14 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Ketangguhan (Hardiness) 1. Pengertian Ketangguhan (Hardiness)
Konsep tentang ketangguhan (hardiness) pertama kali dikemukakan oleh Kobasa sebagai suatu proses penilaian kognitif yang terdiri atas tiga karakteristik: a) kontrol (control); b) komitmen (commitment); dan c) tantangan (challenge). Ketangguhan (hardiness) merupakan konstelasi kepribadian yang menjadikan individu lebih kuat, optimis, stabil dan tahan dalam menanggulangi efek negatif yang ditimbulkan oleh stresor (Kobasa, 1979). Ketangguhan (hardiness) merupakan karakteristik kepribadian yang berperan sebagai penyangga atau penahan dalam menghadapi peristiwa- peristiwa penuh stres dan memandangnya positif sebagai tantangan dan kesempatan untuk berkembang (Clarabella, Hardjono, & Setyanto, 2015).
Salah satu permasalahan dasar yang dihadapi oleh individu dari berbagai usia adalah stres. Individu memiliki respon yang berbeda satu sama lain dalam menghadapi berbagai stresor yang muncul di dalam kehidupan.
Stresor dapat menjadi baik atau buruk bagi individu (Sadaghiani, 2011).
Tekanan hidup yang semakin berat terkadang membuat individu ingin lari dari setiap permasalahan yang dihadapi (Sirait & Minauli, 2015). Individu hidup tidak terlepas dari stres, maka perlu kemampuan untuk mengelola stres dengan baik agar individu mampu mendapatkan kualitas hidup yang baik (Musradinur, 2016).
commit to user
Ketangguhan (hardiness) merupakan bagian dari karakteristik kepribadian yang menjadikan individu lebih kuat, tahan, stabil dan optimis dalam menghadapi masalah serta mengurangi efek negatif dari stres (Rahardjo, 2005). Hardiness merupakan sumber perlawanan disaat individu menemui suatu kejadian yang dapat menimbulkan stres dan memiliki beberapa kendali terhadap hidup dan memandang perubahan sebagai sebuah tantangan dan mempercayai kemampuan menggunakan tenaganya untuk hal yang kreatif dalam rangka menyelesaikan tugas-tugas yang diterimanya (Sirait
& Minauli, 2015). Hardiness mengurangi pengaruh kejadian yang menegangkan dengan meningkatkan penyesuaian diri individu menggunakan sumber sosial di lingkungannya untuk dijadikan tameng, motivasi dan dukungan (Nirwana, Putra, & Yusra, 2014).
Ketangguhan (hardiness) memiliki keterkaitan dengan tingkat stres, kelelahan emosi dan permasalahan kesehatan yang ada di dalam diri individu.
Ketangguhan (hardiness) diharapkan dapat mengarahkan individu dalam mengatasi tekanan, kelelahan emosi dan mengurangi masalah kesahatan dengan cara menggunakan sistem koping yang efektif (effective coping) dan menggunakan sumber daya tertentu baik dari luar maupun dalam diri individu (stress-buffering effect) (Servellen, Topf, & Leake, 1994).
Berdasarkan uraian definisi diatas, peneliti mengacu pada definisi ketangguhan (hardiness) yang dikemukakan oleh Kobasa (1979). Dengan demikian, ketangguhan (hardiness) merupakan konstelasi kepribadian yang menjadikan individu lebih kuat, optimis, stabil dan tahan dalam menanggulangi efek negatif yang ditimbulkan oleh stresor. commit to user
2. Aspek-aspek Ketangguhan (Hardiness)
Kobasa (1979) menjelaskan bahwa aspek ketangguhan (hardiness) dapat dibagi menjadi tiga, antara lain:
a. Komitmen (Commitment)
Komitmen mencakup keterlibatan individu dalam berbagai aktivitas yang harus dilakukan di dalam kehidupan sehari-hari seperti adanya kontak sosial dengan lingkungan sekitarnya.
Menurut Kobasa (dalam Schellenberg, 2005), individu yang berkomitmen tidak mudah menyerah di bawah situasi yang menekan dan keterlibatan mereka mengambil pendekatan aktif bukan pasif dan penghindaran.
b. Kontrol (Control)
Kontrol mencakup kecenderungan merasakan dan melakukan sesuatu dalam mengatasi ketidakpastian yang muncul di dalam kehidupan sehari-hari individu. Menurut Bigbee (1985), kontrol merupakan ukuran pada ketiadaan kekuatan diri yang dirasakan oleh individu dan dipercaya bahwa seseorang mampu mengontrol atau mempengaruhi peristiwa-peristiwa yang ada di dalam kehidupannya. Individu dengan kontrol yang kuat akan cenderung lebih optimis dan lebih berhasil dalam menghadapi permasalahan apabila dibandingkan dengan individu dengan kemampuan kontrol rendah.
commit to user
c. Tantangan (Challenge)
Tantangan mencakup kecenderungan memandang perubahan sebagai kesempatan untuk berkembang ke arah yang lebih baik dan bukan sebagai sesuatu yang mengancam kehidupan individu.
Peneliti menggunakan aspek-aspek ketangguhan (hardiness) dari Kobasa (1979) sebagai acuan dalam menentukan dimensi ketangguhan (hardiness). Adapun ketangguhan (hardiness) terdiri dari tiga aspek yaitu: (1) komitmen (commitment), (2) kontrol (control), (3) tantangan (challenge).
Peneliti menggunakan aspek tersebut sebagai acuan karena dipandang dapat menjelaskan aspek dari ketangguhan (hardiness) secara menyeluruh.
3. Faktor yang Mempengaruhi Ketangguhan (Hardiness)
Faktor yang mempengaruhi hardiness menurut Florian, Mikulincer dan Taubman (1995) adalah:
a. Kemampuan merencanakan sesuatu secara realistis
Kemampuan merencanakan sesuatu secara realistis dapat membantu individu ketika menemui permasalahan sehingga individu yang bersangkutan tahu langkah terbaik yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan masalah.
b. Rasa percaya diri dan citra diri yang positif
Rasa percaya diri dan citra diri positif menjadikan individu lebih santai dan optimis serta terhindar dari stres.
c. Keterampilan komunikasi dan kapasitas untuk mengelola perasaan dengan baik commit to user
Dengan demikian, dalam penelitian ini peneliti mengacu pada faktor- faktor yang mempengaruhi ketangguhan (hardiness) menurut Florian, Mikulincer dan Taubman (1995). Faktor-faktor tersebut adalah: 1) kemampuan merencanakan sesuatu secara realistis; 2) rasa percaya diri dan citra diri positif; 3) keterampilan komunikasi dan kapasitas untuk mengelola perasaan.
4. Karakteristik Individu yang Memiliki Kepribadian Tangguh (Hardy Individual)
Kobasa (dalam Kreitner & Kinicki, 2005) mengidentifikasi sekumpulan ciri kepribadian yang menetralkan stres yang berkaitan dengan pekerjaan. Kumpulan ciri ini dikatakan sebagai ketangguhan (hardiness) melibatkan kemampuan untuk secara sudut pandang atau perilaku mengubah bentuk stresor negatif menjadi tantangan yang positif. Ketangguhan adalah ciri individu yang memiliki beberapa kendali terhadap hidup, memandang perubahan sebagai tantangan dan mempercayai kemampuan menggunakan tenaganya untuk hal yang kreatif dalam rangka menyelesaikan permasalahan di dalam hidup (Sirait & Minauli, 2015). Ketangguhan merupakan cerminan kekuatan seseorang dalam menghadapi stres. Seseorang yang memiliki kepribadian tangguh cenderung memiliki penyesuaian diri yang positif dan adaptif (Mahmudah, 2009).
Individu dengan tingkat ketangguhan (hardiness) yang tinggi akan cenderung lebih mampu melawan stres. Individu yang memiliki kepribadian hardiness akan cenderung memiliki kemampuan dalam melawan stres dan percaya bahwa individu berkepribadian hardiness dapat mengontrol dan commit to user
mempengaruhi kejadian-kejadian dalam hidupnya (Schultz & Schultz, 2002).
Individu dengan kepribadian hardiness akan berkomitmen secara mendalam terhadap pekerjaan yang mereka senangi dan memandang suatu perubahan sebagai suatu tantangan yang positif atau kesempatan untuk menuju kearah yang lebih baik (Olivia, 2014).
Sebaliknya, individu dengan tingkat ketangguhan (hardiness) yang rendah maka akan cenderung tidak yakin dengan kemampuannya dalam mengendalikan stres dan tidak berdaya sehingga menyebabkan kurangnya harapan, membatasi usaha dan mudah menyerah ketika sedang berada di dalam situasi yang menekan dan pada akhirnya menyebabkan kegagalan dalam menyelesaikan permasalahan di dalam kehidupan (Florian, Mikulincer,
& Taubman, 1995). Rendahnya tingkat ketangguhan (low hardiness level) menyebabkan individu lebih memilih untuk mundur dalam menghadapi masalah dikarenakan pada umumnya individu tersebut merasa teralienasi dari aktivitas, tidak berdaya dalam menghadapi tekanan yang datang dari luar diri dan berpikir bahwa perubahan yang terjadi dalam kehidupan bukanlah suatu tantangan melainkan suatu ancaman yang dapat membahayakan kehidupan individu tersebut (Maddi, 1999).
Peran kepribadian tangguh (hardy personality) adalah mempengaruhi perilaku dan kognisi individu dalam mengerjakan tugas atau pekerjaan tertentu, termasuk pola perilaku dan usaha individu ketika menghadapi kesulitan dalam menyelesaikan tugas sehingga mampu mencapai hasil yang diinginkan (Mahmudah, 2009). Individu yang tangguh (hardy individual) memiliki tingkat kepuasan yang tinggi terhadap pekerjaan (high level of job commit to user
satisfaction) dan merasa memiliki sedikit tekanan dalam pekerjaan apabila dibandingkan dengan individu yang memiliki tingkat ketangguhan (hardiness level) yang rendah. Individu yang tangguh (hardy individual) memiliki sedikit keluhan terkait somatis, tidak mudah tertekan dan tidak mudah cemas apabila dibandingkan dengan individu dengan tingkat ketangguhan yang rendah (Manning, Williams, & Wolfe, 1988).
5. Fungsi Ketangguhan (Hardiness)
Fungsi dari ketangguhan (hardiness) menurut Kreitner dan Kinicki (2005) antara lain:
a. Membantu individu menyesuaikan diri serta menumbuhkan rasa toleransi terhadap tekanan yang muncul di kehidupan sehari-hari.
b. Mengurangi dampak negatif yang disebabkan oleh tekanan hidup yang memungkinkan terjadi burn out dan penilaian negatif terhadap kejadian yang mengancam dan meningkatkan pengharapan untuk melakukan coping supaya berhasil dalam menyelesaikan permasalahan hidup
c. Menumbuhkan pandangan positif terhadap setiap permasalahan hidup sehingga individu menjadi tidak mudah tertekan dalam menghadapi permasalahan.
d. Membantu individu untuk mengambil keputusan secara baik dalam keadaan tertekan.
Dari beberapa penjelasan terkait fungsi ketangguhan (hardiness), dapat disimpulkan bahwa ketangguhan (hardiness) menurut Kreitner dan Kinicki (2005) berfungsi untuk mengurangi pengaruh negatif dari tekanan commit to user
hidup dan menumbuhkan pandangan positif individu dalam memandang suatu peristiwa sehingga mampu untuk memutuskan pemecahan masalah yang baik dan memberikan harapan hidup yang lebih baik pada individu.
7. Proses Menjadi Individu yang Tangguh (Hardy Individual)
Ketangguhan (hardiness) diyakini mampu mengubah tekanan menjadi sebuah kesempatan untuk tumbuh dan berkembang, yang kemudian mengarahkan kepada peningkatan performa serta kesehatan mental dan fisik (Maddi, 2006). Proses tersebut dijelaskan dalam gambar berikut.
Gambar 2. Proses Menjadi Individu yang Tangguh (Hardy Individual) (Maddi & Kobasa, 1984)
Inherited Vulnerabilities Your Weakest Genetic Link
Tekanan Perubahan yang
mengganggu dan konflik yang kronis
Ketegangan Gairah Fisik
dan Mental
Kinerja dan Kesehatan Peningkatan atau
pemeliharaan
Sikap Tangguh (Hardy Attitudes) Komitmen,
kontrol dan tantangan
Hardy Coping Mental: perspektif
dan pemahaman Perilaku: Mengambil
tindakan
Hardy Health Practices Latihan fisik,
Relaksasi, Diet, Pengobatan
Hardy Social Support Bantuan dan
dorongan
commit to user
Diagram tersebut menjelaskan bahwa, stres akut dan tekanan kronis yang muncul dalam kehidupan dan sifatnya tidak teratasi memiliki dampak meningkatkan ketegangan fisik dan mental. Apabila ketegangan fisik dan mental sudah terlalu tinggi dan menetap dalam jangka waktu yang lama, maka akan mengakibatkan penurunan sumber daya kekuatan fisik dan psikologis yang kemudian berdampak pada penurunan kinerja dan kesehatan yang ada pada diri individu. Namun, kinerja dan kesehatan pada individu dapat mengalami peningkatan kembali apabila individu memiliki sikap tangguh (hardy attitudes) yang kuat. Untuk meningkatkan sifat tangguh, Maddi (2013) mengatakan bahwa individu perlu untuk melalui sebuah proses. Berikut merupakan penjelasan dari proses untuk menjadi individu yang tangguh.
a. Hardy attitudes (Sikap tangguh)
Sikap tangguh merupakan sebuah kombinasi antara kognitif dan emosional pada diri individu yang tersusun atas tiga sikap (3C), yaitu komitmen (commitment), kontrol (control) dan tantangan (challenge).
Individu perlu menumbuhkan terlebih dahulu ketiga sikap tangguh (3C) tersebut, tidak cukup hanya salah satu sikap saja untuk dapat bertahan menghadapi tekanan dalam hidup.
Individu yang memiliki sikap komitmen yang tinggi akan merasakan pentingnya untuk tetap terlibat dalam peristiwa dan individu yang ada di sekitarnya, tidak peduli seberapa tertekan dirinya. Sedangkan individu yang kurang memiliki sikap komitmen akan menarik dan mengisolasi diri dari lingkungan sekitarnya. Individu yang memiliki commit to user
kontrol dalam dirinya akan mampu memberikan pengaruh terhadap sekitar. Sebaliknya, individu yang kurang mampu mengontrol diri akan merasa tidak berdaya dan cenderung bersifat pasif terhadap lingkungan sekitarnya. Individu yang memiliki sikap menyukai tantangan akan melihat tekanan dalam hidup sebagai kesempatan untuk dapat mengembangkan dirinya kearah yang lebih baik. Sedangkan individu yang kurang menyukai tantangan akan cenderung berada pada zona nyaman.
Sikap tangguh ini merupakan keberanian dan motivasi yang diperlukan untuk melakukan kerja keras dalam mengubah keadaan yang penuh tekanan menjadi sebuah peluang untuk pertumbuhan dan perkembangan diri.
b. Hardy social support
Sikap tangguh mengarahkan individu untuk mampu berinteraksi dalam lingkungan sosial yang kemudian dapat membangun dukungan sosial untuk dapat menumbuhkan semangat dalam dirinya, melakukan penyesuaian diri dengan masyarakat sekitar, memiliki empati dan simpati yang tinggi terhadap situasi menekan yang dihadapi oleh individu lain.
c. Hardy coping
Sikap tangguh mampu mengarahkan individu kepada transformational coping yaitu usaha untuk menghadapi dan menyelesaikan permasalahan yang muncul dalam kehidupan dan memandang tekanan menjadi sebuah kesempatan untuk mengembangkan kualitas diri serta menjauhkan individu untuk menggunakan avoidance coping, dimana individu akan cenderung untuk menjauh dari masalah yang commit to user
dihadapi dalam kehidupannya (Maddi, 2013; Maddi & Hightower, 1999).
Untuk menumbuhkan hardy coping, terdapat tahapan-tahapan yang harus dilalui. Tahapan tersebut menurut Maddi (2013) adalah:
1) Rekonstruksi keadaan (Situational reconstruction)
Dalam tahapan ini, individu mencoba untuk membayangkan bagaimana kemungkinan terburuk yang ditimbulkan oleh stresor dan kemudian membayangkan yang sebaliknya, apa kemungkinan terbaik yang dapat diambil dengan adanya tekanan dari sekitar.
2) Fokus (Focusing)
Setelah melalui tahapan rekonstruksi keadaan (situational reconstruction), individu mencoba untuk menyadari kondisi emosional yang sebenarnya, mencoba melampaui batas diri dan kemudian mencoba untuk membuat rencana tindakan. Individu mencoba untuk memahami dan mengarahkan perhatian pada pesan yang dikirim dari dalam tubuh seperti detak jantung yang cepat, sakit leher dan bahu, ketegangan otot, dan lain-lain. Dalam tahapan ini, individu mencoba untuk mencari tahu bagaimana emosi dapat mempengaruhi usaha penyelesaian masalah.
3) Kompensasi perbaikan diri (Compensatory self-improvement) Perbaikan diri memberikan sebuah tantangan bagi individu untuk mengidentifikasi tindakan yang dapat kita lakukan di masa sekarang yang akan membantu individu untuk menemukan arah baru, meningkatkan bakat, kemampuan sumber daya atau commit to user
kepribadian yang kemudian dapat mengurangi tingkat tekanan yang diakibatkan oleh munculnya perubahan di dalam kehidupan.
Dalam tahapan ini, individu diharapkan dapat meneruskan usahanya untuk menyelesaiakan masalah. Individu diharapkan tidak hanya berhenti pada satu cara penyelesaian masalah saja, namun diharapkan tetap mencoba untuk mencari berbagai cara hingga permasalahan yang ada di dalam kehidupannya mampu terselesaikan.
d. Hardy health practices
Sikap tangguh dapat mengarahkan individu untuk dapat merawat dirinya seperti melakukan aktivitas olahraga, mencari asupan nutrisi yang baik dan melakukan relaksasi tubuh. Perawatan diri mampu menjaga rangsangan tubuh pada tingkat optimal sehingga individu akan mempunyai cukup kekuatan untuk bekerja keras dalam mengatasi permasalahan.
Setelah melalui proses tersebut, kinerja yang ada pada diri individu akan meningkat. Individu akan mampu melaksanakan tugas-tugas yang sulit, mengambil peran kepemimpinan, menjadi kreatif, meningkatkan kesadaran dan kebijaksanaan serta tidak melakukan pelanggaran terhadap peraturan. Proses tersebut juga mengarahkan kepada peningkatkan vitalitas tubuh dan antusiasme serta mengurangi kemungkinan terjadinya gangguan fisik dan mental.
B. Perkembangan Masa Dewasa commit to user
Individu memiliki tugas perkembangan dalam setiap periode pertumbuhan dari masa kanak-kanak hingga dewasa. Pada masa dewasa individu mengeksplorasi jalur karir yang ingin mereka ambil, perubahan gaya hidup dan pencarian pasangan hidup (Santrock, 2011). Masa dewasa menurut Papalia, Olds dan Feldman (2009) dibagi menjadi tiga, yaitu dewasa awal dimulai sejak usia 20-40 tahun, dewasa tengah dimulai pada usia 40-65 tahun dan dewasa tua dimulai pada usia 65 tahun keatas.
Masa dewasa awal merupakan transisi baik secara fisik, intelektual dan peran sosial. Individu dikatakan menjadi dewasa apabila berani menerima tanggung jawab atau akibat dari tindakan sendiri dan menentukan nilai dan keyakinan sendiri. Masa dewasa awal merupakan masa untuk bekerja dan menjalin hubungan dengan lawan jenis. Pada masa ini, penentuan relasi sangat memegang peranan penting. Dewasa awal merupakan masa permulaan dimana seseorang mulai menjalin hubungan secara intim dengan lawan jenisnya. Dua kriteria yang diajukan untuk menunjukkan akhir masa muda dan permulaan dari masa dewasa awal adalah kemandirian ekonomi dan kemandirian dalam membuat keputusan (Santrock, 2011).
Masa dewasa awal bagi seorang wanita juga disebut sebagai masa pengaturan (settle down), yaitu dalam proses kehidupannya individu dituntut untuk dapat memilih atau menyeimbangkan antara karier dengan hidup berkeluarga. Tugas perkembangan yang harus dipenuhi pada masa dewasa awal antara lain: 1) mulai bekerja; 2) memilih pasangan; 3) mulai membina keluarga; 4) mengasuh anak; 5) mengelola rumah tangga; 6) mengambil tanggung jawab sebagai warga negara; 7) mencari kelompok sosial yang commit to user
menyenangkan. Ada konsekuensi yang serius apabila individu gagal dalam memenuhi tugas tersebut, salah satunya adalah munculnya berbagai pertimbangan sosial yang kurang menyenangkan yang tidak dapat dihindari oleh individu yang bersangkutan (Hurlock, 2009).
Tahapan perkembangan selanjutnya adalah masa dewasa madya.
Masa dewasa madya memiliki banyak ciri-ciri dan tidak sama pada pengalaman setiap individu. Masa dewasa madya merupakan tahun utama dalam rentang kehidupan masa dewasa, namun juga memiliki banyak variasi.
Di usia 40 tahun, beberapa individu telah menjadi orang tua untuk pertama kalinya, sementara individu yang lainnya ada yang sudah memiliki cucu. Pada usia 50 tahun, beberapa individu baru memulai karirnya yang baru, sementara ada beberapa individu yang telah memasuki pensiun (Papalia, Olds, &
Feldman, 2009). Individu pada usia dewasa madya akan mengalami masa jenuh dengan kegiatan rutin sehari-hari dan kehidupan bersama keluarga yang memberikan sedikit hiburan. Kejenuhan tidak akan mendatangkan kebahagian ataupun kepuasan ataupun kepuasan pada usia manapun. Akibatnya, usia dewasa madya merupakan masa yang paling tidak menyenangkan di dalam hidup (Hurlock, 1980). Tugas-tugas perkembangan pada masa dewasa madya menurut Havighurst (dalam Hurlock, 1980) antara lain:
1. Tugas yang berkaitan dengan perubahan fisik
Tugas ini meliputi untuk mau melakukan penerimaan dan penyesuaian dengan perubahan yang terjadi pada fisik individu usia madya.
2. Tugas yang berkaitan dengan perubahan minat commit to user
Individu yang berusia dewasa madya seringkali mengasumsikan tanggung jawab warga negara dan sosial, serta mengembangkan minat pada waktu luang yang berorientasi pada kedewasaan, pada tempat kegiatan yang berorientasi pada keluarga yang biasa dilakukan pada masa dewasa dini.
3. Tugas yang berkaitan dengan penyesuaian kejujuran
Tugas ini meliputi pemantapan dan pemeliharaan standar hidup yang relatif mapan.
4. Tugas yang berkaitan dengan kehidupan keluarga
Tugas yang penting dalam kategori ini meliputi hal-hal yang berkaitan dengan seseorang sebagai pasangan, menyesuaikan diri dengan orang tua lanjut usia dan membantu anak remaja untuk menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan bahagia.
Tahapan perkembangan masa dewasa selanjutnya adalah masa dewasa akhir atau lansia. Usia dewasa akhir merupakan penutup dalam rentang kehidupan seseorang (Hurlock, 1980). Dewasa ini, ilmuwan sosial yang memiliki spesialisasi dalam mempelajari penuaan membagi tiga kelompok lansia (Papalia, Olds, & Feldman, 2009):
1. Lansia muda
Lansia muda merupakan individu yang berada pada rentang usia 65 hingga 74 tahun yang biasanya masih aktif, sehat dan kuat.
2. Lansia tua
Lansia tua merupakan individu yang berada pada rentang usia 75 hingga 84 tahun commit to user
3. Lansia tertua
Lansia tertua merupakan individu yang berada pada rentang usia 85 tahun keatas, lebih mungkin untuk rapuh dan renta serta mengalami kesulitan untuk mengatur kehidupan sehari-hari
Tugas-tugas perkembangan tersebut pada dasarnya dapat dipenuhi oleh individu. Tetapi, keterbatasan atau disabilitas fisik membuat individu menjadi terhalang dalam memenuhi sebagian atau secara penuh tugas-tugas perkembangan tersebut (Hurlock, 1980)
C. Wanita Penyandang Disabilitas
Penyandang disabilitas menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas adalah setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental dan/atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dapat mengalami hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga Negara lainnya berdasarkan kesamaan hak. Dermatoto (dalam Tauda, Soedwiwahjono dan Putri, 2017) mengklasifikasikan tiga jenis disabilitas, yaitu: 1) disabilitas fisik seperti tuna rungu, tuna daksa, tuna netra dan tuna wicara; 2) disabilitas mental seperti gangguan tingkah laku atau tunagrahita; 3) disabilitas fisik dan mental dimana penyandangnya memiliki lebih dari satu jenis disabilitas. commit to user
Sebagai negara hukum yang berlandaskan pada Pancasila dan UUD 1945, Indonesia menjamin setiap warga negara, baik laki-laki maupun wanita mempunyai hak dan kedudukan yang sama, berhak untuk hidup, mempertahankan hidup dan kehidupannya, serta berhak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya secara kolektif untuk pembangunan masyarakat, bangsa dan negara. Hak tersebut dimiliki oleh setiap warga negara tak terkecuali para penyandang disabilitas (Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia [Kemenpppa RI], 2016)
Diperkirakan satu dari lima wanita hidup dengan disabilitas dan prevalensi disabilitas sebenarnya lebih tinggi wanita jika dibandingkan dengan pria (19,2% banding 12%). Faktor yang berkontribusi termasuk status ekonomi dan sosial wanita, kekerasan gender dan praktek-praktek yang berkaitan dengan diskriminasi gender (United Nation Women [UN Women], 2015). Berbagai macam perlakuan diskriminatif di tempat umum masih banyak ditujukan kepada penyandang disabilitas terutama yang berjenis kelamin wanita. Hal tersebut salah satunya ditunjukkan dengan tidak adanya fasilitas umum yang representatif, kurangnya kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi, kurangnya fasilitas kesehatan dan sedikitnya lapangan kerja yang tersedia bagi wanita penyandang disabilitas (Rahakbauw
& Salakory, 2018).
Stereotip yang masih diyakini oleh masyarakat umum hingga saat ini adalah wanita merupakan makhluk yang emosional dan labil secara psikologis dan hal tersebut kemudian memojokkan dan merugikan kaum wanita apabila commit to user
dibandingkan dengan kaum laki-laki sehingga menghambat kaum wanita untuk dapat berdiri sejajar dan berkompetisi dalam bebagai bidang dengan dengan kaum laki-laki (Herdiansyah, 2016). Hal tersebut tidak luput dialami oleh wanita penyandang disabilitas. Berbagai bentuk diskriminasi, kekerasan yang berlapis juga dirasakan oleh kaum wanita penyandang disabilitas.
Diskriminasi tersebut bukan semata-mata karena identitas gendernya sebagai wanita, namun juga karena wanita tersebut mengalami disabilitas (Haryono, Kinasih, & Mas'udah, 2013).
Wanita dengan disabilitas mengalami penderitaan berlapis karena kelompok tersebut harus menghadapi banyak proses penyesuaian terhadap peristiwa yang dialami karena kemampuan tubuhnya tidak seperti dahulu lagi dan gambaran negatif yang diberikan masyarakat bahwa Wanita disabilitas tidak berdaya, sangat ketergantungan dengan individu lain, lemah, rentan dan tidak mampu melakukan tugas. Banyak yang menderita depresi dan trauma psikologis yang sulit untuk dilupakan (Thomson, 2002; Itriyati & Asriani, 2012)
Wanita dengan disabilitas juga harus rela ditinggalkan pasangan karena stigma ketidakmampuan diri untuk melakukan aktivitas seksual dan kemudian pasangan dari Wanita disabilitas tidak bertanggung jawab dalam menghidupi keluarga yang ditinggalkannya. Sementara hal tersebut sulit bagi Wanita disabilitas untuk bekerja diluar dalam rangka menghidupi kebutuhan diri dan kebutuhan keluarganya. Wanita disabilitas membutuhkan banyak bantuan dari lingkungan sekitar dan banyak membutuhkan bantuan finansial
commit to user
dalam memenuhi mobilitas dalam rangka menghidupi diri sendiri dan juga keluarganya (Itriyati & Asriani, 2012).
D. Penyandang Disabilitas Dalam Sektor Pekerjaan
Bekerja merupakan kebutuhan dasar bagi pada penyandang disabilitas (Purwanta, Hermanto, Sukinah, & Harahap, 2016). Makna bekerja bagi penyandang disabilitas menurut Rokhim dan Handoyo (2015) adalah: 1) eksistensi bagi diri; 2) usaha dalam rangka mengumpulkan modal; 3) penyesuaian diri terhadap lingkungan sosial; 4) penghasilan tambahan untuk keluarga dan 5) sumber pendapatan utama bagi keluarga.
Rendahnya persentase penyandang disabilitas yang tidak masuk ke pasar kerja disebabkan karena mayoritas penyandang disabilitas tidak cukup memiliki semangat untuk masuk ke pasar kerja (discourage worker), ditandai dengan tingginya tingkat inaktivitas. Tingkat inaktivitas penyandang disabilitas berada pada angka 20,49%, yang berarti lebih tinggi apabila dibandingkan dengan non-penyandang disabilitas yang hanya berada pada angka 1,73%, dan jauh lebih tinggi pada penyandang disabilitas berat yang berada pada angka 57,47% (LPEM UI, 2016).
Individu penyandang disabilitas perlu usaha lebih keras untuk melakukan kegiatan sehari-hari apabila dibandingkan dengan individu normal karena tidak bekerjanya salah satu bagian anggota tubuh pada individu penyandang disabilitas (Nirwana, et.al., 2014). Penyandang disabilitas yang memiliki karakter ketergantungan dengan individu lain adalah tunanetra dan commit to user
tunadaksa. Kedua jenis disabilitas ini menyebabkan individu yang menyandang mengalami kesulitan untuk melakukan mobilitas dengan mandiri apabila dibandingkan dengan jenis disabilitas yang lain. Kesulitan dalam melakukan mobilitas ini dikarenakan terdapat ketidaksempurnaan fungsi penglihatan pada tunanetra dan fungsi salah satu organ tubuh pada tunadaksa (Smart, 2012).
Disabilitas nampaknya merupakan sebuah beban bagi penyandangnya untuk dapat bersaing dalam memasuki pasar tenaga kerja. Penyandang disabilitas dengan kesulitan pendengaran atau wicara dan cedera tangan cenderung lebih mungkin mendapatkan pekerjaan apabila dibandingkan dengan penyandang disabilitas yang memiliki masalah mobilitas dan disabilitas ganda (memiliki lebih dari satu jenis disabilitas) (LPEM UI, 2016).
Ketika memasuki dunia kerja individu dengan penyandang disabilitas akan mengalami permasalahan yang berkaitan dengan penyesuaian diri, dimana sebelumnya individu penyandang disabilitas berada di Balai Rehabilitasi bersama para penyandang disabilitas yang lain, kemudian secara tiba-tiba harus berhadapan dengan individu non-disabilitas. Kondisi tersebut mendorong penyandang disabilitas untuk menyesuaikan diri supaya kebutuhan penyandang disabilitas mendapatkan keterampilan kerja sebanding dengan penerimaan sosial di tempat bekerja sehingga memungkinkan untuk mendapatkan hasil yang diharapkan (Sayyidah, 2015).
Pemahaman yang salah terhadap tenaga kerja penyandang disabilitas dapat diatasi dengan upaya pemberian pemahaman yang tepat pada perusahaan dan karyawan tentang disabilitas agar menumbuhkan sense of commit to user
disability di lingkungan kerja. Seluruh pihak harus mampu menyadari bahwa penyandang disabilitas merupakan bagian dari keberagaman (diversity) manusia dan memiliki hak asasi, sama halnya dengan perbedaan jenis kelamin, warna kulit, suku, bangsa, ras dan agama (Poerwanti, 2017).
E. Tunanetra 1. Pengertian Tunanetra
Tunanetra adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi individu yang memiliki gangguan atau hambatan fungsi indera penglihatan dan diklasifikasikan menjadi dua golongan yaitu buta total (totally blind) dan penglihatan lemah (low vision) (Mambela, 2018; Sholeh, 2015).
Individu dinyatakan sebagai tunanetra apabila setelah dilakukan usaha perbaikan pada fungsi indera penglihatan ternyata ketajaman penglihatannya tidak melebihi 20/200 atau luas pandangnya tidak melebihi 20 derajat (Hallahan, Kauffman, & Pullen, 2009). Diperkirakan terdapat 253 juta individu yang hidup dengan gangguan penglihatan. Dari total jumlah tersebut, 36 juta individu diantaranya mengalami buta total dan 217 juta individu lainnya mengalami gangguan penelihatan dalam tingkatan sedang hingga berat (WHO, 2017).
Sholeh (2015) mengemukakan bahwa individu yang mengalami gangguan penglihatan dapat diketahui dengan kondisi sebagai berikut: 1) kurangnya ketajaman penglihatan apabila dibandingkan dengan individu yang memiliki penglihatan normal; 2) lensa mata dalam kondisi keruh atau ditemukan cairan tertentu; 3) posisi mata yang sulit untuk dikendalikan oleh
commit to user
saraf otak dan 4) ditemukan kerusakan pada susunan saraf otak yang berkaitan dengan pengaturan fungsi penglihatan.
Ketajaman penglihatan dapat diukur dengan Snellen Chart yang terdiri dari berbagai ukuran huruf dengan indeks penglihatan. Apabila indeks angka pada Snellen Chart menunjukkan angka 20/200, maka dapat dikatakan bahwa individu tersebut mampu melihat huruf dari jarak 20 kaki, sementara individu yang memiliki penglihatan normal mampu membaca huruf tersebut dari jarak 200 kaki. Medan penglihatan merujuk pada luasnya daerah yang dapat kita lihat pada saat tertentu yang dinyatakan dalam satuan derajat (Hallahan, dkk., 2006; Mangunsong, 2009).
Dari penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa tunanetra adalah individu yang fungsi penglihatannya mengalami hambatan penglihatan baik yang fungsinya lemah (low vision) atau buta secara total (totally blind) dan tidak berfungsi secara semestinya seperti individu yang memiliki penglihatan normal sehingga menyebabkan permasalahan terkait produktivitas, memperoleh pasangan hidup, pengasingan dalam lingkungannya serta hidup selalu bergantung pada individu lain.
2. Klasifikasi Jenis Tunanetra
Tunanetra mengalami sebuah hambatan penglihatan yang dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis (Sholeh, 2015; Somantri, 2006;
Oklahoma State Department of Education, 2017). Klasifikasi tersebut meliputi:
a. Penglihatan lemah (low vision) commit to user
Low vision merupakan ketidakmampuan individu dalam membaca dengan jarak pandang normal dan tidak dapat dibantu dengan kacamata atau lensa kontak. Individu yang memiliki penglihatan lemah hanya mampu membaca headline pada surat kabar. Ciri-ciri umum individu yang memiliki penglihatan lemah (low vision) adalah sebagai berikut (Persatuan Tunanetra Indonesia [Pertuni], 2013):
1) Menulis dan membaca dalam jarak dekat 2) Hanya dapat membaca huruf berukuran besar
3) Memicingkan mata atau mengerutkan dahi ketika melihat di bawah cahaya yang terang
4) Terlihat tidak menatap lurus ke depan ketika memandang suatu objek
5) Kondisi fisik mata tampak lain apabila dibandingkan dengan individu yang memiliki mata normal seperti berkabut atau berwarna putih
b. Buta secara keseluruhan (totally blind)
Menurut Hallahan dan Mangunsong (dalam Brebahama &
Listyandini, 2016), individu yang dinyatakan buta secara keseluruhan (totally blind) apabila ketajaman penglihatannya kurang dari jarak 20 kaki, ataupun luas area penglihatannya kurang dari 20 derajat.
Selain itu, tunanetra juga dapat dikategorikan berdasarkan waktu terjadinya, yaitu: 1) tunanetra yang terjadi sejak lahir dan 2) terjadi setelah commit to user
lahir. Sedangkan berdasarkan kemampuan daya penglihatan tunanetra dapat dikategorisasikan menjadi: 1) tunanetra ringan; 2) tunanetra agak berat dan 3) tunanetra berat (Mambela, 2018).
3. Penyebab Terjadinya Tunanetra
Menurut survei yang dilakukan oleh WHO (2017), penyebab terbesar terjadinya gangguan penglihatan dan kebutaan di berbagai negara adalah katarak (47,9%). Penyebab lainnya adalah glukoma (12,3%), degenerasi macula karena usia (8,7%), kekeruhan kornea (5,1%), retinopati diabetik (4,8%), kebutaan masa kecil (3,9%), trakoma (3,6%) dan onchocerciasis (0,8%).
Tunanetra yang terjadi sejak lahir pada umumnya disebabkan karena masalah keturunan dan gangguan pertumbuhan sejak dalam kandungan.
Sementara tunanetra yang terjadi setelah lahir pada umumnya disebabkan karena kerusakan tatanan saraf mata pada waktu hamil dan kelahiran ibu menderita penyakit gonorrhea, trachoma, kecelakaan yang berhubungan dengan mata (Mambela, 2018).
4. Dampak Menjadi Penyandang Tunanetra
Dampak atas keterbatasan fungsi indera penglihatan sangat besar karena individu banyak menerima informasi yang sumbernya dari stimulus visual. Hambatan yang dimiliki antara lain: 1) kesulitan orientasi dan mobilitas, 2) sukar melihat objek yang ada di hadapan individu, 3) ketidakmampuan membaca dan menulis, 4) hambatan interaksi sosial, 5) commit to user
melaksanakan aktivitas sehari-hari, hingga 6) kesulitan untuk mencari pekerjaan (Brebahama & Listyandini, 2016; Mangunsong, 2009).
Sebagai dampak atas hilangnya fungsi indera penglihatan, para penyandang tunanetra umumnya berusaha memaksimalkan fungsi indera yang lain seperti indera peraba, penciuman, pendengaran dan lain-lan, sehingga hal tersebut menjadikan penyandang tunanetra umumnya memiliki kemampuan luar biasa misalnya di bidang musik atau ilmu pengetahuan (Mambela, 2018)
Dalam beberapa kasus, individu penyandang tunanetra mengalami kehilangan harga diri, depresi dan kesepian. Penyandang tunanetra sering terisolasi dari teman sebaya di masyarakat. Diperlukan dukungan baik dari segi sosial dan teknologi agar penyandang tunanetra mampu terintegrasi dengan baik dalam kehidupan bermasyarakat (Gargiulo, 2012).
Permasalahan utama yang dialami individu yang mengalami tunanetra di usia dewasa awal meliputi ketidakmampuan untuk bekerja dan hidup produktif, memperoleh pasangan hidup, diasingkan dan akan selalu bergantung pada individu lain (Harimukthi & Dewi, 2014).
Penyandang tunanetra yang berada pada tahapan perkembangan dewasa awal dituntut untuk memenuhi tugas perkembangan yang ada. Di sisi lain, mereka menghadapi tantangan yang besar dalam melaksanakan tugas perkembangannya. Kondisi tersebut memberikan pengaruh terhadap kondisi mental penyandang tunanetra (Brebahama & Listyandini, 2016). Hal tersebut seperti yang diutarakan oleh Mappiare (1983) bahwa orang dewasa yang mengalami ketidaksempurnaan dalam menyesuaikan diri di lingkungan sosial
commit to user
akan merasa janggal dan tidak seimbang dan kemudian mengarahkan individu tersebut kepada perasaan tidak bahagia.
Penyandang tunanetra yang kehilangan fungsi penglihatan saat usia dewasa biasanya memiliki keterampilan kerja yang sudah dipelajari pada saat sebelum kehilangan fungsi penglihatan. Penyandang tunanetra perlu diberikan pembinaan dan pelatihan kerja oleh layanan rehabilitasi serta didukung dengan fasilitas kerja yang memenuhi aksesibilitas bagi penyandang tunanetra agar mampu mandiri di tempat kerja (Gargiulo, 2012)
F. Kewirausahaan 1. Pengertian Kewirausahaan dan Wirausahawan
Kewirausahaan adalah suatu cara berpikir, menelaah dan bertindak yang berdasar pada peluang bisnis, pendekatan secara holistik serta kepemimpinan yang imbang (Timmons & Spinelli, 2008). Drucker (1994) mendefinisikan kewirausahaan sebagai kemampuan menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda dari sebelumnya. Kewirausahaan adalah kemampuan kreatif, inovatif dan jeli dalam melihat peluang dan selalu terbuka untuk setiap masukan dan perubahan yang bersifat positif sehingga membawa pada pertumbuhan nilai bisnis (Saragih, 2017). Kewirausahaan didefinisikan sebagai kegiatan yang melibatkan penemuan, evaluasi dan eksploitasi peluang untuk memperkenalkan barang dan jasa yang baru, cara mengatur pasar, proses dan bahan mentah melalui upaya pengorganisasian yang sebelumnya tidak ada (Venkataraman, 1997; Shane & Venkataraman, 2000)
commit to user
Individu yang mengembangkan produk baru atau inovasi baru serta membangun konsep bisnis yang baru dinamakan wirausahawan (Aprilianty, 2012). Wirausahawan adalah individu yang terlibat di dalam kegiatan yang mereka rancang sendiri (Filion, 2008). Individu yang menjadi wirausahawan merupakan individu yang mengenali potensi diri dan berusaha mengembangkannya guna menangkap peluang serta mengorganisasi usaha dalam rangka mewujudkan cita-cita (Saragih, 2017). Wirausahawan (entrepreneur) secara sederhana merupakan individu yang berjiwa berani mengambil risiko untuk membuka usaha dalam berbagai kesempatan dan bermental mandiri tanpa memiliki rasa takut atau cemas dalam menghadapi kondisi yang penuh ketidakpastian (Kasmir, 2007).
Dari berbagai penjelasan terkait definisi kewirausahaan dari berbagai tokoh diatas, maka di dalam penelitian ini peneliti mengacu pada definisi yang dikemukakan oleh Saragih (2017) bahwa kewirausahaan merupakan kemampuan kreatif, inovatif dan jeli dalam melihat peluang dan selalu terbuka untuk setiap masukan dan perubahan yang bersifat positif sehingga membawa pada pertumbuhan nilai bisnis. Kemudian dalam penelitian ini, peneliti mengacu pada definisi wirausahawan yang dikemukakan oleh Kasmir (2007), yaitu individu yang berjiwa berani mengambil risiko untuk membuka usaha dalam berbagai kesempatan dan bermental mandiri tanpa memiliki rasa takut atau cemas dalam menghadapi kondisi yang penuh ketidakpastian.
2. Proses Kewirausahaan
Proses kewirausahaan menurut Hisrich, dkk. (dalam Suharti dan Untoro, 2016) merupakan sebuah upaya untuk menciptakan sesuatu yang commit to user
berbeda, memiliki nilai tambah melalui pengorbanan, waktu dan tenaga dengan berbagai risiko finansial, psikis dan sosial serta mendapat penghargaan berupa keuntungan dan kepuasan pribadi dari hasil yang diperoleh.
Secara umum tahap-tahap dalam proses kewirausahaan menurut Suhermini dan Safitri (2010) adalah:
a. Tahap memulai usaha
Dalam tahapan memulai usaha, individu mempersiapkan semua yang diperlukan dalam memulai usaha, diawali dengan melihat peluang usaha baru yang memungkinkan untuk dilakukan eksekusi, akusisisi atau melakukan franchising. Dalam tahapan ini individu yang hendak memulai usaha memilih jenis usaha yang akan dilakukan di waktu yang akan datang.
b. Tahap melaksanakan usaha
Setelah memulai usaha, individu yang bertindak sebagai pelaku usaha mengelola berbagai aspek yang berkaitan dengan bidang usaha yang sedang dijalaninya seperti pembiayaan, sumber daya manusia, kepemilikan, risiko, hingga evaluasi atas usaha yang sedang dijalankan saat ini.
c. Tahap mempertahankan usaha
Di tahapan ini, individu pelaku usaha melakukan analisis perkembangan usaha berdasarkan hasil yang telah dicapai untuk melakukan tindak lanjut sesuai dengan kondisi yang dihadapi. commit to user
d. Tahap mengembangkan usaha
Setelah individu mampu untuk mempertahankan usaha, apabila hasil yang didapatkan dapat bertahan atau bahkan mengalami sebuah perkembangan maka salah satu pilihan yang dapat dilakukan adalah perluasan dan pengembangan dari usaha yang telah dipertahankan hingga saat ini.
3. Faktor Pendorong Keberhasilan Wirausaha
Suryana (2014) menjelaskan bahwa terdapat tiga faktor yang mempengaruhi keberhasilan individu dalam menjalankan wirausaha, yaitu:
a. Kemampuan dan kemauan
Individu perlu memiliki kemampuan yang dilengkapi dengan kemauan untuk menjalankan wirausaha agar mendapat keberhasilan dalam menjalankan wirausaha. Kemampuan tanpa dilengkapi dengan kemauan tidak akan membawa kepada kesuksesan, begitu juga sebaliknya.
b. Kerja keras dan tekad yang kuat
Kerja keras perlu diimbangi dengan tekad yang kuat untuk menjadi wirausahawan yang berhasil.
c. Kesempatan dan peluang
Peluang ada jika individu menciptakan peluang itu sendiri, bukan mencari-cari atau menunggu peluang yang datang.
commit to user
Sedangkan menurut Rauch dan Frese (2006), faktor yang mempengaruhi kesuksesan wirausaha dapat diidentifikasi melalui lima faktor, yaitu:
a. Lingkungan
Dukungan sosial yang diberikan oleh lingkungan akan memberikan rasa lega karena individu merasa diperhatikan, mendapat masukan yang dapat mendukung keinginannya (Primandaru, 2017).
b. Kepribadian
Menurut Alma (2010), wirausahawan yang berhasil adalah yang mempunyai kepribadian unggul, dalam keadaan apapun tetap mampu berdiri atas kemampuan sendiri untuk menolong dirinya keluar dari kesulitan yang dihadapi termasuk mengatasi kemiskinan tanpa bantuan individu lain.
c. Tujuan
Lambing dan Kuehl (1999) menyatakan bahwa tujuan yang ingin dicapai oleh individu dalam berwirausaha dipengaruhi oleh kebutuhan akan berprestasinya yang mendorong untuk menghasilkan yang terbaik dan biasanya memiliki inisiatif serta keinginan yang kuat untuk mengungkapkan ide-ide dalam pikirannya, menyampaikan gagasan demi mencapai kesuksesan.
d. Sumber daya manusia
Beberapa kepribadian wirausaha lainnya seperti percaya diri, orientasi pada hasil, kepemimpinan dan kerja keras akan
commit to user
mendukung terbentuknya sumber daya manusia yang mampu mengelola wirausaha (Aprilianty, 2012).
e. Strategi
Persaingan era globalisasi menuntut wirausahawan mampu untuk menciptakan strategi yang unggul. Strategi dan program yang dijalankan tanpa diimbangi dengan kajian yang matang tidak akan memberikan hasil yang optimal bagi pertumbuhan wirausaha (Nurseto, 2004)
4. Karakteristik Wirausahawan
Wirausahawan yang berhasil mempunyai standar prestasi (n Ach) yang tinggi dalam dirinya (Suhermini & Safitri, 2010). Potensi tersebut dapat dilihat sebagai berikut.
a. Kemampuan menciptakan sebuah inovasi, b. Toleransi atas keambiguan yang terjadi,
c. Keinginan diri yang besar untuk dapat berprestasi, d. Kemampuan merencanakan suatu hal secara realistis,
e. Mempunyai sifat kepemimpinan yang berorientasi terhadap tujuan, f. Objektif dalam memandang permasalahan,
g. Tanggung jawab pribadi,
h. Kemampuan beradaptasi dengan lingkungan,
i. Mampu bertindak sebagai organisator dan administrator, dan j. Memiliki komitmen yang tinggi dalam diri.
Menurut Wijayanto (2013), wirausahawan dapat dicirikan dengan karakteristik mempunyai hasrat selalu bertanggung jawab bisnis dan sosial, commit to user
komitmen terhadap tugas yang dikerjakannya, memilih risiko yang moderat, merahasiakan kemampuan untuk mencapai kesuksesan, cepat dalam melihat peluang yang ada, berorientasi pada masa depan, melihat kembali prestasi yang dihasilkan di masa lalu, haus terhadap uang, kompetensi dalam berorganisasi, toleransi terhadap ambisi dan lebih fleksibel dalam mencari pemecahan masalah.
Selain itu, terdapat lima karakteristik wirausahawan unggulan (Nurseto, 2004), yaitu:
a. Berani mengambil risiko
Berani mengambil risiko berarti berani memulai sesuatu yang penuh dengan ketidakpastian dan risiko setelah melalui perhitungan dengan cermat.
b. Menyukai tantangan
Wirausahawan memandang tantangan bukan sebagai masalah, namun sebagai perubahan yang terus terjadi di dalam kehidupan dan menjadikannya motivasi untuk maju kedepan.
c. Memiliki daya tahan yang tinggi
Kemampuan untuk bangkit dan tidak mudah putus asa sangat diperlukan bagi seorang wirausahawan untuk dapat bertahan menjalani usahanya.
d. Memiliki pandangan jauh ke depan
Apapun yang dilakukan oleh wirausahawan memiliki tujuan jangka panjang dan target untuk jangka waktu tertentu.
commit to user
e. Berusaha untuk memberikan yang terbaik
Wirausahawan akan memberikan sesuatu yang terbaik bagi lingkungan sekitar dengan segala potensi yang dimiliki di dalam dirinya. Apabila dirasa kurang, maka hal yang dapat dilakukan adalah merekrut individu lain yang lebih berkompeten agar dapat memberikan yang terbaik bagi pelanggan.
5. Penyandang Disabilitas dalam Sektor Kewirausahaan
Kewirausahaan merupakan proses yang bersifat dinamis untuk menciptakan nilai tambah atas barang dan jasa serta kemakmuran individu atau organisasi (Saragih, 2017). Proses kewirausahaan menuntut individu untuk mau mengambil risiko dengan perhitungan yang matang sehingga mampu untuk mengatasi rintangan dalam rangka mencapai sebuah kesuksesan (Aprilianty, 2012).
Sebuah revieu tentang 14 negara berkembang ditemukan bahwa, penyandang disabilitas lebih besar kemungkinan untuk mengalami kemiskinan apabila dibandingkan dengan non-disabilitas. Penyandang disabilitas cenderung kurang begitu baik dalam hal pendidikan, kondisi hidup, konsumsi, kesehatan dan pekerjaan (United Nations Emergency Children’s Fund [UNICEF], 2013).
Karena penyandang disabilitas mengalami kesulitan dalam mencari lapangan pekerjaan, maka alternatif pemecahan masalah yang tepat adalah berwirausaha (Syamsi, 2010; Winasti, 2010). Motivasi berwirausaha pada penyandang disabilitas adalah untuk menafkahi keluarganya, menjalin relasi
commit to user
sosial, meningkatkan kesejahteraan, harga diri dan keinginan untuk dapat setara dengan individu normal (Winasti, 2010).
Penyandang disabilitas ringan maupun berat cenderung bekerja sebagai wiraswasta, wiraswasta dengan pekerja sementara/tidak dibayar dan pekerja tidak dibayar/pekerja keluarga (International Labour Organisation [ILO], 2017). Keyakinan yang kuat ditumbuhkan dari seseorang yang memiliki kepribadian kuat dan tahan dalam menghadapi stresor. Oleh karena itu, penyandang disabilitas yang berwirausaha sangat perlu untuk memiliki kemampuan menangani psikisnya sebelum mampu untuk berperan sebagai wirausahawan yang tangguh (Septianingsih, 2014).
G. Batasan Penelitian
Pada penelitian ini, peneliti akan melakukan penelitian mengenai dinamika ketangguhan (hardiness) pada wanita penyandang disabilitas tunanetra yang menjalankan wirausaha. Disabilitas merupakan hilangnya kesempatan individu untuk dapat berpartisipasi dikarenakan hilangnya fungsi fisik. Hal tersebut menghambat penyandang disabilitas untuk dapat melakukan aktivitas sehari-hari.
Penyandang disabilitas menerima berbagai stereotip buruk dari lingkungan sekitar berupa diskriminasi hak asasi manusia, kurang mampu untuk produktif, tidak berdaya, ketergantungan dengan individu dan lingkungan sekitar. Stereotip negatif menyebabkan penyandang disabilitas putus asa, tidak berharga, tidak percaya diri, rendah diri, cemas dan khawatir yang kemudian akan menghambat proses hubungan interpersonal.
commit to user
Penyandang disabilitas mempunyai hak yang sama dengan individu pada umumnya, salah satunya adalah mendapatkan pekerjaan yang layak.
Tetapi pada kenyataannya hak penyandang disabilitas, terutama dalam mendapatkan pekerjaan yang layak masih belum terpenuhi seutuhnya.
Mayoritas penyandang disabilitas masih terserap dalam sektor pekerjaan kasar apabila dibandingkan dengan individu non-penyandang disabilitas. Salah satu alternatif pemecahan masalah adalah wirausaha.
Wirausaha merupakan salah satu aspek penting dalam meningkatkan perekonomian suatu negara. Di Indonesia wirausaha mengalami peningkatan dari angka 1,67 % pada tahun 2013-2014 menjadi 3,1 % pada tahun 2017.
Tetapi peningkatan jumlah wirausahawan wanita masih belum merata. Hal tersebut diakibatkan oleh budaya patriarki dimana wanita memiliki tanggung jawab seputar rumah tangga dan mengurus anak.
Stereotip umum yang ditujukan pada wanita adalah makhluk yang emosional dan labil secara psikologis. Stereotip tersebut kemudian menghambat wanita dalam berkompetisi dengan pria. Hal tersebut semakin bertambah pada waita penyandang disabilitas. Diskriminasi tidak hanya terjadi pada aspek gender, melainkan juga terjadi karena disabilitas yang dialami. Hal tersebut membuat wanita penyandang disabilitas menjadi lebih sulit dalam mendapatkan pekerjaan jika dibandingkan dengan pria penyandang disabilitas.
Maka dari itu dibutuhkan kepribadian yang tangguh (hardiness). Untuk menjadi individu yang tangguh, perlu melalui proses terlebih dahulu. Setelah melalui proses ketangguhan (hardiness process), diharapkan wanita penyandang disabilitas menjadi lebih yakin dalam berpikir kreatif dalam commit to user
memecahkan masalah kehidupan dan membantu untuk tetap bertahan dalam kondisi yang dialami.
H. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kota Surakarta. Hal ini dikarenakan menurut Dinas Sosial (dalam Tauda, dkk., 2017), kota Surakarta adalah salah satu kota yang memiliki jumlah penyandang disabilitas terbanyak yaitu sejumlah 1.474 orang. Kemudian kota ini menjadi salah satu pusat rehabilitasi difabel di Indonesia termasuk dalam nominasi kota ramah difabel dengan urutan 15 besar dari 115 negara.
commit to user
I. Kerangka Berpikir Penelitian
Proses menjadi individu yang tangguh (hardy
individual) Wanita
Penyandang Disabilitas
Tunanetra
Hambatan dalam kehidupan sehari-hari
Tidak mampu mengatasi
hambatan dalam kehidupan
Mampu mengatasi hambatan
dalam kehidupan
Tekanan Ketegangan
Individu yang kurang efektif
dalam kehidupan sehari-hari
Individu yang tangguh
(Hardy Individual) Hambatan
Fisik Hambatan Psikologis Hambatan
Sosial
Hardy Attitudes
Commitment
Control
Challenge Hardy Coping
Situational Recontruction
Focusing
Compensatory Self-Improvement
Hardy Social Support Hardy Health
Practices Menjalankan
wirausaha
Hardy Attitudes
Commitment
Control
Challenge
commit to user
J. Pertanyaan Penelitian
Penelitian ini akan menggali lebih dalam mengenai bagaimana dinamika proses ketangguhan (hardiness) wanita penyandang disabilitas tunanetra yang menjalankan wirausaha. Berdasarkan penjelasan pada bab sebelumnya, maka dapat dirumuskan pertanyaan penelitian yang akan dijawab dalam penelitian yang dilakukan, yaitu:
1. Apa saja motif yang mendasari wanita dewasa tunanetra dalam menjalankan wirausaha?
2. Bagaimana riwayat tunanetra pada setiap subjek penelitian?
3. Apa saja hambatan yang dialami oleh setiap subjek dalam menjalankan wirausaha? (Terkhusus hambatan psikologis)
4. Bagaimana fenomena dinamika ketangguhan (hardiness) pada wanita penyandang disabilitas tunanetra yang menjalankan wirausaha? Bagaimana proses ketangguhan (hardiness) yang dilalui oleh setiap subjek penelitian?
commit to user