• Tidak ada hasil yang ditemukan

EFEKTIVITAS PELATIHAN GURU. Yendri Wirda Teguh Supriadi Simon Sili Sabon Lisna Sulinar Sari Sri Fajar Martono

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "EFEKTIVITAS PELATIHAN GURU. Yendri Wirda Teguh Supriadi Simon Sili Sabon Lisna Sulinar Sari Sri Fajar Martono"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

Yendri Wirda Teguh Supriadi Simon Sili Sabon Lisna Sulinar Sari Sri Fajar Martono

EFEKTIVITAS PELATIHAN

GURU

(2)

Latar Belakang Kajian

• Guru memiliki peran strategis dalam pendidikan

• UU Guru dan Dosen : kualifikasi akademik guru minimal S1

• Guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi,

sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional (Pasal 8 UUGD)

• Peningkatan kompetensi dilakukan melalui pelatihan- pelatihan.

• Prestasi anak Indonesia masih rendah

• UKG Guru 2015 masih rendah

(3)

TUJUAN

Tujuan dari kajian ini adalah melihat efektivitas pelatihan guru yang dilaksanakan pada tahun 2016 bagi guru pembelajar dan pelatihan guru tahun 2017 yang disebut Pengembangan Keprofesionalan

Berkelanjutan (PKB).

Secara spesifik kajian ini bertujuan untuk :

1. Mengetahui efektivitas pelatihan guru dilihat dari reaksi peserta terhadap penyelenggaraan pelatihan

2. Mengetahui efektivitas pelatihan guru dilihat dari capaian hasil

pembelajaran pada pelatihan guru yang dibedakan menurut lokasi, sertifikasi, usia guru, gender, mata pelajaran yang diampu, moda pelatihan.

3. Mengetahui efektivitas pelatihan guru dilihat dari perubahan perilaku guru setelah pelatihan.

pelatihan guru.

(4)

TINJAUAN PUSTAKA

• Efektivitas Pelatihan Guru : Efektivitas pelatihan guru diartikan adalah tercapainya tujuan

pelatihan guru yang tercermin pada terjadinya peningkatan kompetensi guru (knowledge and skills) dan perubahan sikap menuju kualitas

pembelajaran yang lebih baik dengan dukungan sumber daya yang ada (Cahyono, 1983)

• Model Evaluasi Efektivitas Pelatihan: Kirkpatrick

• Determinan Efektivitas Pelatihan Guru

• Pelatihan Guru di Indonesia tahun 2016 dan 2017

(5)

Model Evaluasi Kirkpatrick

• Fokus pada 4 level efektivitas pelatihan: Reaksi, Pembelajaran, Perubahan perilaku, dan kinerja organisasional.

• Reaksi, yaitu bagaimana peserta pelatihan bereaksi terhadap pelatihan yang mereka ikuti:

• Pembelajaran, sejauhmana proses belajar terjadi dan dialami oleh peserta pelatihan

• Perubahan perilaku, sejauhmana pengalaman pelatihan mengubah perilaku kerja peserta pelatihan.

• Kinerja organisasional, sejauhmana pengalaman pelatihan

(6)

Model-Model Evaluasi Efektivitas Pelatihan

2. Model Evaluasi Guskey

• Mengadopsi model evaluasi Kirkpatrick kedalam ranah pelatihan di bidang pendidikan

• Fokus pada 5 level efektivitas pelatihan, pengembangan dari level-level yang sudah dikemukakan oleh Kirkpatrick:

• Reaksi

• Pembelajaran

• Dukungan dan perubahan organisasi

• Penerapan pengetahuan dan keterampilan baru

• Hasil belajar siswa

(7)

Tiga komponen pokok yang mempengaruhi efektivitas pelatihan (Velada, et. al., 2007; Burke & Hutchins,

2007)

• Karakteristik peserta pelatihan

• Desain pelatihan

• Lingkungan kerja

Determinan Efektivitas Pelatihan

(8)

Karakteristik Peserta

• Karakteristik-karakteristik dasar peserta seperti usia, tingkat pendidikan, dan level pengalaman dapat mempengaruhi proses pelatihan (Bae, 2002).

• Kemampuan (abilities), sikap (attitudes), dan motivasi (Tracy

& Tews, 1995)

• Conscientiousness, self-efficacy, motivasi belajar, persepsi

belajar sebagai bentuk aktivitas berorientasi tujuan, dan

persepsi instrumentalitas pelatihan (Tziner, et . al., 2007).

(9)

Desain Pelatihan

• Desimone, et al. (2002) mengkategorikan komponen ini menjadi:

1) Komponen struktural: bentuk dan organisasi aktivitas, durasi pelatihan, partisipasi kolektif .

2) Komponen inti: kesempatan belajar aktif, koherensi dengan pengembangan guru, dan fokus pada konten.

• Sim and Fletcher (2018)

Enam faktor utama yang sangat mempengaruhi keberhasilan

program peningkatan kompetensi guru, yaitu keberlanjutan

program pelatihan, kolaborasi, buy-in, pelatihan yang terfokus

pada konten pelajaran, pelibatan keterampilan eksternal, dan

kesempatan menerapkan apa yang sudah dilakukan

(10)

Desain Pelatihan (2)

• Popova, et al. (2018) menyebut setidaknya lima faktor yang harus dipertimbangkan ketika mendesain sebuah pelatihan untuk

meningkatkan kompetensi guru, yaitu: peserta, instruktur, metode, konten dan durasi pelatihan.

• Antoniou (2016) menegaskan bahwa konten pelatihan harus:

1) fokus pada keterampilan khusus pengajaran yang terbukti efektif, 2) memberikan kesempatan para guru berpartisipasi aktif dan

saling memberikan masukan,

3) memberikan kesempatan untuk kolaborasi dan networking antar

guru

(11)

Pelatihan Guru Lingkup Kajian

Pelatihan Guru Pembelajar tahun 2016

• Didasarkan pada hasil UKG 2015  pemetaan kompetensi yang belum mencapai standar.

• 10 Modul Pelatihan

• Didahului dengan pelatihan Instruktur Nasional

• Modalitas Pelatihan Guru Sasaran:

1) Tatap muka

2) Daring kombinasi 3) Daring murni

Peningkatan Keprofesionalan Berkelanjutan tahun 2017

• Perubahan nomenklatur dari GP PKB

• Tetap menggunakan 10 modul pelatihan

• Dilakukan pelatihan

penyegaran terhadap IN.

• Modalitas pelatihan: Tatap

muka

(12)

Metodologi Penelitian

• Penelitian ini dilaksanakan sebagai desk-study berbasis data SIM-PKB Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan.

• SIM-PKB adalah database yang merekam pelatihan yang sudah diikuti oleh para guru Indonesia. Data ini merekam data pelatihan sejak tahun 2016.

• Fokus kajian ini adalah pelatihan yang dilaksanakan pada tahun 2016 dan tahun 2017, yaitu: Pelatihan Guru Pembelajar (2016) dan Peningkatan Keprofesionalan Berkelanjutan (2017).

• Penelitian dilaksanakan dengan menganalisis secara kuantitatif data SIM- PKB dan data pelaksanaan pelatihan yang diperoleh dari tiga P4TK, yaitu P4TK Bahasa, P4TK IPA, dan P4TK Matematika.

• Penelitian juga dilaksanakan secara kualitatif melalui 3 FGD, yaitu dengan

perwakilan pengambil kebijakan (Ditjen GTK), tiga P4TK dan para guru

yang terlibat dalam pelatihan (guru instruktur dan guru sasaran).

(13)

HASIL

(14)

Reaksi Peserta Pelatihan

• Reaksi peserta terhadap penyelenggaraan pelatihan guru tahun 2016 dan 2017 pada umumnya positif.

Hanya indikator variasi hidangan/ konsumsi yang masuk kategori rentang terendah untuk pelatihan

instruktur nasional yang diselenggarakan oleh P4TK IPA sehingga dapat membuat jenuh peserta pelatihan dan berpengaruh terhadap efektifitas pelatihan. Untuk

pelatihan yang diselenggarakan oleh P4TK Bahasa, indikator yang masuk dalam kategori rentang nilai

terendah adalah (i) Ketercapaian tujuan workshop dan (ii) Kesesuaian alokasi waktu dengan program

workshop.

(15)

Rerata Skor Pre-test dan Post-test

• Pelatihan Guru Pembelajar tahun 2016 disimpulkan efektif dengan adanya

peningkatan skor sebelum (48,10) ke sesudah

pelatihan (54,79) (n=435.693)

• Pelatihan PKB tahun 2017 disimpulkan efektif dengan adanya peningkatan skor sebelum (48,56) ke

sesudah pelatihan (55,43)

(n=276.688) profil2015rerata profil2017rerata

Mean 48,56 55,43

0,00 10,00 20,00 30,00 40,00 50,00 60,00 70,00 80,00 90,00 100,00

Rata-Rata PKB 2017

profil2015rerata profil2016rerata

Series1 48,10 54,79

0,00 10,00 20,00 30,00 40,00 50,00 60,00 70,00 80,00 90,00 100,00

Rata-Rata PKB GP 2016

(16)

Proporsi peserta pelatihan yang efektif dan tidak efektif

• Pada umumnya (86%), peserta pelatihan Guru Pembelajar tahun 2016 memiliki perubahan (delta) skor sebelum dan

sesudah pelatihan positif.

Pelatihan tidak efektif bagi sekitar 14% peserta.

• Peserta pelatihan PKB

tahun 2017 yang memiliki perubahan (delta) skor sebelum dan sesudah pelatihan positif lebih tinggi sekitar 2 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

14%

86%

Kategori Efektivitas (PKB GP 2016) tidak efektif efektif

12%

88%

Kategori Efektivitas (PKB 2017)

tidak efektif efektif

(17)

Persentase ketidakefektifan pelatihan tertinggi baik 2016 maupun 2017 adalah guru SPK (ada yang lebih dari 50%) dan kemudian SM. Kemungkinan: 1) guru-guru sudah menguasai materi, atau 2)

guru-guru kurang serius mengikuti pelatihan

0,0% 50,0% 100,0%

SDLB SLB SD SMPLB SMLB SMP SMK SMA SPK SD SPK SMP SPK SMA

Persentase Guru

S at ua n P en di di ka n

Kategori Efektivitas Pelatihan Guru Menurut Satuan Pendidikan (PKB GP 2016)

efektif tidak efektif

0% 50% 100%

SMPLB SLB SDLB SD SMP SMK SMA SMLB SPK SMP SPK SD SPK SMA

Persentase Guru

S at ua n P en di di ka n

Kategori Efektivitas Pelatihan Guru Menurut Satuan Pendidikan (PKB 2017)

efektif

tidak efektif

(18)

0% 50% 100%

Prop. Nusa Tenggara Timur Prop. Gorontalo Prop. Lampung Prop. Kalimantan Utara Prop. Kalimantan Timur Prop. Sumatera Selatan Prop. Aceh Prop. Maluku Utara Prop. Kalimantan Barat Prop. Nusa Tenggara Barat Prop. Kalimantan Selatan Prop. Sulawesi Selatan Prop. Sumatera Utara Prop. Bali Prop. Kalimantan Tengah Prop. Sulawesi Barat Prop. Jawa Barat Prop. Riau Prop. Sulawesi Tengah Prop. Sumatera Barat Prop. Jawa Tengah Prop. Maluku Prop. Sulawesi Tenggara Prop. Sulawesi Utara Prop. Jambi Prop. Jawa Timur Prop. Bengkulu Prop. Banten Prop. Papua Barat Prop. D.K.I. Jakarta Prop. Bangka Belitung Prop. Kepulauan Riau Prop. D.I. Yogyakarta Prop. Papua

Provinsi (PKB GP 2016)

tidak efektif efektif

0% 50% 100%

Prov. Kalimantan Utara Prov. Sulawesi Tenggara Prov. Sulawesi Barat Prov. Kalimantan Timur Prov. Maluku Utara Prov. Sulawesi Selatan Prov. Sulawesi Tengah Prov. Nusa Tenggara Timur Prov. Gorontalo Prov. Maluku Prov. Aceh Prov. Papua Barat Prov. Jawa Barat Prov. Kalimantan Barat Prov. Sulawesi Utara Prov. Jambi Prov. Kalimantan Tengah Prov. Papua Prov. Riau Prov. Kepulauan Bangka Belitung Prov. Banten Prov. Sumatera Selatan Prov. Jawa Timur Prov. Sumatera Barat Prov. Sumatera Utara Prov. Bengkulu Prov. Nusa Tenggara Barat Prov. Lampung Prov. D.K.I. Jakarta Prov. D.I. Yogyakarta Prov. Kepulauan Riau Prov. Jawa Tengah Prov. Bali

Provinsi (PKB 2017)

tidak efektif efektif

Efektifitas pelatihan menurut provinsi

(19)

0% 25% 50% 75% 100%

Prop. Nusa Tenggara Timur Prop. Gorontalo Prop. Lampung Prop. Kalimantan Utara Prop. Kalimantan Timur Prop. Sumatera Selatan Prop. Maluku Utara Prop. Aceh Prop. Kalimantan Barat Prop. Nusa Tenggara Barat Prop. Kalimantan Selatan Prop. Kalimantan Tengah Prop. Sulawesi Selatan Prop. Sumatera Utara Prop. Bali Prop. Sulawesi Barat Prop. Jawa Barat Prop. Riau Prop. Sumatera Barat Prop. Sulawesi Tengah Prop. Jawa Tengah Prop. Maluku Prop. Sulawesi Tenggara Prop. Sulawesi Utara Prop. Jambi Prop. Bengkulu Prop. Jawa Timur Prop. Banten Prop. Papua Barat Prop. D.K.I. Jakarta Prop. Bangka Belitung Prop. Kepulauan Riau Prop. D.I. Yogyakarta Prop. Papua PKB GP 2016_Provinsi_k_N_gain

Rendah Sedang Tinggi

0% 25% 50% 75% 100%

Prov. Kalimantan Utara Prov. Sulawesi Tenggara Prov. Sulawesi Barat Prov. Sulawesi Tengah Prov. Maluku Utara Prov. Kalimantan Timur Prov. Sulawesi Selatan Prov. Nusa Tenggara Timur Prov. Kalimantan Barat Prov. Gorontalo Prov. Maluku Prov. Aceh Prov. Jawa Barat Prov. Sulawesi Utara Prov. Papua Barat Prov. Kalimantan Tengah Prov. Jambi Prov. Papua Prov. Riau Prov. Sumatera Selatan Prov. Kepulauan Bangka…

Prov. Kalimantan Selatan Prov. Banten Prov. Sumatera Barat Prov. Bengkulu Prov. Sumatera Utara Prov. Jawa Timur Prov. Nusa Tenggara Barat Prov. Lampung Prov. D.K.I. Jakarta Prov. Kepulauan Riau Prov. Jawa Tengah Prov. D.I. Yogyakarta Prov. Bali PKB 2017_Provinsi_k_N_gain

Rendah Sedang Tinggi

(20)

P K B G P 2 0 1 6

P K B 2 0 1 7

0% 25% 50% 75% 100%

Belum mencapai target (N=254) Mencapai target

(N=239)

PKB GP 2016_Papua_1_k-pretes&k_N-gain

Rendah Sedang Tinggi

0% 25% 50% 75% 100%

Belum mencapai target (N=2748) Mencapai target

(N=7779) PKB GP

2016_Yogyakarta_2_k_pretest&k_N_ga in

Rendah Sedang Tinggi

0% 25% 50% 75% 100%

Belum mencapai target (N=16762)

Mencapai target (N=1435) PKB GP

2016_NTT_34_k_pretest&k_N_gain

Rendah Sedang Tinggi

Pelatihan 2016

(21)

P K B G P 2 0 1 6

P K B 2 0 1 7

0% 25% 50% 75% 100%

Belum mencapai target (N=1046) Mencapai target

(N=628)

PKB 2017_Bali_1_k_pretest&k_N_gain

Rendah Sedang Tinggi

0% 25% 50% 75% 100%

Belum mencapai target (N=3336) Mencapai target

(N=4174)

PKB 2017_Yogyakarta_2_k_pretest&k- N_gain

Rendah Sedang Tinggi

0% 25% 50% 75% 100%

Belum mencapai target (N=717) Mencapai target

(N=224)

PKB 2017_Kalimantan Utara_34_k_pretest&k_N_gain

Rendah Sedang Tinggi

Pelatihan 2017

(22)

0% 25% 50% 75%100%

Belum mencapai

target (N=22941)

Mencapai target (N=21034)

PKB GP 2016_SMA_1

Rendah Sedang Tinggi

0% 25% 50% 75%100%

Belum mencapai

target (N=19074)

Mencapai target (N=12082)

PKB GP 2016_SMK_2

Rendah Sedang Tinggi

0% 25% 50% 75%100%

Belum mencapai

target (N=70889)

Mencapai target (N=36938)

PKB GP 2016_SMP_3

Rendah Sedang Tinggi

0% 25%50%75%100%

Belum mencapai

target (N=208015)

Mencapai target (N=5516)) PKB GP 2016_SD_6

Rendah Sedang Tinggi

Efektifitas Pelatihan Menurut Satuan Pendidikan: Pelatihan 2016

Pelatihan lebih efektif pada kelompok peserta yang belum mencapai target

dibandingkan pada kelompok yang sudah mencapai target: efektifitas rendah

lebih besar pd krlompok yang mencapai target

(23)

0% 25% 50% 75%100%

Belum mencapai

target (N=7281) Mencapai target (N=4120) PKB 2017_SMK_1

Rendah Sedang Tinggi

0% 25% 50% 75%100%

Belum mencapai

target (N=13069)

Mencapai target (N=12505) PKB 2017_SMA_2

Rendah Sedang Tinggi

0% 25% 50% 75%100%

Belum mencapai

target (N38219) Mencapai target (N=22768)

PKB 2017_SMP_5

Rendah Sedang Tinggi 0%25%50%75%100%

Belum mencapai

target (N=131846)

Mencapai target (N=44457) PKB 2017_SD_6

Rendah Sedang Tinggi

Efektifitas Pelatihan Menurut Satuan Pendidikan: Pelatihan 2017

Pelatihan lebih efektif pada kelompok peserta yang belum mencapai target dibandingkan pada kelompok yang sudah mencapai target: efektifitas rendah lebih besar pd

krlompok yang mencapai target

(24)

Proporsi efektifitas pelatihan guru yang sudah dan belum sertifikasi relatif sama untuk 2016

dan 2017

0% 25% 50% 75% 100%

sudah sertifikasi

belum sertifikasi

Sertifikasi (PKB GP 2016)

tidak efektif efektif

0% 25% 50% 75% 100%

sudah sertifikasi belum sertifikasi Sertifikasi (PKB 2017)

tidak efektif efektif

(25)

Perubahan Perilaku Guru

Intensi untuk :

1. guru akan mengimplementasikan ilmu dan

keterampilan yang diperoleh di pelatihan di kelas 2. guru berkeinginan untnk menularkan ilmunya

kepada guru lain;

3. guru menyadari kelemahan-kelemahan sendriri dan berkeinginan untuk mengembangkan diri terutama dalam bidang IT;

4. bangkitnya kesadaran guru untuk menjadi guru

yang ideal.

(26)

Tabel Hasil Analisis Kuesioner Butir Rencana Pasca Pelatihan

NO KATEGORI TEMA FREK CONTOH NARASI GURU

1 Menerapkan

keterampilan dan

pengetahuan diperoleh kedalam pembelajaran

207 “Saya akan menerapkan ilmu yang saya peroleh dari GP Daring ini di unit tempat saya bekerja kepada para anak didik saya.”

“Menerapkan materi yang diperoleh dari GP dalam

menjalankan tugas ditempat kerja.”

“Akan menerapkan ke siswa agar

apa yang kita harapkan tecapai dan

hasilnya memuaskan untuk siswa

dan guru.”

(27)

NO KATEGORI TEMA FREK CONTOH NARASI GURU 2 Upaya untuk terus

mengembangkan diri.

46 “Memperbaiki diri dalam belajar dan mengajar.”

“Menambah/memperbaiki cara mengajar saya yang sekiranya tidak sesuai dengan apa yang saya

dapatkan dari Daring ini.”

“Mengoreksi kembali cara menyampaikan materi pembelajaran dengan

memperhatikan kembali metode pembelajaran.”

“Lebih banyak membaca dan

latihan IT dengan baik.”

(28)

NO KATEGORI TEMA FREK CONTOH NARASI GURU 3 Keinginan untuk

menularkan atau menyebarkan

pengetahuan dan keterampilan yang

diperoleh kepada guru- guru lain.

43 “Lebih banyak share dengan teman- teman guru di sekolah terkait

pembelajaran.”

“Membagi pengalaman kepada kawan yang belum mengikuti kegiatan GP ini, dan ilmu yang didapat akan diterapkan dalam pembelajaran.”

“Mengaktifkan MGMP sekolah dan membiasakan berkomunikasi dengan teman mapel sama di sekolah lain untuk diskusi materi dan kesulitan dalam pembelajaran.”

“mengimbaskan ilmu yang saya

dapatkan dari GPO kepada teman

sejawat dan anak didik kami.”

(29)

NO KATEGORI TEMA FREK CONTOH NARASI GURU 4 Aspirasi diri untuk

menjadi guru yang ideal (menguasai kompetensi- kompetensi yang

dipersyaratkan untuk membimbing siswa berkembang secara utuh).

30 “Saya akan berusaha untuk meningkatkan kompetensi saya sebagai guru matematika SMA baik secara profesional dan pedagogik.”

“Yang akan saya lakukan yaitu saya terus berusaha untuk mengajar dan mendidik dengan baik, mengikuti segala hal yang baru yang bisa saya lakukan.”

“Meningkatkan kinerja agar jadi seorang pendidik yang profesional dan kompeten.”

“Saya harus memulai dari diri saya

dulu untuk belajar lebih baik lagi.”

(30)

SIMPULAN

1. Reaksi peserta terhadap penyelenggaraan pelatihan guru tahun 2016 dan 2017 pada umumnya positif - efektif

Satu indikator variasi hidangan/ konsumsi kategori terendah (IN, P4TK IPA)

Dua indikator terendah: (i) Ketercapaian tujuan workshop dan (ii) Kesesuaian alokasi waktu dengan program workshop. (IN, P4TK Bahasa)

2 . Capaian Hasil pelatihan:

Terdapat kecenderungan guru dengan skor awal tinggi, memperoleh perubahan skor lebih kecil bahkan negatif dibanding guru yang memiliki skor awal rendah.

Proporsi ketidak efektifan pelatihan relatif tinggi terjadi di daerah-daerah

yang memiliki guru dengan skor awal tinggi atau sudah mencapai target

nilai kompetensi, daerah kepulauan, daerah dengan akses transportasi

sulit, dan atau daerah dengan jaringan internet terbatas. DIY, Papua,

Papua Barat, Kepulauan Riau adalah contoh provinsi yang proporsi

ketidakefektifan pelatihannya paling tinggi. Dilihat dari jenis sekolah,

Satuan Pendidikan Kerjasama (SPK) adalah satuan pendidikan yang

memiliki proporsi ketidakefektifan paling tinggi.

(31)

Simpulan (2)

• 3. Perubahan perilaku guru setelah pelatihan: intensi guru mengimplementasikan ilmu dan keterampilan yang diperoleh di pelatihan di kelas; guru

berkeinginan untnk menularkan ilmunya kepada guru lain; guru menyadari kelemahan-kelemahan sendriri dan berkeinginan untuk mengembangkan diri

terutama dalam bidang IT; bangkitnya kesadaran guru

untuk menjadi guru yang ideal.

(32)

REKOMENDASI

• Berdasarkan hasil kajian ini direkomendasikan : penentuan calon peserta pelatihan harus memberikan prioritas kepada guru-guru yang memiliki kompetensi paling kecil.

• Diperlukan pemetaan kompetemsi guru sebagai dasar untuk menentukan pelatihan apa yang akan diberikan kepada guru tersebut sesuai dengan kebutuhan kompetensinya. Pelatihan tahun 2016 dan 2017 yang

memprioritaskan kepada 2 kelompok kompetensi yang memiliki rerata skor paling rendah secara nasional, dirasa kurang tepat karena tidak semua guru memiliki kelemahan pada kedua kelompok kompetensi tersebut namun tetap diberikan pelatihan. Sementara kelompok kempetensi yang dibutuhkan oleh guru malah tidak dilatihkan untuk sebagian guru.

• Penentuan kebutuhan pelatihan akan lebih efektif apabila dilakukan pada lingkup yang lebih kecil semisal tingkat provinsi, atau kabupaten/kota.

• Pemerintah pusat diharapkan dapat menyediakan bahan pelatihan yang sudah disusun ke dalam bentuk LMS untuk semua kelompok kompetensi (modul) yang sudah ada sehingga guru dapat menentukan pelatihan

modul mana yang akan mereka ikuti.

(33)

Terima Kasih

Referensi

Dokumen terkait

Soal-soal yang dapat melatih kemampuan memahami dan menerapkan konsep yang berkaitan dengan materi ajaran Buddha Dharma dalam bab sebagai umpan balik disajikan pada setiap

sebagai siswa juga berhak memberikan masukan untuk mahasiswa yang telah melakukan praktik mengajar. Berbagai macam metode dan media pembelajaran dilakukan dalam kegiatan

Perencanaan sumber daya manusia (Human Resource Planning) merupakan proses manajemen dalam menentukan pergerakan sumber daya manusia organisasi dari posisi yang

Hal tersebut membuktikan bahwa kemampuan anak berbeda, dengan demikian kemampuan jari dan tangan anak belum terampil sehingga anak tidak mampu mengerjakan tugas

Sebagaimana ruang lingkup dari Jurusan Dakwah Prodi KPI di perguruan tinggi yang peneliti teliti ini diantaranya yaitu dari corong komunikasi berupaya menempah tenaga ahli

[r]

Selain itu, periode waktu (siang dan malam) dan siklus bulan juga berpengaruh terhadap persentase sisa pakan di anco dimana persentase sisa pakan secara umum lebih

Diungkapkan dengan tepat, aspek penting tidak dilewatkan, bahkan analisis dan sintetis nya membantu memahami konsep Diungkap dengan tepat, namun deskriptif Sebagian besar