DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
LAPORAN KOMISI VIII DPR RI
DALAM PEMBICARAAN TINGKAT II/PENGAMBILAN KEPUTUSAN
TERHADAP RAl\!CANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG .
KETENAGALISTRIKAN
TANGGAL 4 SEPTEMBER 2002 .
Assalamu'alaikum wr. wb.
Yth. Saudara Pimpinan Sidang;
Yth. Saudara Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral RI;
Yth. Saudi!ra-saudara Anggota Dewan;
Hadirin sekalian yang berbahagia.
Pertama-tama marilah kita memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, karena berkat ridho dan karunia-Nya kepada kita sekalian, maka pada hari ini kita dapat menghadiri Rapat Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dalam rangka pembicaraan Tingkat II/Pengambilan Keputusan atas Rancangan Undang-Undang tentang Ketenagalistri ka n.
Hadirin seka/ian yang kami muliakan,
Dalam kesempatan yang berbahagia ini sebelum pelaksanaan pengambilan keputusan terhadap Rancangan Undang-Undang tentang Ketenagalistrikan yang insya Allah sebentar lagi akan dilakukan, maka perkenankanlah terlebih dahulu saya atas nama Pimpinan dan segenap Anggota Komisi VIII untuk menyampaikan laporan kepada Sidang Paripurna Dewan ini atas pembahasan Tingkat I yang dilaksanakan oleh Komisi VIII.
I. ALASAN DIAJUKANNYA RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG KETENAGALISTRIKAN
Sektor ketenagalistrikan rnerupakan salah satu unsur vital dan strategis dalam perekonomian yang mempengaruhi kehidupan
segala lapisan masyarakat. Peranannya terus meningkat sejalan dengan pembangunan sarana dan prasarana ketenagalistrikan yang semakin menjangkau lebih banyak penduduk Indonesia.
Dinamika pertumbuhan sektor ketenagalistrikan terkait erat dengan sumber daya alam, sumber dana, dan sumber daya manusia. Pemanfaatan sumber daya tersebut berdarnpak pada harga, jumlah dan mutu tenaga listrik yang dihasilkan. Selain itu, dampak terhadap lingkungan hidup dan lingkungan sosio- ekonomis merupakan bagian yang semakin dipertimbangkan dalam pertumbuhan sektor ini.
Sejalan dengan tuntutan masyarakat yang sudah dan belum menjadi konsumen tenaga listrik maka pembangunan sektor ketenagalistrikan perlu diarahkan pada arah yang tepat.
Paradigma yang digunakan adalah listrik diproduksi dengan cukup, andal, harga yang ekonomis, dan berwawasan lingkungan dengan memperkenalkan kompetisi pada saat yang tepi3t. Sejauh mungkin konsumen yang membiayai sektor ini kecuali konsumen kecil yang tetap mendapat perlakuan khusus.
Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1985 tentang Ketenagalistrikan sudah tidak sejalan lagi dengan tuntutan dan kondisi saat ini dan masa depan. Struktur industri yang terintegrasi vertikal dan monopoli di semua segmen perlu diatur kembali sehingga dapat menempati tempat yang sesuai.
Dengan Undang-undang tentang Ketenagalistrikan yang baru maka struktur industri yang baru dapat diakomodasikan agar tercipta sektor ketenagalistrikan yang efisien, berkembang pesat, mandiri secara finansial, berdaya saing untuk menghasilkan tenaga listrik yang cukup, harga ekonomis, andal, aman, dan ramah lingkungan.
II. JADUAL PEMBAHASAN
Sidang Dewan yang kami muliakan,
Rancangan Undang-undang tentang Ketenagalistrikan disampaikan Pemerintah kepada DPR - RI melalui Surat Presiden Nomor : R-04/PU/II/2001 tanggal 5 Februari 2001.
Setelah melalui Pembicaraan Tingkat I, Keterangan. Pemerintah mengenai Rancangan Undang-undang tentang Ketenagalistrikan yang dilaksanakan pada tanggal 6 Juni 2001 dan Pemandangan
fraksi yang dilaksanakan pada tanggal 12 September 2001 maka berdasarkan Keputusan Rapat Sadan Musyawarah DPR-RI tanggal 27 September 2001, Pimpinan Dewan melalui suratnya Nomor : KD.01/5523/DPR-RI/2001 tanggal 1 Nopember 2001 menugaskan kepada Komisi VIII untuk menangani pembahasan atas Rancangan Undang-Undang tentang Ketenagalistrikan.
Pada Kesempatan ini kiranya perlu diketahui pula sebelum memasuki pembahasan di tingkat Komisi, maka Komisi VIII telah menyerap berbagai aspirasi yang berkembang di masyarakat dengan memperhatikan masukan, pendapat, pe1timbangan, perbalkan, saran, penyempurnaan maupun kritikan dari berbagai organisasi profesi dan stake holder di bidang ket:enagalistrikan, lembaga swadaya masyarakat, para pakar dan akademisi.
Setelah memperoleh masukan maupun menyerap aspirasi masyarakat maka berdasarkan penugasan tersebut, Komisi VIII sejak tanggal 22 Januari 2002 mulai melaksanakan pembahasan baik melalui Raker, Rapat Panja, Rapat Tim Kecil, Rapat Tim Perumus dan Rapat Tim Sinkronisasi.
Dengan semangat demokrasi proses pembahasan diwarnai dengan perdebatan yang cukup tajam, saling beradu pendapat, dan saling adu argumentasi yang sangat mendasar dan dilandasi semangat tidak mengenal lelah maka setelah melalui proses waktu yang cukup lama akhirnya mencapai kesepakatan. Kesepakatan yang diambil tentunya tidak akan dapat memuaskan semua pihak karena hanya satu keputusan yang perlu diambil dari beragamnya aspirasi dari hasil demokrasi dengan pertimbangan rasional dan objektif bagi kepentingan bangsa, maka pada tanggal 27 Agustus 2002 Komisi VIII bersama-sama dengan Pemerintah (Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral) menyetujui hasil Pembahasan Rancangan Undang-undang tentang Ketenagalistrikan di Tingkat Komisi. Pada Rapat tersebut baik Pemerintah maupun seluruh Fraksi-fraksi telah menandatangani dan menyetujui hasil Pembahasan di Tingkat Komisi dan dalam pendapat akhir mininya 9 (sembilan) fraksi rnengharapkan hasil pembaha~an di tingkat komisi dapat dibawa dan disetujui di Tingkat II dalam Rapat Paripurna yang dilaksanakan pada hari ini.
III. HASIL PEMBAHASAN
Beberapa hal hasil pernbahasan yang perlu kami sarnpaikan antara lain adalah :
1. Sistematika Rancangan Undang-Undang.
Jumlah bab mengalami penambahan yang semula terdiri dari 15 bab menjadi 17 bab karena ada penambahan 2 (dua) judul bab baru, dan judul Bab juga ada beberapa yang mengalami perubahan.
Pada rancangan undang-undang yang diajukan oleh Pemerintah terdapat 52 pasal. Dalam struktur baru yang telah disepakati di tingkat Panja jumlah pasal menjadi
?1.
Dengan penambahan bab baru dan judul bab baru tersebut maka sistematika bab menjadi :
Bab I Bab II Bab III
Bab IV Bab V Bab VI
Bab VII
Bab VIII Bab IX BabX Bab XI
Ketentuan Umum Asas dan Tujuan
Pemanfaatan Sumber Energi untuk Pembangkitan Tenaga Listrik
Rencana Umum Ketenagalistrikan Usaha Ketenagalistrikan
Hak dan Kewajiban Pemegang Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik dan Konsumen Tenaga Listrik
Penggunaan Tanah Oleh Pemegang Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik
Harga Jual Tenaga Listrik Penerimaan Negara
Lingkungan Hidup Dan Keselamatan Ketenagalistrikan Pemanfaatan Jaringan Tenaga Listrik Untuk
Kepentingan Lain
Bab XII Pembinaan dan Pengawasan
Bab XIII Sadan Pengawas Pasar Tenaga Listrik
Bab XV Ketentuan Pidana Bab XVI Ketentuan Peralihan Bab XVII Ketentuan Penutup
2. Hal-hal yang krusial
Ada beberapa hal yang menjadi isu kritis dalam pembahasan yaitu Bursa Tenaga Listrik, Kompetisi, Badan Pengatur dan mengenai Dana Pembangunan Ketenagalistrikan Sosial (DPKS).
Setelah melalui rangkaian perdebatan yang panjang dan diskusi yang mendalam serta memerlukan proses waktu yang lama
maka permasalahan tersebut dapat terselesaikan.
3. Pokok-pokok RUU Tentang Ketenagalistrikan
1) Dalam upaya memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa, tenaga listrik sebagai bagian dari cabang produksi yang penting bagi negara sangat menunjang upaya tersebut. Sebagai salah satu hasil pemanfaatan kekayaan alam yang menguasai hajat hidup orang banyak, tenaga listrik perlu dipergunakan untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.
2) Dalam upaya memenuhi kebutuhan tenaga listrik secara merata, adil, dan untuk lebih meningkatkan kemampuan negara dalam hal penyediaan tenaga listrik dapat diberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada Sadan Usaha Milik Negara, Sadan Usaha Milik Daerah, Koperasi atau Swasta - untuk menyediakan tenaga listrik berdasarkan Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik. Untuk penyediaan tenaga listrik skala kecil, prioritas diberikan kepada Sadan Usaha Kecil dan Menengah.
3) Bahwa dalarn rangka meningkatkan pemlJangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan di sektor ketenagalistrikan, diperlukan upaya untuk secara optimal dan efisien memanfaatkan sumber energi domestik serta energi yang bersih dan ramah lingkungan, dan teknologi yang efisien guna menghasilkan nilai tambah untuk pembangkitan tenaga listrik sehingga menjamin tersedianya tenaga listrik yang diperlukan.
5
4) Undang-undang ini merupakan landasan dan acuan bagi pelaksanaan restrukturisasi sektor ketenagalistrikan agar pengelolaan usaha di sektor ini dapat dilaksanakan secara lebih efisien, transparan, dan kompetitif. Kompetisi usaha penyediaan tenaga listrik dalam tahap awal diterapkan pada sisi pembangkitan dan dikemudian hari sesuai dengan kesiapan perangkat keras dan perangkat lunaknya akan diterapkan di sisi penjualan. Hal ini dimaksudkan agar konsumen listrik memiliki pilihan dan menentukan pasokan tenaga listriknya yang menawarkan harga paling bersaing dengan mutu dan pelayanan lebih baik.
5) Substansi pokok yang diatur di dalam Rancangan Undang- undang tentang Ketenagalistrikan ini dan tidak diatur dalam Undang-undang Nomor 15 Tahun 1985, antara lain meliputi :
• Memungkinkan diterapkannya kompetisi di Sisi pembangkit dan kompetisi di sisi penjualan tenaga listrik, agar resiko investasi dapat dibagi merata melalui mekanisme pasar tenaga listrik.
• Memberikan peranan kepada Pemerintah Daerah untuk pe ngembangan usaha penyediaan tenaga listrik untuk kepen tingan umum yang off grid (diluar jaringan)dalam rangka mempercepat program elektrifikasi kepada seluruh rakyat.
• Memberikan berbagai skema investasi di sektor ketenagalistrikan yang memungkinkan penyediaan tenaga listrik diselenggarakan secara lebih efisien, transparan dan kompetitif.
• Mewajibkan penyelenggaraan usaha penyediaan tenaga listrik untuk memenuhi ketentuan mengena! keselamatan ketenagalistrikan yang termasuk di dalamnya unsur kelestarian fungsi lingkungan hidup.
6) Peranan Sadan Usaha Milik Negara dalam Rancangan Undang-undang ini tetap memegang peranan penting dalam usaha penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan umum oleh karena diberikan kewenangan untuk :
• Mengelola segmen usaha yang monopoli alamiah (misalnya transmisi, distribusi dan penjualan tenaga listrik).
• Mengelola segmen usaha yang bersifat strategis (misalnya
• Mengelola usaha penyediaan tenaga listrik secara terintegrasi (pembangkit, transmisi, distribusi dan penjualan tenaga listrik) di wilayah yang tidak atau belum menerapkan kompetisi.
7) Rancangan Undang-undang ini dalam bentuknya yang sekarang dapat dikatakan bersifat "konservat:if" oleh karena kompetisi dalam penyediaan tenaga listrik dapat diselenggarakan tanpa harus menjadi liberal dengan jalan memberikan tugas kepada Sadan Usaha Milik Negara untuk mengelola segmen usaha yang monopoli alamiah dan segmen usaha yang bersifat strategis sepert:i disebutkan di atas.
8) Dalam penerapannya, kompetisi hanya akan diterapkan pada sebagian dari wilayah Republik Indonesia yang secara teknis dan ekonomis memungkinkan. Ditinjau dari sisi ini, maka dalam jangka waktu 10 sampai dengan 20 tahun mendatang, sebagian besar wilayah Indonesia akan tetap menerapkan usaha penyediaan tenaga listrik yang masih terintegrasi vertikal seperti saat ini. Oleh karenanya, Rancangan Undang- undang ini juga memuat ketentuan-ketentuan mengenai usaha penyediaan tenaga listrik di wilayah yang tidak atau belum menerapkan kompetisi.
9) Di samping itu, melalui Rancangan Undang-undang ini telah dicanangkan komitmen yang tegas bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah menyediakan dana pembangunan sarana penyediaan tenaga listrik untuk membantu kelompok konsumen tidak mampu (baik di wilayah yang sudah maupun belum menerapkan kompetisi), pembangunan sarana penyediaan tenaga listrik di daerah yang belum berkembang, daerah terpencil dan pembangunan listrik perdesaan.
10) Dalam Undang-undang ini selain diatur hak dan kewajiban pengusaha dan masyarakat yang menggunakan tenaga listrik, juga diatur sanksi terhadap tindak pidana yang menyangkut ketenagalistrikan, mengingat sifat bahaya dari tenaga listrik dan akibat yang ditimbulkannya. Disamping itu, untuk menjamin keselamatan manusia disekit.ar instalasi, keselamatan pekerja, keamanan instalasi dan kelestarian fungsi lingkungan, usaha penyediaan tenaga listrik dan pemanfaatan tenaga listrik harus memenuhi ketentuan mengenai keselamatan ketenagalistrikan.
7
Yth. Saudara Pimpinan Sidang;
Yth. Saudara Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral RI;
Yth. Saudara-saudara Anggota Dewan; dan Hadirin sekalian yang berbahagia.
Demikianlah beberapa point-point penting yang dapat kami sampaikan dalam laporan singkat ini dalam mengawali Pendapat Akhir Fraksi-fraksi dalam rangkaian proses pengambilan keputusan terhadap Rancangan Undang-undang tentang Ketenagalistrikan pada Rapat Paripurna ini.
Sebelum mengakhiri Laporan Singkat lni, selaku Pimpinan Komisi VIII DPR-RI yang dipercayakan membahas Rantangan Undang-undang tentang Ketenagalistrikan, kami ingin menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua kalangan yang telah berperan serta, baik .langsung maupun tidak langsung dalam penyelesaian pembahasan rancangan undang-undang ini. Kepada Bapak Pimpinan Dewan kami sampaikan penghargaan dan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada Komisi VIII DPR-RI untuk bersama Pemerintah membahas Rancangan undang-undang tentang Ketenagalistrikan. Demikian pula kepada Bapak/Ibu Pirnpinan Fraksi- fraksi, kami sampaikan penghargaan dan terima kasih atas arahan dan petunjuk yang telah disampaikan kepada masing-masing Anggota Fraksi yang ada di Komisi VIII DPR-RI.
Kepada Pemerintah, khususnya Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral beserta seluruh jajaran Direktorat Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi yang begitu akomodatif dan demokratis dalam mencermati setiap usulan perubahan yang disampaikan masing-masing fraksi, kami sarnpaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya.
Begitu pula kepada media massa yang selalu mengikuti perkembangan pembahasan RUU Ketenagalistrikan, kami mengucapkan terima kasih.
Tak lupa pula kami sampaikan penghargaan dan terima kasih kepada Jajaran Sekretariat Jenderal DPR-RI khususnya Sekretariat Komisi VIII DPR-RI yang dengan cermat dan tanpa mengenal lelah, mengikuti serta rnelayani keseluruhan rangkaian proses pembahasan terhadap rancangan undang-undang ini.
Saudara Pimpinan dan hadirin sekalian yang kami hormatl
Masih banyak pihak yang telah banyak membantu dan tidak dapat kami sebutkan satu per satu melalui kesempatan ini. Namun demikian,
rapat selama dalam pembahasan tersebut, yang mungkin mengusik batin dan perasaan setiap Anggota Komisi VIII DPR-RI, Jajaran Direktorat Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi dan Jajaran Sekretariat Jenderal DPR-RI, maka melalui kesempatan ir.i kami atas nama Pimpinan Komisi VIII DPR-RI menyampaikan permohonan maaf kepada pihak-pihak tersebut. serta pihak-pihak lainnya yang terkait.
Dengan permohonan maaf tersebut di atas, dan dengan keyakinan bahwa kami telah dimaafkar:i, kami akhiri laporan ini dengan harapan kiranya apa yang akan kita putuskan hari ini memiliki nilai yang cukup strategis bagi kegiatan usaha ketenagalistrikan di Indonesia pada masa- masa yang akan datang.
Sekian dan terima kasih, wassalamu'a/aikum wr.wb.
Jakarta, 4 September 2002 PIMPINAN KOMIS! VIII DPR RI
WAK L KETUA,
EFFENDI