• Tidak ada hasil yang ditemukan

KETOKOHAN SAWERIGADING DI TANA LUWU (STUDI PUSTAKA PRINSIP HIDUP SAWERIGADING DALAM PERUBAHAN SOSIAL) SKRIPSI. Oleh SRI WAHYUNI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KETOKOHAN SAWERIGADING DI TANA LUWU (STUDI PUSTAKA PRINSIP HIDUP SAWERIGADING DALAM PERUBAHAN SOSIAL) SKRIPSI. Oleh SRI WAHYUNI"

Copied!
94
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Mendapatkan Gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Sosiologi

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar

Oleh

SRI WAHYUNI 105381120016

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

JURUSAN PENDIDIKAN SOSIOLOGI JANUARI, 2021

(2)
(3)

iii

(4)

iv

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

Alamat : Jalan Sultan Alauddin No. 259 Makassar  Fax (0411) 860 132 Makassar 90221 www.fkip-unismuh-info

SURAT PERNYATAAN Mahasiswa yang bersangkutan:

Nama : Sri Wahyuni

Stambuk : 105381120016

Jurusan : Pendidikan Sosiologi

DenganJudul : Ketokohan Sawerigading di Tana Luwu (Studi Pustaka Prinsip Hidup Sawerigading Dalam Perubahan Sosial) Dengan menyatakan bahwa Skripsi yang saya ajukan di depan Tim Penguji adalah hasil karya sendiri dan bukan hasil ciptaan orang lain atau dibuatkan oleh siapapun. Demikian pernyataan ini saya buat da saya bersedia menerima sanksi apabila pernyataan ini tidak benar.

Makassar, Februari 2021 Yang Membuat Pernyataan

Sri Wahyuni

(5)

v

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

Alamat : Jalan Sultan Alauddin No. 259 Makassar  Fax (0411) 860 132 Makassar 90221 www.fkip-unismuh-info

SURAT PERJANJIAN Mahasiswa yang bersangkutan:

Nama : Sri Wahyuni

Stambuk : 105381120016

Jurusan : Pendidikan Sosiologi

Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Dengan ini menyatakan perjanjian sebagai berikut:

1. Mulai dari penyusunan proposal sampai selesai skripsi ini, saya akan menyusun sendiri skripsi saya (tidak dibuatkan oleh siapapun)

2. Dalam penyusunan skripsi, saya akan selalu melakukan konsultasi dengan pembimbing yang telah ditetapkan oleh pemimpin fakultas

3. Saya tidak akan melakukan penjiplakan (plagiat) dalam menyusun skripsi.

4. Apabila saya melanggar perjanjian seperti pada butir 1, 2 dan 3 saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku.

Demikian perjanjian ini saya buat dengan penuh kesadaran.

Makassar, Februari 2021 Yang Membuat Perjanjian

Sri Wahyuni

(6)

vi

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO

Sabar bukan tentang berapa lama kau bisa menunggu. Melainkan bagaimana perilakumu saat menunggu

PERSEMBAHAN

Alhamdulillah, atas rahmat dan hidayah-Nya, saya dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Karya sederhana ini kupersembahkan untuk:

Kedua orang tuaku, keluargaku, dan sahabat yang telah memberi ku semangat, motivasi serta doa dan keikhlasan nya dalam mendukung penulisan

mewujudkan harapan menjadi kenyataan.

(7)

vii ABSTRAK

Sri Wahyuni. 2021. Ketokohan Sawerigading Di Tana Luwu (Studi Pustaka Prinsip Hidup Sawerigading Dalam perubahan Sosial) Skripsi. Program Studi Pendidikan Sosiologi Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Di bimbing oleh Kaharruddin sebagai pembimbing I dan Indah Ainun Mutiara sebagai pembimbing II.

Skripsi ini bertujuan: 1).Untuk mengetahui Ketokohan Sawerigading di Tana Luwu. 2).Untuk mengetahui bagaimana Prinsip Hidup Sawerigading dalam Perubahan Sosial Masyarakat di Tana Luwu. Metode yang di gunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan kajian pustaka dengan metode pengumpulan data melalui data primer dengan pengumpulan dari buku, jurnal, skripsi dan lain-lain. Dengan menggunakan teori warisan budaya dan teori perubahan sosial.

Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa Sawerigading adalah tokoh dalam masyarakat dan sebagai perekat atau penghubung suku bangsa yang ada di Sulawesi Selatan. Sawerigading tokoh dari peristiwa-peristiwa kultural yang meliputi berbagai kejadian, dan memandangnya sebagai cikal bakal pemimpin bagi kaumnya, Adapun empat sifat-sifat Sawerigading, yang pertama sikap Getteng atau teguh dalam pendiriannya, yang kedua sifat Warani atau berani, yang ketiga

Sawerigading juga memiliki prinsip hidup dalam perubahan sosial dalam masyarakat, yaitu membangun nilai-nilai seperti nilai Religius, nilai kesatuan, nilai etis, nilai keperkasaan, nilai estetis, dan nilai historis. Selain memiliki sifat dan nilai-nilai utama dalam diri Sawerigading, Sawerigading juga memiliki nilai kebudayaan, yaitu arif dan bijaksana, mengutamakan negeri dan nama baik, mengutamakan keselamatan rakyat, Dermawan, nilai solidaritas, dan kemanusiaan yang adil dan beradab.

Kata Kunci: Ketokohan Sawerigading dan Prinsip Hidup Sawerigading

(8)

viii ABSTRAC

Sri Wahyuni. 2021. Characteristics of Sawerigading in Tana Luwu (Literature Study of the Principles of Life of Sawerigading in Social Change) Thesis. Sociology Education Study Program, Teacher Training and Education Faculty, Muhammadiyah University of Makassar. Guided by Kaharruddin as mentor I and Indah Ainun Mutiara as mentor II.

This thesis aims: 1) To determine the character of Sawerigading in Tana Luwu. 2) To find out how the Sawerigading Life Principles in Community Social Change in Tana Luwu. The method used in this research is descriptive qualitative research with a literature review approach with data collection methods through primary data by collecting from books, journals, theses and others. By using the theory of cultural heritage and social change theory.

Based on the results of the study, it shows that Sawerigading is a figure in society and as a glue or a link between ethnic groups in South Sulawesi.

Sawerigading is a character from cultural events that includes various incidents, and sees him as the forerunner of a leader for his people.

Sawerigading also has the principle of living in social change in society, namely building values such as religious values, unity values, ethical values, strength values, aesthetic values, and historical values. In addition to having the main characteristics and values in Sawerigading, Sawerigading also has cultural values, namely wisdom and wisdom, prioritizing the country and good name, prioritizing the safety of the people, generosity, the value of solidarity, and just and civilized humanity.

Keywords: Sawerigading Characteristics and Sawerigading Life Principles

(9)

ix

KATA PENGANTAR ِميِحهرلا ِنَمْحهرلا ِ هاللَّ ِمْسِب

Alhamdulillah Puji Syukur Kehadiran Allah SWT yang senantiasa memberi berbagai karunia dan nikmat yang tak terhingga kepada seluruh makhluk-Nya terutama kita selaku hamba-Nya. Salam dan salawat kita haturkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad shallalahu Alaihi Wasalam yang merupakan panutan kita sampai akhir Zaman. Dengan keyakinan itu penulis dapat menyelesaikan kewajiban akan demi dalam Skripsi penelitian. Meskipun upaya- upaya untuk tersusunnya Skripsi penelitian baik telah dilakukan secara maksimal akan tetapi sebagaimana manusia biasa tentu ada kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam proposal ini. Oleh karena itu, dengan terbuka saya mengaharapkan adanya masukan-masukan yang dapat lebih menyempurnakan Skripsi penelitian ini. Keberhasilan penyelesaian Skripsi penelitian ini ditentukan oleh berbagai faktor. Oleh karena itu kami ucapkan terima kasih kepada:

Orangtua Ayahanda Abidin dan Ibunda Hj Rosiana yang tidak hentinya memotivasi dan mendoakan anaknya , Terima kasih kepada saudara saya yang tercinta terkhusus yang telah memberikan Pendidikan kedisiplinan, doa, dan nasihat tiada hentinya memotivasi dalam pembuatan Skripsi ini sampai selesai, Prof. Dr. H. Ambo Asse, M. Ag. Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar, Erwin Akib, M. Pd., Ph.D. dekan FKIP Universitas Muhammadiyah Makassar, Drs. H. Nurdin, M. Pd ketua Prodi Pendidikan Sosiologi Universitas Muhammadiyah Makassar, Kaharuddin,S.Pd., M.Pd.,Ph.D. dosen pembimbing 1 dan Indah Ainun Mutiara, S, Pd., M. Pd dosen pembimbing 2 yang telah

(10)

x

memberikan kritik dan saran yang senantiasa menjadi arah dan dorongan dalam penyelesaian Skripsi penelitian ini, segenap Dosen Jurusan Pendidikan Sosiologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar atas bekal ilmu yang telah diberikan kepada penulis sejak pertama menjadi mahasiswa.

Akhir kata saya berharap agar Skripsi ini dapat menjadi masukan yang bermanfaat, khususnya bagi penulis dan pembaca pada umumnya. Semoga segala usaha penulis bernilai ibadah di sisi Allah SWT. Aamiin ya Rabbal alamin

Makassar, 20 Januari 2021

Sri Wahyuni

(11)

xi DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

SURAT PERNYATAAN ... iv

SURAT PERJANJIAN ... v

MOTTO DAN PESEMBAHAN ... vi

ABSTRAK BAHASA INDONESIA ... vii

ABSTRAK BAHASA INGGRIS ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... x

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 5

C. Tujuan Penelitian ... 6

D. Manfaat Penelitian ... 6

E. Definisi Operasional... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 8

A. Tinjauan Konsep ... 8

1. Konsep Ketokohan ... 8

2. Karakteristik Ketokohan ... 8

3. Sawerigading ... 12

B. Tinjauan Teori ... 13

1. Teori Warisan Budaya “Davidson” ... 13

(12)

xii

2. Teori Perubahan Sosial “Robert H. Lauer” ... 14

C. Kerangka Pikir ... 14

D. Penelitian Relevan ... 16

BAB III METODE PENELITIAN ... 18

A. Jenis dan Pendekatan Penelitian... 18

B. Waktu dan Tempat ... 19

C. Fokus Penelitian ... 19

D. Jenis Dan Sumber Data ... 19

E. Instrumen Penelitian... 20

F. Teknik Pengumpulan Data ... 20

G. Teknik Analisis Data ... 20

BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI DAN OBJEK PENELITIAN .. 22

A. Sejarah Tana Luwu ... 22

B. Kondisi Umum Tana Luwu ... 24

C. Keadaan Geografis ... 24

D. Kepadatan Penduduk ... 25

E. Keadaan Sosial Budaya ... 26

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 29

A. Hasil Penelitian ... 29

1. Ketokohan Sawerigading di Tanah Luwu ... 29

2. Prinsip Hidup Sawerigading dalam perubahan Sosial Masyarakat 32 B. Pembahasan ... 40

1. Ketokohan Sawerigading di Tanah Luwu ... 40

2. Prinsip Hidup Sawerigading dalam Perubahan Sosial Masyarakat 47 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN... 59

A. Kesimpulan ... 59

(13)

xiii

B. Saran ... 60 DAFTAR PUSTAKA ... 61 LAMPIRAN

RIWAYAT HIDUP

(14)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Bangsa Indonesia memiliki banyak tokoh pejuang yang memiliki sikap, perilaku, dan menjadi panutan bagi bangsanya atau masyarakatnya. Ketokohan yaitu yang memiliki daya tarik, kekuasaan, sehingga menjadi pahlawan atau kerajaan di masa lalu. Seorang pejuang atau tokoh pahlawan yang memiliki kisah hidup yang dapat menimbulkan Mitos, Sejarah, dan Legenda. Bagi masyarakat yang ingin mengetahui kisah tokoh pahlawan.

Perubahan sosial terjadi karena adanya perubahan dalam unsur-unsur yang mempertahankan keseimbangan masyarakat misalnya perubahan dalam unsur geografis, biologis, ekonomis dan kebudayaan. Hal ini dapat mengakibatkan suatu pergeseran dalam pola hubungan diantara individu dengan individu atau kelompok dengan kelompok dalam masyarakat atau unsur dalam suatu sistem (Putra, 2018: 48). Masa yang telah menjadi sejarah dan memiliki dimensi kultural yang telah menjadi pemahaman masyarakat pada masa Sawerigading.

Sawerigading digambarkan sebagai sosok pahlawan dan memiliki sifat kejantanan dan keperkasaan yang menjadi ciri khasnya.

Kisah Sawerigading merupakan sumber sejarah lokal yang ada di daerah Sulawesi, dan di dalam kisah Sawerigading terdapat nilai-nilai positif yang sangat relevan di tengah kehidupan masyarakat diantaranya nilai kebersamaan, Nilai Etika, Nilai Ekologis. Saat ini banyak perilaku remaja yang tidak sesuai dengan nilai-nilai positif yang terdapat dalam kisah Sawerigading. Seperti membangkang

(15)

kepada orang tua dan guru, tidak menjaga dan merusak lingkungan dan lain sebagainya. Maka dari itu Remaja perlu dikenali nilai-nilai positif yang terdapat dalam kisah Sawerigading sehingga dapat dijadikan pedoman dalam berperilaku baik dalam kehidupan seharihari (Yusuf, 2018).

Sawerigading adalah nama seorang putra raja Luwu dari Kerajaan Luwu Purba, Sulawesi selatan, Indonesia. Dalam bahasa setempat Sawerigading berasal dari dua kata, yaitu sawe yang berarti menetas (lahir), dan ri gading yang berarti di atas bambu betung. Jadi Nama Sawerigading berarti keturunan dari orang yang lahir di atas bambu betung Sawerigading lahir pada tahun 564 M.

Sawerigading terlahir dari seorang Ibu Maddaratakku bernama We Datu Senggeng dari Kerajaan Tompo Tikka dan Nama bapaknya ialah Batara Lattu yang merupakan Pajung/Datu yang ke II di Kerajaan Luwu. Sawerigading dilahirkan dalam keadaan kembar. Saudara kembarnya adalah seorang putri yang diberi nama Etenri Abeng (We Tenri Abeng). Sawerigading termasuk pemuda yang gagah perkasa dan tangkas, bentuk hidung dan sinar matanya yang menarik, bentuk gigi dan bibirnya yang kemerah-merahan yang sangat mempesona.

Seluruh pasangan anggota badannya sangat serasi (Kern, 1989:108). Dalam kitab Galigo bahwa pengembaraan Sawerigading kerap menggunakan perahu (Wakkang).

Sawerigading merupakan sosok manusia yang mempunyai watak yang berdimensi ganda yakni cinta dan dendam, benci dan sayang, tegar dan cengeng, lembut dan kasar, halus dan keras sejauh mana sifat pribadi sawerigading, tergantung dari rangsangan-rangsangan yang diterimanya dari luar ia tidak

(16)

menerima kompromi hanya ada dua pilihan hitam atau putih. Karena itu, gambaran tentang sawerigading tidaklah sesempurna dengan tokoh-tokoh pangeran yang seperti kita dengar sebelumnya. Kadang-kadang ia sangatlah cengeng sampai menangis terisak-isak lalu ia ditegur oleh pengawalnya agar ia berhenti dan tegap menghadapi kenyataan hidup dengan tegar. Hal seperti ini dapat dilihat ketika cinta sawerigading kepada adik kembarnya we tenriabeng ditolak. Sawerigading juga memiliki sifat yang mudah tersinggung, emosional, dan sering mengamuk sambil membabi buta bila perasaannya kurang baik, sehingga ia tidak mempertimbangkan resiko nya. Namun sebagai seorang pangeran ia juga memiliki sifat kejantanan dan keperkasaan. Sebagai putra bangsawan sawerigading seorang tokoh yang besar sebagai salah satu tanda kebesaran sawerigading ia selalu menggunakan pakaian kebesaran raja yang semua terbuat dari emas, berupa payung kebesaran yang terbuat dari emas, cincin emas yang semuanya turun dari langit yang dibawah oleh leluhurnya, di pinggangnya selalu melekat keris emas sebagai symbol keberanian dan kejan tangannya. Ada 4 sifat yang melekat pada diri Sawerigading yakni Getteng

(Teguh pendirian), Warani (Berani), Lempuq (Jujur), Macca (Pintar) (Muslaini, 2019).

Keteguhan Sawerigading dalam mempertahankan Prinsipnya sangat lah kuat ini dilihat ketika berbagai cobaan dan godaan yang datang tidak menggetarkan semangatnya untuk tetap menggulung layar perahunya sebelum sampai di tujuannya. Godaan-godaan tersebut bukannya menyulut kan hati Sawerigading untuk pergi ke cina malahan cobaan-cobaan tersebutlah yang

(17)

semakin membakar semangatnya untuk pergi ke cina. Maka dari itu Sawerigading juga dipanggil dengan sebutan La mampu ara Elo (Orang yang tak terbantahkan).

Untuk mempertahankan sifat Getteng (Teguh pendirian) harus dibarengi sifat Keberanian nya juga. Keberanian Sawerigading tertantang ketika Sewerigading dihadapkan oleh dua ancaman yakni Ancaman dalam dirinya sendiri dan kekuatan yang berasal dari luar diri manusia ketika iya dihadapkan bujukan, rayuan dan sesuatu yang mempesona yang dapat melonggarkan dan melepaskan prinsip hidupnya. Disini membutuhkan keberanian moral yang luar biasa ketika mempertahankan yang mana dianggap benar dan dianggapnya salah (Kern, R.A 1993).

Keteguhan dan keberanian Sawerigading itu bukan saja terlihat dalam beberapa peristiwa kepada musuh-musuh sawerigading melainkan dalam hal mengungkapkan sejarah leluhurnya, perasaan hatinya, kebahagiaan nya, maupun perasaan lain yang seharusnya di pendam dalam hati. Oleh karena itu sifat teguh dan keberaniannya hanya dapat diiringi dengan kejujuran dalam bersikap, berbicara, maupun dalam bertindak. Kejujuran yang dimaksudkan bukan saja jujur sesama manusia tetapi juga kepada diri sendiri dan kepada Dewa. Kejujuran Sawerigading terlihat saat Sawerigading berterus terang dan terbuka kepada pengawal-pengawalnya dan musuh-musuhnya. Kejujuran yang paling dramatis dalam kisah Sawerigading dalam epos la galigo yakni ketika sawerigading tidak berdaya melawan perasaan cintanya kepada saudara kembarnya yakni we Tenriabeng. Sawerigading harus mengungkapkannya walaupun ia mengetahui risikonya sangatlah berat (Ahmad, 2009).

(18)

Penokohan yang diperankan oleh Sawerigading menggambarkan perwatakan dasar manusia berdasarkan proses penciptanya. Perwatakan dasar manusia adalah segenap sifat alamiah manusia yang keturunan dari sifat-sifat langit dan bumi yang menjadi sumber asal penciptaan manusia. Bagaimanapun adanya keragaman kisah tentang proses penciptaan jagad raya dan manusia yang dituturkan atau dibahasakan oleh Bangsa-Bangsa di dunia, ada benang merah yang secara sinopsis dapat ditarik sebagai sebuah manolog tentang kehadiran manusia di bumi. Uraian tersebut dalam bentuk benang merah itu berwujud telaah atau tafsir (Pongsibanne, 2010:267).

Adapun peninggalan yang ditinggalkan Sawerigading yang masih dilihat sampai sekarang, yaitu Museum La Galigo bertempat Benteng Ujung Pandang (Fort Rotterdam), dan Istana Kedatuan Luwu yang sekarang menjadi museum Kota Palopo.

Dari uraian tersebut peneliti tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang ‘Ketokohan Sawerigading di Tana Luwu (Studi Pustaka Prinsip Hidup Sawerigading Dalam Perubahan Sosial)”. Dengan harapan agar masyarakat mengetahui sejarah Sawerigading di Tanah Luwu.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas kajian yang dibahas oleh peneliti adalah:

1. Bagaimana Ketokohan Sawerigading di Tana Luwu?

2. Bagaimana Prinsip Hidup Sawerigading dalam Perubahan Sosial Masyarakat di Tanah Luwu?

(19)

C. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan pokok masalah yang di sebutkan, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui Ketokohan Sawerigading di Tana Luwu.

2. Untuk mengetahui bagaimana Prinsip Hidup Sawerigading dalam Perubahan Sosial Masyarakat di Tanah Luwu.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran kepada parah ilmuwan yang akan meneliti dibidang Sejarah khususnya yang bersangkutan dengan Ketokohan Sawerigading di Tana Luwu.

2. Manfaat Praktis

Sebagai peneliti sosial, Penelitian ini memberikan manfaat berupa informasi tentang Ketokohan Sawerigading di Tana Luwu. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai berikut:

a. Memberikan pengetahuan tentang ketokohan Sawerigading di Tana Luwu.

b. Memberikan masukan kepada khususnya kepada masyarakat Luwu dapat menjadikan bahan penuntun untuk memahami bagaimana Ketokohan Sawerigading di Tana Luwu.

(20)

E. Definisi Operasional

Pada penelitian ini, menggunakan beberapa istilah-istilah yang memiliki definisi sebagai berikut:

1. Ketokohan Sawerigading adalah Putra Raja Luwu dari Kerajaan Luwu Purba, dalam bahasa setempat Sawerigading berasal dari dua kata, yaitu Sawe yang berarti menetas ( lahir), dan Ri Gading yang berarti diatas bambu betung.

(21)

8 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Konsep

1. Konsep Ketokohan

Ketokohan dalam perjalanan sejarah di Indonesia memiliki pengaruh kuat

dalam mempengaruhi masyarakat. Ketokohan Sawerigading merupakan salah satu contoh rill adanya peran tokoh sebagai tokoh sejarah di masyarakat di Tanah Luwu. Ketokohan terbentuk melalui latar sosial-budaya, keluarga, pendidikan, karier dan pekerjaan, serta pengalaman hidup yang dilaluinya sejak lahir sampai akhir hayatnya (Ekadjati, 1976).

Ketokohan berasal dari kata tokoh, yaitu artinya pemimpin yang baik yang dapat dijadikan contoh dan dapat diteladani sifat-sifat baiknya. Ketokohan seperti halnya dengan peristiwa dalam karya fiksi dalam kehidupan sehari-hari, selalu di emban oleh tokoh atau pelaku-pelaku tertentu, pelaku yang mengembang cerita dalam cerita fiksi sama sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita.

2. Karakteristik Ketokohan

Ketokohan berasal dari kata tokoh, yaitu artinya pemimpin yang baik yang dapat dijadikan contoh dan dapat diteladani sifat-sifat baiknya. Ketokohan seperti halnya dengan peristiwa dalam karya fiksi dalam kehidupan sehari-hari, selalu di emban oleh tokoh atau pelaku-pelaku tertentu, pelaku yang mengembang cerita dalam cerita fiksi sama sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita.

Ketokohan dan karakterisasi sering juga disamakan artinya dengan karakter dan perwatakan-menunjuk pada penempatan tokoh-tokoh tertentu dengan

(22)

watak tertentu dalam sebuah cerita. Atau seperti dikatakan oleh Jonnes, penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita Nurgyantoro, (2005:165). Dengan kata lain, ketokohan sama dengan ethos, yaitu gabungan antara kinerja seseorang yang bisa di percaya dan di pertanggungan jawabkan, atraksi dan kekuasaan. Orang yang memiliki ketokohan disebut juga sebagai pahlawan politik.

Penokohan yang diperankan oleh Sawerigading menggambarkan perwatakan dasar manusia berdasarkan proses penciptanya. Perwatakan dasar manusia adalah segenap sifat alamiah manusia yang berderivasi dari sifat-sifat langit dan bumi yang menjadi sumber asal penciptaan manusia (Pongsibanne, 2010:267).

Sawerigading merupakan sosok manusia bugis yang mempunyai watak yang berdimensi ganda yakni cinta dan dendam, benci dan sayang, tegar dan cengeng, lembut dan kasar, halus dan keras sejauh mana sifat pribadi sawerigading, tergantung dari rangsangan-rangsangan yang diterimanya dari luar ia tidak menerima kompromi hanya ada dua pilihan hitam atau putih (Muslaini,2019 ).

Karena itu, gambaran tentang Sawerigading tidaklah sesempurna dengan tokoh-tokoh pangeran yang seperti kita dengar sebelumnya. Kadang-kadang ia sangatlah cengeng sampai menangis terisak-isak lalu ia ditegur oleh pengawalnya agar ia berhenti dan tegap menghadapi kenyataan hidup dengan tegar. Hal seperti ini dapat dilihat ketika cinta Sawerigading kepada adik kembarnya We Tenriabeng ditolak. Sawerigading juga memiliki sifat yang mudah tersinggung,

(23)

emosional, dan sering mengamuk sambil membabi buta bila perasaan atau sirihnya tanpa mempertimbangkan resiko nya.

Keteguhan Sawerigading dalam mempertahankan Prinsipnya sangatlah kuat ini dilihat ketika berbagai cobaan dan godaan yang datang tidak menggetarkan semangatnya untuk tetap menggulung layar perahunya sebelum sampai di tujuannya. Godaan-godaan tersebut bukannya menyulut kan hati Sawerigading untuk pergi ke cina malahan cobaan-cobaan tersebutlah yang semakin membakar semangatnya untuk mencari cina. Maka dari itu Sawerigading juga dipanggil dengan sebutan La mampu ara Elo (Orang yang tak terbantahkan).

Untuk mempertahankan sifat Getteng (Teguh pendirian) harus dibarengi sifat Keberanian nya juga. Keberanian Sawerigading tertantang ketika Sewerigading dihadapkan oleh dua ancaman yakni Ancaman dalam dirinya sendiri dan kekuatan yang berasal dari luar diri manusia ketika iya dihadapkan bujukan, rayuan dan sesuatu yang mempesona yang dapat melonggarkan dan melepaskan prinsip hidupnya. Disini membutuhkan keberanian moral yang luar biasa ketika mempertahankan yang mana dianggap benar dan dianggapnya salah (Kern, R.A 1993).

Keteguhan dan keberaniannya Sawerigading itu bukan saja terlihat dalam beberapa peristiwa kepada musuh-musuh Sawerigading melainkan dalam hal mengungkapkan sejarah leluhurnya, perasaan hatinya, kebahagiaan nya, maupun perasaan lain yang seharusnya di pendalaman dalam hati. Karena itu sifat teguh dan keberaniannya hanya dapat dilihat dengan kejujuran dalam bersikap, berbicara, maupun dalam bertindak. Kejujuran yang dimaksudkan bukan saja jujur

(24)

sesama manusia tetapi juga kepada diri sendiri dan kepada Dewa. Kejujuran Sawerigading terlihat saat Sawerigading berterus terang dan terbuka kepada pengawal-pengawalnya dan musuh-musuhnya. Kejujuran yang paling dramatis dalam kisah Sawerigading dalam epos La Galigo yakni ketika Sawerigading tidak berdaya melawan perasaan cintanya kepada saudara kembarnya yakni we tenriabeng. Sawerigading harus mengungkapkannya walaupun ia mengetahui resikonya sangatlah berat (Ahmad, 2009).

Peran Sawerigading sebagai tokoh magis terlihat saat para pasukan sawerigading kewalahan menghadapi pasukan-pasukan la tenrinyiwiq, sawerigading tumpuan terakhir dari mereka agar kiranya memohon kepada dewa untuk menurunkan bantuan di dunia dalam waktu sekejap bantuan itu turun dari langit dan menghancurkan pasukan-pasukan la tenrinyiwiq. Sedangkan peran Sawerigading sebagai seorang keturunan dewa ketika Sawerigading menghidupkan pasukan-pasukannya yang mati dalam peperangan, mendatangkan dan memberhentikan bencana yang dibuat oleh alam dan dapat berbicara kepada binatang-binatang.

Peran Sawerigading sebagai raja terlihat ketika ia menaklukkan para pengawal dan pasukan-pasukan Sawerigading dalam perintahnya dialah penentu kebijaksanaan diatas perahu yang dikendarai nya untuk mencari cina. Memerintah dan menjalankan tradisi kekuasaan yang diwarisi oleh leluhurnya.

Meskipun demikian Sawerigading bukannya seorang raja yang otoriter, segala sesuatu yang berhubungan dengan operasionalisasi kekuasaan dan pelaksanaan kerajaan dilimpahkan kepada para pembantu-pembantunya.

(25)

Sawerigading adalah Seorang raja yang besar dan tak tertandingi, perahunya besar dan banyak perahu-perahu kecil yang mengiringinya, pasukan yang ribuan sebagai bukti kekuasaannya. Tujuh kali pasukan Sawerigading berperang dalam pencarian tanah cina enam pimpinan musuhnya semua mati dan kepalanya digantung di perahu sawerigading sebagai tandak keperkasaan nya menumpas musuh.

3. Sawerigading

Sawerigading yang merupakan seorang putra Raja Luwu dari Kerajaan Luwu, Sulawesi Selatan, Indonesia. Dalam bahasa setempat Sawerigading berasal dari dua kata, yaitu Sawe yang berarti menetas ( lahir ), dan Ri Gading yang berarti di atas bambu betung. Jadi Sawerigading berarti keturunan dari orang yang menetas (lahir) di atas bambu betung. Nama ini dikenal melalui cerita yang termuat dalam Sureq Galigo (Kern, 1989).

Sawerigading merupakan sosok manusia bugis yang mempunyai watak yang berdimensi ganda yakni cinta dan dendam, benci dan sayang, tegar dan cengeng, lembut dan kasar, halus dan keras sejauh mana sifat pribadi Sawerigading, tergantung dari rangsangan-rangsangan yang diterimanya dari luar ia tidak menerima kompromi hanya ada dua pilihan hitam atau putih. Karena itu, gambaran tentang Sawerigading tidaklah sesempurna dengan tokoh-tokoh pangeran yang seperti kita dengar sebelumnya. Kadang-kadang ia sangatlah cengeng sampai menangis terisak-isak lalu ia ditegur oleh pengawalnya agar ia berhenti dan tegap menghadapi kenyataan hidup dengan tegar. Hal seperti ini dapat dilihat ketika cinta Sawerigading kepada adik kembarnya We Tenriabeng

(26)

ditolak. Sawerigading juga memiliki sifat yang mudah tersinggung, emosional, dan sering mengamuk sambil membabi buta bila perasaannya kurang baik, sehingga ia tidak mempertimbangkan resiko nya (Muslaini, 2019).

Sawerigading adalah urutan yang banyak disebut generasi yang ke empat dari galib nya pemuda-pemuda yang mendapatkan istri yang banyak dan merupakan benih dari langit dan bumi. Kisah Sawerigading menceritakan tentang kisah langit dan bumi bawah serta bumi atas. Sawerigading dijuluki sebagai anak Dewa dan memiliki legenda pada benda-benda alam di setiap daerah tempat tinggal Sawerigading.

Cerita Sawerigading dapat mengungkapkan nilai budaya seperti keagamaan yang menceritakan tentang dunia gaib dan konsep kejadian manusia, seperti hanya yang digambarkan dunia Dewa-Dewa di langit, di bumi (Mulatau) yang keturunan Dewa-Dewa.

B. Tinjauan Teori

1. Teori Warisan Budaya “Davidson”

Menurut Davidson warisan budaya merupakan produk atau hasil budaya fisik dari tradisi-tradisi berbeda dan prestasi-prestasi spiritual dalam bentuk nilai dari masa lalu yang kemudian menjadi elemen pokok bagi jati diri suatu kelompok atau bangsa (Amalia: 2013)

Adapun alasan peneliti mengambil teori ini karena adanya warisan atau peninggalan yang ditinggalkan oleh Sawerigading berupa Keris, kapal Pinisi dan benda-benda bersejarah lainnya. Nilai-nilai yang menjadi landasan dan panutan

(27)

sebagai bentuk warisan nilai dari sejarah Kerajaan Luwu (To Ciung Maccae ri Luwu)

2. Teori Perubahan Sosial “Robert H. Lauer”

Menurut Robert H. Lauer perubahan sosial terlebih dahulu menjelaskan definisi perubahan sosial dengan alasan bahwa teori-teori perubahan sosial di masa lalu yang telah dibangun di atas mitos-mitos tentang perubahan sosial, mitos membentuk pola pikir yang menyimpang, trauma dan ilusi yang merupakan kendala memahami perubahan sosial sebagai hakekat kehidupan manusia (Nursalam dkk:2016).

Adapun alasan peneliti mengambil teori ini karena Sawerigading memilki tempat yang berpindah-pindah dan memiliki perubahan dari setiap daerah yang ditempati sehingga menimbulkan teori-teori perubahan sosial atau peninggalan Sawerigading. Maka dari itu menimbulkan mitos atau perspektif bagi masyarakat yang menemukan peninggalan Sawerigading di Sulawesi Selatan.

C. Kerangka Pikir

Sawerigading adalah seorang putra raja Luwu dari Kerajaan Luwu Purba, Sulawesi selatan, Indonesia. Dalam bahasa setempat Sawerigading berasal dari dua kata, yaitu sawe yang berarti menetas (lahir), dan ri gading yang berarti di atas bambu betung. Jadi Sawerigading berarti keturunan dari orang yang lahir di atas bambu betung Sawerigading lahir pada tahun 564 M.

Perjalanannya pun di teruskan ke Barat mengarungi Laut Jawa dan Singgah di Pulau Bali dan mendapat tantangan yang pertama dalam perjalanannya dan berhasil dikalahkan oleh Sawerigading. Dari peristiwa itulah penamaan Bali

(28)

diberikan dan jika diterjemahkan ke dalam bahasa Luwu, Bali berarti Lawan.

Seterusnya Sawerigading melanjutkan perjalanannya melalui Lautan Tiongkok dan tiba di Benua Cina. Dalam perjalanan Sawerigading kembali ke tanah kelahirannya banyak menurunkan anak buahnya di daerah Palu Sulawesi Tengah karena daerah tersebut sangat subur yang dialiri sungai yang sangat jernih dan kemudian melanjutkan kembali perjalanannya ke Luwu.

Gambar 2.1 Skema Kerangka Pikir Analisis Ketokohan Sawerigading Prinsip Hidup Sawerigading dalam

Perubahan Sosial Masyarakat di Tana Luwu Ketokohan

Sawerigading

Sawerigading di Tana Luwu

Sawerigading tokoh dari peristiwa-peristiwa

yang menghubungkan suku bangsa.

Nilai kebersatuan, nilai keperkasaan, nilai religius, nilai etis, nilai

estetis, dan nilai historis.

(29)

D. Penelitian Relevan

Penelitian terdahulu yang berkaitan dengan Analisis Ketokohan Sawerigading sebagai berikut.

1. Siti Muazaroh (2016) mengkaji tentang Cultural Capital dan Kharisma Kiai dalam dinamika politik (Studi Ketokohan K.H. Maimun Zubair). Hasil penelitian, Cultural capital merupakan sebuah nilai ataupun budaya yang telah diterima dan diyakini masyarakat maupun memberikan jaminan tertentu.

Metode nya yaitu penelitian kualitatif menggunakan metode deskriptif analytic.

Sumber data penelitian ini didapatkan dari pengamatan langsung melalui teknik wawancara langsung dengan tokoh bersangkutan yaitu K.H Maimun beserta orang-orang terdekat nya. Analisis data menggunakan analisis induktif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan tentang kepemimpinan seorang tokoh K.H.

Maimun Zubair dalam menyebarkan agamanya, sedangkan penelitian saya tentang ketokohan sawerigading di Tana Luwu yang membahas tentang seorang pemimpin.

2. Maimunah Zarkasyi (2012) meneliti tentang Sheikh Muhammad Arsyad Al- Banjari, Ketokohan dan Sumbangannya. Hasil penelitian, Sheikh Muhammad Arsyad Al-Banjari adalah seorang tokoh ulama fiqh mazhab Shafi` di Asia.

Beliau turut dikenali sebagai ahli dalam bidang Tauhid dan tasawuf.

Ketokohannya diakui dan dicatatkan dalam jaringan ulama dari Timur Tengah dan Asia yang sangat berjasa dalam proses Islamisasi di pulau Kalimantan Selatan.. Dalam bidang keagamaan beliau berjuang merubah kebodohan masyarakat Islam menjadi Muslim yang taat. Beliau menyelamatkan aqidah

(30)

masyarakat Islam daripada kepercayaan dan aliran yang menyimpang, seperti kehidupan keagamaan yang dipengaruhi oleh ajaran tasawuf berpaham Wahdah al-Wujud yang menyeleweng. Hasil dari penelitian ini menunjukkan tentang seorang tokoh ulama yang menyebarkan Islam di masyarakat di Asia.

Sedangkan penelitian saya tentang ketokohan sawerigading di Tana Luwu membahas tentang seorang pemimpin yang memperjuangkan daerahnya.

3. Dedi Arliyanto Wibowo (2019) meneliti tentang Pengembangan Bahan Ajar Ketokohan Raden Ajeng Kartini sebagai Pelopor Gerakan Emansipasi Wanita Indonesia dalam Rangka Peningkatan Kesadaran Sejarah Peserta Didik SMAN 1 Pancangan Jepara. Hasil penelitian, Pembelajaran sejarah melalui pengembangan bahan ajar ketokohan Raden Ajeng Kartini sebagai pelopor gerakan emansipasi wanita Indonesia merupakan sebuah pembaharuan dalam pengajaran Kesadaran sejarah generasi muda Indonesia sedikit demi sedikit mulai terkikis dengan banyaknya pengaruh asing yang masuk ke Indonesia, baik itu dalam hal kebudayaan, teknologi, maupun produk-produk luar negeri yang membanjiri Indonesia. Hasil dari penelitian ini menunjukkan tentang seorang pemimpin pelopor gerakan emansipasi wanita Indonesia. Sedangkan penelitian saya tentang ketokohan Sawerigading di Tana Luwu membahas tentang seorang pemimpin yang memperjuangkan daerahnya.

(31)

18 BAB III

METODE PENELITIAN A. Jenis dan Pendekatan Penelitian

Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan kajian pustaka, Creswel (2010) mengemukakan bahwa kajian pustaka yaitu menginformasikan kepada pembaca hasil-hasil penelitian yang lain berkaitan erat dengan penelitian yang dilakukan saat itu, menghubungkan penelitian dengan literatur-literatur yang ada, dan mengisi celah-celah dalam penelitian-penelitian sebelumnya. Sementara menurut pandangan Suryabrata (1983:19), penelitian kualitatif deskriptif merupakan penelitian yang menggambarkan secara mendalam tentang situasi serta keadaan yang sebenarnya.

Sedangkan menurut pendapat Ratna (2013:53) dan Endraswara (2013:61) mengartikan kualitatif deskriptif yaitu upaya untuk menafsirkan tentang suatu objek atau peristiwa, seperti Ketokohan Sawerigading di Tana Luwu di antaranya:

pengaruh Ketokohan Sawerigading dan Prinsip kehidupan terhadap perubahan sosial masyarakat di Tana Luwu.

Pendekatan kajian pustaka digunakan untuk menggambarkan terkait peristiwa seperti Ketokohan Sawerigading di Tana Luwu di antaranya: Ketokohan Sawerigading dan Prinsip hidup Sawerigading dalam perubahan sosial masyarakat di Tana Luwu. Sebagaimana pendapat kajian pustaka yaitu bahan bacaan yang mungkin pernah dibaca dan dianalisis, baik yang sudah dipublikasikan maupun sebagai koleksi pribadi (Prastowo, 2012:80).

(32)

B. Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilakukan dalam waktu kurang lebih 2 bulan pada tahun 2020, peneliti melaksanakan tugasnya untuk menganalisis. Penelitian ini di lakukan dengan menggunakan pendekatan kajian pustaka terkait peristiwa, seperti Ketokohan Sawerigading di Tana Luwu di antaranya: pengaruh Ketokohan Sawerigading dan Prinsip kehidupan terhadap perubahan sosial masyarakat di Tana Luwu.

C. Fokus Penelitian

Penelitian ini berfokus pada Ketokohan Sawerigading di Tana Luwu.

Legenda Sawerigading memiliki sejarah atau peninggalan serta sumpah Sawerigading yang belum diketahui kebanyakan masyarakat. Maka dari itu objek penelitian ini memfokuskan pada.

1. Ketokohan Sawerigading di Kabupaten Luwu.

2. Prinsip Hidup Sawerigading dalam Perubahan Sosial Masyarakat di Tanah Luwu.

D. Jenis dan Sumber Data

Jenis dan sumber data dalam penelitian ini adalah data sekunder, dimana data tersebut bersumber dari buku, jurnal dan blog yang dianggap ilmiah dan relevan untuk menjawab rumusan masalah. Data yang dikumpul akan di analisis secara kualitatif deskriptif.

(33)

E. Instrumen Penelitian

Instrumen dalam penelitian kualitatif ditujukan kepada peneliti, oleh karena itu instrumen penelitian disini ialah peneliti sendiri. Adapun instrumen penelitian sebagai berikut:

a) Pengumpulan data dokumen

b) Alat tulis sebagai kode data dokumen c) Buku pencatatan data dokumen.

F. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data menggunakan studi pustaka, dengan kata lain studi ini berkaitan dengan kepustakaan sebagai berikut:

1. Sumber data Sekunder berupa bahan-bahan pelengkap yang sesuai dengan tema skripsi. Data ini didapat melalui buku dan artikel internet.

2. Memilih dan menganalisis bahan-bahan yang sudah dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam data pustaka.

3. Terakhir yang penulis lakukan adalah memberikan kesimpulan.

G. Teknik Analisis Data

Analisis data yang dilakukan peneliti dimulai dengan analisis konten merupakan suatu proses yang dilakukan dengan cara mencari dan menyusun secara rinci data yang telah diperoleh sebelumnya dari hasil data melalui buku dan artikel, internet yang dilakukan dan catatan lainnya, sehingga mudah dipahami dan dapat di informasikan kepada orang lain. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis data secara kualitatif, yang dilakukan

(34)

dengan cara menggambarkan dan mendeskripsikan hasil yang didapat di lapangan.

(35)

22 BAB IV

GAMBARAN UMUM LOKASI DAN OBJEK PENELITIAN A. Sejarah Tana Luwu

Sejarah Tanah Luwu sudah berawal jauh sebelum masa pemerintahan Hindia Belanda bermula. Sebelumnya Luwu telah menjadi sebuah kerajaan yang mewilayahi Tana Toraja (Makale, 45 Rantepao) Sulawesi Selatan, Kolaka (Sulawesi Tenggara) dan Poso (Sulawesi Tengah). Sejarah Luwu ini dikenal pula dengan nama Tanah Luwu yang dihubungkan dengan nama La Galigo dan Sawerigading. Pada tahun 1905, pemerintah Hindia Belanda berhasil menduduki pusat Kedatuan Luwu di Palopo. Hal ini membuat sistem pemerintahan di Luwu dibagi atas dua tingkatan pemerintahan, yaitu:

1. Pemerintahan tingkat tinggi dipegang langsung oleh pihak Belanda.

2. Pemerintahan tingkat rendah dipegang oleh pihak Swapraja. Pada tahun 1942, Jepang berhasil menghalau pemerintah Hindia Belanda dan menguasai Luwu.

Sistem pemerintahan yang diterapkan sama, hanya saja rakyat diberi kebebasan berusaha, bercocok tanam dan nelayan.

Hal tersebut tentu saja membuat hasil- hasil bumi masyarakat Belopa dan sekitarnya lebih meningkat, sehingga diberi julukan “pabbarasanna Tana Luwu”, (lumbung pangan Tanah Luwu). Dalam masa pemerintahan Jepang, yaitu tentara Dai Nippon, kedudukan Datu Luwu dalam sistem pemerintahan sipil, sedangkan pemerintahan militer dipegang oleh Pihak Jepang. Dalam menjalankan pemerintahan sipil, Datu Luwu diberi kebebasan, namun tetap diawasi secara ketat oleh pemerintahan militer Jepang. Yang menjadi pemerintahan sipil atau

(36)

Datu Luwu pada 46 masa itu ialah "Andi Kambo Opu Tenrisompa" kemudian diganti oleh putranya "Andi Patiware" yang kemudian bergelar "Andi Djemma.”

Pada bulan April 1950 Andi Djemma dikukuhkan kembali kedudukannya sebagai Datu/Pajung Luwu dengan wilayah seperti sediakala. Afdeling Luwu meliputi lima onder Afdeling Palopo, Masamba, Malili, Tana Toraja atau Makale, Rantepao dan Kolaka. Selanjutnya pada masa setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, secara otomatis Kerajaan Luwu berintegrasi masuk ke dalam Negara Republik Indonesia. Hal itu ditandai dengan adanya pernyataan Raja Luwu pada masa itu Andi Djemma yang antara lain menyatakan "Kerajaan Luwu adalah bagian dari Wilayah Kesatuan Republik Indonesia.” Pemerintah Pusat mengeluarkan Peraturan Pemerintah No.34 tahun 1952 tentang Pembubaran Daerah Sulawesi Selatan bentukan Belanda/Jepang termasuk daerah yang berstatus Kerajaan.

Peraturan Pemerintah No.56 tahun 1951 tentang Pembentukan Gabungan Sulawesi Selatan. Dengan demikian daerah gabungan tersebut dibubarkan dan wilayahnya dibagi menjadi 7 (tujuh) daerah Swatantra. Satu di antaranya adalah daerah Swatantra Luwu yang mewilayahi seluruh daerah Luwu dan Tana Toraja dengan pusat Pemerintahan berada di Kota Palopo. Tahun 1953 Andi Djemma Datu Luwu diangkat menjadi Penasehat Gubernur Sulawesi. Berselang 47 beberapa tahun kemudian, Pemerintah Pusat menetapkan beberapa Undang- Undang Darurat, antara lain: 1. Undang-Undang Darurat No.2/1957 tentang Pembubaran Daerah Makassar, Jeneponto dan Takalar. 2. Undang-Undang Darurat No. 3/1957 tentang Pembubaran Daerah Luwu dan Pembentukan Bone, Wajo dan Soppeng, serta penghapusan sistem pemerintahan Swpraja. Dengan

(37)

dikeluarkannya Undang-Undang Darurat No. 3/1957, maka daerah Luwu menjadi daerah Swatantra dan terpisah dengan Tana Toraja, disertai berakhirnya pula pemerintahan sistem kerajaan Luwu. Datu Luwu Andi Djemma langsung menjadi Bupati/Datu Luwu kala itu. Dengan berlakunya UU No. 29 tahun 1959 tentang terbentuknya daerah-daerah Tingkat II di Sulawesi, sistem Swatantra dihapus.

Pada waktu itu, wilayah kabupaten Dati II Luwu dibentuk 16 kecamatan dan salah satu diantaranya adalah Kecamatan Bajo dengan ibu kotanya Belopa.

B. Kondisi Umum Tana Luwu

Kabupaten Luwu merupakan salah satu daerah yang berada dalam wilayah administratif Provinsi Sulawesi Selatan. Daerah Kabupaten Luwu terbagi dua wilayah akibat pemekaran Kota Palopo yaitu Kabupaten Luwu Bagian Selatan yang terletak di sebelah selatan Kota Palopo dan wilayah Kabupaten Luwu Bagian Utara yang terletak di sebelah utara Kota Palopo. Kabupaten Luwu memiliki luas wilayah sekitar 3.000,25 Km2 atau 3.000.250 Ha dengan jumlah penduduk keseluruhan mencapai 359.209 jiwa pada tahun 2019, dengan mayoritas mata pencaharian penduduknya bergerak pada sektor pertanian dan perikanan.

Secara umum karakteristik bentang alam Kabupaten Luwu terdiri atas kawasan pesisir/pantai dan daratan hingga daerah pegunungan yang berbukit hingga terjal, dimana berbatasan langsung dengan perairan Teluk Bone dengan panjang garis pantai sekitar 116,161 Km (RTRW Kabupaten Luwu).

C. Keadaan Geografis

Ditinjau dari segi geografis, Kabupaten Luwu terletak di bagian utara Provinsi Sulawesi Selatan, dimana posisi Kabupaten Luwu terletak 2º.34’.45” –

(38)

3º.30’.30” LS dan 120º.21’.15” – 121º.43’.11” BT. Secara administratif, Kabupaten Luwu memiliki batas sebagai berikut:

Sebelah Utara: Kabupaten Luwu Utara dan Kota Palopo Sebelah Timur:

Teluk Bone Sebelah Selatan: Kota Polopo dan Kabupaten Wajo Sebelah Barat:

Kabupaten Tanah Toraja, Kabupaten Toraja Utara, Kabupaten Enrekang dan Kabupaten Sidrap. Dilihat dari letak geografis, Kabupaten Luwu cukup strategis.

Palopo, yang terletak di jalur Trans Sulawesi yang menghubungkan daerah Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara. Pelabuhan Tanjung Ringit di Palopo menjadikan Kabupaten Luwu sebagai pintu gerbang Sulwesi Selatan bagian utara, pelabuhan ini merupakan salah satu pintu penghubung untuk mendistribusikan hasil pertanian Luwu ke Luar daerah.

D. Kepadatan Penduduk

Kepadatan Penduduk di Kabupaten Luwu, dengan luas 3000,25 km2 , Kabupaten Luwu didiami oleh 359.209 jiwa atau dengan kepadatan sebesar 123 jiwa/ km2, kepadatan penduduk Kabupaten Luwu telah meningkat 49 dari 122 jiwa/km2 pada tahun 2018 menjadi 123 jiwa/km2 atau meningkat sebanyak 1 jiwa km2 . Jika dilihat persebaran di setiap kecamatan nampak bahwa Kecamatan Lamasi merupakan wilayah terpadat dengan kepadatan sebesar 535 jiwa/Km2 diikuti oleh Kecamatan Belopa Utara sebesar 478 jiwa/km2 , Kecamatan Belopa sebesar 288 jiwa/km2 , Kecamatan Walenrang Timur sebesar 279 jiwa/km2 , Kecamatan Ponrang Selatan sebesar 271 jiwa/km2 , Kecamatan Ponrang sebesar 268 jiwa/km2 , Kecamtan Suli sebesar 260 jiwa/km2 , Kecamtan Lamasi Timur sebesar 235 jiwa/km2 , Kecamatan Bajo sebesar 233 jiwa/km2 , Kecamatan

(39)

Kamanre 210 jiwa/km2 , Kecamatan Bua sebesar 154 jiwa/km2 , Kecamatan bajo Barat sebesar 147 jiwa/km2 , kecamatan Larompong Selatan sebesar 138 jiwa/km2 , Kecamatan Larompong sebesar 93 jiwa/km2 , Kecamatan Bua Ponrang sebesar 86 jiwa/km2 , Kecamatan Walenrang Utara sebesar 78 jiwa/km2 , Kecamatan Basse Sangtempe Utara sebesar 66 jiwa/km2 , Kecamatan Walenrang Barat sebesar 41 jiwa/km2 , sedangkan wilayah dengan kepadatan penduduk terendah di Kecamatan Latimojong yaitu 13 jiwa/km2 .

E. Keadaan Sosial Budaya

Masyarakat di Kabupaten Luwu menggunakan bahasa Luwu sebagai bahasa daerah utama karena mayoritas penduduknya adalah suku Luwu. Bahasa Luwu ini digunakan oleh sebagian besar 52 penduduk dari Tana Luwu, dari empat kabupaten dan kota, masing- masing Kabupaten Luwu, Luwu Utara, Luwu Timur dan kota Palopo. Bahasa Luwu, termasuk serumpun dengan bahasa Toraja.

Bahasa Luwu ini digunakan selaku bahasa percakapan penduduk setempat, mulai dari Selatan perbatasan dengan Buriko Kabupatan Wajo sampai dengan daerah Kabupaten Luwu Timur Malili. Kerajaan Luwu adalah kerajaan tertua, terbesar, dan terluas di Sulawesi Selatan yang wilayahnya mencakup Tana Luwu, Tana Toraja, Kolaka, dan Poso. Perkataan “Luwu” atau “Luu” itu sebenarnya berarti

“Laut”.

Luwu adalah suku bangsa yang besar yang terdiri dari 12 anak suku.

Kerajaan Luwu diperkirakan berdiri sekitar abad X yang dibangun oleh, sekaligus sebagai raja pertama adalah Batara Guru (Tomanurung) yang dipercaya turun dari langit diutus oleh ayahnya Dewa Patoto’e untuk turun mengisi kekosongan di

(40)

dunia tengah. Raja terakhir dari kerajaan Luwu adalah Andi Djemma yang bergelar Petta Matinro’e ri Amaradekanna yang memerintah mulai tahun 1935- 1965 Masehi. Beliau merupakan raja yang sangat dikagumi dan di bangga- banggakan oleh rakyatnya bahkan raja-raja lain di Sulawesi Selatan karena keberaniannya dalam menghadapi penjajah Belanda. Kerajaan Luwu merupakan kerajaan pertama di Sulawesi Selatan yang menganut agama Islam. Agama Islam sendiri di bawa ke Tana Luwu oleh Dato’ Sulaiman dan Dato’ri Bandang yang berasal dari Aceh. Hal- 53 hal mistik banyak mewarnai proses awal masuknya Islam di Luwu. Diyakini bahwa Dato Sulaiman dan Dato ri Bandang datang ke Luwu dengan menggunakan kulit kacang. Mereka pertama kali tiba di Luwu tepatnya di Desa Lapandoso, Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu. Penduduk di Kabupaten Luwu juga terdiri atas beberapa etnis lokal dan etnis pendatang yang telah lama tinggal di Kabupaten Luwu dan masuk melalui akulturasi budaya seperti melalui perdagangan dan nelayan. Sementara itu terdapat juga etnis pendatang sebagai transmigran dengan latar belakang budaya yang berbeda, antara lain: Bugis, Jawa dan Bali yang dominan terdapat di Kecamatan Lamasi.

Masyarakat Jawa datang secara transmigrasi yang diprakarsai oleh pemerintah belanda, mereka datang dari daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, mereka telah menetap dan membangun kecamatan tersebut. Mata pencaharian utama mereka adalah bertani, sawah dan berkebun, selain itu banyak juga diantara mereka berprofesi sebagai pedagang. Jumlahnya telah berkembang dengan pesat, selain perkawinan antara sesama suku jawa terjadi juga perkawinan antara suku terutama suku Jawa dan Luwu yang merupakan suku pribumi. Sedangkan suku

(41)

Bugis dan Toraja merupakan imigran yang datang dari wilayah lain yang masih masuk dalam wilayah Sulawesi Selatan. Suku Bugis yang mendiami Lamasi berprofesi sebagai pedagang sedangkan suku Toraja bertani adalah profesi utama mereka. Oleh 54 karena keuletan dan kerja keras mereka akhirnya Kecamatan Lamasi berkembang menjadi daerah lumbung pangan bagi Kabupaten Luwu.

(42)

29 BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan studi pustaka yaitu mencari informasi dan membaca berbagai literatur yang berkaitan dengan tokoh Sawerigading yang terdapat pada buku-buku, jurnal, skripsi dan beberapa artikel lainnya yang berkaitan dengan Sawerigading. Berdasarkan studi pustaka yang telah dilakukan sebelumnya di berbagai sumber didapatkan hasil penelitian yaitu sebagai berikut:

1. Ketokohan Sawerigading di Tanah Luwu

Beberapa pernyataan dalam buku, artikel, jurnal dan skripsi yang berisi tentang Ketokohan Sawerigading di Tanah Luwu. Pernyataan pertama dikemukakan oleh Zulkifli Yusuf dalam jurnal nya yang berjudul Perancangan Desain Karakter Untuk Memperkenalkan Nilai-Nilai Dari Kisah Sawerigading Bagi Remaja Di Sulawesi, berikut pernyataannya yaitu sebagai berikut:

Ampe Madecengna (Nilai moral/Sifat baik) Sawerigading (Yusuf, 2018:5).

Dari kutipan di atas dapat di ketahui bahwa Ampe madecengna artinya Sawerigading memiliki nilai moral dan sifat baik sebagai seorang pemimpin di masyarakat. Dia tidak akan di jadikan sebagai tokoh di dalam masyarakat jika Sawerigading tidak memiliki nilai-nilai yang positif dan sifat yang baik.

Pernyataan selanjutnya di kemukakan oleh Lebbe Pongsibanne dalam bukunya Autentisitas Budaya Bugis: Jejak Sawerigading Sebagai Perekat Bangsa dalam Epik I La Galigo berikut pernyataannya yaitu sebagai berikut:

(43)

Sawerigading seorang pelaut yang ulung, keteguhan hatinya mampu mengirim dia pada kepekaan mengatasi semua kesulitan di laut.

(Pongsibanne, 2010:7).

Dari kutipan tersebut dapat di uraikan bahwa Sawerigading seorang pelaut yang ulung. Mengapa Sawerigading dikatakan pelaut ulung karena ada pepatah mengatakan, tak ada pelaut ulung yang dilahirkan dari Samudra yang diam tapi pasti di lahirkan dari sosok yang teguh menghadapi Samudra yang penuh dengan badai. Dalam pengembaraan nya tersebut, ia digambarkan singgah di suatu tempat yang memunculkan cerita-cerita yang berkaitan dengannya. Kehadirannya tersebut selalu di kaitkan dengan asal usul raja setempat dan berdirinya daerah tersebut, bahkan di daerah tersebut selalu terdapat benda-benda yang berhubungan dengan Sawerigading. Contohnya di dekat Malili, terdapat Gunung Belah (Bulupulo), yang terbelah akibat tertimpa pohon Welenreng yang di tebang oleh Sawerigading untuk di jadikan perahu.

Kecerdasan dan ketangkasan nya yang luar biasa membuat Sawerigading di segani dan di kagumi di setiap tempat (Pongsibanne, 2010:8).

Dari kutipan di atas dapat di ketahui bahwa Sawerigading memiliki kecerdasan dan ketangkasan yang luar biasa dan ia di segani dan di kagumi di setiap tempat yang ia datangi. Kecerdasan Sawerigading di lihat pada saat ia memperbaiki perahu, menyambung kembali papan yang telah terlepas satu dari yang lainnya, hingga utuh menjadi perahu. Kecerdasan inilah yang di warisi oleh masyarakat, dan kembangkan hingga sekarang.

Pernyataan selanjutnya dikemukakan oleh Andini Perdana dalam jurnal nya yang berjudul Naskah La Galigo: Identitas Budaya Sulawesi Selatan di Museum La Galigo. Berikut pernyataannya yaitu:

(44)

Sawerigading sebagai perekat atau penghubung suku bangsa di Sulawesi Selatan, (Perdana, 2019:120).

Dari kutipan di atas dapat di uraikan bahwa Sawerigading dikatakan sebagai perekat bangsa di Sulawesi Selatan karena cerita tentang Sawerigading tidak hanya di kenal di Suku Bugis, melainkan di semua Suku di Sulawesi Selatan. Maka dari itu Sawerigading di katakan perekat bangsa di Sulawesi Selatan, karena menghubungkan suku bugis dengan suku-suku yang lain.

Pernyataan selanjutnya dikemukakan oleh Matulada dalam bukunya yang berjudul Sawerigading Folkatle Sulawesi, berikut pernyataannya yaitu sebagai berikut:

Sawerigading tokoh dari peristiwa-peristiwa kultural yang meliputi berbagai kejadian, yang memandangnya sebagai cikal bakal kepemimpinan kaumnya.

(Matulada, 1990:1).

Dari pernyataan diatas dapat diketahui bahwa Sawerigading di anggap sebagai tokoh di dalam masyarakat, karena adanya kultural atau budaya yang meliputi kejadian, dan memandang sebagai cikal bakal kepemimpinan kaumnya.

Banyaknya kejadian atau peristiwa yang mendasarkan pada benda-benda alam, seperti Bulupoloe di dekat Malili, dikatakan bahwa ini bekas tertimpa pohon Welenrang yang rebah karena di tebang dan di jadikan perahu oleh Sawerigading.

Dikatakan juga bahwa di Gunung Kandora, daerah Mengkedek, Tana Toraja terdapat batu yang di duga jelmaan We Pinrakati, yaitu istri Sawerigading yang meninggal dalam keadaan hamil yang dijemput nya di dunia roh. Di Enrekang terdapat batu di daerah Bambapuang, jika di lihat dari jauh nampak sebagai anjungan perahu Sawerigading yang karam dan telah menjadi batu. Sedangkan di

(45)

Selayar terdapat Gong Nekara yang selalu iya bawah pada saat berlayar dan di bunyikan pada saat memasuki pelabuhan. Dan masih banyak lagi daerah-daerah yang pernah di singgahi Sawerigading.

Pernyataan selanjutnya dikemukakan oleh Erli Yetti dalam jurnal nya yang berjudul Legenda Danau Lindu Sulawesi Tengah, adapun pernyataannya sebagai berikut:

Selama pelayaran nya Sawerigading memiliki 4 sifat utama yang melekat pada diri Sawerigading yakni getteng (teguh pendirian), warani (berani), lempuq (jujur), dan macca (pintar). (Yetti, 2016:292).

Dari pernyataan di atas dapat kita uraikan bahwa keteguhan dan keberaniannya Sawerigading itu bukan saja terlihat dalam beberapa peristiwa kepada musuh-musuh Sawerigading, melainkan dalam hal mengungkapkan sejarah leluhurnya, perasaan hatinya, kebahagiaan nya, maupun perasaan lain yang ia pendam dalam hatinya. Karena itu, sifat teguh dan keberaniannya hanya dapat di lihat bila diiringi dengan kejujuran dalam bersikap, berbicara, maupun dalam bertindak. Ke empat sifat Sawerigading inilah yang di kagumi oleh Masyarakat dan menjadi prinsip hidup pada masa yang akan datang. Nah Di sinilah ketokohan Sawerigading di kenal karena sifat-sifatnya yang di kagumi oleh masyarakat setempat.

2. Prinsip Hidup Sawerigading dalam perubahan Sosial Masyarakat

Beberapa pernyataan dalam buku, artikel atau jurnal yang berisi tentang Ketokohan Sawerigading di Tanah Luwu. Pernyataan pertama dikemukakan oleh Matulada dalam bukunya yang berjudul Sawerigading Folkatle Sulaewesi, berikut pernyataannya yaitu sebagai berikut:

(46)

Sawerigading adalah seorang tokoh lagendaris yang dikenal oleh hampir seluruh kelompok etnik di Sulawesi. (Matulada, 1990:7).

Dari kutipan di atas dapat di uraikan bahwa Sawerigading seorang tokoh legendaris yang di kenal oleh hampir seluruh kelompok etnik di seluruh Sulawesi.

Ketokohan Sawerigading tersebut di lihat dari nilai-nilai religius nya, yang menyebarkan Islam di seluruh Sulawesi. Sawerigading juga di kenal oleh masyarakat karena memiliki sifat teguh dan keberanian dalam menyebarkan Islam di Sulawesi. Maka dari itu Sawerigading tidak hanya di anggap tokoh masyarakat di Luwu saja, tetapi ketokohannya menyebar hingga seluruh Sulawesi.

Sawerigading terdapat dalam bentuk tradisi lisan,(Matulada, 1990:8).

Dari pernyataan di atas dapat diuraikan bahwa Sawerigading di kenal melalui opini yang di sebarkan melalui tradisi lisan. Melalui tradisi lisan kisah Sawerigading di kenal dan di kagumi oleh masyarakat, karena adanya nilai luhur, sikap, dan pandangan yang ada pada diri Sawerigading. Maka Sawerigading di kenal oleh seluruh masyarakat dan menerapkan nilai-nilai luhur dan sikap pada dirinya sendiri. Dan di Sulawesi selatan sendiri ia dikenal sebagai cikal bakal para penguasa negeri-negeri Bugis, Makassar mandar. Maka Sawerigading menyampaikan pada masa kini tentang peradaban masa lalu, yang diceritakannya tentang masa lalu itu sangat menyentuh kehidupan nyata kelompok-kelompok etnik atau lapisan tertentu masyarakat di banyak wilayah persebarannya, dan pada waktu yang berbeda-beda. Sawerigading sendiri menyusup ke dalam peradaban, untuk memperkaya lapisan-lapisan yang telah ada sebelumnya dan membawanya ke dalam realitas Kultur, atau kenyataan budaya. Kenyataan budaya itu apabila dihubungkan dengan realitas sosial dengan cara mengaktualisasikannya kedalam

(47)

kenyataan, maka menjadilah dia pangkalan rujukan bagi peristiwa-peristiwa atau silsilah sesuatu kaum tertentu.

Pernyataan selanjutnya dikemukakan oleh Zulkifli Yusuf dalam jurnal nya yang berjudul Perancangan Desain Karakter Untuk Memperkenalkan Nilai-Nilai dari Kisah Sawerigading Bagi Remaja, berikut pernyataannya yaitu sebagai berikut:

Nilai kebersatuan, walaupun tokoh legendaris sawerigading dikategorikan sebagai manusia yang berwatak keras dan sering berperang, namun rasa kasih sayang dan maaf masih menggores bekas perilaku Sawerigading luntur dari sumpahnya untuk tidak kembali lagi ke kampung halaman setelah di tolak cintanya oleh saudara kandungnya We/Tenriabeng, karena tidak sampai hati melihat istrinya sodai/We Cudai berdua dengan anaknya Lagaligo untuk berlayar dari Tana Cina untuk menemui mertuanya. Digarisbawahi lagi orang-orang kulawi yang mengatakan ‘Sawerigadang datang bukan untuk berkelahi, tetapi untuk menyelamatkan manusia” (Yusuf dan Aditya 2018:4).

Dari pernyataan di atas dapat diuraikan bahwa Sawerigading dikategorikan sebagai manusia yang berwatak keras dan sering berperang, namun rasa kasih sayang dan maaf masih menggores bekas perilakunya yang mengucap sumpah untuk tidak akan kembali lagi ke Luwu, setelah di tolak cintanya oleh saudara kandungnya sendiri, yaitu We Tenriabeng, karena tidak sampai hati melihat istrinya, yaitu We Cudai dan anaknya I La Galigo ia nekat melanggar sumpahnya sendiri untuk pergi berlayar dari tanah Cina untuk menemui orang tuanya. Maka kembalilah Sawerigading ke tanah leluhurnya tanah tumpah darahnya walaupun rasa kecewa nya masih menekan hatinya, dan resiko menghadapi adat ‘Ri Lompangi Tana` karena sumpahnya. Dan kita bisa melihat bahwa sawerigading lebih mementingkan persahabatan dan perdamaian daripada pertumpahan dara.

Dan Sawerigading bertujuan untuk menghubungkan suatu wilayah daratan dan

(48)

kepulauan Luwuk Banggai. Digarisbawahi lagi orang-orang kulawi yang mengatakan ‘Sawerigadang datang bukan untuk berkelahi, tetapi untuk menyelamatkan manusia.

Pernyataan selanjutnya dikemukakan oleh Zulkifli Yusuf dalam jurnal nya yang berjudul Perancangan Desain Karakter Untuk Memperkenalkan Nilai-Nilai dari Kisah Sawerigading Bagi Remaja di Sulawesi, berikut pernyataannya yaitu sebagai berikut:

Nilai `Keperkasaan` Ide, sarana, dan keperkasaan merupakan komponen yang tak terpisahkan untuk merealisasikan suatu cita-cita. Semangat keperkasaan inilah yang melekat pada diri sawerigading untuk mengunjungi setiap sudut pelabuhan, antara lain Bima, Sunda, Singa Raja, Tana Cina dan lain-lain. Perahu werenrengnge yang digelari I Lattiwajo anging laloe merupakan symbol keperkasaan kebaharian yang harus diteladani oleh generasi masa kini dan mendatang (Yusuf dan Aditya, 2018:4).

Dari pernyataan di atas dapat diuraikan bahwa Sawerigading merupakan laki-laki perkasa yang ingin mewujudkan cita-citanya. Semangat keperkasaan inilah yang melekat pada diri Sawerigading untuk mengunjungi setiap pelabuhan, antara lain Bima, Sunda, Singa Raja, Tana Cina dan pelabuhan lainnya. Adapun perahu Werenrengnge yang di gelari Lattiwajo anging laloe yang merupakan simbol keperkasaan kebaharian yang harus diteladani oleh generasi masa kini dan mendatang. Kita bisa lihat bahwa laut merupakan potensi perhubungan dan perekonomian dan laboratorium raksasa ilmu pengetahuan, dan merupakan tetesan budaya Werenrengnge. Jadi tidak heran kalau Pinisi telah memukau dunia pelayaran tradisional seluruh dunia.

Nilai Religius, tokoh sawerigading yang sering dianggap setengah dewa, yang memiliki kekuatan supranatural, pernah mengakui dirinya sebagai anak sang pencipta, ternyata sawerigading adalah manusia yang

(49)

mengakui adanya tuhan tunggal pencipta yang harus di sembah (Yusuf dan Aditya 2018:4).

Dari pernyataan di atas dapat diuraikan bahwa Sawerigading yang sering di anggap setengah Dewa, yang memiliki kekuatan supranatural, dan ia pernah mengakui dirinya sebagai anak sang pencipta. Dan ternyata Sawerigading adalah manusia yang mengakui adanya Tuhan pencipta yang harus di sembah. Kita bisa melihat bahwa Sawerigading dan keluarganya pergi berziarah dan mencari berkah Tuhan di Tana Suci Mekah. Kemudian Sawerigading menganjurkan kepada masyarakat untuk membangun tempat Ibadah yang di beri Nama mesjid, dan sempat ada yang keliru tentang ucapan Sawerigading yang menganggap jika mengunjungi mesjid di Tompo Tikka sama hal nya dengan menunaikan haji di Baitullah. Padahal Sawerigading hanya mengharapkan kepada cucu-cucunya di kemudian hari datang berkunjung di Tana Suci Mekah. Dan disini kita bisa lihat keyakinan Sawerigading terhadap adanya Tuhan pencipta ketika ia gagal menuntut ilmu.

Nilai Etis Sawerigading sebagai tokoh sentral, walaupun dia banyak menentukan namun tetap taat terhadap nilai-nilai adat istiadat yang disepakati, ia sangat menjunjung tinggi lembaga Institusional masyarakat.

(Yusuf dan Aditya, 2018:5).

Dari pernyataan di atas dapat di uraikan bahwa Sawerigading adalah pribadi yang taat terhadap nilai-nilai adat istiadat yang di sepakati. Dan ia sangat menjunjung tinggi lembaga Institusional masyarakat, dan rela di pisahkan dari adiknya We Tenriabeng demi kemaslahatan umum. Sawerigading juga terlalu mendengarkan nasehat ibunya, saudara kandungnya, bahkan sepupunya Lapananreng dan orang-orang di sekelilingnya.

(50)

Nilai Estetis, di dalam cerita sawerigading, disamping menyenangi burung, ayam, anjing dan kuda, juga sangat gemar akan wanita-wanita yang memiliki keindahan tubuh dan wajah cantik. Dari emosi estetikanya, ia sebagai manusia kadang kala lupa daratan (Yusuf dan Aditya, 2018:5).

Dari pernyataan di atas dapat diuraikan bahwa Sawerigading mempunyai hobi tersendiri yaitu menyenangi burung, ayam, anjing, dan kuda. Tidak hanya menyenangi hewan-hewan saja, tetapi ia juga sangat gemar akan wanita-wanita yang memiliki keindahan tubuh dan wajah cantik. Di lihat dari emosi estetikanya, ia sebagai manusia kadang kala lupa daratan. Sawerigading juga mendapatkan lingkungan yang indah dan harmonis. Dan salah satu kegemaran yang di senangi Sawerigading yaitu mengadakan penghijauan dan menanam tumbuh-tumbuhan yang bermanfaat bagi manusia seperti pepaya.

Nilai Historis, peristiwa-peristiwa masa lampau tidak semuanya dikategorikan sejarah, tetapi masa lampau yang bisa hidup dihidangkan setiap waktu (Yusuf dan Aditya, 2018:5).

Dari pernyataan di atas dapat kita lihat bahwa Nilai historis menurut Louis Gottschalk merupakan peristiwa-peristiwa masa lampau yang bisa hidup dan dihidangkan setiap waktu. Sedangkan menurut Sartono Kartodiharo, bahwa sejarah adalah rekaman masa silang yang objektif yang terungkap oleh kehidupan manusia melalui pengembangan informasi, tulisan, dokumen, parasasti, yang tidak akan terulang. Hidup dan pengulangan nya itulah disebut sejarah dan sejarah pada hakekatnya merupakan proses menelusuri eksistensi bangsa, masyarakat dan demi seseorang itu sendiri secara ekstensional.

Pernyataan selanjutnya dikemukakan oleh Wiwik Pertiwi dalam bukunya yang berjudul Kajian Nilai Budaya Naska Kuna Mapalina Sawerigading Ri Saliweng Langi, adapun pernyataannya sebagai berikut:

(51)

Dalam menjalankan kekuasaan sebagai pangeran mahkota disamping kedudukannya sebagai pimpinan tertinggi dalam pelayaran Sawerigading tidak mengambil keputusan dan bertindak sendiri. Melainkan sebagai dari kewenangannya dilimpahkan kepada pembantu-pembantu utamanya (Pertiwi dkk, 1998:163-164).

Kutipan di atas menunjukkan dua sikap dengan nilai berbeda dalam menanggapi masalah yang sama. Sikap pertama ditampilkan oleh tokoh La pananrang dan La massaguni, dimana keduanya ingin menghadapi kekasaran dan penghinaan lawan dengan mengangkat senjata dalam pertarungan. Namun sikap tersebut dipandang dengan kurang arif dan kurang bijaksana terutama karena dapat menimbulkan pertempuran sengit yang diduga akan mengorbankan nyawa para laskar Luwu. Demikianlah, maka tokoh La sinilele menampilkan sikap kedua yang dianggap jauh lebih arif fan lebih bijaksana, yaitu sikap sabar dan tetap berkepala dingin menghadapi rongrongan pihak musuhnya.

Mengutamakan kepentingan negeri dan nama baik (Pertiwi dkk, 1998:165-166).

Dari pernyataan di atas dapat di uraikan bahwa Sawerigading lebih mengutamakan kepentingan dan nama baik keluarga dan Negeri Luwu daripada harta benda dan kekayaan yang melimpah. Dan kita bisa lihat dimana sikap ini tercermin dalam ketika berbicara dengan Guttu Tallemma, dia adalah Raja dari Negeri Saliweng Langi. Disini Raja Guttu Tallemma menawarkan perdamaian kepada pihak Sawerigading, dengan syarat Sawerigading harus melupakan pertikaian terhadap pihak Kerajaan Saliweng Langi. Akan tetapi Sawerigading menolak, walaupun di Tana Luwu termasuk melarat dan bukan orang kaya, namun demikian ia pantang menerima pemberian yang berupa suap. Kita bisa

Gambar

Gambar 2.1 Skema Kerangka Pikir Analisis Ketokohan Sawerigading Prinsip Hidup  Sawerigading dalam
Foto Sawerigading

Referensi

Dokumen terkait