• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN UMUM HAK ASASI MANUSIA DAN PENDIDIKAN. accordance with liberty, equality, and respec for human dignity 1

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN UMUM HAK ASASI MANUSIA DAN PENDIDIKAN. accordance with liberty, equality, and respec for human dignity 1"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN UMUM

HAK ASASI MANUSIA DAN PENDIDIKAN

2.1 Pengertian Hak Asasi Manusia

Hak Asasi Manusia merupakan salah satu unsur dari Konsep Negara Hukum, hak asasi manusia pada dasarnya merupakan suatu hak yang dimiliki sejak lahir atau hak dasar yang dimiliki oleh manusia sebagai makhluk individu.

“Those fundamental rights, wich empower human beings to shape their lives in accordance with liberty, equality, and respec for human dignity” 1 Pandandanga tersebut menyatakan bahwa hak asasi manusia merupakan hak dasar yang diberikan pada manusia untuk membentuk kehidupannya sesuai dengan kebebasan, kesetaraan, dan penghormatan terhadap harkat dan martabat munusia sebagai makhluk individu. Hak asasi manusia telah disahkan di seluruh dunia, maka dari itu hak tersebut dihormati dan dijunjung tinggi, sehingga dikeluarkan suatu peraturan perundang- undangan yang mengaturnya. Suria Kusuma mengatakan, bahwa hak tersebut sercara definitif memiliki arti kekuasaan atau wewenang yang seseorang miliki atas sesuatu di luar dari dari dirinya, kebalikan dari hak merupakan kewajiban yang berarti tugas yang harus dilaksanakan oleh seseorang mengakui kekuasaan itu.2 Menurut beliau, bahwa setiap orang memiliki kekusaannya dengan kebebasan dalam melakukan segala ha l yang dilindungi oleh

1 No wak Manfred, 2003, Introduction To The International Human Rights Regime, Martinus Nijhoff Publishers, Le iden Boston, hal. 1.

2 Dwi Winarno, 2006, Paradigma Baru Pendidik an Kewarganegaraan, Cetakan ke-1, Bu mi Aksara, Sura karta, ha l. 88.

40

(2)

peraturan perundang-undangan yang mengaturnya. Hak asasi manusia merupakan tanggung jawab moral dan yuridis, pemerintah serta semua warga negara.

Hak asasi manusia merupakan hak yang fundamental, sehingga keberadaannya tidak dapat digangnggu gugat seharusnya hak tesebut diperhatikan dan dilindungi. Menurut C. De Rover mengemukakan:

hak asasi manusia adalah hak hukum yang dimiliki setiap orang sebagai manusia. Hak- hak tersebut bersifat universal dan dimiliki oleh setiap orang, baik kaya maupun miskin, laki ataupun perempuan. Hak asasi manusia dlindungi oleh konstitusi dan hukum nasional pada semua negara di dunia. Hak asasi manusia adalah hak dasar atau hak pokok yang diterima manusia sejak kelahirannya sebagai anugrah dariTuhan Yang Maha Esa, maka hak asasi manusia dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi olehh negara, pemerintah dan setiap orang karna hak tersebut bersifat universal dan abadi.3

Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat dikatakan hak asasi manusia dihormati dan dilindungi oleh negara dengan dikeluarkannya suatu peraturan perundang-undangan. Hak asasi manusia merupakan hak dasar atau hak pokok manusia yang diperoleh sejak lahir, maka harus dihormati dan dilindungi oleh negara, pemerintah, dan setiap orang .

Hak asasi manusia yang dikemukakan oleh A. Mansyur Effendi adalah hak dasar/ mutlak/kudus/suci pemberian dari Tuhan Yang Maha Esa yang dimiliki oleh setiap manusia serta menempel/melekat untuk selamanya. Demi terciptanya suasana yang nyaman serta harmonisasi a ntar warga negara, masyarakat, maka direalisasikan hak dasar atau hak pokok tersebut dengan penuh kebijakan. Hak

3 Tri Suprastomo Nitirahardjo, 2015,Hak Asai Manusia ( Pengertian HAM, Ciri khusus HAM, Teori Tentang HAM, Prinsip Kerangka HAM, Perbedaan HAM DAN Hak Biasa, contoh Semua Kasus HAM ). Available at https://bit.ly/1x662ml dan https://bit.ly/1G7GIM I, d iakses 15 Maret 2016, ha l.1.

(3)

asasi manusia juga diimbangi dengan kesadaran, bahwa adanya kewajiban asasi dan tanggungjawab asasi. Menurut Moh. Yasir Alimim Dkk mengatakan,

bahwa hak asasi manusia adalah hak- hak yang secara kodrati melekat dalam diri manusia, tanpanya manusia tidak dapat hidup sebagai manusia.

Hak asasi manusia berdasarkan prinsip fundamental, bahwa semua manusia memiliki martabat yang kodrati tanpa memandang jenis kelamin, ras, warna kulit, bahasa asal- usul, bangsa, umur, kelas, keyakinan politik, dan agama.4

Hak asasi merupakan hak dasar atau hak pokok yang dimiliki oleh manusia sejak lahir, tanpa memandang ras, jenis kelamin, warna kulit, dan agama.

Dapat dikatakan, bahwa hak asasi manusi merupakan hak dasar atau hak pokok secara kodrati melekat pada diri setiap orang, yang memiliki sifat asasi dan universal. Konsekwensi dari hak tersebut, maka setiap orang memiliki hak untuk mempertahankan serta memperjuangkan dirinya.

Hak asasi manusia menurut Jimly Asshiddiqie dan Hafid Abbas mengatakan,

bahwa hak asasi manusia berarti membicarakan dimensi kehidupan manusia. Hak asasi manusia, ada bukan disebabkan oleh masyarakat dan kebaikan dari negara, melainkan atas dasar martabatnya sebagai manusia.

Pengakuan atas keberadaan manusia merupakan makhluk hidup ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, patut memperoleh apresiasi secara positif.5

Berdasarkan uraian tersebut diatas, bahwa hak asasi manusia bukan disebabkan pemberian dari masyarakat ataupun negara, hak tersebut merupakan karunia dari Tuhan Yang Maha Esa. Hak asasi manusia memperoleh hak

4 Moh. Yasir A limi, Dkk, 1999, Advok asi Hak -hak Perempuan, Membela Hak Mewujdukan Perubahan, LkiS, Yogyakarta, ha l. 13.

5 Jimly Asshiddiqie dan Hafid Abbas, 2015, Hak Asasi Manusia dalam Konstitusi Indonesia, Cetakan ke- 5, Kharis ma Putra Uta ma,Jakarta, hal. 1.

(4)

kebebasan untuk menyatakan cipta, karsa dan rasa da lam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Menurut M. Ali Zaidan mengatakan hak asasi manusia adalah:

hak-hak dasar yang melekat pada jati diri manusia secara kodrati dan secara universal serta berfungsi menjaga integritas keberadaannya, berkaitan dengan hak hidup dan kehidupan, keselamatan, keamanan, kemerdekaan, keadilan, kebersamaan kesejahteraan, dan hak untuk maju sebagai ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang tidak boleh diabaikan atau dirampas. Di samping hak dasar tersebut mempunyai hak dan kewajiban yang timbul sebagai akibat perkembangan kehidupan dalam masyarakat.6

Berdasarkan uraian tersebut dapat dikatakan, bahwa hak asasi manusia merupakan hak dasar yang melekat pada manusia, baik secara kodrati maupun universal yang eksistensinya dikaitkan dengan adanya hak hidup, keselamatan, kemerdekaan, kesejahteraan, keadilan, di mana hak tersebut tidak boleh di ganggu gugat. Selain memiliki hak dasar tersebut juga memiliki hak dan kewajiban yang harus sama-sama dijalankan sebagai umat manusia.

Secara yuridis Hak Asasi Manusia diatur dalam Pasal 28A Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menyebutkan, bahwa

“Setiap berhak untuk hidup serta serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya”, selanjutnya hak asasi manusia (HAM) juga diatur dalam Undang- Undang Republik Indonesia No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia Pasal 1 menyebutkan, bahwa;

“Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugrah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara hukum, pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia”.

6 M.Ali Za idan,2015, Menuju Perubahan Huk um Pidana, Sinar Gra fika, Jaka rta,hal. 259

(5)

Menurut ketentuan Pasal tersebut diatas, bahwa manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang diberikan hak untuk menjalani kehidupannya serta berkewajiban memelihara alam semesta dengan penuh tanggung jawab untuk kesejahteraan umat manusia. Hak asasi manusia merupakan hak dasar atau fundamental yang melekat secara kodrati melekat pada diri manusia bersifat universal dan abadi, sehingga hak tersebut harus dihormati, dilindungi, dipertahankan, dan tidak bisa diabaikan, diganggu gugat, dan dirampas oleh siapapun.

Pendidikan merupakan hak asasi manusia sebagai sarana untuk merelisasi hak-hak asasi lainnya.7 Uraian tersebut mengatakan, bahwa pendidikan merupakan sebagai alat yang utama untuk mengangkat harkat dan martabat diri mereka untuk mendapatkan kehidupan yang layak. Hak asasi manusia kaitannya dengan pendidikan terdapat dalam Pasal 12 Undang-Undang Republik Indonesia No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia menyebutkan, sebagai berikut:

“Setiap orang berhak atas perlindungan bagi pengembangan pribadinya, untuk memperoleh pendidikan, mencerdaskan dirinya, dan meningkatkan kualitas hidupnya agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa, bertanggung jawab, berakhlak mulia, bahagia, dan sejahtera sesuai dengan hak asasi manusia”.

Berdasarkan ketentuan Pasal tersebut diatas, bahwa setiaap orang berhak memperoleh pendidikan untuk mencerdaskan serta mengembangkan dirinya untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Negara dalam hal ini seharusnya lebih memperhatikan mengenai masalah pendidikan yang sedang mengalami

7 Ke mentrian Huku m Dan Hak Asasi Manusia RI Direktorat Jendral Hak Asasi Manusia, 2010, Hak Asasi Manusia Untuk Semua, Cetakan ke-2, Ja karta, hal. 6.

(6)

perkembangan, agar hak-hak atas pendidikan dapat diterima oleh warga negara secara adil dan merata.

2.2 Sejarah Hak Asasi Manusia ( HAM )

Hak asasi manusia merupakan suatu hak yang telah dibawa sejak lahir atau kehadirannya dalam masyarakat. Hak asasi manusia keberadaannya tidak terlepas dari hukum alam ( natural law )yang menjadi asal usul bagi kelahiran hak asasi manusia ( HAM ). Kaum stoa mempunyai pendapat, bahwa akal ketuhanan yang langgeng atau abadi memerintah seluruh alam, sehingga tindakan manusia pada intinya diperintah oleh akal ketuhanan yang kekal abadi.8 Dapat dikatakan hak asasi manusia bersumber dari alam dan ketuhanan yang tidak boleh di ganggu gugat oleh siapapun karena semua tindakan manusia pada dasarnya merupakan karunia dari Tuhan Yang Maha Esa.

Sejarah perkembangan hak asasi manusia, pertama kali dapat dlihat dari pengakuan terhadap hak-hak moral serta dasar manusia mengenai harkat dan martabat manusia. Dengan pengakuan hak tersebut, maka untuk melindunginya dibuatkanlah suatu perjanjian atau kesepakatan, maka lahirlah Piagam Magna Charta di Inggris pada 15 Juni 1215, dimana kekuasaan raja harus dibatasi, hak asasi manusia lebih penting dari kedaulatan raja.9 Dari uraian diatas , bahwa piagam tersebut merupakan tonggak sejarah pertama mengenai perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia. Lahirnya Piagam Magna Charta tersebut

8 H. Ridwan Syahrani, 2003, Rangk uman Intisari Ilmu Huk um, Cit ra Aditya Bakt i, Bandung , hal. 34

9 Ra md lan Nan ing, 1983, Cita dan Citra Hak -Hak Asasi Manusia Di Indonesia, Liberty, Yogyaka rta, hal. 9.

(7)

memuat pandangan, bahwa kekuasaan raja sebelumnya bersifat absolute ( hukum diciptakannya terikat untuk orang lain tapi bukan untuk dirinya ), tetapi setelah adanya piagam ini kekuasaan raja sudah mulai dibatasi dan dipertanggungjawabkan secara hukum.

Piagam Magna Charta ini kemudian diikuti dengan lahirnya Bill of Rights pada tahun 1969 di Inggris, pandangan itu pada intinya, bahwa manusia sama derajatnya di muka bumi ( equality before the law ). Bill of Rights yang melahirkan asas persamaan harkat dan martabat manusia harus diwujudkan sebab hak kebebasan dapat diwujudkan jika adanya persamaan.10 Dapat dikatakan, bahwa lahirnya Bill of Rights ini telah memberikan persamaan hak- hak asasi manusia serta memberikan kebebasan yang dilindungi dan dihormati secara hukum yang dituangkan kedalam bentuk perundang-undangan.

Selanjutnya perkembangan hak asasi manusia ditandai dengan munculnya naskah American Declaration o f Independen berasal dari Amerika Serikat dan di Prancis pada tahun 1789 Declaration des Droit de I’homme.11Naskah tersebut diatas sangat memiliki pengaruh dalam perkembangannya secara universal untuk perjuagan hak asasi manusia. Pada intinya kedua naskah tersebut mangatakan, bahwa manusia merdeka dari dilahirkan dan hak tersebut harus diberikan kebebasan dan tidak dibelenggu atau dikekang serta me njamin segala perjuangan hak asasi manusia. Tidak diperbolehkan adanya penangkapan dan penahanan yang sewenang-wenang jika tidak ada surat perintah dari pejabat yang sah., sehingga

10 Mansyur Effendi, 1994, Dimensi dan Dinamik a Hak Asasi Manusia Dalam Huk um Nasional dan Internasionl, Gha lia Indonesia, Jakarta, hal 68.

11 Jimly Asshiddiqie, 2009, Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara, Raja Grafindo Persada,Jakarta, ha l. 348

(8)

kedua naskah tersebut banyak digunakan oleh negara-negara di Eropa. Naskah tersebut dipakai contoh oleh semua negara yang akan membangun serta mengembangkan diri dalam negara demokrasi serta melindungi dan menghormati hak asasi manusia.

Pada perang dunia ke kedua, Pada awal tahun 40-an demikian penghormatan terhadap hak asasi manusia merupakan puncak awal disahkannya Declaration Universal of Human Rights ( DUHR ) oleh resolusi Majelis Umum PBB pada tanggal 10 Desember 1948.12Di mana perkembangan hak asasi manusia mulai diperhatikan dengan memberikan kebebasan serta memajukan hak asasi manusia yang dapat dilihat dari lahirnya momentum Universal Declaration of Human Rights ( DUHR) . Universal Declaration of Human Rights (DUHR) tersebut menjadi contoh oleh negara-negara yang ingin membangun dan mengembangkan dirinya sebagai negara demokrasi yang menghormcati, menjunjung tinggi, dan melindungi hak-hak asasi manusia. Dimana Declaration Universal Hak Asasi Manusia ( DUHAM ) ini tidak mengikat bagi negara- negara yang ikut serta dalam mendatangani, namun negara- negara anggota PBB berharap dapat mencantumkan kedalam Undang-Undang Dasar masing- masing negara atau perundang-undangan lain, sehingga norma atau kaedah hukum yang terka ndung didalamnya dapat berlaku sebagai hukum untuk kepentingan pada masing- masing negara anggota PBB.

12 Harkristuti Harkrisnowo, 2009, Penghormatan HAM Dalam Mengahadapi Krisis Global, Jurnal Ha k Asasi Manusia, vol 1, No 8, Departe men Huku m Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, Jaka rta, hal 7.

(9)

Dikukuhkan Declaration Universal of Human Rights ( DUHR ), tidak juga mampu untuk menghilangkan atau menghapuskan segala bentuk penindasan atau penyiksaan di bumi ini. PBB dalam hal ini berupaya untuk mendapatkan beberapa dasar-dasar yuridis, dengan maksud naskah tersebut dapat mengikat seluruh negara di dunia. Tahun 1966 PBB sukses melahirkan Convevan on Economic, Sosial And Cultural Rights ( perjanjian tentang hak- hak ekonomi, sosial, dan budaya) serta Convenan on Cipil And Political Rights ( perjanjian tentang hak- hak sipil dan politik ). Dari kedua convenan itu dapat dipandang sebagai suatau peraturan pelaksana pada naskah Declration Universal o f Human Rights (DUHR), sehingga secara yuridis akan mengikat jika disahkan pada negara anggota PBB paling sedikit ada 35 negara. Sehubungan dengan perkembangan sejarah hak asasi manusia tersebut diatas, menurut seorang ahli hukum dari prancis Karel Vasak hak asasi manusia dibagi menjadi tiga generasi. Pembagian tersebut terkait dengan prinsip-prinsip perjuangan revolusi Prancis yakni kebebasan ( liberte ), persamaan ( eglite ), dan persaudaraan ( fraternite ).13

Hak-hak tersebut adalah generasi pertama yang muncul pada awal abad 17 dan 18 adalah hak sipil dan politik (liberte). Generasi pertama ini dapat diartikan, bahwa hak asasi manusia mengharapkan kebebasan, sebuah perlindungan untuk melindungi seseorang, baik secara individu maupun dalam sebuah perkumpulan dengan yang lainnya. Pada saat itu masyarakat memperjuangkan hak untuk hidup, hak keutuhan jasmani, dan perkembanagan untuk hidup yang bebas, dimana masyarakat menuntut supaya hak perlindungan dari penangkapan yang semena-

13 Ignatius Haryanto dkk, 2000, Konvenan Internasional Hak Sipil Dan Politik Panduan Bagi Jurnalis, Le mbaga Studi Press Dan Pe mbangunan ( LSPP ), Jaka rta, HAL. 15.

(10)

mena, hak untuk tidak menerima penyiksaan, hak untuk bebas mengeluarkan pendapat, hak untuk berpikir dan beragama, serta larangan memperbudak dan lain sebagainya.14 Generasi pertama tersebut lebin menempatkan ke dalam terminologi negatif atau lebih menyukai abstensi daripada intervensi penguasa untuk mencari martabat umat manusia. Hak tersebut memilki nilai sentral yang tetap, bahwa kebebasan merupakan suatu perlindungan individu baik sendiri maupun dengan kelompok-kelompok yang lain, dari penyelewengan serta penyalahgunaan otoritas hak sipil dan politik.

Generasi yang kedua adalah hak ekonomi, sosial, dan budaya. Generasi ini muncul pada abad 19, dimana genersi ini lebih menekankan pada intervensi secara positif mempunyai tujuan untuk partisipasi yang merata dalam produksi serta distribusi nilai- nilai terkandung di dalamnya. Pada waktu itu yang diperhatikan mengenai tuntutan hak memperoleh pekerjaan, memperoleh kesempatan untuk memenuhi kebutuhan pokok seperti pangan, papan, dan sandang. Hak untuk mendapatkan pendidikan, hak untuk perlindungan terhadap karya ilmiah, sastra, dan kesenian. Berkembangnya arus pemikiran hak- hak ekonomi, sosial, dan budaya menjadi pusat perhatian seluruh dunia yang menimbulkan laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi sehingga hak-hak sipil dan politik terabaikan.

Dimana dalam pelaksanaan hak asasi manusia ( HAM ) sipil dan politik secara berlebihan akan mengakibatkan pemenuhan hak ekonomi, sosial, dan budaya begitupun sebaliknya.

14 Ibid

(11)

Generasi hak asasi manusia ( HAM ) berikutnya adalah generasi ketiga yang dikenal dengan hak solidaritas, Adapun pokok dari konseptual tersebut memberikan harapan-harapan pada kedua generasi itu ( hak sosial dan politik, hak ekonomi, sosial, dan budaya ) dari hak sebelumnya. Hak asasi manusian ( HAM ) generasi ketiga muncul pertengahan abad 20. Melatar belakangi berkembangnya generasi ini yaitu chauvinism, primordialisme, totalitarianism, dan penindasan kelompok minoritas.Hak tersebut diperjuangkan semata- mata bukan kepentingan individu melainkan untuk kepentingan kelompok orang, seperti hak atas perkembangan atau pembangunan,, hak atas identitas cultural, hak atas perdamaian, hak atas lingkugan hidup yang sehat, hak atas partisipasi terhadap warisan semua umat manusia, serta hak generasi mendatang untuk keselamatan lingkungan hidup.15

Dengan demikian generasi hak asasi manusia ( HAM ) menjadi dasar terpenuhi generasi hak asasi manusia ( HAM ) pertama dan hak asasi manusia (HAM) kedua atau terpenuhi hak asasi manusia ( HAM ) secara merata, baik hak sipil dan politik serta hak ekonomi, sosial, dan budaya. Isi dari hak asasi manusia mencerminkan suatu persepsi yang berkembang dari suatu tatanan nilai- nilai yang telah dibina mengharapkan adanya suatu keberlanjutan demi kestabilan manusia. Hak asasi manusia ( HAM ) yang mengatur masalah pendidikan terdapat pada generasi kedua, dimana hak-hak atas pendidikan merupakan hak yang harus diterima serta dilindungi oleh pemerintah, hukum, dan negara. Pendidikan akan

15 Ignatius Haryanto, 0p.cit, hal.16

(12)

mengarahkan pada pengembangan dari kepribadian seseorang serta kesadaran akan dirinya dan penghormatan terhadap setiap manusia.

2.3 Perkembangan Pendidikan di Indonesia

Perkembangan pendidikan nasional merupakan persoalan yang penting bagi bangsa, sebab perkembangan tersebut ditentukan oleh tingkatan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, karakteristik serta kesabaran politik yang mempengaruhi masa depan bangsa. Pada periode perkembangan pendidikan yaitu faktor politik dan kekuatan politik. Pendidikan mempunyai hakekat yaitu cerminan aspirasi, kepentingan, tatanan serta kekuasaan kekuatan-kekuatan politik yang memegang kekuasaan Pendidikan merupakan ujung tombak kekayaan sepanjang zaman tanpa pendidikan segalanya akan hancur, oleh karena itu pendidikan adalah kunci penting dalam mengantar kejayaan suatu bangsa.16.

Uraian tersebut diatas dapat dikatakan bahwa, pendidikan sangat berpengaruh terhadap perkembanagan zaman, karna pendidikan merupakan suatu motivatsi bagi manusia menuju keberhasilan dalam meraih masa depan yang lebih baik. Dimana hak- hak untuk memperoleh pendidikan sangat diperhatikan oleh pemerintah maupun negara. Penyelenggara pendidikan di Indonesia sudah mengalami periode perkembangan secara dinamis serta memperhatikan bagaimana hubungan pendidikan dan pemerintah. Dalam perkembanagan sejarah pendidikan dibagi menjadi beberapa perioda. Pertama periode prasejarah dimana proses pendidikan diikuti masuknya agama-agama dari luar wilayah Indonesia,

16 Ali Akbar Navis, 2013, Rahasia Menjadi Pendidik Jempolan Sek aligus Motivator Ulung Dalam Hitungan Menit, AR-RUZZ M EDIA, Jogyakarta, hal 19.

(13)

sehingga perkembangannya mengarah pada sosialisasi terhadap nilai- nilai agama serta pengembangan keterampilan dirinya untuk menjalani hid up. Penyelengara pendidikan maupun pengajaran dikelola oleh para pemuka agama atau tokoh agama. Beliau mengajarkan ilmu pengetahuan yang bersifat umum dan religius, sehingga pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi diajarkan tokoh-tokoh agama.

Pendidikan serta pengajaran tidak dilakukan secara formal, dimana setiap siswa dalam menerima pelajaran dimungkinkan akan berpindah dari guru yang satu ke guru yang lain untuk meningkatkan serta memperdalam ilmu pengetahuannya.17 Kegiatan pendidikan merupakan bagian yang intergral dari kegiatan keagamaan. Dimana nilai- nilai agama menjadi acuan pokok atau dasar dalam menyelenggarakan pendidikan menjadi sarana yang utama mengenai pemahaman, pengamalan, serta mengembangkan nilai- nilai keagamaan.

Pendidikan di masa itu mengutamakan masalah keagamaan.

Kedua periode penjajahan kolonial Belanda ini dibagi menjadi tiga yaitu periode VOC pada abad 17 dan 18, periode Hindia Belanda pada abad 19, dan periode politik Etis pada abad 20. Pendidikan yang berlangsung pada pemerintahan VOC ditangani oleh suatu organisasi yaitu Nenderlands Zendelingen Genootschap ( NSG ), Gereja Kristen dari Belanda yang ikut dalam misi VOC.18 Penyelenggara pendidikan pada saat itu adalah maskapai perdagangan, maskapai tersebut yang membiayainya, bukan pemerintah Belanda.

17 Muhammad Rifa’i, 2011, Sejarah Pendidik an Nasional, Dari Masa Klasik Hingga Modern, AR-RUZZ M EDIA, Jogyakarta, hal 29.

18 Ded i Supriadi, 2003, Guru di Indonesia, Pendidik an, Pelatihan, dan Perjuangannya Sejak ZamanKolonial Belanda Hingga Era Reformasi, Departeman Pendidikan Nasional Republik Indonesia, Jaka rta, hal. 7

(14)

Pada masa itu pendidikan untuk orang-orang pribumi dikaitkan dengan penyebaran agama kristen. Banyak kegiatan pendidikan yang dikembangkan pada masa itu ke daerah-daerah dimana struktur politiknya lemah. Selanjutnya yang tidak disentuh oleh VOC adalah pendidikan berbasis agama. Adapun materi yang diberikan pada saat itu hanya sekedar untuk dapat menulis dan membaca.

Pengajarannya berdasarkan kitab suci agama kristen. Sebagai pengajar pada saat itu hanya orang Belanda termasuk para pastor yang mengajar di sekolah-sekolah yang didirikan VOC.

Pendidikan yang berlangsung pada pemerintahan Hindia Belanda VOC dibubarkan akibat terjadi perang antara Inggris melawan Perancis pada tahun 1795, saat itu Belanda mendukung Perancis dan ternyata kalah, maka dari itu VOC dan daerah jajahannya di serahkan kepada Inggris, walaupun VOC dan daerah jajahannya bubar, Belanda masih mempunyai tempat untuk menjalani pmerintahannya yang berada dibawah kekuasaan Inggris. Pendidikan pada saat itu pertama kali didirikan Europeese Lagere School ( ELS ) tahun 1817 yaitu sekolah dasar yang khusus untuk anak-anak Belanda. Selanjutnya didirikan juga ELS oleh pihak swasta yang khusus bagi beragama kristen. Saat itu kekurangan danna, maka sekolah itu diserahkan untuk dikelola oleh kolonial Belanda. Sekolah- sekolah yang dikelola oleh kolinial Belanda saat itu anak-anak pribumi sudah dapat mengikuti pendidikan, akan tetapi tid ak semua anak-anak pribumi bisa mengikuti, karena kesungguhan kolonial tidak tampak pada saat itu. Se makin berkembangnya pendidikan saat itu, maka pada tahun 1848 dimana Gubernur Hindia Belanda Rochssen yang menjabat pada waktu itu mulai mendirikan

(15)

sekolah bagi anak-anak pribumi. Sekolah tesebut diberi nama “Sekolah Rakyat”

(SR). Lulusan sekolah pribumi tersebut bekerja menjadi pegawai rendahan untuk Kolonial Belanda. Secara tidak langsung hal ini dapat dikatakan sebagai bentuk penindasan dan diskriminasi yang dilakukan oleh pihak kolonial Belanda, sebab orang-orang pribumi dijadikan sebagai pendukung mesin birokrasi pememrintahan Belanda di Indonesia.

Pendidikan yang berlangsung periode politik Etis sudah mulai menemukan kemajuan. Diterapkannya sistem “ Politik Etis “ atau “ Politik balas Budi “ kaum Hindia Belanda telah memenuhi kewjibannya terhadap penduduk pribumi dengan cara memperhatikannya. Pendidikan untuk anak-anak pribumi terus diutamakan dan dikembangkan dengan cepat. Anggaran untuk sekolah pribumi disediakan oleh pihak Pemerintah Hindia Belanda. Peningkatan siswa pribumi semakin berkembang pesat, karna sekolah mereka akan dilanjutkan kejenjang yang lebih tinggi. Walaupun hak-hak pendidikan bagi penduduk pribumi diperhatikan, tapi masih saja dirasakan belum mengubah secara fundamental filosofi dasar sistem pendidikannya, sebab hal ini masih untuk kepentingan kolonial. Semua lulusan dijadikan pegawai birokrasi untuk mempertahankan kelangsungan hidup kolonial.

Dari pemerintahan ini muncullah banyak tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan hasi didikan kolonial, baik di sekolah-sekolah Belanda itu sendiri maupun sekolah pribumi yang meluluskan pendidikan berbasis kebangasaan seperti Taman Siswa dan Keagamaan.

Ketiga periode pada zaman kedudukan Jepang tahun 1942 sampai 1945.

Periode ini telah terjadi perubahan penting dalam kebijakan pendidikan di

(16)

Indonesia. Perubahan tersebut mulai dari nama sekolah berbahasa Belanda menjadi sekolah berbahasa Jepang maupun Indonesia. Dari perubahan ini memberikan anugrah yang signifikan dengan lebih menebalnya nasionalisme Indonesia.19 Dapat dikatakan, bahwa Jepang selama tiga tahun menduduki Indonesia tidak banyak perhatian Jepang pada Indonesia. Terutama mengenai struktur dan isi kurikulum dan pengelolaan sekolah. Jepang lebih memerlukan mobilisasi semua potensi yang ada untuk kekuata n mesin perangnya. Salah satunya kerja paksa yang dilakukannya, sehingga menyengsarakan rakyat Indonesia. Kebijakan pendidikannya sama halnya pada zaman Belanda. Walaupun demikian perkembangan periode ini telah mulai lebih menekannkan penggunaan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dalam lingkungan pendidikan formal.

Kekuatan nilai- nlai nasionalisme dalam berbagai bidang, pada penyelenggaraan pendidikan saat itu telah melahirkan keberhasilan berbagai aktivitas-aktivitas untuk melakukan kegiatan gerakan sosial politik menjadi lebih terlihat dari kalangan pribumi.

Keempat periode pada zaman orde lama tahun 1945 sampai dengan 1950.

Kegiatan pendidikan pada masa itu untuk memajukan, memperkuat, dan memperbanyak jenis-jenis pendidikan untuk guru serta melaksanakan wajib belajar. Pendidikan masa itu lebih mengarah pada nilai-nilai yang dimantapkan secara nasionalisme, membangun landasan idiologis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dan identitas negara. Tujuan dari pendidikan tersebut adalah membentuk masyarakat sosialis dan doktrin-doktrin dari presiden Sukarno yang

19 Ibid, hal 15.

(17)

menunjukkan bagaimana pendidikan pada saat itu dimana terpengaruh oleh dunia politik.20 Hasil pendidikan tersebut cukup bagus, baik dilihat dari gedung sekola h, jumblah guru, murid, sarjana, maupun pendidikan tinggi. Dimana dalam penyelenggaraan pendidikan nasional sebagai pengajar utamanya adalah tokoh- tokoh nasionalis. Tokoh-tokoh tersebut mengusai posisi penting dan secara kretif serta sistematif pada pemerinthan yang menjadikan pendidikan lebih maju dari proses sosialisasi ideologi negara.

Kelima adalah perioda orde baru yang berlansung pada tahun 1966 sampai 1998. Pendidikan periode ini sudah lebih stabil dibandingkan orde lama, pendidikan juga menjadi instrumen dalam pelaksanaan program pembangunan di segala bidang. Orde baru diidentikkan pada ideologi atau semboyan pembangunan, dimana pembangunan merupakan arah dari kebijakan pendidikan, sebab pembangunan nasional orde baru merupakan fokus utama pada bidang ekonomi, sehingga kegiatan pendidikan dilaksanakan pada era tersebut digunakan sebagai instrumen pembangunan. Menurut Soedijarto, bahwa pendidikan di Indonesia pada akhir kekuasaan rezim orde baru : belum adanya rencana yang baik, belum sistematis, belum optimal relevan dalam tujuan pendidikan, wahana sosialisasi dan memerdayakan budaya bangsa belun terjadi, perkembanagan iptek belum sejalan, tantangan era globalisasi belum sejalan, belum mampu menghasilkan sumber daya manusia yang memiliki keunggulan dan kompotitif,

20 Muhammad Rifa ’i, Op Cit, hal 192

(18)

serta belum mampu untuk mewujudkan manusia Indonesia yang berakhlak, bersifat ksatria, dan patriotic.21

Berdasarkan uraian diatas dapat dikatakan, bahwa pendidikan pada masa orde baru perkembangannya sudah cukup maju tetapi masih mempunyai kekurangan. Untuk itu sangat diperlukan semangat kedepannya agar memiliki sumber daya manusia yang berpandangan serta berwawasan luas dan kritis dalam menyikapi kejadian-kejadian yang terjadi di masyarakat.

Keenam adalah periode reformasi mulai pada tahun 1998, masa ini perkembangan pendidikan telah mulai lebih maju dibandingkan pada masa orde baru, Pendidikan pada masa reformasi selalu bersifat untuk menginginkan perubahan yang reaksioner dan kritik dan selalu cepat membuat suatu kebijakan.

Pendidikan pada masa itu telah menghasilkan beberapa produk hukum berkaitan dengan pendidikan, sehingga sasaran utama penataan sistem pendidikan nasional pada masa reformasi digerakkan berjalan kesemua sektor pemerintah.

Perkembangan pendidikan sangat diperlukan, sebab pendidikan memiliki peran penting bagi kelangsungan hidupnya. Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menegaskan, bahwa mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan tujuan dari negara Indonesia untuk merdeka. Salah satu cara untuk mencerdaskan bangsa dapat diwujudkan dengan memperoleh pendidikan, sebab fungsi dari pendidikan adalah mencerdaskan anak bangsa.

Dimana pendidikan sering kali diasosiasikan secara sadar dengan pemahaman yang mengarahkan menusia pada kemandirian, sehingga dapat menyusun

21 M Sirosi, 2005, Dinamik a Hubungan Antara Kepentingan Kekuasaan Dan Praktik Penyelenggaraan Pendidik an, Raja Grafindo Persada, Jakarta, HA L 189.

(19)

gambaran hidup mereka kedepannya. Adapun pokok pikiran tersebut, dimana pendidikan nasional dirancang dengan usaha yang sadar dalam mempertahankan kelangsungan hidup serta mengembangkan dirinya terus- menerus dari generasi yang satu ke generasi berikutnya.

Mengenai pendidikan diatur dalam Pasal 31 ayat ( 1 ) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menyebutkan, “Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan”. Dalam hal ini semua warga negara mendapatkan haknya untuk memperoleh pendidikan baik pendidikan dasar sampai perguruan tinggi, pendidikan dasar wajib diikutti oleh setiap warga dan pemerintah wajib memberikan pendidikan tersebut serta membiayainya.

Pendidikan juga diatur dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) pada tahun 1948, dimana pendidikan secara konstitusi diakui sebagai hak asasi manusia. Terdapat pada BAB XA dari Pasal 28 A-J Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengatur mengenai hak asasi manusia.

Pasal yang mengatur mengenai pendidikan terdapat pada Pasal 28C ayat ( 1 ) menyebutkan,

“Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapatkan pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, meningkatkan kualitas hidup dan demi kesejahteraan hidup bersama umat manusia”,

Berdasarkan Pasal tersebut diatas, bahwa konstitusi negara menjamin hak- hak warga negara untuk memperoleh pendidikan. Beberapa peraturan perundang- undangan yang mengatur mengenai pendidika n telah direalisasikan oleh pemerintah bagi warga negara Indonesia dalam memperoleh pendidikan.

(20)

Pendidikan diatur dalam Pasal 1 ayat ( 1 ) Undang- Undang Republik Indonesia No. 23 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan,

“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memilki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa, dan negara”.

Ketentuan diatas berarti pendidikan bersifat sadar yang dilakukan dan diwujudkan untuk mengembangkan potensi dirinya dalam menentukan kepribadian serta kecerdasannya, hal tersebut akan memberikan ke masa depan yang lebih cerah. Selanjutya pendidikan nasional Pasal 1 ayat ( 2 ) Undang- Undang Republik Indonesia No. 23 Tahun 2003 tentang Sisitem Pendidikan Nasional menyebutkan,

“Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yang berakar pada nilai- nilai agama. Kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman”.

Sistem pendidikan nasional merupakan pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia, sehingga terdapat nilai-nilai agama serta kebudayaan nasional yang berkembang terhadap tuntutan zaman.

Adapun dasar, fungsi, dan tujuan dari pendidikan diatur dalam Pasal 2 Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan “ Pendidikan nasional berdasarkan Pancasila

(21)

dan Undang-Undang Negara Republik Indonesia Tahun 1945”, selanjutnya Pasal 3 menyebutkan,

“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang berima dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab”.

Berdasarkan kedua ayat tersebut diatas dapat dikatakan, bahwa Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 merupakan dasar dari pendidikan juga sebagai acuan dalam penyelenggaraannya sesuai dengan yang diharapkan. Pendidikan mempuyai fungsi dan tujuan dalam pengembangan kemampuan dan membentuk sifai-sifat mulia, sehingga dapat membentuk kepribadian yang baik serta meningkatkan taraf hidupnya kearah yang lebih baik.

Pendidikan merupakan prioritas utama yang harus diperoleh anak-anak bangsa agar dapat mengembangkan kepribadiannya, sebab pendidikan yang diperoleh dari awal atau pendidikan sejak dini berangsur-angsur akan membentuk karakteristik serta pola pikir pada anak. Pendidikan dasar yang diperoleh diatur dalam Pasal 6 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyebutkan, “Setiap warga negara yang berusia tujuh tahun sampai dengan lima belas tahun wajib mengikuti pendidikan dasar”. Ketentuan ayat tersebut diatas dapat dikatakan, bahwa pemerintah selaku negara diharapkan untuk lebih memperhatikan pendidikan dasar anak dari usia tujuh tahun sampai dengan lima belas tahun.

(22)

Selain itu, orang tua juga memiliki hak dan kewajiban yang diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 7 menyebutkan,

1. “Orang tua berhak berperan serta dalam memilih satuan pendidikan dan memperoleh informasi tentang perkembangan pendidikan anaknya”.

2. “Orang tua dari usia anak wajib belajar berkewajiban memberikan pendidikan dasar kepada anaknya”.

Ketentuan Pasal tersebut diatas berarti hak dan kewajiban orang tua sangat diperlukan dalam menentukan pendidikan anaknya. Mencari informasi pendidikan yang terbaik bagi anaknya. Terus memantau perkembangan anaknya di sekolah tempatnya menuntut ilmu. Orang tua juga mempunyai kewajiban dalam pembiayaan dalam pendidikannya, bagaimana agar anaknya mendapatkan pendidikan yang bagus. Dimana dengan kewajiban orang tua ini akan memberikan pintu sukses pada anak-anaknya nanti dalam mengikuti perkembangan di dunia pendidikan.

Hak dan kewajiban masyarakat memberi peran bagi pendidikan, yang diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 8 menentukan, “Masyarakat berhak berperan serta dalam pelaksanaan, pelaksanaan, pengawsan, dan evaluasi program pendidikan”. Selanjutnya Pasal 9 menentukan, “Masyarakat berkewajiban memberikan dukungan sumber daya dalam penyelenggaraan pendidikan”. Kedua Pasal tersebut dapat dikatakan, bahwa hak dan kewajiban dalam memberikan pendidikan tidak saja dari warga negara dan orang tua tetapi masyarakat pun memiliki hak dan kewajiban dalam pendidikan. Peran masyarakat dalam hal ini

(23)

berhak melaksanakan serta mengawasi mengenai apa yang menyangkut masalah pendidikan juga memiliki kewajiban dalam penyelenggaraan pendidikan.

Pendidikan hadir dalam berbagai bentuk dan jenisnya sebagai tempat proses pemanusiaan dan kemanusiaan yang sudah diterima sepanjang sejarah manusia berperadaban.22 Dengan mengikuti perkembangan dunia pendidikan semakin jelas terlihat dalam pelaksanaannya lebih terarah dan mengikuti aturan- aturan yang diatur dalam peraturan perundang- undanagan. Adapun Jalur, jenjang, dan jenis-jenis pendidikan diatur dalam Pasal 13 Undang-Undang Republik Indonesia No. 23 Tahun 2003 tentang Sistem pendidikan Nasional menyebutkan,

1. “Jalur pendididkan terdiri atas pendidikan forma l, informal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya”.

2. “Pendidikan sebagaimana dimaksud dalam ayat ( 1 ) diselenggarakan dengan sistem terbuka melalui tatap muka dan/atau melalui jarak jauh”.

Berdasarkan kedua ayat tersebut diatas dapat dikatakan, bahwa pendidikan memiliki jalur pendidikan yaitu formal dan informal yang diselenggarakan oleh pemerintah dengan sistem terbuka dan maupun jarak jauh, selanjutnya Pasal 14 Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan, ”Jenjang pendidikan folmal terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi”. Pasal 15 Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 menyebutkan, “Jenis pendidikan mencakup pendidikan umum, kejuruan, akademik, provesi, vokasi, keagamaan, dan khusus”. Menurut ketentuan kedua Pasal tersebut dapat

22 Sudarwan Danim, 2003, Agenda Pembaharuan Sistem Pendidik an, Pustaka Pelajar, Yogyaka rta, hal. 17.

(24)

dikatakan, bahwa tingkatan atau jenjang pendidikan diawali dengan terlebih dahulu adalah pendidikan dasar, menenga h, serta perguruan tinggi. Adapun jenis- jenis pendidikan salah satunya pendidikan profesi merupakan suatu pendidikan tinggi yang bertujuan untuk mendapatkan pekerjaan sesuai dengan keahliannya.

Semua anak Indonesia berhak atas pendidikan dasar, sebab dari itu pembentukan karakter mereka dibentuk, maka dari itu pemerintah mencanangkan wajib belajar. Wajib belajar tidak hanya untuk pendidikan dasar saja melainkan juga diperoleh oleh pendidikan menengah tingkat pertama. sebab pendidikan menengah tingkat pertama yang usianya antara 13 sampa i 15 belum produktif untuk bekerja. Dimana hal tersebut pemerintah mencanangkan wajib belajar untuk pendidikan menengah tingkat pertama yang merupakan kelanjutan wajib belajar pendidikan dasar.

Para perancang dan praktisi d i segala jalur, jenis, dan jenjang pendid ikan diharapkan untuk meningkatkan mutu pendidikan baik dari tingkat daerah maupun nasional serta menunjang kegiatan pembangunan dan meningkatkan kemampuan masyarakat untuk dapat berkompetensi di dunia pendidikan p ada era globalisasi.

Referensi

Dokumen terkait

Pada masa pasca proklamasi kemerdekaan, keadaan perekonomian Indonesia mengalami kondisi yang cukup terpuruk dengan terjadinya inflasi dan pemerintah tidak sanggup mengontrol mata

LDR memiliki pengaruh positif terhadap ROA, hal ini disebabkan apabila LDR meningkat berarti terjadi peningkatan total kredit dengan persentase lebih besar dari

Selain dalam bentuk makanan, pergeseran solidaritas masyarakat Sungai Deli juga dapat dilihat dari berkurangnya rata-rata bantuan yang diberikan masyarakat sekitar dalam

PENERAPAN STRATEGI DIRECTED READING THINKING ACTIVITY (DRTA) DALAM PEMBELAJARAN MEMBACA INTENSIF TEKS BIOGRAFI.. Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

[r]

Jika inflow yang masuk Waduk Kedungombo tidak dapat mencukupi kebutuhan debit rencana, maka sebaiknya perlu pengaturan pada pintu pengatur agar debit yang keluar dapat

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) penerapan Teori Van Hiele dalam pembelajaran matematika materi kubus dan balok pada siswa kelas VIII B SMP Islam Al- Ma’rifah

Pendapat lain yang mendukung tentang pengaruh panas terhadap penurunan kadar aloin adalah yang dikemukakan oleh Ramachandra and Rao (2008) yang menyatakan bahwa