikan. Dalam garapan “Jejak”, keindahan dapat terlihat jika masing -masing penikmat merasakan dan mendalami garapan, namun penikmat tentu memiliki penilaiannya sendiri. Adapun tiga unsur keindahan pada karya seni yang harus diperhatikan yaitu wujud, bobot, dan penampilan (Djelantik,1990: 41). Wujud dapat dilihat dari bentuk dan struktur , bobot dapat diamati melalui tiga aspek yaitu suasana , gagasan, dan pesan, sedangkan dalam penampilan ada tiga unsur yang berperan, yaitu bajat, keterampilan, dan sarana atau media (Djelantik, 1990: 18).
1) Wujud
Wujud merupakan kenyataan yang nampak secara konkrit didepan mata kita berarti dapat dipersepsikan dengan mata dan telinga (Djelantik, 1990: 17). Dalam hal ini wujud dapat dilihat dari bentuk dan struktur sebuah karya seni.
Garapan komposisi musik “Jejak” merupakan komposisi musik kolaboratif yang memadukan instrumen musik barat dengan beberapa instrumen gamelan Jawa. Garapan komposisi “Jejak” ini disajikan secara konser/instrumental dalam durasi waktu 15 menit. Penyajian karya ini didukung oleh 14 orang. Garapan komposisi “Jejak” terdiri dari 3 bagian yaitu bagian I, bagian II, bagian III. Ketiga bagian ini dihubungkan dengan adanya transisi antara satu bagian dengan bagian yang lainnya yang mengacu pada ide dan konsep garapan. 2) Bobot
Bobot dari suatu karya seni merupakan isi atau makna yang disajikan kepada penikmat karya seni. Bobot meliputi apa yang dapat dirasakan dan dihayati sehingga penikmat dapat menangkap nilai dan kualitas dari karya seni yang dipertunjukkan. Dengan demikian antara karya seni dan penikmat terdapat adanya interaksi komunikatif. Bobot terdiri dari tiga aspek yaitu, gagasan, suasana, dan pesan.
Gagasan dalam hal ini sejajar dengan ide. Gagasan menyangkut hasil pemikiran dan inspirasi yang didapat oleh penatanya. Gagasan atau ide dalam komposisi “Jejak” adalah mengangkat fenomena dimana kesenian gamelan Jawa di desa Pulungan, Sidoarjo yang terancam punah. Melihat fenomena tersebut, penata secara langsung berinisiatif menciptakan komposisi “Jejak” sebagai transformasi perjalanan kesenian gamelan Jawa.
7 cepat dan banyak menerapkat pola ritme kelipatan yang lebih cepat. Nuansa harmoni mayor kembali diterapkat pada bagian ini untuk mewujudkan nuansa semangat.
Pesan yang ingin disampaikan yaitu, terwujudnya garapan “Jejak” mengjak masyarakat desa Pulungan, maupun masyarakat lain untuk tetap melestarikan kesenian gamelan, bagia para penata musik lain, menciptakan karya komposisi kolaborasi merupakan salah satu cara untu melestarikan musik tradisi di indonesia agar tetap terjaga esksistensinya sekalipun musik barat lebih dominan berkembang era globalisasi ini.
3) Penampilan
Penampilan mengacu pada bagaimana cara karya seni disajikan atau disuguhkan kepada si penikmat. Penampilan sangat menentukan bagaimana persepsi atau pandangan penikmat terhadap hasil karya pelaku pertunjukan. Penampilan sangat menentukan bagaimana persepsi atau pandangan penikmat terhadap hasil karya pelaku pertunjukan. Penampilan dipengaruhi oleh tiga unsur yang berperan , yaitu bakat, keterampilan, dan sarana (media).
Bakat adalah kemampuan yang dimiliki dan dibawa sejak lahir. Setiap orang memiliki bakat atau kemampuan (talent) yang berbeda-beda dan pengembangan bakat juga harus didukung adanya rasa percaya diri. Dengan adanya bakat, segala sesuatu yang berhubungan dengan bidang yang diminati akan dapat dikuasai secara lebih mudah. Melalui bakat, diharapkan penata dapat menampilkan hasil karyanya sendiri dengan baik dan maksimal sesuai kemampuan yang dimiliki. Dalam mempertunjukkan garapan komposisi “Jejak”, para pendukung berusaha semaksimal mungkin menunjukkan penampilan yang terbaik sesuai bidangnya masing-masing.
Keterampilan (skill) sangat penting adanya dalam suatu penampilan. Keterampilan diperoleh jika setiap orang selalu memiliki keinginan untuk mengasah keterampilan yang dimiliki. Latihan-latihan intensif perlu dilakukan dengan disiplin agar keterampilan para pendukung garapan “Jejak” menjadi terasah dan dapat menyatukan rasa sehingga kualitas keterampilan lebih meningkat untuk tercapainya penampilan yang baik.
Sarana atau media bersifat intrinsik dan ekstrinsik yang mendukung penampilan sebuah karya seni. Media intrinsik menyangkut instrumen atau alat-alat musik yang dipergunakan menyangkut segala penunjang berhasilnya pertunjukan garapan komposisi “Jejak”. Dengan demikian diperlukan adanya tempat pementasan, tata lampu (lighting), dan peralatan sound system. Tempat pementasan garapan komposisi “Jejak” adalah di gedung Natya Mandala. Tata lampu yang dominan digunakan dalam mendukung penyajian garapan adalah lampu general.
Analisa Penyaian
Dalam penyajian sebuah karya musik tentu seorang penata perlu mempertimbangkan hal-hal yang mendukung jalannya penyajian, selain keindahan maupun kreatifitas pada karya yang telah dibuat, ada pula beberapa poin pendukung yang sangat berperan dalam sebuah
penyajian karya komposisi “Jejak”, beberapa diantaranya adalah.
8 Kostum yang digunakan dalam penyajian atau pementasan komposisi “Jejak”
dibedakan menjadi dua jenis yaitu pakaian pria dan wanita. Untuk kostum putra menggunakan pakaian beskap berwarna hitam, dengan bawahan kain sinjang, dan menggunakan blangkon.Untuk kostum wanita menggunakan pakaian kebaya, dengan bawahan kain batik. Dalam pemilihan kostum ini penata ingin lebih membawa penampilan sesuai dengan konsep yang penata angkat dalam garapan musik, sehingga pemilihan kostum sebagai pelengkap penyajian pada gambaran suasana Jawa.
2) Tata Lampu
Dalam sebuah penyajian, tata lampu sangat berperan sebagai pelengkap pada
jalannya pementasan. Pada penyajian komposisi “Jejak”, penataan lampu sangt
diperlukan karena dengan tetanan lampu dapat mendukung pembawaan suasana
dalam sajian karya komposisi “Jejak”. Pemilihan tata lampu dalam penyajian
komposisi “Jejak” dapat dijabarkan sebagai berikut.
Bagian I, sebagai interlude permainan diawali dengan penata musik yang berperan sebagai gitar 1, pada saat itu khusus satu lampu menyoroti penata yang memainkan interlude pada pembukaan. Selanjutnya memasuki bagian B, masuknya permainan instrumen secara satu persatu, secara bersamaan tata lampu menyesuaikan tension musik yang makin lama makin ramai, hingga penerangan lampu yang lebih jelas saat pertujukan berada di durasi pertengahan, hingga ending bagian I lampu semakin lama semakin meredup.
9 bagian inti lampu menyesuaikan semakin terang menerangi para pemain musik, namun pada bagian ini sebisa mungkin unsur warna yang digunakan adalah wanra yang sedikit kegelapan karena pada bagian II ini menceritakan musik barat yang mempengaruhi masyarakat secara lambat laun hal tersebut mempengaruhi masyarakat.
Bagian III, pada bagian ini secara estetis musik menuangkan nuansa bangit. Sebisa mungkin penataan lampu pada bagian ini lebih dominan pada warna terang mengambar suasana bangkit tersebut. Karena pada bagian ini agar lebih mendukung penyampaian pesan yaitu bangkit dan untuk tetap melestarikan kesenian khususnya gamelan Jawa.
3) Tata Panggung
10 Keterangan : = Penata/Leader (gitar 1)
= Gitar 2, 3, dan 4
= String quartet
= Gamelan (saron dan demung)
= vokal
11 PENUTUP
Dapat diambil kesimpulan bahwa terwujud karya komposisi jejak ini melalui proses yang cukup panjang dan berdasarkan ide, gagasan, maupun konsep yang cukup matang. Penata mengangkat ide maupun konsep garapan berdasarkan pengalaman estetis secara konseptual. Setelah mengamati fenomena dimana kesian gamelan Jawa di desa Pulungan
terancam punah, secara langsung penata berinisiatif menggarap komposisi “Jejak”.Dengan karya komposisi “Jejak” penata ingin mengangkat kembali kesenian gamelan Jawa dengan
bentuk kolaboratif.
Terwujudnya karya komposisi “Jejak” ini pada akhirnya menjadi karya komposisi musik dengan bentuk 3 bagian, dan dengan durasi 13 menit. Berdasarkan struktur garapan
12 DAFTAR RUJUKAN
Acuan dari buku dengan satu satu, dua, dan tiga pengarang
Banoe, Pono. 2003. Kamus Musik. Yogyakarta: Kanisius.
Djelantik, A. A. M. 1990. Pengantar Dasar Ilmu Estetika Jilid I Estetika Instrumental. Denpasar : Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Denpasar.
Hastanro, Sri. 2012. Neng & Reng : Persandingan Sistem Pelarasan Gamelan Ageng Jawa dan Gong Kebyar Bali. Surakarta : ISI Perss.
Jamalus. 1988. Pengajaran Musik Melalui Pengalaman Musik. Jakarta: Balai Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan
Kusumawati, Heni. 2013. Komposisi 1. Yogyakarta : Universitas Negeri Yogyakarta. Marie Doran Eaton, Rebecca. 2008. Unheard Minimalisms: The Functions of the
Minimalist Technique in Film Scores. Austin : University Of Texas
Panggabean, P.Ance. 2006. Proses Penciptaan Dalam Pengalaman Diri. Medan : Universitas Sumatra Utara.
Sukohardi, Al. 2012. Teori Musik Umum. Yogyakarta : Pusat Musik Litugiri.
Sugono, Dendy. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : PT Gramedia.
Suweca, I Wayan. 2009. Estetika Karawitan. Denpasar : Institut Seni Indonesia Denpasar
Daftar Nara Sumber/Informan