PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA DENGAN SENGAJA DAN TANPA HAK MENDISTRIBUSIKAN INFORMASI
ELEKTRONIK YANG MEMILIKI MUATAN PENGHINAAN
(Studi Putusan Pengadilan Negeri Nomor 1010 /Pid.Sus/2018/PN-Mdn)
JURNAL
Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-tugas dan Memenuhi Syarat-Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Pada
Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
Oleh
DANIEL SIMAMORA 140200471
DEPARTEMEN HUKUM PIDANA
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2019
LEMBAR PENGESAHAN
PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA TERHADAP PELAKU DENGAN SENGAJA DAN TANPA HAK MENDISTRIBUSIKAN INFORMASI
ELEKTRONIK YANG MEMILIKI MUATAN PENGHINAAN
(Studi Putusan Pengadilan Negeri Nomor 1010 /Pid.Sus/2018/PN-Mdn)
J U R N A L
Oleh
DANIEL SIMAMORA 140200471
Disetujui Oleh Ketua
DEPARTEMEN HUKUM PIDANA
Dr. M. Hamdan, SH. M.H NIP. 195703261986011001
Editor
Prof. Dr. Madiasa Ablisar, S.H., M.S NIP. 196104081986011002
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2019
CURRICULUM VITAE
A. Data Pribadi
Nama Lengkap Daniel Hamonangan Simamora Jenis Kelamin Laki-laki
Tempat, Tanggal Lahir Palembang, 15 Desember 1996 Kewarganegaraan Indonesia
Status Belum Menikah
Identitas NIK KTP. 1271051512960004
Agama Kristen
Alamat Domisili Jl. Karya Gg Setia No. 35 Medan
Alamat Asal Jl. Karya Gg Setia No. 35 Medan
No. Telp 0811 6381 6666
Email [email protected]
B. Pendidikan Formal
Tahun Institusi Pendidikan Jurusan IPK
2002-2008 SD Swasta St. Antonius 1 Medan - -
2008-2011 SMP Swasta Santo Thomas 4 Medan - -
2011-2014 SMA Santo Thomas 1 Medan IPA -
2014-2019 Universitas Sumatera Utara Ilmu Hukum 3,02
C. Data Orang Tua
Nama Ayah / Ibu : Paul Edison Simamora/ Herna Umega Panjaitan Pekerjaan : Anggota POLRI / Ibu Rumah Tangga
Alamat : Jl. Karya Gg Setia No. 35 Me
i ABSTRAK
PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA DENGAN SENGAJA DAN TANPA HAK MENDISTRIBUSIKAN INFORMASI
ELEKTRONIK YANG MEMILIKI MUATAN PENGHINAAN (Studi Putusan Nomor 1010 /Pid.Sus/2018/PN-Mdn)
Daniel Simamora*) Madiasa Ablisar **)
M. Ekaputra***)
Dampak negatif pekembangan teknologi informasi yang pesat sempat menyebabkan terjadinya kekosongan hukum (rechtsvacuum), karena kesulitan dalam merumuskan delik dan ketidakmampuan hukum pidana positif mengejar perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) hingga munculnya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Adapun permasalahan dalam penelitian ini adalah pengaturan hukum tentang tindak pidana informasi elektronik. Bagaimakah penerapan sanksi terhadap pelaku tindak pidana dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan informasi elektronik yang memiliki muatan penghinaan.Bagaimakah pertanggungjawaban pidana terhadap pelaku dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan informasi elektronik yang memiliki muatan penghinaan (Analisis Putusan Nomor 1010 /Pid.Sus/2018/PN-Mdn). Jenis penelitian yang digunakan adalah hukum normatif yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis normatif, yakni dengan melakukan analisis terhadap permasalahan.
Pengaturan hukum tentang tindak pidana informasi elektronik.Pengaturan dalam Bab XVI tentang Penghinaan berlaku dalam ruang lingkup unsur
„penghinaan dan/atau pencemaran nama baik‟ dalam Pasal 27 ayat (3) UU ITE.
Sehingga apabila Pasal 27 ayat 3 UU ITE diterapkan pada kasus konkret, hendaknya juga merujuk kepada Pasal yang sesuai tentang penghinaan terkait dalam KUHP. Penerapan sanksi terhadap pelaku tindak pidana dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan informasi elektronik yang memiliki muatan penghinaan. Penerapan Pasal 27 ayat (3) jo. Pasal 45 ayat (1) Undang-undang No.11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik sudah tepat mengingat pasal tersebut merupakan peraturan khusus mengenai pencemaran nama baik dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana sehingga kemudian berlakulah Asas Lex Specialis Derogat Legi Generalis (Peraturan Khusus mengenyampingkan peraturan yang umum). Pertanggungjawaban pidana terhadap pelaku dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan informasi elektronik yang memiliki muatan penghinaan (Analisis Putusan Nomor 1010 /Pid.Sus/2018/PN-Mdn). Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa tersebut di atas oleh karena itu dengan pidana penjara selama 6 (enam) bulan. Menetapkan pidana tersebut tidak usah dijalani kecuali jika dikemudian hari ada putusan Hakim yang menentukan lain disebabkan karena Terpidana melakukan suatu tindak pidana sebelum masa percobaan selama 1 (satu) tahun berakhir.
Kata Kunci :Pertanggungjawaban Pidana, mendistribusikan informasi elektronik yang memiliki muatan penghinaan.
1
Daniel Simamora*), Mahasiswa FH USU
Prof. Dr. Madiasa Ablisar, S.H., M.S **), Pembimbing I, Dosen Fakultas Hukum USU M. Ekaputra ***), Pembimbing II, Dosen Fakultas Hukum USU
ii ABSTRACT
CRIMINAL RESPONSIBILITIES OF CRIMINAL ACTORS INTELLECTLY AND WITHOUT THE RIGHT TO DISTRIBUTE ELECTRONIC INFORMATION THAT
HAVE A DEFENSE
(Studi Putusan Nomor 1010 /Pid.Sus/2018/PN-Mdn)
Daniel Simamora*) Madiasa Ablisar **)
M. Ekaputra***)
The negative impact of the rapid development of information technology had caused a legal vacuum (rechtsvacuum), due to difficulties in formulating offenses and the inability of positive criminal law to pursue the development of science and technology until the emergence of Law No. 11 of 2008 concerning Information and Electronic Transactions. The problems in this study are legal arrangements regarding criminal acts of electronic information. How is the application of sanctions to offenders intentionally and without rights distributing electronic information that has an insulting content. How does criminal liability against the perpetrators intentionally and without rights distribute electronic information that has an insulting content (Analysis of Decision Number 1010 / Pid.Sus/2018/PN -Mdn). The type of research used is normative law carried out in this study using a normative juridical approach, namely by analyzing the problem.
Legal arrangements regarding criminal acts of electronic information.
Arrangements in Chapter XVI concerning Insults apply within the scope of the element of 'insult and / or defamation' in Article 27 paragraph (3) of the ITE Law.
So that if Article 27 paragraph 3 of the ITE Law is applied in a concrete case, it should also refer to the appropriate Article regarding the related insults in the Criminal Code. The application of sanctions to offenders intentionally and without rights distributes electronic information that has an insulting content. Application of Article 27 paragraph (3) jo. Article 45 paragraph (1) of Law No. 11 of 2008 concerning Information and Electronic Transactions is appropriate considering that the article is a special regulation regarding defamation in the Criminal Code so that the Lex Specialis Derogat Legi Generalis applies (Special Regulations rule out general rules). Criminal liability against perpetrators intentionally and without rights distributes electronic information that has an insulting content (Analysis of Decision Number 1010 / Pid.Sus/2018/PN-Mdn). Imposing a criminal sentence against the Defendant as mentioned above because of that with imprisonment for 6 (six) months. Establishing the criminal does not need to be undertaken unless there is a decision by another Judge in the future due to the convicted person committing a criminal offense before the probationary period for 1 (one) year ends.
Keywords: Criminal Liability, distribute electronic information that has an insulting content.2
Daniel Simamora *), USU Faculty of Law Student
Prof. Dr. Madiasa Ablisar, S.H., M.S **), First Advisor, USU Faculty of Law Lecturer M. Ekaputra ***), Advisor II, USU Faculty of Law Lecturera
1
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Di negara demokrasi tuntutan masyarakat terhadap keterbukaan informasi semakin besar. Pada masa sekarang kemajuan teknologi informasi, media elektronika dan globalisasi terjadi hampir disemua bidang kehidupan.
Kemajuan teknologi yang ditandai dengan munculnya internet dapat dioperasikan dengan menggunakan media elektronik seperti komputer. Komputer merupakan salah satu penyebab munculnya perubahan sosial pada masyarakat, yaitu mengubah perilakunya dalam berinteraksi dengan manusia lainnya, yang terus menjalar kebagian lain dari sisi kehidupan manusia, sehingga muncul adanya norma baru, nilai-nilai baru, dan sebagainya.3
Setiap teknologi diciptakan untuk memenuhi suatu kebutuhan tertentu manusia. Setelah diciptakan, teknologi dikembangkan agar dapat semakin efektif dan efisien untuk memenuhi kebutuhan yang dimaksud maka teknologi lampau akan ditinggalkan. Pada masa sekarang kemajuan teknologi informasi, media elektronika dan globalisasi terjadi hampir disemua bidang kehidupan. Kemajuan teknologi yang ditandai dengan munculnya internet dapat dioperasikan dengan menggunakan media elektronik seperti komputer. Komputer merupakan salah satu penyebab munculnya perubahan sosial pada masyarakat, yaitu mengubah perilakunya dalam berinteraksi dengan manusia lainnya, yang terus menjalar kebagian lain dari sisi kehidupan manusia, sehingga muncul adanya norma baru, nilai-nilai baru, dan sebagainya.4
Hukum sebagai alat dalam melakukan kontrol sosial dalam hal ini membutuhkan bantuan ilmu kriminologi, kriminologi yaitu ilmu yang mempelajari tentang kejahatan seluas-luasnya.5 Dengan kriminologi dapat diketahui sebab- sebab si pelaku melakukan perbuatan kejahatannya tersebut, lalu atas dasar apa si pelaku melakukan perbuatannya dan aturan-aturan hukum yang layak diterapkan terhadap kasus penghinaan serta pelecehan terhadap presiden tersebut
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat modern terhadap penggunaan teknologi, sehingga
3Dikdik M. Arif Mansyur, dan Elisatris Gultom, Cyber Law Aspek Hukum Teknologi Informasi, Refika Aditama, Bandung, 2005, hlm 3.
4Suhartanto, Pertanggungjawaban Pidana Terhadap Tindak Pidana Pencemaran Nama Baik Melalui Media Internet Dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016, Jurnal Pro Hukum, Vol. VI, No. 2, Desember 2017, hlm 112.
5 Yesmil Anwar danAdang, Kriminologi, Reflika Aditama, Bandung, 2010, hlm.2
teknologi merupakan kunci keberhasilan pembangunan pada masa sekarang dan masa yang akan datang. Disamping memberikan dampak positif, kemajuan teknologi informasi dan telekomunikasi juga memberikan dampak negatif yaitu banyaknya kejahatan yang berkaitan dengan aplikasi internet, seperti cybercrime, pemalsuan akun jejaring sosial dan pencemaran nama baik.6
Internet adalah produk dari perkembangan teknologi yang mempermudah dalam penerimaan informasi maupun pengiriman data. Internet juga mudah untuk didapatkan dan digunakan serta dapat dinikmati oleh seluruh kalangan masyarakat. Penggunaan internet dapat dilakukan di komputer, laptop atau notebook maupun dengan telepon genggam (handphone). Hal ini menyebabkan penyalahgunaan teknologi informasi pun dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja. Dampak negatif pekembangan teknologi informasi yang pesat sempat menyebabkan terjadinya kekosongan hukum (rechtsvacuum), karena kesulitan dalam merumuskan delik dan ketidakmampuan hukum pidana positif mengejar perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) hingga munculnya Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor I1 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (selanjutnya disebut UU ITE) sebagai payung hukum dalam mengantisipasi kejahatan-kejahatan di dunia maya (cyber). UU ITE ini memuat tentang cyberlaw yang meliputi transaksi elektronik, alat bukti elektronik, privasi, yurisdiksi, intelectual property, termasuk tindak pidananya. Hal tersebut tertuang dalam Bab VII tentang perbuatan yang dilarang, yang diuraikan dalam beberapa pasal, mulai dari Pasal 27 sampai dengan Pasal 37, kemudian Bab XI tentang ketentuan pidana yang mengancam sanksi pidana atas pelanggaran terhadap pasal-pasal tersebut.7
Salah satu teknologi informasi yang mampu mendorong perubahan itu adalah internet yang ditemukan oleh Leonard Kleinrock, seorang insinyur dan ilmuwan komputer yang lahir di New York, 13 Juni 1934. Internet yang ditemukannya pada 29 Oktober 1969, kini telah semakin berkembang, bahkan dapat berkembang menjadi media untuk saling berinteraksi, saling berkomunikasi dengan segala manusia yang ada disegala penjuru dunia hanya dengan hitungan detik. Ketika manusia saling berinteraksi, saling mengutarakan
6Edwin Pardede, Kebijakan Hukum Pidana Dalam Upaya Penegakan Tindak Pidana Pencemaran Nama Baik Melalui Twitter. Diponegoro Law Journal Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016, hlm 2-3
7 Ibid., hlm 3
pendapatnya melalui internet, baik itu dengan media facebook, twitter, mails, dan sebagainya. Sudah barang tentu terjadinya gesekan-gesekan atau ketersinggungan yang menimbulkan permasalahan. Ketika permasalahan itu di bawah masuk kerana hukum, maka menjadi pertanyaan bagaimana hukum dapat mengatur perkembangan teknologi dengan segala dampak yang ditimbulkannya.8
Kecanggihan teknologi disadari telah memberikan kemudahan, terutama dalam membantu pekerjaan manusia. Selain itu, perkembangan teknologi komputer menyebabkan munculnya kejahatan-kejahatan baru, yaitu dengan memanfaatkan komputer seperti modus operandinya. 9 Hukum sebagai alat dalam melakukan kontrol sosial dalam hal ini membutuhkan bantuan ilmu kriminologi, kriminologi yaitu ilmu yang mempelajari tentang kejahatan seluas- luasnya.10 Dengan kriminologi dapat diketahui sebab-sebab si pelaku melakukan perbuatan kejahatannya tersebut, lalu atas dasar apa si pelaku melakukan perbuatannya dan aturan-aturan hukum yang layak di terapkan terhadap kasus penghinaan serta pelecehan terhadap presiden tersebut.11
Hukum di Indonesia penghinaan atau pencemaran nama baik secara umum diatur dalam Pasal 310 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (selanjutnya disebut KUHP) yang berbunyi sebagai berikut: “Barang siapa sengaja menyerang kehormatan atau nama baik dengan menuduhkan suatu hal, yang dimaksudnya terang supaya hal itu diketahui umum, diancam karena pencemaran dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah”12
Berdasarkan Pasal 45 ayat (1) UU ITE “Setiap orang yang memenuhi unsur sebgaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1), ayat (2), ayat (3) atau ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp.1.000.000.000 (satu miliar rupiah)” Perbuatan melawan hukum dalam UU ITE, kejahatan dalam teknologi informasi disebut dengan cyber crime.
Cyber crime adalah jenis kejahatan yang berkaitan dengan pemanfaatan sebuah teknologi informasi dan komunikasi tanpa batas, serta memiliki sebuah
8 Tunggal Wawan, Pencemaran Nama Baik, Wartapena, Jakarta, 2012, hlm. 44- 45
9Maskun, Kejahatan Siber (Cyber Crime). Kencana Prenada Media Grup, Jakarta, 2013, hlm 17
10Yesmil Anwar dan Adang, Op.Cit., hlm.2
11 Ibid
12 R.Soesilo, Undang-Undang Hukum Pidana , Politea, Bogor, 1996, hlm. 225
karakteristik yang kuat dengan sebuah rekayasa teknologi yang mengandalkan tingkat keamanan yang tinggi, dari sebuah informasi yang disampaikan dan diakses oleh pengguna internet.13
Wilsen Chandra als. A Sen pada hari Selasa tanggal 12 Juli 2016 sekira pukul 22.00 Wib pemilik akun facebook atas nama Henny Yap (DPO) membuat status dengan melampirkan foto, identitas saksi dan istri saksi serta membuat tulisan serta komentar yang isinya menghina dan mencemarkan nama baik saksi, istri saksi dan keluarga saksi lalu pemilik akun facebook atas nama Haini Tan (DPO), terdakwa Wilsen Chandra Als A Sen dan William Chandra menyebarkannya lagi. Adapun isi tulisan yang dibuat oleh pemilik akun facebook atas nama HENNY YAP (DPO) pada status facebooknya.
Setelah beberapa bulan, beberapa Giro jatuh tempo yang dicairkan ternyata kosong dan GIRO PALSU. Ini orangpun kabur entah kemana ketika mau diminta pertanggungjawaban. Setelah dicek ternyata orang ini punya KTP lebih dari 1 (satu) dengan nama-nama dan alamat berbeda pada tanggal 8 Mei 2016 akhirnya tertangkap juga dia di kostnya dengan muka tidak bersalah dan Tidak Tahu Malu mengaku tidak kenal dengan kami serta tidak mau berdamai, maka kamipun membawa masalah ini ke jalur hukum. Jadi harap hati-hati ya guys, kalau next time jumpa/diajak kerja sama sama orang ini. Penampilan tidak mencerminkan hati seseorang.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian-uraian latar belakang diatas, maka terdapat beberapa pokok permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini, yang dapat dikemukakan adalah
1. Bagaimanakah pengaturan hukum tentang tindak pidana informasi elektronik?
2. Bagaimakah penerapan sanksi terhadap pelaku tindak pidana dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan informasi elektronik yang memiliki muatan penghinaan?
3. Bagaimakah pertanggungjawaban pidana terhadap pelaku dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan informasi elektronik yang memiliki muatan
13 Agus Tri P.H. Cyber Crime dalam Perspektif Hukum Pidana,Skripsi, ,Surakarta:UMS, 2010, hlm. 10.
penghinaan (Analisis Studi Putusan Pengadilan Negeri Nomor 1010 /Pid.Sus/2018/PN-Mdn)?
C. Metode Penelitian 1. Jenis penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif.
Metode penelitian normatif merupakan prosedur penelitian ilmiah untuk menemukan kebenaran berdasarkan logika keilmuan hukum dari sisi normatifnya.14
2. Sifat penelitian
Sifat penelitian dalan penulisan skripsi ini penelitian deskripstif analisis, yaitu penelitian bersifat pemaparan yang bertujuan untuk memperoleh gambaran (deskriptif) lengkap tentang keadaan hukum yang berlaku di tempat tertentu dan pada saat tertentu, atau peristiwa hukum yang terjadi di dalam masyarakat.15 3. Sumber data
Sumber data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Bahan hukum primer yang terdiri atas peraturan perundang-undangan, yurisprudensi atau keputusan pengadilan.
b. Bahan hukum sekunder, yaitu bahan hukum yang dapat memberikan penjelasan terhadap bahan hukum primer yang dapat berupa pendapat para ahli, jurnal ilmiah, surat kabar dan berita internet.
c. Bahan hukum tersier, yautu bahan hukum yang dapat menjelaskan baik bahan hukum primer maupun bahan hukum sekunder, yang berupa kamus hukum, kamus Bahasa Indonesia, dan Ensiklopedia.16
4. Teknik pengumpulan data
Teknik penelitian hukum normatif atau kepustakaan. Teknik pengumpulan data dalam penelitian hukum normatif dilakukan dengan studi pustaka terhadap bahan-bahan hukum, baik bahan hukum primer, bahan hukum sekunder maupun bahan hukum tersier dan atau bahan non hukum.
5. Analisis data
Analisis data merupakan kegiatan dalam penelitian yang berupa melakukan kajian atau telaah terhadap hasil pengolahan data yang dibantu
14Johnny Ibrahim, Teori & Metodologi Penelitian Hukum Normatif, Bayumedia Publishing, Malang, 2011, hlm 57.
15 Soerjono Soekanto, Penelitian Hukum, Jakarta, UI Press, 2010, hlm. 9.
16 Ibid., hlm. 157-158
dengan teori-teori yang telah didapatkan sebelumnya. Secara sederhana analisis data ini disebut sebagai kegiatan memberikan telaah, yang dapat berarti menentang, mengkritik, mendukung. Menambah atau memberi komentar dan kemudian membuat suatu kesimpulan terhadap hasil penelitian dengan pikiran sendiri dan bantuan teori yang telah dikuasainya.17
17 Ibid.,hlm. 180
7
II. PEMBAHASAN
A. Pengaturan Hukum Tentang Tindak Pidana Informasi Elektronik
Bentuk penghinaan jika dilihat dari cara melakukannya terdiri atas dua bagian, yaitu: dilakukan dengan cara lisan dan dilakukan dengan cara tertulis.
Seluruh jenis penghinaan dalam KUHP, seperti penistaan, fitnah, pengaduan dengan fitnah, penghinaan terhadap pegawai negeri, penghinaan dengan perbuatan, penghinaan terhadap orang yang sudah meninggal, penghinaan terhadap presiden, kepala negara sahabat, simbol-simbol negara, penghinaan terhadap suku, ras, agama, antar golongan, dan penghinaan terhadap kekuasaan umum memungkinkan untuk dilakukan dengan cara lisan, dan memungkinkan pula dilakukan dengan cara tertulis.18
Bentuk penghinaan jika dilihat dari objek yang terhina (si korban) terdiri atas lima bagian, yaitu:
1) Individu;
2) Pejabat: pegawai negeri, Presiden, kepala negara sahabat, pemerintah Republik Indonesia kekuasaan umum;
3) Profesi: petugas agama
4) Simbol-simbol: bendera, lambang negara, benda untuk keperluan ibadah;
dan
5) Kelompok; suku, ras, agama, dan golongan.19
UU ITE adalah produk hukum yang mengatur permasalahan- permasalahan di dunia maya atau internet. Beberapa pasal dalam UU ITE yang dilarang dilanggar di dalam memanfaatkan dunia internet atau perbuatan yang dilarang dilakukan dalam mengakses di dunia internet adalah Pasal 27, Pasal 28, Pasal 29.20
UU ITE merupakan hukum maya (cyber law) yang pertama dimiliki Indonesia, dapat dikatakan memiliki muatan dan cakupan luas dalam mengatur cyberspace, meskipun di beberapa sisi masih terdapat pengaturan-pengaturan yang kurang lugas dan juga ada yang terlewat. Materi muatannya tampak bahwa UU ITE menganut 2 (dua) model pengaturan yaitu: (1) Pengaturan yang berpihak pada pemilahan materi hukum secara ketat sehingga regulasi yang dibuat bersifat sempit dan spesifik pada sektor tertentu saja. (2). Pengaturan yang
18 Amir Ilyas, Op.Cit., hlm 83
19 Ibid
20Reydi Vridell Awawangi, Pencemaran Nama Baik Dalam KUHP dan Menurut UU No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Lex Crimen Vol.
III/No. 4/Ags-Nov/2014, hlm 119
bersifat komprehensif dalam arti materi muatan yang diatur mencakup hal yang lebih luas disesuaikan dengan kebutuhan yang saat ini terjadi. Sehingga dalam regulasi tersebut akan tercakup aspek-aspek hukum perdata materiil, hukum acara perdata dan pidana, (walaupun dapat berupa kaedah petunjuk hukum tertentu) hukum pembuktian dan hukum pidana. Mengacu pada dua model tersebut di atas, UU ITE sendiri cenderung mengikuti model pengaturan yang kedua ini. 21
Penggolongan delik penghinaan bentuk terakhir, yaitu dilihat dari locus kejadiannya, hanya terbagi dua, yakni: di tempat nyata (real), penghinaan konvensional; dan di tempat atau di dunia maya (cyber), penghinaan melalui ITE.
Delik penghinaan berdasarkan locus kejadiannya, sebenarnya yang memprakarsai lahirnya kejahatan penghinaan yang diatur dalam UU ITE.
Ketentuan penghinaan dalam UU ITE dimaksudkan untuk melengkapi ketentuan penghinaan dalam KUHP yang pada hakikatnya hanya mengatur penghinaan konvensional. Kendatipun demikian, patut diinsafi bahwa semua jenis penghinaan yang terdapat dalam KUHP, memungkinkan terjadi melalui ITE.
Selain dari penggolongan delik penghinaan yang telah dikemukakan, masih terdapat pula penggolongan lainnya, sebagaimana yang dikemukakan oleh para ahli hukum pidana.22
Berdasarkan UU ITE, secara garis besar materi-materi pokok yang dirangkum sebagai berikut:
(1) Asas dan Tujuan.
(2) Informasi, dokumen dan tanda tangan elektronik; dalam hal ini, tanda tangan elektronik diakui memiliki kekuatan hukum yang sama dengan tanda tangan konvensional (tinta basah dan bermeterai).
(3) Penyelenggara sertifikasi elektronik dan sistem elektronik.
(4) Alat bukti elektronik yang diakui memiliki kekuatan hukum yang sama seperti alat bukti lainnya yang diakui dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (selanjutnya disebut KUHAP).
(5) Transaksi elektronik (e-commerce).
(6) Pengaturan nama domain, Hak Kekayaan Intelektual dan perlindungan hak pribadi.
21 Suyanto Sidik., Op.Cit., hlm 5
22 Amir Ilyas, Op.Cit., hlm 85
(7) Perbuatan yang dilarang, dijelaskan pada Bab VII (Pasal 27 sampai Pasal 37) meliputi:
(a) Pasal 27 (Asusila, Perjudian, Penghinaan, Pemerasan).
(b) Pasal 28 (Berita Bohong dan Menyesatkan, Berita Kebencian dan Permusuhan)
(c) Pasal 29 (Ancaman Kekerasan dan Menakuti)
(d) Pasal 30 (Akses Komputer Pihak Lain Tanpa Izin, Cracking) (e) Pasal 31 (Penyadapan, Perubahan, Penghilangan Informasi)
(f) Pasal 32 (Pemindahan, Perusakan dan Membuka Informasi Rahasia) (g) Pasal 33 (Virus, Membuat Sistem Tidak Bekerja)
(h) Pasal 35 (Menjadikan seolah Dokumen Autentik).
(8) Penyelesaian sengketa.
(9) Peran pemerintah dan peran masyarakat (10) Penyidikan.
(11) Ketentuan pidana Tangan Konvensional (tinta basah dan meterai). 23
Hukum pidana penghinaan yang terdapat dalam UU ITE, yaitu diatur dalam dua ketentuan, meliputi Pasal 27 ayat (3) yang menegaskan: “Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.” Pasal 45 ayat (1) ditegaskan: “setiap orang yang memenuhi unsur sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) atau ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp.1.000.0000.000- (satu miliar rupiah)”.24
Bab XVI KUHP mengenai penghinaan, berisi dua 12 pasal dari Pasal 310 hingga Pasal 321. Tindak pidana pada Bab XVI KUHP tergolong sebagai delik aduan, sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 319 KUHP. Menurut Pasal 1 angka 25 KUHAP, penuntutan terkait delik aduan hanya dapat dilakukan oleh pihak yang dirugikan saja atau korban. Objek pengaduan dalam Bab XVI KUHP haruslah orang perseorangan (naturlijk persoon) karena jika dilakukan bukan terhadap orang perseorangan maka akan masuk ke dalam Pasal-Pasal khusus diluar Bab XVI KUHP. Selain dalam KUHP ketentuan delik penghinaan juga diatur dalam UU ITE merupakan upaya mengkriminalisasi beberapa tindak
23 Ibid., hlm 5-6
24 Amir Ilyas, Op.Cit., hlm 95
pidana cybercrime. Salah satu diantaranya tindak pidana penghinaan dan pencemaran nama baik. “Metode yang digunakan untuk mengkriminalisasi tindak pidana tersebut dengan metode-metode interpretasi ekstensif (perumpamaan dan persamaan) terhadap pasal-pasal yang terdapat dalam KUHP”.25
Perbuatan yang dilarang adalah mengenai menyebarkan berita palsu melalui media elektronik yang mengandung kesengajaan menyerang harga diri seseorang terkait pencemaran nama baik dan/atau penghinaan dalam UU ITE dicantumkan dalam Pasal 27 Ayat (3) jo. 45 ayat (1) Pasal 27 ayat (3) jika dirinci terdapat unsur berikut “Unsur objektif terdiri dari Perbuatan: mendistribusikan;
mentransmisikan; membuat dapat diaksesnya; Melawan hukum: tanpa hak.
Sedangkan objeknya adalah informasi elektronik dan/ atau dokumen elektronikyang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.
Unsur subjektif adalah Kesalahan: dengan sengaja.26
Pasal 27 ayat (1) UU ITE, yang dimaksud dengan mendistribusikan adalah “mengirimkan dan/ atau menyebarkan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik kepada banyak Orang atau berbagai pihak melalui Sistem Elektronik”. Sedangkan yang dimaksud dengan mentransmisikan adalah
“mengirimkan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang ditujukan kepada satu pihak lain melalui Sistem Elektronik”. Perbuatan mendistribusikan dan mentransmisikan dalam ketentuan diatas nantinya menimbulkan permasalahan hukum baru karena timbulnya ketidak-pastian hukum dan multitafsirnya suatu rumusan delik dalam pasal tersebut. Perumusan Pasal 27 ayat (3) jo. Pasal 45 ayat (1) UU ITE, hanya merumuskan perluasan penghinaan dan pencemaran nama baik melalui dunia maya atau elektronik, sedangkan kualifikasi delik tetap mengacu pada ketentuan yang ada dalam KUHP.
Rumusan perbuatan dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik.27 Informasi elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik adalah satu atau sekumpulan data elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, pencemaran nama baik, EDI, surat elektronik (electronic mail), telegram, teleks, telecopy atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, kode akses, simbol, atau perforasi yang telah diolah sehingga di dalamnya mengandung unsur penghinaan atau pencemaran
25 Galih Puji Mulyono, Kebijakan Formulasi Tindak Pidana Pencemaran Nama Baik Dalam Bidang Teknologi Informasi, Jurnal Cakrawala Hukum, Vol.8, No.2 Desember 2017, hlm.163
26 Ibid
27 Ibid
nama baik seseorang. Tindakan hukum yang dapat dilakukan terhadap tindakan pencemaran nama baik seseorang yang mengandung unsur pencemaran yang ditampilkan melalui media sosial jaringan perangkat lunak ini adalah dengan menggunakan Pasal 27 jo Pasal 45 UU ITE, tindak pidana pencemaran nama baik melalui media sosial jaringan perangkat lunak atau transaksi elektronik adalah“Setiap orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud pasal 27 ayat (1), ayat(2), ayat (3) atau ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp.1.000.000.000,- (satu milyar rupiah)” ,dengan demikian maka jelaslah bahwa, tindakan hukum yang dapat dikenakan kepada pelaku dari tindak pidana pencemaran nama baik melalui media sosial jaringan perangkat lunak dengan tegas dinyatakan dikenakan tindak pidana kurungan selama 6 tahun dan pidana denda sebesar Rp.1.000.000.000,-(satu milyar).28
B. Penerapan Sanksi Terhadap Pelaku Tindak Pidana dengan Sengaja dan Tanpa Hak Mendistribusikan Informasi Elektronik Yang Memiliki Muatan Penghinaan
UU ITE yang diberlakukan sejak April 2008 lalu ini memang merupakan terobosan bagi dunia hukum di Indonesia, karena untuk pertama kalinya dunia maya di Indonesia mempunyai perangkat hukum. Karena sifatnya yang berisi aturan main di dunia maya, UU ITE ini juga dikenal sebagai Cyber Law.
Sebagaimana layaknya Cyber Law di negara-negara lain, UU ITE ini juga bersifat ekstraterritorial, jadi tidak hanya mengatur perbuatan orang yang berdomisili di Indonesia tapi juga berlaku untuk setiap orang yang berada di wilayah hukum di luar Indonesia, yang perbuatannya memiliki akibat hukum di Indonesia atau di luar wilayah Indonesia dan merugikan kepentingan Indonesia.29
Penerapan UU ITE dan aturan hukum nasional relevan (hukum pidana) yang dalam hal ini masih merupakan warisan kolonial yang dipertahankan, sebelum diberlakukannya UU ITE, aturan hukum yang paling sering digunakan di Indonesia ketika terjadi cybercrime adalah aturan hukum positif (KUHP dan KUHAP). KUHP menjadi pandangan landasan hukum yang cukup memadai, meskipun hal tersebut tidak sepenuhnya karena terjadi kekosongan hukum dalam teknologi dan informasi kala UU ITE belum berlaku.30
28 Asrianto Zainal., Op.Cit., hlm 73
29 Mastur, Op.Cit., hlm 163
30 Suhariyatno Budi, Op.Cit, hlm 48
Pasal 27 ayat (1) menyatakan”Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan.” Pasal 27 ayat (3) menyatakan bahwa
”Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik. Sedangkan rumusan Pasal 28 ayat (2) “Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).” Atas pelanggaran pasal-pasal tersebut, UU ITE memberikan sanksi yang cukup berat sebagaimana di atur dalam Pasal 45 ayat (1) dan (2). Pasal 45 ayat (1) “Setiap orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1), ayat (2), ayat (3), atau ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). Pasal 45 ayat (2) “Setiap orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1) atau ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).” 31
31 Mastur., Loc.Cit
13
C. Pertanggungjawaban Pidana Terhadap Pelaku Dengan Sengaja Dan Tanpa Hak Mendistribusikan Informasi Elektronik Yang Memiliki Muatan Penghinaan (Analisis Studi Putusan Pengadilan Negeri Nomor 1010 /Pid.Sus/2018/PN-Mdn)
1. Kasus Posisi
Kasus ini berawal Selasa tanggal 12 Juli 2016 sekira pukul 22.00 Wib Terdakwa Wilsen Chandra als A Sen pemilik akun facebook atas nama Henny Yap (DPO) membuat status dengan melampirkan foto, identitas saksi dan istri saksi serta membuat tulisan serta komentar yang isinya menghina dan mencemarkan nama baik saksi, istri saksi dan keluarga saksi lalu pemilik akun facebook atas nama Haini Tan (DPO) William Chandra menyebarkannya lagi isi tulisan yang dibuat oleh pemilik akun facebook atas nama Henny Yap (DPO) pada status facebooknya yaitu :“Hati-Hati Penipuan !! Harap Dibaca Agar Tidak Ada Korban Lagi, Nama : RITA (38 tahun), Alamat: Jln. Platina Raya, Komplek Titimas Blok A-15 Medan Marelan, pengusaha barang-barang botot, awalnya mohon bantuan pinjaman uang untuk tambahan modal usaha, cara pembayarannya dengan menggunakan Giro atas nama orang lain (katanya giro ini punya customernya yang bayar dia untuk pengambilan barang).
Awalnya percaya saja dan tidak menaruh curiga sama sekali, dikarenakan kenal dekat seperti saudara sendiri. Beberapa kali pembayaran pun lancar-lancar saja. Peminjaman uangpun semakin meningkat, jadi pemikiran pun berarti usaha orang ini lancar, tetapi setelah beberapa bulan, beberapa giro jatuh tempo yang dicairkan ternyata kosong dan giro palsu. Ini orangpun kabur entah kemana ketika mau diminta pertanggungjawaban. Setelah dicek ternyata orang ini punya KTP lebih dari 1 (satu) dengan nama-nama dan alamat berbeda pada tanggal 8 Mei 2016 akhirnya tertangkap juga dia dikostnya dengan muka tidak bersalah dan Tidak Tahu Malu mengaku tidak kenal dengan kami serta tidak mau berdamai, maka kamipun membawa masalah ini ke jalur hukum. Jadi harap hati-hati ya guys, kalau next time jumpa/diajak kerja sama-sama orang ini.
2. Dakwaan
Terdakwa diajukan ke persidangan, karena didakwa telah melakukan tindak pidana sebagaimana tersebut dalam dakwaan Penuntut Umum, yaitu:
Perbuatan terdakwa Wilsen Chandra als A SEN sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 45 ayat (3) jo Pasal 27 ayat (3) UU ITE.
3. Tuntutan Jaksa Penutut Umum
Setelah mendengar pembacaan tuntutan pidana yang diajukan oleh Penuntut Umum yang pada pokoknya sebagai berikut:
a. Menyatakan Terdakwa Wilsen Chandra als. A Sen telah terbukti bersalah melakukan tindak pidana “Setiap orang yang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (3), sebagaimana diatur dalam Pasal 45 (3) Jo. Pasal 27 (3) UU ITE;
b. Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa Wilsen Chandra Als. A SEN dengan pidana penjara selama 1 (satu) tahun dan denda sebesar Rp5.000.000 (lima juta rupiah) subsidair 3 (tiga) bulan kurungan;
4. Putusan Pengadilan
Menimbang, bahwa oleh karena Terdakwa dijatuhi pidana maka haruslah dibebani pula untuk membayar biaya perkara; Memperhatikan, Pasal 45 ayat (3) Jo. Pasal 27 ayat (3) UU ITE dan KUHAP serta peraturan perundang-undangan lain yang bersangkutan.
Mengadili:
a. Menyatakan Terdakwa WILSEN CHANDRA Als A SEN tersebut di atas, telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana Dengan Sengaja Dan Tanpa Hak Mendistribusikan Informasi Elektronik Yang Memiliki Muatan Penghinaan
b. Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa tersebut di atas oleh karena itu dengan pidana penjara selama 6 (enam) bulan.
c. Menetapkan pidana tersebut tidak usah dijalani kecuali jika dikemudian hari ada putusan Hakim yang menentukan lain disebabkan karena Terpidana melakukan suatu tindak pidana sebelum masa percobaan selama 1 (satu) tahun berakhir;
d. Menjatuhkan denda sejumlah Rp.5.000.000 (lima juta rupiah) dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar diganti dengan pidana kurungan selama 1 (satu) bulan;
5. Analisis Kasus
Terdakwa adalah manusia yang dengan segala kelengkapannya, baik rohani maupun jasmani, mempunyai fisik yang sehat, daya penalaran, dan daya tangkap untuk mampu menerima dan dapat mengerti, serta
merespon segala sesuatu yang terjadi di persidangan. Sedangkan secara subyektif, Terdakwa mampu bertanggung jawab atas perbuatan yang dilakukannya.Terdakwa mampu bertanggung jawab, maka harus dinyatakan bersalah dan dijatuhi pidana;
a. Kemampuan bertanggungjawab
Terdakwa dianggap mampu bertanggungjawab, terdakwa sepatutnya mengetahui perbuatan tersebut tidak dilakukan, terdakwa adalah merupakan seorang pedagang dan berpendidikan SMA, artinya terdakwa adalah seorang yang berpendidikan yang seharusnya tahu akan dampak yang dilakukannya, dengan pengetahuan yang berkaitan dengan facebook kepada saksi korban adalah perbuatan yang membuat saksi korban merasa terhina dengan kata- kata.Perbuatan yang dilakukan yaitu dengan mentransmisikan yaitu menggunakan salah satu layanan telepon seluler, dianggap mempunyai keadaan batin yang normal, selain itu dari fakta-fakta di persidangan, terdakwa mengakui menyadari perbuatannya bahwa kata-kata yang dikirimkan kepada saksi korban adalah bentuk penghinaan, dalam fakta yuridis disebutkan bahwa benar terdakwa pemilik akun facebook atas nama HENNY YAP (DPO) membuat status dengan melampirkan foto, identitas saksi dan istri saksi serta membuat tulisan serta komentar yang isinya menghina dan mencemarkan nama baik saksi, istri saksi dan keluarga saksi lalu pemilik akun facebook atas nama HAINI TAN (DPO), terdakwa WILSEN CHANDRA Als A SEN dan WILLIAM CHANDRA menyebarkannya lagi. Adapun isi tulisan yang dibuat oleh pemilik akun facebook atas nama HENNY YAP (DPO) pada status facebooknya.
b. Kesalahan
Terdakwa terbukti melakukan kesalahan dengan sengaja mengirimkan facebook Terdakwa mengirimkan pesan singkat. Unsur kesalahan, dalam pertimbangan oleh hakim bahwa unsur dengan sengaja dan dengan tanpa hak mendistribusikan dan/atau menstransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik, unsurnya bersifat alternative artinya jika salah satu elemen dari unsure ini terbukti maka seluruh rangkaian elemen unsur dianggap telah terpenuhi. Terdakwa dianggap memiliki maksud untuk mentransmisikan sms untuk menghina saksi korban. Kesengajaan yang dilakukan terdakwa dapat dimaksudkan kedalam kesengajaan dengan
corak kesengajaan sebagai maksud atau setidak- tidaknya kesengajaan sebagai kemungkinan (dolus eventualis), kesengajaan dilakukan terdakwa karena sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk menghentikan terror telepon dan facebook dari saksi korban kepada terdakwa, dan ternyata sejak itu pula saksi korban tidak pernah menganggu kehidupan pribadi terdakwa maupun keluarga terdakwa. Terdakwa dengan pengetahuan yang ada padanya pula mengetahui isi pesan singkat yang dikirimkannya, sehingga ada muatan kesengajaan dengan maksud sms itu ditujukan kepada saksi korban, Terdakwa tidak mengadakan usaha untuk mencegah akibat yang tidak diinginya. Kesengajaan untuk menghina orang lain dibuktikan dengan media yang digunakan dalam tindak pidana tersebut yaitu sms yang berisi kata- kata yang bermuatan penghinaan.
Berdasarkan putusan MK No 50/PUU-VI/2008, bab XVI sebagai sui generis dari Pasal 27 ayat (3), delik penghinaan dalam pasal tersebut bersifat subjektif sebagimana diatur di dalam penjelasan pasal 310 KUHP, menyatakan menghina yaitu menyerang kehormatan dan nama baik seseorang.
c. Alasan penghapus pidana
Pemeriksaan di persidangan majelis hakim tidak menemukan hal – hal yang dapat melepaskan terdakwa dari pertanggungjawaban pidana sebagaimana dimaksud Pasal 44 s/d Pasal 51 KUHP, maupun alasan penghapus berlaku secara khusus sebagaimana diatur dalam Pasal 310 ayat (3) yaitu atas dasar kepentingan umum dan untuk membela diri, sehingga terdakwa dapat mempertanggung jawabkan atas kesalahannya dan berdasarkan Pasal 193 ayat (1) KUHAP terdakwa harus dijatuhi pidana. Dalam persidangan diperoleh fakta bahwa terdakwa adalah pribadi yang sehat jasmani dan rohani seta tidak mempunyai penyakit atau halangan yang merupakan alasan pembenar maupun pemaaf hingga terhadap diri terdakwa dapat dimintakan pertanggungjawaban pidana atas segala yang dilakukannya. Majelis Hakim tidak menemukan hal-hal yang dapat menghapuskan pertanggungjawaban pidana, baik sebagai alasan pembenar dan atau alasan pemaaf, maka Terdakwa harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.
i
III. PENUTUP A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan sebelumnya, maka peneliti menarik kesimpulan dari hasil penelitian sebagai berikut:
1. Pengaturan hukum tentang tindak pidana informasi elektronik Pengaturan dalam Bab XVI tentang Penghinaan berlaku dalam ruang lingkup unsur
„penghinaan dan/atau pencemaran nama baik‟ dalam Pasal 27 ayat (3) UU ITE. Sehingga apabila Pasal 27 ayat 3 UU ITE menyatakan bahwa Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik. Sanksi terhadap orang yang melakukan perbuatan tersebut, sebagaimana diatur Pasal 45 ayat (1) UU ITE, diancam pidana penjara paling lama enam tahun, serta denda maksimal Rp1 miliar.
2. Penerapan sanksi terhadap pelaku tindak pidana dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan informasi elektronik yang memiliki muatan penghinaan, penerapan hukum terutama sanksi pidana terhadap pelaku pencemaran nama baik dalam cybercrime, yang dimana penerapan hukum ini ditinjau dari KUHP dan UU ITE. Penerapan hukum terhadap tindak pidana penghinaan ini menggunakan asas Lex spesialis derogat legi generali yaitu dimana pengaturan pencemaran nama baik di dunia maya yang diatur dalam Pasal 27 ayat (3) dan Pasal 45 UU ITE merupakan “Lex spesialis”
3. Pertanggungjawaban pidana terhadap pelaku dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan informasi elektronik yang memiliki muatan penghinaan (Analisis Studi Putusan Pengadilan Negeri Nomor 1010 /Pid.Sus/2018/PN- Mdn). Penerapan Hukum Pidana Materiil terhadap pelaku tindak Pidana penghinaan dalam putusan tersebut telah sesuai karena telah memenuhi unsur-unsur sebagaimana menurut ketentuan Pasal 27 ayat (3) Jo Pasal 45 ayat (1) UU ITE. Secara subjektif, Terdakwa mampu bertanggung jawab atas perbuatan yang dilakukannya, maka Terdakwa harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Terdakwa mengakui kesalahannya dan mohon untuk dijatuhi pidana yang seringan-ringannya;
Majelis Hakim tidak menemukan hal-hal yang dapat menghapuskan pertanggungjawaban pidana, baik sebagai alasan pembenar dan atau alasan pemaaf, maka Terdakwa harus mempertanggungjawabkan perbuatannya,
sehingga majelis hakim menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa tersebut di atas oleh karena itu dengan pidana penjara selama 6 (enam) bulan. Penulis setuju dengan putusan putusan hakim tersebut karena terdakwa telah memenuhi unsur Setiap orang dan dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik;
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian ini, maka peneliti menyumbangkan saran demi kemajuan pihak-pihak lainnya yang membutuhkan, berikut ini saran-saran dari peneliti:
1. Adanya pengaturan pengaturan hukum tentang tindak pidana informasi elektronik, disarankan kepada pemerintah maupun masyarakat harus bahu membahu bekerja ekstra keras, mengingat dibentuknya tindak pidana penghinaan dalam undang-undang ditujukan untuk memberi perlindungan hukum terhadap tegaknya martabat nama baik dan kehormatan seseorang demi terjaganya kedamaian dan ketentraman batin dalam pergaulan masyarakat.
2. Banyaknya tindak pidana penghinaan melalui media internet, telah membuktikan bahwa minimnya pengetahuan masyarakat akan bahaya atau akibat dari perbuatan tersebut, sehingga saat dimintai pertanggungjawaban mereka tidaklah siap, diharapkan kepada pemerintah dapat gencar melakukan sosialisasi agar masyarakat bersikap bijaksana dalam beraktifitas cyber yang dilakukan oleh pengguna internet.
3. Majelis Hakim dalam menjatuhkan sanksi pidana harus lebih mengedepankan efek jera yang dapat membuat pelaku tindak pidana tidak lagi mengulangi kesalahanya, dan sebagai model pembelajaran bagi masyarakat bahwa suatu ketentuan yang termuat didalam undang-undang memiliki sanksi yang berat sehingga dengan itu akan terciptanya kondisi masyarakat yang taat dan patuh terhadap hukum.
DAFTAR PUSTAKA
Buku
Anwar, Yesmil dan Adang, Kriminologi, Reflika Aditama, Bandung, 2010.
Ibrahim, Johnny. Teori & Metodologi Penelitian Hukum Normatif, Bayumedia Publishing, Malang, 2011.
Mansyur, Dikdik M. Arif dan Elisatris Gultom, Cyber Law Aspek Hukum Teknologi Informasi, Refika Aditama, Bandung, 2005.
Maskun, Kejahatan Siber (Cyber Crime). Kencana Prenada Media Grup, Jakarta, 2013.
Soekanto, Soerjono. Penelitian Hukum, Jakarta, UI Press, 2010.
Soesilo,R. Undang-Undang Hukum Pidana , Politea, Bogor, 1996.
Wawan, Tunggal. Pencemaran Nama Baik, Wartapena, Jakarta, 2012.
Peraturan Perundang-Undangan
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan atas Undang- Undang Nomor I1 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik Sumber Lainnya
Putusan Pengadilan Negeri Nomor 1010 /Pid.Sus/2018/PN-Mdn Jurnal/Artikel/Skripsi
Agus Tri P.H. Cyber Crime dalam Perspektif Hukum Pidana,Skripsi, Surakarta:UMS, 2010.
Edwin Pardede, Kebijakan Hukum Pidana Dalam Upaya Penegakan Tindak Pidana Pencemaran Nama Baik Melalui Twitter. Diponegoro Law Journal Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016.
Galih Puji Mulyono, Kebijakan Formulasi Tindak Pidana Pencemaran Nama Baik Dalam Bidang Teknologi Informasi, Jurnal Cakrawala Hukum, Vol.8, No.2 Desember 2017.
Reydi Vridell Awawangi, Pencemaran Nama Baik Dalam KUHP dan Menurut UU No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Lex Crimen Vol. III/No. 4/Ags-Nov/2014.
Suhartanto, Pertanggungjawaban Pidana Terhadap Tindak Pidana Pencemaran Nama Baik Melalui Media Internet Dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016, Jurnal Pro Hukum, Vol. VI, No. 2, Desember 2017.