• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kerja praktekmerupakan salah satu persyaratan dalam menyelesaikan satu jenjang pendidikan di perguran tinggi. Kerja praktek tersebut disusun dengan tujuan untuk menunjukan adanya kemampuan dan sikap berfikir ilmiah mahasiswa secara mandiri.

Kerja praktek adalah salah satu persyaratan bagi mahasiswa Teknik mesin Universitas Muhammadiyah Metro untuk memperoleh gelar sarjana.

Melalui kerja praktek mahasiswa dapat menerapkan teori-teori ilmiah yang diperoleh selama mengikuti perkuliahan untuk kemudian dapat di analisa dan memecahkan masalah yang timbul di lapangan, serta memperoleh pengalaman yang berguna dalam mewujudkan pola kerja yang akan di hadapi nantinya setelah mahasiswa menyelesaikan studinya.

Oleh karena itu kemampuan akademis yang dimiliki oleh penulis diharapkan mampu merespon secara akurat setiap permasalahan yang ada pada ruang lingkup pekerjaan yang dijalaninya dengan mendapatkan bimbingan dari pembimbing. Dengan adanya pemikiran tersebut, maka kami pada tanggal 1 september 2015, melaksanakan kerja praktek di PT.

DIRGANTARA INDONESIA yang berkedudukan di Jl. Pajajaran, Bandung.

Kami memelih PT. DIRGANTARA INDONESIA sebagai tempat dalam melaksanakan kerja praktek dengan pertimbangan sebagai berikut : a. Program kuliah yang kami ambil di bangku kuliah yaitu teknik mesin baik

dalam bidang produksi maupun maintenance.

b. Persiapan dan pengenalan menuju penyusunan tugas akhir yaitu perancangan.

c. PT. DIRGANTARA INDONESIA merupakan suatu industri canggih yang menjadi salah satu titik acuan kemajuan teknologi di indonesia.

d. Harapan untuk terjun langsung dan membandingkan teori yang diperoleh di bangku kuliah dengan yang terjadi di dunia industri.

(2)

e. Harapan untuk memperoleh pengetahuan baru dari dunia industri pesawat terbang.

Dalam pengambilan judul kami melakukan pengamatan dan belajar proses-proses yang dilakukan dalam pembuatan sebuah part dari pesawat terbang. Dari proses pemotongan bahan baku material, proses permesinan hingga menjadi material jadi atau biasa disebut part. Dan proses terlama dan sangat menetukan hasil dari material baik dari geometri maupun kualitas material adalah pada proses permesinan atau pembentukan dengan mesin.

Pada proses permesinan terdapat banyak kemungkinan yang membuat suatu part baik atau gagal. Baik faktor dari dasar material sendiri, operator, dan program yang diberikan pada mesin. Mesin-mesin yang digunakan oleh PT. Dirgantara Indonesia lebih banyak dikerjakan oleh mesin jenis CNC, yang pada proses nya lebih cepat dan tingkat ketelitian yang sangat baik.

Namun hasil dari proses tersebut sangat ditentukan oleh kondisi mesin dan program yang diberikan kepada mesin tersebut. Beberapa kendala yang terjadi dilapangan Kerusakan yang sering terjadi terutama pada cutter, disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya ialah akibat gaya gesekan yang terjadi antara bidang aktif cutter dengan material benda kerja yang menghasilkan geram dengan temperatur yang tinggi. Kecepatan sayat, laju pemakanan dan kedalaman sayat sangat mempengaruhi.

Dan akhirnya penulis memberi judul laporan ini “ANALISA PROSES PENGERJAAN PART, RAIL PADA MESIN HAAS VF 6 TERHADAP EFISIENSI WAKTU“.Dan diharapkan dapat dipergunakan sebagai pertimbangan pada mesin-mesin dengan jenis yang sama.

1.2 Rumusan Masalah

Permasalahan yang akan menjadi bahasan utama pada laporan ini adalah : a. Bagaimana cara mengetahui efesiensi waktu proses produksi?

b. Berapakah nilai pada waktu proses produksi?

c. Faktor apa yang mempengaruhi waktu proses produksi?.

1.3 Batasan Masalah

Batasan mesalah yang akan dibahas dalam laporan ini adalah :

(3)

a. Jenis matrial titanium l7301-1

b. Mesin yang digunakan yaitu CNC HAAS VF 6 c. Proses pengerjaan benda kerja adalah proses milling 1.4 Tujuan

Tujuan dari penulisan laporan ini adalah :

a. Cara mengetahui perhitungan efisiensi waktu proses produksi ? b. Cara mengetahui nilai waktu proses produksi ?

c. Faktor yang mempengaruhi waktu proses produksi

1.5 Manfaat Penulisan

manfaat yang diharapkan dari laporan ini adalah :

a. Meminimalisir waktu pengerjaan didalam proses produksi b. Memaksimalkan kerja mesin terhadap waktu produksi

BAB II

PT. DIRGANTARA INDONESIA

2.1 PROFILE PERUSAHAAN

2.1.1. Sejarah PT. Dirgantara Indonesia

(4)

Perintisan perusahaan penerbangan ini dimulai dari sebuah badan yang dinamakan Depot Penyelidikan, Percobaan, dan Pembuatan Pesawat Terbang (DPPP). Badan ini diprakarsai oleh Nurtanio dan didirikan pada Agustus 1961.

Pada tahun 1962, nama DPPP diganti menjadi Lembaga Persiapan Industri Penerbangan (Lapip). Kemudian pada tahun 1966 nama tersebut diubah kembali menjadi Lembaga Industri Penerbangan Nurtanio (Lipnur).

Pada tanggal 23 Agustus 1976, aset Lipnur (TNI AU) dilebur dengan Divisi Teknologi Penerbangan (ATTP) Pertamina menjadi PT. Industri Pesawat Terbang Nurtanio. Industri ini merupakan sejarah industri pesawat terbang modern selanjutnya. Pada masa ini, segala aspek baik infrastruktur, fasilitas, sumber daya manusia, hukum dan peraturan, beserta semua yang berkaitan dan mendukung keberadaan industri pesawat terbang diatur secara menyeluruh.

Setelah melakukan pengembangan di berbagai fasilitas serta sarana dan prasarana, pada tanggal 11 Oktober 1985 PT. Industri Pesawat Terbang Nurtanio diubah menjadi PT. Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN). Industri ini kemudian mengembangkan teknologi canggih dan konsep transformasi teknologi yang memberikan hasil yang optimal sebagai upaya untuk mengusai teknologi penerbangan dalam waktu yang relatif singkat yaitu 20 tahun.

Dalam menjalankan kegiatannya, IPTN berpegangan pada filosofi transformasi teknologi “Begin at the End and End at the Beginning”. Dengan filosofi tersebut, perusahaan ini berhasil mentransfer teknologi penerbangan yang rumit dan terbaru, dengan secara khusus menguasai desain pesawat terbang, rekayasa pengembangan serta menufaktur pesawat komuter kecil dan sedang, IPTN juga bekerja sama dengan pihak pabrikan melaksanakan pembuatan berbagai jenis pesawat terbang, seperti C212 Aviocar, C235, NBO105, NBK117, BN109, SA330 Puma, NAS332 Super puma dan Nbell412. Hal ini kemudian berlanjut pada keberhasilan membuat pesawat N250 dan N2130.

IPTN kemudian memasuki masa-masa sulit ketika Indonesia tertimpa krisis moneter pada pertengahan tahun 1997, yang meluas ke arah krisis melti dimensi yang meliputi bidang ekonomi, sosial, budaya, hukum, akhlak, dan hankam.

(5)

Krisis ini sangat berdampak pada kelangsungan hidup perusahaan ini, yang memaksa pemerintah mengurangi dukungan politis dan juga suntikan dana bagi IPTN. Hal ini ternyata tidak dapat diantisipasi oleh perusahaan ini, sehingga kondisi internal yang mencakup finansial dan menejerial pun memburuk.

Dalam keadaan ini, Presiden RI, KH. Abdurrahman Wahid pada tanggal 24 Agustus 2000 meresmikan perubahan nama menjadi PT. Dirgantara Indonesia (PT. DI). Hal ini bertujuan untuk memberi nafas dan paradigma baru bagi perusahaan. Perubahan nama ini ternyata tidak memperbaiki keadaan, namun ternyata keadaan yang timbul semakin rumit dan kompleks. Hal ini disebabkan oleh volume bisnis jauh lebih kecil dari sumber daya yang tersedia, budaya organisasi tidak sehat, Direksi tidak berfungsi sebagai mana mestinya, ketidakadaan modal kerja, beban gaji melebihi kemampuan, serta beban utang yang masih besar.

Berdasarkan fakta bahwa PT. DI adalah aset nasional, industri strategis yang mendukung kepentingan nasional dan memiliki kemampuan kedirgantaraan, maka tindakan penyelamatan pun dilakukan. Strategi penyelamatan yang dilakukan diawali dengan tahap Rescue (sampai dengan Desember 2003), Recovery (Januari- Desember 2004)dan kemudian dilanjutkan dengan tahap Pertumbuhan Bisnis.

Penyelamatan perusahaan dan penanganan karyawan diantaranya dilakukan dengan:

1. Program perumahan sementara yang berlaku bagi seluruh karyawan selama 6 bulan untuk Stop-Bleeding, peningkatan produktivitas dan pemulihan kepercayaan pelanggan.

2. RUPS luar biasa berupa peminjaman modal kerja senilai US $ 39 Juta untuk PAF/TUDM/MPA-AU/Bae, restrukturasi keuangan PMS dan RDI/SLA, pencabutan SKEP sistem pengupahan 15/10/02 kembali ke sistem sebelumnya, seleksi ulang seluruh karyawan, rasionalisasi 6000 karyawan, jual aset non produktif serta pengubahan susunan BOD & BOC.

3. Program seleksi ulang karyawan oleh Konsultan SDM independen “Perso Data”.

4. Program Re-staffing (pemanggilan karyawan yang lulus seleksi ulang).

(6)

5. Program Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dilakukan dengan sosialisasi secara cascade dan melalui media massa.

6. Program Re-deployment/Career Change Program berupa konversi kompetensi, penyaluran ke BUMN lain, penyaluran ke perusahaan swasta lain, penyaluran ke BUMN lain, Training Enterpreneurship dan Family Counseling.

7. Konsep PT. DI baru, Re-Fokus lini usaha (terbagi menjadi 4: Aircraft, Aerostruktur, Maintenance dan Engineering Service), organisasi baru, restrukturisasi sumber daya, bisnis proses baru dan budaya perusahaan baru.

Saat ini PT. DI masih tetap berproduksi untuk usaha memenuhi kontrak kerja yang telah disepakatinya. Meski dengan berbagai kendala dan kekurangan yang ada. Bagaimanapun langkah-langkah yang telah diambil diharapkan cukup memadai memperbaiki kinerja, efisiensi dan efektifitas perusahaan. Sehingga bukan hal yang mustahil PT. DI nantinya bangkit kembali sebagaimana yang diharapkan seluruh bangsa dan negara ini.

2.2 Visi dan Misi Perusahaan 2.2.1 Visi

Menjadi perusahaan berbasis teknologi dirgantara yang unggul dalam rekayasa, rancang bangun, manufaktur dan produksi pesawat terbang untuk angkutan penumpang dan kargo, baik untuk kepentingan komersial maupun militer yang mampu meraih keuntungan berdasarkan keunggulan kompetitif pada pasar domestik dan regional.

2.2.2 Misi

(7)

a. Menjalankan usaha dengan selalu berorientasi pada aspek bisnis komersil dan dapat menghasilkan produk dan jasa yang memiliki keunggulan biaya.

b. Sebagai pusat keunggulan di bidang industri dirgantara, terutama dalam rekayasa, rancang bangun, manufaktur, produksi dan pemeliharaan untuk kepentingan komersial dan militer dan juga untuk aplikasi di luar industri dirgantara.

c. Menjadikan perusahaan sebagai pemain kelas dunia di industri global yang mampu bersaing dan melakukan aliansi strategis dengan industri dirgantara kelas dunia lainnya.

2.3 Satuan Usaha 2.3.1 Aircraft

Memproduksi beragam pesawat untuk memenuhi berbagai misi sipil, militer, dan juga misi khusus. Antara lain :

A. NC-212

Pesawat berkapasitas 19-24 penumpang, dengan beragam versi, dapat lepas landas dengan mendarat dalam jarak pendek, serta mampu beroprasi pada landasan rumput/tanah dll. (unpave run away)

B. CN-235

Pesawat angkut komuter serbaguna dengan kapasitas 35-40 penumpang ini, dapat digunakan dalam berbagai misi, dapat lepas landas dan mendarat dalam jarak pendek dan mampu beroprasi pada landasan rumput/tanah/es/ dll. (unpave run away)

C. NBO-105

Holikopter multi guna ini mampu membawa 4 penumpang, sangat baik untuk berbagai macam misi; mempunyai kemampuan hovering dan manuver dalam situasi penerbangan apapun.

D. SUPER PUMA NAS-332

Helikopter modern ini mampu membawa 17 penumpang, dilengkapi dengan aplikasi multi misi yang aman dan nyaman.

E. NBELL – 412

Helikopter yang mampu membawa 13 penumpang ini, memiliki prioritas rancanan yang rendah resiko: keamanan yang tinggi, biaya perawatan dan biaya operasi yang rendah.

(8)

2.3.2 Aerostucture

Didukung oleh tenaga ahli yang berpengalaman dan mempunyai kemampuan tinggi dalam manufaktur dengan dilengkapi pula dengan fasilitas manufaktur dengan ketepatan tinggi (high precision), seperti : mesin-mesin canggih, bengkel sheet metal

& welding/pengelasan, composite & bonding center, jig & tool shop, calibration, testing equipment & quality inspection (peralatan test & uji kualitas), pemeliharaan, disb.; bisnis Satuan Usaha Aerostructure meliputi :

• Pembuatan komponen aerostructure (Machined parts, Sub-assembly, Assembly)

• Pengembangan rekayasa (engineering package): pengembangan komponen aerostructure yang baru.

• Perancangan dan pembuatan alat-alat (tool design & manufacturing).

Memberikan program-program kontrak tambahan (subcontract programs) dan offset, untuk Boeing, Airbus Industries, BAe System, Korean Airlines Aerospace Division, Mitsubishi Heavy Industries, AC CTRM Malaysia.

Pembuatan komponen dilakukan melalui proses pemesinan maupun yamg lainnya di machining shop maupun pembentukan logam, Bonding – Komposit

.

1. Machining Shop

Pembuatan komponen pesawat menggunakan proses pemotongan dengan mesin, dari bahan baku logam blok dibuat berbagai bentuk. Dilakukan pemasangan bagian, engel dan lain – lain.

2. Sheet Metal Forming

Pembuatan komponen pesawat dengan bahan baku lembaran logam atau pipa menggunakan proses rubber press, folding, Bonding stretch forming.

3. Bonding and Composite

Pembuatan komponen pesawat dengann bahan baku material bukan logam seperti prepregnated, honeycomb core, adesif, karet dan lain – lain. Menggunakan pengecoran dan polimasi di autoklaf.

Proses pendukung lainnya :

a). Heat treatment

(9)

Suatu perelakuan yang diterapkan terhadap bahan baku sehingga lebih memudahkan proses pembuatan komponen. Proses yang dilakukan antara lain : pengerasan, pelinakan dan penormalan kembali. Ketiga hal diatas dilakukan dengan cara pemanasan, pendinginan, dan kombinasi antara pemanasan dan pendinginan.

Komponen yang memerlukan perlakuan diatas adalah komponen yang dibuat dengan lembaran logam.

b). Surface Treatment

Suatu perlakuan pelapisan komponen secara kimiawi sehingga komponen lebih tahan korosi. Selain itu terdapat perlakuan laim terhadap komponen dengan cara chemical milling. Komponen yang mendapat perlakuan diatas antara lain yang dibuat di sheet metal forming, machining shop, juga komponen – komponen yang dibbentuk dengan carab strech forming dan rubber press.

c). Welding

Suatu proses penggabungan part menjadi komponen dengan cara las, dari bahan baku lembaran logam atau pipa, bagian ,mesin sehingga menjadi komponen sesuai dengan gambar teknik.

d). Pengecatan

Suatu perlakuan lanjut agar komponen – komponen diatas lebih tahan korosi.

Sebelum komponen – komponen di atas dirakit dibagian Fixed Wing dan Rotary Wing diadakanpengujian final oleh bagian Quality Assurance sesuai data yang tercantum dalam dokumen.

e). Laboratorium Metalurgi Fisik

Laboratorium metalurgi fisik memberi jaminan penuh terhadap pengujian validasi, kalibrasi, kepada semua alat ukur dan instrument yang dipakai untuk mengontrol pembuatan komponen.

Untuk menjamin mutu produk komponen dilakukan uji :

(10)

1. Destructive Test

Uji memrusak yang dilakukan dengan dample part, shearing test, peeling test, peeling test, drum test, compretion test dan lain – lain.

2. Non – destructive Test

Pengujian dengan tidak merusak benda kerja yang diinspeksi :

a. Penetrant Test adalah pengujian yang dilakukan terhadap suatu komponen yang bertujuan untuk mengetahui cacat – cacat yang ada dipermukaan ( surface defect).

b. Magnetic particle test adalah pemeriksaan cacat pada material baik dipermukaan dan sedikit dibawah permukaan.

c. Ultrasonic test adalah pengujian komponen melalui gelombang suara yang bertujuan untuk mengetahui cacat dibagian dalam material.

d. X – ray atau radiography test yang berfungsi untuk pengujian material dengan menggunakan radiography dengan ketebalan komponen ± 3 mm.

2.3.3 Aircraft Services

Dengan keahlian dan pengalaman bertahun-tahun, Unit Usaha Aircraft Services menyediakan servis pemeliharaan pesawat dan helikopter berbagai jenis, yang meliputi: penyediaan suku cadang, pembaharuan dan modifikasi struktur pesawat, pembaharuan interior, maintenance & overhaul.

2.3.4 Engineering Services

Dilengkapi dengan peralatan dan perancangan analisis yang canggih, fasilitas uji berteknologi tinggi, serta tenaga ahli yang berlisensi dan berpengalaman standard internasional, Satuan Usaha Engineering Services siap memenuhi kebutuhan produk dan jasa bidang engineering.

2.3.5 Defence

Referensi

Dokumen terkait

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul: PENGEMBANGAN MULTIMEDIA INTERAKTIF SEBAGAI

 Ruang Kebaktian merupakan public space yang sifatnya semi public, di dalamnya menampung aktivitas khusus untuk peserta ibadah (jemaat gereja)..  Aktivitas yang dilakukan

Hasil analisis statistik dengan metode kuadrat terkecil menunjukkan bahwa pemberian kepuasan kerja karyawan berpengaruh pada kemampuan layanan karyawan Pada Hotel

Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam, sumber segala kebenaran, sang kekasih tercinta yang tidak terbatas pencahayaan cinta-Nya bagi hamba-Nya, Allah Subhana Wata‟ala

Melalui kegiatan observasi di kelas, mahasiswa praktikan dapat. a) Mengetahui situasi pembelajaran yang sedang berlangsung. b) Mengetahui kesiapan dan kemampuan siswa dalam

Dua hal yang dipelajari penulis dengan pendekatan kemosistematika dalam peng- amatan adalah: (1) ketetapan karakter pada kelompok besar tetumbuhan yang memiliki arti dalam

Penelitian ini berjudul Pola Komunikasi Masyarakat Kampung Bali, yang penelitiannya meliputi wawancara pada Masyarakat Suku Bali di Desa Cipta Dharma atau

Suku bunga efektif adalah suku bunga yang secara tepat mendiskontokan estimasi penerimaan atau pembayaran kas di masa datang (mencakup seluruh komisi dan bentuk