BAGAIMANA PERAN GUNBOAT DIPLOMACY SAAT INI?
Letkol Laut (P) Dickry Rizanny N., MMDS
Speak softly and carry a big stick; You will go far. (Theodore Roosevelt - Diplomacy)
Diplomasi secara sederhana dapat diartikan sebagai manajemen dalam hubungan internasional. Sehingga diplomasi maritim dapat didefinisikan sebagai manajemen dalam hubungan internasional melalui domain maritim. Pengertian ini bukan berarti penggunaan diplomasi untuk mengatur permasalahan maritim melalui kodifikasi hukum internasional, namun lebih pada penggunaan aset maritim dalam mengatur hubungan internasional itu sendiri.
Gunboat Diplomacy
Gunboat Diplomacy mulai dikenal sejak abad 19 yaitu pada saat kapal-kapal perang negara Eropa bermanuver di sepanjang pantai perairan negara-negara kecil yang akan direbut dengan terus menembakkan meriam ke arah darat, dengan tujuan untuk mendapatkan pengaruh dalam memenangkan diplomasi dan agar negara sasaran menyerahkan diri. Pada perkembangannya, prinsip diplomasi ini digunakan oleh negara-negara adikuasa untuk menguasai negara lain dengan taktik imperialisme, menggunakan kekuatan militer yang tidak seimbang dan memanfaatkan kondisi belum adanya hukum internasional yang berlaku terutama mengenai penjajahan dan intimidasi antar negara. Baru pada awal tahun 2000, ketika kekuatan di dunia mulai berubah ke arah kekuatan multipolar, negara-negara yang dulunya merupakan korban dari gunboat diplomacy, misalnya Cina, India dan Korea Selatan, mulai menggunakan diplomasi yang serupa demi mencapai tujuan negara masing-masing.
Gunboat diplomacy bukanlah suatu aktivitas atau taktik kuno yang telah ketinggalan jaman. Saat ini, diplomasi ini masih digunakan baik oleh negara yang sudah maju maupun negara berkembang dalam mendukung tujuan nasional mereka. Dengan berkembangnya taktik kolonialisme dan berlakunya hukum internasional yang mengikat, prinsip gunboat diplomacy tetap digunakan dengan mempertahankan relevansi terhadap tujuannya, yaitu untuk mengejar atau mendapatkan suatu tujuan atau kepentingan suatu negara dengan cara memaksa negara lain, tanpa menimbulkan konflik berskala besar dan menggunakan anggaran yang besar.
merupakan rotasi rutin dalam skema operasi kapal induk AL Sekutu di perairan Teluk Persia. Disampin itu, flotilla kapal tersebut sekaligus memberikan pesan jelas kepada dunia internasional, bahwa AL sekutu mampu memberikan respons cepat, khususnya dalam menghadapi kekuatan Iran. Apa yang dilaksanakan AL Iran dan AL Sekutu merupakan bentuk gunboat diplomacy kontemporer. Tujuan mereka sama yaitu saling unjuk kekuatan untuk mempengaruhi opini pengambil kebijakan dan perkembangan lingkungan strategis.
Di kawasan Asia, diplomasi ini juga digunakan. Asia Timur merupakan kawasan yang sangat krusial dan sering terjadinya tipe diplomasi ini. Contoh yang paling jelas adalah pada Juli 2010, USS George Washington berpartisipasi dalam latihan bersama Invicible Spirit di Laut Jepang. Latihan ini dilaksanakan adalah untuk memberikan jawaban atas kejadian tenggelamnya kapal jenis korvet Cheonan milik AL Korea Selatan sebelumnya. Latihan bersama Korea Selatan dan Jepang ini merupakan respons untuk menunjukkan kemampuan dan kekuatan sekaligus menunjukkan niat US dalam membantu Korea Selatan terhadap potensi ancaman dari Korea Utara.
Sehingga jelas adanya bahwa gunboat diplomacy tidak pernah hilang dalam operasi angkatan laut di seluruh dunia. Penerapannya yang berbeda dipengaruhi adanya kemajuan teknologi militer, misalnya drone, rudal dan satelit. Di peperangan era modern, penggunaan kapal frigate, destroyer, rudal jarak jauh, membuat pengertian gunboat diplomacy terlihat ketinggalan jaman dan kuno. Namun secara prinsip, cara berdiplomasi ini sudah sangat matang dan sudah seharusnya di update kemudian di definisikan ulang sebagai Maritime Diplomacy. Terlebih dengan perkembangan dimensi peperangan maritim dan peran angkatan laut yang berlainan, diplomasi menjadi salah satu bagian dari peran sejumlah operasi angkatan laut, yaitu penyebutan gunboat diplomacy menjadi coercive maritime diplomacy. Perkembangan karakter diplomasi juga membentuk dua jenis diplomasi maritim lainnya yang berkembang saat ini, yaitu co-operative maritime diplomacy dan persuasive maritime diplomacy.
Co-operative Maritime Diplomacy
Co-operative maritime diplomacy atau diplomasi maritim kerja sama dilaksanakan dengan berbagai cara, misalnya Port calls (kunjungan), Joint Exercises and Trainings (latihan dan pelatihan gabungan) dan melalui Persuasive maritime diplomacy (diplomasi maritim pendekatan) dimana diplomasi ini dilaksanakan melalui memanfaatkan peran kehadiran angkatan laut di suatu kawasan. Persamaan kedua diplomasi ini adalah lebih cenderung menggunakan cara pendekatan yang lunak, tanpa menunjukkan dan menggunakan hard power.
berbobot 10.000 ton yang hanya berfungsi sebagai kapal rumah sakit dan mengirimkan ke Afrika dengan anggaran yang sangat besar? Tentunya ada maksud dan tujuan di balik aksi tersebut.
Misi tersebut memiliki keuntungan diplomasi dan efek yang sangat kuat terhadap kehidupan bernegara. Peace Ark mengirim pesan perdamaian, membangun kepercayaan terhadap negara yang dibantu, memperkuat hubungan diplomatik dan mendorong persepsi bahwa Cina adalah negara yang ramah. Persepsi keramahan inilah yang merupakan tujuan pokok Cina, apalagi jika dikaitkan dengan pertanyaan ada apa dibalik pembangunan kekuatan angkatan bersenjata Cina, terutama angkatan lautnya yang sangat pesat. Cina hanya ingin memberikan persepsi bahwa Cina adalah negara yang ramah dan cinta damai. Cina berusaha menghilangkan persepsi bahwa pembangunan kekuatan militer yang pesat dari AL Cina, bukanlah untuk tujuan yang berperang atau keinginan untuk mencaplok negara lain.
Selain Peace Ark, AL Cina juga menggunakan kapal latih Zheng He dalam melaksanakan diplomasi, yaitu dengan melaksanakan pelayaran keliling dunia dan berkunjung ke pangkalan-pangkalan negara lain, baik negara besar maupun negara kecil. Pada tahun 1989 adalah merupakan pertama kalinya kapal AL Cina berkunjung ke pangkalan Amerika Serikat di Hawaii.
Kunjungan ini bertujuan bukan saja untuk menunjukkan misi diplomasi dan membangun pengaruh terhadap sekutu, namun juga memastikan potensi rival dan musuh, dalam hal ini Amerika itu sendiri. Indonesia juga melakukan hal yang sama dengan mengirimkan KRI Dewaruci melaksanakan pelayaran keliling dunia dan singgah di negara lain dengan misi sama
dengan Zheng He, yaitu berdiplomasi melalui kerja sama.
Dengan mempelajari apa yang dilakukan Peace Ark dan Zheng He, dengan dua jenis operasi yang berbeda, Zheng He adalah kapal latih yang mempunyai misi goodwill ke negara-negara maju dan berkembang, Peace Ark adalah kapal rumah sakit yang memberikan bantuan kemanusiaan di beberapa negara miskin di dunia, dapat disimpulkan bahwa bentuk kedua diplomasi tersebut merupakan bagian dari diplomasi maritim yang mengutamakan kerja sama. Dua diplomasi modern di atas adalah contoh yang sangat sempurna untuk menerangkan tentang konsep diplomasi maritim saat ini secara luas, yang merupakan contoh pelaksanaan diplomasi maritim kerja sama (co-operative Maritime Diplomacy).
Di dalam cooperative maritime diplomacy sendiri dapat melibatkan bermacam-macam aktor maritim, misi dan agen-agen maritim yang berlainan dalam suatu operasi yang mirip dan kohesif. Yang patut dijadikan patokan bahwa, pertama, kata cooperative/ kerja sama adalah penting. Sebagai contoh adalah diplomasi yang dikemas dalam operasi bantuan kemanusiaan dan bencana alam. Kerja sama lebih dikedepankan baik antara sekutu maupun musuh dalam membantu korban bencana dan melaksanakan operasi bersama dengan koordinasi antar aktor maritim.
dan kepercayaan. Diplomasi ini tidak bertujuan untuk menggertak, menghalangi, memaksa, atau membujuk dengan kekuatan. Diplomasi ini lebih mengutamakan metode untuk menarik perhatian, kooptasi dan usaha untuk menginspirasi negara lain.
Operasi Militer Selain Perang dan Soft Power
Perkembangan teknologi pada kapal perang dan bertambahnya peran yang diemban kapal perang, seperti helikopter organik, persenjataan, sekoci tempur, memberikan pilihan bahwa operasi kapal perang tidak hanya untuk berperang, tapi juga dapat digunakan untuk mendaratkan pasukan di daratan yang minim infrastruktur dan memberikan bantuan ke area yang sulit di akses. Sehingga, angkatan laut saat ini mampu mengemban bahwa peran dan fungsi selain perang adalah lebih penting dan lebih diperlukan dunia daripada perang itu sendiri, misalnya bantuan kemanusiaan, bencana alam. Penggunaan kapal perang untuk operasi militer selain perang telah ditunjukkan negara-negara adikuasa sekaligus sebagai sarana diplomasi demi kepentingan negara masing-masing. Jika dulu, apabila kapal induk Amerika lengkap dengan gugus tempurnya hadir di suatu perairan, terutama di wilayah negara-negara yang mayoritas muslim, maka muncul kecurigaan akan terjadinya penggunaan kekuatan laut untuk kepentingan Amerika. Namun saat ini persepsi tersebut berubah. Sebagai contoh, pada saat bencana alam tsunami, 24 buah kapal perang US hadir di pesisir pantai Aceh dalam melaksanakan misi kemanusiaan, sehingga mengesampingkan persepsi dan kecurigaan tersebut.
Saat ini, bentuk bantuan kemanusiaan dan bencana alam ini lebih memiliki efek diplomatis yang dapat mempengaruhi dalam kehidupan antar negara. Penggunaan angkatan laut dalam niat baik juga dapat memberikan penekanan bahwa militer juga dapat digunakan dalam operasi militer selain perang. Buktinya adalah pada tahun 2010, di depan Parlemen Australia, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan kebanggaan dalam melihat pasukan Australia dan TNI bekerja bersama dalam menyelamatkan nyawa dan meringankan penderitaan korban bencana alam tsunami.1 Ini menunjukkan fakta bahwa setelah 5 tahun
sebelumnya Australia memimpin intervensi internasional terhadap Timor Timur, tentara Australia masih di terima oleh Indonesia. Dapat kita lihat bagaimana kekuatan dan kemampuan good will dalam membantu korban bencana alam dan kemanusiaan mampu memberikan efek yang positif dalam diplomasi antara negara dengan memenangkan hati dan pikiran rakyat Indonesia.
Diplomasi yang bertujuan untuk memenangkan hati dan pikiran rakyat atau negara yang dituju oleh Joseph Nye disebut sebagai Teori Soft Power. Dalam bukunya, Nye menjelaskan bahwa “Soft Power is getting others to want the outcome that we want and rests on ability to shape the preferences of others.” (Soft Power adalah aksi mempengaruhi orang lain untuk ikut menginginkan apa yang kita inginkan dan sangat bergantung pada kemampuan untuk membentuk pemikiran orang lain
1 Sambutan Presiden RI, Dr. Susilo Bambang Yudhoyono DI Parlemen Australia tanggal 10 Maret 2010. Tersedia
tersebut).2 Pembentukan pemikiran tersebut tidak didapatkan melalui paksaan (coercion), namun dengan menunjukkan personalitas yang menarik, budaya, nilai politik dan institusi, jalan hidup atau kebijakan yang lebih bermoral dan resmi. Dengan melihat contoh-contoh diatas, sangat jelas bahwa pengaruh bantuan Peace Ark dan Zheng He terhadap kemanusiaan dan bencana alam lebih memberikan efek diplomatis yang lebih besar daripada “Invasi Sekutu ke Iraq pada tahun 2003.”
Sehingga dapat disimpulkan, co-operative maritime diplomacy dapat merupakan sebuah aksi dalam mendukung soft power melalui penggunaan aset hard power. Atau dengan kata lain disebut sebagai “soft maritime diplomacy”, dimana tipe ini sangat bertolak belakang dengan “hard maritime diplomacy” yang merupakan aplikasi dari gunboat diplomacy yang cenderung menggunakan persenjataan demi memaksakan kehendak.
Dalam kenyataannya, co-operative maritime diplomacy ini terbukti sering memberikan hasil nyata dalam mempengaruhi pemikiran negara lain dan dalam memperkuat aliansi. Latihan bersama dengan angkatan laut negara lain akan lebih efektif dalam membentuk kapasitas, serta dapat membangun hubungan pertemanan yang membuat angkatan laut lebih kompatibel dalam melaksanakan operasi bersama. Latihan gabungan dan operasi pengamanan maritim bersama dapat membentuk suatu koalisi, membangun confidence building measures (CBM), dan tercapai harmonisasi di antara negara-negara yang berbeda.
Seorang Admiral dari AL Kanada, Rear Admiral Bob Davidson memberikan pandangannya mengenai Modern Naval Diplomacy, bahwa diplomasi maritim dapat dilihat adalah suatu operasi angkatan laut yang bertujuan untuk mencari pengaruh (maritime influence). Dia menggambarkan “kapal perang adalah duta besar mini, mewakili negara dan kepentingannya serta pengaruhnya di setiap pelabuhan yang disinggahi.”3 Dalam artikelnya bahwa “the modern naval deployment has potential far beyond the limited concept of gunboat diplomacy. Maritime influence operations ... can be conceived and implemented with a view to enhancing Canada’s reputation in a broad spectrum of areas that cross the boundaries of many government departments.”(penggunaan kekuatan angkatan laut yang modern mempunyai potensi yang lebih daripada konsep gunboat diplomacy. Operasi maritim yang bertujuan untuk mencari pengaruh ....dapat dipahami dan diimplementasikan untuk meningkatkan reputasi Kanada di spektrum yang luas dimana dapat melebihi batas-batas peran departemen pemerintah yang lain).
Dapat disimpulkan bahwa, penggunaan kekuatan angkatan laut untuk keperluan diplomasi tidak hanya untuk kepentingan perang, namun dapat berpotensi mendapatkan hal-hal lain atau tujuan diplomasi suatu negara yang seharusnya
2 Joseph S. Nye, Jr. Soft Power – The Means to success in World politis. Public Affairs, New York, 2004.
3 Read Admiral Bob Davidson, Canadian Navy. Modern Naval Diplomacy –A Practitioner’s View di JOurnal of
dilaksanakan oleh departemen pemerintahan atau lembaga lainnya. Kesimpulan ini sesuai dengan apa yang dituliskan Geoffrey Till dalam bukunya Sea Power, yaitu angkatan laut memiliki rentang kemampuan yang luas sehingga mengharuskan mereka untuk melaksanakan peran-peran yang biasanya sulit dikerjakan oleh angkatan militer lain.4
Persuasive Maritime Diplomacy
Adapun Persuasive Maritime Diplomacy terletak di antara Cooperative dan Coercive Maritime Diplomacy. Dibanding cooperative, persuasive lebih memiliki sedikit keterlibatan dalam efek politis atau dengan kata lain pengaruh yang diberikan tidak secara langsung kepada negara yang dimaksud. Kemudian, dengan coercion, diplomasi ini bertujuan untuk tidak menakuti atau memaksa pihak lain dengan kekerasan. Persuasive maritime diplomacy ini adalah lebih untuk meningkatkan pengakuan sebagai sebuah kekuatan maritim atau kekuatan nasional, serta membangun dan meningkatkan gengsi atau nilai tawar di tingkat internasional. Diplomasi ini bukan untuk mempengaruhi suatu negara tertentu dan juga bukan untuk mengancam untuk menyerang negara yang merupakan potensi menjadi musuh. Namun, diplomasi ini untuk membujuk orang lain atau menimbulkan pengakuan negara lain bahwa angkatan laut negara tersebut ada dan efektif.
Diplomasi maritim persuasif ini juga bisa disebut dengan diplomasi “showing the flag” yaitu diplomasi yang menggunakan kapal perang dengan menunjukkan kehadiran dan kekuatan suatu negara tanpa perlu mencari atau mempengaruhi kebijakan negara lain. Contoh yang sangat jelas adalah pada saat Presiden US, Theodore Roosevelt, memerintahkan dua skuadron battleships dan kapal perang pengawal mereka untuk di cat putih dan melaksanakan pelayaran keliling dunia mulai Desember 1907 sampai dengan Februari 1909. Operasi ini disebut Great White Fleet yang bertujuan utama bahwa pemerintah US ingin menunjukkan rasa cinta damai dan Amerika mampu menjangkau seluruh dunia.
Sebetulnya, pelayaran Great White Fleet juga merupakan co-operative maritime diplomacy sebagai kombinasi, dengan tujuan tambahan yaitu untuk memperkuat persekutuan/ aliansi dan membangun pengaruh US di dunia. Pelayaran ini merupakan keinginan untuk menunjukkan bahwa Amerika adalah salah satu negara terkuat di dunia, terutama setelah memenangkan pertempuran dalam Spanish-American War tahun 1898 dan berhasil merebut Guam, Filipina dan Porto Rico. Roosevelt hanya ingin menunjukkan bahwa Amerika adalah kekuatan global baru. Roosevelt memberikan misi bukan untuk melaksanakan invasi atau menanggulangi agresi yang terjadi atau keinginan untuk berkonfrontasi dengan negara lain, namun dengan semboyan “Speak softly and carry a big stick” dalam diplomasinya.
Namun, diplomasi ini jarang dilaksanakan oleh negara-negara maritim dengan alasan misi yang cenderung tidak jelas dan memerlukan anggaran yang besar. Sangat sulit menentukan keseimbangan antara anggaran dalam menggerakkan gugus tugas dengan pencapaian tujuan yang diinginkan. Sehingga, persuasive maritime diplomacy sering dilaksanakan kombinasi dengan diplomasi lain, karena efek diplomatis yang timbul sulit diukur keberhasilannya.
Dapat disimpulkan bahwa diplomasi persuasif ini mempunyai kegunaan untuk menanamkan keyakinan akan kehadiran kekuatan maritim terhadap negara lain, tanpa berusaha untuk mempengaruhi kebijakan politis suatu negara. Kesulitan dalam menyeimbangkan penggunaan anggaran operasi diplomasi ini dengan tujuan akhir yang diharapkan menyebabkan jenis diplomasi ini jarang digunakan di banding dua cara diplomasi maritim lainnya.
Coercive Maritime Diplomacy (Contemporary Gunboat Diplomacy)
Bentuk terakhir dari diplomasi maritim adalah coercive maritime diplomacy. Diplomasi ini merupakan bentuk kontemporer gunboat diplomacy yaitu mengejar tujuan melalui diplomasi dengan menggunakan kekuatan angkatan laut. Namun seiring dengan berkembangnya teknologi dan peralatan tempur angkatan laut, definisi dari gunboat diplomacy menjadi tidak jelas, karena penggunaan alut sista yang berbeda. Namun secara prinsip, diplomasi jenis ini tetap dilaksanakan walaupun karakternya yang berbeda.
Kejadian yang dapat menjelaskan definisi coercive maritime diplomacy adalah diplomasi Amerika, Inggris, Rusia, dan Prancis dalam membuka jalur perdagangan ke Jepang. Pada tahun 1853, gugus tempur kapal US terdiri dari empat kapal perang, dipimpin oleh Komodor Matthew C. Perry, berlayar menuju Edo (sekarang Tokyo) mempunyai tujuan tidak hanya untuk menunjukkan kebangkitan kekuatan Imperial Amerika, namun juga untuk membuka sistem perdagangan global. Diplomasi ini berhasil memaksa Jepang memberikan dua pelabuhan besarnya, Shimoda dan Hakodate melalui Konvensi Kanagawa sebagai pelabuhan perdagangan dengan Amerika. Keberhasilan Amerika ini kemudian diikuti oleh negara lain dengan mengirimkan kekuatan angkatan lautnya ke Jepang yaitu Inggris pada tahun 1854, Rusia pada tahun 1855, dan Prancis pada tahun 1858, yang juga berhasil mendapatkan akses perdagangan global dan internasional dengan Jepang sebagai pelabuhan utama.
Keefektifan diplomasi ini kemudian diadopsi oleh Jepang pada tahun 1876, dengan menggunakan pengiriman gunboat Unyo ke Pulau Ganghwa, Korea, dan menyerang dua pelabuhan Korea. Serangan ini menghasilkan diberlakukannya Treaty of Ganghwa, dimana Korea memberikan Busan, Inchon dan Wusan kepada Jepang untuk digunakan warga negara Jepang untuk tinggal dan berdagang. Contoh yang bisa dilihat saat ini adalah pada Januari 1968, Korea Utara melaksanakan gunboat diplomacy terhadap US dengan menangkap USS Pueblo, kapal pengumpul intelijen maritim. Tujuannya adalah untuk menunjukkan kekuatan Korut sebenarnya melalui propaganda tersebut dan untuk menangkal misi operasi intelijen Amerika.
Berbagai contoh di atas menunjukkan berbagai macam taktik dan tujuan dengan keberhasilan yang berbeda-beda. Sehingga sangat sulit dalam mendefinisikan gunboat diplomacy secara jelas. Seorang ahli teori diplomasi bernama James Cable menjelaskan bahwa “gunboat diplomacy is the use or threat of limited naval force, otherwise as an act of war, in order to secure advantage or to avert los, either in the furtherance of an international dispute or else against foreign nationals within the territory or the jurisdiction of their own state.”5 (Gunboat Diplomacy adalah
5 James Cable, Gunboat Diplomacy 1919-1979, Political Applications of Limited Naval Force. Palgrave
penggunaan ancaman dengan menggunakan kekuatan angkatan laut, dalam aksi peperangan, untuk mengamankan keuntungan atau mencegah kekalahan, di dalam situasi perselisihan internasional atau dalam situasi bermusuhan dengan negara lain di dalam wilayah atau kedaulatan wilayah mereka sendiri).
Pertama, definisi Cable ini menunjukkan bahwa gunboat diplomacy hanya bisa dilakukan oleh suatu negara yang memiliki angkatan laut. Namun dengan berkembangnya taktik dan strategi peperangan, misalkan dengan berkembangnya aktor bukan negara, seperti teroris, definisi ini menjadi tidak jelas. Munculnya kelompok teroris seperti Al Shabab di Somalia dan kelompok Abu Sayyaf di Filiphina, yang menggunakan kapal dalam aksi mereka, menunjukkan bahwa gunboat diplomacy bisa dilaksanakan bukan oleh angkatan laut suatu negara saja.
Kedua, Cable menyebutkan “naval force”, bukan “naval power”, sehingga diartikan penggunaan kekuatan angkatan laut secara terbatas. Definisi naval power adalah kemampuan untuk mengendalikan lingkungan maritim, sedangkan naval force berarti penggunaan kemampuan tersebut untuk mempengaruhi suatu kebijakan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa diplomasi ini adalah operasi di luar peperangan, berbeda dengan aksi yang dilakukan selama perang adalah operasi militer untuk mencapai tujuan militer atau tujuan politik. Sebagai contoh, tenggelamnya Belgrano pada tahun 1982 bukan termasuk dalam diplomasi. Walaupun tenggelamnya Belgrano dapat memberikan pesan politik, namun intensi HMS Conqueror menembak torpedonya adalah aksi dengan tujuan militer yaitu mencegah Belgrano dan kapal pengawalnya masuk ZEE Falklands (Malvinas) yang berpotensi mengancam kekuatan tugas Inggris. Sehingga jelas bahwa tujuan gunboat diplomacy tidak sama dengan tujuan militer saat perang, namun cenderung ke tujuan diplomatik saat damai. Perang akan di mulai saat diplomasi gagal. Gunboat diplomacy adalah sebuah usaha atau aksi penggunaan kekuatan angkatan laut untuk mengatur hubungan internasional tanpa mendeklarasikan perang.
Cable juga mendefinisikan gunboat diplomacy harus memenuhi salah satu atau dua syarat adanya diplomasi ini, yaitu kemampuan dan niat. Siapa pun aktor yang menunjukkan kemauan atau niat menggunakan kekuatan angkatan laut untuk kepentingan diplomasi adalah gunboat diplomacy. Contoh negara yang melaksanakan diplomasi hanya dengan hanya menunjukkan kemampuan adalah Cina. Tahun 2009, Cina menyelenggarakan parade angkatan laut yang ke-60, melibatkan 52 kapal perang, termasuk memperkenalkan kapal selam nuklir pertama Cina tipe 092. Tanpa menunjukkan ancaman namun pesan dan indikasi bisa disampaikan kepada Jepang dan Amerika bahwa angkatan laut Cina tidak dapat disepelekan. Di lain pihak, latihan Verayat 90 oleh AL Iran adalah contoh diplomasi yang menggunakan kemampuan dan niat mengancam, dengan menunjukkan kemampuan asimetris yang dimiliki.
Kesimpulan
angkatan laut, coastguard atau instansi maritim lainnya, merupakan agen suatu negara dalam berdiplomasi, sehingga peran diplomasi selalu melekat.