BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
2. Prinsip Hidup Sawerigading dalam Perubahan Sosial Masyarakat 47
Beberapa pernyataan dalam buku, artikel atau jurnal yang berisi tentang Ketokohan Sawerigading di Tanah Luwu. Pernyataan pertama dikemukakan oleh Matulada dalam bukunya yang berjudul Sawerigading Folkatle Sulaewesi, berikut pernyataannya yaitu sebagai berikut:
Sawerigading adalah seorang tokoh lagendaris yang dikenal oleh hampir seluruh kelompok etnik di Sulawesi. (Matulada, 1990:7).
Dari kutipan di atas dapat di uraikan bahwa Sawerigading seorang tokoh legendaris yang di kenal oleh hampir seluruh kelompok etnik di seluruh Sulawesi.
Ketokohan Sawerigading tersebut di lihat dari nilai-nilai religius nya, yang menyebarkan Islam di seluruh Sulawesi. Sawerigading juga di kenal oleh masyarakat karena memiliki sifat teguh dan keberanian dalam menyebarkan Islam di Sulawesi. Maka dari itu Sawerigading tidak hanya di anggap tokoh masyarakat di Luwu saja, tetapi ketokohannya menyebar hingga seluruh Sulawesi.
Sawerigading terdapat dalam bentuk tradisi lisan,(Matulada, 1990:8).
Dari pernyataan di atas dapat diuraikan bahwa Sawerigading di kenal melalui opini yang di sebarkan melalui tradisi lisan. Melalui tradisi lisan kisah Sawerigading di kenal dan di kagumi oleh masyarakat, karena adanya nilai luhur, sikap, dan pandangan yang ada pada diri Sawerigading. Maka Sawerigading di kenal oleh seluruh masyarakat dan menerapkan nilai-nilai luhur dan sikap pada dirinya sendiri. Dan di Sulawesi selatan sendiri ia dikenal sebagai cikal bakal para penguasa negeri-negeri Bugis, Makassar mandar. Maka Sawerigading menyampaikan pada masa kini tentang peradaban masa lalu, yang diceritakannya tentang masa lalu itu sangat menyentuh kehidupan nyata kelompok-kelompok etnik atau lapisan tertentu masyarakat di banyak wilayah persebarannya, dan pada waktu yang berbeda-beda. Sawerigading sendiri menyusup ke dalam peradaban, untuk memperkaya lapisan-lapisan yang telah ada sebelumnya dan membawanya ke dalam realitas Kultur, atau kenyataan budaya. Kenyataan budaya itu apabila dihubungkan dengan realitas sosial dengan cara mengaktualisasikannya kedalam
kenyataan, maka menjadilah dia pangkalan rujukan bagi peristiwa-peristiwa atau silsilah sesuatu kaum tertentu.
Pernyataan selanjutnya dikemukakan oleh Zulkifli Yusuf dalam jurnal nya yang berjudul Perancangan Desain Karakter Untuk Memperkenalkan Nilai-Nilai dari Kisah Sawerigading Bagi Remaja, berikut pernyataannya yaitu sebagai berikut:
Nilai kebersatuan, walaupun tokoh legendaris sawerigading dikategorikan sebagai manusia yang berwatak keras dan sering berperang, namun rasa kasih sayang dan maaf masih menggores bekas perilaku Sawerigading luntur dari sumpahnya untuk tidak kembali lagi ke kampung halaman setelah di tolak cintanya oleh saudara kandungnya We/Tenriabeng, karena tidak sampai hati melihat istrinya sodai/We Cudai berdua dengan anaknya Lagaligo untuk berlayar dari Tana Cina untuk menemui mertuanya. Digarisbawahi lagi orang-orang kulawi yang mengatakan ‘Sawerigadang datang bukan untuk berkelahi, tetapi untuk menyelamatkan manusia” (Yusuf dan Aditya 2018:4).
Dari pernyataan di atas dapat diuraikan bahwa Sawerigading dikategorikan sebagai manusia yang berwatak keras dan sering berperang, namun rasa kasih sayang dan maaf masih menggores bekas perilakunya yang mengucap sumpah untuk tidak akan kembali lagi ke Luwu, setelah di tolak cintanya oleh saudara kandungnya sendiri, yaitu We Tenriabeng, karena tidak sampai hati melihat istrinya, yaitu We Cudai dan anaknya I La Galigo ia nekat melanggar sumpahnya sendiri untuk pergi berlayar dari tanah Cina untuk menemui orang tuanya. Maka kembalilah Sawerigading ke tanah leluhurnya tanah tumpah darahnya walaupun rasa kecewa nya masih menekan hatinya, dan resiko menghadapi adat ‘Ri Lompangi Tana` karena sumpahnya. Dan kita bisa melihat bahwa sawerigading lebih mementingkan persahabatan dan perdamaian daripada pertumpahan dara.
Dan Sawerigading bertujuan untuk menghubungkan suatu wilayah daratan dan
kepulauan Luwuk Banggai. Digarisbawahi lagi orang-orang kulawi yang mengatakan ‘Sawerigadang datang bukan untuk berkelahi, tetapi untuk menyelamatkan manusia.
Pernyataan selanjutnya dikemukakan oleh Zulkifli Yusuf dalam jurnal nya yang berjudul Perancangan Desain Karakter Untuk Memperkenalkan Nilai-Nilai dari Kisah Sawerigading Bagi Remaja di Sulawesi, berikut pernyataannya yaitu sebagai berikut:
Nilai `Keperkasaan` Ide, sarana, dan keperkasaan merupakan komponen yang tak terpisahkan untuk merealisasikan suatu cita-cita. Semangat keperkasaan inilah yang melekat pada diri sawerigading untuk mengunjungi setiap sudut pelabuhan, antara lain Bima, Sunda, Singa Raja, Tana Cina dan lain-lain. Perahu werenrengnge yang digelari I Lattiwajo anging laloe merupakan symbol keperkasaan kebaharian yang harus diteladani oleh generasi masa kini dan mendatang (Yusuf dan Aditya, 2018:4).
Dari pernyataan di atas dapat diuraikan bahwa Sawerigading merupakan laki-laki perkasa yang ingin mewujudkan cita-citanya. Semangat keperkasaan inilah yang melekat pada diri Sawerigading untuk mengunjungi setiap pelabuhan, antara lain Bima, Sunda, Singa Raja, Tana Cina dan pelabuhan lainnya. Adapun perahu Werenrengnge yang di gelari Lattiwajo anging laloe yang merupakan simbol keperkasaan kebaharian yang harus diteladani oleh generasi masa kini dan mendatang. Kita bisa lihat bahwa laut merupakan potensi perhubungan dan perekonomian dan laboratorium raksasa ilmu pengetahuan, dan merupakan tetesan budaya Werenrengnge. Jadi tidak heran kalau Pinisi telah memukau dunia pelayaran tradisional seluruh dunia.
Nilai Religius, tokoh sawerigading yang sering dianggap setengah dewa, yang memiliki kekuatan supranatural, pernah mengakui dirinya sebagai anak sang pencipta, ternyata sawerigading adalah manusia yang
mengakui adanya tuhan tunggal pencipta yang harus di sembah (Yusuf dan Aditya 2018:4).
Dari pernyataan di atas dapat diuraikan bahwa Sawerigading yang sering di anggap setengah Dewa, yang memiliki kekuatan supranatural, dan ia pernah mengakui dirinya sebagai anak sang pencipta. Dan ternyata Sawerigading adalah manusia yang mengakui adanya Tuhan pencipta yang harus di sembah. Kita bisa melihat bahwa Sawerigading dan keluarganya pergi berziarah dan mencari berkah Tuhan di Tana Suci Mekah. Kemudian Sawerigading menganjurkan kepada masyarakat untuk membangun tempat Ibadah yang di beri Nama mesjid, dan sempat ada yang keliru tentang ucapan Sawerigading yang menganggap jika mengunjungi mesjid di Tompo Tikka sama hal nya dengan menunaikan haji di Baitullah. Padahal Sawerigading hanya mengharapkan kepada cucu-cucunya di kemudian hari datang berkunjung di Tana Suci Mekah. Dan disini kita bisa lihat keyakinan Sawerigading terhadap adanya Tuhan pencipta ketika ia gagal menuntut ilmu.
Nilai Etis Sawerigading sebagai tokoh sentral, walaupun dia banyak menentukan namun tetap taat terhadap nilai-nilai adat istiadat yang disepakati, ia sangat menjunjung tinggi lembaga Institusional masyarakat.
(Yusuf dan Aditya, 2018:5).
Dari pernyataan di atas dapat di uraikan bahwa Sawerigading adalah pribadi yang taat terhadap nilai-nilai adat istiadat yang di sepakati. Dan ia sangat menjunjung tinggi lembaga Institusional masyarakat, dan rela di pisahkan dari adiknya We Tenriabeng demi kemaslahatan umum. Sawerigading juga terlalu mendengarkan nasehat ibunya, saudara kandungnya, bahkan sepupunya Lapananreng dan orang-orang di sekelilingnya.
Nilai Estetis, di dalam cerita sawerigading, disamping menyenangi burung, ayam, anjing dan kuda, juga sangat gemar akan wanita-wanita yang memiliki keindahan tubuh dan wajah cantik. Dari emosi estetikanya, ia sebagai manusia kadang kala lupa daratan (Yusuf dan Aditya, 2018:5).
Dari pernyataan di atas dapat diuraikan bahwa Sawerigading mempunyai hobi tersendiri yaitu menyenangi burung, ayam, anjing, dan kuda. Tidak hanya menyenangi hewan-hewan saja, tetapi ia juga sangat gemar akan wanita-wanita yang memiliki keindahan tubuh dan wajah cantik. Di lihat dari emosi estetikanya, ia sebagai manusia kadang kala lupa daratan. Sawerigading juga mendapatkan lingkungan yang indah dan harmonis. Dan salah satu kegemaran yang di senangi Sawerigading yaitu mengadakan penghijauan dan menanam tumbuh-tumbuhan yang bermanfaat bagi manusia seperti pepaya.
Nilai Historis, peristiwa-peristiwa masa lampau tidak semuanya dikategorikan sejarah, tetapi masa lampau yang bisa hidup dihidangkan setiap waktu (Yusuf dan Aditya, 2018:5).
Dari pernyataan di atas dapat kita lihat bahwa Nilai historis menurut Louis Gottschalk merupakan peristiwa-peristiwa masa lampau yang bisa hidup dan dihidangkan setiap waktu. Sedangkan menurut Sartono Kartodiharo, bahwa sejarah adalah rekaman masa silang yang objektif yang terungkap oleh kehidupan manusia melalui pengembangan informasi, tulisan, dokumen, parasasti, yang tidak akan terulang. Hidup dan pengulangan nya itulah disebut sejarah dan sejarah pada hakekatnya merupakan proses menelusuri eksistensi bangsa, masyarakat dan demi seseorang itu sendiri secara ekstensional.
Pernyataan selanjutnya dikemukakan oleh Wiwik Pertiwi dalam bukunya yang berjudul Kajian Nilai Budaya Naska Kuna Mapalina Sawerigading Ri Saliweng Langi, adapun pernyataannya sebagai berikut:
Dalam menjalankan kekuasaan sebagai pangeran mahkota disamping kedudukannya sebagai pimpinan tertinggi dalam pelayaran Sawerigading tidak mengambil keputusan dan bertindak sendiri. Melainkan sebagai dari kewenangannya dilimpahkan kepada pembantu-pembantu utamanya (Pertiwi dkk, 1998:163-164).
Kutipan di atas menunjukkan dua sikap dengan nilai berbeda dalam menanggapi masalah yang sama. Sikap pertama ditampilkan oleh tokoh La pananrang dan La massaguni, dimana keduanya ingin menghadapi kekasaran dan penghinaan lawan dengan mengangkat senjata dalam pertarungan. Namun sikap tersebut dipandang dengan kurang arif dan kurang bijaksana terutama karena dapat menimbulkan pertempuran sengit yang diduga akan mengorbankan nyawa para laskar Luwu. Demikianlah, maka tokoh La sinilele menampilkan sikap kedua yang dianggap jauh lebih arif fan lebih bijaksana, yaitu sikap sabar dan tetap berkepala dingin menghadapi rongrongan pihak musuhnya.
Mengutamakan kepentingan negeri dan nama baik (Pertiwi dkk, 1998:165-166).
Dari pernyataan di atas dapat di uraikan bahwa Sawerigading lebih mengutamakan kepentingan dan nama baik keluarga dan Negeri Luwu daripada harta benda dan kekayaan yang melimpah. Dan kita bisa lihat dimana sikap ini tercermin dalam ketika berbicara dengan Guttu Tallemma, dia adalah Raja dari Negeri Saliweng Langi. Disini Raja Guttu Tallemma menawarkan perdamaian kepada pihak Sawerigading, dengan syarat Sawerigading harus melupakan pertikaian terhadap pihak Kerajaan Saliweng Langi. Akan tetapi Sawerigading menolak, walaupun di Tana Luwu termasuk melarat dan bukan orang kaya, namun demikian ia pantang menerima pemberian yang berupa suap. Kita bisa
melihat bahwa Sawerigading tidak sudi memanfaatkan kedudukannya sebagai pangeran mahkota untuk mengambil keuntungan, terutama dari pihak musuh.
Mengutamakan keselamatan rakyat (Pertiwi dkk, 1998:166).
Dari pernyataan di atas dapat di uraikan bahwa Sawerigading lebih mengutamakan rakyatnya daripada dirinya sendiri. Di lihat dari ketika laskar pengawalnya berperang melawan laskar kerajaan Rumpa Mega yang ternyata menampilkan sikap kesatria sejati. Saat berperang Sawerigading tidak hanya bersembunyi di belakang kekuatan laskarnya, tetapi ia pun terjun ke pertempurang bersama pengawal dan sepupu-sepupunya. Kita bisa lihat bahwa sawerigading adalah seorang pangeran mahkota yang tidak segan membunuh ataupun terbunuh untuk membela keselamatan rakyatnya.
Dermawan, Satu diantara nilai budaya luhur yang ditampilkan dalam naskah kuno lontarak galigo ialah sifat kedermawanan raja (Pertiwi dkk, 1998:167).
Dari uraian di atas menunjukkan bahwa Raja Luwu sangat memperhatikan pemerataan pangan kepada para anggota keluarga, raja-raja sahabat, raja-raja taklukkan serta rakyat banyak. Dalam hal ini pelaksanaan upacara selamatan merupakan sat diantara media pemerataan bagi kesejahteraan semua pihak. Ini sekaligus membuktikan bahwa dalam mengendalikan kekuasaan negeri/kerjaan, sang raja berdaulat mendukung keberadaan nilai kedermawanan.
Kemanusiaan yang Adil dan Beradab (Pertiwi dkk, 1998: 171).
Dari pernyataan di atas dapat di uraikan bahwa sejak masa silam leluhur orang bugis di kawasan Luwu, telah menerapkan nilai kemanusiaan yang adil dan
beradab. Dimana setiap orang mengharapkan sikap saling mencintai antara sesama manusia tampah melihat perbedaan latar suku bangsa.
B. Pembahasan
1. Ketokohan Sawerigading di Tanah Luwu
Ketokohan dapat diartikan sebagai pemimpin yang baik yang dapat dijadikan contoh dan dapat diteladani sifat-sifat baiknya. Ketokohan seperti halnya dengan peristiwa dalam karya fiksi dalam kehidupan sehari-hari, selalu di emban oleh tokoh atau pelaku-pelaku tertentu, pelaku yang mengembang cerita dalam cerita fiksi sama sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita.
Cerita ini sampai kepada warga Nelayan Bugis Pagutan dan sekaligus menjadi dasar pijakan bagi sebagian mereka untuk melakukan ritual Massorongritasi. Namun demikian, fakta sejarah tersebut masih diperlukan telaah secara kritis dengan memilah-milih antara fakta sejarah sebenarnya dengan cerita mitos yang telah diselipkan dalam penyusunan silsilah tersebut. Karena, nilai-nilai mitos dan legenda dipandang masih sangat dominan dalam memberikan warna-warni cerita tentang Sawerigading, terbukti dengan alur cerita, tokoh cerita, tempat dan peristiwa cerita, sesuai ciri-ciri yang dikategorikan dengan mitos dan legenda.
Sawerigading memiliki masa awal pengaruh dan persebarannya ke wilayah-wilayah yang luas, sebagaimana yang ditunjukkan masa kini . Masa awal pengaruh dan persebaran mite Sawerigading dalam suatu wilayah dan kebudayaan tertentu. Pada wilayah persebaran mite Sawerigading di Sulawesi selatan yang dapat di sebut “ masa Sawerigading” menempati waktu yang diperkirakan sekitar
abad ke-sepuluh, sezaman dengan sriwijaya dan pengaruh persebaran ajaran Hindu-Budha di Nusantara. Juga kehadiran pengaruh kebudayaan Cina pada Zaman itu, menjadi dambaan yang diidealisasikan sebagai suatu nilai panutan.
Menurut Perdana (2019:14) di beberapa daerah di Sulawesi selatan, Sawerigading memiliki symbol mitologis berupa kebudayaan materi yang bersifat sacral. Dalam tradisi lisan La Galigo pelaut ulung yang pelayaran nya sampai ke negeri Cina. Dalam penggambaran nya tersebut ia digambarkan singgah di suatu tempat yang memunculkan cerita-cerita yang berkaitan dengannya. Kehadirannya tersebut selalu dikaitkan dengannya. Kehadirannya tersebut selalu dikaitkan dengan asal usul raja setempat dan berdirinya daerah tersebut selalu terdapat benda-benda yang berhubungan dengan Sawerigading, contohnya di dekat Malili terdapat gunung belah (bulupulo) yang terbelah akibat tertimpa pohon Walenreng yang ditebang oleh Sawerigading untuk dijadikan perahu di Cerekang yang disebut dengan kapal Pinisi. Selain itu, Peninggalan-peninggalan Sawerigading lainnya berupa Kris atau benda-benda bersejarah lainnya
Hal ini dapat dikaitkan dengan teori yang dikemukakan oleh Davidson mengenai warisan budaya. Menurut Davidson warisan budaya disini dapat diartikan sebagai produk atau hasil budaya fisik dari tradisi-tradisi berbeda dan prestasi-prestasi spiritual dalam bentuk nilai dari masa lalu yang kemudian menjadi elemen pokok bagi jati diri suatu kelompok atau bangsa. Menurut Davidson warisan budaya merupakan produk atau hasil budaya fisik dari tradisi-tradisi berbeda dan prestasi-prestasi spiritual dalam bentuk nilai dari masa lalu yang kemudian menjadi elemen pokok bagi jati diri suatu kelompok atau bangsa.
Selain peninggalan benda-benda bersejarah terdapat pula peninggalan nilai-nilai yang dapat mencerminkan sifat Sawerigading. Nilai-nilai yang menjadi landasan dan panutan sebagai bentuk warisan nilai dari sejarah Kerajaan Luwu (To Ciung Maccae ri Luwu) , nilai-nilai yang di maksud adalah:
a. Warani (Berani)
Seorang pemimpin seharusnya memiliki sifat ini, yang bermakna berani mengambil tindakan untuk menjaga kestabilan pemerintahan karena apabila seorang pemimpin tidak berani, maka dengan mudah di pengaruhi oleh orang lain atau lebih jauh oleh bawahannya. Warani berarti berani bertindak dan berani mengambil resiko.
b. Lempu’ (jujur)
Dalam perkataan bugis jujur di sebut lempuk. Menurut arti logatnya jujur sama dengan lurus sebagai lawan dari bengkok. Dalam berbagai konteks, ada kalanya kata ini berarti ikhlas, benar, baik, atau adil.
Jujur adalah sikap yang menyatakan sesuai dengan sesungguhnya dan apa adanya, tidak ditambahi atau dikurangi. Adapun yang dimaksud dengan jujur menurut pemikiran Maccae ri Luwu sebagai tolak ukur daripada nilai lempu (jujur) tersebut, yaitu:
a. Orang yang bersalah padanya dimaafkan
b. Dia dipercaya dan tidak mengkhianati kepercayaan itu c. Tidak serakah atau tidak menginginkan yang bukan haknya
d. Tidak dituntutnya suatu kebaikan, kalau hanya dia yang Menikmati nya, hanya untuk kepentingan pribadinya.
Jujur mengandung arti yang sangat luas karena kejujuran itu sumbernya dari hati. Jujur merupakan kesesuaian antara hati, perkataan dan perilaku yang kita tampilkan. Jika diantara ketiganya ada yang tidak sesuai maka itu merupakan sifat yang sebaliknya yaitu bohong ataupun dusta. Berkata jujur dan berperilaku jujur itu sangat susah kita temui saat ini, banyak orang sudah menggunakan jurus kebohongan untuk mencapai sesuatu yang ia inginkan. Misalnya dalam hal mengelola keuangan daerah dengan mencatat hal-hal yang tidak sesuai dengan yang semestinya. Padahal perilaku jujur akan menjadikan kita sebagai seseorang yang senantiasa di percaya oleh orang lain.
Orang yang beriman selalu mendasarkan tindakannya pada kebenaran dan menyerukan melaksanakan kebaikan yang dalam istilah agama disebut amar makruf, nahi Munkar. Perintah untuk melaksanakan kebaikan dan mencegah kemungkaran diprioritaskan pada diri sendiri dan lingkungan keluarga, kemudian kepada masyarakat umum.
Lempu’ (Kejujuran), berarti juga ikhlas, benar, baik, atau adil. Sehingga kata-kata tersebut berlawanan dengan kata culas, curang, khianat, seleweng, buruk, tipu, aniaya dan semacamnya (Ahmad, 2009). Lempu’ memiliki beberapa indikator misalnya dapat dilihat dari nasehat Tociung seorang cendekiawan Luwu yang disampaikan kepada calon raja (datu) Soppeng. La Manussa’
Toakkarangeng, beliau menyatakan empat indikasi perbuatan jujur:
Eppa’I gau’na Lempu’e: risalaie naddampeng, riparennuangie temmaceko, bettuanna risanresi teppabbelang, temmangoangenngi Tania olona, tennaseng deceng rekko nassamarini pudecengi.
Artinya:
[Ada empat perbuatan yang disebut jujur, yakni memaafkan orang yang berbuat salah kepadanya, dipercaya lalu tak curang, disandari lalu tak berdusta, tidak serakah terhadap yang bukan haknya, tidak memandang kebaikan kalau hanya buat dirinya, baginya baru dinamakan kebaikan jika dinikmati bersama] (Rahim, 1985:145).
Perkataan jujur dalam konteks budaya Luwu merupakan penilaian perilaku yang sangat terpuji dan dihormati. Perkataan orang dahulu, bahwa jika orang harus merasa segan atau takut maka perasaan itu hanya patut diberikan kepada orang yang jujur. Memang kadang-kadang orang yang jujur tidak laku di dalam pasaran keadilan dan kebenaran, ada kalanya orang jujur tersingkir dalam penderitaan. Kata Karaenta Icinara mengingatkan pula: jangan jenuh dalam penderitaan. Usahakan sekuat-kuat daya menegakkan nilai kejujuran sebab orang jujur meskipun tenggelam akan timbul juga.
3. Getteng (Teguh)
Getteng adalah salah satu paseng yang bisa bermakna keteguhan, ketegasan serta kesetiaan pada keyakinan. Keteguhan hati adalah sifat penting seorang yang beriman. Orang beriman tidak pernah kehilangan keteguhan, ketegasan, serta kesetiaan pada keyakinan (Latif, 2012:105). Getteng atau keteguhan yang dimaksud disini selain berarti teguh, kata ini pun dapat diartikan sebagai pendirian yang tetap atau setia pada keyakinan, atau kuat dan tangguh dalam pendirian, erat memegang sesuatu. Nilai keteguhan ini terikat pada makna
yang positif. Ini dinyatakan dalam pappaseng to maccae ri Luwu (To ciung), bahwa Eppa’I gau’na gettengnge iyanaritu (empat perbuatan nilai keteguhan):
a. Tessalaie janci (tak mengingkari janji)
b. Tessorosi ulu ada’ (tak mengkhianati kesepakatan)
c. Telluka anu pura, teppinra assituruseng (tak membatalkan keputusan, tak Mengubah kesepakatan)
d. Mabbicarai naparapi, mabbinru’I teppupi napaja (jika berbicara dan berbuat, tak berhenti sebelum rampung).
Ungkapan ini menggambarkan bahwa orang yang memiliki keteguhan, ketegasan, serta kesetiaan pada keyakinan dapat menghargai tiga hal yaitu harga diri yang tercermin dalam hal menghargai janji dan menghormati ikrar, keyakinan yang tercermin dalam watak yang tidak mau berubah pada keputusan yang telah disepakati, serta tanggungjawab yang tercermin dalam konsistensi dalam menyelesaikan suatu urusan. Yang dimaksud dengan getteng merupakan suatu perilaku yang memegang teguh prinsip-prinsip yang telah dibuatnya dan berlandaskan pada nilai-nilai kebenaran (tongeng). Selain itu, sesuai dengan pemikiran Maccae ri Luwu, ada beberapa bentuk perilaku yang dapat mengindikasikan seseorang itu memiliki sifat getteng (teguh), yakni:
a. Tidak mengingkari janji dan tidak melangkahi (mengkhianati) perjanjian.
b. Tidak mengurai barang jadi.
c. Tidak mengubah keputusan.
d. Ketika mengadili, nanti telah putus barulah berhenti.
Prinsip Getteng yang berarti ketegasan atau keteguhan berpegang pada keyakinan yang benar. Nilai ini dapat ditelaah dari sikap yang ditunjukkan dewan adat kerajaan Luwu dalam Paupau Rikadong Arung Masala Ulike, dalam suatu dialog yang memberikan pilihan pada Datu Luwu. Dua pilihan itu berbentuk telur sebutir yang rusak ataukah telur yang banyak. Pilihan itu bermakna apakah Datu memilih mempertahankan kehadiran puteri tunggalnya yang berpenyakit kulit di dalam istana ataukah memilih kepentingan, keselamatan, dan ketentraman rakyat banyak. Bilamana Datu memilih putrinya, jelas dewan adat akan meninggalkan Datu, atau menurunkan Datu dari tahtanya.
Dewan adat melakukan hal itu sebagai pertanda ketegasan dan keteguhan nya berpegang pada prinsip adat kerajaan yang diyakininya, yaitu prinsip pengayoman kepada rakyat. Datu Luwu yang juga berpegang pada prinsip adat kerajaan, memahami bahwa dirinya pun harus menunjukkan sikap Getteng dengan melawan perasaan subjektif nya sebagai seorang ayah dengan memilih “telur yang banyak”. Hal itu berarti bahwa puteri raja harus ripali (disingkirkan) dari kerajaan (Ahmad, 2009:101). Getteng atau teguh pada pendirian dalam Islam disebut sebagai “Istiqamah” seorang yang Istiqamah dianalogikan seperti batu karang di tengah-tengah lautan yang tidak bergeser sedikitpun walaupun dipukul oleh gelombang yang besar.
4. Macca (pintar)
Sifat macca mutlak untuk dimiliki seorang pemimpin. Manakala bawahan (yang dipimpin) lebih pintar daripada pemimpinnya, akibatnya pemimpin akan
Sifat macca mutlak untuk dimiliki seorang pemimpin. Manakala bawahan (yang dipimpin) lebih pintar daripada pemimpinnya, akibatnya pemimpin akan