BAB III METODE PENELITIAN
G. Teknik Analisis Data
Analisis data yang dilakukan peneliti dimulai dengan analisis konten merupakan suatu proses yang dilakukan dengan cara mencari dan menyusun secara rinci data yang telah diperoleh sebelumnya dari hasil data melalui buku dan artikel, internet yang dilakukan dan catatan lainnya, sehingga mudah dipahami dan dapat di informasikan kepada orang lain. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis data secara kualitatif, yang dilakukan
dengan cara menggambarkan dan mendeskripsikan hasil yang didapat di lapangan.
22 BAB IV
GAMBARAN UMUM LOKASI DAN OBJEK PENELITIAN A. Sejarah Tana Luwu
Sejarah Tanah Luwu sudah berawal jauh sebelum masa pemerintahan Hindia Belanda bermula. Sebelumnya Luwu telah menjadi sebuah kerajaan yang mewilayahi Tana Toraja (Makale, 45 Rantepao) Sulawesi Selatan, Kolaka (Sulawesi Tenggara) dan Poso (Sulawesi Tengah). Sejarah Luwu ini dikenal pula dengan nama Tanah Luwu yang dihubungkan dengan nama La Galigo dan Sawerigading. Pada tahun 1905, pemerintah Hindia Belanda berhasil menduduki pusat Kedatuan Luwu di Palopo. Hal ini membuat sistem pemerintahan di Luwu dibagi atas dua tingkatan pemerintahan, yaitu:
1. Pemerintahan tingkat tinggi dipegang langsung oleh pihak Belanda.
2. Pemerintahan tingkat rendah dipegang oleh pihak Swapraja. Pada tahun 1942, Jepang berhasil menghalau pemerintah Hindia Belanda dan menguasai Luwu.
Sistem pemerintahan yang diterapkan sama, hanya saja rakyat diberi kebebasan berusaha, bercocok tanam dan nelayan.
Hal tersebut tentu saja membuat hasil- hasil bumi masyarakat Belopa dan sekitarnya lebih meningkat, sehingga diberi julukan “pabbarasanna Tana Luwu”, (lumbung pangan Tanah Luwu). Dalam masa pemerintahan Jepang, yaitu tentara Dai Nippon, kedudukan Datu Luwu dalam sistem pemerintahan sipil, sedangkan pemerintahan militer dipegang oleh Pihak Jepang. Dalam menjalankan pemerintahan sipil, Datu Luwu diberi kebebasan, namun tetap diawasi secara ketat oleh pemerintahan militer Jepang. Yang menjadi pemerintahan sipil atau
Datu Luwu pada 46 masa itu ialah "Andi Kambo Opu Tenrisompa" kemudian diganti oleh putranya "Andi Patiware" yang kemudian bergelar "Andi Djemma.”
Pada bulan April 1950 Andi Djemma dikukuhkan kembali kedudukannya sebagai Datu/Pajung Luwu dengan wilayah seperti sediakala. Afdeling Luwu meliputi lima onder Afdeling Palopo, Masamba, Malili, Tana Toraja atau Makale, Rantepao dan Kolaka. Selanjutnya pada masa setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, secara otomatis Kerajaan Luwu berintegrasi masuk ke dalam Negara Republik Indonesia. Hal itu ditandai dengan adanya pernyataan Raja Luwu pada masa itu Andi Djemma yang antara lain menyatakan "Kerajaan Luwu adalah bagian dari Wilayah Kesatuan Republik Indonesia.” Pemerintah Pusat mengeluarkan Peraturan Pemerintah No.34 tahun 1952 tentang Pembubaran Daerah Sulawesi Selatan bentukan Belanda/Jepang termasuk daerah yang berstatus Kerajaan.
Peraturan Pemerintah No.56 tahun 1951 tentang Pembentukan Gabungan Sulawesi Selatan. Dengan demikian daerah gabungan tersebut dibubarkan dan wilayahnya dibagi menjadi 7 (tujuh) daerah Swatantra. Satu di antaranya adalah daerah Swatantra Luwu yang mewilayahi seluruh daerah Luwu dan Tana Toraja dengan pusat Pemerintahan berada di Kota Palopo. Tahun 1953 Andi Djemma Datu Luwu diangkat menjadi Penasehat Gubernur Sulawesi. Berselang 47 beberapa tahun kemudian, Pemerintah Pusat menetapkan beberapa Undang-Undang Darurat, antara lain: 1. Undang-Undang-Undang-Undang Darurat No.2/1957 tentang Pembubaran Daerah Makassar, Jeneponto dan Takalar. 2. Undang-Undang Darurat No. 3/1957 tentang Pembubaran Daerah Luwu dan Pembentukan Bone, Wajo dan Soppeng, serta penghapusan sistem pemerintahan Swpraja. Dengan
dikeluarkannya Undang-Undang Darurat No. 3/1957, maka daerah Luwu menjadi daerah Swatantra dan terpisah dengan Tana Toraja, disertai berakhirnya pula pemerintahan sistem kerajaan Luwu. Datu Luwu Andi Djemma langsung menjadi Bupati/Datu Luwu kala itu. Dengan berlakunya UU No. 29 tahun 1959 tentang terbentuknya daerah-daerah Tingkat II di Sulawesi, sistem Swatantra dihapus.
Pada waktu itu, wilayah kabupaten Dati II Luwu dibentuk 16 kecamatan dan salah satu diantaranya adalah Kecamatan Bajo dengan ibu kotanya Belopa.
B. Kondisi Umum Tana Luwu
Kabupaten Luwu merupakan salah satu daerah yang berada dalam wilayah administratif Provinsi Sulawesi Selatan. Daerah Kabupaten Luwu terbagi dua wilayah akibat pemekaran Kota Palopo yaitu Kabupaten Luwu Bagian Selatan yang terletak di sebelah selatan Kota Palopo dan wilayah Kabupaten Luwu Bagian Utara yang terletak di sebelah utara Kota Palopo. Kabupaten Luwu memiliki luas wilayah sekitar 3.000,25 Km2 atau 3.000.250 Ha dengan jumlah penduduk keseluruhan mencapai 359.209 jiwa pada tahun 2019, dengan mayoritas mata pencaharian penduduknya bergerak pada sektor pertanian dan perikanan.
Secara umum karakteristik bentang alam Kabupaten Luwu terdiri atas kawasan pesisir/pantai dan daratan hingga daerah pegunungan yang berbukit hingga terjal, dimana berbatasan langsung dengan perairan Teluk Bone dengan panjang garis pantai sekitar 116,161 Km (RTRW Kabupaten Luwu).
C. Keadaan Geografis
Ditinjau dari segi geografis, Kabupaten Luwu terletak di bagian utara Provinsi Sulawesi Selatan, dimana posisi Kabupaten Luwu terletak 2º.34’.45” –
3º.30’.30” LS dan 120º.21’.15” – 121º.43’.11” BT. Secara administratif, Kabupaten Luwu memiliki batas sebagai berikut:
Sebelah Utara: Kabupaten Luwu Utara dan Kota Palopo Sebelah Timur:
Teluk Bone Sebelah Selatan: Kota Polopo dan Kabupaten Wajo Sebelah Barat:
Kabupaten Tanah Toraja, Kabupaten Toraja Utara, Kabupaten Enrekang dan Kabupaten Sidrap. Dilihat dari letak geografis, Kabupaten Luwu cukup strategis.
Palopo, yang terletak di jalur Trans Sulawesi yang menghubungkan daerah Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara. Pelabuhan Tanjung Ringit di Palopo menjadikan Kabupaten Luwu sebagai pintu gerbang Sulwesi Selatan bagian utara, pelabuhan ini merupakan salah satu pintu penghubung untuk mendistribusikan hasil pertanian Luwu ke Luar daerah.
D. Kepadatan Penduduk
Kepadatan Penduduk di Kabupaten Luwu, dengan luas 3000,25 km2 , Kabupaten Luwu didiami oleh 359.209 jiwa atau dengan kepadatan sebesar 123 jiwa/ km2, kepadatan penduduk Kabupaten Luwu telah meningkat 49 dari 122 jiwa/km2 pada tahun 2018 menjadi 123 jiwa/km2 atau meningkat sebanyak 1 jiwa km2 . Jika dilihat persebaran di setiap kecamatan nampak bahwa Kecamatan Lamasi merupakan wilayah terpadat dengan kepadatan sebesar 535 jiwa/Km2 diikuti oleh Kecamatan Belopa Utara sebesar 478 jiwa/km2 , Kecamatan Belopa sebesar 288 jiwa/km2 , Kecamatan Walenrang Timur sebesar 279 jiwa/km2 , Kecamatan Ponrang Selatan sebesar 271 jiwa/km2 , Kecamatan Ponrang sebesar 268 jiwa/km2 , Kecamtan Suli sebesar 260 jiwa/km2 , Kecamtan Lamasi Timur sebesar 235 jiwa/km2 , Kecamatan Bajo sebesar 233 jiwa/km2 , Kecamatan
Kamanre 210 jiwa/km2 , Kecamatan Bua sebesar 154 jiwa/km2 , Kecamatan bajo Barat sebesar 147 jiwa/km2 , kecamatan Larompong Selatan sebesar 138 jiwa/km2 , Kecamatan Larompong sebesar 93 jiwa/km2 , Kecamatan Bua Ponrang sebesar 86 jiwa/km2 , Kecamatan Walenrang Utara sebesar 78 jiwa/km2 , Kecamatan Basse Sangtempe Utara sebesar 66 jiwa/km2 , Kecamatan Walenrang Barat sebesar 41 jiwa/km2 , sedangkan wilayah dengan kepadatan penduduk terendah di Kecamatan Latimojong yaitu 13 jiwa/km2 .
E. Keadaan Sosial Budaya
Masyarakat di Kabupaten Luwu menggunakan bahasa Luwu sebagai bahasa daerah utama karena mayoritas penduduknya adalah suku Luwu. Bahasa Luwu ini digunakan oleh sebagian besar 52 penduduk dari Tana Luwu, dari empat kabupaten dan kota, masing- masing Kabupaten Luwu, Luwu Utara, Luwu Timur dan kota Palopo. Bahasa Luwu, termasuk serumpun dengan bahasa Toraja.
Bahasa Luwu ini digunakan selaku bahasa percakapan penduduk setempat, mulai dari Selatan perbatasan dengan Buriko Kabupatan Wajo sampai dengan daerah Kabupaten Luwu Timur Malili. Kerajaan Luwu adalah kerajaan tertua, terbesar, dan terluas di Sulawesi Selatan yang wilayahnya mencakup Tana Luwu, Tana Toraja, Kolaka, dan Poso. Perkataan “Luwu” atau “Luu” itu sebenarnya berarti
“Laut”.
Luwu adalah suku bangsa yang besar yang terdiri dari 12 anak suku.
Kerajaan Luwu diperkirakan berdiri sekitar abad X yang dibangun oleh, sekaligus sebagai raja pertama adalah Batara Guru (Tomanurung) yang dipercaya turun dari langit diutus oleh ayahnya Dewa Patoto’e untuk turun mengisi kekosongan di
dunia tengah. Raja terakhir dari kerajaan Luwu adalah Andi Djemma yang bergelar Petta Matinro’e ri Amaradekanna yang memerintah mulai tahun 1935-1965 Masehi. Beliau merupakan raja yang sangat dikagumi dan di bangga- banggakan oleh rakyatnya bahkan raja-raja lain di Sulawesi Selatan karena keberaniannya dalam menghadapi penjajah Belanda. Kerajaan Luwu merupakan kerajaan pertama di Sulawesi Selatan yang menganut agama Islam. Agama Islam sendiri di bawa ke Tana Luwu oleh Dato’ Sulaiman dan Dato’ri Bandang yang berasal dari Aceh. Hal- 53 hal mistik banyak mewarnai proses awal masuknya Islam di Luwu. Diyakini bahwa Dato Sulaiman dan Dato ri Bandang datang ke Luwu dengan menggunakan kulit kacang. Mereka pertama kali tiba di Luwu tepatnya di Desa Lapandoso, Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu. Penduduk di Kabupaten Luwu juga terdiri atas beberapa etnis lokal dan etnis pendatang yang telah lama tinggal di Kabupaten Luwu dan masuk melalui akulturasi budaya seperti melalui perdagangan dan nelayan. Sementara itu terdapat juga etnis pendatang sebagai transmigran dengan latar belakang budaya yang berbeda, antara lain: Bugis, Jawa dan Bali yang dominan terdapat di Kecamatan Lamasi.
Masyarakat Jawa datang secara transmigrasi yang diprakarsai oleh pemerintah belanda, mereka datang dari daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, mereka telah menetap dan membangun kecamatan tersebut. Mata pencaharian utama mereka adalah bertani, sawah dan berkebun, selain itu banyak juga diantara mereka berprofesi sebagai pedagang. Jumlahnya telah berkembang dengan pesat, selain perkawinan antara sesama suku jawa terjadi juga perkawinan antara suku terutama suku Jawa dan Luwu yang merupakan suku pribumi. Sedangkan suku
Bugis dan Toraja merupakan imigran yang datang dari wilayah lain yang masih masuk dalam wilayah Sulawesi Selatan. Suku Bugis yang mendiami Lamasi berprofesi sebagai pedagang sedangkan suku Toraja bertani adalah profesi utama mereka. Oleh 54 karena keuletan dan kerja keras mereka akhirnya Kecamatan Lamasi berkembang menjadi daerah lumbung pangan bagi Kabupaten Luwu.
29 BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan studi pustaka yaitu mencari informasi dan membaca berbagai literatur yang berkaitan dengan tokoh Sawerigading yang terdapat pada buku-buku, jurnal, skripsi dan beberapa artikel lainnya yang berkaitan dengan Sawerigading. Berdasarkan studi pustaka yang telah dilakukan sebelumnya di berbagai sumber didapatkan hasil penelitian yaitu sebagai berikut:
1. Ketokohan Sawerigading di Tanah Luwu
Beberapa pernyataan dalam buku, artikel, jurnal dan skripsi yang berisi tentang Ketokohan Sawerigading di Tanah Luwu. Pernyataan pertama dikemukakan oleh Zulkifli Yusuf dalam jurnal nya yang berjudul Perancangan Desain Karakter Untuk Memperkenalkan Nilai-Nilai Dari Kisah Sawerigading Bagi Remaja Di Sulawesi, berikut pernyataannya yaitu sebagai berikut:
Ampe Madecengna (Nilai moral/Sifat baik) Sawerigading (Yusuf, 2018:5).
Dari kutipan di atas dapat di ketahui bahwa Ampe madecengna artinya Sawerigading memiliki nilai moral dan sifat baik sebagai seorang pemimpin di masyarakat. Dia tidak akan di jadikan sebagai tokoh di dalam masyarakat jika Sawerigading tidak memiliki nilai-nilai yang positif dan sifat yang baik.
Pernyataan selanjutnya di kemukakan oleh Lebbe Pongsibanne dalam bukunya Autentisitas Budaya Bugis: Jejak Sawerigading Sebagai Perekat Bangsa dalam Epik I La Galigo berikut pernyataannya yaitu sebagai berikut:
Sawerigading seorang pelaut yang ulung, keteguhan hatinya mampu mengirim dia pada kepekaan mengatasi semua kesulitan di laut.
(Pongsibanne, 2010:7).
Dari kutipan tersebut dapat di uraikan bahwa Sawerigading seorang pelaut yang ulung. Mengapa Sawerigading dikatakan pelaut ulung karena ada pepatah mengatakan, tak ada pelaut ulung yang dilahirkan dari Samudra yang diam tapi pasti di lahirkan dari sosok yang teguh menghadapi Samudra yang penuh dengan badai. Dalam pengembaraan nya tersebut, ia digambarkan singgah di suatu tempat yang memunculkan cerita-cerita yang berkaitan dengannya. Kehadirannya tersebut selalu di kaitkan dengan asal usul raja setempat dan berdirinya daerah tersebut, bahkan di daerah tersebut selalu terdapat benda-benda yang berhubungan dengan Sawerigading. Contohnya di dekat Malili, terdapat Gunung Belah (Bulupulo), yang terbelah akibat tertimpa pohon Welenreng yang di tebang oleh Sawerigading untuk di jadikan perahu.
Kecerdasan dan ketangkasan nya yang luar biasa membuat Sawerigading di segani dan di kagumi di setiap tempat (Pongsibanne, 2010:8).
Dari kutipan di atas dapat di ketahui bahwa Sawerigading memiliki kecerdasan dan ketangkasan yang luar biasa dan ia di segani dan di kagumi di setiap tempat yang ia datangi. Kecerdasan Sawerigading di lihat pada saat ia memperbaiki perahu, menyambung kembali papan yang telah terlepas satu dari yang lainnya, hingga utuh menjadi perahu. Kecerdasan inilah yang di warisi oleh masyarakat, dan kembangkan hingga sekarang.
Pernyataan selanjutnya dikemukakan oleh Andini Perdana dalam jurnal nya yang berjudul Naskah La Galigo: Identitas Budaya Sulawesi Selatan di Museum La Galigo. Berikut pernyataannya yaitu:
Sawerigading sebagai perekat atau penghubung suku bangsa di Sulawesi Selatan, (Perdana, 2019:120).
Dari kutipan di atas dapat di uraikan bahwa Sawerigading dikatakan sebagai perekat bangsa di Sulawesi Selatan karena cerita tentang Sawerigading tidak hanya di kenal di Suku Bugis, melainkan di semua Suku di Sulawesi Selatan. Maka dari itu Sawerigading di katakan perekat bangsa di Sulawesi Selatan, karena menghubungkan suku bugis dengan suku-suku yang lain.
Pernyataan selanjutnya dikemukakan oleh Matulada dalam bukunya yang berjudul Sawerigading Folkatle Sulawesi, berikut pernyataannya yaitu sebagai berikut:
Sawerigading tokoh dari peristiwa-peristiwa kultural yang meliputi berbagai kejadian, yang memandangnya sebagai cikal bakal kepemimpinan kaumnya.
(Matulada, 1990:1).
Dari pernyataan diatas dapat diketahui bahwa Sawerigading di anggap sebagai tokoh di dalam masyarakat, karena adanya kultural atau budaya yang meliputi kejadian, dan memandang sebagai cikal bakal kepemimpinan kaumnya.
Banyaknya kejadian atau peristiwa yang mendasarkan pada benda-benda alam, seperti Bulupoloe di dekat Malili, dikatakan bahwa ini bekas tertimpa pohon Welenrang yang rebah karena di tebang dan di jadikan perahu oleh Sawerigading.
Dikatakan juga bahwa di Gunung Kandora, daerah Mengkedek, Tana Toraja terdapat batu yang di duga jelmaan We Pinrakati, yaitu istri Sawerigading yang meninggal dalam keadaan hamil yang dijemput nya di dunia roh. Di Enrekang terdapat batu di daerah Bambapuang, jika di lihat dari jauh nampak sebagai anjungan perahu Sawerigading yang karam dan telah menjadi batu. Sedangkan di
Selayar terdapat Gong Nekara yang selalu iya bawah pada saat berlayar dan di bunyikan pada saat memasuki pelabuhan. Dan masih banyak lagi daerah-daerah yang pernah di singgahi Sawerigading.
Pernyataan selanjutnya dikemukakan oleh Erli Yetti dalam jurnal nya yang berjudul Legenda Danau Lindu Sulawesi Tengah, adapun pernyataannya sebagai berikut:
Selama pelayaran nya Sawerigading memiliki 4 sifat utama yang melekat pada diri Sawerigading yakni getteng (teguh pendirian), warani (berani), lempuq (jujur), dan macca (pintar). (Yetti, 2016:292).
Dari pernyataan di atas dapat kita uraikan bahwa keteguhan dan keberaniannya Sawerigading itu bukan saja terlihat dalam beberapa peristiwa kepada musuh-musuh Sawerigading, melainkan dalam hal mengungkapkan sejarah leluhurnya, perasaan hatinya, kebahagiaan nya, maupun perasaan lain yang ia pendam dalam hatinya. Karena itu, sifat teguh dan keberaniannya hanya dapat di lihat bila diiringi dengan kejujuran dalam bersikap, berbicara, maupun dalam bertindak. Ke empat sifat Sawerigading inilah yang di kagumi oleh Masyarakat dan menjadi prinsip hidup pada masa yang akan datang. Nah Di sinilah ketokohan Sawerigading di kenal karena sifat-sifatnya yang di kagumi oleh masyarakat setempat.
2. Prinsip Hidup Sawerigading dalam perubahan Sosial Masyarakat
Beberapa pernyataan dalam buku, artikel atau jurnal yang berisi tentang Ketokohan Sawerigading di Tanah Luwu. Pernyataan pertama dikemukakan oleh Matulada dalam bukunya yang berjudul Sawerigading Folkatle Sulaewesi, berikut pernyataannya yaitu sebagai berikut:
Sawerigading adalah seorang tokoh lagendaris yang dikenal oleh hampir seluruh kelompok etnik di Sulawesi. (Matulada, 1990:7).
Dari kutipan di atas dapat di uraikan bahwa Sawerigading seorang tokoh legendaris yang di kenal oleh hampir seluruh kelompok etnik di seluruh Sulawesi.
Ketokohan Sawerigading tersebut di lihat dari nilai-nilai religius nya, yang menyebarkan Islam di seluruh Sulawesi. Sawerigading juga di kenal oleh masyarakat karena memiliki sifat teguh dan keberanian dalam menyebarkan Islam di Sulawesi. Maka dari itu Sawerigading tidak hanya di anggap tokoh masyarakat di Luwu saja, tetapi ketokohannya menyebar hingga seluruh Sulawesi.
Sawerigading terdapat dalam bentuk tradisi lisan,(Matulada, 1990:8).
Dari pernyataan di atas dapat diuraikan bahwa Sawerigading di kenal melalui opini yang di sebarkan melalui tradisi lisan. Melalui tradisi lisan kisah Sawerigading di kenal dan di kagumi oleh masyarakat, karena adanya nilai luhur, sikap, dan pandangan yang ada pada diri Sawerigading. Maka Sawerigading di kenal oleh seluruh masyarakat dan menerapkan nilai-nilai luhur dan sikap pada dirinya sendiri. Dan di Sulawesi selatan sendiri ia dikenal sebagai cikal bakal para penguasa negeri-negeri Bugis, Makassar mandar. Maka Sawerigading menyampaikan pada masa kini tentang peradaban masa lalu, yang diceritakannya tentang masa lalu itu sangat menyentuh kehidupan nyata kelompok-kelompok etnik atau lapisan tertentu masyarakat di banyak wilayah persebarannya, dan pada waktu yang berbeda-beda. Sawerigading sendiri menyusup ke dalam peradaban, untuk memperkaya lapisan-lapisan yang telah ada sebelumnya dan membawanya ke dalam realitas Kultur, atau kenyataan budaya. Kenyataan budaya itu apabila dihubungkan dengan realitas sosial dengan cara mengaktualisasikannya kedalam
kenyataan, maka menjadilah dia pangkalan rujukan bagi peristiwa-peristiwa atau silsilah sesuatu kaum tertentu.
Pernyataan selanjutnya dikemukakan oleh Zulkifli Yusuf dalam jurnal nya yang berjudul Perancangan Desain Karakter Untuk Memperkenalkan Nilai-Nilai dari Kisah Sawerigading Bagi Remaja, berikut pernyataannya yaitu sebagai berikut:
Nilai kebersatuan, walaupun tokoh legendaris sawerigading dikategorikan sebagai manusia yang berwatak keras dan sering berperang, namun rasa kasih sayang dan maaf masih menggores bekas perilaku Sawerigading luntur dari sumpahnya untuk tidak kembali lagi ke kampung halaman setelah di tolak cintanya oleh saudara kandungnya We/Tenriabeng, karena tidak sampai hati melihat istrinya sodai/We Cudai berdua dengan anaknya Lagaligo untuk berlayar dari Tana Cina untuk menemui mertuanya. Digarisbawahi lagi orang-orang kulawi yang mengatakan ‘Sawerigadang datang bukan untuk berkelahi, tetapi untuk menyelamatkan manusia” (Yusuf dan Aditya 2018:4).
Dari pernyataan di atas dapat diuraikan bahwa Sawerigading dikategorikan sebagai manusia yang berwatak keras dan sering berperang, namun rasa kasih sayang dan maaf masih menggores bekas perilakunya yang mengucap sumpah untuk tidak akan kembali lagi ke Luwu, setelah di tolak cintanya oleh saudara kandungnya sendiri, yaitu We Tenriabeng, karena tidak sampai hati melihat istrinya, yaitu We Cudai dan anaknya I La Galigo ia nekat melanggar sumpahnya sendiri untuk pergi berlayar dari tanah Cina untuk menemui orang tuanya. Maka kembalilah Sawerigading ke tanah leluhurnya tanah tumpah darahnya walaupun rasa kecewa nya masih menekan hatinya, dan resiko menghadapi adat ‘Ri Lompangi Tana` karena sumpahnya. Dan kita bisa melihat bahwa sawerigading lebih mementingkan persahabatan dan perdamaian daripada pertumpahan dara.
Dan Sawerigading bertujuan untuk menghubungkan suatu wilayah daratan dan
kepulauan Luwuk Banggai. Digarisbawahi lagi orang-orang kulawi yang mengatakan ‘Sawerigadang datang bukan untuk berkelahi, tetapi untuk menyelamatkan manusia.
Pernyataan selanjutnya dikemukakan oleh Zulkifli Yusuf dalam jurnal nya yang berjudul Perancangan Desain Karakter Untuk Memperkenalkan Nilai-Nilai dari Kisah Sawerigading Bagi Remaja di Sulawesi, berikut pernyataannya yaitu sebagai berikut:
Nilai `Keperkasaan` Ide, sarana, dan keperkasaan merupakan komponen yang tak terpisahkan untuk merealisasikan suatu cita-cita. Semangat keperkasaan inilah yang melekat pada diri sawerigading untuk mengunjungi setiap sudut pelabuhan, antara lain Bima, Sunda, Singa Raja, Tana Cina dan lain-lain. Perahu werenrengnge yang digelari I Lattiwajo anging laloe merupakan symbol keperkasaan kebaharian yang harus diteladani oleh generasi masa kini dan mendatang (Yusuf dan Aditya, 2018:4).
Dari pernyataan di atas dapat diuraikan bahwa Sawerigading merupakan laki-laki perkasa yang ingin mewujudkan cita-citanya. Semangat keperkasaan inilah yang melekat pada diri Sawerigading untuk mengunjungi setiap pelabuhan, antara lain Bima, Sunda, Singa Raja, Tana Cina dan pelabuhan lainnya. Adapun perahu Werenrengnge yang di gelari Lattiwajo anging laloe yang merupakan simbol keperkasaan kebaharian yang harus diteladani oleh generasi masa kini dan mendatang. Kita bisa lihat bahwa laut merupakan potensi perhubungan dan perekonomian dan laboratorium raksasa ilmu pengetahuan, dan merupakan tetesan budaya Werenrengnge. Jadi tidak heran kalau Pinisi telah memukau dunia pelayaran tradisional seluruh dunia.
Nilai Religius, tokoh sawerigading yang sering dianggap setengah dewa, yang memiliki kekuatan supranatural, pernah mengakui dirinya sebagai anak sang pencipta, ternyata sawerigading adalah manusia yang
mengakui adanya tuhan tunggal pencipta yang harus di sembah (Yusuf dan Aditya 2018:4).
Dari pernyataan di atas dapat diuraikan bahwa Sawerigading yang sering di anggap setengah Dewa, yang memiliki kekuatan supranatural, dan ia pernah mengakui dirinya sebagai anak sang pencipta. Dan ternyata Sawerigading adalah manusia yang mengakui adanya Tuhan pencipta yang harus di sembah. Kita bisa melihat bahwa Sawerigading dan keluarganya pergi berziarah dan mencari berkah
Dari pernyataan di atas dapat diuraikan bahwa Sawerigading yang sering di anggap setengah Dewa, yang memiliki kekuatan supranatural, dan ia pernah mengakui dirinya sebagai anak sang pencipta. Dan ternyata Sawerigading adalah manusia yang mengakui adanya Tuhan pencipta yang harus di sembah. Kita bisa melihat bahwa Sawerigading dan keluarganya pergi berziarah dan mencari berkah