Yendri Wirda Teguh Supriadi Simon Sili Sabon Lisna Sulinar Sari Sri Fajar Martono
EFEKTIVITAS PELATIHAN
GURU
Latar Belakang Kajian
• Guru memiliki peran strategis dalam pendidikan
• UU Guru dan Dosen : kualifikasi akademik guru minimal S1
• Guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi,
sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional (Pasal 8 UUGD)
• Peningkatan kompetensi dilakukan melalui pelatihan- pelatihan.
• Prestasi anak Indonesia masih rendah
• UKG Guru 2015 masih rendah
TUJUAN
Tujuan dari kajian ini adalah melihat efektivitas pelatihan guru yang dilaksanakan pada tahun 2016 bagi guru pembelajar dan pelatihan guru tahun 2017 yang disebut Pengembangan Keprofesionalan
Berkelanjutan (PKB).
Secara spesifik kajian ini bertujuan untuk :
1. Mengetahui efektivitas pelatihan guru dilihat dari reaksi peserta terhadap penyelenggaraan pelatihan
2. Mengetahui efektivitas pelatihan guru dilihat dari capaian hasil
pembelajaran pada pelatihan guru yang dibedakan menurut lokasi, sertifikasi, usia guru, gender, mata pelajaran yang diampu, moda pelatihan.
3. Mengetahui efektivitas pelatihan guru dilihat dari perubahan perilaku guru setelah pelatihan.
pelatihan guru.
TINJAUAN PUSTAKA
• Efektivitas Pelatihan Guru : Efektivitas pelatihan guru diartikan adalah tercapainya tujuan
pelatihan guru yang tercermin pada terjadinya peningkatan kompetensi guru (knowledge and skills) dan perubahan sikap menuju kualitas
pembelajaran yang lebih baik dengan dukungan sumber daya yang ada (Cahyono, 1983)
• Model Evaluasi Efektivitas Pelatihan: Kirkpatrick
• Determinan Efektivitas Pelatihan Guru
• Pelatihan Guru di Indonesia tahun 2016 dan 2017
Model Evaluasi Kirkpatrick
• Fokus pada 4 level efektivitas pelatihan: Reaksi, Pembelajaran, Perubahan perilaku, dan kinerja organisasional.
• Reaksi, yaitu bagaimana peserta pelatihan bereaksi terhadap pelatihan yang mereka ikuti:
• Pembelajaran, sejauhmana proses belajar terjadi dan dialami oleh peserta pelatihan
• Perubahan perilaku, sejauhmana pengalaman pelatihan mengubah perilaku kerja peserta pelatihan.
• Kinerja organisasional, sejauhmana pengalaman pelatihan
Model-Model Evaluasi Efektivitas Pelatihan
2. Model Evaluasi Guskey
• Mengadopsi model evaluasi Kirkpatrick kedalam ranah pelatihan di bidang pendidikan
• Fokus pada 5 level efektivitas pelatihan, pengembangan dari level-level yang sudah dikemukakan oleh Kirkpatrick:
• Reaksi
• Pembelajaran
• Dukungan dan perubahan organisasi
• Penerapan pengetahuan dan keterampilan baru
• Hasil belajar siswa
Tiga komponen pokok yang mempengaruhi efektivitas pelatihan (Velada, et. al., 2007; Burke & Hutchins,
2007)
• Karakteristik peserta pelatihan
• Desain pelatihan
• Lingkungan kerja
Determinan Efektivitas Pelatihan
Karakteristik Peserta
• Karakteristik-karakteristik dasar peserta seperti usia, tingkat pendidikan, dan level pengalaman dapat mempengaruhi proses pelatihan (Bae, 2002).
• Kemampuan (abilities), sikap (attitudes), dan motivasi (Tracy
& Tews, 1995)
• Conscientiousness, self-efficacy, motivasi belajar, persepsi
belajar sebagai bentuk aktivitas berorientasi tujuan, dan
persepsi instrumentalitas pelatihan (Tziner, et . al., 2007).
Desain Pelatihan
• Desimone, et al. (2002) mengkategorikan komponen ini menjadi:
1) Komponen struktural: bentuk dan organisasi aktivitas, durasi pelatihan, partisipasi kolektif .
2) Komponen inti: kesempatan belajar aktif, koherensi dengan pengembangan guru, dan fokus pada konten.
• Sim and Fletcher (2018)
Enam faktor utama yang sangat mempengaruhi keberhasilan
program peningkatan kompetensi guru, yaitu keberlanjutan
program pelatihan, kolaborasi, buy-in, pelatihan yang terfokus
pada konten pelajaran, pelibatan keterampilan eksternal, dan
kesempatan menerapkan apa yang sudah dilakukan
Desain Pelatihan (2)
• Popova, et al. (2018) menyebut setidaknya lima faktor yang harus dipertimbangkan ketika mendesain sebuah pelatihan untuk
meningkatkan kompetensi guru, yaitu: peserta, instruktur, metode, konten dan durasi pelatihan.
• Antoniou (2016) menegaskan bahwa konten pelatihan harus:
1) fokus pada keterampilan khusus pengajaran yang terbukti efektif, 2) memberikan kesempatan para guru berpartisipasi aktif dan
saling memberikan masukan,
3) memberikan kesempatan untuk kolaborasi dan networking antar
guru
Pelatihan Guru Lingkup Kajian
Pelatihan Guru Pembelajar tahun 2016
• Didasarkan pada hasil UKG 2015 pemetaan kompetensi yang belum mencapai standar.
• 10 Modul Pelatihan
• Didahului dengan pelatihan Instruktur Nasional
• Modalitas Pelatihan Guru Sasaran:
1) Tatap muka
2) Daring kombinasi 3) Daring murni
Peningkatan Keprofesionalan Berkelanjutan tahun 2017
• Perubahan nomenklatur dari GP PKB
• Tetap menggunakan 10 modul pelatihan
• Dilakukan pelatihan
penyegaran terhadap IN.
• Modalitas pelatihan: Tatap
muka
Metodologi Penelitian
• Penelitian ini dilaksanakan sebagai desk-study berbasis data SIM-PKB Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan.
• SIM-PKB adalah database yang merekam pelatihan yang sudah diikuti oleh para guru Indonesia. Data ini merekam data pelatihan sejak tahun 2016.
• Fokus kajian ini adalah pelatihan yang dilaksanakan pada tahun 2016 dan tahun 2017, yaitu: Pelatihan Guru Pembelajar (2016) dan Peningkatan Keprofesionalan Berkelanjutan (2017).
• Penelitian dilaksanakan dengan menganalisis secara kuantitatif data SIM- PKB dan data pelaksanaan pelatihan yang diperoleh dari tiga P4TK, yaitu P4TK Bahasa, P4TK IPA, dan P4TK Matematika.
• Penelitian juga dilaksanakan secara kualitatif melalui 3 FGD, yaitu dengan
perwakilan pengambil kebijakan (Ditjen GTK), tiga P4TK dan para guru
yang terlibat dalam pelatihan (guru instruktur dan guru sasaran).
HASIL
Reaksi Peserta Pelatihan
• Reaksi peserta terhadap penyelenggaraan pelatihan guru tahun 2016 dan 2017 pada umumnya positif.
Hanya indikator variasi hidangan/ konsumsi yang masuk kategori rentang terendah untuk pelatihan
instruktur nasional yang diselenggarakan oleh P4TK IPA sehingga dapat membuat jenuh peserta pelatihan dan berpengaruh terhadap efektifitas pelatihan. Untuk
pelatihan yang diselenggarakan oleh P4TK Bahasa, indikator yang masuk dalam kategori rentang nilai
terendah adalah (i) Ketercapaian tujuan workshop dan (ii) Kesesuaian alokasi waktu dengan program
workshop.
Rerata Skor Pre-test dan Post-test
• Pelatihan Guru Pembelajar tahun 2016 disimpulkan efektif dengan adanya
peningkatan skor sebelum (48,10) ke sesudah
pelatihan (54,79) (n=435.693)
• Pelatihan PKB tahun 2017 disimpulkan efektif dengan adanya peningkatan skor sebelum (48,56) ke
sesudah pelatihan (55,43)
(n=276.688) profil2015rerata profil2017rerata
Mean 48,56 55,43
0,00 10,00 20,00 30,00 40,00 50,00 60,00 70,00 80,00 90,00 100,00
Rata-Rata PKB 2017
profil2015rerata profil2016rerata
Series1 48,10 54,79
0,00 10,00 20,00 30,00 40,00 50,00 60,00 70,00 80,00 90,00 100,00
Rata-Rata PKB GP 2016
Proporsi peserta pelatihan yang efektif dan tidak efektif
• Pada umumnya (86%), peserta pelatihan Guru Pembelajar tahun 2016 memiliki perubahan (delta) skor sebelum dan
sesudah pelatihan positif.
Pelatihan tidak efektif bagi sekitar 14% peserta.
• Peserta pelatihan PKB
tahun 2017 yang memiliki perubahan (delta) skor sebelum dan sesudah pelatihan positif lebih tinggi sekitar 2 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
14%
86%
Kategori Efektivitas (PKB GP 2016) tidak efektif efektif
12%
88%
Kategori Efektivitas (PKB 2017)
tidak efektif efektif
Persentase ketidakefektifan pelatihan tertinggi baik 2016 maupun 2017 adalah guru SPK (ada yang lebih dari 50%) dan kemudian SM. Kemungkinan: 1) guru-guru sudah menguasai materi, atau 2)
guru-guru kurang serius mengikuti pelatihan
0,0% 50,0% 100,0%
SDLB SLB SD SMPLB SMLB SMP SMK SMA SPK SD SPK SMP SPK SMA
Persentase Guru
S at ua n P en di di ka n
Kategori Efektivitas Pelatihan Guru Menurut Satuan Pendidikan (PKB GP 2016)
efektif tidak efektif
0% 50% 100%
SMPLB SLB SDLB SD SMP SMK SMA SMLB SPK SMP SPK SD SPK SMA
Persentase Guru
S at ua n P en di di ka n
Kategori Efektivitas Pelatihan Guru Menurut Satuan Pendidikan (PKB 2017)
efektif
tidak efektif
0% 50% 100%
Prop. Nusa Tenggara Timur Prop. Gorontalo Prop. Lampung Prop. Kalimantan Utara Prop. Kalimantan Timur Prop. Sumatera Selatan Prop. Aceh Prop. Maluku Utara Prop. Kalimantan Barat Prop. Nusa Tenggara Barat Prop. Kalimantan Selatan Prop. Sulawesi Selatan Prop. Sumatera Utara Prop. Bali Prop. Kalimantan Tengah Prop. Sulawesi Barat Prop. Jawa Barat Prop. Riau Prop. Sulawesi Tengah Prop. Sumatera Barat Prop. Jawa Tengah Prop. Maluku Prop. Sulawesi Tenggara Prop. Sulawesi Utara Prop. Jambi Prop. Jawa Timur Prop. Bengkulu Prop. Banten Prop. Papua Barat Prop. D.K.I. Jakarta Prop. Bangka Belitung Prop. Kepulauan Riau Prop. D.I. Yogyakarta Prop. Papua
Provinsi (PKB GP 2016)
tidak efektif efektif
0% 50% 100%
Prov. Kalimantan Utara Prov. Sulawesi Tenggara Prov. Sulawesi Barat Prov. Kalimantan Timur Prov. Maluku Utara Prov. Sulawesi Selatan Prov. Sulawesi Tengah Prov. Nusa Tenggara Timur Prov. Gorontalo Prov. Maluku Prov. Aceh Prov. Papua Barat Prov. Jawa Barat Prov. Kalimantan Barat Prov. Sulawesi Utara Prov. Jambi Prov. Kalimantan Tengah Prov. Papua Prov. Riau Prov. Kepulauan Bangka Belitung Prov. Banten Prov. Sumatera Selatan Prov. Jawa Timur Prov. Sumatera Barat Prov. Sumatera Utara Prov. Bengkulu Prov. Nusa Tenggara Barat Prov. Lampung Prov. D.K.I. Jakarta Prov. D.I. Yogyakarta Prov. Kepulauan Riau Prov. Jawa Tengah Prov. Bali
Provinsi (PKB 2017)
tidak efektif efektif
Efektifitas pelatihan menurut provinsi
0% 25% 50% 75% 100%
Prop. Nusa Tenggara Timur Prop. Gorontalo Prop. Lampung Prop. Kalimantan Utara Prop. Kalimantan Timur Prop. Sumatera Selatan Prop. Maluku Utara Prop. Aceh Prop. Kalimantan Barat Prop. Nusa Tenggara Barat Prop. Kalimantan Selatan Prop. Kalimantan Tengah Prop. Sulawesi Selatan Prop. Sumatera Utara Prop. Bali Prop. Sulawesi Barat Prop. Jawa Barat Prop. Riau Prop. Sumatera Barat Prop. Sulawesi Tengah Prop. Jawa Tengah Prop. Maluku Prop. Sulawesi Tenggara Prop. Sulawesi Utara Prop. Jambi Prop. Bengkulu Prop. Jawa Timur Prop. Banten Prop. Papua Barat Prop. D.K.I. Jakarta Prop. Bangka Belitung Prop. Kepulauan Riau Prop. D.I. Yogyakarta Prop. Papua PKB GP 2016_Provinsi_k_N_gain
Rendah Sedang Tinggi
0% 25% 50% 75% 100%
Prov. Kalimantan Utara Prov. Sulawesi Tenggara Prov. Sulawesi Barat Prov. Sulawesi Tengah Prov. Maluku Utara Prov. Kalimantan Timur Prov. Sulawesi Selatan Prov. Nusa Tenggara Timur Prov. Kalimantan Barat Prov. Gorontalo Prov. Maluku Prov. Aceh Prov. Jawa Barat Prov. Sulawesi Utara Prov. Papua Barat Prov. Kalimantan Tengah Prov. Jambi Prov. Papua Prov. Riau Prov. Sumatera Selatan Prov. Kepulauan Bangka…
Prov. Kalimantan Selatan Prov. Banten Prov. Sumatera Barat Prov. Bengkulu Prov. Sumatera Utara Prov. Jawa Timur Prov. Nusa Tenggara Barat Prov. Lampung Prov. D.K.I. Jakarta Prov. Kepulauan Riau Prov. Jawa Tengah Prov. D.I. Yogyakarta Prov. Bali PKB 2017_Provinsi_k_N_gain
Rendah Sedang Tinggi
P K B G P 2 0 1 6
P K B 2 0 1 7
0% 25% 50% 75% 100%
Belum mencapai target (N=254) Mencapai target
(N=239)
PKB GP 2016_Papua_1_k-pretes&k_N-gain
Rendah Sedang Tinggi
0% 25% 50% 75% 100%
Belum mencapai target (N=2748) Mencapai target
(N=7779) PKB GP
2016_Yogyakarta_2_k_pretest&k_N_ga in
Rendah Sedang Tinggi
0% 25% 50% 75% 100%
Belum mencapai target (N=16762)
Mencapai target (N=1435) PKB GP
2016_NTT_34_k_pretest&k_N_gain
Rendah Sedang Tinggi
Pelatihan 2016
P K B G P 2 0 1 6
P K B 2 0 1 7
0% 25% 50% 75% 100%
Belum mencapai target (N=1046) Mencapai target
(N=628)
PKB 2017_Bali_1_k_pretest&k_N_gain
Rendah Sedang Tinggi
0% 25% 50% 75% 100%
Belum mencapai target (N=3336) Mencapai target
(N=4174)
PKB 2017_Yogyakarta_2_k_pretest&k- N_gain
Rendah Sedang Tinggi
0% 25% 50% 75% 100%
Belum mencapai target (N=717) Mencapai target
(N=224)
PKB 2017_Kalimantan Utara_34_k_pretest&k_N_gain
Rendah Sedang Tinggi
Pelatihan 2017
0% 25% 50% 75%100%
Belum mencapai
target (N=22941)
Mencapai target (N=21034)
PKB GP 2016_SMA_1
Rendah Sedang Tinggi
0% 25% 50% 75%100%
Belum mencapai
target (N=19074)
Mencapai target (N=12082)
PKB GP 2016_SMK_2
Rendah Sedang Tinggi
0% 25% 50% 75%100%
Belum mencapai
target (N=70889)
Mencapai target (N=36938)
PKB GP 2016_SMP_3
Rendah Sedang Tinggi
0% 25%50%75%100%
Belum mencapai
target (N=208015)
Mencapai target (N=5516)) PKB GP 2016_SD_6
Rendah Sedang Tinggi
Efektifitas Pelatihan Menurut Satuan Pendidikan: Pelatihan 2016
Pelatihan lebih efektif pada kelompok peserta yang belum mencapai target
dibandingkan pada kelompok yang sudah mencapai target: efektifitas rendah
lebih besar pd krlompok yang mencapai target
0% 25% 50% 75%100%
Belum mencapai
target (N=7281) Mencapai target (N=4120) PKB 2017_SMK_1
Rendah Sedang Tinggi
0% 25% 50% 75%100%
Belum mencapai
target (N=13069)
Mencapai target (N=12505) PKB 2017_SMA_2
Rendah Sedang Tinggi
0% 25% 50% 75%100%
Belum mencapai
target (N38219) Mencapai target (N=22768)
PKB 2017_SMP_5
Rendah Sedang Tinggi 0%25%50%75%100%
Belum mencapai
target (N=131846)
Mencapai target (N=44457) PKB 2017_SD_6
Rendah Sedang Tinggi