• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

D. Penelitian Relevan

Penelitian terdahulu yang berkaitan dengan Analisis Ketokohan Sawerigading sebagai berikut.

1. Siti Muazaroh (2016) mengkaji tentang Cultural Capital dan Kharisma Kiai dalam dinamika politik (Studi Ketokohan K.H. Maimun Zubair). Hasil penelitian, Cultural capital merupakan sebuah nilai ataupun budaya yang telah diterima dan diyakini masyarakat maupun memberikan jaminan tertentu.

Metode nya yaitu penelitian kualitatif menggunakan metode deskriptif analytic.

Sumber data penelitian ini didapatkan dari pengamatan langsung melalui teknik wawancara langsung dengan tokoh bersangkutan yaitu K.H Maimun beserta orang-orang terdekat nya. Analisis data menggunakan analisis induktif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan tentang kepemimpinan seorang tokoh K.H.

Maimun Zubair dalam menyebarkan agamanya, sedangkan penelitian saya tentang ketokohan sawerigading di Tana Luwu yang membahas tentang seorang pemimpin.

2. Maimunah Zarkasyi (2012) meneliti tentang Sheikh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Ketokohan dan Sumbangannya. Hasil penelitian, Sheikh Muhammad Arsyad Al-Banjari adalah seorang tokoh ulama fiqh mazhab Shafi` di Asia.

Beliau turut dikenali sebagai ahli dalam bidang Tauhid dan tasawuf.

Ketokohannya diakui dan dicatatkan dalam jaringan ulama dari Timur Tengah dan Asia yang sangat berjasa dalam proses Islamisasi di pulau Kalimantan Selatan.. Dalam bidang keagamaan beliau berjuang merubah kebodohan masyarakat Islam menjadi Muslim yang taat. Beliau menyelamatkan aqidah

masyarakat Islam daripada kepercayaan dan aliran yang menyimpang, seperti kehidupan keagamaan yang dipengaruhi oleh ajaran tasawuf berpaham Wahdah al-Wujud yang menyeleweng. Hasil dari penelitian ini menunjukkan tentang seorang tokoh ulama yang menyebarkan Islam di masyarakat di Asia.

Sedangkan penelitian saya tentang ketokohan sawerigading di Tana Luwu membahas tentang seorang pemimpin yang memperjuangkan daerahnya.

3. Dedi Arliyanto Wibowo (2019) meneliti tentang Pengembangan Bahan Ajar Ketokohan Raden Ajeng Kartini sebagai Pelopor Gerakan Emansipasi Wanita Indonesia dalam Rangka Peningkatan Kesadaran Sejarah Peserta Didik SMAN 1 Pancangan Jepara. Hasil penelitian, Pembelajaran sejarah melalui pengembangan bahan ajar ketokohan Raden Ajeng Kartini sebagai pelopor gerakan emansipasi wanita Indonesia merupakan sebuah pembaharuan dalam pengajaran Kesadaran sejarah generasi muda Indonesia sedikit demi sedikit mulai terkikis dengan banyaknya pengaruh asing yang masuk ke Indonesia, baik itu dalam hal kebudayaan, teknologi, maupun produk-produk luar negeri yang membanjiri Indonesia. Hasil dari penelitian ini menunjukkan tentang seorang pemimpin pelopor gerakan emansipasi wanita Indonesia. Sedangkan penelitian saya tentang ketokohan Sawerigading di Tana Luwu membahas tentang seorang pemimpin yang memperjuangkan daerahnya.

18 BAB III

METODE PENELITIAN A. Jenis dan Pendekatan Penelitian

Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan kajian pustaka, Creswel (2010) mengemukakan bahwa kajian pustaka yaitu menginformasikan kepada pembaca hasil-hasil penelitian yang lain berkaitan erat dengan penelitian yang dilakukan saat itu, menghubungkan penelitian dengan literatur-literatur yang ada, dan mengisi celah-celah dalam penelitian-penelitian sebelumnya. Sementara menurut pandangan Suryabrata (1983:19), penelitian kualitatif deskriptif merupakan penelitian yang menggambarkan secara mendalam tentang situasi serta keadaan yang sebenarnya.

Sedangkan menurut pendapat Ratna (2013:53) dan Endraswara (2013:61) mengartikan kualitatif deskriptif yaitu upaya untuk menafsirkan tentang suatu objek atau peristiwa, seperti Ketokohan Sawerigading di Tana Luwu di antaranya:

pengaruh Ketokohan Sawerigading dan Prinsip kehidupan terhadap perubahan sosial masyarakat di Tana Luwu.

Pendekatan kajian pustaka digunakan untuk menggambarkan terkait peristiwa seperti Ketokohan Sawerigading di Tana Luwu di antaranya: Ketokohan Sawerigading dan Prinsip hidup Sawerigading dalam perubahan sosial masyarakat di Tana Luwu. Sebagaimana pendapat kajian pustaka yaitu bahan bacaan yang mungkin pernah dibaca dan dianalisis, baik yang sudah dipublikasikan maupun sebagai koleksi pribadi (Prastowo, 2012:80).

B. Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilakukan dalam waktu kurang lebih 2 bulan pada tahun 2020, peneliti melaksanakan tugasnya untuk menganalisis. Penelitian ini di lakukan dengan menggunakan pendekatan kajian pustaka terkait peristiwa, seperti Ketokohan Sawerigading di Tana Luwu di antaranya: pengaruh Ketokohan Sawerigading dan Prinsip kehidupan terhadap perubahan sosial masyarakat di Tana Luwu.

C. Fokus Penelitian

Penelitian ini berfokus pada Ketokohan Sawerigading di Tana Luwu.

Legenda Sawerigading memiliki sejarah atau peninggalan serta sumpah Sawerigading yang belum diketahui kebanyakan masyarakat. Maka dari itu objek penelitian ini memfokuskan pada.

1. Ketokohan Sawerigading di Kabupaten Luwu.

2. Prinsip Hidup Sawerigading dalam Perubahan Sosial Masyarakat di Tanah Luwu.

D. Jenis dan Sumber Data

Jenis dan sumber data dalam penelitian ini adalah data sekunder, dimana data tersebut bersumber dari buku, jurnal dan blog yang dianggap ilmiah dan relevan untuk menjawab rumusan masalah. Data yang dikumpul akan di analisis secara kualitatif deskriptif.

E. Instrumen Penelitian

Instrumen dalam penelitian kualitatif ditujukan kepada peneliti, oleh karena itu instrumen penelitian disini ialah peneliti sendiri. Adapun instrumen penelitian sebagai berikut:

a) Pengumpulan data dokumen

b) Alat tulis sebagai kode data dokumen c) Buku pencatatan data dokumen.

F. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data menggunakan studi pustaka, dengan kata lain studi ini berkaitan dengan kepustakaan sebagai berikut:

1. Sumber data Sekunder berupa bahan-bahan pelengkap yang sesuai dengan tema skripsi. Data ini didapat melalui buku dan artikel internet.

2. Memilih dan menganalisis bahan-bahan yang sudah dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam data pustaka.

3. Terakhir yang penulis lakukan adalah memberikan kesimpulan.

G. Teknik Analisis Data

Analisis data yang dilakukan peneliti dimulai dengan analisis konten merupakan suatu proses yang dilakukan dengan cara mencari dan menyusun secara rinci data yang telah diperoleh sebelumnya dari hasil data melalui buku dan artikel, internet yang dilakukan dan catatan lainnya, sehingga mudah dipahami dan dapat di informasikan kepada orang lain. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis data secara kualitatif, yang dilakukan

dengan cara menggambarkan dan mendeskripsikan hasil yang didapat di lapangan.

22 BAB IV

GAMBARAN UMUM LOKASI DAN OBJEK PENELITIAN A. Sejarah Tana Luwu

Sejarah Tanah Luwu sudah berawal jauh sebelum masa pemerintahan Hindia Belanda bermula. Sebelumnya Luwu telah menjadi sebuah kerajaan yang mewilayahi Tana Toraja (Makale, 45 Rantepao) Sulawesi Selatan, Kolaka (Sulawesi Tenggara) dan Poso (Sulawesi Tengah). Sejarah Luwu ini dikenal pula dengan nama Tanah Luwu yang dihubungkan dengan nama La Galigo dan Sawerigading. Pada tahun 1905, pemerintah Hindia Belanda berhasil menduduki pusat Kedatuan Luwu di Palopo. Hal ini membuat sistem pemerintahan di Luwu dibagi atas dua tingkatan pemerintahan, yaitu:

1. Pemerintahan tingkat tinggi dipegang langsung oleh pihak Belanda.

2. Pemerintahan tingkat rendah dipegang oleh pihak Swapraja. Pada tahun 1942, Jepang berhasil menghalau pemerintah Hindia Belanda dan menguasai Luwu.

Sistem pemerintahan yang diterapkan sama, hanya saja rakyat diberi kebebasan berusaha, bercocok tanam dan nelayan.

Hal tersebut tentu saja membuat hasil- hasil bumi masyarakat Belopa dan sekitarnya lebih meningkat, sehingga diberi julukan “pabbarasanna Tana Luwu”, (lumbung pangan Tanah Luwu). Dalam masa pemerintahan Jepang, yaitu tentara Dai Nippon, kedudukan Datu Luwu dalam sistem pemerintahan sipil, sedangkan pemerintahan militer dipegang oleh Pihak Jepang. Dalam menjalankan pemerintahan sipil, Datu Luwu diberi kebebasan, namun tetap diawasi secara ketat oleh pemerintahan militer Jepang. Yang menjadi pemerintahan sipil atau

Datu Luwu pada 46 masa itu ialah "Andi Kambo Opu Tenrisompa" kemudian diganti oleh putranya "Andi Patiware" yang kemudian bergelar "Andi Djemma.”

Pada bulan April 1950 Andi Djemma dikukuhkan kembali kedudukannya sebagai Datu/Pajung Luwu dengan wilayah seperti sediakala. Afdeling Luwu meliputi lima onder Afdeling Palopo, Masamba, Malili, Tana Toraja atau Makale, Rantepao dan Kolaka. Selanjutnya pada masa setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, secara otomatis Kerajaan Luwu berintegrasi masuk ke dalam Negara Republik Indonesia. Hal itu ditandai dengan adanya pernyataan Raja Luwu pada masa itu Andi Djemma yang antara lain menyatakan "Kerajaan Luwu adalah bagian dari Wilayah Kesatuan Republik Indonesia.” Pemerintah Pusat mengeluarkan Peraturan Pemerintah No.34 tahun 1952 tentang Pembubaran Daerah Sulawesi Selatan bentukan Belanda/Jepang termasuk daerah yang berstatus Kerajaan.

Peraturan Pemerintah No.56 tahun 1951 tentang Pembentukan Gabungan Sulawesi Selatan. Dengan demikian daerah gabungan tersebut dibubarkan dan wilayahnya dibagi menjadi 7 (tujuh) daerah Swatantra. Satu di antaranya adalah daerah Swatantra Luwu yang mewilayahi seluruh daerah Luwu dan Tana Toraja dengan pusat Pemerintahan berada di Kota Palopo. Tahun 1953 Andi Djemma Datu Luwu diangkat menjadi Penasehat Gubernur Sulawesi. Berselang 47 beberapa tahun kemudian, Pemerintah Pusat menetapkan beberapa Undang-Undang Darurat, antara lain: 1. Undang-Undang-Undang-Undang Darurat No.2/1957 tentang Pembubaran Daerah Makassar, Jeneponto dan Takalar. 2. Undang-Undang Darurat No. 3/1957 tentang Pembubaran Daerah Luwu dan Pembentukan Bone, Wajo dan Soppeng, serta penghapusan sistem pemerintahan Swpraja. Dengan

dikeluarkannya Undang-Undang Darurat No. 3/1957, maka daerah Luwu menjadi daerah Swatantra dan terpisah dengan Tana Toraja, disertai berakhirnya pula pemerintahan sistem kerajaan Luwu. Datu Luwu Andi Djemma langsung menjadi Bupati/Datu Luwu kala itu. Dengan berlakunya UU No. 29 tahun 1959 tentang terbentuknya daerah-daerah Tingkat II di Sulawesi, sistem Swatantra dihapus.

Pada waktu itu, wilayah kabupaten Dati II Luwu dibentuk 16 kecamatan dan salah satu diantaranya adalah Kecamatan Bajo dengan ibu kotanya Belopa.

B. Kondisi Umum Tana Luwu

Kabupaten Luwu merupakan salah satu daerah yang berada dalam wilayah administratif Provinsi Sulawesi Selatan. Daerah Kabupaten Luwu terbagi dua wilayah akibat pemekaran Kota Palopo yaitu Kabupaten Luwu Bagian Selatan yang terletak di sebelah selatan Kota Palopo dan wilayah Kabupaten Luwu Bagian Utara yang terletak di sebelah utara Kota Palopo. Kabupaten Luwu memiliki luas wilayah sekitar 3.000,25 Km2 atau 3.000.250 Ha dengan jumlah penduduk keseluruhan mencapai 359.209 jiwa pada tahun 2019, dengan mayoritas mata pencaharian penduduknya bergerak pada sektor pertanian dan perikanan.

Secara umum karakteristik bentang alam Kabupaten Luwu terdiri atas kawasan pesisir/pantai dan daratan hingga daerah pegunungan yang berbukit hingga terjal, dimana berbatasan langsung dengan perairan Teluk Bone dengan panjang garis pantai sekitar 116,161 Km (RTRW Kabupaten Luwu).

C. Keadaan Geografis

Ditinjau dari segi geografis, Kabupaten Luwu terletak di bagian utara Provinsi Sulawesi Selatan, dimana posisi Kabupaten Luwu terletak 2º.34’.45” –

3º.30’.30” LS dan 120º.21’.15” – 121º.43’.11” BT. Secara administratif, Kabupaten Luwu memiliki batas sebagai berikut:

Sebelah Utara: Kabupaten Luwu Utara dan Kota Palopo Sebelah Timur:

Teluk Bone Sebelah Selatan: Kota Polopo dan Kabupaten Wajo Sebelah Barat:

Kabupaten Tanah Toraja, Kabupaten Toraja Utara, Kabupaten Enrekang dan Kabupaten Sidrap. Dilihat dari letak geografis, Kabupaten Luwu cukup strategis.

Palopo, yang terletak di jalur Trans Sulawesi yang menghubungkan daerah Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara. Pelabuhan Tanjung Ringit di Palopo menjadikan Kabupaten Luwu sebagai pintu gerbang Sulwesi Selatan bagian utara, pelabuhan ini merupakan salah satu pintu penghubung untuk mendistribusikan hasil pertanian Luwu ke Luar daerah.

D. Kepadatan Penduduk

Kepadatan Penduduk di Kabupaten Luwu, dengan luas 3000,25 km2 , Kabupaten Luwu didiami oleh 359.209 jiwa atau dengan kepadatan sebesar 123 jiwa/ km2, kepadatan penduduk Kabupaten Luwu telah meningkat 49 dari 122 jiwa/km2 pada tahun 2018 menjadi 123 jiwa/km2 atau meningkat sebanyak 1 jiwa km2 . Jika dilihat persebaran di setiap kecamatan nampak bahwa Kecamatan Lamasi merupakan wilayah terpadat dengan kepadatan sebesar 535 jiwa/Km2 diikuti oleh Kecamatan Belopa Utara sebesar 478 jiwa/km2 , Kecamatan Belopa sebesar 288 jiwa/km2 , Kecamatan Walenrang Timur sebesar 279 jiwa/km2 , Kecamatan Ponrang Selatan sebesar 271 jiwa/km2 , Kecamatan Ponrang sebesar 268 jiwa/km2 , Kecamtan Suli sebesar 260 jiwa/km2 , Kecamtan Lamasi Timur sebesar 235 jiwa/km2 , Kecamatan Bajo sebesar 233 jiwa/km2 , Kecamatan

Kamanre 210 jiwa/km2 , Kecamatan Bua sebesar 154 jiwa/km2 , Kecamatan bajo Barat sebesar 147 jiwa/km2 , kecamatan Larompong Selatan sebesar 138 jiwa/km2 , Kecamatan Larompong sebesar 93 jiwa/km2 , Kecamatan Bua Ponrang sebesar 86 jiwa/km2 , Kecamatan Walenrang Utara sebesar 78 jiwa/km2 , Kecamatan Basse Sangtempe Utara sebesar 66 jiwa/km2 , Kecamatan Walenrang Barat sebesar 41 jiwa/km2 , sedangkan wilayah dengan kepadatan penduduk terendah di Kecamatan Latimojong yaitu 13 jiwa/km2 .

E. Keadaan Sosial Budaya

Masyarakat di Kabupaten Luwu menggunakan bahasa Luwu sebagai bahasa daerah utama karena mayoritas penduduknya adalah suku Luwu. Bahasa Luwu ini digunakan oleh sebagian besar 52 penduduk dari Tana Luwu, dari empat kabupaten dan kota, masing- masing Kabupaten Luwu, Luwu Utara, Luwu Timur dan kota Palopo. Bahasa Luwu, termasuk serumpun dengan bahasa Toraja.

Bahasa Luwu ini digunakan selaku bahasa percakapan penduduk setempat, mulai dari Selatan perbatasan dengan Buriko Kabupatan Wajo sampai dengan daerah Kabupaten Luwu Timur Malili. Kerajaan Luwu adalah kerajaan tertua, terbesar, dan terluas di Sulawesi Selatan yang wilayahnya mencakup Tana Luwu, Tana Toraja, Kolaka, dan Poso. Perkataan “Luwu” atau “Luu” itu sebenarnya berarti

“Laut”.

Luwu adalah suku bangsa yang besar yang terdiri dari 12 anak suku.

Kerajaan Luwu diperkirakan berdiri sekitar abad X yang dibangun oleh, sekaligus sebagai raja pertama adalah Batara Guru (Tomanurung) yang dipercaya turun dari langit diutus oleh ayahnya Dewa Patoto’e untuk turun mengisi kekosongan di

dunia tengah. Raja terakhir dari kerajaan Luwu adalah Andi Djemma yang bergelar Petta Matinro’e ri Amaradekanna yang memerintah mulai tahun 1935-1965 Masehi. Beliau merupakan raja yang sangat dikagumi dan di bangga- banggakan oleh rakyatnya bahkan raja-raja lain di Sulawesi Selatan karena keberaniannya dalam menghadapi penjajah Belanda. Kerajaan Luwu merupakan kerajaan pertama di Sulawesi Selatan yang menganut agama Islam. Agama Islam sendiri di bawa ke Tana Luwu oleh Dato’ Sulaiman dan Dato’ri Bandang yang berasal dari Aceh. Hal- 53 hal mistik banyak mewarnai proses awal masuknya Islam di Luwu. Diyakini bahwa Dato Sulaiman dan Dato ri Bandang datang ke Luwu dengan menggunakan kulit kacang. Mereka pertama kali tiba di Luwu tepatnya di Desa Lapandoso, Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu. Penduduk di Kabupaten Luwu juga terdiri atas beberapa etnis lokal dan etnis pendatang yang telah lama tinggal di Kabupaten Luwu dan masuk melalui akulturasi budaya seperti melalui perdagangan dan nelayan. Sementara itu terdapat juga etnis pendatang sebagai transmigran dengan latar belakang budaya yang berbeda, antara lain: Bugis, Jawa dan Bali yang dominan terdapat di Kecamatan Lamasi.

Masyarakat Jawa datang secara transmigrasi yang diprakarsai oleh pemerintah belanda, mereka datang dari daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, mereka telah menetap dan membangun kecamatan tersebut. Mata pencaharian utama mereka adalah bertani, sawah dan berkebun, selain itu banyak juga diantara mereka berprofesi sebagai pedagang. Jumlahnya telah berkembang dengan pesat, selain perkawinan antara sesama suku jawa terjadi juga perkawinan antara suku terutama suku Jawa dan Luwu yang merupakan suku pribumi. Sedangkan suku

Bugis dan Toraja merupakan imigran yang datang dari wilayah lain yang masih masuk dalam wilayah Sulawesi Selatan. Suku Bugis yang mendiami Lamasi berprofesi sebagai pedagang sedangkan suku Toraja bertani adalah profesi utama mereka. Oleh 54 karena keuletan dan kerja keras mereka akhirnya Kecamatan Lamasi berkembang menjadi daerah lumbung pangan bagi Kabupaten Luwu.

29 BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan studi pustaka yaitu mencari informasi dan membaca berbagai literatur yang berkaitan dengan tokoh Sawerigading yang terdapat pada buku-buku, jurnal, skripsi dan beberapa artikel lainnya yang berkaitan dengan Sawerigading. Berdasarkan studi pustaka yang telah dilakukan sebelumnya di berbagai sumber didapatkan hasil penelitian yaitu sebagai berikut:

1. Ketokohan Sawerigading di Tanah Luwu

Beberapa pernyataan dalam buku, artikel, jurnal dan skripsi yang berisi tentang Ketokohan Sawerigading di Tanah Luwu. Pernyataan pertama dikemukakan oleh Zulkifli Yusuf dalam jurnal nya yang berjudul Perancangan Desain Karakter Untuk Memperkenalkan Nilai-Nilai Dari Kisah Sawerigading Bagi Remaja Di Sulawesi, berikut pernyataannya yaitu sebagai berikut:

Ampe Madecengna (Nilai moral/Sifat baik) Sawerigading (Yusuf, 2018:5).

Dari kutipan di atas dapat di ketahui bahwa Ampe madecengna artinya Sawerigading memiliki nilai moral dan sifat baik sebagai seorang pemimpin di masyarakat. Dia tidak akan di jadikan sebagai tokoh di dalam masyarakat jika Sawerigading tidak memiliki nilai-nilai yang positif dan sifat yang baik.

Pernyataan selanjutnya di kemukakan oleh Lebbe Pongsibanne dalam bukunya Autentisitas Budaya Bugis: Jejak Sawerigading Sebagai Perekat Bangsa dalam Epik I La Galigo berikut pernyataannya yaitu sebagai berikut:

Sawerigading seorang pelaut yang ulung, keteguhan hatinya mampu mengirim dia pada kepekaan mengatasi semua kesulitan di laut.

(Pongsibanne, 2010:7).

Dari kutipan tersebut dapat di uraikan bahwa Sawerigading seorang pelaut yang ulung. Mengapa Sawerigading dikatakan pelaut ulung karena ada pepatah mengatakan, tak ada pelaut ulung yang dilahirkan dari Samudra yang diam tapi pasti di lahirkan dari sosok yang teguh menghadapi Samudra yang penuh dengan badai. Dalam pengembaraan nya tersebut, ia digambarkan singgah di suatu tempat yang memunculkan cerita-cerita yang berkaitan dengannya. Kehadirannya tersebut selalu di kaitkan dengan asal usul raja setempat dan berdirinya daerah tersebut, bahkan di daerah tersebut selalu terdapat benda-benda yang berhubungan dengan Sawerigading. Contohnya di dekat Malili, terdapat Gunung Belah (Bulupulo), yang terbelah akibat tertimpa pohon Welenreng yang di tebang oleh Sawerigading untuk di jadikan perahu.

Kecerdasan dan ketangkasan nya yang luar biasa membuat Sawerigading di segani dan di kagumi di setiap tempat (Pongsibanne, 2010:8).

Dari kutipan di atas dapat di ketahui bahwa Sawerigading memiliki kecerdasan dan ketangkasan yang luar biasa dan ia di segani dan di kagumi di setiap tempat yang ia datangi. Kecerdasan Sawerigading di lihat pada saat ia memperbaiki perahu, menyambung kembali papan yang telah terlepas satu dari yang lainnya, hingga utuh menjadi perahu. Kecerdasan inilah yang di warisi oleh masyarakat, dan kembangkan hingga sekarang.

Pernyataan selanjutnya dikemukakan oleh Andini Perdana dalam jurnal nya yang berjudul Naskah La Galigo: Identitas Budaya Sulawesi Selatan di Museum La Galigo. Berikut pernyataannya yaitu:

Sawerigading sebagai perekat atau penghubung suku bangsa di Sulawesi Selatan, (Perdana, 2019:120).

Dari kutipan di atas dapat di uraikan bahwa Sawerigading dikatakan sebagai perekat bangsa di Sulawesi Selatan karena cerita tentang Sawerigading tidak hanya di kenal di Suku Bugis, melainkan di semua Suku di Sulawesi Selatan. Maka dari itu Sawerigading di katakan perekat bangsa di Sulawesi Selatan, karena menghubungkan suku bugis dengan suku-suku yang lain.

Pernyataan selanjutnya dikemukakan oleh Matulada dalam bukunya yang berjudul Sawerigading Folkatle Sulawesi, berikut pernyataannya yaitu sebagai berikut:

Sawerigading tokoh dari peristiwa-peristiwa kultural yang meliputi berbagai kejadian, yang memandangnya sebagai cikal bakal kepemimpinan kaumnya.

(Matulada, 1990:1).

Dari pernyataan diatas dapat diketahui bahwa Sawerigading di anggap sebagai tokoh di dalam masyarakat, karena adanya kultural atau budaya yang meliputi kejadian, dan memandang sebagai cikal bakal kepemimpinan kaumnya.

Banyaknya kejadian atau peristiwa yang mendasarkan pada benda-benda alam, seperti Bulupoloe di dekat Malili, dikatakan bahwa ini bekas tertimpa pohon Welenrang yang rebah karena di tebang dan di jadikan perahu oleh Sawerigading.

Dikatakan juga bahwa di Gunung Kandora, daerah Mengkedek, Tana Toraja terdapat batu yang di duga jelmaan We Pinrakati, yaitu istri Sawerigading yang meninggal dalam keadaan hamil yang dijemput nya di dunia roh. Di Enrekang terdapat batu di daerah Bambapuang, jika di lihat dari jauh nampak sebagai anjungan perahu Sawerigading yang karam dan telah menjadi batu. Sedangkan di

Selayar terdapat Gong Nekara yang selalu iya bawah pada saat berlayar dan di bunyikan pada saat memasuki pelabuhan. Dan masih banyak lagi daerah-daerah yang pernah di singgahi Sawerigading.

Pernyataan selanjutnya dikemukakan oleh Erli Yetti dalam jurnal nya yang berjudul Legenda Danau Lindu Sulawesi Tengah, adapun pernyataannya sebagai berikut:

Selama pelayaran nya Sawerigading memiliki 4 sifat utama yang melekat pada diri Sawerigading yakni getteng (teguh pendirian), warani (berani), lempuq (jujur), dan macca (pintar). (Yetti, 2016:292).

Dari pernyataan di atas dapat kita uraikan bahwa keteguhan dan keberaniannya Sawerigading itu bukan saja terlihat dalam beberapa peristiwa kepada musuh-musuh Sawerigading, melainkan dalam hal mengungkapkan sejarah leluhurnya, perasaan hatinya, kebahagiaan nya, maupun perasaan lain yang ia pendam dalam hatinya. Karena itu, sifat teguh dan keberaniannya hanya dapat di lihat bila diiringi dengan kejujuran dalam bersikap, berbicara, maupun dalam bertindak. Ke empat sifat Sawerigading inilah yang di kagumi oleh Masyarakat dan menjadi prinsip hidup pada masa yang akan datang. Nah Di sinilah ketokohan Sawerigading di kenal karena sifat-sifatnya yang di kagumi oleh masyarakat setempat.

2. Prinsip Hidup Sawerigading dalam perubahan Sosial Masyarakat

Beberapa pernyataan dalam buku, artikel atau jurnal yang berisi tentang Ketokohan Sawerigading di Tanah Luwu. Pernyataan pertama dikemukakan oleh Matulada dalam bukunya yang berjudul Sawerigading Folkatle Sulaewesi, berikut pernyataannya yaitu sebagai berikut:

Sawerigading adalah seorang tokoh lagendaris yang dikenal oleh hampir seluruh kelompok etnik di Sulawesi. (Matulada, 1990:7).

Dari kutipan di atas dapat di uraikan bahwa Sawerigading seorang tokoh legendaris yang di kenal oleh hampir seluruh kelompok etnik di seluruh Sulawesi.

Ketokohan Sawerigading tersebut di lihat dari nilai-nilai religius nya, yang

Ketokohan Sawerigading tersebut di lihat dari nilai-nilai religius nya, yang

Dokumen terkait