APA MISI HIDUP KITA?
Mulyadi
Universitas Gadjah Mada [email protected]
Misi merupakan alasan mengapa kita ada (the reason for being). Misi hidup menjawab pertanyaan mendasar: “Apa alasan kita hidup di dunia ini?” Kita perlu merumuskan misi hidup agar hidup kita terfokus, sehingga kita mampu membuat hidup kita bermakna.
Apa misi hidup kita di dunia ini? Kita diturunkan oleh Tuhan ke dunia ini untuk mewujudkan suatu misi yang unik. Untuk menjadikan unik misi hidup kita ini, kita perlu memahami bahwa semua manusia yang lahir di dunia memiliki misi yang sama: to learn, to live, to love, and to leave a legacy. Dalam menjadikan unik misi hidup kita, kita harus mengisi secara unik setiap kegiatan dalam misi umum tersebut.
Dalam mewujudkan misi hidup, kita pertama kali perlu menggambarkan dalam imajinasi kita apa yang hendak kita tinggalkan sebagai warisan bagi generasi masa depan. Untuk memiliki kemampuan dalam meninggalkan suatu warisan (to leave a legacy) bagi generasi masa depan, kita perlu memiliki kemampuan untuk mencintai (to love) siapa yang kita tuju dalam hidup ini.
Kemampuan untuk mencintai siapa yang kita tuju dalam hidup ini ditentukan oleh kemampuan kita untuk menghayati kehidupan kita (to live our life). Agar kita mampu menghayati secara berkualitas hidup kita, kita perlu senantiasa belajar (to learn) di sepanjang kehidupan kita. Ilmu dan pengetahuan yang kita pelajari kita terapkan dalam perjalanan hidup kita untuk meningkatkan kualitas penghayatan kehidupan kita.
Dengan demikian, kualitas warisan yang kita tinggalkan kepada generasi masa depan ditentukan oleh kemampuan kita untuk belajar ilmu dan pengetahuan apa saja dalam hidup ini, dari ilmu dan teknologi, sampai dengan pengetahuan sosial, ekonomi, manajerial, psikologi, spiritual sampai pengetahuan tentang hidup itu sendiri. Kemampuan kita untuk belajar akan menentukan kualitas kita dalam menjalani kehidupan kita, karena kualitas kita dalam menghayati kehidupan ini tergantung pada ilmu dan pengetahuan yang kita curahkan dalam kehidupan kita. Hanya dengan penerapan ilmu dan pengetahuan ke dalam kehidupan kita inilah perjalanan hidup kita menjadi unik dan unggul. Perjalanan hidup kita harus ditujukan untuk membangun dunia yang lebih indah dan lebih sejahtera dengan menjadikan diri kita sendiri dan orang lain mengalami pertumbuhan spiritual. Cintalah yang mengarahkan perjalanan hidup kita ke kehidupan yang bermanfaat besar bagi orang lain. Kualitas cinta yang kita pancarkan kepada siapa yang kita tuju akan menentukan kualitas warisan yang kita tinggalkan kepada generasi masa depan.
Belajar (To Learn)
Belajar adalah kegiatan pertama dalam misi hidup kita. The beginning is always the most important part of the work (Plato, filsuf Yunani). Mengapa demikian?
Kegiatan belajar, yang mengawali perjalanan misi kita, menentukan kualitas tiga kegiatan lain misi kita (to live, to love, and to leave a legacy). Oleh karena kegiatan belajar menentukan kualitas kegiatan lain misi hidup kita, maka kita perlu menjawab tiga pertanyaan berikut ini: (1) Apa belajar itu? (2) Untuk apa belajar itu, dan (3) Bagaimana belajar itu dilakukan dalam hidup ini.
Pada hakikatnya kegiatan belajar adalah menanamkan sistem keyakinan baru ke dalam pikiran kita. Dengan kata lain, belajar menuntut kita untuk membuang keyakinan lama dan menggantikannya dengan keyakinan baru. Keyakinan adalah rasa kepastian tentang sesuatu dan atas dasar keyakinan tersebut kita melakukan sesuatu. Proses belajar selalu didahului dengan mempertanyakan kebenaran keyakinan yang telah ada dan menggantikannya dengan keyakinan baru atas kebenaran tentang sesuatu tersebut. Sebagai contoh, dahulu penyakit yang terjadi dalam tubuh manusia diyakini sebagai akibat dari darah kotor; oleh karena itu pengobatan penyakit dilakukan dengan mengeluarkan darah kotor dari tubuh manusia. Kemudian keyakinan tersebut ditumbangkan dengan keyakinan baru bahwa penyakit bukan disebabkan oleh darah kotor, namun disebabkan oleh mikrobilogi, sehingga dikembangkan obat antibiotik dan vaksin untuk menyembuhkan atau mencegah penyakit. Keyakinan baru ini sekarang mulai dipertanyakan dengan dikembangkannya pengetahuan tentang DNA (deoxyribose nucleic acid). Pengetahuan tentang DNA inilah yang akan menjadi dasar baru pengobatan penyakit di masa depan, sehingga diperkirakan mulai tahun 2020 nanti manusia akan bebas dari penyakit. Sejarah kehidupan manusia diwarnai dengan kegiatan merobohkan keyakinan lama dan menggantikannya dengan keyakinan baru. Kegiatan belajar merupakan kegiatan pertama dan utama kegiatan hidup manusia.
Belajar adalah kegiatan dehipnotisasi, pencerahan. Semua orang dihipnotis sejak masa kecil oleh budaya tempat mereka dibesarkan. Tugas utama kehidupan dewasa manusia adalah mencerahkan pikiran atau menghilangkan akibat hipnotis masa kecil. Simak kata bijak Willis Harman dan Howard Reingold berikut: All persons are hypnotized from infancy by the culture in which they grow up. The prime task of adult life is dehypnotization, enlightenment. Sebagai contoh, pada usia anak, budaya lingkungan mengajarkan bahwa gerhana matahari merupakan suatu peristiwa pencaplokan bulan oleh seorang raksasa. Oleh karena itu, setiap terjadi gerhana bulan, orang-orang desa segera memukul kentungan dan lesung untuk menimbulkan suara gaduh guna mengusir raksasa yang sedang menelan bulan. Di sekolah, siswa belajar ilmu falak yang mengajarkan bahwa gerhana bulan merupakan peristiwa tertutupnya bulan oleh bayangan bumi. Ilmu dan pengetahuan berfungsi menghilangkan akibat hipnotisasi budaya lingkungan di masa kecil; mencerahkan pikiran orang di usia dewasa. Dengan demikian penjelajahan usia dewasa manusia dipenuhi dengan kegiatan belajar ilmu dan pengetahuan baru untuk menerangi kehidupan mereka; untuk menyempurnakan kualitas kehidupan dewasa mereka.
Belajar dilakukan oleh manusia sepanjang hidup mereka. Mengapa demikian?
Karena belajar pada hakikatnya adalah mencari kebenaran tentang sesuatu dan kebenaran tentang sesuatu itu bersifat relatif, bukan mutlak. Kebenaran yang diterima oleh akal sehat pada suatu saat tidak akan berlangsung selamanya. Selalu terjadi proses mempertanyakan kebenaran yang berlaku, menggantikannya dengan
kebenaran baru, dan menggunakan keyakinan atas kebenaran baru tersebut sebagai basis tindakan.
What is proven today was once an imagination (The Unknown). Apa yang terbukti sekarang merupakan suatu imajinasi di masa lalu. Apa yang terbukti sebagai kebenaran sekarang merupakan suatu imajinasi yang diyakini kebenarannya di masa lalu. Contoh, sebelum manusia menemukan pesawat terbang, keyakinan di masa itu adalah manusia merupakan makhluk yang ditakdirkan untuk hidup di daratan. Wright bersaudara (Orville Wright dan Wilbur Wright) mendobrak keyakinan masyarakat pada masa itu dengan membuat imajinasi bahwa manusia bisa terbang. Melalui belajar keras dan tekun Wright bersaudara membuktikan imajinasi mereka tersebut pada 17 Desember 1903 dengan menciptakan pesawat terbang yang memungkinkan manusia terbang, bukan hanya untuk diri sendiri (seperti burung) namun untuk terbang bersama dengan orang lain.
Oleh karena kita dituntut untuk senantiasa belajar di sepanjang kehidupan kita, maka kita harus membangun kemampuan sebagai pembelajar sepanjang hidup kita (life-long learner). Kemampuan membaca cepat (speed reading) menjadi penentu kemampuan kita sebagai pembelajar sepanjang hidup, karena sebagian besar ilmu dan pengetahuan dikomunikasikan di antara manusia melalui bahasa tulis dan di Jaman Jejaring ini terjadi penciptaan ilmu dan pengetahuan dalam jumlah besar dan dalam waktu cepat.
Bagaimana proses belajar berlangsung? Proses belajar berlangsung melalui empat tingkatan sebagaimana dilukiskan pada Gambar 1 berikut:
TINGKATAN PROSES BELAJAR Tingkat ke-4 Tidak tahu tentang apa yang diketahui Tingkat ke-3 Tahu tentang apa yang diketahui Tingkat ke-2 Tahu tentang apa yang tidak diketahui Tingkat ke-1 Tidak tahu tentang apa yang tidak diketahui
Gambar 1 Tingkatan Proses Belajar
Proses belajar dimulai dari tingkatan yang paling bawah: tidak tahu tentang apa yang tidak diketahui sampai dengan tingkatan tertinggi: tidak tahu tentang apa yang diketahui. Dalam proses belajar tingkatan ke-1, kita berangkat dalam keadaan tidak tahu tentang apa yang tidak kita ketahui. Kita memasuki tahap ke-2 proses belajar jika ada faktor yang menjadi pemicu kesadaran kita bahwa kita menjadi tahu tentang apa yang tidak kita ketahui. Kesadaran inilah yang memacu kita untuk mempelajari sesuatu yang tidak kita ketahui, sehingga kita masuk ke tingkatan ke-3: tahu tentang apa yang kita ketahui. Proses belajar tidak berhenti sampai tingkatan ke-3 ini, namun berlanjut ke tingkatan ke-4: tidak tahu tentang apa yang kita ketahui. Jika pada tingkatan ke-3, kita masih menggunakan pikiran sadar dalam mengetahui apa yang kita ketahui, pada tingkatan ke-4, kita sudah tahu di luar kepala tentang apa yang kita ketahui. Pada tingkatan belajar tertinggi ini, kita sudah menggunakan insting (yaitu insting yang kita peroleh dari proses belajar sebelumnya). Sebagai contoh, orang yang belajar tinju untuk menjadi petinju, bermula dari tidak tahu jenis pukulan tangan apa yang dipakai dalam olah
raga tinju. Kemudian calon petinju ini mempelajari berbagai jenis pukulan tangan yang dipakai dalam olah raga tinju sehingga dia mengetahui pukulan-pukulan tangan yang tadinya belum diketahuinya (tingkatan ke-2). Satu persatu berbagai jenis pukulan tinju dipelajari, dipraktikan dalam latihan, sehingga ia memasuki tingkatan ke-3: tahu tentang berbagai pukulan tinju. Calon petinju ini tidak berhenti hanya sekadar tahu tentang berbagai pukulan tinju, namun berlatih terus- menerus menggunakan berbagai pukulan tinju untuk mencapai tingkatan: tahu di luar kepala tentang berbagai pukulan tinju dan secara instingtif mampu menggunakan berbagai pukulan dalam pertandingan tinju. Dalam pertandingan tinju, petinju dituntut untuk menggunakan berbagai pukulan tinju secara refleks—
refleks yang diperoleh dari latihan secara berkelanjutan. Kehidupan ini sama dengan pertandingan, yang menuntut kita untuk menggunakan ilmu dan pengetahuan secara instingtif, di luar kepala. Kualitas penghayatan kehidupan kita ditentukan seberapa tinggi tingkatan pembelajaran ilmu dan pengetahuan yang kita lakukan.
Menghayati Kehidupan (To Live)
Bagaimana kita menghayati kehidupan ini agar kita mampu menghasilkan manfaat banyak bagi kehidupan ini? Dua mindset yang perlu kita bangun untuk menjadikan hidup kita menghasilkan banyak manfaat bagi kehidupan adalah: (1) kesadaran bahwa usia produktif kita sangat pendek, (2) fokus penghayatan kehidupan adalah pada kegiatan menanam kebaikan untuk membangun dunia yang lebih indah dan lebih sejahtera.
Kesadaran bahwa usia produktif kita adalah pendek menumbuhkan kesadaran tentang tingginya nilai waktu usia produktif kita dalam pengisian kehidupan kita.
Kesadaran ini juga membuat kita bergegas untuk memanfaatkan usia produktif kita dalam menghayati kehidupan ini.
Jika kita telah menyadari tingginya nilai waktu usia produktif kita, kita kemudian memfokuskan pemanfaatan waktu tersebut dalam kegiatan menanam kebaikan untuk membangun dunia yang lebih indah, lebih sejahtera.
Kualitas penghayatan kehidupan ini ditentukan oleh tingginya ilmu dan pengetahuan yang diterapkan dalam penghayatan tersebut. Oleh karena itu, kegiatan pertama dalam menjalankan misi kehidupan kita harus diikuti dengan pemanfaatan ilmu dan pengetahuan yang kita pelajari ke dalam kegiatan pengisian penghayatan kehidupan kita. Simak kalimat bijak orang tidak dikenal berikut ini:
To look is one thing.
To see what you look at is another.
To understand what you see is a third.
To learn from what you understand is still something else.
But to act on what you learn is all that really matters.
(The Unknown)
Penghayatan kehidupan merupakan kegiatan pengisian kehidupan. Setiap orang dianugerahi waktu sama dalam setiap tahunnya untuk diisi, yaitu 24 jam sehari, 7 hari seminggu, dan 52 minggu per tahun. Untuk menjadikan bermakna
pengisian penghayatan kehidupan ini, kita perlu memakai strategi dalam meletakkan penekanan dengan tepat. Ketepatan peletakan tekanan pada dasarnya merupakan pemilihan satu di antara dua pilihan dari setiap lima faktor berikut ini:
1. Pencapaian tujuan jangka pendek versus pencapaian tujuan jangka panjang;
2. Pendahuluan kenikmatan versus penundaan kenikmatan;
3. Penekanan pada sisi gelap kehidupan versus penekanan pada sisi terang kehidupan;
4. Melihat dahulu baru percaya versus percaya dahulu baru melihat;
5. Peletakan kebahagiaan pada waktu menerima uang versus peletakan kebahagiaan pada waktu mengeluarkan uang.
Pencapaian tujuan jangka pendek versus pencapaian tujuan jangka panjang.
Dalam menjalani kehidupan ini orang memiliki kebebasan untuk memilih apakah akan meletakkan tekanan pada pencapaian tujuan jangka pendek atau pada pencapaian tujuan jangka panjang. Jika dalam mengisi kehidupan ini kita memilih strategi peletakan tekanan pada pencapaian tujuan jangka pendek, maka kita cenderung: (1) mendahulukan citra daripada substansi,1 (2) mendahulukan pencapaian hasil-hasil kecil daripada pencapaian hasil-hasil besar.
Di lain pihak strategi peletakan tekanan pada pencapaian tujuan jangka panjang menjanjikan fokus pengisian kehidupan kita pada: (1) hal-hal yang menjadi substansi sesuatu, (2) mendahulukan pencapaian hasil-hasil besar daripada hasil kecil.
Pendahuluan kenikmatan versus penundaan kenikmatan. Dalam menjalani kehidupan ini orang memiliki kebebasan untuk memilih apakah ia akan menekankan pada pendahuluan kenikmatan atau penundaan kenikmatan. Jika penghayatan kehidupan dipenuhi dengan kegiatan dalam menanam kebaikan untuk menjadikan dunia ini lebih indah dan lebih sejahtera, penundaan kenikmatan merupakan tekanan yang perlu diletakkan dalam kehidupan. Pada waktu menamam kebaikan apa pun dalam kehidupan ini kita harus menunda kenikmatan pada awalnya untuk memungkinkan kita memetik hasil tanaman tersebut di kemudian hari. Pencapaian suatu hasil harus didahului dengan pengorbanan sesuatu yang diperlukan, dan pengorbanan tersebut menuntut penundaan kenikmatan. Penundaan kenikmatan merupakan harga yang harus kita bayar untuk menikmati hasil tanaman kita. Kemampuan kita untuk meletakkan tekanan pada penundaan kenikmatan dalam kehidupan ini menentukan keberhasilan kita dalam menciptakan hasil-hasil besar dalam penghayatan kehidupan kita.
Penekanan pada sisi gelap kehidupan versus penekanan pada sisi terang kehidupan. Dalam menjalani kehidupan ini orang memiliki kebebasan untuk memilih apakah ia akan menekankan pada sisi gelap kehidupan atau pada sisi terang kehidupan. Jika kita mendahulukan sisi gelap di dalam mengisi kehidupan ini, banyak hal tidak dapat kita wujudkan, karena sisi gelap akan menghancurkan
1 Apa bahaya yang timbul jika kita berfokus ke pencapaian tujuan-tujuan jangka pendek? Neil H. Snyder, James J. Dowd, Jr., and Dianne Morse Houghton memberikan advis tentang hal ini sebagai berikut: “When leaders are more interested in looking good than in doing what is right and necessary, the results can be catastrophic.”
semangat kita dalam berkarya. Di lain pihak, jika kita mendahulukan sisi terang dalam pengisian kehidupan ini, kita akan mampu menghasilkan karya-karya besar bahkan yang muskil sekali pun. Dengan melihat sisi terang dalam siapa pun atau apa pun yang memasuki kehidupan kita, semangat kita menjadi pemacu usaha kita dalam menciptakan hasil-hasil besar dalam penghayatan kehidupan kita.
Melihat dahulu baru percaya versus percaya dahulu baru melihat. Dalam menjalani kehidupan ini orang memiliki kebebasan untuk memilih apakah ia akan meletakkan tekanan pada melihat dahulu baru percaya atau percaya dahulu baru melihat. Orang yang melihat lebih dahulu baru kemudian percaya tidak pernah akan mampu menciptakan hal-hal baru atau tidak pernah mampu mewujudkan keadaan yang belum pernah dialaminya. Agar kita mampu membuat sejarah dalam menghayati kehidupan ini, maka kita harus meyakini lebih dahulu sesuatu yang baru yang hendak kita ciptakan di masa depan. Melalui usaha keras dan tekun, sesuatu yang baru yang kita yakini tersebut kemudian kita wujudkan, sehingga dapat kita alami, kita lihat, dan kita nikmati.
Peletakan kebahagiaan pada waktu menerima uang versus peletakan kebahagiaan pada waktu mengeluarkan uang. Dalam menjalani kehidupan ini orang memiliki kebebasan untuk memilih apakah ia akan meletakkan kebahagiaan pada waktu menerima uang atau peletakan kebahagiaan pada waktu mengeluarkan uang. Jika orang meletakkan kebahagiaan pada waktu ia menerima uang, maka penekanan ini akan memupuk sifat-sifat mementingkan diri sendiri. Sebagai akibatnya, pengisian perjalanan penghayatan kehidupannya akan dipenuhi dengan hasil-hasil yang berpusat pada diri sendiri. Di lain pihak, jika orang meletakkan kebahagiaan pada waktu ia menggunakan uangnya, maka penekanan ini akan memupuk sifat-sifat mendahulukan kepentingan orang lain. Sebagai akibatnya, pengisian perjalanan penghayatan kehidupannya akan dipenuhi dengan hasil-hasil yang bermanfaat bagi kepentingan orang lain. Agar kita mampu meninggalkan warisan yang bermanfaat bagi generasi masa depan kita perlu meletakkan kebahagiaan pada waktu kita menggunakan uang, bukan pada saat menerima uang.
Mencintai (To Love)
Mencintai2 adalah kemauan orang untuk keluar dari dirinya dengan tujuan untuk merawat pertumbuhan spiritual dirinya maupun diri orang lain. To love adalah kata kerja, yang berarti kegiatan untuk menyalurkan energi keluar dari diri seseorang yang ditujukan untuk merawat pertumbuhan spiritual dirinya dan diri orang lain yang dicintai. Jika seseorang mencintai orang lain (misalnya mencintai anaknya) maka orang tersebut akan mencurahkan waktu utama (prime time), pikiran, dan energinya ke orang lain dengan tujuan agar pertumbuhan spiritualnya sendiri meningkat dan juga pertumbuhan spiritual orang yang dicintainya. Cinta menjadi kateksis yaitu pemusat energi mental seseorang ke orang lain di luar dirinya, sehingga diri orang tersebut meluas ke diri orang yang dicintainya. Orang
2 Love is the will to extent oneself for the purpose of nurturing one’s own and another’s spiritual growth.
(Scott Peck)
yang bermasalah dalam dirinya (harga diri rendah, sakit hati, cemas, tidak bahagia, dan perasaan negatif lain) tidak memiliki kekuatan untuk mencintai orang lain. Cintalah yang merupakan kekuatan dalam mengarahkan perjalanan hidup seseorang untuk menghasilkan sesuatu yang pantas menjadi warisan bagi generasi masa depan
Meninggalkan Suatu Warisan (To Leave A Legacy)
Warisan umumnya diartikan dengan sesuatu yang ditinggalkan oleh orang yang telah meninggal dunia, yang bermanfaat bagi generasi masa depan. Dalam arti luas, warisan adalah prestasi yang dicapai oleh seseorang, sendiri atau bersama dengan orang lain, yang bermanfaat bagi orang lain.
Kepada siapa warisan kita tinggalkan? Setiap orang memiliki lingkar pengaruh (circle of influence). Kepada lingkar pengaruh inilah kegiatan to live, to love, dan to leave a legacy kita tujukan. Hidup kita ini menjadi bermakna jika kita mampu memanfaatkan perjalanan hidup ini untuk memberikan kontribusi dalam membangun dunia yang lebih indah dan lebih sejahtera. Warisan bagi generasi masa depan merupakan jejak kaki yang kita tinggalkan sepanjang perjalanan hidup kita, yang mencerminkan prestasi yang kita capai dalam membangun dunia yang lebih baik.
Penutup
Sebagai penutup tulisan ini, berikut disajikan kutipan kalimat bijak dari orang tidak dikenal:
We are all sent by God on this beautiful planet earth for an unique mission.
Let us ensure that before we leave this planet, we achieve our mission so that we can stand proudly in front of God and looking straight into God’s eyes, say to God "I have done Your job" and with a smile, God will say: “I am proud of you my boy/girl". Remember, we all are here on this earth not only to exist, but also to make a life. All I can say is "Stop Merely Existing, Start Living". A life not only for yourself, but for others too. A life full of meaning, love, peace and harmony.
Our mission is: to learn, to live, to love, and to leave a legacy…. Let us live such a life that we leave footprints in heart of people and we are remembered for generations for our deeds.
(The Unknown)
Jakarta, 25 Desember 2010