BAB I PENDAHULUAN
E. Definisi Operasional
Pada penelitian ini, menggunakan beberapa istilah-istilah yang memiliki definisi sebagai berikut:
1. Ketokohan Sawerigading adalah Putra Raja Luwu dari Kerajaan Luwu Purba, dalam bahasa setempat Sawerigading berasal dari dua kata, yaitu Sawe yang berarti menetas ( lahir), dan Ri Gading yang berarti diatas bambu betung.
8 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Konsep
1. Konsep Ketokohan
Ketokohan dalam perjalanan sejarah di Indonesia memiliki pengaruh kuat
dalam mempengaruhi masyarakat. Ketokohan Sawerigading merupakan salah satu contoh rill adanya peran tokoh sebagai tokoh sejarah di masyarakat di Tanah Luwu. Ketokohan terbentuk melalui latar sosial-budaya, keluarga, pendidikan, karier dan pekerjaan, serta pengalaman hidup yang dilaluinya sejak lahir sampai akhir hayatnya (Ekadjati, 1976).
Ketokohan berasal dari kata tokoh, yaitu artinya pemimpin yang baik yang dapat dijadikan contoh dan dapat diteladani sifat-sifat baiknya. Ketokohan seperti halnya dengan peristiwa dalam karya fiksi dalam kehidupan sehari-hari, selalu di emban oleh tokoh atau pelaku-pelaku tertentu, pelaku yang mengembang cerita dalam cerita fiksi sama sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita.
2. Karakteristik Ketokohan
Ketokohan berasal dari kata tokoh, yaitu artinya pemimpin yang baik yang dapat dijadikan contoh dan dapat diteladani sifat-sifat baiknya. Ketokohan seperti halnya dengan peristiwa dalam karya fiksi dalam kehidupan sehari-hari, selalu di emban oleh tokoh atau pelaku-pelaku tertentu, pelaku yang mengembang cerita dalam cerita fiksi sama sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita.
Ketokohan dan karakterisasi sering juga disamakan artinya dengan karakter dan perwatakan-menunjuk pada penempatan tokoh-tokoh tertentu dengan
watak tertentu dalam sebuah cerita. Atau seperti dikatakan oleh Jonnes, penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita Nurgyantoro, (2005:165). Dengan kata lain, ketokohan sama dengan ethos, yaitu gabungan antara kinerja seseorang yang bisa di percaya dan di pertanggungan jawabkan, atraksi dan kekuasaan. Orang yang memiliki ketokohan disebut juga sebagai pahlawan politik.
Penokohan yang diperankan oleh Sawerigading menggambarkan perwatakan dasar manusia berdasarkan proses penciptanya. Perwatakan dasar manusia adalah segenap sifat alamiah manusia yang berderivasi dari sifat-sifat langit dan bumi yang menjadi sumber asal penciptaan manusia (Pongsibanne, 2010:267).
Sawerigading merupakan sosok manusia bugis yang mempunyai watak yang berdimensi ganda yakni cinta dan dendam, benci dan sayang, tegar dan cengeng, lembut dan kasar, halus dan keras sejauh mana sifat pribadi sawerigading, tergantung dari rangsangan-rangsangan yang diterimanya dari luar ia tidak menerima kompromi hanya ada dua pilihan hitam atau putih (Muslaini,2019 ).
Karena itu, gambaran tentang Sawerigading tidaklah sesempurna dengan tokoh-tokoh pangeran yang seperti kita dengar sebelumnya. Kadang-kadang ia sangatlah cengeng sampai menangis terisak-isak lalu ia ditegur oleh pengawalnya agar ia berhenti dan tegap menghadapi kenyataan hidup dengan tegar. Hal seperti ini dapat dilihat ketika cinta Sawerigading kepada adik kembarnya We Tenriabeng ditolak. Sawerigading juga memiliki sifat yang mudah tersinggung,
emosional, dan sering mengamuk sambil membabi buta bila perasaan atau sirihnya tanpa mempertimbangkan resiko nya.
Keteguhan Sawerigading dalam mempertahankan Prinsipnya sangatlah kuat ini dilihat ketika berbagai cobaan dan godaan yang datang tidak menggetarkan semangatnya untuk tetap menggulung layar perahunya sebelum sampai di tujuannya. Godaan-godaan tersebut bukannya menyulut kan hati Sawerigading untuk pergi ke cina malahan cobaan-cobaan tersebutlah yang semakin membakar semangatnya untuk mencari cina. Maka dari itu Sawerigading juga dipanggil dengan sebutan La mampu ara Elo (Orang yang tak terbantahkan).
Untuk mempertahankan sifat Getteng (Teguh pendirian) harus dibarengi sifat Keberanian nya juga. Keberanian Sawerigading tertantang ketika Sewerigading dihadapkan oleh dua ancaman yakni Ancaman dalam dirinya sendiri dan kekuatan yang berasal dari luar diri manusia ketika iya dihadapkan bujukan, rayuan dan sesuatu yang mempesona yang dapat melonggarkan dan melepaskan prinsip hidupnya. Disini membutuhkan keberanian moral yang luar biasa ketika mempertahankan yang mana dianggap benar dan dianggapnya salah (Kern, R.A 1993).
Keteguhan dan keberaniannya Sawerigading itu bukan saja terlihat dalam beberapa peristiwa kepada musuh-musuh Sawerigading melainkan dalam hal mengungkapkan sejarah leluhurnya, perasaan hatinya, kebahagiaan nya, maupun perasaan lain yang seharusnya di pendalaman dalam hati. Karena itu sifat teguh dan keberaniannya hanya dapat dilihat dengan kejujuran dalam bersikap, berbicara, maupun dalam bertindak. Kejujuran yang dimaksudkan bukan saja jujur
sesama manusia tetapi juga kepada diri sendiri dan kepada Dewa. Kejujuran Sawerigading terlihat saat Sawerigading berterus terang dan terbuka kepada pengawal-pengawalnya dan musuh-musuhnya. Kejujuran yang paling dramatis dalam kisah Sawerigading dalam epos La Galigo yakni ketika Sawerigading tidak berdaya melawan perasaan cintanya kepada saudara kembarnya yakni we tenriabeng. Sawerigading harus mengungkapkannya walaupun ia mengetahui resikonya sangatlah berat (Ahmad, 2009).
Peran Sawerigading sebagai tokoh magis terlihat saat para pasukan sawerigading kewalahan menghadapi pasukan-pasukan la tenrinyiwiq, sawerigading tumpuan terakhir dari mereka agar kiranya memohon kepada dewa untuk menurunkan bantuan di dunia dalam waktu sekejap bantuan itu turun dari langit dan menghancurkan pasukan-pasukan la tenrinyiwiq. Sedangkan peran Sawerigading sebagai seorang keturunan dewa ketika Sawerigading menghidupkan pasukan-pasukannya yang mati dalam peperangan, mendatangkan dan memberhentikan bencana yang dibuat oleh alam dan dapat berbicara kepada binatang-binatang.
Peran Sawerigading sebagai raja terlihat ketika ia menaklukkan para pengawal dan pasukan-pasukan Sawerigading dalam perintahnya dialah penentu kebijaksanaan diatas perahu yang dikendarai nya untuk mencari cina. Memerintah dan menjalankan tradisi kekuasaan yang diwarisi oleh leluhurnya.
Meskipun demikian Sawerigading bukannya seorang raja yang otoriter, segala sesuatu yang berhubungan dengan operasionalisasi kekuasaan dan pelaksanaan kerajaan dilimpahkan kepada para pembantu-pembantunya.
Sawerigading adalah Seorang raja yang besar dan tak tertandingi, perahunya besar dan banyak perahu-perahu kecil yang mengiringinya, pasukan yang ribuan sebagai bukti kekuasaannya. Tujuh kali pasukan Sawerigading berperang dalam pencarian tanah cina enam pimpinan musuhnya semua mati dan kepalanya digantung di perahu sawerigading sebagai tandak keperkasaan nya menumpas musuh.
3. Sawerigading
Sawerigading yang merupakan seorang putra Raja Luwu dari Kerajaan Luwu, Sulawesi Selatan, Indonesia. Dalam bahasa setempat Sawerigading berasal dari dua kata, yaitu Sawe yang berarti menetas ( lahir ), dan Ri Gading yang berarti di atas bambu betung. Jadi Sawerigading berarti keturunan dari orang yang menetas (lahir) di atas bambu betung. Nama ini dikenal melalui cerita yang termuat dalam Sureq Galigo (Kern, 1989).
Sawerigading merupakan sosok manusia bugis yang mempunyai watak yang berdimensi ganda yakni cinta dan dendam, benci dan sayang, tegar dan cengeng, lembut dan kasar, halus dan keras sejauh mana sifat pribadi Sawerigading, tergantung dari rangsangan-rangsangan yang diterimanya dari luar ia tidak menerima kompromi hanya ada dua pilihan hitam atau putih. Karena itu, gambaran tentang Sawerigading tidaklah sesempurna dengan tokoh-tokoh pangeran yang seperti kita dengar sebelumnya. Kadang-kadang ia sangatlah cengeng sampai menangis terisak-isak lalu ia ditegur oleh pengawalnya agar ia berhenti dan tegap menghadapi kenyataan hidup dengan tegar. Hal seperti ini dapat dilihat ketika cinta Sawerigading kepada adik kembarnya We Tenriabeng
ditolak. Sawerigading juga memiliki sifat yang mudah tersinggung, emosional, dan sering mengamuk sambil membabi buta bila perasaannya kurang baik, sehingga ia tidak mempertimbangkan resiko nya (Muslaini, 2019).
Sawerigading adalah urutan yang banyak disebut generasi yang ke empat dari galib nya pemuda-pemuda yang mendapatkan istri yang banyak dan merupakan benih dari langit dan bumi. Kisah Sawerigading menceritakan tentang kisah langit dan bumi bawah serta bumi atas. Sawerigading dijuluki sebagai anak Dewa dan memiliki legenda pada benda-benda alam di setiap daerah tempat tinggal Sawerigading.
Cerita Sawerigading dapat mengungkapkan nilai budaya seperti keagamaan yang menceritakan tentang dunia gaib dan konsep kejadian manusia, seperti hanya yang digambarkan dunia Dewa-Dewa di langit, di bumi (Mulatau) yang keturunan Dewa-Dewa.
B. Tinjauan Teori
1. Teori Warisan Budaya “Davidson”
Menurut Davidson warisan budaya merupakan produk atau hasil budaya fisik dari tradisi-tradisi berbeda dan prestasi-prestasi spiritual dalam bentuk nilai dari masa lalu yang kemudian menjadi elemen pokok bagi jati diri suatu kelompok atau bangsa (Amalia: 2013)
Adapun alasan peneliti mengambil teori ini karena adanya warisan atau peninggalan yang ditinggalkan oleh Sawerigading berupa Keris, kapal Pinisi dan benda-benda bersejarah lainnya. Nilai-nilai yang menjadi landasan dan panutan
sebagai bentuk warisan nilai dari sejarah Kerajaan Luwu (To Ciung Maccae ri Luwu)
2. Teori Perubahan Sosial “Robert H. Lauer”
Menurut Robert H. Lauer perubahan sosial terlebih dahulu menjelaskan definisi perubahan sosial dengan alasan bahwa teori-teori perubahan sosial di masa lalu yang telah dibangun di atas mitos-mitos tentang perubahan sosial, mitos membentuk pola pikir yang menyimpang, trauma dan ilusi yang merupakan kendala memahami perubahan sosial sebagai hakekat kehidupan manusia (Nursalam dkk:2016).
Adapun alasan peneliti mengambil teori ini karena Sawerigading memilki tempat yang berpindah-pindah dan memiliki perubahan dari setiap daerah yang ditempati sehingga menimbulkan teori-teori perubahan sosial atau peninggalan Sawerigading. Maka dari itu menimbulkan mitos atau perspektif bagi masyarakat yang menemukan peninggalan Sawerigading di Sulawesi Selatan.
C. Kerangka Pikir
Sawerigading adalah seorang putra raja Luwu dari Kerajaan Luwu Purba, Sulawesi selatan, Indonesia. Dalam bahasa setempat Sawerigading berasal dari dua kata, yaitu sawe yang berarti menetas (lahir), dan ri gading yang berarti di atas bambu betung. Jadi Sawerigading berarti keturunan dari orang yang lahir di atas bambu betung Sawerigading lahir pada tahun 564 M.
Perjalanannya pun di teruskan ke Barat mengarungi Laut Jawa dan Singgah di Pulau Bali dan mendapat tantangan yang pertama dalam perjalanannya dan berhasil dikalahkan oleh Sawerigading. Dari peristiwa itulah penamaan Bali
diberikan dan jika diterjemahkan ke dalam bahasa Luwu, Bali berarti Lawan.
Seterusnya Sawerigading melanjutkan perjalanannya melalui Lautan Tiongkok dan tiba di Benua Cina. Dalam perjalanan Sawerigading kembali ke tanah kelahirannya banyak menurunkan anak buahnya di daerah Palu Sulawesi Tengah karena daerah tersebut sangat subur yang dialiri sungai yang sangat jernih dan kemudian melanjutkan kembali perjalanannya ke Luwu.
Gambar 2.1 Skema Kerangka Pikir Analisis Ketokohan Sawerigading Prinsip Hidup
D. Penelitian Relevan
Penelitian terdahulu yang berkaitan dengan Analisis Ketokohan Sawerigading sebagai berikut.
1. Siti Muazaroh (2016) mengkaji tentang Cultural Capital dan Kharisma Kiai dalam dinamika politik (Studi Ketokohan K.H. Maimun Zubair). Hasil penelitian, Cultural capital merupakan sebuah nilai ataupun budaya yang telah diterima dan diyakini masyarakat maupun memberikan jaminan tertentu.
Metode nya yaitu penelitian kualitatif menggunakan metode deskriptif analytic.
Sumber data penelitian ini didapatkan dari pengamatan langsung melalui teknik wawancara langsung dengan tokoh bersangkutan yaitu K.H Maimun beserta orang-orang terdekat nya. Analisis data menggunakan analisis induktif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan tentang kepemimpinan seorang tokoh K.H.
Maimun Zubair dalam menyebarkan agamanya, sedangkan penelitian saya tentang ketokohan sawerigading di Tana Luwu yang membahas tentang seorang pemimpin.
2. Maimunah Zarkasyi (2012) meneliti tentang Sheikh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Ketokohan dan Sumbangannya. Hasil penelitian, Sheikh Muhammad Arsyad Al-Banjari adalah seorang tokoh ulama fiqh mazhab Shafi` di Asia.
Beliau turut dikenali sebagai ahli dalam bidang Tauhid dan tasawuf.
Ketokohannya diakui dan dicatatkan dalam jaringan ulama dari Timur Tengah dan Asia yang sangat berjasa dalam proses Islamisasi di pulau Kalimantan Selatan.. Dalam bidang keagamaan beliau berjuang merubah kebodohan masyarakat Islam menjadi Muslim yang taat. Beliau menyelamatkan aqidah
masyarakat Islam daripada kepercayaan dan aliran yang menyimpang, seperti kehidupan keagamaan yang dipengaruhi oleh ajaran tasawuf berpaham Wahdah al-Wujud yang menyeleweng. Hasil dari penelitian ini menunjukkan tentang seorang tokoh ulama yang menyebarkan Islam di masyarakat di Asia.
Sedangkan penelitian saya tentang ketokohan sawerigading di Tana Luwu membahas tentang seorang pemimpin yang memperjuangkan daerahnya.
3. Dedi Arliyanto Wibowo (2019) meneliti tentang Pengembangan Bahan Ajar Ketokohan Raden Ajeng Kartini sebagai Pelopor Gerakan Emansipasi Wanita Indonesia dalam Rangka Peningkatan Kesadaran Sejarah Peserta Didik SMAN 1 Pancangan Jepara. Hasil penelitian, Pembelajaran sejarah melalui pengembangan bahan ajar ketokohan Raden Ajeng Kartini sebagai pelopor gerakan emansipasi wanita Indonesia merupakan sebuah pembaharuan dalam pengajaran Kesadaran sejarah generasi muda Indonesia sedikit demi sedikit mulai terkikis dengan banyaknya pengaruh asing yang masuk ke Indonesia, baik itu dalam hal kebudayaan, teknologi, maupun produk-produk luar negeri yang membanjiri Indonesia. Hasil dari penelitian ini menunjukkan tentang seorang pemimpin pelopor gerakan emansipasi wanita Indonesia. Sedangkan penelitian saya tentang ketokohan Sawerigading di Tana Luwu membahas tentang seorang pemimpin yang memperjuangkan daerahnya.
18 BAB III
METODE PENELITIAN A. Jenis dan Pendekatan Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan kajian pustaka, Creswel (2010) mengemukakan bahwa kajian pustaka yaitu menginformasikan kepada pembaca hasil-hasil penelitian yang lain berkaitan erat dengan penelitian yang dilakukan saat itu, menghubungkan penelitian dengan literatur-literatur yang ada, dan mengisi celah-celah dalam penelitian-penelitian sebelumnya. Sementara menurut pandangan Suryabrata (1983:19), penelitian kualitatif deskriptif merupakan penelitian yang menggambarkan secara mendalam tentang situasi serta keadaan yang sebenarnya.
Sedangkan menurut pendapat Ratna (2013:53) dan Endraswara (2013:61) mengartikan kualitatif deskriptif yaitu upaya untuk menafsirkan tentang suatu objek atau peristiwa, seperti Ketokohan Sawerigading di Tana Luwu di antaranya:
pengaruh Ketokohan Sawerigading dan Prinsip kehidupan terhadap perubahan sosial masyarakat di Tana Luwu.
Pendekatan kajian pustaka digunakan untuk menggambarkan terkait peristiwa seperti Ketokohan Sawerigading di Tana Luwu di antaranya: Ketokohan Sawerigading dan Prinsip hidup Sawerigading dalam perubahan sosial masyarakat di Tana Luwu. Sebagaimana pendapat kajian pustaka yaitu bahan bacaan yang mungkin pernah dibaca dan dianalisis, baik yang sudah dipublikasikan maupun sebagai koleksi pribadi (Prastowo, 2012:80).
B. Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilakukan dalam waktu kurang lebih 2 bulan pada tahun 2020, peneliti melaksanakan tugasnya untuk menganalisis. Penelitian ini di lakukan dengan menggunakan pendekatan kajian pustaka terkait peristiwa, seperti Ketokohan Sawerigading di Tana Luwu di antaranya: pengaruh Ketokohan Sawerigading dan Prinsip kehidupan terhadap perubahan sosial masyarakat di Tana Luwu.
C. Fokus Penelitian
Penelitian ini berfokus pada Ketokohan Sawerigading di Tana Luwu.
Legenda Sawerigading memiliki sejarah atau peninggalan serta sumpah Sawerigading yang belum diketahui kebanyakan masyarakat. Maka dari itu objek penelitian ini memfokuskan pada.
1. Ketokohan Sawerigading di Kabupaten Luwu.
2. Prinsip Hidup Sawerigading dalam Perubahan Sosial Masyarakat di Tanah Luwu.
D. Jenis dan Sumber Data
Jenis dan sumber data dalam penelitian ini adalah data sekunder, dimana data tersebut bersumber dari buku, jurnal dan blog yang dianggap ilmiah dan relevan untuk menjawab rumusan masalah. Data yang dikumpul akan di analisis secara kualitatif deskriptif.
E. Instrumen Penelitian
Instrumen dalam penelitian kualitatif ditujukan kepada peneliti, oleh karena itu instrumen penelitian disini ialah peneliti sendiri. Adapun instrumen penelitian sebagai berikut:
a) Pengumpulan data dokumen
b) Alat tulis sebagai kode data dokumen c) Buku pencatatan data dokumen.
F. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data menggunakan studi pustaka, dengan kata lain studi ini berkaitan dengan kepustakaan sebagai berikut:
1. Sumber data Sekunder berupa bahan-bahan pelengkap yang sesuai dengan tema skripsi. Data ini didapat melalui buku dan artikel internet.
2. Memilih dan menganalisis bahan-bahan yang sudah dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam data pustaka.
3. Terakhir yang penulis lakukan adalah memberikan kesimpulan.
G. Teknik Analisis Data
Analisis data yang dilakukan peneliti dimulai dengan analisis konten merupakan suatu proses yang dilakukan dengan cara mencari dan menyusun secara rinci data yang telah diperoleh sebelumnya dari hasil data melalui buku dan artikel, internet yang dilakukan dan catatan lainnya, sehingga mudah dipahami dan dapat di informasikan kepada orang lain. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis data secara kualitatif, yang dilakukan
dengan cara menggambarkan dan mendeskripsikan hasil yang didapat di lapangan.
22 BAB IV
GAMBARAN UMUM LOKASI DAN OBJEK PENELITIAN A. Sejarah Tana Luwu
Sejarah Tanah Luwu sudah berawal jauh sebelum masa pemerintahan Hindia Belanda bermula. Sebelumnya Luwu telah menjadi sebuah kerajaan yang mewilayahi Tana Toraja (Makale, 45 Rantepao) Sulawesi Selatan, Kolaka (Sulawesi Tenggara) dan Poso (Sulawesi Tengah). Sejarah Luwu ini dikenal pula dengan nama Tanah Luwu yang dihubungkan dengan nama La Galigo dan Sawerigading. Pada tahun 1905, pemerintah Hindia Belanda berhasil menduduki pusat Kedatuan Luwu di Palopo. Hal ini membuat sistem pemerintahan di Luwu dibagi atas dua tingkatan pemerintahan, yaitu:
1. Pemerintahan tingkat tinggi dipegang langsung oleh pihak Belanda.
2. Pemerintahan tingkat rendah dipegang oleh pihak Swapraja. Pada tahun 1942, Jepang berhasil menghalau pemerintah Hindia Belanda dan menguasai Luwu.
Sistem pemerintahan yang diterapkan sama, hanya saja rakyat diberi kebebasan berusaha, bercocok tanam dan nelayan.
Hal tersebut tentu saja membuat hasil- hasil bumi masyarakat Belopa dan sekitarnya lebih meningkat, sehingga diberi julukan “pabbarasanna Tana Luwu”, (lumbung pangan Tanah Luwu). Dalam masa pemerintahan Jepang, yaitu tentara Dai Nippon, kedudukan Datu Luwu dalam sistem pemerintahan sipil, sedangkan pemerintahan militer dipegang oleh Pihak Jepang. Dalam menjalankan pemerintahan sipil, Datu Luwu diberi kebebasan, namun tetap diawasi secara ketat oleh pemerintahan militer Jepang. Yang menjadi pemerintahan sipil atau
Datu Luwu pada 46 masa itu ialah "Andi Kambo Opu Tenrisompa" kemudian diganti oleh putranya "Andi Patiware" yang kemudian bergelar "Andi Djemma.”
Pada bulan April 1950 Andi Djemma dikukuhkan kembali kedudukannya sebagai Datu/Pajung Luwu dengan wilayah seperti sediakala. Afdeling Luwu meliputi lima onder Afdeling Palopo, Masamba, Malili, Tana Toraja atau Makale, Rantepao dan Kolaka. Selanjutnya pada masa setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, secara otomatis Kerajaan Luwu berintegrasi masuk ke dalam Negara Republik Indonesia. Hal itu ditandai dengan adanya pernyataan Raja Luwu pada masa itu Andi Djemma yang antara lain menyatakan "Kerajaan Luwu adalah bagian dari Wilayah Kesatuan Republik Indonesia.” Pemerintah Pusat mengeluarkan Peraturan Pemerintah No.34 tahun 1952 tentang Pembubaran Daerah Sulawesi Selatan bentukan Belanda/Jepang termasuk daerah yang berstatus Kerajaan.
Peraturan Pemerintah No.56 tahun 1951 tentang Pembentukan Gabungan Sulawesi Selatan. Dengan demikian daerah gabungan tersebut dibubarkan dan wilayahnya dibagi menjadi 7 (tujuh) daerah Swatantra. Satu di antaranya adalah daerah Swatantra Luwu yang mewilayahi seluruh daerah Luwu dan Tana Toraja dengan pusat Pemerintahan berada di Kota Palopo. Tahun 1953 Andi Djemma Datu Luwu diangkat menjadi Penasehat Gubernur Sulawesi. Berselang 47 beberapa tahun kemudian, Pemerintah Pusat menetapkan beberapa Undang-Undang Darurat, antara lain: 1. Undang-Undang-Undang-Undang Darurat No.2/1957 tentang Pembubaran Daerah Makassar, Jeneponto dan Takalar. 2. Undang-Undang Darurat No. 3/1957 tentang Pembubaran Daerah Luwu dan Pembentukan Bone, Wajo dan Soppeng, serta penghapusan sistem pemerintahan Swpraja. Dengan
dikeluarkannya Undang-Undang Darurat No. 3/1957, maka daerah Luwu menjadi daerah Swatantra dan terpisah dengan Tana Toraja, disertai berakhirnya pula pemerintahan sistem kerajaan Luwu. Datu Luwu Andi Djemma langsung menjadi Bupati/Datu Luwu kala itu. Dengan berlakunya UU No. 29 tahun 1959 tentang terbentuknya daerah-daerah Tingkat II di Sulawesi, sistem Swatantra dihapus.
Pada waktu itu, wilayah kabupaten Dati II Luwu dibentuk 16 kecamatan dan salah satu diantaranya adalah Kecamatan Bajo dengan ibu kotanya Belopa.
B. Kondisi Umum Tana Luwu
Kabupaten Luwu merupakan salah satu daerah yang berada dalam wilayah administratif Provinsi Sulawesi Selatan. Daerah Kabupaten Luwu terbagi dua wilayah akibat pemekaran Kota Palopo yaitu Kabupaten Luwu Bagian Selatan yang terletak di sebelah selatan Kota Palopo dan wilayah Kabupaten Luwu Bagian Utara yang terletak di sebelah utara Kota Palopo. Kabupaten Luwu memiliki luas wilayah sekitar 3.000,25 Km2 atau 3.000.250 Ha dengan jumlah penduduk keseluruhan mencapai 359.209 jiwa pada tahun 2019, dengan mayoritas mata pencaharian penduduknya bergerak pada sektor pertanian dan perikanan.
Secara umum karakteristik bentang alam Kabupaten Luwu terdiri atas kawasan pesisir/pantai dan daratan hingga daerah pegunungan yang berbukit hingga terjal, dimana berbatasan langsung dengan perairan Teluk Bone dengan panjang garis pantai sekitar 116,161 Km (RTRW Kabupaten Luwu).
C. Keadaan Geografis
Ditinjau dari segi geografis, Kabupaten Luwu terletak di bagian utara Provinsi Sulawesi Selatan, dimana posisi Kabupaten Luwu terletak 2º.34’.45” –
3º.30’.30” LS dan 120º.21’.15” – 121º.43’.11” BT. Secara administratif, Kabupaten Luwu memiliki batas sebagai berikut:
Sebelah Utara: Kabupaten Luwu Utara dan Kota Palopo Sebelah Timur:
Teluk Bone Sebelah Selatan: Kota Polopo dan Kabupaten Wajo Sebelah Barat:
Kabupaten Tanah Toraja, Kabupaten Toraja Utara, Kabupaten Enrekang dan Kabupaten Sidrap. Dilihat dari letak geografis, Kabupaten Luwu cukup strategis.
Palopo, yang terletak di jalur Trans Sulawesi yang menghubungkan daerah Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara. Pelabuhan Tanjung Ringit di Palopo menjadikan Kabupaten Luwu sebagai pintu gerbang Sulwesi Selatan bagian utara,
Palopo, yang terletak di jalur Trans Sulawesi yang menghubungkan daerah Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara. Pelabuhan Tanjung Ringit di Palopo menjadikan Kabupaten Luwu sebagai pintu gerbang Sulwesi Selatan bagian utara,