• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUBUNGAN ELEMEN PERANCANGAN KOTA DENGAN PLACE ATTACHMENT JL. IR. H. JUANDA, KOTA BOGOR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "HUBUNGAN ELEMEN PERANCANGAN KOTA DENGAN PLACE ATTACHMENT JL. IR. H. JUANDA, KOTA BOGOR"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN ELEMEN PERANCANGAN KOTA DENGAN PLACE ATTACHMENT JL. IR. H.

JUANDA, KOTA BOGOR

Maratus Sholihah Fitria, Johannes Parlindungan, Deni Agus Setyono Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Jalan Mayjen Haryono 167 Malang 65145 -Telp (0341)567886 Email: [email protected]

ABSTRAK

Kota Bogor memiliki misi yakni melestarikan warisan budaya sebagai aset kota, dimana salah satu wilayah dengan bangunan cagar budaya terbanyak adalah koridor Jl. Ir. H. Juanda. Namun terdapat ancaman untuk mewujudkan pelestarian aset cagar budaya di Kota Bogor ini yaitu banyaknya investor yang mengembangkan fasilitas kota dengan mengubah citra ruang sehingga berpengaruh terhadap kondisi atau kualitas elemen kota yang ada.

Sementara itu, perubahan elemen kota diperkirakan mempengaruhi place attachment masyarakat dikarenakan hubungan manusia, citra dirinya dan karakteristik lingkungan sekitarnya berpengaruh pada keterikatan pada suatu tempat. Dalam penelitian ini, diuraikan pengaruh elemen kota di Ir. H. Juanda sebagai kawasan cagar budaya terhadap place attachment masyarakatnya dengan analisis crosstab. Berdasarkan hasil penelitian, dapat diketahui bahwa place attachment masyarakat di Jl. Ir. H. Juanda pada segmen 1 memiliki kategori rendah dan segmen 2 memiliki kategori tinggi. Perbedaan tersebut dikarenakan pada segmen 2 lebih memiliki guna lahan yang beragam serta fasilitas yang lebih memadai seperti jalur pedestrian. Selain itu, terdapat 28 indikator dari elemen perancangan kota yang berpengaruh terhadap place attachment, sebagai contoh pada indikator jalan yang mengakomodir pedestrian yang berpengaruh pada segmen 2 dikarenakan memiliki kondisi jalur pejalanan kaki yang lebih baik dibandingkan dengan segmen 1 dan dapat mengakomodir aktivitas di segmen 2.

Kata Kunci : Elemen-Perancangan-Kota , Place-Attachment, Koridor-Cagar-Budaya , Jalan-Ir. H. Juanda ABSTRACT

Bogor City has a mission to preserve cultural heritage as a city asset, where one of the areas with the most cultural heritage buildings is the Jl. Ir. H. Juanda. However, there is a threat to realize the preservation of cultural heritage assets in Bogor City, namely the number of investors who develop city facilities by changing the image of space so that it affects the condition or quality of existing city elements. Meanwhile, changes in urban elements are thought to affect the place of community attachment because human relationships, self-image and the characteristics of the surrounding environment affect attachment to a place. In this study, describes the influence of urban elements in Ir. H. Juanda as a cultural heritage area to the place of community attachment with crosstab analysis. Based on the research results, it can be seen that the community attachment place on Jl. Ir. H. Juanda in segment 1 has a low category and segment 2 has a high category. This difference is due to the fact that segment 2 has more diverse land uses and more adequate facilities such as pedestrian paths. In addition, there are 28 indicators of city design elements that affect place attachments, for example on road indicators that accommodate pedestrians that affect segment 2 because it has better walking path conditions compared to segment 1 and can accommodate activities in segment 2.

Keywords: Urban-Design-Elements , Place-Attachment , Heritage-Corridor , Ir. H. Juanda-Street

PENDAHULUAN

Kota Bogor merupakan salah satu kota yang memiliki misi yaitu menjadikan warisan budaya sebagai aset kota sebagaimana diuraikan pada RPJMD Kota Bogor Tahun 2015-2019.

Selanjutnya berdasarkan P3KP Ditjen Penataan Ruang (2013), salah satu daerah di Kota Bogor yang dipertahankan menjadi Kawasan Cagar Budaya adalah kawasan Kebun Raya Bogor yang berada pada koridor Jl. Ir. H. Juanda. Pada zaman

penjajahan Belanda, koridor Jl. Ir. H. Juanda merupakan daerah pusat pemerintahan hingga sekarang (Danasasmita, 1983). Namun pada saat ini, bangunan bersejarah di Jl. Ir. H. Juanda, banyak yang mengalami alih fungsi mengikuti kebutuhan masyarakat Bogor sehingga aktivitas yang berkembang menjadi lebih beragam. Selain itu, banyaknya investor yang mengembangkan fasilitas kota sehingga memunculkan permasalahan baru pada koridor ini, salah satunya adalah dibangunnya gedung tinggi

(2)

berlantai lebih dari 8, baliho serta elemen kota lainnya yang mengubah karakteristik/citra ruang yang selama ini terbentuk dan melekat kuat pada koridor Jl. Ir. H. Juanda (RPKP Kota Bogor, 2015).

Di sisi lain, Kota Bogor ingin meningkatkan fungsi kawasan penyangga kebun raya secara fisik, visual dan ekologis, dengan menerapkan konsep perancangan kota, yang menjadikan Bogor sebagai pusat pengetahuan dan penelitian bidang pertanian dan botani, menumbuhkan aktivitas MICE (Meeting, Incentives, Conferences, Exhibition). Dalam hal ini, perlu diperhatikan perubahan elemen kota untuk dapat meningkatkan place attachment untuk menggambarkan keterikatan terhadap fungsional tempat dan juga emosional. Oleh karena itu, dalam penelitian ini dilakukan pengamatan terkait dengan kondisi elemen kota yang ada di koridor Jl. Ir. H. Juanda dengan place attachment masyarakatnya.

METODE PENELITIAN Lokasi Penelitian

Koridor Jl. Ir. H. Juanda yang terletak pada Kelurahan Paledang, Kecamatan Bogor Tengah.

Ruas jalan ini mengelilingi Kebun Raya Bogor pada sisi/bagian barat. Berdasarkan data dari RTRW Kota Bogor Tahun 2011-2031, pada koridor Jl. Ir.

H. Juanda terdapat 11 bangunan cagar budaya dari total 26 bangunan cagar budaya yang ada di Kota Bogor. Selain itu, koridor Jl. Ir. H. Juanda saat ini juga merupakan koridor strategis ekonomi di Kota Bogor.

Deliniasi wilayah studi penelitian ditentukan berdasarkan kebijakan penataan ruang khusus kawasan pusaka Kota Bogor.

Deliniasi ini juga mempertimbangkan persebaran kawasan cagar budaya, yakni pembagian kawasan pusaka Kota Bogor dan kawasan prioritas. Pada akhirnya wilayah studi dibagi menjadi 2 segmen.

Gambar 1. Peta Wilayah Studi

Variabel Penelitian

Variabel penelitian didapatkan dari tujuan penelitian dan akan dijabarkan lagi menjadi indikator sesuai dengan kondisi eksisting wilayah studi. Variabel penelitian dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Variabel Penelitian

Tujuan Variabel Sumber Kategori 1. Mengidentifikas

i place

attachment index Koridor Jl.

Ir. H. Juanda, Kota Bogor

• Place dependence

Williams dan Vaske (2003)

Ordinal 1: Rendah 2: Sedang 3: Tinggi

• Place identity

2. Mengetahui hubungan elemen perancangan kota terhadap place

attachment pada koridor jl.

Ir. H. Juanda di kawasan cagar budaya kebun raya bogor

• Guna lahan

• Sirkulasi dan parkir

• Bentuk dan massa bangunan

• Ruang terbuka dan tata hijau

• Rambu- rambu, papan reklame dan tanda penunjuk

• Activity Support

• Jalur pejalan kaki

• Konservasi

Shirvani (1985)

Ordinal 1: Sangat tidak setuju 2: Tidak setuju 3: Netral 4: Setuju 5: Sangat setuju

Populasi dan Sampel

Dengan pertimbangan populasi pada koridor Jl. Ir. H. Juanda yang tidak dapat ditentukan, maka besarnya anggota sampel yang digunakan dalam penelitian ini ditentukan dengan menggunakan metode linear time function. Metode ini merupakan penentuan jumlah sampel berdasarkan estimasi kendala waktu (Pattisinai, 2016). Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh sampel sebesar 112 orang.

Pada penelitian ini, pengumpulan data menggunakan dua metode yaitu kuesioner (angket) dan observasi. Metode angket digunakan untuk mendapatkan data berupa persepsi masyarakat terhadap place attachment dan faktor elemen perancangan kota di Koridor Jl.

Ir. H. Juanda. Sementara itu, observasi untuk mendapatkan data pendukung eksisting dan analisis deskriptif.

Metode Analisis Analisis Deskriptif

Pada analisis deskriptif menjabarkan persebaran kondisi eksisting dari tiap elemen

(3)

perancang kota. Setelah itu mengkorelasikan dengan hasil wawancara dari responden sebagai data pendukung dalam analisis lainnya serta menghitung rata-rata dan frekuensi jawaban responden. Menurut Furchan (2004), penelitian deskriptif memiliki karakteristik yaitu cenderung menggambarkan suatu fenomena apa adanya dengan cara menelaah secara teratur dan detail serta tidak adanya perlakuan yang diberikan atau dikendalikan.

Analisis Place Attachment

Tujuan dari analisis place attachment adalah mengidentifikasi place attachment responden di Koridor Jl. Ir. H. Juanda, Kota Bogor.

Perhitungan berasal dari variabel di Place Attachment Index (PAI). Berdasarkan teori Williams dan Vaske (2003), set kuesioner untuk place attachment index terdapat pada tabel 2.

Tabel 2. Indikator Place Attachment Index

No Place Attachment Index

Place Identity 1. I feel (place name) is a part of me 2. (Place name) is very special to me.

3. I identify strongly with (place name).

4. I am very attached to (place name)

5. Visiting (place name) says a lot about who I am.

6. (Place name) means a lot to me.

Place Dependence

7. (Place name) is the very best place for what I like to do.

8. No other place can compare to (place name).

9. I get more satisfaction out of visiting (place name) than any other.

10. Doing what I do at (place name) is more important to me than doing it in any other place.

11. I wouldn’t substitute any other area for doing the types of things I do at (place name)

12. The things I do at (place name) I would enjoy doing just as much at a similar site.

Sumber: Williams dan Vaske (2003)

Perhitungan persentase persetujuan menurut Sugiyono (2012) adalah sebagai berikut:

𝑝 =𝑓𝑛 × 100%...(1-1) Di mana:

P : Persentase

F : Frekuesi dari setiap pertanyaan angket N : Jumlah skor ideal (30)

Setelah menemukan skor place attachment pada tiap 112 responden, maka digunakan klasifikasi pada tingkatan place attachment dengan 3 kategori yaitu tinggi, sedang, rendah menggunakan rumus kuartil bawah, atas dan tengah. Dengan rumus sebagai berikut:

𝑄𝑖 = 𝑖 ×𝑛

3 , 𝑖 = 1, 2………...………….(1-2) 𝑄𝑖 : Nilai kuartil

𝑖 :Batas ke 1 atau 2

n :Jumlah range (maksimal-minimal; 6720- 1344 = 5376)

Dari perhitungan tersebut didapatkan kategori:

Tabel 3. Kategori nilai Place Attachment

Kategori Jumlah skor (%)

Rendah 20,00 – 46,00

Sedang 46,00 – 73,00

Tinggi 73,00 – 100

Analisis Crosstab

Menurut Indratno & Irwinsyah (1998), untuk melihat hubungan antar variabel atau faktor bergantung kepada jenis data yang digunakan dalam perencanaan wilayah dan kota.

Analisis crosstab merupakan suatu prosedur pada uji statistik untuk melihat hubungan antar variabel atau faktor sekaligus memperoleh besarnya derajat keterhubungan dan asosiasi antar variabel atau faktor yang diukur. Analisis crosstab dilakukan pada indikator place identity dan place dependence kepada tiap indikator di elemen perancangan kota.

HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden

Identitas responden berdasarkan usia diinformasikan melalui distribusi frekuensi dan penjelasan berikut:

Gambar 2. Karakteristik Responden Berdasarkan Umur

Berdasarkan data, dari 112 pengunjung koridor sebagian besar pengunjung koridor Jl. Ir.

H. Juanda dalam penelitian ini berusia 11 sampai 20 tahun. Hal tersebut berkorelasi dengan data responden berdasarkan pekerjaan. Berdasarkan grafik tersebut dapat dilihat bahwa responden banyak yang berasal dari pelajar SMPN 1 Bogor, SMAN 1 Bogor, Regina Pacis, mahasiswa Institut Pertanian Bogor Kampus Baranangsiang yang melakukan aktivitas berolahraga, serta karyawan perkantoran di Jl. Ir. H. Juanda. Pada segmen 2

(4)

responden didominasi pelajar dan karyawan karena didominasi oleh pendidikan serta perdagangan dan jasa sehingga persentase pada umur 11-20 tahun lebih banyak di segmen 2. Hal tersebut berkorelasi dengan data responden berdasarkan pekerjaan pada gambar 3.

Gambar 3. Karakteristik Responden berdasarkan Pekerjaan

Responden berdasarkan kegiatan yang dilakukan di Jl. Ir. H. Juanda dengan aktivitas terbanyak adalah aktivitas olahraga karena Jl. Ir.

H. Juanda memiliki jalur pedestrian serta jalur sepeda yang konsisten sepanjang sisi kiri koridor sehingga banyak warga Kota Bogor yang memilih untuk melakukan aktivitas olahraga di Jalan Ir. H.

Juanda. Persentase pada segmen 2 lebih banyak dengan aktivitas sekolah dikarenakan pada segmen 2 didominasi guna lahan berupa pendidikan yaitu SMAN 1 Bogor, SMPN 1 Bogor dan Regina Pacis. Aktivitas tersebut dapat dilihat pada gambar 4.

Gambar 4. Karakteristik Responden Berdasarkan Aktivitas

Sementara itu, karakteristik responden berdasarkan intensitas berkunjung menunjukkan bahwa responden terbanyak memiliki intensitas berkunjung lebih dari 5 kali atau dapat dikatakan sering. Untuk responden yang memiliki jumlah kunjungan kurang dari 3 kali adalah responden yang berkegiatan rekreasi museum dan sebagian dari responden yang berolahraga. Pada segmen 2 banyak yang memiliki intensitas berkunjung lebih dari 5 kali karena responden lebih banyak dari

pelajar dan pekerja di Jl. Ir. H. Juanda. Sedangkan pada segmen 1 responden paling banyak adalah mobile users atau pengunjung tidak tetap.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa karakteristik responden adalah sebagian besar berumur dalam rentang 11-20 tahun dengan pekerjaan terbanyak adalah mahasiswa dan pelajar karena berada pada kawasan pendidikan dan dekat dengan Intitut Pertanian Bogor dengan kegiatan dominan adalah olahraga karena memiliki fasilitas jalur sepeda dan trotoar yang baik sehingga intensitas yang dilakukan lebih dari 5 kali.

Gambar 5. Karakteristik Responden berdasarkan Intesitas Berkunjung

Elemen Perancangan Kota di Jl. Ir. H. Juanda Tata Guna Lahan

Koridor Jalan Ir. H. Juanda pada RTRW Kota Bogor Tahun 2011-2031, dikatakan sebagai kawasan strategis ekonomi dengan spesifikasi sebagai kawasan pusat kota dan sub pusat kota.

Pada kondisi eksisting apabila dibandingkan dengan rencana pola ruang Kota Bogor tahun 2011-2031 maka perkembangan guna lahan saat ini telah sesuai dengan peraturan yang ada.

Perbedaan antara segmen 1 dan 2 adalah pada keragaman guna lahan. Pada segmen 1 didominasi perdagangan dan jasa, sedangkan segmen 2 lebih beragam. Kondisi guna lahan eksisting dapat dilihat pada tabel 4.

Tabel 4. Jenis Guna Lahan Jl. Ir. H. Juanda

Jenis Guna Lahan Jumlah

unit Luas (Ha) Persentase luas lahan

Sarana ibadah 3 1,17 7%

Lahan Kosong 2 0,5 3%

Parkir 1 0,14 1%

Pendidikan 3 2,85 16%

Perdagangan dan Jasa 21 5,88 33%

Pemerintahan dan

Pelayanan Umum 13 5,14 29%

Sarana Rekreasi dan

Kebudayaan 4 1,22 7%

Ruang Terbuka Hijau 3 1,11 6%

Total 50 18,046

Sumber: Survei primer, 2020

(5)

Tata dan Massa Bangunan

Pada hasil observasi ketinggian bangunan di Jl. Ir. H. Juanda terdiri dari 4-32 meter dengan rentang jumlah lantai antara 1-8 lantai. Namun secara umum, ketinggian bangunan didominasi oleh bangunan yang memiliki jumlah lantai 1-5.

Terkait dengan gaya bangunan maka pada wilayah studi terdapat gaya bangunan kolonial, eropa dan modern.

(a) (b)

Gambar 6. Tinggi Bangunan Keterangan:

(a) Bangunan lantai 1 di segmen 1 (b) Bangunan lantai 5 di segmen 2

Sedangkan material bangunan didominasi oleh material batu bata. Pada bagian warna bangunan tone di Jl. Ir. H. Juanda berupa putih, krem dan abu abu. Perbedaan antara segmen 1 dan 2 adalah pada segmen 1 terdapat 1 bentuk bangunan kolonial dan bangunan lainnya adalah bangunan dengan gaya modern.

Sementara pada segmen 2, terdapat 5 bangunan bergaya eropa dan 3 bangunan bergaya kolonial dan bangunan tersebut memang telah masuk surat ketetapan (SK) bangunan cagar budaya kecuali 2 bangunan.

(a) (b)

Gambar 7. Gaya Bangunan Keterangan:

(a) Bangunan gaya eropa (b) Bangunan gaya kolonial

Responden yang memilih nilai tinggi mengatakan bahwa bangunan di sepanjang Jl. Ir.

H. Juanda memang beragam untuk ketinggian, gaya, tekstur dan warna bangunan namun sudah terlihat rapi. Hal tersebut didapatkan dari responden yang mendapatkan nilai place attachment tinggi dan membuktikan bahwa seragam atau tidaknya ketinggian, gaya, tekstur dan masih bisa dikatakan selaras/harmonis

antara bangunan lainnya. Responden mengatakan bangunan penting untuk diperhatikan karena mendukung para pengunjung yang berwisata di Jl. Ir. H. Juanda untuk merasa nyaman karena selain melihat rusa di kanan jalan juga dapat melihat bangunan- bangunan kuno.

Sirkulasi dan Parkir

Kondisi jalan Ir. H. Juanda memiliki fungsi sebagai arteri sekunder dengan menggunakan Sistem Satu Arah (SSA). Lebar jalan Ir. H Juanda sebesar 12 meter namun yang membedakan adalah lebar jalur pedestrian dan mediannya.

Pada segmen 1, terdapat bottle neck karena adanya median sebesar 3 meter dan membagi jalan menjadi 2 dengan lebar awal 20 meter menjadi 12 meter kanan, 3 meter median dan 5 meter jalan di sebelah kiri. Sementara segmen 2 memiliki lebar jalan yang sama sepanjang koridor.

Untuk angkutan umum terdapat 11 trayek dan persebaran parkir terdapat 1 titik parkir on street dan 2 titik parkir off street pada segmen 1.

Berdasarkan PP no. 34 Tahun 2006, ruas arteri sekunder didesain berdasarkan kecepatan rencana paling rendah 30 km/jam, lebar badan jalan minimal 11 meter. Dengan melihat peraturan tersebut, maka koridor Jalan ir. H.

Juanda sudah sesuai dengan peraturan tersebut.

Jalan yang berada di pusat kota dan dekat dengan pintu tol, menjadikan Jl. Ir. H. Juanda mudah untuk diakses.

Gambar 8. Penampang segmen 1

Gambar 9. Penampang segmen 1

(6)

Gambar 10. Penampang segmen 2 Ruang Terbuka Hijau (RTH)

Pada Jl. Ir. H. Juanda, RTH publik terdiri 1 taman kota dan 2 median jalan dengan total 1,113 Ha dengan presentase 6% dari total kesuluran lahan di kawasan penelitian namun deliniasi tidak termasuk dengan Kebun Raya Bogor. Pada RTH privat memiliki persentase yang tinggi. Hanya terdapat 2 bangunan yang melanggar. RTH privat memiliki persentase yang besar dikarenakan karakteristik bangunan di Jl. Ir.

H. Juanda memiliki garis sempadan muka bangunan yang lebar yaitu sekitar 8 meter dari jalan. Untuk persentase RTH privat dapat dilihat pada gambar 11.

Gambar 11. Persentase RTH Privat Jalur Pedestrian

Terdapat fasilitas pelengkap jalanan yaitu lampu penerangan jalan, tempat duduk, tempat sampah dan jalur hijau. Pada kondisi eksisting sudah memenuhi dari Peraturan Menteri PU No.

03/PRT/M/2014, namun bagian sisi kiri koridor Jl.

Ir. H. Juanda tidak memiliki perabot lengkap seperti tempat sampah dan tempat duduk. Serta menurut responden, jalur pejalan kaki belum bisa dikatakan aman karena beberapa kali terjadi aksi kejahatan karena kurangnya pos polisi pada segmen 1. Kondisi kurangnya vegetasi yang berada di Jl. Ir. H. Juanda pada segmen yang tidak memiliki median yaitu segmen 2 sehingga hanya terdapat vegetasi dari Kebun Raya Bogor.

(a) (b)

Gambar 12. Jalur Pejalan Kaki Keterangan:

(a) Jalur Pedestrian bagian kiri jalan segmen 1 (b) Jalur Pedestrian bagian kanan jalan segmen 2 Signage

Sistem penanda pada Jl. Ir. H. Juanda terdapat 3 jenis utama yaitu penanda bangunan, papan arah jalan dan rambu. Tiap jenis memiliki berbagai bentuk. Contoh dari jenis signage pada wilayah studi sebagai berikut:

(a) (b)

Gambar 13. Jenis Signage Keterangan:

(a) Rambu

(b) Penanda Bangunan

Kondisi dan jumlah signage pada segmen 1 terdapat 4 signage yang tidak sesuai dengan arah pandang pengunjung. Hal tersebut dikarenakan, Jl. Ir. H. Juanda pada awalnya merupakan jalan 2 arah dan dijadikan menjadi sistem satu arah.

(a) (b)

Gambar 14. Peta Persebaran Signage Keterangan:

(a) Peta Segmen 2 (b) Peta Segmen 1 Activity Support

Activity support adalah aktivitas pendukung dari kegiatan perkantoran, pendidikan dan fungsi lainnya di Jl. Ir. H. Juanda.

(7)

Pada Kordior Jl. Ir. H. Juanda terdapat acitivty support berupa Pedagang Kaki Lima (PKL) dan terdapat 6 titik PKL di sepanjang koridor. Salah satu titik PKL sudah ditata yaitu pada segmen 2.

(a) (b)

Gambar 15. Acticity Support Jl. Ir. H. Juanda Keterangan:

(a) PKL tertata segmen 2 (b) PKL segmen 1 Konservasi

Kondisi bangunan cagar budaya pada Jl.

Ir. H. Juanda terdapat 9 bangunan. Di mana bangunan tersebut banyak yang telah berubah fasad bangunannya yaitu pada bangunan SMAN 1 Bogor dan SMPN 1 Bogor. Upaya memperbaiki bangunan kuno terdapat di Museum Zoologi, Balaikota Bogor, Regina Pacis, Hotel Salak dan Gereja Zebaoth dengan melapisi cat bangunan yang telah rusak.

(a) (b)

Gambar 16. Bangunan Cagar Budaya Keterangan:

(a) SMAN 1 Bogor (b) Sekolah Regina Pacis

Dalam dokumen RPKP Kota Bogor Tahun 2015 dijelaskan juga indikasi program penataan Kawasan Cagar Budaya Kebun Raya Bogor dan Istana adalah menjaga bentuk, karakteristik, serta suasana di Kebun Raya Bogor dengan preservasi bangunan bersejarah, preservasi sumbu monumentalitas di dalam istana serta preservasi tanaman tua dan bersejarah.

Analisis Place Attachment Jl. Ir. H. Juanda Analisis deskriptif terkait variabel place attachment diinformasikan melalui distribusi frekuensi dari tiap indikator serta karakteristik dari responden. Hasil analisis sebagai berikut:

Tabel 5. Distribusi Jawaban Responden pada Place Attachment

Item Mean

nilai Y.1 (Saya merasa tempat ini adalah bagian dari diri saya)

3.73

Y.2 (Tempat ini sangat spesial bagi saya 3.60 Y.3 (Saya sangat mengenali/familiar dengan tempat ini.)

3.99

Y.4 (Saya sangat betah dan terikat dengan tempat ini.) 3.77 Y.5 (Tempat ini mampu merepresentasikan diri saya) 3.46 Y.6 (Tempat ini sangat berarti bagi saya) 3.57 Y.7 (Tempat ini adalah tempat terbaik untuk melakukan kegiatan yang saya sukai.)

3.59

Y.8 (Tidak ada tempat lain yang dapat menandingi tempat ini.)

2.72

Y.9 (Saya merasa sangat nyaman berada di tempat ini dibandingkan dengan berada di tempat lain.)

3.21

Y.10 (Saya lebih memilih melakukan hal yang saya sukai di tempat ini dibandingkan dengan di tempat lain.)

2.97

Y.11 (Saya tidak memilih tempat lain untuk menghabiskan waktu dan melakukan hal yang saya suka selain di tempat ini.)

2.62

Y.12 (Saya akan merasa nyaman menghabiskan waktu dan melakukan hal yang saya sukai pada tempat yang serupa dengan tempat ini.)

3.60

Seperti pada tabel 5, Y1 sampai Y6 yang merupakan indikator untuk place identity dan Y7- Y12 untuk place dependence dicari tiap persentasenya dan dihitung tiap responden. Dari hasil perhitungan untuk responden didapatkan masing-masing persentase. Lalu persentase place identity dan place dependence ditambah dan dibagi dua untuk mendapatkan nilai place attachment per individu. Setelah setiap responden mendapatkan persentase maka akan dikategorikan menjadi 3 kategori. Kategori place attachment dibagi menjadi 3 quartil yaitu tinggi sedang rendah. Sehingga didapatkan persentase tingkatan place attachment seperti pada gambar 17.

Gambar 17. Place Attachment Responden Jalan Ir. H. Juanda

Berdasarkan gambar 17, dapat disimpulkan dari place attachment per-segmen, maka segmen 2 memiliki persentase terbesar untuk kategori place attachment tinggi, sebesar 70% untuk segmen 2 di kategori tinggi.

Sedangkan pada segmen 1 memiliki place

(8)

attachment pada kategori rendah dan sedang dengan jumlah yang besar. Perbedaan place attachment pada segmen 1 dan 2 dikarenakan adanya perbedaan keragaman fungsi guna lahan dan berbagai fasilitas lainnya seperti jalur pejalan kaki. Selain itu, fungsi guna lahan pada segmen 2 didominasi perkantoran dan sekolah yang menyebabkan responden memiliki jangka waktu yang lama saat mengunjungi Jl. Ir. H. Juanda.

Place Dependence

Menurut William & Vaske (dalam Utami, 2017), ketergantungan pada tempat atau place dependence merefleksikan pentingnya sebuah tempat (place) dalam menyediakan fasilitas dan fitur yang mendukung tujuan spesifik atau aktivitas yang diinginkan. Pada segmen 1, place dependence yang memiliki persentase tersebesar adalah pada kategori rendah sebesar 33% dari total keseluruhan responden.

Gambar 18 Place Dependence Responden Jalan Ir. H. Juanda

Sementara untuk segmen 2 memiliki persentase terbesar dari total keseluruhan responden adalah pada kategori tinggi dengan persentase yang sama yaitu 33%. Perbedaan antara segmen 1 dan 2 dikarenakan pada segmen 1 kualitas pada elemen perancangan kota masih belum mencapai standar seperti pada jalur pejalanan kaki, kondisi bangunan, ruang terbuka hijau dan lain sebagainya.

Place Identity

Place identity dapat diartikan sebagai cara orang menggabungkan tempat ke dalam identitas mereka atau indera mereka. Sehingga pada analisis crosstab place identity akan lebih cenderung kepada pembentukan makna suatu tempat responden. Jika dikaji dengan satuan unit segmen, maka persentase terbesar pada segmen 1 dari total keseluruhan responden adalah pada kategori tinggi dengan persentase 31,25%.

Sementara pada segmen 2 memiliki persentase

terbesar yaitu pada kategori tinggi dengan persentase 42%.

Gambar 19 Place Identity Responden Jalan Ir. H.

Juanda

Fungsi guna lahan pada segmen 2 didominasi perkantoran dan sekolah yang menyebabkan responden memiliki jangka waktu yang lama saat mengunjungi Jl. Ir. H. Juanda, sehingga memori terhadap Jl. Ir. H. Juanda lebih kuat. Sedangkan pada segmen 1, responden merupakan pengunjung yang bertujuan untuk belanja dan perjalanannya bersifat sementara.

Pada place identity dapat dilihat makna suatu tempat ke dalam identitas mereka atau indera mereka

Place Attachment Berdasarkan Kegiatan Responden

Berdasarkan jumlah, place attachment kategori tinggi paling banyak adalah dengan kegiatan olahraga. Namun bila dipersentasekan, responden dengan kegiatan sekolah memiliki persentase kategori place attachment tinggi paling banyak. Responden di Jl. Ir. H. Juanda didominasi kegiatan berolahraga karena pada jalan tersebut terdapat jalur pejalanan kaki dan jalur sepeda di sekeliling Kebun Raya Bogor dengan kondisi baik sehingga banyak warga Kota Bogor memakai Jl. Ir. H. Juanda untuk aktivitas olahraga.

Gambar 20 Tingkatan Place Attachment Terhadap Kegiatan Responden

(9)

Place Attachment Berdasarkan Intensitas Berkunjung

Prediktor paling konsisten dari keterikatan tempat adalah jumlah waktu yang dihabiskan seseorang di tempat itu. Keterikatan tempat biasanya cenderung diperkuat dengan interaksi positif yang terakumulasi, dan kenangan yang bertambah setelah berbulan-bulan dan bertahun-tahun. Seiring waktu, tempat menjadi rujukan untuk masa lalu, memberikan individu rasa kesinambungan; fenomena ini dikenal sebagai kontinuitas rujukan tempat. Pada data tersebut juga berimbang antara indikator intensitas kurang dari tiga kali dengan indikator lebih dari lima kali. Hal tersebut dikarenakan, beberapa responden yang mengunjungi lebih dari tiga kali memiliki memori atau kenangan yang membuat keterikatan terhadap Jl. Ir. H. Juanda tersebut tinggi. Keterikatan tempat biasanya tidak terbentuk secara instan, tetapi cenderung diperkuat dengan interaksi positif yang terakumulasi dan kenangan yang bertambah setelah berbulan-bulan dan bertahun-tahun.

Gambar 21 Tingkatan Place Attachment Terhadap Intensitas Berkunjung Place Attachment Berdasarkan Pekerjaan

Pada hasil data didapatkan indikator karyawan dan mahasiswa memiliki persentase kategori place attachment tinggi paling besar.

Pada indikator karyawan, tidak terdapat responden yang memiliki kategori place attachment rendah. Hal tersebut dikarenakan tingginya nilai place dependence atau responden memiliki ketergantungan terhadap tempat tersebut karena menurut responden jalan tersebut merupakan sumber pendapatan bagi responden. Pada jumlah data place attachment tinggi paling banyak dari mahasiswa karena lokasi tersebut dekat dengan Kampus Baranangsiang IPB. Nilai tinggi pada karyawan dan mahasiswa dikarenakan memori dan interaksi positif yang

terakumulasi. Berdasarkan hasil tabulasi data antara place attachment index dengan indikator pekerjaan terdapat pada gambar 22.

Gambar 22 Tingkatan Place Attachment Terhadap Pekerjaan

Place Attachment Berdasarkan Pekerjaan

Jika berdasarkan data, paling banyak responden dengan kategori place attachment tinggi merupakan responden dari Kota Bogor.

Namun apabila berdasarkan tabulasi data dengan persentase di tiap indikator, persentase untuk tiap indikator hampir sama untuk kategori tinggi.

Hal tersebut dikarenakan banyaknya responden yang berkunjung di Jl. Ir. H. Juanda karena jalan tersebut memiliki jalur pedestrian yang nyaman untuk berolahraga dan beberapa fasilitas lainnya yang membedakan dengan tempat lainnya sehingga keterikatan tidak bergantung kepada lokasi tempat tinggalnya pada studi kasus ini.

Variabel yang membuat responden memiliki place attachment tinggi yaitu pada place dependence karena datangnya pengunjung dari luar bogor maupun di dalam kota bogor karena adanya fasilitas jalur pejalanan kaki untuk berolahraga.

Gambar 23 Tingkatan Place Attachment Terhadap Lokasi Tempat Tinggal Uji Instrumen Penelitian

Validitas

Dalam menguji validitas instrumen dapat digunakan analisis pearson product moment. Jika

(10)

r hitung > r tabel maka instrumen tersebut valid.

R tabel didapatkan dengan cara melihat jumlah responden penelitian pada tabel yang terdapat nilai pada signifikansi 5% sehingga didapatkan r tabel: 0,176. Sehingga berdasarkan hasil uji tersebut didapatkan bahwa, semua instrumen penelitian memiliki r hitung > r tabel sehingga dapat dikatakan instrumen tersebut valid.

Reliabilitas

Pada pengujian ini menggunakan formula koefisien cronbach alpha. Suatu instrumen dikatakan reliabel ketika nilai cronbach alphanya didapatkan > 0,6. Sehingga analisis dilakukan per variabel. Hasil dari uji reliabilitas adalah semua variabel dapat dikatakan reliabel karena nilai

>0,6.

Tabel 6. Hasil Uji Reliabilitas

Variabel

Uji Reliabilitas Cronbach’s

Alpha

Batas Keterangan Tata Guna Lahan 0,742 0,600 Reliabel Bentuk dan Massa

Bangunan

0,811 0,600 Reliabel

Sirkulasi dan Parkir 0,659 0,600 Reliabel Ruang Terbuka Hijau 0,840 0,600 Reliabel Jalur Pedestrian 0,721 0,600 Reliabel

Signage 0,859 0,600 Reliabel

Activity Support 0,719 0,600 Reliabel

Konservasi 0,941 0,600 Reliabel

Analisis Crosstab

Menurut Indratno & Irwinsyah (1998), analisis crosstab adalah analisis untuk melihat hubungan antar variabel atau faktor bergantung kepada jenis data yang digunakan dalam perencanaan wilayah dan kota. Prosedur tabulasi silang digunakan untuk menghitung banyaknya kasus yang mempunyai kombinasi nilai-nilai yang berbeda dari dua variabel dan menghitung harga- harga statistik beserta uji tersebut.

Analisis crosstab place attachment index dengan elemen perancangan kota menghasilkan tabulasi data tiap indikator dan juga hasil analisis chi-square. Penelitian ini melakukan tabulasi silang pada tiap indikator elemen perancangan kota dengan 3 kategori place attachment yang dibagi menjadi dua segmen pada setiap tabulasi silang. Pada analisis chi-square didapatkan hasil sebagai berikut:

Tabel 7 Chi-square Elemen Perancangan Kota dengan Place Identity dan Place Dependence

Indikator Segmen

Asymp. Sig. (2- sided)

PI PD

X1. Tata Guna Lahan

1 .120 .542

Indikator Segmen

Asymp. Sig. (2- sided)

PI PD

X1.1 Keberagaman guna lahan

2 .034 .020

Total .008 .017

X1.2 Guna lahan

mengakomodir kegiatan sosial

1 .257 .748

2 .000 .010

Total .000 .057

X2. Bentuk dan Massa Bangunan X2.1 Keselarasan tinggi bangunan

1 .212 2.367

2 .137 .099

Total .135 .118 X2.2 Keselarasan gaya

bangunan

1 .096 .815

2 .011 .003

Total .023 .050 X2.3 Keselarasan material

bangunan

1 .072 .257

2 .054 .005

Total .271 .000 X2.4 Keselarasan warna

bangunan

1 .118 .075

2 .269 .003

Total .103 .003 X2.5 Keselarasan tekstur

bangunan

1 .054 .185

2 .329 .004

Total .086 .009 X2.6 Keselarasan skala

bangunan

1 .219 .975

2 .078 .059

Total .438 .348 X2.7 Keselarasan koefisien

bangunan

1 .054 .367

2 .400 .182

Total .350 .263 X3 Sirkulasi dan Parkir

X3.1 Ketersediaan tempat khusus parkir

1 .044 .106

2 .033 .045

Total .015 .027 X3.2 Keefektifan parkir on

street

1 .156 .157

2 .088 .400

Total .082 .404 X3.3 Akses yang mudah

1 .556 .276

2 .033 .003

Total .039 .013 X3.4 Jalur sepeda aman dan

nyaman

1 .000 0.201

2 .001 .002

Total .014 .000 X3.5 Arah jalan yang jelas

dan mudah dipahami

1 .707 .003

2 .568 .001

Total .117 .000 X3.6 Pemisah yang jelas

antara jalur sepeda, pejalan kaki dan kendaraan

1 .106 .639

2 .070 .000

Total .549 .078 X3.7 Jalan mengakomodir

pedestrian

1 .544 .670

2 .003 .001

Total .026 .005 X3.8 Jalan memiliki karakter

khas

1 .083 .204

2 .212 .054

Total .991 .053 X3.9 Transportasi umum

yang mudah

1 .076 .953

2 .003 .014

Total .000 .008 X4 Ruang Terbuka Hijau

X4.1 Ketersediaan RTH 1 .568 .221

2 .002 .030

Total .004 .027

X4.2 Akses menuju RTH 1 .812 .849

2 .000 .001

Total .100 .016 X4.3 RTH dapat dipakai

semua kalangan

1 .673 .240

2 .333 .070

Total .547 .351 X4.4 RTH mengakomodir

aktivitas sosial

1 .501 .122

2 .033 .029

(11)

Indikator Segmen

Asymp. Sig. (2- sided)

PI PD

Total .019 .036 X4.5 RTH aman nyaman dan

menarik

1 .956 .748

2 .007 .011

Total .643 .382 X5 Jalur Pedestrian

X5.1 Jalur pedestrian yang aman dan nyaman

1 .193 .020

2 .030 .019

Total .010 .000 X5.2 Ketersediaan sarana

penunjang pedestrian

1 .880 .893

2 .196 .011

Total .896 .018 X5.3 Kelengkapan street

furniture

1 .346 .000

2 .012 .007

Total .030 .000 X5.4 Ketersediaan vegetasi

1 .138 .026

2 .013 .009

Total .050 .001 X5.5 Desain street furniture

yang khas

1 .053 .242

2 .712 .325

Total .454 .081 X5.6 Banyaknya acitivity

support di jalur pedestrian

1 .162 .338

2 .117 .006

Total .096 .012 X6 Signage

X6.1 Visibility papan penunjuk

1 .286 .003

2 .325 .059

Total .702 .002 X6.2 Penempatan papan

penunjuk

1 .447 .016

2 .053 .127

Total .058 .007 X6.3 Ukuran reklame sesuai 1 .754 .343

2 .673 .017

Total .813 .015 X6.4 Desain reklame

mendukung karakter lingkungan

1 .462 .739

2 .618 .058

Total .663 .331 X6.5 informatif untuk

berorientasi dan bersirkulasi

1 .893 .000

2 .334 .227

Total .791 .045 X6.6 Signage konsisten

1 .137 .020

2 .086 .392

Total .053 .007 X6.7 Penggunaan papan

penanda yang efektif

1 .081 .007

2 .101 .158

Total .062 .015 X7 Activity Support

X7.1 Beragam aktivitas penunjang koridor

1 .107 .645

2 .452 .302

Total .055 .347 X7.2 Teratur aktivitas

perdagangan

1 .106 .179

2 .008 .006

Total .000 .020 X7.3 Kegiatan pendukung

khas kawasan

1 .288 .487

2 .215 .390

Total .163 .160 X7.4 Beragam aktivitas

malam hari

1 .119 .448

2 .062 .310

Total .058 .556 X8 Konservasi

X8.1 Upaya pencegahan kehancuran bangunan kuno sudah baik

1 .107 .923

2 .452 .008

Total .055 .043 X8.2 Upaya memperbaiki

bangunan kuno sudah baik

1 .106 .851

2 .008 .004

Total .000 .016

Pada hubungan antara elemen perancangan kota terhadap place attachment didapatkan dari analisis crosstab yang terdiri atas tabulasi data dan chi-square. Dari hasil chi-square didapatkan indikator elemen perancangan kota yang memiliki hubungan dengan place identity memiliki signifikansi (α) < 5% adalah sejumlah 7 variabel dengan total indikator sebesar 16 indikator. Variabel yang tidak berpengaruh pada place identity yaitu variabel signage. Elemen perancangan kota yang memiliki hubungan dengan place identity pada segmen 1 berjumlah 2 indikator dan pada segmen 2 adalah 17 indikator.

Dari hasil chi-square didapatkan indikator elemen perancangan kota yang memiliki hubungan dengan place dependence memiliki signifikansi (α) < 5% adalah sejumlah 8 variabel dengan total indikator sebesar 28 indikator dari total 46 indikator. Elemen perancangan kota yang memiliki hubungan dengan place dependence pada segmen 1 berjumlah 10 indikator dan pada segmen 2 adalah 26 indikator.

Perbedaan antara jumlah indikator yang berpengaruh terhadap place identity dan place dependence di segmen 1 dan 2 menandakan bahwa jenis aktivitas dapat mempengaruhi dari place identity dan place dependence. Pada segmen 1 place identity dan place dependencenya rendah dibandingkan dengan segmen 2 dikarenakan, pada segmen 2 responden adalah responden yang tidak menetap di Jl. Ir. H. Juanda karena aktivitasnya berupa perdagangan dan jasa serta olahraga. Sementara pada segmen 2, responden dari pelajar dan karyawan lebih banyak sehingga kebutuhan akan fasilitas publik lebih tinggi karena responden berkunjung ke Jalan Ir. H. Juanda hampir setiap hari.

Prioritas perancangan koridor untuk variabel guna lahan adalah pada pemenuhan aspek sosialnya terutama pada segmen 2 Jl. Ir. H.

Juanda. Sementara itu untuk variabel bentuk dan massa bangunan dapat melakukan pengawasan terhadap pembangunan gedung atau bangunan lainnya.

Memprioritaskan pada peningkatan keamanan dan kenyamanan jalur sepeda yaitu pada sebelah kiri koridor sepanjang 1,5 km dari sisi selatan koridor hingga utara koridor. Selain itu, prioritas selanjutnya adalah memperbaiki kualitas sirkulasi untuk pejalan kaki dengan

(12)

memperbaiki jalur pejalan kaki pada segmen 1 dan 2 Jalan Ir. H. Juanda.

Prioritas perancangan Jalan Ir. H. Juanda pada aspek Ruang Terbuka Hijau (RTH) adalah pada akses menuju RTH. Selain itu ketersediaan RTH juga perlu menjadi prioritas sehingga dapat menakomodir aktivitas sosial pengunjung.

Aspek rambu-rambu, papan reklame dan tanda penunjuk dipertahankan dalam visibility, penempatan, informatif serta efektif. Serta melakukan pengendalian terhadap ukuran dan jumlah reklame. Rekomendasi activity support adalah menata kembali aktivitas perdagangan (PKL) di segmen 1 seperti pada tempat khusus PKL pada segmen 2. Rekomendasi penanganan untuk variabel konservasi adalah dengan meningkatkan kembali upaya memperbaiki bangunan kuno yang telah mengalami perubadan fasad seperti pada segmen 2.

KESIMPULAN

Jika dilihat dari place attachment per- segmen, maka segmen 2 memiliki persentase terbesar untuk kategori place attachment tinggi, sebesar 70% untuk segmen 2 di kategori tinggi.

Sedangkan pada segmen 1 memiliki place attachment pada kategori rendah dan sedang dengan jumlah yang besar.

Dari hasil chi-square didapatkan indikator elemen perancangan kota yang memiliki hubungan dengan place identity sejumlah 7 variabel dengan total indikator sebesar 16 indikator. Variabel yang tidak berpengaruh pada place identity yaitu variabel signage. Elemen perancangan kota yang memiliki hubungan dengan place identity pada segmen 1 berjumlah 2 indikator dan pada segmen 2 adalah 17 indikator.

Dari hasil chi-square didapatkan indikator elemen perancangan kota yang memiliki hubungan dengan place dependence sejumlah 8 variabel dengan total indikator sebesar 28 indikator dari total 46 indikator. Elemen perancangan kota yang memiliki hubungan dengan place dependence pada segmen 1 berjumlah 10 indikator dan pada segmen 2 adalah 26 indikator. Rekomendasi pada perancangan koridor Jl. Ir. H. Juanda harus memperhatikan dari aspek aktivitas di tiap segmen sehingga kebutuhan akan fasilitas publik berbeda.

DAFTAR PUSTAKA

Furchan, A. 2004. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka

Pelajar Offset, hlm. 54.

Danasasmita, S. 1983. Sejarah Bogor. Bogor:

Pemerintah Daerah Kotamadya DT II Bogor.

Indratno, I., & Irwinsyah, R. 1998. Aplikasi Analisis Tabulasi Silang (Crosstab) dalam Perencanaan Wilayah dan Kota.

Jurnal PWK, Vol 9, No., 48–59.

Menteri Pekerjaan Umum. 2013. Program Penataan dan Pelestarian. Kota Pusaka (P3KP) Kota Bogor tahun 2013. Kota Bogor.

Pattisinai, A. R. 2016. Keselamatan berjalan kaki pada bagian crosswalk berdasarkan pedestrian environment quality index guna mendukung sustainable urban transportation. Prosiding Seminar Nasional Teknik Sipil 2016, Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta, 1–10.

Pemerintah Indonesia. 2006. Peraturan Pemerintah No. 34 Tahun 2006 Tentang Jalan. Jakarta.

Pemerintah Indonesia. 2014. Peraturan Menteri

Pekerjaan Umum No.

03/PRT/M/2014 tentang Pedoman Perencanaan, Penyediaan, dan Pemanfaatan Prasarana dan Sarana Jaringan Pejalan Kaki di Kawasan Perkotaan. Jakarta.

Pemerintah Kota Bogor. 2011. Peraturan Daerah Kota Bogor No. 8 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bogor Tahun 2011- 2031. Kota Bogor.

Pemerintah Kota Bogor. 2010. Peraturan Daerah Kota Bogor No. 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Tahun 2019- 2024. Kota Bogor.

Shirvani, H. 1985. The urban design process. New York: Van Nostrand Reinhold.

Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung:

Alfabeta .

Utami, I. G. A. C. 2017. Place Attachment Pada Kawasan Komersial Di Jalan Danau Tamblingan, Sanur, 4(2).

Williams, D.R. & Vaske, J.J. 2003. The Measurments of Place Attachment:

Validity and Generalizabilitiy of a Psychometric Approach. Forest Science. 49 (6): 830-840.

Referensi

Dokumen terkait

Data ini hampir sama dengan hasil wawancara dengan WMM, bahwa hasil capaian sasaran mutu di masing-masing unit atau bagian setelah dirata-rata sebagian besar mencapai

Perempuan karir yanng belum menikah memiliki tingkat toleransi yang lebih rendah dibandingkan dengan perempuan karir yang sudah menikah karena perempuan karir yang

[8] Chousidis, Christos, Rajagopal Nilavalan, and Laurentiu Lipan.. &#34;Expanding the use of CTS-to-Self mechanism for

Kejuaraan ini merupakan kejuaraan pertama dan terbesar yang di selenggarakan oleh Universita Gadjah Mada// Karena pada kejuaraan tersebut diikuti oleh 63 perguruan

Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa penjadwalan menggunakan algoritma Nawaz, Enscore, dan Ham (NEH) dengan pendekatan LPT menghasilkan makespan dan idle time

Keadaan umum pasien tampak lemah, terdapat bintik-bintik merah dibawah kulit (pteki), pucat, tampak semua ADLs dibantu keluarga dan perawat. Dalam

Rancangan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dengan menggunakan model Kooperatif Teknik Bertukar Pasangan untuk meningkatkna aktivitas peserta didik kelas V

Sj_ = besar arus jenuh untuk kelompok jalur atau