BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Bank
Menurut UU Nomor 7 tahun 1992 pasal 1 ayat 1 dan 2 perbankan adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang bank, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta tata cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usaha. Sedangkan bank itu sendiri adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kembali kepada masyarakat dalam bentuk kredit atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan hidup rakyat banyak.
Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa peranan bank dalam masyarakat adalah sebagai penghimpun dana dari masyarakat, penyalur dana dalam bentuk kredit (fungsi intermediasi), dan memperlancar transaksi perdagangan yang dilakukan oleh masyarakat.
B. Fungsi Bank
Secara umum bank memiliki fungsi sebagai lembaga keuangan yang menghimpun dan menyalurkan dari masyarakat dan untuk masyarakat. Disamping itu ada fungsi bank secara spesifik menurut Y. Sri Susilo dkk (2000:6) adalah sebagai berikut:
1. Agent of Development
Fungsi ini berkaitan dengan tanggung jawab bank dalam menunjang kelancaran transaksi ekonomi yang dilakukan oleh setiap pelaku ekonomi.
Dalam kgiatan ekonomi, kegiatan produksi, distribusi, dan konsumsi merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Karena hal ini, bank berfungsi untuk penghubung semua kepentingan pelaku ekonomi dalam melakukan transaksi ekonomi.
2. Agent of Service
Bank merupakan sebuah lembaga yang bergerak dalam bidang jasa.
Disamping memberikan pelayanan jasa keuangan bank juga memberikan pelayanan yang lain seperti jasa transfer (payment order), jasa kotak pengaman (safety box), dan jasa penagihan.
3. Agent of Trust
Fungsi ini menunjukkan bahwa aktifitas intermediasi yang dilakukan oleh bank berdasarkan asas kepercayaan. Kegiatan menghimpun dana harus didasari rasa percaya masyarakat atau disebut nasabah terhadap kredibilitas masing- masing bank untuk menyimpan dana yang dimiliki oleh nasabah tersebut.
Gambar 2.1
Bank Sebagai Financial Intermediary
Berikut ini adalah penjelasan arus perputaran uang yang ada di bank dari masyarakat kembali ke masyarakat, di mana bank sebagai perantara
(Financial Intermediary):
1. Nasabah (masyarakat) yang kelebihan dana menyimpan uangnya di bank dalam bentuk simpanan giro, tabungan, atau deposito. Bagi bank dana yang disimpan oleh masyarakat adalah sama artinya dengan membeli dana. Dalam hal ini nasabah sebagai penyimpan dan bank sebagai penerima titipan simpanan. Nasabah dapat memilih sendiri untuk menyimpan dana apakah dalam bentuk Giro, Tabungan, atau Deposito.
2. Nasabah penyimpan akan memperoleh balas jasa dari bank berupa bunga bagi bank konvensional dan bagi hasil bagi bank yang berdasarkan prinsip syariah. Besarnya jasa bunga dan bagi hasil tergantung dari besar kecilnya dana yang disimpan dan faktor lainnya.
3. Kemudian oleh bank dana yang disimpan oleh nasabah di bank yang bersangkutan disalurkan kembali (dijual) kepada masyarakat yang kekurangan atau membutuhkan dana dalam bentuk pinjaman/kredit.
4. Bagi masyarakat yang memperoleh pinjaman atau kredit dari bank, diwajibkan kembali untuk mengembalikan pinjaman tersebut beserta bunga yang telah ditetapkan sesuai perjanjian antara bank dengan nasabah. Khusus bagi bank yang berdasarkan prinsip syariah pengembalian pinjaman disertai dengan sistem bagi hasil sesuai hukum Islam.
C. Jenis Bank
1. Dilihat dari Segi Fungsinya
Menurut UU Pokok Perbankan Nomor 7 tahun 1992 dan ditegaskan lagi dengan keluarnya UU RI No. 10 Tahun 1998, maka jenis perbankan terdiri
dari:
a. Bank Umum, yaitu bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan/atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Contoh:
BTN, Bank Niaga, Lippo Bank, Panin Bank, dan lain-lain.
b. Bank Perkreditan Rakyat (BPR), yaitu bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Contoh: BPR Rejeki Insani, BPR Sukadana, BPR INA, BPR Suryamas, BPR Bina Langgeng Mulia, dan lain-lain.
Di samping kedua jenis bank dia atas dalam praktiknya masih terdapat satu lagi jenis bank yang ada di Indonesia, yaitu Bank Sentral. Jenis bank ini tidak bersifat komersial seperti halnya Bank Umum dan BPR. Di Indonesia fungsi Bank Sentral dipegang oleh Bank Indonesia (BI). Sebagaimana dimaksudkan dalam UUD 1945 dan diatur dengan UU No. 13 Tahun 1968, Bank Indonesia memiliki tugas pokok membantu pemerintah dalam hal:
a. Mengatur, menjaga dan memelihara stabilitas nilai Rupiah.
b. Mendorong kelancaran produksi dan pembangunan serta memperluas kesempatan kerja.
2. Dilihat dari Segi Kepemilikan
Kepemilikan ini dapat dilihat dari akta pendirian dan penguasaan saham yang dimiliki bank yang bersangkutan. Jenis bank dari segi kepemilikan tersebut adalah:
a. Bank Milik Pemerintah
Di mana baik akta pendirian maupun modalnya dimiliki oleh pemerintah, sehingga seluruh keuntungan bank ini dimiliki oleh pemerintah pula. Contoh: BNI 46, BRI, BTN.
b. Bank Milik Swasta Nasional
Bank ini seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh swasta nasional serta akta pendiriannya pun didirikan oleh swasta, begitu pula pembagian keuntungan untuk keuntungan swasta pula. Contoh: Bank Muamalat, BCA, Bank Bumi Putra, Bank Danamon, dan lain-lain.
c. Bank Milik Koperasi
Kepemilikan saham-saham bank ini dimiliki oleh perusahaan yang berbadan hukum koperasi. Contoh: Bank Umum Koperasi Indonesia.
d. Bank Milik Asing
Bank jenis ini merupakan cabang dari bank yang ada dari luar negeri, baik milik swasta asing maupun pemerintah asing. Jelas kepemilikannya pun dimiliki oleh pihak luar negeri. Contoh: City Bank, Chase Manhattan Bank, Standard Chatered Bank, dan lain-lain.
e. Bank Milik Campuran
Kepemilikan saham bank campuran dimiliki oleh asing dan pihak swasta nasional. Kepemillikan sahamnya secara mayoritas dipegang oleh WNI. Contoh: Sanwa Indonesia Bank (Bank Bali Indonesia dengan Sanwa Bank Jepang), Fuji Internasional Bank (Bank Internasional Indonesia dengan Fuji Bank, Jepang), dan lain-lain.
3. Dilihat dari Segi Status
Kedudukan atau status ini menunjukkan ukuran kemampuan bank dalam melayani masyarakat baik dari segi jumlah produk, modal maupun kualitas pelayanannya. Oleh karena itu, untuk memperoleh status tersebut diperlukan penilaian-penilaian dengan kriteria tertentu.
a. Bank Devisa
Merupakan bank yang dapat melaksanakan transaksi ke luar negara atau berhubungan atau yang berhubungan dengan mata uang asing secara keseluruhan, misalnya transfer ke luar negeri, inkaso ke luar negeri, travellers cheque, pembukaan, dan pembayaran L/C dan transaksi lainnya.
Persyaratan untuk menjadi bank devisa ini ditentukan oleh BI. Contoh:
Bank Bali, Bank BCA, Bank Duta, Bank Niaga, dan lain-lain.
b. Bank Non-Devisa
Merupakan bank yang belum mempunyai izin untuk melaksanakan transaksi sebagai bank devisa, sehingga tidak dapat melaksanakan transaksi seperti halnya bank devisa, di mana transaksi yang dilakukan masih dalam batas-batas negara. Contoh: Bank Nusantara, Bank Arta Graha, Bank Djasa Arta, dan lain-lain.
4. Dilihat dari Segi Cara Menentukan Harga
Jenis bank jika dilihat dari segi atau caranya dalam menentukan harga baik harga jual maupun harga beli terbagi dalam dua kelompok, yaitu:
a. Bank yang Berdasarkan Prinsip Konvensional
Dalam mencari keuntungan dan menentukan harga kepada para nasabahnya, bank yang berdasarkan prinsip konvensional menggunakan dua metode, yaitu:
1) Menetapkan bunga sebagai harga, baik untuk produk simpanan seperti giro, tabungan maupun deposito. Demikian pula harga untuk produk pinjamannya (kredit) juga ditentukan berdasarkan tingkat suku bunga tertentu. Penentuan harga ini dikenal dengan istilah spread based. Apabila suku bunga simpanan lebih tinggi dari suku bunga pinjaman maka dikenal dengan nama negative spread, hal ini telah terjadi di akhir tahun 1998 dan sepanjang tahun 1999.
2) Untuk jasa-jasa bank lainnya pihak perbankan menggunakan atau menerapkan berbagai biaya-biaya dalam nominal atau persentase tertentu. Sistem pengenaan biaya ini dikenal dengan istilah fee based.
b. Bank yang Berdasarkan Prinsip Syariah
Penentuan harga bank yang berdasarkan prinsip syariah terhadap produknya sangat berbeda dengan bank berdasarkan prinsip konvensional.
Bank berdasarkan prinsip syariah menerapkan aturan perjanjian berdasarkan hukum Islam antara bank dengan pihak lain baik dalam hal untuk menyimpan dana atau pembiayaan usaha atau mencari keuntungan bagi bank yang berdasarkan prinsip syariah adalah dengan cara:
1) Pembiayaan berdasarkan prinsip bagi hasil (mudharabah).
2) Pembiayaan berdasarkan prinsip penyertaan modal (musharakah).
3) Prinsip jual beli barang dengan memperoleh keuntungan (murabahah).
4) Pembiayaan barang modal berdasarkan sewa murni tanpa pilihan (ijarah).
5) Atau dengan adanya pilihan pemindahan kepemilikan atas barang yang disewa dari pihak bank oleh pihak lain (ijarah wa iqtina).
D. Kredit
1. Pengertian Kredit
Pengertian kredit dalam bahasa Yunani "Credere" yang berarti
"kepercayaan" atau dalam bahasa latin "Creditum" yang berarti kepercayaan akan kebenaran. Pengertian kredit berdasarkan UU No. 10 Tahun 1998 Pasal 1 Ayat 11 tentang Perbankan adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.
Kredit adalah seseorang atau suatu badan yang memberikan kredit (kreditur) percaya bahwa penerima kredit (debitur) dimasa mendatang akan sanggup memenuhi segala sesuatu yang telah dijanjikan (barang, uang atau barang).
2. Unsur-Unsur Kredit
Menurut Kasmir (2015:84-85) Adapun unsur-unsur yang terkandung dalam pemberian suatu fasilitas kredit adalah sebagai berikut:
a. Kepercayaan
Yaitu keyakinan dari pemberi kredit bahwa kredit yang diberikan berupa uang, barang atau jasa kan benar-benar diterima kembali dalam jangka waktu tertentu di masa yang akan datang.
b. Kesepakatan
Kesepakatan dituangkan dalam suatu perjanjian dimana masing- masing pihak menandatangani hak dan kewajiban masing-masing.
Kesepakatan penyaluran kredit dituangkan dalam akad kredit yang dituangkan dalam akad kredit yang ditangani oleh kedua pihak yaitu pihak bank dan pihak nasabah.
c. Jangka Waktu
Setiap kredit yang diberikan pasti memiliki jangka waktu tertentu, jangka waktu ini mencakup masa pengembalian kredit yang telah disepakati.
d. Resiko
Akibat adanya tenggang waktu, maka pengembalian kredit akan memungkinkan suatu resiko tidak tertagihnya atau macet suatu pemberian kredit. Semakin panjang suatu jangka waktu kredit, maka semakin besar resikonya, demikian pula sebaliknya. Faktor resiko kerugian dapat diakibatkan dua hal yaitu resiko kerugian yang diakibatkan nasabah sengaja
tidak mau membayar kreditnya padahal mampu dan resiko kerugian yang diakibatkan karena nasabah tidak sengaja seperti terkena bencana alam.
e. Balas Jasa
Bagi bank balas jasa merupakan keuntungan atau pendapatan atas pemberian suatu kredit. Dalam bank, balas jasa kita kenal dengan nama bunga. Disamping balas jasa dalam bentuk bunga bank juga membebankan kepada nasabah biaya administrasi kredit yang juga merupakan keuntungan bagi bank.
3. Tujuan dan Fungsi Kredit
Pemberian suatu fasilitas kredit mempunyai tujuan tertentu. Tujuan pemberian kredit tersebut tidak akan terlepas dari misi bank tersebut didirikan.
Menurut Kasmir (2004:12-15) tujuan dan fungsi kredit adalah sebagai berikut:
Tujuan penyaluran kredit antara lain untuk:
a. Turut mensukseskan program pemerintah di bidang ekonomi dan pembangunan.
b. Meningkatkan aktivitas perusahaan agar dapat menjalankan fungsinya guna menjamin terpenuhinya kebutuhan masyarakat.
c. Memperoleh laba agar kelangsungan hidup perusahaan terjamin dan dapat memperluas usahanya.
Adapun tujuan utama pemberian utama suatu kredit adalah sebagai berikut:
a. Mencari Keuntungan
Yaitu bertujuan untuk memperoleh hasil dari pemberian kredit tersebut. Hasil tersebut terutama dalam bentuk bunga yang diterima oleh
pihak bank sebagai balas jasa dan biaya administrasi yang dibebankan kepada nasabah. Keuntungan ini penting untuk kelangsungan hidup bank.
Jika bank yang terus menerus menderita kerugian, maka besar kemungkinan akan di likuidasi atau dibubarkan.
b. Membantu usaha nasabah
Yaitu tujuan lainnya untuk membantu usaha nasabah yang memerlukan dana, baik dana investasi maupun dana untuk modal kerja.
Maka pihak debitur akan dapat mengembangkan dan memperluas usahanya.
c. Membantu pemerintah
Yaitu bagi pemerintah semakin banyak kredit yang disalurkan kepada pihak perbankan, maka semakin baik, meningkat semakin banyak kredit berarti adanya peningkatan pembangunan diberbagai sektor.
Dari tujuan tersebut tersimpul adanya kepentingan yang seimbang antara kepentingan pemerintah, masyarakat (rakyat), dan kepentingan pemilik modal (pengusaha).
Fungsi kredit perbankan dalam kehidupan perekonomian dan perdagangan antara lain :
a. Kredit pada hakikatnya dapat meningkatkan daya guna uang
Dengan adanya kredit dapat meningkatkan daya guna uang maksudnya jika uang hanya disimpan saja tidak akan menghasilkan sesuatu yang berguna dengan diberikannya kredit uang tersebut menjadi berguna untuk menghasilkan barang atau jasa oleh si penerima kredit.
b. Kredit dapat meningkatkan peredaran dan lalu lintas uang
Dalam hal ini uang yang diberikan atau disalurkan akan beredar dari satu wilayah ke wilayah lainnya sehingga suatu daerah kekurangan uang dengan kredit maka daerah tersebut akan memperoleh tambahan uang dari daerah lainnya.
c. Kredit dapat pula meningkatkan daya guna dan peredaran barang Kredit yang diberikan oleh bank akan dapat digunakan oleh si debitur untuk mengolah barang yang tidak berguna menjadi berguna atau bermanfaat.
Kredit dapat pula menambah atau memperlancar arus barang dari satu wilayah ke wilayah lainnya sebingga jumlah barang yang beredar dari satu wilayah ke wilayah lainnya bertambah atau kredit dapat pula meningkat jumlah barang yang beredar.
d. Kredit dapat untuk meningkatkan kegairahan berusaha
Dengan memberikan kredit dapat dikatakan sebagai stabilitas ekonomi karena adanya kredit yang diberikan akan menambah jumlah barang yang diperlukan oleh masyarakat. Kemudian dapat pula kredit membantu dalam mengekspor barang dari dalam negeri ke luar negeri sehingga meningkatkan devisa negara.
e. Kredit sebagai salah satu alat stabilitas ekonomi
Bagi si penerima kredit tentu akan dapat meningkatkan kegairahan berusaha apalagi si nasabah yang memang modalnya pas-pasan.
f. Kredit dapat meningkatkan pemerataan pendapatan
Semakin banyak kredit yang disalurkan, akan semakin baik, terutama dalam hal meningkatkan pendapatan. Jika sebuah kredit diberikan untuk membangun pabrik, maka pabrik tersebut tentu membutuhkan tenaga kerja sehingga dapat pula mengurangi pengangguran. Disamping itu, bagi masyarakat sekitar pabrik juga akan dapat meningkatkan pendapatannya seperti membuka warung atau menyewa rumah kontrakan atau jasa lainnya.
g. Kredit sebagai alat untuk meningkatkan hubungan internasional Dalam hal pinjaman intemasional akan dapat meningkatkan hubungan saling membutuhkan antara si penerima kredit dengan si pemberi kredit. Pemberian kredit oleh negara lain akan meningkatkan kerja sama antar negara satu dengan lainnya.
4. Jenis Kredit
Kredit yang diberikan bank terdiri dari berbagai jenis, seperti yang dikemukakan oleh Kasmir (2004:109-112) bahwa kredit usaha perbankan dapat dikelompokkan ke dalam beberapa jenis, yaitu :
a. Menurut jangka waktu pemberian kredit berdasarkan UU No. 14/1967 Tentang Pokok- Pokok Perbankan:
1) Kredit jangka pendek : 1 tahun
Kredit jangka pendek ini meliputi Kredit Rekening Koran, Kredit Eksploitasi, Kredit Pembeli (Afnemers Credict), Kredit Wessel, dan Kredit Penjualan (Leveranciers Credict).
2) Kredit jangka menengah : 1-3 tahun
Kredit modal kerja dapat diberikan oleh bank untuk membiayai kegiatan-kegiatannya, misalnya untuk membeli bahan baku, upah buruh, dan suku cadang (spare parts) dan lain-lain.
Kredit yang berjangka waktu menengah ini di antaranya adalah kredit kerja permanen (KMKP) yang diberikan oleh bank kepada pengusaha golongan lemah yang berjangka waktu maksimum 3 tahun.
3) Kredit jangka panjang : >3/5 tahun
Kredit jangka panjang ini pada umumnya adalah kredit investasi yang bertujuan menambah modal perusahaan dalam rangka untuk melakukan rehabilitasi, ekspansi (perluasan), dan pendirian proyek baru.
b. Menurut kegunaan kredit :
1) Pinjaman konsumen untuk tujuan konsumtif.
2) Kredit Investasi untuk tujuan investasi.
3) Kredit modal kerja untuk tujuan modal kerja usaha.
4) Kredit usaha kecil untuk tujuan perdagangan golongan menengah kebawah.
5) Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) untuk tujuan pembelian rumah.
6) Kredit Kepemilikan Mobil (KPM) untuk tujuan pembelian mobil.
7) Kredit likuiditas Bank Indonesia yaitu kredit dari Bank Indonesia yang diperuntukkan dari bank-bank pemerintah dan swasta guna disalurkan lagi ke berbagai sektor.
8) Pinjaman komersial untuk tujuan perdagangan komersial.
c. Menurut cara pembayarannya :
1) Pinjaman angsuran yaitu pinjaman dengan pengembalian pinjaman dengan pokoknya melalui cara angsuran bertahap.
2) Pinjaman tetap yaitu pinjaman dengan cara pengembalian pokok pinjaman menrut jangka waktu tertentu.
3) Demand Loan yaitu pinjaman yang dapat ditarik sewaktu-waktu sesuai fasilitas yang tersedia dan pengembaliannya sesuai dengan jangka waktu tertentu.
4) Pinjaman rekening koran yaitu fasilitas kredit yang disediakan oleh bank sesuai mutasi rekening nasabah yang terutama ditujukan untuk menunjang transaksi perdaganganya.
5) Pinjaman Promes (AKSEP) yaitu pinjaman yang didasarkan atas jaminan promes sesuai nominal maupun jatuh tempo pembayarannya.
6) Pinjaman Call Money yaitu pinjaman antar bank yang pembayarannya didasarkan atas nominal dan jangka waktu jatuh temponya sesuai dengan suku bunga yang disepakati.
d. Menurut sifatnya :
4. Pinjaman Sindikasi (Subordinate Loan)
Adalah pembiayaan bersama beberapa bank untuk mempunyai sebuah project financing. Tingkat suku bunganya didasarkan atas interbank effered rate, baik Sibor maupun Libor.
5. Pinjaman Luar Negeri (Off-Share Loan)
Adalah pinjaman dari luar negeri yang dipergunakan untuk pembiayaan suatu proyek dengan tingkat suku bunga yang didasarkan atas interbank offered rate, baik Sibor maupun Libor.
5. Prinsip Kredit
Sebelum suatu fasilitas kredit diberikan, maka bank harus merasa yakin bahwa kredit yang diberikan benar-benar akan kembali. Menurut Teguh Pudjo Muljono (1993:11-17) untuk dapat melaksanakan kegiatan perkreditan secara sehat telah dikenal adanya prinsip 5C atau juga ada yang menyebutnya sebagai prinsip 6C yang meliputi:
a. Character
Suatu pemberian kredit didasari oleh kepercayaan, yaitu keyakinan dari pihak bank bahwa si peminjam memiliki moral, watak, ataupun sifat- sifat pribadi yang positif dan kooperatif dan juga memiliki rasa tanggung jawab dalam kehidupannya sebagai anggota masyarakat ataupun dalam menjalankan usahanya.
b. Capacity
Capacity merupakan suatu penilaian kepada calon debitur mengenai kemampuan melunasi kewajiban-kewajibannya dari kegiatan usaha yang dilakukannya atau kegiatan usaha yang dilakukannya yang akan dibiayai dengan kredit dari bank.
c. Capital
Jumlah dana atau modal sendiri yang dimiliki oleh calon debitur.
Dengan mengetahui jumlah modal dan dari mana modal calon debitur berasal maka pihak bank akan dapat memperkirakan besarnya kredit yang dibutuhkan calon debitur.
d. Collateral
Collateral merupakan barang jaminan yang diberikan oleh debitur sebagai jaminan atas kredit yang diterima. Manfaat jaminan sebagai alat pengamanan bila debitur tidak mampu melunasi kreditnya.
e. Condition of economy
Situasi dan kondisi politik, sosial, ekonomi, budaya, dan lain-lain yang mempengaruhi keadaan perekonomian pada suatu saat yang kemungkinannya akan dapat mempengaruhi kelancaran usaha dari kredit yang dibiayai oleh bank. Penilaian konsep usaha yang dibiayai hendaknya memiliki prospek yang baik, sehingga permasalahan kredit yang muncul relatif kecil.
f. Constraint
Constraint yaitu batasan-batasan atau hambatan-hambatan yang tidak memungkinkan seseorang melakukan bisnis di suatu tempat.
Meskipun prinsip 5C cukup baik, tetapi prinsip constraint ini dapat menjadi pertimbangan.
Sementar itu, penilaian dengan 7P kredit adalah sebagai berikut : a. Personality
Yaitu menilai nasabah dari segi kepribadianya atau tingkah lakunya sehari-hari maupun masa lalunya.
b. Party
Yaitu mengklasifikasikan nasabah kedalam klasifikasi tertentu atau klasifikasi tertentu berdasarkan modal, loyalitas serta karakternya.
c. Purpose
Yaitu mengetahui tujuan nasabah dalam mengambil kredit, termasuk jenis kredit yang diinginkan nasabah.
d. Prospect
Yaitu untuk menilai usaha nasabah dimasa yang akan datang apakah menguntungkan atau tidak, atau dengan kata lain mempunyai prospek atau sebaliknya.
e. Payment
Merupakan ukuran bagaimana cara nasabah mengembalikan kredit yang telah diambil atau dari sumber mana saja dana untuk pengembalian kredit yang diperolehnya.
f. Profitability
Untuk menganalisis bagaimana kemampuan nasabah dalam mencari laba dari usahanya.
g. Protection
Tujuanya adalah bagaimana menjaga krrdit yang dikucurkan oleh bank namun melalui surat perlindungan.
Sehingga dapat disimpulkan kredit adalah semua jenis pinjaman yang harus dibayar kembali berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam- meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak meminjam datang yang pembayarnya disertai dengan suatu kontra prestasi berupa bunga.
6. Manfaat Kredit
Manfaat kredit dapat dirasakan oleh berbagai pihak yang berkepentingan secara langsung maupun tidak secara langsung, antara lain adalah sebagai berikut :
a. Manfaat kredit secara langsung bagi kreditur adalah sebagai berikut : 1) Memperoleh keuntungan.
2) Dapat mengembangkan usaha.
3) Menjaga kestabilan rasio likuiditas kreditur.
4) Dapat merebut pasar.
5) Dapat memasarkan jasa-jasa perbankan.
b. Manfaat kredit secara langsung bagi debitur adalah sebagai berikut : 1) Dapat mengembangkan usaha.
2) Rahasia terjamin.
3) Biaya yang dikeluarkan relatif sedikit.
c. Manfaat kredit secara tidak langsung bagi masyarakat adalah : 1) Lebih mudah memenuhi kebutuhan.
2) Membuka kesempatan kerja.
3) Menambah pendapatan bagi yang berprofesi.
4) Tabungan masyarakat terjamin.
5) Terbayarnya barang dan pasti.
d. Manfaat kredit secara tidak langsung bagi pemerintah adalah :\
1) Penghasilan negara bertambah.
2) Meningkatkan dan meratakan pembangunan.
3) Membuka kesempatan kerja.
4) Sebagai alat pemicu pertumbuhan ekonomi.
7. Prosedur Pemberian Kredit
Prosedur pemberian kredit dibedakan antara pinjaman perseorangan dan badan hukum, yang secara umum dapat di jelaskan sebagai berikut (Kasmir, 2008:105-113):
a. Pengajuan berkas-berkas
Pengajuan proposal kredit berisi antara lain:
1) Latar belakang perusahaan 2) Tujuan pengambilan kredit 3) Besarnya kredit dan jangka waktu 4) Cara pengembalian kredit
5) Jaminan kredit
Selanjutnya proposal ini dilampiri dengan berkas-berkas yang telah dipersyaratkan seperti :
1) Akte Pendirian Perusahaan
2) Bukti diri (KTP) para pengurus dan pemohon kredit 3) Tanda Daftar Perusahaan (TDP)
4) Nomor Pokok wajib Pajak (NPWP)
5) Neraca dan laporan rugi laba 3 tahun terakhir 6) Foto copy sertifikat jaminan
7) Daftar penghasilan bagi perseorangan 8) Kartu Keluarga (KK) bagi perseorangan b. Penyelidikan berkas pinjaman
Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah berkas pinjaman yang diajukan sudah lengkap sesuai persyaratan dan sudah benar. Jika menurut pihak perbankan belum lengkap atau cukup maka nasabah diminta untuk segera melengkapinya dan apabila sampai batas waktu tertentu nasabah tidak sanggup melengkapi kekurangannya, maka sebaiknya permohonan kredit dibatalkan saja.
c. Penilaian Kelayakan Kredit
Penilaian kelayakan suatu kredit dapat dilakukan dengan menggunakan 5C atau 7P, namun untuk kredit yang lebih besar jumlahnya perlu dilakukan metode penillaian dengan Studi Kelayakan. Dalam Studi Kelayakan ini setiap aspek dinilai apakah memenuhi syarat atau tidak.
Apabila salah satu aspek tidak memenuhi syarat maka perlu dilakukan pertimbangan untuk mengambil keputusan.
Adapun aspek-aspek yang perlu dinilai dalam pemberian suatu fasilitas kredit adalah:
1) Aspek Hukum
Dalam aspek ini, tujuannya adalah menilai keaslian dan keabsahan dokumen-dokumen yang diajukan oleh pemohon kredit.
Penilaian aspek hukum meliputi:
a) Akta Notaris
b) Kartu Tanda Penduduk (KTP) c) Tanda Daftar Perusahaan (TDP) d) Izin Usaha
e) Izin Mendirikan Bangunan (IMB) f) Nomor Pokok wajib Pajak (NPWP)
g) Sertifikat-sertifikat yang dimiliki baik sertifikat tanah atau surat-surat berharga
h) Bukti Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB) i) Dan lain-lain
2) Aspek Pasar dan Pemasaran
Merupakan aspek untuk menilai apakah kredit yang dibiayai akan laku di pasar dan bagaimana strategi pemasaran yang dilakukan. Dalam aspek ini yang akan dinilai adalah prospek usaha sekarang dan di masa yang akan datang.
3) Aspek Keuangan
Untuk menilai keuangan perusahaan yang dilihat dari Laporan Keuangan yaitu Neraca dan Laporan Rugi dan Laba 3 tahun terakhir.
Analisis Keuangan meliputi analisis dengan menggunakan rasio-rasio keuangan seperti rasio likuiditas, rasio leverage, rasio aktivitas, rasio profitabilitas dan analisis pulang pokok.
4) Aspek Teknis/Operasi
Dalam aspek ini yang dinilai adalah masalah lokasi usaha, kemudian kelengkapan sarana dan prasarana yang dimiliki, termasuk layout gedung dan ruangan.
5) Aspek Manajemen
Untuk menilai pengalaman peminjam dalam mengelola usahanya, terrnasuk sumber daya manusia yang dimilikinya.
6) Aspek Ekonomi Sosial
Untuk menilai dampak usaha yang diberikan terutama bagi masyarakat luas, baik ekonomi maupun sosial.
7) Aspek AMDAL
Aspek ini sangat penting dalam rangka apakah usaha yang dibuatnya sudah memenuhi kriteria analisis dampak lingkungan terhadap darat, air, dan udara sekitarnya.
d. Wawancara I
Merupakan penyelidikan kepada calon peminjam dengan langsung berhadapan dengan calon peminjam.
e. Peninjauan ke Lokasi (On the Spot)
Merupakan kegiatan pemeriksaan ke lapangan dengan meninjau berbagai obyek yang akan dijadikan usaha atau jaminan. Kemudian hasilnya dicocokan dengan hasil wawancara I.
f. Wawancara II
Merupakan kegiatan perbaikan berkas, jika mungkin ada kekurangan pada saat setelah dilakukan on the spot di lapangan.
g. Keputusan Kredit
Keputusan kredit dalam hal ini adalah menentukan apakah kredit akan diberikan atau ditolak, jika diterima, maka dipersiapkan administrasinya. Biasanya mencakup :
1) Akad kredit yang akan ditandatangani 2) Jumlah uang yang diterima
3) Jangka waktu kredit
4) Biaya-biaya yang harus dibayar
Keputusan kredit biasanya untuk jumlah tertentu merupakan keputusan tim. Begitu pula bagi kredit yang ditolak, maka hendaknya dikirim surat penolakan sesuai dengan alasannya masing-masing.
h. Penandatanganan Akad Kredit/Perjanjian Lainnya
Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari diputuskannya kredit.
Sebelum kredit dicairkan, maka terlebih dulu calon nasabah menandatangani akad kredit, kemudian mengikat jarninan kredit dengan
hipotek atau surat perjanjian yang dianggap perlu. Penandatangan dilaksanakan:
1) Antara bank dengan debitur secara langsung 2) Melalui notaris
i. Realisasi kredit
Diberikan setelah penandatanganan surat-surat yang diperlukan dengan membuka rekening giro atau tabungan di bank yang bersangkutan.
Pencairan atau pengambilan uang dari rekening sebagai realisasi dari pemberian kredit dapat diambil sesuai ketentuan dan tujuan kredit.
Pencairan dana kredit tergantung dari kesepakatan kedua belah pihak dan dapat dilakukan:
1) Sekaligus 2) Secara bertahap 8. Sistem Penyaluran Kredit
Nasabah yang datang ke bank untuk memperoleh kredit, tentu bank tidak langsung memberikan kreditnya begitu saja. Bank memerlukan informasi tentang data-data yang dimiliki calon penerima kredit. Data-data dimaksud penting bagi bank untuk menilai keadaan dan kemampuan nasabah, sehingga menumbuhkan kepercayaan bank dalam memberikan kreditnya.
Adapun yang pertama dilakukan adalah menyampaikan surat permohonan mendapatkan kredit yang berisi antara lain:
a. identitas nasabah bidang usaha nasabah b. jumlah kredit yang dimohon
c. tujuan pemakaian kredit
Di samping surat permohonan tersebut, masih diperlukan data-data lain yang dapat menunjang permohonan nasabah seperti sebagai berikut:
a. susunan pengurus perusahaan nasabah
b. laporan keuangan (neraca dan perhitungan laba/rugi) c. perencanaan proyek yang akan dibiayai dengan kredit d. barang jaminan yang dapat diagunkan
Dengan adanya data-data penunjang, bank dapat menilai kemampuan nasabah dalam mengelola usahanya. Bank juga dapat menilai kemampuan nasabah terhadap kredit yang diminta apakah nantinya dapat mengembalikan atau tidak. Peranan bank dalam bidang perkreditan, bukan semata-mata memberikan kredit asal ada jaminannya yang cukup, tetapi bank juga mem- bina usaha nasabah, agar kelancaran usaha nasabah kredit bank dapat berjalan dengan lancar.
Setelah mengetahui secara sepintas lalu bagaimana nasabah mengajukan permohonan kredit akan dibicarakan mengenai sistem pemberian kredit bank. Dalam Undang-undang No. 7 Tahun 1992 telah mengatur sistem pemberian kredit bank sebagaimana Pasal 8 yang berbunyi sebagai berikut:
“Dalam memberikan kredit, Bank Umum wajib mempunyai keyakinan atas kemampuan dan kesanggupan debitur untuk melunasi utangnya sesuai dengan yang diperjanjikan”. Bahwa ketentuan tersebut bukan hanya berlaku bagi Bank Umum, melainkan berlaku juga bagi Bank Perkreditan Rakyat (Pasal 15).
Tadi disebutkan bahwa dalam sistem pemberian kredit, didasarkan atas keyakinan bank atas kemampuan dan kesanggupan nasabah untuk membayar utangnya. Untuk memperoleh keyakinan tersebut, maka sebelum memberikan kredit, bank harus melakukan penilaian dengan seksama terhadap watak kemampuan, modal agunan, dan prospek usaha dari debitur.
Dalam dunia perbankan kelima faktor yang dinilai tersebut dikenal dengan sebutan "the five of credit analysis" atau prinsip 5 C (Character, Capacity, Capital, Collateral, dan Condition economy). Cara penilaian yang demikian bukan hal baru, karena dalam UU No. 14 Tahun 1967 telah mengaturnya dan bank telah mempraktekannya selama ini.
Namun dalam UU No. 7 Tahun 1992, apabila berdasarkan unsur-unsur lain telah dapat memperoleh keyakinan atas kemampuan debitur mengembalikan utangnya, agunan dapat hanya berupa barang, proyek, atau hak tagih yang dibiayai dengan kredit yang bersangkutan. Bank tidak wajib meminta agunan berupa barang yang tidak berkaitan langsung dengan obyek yang dibiayai, yang lazim dikenal dengan "agunan tambahan".
Jadi setelah berlakunya UU Perbankan yang baru, walaupun mengandalkan keyakinan bahwa debitur mampu mengembalikan utangnya, tetapi jaminan kredit tetap merupakan salah satu faktor yang tidak dapat ditinggalkan sama sekali.
E. Kredit Pemilikan Rumah (KPR)
Fasilitas KPR adalah salah satu bentuk dari kredit konsumer yang dikenal pula dengan nama “housing loan”. Pemberian fasilitas ini untuk konsumen yang
memerlukan papan, digunakan untuk kepentingan pribadi, keluarga atau rumah tangga, tidak ditujukan untuk yang bersifat komersial dan tidak memiliki pertambahan nilai barang dan jasa di masyarakat. (Ibrahim Johannes, 2004:229)
1. Karakteristik KPR
Kredit Pemilikan Rumah (KPR) memiliki dua karakteristik ditinjau dari hubungan antara konsumen dengan pengembang dan konsumen (atau calon debitur) dengan bank dalam kaitannya dengan pembiayaan.
i. Hubungan antara konsumen dengan pengembang.
Konsumen yang mendatangi pengembang atas rekomendasi dan rujukan dari pihak bank ataupun secara langsung mendatangi pengembang, tetap harus bersikap hati-hati dan memperhatikan:
1) Pertama, lokasi pengembang apakah berada dalam area yang strategis atau tidak?
2) Kedua, rencana induk atau master plan. Konsumen berhak untuk menanyakan kepada pengembang terhadap master plan lahan yasan pengembang. Hal ini berguna untuk mengetahui perkembangan wilayah tersebut masa mendatang.
3) Ketiga, infrastruktur, sarana dan fasilitas. Konsumern sebaiknya melihat sekeliling lokasi perumahan tersebut, apakah seluruh sarana dan fasilitas yang dibutuhkan telah tersedia. Misalnya, jaringan telepon, listrik, air, fasilitas olah raga, umum, pendidikan formal, dan informal serta kawasan lainnya sebagai pelengkap berupa fasilitas komersial dan kawasan pusat niaga.
4) Keempat, pelayanan purna jual. Konsumen harus meneliti secara seksama apakah pelayanan purnal jual atau tidak. Biasanya, layanan purna jual ini diberikan oleh pengembang yang memiliki reputasi baik.
5) Kelima, status hukum tanah dan bangunan. Kejelasan status hukum tanah perlu diprioritaskan oleh konsumen untuk memperoleh kepastian atas hak tanah yang dimilikinya. Umumnya bila pengembang berbentuk badan hukum, status tanah sertifikat induk lokasi berupa Hak Guna bangunan (HGB) dan akan dilakukan pemecahan (splitsing) sesuai kavling yang dipilih konsumen. Selain sertifikat hasil pemecahan, dokumen hukum lainnya sebagai bukti kepemitikan yang harus dimiliki oleh konsumen adalah Surat Ijin Mendirikan Bangunan (SIMB) berikut denah bangunan dan cetak biru atau blue print dan Surat Ijin Penggunaan Bangunan.
Setelah konsumen mempelajari hal-hal tersebut di atas dan meyakini lokasi pengembang tersebut merupakan yang terbaik dan paling sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya, saatnya untuk menetapkan pilihan. Pengembang dan konsumen, akan menyepakati:
a) Fasilitas pembiayaan atas Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang dimohonkan melalui bank dan pembayaren uang muka atau down payment yang harus diserahkan pada pengembang sesuai jadwal yang disepakati bersama.
b) Penandatanganan akta jual beli dan pengurusan atas pemecahan sertifikat induk atas nama pengembang menjadi nama konsumen sesuai dengan kavling yang dipilih konsumen. Dalam melakukan transaksi jual beli hingga kepengurusan sertifikat, biasanya pihak pengembang telah menyiapkan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) yang ditunjuk.
ii. Hubungan antara konsumen dan bank.
Hubungan konsumen dan bank, dimulai saat konsumen mendatangi pihak bank untuk memperoleh fasilitas kredit bagi pembiayaan untuk pemilikan rumah yang disediakan pihak bank. Dalam mengajukan fasilitas ini, konsumen harus memperhatikan:
1) Fasilitas yang dapat diperoleh konsumen.
Untuk mengajukan fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR) konsumen harus menyediakan uang muka atau down payment minimal yang dipersyaratkan oleh pihak bank. Sisa kewajiban yang harus diselesaikan terhadap pihak pengembang merupakan pagu atau plafond kredit yang dimohonkan. Dalam mengajukan fasilitas kredit ini, pendapatan yang menjadi persyaratan, baik dari gaji yang diperoleh bagi karyawan atau keuntungan yang diperoleh bagi seorang wiraswasta.
Fasilitas yang tepat akan sangat bermanfaat, sehingga konsumen perlu mendiskusikan dengan pejabat bank yang memproses kredit dan pihak
ketiga yang memahami persoalan kredit sebagai opini kedua atau second opinion.
2) Hak dan kewajiban konsumen (calon debitur).
Hak dan kewajiban dari konsumen (calon debitur) adalah berbanding kebalikannya dengan hak dan kewajiban bank yang dituangkan dalam perjanjian kredit. Dalam perjanjian kredit, hak dan kewajiban tersebut terdiri atas:
a) Fasilitas kredit yang diberikan oleh pihak bank kepada debitur sebesar yang disetujuinya, tujuan penggunaan kredit ditegaskan untuk pembelian tanah dan bangunan;
b) Suku bunga pinjaman yang ditetapkan pada saat penanda- tanganan perjanjian kredit. Suku bunga pinjaman ini dihitung dengan berbagai cara sesuai dengan kebijaksanaan bank masing- masing. Besarnya suku bunga akan menentukan angsuran bulanan. Suku bunga kredit tidak berlaku tetap, karena bank mencantumkan klausula ”Besarnya angsuran sewaktu-waktu dapat berubah sesuai dengan besarnya tingkat suku bunga pinjaman atau sebesar yang ditentukan oleh bank dan diberitahukan secara tertulis kepada debitur";
c) Pembayaran kredit konsumtif dilakukan secara angsuran, yang disesuaikan dengan tanggal penandatanganan akta perjanjian kredit dan setiap keterlambatan akan dikenakan denda yang dihitung berdasarkan setiap hari keterlambatan tersebut;
d) Penyerahan atas tanah dan bangunan yang dibiayai sebagai jaminan bank dan akan diikat dengan Hak Tanggungan. Atas jaminan tersebut, konsumen tidak diperkenankan untuk menyewakan kepada pihak lain, dijual atau dengan cara apapun juga dibebankan atau dialihkan kepada pihak lain tanpa persetujuan tertulis dari pihak bank.
2. Jenis KPR
Di Indonesia, saat ini dikenal ada dua jenis KPR yaitu:
i. KPR Subsidi
Yaitu suatu kredit yang diperuntukkan pada masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah dalam rangka memenuhi kebutuhan perumahan atau perbaikan rumah yang telah dimiliki.
Bentuk subsidi yang diberikan berupa subsidi meringankan kredit (subsidi selisih bunga) dan subsidi untuk menambah dana pembangunan atau perbaikan rumah (subsidi uang muka).
Secara umum Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Tentang Pengadaan Perumahan dan Pemukiman Dengan Dukungan Fasilitas Subsidi Perumahan Melalui KPRS/KPRS Mikro Bersubsidi terdiri dari pasal-pasal yang mengatur tentang skim subsidi, bunga subsidi, maksimum KPRS, tenor KPRS, minimun uang muka, minimum dan maksimum pinjaman, serta kelompok sasaran subsidi berdasarkan penghasilan dan harga jual rumah, sehingga
melalui regulasi ini tidak setiap masyarakat yang mengajukan kredit dapat diberikan fasilitas subsidi.
ii. KPR Non Subsidi
Yaitu suatu KPR yang diperuntukan bagi seluruh masyarakat yang ingin membeli rumah atau memperbaikinya. Ketentuan KPR Non Subsidi ditetapkan oleh bank, sehingga penentuan besarnya maksimal kredit maupun suku bunga dilakukan sesuai kebijakan bank yang bersangkutan. KPR non subsidi adalah KPR yang tidak dibantu atau disubsidi pemerintah sehingga besar suku bunganya tergantung kebijakan pihak bank.
F. Daftar
1. Pengertian Efektivitas
a. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
Efektif merupakan sesuatu yang berpengaruh dan dapat membawa hasil atau berhasil guna.
b. Menurut Dunn
Efektivitas adalah suatu kriteria yang menunjukkan bahwa suatu alternatif yang direkomendasikan mempunyai hasil yang baik atau memberikan pengaruh sesuai yang diinginkan.
c. Menurut Chapin dan Kaiser
Efektivitas juga dapat dilihat dari kemampuannya untuk memecahkan masalah dan kemampuannya untuk bisa dilaksanakan.
Definisi di atas menunjukkan bahwa efektivitas mencerminkan sebuah kondisi yang merupakan hasil dari sebuah penilaian dengan tolok ukur tertentu.
Hasil penilaian efektivitas dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan keputusan di masa mendatang. Hal ini senada dengan pendapat Sawicki yang menyebutkan bahwa efektivitas dapat digunakan sebagai alat evaluasi di masa mendatang.
Gambar 2.2
Efektivitas Sistem Penyaluran KPR
Jadi, efektivitas mencerminkan kinerja suatu hal (kebijakan, sistem, pedoman, dan lain-lain) yang dapat berpengaruh pada keberlanjutan pelaksanaannya pada masa mendatang. Pengukuran dan penilaian efektivitas dapat dilihat dari:
a. Ketersediaan sumber daya
Sistem dikatakan efektif jika didukung ketersediaan sumber daya.
Ketersediaan sumber daya tersebut dapat dilihat berdasarkan ketersediaan infrastruktur finansial pendukung sistem pembiayaan tersebut yang mencakup:
1) Sumber pembiayaan perumahan jangka panjang.
2) Lembaga keuangan yang terlibat dalam sistem pembiayaan KPR.
EFEKTIVITAS
Keluaran Sistem (Output Sistem) 1. Evaluasi Output
2. Pengoptimalan dan Perbaikan Sistem
3) Kebijakan atau regulasi yang mengatur pembiayaan KPR.
b. Kemudahan mekanisme
Suatu sistem dikatakan efektif jika mekanisme pembiayaan untuk penyediaan perumahan dalam sistem tersebut mudah dijalankan oleh stakeholder yang terkait dalam sistem pembiayaan ini. Stakeholder yang dimaksud yaitu:
1) Lembaga keuangan (bank penyalur KPR)
2) Pengembang (perumnas dan pengembang swasta) 3) Masyarakat (kelompok sasaran perumahan) c. Keterjangkauan
Suatu sistem pembiayaan dikatakan efektif jika terjangkau oleh masyarakat. Keterjangkauan terhadap perumahan merupakan kemampuan dan kemauan suatu rumah tangga untuk untuk mengeluarkan sebagian pendapatannya untuk biaya perumahan. Keterjangkauan ini memperhatikan beberapa hal diantaranya :
1) Pendapatan masyarakat yang berkaitan dengan kemampuan membayar.
2) Harga yang harus dibayar untuk pengadaan perumahan.
d. Ketepatan sasaran
Sistem pembiayan KPR dapat dikatakan efektif jika memiliki kemampuan ketepatan sasaran, yaitu tepatnya penyediaan perumahan bagi keluarga/rumah tangga yang baru pertama kali memiliki rumah.
e. Kemampuan memecahkan masalah
Sistem pembiayaan KPR dapat dikatakan efektif jika memiliki kemampuan untuk memecahkan permasalahan dalam penyediaan perumahan yaitu :
1) Belum beroperasinya sumber pembiayaan perumahan jangka panjang.
2) Adanya mismatch dalam mekanisme pembiayaan, yaitu dana jangka pendek.
3) Digunakan untuk membiayai kredit perumahan (KPR) jangka panjang.
4) Terbatasnya lembaga keuangan yang terlibat pada sistem pembiayaan KPR.
5) Rendahnya posisi tawar dan akses masyarakat berpenghasilan rendah terhadap sistem pembiayaan dalam penyediaan rumah.
G. Sistem dan Prosedur 1. Pengertian Sistem
Istilah sistem berasal dari bahasa Latin (systēma) dan bahasa Yunani (sustēma) yang artinya adalah himpunan bagian atau unsur yang saling berhubungan secara teratur untuk mencapai tujuan bersama. Terdapat dua kelompok pendekatan dalam mendefinisikan sistem yaitu:
a. Menekankan pada komponen atau elemennya
Pendekatan sistem yang lebih menekankan pada elemen atau komponennya mendefinisikan sistem sebagai berikut:
“Sistem adalah kumpulan dari elemen-elemen yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan tertentu.”
Pendekatan sistem yang merupakan kumpulan dari elemen-elemen atau komponen-komponen atau subsistem-subsistem merupakan definisi yang lebih luas dan lebih banyak diterima karena pada kenyataannya suatu sistem terdiri dari beberapa subsitem atau sistem-sistem bagian. Komponen- komponen atau subsistem-subsistem dalam suatu sistem tidak dapat berdiri sendiri, semuanya saling berinteraksi dan saling berhubungan membentuk satu kesatuan sehingga sasaran sistem dapat tercapai.
b. Menekankan pada prosedurnya
Pendekatan sistem yang lebih menekankan pada prosedur mendefinisikan sistem sebagai berikut ini:
“Suatu sistem adalah suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan atau untuk menyelesaikan suatu sasaran yang tertentu.”
Pendekatan sistem yang merupakan jaringan kerja dari prosedur lebih menekankan urut-urutan operasi di dalam sistem. Suatu sistem pasti mempunyai tujuan atau sasaran. Kalau suatu sistem tidak mempunyai sasaran, maka operasi sistem tidak akan ada gunanya. Sasaran dari sistem sangat menentukan sekali masukan yang dibutuhkan sistem dan keluaran yang akan dihasilkan sistem. Suatu sistem dikatakan berhasil bila mengenai sasaran atau tujuannya. Para ahli mendefinisikan sistem sebagai berikut:
1) John F. Nash dan Martin B. Roberts
Suatu sistem adalah sebagai suatu kumpulan komponen yang berinteraksi membentuk suatu kesatuan dan keutuhan yang komplek di dalam tingkat tertentu untuk mengejar tujuan yang umum.
2) Menurut Robert A. Leitch dan K. Roscoe Davis.
Sistem adalah suatu kumpulan dari elemen-elemen (orang, perangkat keras, informasi, dan lain lain) diorganisasikan untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
3) Menurut Richard F. Neuschel
Sistem adalah suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan dikembangkan sesuai dengan suatu skema yang terintegrasi untuk melaksanakan suatu kegiatan utama di dalam bisnis.
Dari semua definisi diatas dapat disimpulkan bahwa sistem erat kaitannya dengan prosedur.
2. Pengertian Prosedur
Prosedur adalah sebuah perintah yang dapat digunakan untuk membagi beberapa kejadian dalam suatu kumpulan perintah yang lebih kecil dangan berbagai kelengkapan di dalamnya baik itu pengecekan kondisi, fungsi matematika manpun fungsi string. Dengan menggunakan prosedur atau fungsi dapat menghemat banyak ruang dalam dan menghindari pengetikan kode yang berulang-ulang. Prosedur (procedure) didefinisikan oleh :
a. Richard F. Neuschel
Suatu prosedur adalah suatu urut-urutan operasi klerikal (tulis- menulis), biasanya melibatkan beberapa orang di dalam satu atau lebih departemen, yang diterapkan untuk menjamin penanganan yang seragam dari transaksi-transaksi bisnis yang terjadi.
b. Jerry Fitz Gerald, Ardra F. FitsGerald dan Warren D. Stallings Jr Suatu prosedur adalah urut-urutan yang tepat dari tahapan-tahapan instruksi yang menerangkan apa (what) yang harus dikerjakan, siapa (who) yang mengerjakannya, kapan (when) dikerjakan dan bagaimana (how) mengerjakannya.”
Dari definisi sistem dan prosedur di atas, secara implisit prosedur juga mengandung elemen-elemen atau komponen- komponen dari sistem, yaitu apa dan siapa, serta dapat pula diambil kesimpulan bahwa suatu sistem terdiri dari jaringan prosedur, sedangkan jaringan prosedur merupakan urutan kegiatan klerikal. Kegiatan klerikal terdiri dari kegiatan menulis, menggandakan, menghitung, memberi kode, mendaftar, memilih/mensortir, memindah, dan membandingkan yang dilakukan untuk mencatat informasi dalam formulir, buku jurnal, dan buku besar.
3. Komponen Sistem
Suatu sistem terdiri dari sejumlah komponen yang saling berinteraksi, yang artinya saling bekerjasama membentuk satu kesatuan. Berikut adalah komponen-komponen umum dalam suatu sistem:
a. Batas Sistem (Boundary)
Batas sistem (boundary) merupakan daerah yang membatasi antara suatu sistem dengan sistem yang lainnya atau dengan lingkungan luarnya.
Batas sistem ini memungkinkan suatu sistem dipandang sebagai satu kesatuan. Batas suatu sistem menunjukkan ruang lingkup (scope) dari sistem tersebut.
b. Lingkungan Luar Sistem (Environments)
Lingkungan luar dari suatu sistem adalah apapun diluar batas dari sistem yang mempengaruhi operasi sistem. Lingkungan luar sistem dapat bersifat menguntungkan dan dapat juga bersifat merugikan sistem tersebut.
Lingkungan luar yang menguntungkan merupakan energi dari sistem dan dengan demikian harus tetap dijaga dan dipelihara. Sedang lingkungan luar yang merugikan harus ditahan dan dikendalikan, kalau tidak maka akan menggangu kelangsungan hidup dari sistem.
c. Penghubung (Interface) Sistem
Penghubung sistem merupakan media penghubung antara satu subsistem dengan subsistem lainnya. Melalui penghubung ini memungkinkan sumber-sumber daya mengalir dari satu subsistem ke yang lainnya. Keluaran (output) dari satu subsistem akan menjadi masukan (input) untuk subsistem lainnya dengan melalui penghubung. Dengan penghubung satu subsistem dapat berintegrasi dengan subsistem yang lainnya membentuk satu kesatuan.
d. Masukan (Input) Sistem
Masukan sistem adalah energi yang dimasukkan ke dalam sistem.
Masukan dapat berupa masukan perawatan (maintenance input) dan masukan sinyal (signal input). Maintenance input adalah energi yang dimasukkan supaya sistem tersebut dapat beroperasi. Signal input adalah energi yang diproses untuk didapatkan keluaran.
e. Keluaran (Output) Sistem
Keluaran sistem adalah hasil dari energi yang diolah dan diklasifikasikan menjadi keluaran yang berguna dan sisa pembuangan.
Keluaran dapat merupakan masukan untuk subsistem yang lain atau kepada supersistem.
f. Pengolah (Process) Sistem
Suatu sistem dapat mempunyai suatu bagian pengolah yang akan merubah masukan menjadi keluaran. Suatu sistem produksi akan mengolah masukan berupa bahan baku dan bahan-bahan yang lain menjadi keluaran berupa barang jadi. Sistem akuntansi akan mengolah data-data transaksi menjadi laporan-laporan keuangan dan laporan-laporan lain yang dibutuhkan oleh manajemen.
g. Sasaran (Objectives) atau Tujuan (Goal)
Suatu sistem pasti mempunyai tujuan atau sasaran. Kalau suatu sistem tidak mempunyai sasaran, maka operasi sistem tidak akan ada gunanya. Sasaran dari sistem sangat menentukan sekali masukan yang
dibutuhkan sistem dan keluaran yang akan dihasilkan sistem. Suatu sistem dikatakan berhasil bila mengenai sasaran atau tujuannya.
4. Pengendalian Sistem
Pengendalian sistem diwujudkan dengan menggunakan umpan balik (feedback), yang mencuplik keluaran. Umpan balik ini digunakan untuk mengendalikan baik masukan maupun proses. Tujuannya adalah untuk mengatur agar sistem berjalan sesuai dengan tujuan. Ada tiga jenis pengendalian sistem yaitu:
a. Pengendalian Sistem Umpan Balik Mundur (Feedback Control System) Pengendalian umpan balik merupakan proses mengukur keluaran dari sistem yang dibandingkan dengan suatu standar tertentu. Bilamana terjadi perbedaan-perbedaan atau penyimpangan-penyimpangan akan dikoreksi untuk memperbaiki masukan sistem selanjutnya.
b. Sistem Pengendalian Umpan Maju (Feed Forward Control System) Sistem pengendalian umpan maju disebut juga dengan istilah positive feedback (umpan balik positif). Positive feedback mencoba mendorong proses dari sistem supaya menghasilkan hasil balik yang positif.
Sistem pengendalian umpan maju ini merupakan perkembangan dari sistem pengendalian umpan balik. Di dalam sistem pengendalian umpan balik, pengendalian dilakukan setelah keluaran dihasilkan.
Agar keluaran dapat dihasilkan umpan balik yang positif, maka pengendalian tidak boleh diukur dari keluarannya, tetapi diukur dan dikendalikan dari prosesnya. Selama proses terjadi di dalam sistem, selalu
dilakukan pengamatan dan cepat-cepat diatasi bila mulai terjadi penyimpangan sebelum terlanjur fatal pada keluarannya.
c. Sistem Pengendalian Pencegahan (Preventive Control System)
Bila sistem pengendalian umpan balik dikendalikan keluarannya dan sistem pengendalian maju mengendalikan prosesnya, maka sistem pengendalian pencegahan mencoba untuk mengendalikan sistem di muka sebelum proses dimulai dengan pencegahan hal-hal yang merugikan untuk masuk ke sistem.