• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penatalaksanaan Hipertensi Pada Usia Lanjut

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Penatalaksanaan Hipertensi Pada Usia Lanjut"

Copied!
35
0
0

Teks penuh

(1)

PENATALAKSANAAN HIPERTENSI PADA USIA LANJUT

Bistok Sihombing, Dina Aprilia, Arianto Purba, Faisal Sinurat

Divisi Geriatri – Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK USU / RSUP Haji Adam Malik Medan

PENDAHULUAN

Seiring dengan meningkatnya usia maka penyakit kronis juga semakin meningkat, sehingga usia lanjut lebih banyak membutuhkan terapi dengan obat untuk penatalaksanaan berbagai penyakit yang diderita. Hipertensi merupakan suatu penyakit yang prevalensinya meningkat dengan bertambahnya usia. Sekitar 90% usia dewasa dengan tekanan darah normal akan berkembang menjadi hipertensi pada usia lanjut.1

Hipertensi pada usia lanjut mempunyai beberapa kekhususan, umumnya disertai dengan faktor resiko yang lebih berat, sering disertai penyakit – penyakit lain yang mempengaruhi penanganan hipertensi seperti dosis obat, pemilihan obat, efek samping atau komplikasi karena pengobatan lebih sering terjadi, terdapat komplikasi organ target, kepatuhan berobat yang kurang sering tidak mencapai target pengobatan dan lain – lain. Kesemua ini menjadikan hipertensi usia lanjut tergolong dalam risiko kardiovaskular yang tinggi atau sangat tinggi. Oleh karena itu penanganan hipertensi pada usia lanjut membutuhkan perhatian yang jauh lebih besar. 2

Banyak dokter tidak mengobati hipertensi pada usia lanjut sampai optimal ( mencapai target kurang dari 150/90 mmHg ) mengingat kekuatiran terjadinya efek samping pengobatan yang lebih besar dibandingkan manfaatnya.Selain itu ada juga beberapa faktor lain yang perlu diperhatikan, yaitu faktor yang turut mempengaruhi respon pasien usia lanjut terhadap terapi anti hipertensi, seperti aterosklerosis, perubahan kardiovaskular akibat proses degeneratif, penurunan respons baroreflex dan lain- lain.3

(2)

hanya 2/3 pasien hipertensi menderita hipertensi sistolik terisolasi ( HST), sedangkan pada kelompok 75 tahun lebih dari ¾ pasien menderita HST. 3

Pemberian obat anti hipertensi pada usia lanjut dengan TDS atau TDD yang tinggi telah menunjukkan keberhasilan dalam menurunkan angka morbiditas dan mortalitas. Dari hasil penelitian yang terakhir, HYVET (2008), pada penderita populasi usia sangat lanjut yang berusia lebih dari 80 tahun, pengobatan hipertensi berhasil mengurangi morbiditas dan mortalitas. 3

II. EPIDEMIOLOGI

Pada tahun 1988 – 1991 National Health and Nutrition Examination Survey

menemukan prevalensi hipertensi pada kelompok umur 65-74 tahun sebagai berikut : prevalensi keseluruhan 49,6 % untuk hipertensi derajat I ( TD 140-159/90-99 mmHg) ; 18,2 % untuk hipertensi derajat II ( TD 160-179/100-109 mmHg), dan 6,5 % untuk hipertensi derajat III ( TD >180/>110 mmHg mmHg). Prevalensi Hipertensi Sistolik Terisolasi (HST) adalah sekitar berturut –turut : 7%;11%;18% dan 25% pada kelompok umur 60-69, 70-79, 80-89, dan diatas 90 tahun. HST lebih sering dijumpai pada perempuan daripada laki – laki. 4

(3)

Gambar 1. Komposisi penduduk usia lanjut di Indonesia tahun 2012 (sumber : Kementrian Kesehatan RI, Profil Kesehatan Indonesia, 2012.

Gambar 1 diatas memperlihatkan komposisi penduduk usia lanjut di Indonesia tahun 2012. Nampak proporsi penduduk usia lanjut pada tahun 2012 sebesar 7,59 %. Jumlah penduduk usia lanjut perempuan (10.046.073 jiwa atau 54 %) lebih banyak dari pada penduduk usia lanjut laki-laki (8.538.832 jiwa atau 46 %).5

Sejak tahun 2000, persentase penduduk usia lanjut melebihi 7 % yang berarti Indonesia mulai masuk ke dalam kelompok negara berstruktur tua (ageing population). Adanya struktur ageing population merupakan cerminan dari semakin tingginya Usia Harapan Hidup (UHH). Tingginya UHH merupakan salah satu indikator keberhasilan pencapaian pembangunan nasional terutama di bidang kesehatan. 5

Gambar 2. Perkembangan proporsi penduduk usia lanjut di Indonesia tahun 1980-2020 ( Sumber : BPS, 2012)

(4)

hipertensi pada saat usia > 65 tahun, (16, 26, dan 50 % masing – masing ). Hal yang serupa dijumpai kelompok usia yang lebih muda, namun dengan dengan tingkat progresifitas yang lebih rendah. Pada kelompok usia 55 sampai 65 tahun dengan tekanan darah normal, sekitar 90 % akan menjadi hipertensi tahap I (TD 140-159/90-99 mmHg) dan sekitar 40 % akan menjadi hipertensi tahap II ( TD ≥160/≥100 mmHg). 2,6

Tabel 1. Prevalensi Hipertensi di Indonesia dari RISKESDAS 2007

Dikutip dari Buku Ajar Ilmu penyakit Dalam, Edisi VI tahun 2014 2

Tabel 2 dibawah ini memperlihatkan 10 penyakit terbanyak yang diderita oleh kelompok usia lanjut tahun 2013. Nampak jenis penyakit yang mendominasi adalah golongan penyakit tidak menular, penyakit kronik dan degeneratif, terutama golongan penyakit kardiovaskular. 5

Kelompok Umur Prevalensi

18 -24 12,2

25 -34 19,0

35 -44 29,9

45 -54 42,4

55 -64 53,7

65 - 74 63,5

> 75 67,3

(5)

Tabel 2. 10 Penyakit terbanyak pada Lansia Tahun 2013 5

III. DEFINISI

Dalam rekomendasi penatalaksanaan hipertensi yang dikeluarkan oleh The Seventh of Joint National Commitee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure ( JNC VII ) 2003, World Health Organisation / International Society of Hipertension ( WHO-ISH ) 1999, British Hypertension Society 2006, European Society of Hypertension / european Society of Cardiology ( ESH/ESC ) 2007, defenisi hipertensi sama untuk semua golongan umur di atas 18 tahun. Pengobatan juga bukan berdasarkan penggolongan umur, melainkan berdasarkan tingkat tekanan darah dan adanya risiko kardiovaskular pada pasien. 3

Tabel 3. Definisi Hipertensi dari JNC - 7

Klasifikasi TD Sistolik (mmHg)

TD Diastolik (mmHg)

Normal <120 dan < 80

Prehypertension 120 - 139 atau 80 - 90

Stage 1 Hypertension 140 - 159 atau 90 - 99

Stage 2 Hypertension 6 atau 100

Isolated Systoloc Hypertension 4 dan 9

Dikutip dari : JNC-7, 2003 7

(6)

tahun. Hal ini sejalan dengan berkurangnya elastisitas pembuluh darah besar ( aorta ) dan proses aterosklerosis. HST dijumpai pada sekitar 60 – 75 % dari kasus hipertensi pada usia lanjut dengan peningkatan risiko 2 – 4 kali lipat untuk terjadinya infark miokard, hipertrofi ventrikel kiri, gangguan fungsi ginjal, stroke, dan mortalitas kardiovaskular. Komplikasi kardiovaskular berbanding lurus dengan peningkatan tekanan darah sistolik (TDS) dan tekanan nadi serta sebanding terbalik dengan penurunan tekanan darah diastolik (TDD). Semakin tinggi tekanan darah sistolik atau tekanan nadi, maka semakin berat risiko komplikasi kardiovaskular. Tekanan nadi yang meningkat pada usia lanjut dengan HST berkaitan dengan besarnya kerusakan yang terjadi pada organ target, yaitu jantung, otak dan ginjal. Selain itu penurunan tekanan darah diastolik (TDD) yang terlalu rendah berisiko mengurangi aliran darah ke arteri koroner. Dari penelitian SHEP didapatkan bahwa peningkatan kejadian kardiovaskular terjadi apabila TD < 60 mmHg. Pada penelitian lain didapatkan kenaikan kejadian stroke pada tekanan darah diastolik ( TDD ) < 65 mmHg. 2,3,6

(7)

IV. PATOFISIOLOGI HIPERTENSI PADA USIA LANJUT

Berbeda dengan kelompok usia yang lebih muda, pasien hipertensi pada usia lanjut sering mengalami pengurangan elastisitas arteri atau meningkatnya kekakuan arteri ( jaringan kolagen menggantikan lapisan elastin pada lamina elastik di pembuluh aorta) yang dialami selama proses penuaan dan terjadi proses sklerosis terutama pada arteri yang besar, sehingga mengakibatkan tekanan sistolik yang lebih tinggi dan tekanan diastolik yang lebih rendah atau kenaikan dari tekanan nadi (pulse pressure). Hal ini menyebabkan suatu keadaan yang dikenal sebagai hipertensi sistolik terisolasi, yang penanganannya lebih sulit dibandingkan dengan hipertensi esensial biasa.2,3,8

Disfungsi endotel merupakan salah satu kontributor penting meingkatnya tekanan darah pada usia lanjut. Cedera mekanis maupun karena inflamasi dari arteri yang menua menyebabkan menurunnya ketersediaan vasodilator oksida nitrit ( Nitric oxide; NO), yang menyebabkan ketidakseimbangan antara vasodilator ( seperti NO) dengan vasokontriktor (seperti endothelin). 8

Selain itu pada usia lanjut juga sering mengalami disregulasi sistem saraf otonom yang dapat menyebabkan hipotensi ortostatik yaitu menurunanya tekanan darah sistolik >20 mmHg dan / atau tekanan darah diastolik > 10 mmHg setelah berdiri dari posisi duduk selama tiga menit. Hipotensi orthostatik merupakan faktor risiko untuk terjadinya jatuh (falls), sinkop (syncope) dan timbulnya kejadian kardiovaskular. Disregulasi otonom juga dapat menyebabkan hipertensi orthostatik, yaitu peningkatan tekanan darah sistolik pada saat perubahan posisi postur tubuh menjadi berdiri, dan merupakan faktor risiko terjadinya hipertrofi ventrikel kiri ( LVH), penyakit arteri koroner ( CAD), dan penyakit serebrovaskular lainnya yang asimptomatik ( silent cerebrovascular disease). Sampai saat ini belum ada konsensus yang menjelakan mengenai definisi hipertensi orthostatik, meskipun beberapa penelitian telah menggunakan defenisi peningkatan sekitar 20 mmHg tekanan darah sistolik saat perubahan posisi menjadi berdiri. 8

(8)

glomerulo-sklerosis dan fibrosis-intestinal yang menyebabkan kenaikan tekanan darah melalui mekanisme peningkatan natrium intrasel, penurunan pertukaran ion natrium-kalsium, dan ekspansi volume darah. 2

Peningkatan tekanan darah oleh karena adanya penyebab sekunder perlu dipertimbangkan, seperti adanya stenosis arteri renalis yang diakibatkan oleh lesi aterosklerosis, obstructive sleep apnoe (OSA), meningkatnya curah jantung (Cardiac Output) karena anemia, insufisiensi aorta, fistula arteriovena, aldosteronisme primer, penyakit Paget dan tirotoksikosis. Penyebab kenaikan tekanan darah yang lain adalah gaya hidup berlebihan, kebiasaan minum minuman keras, merokok, konsumsi kafein, obat-obatan AINS ( Anti Inflamasi Non Steroid ), pemakaian steroid, hormon, narkotika, kurang asupan kalsium, vitamin D dan vitamin C. 2,6

Pengaruh HST terhadap morbiditas dan mortalitas kardiovaskular

Pada usia lanjut, hasil pengobatan tidak hanya diukur oleh keberhasilan penurunan tekanan darah pada morbiditas dan mortalitas kardiovaskular, tetapi juga oleh berbagai hal, termasuk efek terhadap stroke, pencegahan demensia atau penurunan fungsi kognitif, serta pengaruh dari diabetes, dan Indeks Massa Tubuh (IMT) atau obesitas. 3

Stroke

Hipertensi merupakan faktor risiko stroke utama yang memiliki potensi tinggi untuk dimodifikasi. Setiap peningkatan 7 mmHg TDD dapat meningkatkan risiko relatif untuk terkena stroke sebesar 100 %. Terapi preventif untuk meurunkan angka morbiditas dan mortalitas stroke dengan cara pengendalian hipertensi menunjukkan keberhasilan yang bermakna. Regimen terapi hipertensi yang dapat mempertahankan penurunan TDD sebesar 5 – 6 mmHg dalam jangka waktu lama dapat menurunkan faktor risiko sebesar 35 – 40 %. 3

F ungsi Kognitif dan Demensia

(9)

yang melakukan observasi terhadap hubungan antara hipertensi dan demensia, termasuk diantaranya penyakit Alzheimer. 3

Walaupun studi / penelitian Hypertension in the Very Elderly Trial Cognitive (HYVET-COG) tidak menjumpai perbedaan yang bermakna antara kelompok antihipertensi dan kelompok non-hipertensi pada sisi demensia maupun penurunan fungsi kognitif, kesimpulan yang seharunya digarisbawahi adalah bahwa pemberian terapi anti hipertensi Tidak Meningkatkan risiko demensia maupun penurunan fungsi kognitif. Hal ini lebih penting, karena beberapa pendapat yang beredar percaya bahwa pengobatan hipertensi akan mengakibatkan penurunan aliran darah otak yang pada gilirannya akan menyebabkan demensia maupun penurunan fungsi kognitif. 3,9

Diabetes Mellitus (DM)

Pasien dengan DM mempunyai risiko kardiovaskular yang lebih besar dibandingkan dengan tanpa DM. Berdasarkan penelitian / studi SHEP yang dilaporkan pertama kali tahun 1996, dan Syst-Eur tahun 1999 pada pasien usia lanjut dengan DM, didapatkan bahwa pengobatan diuretik atau antagonis kalsium mempunyai efek penurunan tekanan darah yang sama. Apabila dibandingkan dengan pasien non DM, pasien dengan DM mempunyai penurunan morbiditas dan mortalitas yang lebih besar. Hal ini penting mengingat anggapan bahwa hanya ACE Inhibitor atau ARB yang amat dianjurkan pada pasien DM. Hasil dari dua studi ini lebih menekankan pada pentingnya pencapaiaan kontrol tekanan darah pada usia lanjut. 3

Pengaruh Indeks Massa Tubuh ( IMT ) pada Prognosis Hipertensi Usia Lanjut

(10)

juga berkaitan dengan peningkatan aktivitas leptin dan terjadinya resistensi insulin. Sehingga kontrol berat badan merupakan komponen yang penting dari pengobatan non-farmakologik. 3

V. DIAGNOSA

Diagnosa hipertensi pada usia lanjut sama dengan mendiagnosa hipertensi lainnya. Diagnosa hipertensi dilakukan berdasarkan pengukuran tekanan darah yang baik dan benar dan dilakukan sedikitnya sebanyak 3 (tiga) kali pengukuran tekanan darah yang berbeda, dan dilakukan pada lebih dari 2 (dua) kali kunjungan. Pengukuran tekanan darah dilakukan sedikitnya 2 (dua) kali setiap kunjungannya, setelah pasien duduk dengan nyaman sedikitnya selama 5 (lima) menit dengan sandaran punggung, kaki terletak di lantai, lengan diletakkan pada sandaran lengan dengan posisi mendatar dan posisi manset sejajar dengan letak jantung. Pengukuran tekanan darah pada kelimpok usia lanjut seharusnya juga dilakukan pada posisi berdiri dari posisi duduk setelah 1 sampai dengan 3 menit. Hal ini dilakukan untuk mengevaluasi adanya hipotensi maupun hipertensi postural. 15

Pengukuran Tekanan Darah

Pengukuran tekanan darah secara tepat sangat diperlukan, baik pada saat menegakkan diagnosis hipertensi maupun untuk mengevaluasi hasil pengobatan. Pengukuran tekanan darah yang akurat dianggap mewakili nilai sebenarnya pada pasien usia lanjut seringkali merupakan suatu tantangan tersendiri, terutama akibat fisiologi proses penuaan (degeneratif) yang terjadi. 3, 16

Pengukuran tekanan darah yang tidak akurat juga dapat terjadi akibat faktor pseudo-hipertensi, yang terjadi bila manset pengukur tekanan darah gagal mengkompresi arteri brakhialis yang kaku dan mengeras akibat proses kalsifikasi. 3

(11)

Rekomendasi Pengukuran Tekanan Darah dari Canadian Hypertension Education Program (CHEP,2009)3 :

 Pengukuran sebaiknya dilakukan dengan spigmomanometer

 Gunakan manset yang sesuai, lebar bladder sekitar 40 % lingkar lengan, panjang bladder sekitar 80 – 100 % lingkar lengan.

 Batas bawah manset sekitar 3 cm diatas lipat siku dan bladder harus diletakkan sedemikian rupa sehingga arteri brakhialis berada ditengah – tengah bladder.

 Sebelum melakukan pengukuran, pasien harus duduk istirahat dengan nyaman pada kursi berpunggung selama minimal 5 menit.

 Pengukuran dilakukan pada lengan telanjang. Lengan diletakkan sedemikian rupa sehingga fossa antekubiti sejajar dengan jantung.

 Saat pemeriksaan dilakukan, pasien tidak boleh berbicara, kaki/tungkai tidak boleh disilangkan.

 Kembangkan manset hingga 30 mmHg lebih tinggi dari tekanan saat pulsasi arteri radialis menghilang.

 Kurangi tekanan manset dengan kecepatan 2 mmHg setiap detakan jantung.  Nilai sistolik saat suara detak jelas terdengar pertama kali ( fase I Korotkof )  Nilai Diastolik saat suara detak tidak terdengar lagi ( fase V Korotkof )  Lanjutkan auskultasi hingga 10 mmHg di bawah fase V Korotkof

 Bila suara detak fase V Korotkof masih terdengar hingga 0 mmHg, maka yang dianggap nilai diastolic adalah “Muffling Sound“ ( fase IV Korotkof )

 Bandingkan dengan frekuensi detak jantung

 Pengukuran minimal dilakukan tiga kali pada posisi yang sama. Beri jarak minimal satu menit tiap pengukuran dilakukan. Pengukuran pertama diabaikan, kemudian diambil rata – rata dari dua pengukuran selanjutnya.

 Tekanan darah saat berdiri juga harus diukur setelah pasien berdiri dua menit, demikian pula bila pasien memiliki keluhan hipotensi ortostatik.

(12)

 Tekanan darah saat berdiri digunakan untuk hipotensi postural, yang bila terdeteksi dapat merubah tatalaksana hipertensi yang dipilih.

 Pengukuran tekanan darah sebaiknya dilakukan pada kedua lengan pada minimal satu kali kunjungan. Bila salah satu lengan secara konsisten menunjukkan tekanan darah yang lebih tinggi, maka lengan tersebut sebaiknya digunakan sebagai patokan untuk pengukuran maupun interpretasi tekanan darah.

Selain mengukur tekanan darah di klinik (office), pengukuran tekanan darah juga dapat dilakukan di rumah (out office) baik dengan cara Home Blood Pressure Measurement (HBPM) maupun Ambulatory Blood Pressure Measurement (ABPM).

Keuntungan utama dari pengukuran HBPM dan ABPM adalah pengukuran tekanan darah dilakukan tidak dalam suasana medis seperti di klinik atau rumah sakit, sehingga suasana menjadi lebih nyaman dan santi bagi pasien.16

Pemantauan tekanan darah ambulatoris ( ABPM ; Ambulatory Bood Pressure

Monitoring ) dapat berguna dalam dokumentasi “white coat hypertension” dan untuk

memverifikasi gejala hipotensi pada pasien – pasien yang mendapat terapi anti hipertensi. Sebuah studi menemukan bahwa monitoring tekanan darah ambulatoris merupakan prediktor yang lebih baik untuk risiko kardiovaskular bila dibandingkan pengukuran tekanan darah secara konvensional pada populasi usia lanjut dengan Hipertensi Sistolik Terisolasi (HST ). Pilihan untuk melakukan HBPM atau ABPM didasarkan pada ketersediaan alat, biaya dan ksediaan pasien. Umumnya HBPM dilakukan pada pusat layan primer, sedangkan ABPM dilakukan pada pusat layanan spesialis3, 16

Tabel 4. Definisi Hipertensi berdasarkan pengukuran tekanan darah di klinik dan

(13)

Tabel 5. Indikasi Klinis untuk HBPM dan ABPM16

Gejala Klinis

Kebanyakan penderita hipertensi pada usia lanjut tidak memiliki gejala (asimtomatik ). Gejala yang biasanya dijumpai pada hipertensi antara lain : pusing, palpitasi ( jantung berdebar-debar), atau sakit kepala. Skit kepala pada pagi hari terutama didaerah oksipital merupakan karakteristik dari hipertensi Stadium II. Kerusakan target organ seperti stroke, penyakit jantung kongestif, atau gagal ginjal mungkin merupakan tanda awal. 8

Riwayat Penyakit

(14)

Gejala dan tanda yang dicurigai sebagai kelainan pada organ target antara lain : nyeri kepala, kelemahan ataupun kebutaan sementara, klaudikasio, nyeri dada, dan sesak nafas. Penyakit komorbid seperti diabetes mellitus, penyakit jantung koroner, gagal jantung, penyakit obstruksi paru menahun (PPOM), gout, dan disfungsi seksual merupakan temuan penting, karena akan dihubungkan dengan stratifikasi faktor risiko koroner dan pilihan terapi inisial (awal). 8

Riwayat pemakaian obat –obatan, termasuk pemakaian obat anti hipertensi sebelumnya, obat bebas yang digunakan seperti NSAIDs dan obat flu, dan obat jenis herbal perlu ditanyakan. Kebiasaan sehari – hari dan gaya hidup selama ini termasuk kebiasaan merokok, minum alkohol, penggunaan obat-obatan ( narkotika), latihan fisik yang teratur, dan derajat aktivitas fisik sehari-hari harus dinilai. Riwayat diet makanan tertentu seperti diet tinggi garam ( yang bisa menaikkan tekanan darah ), konsumsi lemak ( meningkatkan risiko kardiovaskular), dan konsumsi alkohol ( yang bila dikonsumsi dalam jumlah berlebihan bisa memicu kenaikan tekanan darah ) sangat penting untuk ditanyakan kepada pasien maupun keluarga pasien saat dilakukan anamnesis. 8

Pemeriksaan Fisik

(15)

Pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan penunjang lainnya

Pemeriksaan laboratorium dimaksudkan untuk menentukan ada tidaknya faktor risiko tambahan, mecari kemungkinan hipertensi sekunder dan kerusakan target organ. Pemeriksaan darah rutin lengkap, pemeriksaan fungsi ginjal, asam urat, elektrolit, panel metabolik, profil lipid, kadar gula darah puasa, tes fungsi tiroid ( thyroid stimulating hormone ; TSH), urinalisia, EKG dan foto thoraks PA. 8

VI. DIAGNOSA BANDING

Pada umumnya pasien usia lanjut dengan hipertensi mengalami hipertensi primer atau hipertensi esensial. Hipertensi sekunder merujuk kepada hipertensi yang penyebabnya dapat diketahui dengan jelas ( teridentifikasi) dan bisa diobati. Hipertensi renovaskular yang disebabkan oleh stenosis arteri renalis merupakan penyebab tersering hipertensi sekunder yang bisa diobati pada pasien usia lanjut. Penyebab lainnya seperti obstructive sleep apnoe (OSA), primary aldosteronism dan penyakit gangguan tiroid harus dipertimbangkan pada kasus dimana tekanan darah tetap diatas target optimal meskipun telah mendapatkan terapi dengan menggunakan tiga jenis rejimen obat anti hipertensi dengan dosis maksimal, dan dimana anamnesis dan pemeriksaan fisik mengarah kepada kelainan tersebut diatas. 2,3,8

Obstructive sleep apnea (OSA) merupakan faktor risiko independen dan kuat untuk progresivitas dan terjadinya hipertensi, terutama hipertensi yang resisten terhadap pengobatan dan komplikasi ginjal dan kardiovaskular. Overload cairan dan pergantian /perpindahan cairan, meningkatnya aktivasi saraf simpatis, stress oksidatif, inflamasi, dan pelepasan substansi vaso aktif pada saat terjadinya hipoksemia intermiten, bisa berkontribusi terhadap meningkatnya tekanan darah pada pasien yang mengalami obstructive sleep apne (OSA). 2,3,8

(16)

jenis cocain, ecstasy, nikotin dan stimulansia ( seperti methyl phenidate ) penggunaan dan reaksi putus obatnya juga dapat dihubungkan dengan hipertensi. 2,3,8

Pheochromacytoma adalah tumor yang jarang ditemui, dan bertanggungjawab terhadap 0,5 % kasus hipertensi sekunder yang biasanya ditemui pada usia pertengahan antara 30 – 60 tahun. Tumor intra kranial pada daerah yang dekat dengan nervus glossopharyngeal bisa menyebabkan kegagaan system baroreseptor, yang bisa menyebakan hipertensi yang labil (peningkatan tekaan darah secara mendadak , yang berlangsung selama beberapa menit sampai berjam-jam, takikardi dan sakit kepala ) atau takikardi orthostatik (peningkatan detak jantung ( heart rate ; HR) >30 kali per menit dari posisi terlentang ke posisi bangkit berdiri). 2,3,6, 8

VII. PENATALAKSANAAN

(17)

Gambar 3 . Algoritme Penatalaksanaan Hipertensi pada Usia Lanjut16

Target pengobatan hipertensi pada usia lanjut

Tujuan umum penatalaksanaan hipertensi adalah untuk mengurangi angka morbiditas dan mortalitas dengan diagnosa dini pengobatan dengan prinsip least-invasive

dan metode yang paling cost-effecive. 8

The National Institute for Health and Clinical Excellence ( NICE )

(18)

Association ( ACCF/AHA) 2011 merekomendasikan pencapai target tekanan darah sistolik (TDS) 140-145 mmHg. The Seventh Joint National Commitee (JNC-7)

merekomendasikan target penurunan tekanan darah pada penderita DM dan Hipertensi < 130/80 mmHg tanpa memandang usia, namun target ini dinilai terlalu agresif pada kebanyakan penderita usia lanjut. 8 Menurut The Eight Joint National Commitee (JNC 8) for Management of High Blood Pressure in Adults tahun 2014, merekomendasikan pada kelompok usia ≥60 tahun mulai pengobatan dengan anti hipertensi bila tekanan darah ≥150/90 mmHg dan target penurunan tekanan darah <150/90 mmHg ( Level of Evidence – Grade A ). 10

Penelitian ACCORD-BP ( rentang usia : 40-79 tahun) gagal membuktikan bahwa penurunan resiko kejadian kardio vaskular baik fatal dan non fatal dengan penurunan tekanan darah sistolik ( TDS) < 120 mmHg , bila dibandingkan dengan target tekanan darah sistolik (TDS) < 140 mmHg pada kelompok usia lanjut dengan diabetes mellitus yang memiliki resiko tinggi untuk kejadian kardiovaskular. Hal ini ditunjang dengan

penelitian INVEST diabetes sub group analysis, yang dilakukan pada kelompok usia lanjut dengan rerata usia 66 tahun. 8,11,12

Penelitian AASK ( pada kelompok usia 18-70 tahun) membuktikan bahwa penurunan Mean Arterial Pressure ( MAP) mencapai < 92 mmHg tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan ( nyata) terhadap semua penyebab kematian,kematian karena serangan kardiovaskular, jika dibandingkan dengan target penurunan MAP yang biasa yaitu antara 102 – 107 mmHg pada populasi Afrika – Amerika yang menderita Penyakit Ginjal Kronis ( PGK ). 8

Penelitian HYVET ( Hypertension in the Very Elderly Trial ), pada kelompok usia diatas 80 tahun dengan target penurunan tekanan darah < 150/80 mmHg menunjukkan penurunan insidensi serangan stroke, namun terjadi peningkatan angka kematian terutama disebabkan karena kejadian kardio vaskular bila dibandingkan dengan kelompok kontrol yang menggunakan plasebo. 8,9

(19)

tidak boleh terlalu rendah karena dapat mengurangi perfusi jaringan. Kontrol tekanan darah yang baik dapat mencegah demensia pada usia lanjut. 2,3

Pengelolaan hipertensi pada usia lanjut

Hipertensi pada usia lanjut sama seperti hipertensi pada usia lainnya. Walaupun risiko terjadinya komplikasi lebih besar. Penurunan tekanan darah akan menurunkan risiko morbiditas maupun mortalitas akibat komplikasi kardiovaskular. Hal ini sesuai dengan hasil dari penelitian besar yang telah dilakukan pada hipertensi Sistolik dan diastolik menghasilkan penurunan risiko yang sama. Dari banyak obat anti hipertensi yang ada, tidak semuanya mempunyai efek dan derajat keamanan yang baik pada usia lanjut. Disebut aman karena tidak meyebabkan komplikasi atau yang lebih penting adalah tidak mengganggu kualitas hidup pasien. 2,3,13

Penatalaksanaan hipertensi stadium satu tanpa compelling indication dimulai dengan perubahan / modifikasi gaya hidup yang dilakukan selama tiga bulan. Bila tekanan darah tidak terkontrol dengan terapi ini maka dilanjutkan dengan terapi farmakologi. Pada stadium satu dimulai dengan monoterapi obat antihipertensi tetapi pada stadium duadianjurkan langsung menggunakan dua obat dengan alasan agar tekanan darah dapat terkendali dengan lebih cepat. Dengan menggunakan kombinasi obat maka pengendalian tekanan darah menggunakan dua jalur patofisiologi sehingga tekanan darah lebih terkendali. Juga terdapat efek sinergi dari dua golongan obat yang menguntungkan dalam pengendalian tekanan darah tinggi.17

Prinsip pengobatan hipertensi pada usia lanjut adalah selalu mulai dengan dosis rendah dan dinaikkan bertahap sampai mencapa target, “start low and go slow”. Berbagai kelas obat telah terbukti dapat menurunkan tekanan darah pada usia lanjut, baik secara tunggal maupun yang lebih sering dalam bentuk kombinasi. Diuretik, penyekat beta (β -blocker), Calcium Channel Blocker (CCB ), Angiotensin Converting Enzyme

Inhibitor (ACE-Inhibitor), Angiotensin Reseptor Blocker (ARB), dan yang terakhir adalah golongan Direct Renin Inhibitor (DRI) semua telah terbukti dapat menurunkan tekanan darah dan mengurangi tingkat morbiditas dan mortalitas pada pasien hipertensi.

(20)

Pada proses menua dan komplikasi kardiovaskular, umumnya sudah terjadi penurunan kesehatan, fungsi kognitif, kemampuan aktivitas fisisk, dan seksual. Oleh karena itu pemilihan obat dan target pengobatannya hendaknya selalu memperhatikan aspek kualitas hidup Pasien. 2,3,6,8,10

Tabel 6 . Strategi penatalaksanaan hipertensi pada usia lanjut 16

Reccomendation Class Level

In elderly hypertensives with SBP ≥160 mmHg there is solid evidence to recommend reducing SBP to between 150 and 140 mmHg.

I A recommended to reduce SBP to between 150 and 140 mmHg, provided they are in good physical and mental conditions.

I B

In frail elderly patients, it is recommended to leave decisions on antihypertensive therapy to the treating physician, and based on monitoring of the clinical effects of treatment.

I C

Continuation of well-tolerated antihypertensive treatment should be considered when a treated individual becomes octogenarian.

IIA C

All hypertensive agents are recommended and can be used in the elderly, although diuretics and calcium antagonists may be preferred in isolated systolic hypertension.

I A

Pengobatan Non Farmakologik

Modifikasi gaya hidup selalu dianjurkan sebagaimana penanganan hipertensi pada umumnya. Bahkan pada sebagian pasien hipertensi ringan dengan cara ini dapat tanpa obat. Tindakan penghentian merokok, pengendalian berat badan, mengurangi stres mental, pembatasan konsumsi garam, alkohol, meningkatkan aktivitas fisik kesemuanya dapat mengurangi tekanan darah dan juga penggunaan dosis obat anti hipertensi. 2,3,8

Berikut ini adalah modifikasi gaya hidup yang dapat dilakukan untuk menurunkan tekanan darah pada penderita usia lanjut, antara lain : 2,3,8,10,13

1. Diet rendah garam

(21)

tahun adalah sebesar 2.300 mg atau 6 gram garam dapur, dan pada kelompok usia > 51 tahun dan kelompok yang berisiko tinggi terhadap penyakit kardiovaskular konsumsi natrium yang dianjurkan adalah < 1.500 gram per harinya. Namun pembatasan diet rendah garam pada kelompok usia tua yang rapuh (frailty) bisa menyebabkan atau bahkan memperburuk anoreksia, malnutrisi, sarkopenia dan hipotensi ortostatik.

Bukti terkuat yang mendukung untuk melakukan diet rendah garam ( natrium ) pada kelompok usia lanjut dengan hipertensi adalah penelitian TONE, yang menyatakan bahwa dijumpai manfaat klinis untuk menurunkan konsumsi natrium menjadi berkiasar 2.300 mg pada kelompok usia > 70 tahun. 8,14

2. Perencanan Menu makanan yang baik

Menu diet menurut The Dietary Approaches to Stop Hypertension (DASH) menganjurkan diet yang mengandung biji-bijian, ikan, daging unggas, dan kacang – kacangan karena kaya akan kalium, magnesium, kalsium, protein dan serat, serta menghindari konsumsi daging merah, makanan yang manis dan yang mengandung gula tambahan, dan minuman yang mengandung gula. Diet menurut The DASH telah terbukti mampu menurunkan tekanan darah pada penelitian jangka pendek ( selama lebih dari 8 minggu pengamatan ) pada kelompok usia dewasa pertengahan, namun masih kekurangan data pada pemantauan jangka panjang pada kelompok usia yang lebih tua. 8

3. Berhenti mengkonsumsi alkohol

Peminum alkohol berat ( > 300 mL/minggu atau 34 gr alkohol/hari) terbukti secara independen, signifikan, dan kuat berhubungan dengan peningkatan tekanan darah, dan dapat juga dihubungkan dengan peningkatan risiko kejadian kardiovaskular, stroke dan semua penyebab kematian lainnya bila dibandingkan dengan kelompok yang bukan pecandu alkohol ( occasional drinking).

4. Latihan fisik teratur

(22)

5. Menurunkan berat badan

Kelompok dengan usia lanjut disebut obesitas bila indeks massa tubuh > 30 kg/m2. Penelian TONE membuktikan bahwa terjadi penurunan tekanan darah dengan penurunan berat badan baik dengan latihan fisik maupun dengan pembatasan diet. Namun berdasarkan pengamatan selama 12 tahun terhadap angka kematian, data dari penelitian TONE gagal membuktikan keuntungan dari segi angka mortalitas antara kelompok usia lanjut yang menjalani proses penurunan berat badan bila dibandingkan dengan kelompok usia lanjut yang tidak mengalami intervensi untuk penurunan berat badan. Data populasi pada kelompok usia lanjut menyebutkan bahwa pada orang yang mengalami malnutrisi ( under weight) memiliki resiko yang sama untuk mengalami disabilitas fisik dibandingkan dengan kelompok usia lanjut yang mengalami kelebihan berat badan ( overweight).

6. Berhenti merokok

Kelompok usia lanjut harus didorong untuk berhenti merokok, hal ini bisa dilakukan dengan bantuan nikotin patch, nikotin gum, maupun dengan obat – obatan seperti bupropion dan varenicline namun dengan pengawasan yang ketat terhadap efek samping yang mungkin terjadi seperti kejang, skizofrenia, psikosis, gangguan mood, ansietas, skin rash, gangguan kardiovaskular dan gangguan pencernaan seperti mual dan muntah.

7. Menghindari polifarmasi

Menghindari penggunaan obat – obatan lainnya secara bersamaan yang berpotensi untuk menaikkan tekanan darah seperti golongan NSAIDs, sebaiknya dihentikan atau dipertimbangkan pemakaiannya dan dengan membandingkan antara manfaat yang didapat dengan kerugian yang diperoleh terhadap pasien.

8. Mengkonsumsi “dark chocolate”

(23)

Tabel 7 . Modifikasi Gaya Hidup pada Penatalaksaan Hipertensi pada Usia Lanjut 15

Pengobatan Inisial pada Hipertensi tanpa komplikasi

Konsensus penatalaksanaan hipertensi pada usia lanjut membagi pengobatan inisial menjadi hipertensi tanpa komplikasi dan hipertensi dengan komplikasi. Berdasarkan hasil meta analisis terakhir, rekomendasi terapi inisasi pada usia lanjut yang tanpa komplikasi adalah golongan diuretik thiazid, Calcium Channel Blocker (CCB ), Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor (ACE-Inhibitor), Angiotensin Reseptor

Blocker (ARB), penyekat beta (β-blocker). 2,3,8

Rekomendasi dari Kanada (Canadian Hypertension Education Program ; CHEP) tidak menganjurkan pemakaian penghambat receptor beta (β-blocker) mengingat banyaknya kasus penyakit paru obstruktif menahun (PPOM) pada usia lanjut. Kebanyakan usia lanjut memerlukan dua obat anti hipertensi atau lebih untuk mencapai target tekanan darah yang diinginkan. Rekomendasi JNC-7, European Society of Hypertension dan lain- lain, pengobatan dimulai dengan menggunakan dua obat anti hipertensi apabila tekanan darah sudah melebihi 20/10 mmHg dari target tekanan darah.2,3,8 Sebelum menambahkan obat antihipertensi yang baru, kemungkinan alasan

(24)

resistensi insulin, dan pseudoresistensi. Pseudoresistensi adalah suatu respon yang inadekuat terhadap terapi antihipertensi yang disebabkan oleh pengukuran tekanan darah di klinik adalah positif palsu atau tekanan darahnya lebih tinggi bila dibandingkan dengan pengukuran tekanan darah diluar klinik seperti HBPM maupun ABPM. 15,16,17

Pengobatan Inisial Pada Hipertensi dengan Komplikasi

Konsensus yang terakhir menganjurkan pemilihan obat pada pasien usia lanjut dengan komplikasi, sesuai dengan hasil uji klinik obat pada indikasi atau komplikasi tertentu, yang didapat dari penelitian jangka panjang atau meta analisis. Pada panduan JNC -7, indikasi ini disebut sebagai “Compelling indication”.

Tabel 8 . Indikasi Compelling untuk pengobatan Hipertensi pada usia lanjut.

KOMPLIKASI PENYAKIT PILIHAN OBAT ANTI HIPERTENSI

Gagal Jantung Tiazid, BB, ACE-I, ARB, CCB, Antagonist Aldosterone Pasca Infark Jantung BB, ACE-I, Antagonist Aldosterone, ARB

Penyakit jantung Iskemik, atau

Risiko tinggi penyakit kardiovaskular Tiazid, BB, ACE-I,CCB

Angina Pektoris BB, CCB

Aneurisma Aorta BB, ARB, ACE-I, CCB, Tiazid, BB

DM ACE-I, ARB, CCB, Tiazid, BB

Penyakit Ginjal Kronik ACE-I, ARB, CCB, Tiazid, BB Pencegahan Stroke Berulang Tiazid, ACE-I, ARB, CCB Dikutip dari Buku Ajar Ilmu penyakit Dalam, Edisi VI tahun 20142

Gambar 4 . Kombinasi penggunaan obat anti hipertensi

(25)

Tabel 9 . Efek Samping Pengobatan Antihipertensi pada Usia Lanjut16

Berikut ini adalah golongan obat anti hipertensi yang bisa digunakan pada pasien usia lanjut:2,3,6,8,10,13,15,16

a. Diuretik

Diuretik yang sering dipakai pada usia lanjut terutama golongan tiazid, antagonis aldosteron. Diuretik loop suatu diuretik yang sangat kuat diberikan apabila ada gagal jantung atau Penyakit Ginjal Kronis (PGK). Golongan diuretik non-tiazid seperti indapamid adalah turunan dari sulfonamid, dapat mengurangi morbiditas kardiovaskular atau stroke pada usia > 80 tahun. Efek samping yang perlu diperhatikan adalah kenaikan kadar gula darah.

b. Calcium Channel Blocker ( CCB)

(26)

CCB dianjurkan terutama apabila terdapat penyakit komorbid kardiovaskular. Obat yang diberikan adalah yang memilki waktu kerja yang panjang. Penelitian ACCOMPLISH menunjukkan bahwa penggunaan amlodipin (CCB golongan dyhidropiridine) lebih efektif dibandingkan dengan tiazid dalam menurunkan kejadian kardiovaskular pada pasien dengan risiko tinggi, termasuk diabetes dan merupakan pilihan alternatif yang baik untuk pengobatan hipertensi dengan diabetes. CCB golongan non dihydropyridine seperti diltiazem dan verapamil tidak memilki efek inotropik maupun kronotropik terhadap fungsi sistolik ventrikel kiri jantung bila dibandingkan dengan CCB golongan dihydropyridine seperti amlodipin atau felodipin. Verapamil dan Diltiazem dapat digunakan sebagai terapi tambahan pada pasien hipertensi dengan penyakit parenkim ginjal ( renal pharenchymal disease) dan hipertensi yang resisten, namun sebaiknya dihindari penggunaannya pada pasien dengan disfungsi ventrikel kiri.

c. Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor & Receptor Blocker

(27)

d. Direct Renin Inhibitor ( DRI )

Direct Renin Inhibitor ( DRI ) merupakan golongan obat anti hipertensi yang baru dengan efektivitas serupa dengan ACE-Inhibitor ataupun ARB. Aliskiren adalah satu-satunya obat dari golongan DRI yang tersedia ini dapat dikombinasikan dengan obat lain seperti HCT, ramipril, dan amlodipin. Belum ada data yang cukup pada pasien dengan eGFR kurang dari 30 ml/mnt.

e. Beta Blocker

Golongan Penyekat beta ( Beta Blocker ) seperti propranolol, bisoprolol, atenolol,

dan lain- lain tidak lagi dianjurkan sebagai terapi inisial pada pengobatan

hipertensi usia lanjut dikarenakan efek sampingnya yang besar terutama pada

saluran pernafasan, kecuali pada gagal jantung, penyakit jantung koroner, migrain

dan tremor senilis. Pada hipertensi obat golongan ini biasanya diberikan sebagai

kombinasi dengan diuretik.

f. Alfa Blocker

Golongan seletif alfa1 adrenergic antagonist seperti terazosin dan doxazosin

bermanfaat untuk pengobatan hipertensi yang disertai dengan benign prostatic hypertrophy (BPH). Efek samping utama dari obat golongan alfa bloker ini adalah hipotensi orthostatik, refleks takikardi dan sakit kepala. Penilitian ALLHAT menunjukkan adanya efek samping berupa peningkatan risiko stroke, kejadian kardio vaskular dan peningkatan risiko penyakit jantung kongestif dengan penggunaan doxazozin bila dibandingkan dengan chlortalidone, hal ini menunjukan bahwa penggunaan golongan alfa antagonis sebaiknya dihindari sebagai penggunaan lini pertama obat anti hipertensi.

g. Aldosterone Antagonist

Golongan antagonis aldosteron seperti spironolakton biasanya digunakan pada

hipertensi yang resisten yang disebabkan oleh hiperaldosteronisme primer dan

obstructive sleep apnoe ( OSA).

h. Golongan anti hipertensi lainnnya

Golongan obat yang bekerja di sentral seperti klonidin, tidak dianjurkan dipakai

pada awal terapi mengingat efek sedasi, mengantuk, bradikardi, dan mulut kering.

(28)

terjadinya hipertensi krisis karena penghentian obat secara mendadak (withdrawal

effect). Klonidin dapat diberikan dalam bentuk kombinasi dengan obat – obatan

lain untuk mencapai target tekanan darah yang optimal.

Penatalaksanaan Hipertensi Usia Lanjut pada Keadaan Khusus

Hipertensi dengan diabetes

Berdasarkan Pedoman JNC-8 pada kelompok usia ≥ 18 tahun dengan diabetes

mellitus, mulai pengobatan dengan anti hipertensi pada tekanan darah ≥ 140/90 mmHg,

dan target optimal penurunan tekanan darah pada adalah <140/90 mmHg ( Level of

Evidence E ; opini para ahli). Pada populasi umum yang tidak berkulit hitam, pilihan

terapi inisial obat anti hipertensi adalah golongan diuretic tiazid, antagonis kalsium

(CCB), ACE-Inhibitor dan Angiotensin Receptor Blocker (ARB) (Level of Evidence B).

Pada populasi berkulit hitam dengan diabetes mellitus pilihan utama obat antihipertensi

adalah diuretik golongan tiazid ataupun anti hipertensi golongan antagonis kalsium

( Calcium Channel Blocker ) ( Level of Evidence C). Hal ini sesuai dengan penelitian

ALLHAT yang menunjukkan bahwa penggunana diuretik tiazid terbukti lebih efektif

dalam menurunkan risiko serebrovaskular, kejadian kardiovaskular, maupun gagal

jantung dibandingkan dengan golongan ACE-Inhibitor pada populasi berkulit hitam.

Begitu juga dengan anti hipertensi golongan antagonis kalsium lebih superior bila

dibandingkan dengan golongan ACE-Inhibitor, namun tidak dijumpai perbedaan yang

bermakna antara tiazid dengan CCB dalam hal manfaat kardiovaskular maupun

komplikasi klinis lainnya. Pilihan lain adalah penggunaan salah satu dari golongan

ACE-Inhibitor atau ARB. 8,10

Hipertensi dengan Penyakit Ginjal Kronik (PGK)

Berdasarkan Pedoman JNC-8 pada kelompok usia ≥ 18 tahun dengan penyakit ginjal kronis (PGK), mulai pengobatan dengan anti hipertensi pada tekanan darah ≥ 140/90 mmHg, dan target optimal penurunan tekanan darah pada adalah <140/90 mmHg ( Level

of Evidence E ; opini para ahli). Pilihan obat anti hipertensi inisial untuk memperbaiki

fungsi ginjal adalah golongan ACE-Inhibitor dan Angiotensin Receptor Blocker (ARB).

(29)

tanpa memandang ras maupun penyakit diabetes.(Level of Evidence B). ACE-Inhibitor

maupun Angiotensin Receptor Blocker (ARB) direkomendasikan bila dijumpai adanya

proteinuria >300 mg/hari ataupun bersamaan dengan gagal jantung. Namun penelitian

AASK gagal untuk membuktikan adanya penurunan kejadian kardiovaskular dengan

penggunaan Beta Blocker dibandingkan dengan ACE-Inhibitor dibandingkan dengan

Antagonis kalsium (CCB) jenis amlodipine pada kelompok Afro-amerika yang menderita

hipertensi dengan penyakit ginjal kronis (PGK).8,10

Hipertensi dengan Gagal Jantung

Kelompok usia lanjut dengan hipertensi dan gagal jantung sistolik ( Systolic Heart

Failure;SHF) sebaiknya diobati dengan anti hipertensi golongan diuretik, Beta blocker,

ACE-Inhibitor dan antagonis aldosteron bila tidak dijumpai adanya hiperkalemia maupun

gangguan fungsi ginjal yang signifikan. Penderita hipertensi dengan disfungsi ventrikel

kiri yang asimtomatik ( asymptomatic left ventricle dysfunction ) sebaiknya

menggunakan golongan beta blocker dan ACE-Inhibitor. Gagal jantung diastolik sering

dijumpai pada pasien usia lanjut. Retensi cairan seharusnya diobati secara adekuat

dengan pemberian loop diretik, hipertensi harus terkontrol, dan penyakit komorbid

lainnya harus segera diatasi. 8,10

Hipertensi resisten

Disebut sebagai hipertensi resisten bila tekanan darah tidak dapat diturunkan

mencapai target dengan penggunaan tiga rejimen obat anti hipertensi sekaligus, termasuk

golongan diuretik (ditambah dengan ACE-Inhibitor, Antagonis Kalsium, Penyekat Beta

ataupun Angiotensin Reseptor Blocker) dan masing – masing dari ketiga obat tersebut

sudah mencapai ataupun mendekati dosis maksimum yang direkomendasikan. Pada

penderita hipertensi sitolik terisolasi ( HST) pada usia lanjut, dikatakan hipertensi resisten

bila dijumpai ketidakmampuan untuk menurunkan tekanan darah sistolik menjadi

dibawah 160 mmHg dengan menggunakan tiga rejimen obat anti hipertensi sekaligus. 8,10

Penyebab utama dari hipertensi resisten antara lain yaitu : ketidakpatuhan dalam

meminum obat yang diresepkan dan diet rendah garam, pemberian dosis obat yang terlalu

(30)

hipertension dan white coat/office hypertension. Pilihan obat anti hipertensi yang dapat

digunakan sebagai rejimen tambahan pada hipertensi resisten adalah golongan klonidin.

Penggunaan klonidin secara per oral ataupun transdermal patch maupun obat anti

hipertensi yang bekerja sebagai simpatolitik sentral lainnya dapat digunakan dengan dosis

rendah untuk mengurangi efek sedasi dan hipotensi ortostatik. Penggunaan minoxidil,

reserpine dan hydralazine sebaiknya digunakan secara hati-hati dikarenakan tingginya

efek samping yang ditimbulkannya terutama pada pasien usia lanjut. 8

Tabel 10. Dosis obat anti hipertensi ( JNC 8)10

Abbreviations: ACE,angiotensin-converting enzyme; RCT,randomized controlled trial.

aCurrent recommended evidence-based dose that balances efficacy and safety is 25-50 mg daily.

Tabel 11. Rekomendasi penatalaksanaan hipertensi menurut JNC 810

Recommendation 1

In the general population aged _60 years, initiate pharmacologic treatment to lower blood pressure (BP) at systolic blood pressure (SBP)_150 mmHg or diastolic blood pressure (DBP)_90mmHg and treat to a goal SBP <150 mm Hg and goal DBP <90 mm Hg. (Strong Recommendation – Grade A)

Corollary Recommendation

(31)

Recommendation 2

In the general population < 60 years, initiate pharmacologic treatment to lower BP at DBP ≥ 90 mmHg and treat to a goal DBP ≥ 90mmHg. (For ages 30-59 years, Strong Recommendation – Grade A; For ages 18-29 years, Expert Opinion – Grade E)

Recommendation 3

In the general population < 60 years, initiate pharmacologic treatment to lower BP at SBP ≥ 140mmHg and treat to a goal SBP < 140mmHg. (Expert Opinion – Grade E)

Recommendation 4

In the population aged ≥ 18 years with chronic kidney disease (CKD), initiate pharmacologic treatment to lower BP at SBP ≥ 140 mmHg or DBP ≥ 90 mmHg and treat to goal SBP < 140 mmHg and goal DBP < 90mmHg. (Expert Opinion – Grade E)

Recommendation 5

In the population aged ≥ 18years with diabetes, initiate pharmacologic treatment to lower BP at SBP ≥ 140mmHgorDBP ≥ 90 mmHg and treat to a goal SBP <140 mmHg and goal DBP < 90 mmHg. (Expert Opinion – Grade E)

Recommendation 6

In the general non black population, including those with diabetes, initial antihypertensive treatment should include a thiazide-type diuretic, calcium channel blocker (CCB), angiotensin-converting enzyme inhibitor (ACEI), or angiotensin receptor blocker (ARB). (Moderate Recommendation – Grade B)

Recommendation 7

In the general black population, including thosewith diabetes, initial antihypertensive treatment should include a thiazide-type diuretic or CCB. (For general black population: Moderate Recommendation – Grade B; for black patients with diabetes: Weak Recommendation – Grade C)

Recommendation 8

In the population aged ≥18 years with CKD, initial (or add-on) antihypertensive treatment should include an ACEI or ARB to improve kidney outcomes. This applies to all CKD patientswith hypertension regardless of race nor diabetes status. (Moderate Recommendation – Grade B)

The main objective of hypertension treatment is to attain and maintain goal BP. If goal BP is not reached within amonth of treatment, increase the dose of the initial drug or add a second drug

from one of the classes in recommendation 6 (thiazide-type diuretic, CCB, ACEI, or ARB). The clinician should continue to assess BP and adjust the treatment regimen until

goal BP is reached. If goal BP cannot be reached with 2 drugs, add and titrate a third drug from the list provided. Do not use an ACE Ihibitor and an ARB together in the same patient. If Goal BP cannot reached using only the drugs in recommendation 6 because of contraindication or the need to use more than 3 drugs to reach goal BP, anti Hypertensive drugs from other classes can be used. Referral to a hypertension specialist may be indicated for patients in whom goal BP cannot be attained using the above strategy or for the management of compicated patients for whom

(32)
(33)

Tabel 12 . Strategi dan dosis penggunaan obat anti hipertensi ( Dikutip dari JNC 8) 10

(34)

VIII. KESIMPULAN

Prevalensi hipertensi pada usia lanjut lebih tinggi dibandingkan dengan penderita yang usianya lebih muda. Sebagian besar hipertensi pada usia lanjut merupakan hipertensi primer dan hipertensi sistolik terisolasi (HST). Diagnosis hipertensi sama dengan diagnosis hipertensi lainnya yaitu berdasarkan pengukuran tekanan darah yang benar dan sesuai guideline / pedoman dari WHO dan JNC VII. Mekanisme hipertensi pada usia lanjut belum sepenuhnya diketahui, meningkatnya kekakuan arteri, disfungsi endotel, disregulasi sistem saraf otonom, kerusakan mikrovaskular pada ginjal, penurunan sensitivitas baro reseptor dan retensi terhadap natrium dipercaya sebagai mekanisme terjadinya hipertensi pada usia lanjut. Penatalaksanaan hipertensi pada usia lanjut pada prinsipnya tidak berbeda dengan hipertensi pada umumnya, yaitu terdiri dari modifikasi gaya hidup dan bila diperlukan dapat dilanjutkan dengan pemberian obat-obatan antihipertensi. Obat yang umum digunakan adalah golongan diuretik dan antagonis kalsium dengan prinsip start low and go slow. Pengobatan terhadap hipertensi pada usia lanjut mulai dilakukan bila TDS ≥ 150 mmHg dan TDD ≥ 90 mmHg, dan target tekanan darah yang diingin dicapai pada penatalaksanaan hipertensi pada usia lanjut sesuai dengan JNC 8 yaitu < 150/90 mmHg, dan bila disertai penyakit komorbid seperti diabetes mellitus dan hipertensi menjadi lebih rendah yaitu < 140/90 mmHg.

IX. DAFTAR PUSTAKA

1. Ikawati, Z, Djumiani,S,Putu, ID. Kajian Keamanan Obat Anti-Hipertensi di Poliklinik Usia Lanjut Instalasi Rawat jalan RS. DR. Sardjito. Majalah Ilmu Kefarmasian. 2008;Vol.V No. 3,150-69.

2. Suhardjono, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam : Geriatri dan gerontology; Hipertensi pada Usia Lanjut, Edisi ke-6, Jakarta: Pusat penerbitan Ilmu Penyakit Dalam, Cetakan pertama, 2014; Bab 40.519;3855-58.

3. Konsensus Perhimpunan Hipertensi Indonesia 2009 : Penatalaksanaan hipertensi pada keadaan khusus: Hipertensi pada usia lanjut, Perhimpunan Hipertensi Indonesia (Ina SH), Jakarta, 2009; 1-18.

4. Rigaud, AS, Forette, B, Hypertension in Older Adults. J. gerontol 2001; 56A: M217-5. 5. Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan Republik Indonesia: Situasi dan

(35)

6. Kaplan, NM, Rose, BD, Up to date: Treatment of Hypertension in the Elderly patient, particularly isolated systolic hypertension, Tersedia di : http://www.

UpToDate/ contents/mobipreview.htm?18/21/18769

7. Chobanian, AV, George L.B, Henry R, et all: American Heart Association: The Seventh Report of The Joint national Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure Downloaded from http://hyper.ahajournals.org/: November 5, 2003.

8. Syed,Q, Barbara,M-R, Current Diagnosis & Treatment 2nd Edition: Geriatrics:

Hypertension, Mc. Graw Hill Education, North America: Internationaledition, 2014, Chapter 30: 202-12.

9. Sarah J: The HYVET study: Answering the question of wther or not to treat hypertension in the very elderly, Primay Care Cardiovascular Journal :Volume 1, Issue 2, July 2008.

10. The American Academy of Family Physicians Practice Guideline: JNC 8 Guidelines for The Management of Hypertension in Adults. Am. Fam Physician, 2014;90(7):503-04

11. Henry. N, Ginsberg : The ACCORD ( Action to Control Cardiovascular Risk in Diabetes) Lipid Trial : What we learn from subgroup analyses, care.diabetesjournals.org: Diabetes care, volume 34, Suplement 2, 2012:S107-8. 12. Giueseppe. M : American Heart Association: Effects of Intensive Blood Pressure

Control in The Management of patients With Type 2 Diabetes Mellitus in The Action to Control Cardiovascular Risk in Diabetes ( ACCORD) Trial, Circulation, 2010;122:847-49. Downloaded from: http;//circ.ahajournals.org

13. Suhardjono, Naskah Lengkap The 11th Jakarta Nephrology and Hypertension Course and Symposium on Hypertension: Hipertensi pada Usia Lanjut, PERNEFRI (Perhimpunan Nefrologi Indonesia), Jakarta-Indonesia: Edisi 1, Cetakan I, 2011; 113-16.

14. Lawrence.J, Appel, Mark.A, Espeland, et all :Effects of Reduced Sodium Intake on Hypertension Control in Older Individuals : results From the Trial of Nonpharmacologic Interventions in the Elderly (TONE):Arch Intern Med;161:685-93 Tersedia dalam: http://archinte.jamanetwork.com

15. Willbert.S.A, Jerome.L.Fleg, Carl.J.P, et all: ACCF/AHA 2011 Expert Consensus Document on Hypertension in the Elderly, Jornal of the American College of Cardiology : Volume 57, No. 20. 2011, Tersedia dalam content.onlinejacc.org

Gambar

Gambar 2. Perkembangan proporsi penduduk usia lanjut di Indonesia tahun 1980-2020 ( Sumber : BPS, 2012)  Dari hasil Riset Kesehatan Dasar Nasional ( RISKESDAS ) tahun 2007
Tabel 1. Prevalensi Hipertensi di Indonesia dari RISKESDAS 2007
Tabel 2. 10 Penyakit terbanyak pada Lansia Tahun 2013 5
Tabel 4. Definisi Hipertensi berdasarkan pengukuran tekanan darah di klinik dan pengukuran tekanan darah di rumah(di luar klinik )16
+7

Referensi

Dokumen terkait

6.3 Hubungan kepatuhan menjalankan Diet Dengan Derajat Hipertensi Pada Lanjut Usia Hipertensi Di Panti werdha Griya St. Yosef

“STUDI PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN HIPERTENSI USIA LANJUT DENGAN PENYAKIT JANTUNG KORONER (Penelitian dilakukan di Poli Geriatri Instalasi Rawat Jalan

ISH ini lebih banyak terjadi pada lansia karena disebabkan oleh berkurangnya elastisitas arteri dari atherosclerosis (Kaplan, 2006).Hipertensi pada usia lanjut didefinisikan

Berdasarkan hasil studi pendahuluan tanggal 8 September 2014 didapatkan data dari 80 lanjut usia terdapat 36 (45%) lanjut usia mengalami hipertensi, sehingga peneliti

Tujuan penelitian: Mengetahui pengaruh buah semangka terhadap perubahan tekanan darah pada wanita usia lanjut yang mengalami hipertensi di Posyandu Lanjut Usia Wira Lestari 6

Berdasarkan hasil studi pendahuluan tanggal 8 September 2014 didapatkan data dari 80 lanjut usia terdapat 36 (45%) lanjut usia mengalami hipertensi, sehingga peneliti

Hal itu berarti, responden usia lanjut yang hipertensi mempunyai risiko 2,2 kali lebih besar untuk menderita mild cognitive impairment dibandingkan de- ngan mereka yang

Simpulan dan Implikasi: Tingkat persepsi lanjut usia dalam upaya perawatan penyakit hipertensi sebagian besar telah dilakukan dengan baik, lanjut usia memiliki persepsi kerentanan dan