• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lia Amalia 1. Dosen Tetap STAIN Ponorogo

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Lia Amalia 1. Dosen Tetap STAIN Ponorogo"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

PerkeMBangan PSikOLOgiS reMaJa Lia Amalia

1

abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk (a) Mendeskripsikan perasaan remaja tentang kepergian ibu TKW, (b) Mendeskripsikan persepsi remaja tentang pekerjaan ibu sebagai TKW, (c) Mendeskripsikan perilaku attachment (keterikatan) remaja yang memiliki ibu TKW, dan (d) Mendeskripsikan self-esteem (harga diri) remaja yang memiliki ibu TKW khususnya yang bersumber dari keluarga. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian kualitatif studi intrinsik, dimana penelitian dilakukan karena ketertarikan atau kepedulian pada satu kasus khusus. Kesimpulan dari penelitian ini adalah: (a) Keempat subjek merasakan kesedihan saat ditinggalkan oleh sang ibu pada awalnya (saat masih anak-anak), namun berangsur-angsur tiga subjek (H, P, dan D) bisa beradaptasi sehingga saat remaja dapat menerima keadaan tersebut. Hanya ada satu subjek (A) yang sampai saat ini masih terus merasa sedih dengan kepergian ibunya, hal ini ada kaitannya dengan ketidaktersedian figur attachment pengganti sang ibu dari keluarga. (b) Tiga subjek (A, H, dan P) memiliki persepsi positif mengenai pekerjaan sang ibu sebagai TKW (pekerjaan mulia, halal, sumber keuangan, pahlawan keluarga, dan pahlawan devisa) sedangkan satu subjek (D) menilai sebenarnya pekerjaan ibunya sebagai TKW kurang layak tetapi ini adalah pekerjaan yang halal. (c) Tiga subjek (H, P, dan D) menemukan figur attachment pengganti setelah kepergian sang ibu dari keluarga.

Sedangkan subjek A tidak menemukan figur attachment pengganti ibu dari pihak keluarga sehingga ia mencari figur attachment dari luar keluarga (sahabat A beserta keluarganya). (d) Self esteem dipengaruhi kuat oleh keharmonisan keluarga. Dari 4 subjek, hanya satu (P) yang merasa bahwa keluarganya harmonis meskipun ibu bekerja sebagai TKW. 3 subjek lainnya (A, H, dan D) menilai

1 Dosen Tetap STAIN Ponorogo

(2)

bahwa keluarga mereka tidak harmonis. Kondisi keluarga yang tidak harmonis tidak mendukung terbangunnya self-esteem yang positif sehingga bisa disimpulkan bahwa self-esteem dari aspek keluarga pada subjek A, H, dan D adalah negatif.

kata kunci: Remaja, Ibu TKW, Perkembangan Psikologis

PenDaHuLuan

Kurangnya lapangan pekerjaan dan rendahnya upah masih menjadi masalah besar yang belum terselesaikan di Indonesia. Bagi sebagian orang bekerja di luar negeri menjadi salah satu pilihan jalan keluar bagi kesulitan ekonomi yang dirasakan. Pilihan ini sudah tentu memiliki dampak positif di samping dampak negatif yang sudah tentu ada. Menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) atau pekerja migran merupakan kesempatan kerja baru dengan upah yang cukup tinggi yang akan berpengaruh pada keadaan sosial ekonomi keluarga yang ditinggalkan. Tidak tertutup kemungkinan munculnya kegiatan ekonomi produktif dari dana TKI apabila dikelola dengan baik sehingga dapat tercipta kemandirian dengan membuka usaha atau lapangan kerja baru. Di samping itu para pekerja migran ini mampu mendatangkan devisa pendapatan bagi pemerintah sehingga seringkali mendapat julukan pahlawan devisa.

Namun di sisi lain tidak dapat dipungkiri dampak negatif yang juga muncul dari pengiriman TKI ke luar negeri. Rendahnya tingkat pendidikan dengan tingkat ketrampilan yang minim membuat sebagian besar TKI bekerja sebagai pekerja kasar pada sektor informal dan rumah tangga dengan upah yang relatif rendah. Hal ini juga berdampak pada lemahnya sistem perlindungan hukum bagi mereka.

Pada umumnya tenaga kerja pada sektor formal mendapat jaminan

perlindungan hukum sebagai pekerja asing yang lebih baik dari

pekerja pada sektor informal sehingga tidak jarang kita mendapat

berita tentang berbagai kasus yang menimpa para pekerja migran dari

Indonesia yang mayoritasnya adalah perempuan atau Tenaga Kerja

Wanita (TKW).

(3)

Kabupaten Ponorogo merupakan salah satu kantong pengirim TKW di Jawa Timur. Data dari Dinsosnakertrans Kabupaten Ponorogo, jumlah TKI yang bekerja ke luar negeri pada tahun 2009 berjumlah 1.268 orang yang terdiri dari 1.153 perempuan dan 115 laki-laki. Pada tahun 2008, jumlah TKI adalah 1.488 orang yang terdiri dari 1.252 perempuan dan 236 laki-laki. Jumlah perempuan yang menjadi TKI sangat jauh dibandingkan jumlah laki-laki.

Keputusan perempuan untuk menjadi pekerja migran tentu memiliki konsekwensi-konsekwensi tertentu, termasuk terpisahkan jauh dari keluarga dan sanak saudara.

Bagi perempuan yang telah berumah tangga dan memiliki anak, menjadi TKW merupakan dilema tersendiri. Pada satu sisi perempuan sering dipersepsikan sebagai orang yang selalu berkorban demi kepentingan keluarga sehingga perempuan merasa bertanggung jawab terhadap masalah ekonomi keluarga. Meskipun laki-laki dianggap sebagai pencari nafkah namun pada kenyataannya banyak pula perempuan yang mengambil alih peran ini dan menjadi sumber ekonomi dalam keluarganya.

Pengorbanan perempuan ini masih ditambah dengan pengorbanannya meninggalkan keluarga terutama anak-anaknya dalam waktu yang tidak singkat. Namun perempuan juga yang masih sering dipersalahkan ketika anak-anak yang ia tinggalkan tidak terurus atau menjadi anak yang dianggap bermasalah oleh lingkungannya.

Kepergian sang ibu sebagai TKW seringkali dengan mudahnya dituding sebagai satu-satunya penyebab masalah ini.

Masalah perkembangan anak tentu saja bukan hanya menjadi kewajiban dan tanggung jawab ibu semata akan tetapi menjadi kewajiban dan tanggung jawab ayah maupun anggota keluarga lainnya.

Perkembangan seorang anak akan tergantung pada fungsi keluarganya.

Baik buruknya perkembangan anak, baik secara fisik, mental, dan psikologis sangat tergantung pada keluarga ketika menjalankan fungsinya. Keluarga yang berfungsi secara sehat akan memberikan kesempatan yang besar bagi perkembangan anak yang positif.

Setiap anak akan melalui masa remaja yang merupakan masa

peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Pada masa ini

terjadi perubahan-perubahan yang signifikan pada perkembangan

(4)

fisik, kognitif, maupun psikososial yang menuntut penyesuaian diri pada anak. Penyesuaian diri yang tidak mudah ini kadangkala menimbulkan kegoncangan yang jika tidak ditangani dengan tepat dapat menimbulkan munculnya perilaku-perilaku negatif pada remaja sehingga muncul istilah kenakalan remaja.

Kenakalan remaja biasanya dilakukan oleh remaja-remaja yang gagal dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya, baik pada saat remaja maupun pada masa anak-anaknya. Dari sudut pandang psikologis, kenakalan remaja merupakan wujud ketidakmampuan remaja menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial dan perubahan jaman yang cepat, serta konflik-konflik yang tidak terselesaikan dengan baik pada masa anak-anak maupun pada masa remaja

2

. Dalam melewati masa transisi ini, remaja membutuhkan figur lekat atau objek attachment yang mampu mendampinginya menyesuaikan diri untuk meninggalkan masa anak-anaknya dan belajar menjadi orang dewasa kelak.

Para ahli meyakini bahwa attachment terhadap orang tua pada masa remaja bisa memfasilitasi kecakapan dan kesejahteraan sosial bagi remaja. Artinya keterikatan pada orang tua pada masa remaja memiliki fungsi adaptif untuk menyediakan rasa aman sehingga remaja bisa mengeksplorasi dan menguasai lingkungan baru dan dunia sosialnya dalam kondisi yang sehat secara psikologis. Keterikatan yang aman pada orang tua memberikan rasa aman bagi remaja dan menghindarkannya dari perasaan cemas dan tertekan ketika ia harus melewati tahap transisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa

3

. Dengan adanya secure attachment ini diharapkan seorang remaja terhindar dari perilaku-perilaku yang menyimpang atau pun kenakalan remaja.

Pribadi remaja yang berkembang dengan baik dapat dibentuk sejak dini di dalam keluarga karena keluarga adalah lingkungan pertama dan utama yang akan mempengaruhi perkembangan pribadi anak. Remaja yang hidup di dalam keluarga yang dapat memenuhi kebutuhan-

2 Maharani, O.P. dan Andayani, B. Hubungan antara Dukungan Sosial Ayah dengan Penyesuaian Sosial pada Remaja Laki-laki. Jurnal Psikologi, No. 1, 23-35. Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. 2003, hlm. 25.

3 Santrock J.W., Adolescence: Perkembangan Remaja. 1996. Jakarta: Erlangga. Hlm. 194- 195

(5)

kebutuhan biologis, psikologis maupun sosialnya akan tumbuh dan berkembang dengan sehat, dapat mengaktualisasikan potensi-potensi yang dimilikinya, dan dapat belajar untuk menyelesaikan masalah dan tugas-tugas yang dihadapinya. Hal ini ditunjukkan dengan harga diri (self-esteem) yang positif dari seorang anak. Harga diri adalah suatu persepsi diri seseorang mengenai rasa keberhargaannya, yang prosesnya didapatkan dari hasil interaksi dengan lingkungannya, penghargaan, penerimaan dan perlakuan orang lain terhadap dirinya

4

. Sebaliknya harga diri negatif pada seorang remaja sering dikaitkan dengan berbagai tingkah laku kenakalan remaja seperti tawuran, penyalahgunaan obat terlarang dan sebagainya.

Bagi remaja yang memiliki ibu TKW, dinamika psikologis yang terjadi dalam proses perkembangan ini menjadi hal yang menarik karena ketidakhadiran ibu sebagai salah satu tokoh sentral yang biasanya memiliki peran besar dalam perkembangan sang anaks. Maka penelitian ini bermaksud meneliti dinamika psikologis remaja dengan ibu TKW. Penelitian ini dirasa sangat tepat dilakukan di Ponorogo yang menjadi salah satu kantong besar daerah pengirim TKW di Jawa Timur karena masalah perkembangan remaja yang ditinggalkan oleh ibu pekerja migran perlu mendapatkan perhatian. Rumusan masalah penelitian ini adalah: (1)Bagaimana perasaan remaja tentang kepergian ibu TKW? (2) Bagaimana persepsi remaja tentang pekerjaan ibu sebagai TKW? (3)Bagaimana perilaku attachment (keterikatan) remaja yang memiliki ibu TKW? (4) Bagaimana self-esteem (harga diri) remaja yang memiliki ibu TKW khususnya yang bersumber dari keluarga?.

Sehingga tujuan dari penelitian ini adalah untuk Mendeskripsikan perasaan remaja tentang kepergian ibu TKW, mendeskripsikan persepsi remaja tentang pekerjaan ibu sebagai TKW, mendeskripsikan perilaku attachment (keterikatan) remaja yang memiliki ibu TKW, mendeskripsikan self-esteem (harga diri) remaja yang memiliki ibu TKW khususnya yang bersumber dari keluarga.

4 Klass, W.H. dan Hodge, S.E. 1978. Self Esteem in Open and Traditional Classroom.

Journal of Educational Psychology. 70, 5, p. 701.

(6)

PeMBaHaSan HaSiL PeneLitian Paparan Data Subjek Penelitian

Subjek A 1.

Sejak ibunya pergi menjadi TKW, A merasa sedih dan kehilangan.

Sampai saat ini pun ia masih merasa tidak enak dengan kepergian ibunya. A ingin ibunya cepat pulang untuk berkumpul dengan keluarga dan tidak usah menjadi TKW lagi. A merasa tidak rela berjauhan dengan sang ibu karena ia ingin mendapatkan perhatian yang lebih dari ibunya dan memiliki tempat curhat.

A memandang pekerjaan ibunya menjadi TKW sebagai hal yang biasa. Meskipun terpisah jauh namun komunikasi A dengan ibunya berjalan dengan baik. Ibu A sering menelpon A minimal seminggu sekali.

Sebenarnya figur attachment yang paling dekat dengan A adalah ibunya, namun karena sang ibu menjadi TKW maka yang mengurusi keperluannya sehari-hari adalah kakek neneknya. Meskipun A tinggal dengan bapak, kakek dan neneknya, akan tetapi A tidak merasa dekat dengan mereka terutama bapaknya. Pekerjaan bapak sebagai sopir membuatnya sering meninggalkan rumah. A tidak bisa terbuka pada bapaknya, ia hanya berbicara jika ada kepentingan terutama berkaitan dengan kebutuhan materi dan finansial.

Selain keluarga A memiliki teman yang sangat dekat. Karena di rumah ia merasa kurang diperhatikan, A lebih sering berada atau menginap di rumah temannya apalagi orang tua sahabatnya tersebut juga memberikan perhatian padanya. A merasa keluarganya kurang harmonis. Sebagai remaja perempuan sebenarnya A merasa membutuhkan kehadiran sang ibu yang bisa memberinya kasih sayang.

Semenjak ibunya pergi dia sering merasa kesepian. Apalagi sang ayah yang bekerja menjadi supir luar kota juga jarang pulang.

A juga menilai hubungan antara ibu dan bapaknya tidak harmonis.

Suasana ini membuat ia merasa tidak memiliki tempat berbagi dan tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya seperti yang ia harapkan sehingga A lebih sering menginap di rumah sahabatnya.

Keluarga hanya akan memberi perhatian terhadap hal-hal yang

dianggap penting saja. Keluarga juga tidak menetapkan aturan atau

disiplin yang jelas di rumah. Karena A lebih sering sendirian di

(7)

rumah, ia merasa bebas melakukan apa saja. Kondisi ini membuatnya memilih untuk menginap di rumah sahabatnya.

Subjek H 2.

Di awal kepergian ibunya, H tidak merasa sedih karena merasa belum memahami peristiwa tersebut. Namun ketika ia bertambah besar dan mulai mengerti, ia merasakan sedih dan kehilangan. Perasaannya saat ini telah terbiasa dengan kepergian ibunya. Kalau boleh memilih, H ingin ibunya tetap berada di rumah dan tidak meninggalkan dirinya karena ia merasa sosok ibu sangat penting baginya dan dibutuhkan.

Bagi H, ibunya yang menjadi TKW adalah pahlawan keluarga sekaligus pahlawan devisa. Komunikasi dengan ibu tidak ada masalah.

Ibu H yang menjadi TKW di Arab Saudi selalu menelpon anaknya setiap hari.

Kakak adalah figur attachment bagi H. H merasa paling dekat dengan kakak perempuannya. Dari sang kakak, ia mendapatkan perhatian, kakak bisa menjadi tempat curhat dan menjadi orang yang paling mengerti dirinya.

H menilai hubungan orang tuanya kurang harmonis karena ia sering melihat mereka bertengkar. Ketika ada masalah, H lebih cenderung untuk menyelesaikannya sendiri tanpa melibatkan keluarganya. Keluarga H menetapkan beberapa peraturan di rumah yang menurutnya cukup fleksibel sehingga ia juga merasa tidak terkekang. Menurut H kepergian ibunya tidak menimbulkan dampak masalah besar baginya hanya saja ia harus belajar melakukan pekerjaan- pekerjaan rumah tangga dan bisa membagi waktu antara tugas-tugas rumah tangga dengan kuliahnya.

Subjek P 3.

Pada awalnya, P merasa sedih dengan kepergian sang ibu, akan tetapi lama kelamaan ia bisa menerima dan terbiasa dengan kondisi tersebut. P ingin ibunya tidak usah pergi menjadi TKW karena menurutnya seorang ibu seharusnya ada di rumah mengurusi segala keperluan keluarganya.

Menurut P, pekerjaan ibunya sebagai TKW adalah pekerjaan halal

dan mulia karena ibu sebagai sumber ekonomi. Meskipun sang ibu

(8)

bekerja menjadi TKW di Hongkong, tetapi ia sering menelpon anaknya minimal seminggu 2 kali. Selain itu ia juga sering mengirimkan sms untuk anaknya.

Meskipun terpisah jauh dengan ibunya, tetapi P tetap merasa paling dekat dengan sang ibu. Bagi P, ibu adalah segala-galanya yang memberikan perhatian, tempat curhat, dan orang yang paling mengerti akan dirinya. Komunikasi dengan ibu berjalan baik karena ibu sering menelpon dan mengirimkan sms.Dalam pandangan P, ia memiliki keluarga yang cukup harmonis. Meskipun ibunya berada jauh dari rumah namun karena komunikasi yang baik ia tidak merasa terlalu kehilangan sosok ibunya.Bapaknya sebagai orang tua yang ada di rumah akan membantu P dalam menyelesaikan masalah yang ia temui sehari-hari.

Dalam keluarga tidak ada peraturan atau disiplin tertentu yang harus ditaati. P merasa ia diberi kebebasan oleh bapaknya. Secara umum, bagi P tidak ada dampak masalah besar yang disebabkan oleh kepergian ibunya menjadi TKW.

Subjek D 4.

Di awal kepergian sang ibu, D merasa sangat sedih. Namun saat ini ia merasa sudah terbiasa dengan ketidakhadiran ibunya. Ia merasa sebaiknya ibu berada di rumah untuk mengurusi keluarga tetapi karena kepergian ibu untuk mencari nafkah maka ia bisa menerima alasan tersebut.

D menilai sebenarnya pekerjaan ibunya sebagai TKW kurang layak meskipun pekerjaan halal. D dan ibunya sering berkomunikasi lewat telpon. Ibu D yang bekerja menjadi TKW di Taiwan hampir setiap hari berkomunikasi dengan anaknya lewat telpon.

Bagi D, sosok yang paling pengertian adalah ibunya. Meskipun jauh, ibunya sering menelpon dan memberikan nasehat pada D.

Selain itu, kakek yang tinggal serumah menjadi orang yang paling memperhatikannya. D juga memiliki teman dekat dan saudara sepupu sebaya yang dianggapnya sebagai orang terdekat dan bisa menjadi tempat curhat baginya.

Menurut D, ia memiliki keluarga yang tidak harmonis. Ayah dan

ibu bercerai dan masing-masing memilih untuk menikah lagi dengan

(9)

orang lain. Ia juga merasa sering dimarahi neneknya tanpa alasan yang jelas. Selain kakeknya, tidak ada yang peduli dan memperhatikan dirinya. Di rumah juga tidak ada peraturan yang harus ditaati. Hanya saja ia harus meminta izin ketika pergi ke luar rumah. Menurut D keluarganya tidak terlalu mengekang dan memberinya cukup kebebasan. D merasa tidak ada masalah yang serius setelah kepergian ibunya, akan tetapi ia menyatakan ketidaknyamanan yang dirasakannya karena sikap sang nenek yang sering memarahinya.

analisa Hasil Penelitian Subjek A

1.

A masih berumur lima tahun ketika ibunya pergi meninggalkannya untuk bekerja menjadi TKW di Taiwan. Perasaannya saat itu sedih dan merasa kehilangan. Ini adalah hal yang wajar mengingat proses adaptasi pada masa anak-anak ketika mereka kehilangan orang yang dicintai. Namun menurut A, sampai saat ini pun ia masih merasakan perasaan tidak nyaman karena kepergian ibunya meskipun hal itu sudah berlangsung sembilan tahun. Perasaan sedih yang dirasakan A sampai saat ini berkaitan erat dengan hilangnya figur attachment yaitu ibunya.

Sejak kecil A tidak bisa menemukan figur pengganti yang bisa mengisi kekosongan figur attachment bahkan sampai ia beranjak remaja saat ini. Sang ayah yang seharusnya bisa menjadi figur attachment ternyata tidak mampu memenuhi peran ini. Kehadiran orangtua terutama ibu dalam perkembangan jiwa anak amat penting. Bila anak kehilangan peran dan fungsi ibunya, sehingga dalam proses tumbuh kembangnya anak kehilangan pembinaan, bimbingan, kasih sayang, perhatian dan sebagainya, maka anak akan mengalami deviasi mothering.

5

Menurut Ma’ruf anak-anak yang mengalami deviasi mothering sesungguhnya dapat tumbuh dan berkembang dengan baik dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat selama si orangtua atau figur lain yang dapat memberikan kasih sayang menggantikan peran ibu kepada anak mampu menerapkan kebajikan yang tepat, memberikan kasih sayang dan mengajarkan nilai-nilai moral yang baik kepada anak. Hal ini sangat penting karena

5 Azhar, M.A dan Putri, D.E. Kecerdasan Moral pada Remaja yang Mengalami Deviasi Mothering.

(10)

dengan ditanamkannya nilai-nilai tersebut maka anak mempunyai pemahaman dalam membedakan hal yang baik dan yang buruk. Semua itu tergantung bagaimana setiap ibu dapat berperan memberikan kasih sayang dan nilai-nilai moral sehingga anak memiliki kecerdasan moral yang baik.

6

Meskipun A merasa kehilangan ibunya namun ia memiliki persepsi yang positif tentang pekerjaan ibu sebagai TKW. A bisa memahami kepergian sang ibu sebagai pencari nafkah utama bagi keluarga. Dalam persepsi seseorang tidak saja mengandung komponen afektif namun juga komponen kognitif. Menurut Piaget, pada usia remaja telah mencapai kemampuan berfikir abstrak atau berada pada tahap operasional formal

7

. Pada tahap ini seorang remaja mampu memikirkan hal-hal yang tidak dilihat dan kejadian-kejadian yang tidak secara langsung dialami sendiri. Kemampuan berfikir abstrak membantu A untuk memahami posisi ibunya yang menempatkannya dalam suatu keadaan yang mengharuskannya untuk bekerja menjadi TKW.

Figur attachment bagi seorang anak biasanya adalah ibunya, bahkan Rutter dkk. menunjukkan dasar bukti-bukti empiris yang cukup banyak bahwa kasih sayang ibulah merupakan satu syarat mutlak untuk menjamin suatu perkembangan psikis anak yang sehat.

Namun, ia menambahkan bahwa pemberian kasih sayang ini tidak harus berasal dari seorang ibu biologis, melainkan dapat pula dari orang-orang lain misalnya dari ayah, nenek, kakek, atau orang lain pengganti ibu

8

. Dengan kata lain anggota keluarga memiliki peran penting dalam pertumbuhan dan perkembangan seorang anak.

Pada kasus A, ia tidak mendapatkan figur attachment pengganti yang bisa memenuhi kebutuhannya akan perhatian dan kasih sayang.

Hal ini sangat disayangkan karena keterikatan terhadap orang tua pada masa remaja bisa memfasilitasi kecakapan dan kesejahteraan sosial bagi remaja. Artinya keterikatan pada orang tua pada masa remaja memiliki fungsi adaptif untuk menyediakan rasa aman sehingga remaja bisa mengeksplorasi dan menguasai lingkungan

6 Ibid

7 Gunarsa dan gunarsa, Psikologi Remaja, …, 63

8 Monks, F.J., Knoers, A.M.P, dan Haditono, S.R. Psikologi Perkembangan: Pengantar dalam Berbagai Bagiannya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 1996, 93.

(11)

baru dan dunia sosialnya dalam kondisi yang sehat secara psikologis.

Keterikatan yang aman pada orang tua memberikan rasa aman bagi remaja dan menghindarkannya dari perasaan cemas dan tertekan ketika ia harus melewati tahap transisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa.

Di satu sisi, remaja sedang membangun kemampuan otonomi atau kebebasan mereka sedang di sisi lain mereka juga mempertahankan rasa keterikatan ketika berinteraksi dengan orang tua. Kemampuan ini berkaitan dengan keberhasilan remaja dalam menjalin hubungan yang dekat dan meraih harga diri yang positif pada awal masa dewasa

9

. Ketiadaan figur attachment pada keluarga membuat A mencari kedekatan dari orang lain yang ia dapatkan dari sahabat dan keluarga sahabatnya.

Perkembangan harga diri pada masa anak-anak lebih banyak dipengaruhi oleh sikap dan perilaku orang tua serta hubungan dalam keluarga. Perilaku orang tua yang mendukung, semangat dan penghargaan yang diberikan pada anak, dan bagaimana seorang anak menginternalisasi sikap orang tuanya terhadap keberhasilan dan kegagalan, merupakan faktor utama dalam pembentukan harga diri pada masa anak-anak awal. Hubungan antar anggota keluarga yang dibangun di atas pengertian dan penghargaan antara satu sama lain akan menumbuhkan perasaan dihargai dan dicintai tanpa sarat sehingga akan menumbuhkan harga diri yang positif

10

.

Pada A yang terjadi adalah sebaliknya. Rasa kesepian karena ibu yang tidak pulang-pulang, bapak yang kurang peduli, serta kakek dan nenek yang juga sibuk dengan urusan mereka sendiri membuat A merasa tidak mendapatkan apa yang ia butuhkan. Bisa dikatakan situasi keluarga semacam ini sangat tidak mendukung perkembangan harga diri yang positif. Bapak yang seharusnya bisa berperan sekaligus menjadi ibu justru menggunakan gaya pengasuhan permisif tidak peduli (permissive-indifferent parenting) yaitu pola asuh dimana orang tua sangat tidak ikut campur dalam kehidupan remaja. Hal ini berkaitan dengan perilaku sosial remaja yang tidak cakap, terutama

9 Santrock, J.W. Adolescence...,194.

10 Gale Encyclopedia, http://www.findarticles.com/cf_0/g2602/0000/2602000096/

print.jhtml

(12)

kurangnya pengendalian diri dan tidak mampu menangani kebebasan dengan baik.

11

Orang tua yang menggunakan pengasuhan semacam ini memberikan kesan pada si anak bahwa ada hal lain yang lebih penting dibanding dirinya. Hal ini ditunjukkan dengan sikap sang bapak yang jarang pulang ke rumah, bahkan sering menginap di rumah temannya.

Kondisi keluarga semacam ini membuat A berusaha mencari kasih sayang dan perhatian dari orang lain yang ia dapatkan dari sahabatnya. Sahabat bisa memberikan rasa nyaman bagi A, meskipun dalam bentuk berbeda dari apa yang bisa ia dapat dari keluarganya.

Persahabatan dapat membantu A untuk menemukan keberartian dirinya yang sangat penting bagi pembentukan harga diri yang positif.

Subjek H 2.

Pertama kali ibu H pergi untuk menjadi TKW, H masih berumur empat tahun dan dia belum memahami benar kepergian ibunya sehingga ia tidak merasa sedih. Namun ketika ia sudah bertambah besar dan memahami hal ini ia pun merasa sedih kehilangan ibunya.

Saat ini setelah 14 tahun berlalu, ia merasa sudah terbiasa dengan ketidakhadiran ibunya sehingga tidak merasa sedih lagi. H sebagai seorang anak yang kehilangan ibunya dapat merasakan emosi sedih, rindu, kecewa, atau marah yang mengiringi kepergian ibunya. Namun seiring berjalannya waktu ia bisa memahami kepergian ibunya. Proses perkembangan emosi seseorang juga dipengaruhi perkembangan kognitifnya. Bagaimana H melihat peristiwa kepergian ibunya saat ini tentu berbeda dengan cara pandangnya di masa anak-anak sehingga emosi yang dirasakan juga berbeda.

Dengan bantuan orang dewasa, seorang anak akan belajar mengatasi kesedihan yang ia rasakan dan mengekspresikannya secara sehat dengan cara yang dapat diterima oleh lingkungannya. Dengan bantuan ayah dan kakak perempuannya, H belajar untuk membentuk perilaku yang tepat dalam beradaptasi terhadap kepergian sang ibu sehingga ia bisa menerima kenyataan bahwa ibunya tidak bisa mendampinginya sehari-hari dalam jangka waktu yang lama.

11 Santrock, J.W. Adolescence...,186.

(13)

H menilai positif pekerjaan ibunya. Ia menyebutnya sebagai pahlawan devisa. Meskipun begitu, seandainya bisa memilih H ingin ibunya tetap ada di dekatnya karena ia membutuhkan sang ibu. Persepsi H terhadap pekerjaan ibunya turut dipengaruhi oleh perkembangan kognitifnya. Di usianya yang sudah mencapai 18 tahun, menurut Piaget, H telah memasuki tahap perkembangan kognitif operasional formal. Perkembangan kognitif tahap ini membuat remaja mampu berfikir abstrak, kritis, serba ingin tahu, idealis, dan logis

12

. H mampu berfikir logis abstrak tentang kepergian ibunya. Ia bisa melihat kepergian ibunya dengan alasan logis untuk menambah penghasilan keluarganya. Namun ia juga berfikir kritis idealis dengan melihat bahwa sebenarnya yang ideal adalah kehadiran ibu di tengah- tengah keluarga.

Sejak kepergian ibunya, H hidup bersama bapak dan kakak perempuannya. Dari hasil wawancara nampak jelas bahwa H menemukan figur attachment pada sosok kakak perempuannya.

Bagi H, kakaknya adalah orang yang paling dekat dengannya, selalu memperhatikan dirinya, bisa menjadi tempat berbagi dan paling mengerti tentang dirinya. H lebih menemukan figur attachment pada kakaknya daripada ibu atau bapaknya. Hal ini bisa saja terjadi karena ia melihat hubungan bapak dan ibu yang kurang harmonis. Dalam sebuah keluarga, kesatuan ayah-ibu sangatlah penting sebagai pondasi keutuhan keluarga. Selain itu dalam keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak seharusnya terjalin hubungan yang baik, antara ayah-ibu, ayah-anak, dan ibu-anak. Hubungan baik ini mensyaratkan adanya keserasian dalam hubungan timbal balik antara semua pihak.

13

Saudara sekandung bisa lebih kuat mempengaruhi remaja dibandingkan orang tua. Seseorang yang usianya dekat dengan si remaja, seperti saudara kandung, mungkin bisa memahami masalah remaja dan berkomunikasi lebih efektif daripada orang tua.

14

Saudara sekandung dianggap lebih mengerti perasaan dan pikiran yang dialami remaja. Kakak perempuan bisa menjadi figur attachment bagi H sehingga ia bisa merasakan perhatian dan kasih sayang dari

12 John W. Santrock, Adolescence…, 63.

13 Gunarsa, S.D. 1995. Psikologi untuk Keluarga. Jakarta: Gunung Mulia. Hlm,39.

14 Ibid, 197.

(14)

keluarganya.

Salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan harga diri adalah hubungannya dengan orang lain, terutama significant others seperti orang tua, saudara kandung dan teman-teman dekat. Di antara struktur sosial yang ada, keluarga merupakan hal yang paling penting, karena keluarga merupakan lingkungan yang paling dekat, baik secara fisik maupun dukungan sosial. Keluarga merupakan lingkungan yang pertama ditemui oleh individu dan menjadi tempat yang penting dalam perkembangan hidup seorang manusia.

Keluarga menjadi struktur sosial yang penting karena interaksi antar anggota keluarga terjadi di sini. Perilaku seseorang di dalam keluarga dapat mempengaruhi perilaku anggota keluarga yang lainnya.

Di dalam keluarga seseorang dapat merasakan dirinya dicintai, diinginkan, diterima dan dihargai, yang pada akhirnya membantu dirinya untuk lebih dapat menghargai dirinya sendiri. Situasi keluarga yang tidak bahagia kurang dapat menghasilkan pribadi yang memiliki harga diri yang positif. Kebahagiaan suatu keluarga sangat dipengaruhi oleh adanya hubungan antar anggota keluarga yang harmonis, baik hubungan antara orang tua dan anak maupun hubungan antara anak dengan saudaranya.

H menilai bahwa keluarganya kurang harmonis karena ia sering melihat bapak dan ibunya bertengkar. Jika suasana ini membuat ia merasa tidak nyaman, tidak dicintai atau tidak diterima maka hal ini bisa mengganggu perkembangan harga diri yang positif. Hubungan pernikahan, pengasuhan, dan perilaku remaja dapat berefek secara langsung maupun tidak langsung terhadap satu sama lain.

15

Misalnya, konflik pernikahan dapat mengurangi efisiensi fungsi orang tua yang dapat berpengaruh langsung terhadap perilaku remaja. Dalam kasus H, kehadiran kakak perempuan tampaknya berperan penting dalam kehidupannya. Meskipun ia merasa tidak nyaman dengan hubungan bapak-ibunya yang kurang harmonis namun ia bisa menemukan kehangatan, kasih sayang, dan perhatian dari sang kakak.

Subjek P 3.

P merasakan kesedihan saat ditinggalkan oleh sang ibu untuk

15 Santrock, J.W. Adolescence...,176.

(15)

bekerja menjadi TKW. Namun saat ini ia sudah bisa menerima hal itu. Ayahnya sangat membantunya menghadapi kesedihan, rasa kehilangan dan kerinduan yang ia rasakan karena kepergian ibunya.

Selain itu, komunikasi dengan ibu berjalan dengan baik. Ibunya yang selalu menelpon minimal seminggu dua kali dan sering mengirimkan sms untuk P, membuatnya berangsur-angsur bisa mengatasi kesedihan dan tetap merasakan kedekatan dengan sang ibu meskipun jarak mereka berjauhan.

Kehadiran orangtua terutama ibu dalam perkembangan jiwa anak amat penting. Bila anak kehilangan peran dan fungsi ibunya, sehingga dalam proses tumbuh kembangnya anak kehilangan pembinaan, bimbingan, kasih sayang, perhatian dan sebagainya, maka anak akan mengalami deviasi mothering. Deviasi mothering dengan segala dampaknya dalam perkembangan dapat terjadi tidak hanya jika anak semata-mata kehilangan figur ibu secara fisik (loss), tetapi juga bisa dikarenakan tidak adanya (lack) peran ibu yang amat penting dalam proses imitasi dan identifikasi anak terhadap ibunya.

16

Deviasi mothering pada anak usia dini jauh lebih besar pengaruhnya dari pada anak pada usia yang lebih besar. Keadaan ini menyebabkan hubungan kasih sayang antara ibu dan anak terputus.

Meskipun P sempat merasakan kesedihan dan kehilangan saat ibu pergi bekerja ke Hongkong, namun kehadiran ayah mampu membantunya untuk beradaptasi terhadap situasi tersebut secara sehat. Kuatnya peran pengasuhan ayah yang positif, kasih sayang ibu P yang besar dan komunikasi yang terus dijaga dengan baik membuat P terhindar dari deviasi mothering meskipun kebersamaan ibu-anak ini terpisahkan oleh jarak yang jauh.

Pada tahap operasi formal, pemikiran reasoning dan logika remaja dalam menghadapi masalah-masalah yang dihadapi mulai berkembang. Ada pembebasan pemikiran dari pengalaman langsung menuju pemikiran yang berdasarkan proposisi dan hipotesis. Asimilasi dan akomodasi terus berperan dalam membentuk skema yang lebih menyeluruh pada pemikiran remaja

17

. Hal ini membantu remaja

16 Azhar, M.A dan Putri, D.E. Kecerdasan Moral pada Remaja yang Mengalami Deviasi Mothering, Universitas Gunadarma Jakarta: Jurnal Psikologi Volume 2, No. 2, Juni 2009.

102.

17 Suparno, P. 2001. Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget. Yogyakarta: Penerbit

(16)

untuk memandang suatu masalah dari beragam sudut pandang yang berbeda dan mempengaruhi persepsinya terhadap masalah tersebut.

Selain itu Gilmer menyatakan bahwa persepsi dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain faktor belajar, motivasi, dan pemerhati perseptor atau pemersepsi ketika proses persepsi terjadi. Karena ada beberapa faktor yang bersifat yang bersifat subyektif yang mempengaruhi, maka kesan yang diperoleh masing-masing individu akan berbeda satu sama lain sehingga persepsi setiap individu bisa sangat beragam dalam melihat suatu peristiwa.

Menurut P, pekerjaan ibunya halal dan sangat mulia. Ia memandang ibu sebagai pencari nafkah utama, meskipun menurut P sebenarnya ibu tidak meninggalkan keluarga dan seharusnya ada untuk mengurusi seluruh keluarga. Kemampuan asimilasi dan akomodasi membuat P mampu membentuk skema baru tentang peran seorang ibu pencari nafkah utama yang mengharuskan ia berpisah dengan anaknya.

Meskipun ibu P pergi untuk bekerja di luar negeri, namun jarak yang jauh ini tidak membuat P merasa kehilangan figur attachment pada ibunya. P tetap bisa merasakan perhatian, kasih sayang, dan kepedulian sang ibu meskipun mereka tidak berdekatan. Bagi P, ibu adalah segala-galanya. Ibu adalah tempat berbagi rasa dan merupakan orang yang paling mengerti dirinya. Lewat komunikasi yang intens jarak bukanlah masalah untuk menjalin kedekatan antara ibu dan anak.

Orangtua sebagai pengendali keluarga, memegang peranan dalam membentuk hubungan keluarga dengan anak-anak mereka. Orangtua merupakan orang yang paling dekat dengan remaja, mengenal keadaan diri remaja, dan sebagai tempat aman bagi remaja untuk berbagi masalah, informasi, dan berbagi kasih sayang. Memasuki usia remaja, mereka lebih menjalin hubungan yang lebih dekat dengan teman sebaya. Namun, meskipun hubungan dengan teman sebaya menjadi sangat penting bagi remaja akan tetapi, attachment terhadap dengan orangtua tetap menjadi sumber utama dalam memberikan rasa aman pada remaja.

Kedekatan yang kuat pada sosok ibu dan keberadaan ayah yang selalu mendampingi hari-hari P, membuat ia merasakan kehangatan keluarga yang harmonis. Ia tetap merasakan keutuhan keluarganya,

Kanisius. Hlm.100.

(17)

keberadaan ayah dan ibunya meskipun dengan cara yang berbeda dengan keluarga lain pada umumnya. Mereka akan selalu ada dan memberikan dukungan saat ia menghadapi masalah. Perasaan aman dan nyaman yang P dapatkan dari kedua orang tuanya merupakan kekuatan besar bagi pembentukan harga diri yang positif.

Perilaku orang tua yang mendukung, semangat dan penghargaan yang diberikan pada anak, dan bagaimana seorang anak menginternalisasi sikap orang tuanya terhadap keberhasilan dan kegagalan, merupakan faktor utama dalam pembentukan harga diri pada masa anak-anak awal. Hubungan antar anggota keluarga yang dibangun di atas pengertian dan penghargaan antara satu sama lain akan menumbuhkan perasaan dihargai dan dicintai tanpa sarat sehingga akan menumbuhkan harga diri yang positif.

Harga diri yang positif sangat mendukung bagi pencapaian prestasi akademis dan kemampuan untuk menjalin hubungan sosial. Di sekolah prestasi P cukup baik. Ia mendapat ranking empat dan merasa senang karena bisa membanggakan orang tua. Ia juga murid yang disiplin dan aktif sehingga disenangi gurunya. P juga memiliki sahabat teman sekelasnya dan teman-teman sebaya yang menyenangkan.

Selain itu perkembangan sosial remaja dapat sangat diuntungkan oleh ayah yang penyayang, dapat dihubungi, dan dapat diandalkan, yang mendorong tumbuhnya kepercayaan dan keyakinan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa dan mahasiswi memiliki kepribadian dan penyesuaian sosial yang lebih baik ketika mereka bertumbuh dewasa dalam rumah yang memiliki seorang ayah yang terlibat memelihara, dibandingkan dengan seorang ayah yang tidak peduli atau bersikap menolak.

18

Ayah P bisa menggantikan peran ibu di rumah. Semenjak kepergian ibunya segala sesuatu keperluan P ditangani oleh ayahnya. Jika P menghadapi masalah sehari-hari, ia akan meminta bantuan pada ayahnya. Peran ayah P dalam bentuk keluarga non tradisional ini memegang peran pengasuh primer karena ketidakhadiran ibu.

Keterlibatan ayah sangat mempengaruhi proses perkembangan individu, dimana ayah yang memberikan perhatian dan dukungan pada anak akan memberikan perasaan diterima, diperhatikan dan

18 Ibid,207.

(18)

memiliki rasa percaya diri, sehingga proses perkembangan anak tersebut dapat berjalan dengan baik. Penelitian yang dilakukan oleh Frank menunjukkan bahwa remaja yang mendapatkan dukungan dan adanya komunikasi yang intensif dengan ayahnya memiliki kebebasan yang lebih besar untuk berusaha, bereksplorasi, untuk menjadi dirinya sendiri terhadap pilihan-pilihan yang dibuat, dan mempertimbangkan kemungkinannya menghadapi orang lain dalam merencanakan masa depannya.

19

Subjek D 4.

Ibu D telah menjadi TKW di Taiwan sejak 9 tahun yang lalu, namun sebelumnya D juga tidak tinggal dengan orang tuanya karena ibu sudah bekerja di Jakarta. Namun ternyata hal ini tetap saja membuat D merasa sedih pada awal kepergian ibunya sebagai TKW. Sebenarnya ia ingin ibu berada di rumah saja agar bisa mengurusi keluarga, namun karena harus mencari nafkah ia berusaha mengikhlaskan ibunya pergi.

Karena kepergian ibu untuk bekerja, ia tidak bisa menemani keseharian anak bahkan tidak bisa mengetahui perkembangannya.

Anak merasa tidak mendapatkan kasih sayang dari ibunya padahal setiap anak pasti menginginkan kasih sayang dari ibunya. Peran wanita sebagai istri dan ibu dalam keluarga tentunya akan hilang karena kepergian atau absennya dalam rumah tangga kecuali jika peran itu bisa tergantikan oleh bapak, yang bisa berperan ganda sebagai ibu sekaligus ayah. Sebenarnya seorang anak sangat menginginkan ayah dan ibunya tidak berpisah dan mereka menginginkan kasih sayang yang penuh.

Pada kondisi yang dialami oleh D, ia tidak saja kehilangan sosok sang ibu namun juga sang ayah karena keduanya pergi dan menitipkannya pada kakek dan neneknya. Untunglah sang kakek bisa mencurahkan kasih sayang dan perhatian pada D sehingga ia bisa merasakan kasih sayang. Sebagai manusia, anak mempunyai kebutuhan-kebutuhan berdasarkan dorongan nalurinya. Apabila orang tua ingin anaknya menjadi seorang yang memiliki potensi-

19 Maharani, O.P. dan Andayani, B. Hubungan antara Dukungan Sosial Ayah dengan Penyesuaian Sosial pada Remaja Laki-laki. Jurnal Psikologi, No. 1, 23-35. Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. 2003, 25

(19)

potensi, maka kebutuhan anak sangat ditentukan oleh perhatian dari lingkungan dimana ia berada, paling tidak berawal dari lingkungan keluarga. Sebenarnya seorang anak memiliki kebutuhan-kebutuhan yang perlu diperhatikan dan diberikan oleh orang tua supaya ia dapat mengembangkan dan mengaktualisasikan potensi-potensi yang dimikinya yaitu kebutuhan akan cinta dan rasa aman, kasih sayang, pujian dan diterima apa adanya, dan tanggung jawab.

Jika seorang anak terpaksa hidup dalam kondisi yang tidak ideal seperti yang dialami oleh D dimana ia tidak bisa mendapatkan kasih sayang yang utuh dari kedua orang tuanya, maka pengasuh atau care givernya seyogyanya tetap memperhatikan kebutuhan-kebutuhan tersebut. Dengan hal ini diharapkan seorang anak dapat tetap tumbuh sehat secara fisik dan psikis meskipun tidak berada dalam keluarga yang ideal.

Berbeda dengan beberapa subjek sebelumnya yang memiliki persepsi positif terhadap pekerjaan ibu sebagai TKW, D menilai sebenarnya pekerjaan ibunya kurang layak meskipun merupakan pekerjaan halal. Gilmer menyatakan bahwa persepsi dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain faktor belajar, motivasi, dan pemerhati perseptor atau pemersepsi ketika proses persepsi terjadi. Dan karena ada beberapa faktor yang bersifat yang bersifat subyektif yang mempengaruhi, maka kesan yang diperoleh masing-masing individu akan berbeda satu sama lain.

Berbeda dengan persepsi terhadap benda mati seperti meja,

mesin atau gedung, persepsi terhadap individu adalah kesimpulan

yang berdasarkan tindakan orang tersebut. Objek yang tidak hidup

dikenai hukum-hukum alam tetapi tidak mempunyai keyakinan,

motif atau maksud seperti yang ada pada manusia. Akibatnya

individu akan berusaha mengembangkan penjelasan-penjelasan

mengapa berperilaku dengan cara-cara tertentu. Oleh karena itu,

persepsi dan penilaian individu terhadap seseorang akan cukup

banyak dipengaruhi oleh pengandaian-pengadaian yang diambil

mengenai keadaan internal orang itu. Perbedaan persepsi antara D

dengan subjek yang lain karena apa yang dialami oleh D juga berbeda

konteks situasinya dengan subjek yang lain. Kenyataan bahwa ibu D

telah meninggalkannya untuk bekerja sehingga mereka harus berpisah

(20)

sekian lama dan akhirnya berujung pada perceraian dengan sang ayah adalah sebuah pengalaman subyektif yang membuat persepsi D terhadap pekerjaan ibu sebagai TKW tidak sepenuhnya positif.

Meskipun berjauhan sebenarnya D masih merasakan keterikatan dengan sang ibu. Ini terlihat dari pernyataannya yang mengatakan bahwa sebenarnya yang paling mengerti dirinya adalah ibunya.

Namun karena berjauhan ia merasa ibu kurang terlibat untuk masalah-masalah yang dihadapi sehari-hari. Perhatian dan bantuan lebih banyak diberikan dari sang kakek yang memang menemani D sehari-hari. Selain itu untuk curhat, D lebih mempercayai teman dan saudara sepupu yang umurnya sebaya.

Attachment yang terbentuk antara bayi dan orangtua (hubungan sosial pertama dalam hidup manusia) merupakan landasan dasar bagi hubungan manusia pada masa selanjutnya. Bowlby mengatakan bahwa anak masih membutuhkan orangtua sebagai figur attachment selama masa kanak-kanak dan remaja. Remaja tetap memperoleh dukungan dan perlindungan dari orangtua (sebagai figur attachment).

Namun, pada masa remaja keinginan remaja mencari kedekatan dan mengandalkan figur attachment pada saat mereka merasa tertekan cenderung menurun tetapi, untuk perasaan ketersedian figur attachment tidak mengalami penurunan.

Menurut Bowlby meskipun frekuensi dan intensitas beberapa perilaku attachment diketahui menurun seiring bertambahnya usia namun, kualitas ikatan attachment remaja akan tetap stabil. Memasuki usia remaja, mereka lebih menjalin hubungan yang lebih dekat dengan teman sebaya. Namun, meskipun hubungan dengan teman sebaya menjadi sangat penting bagi remaja akan tetapi, attachment terhadap orangtua tetap menjadi sumber utama dalam memberikan rasa aman pada remaja.

Sejak kecil D tidak pernah tinggal bersama orang tuanya. Setelah

beberapa tahun menjadi TKW, orang tua D akhirnya bercerai dan

masing-masing menikah lagi. Saat ini ia hanya tinggal dengan kakek

dan neneknya. D merasa bahwa kakeknya sayang dan perhatian

padanya, namun sebaliknya sang nenek lebih sering memarahinya

tanpa alasan. Kondisi semacam ini membuat D tidak dapat merasakan

(21)

makna keluarga yang sesungguhnya. Sebenarnya keluarga memiliki makna yang penting dalam perkembangan remaja, antara lain:

20

Keluarga dapat memenuhi kebutuhan remaja akan keakraban a.

dan kehangatan yang memang perlu baginya

Keluarga dapat memupuk kepercayaan diri anak dan perasaan b.

aman untuk dapat berdiri dan bergaul dengan orang lain. Tanpa kemesraan dan perlakuan kasih sayang dari orang tua, sulit bagi remaja untuk menjalin hubungan-hubungan yang berarti dengan orang lain.

D melihat bahwa ia memiliki keluarga yang tidak harmonis dan orang tua yang tidak memperhatikan serta membantunya jika ada masalah. Ia merasa lebih nyaman untuk membicarakan masalahnya dengan saudara atau sahabat yang sebaya dengannya. Situasi keluarga yang tidak bahagia kurang dapat menghasilkan pribadi yang memiliki harga diri yang positif. Kebahagiaan suatu keluarga sangat dipengaruhi oleh adanya hubungan antar anggota keluarga yang harmonis, baik hubungan antara orang tua dan anak maupun hubungan antara anak dengan saudaranya.

Beberapa atribut dari orang tua yang berhubungan dengan tingkat rasa harga diri yang tinggi dari anak laki-laki adalah:

21

Ekspresi rasa kasih sayang a.

Perhatian terhadap masalah yang dihadapi oleh anak b.

Keharmonisan di rumah c.

Partisipasi dalam aktivitas bersama keluarga d.

Kesediaan untuk memberikan pertolongan yang kompeten dan e.

terarah kepada anak ketika mereka membutuhkannya Menetapkan peraturan yang jelas dan adil

f.

Mematuhi peraturan-peraturan tersebut g.

Memberikan kebebasan pada anak dengan batas-batas yang telah h.

ditentukan

Dari beberapa atribut di atas tampaknya sebagian besar tidak dirasakan oleh D sehingga keluarga tidak menjadi sumber self-esteem

20 Gunarsa dan Gunarsa, Perkembangan Remaja... 108

21 Santrock, J.W. Adolescence...

(22)

yang positif. Pada sebagian remaja self-esteem yang negatif mungkin hanya menimbulkan rasa tidak nyaman namun dalam kasus-kasus yang tertentu dapat menyebabkan kenakalan remaja, penyimpangan perilaku, bahkan bunuh diri.

Harga diri positif berguna untuk menumbuhkan rasa percaya diri remaja agar remaja yakin dengan kemampuannya, dapat mengendalikan kehidupannya, dan yakin akan kemampuannya mengerjakan apa yang diinginkan, direncanakan serta diharapkannya, sehingga remaja tersebut memiliki harapan yang realistik, dan walaupun harapan tidak tercapai remaja tetap akan positif dan menerima dirinya. Harga diri yang tinggi akan membangkitkan rasa percaya diri, ingin tahu, mandiri, percaya pada ide-idenya, menyukai tantangan-tantangan baru dan memprakarsai aktifitas yang baru dengan penuh percaya diri, mendeskripsikan dirinya secara positif dan bangga pada hasil kerjanya, cepat menyesuaikan diri dengan baik, tidak mudah frustasi, gigih dalam mencapai tujuan, dan dapat menerima kritikan.

Seseorang yang harga dirinya rendah akan menggambarkan dirinya secara negatif, tidak percaya pada ide-idennya sendiri, tampak kurang percaya diri, kurang bangga pada hasil kerjanya, kelihatan tertekan, duduk memisahkan diri dari anak yang lain, menarik diri, cepat putus asa pada saat frustasi, dan kurang dewasa dalam menghadapi stress.

22

PenutuP

kesimpulan

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan:

Keempat subjek merasakan kesedihan saat ditinggalkan oleh sang 1.

ibu pada awalnya (saat masih anak-anak), namun berangsur-angsur tiga subjek (H, P, dan D) bisa beradaptasi sehingga saat remaja dapat menerima keadaan tersebut. Hanya ada satu subjek (A) yang sampai saat ini masih terus merasa sedih dengan kepergian ibunya, hal ini ada kaitannya dengan ketidaktersedian figur attachment pengganti sang ibu dari keluarga.

Tiga subjek (A, H, dan P) memiliki persepsi positif mengenai 2.

pekerjaan sang ibu sebagai TKW (pekerjaan mulia, halal, sumber

22 Papalia, Olds & Fieldman, 2001

(23)

keuangan, pahlawan keluarga, dan pahlawan devisa) sedangkan satu subjek (D) menilai sebenarnya pekerjaan ibunya sebagai TKW kurang layak tetapi ini adalah pekerjaan yang halal.

Tiga subjek (H, P, dan D) menemukan figur

3. attachment pengganti

setelah kepergian sang ibu dari keluarga. Sedangkan subjek A tidak menemukan figur attachment pengganti ibu dari pihak keluarga sehingga ia mencari figur attachment dari luar keluarga (sahabat A beserta keluarganya).

Self esteem

4. dipengaruhi kuat oleh keharmonisan keluarga. Dari 4 subjek, hanya satu (P) yang merasa bahwa keluarganya harmonis meskipun ibu bekerja sebagai TKW. 3 subjek lainnya (A, H, dan D) menilai bahwa keluarga mereka tidak harmonis. Kondisi keluarga yang tidak harmonis tidak mendukung terbangunnya self-esteem yang positif sehingga bisa disimpulkan bahwa self-esteem dari aspek keluarga pada subjek A, H, dan D adalah negatif.

Berdasarkan kesimpulan penelitian di atas, maka saran-saran yang dapat dikemukakan adalah:

Bagi Keluarga TKW 1.

Kepergian ibu TKW seyogyanya dipertimbangkan secara matang 2.

terutama hal-hal yang berkaitan dengan pengasuh atau care giver pengganti yang menjadi figur attachment bagi sang anak sehingga anak tidak kehilangan figur attachmentnya dan dapat tumbuh dan berkembang secara sehat.

Bagi Instansi Pendidikan 3.

Self esteem

4. tidak hanya bersumber dari keluarga, lingkungan sekolah juga memiliki peran yang penting dalam pembentukan self esteem pada anak-anak dan remaja. Oleh karena itu, sekolah dapat membuat program-program yang bertujuan membentuk dan meningkatkan self-esteem yang positif bagi siswanya, terutama bagi siswa-siswa yang memiliki keluarga tidak harmonis.

Bagi pemerintah 5.

Lembaga konseling dan pendampingan Keluarga TKW perlu 6.

dibentuk agar permasalahan yang biasa muncul ketika ibu pergi

bekerja dapat didiskusikan. Lembaga konseling ini diharapkan

dapat menciptakan suatu sistem menyeluruh dan terintegrasi

(24)

yang dapat dilaksanakan termasuk pendidikan anak, penyandang dana dan pengaturan, pembenahan serta penyuluhan kepada suami dan keluarga yang ditinggalkan.

DaFtar PuStaka

Baldwin, S.A. dan Hoffmman, J. P. 2002. The Dynamics of Self- Esteem: A Growth-Curve Analysis. Journal of Youth and Adolesence, 31, 2, 101- 113.

Coopersmith, S. 1967. Studies in Self Esteem. Scientific American, 218, 96-106.

Dagun, S. M. 1990. Psikologi Keluarga: Peranan Ayah dalam Keluarga.

Jakarta: Rineka Cipta.

Feldman, R.S. 1999. Understanding Psychology. Boston: McGraw-Hill, p. 345.

Gunarsa S.D. dan Y.S.D.Gunarsa. 2000. Psikologi Remaja, Jakarta:

BPK Gunung Mulia.

Hewitt, J.P. 1988. Self and Society. Boston: Allyn and Bacon, Inc.

Hurlock, E.B. Psikologi Perkembangan, Jakarta: Erlangga, 1980.

http://www.bsos.umd. edu/socy/grad/socpsyrosenberg.html

http://www.findarticles.com/cf_0/g2602/0000/ 2602000096/print.

jhtml

http://www.findarticles.com/cf_0/m2294/n11-12_v38/21109783 / p1/article.jhtml Polce-Lynch, M. Myers, B.J., Kilmartin, C.T., Forssmann-Falck R., dan Kliewer, W. 1998. Gender And Age Patterns In Emotional Expression, Body Image, and Self-Esteem:

A Qualitative Analysis. Sex Roles: A Journal of Research.

http://www.edreferral.com/body_image

http://www. Azhar, M.A dan Putri, D.E. Kecerdasan Moral pada Remaja yang Mengalami Deviasi Mothering.

http://www.findarticles.com/cf_0/g2602/0000/2602000096/print.

jhtml. Gale Encyclopedia

(25)

Klass, W.H. dan Hodge, S.E. 1978. Self Esteem in Open and Traditional Classroom. Journal of Educational Psychology. 70, 5, 701.

Maharani, O.P. dan Andayani, B. 2003. Hubungan antara Dukungan Sosial Ayah dengan Penyesuaian Sosial pada Remaja Laki-laki.

Jurnal Psikologi, No. 1, 23-35. Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada.

Monks, F.J., Knoers, A.M.P, dan Haditono, S.R. 1996. Psikologi Perkembangan: Pengantar dalam Berbagai Bagiannya. Yogyakarta:

Gadjah Mada University Press.

Norwanto, Pergeseran Relasi Jender Keluarga TKW. KCM, 2 April. http//

www.kompas.com.

Neuman, W. L. 2000. Social Research Methods: Qualitative and Quantitative Approaches. Boston: Allyn and Bacon.

Papalia, D.E., Olds, S.W., and Feldman, R.D., Human Development, Boston: Mc: Graw-Hill, 2004

Poerwandari, E. K, Pendekatan Kualitatif dalam Penelitian Psikologi, Jakarta: LPSP3 Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 1998.

Santrock, J.W. 1996. Adolescence: Perkembangan Remaja. Jakarta:

Erlangga.

Sarwono S.W., Psikologi Remaja, Jakarta: Rajawali Pers, 2001.

Steinberg, L., 2000, Adolescence, Mc Graw Hill: Boston.

Sukmadinata, N. S, Metode Penelitian Pendidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007.

Sulistyawan, E. 2008. Potret Kehidupan Siswa Anak TKI. 30 Januari.

http//www.jawapos.com.

Widanarti, N. dan Indati, A. 2002. Hubungan antara Dukungan

Sosial Keluarga dengan Self Efficacy pada Remaja di SMU Negeri

9 Yogyakarta. Jurnal Psikologi, No. 2, 112-123. Yogyakarta: Fakultas

Psikologi Universitas Gadjah Mada.

(26)

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan uraian diatas, peneliti merasa tetarik untuk meneliti lebih hubungan antara komunikasi antar pribadi yang dilakukan keluarga khususnya orang tua dengan pembentukan

senantiasa dekat dengan anak, merasa khawatir bila jauh dengan anak. Hubungan Antara Perilaku Over protective Orang Tua Dengan Penyesuaian diri Remaja. Penghitungan hipotesis

Kegiatan yang dilakukan oleh kedua orang tua Mawar ketika berada di rumah yaitu, ibu Mawar pulang dari bekerja pukul 15.00, sampai di rumah ganti baju lalu

Melalui komunikasi dua arah yang bersahabat, orang tua dapat memasukan nilai-nilai etika dengan mudah sehingga anak tidak akan merasa tertekan tetapi justru akan

pendidikan yang dilakukan orang tua tidak mumpuni.. Perhatian islam terhadap anak-anak sangat besar dengan.. asumsi bahwa mereka adalah buah kehidupan rumah tangga

Jika saya berada di rumah rasanya saya kurang nyaman karena dirumah tidak ada suasana hangat antara orang tua dengan anak.. Orang tua saya dengan lembut

Dalam beberapa hal tertentu anak memang sebaiknya dilatih untuk hidup mandiri agar ketika dewasa, mereka tidak merasa kesulitan jika harus tinggal jauh dari orang tua,

Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan di atas, maka peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian mengenai pengaruh komunikasi antarpribadi orang tua terhadap