• Tidak ada hasil yang ditemukan

PELATIHAN KEPALA PROYEK BANGUNAN GEDUNG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PELATIHAN KEPALA PROYEK BANGUNAN GEDUNG"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

GSBC – 10 = PERENCANAAN DAN

PENGORGANISASIAN PELAKSANAAN PROYEK

PELATIHAN

KEPALA PROYEK BANGUNAN GEDUNG

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM

BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI DAN SUMBER DAYA MANUSIA PUSAT PEMBINAAN KOMPETENSI DAN PELATIHAN KONSTRUKSI

(2)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 FUNGSI PERENCANAN DALAM MANAJEMEN

Perencanaan (planning) dapat didefinisikan sebagai “keseluruhan proses pemikiran secara matang daripada hal-hal yang akan dikerjakan di masa yang akan datang dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditentukan.

Apabila definisi tersebut diteliti, akan menjadi jelas terlihat bahwa planning sebagai fungsi organik manajemen merupakan perumusan yang teliti daripada kebijakan- kebijakan mengenai berbagai aspek serta kegiatan termasuk penggunaan sumber daya dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditentukan. Kebijakan-kebijakan yang dirumuskan dalam suatu rencana mencakup struktur organisasi yang hendak diciptakan, pengadaan serta penggunaan tenaga kerja, sistem dan prosedur yang hendak dipergunakan serta alat-alat lainnya yang diperlukan untuk kelancaran kegiatan-kegiatan tersebut.

Melihat pengertian-pengertian yang diberikan diatas, menjadi jelas bahwa rencana adalah satu keputusan. Karena merupakan suatu keputusan maka kegunaannya baru akan terlihat setelah dilaksanakan.

Pengertian-pengertian yang diuraikan di muka menunjukkan pula dengan jelas bahwa perencanaan merupakan fungsi organik pertama dari administrasi dan manajemen. Alasannya ialah bahwa tanpa adanya rencana, maka tidak ada dasar untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu dalam rangka usaha pencapaian tujuan. Perencanaan menjadi fungsi organik pertama karena ia merupakan dasar dan titik tolak dari kegiatan pelaksanaan selanjutnya.

Suatu rencana ditujukan ke masa yang akan datang. Karenanya ada beberapa hal yang penting untuk diingat dalam hubungan dengan proses perencanaan itu. Pada dasarnya ada empat titik tolak yang perlu dipegang teguh (atau paling sedikit diingat) yaitu :

1. Bahwa dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan, sumber-sumber yang tersedia atau mungkin yang tersedia selalu terbatas, sedangkan tujuan yang hendak dicapai tidak pernah terbatas. Rencana yang dibuat harus disesuaikan dengan tersedianya sumber daya. Hal yang logis apabila dikatakan bahwa sebelum membuat rencana, sumber-sumber apa yang telah, sedang dan akan tersedia perlu diketahui dengan tepat. Tidak didasarkan kepada dugaan-dugaan saja.

(3)

2. Bahwa suatu organisasi harus selalu memperhatikan kondisi-kondisi serta situasi dalam masyarakat, baik yang bersifat positif, yaitu yang mendorong ke arah majunya organisasi, maupun yang bersifat negatif yang kemungkinan akan menghalangi kelancaran pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang diperlukan. Hal ini sangat penting karena tidak ada satu organisasi yang dapat beroperasi dengan baik tanpa mengetahui kondisi-kondisi dan situasi itu. Tidak ada organisasi yang beroperasi dalam suasana kehampaan.

3. Bahwa organisasi, tidak dapat melepaskan diri daripada beberapa jenis pertanggung jawab. Pimpinan organisasi bertanggung jawab pertama-tama kepada dirinya sendiri. Pimpinan organisasi bertanggung jawab kepada atasannya. Juga pimpinan bertanggung jawab kepada masyarakat luas. Setiap organisasi modern, apapun bentuknya apapun tugasnya dan siapapun pemiliknya akan selalu membuat rencana, dan demikian juga dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan yang lain, segala sesuatunya harus dilakukan secara bertanggung jawab pula.

4. Bahwa manusia yang menjadi anggota organisasi dihadapkan kepada keserba keterbatasan, baik fisik, mental dan biologis. Karena itu harus selalu diusahakan terciptanya suatu iklim kerjasama yang baik. Dengan demikian manusia sebagai unsur pelaksanaan rencana dapat diajak untuk berbuat lebih banyak.

Tanpa memperhatikan keempat titik tolak tersebut, kiranya dapat diramalkan bahwa administrasi dan manajemen sukar dapat menjalankan fungsi perencanaan itu dengan baik.

1.2 LANDASAN PROSES PERENCANAAN

Proses perencanaan itu dapat ditinjau dari tiga landasan. Dengan perkataan lain, fungsi perencanaan dapat dilaksanakan dengan baik melalui tiga cara. Cara – caranya itu ialah :

I. Pertama, mengetahui sifat – sifat atau ciri – ciri suatu rencana yang baik.

Setelah ciri – ciri diketahui lalu diusahakan, agar supaya rencana yang dibuat memenuhi syarat – syarat itu. Adapun ciri – ciri itu ialah:

a. Rencana harus mempermudah tercapainya tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Karena rencana adalah suatu keputusan yang menentukan kegiatan – kegiatan yang akan dilaksanakan dalam rangka usaha pencapaian tujuan, maka kiranya tidak sulit untuk melihat adanya hubungan yang sangat erat antara rencana dan tujuan. Perlu diperhatikan bahwa

(4)

rencana hanya merupakan suatu alat untuk mencapai tujuan. Pembuatan rencana tidak boleh dijadikan tujuan.

b. Rencana harus dibuat oleh orang – orang yang sungguh – sungguh memahami tujuan organisasi. Hal ini berarti bahwa penyerahan tugas pemikiran, pengumpulan data dan fakta yang diperlukan untuk pembuatan rencana harus tertuju kepada orang – orang yang dideteksinya kepada organisasi tidak diragukan.

c. Rencana harus dibuat oleh orang – orang yang sungguh – sungguh mendalami teknik – tekni perencanaan. Perlu diingat bahwa perncanaan merupakan fungsi organik administrasi dan manajemen. Meskipun demikian, karena kesibukannya sehari – hari biasanya tanggung jawab teknis perencanaan di delegasikan kepada orang – orang lain. Analisa terakhir yang bertanggung jawab atas rencana yang dibuat adalah pimpinan tertinggi di dalam organisasi. Karena itu pimpinan harus sangat berhati – hati dalam memilih tenaga ahli perencanaan kepada siapa tugas merencanakan itu di serahkan.

d. Rencana harus disertai oleh suatu perincian yang teliti. Artinya rencana harus segera diikuti oleh PROGRAMING dimana secara terperinci dan mendateail dirumuskan berbagai kegiatan yang menyagkut aspek organisasi, tata cara, metoda kerja, penggunaan tenaga kerja, pembiayaan, target waktu, target waktu, target hasil dan sistem pengawasan yang akan dipergunakan.

e. Rencana tidak boleh terlepas sama sekali dari pemikiran pelaksanaan. Para perencana harus memperoleh informasi, dat, saran dan pendapat dari orang–orang serta unit – unit organisasi yang nantinya akan bertanggung jawab dalam pelaksanaan rencana yang akan dibuat. Polarisasi pemikiran yang cenderung untuk memisahkan proses perencanaan dan proses pelaksanaan tidak boleh terjadi.

f. Rencana harus bersifat sederhana. Sederhana di sini berarti bahwa susunan rencana itu harus sistematis, prioritas jalan terlihat, bahasa yang dipergunakan mudah dipahami, semua kegiatan pokok yang akan dilaksanakan sudah tercakup.

g. Rencana harus luwes. Meskipun pola dasar rencana harus bersifat permanen dan tidak berubah, akan tetapi tergantung atas keadaan yang dihadapi harus terdapat kemungkinan untuk mengadakan perubahan – perubahan atau penyesuaian – penyesuaian tanpa merubah pola dasar rencana sebagai keseluruhan.

(5)

h. Di dalam rencana terdapat tempat pengambilan resiko. Tidak ada seorang manusia yang persis tahu apa yang akan terjadi dimasa depan. Karena ketidaktentuan masa depan itu, maka dalam suatu rencana harus terdapat kemungkinan untuk pengambilan resiko. Tetapi kalau toh resiko harus diambil, maka resiko itu harus didasarkan kepada perhitungan yang paling ringan dan tidak membahayakan.

i. Rencana harus bersifat praktis (pragmatis), artinya suatu rencana harus dapat dicapai 9attainable) deng memperhitungkan tujuan, kapasitas organisasi, faktor lingkungan dan kemungkinan – kemungkinan yang mungkin timbul di masa depan. Rencana tidak boleh ambisius, oleh karena hal itu akan mengakibatkan kegagalan – kegagalan dan frustasi di kemudian hari.

j. Rencana harus merupakan FORECASTING, mengingat bahwa rencana akan dijalankan dimasa yang akan datang, maka rencana itu harus merupakan peramalan atas keadaan yang mungkin dihadapi.

Apabila pimpinan organisasi memahami dengan sungguh – sungguh makna dari kesepuluh prinsip perencanaan itu, dan berusaha menerapkan prinsip – prinsip itu dalam menjalankan fungsi perencanaan, pimpinan itu akan berhasil merumuskan suatu rencana yang baik.

II. Kedua, Proses Perencanaan

Proses perencanaan sebagai suatu rangkaian perencanaan yang harus dijawab dengan memuaskan. Rudyard Kipling, sastrawan Inggris yang terkenal, pernah mengatakan bahwa dalam hidupnya ia mempunyai enam pelayanan yang baik yang bernama : 5W + H,

1. What = Apa 4. How = bagaimana 2. Where = Di mana 5. Who = Siapa 3. When = Kapan 6. Why = Mengapa

Para ahli administrasi dan manajemen telah meminjam konsep ini dan menerapkannya di bidang administrasi dan manajemen, dalam hal ini di bidang perencanaan. Di terapkan dalam bidang perencanaan, pertanyaan – pertanyaan tersebut menjadi :

1. Apa, Kegiatan – kegiatn yang harus dijalankan dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.

2. Dimana, Kegiatan – kegiatan tertentu hendak dijalankan ? Pertanyaan ini mencakup letak bagnunan organisasi yang hendak di dirikan, tata ruang yang disusun, tempat LANGGANAN yang dilayani, tempat sumber tenaga

(6)

kerja, tempat bahan – bahan yang diperlukan, tempat perhimpunan alat – alat serta perlengkapan lainnya.

3. Kapan, Kegiatan – kegiatan tertentu hendak dilaksanakan. Hal ini berarti bahwa dalam rencana harus tergambar tingkat prioritas yang akan dipergunakan, penjadwalan waktu, target phase – phase tertentu yang akan dicapai serta hal – hal lain yang berhubungan dengan faktor waktu.

4. Bagaimana, cara melaksanakan kegiatan – kegiatan ke arah tercapainya tujuan ? yang dicakup oleh pertanyaan ini menyangkut soal sistem dan tata kerja, standar yang harus dipenuhi, cara pembuatan dan penyampaian laporan, cara menyimpan dan mengolah dokumen – dokumen yang timbul sebagai akibat pelaksanaan.

5. Pertanyaan SIAPA, berarti diketemukannya jawaban dalam rencana tentang gambaran pembagian tugas, wewenang dan tanggung jawab. Harus terjawab pula pertanyaan yang menyangkut hubungan hirarki antara orang – orang serta syarat – syarat yang harus dipenuhi baik oleh golongan pimpinan dalam berbagai tingkat, maupun syarat – syarat bagi para pelaksana. Juga perlu ditegaskan kebijaksanaan yang akan di tempuh dalam pengadaan tenaga, pengajiannya, pemberhentiannya, pemecatannya dan pemensiunannya.

6. Secara filosofis, pertanyaan yang terpenting di antara rangkaian pertanyaan ini ialah pertanyaan MENGAPA. Terpenting karena pertanyaan ini ditujukan kepada kelima pertanyaan yang mendahuluinya.

Jika kelompok pimpinan dapat memuaskan dirinya atas jawaban – jawaban yang diperoleh terhadap keenam pertanyaan itu, akan terciptalah suatu rencna yang baik.

III. Ketiga, Perencanaan sebagai masalah

Memandang proses perencanaan sebagai suatu masalah yang harus dipecahkan dengan mempergunakan teknik – teknik ilmiah. Dalam menerapkan prinsip – prinsip pemecahan dengan teknik – teknik ilmiah (scientific techniques of problem – solving) pimpinan dapat pula menciptakan suatu rencana yang baik.

Dengan perkataan lain, pembuatan suatu rencana dapat dipandang sebagai masalah yang harus terpecahkan sistematis, serta didasarkan kepada tujuh langkah tertentu. Ke tujuh langkah itu ialah :

1. Mengetahui sifat hakiki dari masalah yang dihadapi (Know The nature of the problem). Di terapkan dalam bidang perencanaan kenapa rencana harus disusun. Charles F. Kettering, seorang industriawan Amerika yang terkenal,

(7)

pernah berkata bahwa : DENGAN SELESAINYA RENCANA HAKEKATNYA SUATU USAHA PENYELESAIAN MASALAH TELAH SEPARUH TERPECAHKAN.

Dalam merencanakan tidak boleh dilaksanakan hanya sekedar merencanakan saja karena kegagalan rencana itu terlihat dalam hubungannya dengan usaha pencapaian tujuan.

2. Kumpulkan data – data (Collect data). Yang dimaksud dengan data – data disini ialah :

a. Fakta – fakta yang relevan dengan tujuan yang hendak di capai.

b. Informasi dari unit organisasi yang lebih rendah.

c. Saran dari para anggota organisasi terutama mereka yang nantinya akan menjadi pelaksana rencana.

d. Ide bawahan yang mungkin sangat berharga dalam pembuatan rencana e. Kritik dari dalam dan dari luar organisasi.

Sering pula data terbentuk angka – angka yang sangat erat hubungannya dengan proses pencapaian kesimpulan dan pengambilan keputusan.

Karenanya, data itu harus lengkap, up to date, dan dapat dipercaya. Dapat dipercaya dalam arti bahwa baik data – data yang mungkin akan merupakan penghalang dalam usaha pencapaian tujuan harus dikumpulkan dan dipelajari.

3. Penganalisaan data – data (Analysis of the data). Data hanya mempunyai arti apabila data itu diinterpretasikan sedemikian rupa sehingga membantu pimpinan dalam pengambilan keputusan.

4. Penentuan beberapa alternatif (Determination of several alternatives). Hasil penganalisaan data – data biasanya akan menunjukkan beberapa alternatif yang dapat ditempuh dalam menghasilkan sesuatu. Pimpinan organisasi harus mempertimbangkan dengan teliti kebaikan – kebaikan dan keburukan – keburukan setiap alternatif untuk tiba kepada kesimpulan alternatif mana yang kiranya akan merupakan kemungkinan yang paling menguntungkan.

5. Memilih cara yang kelihatannya terbaik (Selection of the seeminingly best way from among alternatives). Hasil pemeriksaan dan analisa yang matang tentang setiap alternatif harus memungkinkan pimpinan memilih salah satu alternatif yang ada, yang dipilih tentunya alternatif yang kelihatannya terbaik.

6. Pelaksanaan (Execution). Diterapkan dalam proses perencanaan, pelaksanaan berarti pembuatan rencananya sendiri.

7. Penilaian hasil yang dicapai (Evaluation of result). Biasanya seluruh organisasi, terlebih dahulu diadakan percobaan dalam bentuk sederhana (pre- test). Hasil dari percobaan ini dianalisa untuk melihat apakah sudah sesuai

(8)

dengan keinginan, kebutuhan dan tujuan. Jika kesimpulan yang positif diperoleh, haruslah dilaksanakan seluruhnya dalam organisasi sebagai keseluruhan pula.

Pendekatan yang manapun dari ketiga pendekatan ini yang dipergunakan dalam rangka usaha perencanaan, hasilnya ialah tersusunnya suatu rencana yang baik.

1.3 PENYUSUNAN PROGRAM (PROGRAMMING)

Istilah PROGRAM dan penyusunan program sering digunakan dalam bahasa perencanaan. Yang dimaksud dengan program ialah rencana komprehensif yang memuat penggunaan sumber daya dalam pola terintegrasikan serta urutan tindakan kegiatan yang dijadwalkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Program menggariskan apa, oleh siapa, bilamana dan dimana tindakan akan dilaksanakan. Dengan demikian penyusunan program ialah aktivitas penyusunan rencana yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan.

Pekerjaan penyusunan program tergantung dari kesederhanaan atau kompleksitas daripada tujuan. Apabila tujuan yang ditetapkan bukan merupakan hal yang sulit untuk dicapai maka mudahlah sifat penyusunan program. Makin kompleksnya sesuatu tujuan makin sulit pula program dirumuskan.

Dalam hal terakhir ini maka penyusunan program merupakan proses perincian tujuan ke dalam tujuan – tujuan bagian dan perincian kegiatan dalam kegiatan – kegiatan bagian. Segala sesuatunya ini di persiapkan agar pencapaian tujuan dapat dilakukan lebih efektif.

1.4 PERAMALAN (FORECASTING)

Perencanaan merupakan penentuan tentang apa yang akan di capai dan dilakukan dimasa yang akan datang selalu diliputi ketidak pastian. Oleh karena itu dalam proses perencanaan perlu adanya peramalan atau perkiraan keadaan (FORECASTING) yaitu memperkirakan segala sesuatu yang diperkirakan akan timbul pada masa yang akan datang. Hal ini penting karena berbagai kemungkinan yang dapat terjadi dimasa yang akan datang perlu diantisipasi, sehingga dapat mencegah atau meminimalisasi kekeliruan – kekeliruan.

Peramalan dengan sendirinya mengandung resiko ketidak tepatan. Akan tetapi ramalan yang dilandasi dengan informasi yang sepenuhnya dapat dipercaya dengan disertai perhitungan yang teliti dan dengan memperhatikan berbagai faktor kemungkinan besar akan dekat pada ketepatannya dari pada kemelesetannya.

(9)

Umumnya makin pendek jangka waktu yang dijangkau dalam peramalan, misalnya satu minggu, satu bulan, satu triwulan, makin memudahkan untuk memperkirakan secara akurat. Ramalan jangka panjang, seperti setahun, dua tahun, lima tahun atau lebih, akan lebih sulit karena faktor – faktor yang tidak terduga. Dengan demikian peramalan untuk jangka panjang harus melingkupi bidang lebih luas dan programing yang bertalian dengan forecasting harus dilakukan secara berkala guna menyesuaikan rencana.

Peramalan, sebagai implikasi dari perencanaan, pada hakekatnya merupakan suatu latihan logika (Exersice in Logis) yang di dasarkan pada Akalapikiran sehat (Common Sence). Hasil peramalan dari para ahli merupakan determinan rencana.

Dan teknik peramalan tidak lain adalah teknik menginterpretasikan informasi yang tersedia.

Peramalan, berpangkal tolak dari asumsi – asumsi tertentu, kemudian dilanjutkan dengan cara :

a. Projectory, ialah kecendrungan yang lalu diproyeksikan pada masa yang akan datang.

b. Cyclic, jika peristiwa yang lalu berulang – ulang terjadi dan oleh karenanya pada masa yang akan datang diharapkan akan terjadi pula yang sama.

c. Associative, ialah menghubungkan peristiwa – peristiwa atau keadaan – keadaan misalnya jika timbul kondisi dan maka akan terjadi peristiwa B, dan demikian seterusnya.

d. Persistency, ialah karena faktor – faktor yang stabil, maka keadaan yang diramalkan tidak mengandung sesuatu perubahankeadaan yang berarti dengan yang lalu ataupun yang sekarang berlaku.

Walaupun peramalan itu hampir serupa dengan penebakan, tetapi pekerjaan itu tetap penting bagi perencanaan,kendati ramalan tidak dapat dipastikan akurat, ramalan tetap bermanfaat bagi perencanaan. Tidaklah mengherankan apabila Elber Hubbar menyatakan : JADI SEJAUH ANDA MELIHAT, DAN APBILA ANDA SAMPAI DISANA ANDA AKAN MELIHAT LEBIH JAUH LAGI.

(10)

RANGKUMAN

Bab 1

1. Ada 4 titik tolok ukur yang perlu dipegang teguh (perlu diingat) dalam perencanaan : 1. Dalam mencapai suatu tujuan yang ditentukan selalu dihadapkan sumber daya

yang mungkin terbatas, sedangkan tujuan yang hendak dicapai tidak pernah terbatas.

2. Suatu organisasi harus selalu memperhatikan kondisi-kondisi situasi lingkungan baik yang positif maupun yang negatif

3. Bahwa organisasi tidak dapat melepaskan diri daripada beberapa jenis pertanggung jawaban.

4. Bahwa manusia yang menjadi anggota organisasi dihadapkan kepada serba keterbatasan baik fisik, mental dan biologis.

Bab 2

1. Untuk melakukan analisis struktur item pekerjaan perlu ditetapkan standar kinerja lengkap dengan indikatornya.

2. Beban tugas yang dihitung dan akan dikerjakan tertuang dalam dokumen kontrak.

Bab 3

1. Metoda pelaksanaan konstruksi dan diterapkan meruakan cerminan dari profesionalisme dari tim pelaksana proyek.

2. Metoda pelaksanaan konstruksi merupakan kunci untuk dapat mewujudkan seluruh perencanaan / desain menjadi bentuk konstruksi / bangunan fisik.

3. Konsep metoda pelaksanaan konstruksi mencakup pemilihan dan penetapan yang berkaitan dengan keseluruhan segi termasuk SMM (Sistem Manajemen Mutu), SMK3 (Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja) dan SML (Sistem Manajemen Lingkungan) serta pemilihan dan penetapan sarana dan prasarana yang bersifat sementara sekalipun.

Bab 4

1. Menghitung bobot pekerjaan biasanya tertuang dalam volume dan harga satuan (BOQ) dan ukuran maupun dimensi tertuang dalam gambar kontrak.

2. Kebutuhan Sumber Daya (SD) yang terdiri dari : tenaga kerja, peralatan, material, anggaran pelaksanaan dan metoda dapat dihitung secara tepat berdasarkan ketentuan dan lampiran dokumen kontrak.

(11)

Bab 5

1. Jadwal pelaksanaan konstruksi (construction schedule) dibuat sebagai dasar bagi pemilik proyek, kontraktor dan konsultan supervisi untuk :

- memantau kemajuan pelaksanaan pekerjaan di lapangan.

- menjadi rujukan pembayaran eskalasi/ de eskalasi harga - mendukung pengalokasian anggaran biaya

- mempertimbangkan permintaan tambahan biaya akibat perubahan pekerjaan - mendukung permintaan tambahan waktu

Bab 6

1. Lima pilar TQM (Total Quality Management) menurut Bill Creech dalam bukunya The Five Pillars of TQM adalah :

- Proses, - Produk - Organisasi - Komitmen - Pemimpin

2. Organisasi merupakan salah satu pilar dalam menjalankan proses yang menghasilkan produk harus dibuat setepat mungkin.

3. Penyusun struktur organisasi dan uraian jabatan dengan dukungan teknologi informasi (TI) canggih dapat dibangun konsep organisasi baru dengan mendepankan : - Dapat memacu kreatifitas dan inovatif

- Memberdayakan dan mengarahkan karyawan garis depan

- Menjamin lancarnya dan kepuasan pelayanan kepada masyarakat pemakai produk

- Membebaskan arus komunikasi yang dapat menjangkau seluruh unitnya secara horizontal maupun vertikal.

(12)

DAFTAR PUSTAKA

1. Siagian, SP, Dr. Sistem Informasi untuk Pengambilan Keputusan, PT. Gunung Agung, Jakarta, 1979.

2. Sugiri, Fungsi Perencanaan Dalam Manajemen, Proyek Diklat Bina Marga, Jakarta : 1992.

3. Creech Bill, The Five Pillars of TQM, (Lima Pilar TQM) Binarupa Aksara, 1996.

4. Manajemen Proyek Konstruksi, Wulfam I. Ervianto, Penerbit Andi Yogyakarta.

5. Perencanaan dan Pengendalian dengan PERT dam CPM, Seni Manajemen, PPM, Balai Aksara 1981.

6. Siagian P. Siagian, MPA, Phd, Rekanan Staff dalam Manajemen, Gunung Agung 1979.

7. Modul : Manajemen Proyek, Pelatihan Manajer Pelaksanaan Pekerjaan Jalan dan Jembatan, PUSLATJAKONS, 2003

8. Soeharto, Iman, Manajemen Proyek Jilid 2, Edisi Kedua, Penerbit Erlangga, Jakarta, 2001.

9. Kajatno, Soetomo Ir, Uraian Lengkap Methoda Network Planning Jilid III, Badan Penerbit Pekerjaan Umum

Referensi

Dokumen terkait

Bentuk wanprestasi yang dilakukan oleh pelaku usaha jasa jahit pakaian Suka Makmue Tailor ialah seperti hasil jahitan yang tidak sesuai dengan seperti model yang

1.) Memimpin do‟a selanjutnya menyapa dan memeriksa kehadiran siswa dan kebersihan ruang kelas. 2.) Memberi motivasi : manusia adalah makhluk yang tidak bisa gidup sendiri

Berkaitan dengan hal tersebut, maka peneliti ingin mengkaji lebih lanjut suatu kajian penelitian yang berjudul “Pengaruh Faktor Keadilan kompensasi, Kebutuhan

sistem drainase, yaitu Bidang Pematusan pada DPUBM dan Pematusan Kota Surabaya, dalam kaitannya dengan potensi penerapan sistem ecodrainage....

43.1.2.1.2 Honorarium tim dukungan administrasi pemeriksaan reguler diberikan kepada Pegawai Negeri yang diberi tugas untuk melaksanakan kegiatan administrasi yang berfungsi

Core shear stress yang dimaksud adalah tegangan geser dari core honeycomb kardus BC-flute pada komposit sandwich serat cantula yang didapat dengan persamaan

Dari sumber ini diperoleh data kebendaan yaitu data yang berkaitan dengan bentuk karya seni karawo, seperti elemen-elemen visual yang menimbulkan kesan estetik (motif, warna,

a) Wawancara adalah metode pengumpulan data yang sudah mapan, dan beberapa sifat yang unik masih banyak dipakai. Hubungan baik dengan orang yang diwawancarai dapat