BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Adanya suatu persaingan usaha dalam kegiatan ekonomi atau bisnis antara pelaku usaha yang satu dengan yang lainnya merupakan hal yang biasa terjadi. Persaingan usaha yang sehat akan berakibat positif bagi para pengusaha yang saling bersaing atau berkompetisi karena dapat menimbulkan upaya-upaya peningkatan efisiensi, produktivitas, dan kualitas produk yang dihasilkan. Konsumen juga mendapatkan manfaat dari adanya persaingan yang sehat karena dapat menimbulkan penurunan harga dan kualitas produk tetap terjamin. Sebaliknya, apabila persaingan yang tidak sehat, hal ini akan dapat merusak perekonomian negara yang merugikan masyarakat.1
Menurut Nur A. Fadhil Lubis, Guru Besar Fakultas Syariah IAIN Sumatera Utara, larangan praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat (Law Concerning Prohibition Of Monopolistic Practies And Unfair Busness Competition) atau dikenal dengan Hukum Persaingan Usaha merupakan bagian etika bisnis yang dimasukan dalam ranah hukum etika yang lebih diartikan pada ranah baik-buruk, harus dimasukan pada ranah benar-salah, sebab persoalan praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat berdampak luas. Tidak hanya merugikan konsumen dan pelaku usaha lain namun juga merusak struktur pasar (Market Structure) serta merugikan negara akibat tindakan inefisiensi.2
Kemajuan teknologi yang semakin meningkat seperti sekarang ini memberikan keluasan, kecepatan dan kretivitas bagi para pelaku usaha dalam melakukan kegiatan usahanya. Beragam usaha dilakukan dengan sistem pemasaran online, yaitu pemasaran menggunakan media internet
1 Abdul R. Saliman, Hukum Bisnis Untuk Perusahaan Teori dan Contoh kasus. Kencana Prenada Media Group. Jakarta. 2011, hlm.223.
2 Mustafa Kamal Rokan, Hukum Persaingan Usaha Teori dan Praktik di Indonesia. Rajawali Pers, Jakarta. 2010, hlm.vii.
(online).3 Pemasaran onine dapat mempermudah dan memperluas kegiatan usaha para pelaku usaha, salah satunya yaitu kegiatan usaha dalam bidang jasa transportasi. Timbulnya kegiatan usaha jasa transportasi online cukup disambut baik oleh masyarakat di Indonesia. Kehadiran transportasi online ini merupakan sebuah terobosan yang sangat bagus dalam membangun perekonomian dan penyediaan lapangan pekerjaan sekaligus memberikan tantangan yang besar dalam dunia bisnis. Tantangan terbesar salah satunya adalah menciptakan lingkup persaingan usaha yang sehat antar pelaku usaha. Untuk mencapai persaingan usaha yang sehat tentulah harus berdasarkan prinsip keadilan dan menyeimbangan kepentingan antar pelaku usaha.
Sejak tahun 2014, berbagai macam taksi berbasis online atau disebut juga dengan angkutan sewa khusus yang merupakan pelayanan angkutan dari pintu ke pintu dengan pengemudi, memiliki wilayah oprasi dalam wilayah perkotaan, dari dan ke bandar udara, pelabuhan, atau simpul transportasi lainnya, serta pemesanan menggunakan aplikasi berbasis teknologi informasi dengan besaran tarif tercantum dalam aplikasi.4 Seperti Grab taxi, Uber taxi, Gocar, dan lain sebagainya mulai bermunculan. Masyarakat dengan golongan perekonomian menengah ke atas yang biasanya menggunakan jasa taksi konvensional mulai beralih ke taksi berbasis online yang dianggap lebih murah dan lebih praktis. Selain lebih murah dan praktis, taksi berbasis online juga mempunyai keunggulan lain yaitu keamanan yang lebih terjamin di mana penumpang bisa membagikan posisi, nama sopir, dan nomor polisi mobil kepada kerabatnya karena sudah tercatat secara online. Namun, faktor utama
3 “Materi Pemasaran Online (Online Marketing)”. Universitas Banten Jaya,, https://www.academia.edu/7975291/Materi_Pemasaran_Online_Online_Marketing_di akses pada Senin 22 April 2019 pukul 14.15 Wib.
4 Pasal 1 Angka 7 Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 118 Tahun 2018 Tentang Penyelenggaraan Angkutan Sewa Khusus.
masyarakat dalam mengambil keputusan memilih transportasi berbasis online khususnya taksi adalah harga.5
Meskipun layanan taksi berbasis online mempunyai sistem tarif yang berbeda-beda, tarif taksi berbasis online tetap lebih murah dibandingkan tarif taksi konvensional. Murahnya tarif taksi berbasis online dibandingkan konvensional disebabkan oleh investasinya yang tergolong kecil, karena tidak memiliki pool seperti taksi konvensional. Pool sendiri merupakan investasi yang mahal. Selain berfungsi sebagai tempat berkumpulnya armada taksi konvensional, pool juga berfungsi untuk memeriksa kondisi kendaraan. Pemeriksaan tersebut, juga membutuhkan biaya. Berbeda jauh dengan layanan taksi berbasis online yang berisiko rendah, contohnya jika mobil rusak, pemilik perusahaan taksi berbasis online bisa langsung tidak memakai mobil tersebut. Selain itu, layanan taksi berbasis online ini tidak membutuhkan banyak kantor serta pegawai.
Keberadaan taksi berbasis online yang menjamur ini sempat memunculkan sejumlah unjuk rasa dari sejumlah pengemudi taksi dan angkutan umum di beberapa kota besar seperti Jakarta, Bali, Yogyakarta, Malang,Tangerang, dan Solo.6 Para pendemo yang sebagian besar merupakan pengemudi taksi dan angkutan umum tersebut menuntut untuk segara ditutupnya taksi berbasis online. Mereka menganggap aplikasi tersebut telah menyebabkan menjamurnya jumlah penyedia taksi berbasis online sehingga berpengaruh terhadap penurunan penghasilan mereka.7
Penurunan penghasilan pengemudi taksi konvensional itu tentu saja berimbas pada penurunan omzet perusahaan. Secara umum, bisnis transportasi darat tahun 2016 mengalami penurunan sampai 60%, khususnya untuk beberapa sektor seperti taksi, angkutan lingkungan, dan mikrolet. Untuk taksi konvensional penurunan sekitar 40-50%, dan
5 Edmira Rivani, “Kebijakan Penyesuaian Tarif Taksi Berbasis Online”. Majalah Info Singkat Ekonomi dan Kebijakan Publik, Vol. IX, No. 06/II/Puslit/Maret/2017, http://berkas.dpr.go.id, hlm.13
6 Ibid.
7Ibid., hlm. 14
mikrolet 30%. Selain itu, sudah ada dua operator taksi yang tutup yaitu taksi express, dan taksi putra karena tidak mampu bersaing dengan taksi berbasis online.8
Untuk menghindari konflik persaingan antara perusahaan taksi konvensional dengan taksi berbasis online, pemerintah melalui Kementerian Perhubungan telah menetapkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 26 Tahun 2017 pada 1 April 2017 sebagai hasil revisi Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 32 Tahun 2016 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang dengan Kendaraan Bermotor Umum Tidak Dalam Trayek,yang menjadi payung hukum angkutan taksi online.9 Tetapi seperti diketahui, Mahkamah Agung telah mencabut 14 pasal yang terdapat dalam Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 26 Tahun 2017. Dalam Putusan Mahkamah Agung tersebut terdapat sejumlah Pasal dari hasil pembahasan dalam persidangan yang dinyatakan bertentangan dengan Peraturan Perundang-Undangan yang lebih tinggi dan tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat, setidaknya terdapat 14 pasal dalam Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 26 Tahun 2017 yang dianggap bertentangan dengan Undang-Undang yang lebih tinggi, yaitu Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dan Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.10
14 pasal tersebut yaitu, Pasal 5 Ayat (1) huruf e, Pasal 19 Ayat (1) huruf f, dan Ayat (3) huruf e, Pasal 20, Pasal 21, Pasal 27 huruf a, Pasal 30 huruf b, Pasal 35 Ayat (9) huruf a angka 2, dan Ayat (10) huruf a angka 3, Pasal 36 Ayat (4) huruf c, Pasal 37 Ayat (4) huruf c, Pasal 38 Ayat (9) huruf a angka 2, dan Ayat (10) huruf a angka 3, Pasal 43 Ayat (3) huruf b angka 1 sub huruf b, Pasal 44 Ayat (10) huruf a angka 2, dan Ayat (11)
8Ibid., hlm. 14
9http://www.dephub.go.id/post/read/pm-26-tahun-2017-tentang-revisi-aturan-angkutan-sewa- online-diberlakukan-dengan-masa-transisi
10http://www.dephub.go.id/post/read/kemenhub-taat-azas-sikapi-putusan-ma-tentang-uji-materi- pm-26-tahun-2017
huruf a angka 2, Pasal 51 Ayat (3), dan Pasal 66 ayat (4) Peraturan pengganti Permenhub Nomor 26 Tahun 2017.11 Pasal-pasal tersebut bertentangan dengan Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5 dan Pasal 7 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008, karena tidak menumbuh dan mengembangkan usaha dalam rangka membangun perekonomian nasional berdasarkan demokrasi ekonomi yang berkeadilan dan prinsip memberdayakan usaha mikro, kecil dan menengah.12 Pasal-pasal tersebut juga bertentangan dengan Pasal 182 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009, karena besaran tarif dilakukan berdasarkan tarif batas atas dan batas bawah, atas usulan dari Gubernur/ Kepala badan yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal atas nama Menteri, dan bukan berdasarkan pada kesepakatan antar pengguna jasa (kunsumen) dengan perusahaan angkutan sewa khusus.13
Peraturan pengganti Permenhub Nomor 26 Tahun 2017 tertuang dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 108 Tahun 2017 yang ditandatangani oleh Menteri Perhubungan tanggal 24 Oktober 2017 dan mulai berlaku November 2017. Dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 108 Tahun 2017 ini ada 9 (sembilan) substansi yang menjadi perhatian khusus yaitu;14
1. Argometer, yaitu bahwa besaran biaya angkutan sesuai yang tercantum pada argometer yang ditera ulang atau pada aplikasi berbasis teknologi informasi.
2. Wilayah Operasi, taksi online beroperasi pada wilayah operasi yang ditetapkan.
3. Pengaturan Tarif yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan antara pengguna jasa dan penyedia jasa transportasi melalui aplikasi teknologi informasi dengan berpedoman pada tarif batas atas dan batas bawah
11 Putusan MA nomor: 37 P/HUM/2017 tentang Uji Materi terhadap Peraturan Menteri Perhubungan Nomor: PM 26 Tahun 2017
12 Ibid,
13 Ibid,
14https://www.kemenkopmk.go.id/artikel/kemenhub-terbitkan-pm-108-tahun-2017-sebagai- payung-hukum-angkutan-online
yang ditetapkan oleh Dirjen Perhubungan Darat, dan Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ)/Gubernur sesuai dengan kewenangannya.
4. Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK), atas nama Badan Hukum atau dapat atas nama perorangan untuk Badan Hukum berbentuk Koperasi.
5. Kuota, yang ditetapkan oleh Dirjen Perhubungan Darat/Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ)/Gubernur sesuai kewenangannya.
6. Domisili Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB), menggunakan TNKB sesuai dengan wilayah operasi.
7. Persyaratan Izin, memiliki paling sedikit 5 (lima) kendaraan yang dibuktikan dengan STNK atas nama Badan Hukum atau dapat atas nama perorangan untuk Badan Hukum berbentuk Koperasi.
8. Sertifikat Registrasi Uji Tipe (SRUT), salinan SRUT kendaraan bermotor atau salinan bukti lulus uji berupa buku uji/kartu lulus uji yang masih berlaku.
9. Pengaturan Peran Aplikator, perusahaan aplikasi dilarang bertindak sebagai Perusahaan Angkutan Umum.
Dengan terbitnya Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 108 Tahun 2017, Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia mengharapkan semua pemangku kepentingan termasuk angkutan online dan konvensional dapat memahami dan mematuhi peraturan ini, karena proses penyusunannya sudah mengakomodir semua pihak, dengan mempertimbangkan Undang-Undang 20 Tahun 2008 tentang UMKM dan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.15 Namun Kebijakan tersebut kembali dicabut oleh Mahkamah Agung, dengan putusan Mahkamah Agung Nomor:15P/HUM/2018, yang mana dalam putusan tersebut Mahkamah Agung Mencabut 23 pasal yang terdapat dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 108 Tahun 2017 Tentang Penyelenggaraan
15Ibid.
Angkutan Orang Dengan Kendaraan Bermotor Umum Tidak Dalam Trayek. Dalam putusan tersebut, Mahkama Agung menyatakan Permenhub 108 Tahun 2017 adalah pemuatan ulang materi norma yang sudah pernah dibatalkan dalam Putusan Mahkama Agung Nomor 37/P.HUM/2017 pada 20 Juni 2017. Mahkama Agung menyatakan Permenhub 108 Tahun 2017 tidak sah. “Dan karenanya tidak sah dan tidak berlaku umum,” Dengan dicabutnya 23 pasal yang terdapat dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 108 Tahun 2017, Menteri Perhubungan kembali menyusun kebijakan baru, yaitu dengan diterbitkannya Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 118 Tahun 2018 Tentang Penyelenggaraan Angkutan Sewa Khusus, sebagai pengganti Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 108 Tahun 2017. Dengan banyaknya perubahan peraturan yang mengatur tentang taksi online dan taksi konvensional ini maka yang menjadi pertanyaan adalah apakah peraturan tersebut memberikan keadilan bagi para pelaku usaha khususnya perusahaan taksi konvensional dan perusahaan taksi online?, berdasarkan paparan di atas penulis tertarik untuk mengkaji dari sisi prinsip keadilan persaingan usaha taksi online dan taksi konvensional di Indonesia yang akhir-akhir ini sering diperbincangan.
B. RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang yang telah diuraikan diatas maka yang menjadi rumusan masalah adalah:
Apakah prinsip keadilan persaingan usaha taksi online dan taksi konvensional telah diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia?
C. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan pada penelitian hukum ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis prinsip keadilan persaingan usaha taksi online dan taksi konvensional dalam peraturan perundang- undangan yang berlaku di Indonesia.
D. MANFAAT PENELITIAN
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Manfaat Teoritis
Kegunaan ilmiah atau teoritis yang diharapkan dapat memberikan sumbangsih ilmu pengetahuan hukum ekonomi bisnis khususnya mengenai aktualisasi prinsip keadilan persaingan usaha taksi online dan taksi konvensional dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.
b. Manfaat Praktis
Manfaat praktis yang diharapkan adalah penelitian ini dapat memberikan masukan kepada berbagai pihak, baik pemerintah, mahasiswa dan masyarakat terkhususnya dalam bidang persaingan usaha.