DAFTAR ISI
ABTRAKSI ... i
KATA PENGANTAR ... iii
UCAPAN TERIMA KASIH. ... vi
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR TABEL ... xiii
DAFTAR GRAFIK... xvi
DAFTAR GAMBAR ... xix
DAFTAR LAMPIRAN ... xxi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi dan Perumusan Masalah ... 13
1. Identifikasi Masalah ... 13
2. Perumusan Masalah ... 14 .
C. Tujuan Penelitian ... 15
D. Manfaat/Signifikasi Penelitian ... 16
E. Struktur Organisasi Tesis ... 16
BAB II KAJIAN PUSTAKA... 19
A. Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dalam Kontek Pendidikan Karakter.... 19
1. Perkembangan Pendidikan Kewarganegaran (PKn)... 19
2. Pendidikan Kewarganegaraan sebagai Pendidikan Nilai ... 27
B. Kompetensi Guru Pendidikan Kewarganegaraan ... 31
1. Pengertian Kompetensi ... 31
2. Kopetensi Menurut Lampiran (Permendiknas) ... 33
C. Komitmen Guru Pendidikan Kewarganegaraan ... 45
1. Komitmen Berhubungan Dengan Motivasi ... 45
4. Strategi Menumbuhkan Komitmen ... 49
5. Komitmen Dalam Konteks Penjaminan Mutu ... 52
D. Urgensi Implementasi Pendidikan Karakter ... 57
1. Ruang Lingkup Sasaran Pembangunan Karakter Bangsa ... 63
2. Fungsi, Tujuan Pendidikan Budaya Dan Karakter Bangsa ... 66
3. Nilai-Nilai Yang Dikembangkan Dalam Pendidikan BudayaDan Karakter Bangsa ... 67
4. Prinsip-prinsip Yang Digunakan Dalam Pengembangan Pendidikan Budaya Dan Karakter Bangsa ... 69
5. Implementasi Pendidikan Budaya dan Karakter ... 72
E. Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan ... 86
F. Hasil Kajian Penelitian Terdahulu ... 95
BAB III METODE PENELITIAN ... 97
A. Lokasi dan Sujek Populasi dan Sampel Penelitian ... 97
1. Lokasi ... 97
2. Populasi... 100
3. Sampel Penelitian... 100
a. Sampel Purposif (Purposive Sample)... 101
b. Sampel Stratifikasi ( Stratified Sample)... 104
c. Sampel Proposional (Proportional Sample)... 104
d. Sampel Rendom... 105
B. Desain Penelitian... 106
C. Metode Penelitian... 107
D. Definisi Operasional... 108
1. Validitas Operasional... 108
2. Operasional Variabel... 110
E. Istrumen Penelitian... 116
F. Proses Pengembangan Istrumen... 116
H. Analisa Data ... 124
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 137
A. Fase Penelitian ... 137
1. Persiapan Penelitian ... 137
2. Proses Pelaksanaan ... 141
B. Deskripsi Hasil Penelitian Berdasarkan Perolehan Skor ... 142
1. Deskripsi Umum Variabel Kompetensi PengaruhnyaTerhadap Hasil Belajar ... 142
a. Deskripsi Umum Variabel Kompetensi Pedagogik Pengaruhnya Terhadap Hasil Belajar ... 142
b. Deskripsi Umum Variabel Kompetensi Kepribadan Pengaruhnya Terhadap Hasil Belajar ... 147
c. Deskripsi Umum Variabel Kompetensi Sosial PengaruhnyaTerhadap Hasil Belajar ... 151
d. Deskripsi Umum Variabel Kompetensi PropesionalPengaruhnya Terhadap Hasil Belajar ... 155
2. Deskripsi Umum Variabel Komitmen PengaruhnyaTerhadap Hasil Belajar ... 162
a. Deskripsi Umum Variabel Komitmen Psikologis PengaruhnyaTerhadap Hasil Belajar... 162
b. Deskripsi Umum Variabel Komitmen KontinuPengaruhnyaTerhadap Hasil Belajar... 166
c. Deskripsi Umum Variabel Komitmen PengaruhnyaTerhadap Hasil Belajar... 170
3. Deskripsi Umum Variabel Implementasi PendidikanKarakter Pengaruhnya Terhadap Hasil Belajar ... 176
b. Deskripsi Umum Variabel Implementasi Visi Misi Dalam Perencanaan PendidikanKarakter Pengaruhnya Terhadap Hasil
Belajar... 180
c. Deskripsi Umum Variabel Implementasi PendidikanKarakter Pengaruhnya Terhadap Hasil Belajar... 184
4. Deskripsi Umum Hubungan Antarvariabel Kompetensi,Komitmen, Implementasi Pendidikan Karakter , Dan HasilBelajar ... 192
C. Deskripsi Hasil Penelitian Dengan Menggunakan Analisis Jalur ... 195
1. Asumsi Yang Harus Dipenuhi dalam Analisis Jalur ... 196
2. Model Hubungan Antarvariabel Kesatu ... 201
3. Model Hubungan Antarvariabel Kedua ... 210
D. Analisis Hasil Penelitian ... 221
1. Pengaruh Kompetensi Guru Pendidikan Kewarganegaraan Terhadap HasilBelajar Siswa... 221
2. Pengaruh Komitmen Guru PKn Terhadap Hasil Belajar... 237
3. Pengaruh KompetensiGuru PKn Terhadap Implementasi Pendidikan Karakter... 239
4. Pengaruh Komitmen Guru PKn Terhadap Implementasi Pendidikan Karakter ... 241
5. Hubungan Simultan Kompeteni Guru PKn, Komitmen Guru PKn,Dan Implementasi Pendidikan Karakter Terhadap Hasil Belajar Siswa... 246
E. Pembahasan hasil penelitian ... 1. Pengaruh Kompetensi Guru Pendidikan Kewarganegaraan Terhadap HasilBelajar Siswa... 247
2. Pengaruh Komitmen Guru PKn Terhadap Hasil Belajar... 252
3. Pengaruh KompetensiGuru PKn Terhadap Implementasi Pendidikan Karakter... 256
4. Pengaruh Komitmen Guru PKn Terhadap Implementasi Pendidikan Karakter ... 256
BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI, DAN REKOMENDASI ... 258
A. Kesimpulan ... 258
1. Kesimpulan Umum ... 258
2. Kesimpulan Khusus ... 259
B. Implikasi ... 260
C. Rekomendasi ... 263
DAFTAR PUSTAKA ... 265 LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel
3.1 Operasional Variabel ... 110
3.2 Hasil Uji Validitas Variabel x1 ... 118
3.3 Hasil Uji Validitas Variabel x2 ... 120
3.4 Hasil Uji Validitas Variabel x3 ... 121
3.5 Hasil Perhitungan Uji Reliabilitas x1 ... 123
3.6 Hasil Perhitungan Uji Reliabilitas x2 ... 123
3.7 Hasil Perhitungan Uji Reliabilitas x3 ... 123
3.8 Interpretasi Koefisien Korelasi ... 131
4.1 Hasil Perhitungan Uji Reliabilitas ... 141
4.2 Total Skor Kompetensi Pedagogik ... 143
4.3 Sebaran Jawaban Responden Berdasarkan Skor dan Persentase Pada Kompetensi Pedagogik ... 145
4.4 Total Skor Kompetensi Kepribadian Guru Pendidikan Kewarganegaraan ... ... 147
4.5 Sebaran Jawaban Responden Berdasarkan Skor dan Persentase Pada Kompetensi Sosial ... 149
4.6 Total Skor Variabel Kompetensi Sosial Guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) ... 151
4.7 Sebaran Jawaban Responden Berdasarkan Skor dan Persentase Pada Kompetensi Sosial ... 153
4.8 Total Skor Variabel Kompetensi Profesional Guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) ... 155
4.9 Sebaran Jawaban Responden Berdasarkan Skor dan Persentase Pada Kompetensi Profesional ... 158
4.10 Sebaran Jawaban Responden Berdasarkan Skor dan Persentase Pada Variabel Kompetensi ... 160
4.11 Total Skor Komitmen Kondisi Psikologis ... 162
4.13 Total Skor Variabel Komitmen Kontinu Guru Pendidikan
Kewarganegaraan (PKn) ... 167
4.14 Sebaran Jawaban Responden Berdasarkan Skor dan Persentase Pada Komitmen Kontinu ... 169
4.15 Total Skor Variabel Komitmen Normatif Guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) ... 171
4.16 Sebaran Jawaban Responden Berdasarkan Skor dan Persentase Pada Komitmen Normatif ... 173
4.17 Sebaran Jawaban Responden Berdasarkan Skor da Persentase Pada Komitmen ... 175
4.18 Total Skor Implementasi Pendidikan Karakter Pada Visi Misi Sekolah . 177 4.19 Sebaran Jawaban Responden Berdasarkan Skor dan Persentase Implementasi Pendidikan Karakterk Pada Visi Misi Sekolah ... 179
4.20 Total Skor Variabel Implementasi Pendidikan Karakter Visi Misi Dalam Perencanaan Pembelajaran ... 180
4.21 Sebaran Jawaban Responden Berdasarkan Skor dan Persentase Implementasi Pendidikan Karakter Pada Visi Misi Sekolah Dalam Perencanaan ... 182
4.22 Total Skor Implementasi Pendidikan Karakter Pada Visi Misi Sekolah Pembelajaran ... 184
4.23 Sebaran Jawaban Responden Berdasarkan Skor dan Persentase Implementasi Pendidikan Karakter Pada Visi Misi Sekolah Dalam Pembelajaran ... 186
4.24 Sebaran Jawaban Respondewn Berdasarkan Skor dan Persentase Implementasi Pendidikan Karakter ... 188
4.25 Deskripsi Statistik Rata-rata Variabel Kompetensi, Komitmen dan Implementasi Pada Pendidikan Karakter ... 190
4.26 Sebaran Jawaban Responden Antar Variabel ... 191
4.27 Deskripsi Statistik Semua Variabel ... 191
4.30 Hasil Uji Multikolinearitas Model Hubungan Pertama Coefficientsa .... 198
4.31 Hasil Uji Multikolinearitas Model Hubungan Kedua Coefficientsa ... 199
4.32 ANOVA b ... 201
4.33 Coefficientsa ... 203
4.34 Standardized Coefficientsa ... 206
4.35 Model Summary b ... 207
4.36 Correlations... 208
4.37 Hasil Analisis Jalur Kesatu ... 209
4.38 Uji Keseluruhan ANOVAb ... 210
4.39 Coefficientsa ... 212
4.40 Standardized Coefficientsa ... 216
4.41 Model Summary b ... 217
4.42 Correlations... 218
4.43 Hasil Penelitian Model Hubungan Kedua ... 219
4.44 Coefficientsa ... 221
4.45 Coefficientsa ... 239
4.46 Coefficientsa ... 241
DAFTAR GRAFIK
Grafik
4.1. Sebaran JawabanResponden Berdasarkan Skor dan Persentase Pada
Kompetensi Pendagogik….………... 146
4.2. Sebaran JawabanResponden Berdasarkan Skor dan Persentase Pada
Kompetensi Pendagogik………... 146
4.3. Sebaran JawabanResponden Berdasarkan Skor dan Persentase Pada
Kompetensi Kepribadian.………... 150 4.4. Sebaran JawabanResponden Berdasarkan Skor dan Persentase Pada
Kompetensi Kepribadian.………... 150
4.5. Sebaran JawabanResponden Berdasarkan Skor dan Persentase Pada
Kompetensi Sosial………..………... 154
4.6. Sebaran JawabanResponden Berdasarkan Skor dan Persentase Pada
Kompetensi Sosial………..………... 154
4.7. Sebaran JawabanResponden Berdasarkan Skor dan Persentase Pada
Kompetensi Profesional………... 158 4.8. Sebaran JawabanResponden Berdasarkan Skor dan Persentase Pada
Kompetensi Profesional………... 159
4.9 Sebaran JawabanResponden Berdasarkan Skor dan Persentase Pada
Kompetensi ………... 161
4.10 Sebaran JawabanResponden Berdasarkan Skor dan Persentase Pada
Kompetensi ………... 161
4.11 Sebaran JawabanResponden Berdasarkan Skor dan Persentase Pada
Komitmen Kondisi Psikologis ………... 165
4.12 Sebaran JawabanResponden Berdasarkan Skor dan Persentase Pada
Komitmen Kondisi Psikologis ………... 166
4.13 Sebaran JawabanResponden Berdasarkan Skor dan Persentase Pada
4.14 Sebaran JawabanResponden Berdasarkan Skor dan Persentase Pada
Komitmen Kontinu ………….. ………... 170
4.15 Sebaran JawabanResponden Berdasarkan Skor dan Persentase Pada
Komitmen Normatif ………….. ………... 173
4.16 Sebaran JawabanResponden Berdasarkan Skor dan Persentase Pada
Komitmen Normatif ………….. ………... 174
4.17 Sebaran JawabanResponden Berdasarkan Skor dan Persentase Pada
Komitmen ………. ………….. ………... 175
4.18 Sebaran JawabanResponden Berdasarkan Skor dan Persentase Pada
Komitmen ………. ………….. ………... 176
4.19 Sebaran JawabanResponden Berdasarkan Skor dan Persentase Pada
Implementasi Pendidikan Karakter Pada Visi Misi Sekolah ……….. 179
4.20 Sebaran JawabanResponden Berdasarkan Skor dan Persentase Pada
Implementasi Pendidikan Karakter Pada Visi Misi Sekolah ……….. 180
4.21 Sebaran Jawaban Responden Berdasarkan Skor dan Persentase Pada Implementasi Pendidikan Karakter Pada Visi Misi Sekolah Dalam
Perencanaan ……….. ……….. 183
4.22 Sebaran Jawaban Responden Berdasarkan Skor dan Persentase Pada Implementasi Pendidikan Karakter Pada Visi Misi Sekolah Dalam
Perencanaan ……….. ……….. 183
4.23 Sebaran Jawaban Responden Berdasarkan Skor dan Persentase Pada Implementasi Pendidikan Karakter Pada Visi Misi Sekolah Dalam
Pembelajaran ……….. ………. 187
4.24 Sebaran Jawaban Responden Berdasarkan Skor dan Persentase Pada Implementasi Pendidikan Karakter Pada Visi Misi Sekolah Dalam
Pembelajaran ……….. ………. 187
4.25 Sebaran JawabanResponden Berdasarkan Skor dan Persentase Pada
Implementasi Pendidikan Karakter ……… ……… 189
4.26 Sebaran JawabanResponden Berdasarkan Skor dan Persentase Pada
Implementasi Pendidikan Karakter ……… ……… 189
DAFTAR GAMBAR
GAMBAR
2.1 Pengembangan Nilai-nilai Pendidikan dan Karakter Bangsa... 70
2.2 Implementasi Pendidikan Karakter nP ada Mata Pelajaran …………....… 70
2.3 Grand Design Pendidkan Karakter ……….… 71
2.4 Pelaksanaan Pembelajaran ………... 82
2.5 Pendidikan Karakter Terintegrasi dalam Pembelajaran Semua Mapel …... 86
3.1 Alur Penelitian ………... 107
4.1 Model Hubungan Antarvariabel ……….. 195
4.2 Model Hubungan Antarvariabel kesatu ……….. 195
4.3 Model Hubungan Antarvariabel kedua ………... 196
4.4 Uji Normalitas Variabel Implementasi ………... 197
4.5 Uji Normalitas Variabel Hasil Belajar. ………... 197
4.6 Scatterplot untuk uji Heterokedastisitas variable terikat Implementasi ….. 200
4.7 Scatterplot untuk uji Heterokedastisitas variable ……….... 200
4.8 Daerah Penolakan Ho dan Penerimaan H1……….……. 202
4.9 Daerah Penolakan Ho dan Penerimaan H1……….……. 204
4.10 Daerah Penolakan Ho dan Penerimaan H1……….……. 205
4.11 Hubungan antarvariabel ……….. 207
4.12 Daerah Penerimaan Hountuk Korelasi ….……….……. 208
4.13 Daerah Penerimaan Signifikan Kopetensi, Komitmen, dan Implementasi terhadap Hasil Belajar ………. 211
4.14 Daerah Penerimaan Signifikan Kontribusi Kompetensi terhadap Hasil Belajar……….. 213
4.15 Daerah Penerimaan Signifikan Kontribusi Komitmen terhadap Implementasi………,,,. 214
4.16 Daerah Penerimaan Signifikan Kontribusi Implementasi terhadap Hasil Belajar……….. 215
4.18 Daerah penerimaan korelasi signifikan kompetensi dengan implementasi.. 218
4.19 Model Hubungan Antarvariabel ……….. 220
4.20 Pelaksanaan Pembelajaran ………... 224
DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN 1. Matriks
2. Kuisioner Penelitian
3. Data Hasil Uji Kuisioner Penelitian 4. Data Mentah
5. Pengolahan Data dengan SPSS 6. Pembimbing.
7. Perizinan
Ati Rohaeti, 2012
BAB I
PENDAHULUAN
Bab I menyajikan pendahuluan berisi uraian mengenai : Latar belakang masalah, identifikasi dan perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat/
signifikansi penelitian, dan struktur organisasi tesis. Langkah demi langkah dalam bagian pendahuluan ini, akan dibahas lebih terperinci pada bahasan di bawah ini :
A. Latar Belakan Masalah.
Karakter bangsa merupakan aspek pembangunan nasional yang sangat strategis untuk fondasi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.Setiap
pelaksanaan pembangunan harus diarahkan untuk karakter bangsa. Mengenai hal tersebut, secara konstitusional tercantum dalam Undang-Undang No. 17 Tahun
2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025, Bab IV mengenai Arah Pembangunan, yakni:
“...terwujudnya karakter bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, dan bermoral berdasarkan Pancasila, yang dicirikan dengan watak dan prilaku manusia dan masyarakat Indonesia yang beragam, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi luhur, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, dan berorientasi iptek.”
Berbagai upaya dan pemikiran perlu disikapi positif dan ditangkap dengan
karya nyata dari semua insan baik itu di lingkungan masyarakat, maupun intansi pemerintahan, yakni dengan siap sedia untuk memulai melakukan kegiatan pendidikan karakter di lingkungan masing-masing berdasarkan kapasitas dan
Arah, Tahap, dan Prioritas Pembangunan Jangka Panjang 2005-2025 cukup jelas, yaitu terwujudnya karakter bangsa yang tangguh, kompetitif,
berakhlak mulia, dan bermoral berdasarkan Pancasila.
Alasan mendasar yang melatari pentingnya pembangunan karakter bangsa,
baik secara filosofis, ideologis, normatif, historis maupun sosiokultural tertuang dalam Desain Induk Pendidikan Karakter Bangsa (2010:1 ) bahwa ;
Secara filosofis, pembangunan karakter bangsa merupakan sebuah kebutuhan asasi dalam proses berbangsa, karena hanya bangsa yang memiliki karakter dan jati diri yang kuat yang akan eksis. Secara ideologis, pembangunan karakter merupakan upaya mengejawantahkan ideologi Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Secara normatif, pembangunan karakter bangsa merupakan wujud nyata langkah mencapai tujuan negara. Secara historis, pembangunan karakter bangsa merupakan sebuah dinamika inti proses kebangsaan yang terjadi tanpa henti dalam kurun sejarah, baik pada zaman penjajahan maupun pada zaman kemerdekaan. Secara sosiokultural, pembangunan karakter bangsa merupakan suatu keharusan dari suatu bangsa yang multikultural.
Pembangunankarakterbangsa yang
sudahdiupayakandenganberbagaibentuk,hinggasaatinibelumterlaksanadenganopti
mal.Terdapatkesenjangansosial-ekonomi-politik yang masih besar,kerusakan lingkungan yang terjadi di berbagai pelosok negeri,masih terjadinya ketidakadilan hukum, pergaulan bebas dan pornografi yang terjadi di kalangan remaja,
kekerasan dan kerusuhan, korupsi yang merambah pada semua sektor kehidupan masyarakat.
Ati Rohaeti, 2012
nilai-nilai budaya bangsa,(5) ancaman disintegrasi bangsa, dan (6) melemahnya kemandirian bangsa.
Kejadian-kejadian tersebut bertentangan dengan adat istiadat,
kebiasaan,dan kepribadian bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia yang dikenal sebagai bangsa yang ramah, sopan, dan suka bermusyawarah dalam menyelesaikan setiap perbedaan, selalu bergotong royong dalam mengerjakan
kepentingan masyarakat dan lain sebagainya.
Pendidikan karakter sesungguhnya sudah tercermin dalam Undang-Undang
No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional ( Sisdiknas), yang berbunyi “ Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.
Pendidikan nasional yang berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI 1945) berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang
bermartabat dalam rangkamencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Mengemban fungsi tersebut pemerintah menyelenggarakan suatu sistem
Fungsi dan tujuan pendidikan nasional menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun berkepribadian atau
berkarakter, selain itu bagaimana bangsa Indonesia mampu merealisasikan konsep pendidikan dengan cara pembinaan, pelatihan dan pemberdayaan Sumber Daya
Manusia (SDM) secara berkelanjutan dan merata, sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh dan berkembang dengan karakter yang bernafas nilai-nilai luhur bangsa. Singkatnya melalui pendidikan hendak diwujudkan
peserta didik yang memiliki berbagai kecerdasan, baik kecerdasan spiritual, emosional, sosial, intelektual maupun kecerdasan kinestetika. Rumusan tujuan
pendidikan yang paling ideal, ambisius dan nyaris sempurna, tetapi tetap saja menyimpan pertanyaan besar mengapa dalam alam praktik kehidupan masih muncul krisis akut yang tak berkesudahan.
Namun, tampaknya ruh pendidikan nasional Indonesia yang demikian agung, jika menyimak fungsi dan tujuan pendidikannasional, dalam prakteknya
masih terdapat beberapa kelemahan dan kendala yang serius. Salah satu diantara kendala tersebut, adalah telah terjadi proses reduksi makna pendidikan yang seolah-olah hanya melalui sekolah. Padahal sebagaimana mestinya dipahami
pendidikan berlangsung pada tiga lingkungan, yakni lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat. Akibat dari proses reduksi maka lepaslah tanggung jawab
keluarga dan masyarakat dari kewajiban mendidik manakala telah memasukan anaknya ke sekolah.
Ati Rohaeti, 2012
proses mendidik tidak mendapat perhatian yang semestinya. Reduksi ketiga mengajar dimaknai hanya berlangsung di kelas. Dan ternyata reduksi selanjutnya
yang ke empat yang memaknai bahwa pembelajaran di kelaspun di batasi dengan buku teks sebagai satu-satunya sumber belajar yang utama. Terakhir terjadi
reduksi yang kelima, yang berkenaan dengan penilaian akhir yang seolah-olah hanya bermuara pada ujian nasional (Budimansyah, 2012: iv).
Langkah-langkah nyata implementasi Sisdiknas dijabarkan ke dalam
sejumlah peraturan antara lain Peraturan Pemerintah No.19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP). Peraturan inimemberikan arahan tentang
perlunya disusun dan dilaksanakan delapan standar nasional pendidik yang meliputi standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan,
standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan. Untuk mengimplementasikan standar-standar tersebut, Menteri Pendidikan
mengeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No .16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru.
Guru sebagai pendidik dan tenaga Kependidikan dalam melaksanakan
tugasnya harus sudah menguasai dan mengaplikasikan minimalnya lima standar, yakni: (1) standar isi meliputi ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang
dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh
untuk mencapai standar kompetensi lulusan, (3) standar kompetensi lulusan adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan dan
keterampilan, (4) standar pendidik dan tenaga kependidikan adalah kriteria pendidikan prajabatan dan kelayakan fisik ataupun mental, seperti pendidikan
dalam jabatan, dan (5) standar penilaian pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme prosedur dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik.
Perkembangan pendidikan dan mengapresiasi peraturan-peraturan baru, guru-guru harus selalu rajin mengikutimasalah aktual dan mulai mencoba
melakukan yang belum pernah dilakukan, menyempurnakan hal-hal yang belum sempurna.Tidakdiragukan lagi bahwa guru memiliki kompetensi yang benar-benar sudah teruji. Hal ini nampak di dalam sebuah seleksi calon guru harus memiliki
standar kualifikasi akademik dengan ijazah atau ujian kelayakan dan kesetaraan, dan kompetensi guru yang meliputi kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial,
dan profesional.
Pendidikan Karakter pada dasarnya merupakan bagian esensial yang menjadi tugas sekolah , tetapi selama ini kurang perhatian . Akibat minimnya
perhatian terhadap pendidikan karakter dalam ranah pesekolahan, menyebabkan berkembangnya penyakit sosial di tengah masyarakat . Seyogiannya sekolah tidak
hanya meningkatkan pencapaian akademis, tetapi bertanggung jawab dalam membentuk karakter peserta didik. Capaian akademis dan pembentukan karakter
Ati Rohaeti, 2012
Menurut Mochtar Buchori 2007 ( Panduan Pendidikan Karakter di Sekolah Menengah Pertama 2010: 6) tentang pendidikan karakter seharusnya :
„... membawa peserta didik ke pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif, dan akhirnya ke pengamalan nilai secara nyata. Pendidikan karakter yang selama ini ada di SMP perlu segera dikaji, dan dicari altenatif-alternatif solusinya, serta perlu dikembangkannya secara lebih operasional sehingga mudah diimplementasikan di sekolah.
Guru-guru dalam mengimplementasikan pendidikan karakter tidak hanya sebatas wacana, dan sebatas pengetahuan saja, tetapi perlu mengembangkan
komitmen yang tinggi, sehingga pendidikan karakter benar-benar terlaksana dengan baik dan berhasil sesuai harapan. Perubahan dibutuhkan tindakan. Tindakan dibutuhkan kesadaran, pengetahuan, dan keterampilan teknis.
Pendidikan Karakter pada dasarnya telah dilakukan sejak lama, antara lain melalui integrasi imtaq ke dalam pembelajaran, Pendidikan Budi Pekerti, P4 (Pedoman Penghayatan, dan Pengamalan Pancasila) dan program-program lainnya. Namun demikian pendidikan karakter di sekolah selama ini baru menyentuh pada tingkatan pengenalan norma atau nilai-nilai, dan belum secara optimal pada tingkatan internalisasi dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. (Panduan Pendidikan Karakter di Sekolah Menengah Pertama 2010: 6).
Pengembangan karakter di lingkungan pendidikan sementara ini, direalisasikandalam pelajaran agama, pelajaran kewarganegaraan, atau pelajaran
lainnya, yang program utamanya cenderung pada pengenalan nilai-nilai secara kognitif, dan mendalam sampai ke penghayatan nilai secara afektif. langkahkonatif. Pendidikan karakter mestinya mengikuti langkah-langkah yang
nilai secara afektif, dan langkah pembentukan tekad secara konatif. Ki Hadjar Dewantoro menterjemahkannya dengan kata-kata cipta, rasa, dan karsa.
Selanjutnya,Zubaedi(2011:20) menjelaskan:
Pendidikan karakter dari sisi subtansi dan tujuan sama dengan pendidikan budi pekerti, sebagai sarana untuk mengadakan perubahara mendasar, karena membawa perubahan secara mendasar, karena membawa perubahan individu sampai keakar-akarnya. Istilah budi pekerti mengacu kepada moralitas, yang mengandung pengertian, antara lain adat istiadat, sopan santun, dan prilaku yang berisi nilai-nilai.
Dalam hubungan dengan Pendidikan Karakter yang ada sekarang
dihubungkan dengan sejarah pendidikan di Indonesia, memang istilah Pendidikan Karakter muncul dari pidato Wakil Presiden di Jogjakarta, dan sejak itu Pendidikan Karakter di kembangkan. Diruntut dari sejarah, istilah Pendidikan
Karakter belum ada dalam Tujuan Pendidikan. Sejak proklamasi bahkan jaman Hindia Belanda baru muncul istilah Pendidikan Budi Pekerti. Pendidikan Budi
Pekerti dan Pendidikan Karakter sepertinya memiliki tujuan yang sama.
Menurut Riyanto (2000:45) mencermati prinsip dan tujuan Pendidikan dari sejak sebelum 1900 pada masa Hindia Belanda hingga saat ini, pendidikan budi
pekerti baru muncul di tahun 1978, yakni dengan keluarnya ketetapan MPR Nomor IV/MPR/1978 tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) yakni:
Tujuan Pendidikan Nasional untuk meniningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, kecerdasan, ketrampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian, mempertebal semangat kebangsaan agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.
Pendidikan Karakter,di tingkat persekolah dalam pelaksanaannya,dapat
Ati Rohaeti, 2012
(1) Menekankan pentingnya nilai-nilai adab yang dikembangkan oleh orang dewasa sebagai model dalam kelas, yang akan dicontoh oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Di sini guru sebagai model teladan, uswatun khasanah; (2) Membantu siswa dalam memperjelas nilai-nilai yang seharusnya mereka miliki, membangun ikatan personal serta tanggung jawab di antara mereka; (3) Menggunakan kurikulum tradisional sebagai wahana untuk mengajarkan nilai-nilai dan menguji pertanyaan-pertanyaan terkait konteks moral; (4) Meningkatkan dan mempertajam refleksi moral peserta didik melalui diskusi, debat, curah pendapat dan jurnal-jurnal; (5) Meningkatkan penerapan nilai-nilai dalam kehidupan sehari-hari melalui pelayanan komponen sekolah (guru, siswa, guru Bimbingan Konseling (BK), dan karyawan sekolah) terhadap masyarakat serta berbagai bentuk strategi melibatkan dalam masyarakat lainnya; dan (6) Mendukung pengembangan guru dalam dimensi pengembangan moral dan pelaksanaan dialog antar guru dalam konteks moral selama pelaksanaan tugasnya (Samani, Muchlis, dan Haryanto, 2011: 140).
Pendidikan hingga kini masih dipercaya sebagai media yang sangat ampuh dalam membangun kecerdasan sekaligus kepribadian anak manusia menjadi lebih
baik. Oleh karena itu, pendidikan secara terus menerus dibangun dan dikembangkan agar dari proses pelaksanaannya menghasilkan generasi yang
diharapkan.
Pembangunan karakter bangsa dihadapkan pada berbagai masalah yang
sangat kompleks. Perkembangan masyarakat yang sangat dinamis sebagai akibat dari globalisasi dan pesatnya kemajuan teknologi komunikasi dan informasi tentu merupakan masalah tersendiri dalam kehidupan masyarakat. Globalisasi dan
hubungan antarbangsa sangat berpengaruh pada aspek ekonomi (perdagangan global) yang mengakibatkan berkurang atau bertambahnya jumlah kemiskinan dan
pengangguran. Pada aspek sosial dan budaya, globalisasi mempengaruhi nilai-nilai solidaritas sosial seperti sikap individualistik, materialistik, dan hedonistik yang seperti virus akan berimplikasi terhadap tatanan budaya masyarakat Indonesia
royong, melemahnya toleransi antarumat beragama, menipisnya solidaritas terhadap sesama, dan itu semua pada akhirnya akan berdampak pada berkurangnya
rasa nasionalisme sebagai warga negara Indonesia. Akan tetapi, dengan menempatkan strategi pendidikan sebagai modal utama menghalangi virus-virus
penghancur tersebut, masa depan bangsa ini dapat diselamatkan.
Untuk mengimplementasikan pendidikan karakter di tingkat persekolahan khususnya di Sekolah Menengah diperlukan sebuah Desain Pengembangan
Karakter, dengan desain tersebut bisa dijadikan sebuah rujukan pengembangan sekolah berkarakter. Sebagai upaya untuk meningkatkan kesesuaian dan mutu
pendidikan karakter, Kementerian Pendidikan Nasional mengembangkan grand design pendidikan karakter untuk setiap jalur, jenjang, dan jenis satuan pendidikan. Grand design menjadi rujukan konseptual dan operasional pengembangan,
pelaksanaan, dan penilaian pada setiap jalur dan jenjang pendidikan. Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial-kultural tersebut
dikelompokan dalam:
Olah Hati (Spiritual and emotional development), Olah Pikir (intellectual development), Olah Raga dan Kinestetik (Physical and kinestetic development), Olah Rasa dan Karsa (Affective and Creativity development).Pengembangan dan implementasi pendidikan karakter perlu dilakukan dengan mengacu pada grand design tersebut. (Panduan Pendidikan Karakter Sekolah Menengah, 2010:6).
Lembaga pendidikan formal merupakan wadah yang paling berperan dalam
membangun karakter siswa, untuk itu dalam lembaga pendidikan formal perlu menekankan pentingnya pendidikan nilai dan moral, yang berlandaskan pada teori
Ati Rohaeti, 2012
berpengaruh dalam teori perkembangan moral.Piaget telah melakukan penelitian selama 40 tahun (Winataputra dan Budimansyah 2007: 172-173)untukmeneliti:
perkembangan struktur kognitif (cognitive structure) anak dan kajian moral (moral judgment) anak yang hasil studinya menyimpulkan ada dua tingkat perkembangan moral pada anak usia 6 sampai dengan 12 tahun, yakniotonomi dan anatomi. Segala aturan dipandang oleh anak sebagai hal yang datang dari luar (bersifat eksternal) dan dianggap sakral karena merupakan hasil pemikiran orang dewasa,sedangkan pada tingkat otonomianak mulai menyadari adanya kebebasan untuk tidak sepenuhnya menerima aturan itu sebagai hal yang dari luar dirinya, sehingga pada tahap ini anak memiliki kemampuan untuk mengkritisi aturan dan memilih aturan yang tepat atas dasar kesempatan dan kerjasama dengan lingkungannya. Berdasarkan teori Piaget ini maka pendidikan nilai dititik beratkan pada pengembangan perilakumoral yang dilandasi oleh penalaran moral.
Pendidikan karakter bukan sebuah program pendidikan yang menawarkan keajaiban, yang mampu membuat siswa berubah menjadi baik. Pendidikan
karakter justru lebih: “... terbentuk ketika guru bersama-sama dengan siswa dan anggota komunitas sekolah berjuang jatuh bangun untuk menghayati visi dan
merealisasikan nilai-nilai pendidikan dalam hidup mereka secara bersama-sama (Koesoema, 2009:137)”. Jadi, tidak ada alasan lain lagi bagi guru, urgensinya
pendidikan karakter menuntut kreativitas guru- guru untuk mengimplementasikan pendidikan karakter dalam pembelajaran yang di ampu.Guru yang profesional dan berdedikasi tinggilah yang mampu menjalankan tugas mulia tersebut. Adapun
faktor pendukungnya adalah suasana sekolah yang penuh kedisiplinan, kejujuran, dan kasih sayang, yang akan menghasilkan output yang diinginkan berupa karakter
Lengkapnya peraturan tentang standar minimal yang harus dikuasai oleh seorang guru, seharusnya peran dan tugas guru berjalan lancar sesuai dengan yang
diamanatkan dalam Sisdiknas.Berpedoman pada standarproses, guru mampu menyusun perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran ,
penilaian hasil pembelajaran dan siap untuk disupervisi .Berpedoman pada standar isi, guru mampu menyusun kurikulum khususnya pada mata pelajaran yang diampu, membuat program tahunan , dan program semester sesuai dengan
kalender pendidikan . Berpedoman pada standar kompetensi lulusan dan standar penilaian , guru memahami prinsip, teknik penilaian, dan mekanisme penilaian.
Guru dalam praktik kegiatan pendidikan di sekolah sering kali ditemukan kurang memiliki gairah dalam melaksanakan tugasnya, yang berakibat kurang berhasilnya tujuan yang ingin dicapai. Banyak faktor kurang gairahnya seorang
guru, seringkali jatuh dalam kecenderungan mengalihkan persoalan dalam memahami persoalan pengembangan profesinya sendiri,“Alih-alih mengoreksi
diri, kita para guru lebih mudah menyalahkan pembuat kebijakan, entah itu pada tingkat sekolah atau tingkat pemerintahan . Kalau ada siswa yang tertinggal, kita lebih suka menyalahkan siswa yang tidak mau belajar. Singkatnya, yang salah
dalam dunia pendidikan selalu berada di luar diri guruKoesoema A Doni (2011: 9). Jika model guru seperti ini terus berkembang, kesempatan untuk melakukan
perubahan akanmengalami kemandegan. Bahkan, Koesoema menjelaskan bahwa posisi guru bagaikan katak dalam tempurung, tertutup dan tidak bisa melihat apa
Ati Rohaeti, 2012
dalam keyakinannya sendiri yang belum tentu relevan dengan gerak dinamika perubahan dalam masyarakat dan konstruktif bagi pengembangan profesinya.
Permasalahan lain, sebagaian guru di lapangan adalah (1) pembelajaran masih bersifat kognitif, (2) persiapan pembelajaran masih mengikuti cara lama
mengcopy dari rekan-rekan yang belum jelas ada kesamaan latar belakang dan situasi peserta didiknya,(3) pengembangn indikator-indikator berorientasi pada buku pelajaran yang seharusnya berorientasi pada Standar Kompetensi (SK) dan
Kompetensi Dasar (KD), dan (4) penilainnya masih kognitif karena ranah-ranah lain sulit untuk diukur.
Kompetensi guru dalam mengimplementasikan pendidikan karakter tidak cukup, perlu ditopang dengan komitmen guru yang tinggi,kencedurangan pengembangan implementasi pendidikan karakter akan bernasib sama dengan
program sebelumnya yakni hanya sebatas wacana, maka peneliti menganggap perlunya membuat suatu penelitian yang berjudul “Pengaruh Kompetensi dan
Komitmen guru Pendidikan Kewarganegaraan dalam Mengimplementasikan Program Pendidikan Karakter terhadap Hasil Belajar Siswa”. Dari pembahasan tersebut diharapkan pembinaan karakter dapat tewujud sesuai dengan waktu yang
dicanangkan.
B. Identifikasi dan Perumusan Masalah.
1. Identifikasi Masalah.
Berkaitan dengan permasalahan guru di lapangan, seringkali mereduksi,
sumber belajar yang utama. Reduksi lainnya, adalah berkenaan dengan penilaian akhir yang seolah-olah hanya bermuara pada ujian nasional.
Langkah-langkah nyata implementasi Sisdiknas dan penjabarkan sejumlah peraturan,jika model guruseperti ini terus berkembang, kesempatan untuk
melakukan perubahan akan mengalami kemandegan, termasuk menyikapi berbagai peraturan dan keharusan mengimplementasikan pendidikan karakter.
Guru wajib memiliki sejumlah kompetensi, perlu juga membangun sebuah
komitmen. Dengan kompetensi, Guru memiliki kewenangan untuk melaksanakan tugas-tugas keprofesionalan. Sedangkan tanggung jawab seorang Guru PKn
terbentuk dengan adanya komimen . Guru akan terpanggil dan memiliki tanggung jawab dalam mengimplementasikan pendidikan karakter, sehingga hasil belajar akan meningkat dan lebih berkarakter.
2. Perumusan Masalah.
Masalah utama yang akan dikaji dalam penelitian ini, adalah Implementasi
pendidikan karakter pengaruhnya terhadap hasil belajar siswa yang belum terlaksana dengan optimal. Kompetensi dan komitmen Guru Pendidkan Kewarganegaraan (PKn) perlu dibangun dan dibina secara konsisten.
Berdasarkan hal tersebut, masalah penelitian dapat di rumuskan sebagai berikut : “Apakah kompetensi dan komitmen guru Pendidikan Kewarganegaraan
Ati Rohaeti, 2012
Sub- sub masalah penelitian sebagai berikut :
1. Bagaimana kompetensi guru Pendidikan Kewarganegaraan pengaruhnya
terhadap hasil belajar siswa?
2. Bagaimana komitmen guru Pendidikan Kewarganegaraanpengaruhnya terhadap hasil belajar siswa ?
3. Bagaimana kompetensi guru Pendidikan Kewarganegaraan pengaruhnya terhadap implementasi Pendidikan Karakter ?
4. Bagaimana komitmen guru Pendidikan Kewarganegaraanpengaruhnya terhadap implementasi Pendidikan Karakter ?
5. Bagaimana kompetensi guru Pendidikan Kewarganegaraan , komitmen guru Pendidikan Kewarganegaraan, dan implementasi Pendidikan Karakter hubungannya secara simultan terhadap hasil belajar siswa ?
C. Tujuan Penelitian.
1. TujuanUmum.
Bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh kompetensi dan komitmen Guru PKn dalam mengimplementasikan pendidikan karakter terhadap
kualitasproses dan hasil belajar. 2. TujuanKhususPenelitian.
TujuanKhususPenelitianadalah : untuk mengetahui dan menganalisis:
1. Kompetensi guru Pendidikan Kewarganegaraan pengaruhnya terhadap hasil belajar siswa.
2. Komitmen guru Pendidikan Kewarganegaraan pengaruhnya terhadap hasil belajar siswa.
3. Kompetensi guru Pendidikan Kewarganegaraan pengaruhnya terhadap implementasi Pendidikan Karakter.
5. Kompetensi guru Pendidikan Kewarganegaraan, komitmen guru Pendidikan Kewarganegaraan, dan implementasi Pendidikan Karakter hubungannya secara simultan terhadap hasil belajar siswa.
D.Manfaat/Signifikansi Penelitian.
Penelitian berusaha mengkaji hubungan kompetensi dan komitmen Guru PKndalam mengimplementasikan Pendidikan Karakter pengaruhnya terhadap hasil belajar siswa di Kota Bandung.
Penelitian diharapkan memberikan manfaat baik secara teoritis (keilmuan) maupun secara praktis (empirik) di lapangan. Manfaat secara teoritis, penelitian
diharapkan mampu memberikan sumbangan pemikiran atau bahan kajian tentang pentingnya sebuah kompetensi dan komitmen guru PKn dalam mengimplementasikan Pendidikan Karakter, sehingga berpengaruh terhadap hasil
belajar siswa. Manfaat secara praktis, penelitian diharapkan mampu :
1. Mengingatkan Guru PKn terhadap kewajiban memiliki sejumlahstandar
kompetensi yang harus dimilikinya.
2. Mengingatkan Guru PKn terhadap pentingnya membangun komitmen dalam mengimplementasikan Pendidikan Karakter, sehinggahasil belajar siswa
berkarakter.
3. Merepleksikan kegiatan Guru PKn, dan hasil refleksi dijadikan pijakan untuk
meningkatkan kompetensi dan membangun komitmen keprofesionalan.
E.Struktur Organisasi Tesis.
Tesis PengaruhKompetensidanKomitmen Guru
Ati Rohaeti, 2012
adapHasilBelajarSiswaterdiri ataslima bab. Uraian dari setiap bab dapat diperjelas berikut ini.
Bab I terdiri atas latar belakang masalah, identifikasi dan perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat/ signifikansi penelitian, dan struktur
organisasi tesis. Uraian latar belakang masalah, menjelaskan dasar pemikiran peneliti apa dan mengapa judul dari peneitian itu. Adapun rumusan masalah, mengembangkan pertanyaan-pertanyaan penelitian yang bersumber dari masalah
yang dipilih.Tujuan penelitian, merumuskan tujuan umum penelitian yang konsisten dengan masalah pokok penelitian. Untuk manfaat/signifikansi
penelitian,yakni mengajukan rumusan manfaat/ kegunaan penelitian tersebut. Struktur organisasi tesis, menggambarkan secara keseluruhan isi dan sistematika tesis.
Baba II Landasan teori dan kerangka pemikiran sering pula ditulis tinjauan teoretis atau tinjauan pustaka, terdiriatas pembahasan variabel penelitian dan
hubungan antarvariabel secara teoretik sehingga secara rasional bisa menurunkan hipotesis penelitian. Landasan teori dalam penelitian sebagai berikut :
A. Pendidikan Kewargaegaraan (PKn) dalam Konteks Pendidikan Karakter.
1. Perkembangan PKn.
2. Pendidikan Kewarganegaraan Sebagai Pendidikan Nilai.
B. Kompetensi Guru Pendidikan Kewarganegaraan. C. Komitmen Guru Pendidikan Kewarganegaraan.
Bab III membahas metode penelitian, yakni kegiatan dalam verifikasi data di lapangan untuk menjawab masalah penelitian dan menguji hipotesis . Isi bab ini
dimulai dengan :
A. Lokasi, subjek populasi dan sampel penelitian.
B. Desain penelitian. C. Metode penelitian . D. Definisi oprasional.
E. Instrumen penelitian.
F. Proses pengembangan instrumen.
G. Teknik pengumpula data. H. Analisis data.
Bab IV membahas hasil penelitian yang menjelaskan :Hasil Penelitian dan
Pembahasan. A. FasePenelitian.
B. Deskripsi hasil penelitian berdasarkan perolehan skor.
C. Deskripsi hasil penelitian dengan menggunakan analisis jalur. D. Analisis Hasil Penelitian .
E. Pembahasan Hasil Penelitian.
Bab V adalah kesimpulan dan saran yang berisi tiga hal pokok yang
disajikan sebagai pemahaman peneliti secara terpadu, terhadap semua hasil penelitian yang telah diperoleh.Tiga hal pokok itu terdiri dari kesimpulan,
Ati Rohaeti, 2012
BAB III
METODE PENELITIAN.
A. Lokasi , Subjek Populasi Dan Sampel Penelitian.
1. Lokasi.
Penelitian dilakukan pada beberapa Guru Pendidikan Kewarganegaraan
yang mengajar di SMP Negeri Kota Bandung. Untuk memudahkan dalam menentukan sekolah mana yang akan diteliti, maka SMP- SMP itu
dikelompokkan berdasarkan cluster Sekolah SMP Negeri perwilayah. Menurut Keputusan Kepala Dinas Kota Bandung, Oji Mahroji dalam sebuah peraturan
Penerimaan Peserta Didik Baru(PPDB)mengatakan sitem cluster SMP Negeri Bandung tahun ini hanya dibagi dalam tiga cluster, yaitu clustersatu, cluster dua dan cluster tiga.
SMP Negeri di kota Bandung yang masuk pada cluster satuterdiri dari 12 sekolah, yang meliputi :
1. SMP Negeri 1 Jl Kesatrian No 12 Rayon Bandung Barat. 2. SMP Negeri 2 Jl Sumatra No 36 Rayon Bandung Utara. 3. SMP Negeri 3 Jl Dewi Sartika No 96 Rayon Bandung Selatan.
4. SMP Negeri 5 Jl Sumatra No 40 Rayon Bandung Utara. 5. SMP Negeri 7 Jl Ambon No 23 Rayon Bandung Utara.
9. SMP Negeri 14 Jl Lap. Supratman No 8 Rayon Bandung Utara.
10. SMP Negeri 28 Jl Solontangan II Rayon Bandung Timur. 11. SMP Negeri 30 Jl Sekejati No 32 Rayon Bandung Tenggara.
12. SMP Negeri 34 Jl Waas Soekarno Hata Rayon Bandung Selatan .
SMP Negeri di kota Bandung yang masuk pada cluster ke dua terdiri dari 16 sekolah , yang melioputi :
1. SMP Negeri 4 Jl Samoja No 5 Rayon Bandung Timur. 2. SMP Negeri 9 Jl Semar No 5 Rayon Bandung Barat.
3. SMP Negeri 10 Jl Dewi Sartika No115 Rayon Bandung Selatan. 4. SMP Negeri 11 Jl Samsudin No 34 Rayon Bandung Selatan.
5. SMP Negeri 15 Jl Setia Budhi No 85 Rayon Bandung Barat. 6. SMP Negeri 16 Jl PPH Mustopa No 53 Bandung Utara. 7. SMP Negeri 17 Jl Pacuan Kuda Rayon Bandung Timur.
8. SMP Negeri 18 Jl Terusan Kircon Rayon Bandung Tenggara. 9. SMP Negeri 24 Suka Mulya No 33 Rayon Bandung Selatan.
10. SMP Negeri 26 Jl Sarijadi Blok 23 Rayon Bandung Barat. 11. SMP Negeri 27 Jl Yudawastu Pramuka I Rayon Bandung Utara. 12. SMP Negeri 33 Jl BBK Tarogong Rayon Bandung Selatan.
13. SMP Negeri 36 Jl Caringin Rayon Bandung Selatan. 14. SMP Negeri 41 JlArjuna No 18 Rayon Bandung Barat.
Ati Rohaeti, 2012
SMP Negeri di kota Bandung yang masuk pada cluster ke tiga terdiri dari
24 sekolah , yang meliputi :
1. SMP Negeri 6 Jl H Yakob No 36 Rayon Bandung Barat.
2. SMP Negeri 19 Jl Sadang Luhur No 11 Rayon Bandung Utara. 3. SMP Negeri 20 Jl Centeh No 5 Rayon Bandung Timur.
4. SMP Negeri 21 Jl Caringin Gang Lumbung II Rayon Bandung Selatan.
5. SMP Negeri 22 Jl Supratman No 24 Rayon Bandung Utara. 6. SMP Negeri 23 Jl Arjuna No 20-22 Rayon Bandung Barat.
7. SMP Negeri 25 Jl Pajagalan No.47 Rayon Bandung Selatan. 8. SMP Negeri 29 Jl Geger Arum No.11A Rayon Bandung Barat.
9. SMP Negeri 31 Jl. Binong Jati No 139 Rayon Bandung Tenggara. 10. SMP Negeri 32 Jl Arjuna No. 23 Rayon Bandung Barat.
11. SMP Negeri 35 Jl Dago Pojok No. 756 Rayon Bandung Utara.
12. SMP Negeri 37 Jl BBK Sari I Rayon Bandung Tenggara.
13. SMP Negeri 38 Jl Borobudur Cibaduyut Rayon Bandung Selatan.
14. SMP Negeri 39 Jl Holis No 439 Rayon Bandung Selatan.
15. SMP Negeri 40 Jl Wastukencana No 74A Rayon Bandung Barat. 16. SMP Negeri 42 Jl Manjah Lega Bandung Tenggara.
17. SMP Negeri 45Jl Yogyakarta No. 1A Rayon Bandung Barat. 18. SMP Negeri 46 Jl Cigagak Rayon Bandung Timur.
19. SMP Negeri 47 Jl Budi Cilember Rayon Bandung Barat.
22. SMP Negeri 50 Jl Pasirjati Ujung Berung Rayon Bandung Timur.
23. SMP Negeri 51 Jl Derwati Ranca Sari Rayon Bandung Tenggara. 24. SMP Negeri 52 Jl Ciumbuleuit RayonBandung Barat .
Mengingat jarak lokasi SMP satu dengan SMP lainnya cukup jauh, maka peneliti meminta batuan dengan cara bergabung dengan Musyawarah Guru Bidang Studi Pendidikan Kewarganegaraan (MGMP PKN) Kota Bandung.
Kegiatan di MGMP, menentukan sampel secara acak, mengambil data dari kepengurusan MGMP kota Bandung sesuai dengan sampel yang sudah
ditentukan, dan mengadakan koordinasi dengan kordinator sub rayon dalam melengkapi data responden dari masing-masing wilayah.
2. Populasi.
Sugiyono (Riduwan, 2006:24) memberikan pengertian bahwa “Populasi
adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari objek atau subjek yang menjadi
kuantitas dan karakteristik tertentu yang diterapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya”. Sedangkan menurut Riduwan “Populasi
merupakan objek atau subjek yang berada pada suatu wilayah dan memenuhi syarat-syarat tertentu yang berkaitan dengan masalah penelitian”.
Yang menjadi populasi pada penelitian ini adalah Guru-guru Pendidikan
Kewarganegaraan yang mengajar di SMP Negeri Kota Bandung .
3. Sampel Penelitian .
Menurut Arikunto (Riduwan, 2006:56), “Sampel adalah bagian dari
Ati Rohaeti, 2012
Sugiyono (Riduwan, 2006:56), “Sampel penelitian adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi”.
Riduwan menyimpulkan, “Sampel adalah bagian dari populasi yang
mempunyai ciri-ciri atau keadaan tertentu yang akan diteliti”.
Untuk menentukan sampel mana yang akan digunakan dalam penelitian, maka dalam kesempatan ini peneliti menggunakan beberapa teknik pengambilan
sampel, yang juga disebut teknik sampling meliputi :Sampel Purposif (Purposive Sample), Sampel Stratifikasi (Stratified Sample), Sampel Proporsional
(Proportional Sampel) atau sampel Imbangan, dan Sampel Random.
a. Sampel Purposif ( Purposive Sample).
Menurut Arikunto (2010: 183) sampel purposif, Yaitu sampel yang ditarik berdasarkan tujuan tertentu. Dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kompetensi dan komitmen guru PKn dalam mengimplementasikan
Pendidikan Karakter terhadap hasil belajar siswa. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk menentukan sampel purposif, yakni :
Pengambilan sampel harus didasarkan atas ciri-ciri, sifat-sifat atau karakteristik tertentu, yang merupakan ciri pokok populasi. Subyek yang diambil sebagai sampel benar-benar merupakan subyek yang paling banyak mengandung ciri-ciri yang tepat pada populasi (key subjectis). Dan penentuan karakteristik populasi dilakukan dengancermat di dalam studi pendahuluan (Arikunto 2010:183).
Adapun sampel guru PKn dalam penelitian ini adalah Guru PKn yang
mengajar di SMP Kota Bandung berdasarkan klaster wilayah . Klaster SMP Negeri Kota Bandung berdasarkan keputusan kepala dinas Kota Bandung, terdiri
Mengingat penentuan klaster dilakukan oleh kepala dinas Kota Bandung,
dan menurut hemat peneliti sudah memenuhi syarat penentuan sampel purposif, maka dari 12 SMP Negeri klaster satu, enam sekolah secara acak dipilih untuk
dijadikan sampel penelitian (enam guru PKn dari enam sekolah secara acak dijadikan sampel penelitian).
Keenam guru PKn tersebut berasal dari :
1) SMP Negeri 1 Jl Kesatrian No 12 Rayon Bandung Barat. 2) SMP Negeri 2 Jl Sumatra No 36 Rayon Bandung Utara.
3) SMP Negeri 3 Jl Dewi Sartika No 96 Rayon Bandung Selatan. 4) SMP Negeri 12 Jl Setia Budi No 195 Bandung Barat.
5) SMP Negeri 13 Jl Mutiara No 15 Rayon Bandung Timur. 6) SMP Negeri 14 Jl Lap. Supratman No 8 Rayon Bandung Utara.
Dari 16 Sekolah Clusterdua yang homogen tersebut , maka sebelas
sekolah secara acak dipilih untuk dijadikan sampel penelitian (11 guru PKn dari 11 sekolah secara acak dijadikan sampel penelitian).
Kesebelas guru PKn tersebut berasal dari :
1) SMP Negeri 4 Jl Samoja No 5 Rayon Bandung Timut. 2) SMP Negeri 9 Jl Semar No 5 Rayon Bandung Barat.
3) SMP Negeri 10 Jl Dewi Sartika No115 Rayon Bandung Selatan. 4) SMP Negeri 11 Jl Samsudin No 34 Rayon Bandung Selatan.
Ati Rohaeti, 2012
8) SMP Negeri 33 Jl BBK Tarogong Rayon Bandung Selatan.
9) SMP Negeri 36 Jl Caringin Rayon Bandung Selatan. 10) SMP Negeri 41 JlArjuna No 18 Rayon Bandung Barat.
11) SMP Negeri 43 Jl Kautamaan Istri No 31 Rayon Selatan.
Dari 24 Sekolah Cluster III yang homogen tersebut , maka limabelas sekolah secara acak dipilih untuk dijadikan sampel penelitian ( 15 guru PKn dari
15 sekolah secara acak dijadikan sampel penelitian). Kelimabelas guru PKn tersebut berasal dari :
1) SMP Negeri 20 Jl Centeh No 5 Rayon Bandung Timur.
2) SMP Negeri 21 Jl Caringin Gang Lumbung II Rayon Bandung Selatan.
3) SMP Negeri 22 Jl Supratman No 24 Rayon Bandung Utara. 4) SMP Negeri 25 Jl Pajagalan No.47 Rayon Bandung Selatan. 5) SMP Negeri 29 Jl Geger Arum No.11A Rayon Bandung Barat.
6) SMP Negeri 31 Jl. Binong Jati No 139 Rayon Bandung Tenggara. 7) SMP Negeri 32 Jl Arjuna No. 23 Rayon Bandung Barat.
8) SMP Negeri 35 Jl Dago Pojok No. 756 Rayon Bandung Utara. 9) SMP Negeri 39 Jl Holis No 439 Rayon Bandung Selatan.
10) SMP Negeri 40 Jl Wastukencana No 74A Rayon Bandung Barat.
11) SMP Negeri 42 Jl Manjah Lega Bandung Tenggara. 12) SMP Negeri 46 Jl Cigagak Rayon Bandung Timur.
13) SMP Negeri 47 Jl Budi Cilember Rayon Bandung Barat.
Mengingat jarak lokasi SMP satu dengan SMP lainnya cukup jauh, maka
peneliti meminta batuan dengan cara bergabung dengan Musyawarah Guru Bidang Studi Pendidikan Kewarganegaraan (MGMP PKN) Kota Bandung.
Untuk mengatasi atau melengkapi data yang kurang atau guru yang telah ditentukan tidak bergabung dalam MGMP, maka peneliti dibantu oleh guru-guru koordinator sub rayon dalam mengambil data penelitian.
b. Sampel Stratifikasi (Stratified Sample).
Yaitu sampel yang ditarik dari populasi bertingkat atau berlapis atau
berstrata. Dalam penelitian ini yaitu guru PKn dari klaster satu, klaster dua dan klaster tiga SMP Negeri KotaBandung.
Penyebaran anggota sampel telah dilakukan dan tetap memperhatikan pengambilan secara acak.
c. Sampel Proporsional ( Proportional Sampel) atau sampel Imbangan.
Menurut Arikunto (2010:182) sampel proposional yaitu, dilakukan untuk menyempurnakan penggunaan teknik sampel berstrata atau sampel wilayah. Ada
kalanya banyak subyek yang terdapat dalam setiap strata atau wilayah tidak sama. Oleh karena itu untuk memperoleh sampel yang representatif, pengambilan subjek dari setiap strata atau setiap wilayah ditentukan seimbang atau sebanding dengan
banyaknya subyek dalam masing-masing strata atau wilayah. Winarno (1990 : 100) menyatakan bahwa:
Ati Rohaeti, 2012
Untuk sampel yang ditarik berdasarkan pertimbangan guru PKn dari
klaster satu 12 sekolah, klaster dua 16 sekolah, dan klaster tiga 24 sekolah. Untuk perbandingan besar kecilnya sampel. Langkah-langkah yang ditempuh
dalam teknik pelaksanaaan sampel proposional adalah mengambil 50 % dari klaster satu yaitu enam guru PKn dari SMP klaster satu. 50 % dari klater dua ditambah 18 % agar lebih representatif dari seluruh jumlah Guru PKn di klaster
kedua yaitu sebelas guru PKn. Dan 50 % dari klaster ketiga ditambah 4,2 % yakni 15 guru PKn yang berasal dari SMP Negeri Kota Bandung Klaster ketiga.
Jadi jumlah sampel keseluruhan adalah 50 orang guru PKn .
d. Sampel Random.
Yaitu sampel yang ditarik secara bebas karena tiap-tiap individu dalam populasi dalam hal ini Guru PKn menunjukkan homogenitas yang tinggi sehingga mempunyai kesempatan yang sama untuk diambil. Adapun jenis sampel
rendom yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah jenis undian atau lotre. Langkah-langkah yang ditempuh dalam melaksanakan jenis sampel
random undian ini adalah sebagai berikut:
1) Membuat guru PKn dari masing –masing SMP berdasarkan klaster yang sudah ada.
2) Memberi kode nomor urut pada daftar guru yang ada pada setiap klaster. 3) Menuliskan kode-kode itu masing-masing dari ketiga klaster dalam
selembaran kertas kecil.
5) Memasukkan gulungan –gulungan kertas kecil itu dari setiap klaster tersebut
ke dalam kocokan secara bergiliran.
6) Mengkocok baik-baik kocokan yang berisi gulungan kertas kecil itu.
7) Mengambil kertas-kertas gulungan itu secara berurutan sampai jumlah yang telah ditentukan dari setiap klaster.
Proses pengambilan subyek dengan sampel random jenis undian ini
disaksikan oleh Ketua (MGMP) Kota Bandung Bapak Lukman, M.Pd yang berkantor di SMP N 2 Kota Bandung. Proses pengocokan tersebut dilakukan
bertepatan dengan peneliti melakukan obsevasi pendahuluan dan penyampaian rencana pengambilan data di MGMP Kota Bandung.
B. Desain penelitian.
Desain dalam penelitian ini dibagi kedalam tiga bagian, yaitu dimulai dari tahapan persiapan, tahapan pelaksanaan penelitian dan tahapan penyusunan
laporan penelitian. Tahapan persiapan terdiri dari penentuan masalah, penentuan objek penelitian sampai dengan penyusunan proposal penelitian. Tahapan
penelitian terdiri dari proses pengumpulan data sampai dengan pengolahan data. Sedangkan tahapan terakhir adalah penyusunan laporan penelitian dari hasil pengolahan data.
Berdasarkan pendapat yang dikemukakan oleh Arikunto (2010:13), Alur penelitian, apa pun jenis penelitiannya selalu dimulai dari adanya permasalahan
Ati Rohaeti, 2012
teori yang tepat untuk mengatasi permasalahan melalui penelitian, yaitu mencari
tahu tentang kemungkinan penyebab kondisi yang menjadi permasalahan itu. Hasil dari penelitiannya digunakan untuk mengatasi permasalahan yang
[image:42.595.129.469.247.571.2]dirasakan. Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian selalu harus merupakan jawaban dari rumusan masalah dan memecahkan masalah.
Gambar 3. 1
Alur Penelitian
Sumber : Arikunto (2010:13)
C. Metode Penelitian.
Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif, yaitu penelitian yang dimaksudkan untuk menyelidiki keadaan, kondisi atau hal-hal lain
yang hasilnya dipaparkan dalam bentuk laporan penelitian (Arikunto, 2010:3). Dalam penelitian ini peneliti hanya memotret apa yang terjadi pada diri objek atau
Permasalahan Teori Pendukung
Rumusan Masalah
Pengumpulan Data
Analisis Data
wilayah yang diteliti, kemudian memaparkan apa yang terjadi dalam bentuk
laporan penelitian secara lugas seperti apa adanya.
Jenis penelitian deskriptif yang digunakan adalah penelitian korelasi atau
penelitian hubungan. Penelitian korelasi adalah penelitian yang dilakukan oleh peneliti untuk mengetahui tingkat hubungan antar dua variabel atau lebih, tanpa melakukan perubahan maupun manipulasi terhadap data yang memang sudah ada
(Arikunto, 2010:4). Dimana variabel yang terdapat di dalam penelitian memiliki hubungan sebab akibat (kausal). Secara lebih lanjut dalam penelitian ini, variabel
X akan mempengaruhi variabel Y.
D. Definisi Operasional
1. Variabel Operasional
Arikunto (2010:161), menjelaskan pengertian “Variabel adalah objek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian”. Sedangkan
menurut Sugiyono (Arikunto, 2010:161), “Variabel penelitian adalah sesuatu hal
yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga
diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulan.
Berdasarkan perumusan masalah dalam penelitian, terdapat variabel-variabel di dalamnya, yaitu :
a. Variabel Independen (X1), yaitu Kompetensi dan Komitmen Guru PKn (X2).
b. Variabel antara, yaitu Iplementasi Pendidikan Karakter (X3)
c. Variabel Dependen (Y), yaitu Hasil Belajar Siswa.
Ati Rohaeti, 2012
Secara oprasional variabel perlu didefinisikan yang bertujuan untuk
menjelaskan makna variabel itu diukur (Riduan, 2008:281). Berdasarkan perumusan masalah dalam penelitian ini, terdapat variabel-variabel di dalamnya,
yaitu:
a. Variabel Independen Kompetensi (X1), yaitu seperangkat pengetahuan,
ketrampilan, dan prilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru
atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. Kompetensi dipertegas lagi dalam Bab IV Pasal 10, (1) dan (2). Ayat (1) yang
menyatakan bahwa kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional .
b. Variabel Komitmen Guru PKn (X2), yaitu penafsiran internal seorang guru
tentang bagaimana mereka menyerap dan memaknai pengalaman kerja mereka yang ditandai dengan keinginan untuk menetap di dalam organisasi
dan terlibat dalam pekerjaan, serta keinginan untuk mempengaruhi proses belajar siswa.Komitmen pegawai dalam sebuah organisasi menurut
Menyer et al., 2002:21 (dalam Pragnyono, 2010: 23) dapat dikelompokkan menjadi :
1) Komitmen afektif, terjadi apabila pegawai ingin menjadi bagian dari
organisasi karena adanya ikatan emosional.
2) Komitmen Kontinyu, muncul apabila pegawai tetap bertahan pada suatu
3) Komitmen normatif, timbul dari nilai-nilai dalam diri pegawai. Pegawai
bertahan menjadi anggota organisasi karena adanya kesadaran bahwa komitmen terhadap organisasi merupakan hal yang seharusnya
dilakukan.
Variabel adalah Iplementasi Pendidikan Karakter (X3), yaitu
melaksanakan penerapan atau pengintegrasian Pendidikan Karakter pada Mata
Pelajaran PKn melaui kegiatan perencanaan (Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), kegiatan Inti dan Evaluasi.
c. Variabel Dependen (Y) yaitu Hasil Belajar Siswa, berupa nilai hasil belajar PKn yang terdapat dalam laporan Pendidikan PKn Semester satu. Nilai
hasil belarajar merupakan kumulatif hasi penilai kelas yang terdiri dari penilaian: Tes Tertulis, Osevasi (Pengamatan), Tes Praktik ( Tes Kinerja), Penugasan Individual atau Kelompok, Tes Lisan, Penilaian Portofolio, Jurnal, Penilaian Diri,
dan Penilaian AntarTeman.
2. Operasional Variabel.
[image:45.595.148.495.600.736.2]Untuk menjabarkan sub variabel dan item-item dari variabel yang akan menjadi bahan kuesioner maka dibuat operasionalisasi variabel sebagai berikut:
Tabel 3.1 Operasional Variabel
Variabel Sub Variabel Indikator No. Item Skala
Kompete nsi(X1)
Kompetensi Pedagogik
1) Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, spiritual , sosial, kultural,
emosional, dan
Ati Rohaeti, 2012
intelektual
Kompete nsi(X1)
Kompetensi Pedagogik
2) Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, spiritual , sosial, kultural,
emosional, dan intelektual 3) Menguasai teori
Kompetensi Kepribadian
Kompetensi Sosial
n hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran 11) Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran 1) Bertindak sesuai
dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional Indonesia
2) Menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan bagi peerta didik dan masyarakat. 3) Menampilkan diri
sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa
4) Menunjukkan etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru, dan rasa percaya diri. 5) Menjunjung
tinggi kode etik profesi guru 1) Bersikap inklusif,
Ati Rohaeti, 2012 Kompetensi Profesional pertimbangan jenis kelamin, agama, ras, kondisi fisik , latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi. 2) Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat. 3) Beradaptasi di
tempat bertugas di seluruh wilayah Republik Indonesia yang memiliki keragaman sosial budaya. 4) Berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan profesi lain secara lisan dan tulisan atau bentuk lain. 1) Menguasai
Ko mitmen Guru PKn (X2)
Kondisi Psikologis yang menggambar kan karakteristik hubungan antara guru dan sekolah Affective( Ikatan Emosional dengan sekolah , perasaan di hargai oleh seolah, dan menjadi bagian dari sekolah Continuance (Pertimbanga n seseorang akan keuntungan yang hilang jika ia
materi pelajaran yang diampu secara kreatif. 4) Mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif. 5) Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk mengembangkan diri
1. Keinginan untuk menghabiskn karier di organisasi. 2. Kesamaan nilai
dan tujuan antara guru dan
organisasi. 3. Kepercayaan dan
rasa bersyukur guru terhadap sekolah
4. Perasaan menjadi bagian sekolah . 5. Kebanggaan
terhadap sekolah . 6. Keinginan untuk
memberikan yang terbaik untuk sekolah. 1. Pertimbangan manfaat yang diberikan oleh sekolah.
2. Keinginan untuk meninggalkan sekolah 3. Pertimbangan
resiko jika
49,50
1 , 2
3 , 4
5 , 6
7 , 8
Ati Rohaeti, 2012 Implem entasi Pendidi kan Karak ter (X3)
meninggalka n sekolah) Normatif ( perasaan dimana seseorang guru merasa dituntut untuk tetap bekerja pada suatu sekolah) 1.Visi dan
misi sekolah dijadikan acuan untuk memperjel as nilai-nilai karakter yang akan ditanam kan dan
ditumbuh kembang kan di
lingkungan sekolah . 2Visi, misi ,
dan implement asi pendidikan karakter tercermin dalam perencana an pembelajar meninggalkan sekolah 4. Merasa keuntungan yang diterima belum sepandan
1. Perasaan memiliki kewajiban
terhadap sekolah 2. Tekanan dari
sekolah
3. Keinginan untuk lebih
meningkatkan sekolah
4. Loyalitas terhadap sekolah
5. Hutang budi terhadap sekolah Mempelajari visi misi Sekolah untuk memperjelas nilai-nilai karakter yang akan ditanamkan dan ditumbuh kembangkan di lingkungan
sekolah.
Menyusun dokumen
KTSP,Silabus,RPP
, Program
Hasil Belajar Siswa (Y) an (Pemetaan Standar Kompeten
si dan
Kompeten si Dasar
,membuat Silabus, dan membuat Rencana Pelaksana an Pembelajar an). 3. Visi, misi,
dan implement asi pendidikan karakter tercermin dalam kegiatan Pembelajar an Inti Penda Huluan Kegiatan Inti (Explorasi, Elaborasi, Konfirmasi Penutup Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) Keterangan ketuntasan hasil belajar PKn Rata-rata Melaksanakan kegiatan Pendahuluan Menyampaikan Konsep materi sesuai RPP
Mengunakan bahasa yang jelas dan sistematis Menggunakan metoda yang sesuai dengan karater materi dan siswa
Memfasilitasi terjadinya interaksi , pemberian tugas, dan refleksi
Memberikan penilaian, umpan
balik dan
merencanakan pembelajaran pada pertemuan
berikutnya.
Ati Rohaeti, 2012
nilai lapor Semester Satu.
Sumber : Data kuesioner.
E. Instrumen Penelitian.
Dalam menentukan instrumen sebenarnya tidak ubahnya dengan berbicara masalah evaluasi. Mengevaluasi tidak lain adalah memperoleh data tentang status
sesuatu dibandiungkan dengan standar atau ukuran yang telah ditentukan, karena mengevaluasi adalah juga mengadakan pengukuran. Untuk memperoleh data
hubungan antara kompetensi, komitmen Guru PKn dalam mengimplementasi Pendiddikan Karakter terhadap Hasil Belajar, maka disusunlah instrumen penelitian , seperti tercantum di dalam Lampiran
F. Proses Pengembangan Instrumen .
1. Validitas.
Validitas menunjukan sejauh mana suatu alat pengukuran dapat mengukur apa yang ingin diukur, dengan kata lain, untuk menunjukan tingkat kevalidan dari
maka kuesioner yang disusun harus dapat mengukur apa yang ingin diukurnya
agar dapat disebut valid.
Menurut Arikunto (Riduwan, 2006: 97). yang dimaksud dengan validitas
adalah suatu ukuran yang menunjukan tingkat keandalan atau kesahihan suatu alat ukur. Jika instrument dikatakan valid berarti menunjukan alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data itu valid sehingga valid berarti instrument
tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Dapat simpulkan bahwa valid itu mengukur apa yang hendak diukur.
Uji Validitas (korelasi product moment).
Keterangan:
rxy : koefisien korelasi x dan y (nilai validitas soal). n : banyak data.
Xi : Data X ke-I (Skor Tiap Soal Responden ke-i). Yi : Data Y ke-I (Total Skor Responden ke-i).
Ati Rohaeti, 2012
Untuk menentukan valid atau tidaknya sebuah soal, maka nilai koefisien
korelasinya harus diuji dengan statistic uji-t.
Keterangan:
t : statistic uji-t (nilai t-hitung). r : koefisien korelasi (nilai validitas). n : banyaknya responden.
Setelah didapatkan nilai t-hitung, kemudian dibandingkan dengan t-tabel.
Dimana nilai t-tabel diperoleh dari daftar peluang t dengan taraf signifikansi dan
derajat kebebasan n – 2. Kriterianya adalah, koefisien korelasi berarti (valid) jika t-hitung > t-tabel. Tingkat signifikansi (α) = 0,05 dengan jumlah sampel (n) = 27
responden, sehingg