PERBEDAAN REGULASI DIRI PADA MAAHASISWA BEKERJA DAN MAHASISWA TIDAK BEKERJA DI PROGRAM STUDI BK
STKIP PGRI SUMBAR
Oleh:
Desta Fandri*
Dr. Yuzarion Zubir, S.Ag., S.Psi., M.Si**
Alfaiz, S.Psi., M.Pd**
*Mahasiswa
** Pembimbing
Mahasiswa Bimbingan dan Konseling, STKIP PGRI Sumatera Barat
This research is motivated by the conditions encountered in the field related to self- regulation in learning between students working with the student does not work there is no difference between the two groups of students: This study aims to describe: (1) self-regulation in students' views of aspects of metacognitive, (2) self-regulation in the learning of students from the aspects of motivation, (3) self-regulation in students' views on the behavioral aspects, (4) differences in the regulation of student learning and student work that did not work. This type of research used is descriptive comparative, with a population of as many as 274 students study counseling. Samples were taken through two sampling technique that is proportionate random sampling technique is a sampling of members of the population at random and stratified proportional. The instrument used was a questionnaire, while for the use of data analysis techniques percentage and t test in SPSS version 20 to see the difference between students who work and students who do not work.
Keywords: Self-Regulation, Student Work, Student Not Working
Pendahuluan
Regulasi diri sangat diperlukan pada diri seseorang yang sedang menuntut ilmu atau belajar, seperti yang kita ketahui regulasi diri adalah kemampuan seseorang dalam mengendalikan diri atau tingkah laku untuk mencapai suatu tujuan tertentu misalnya dalam belajar. Individu yang bisa mengendalikan dirinya dengan baik maka dia akan mudah dalam mencapai tujuan yang ia inginkan dalam belajar.
Akan tetapi tidak semua individu yang mempunyai regulasi diri yang baik. Pada saat sekarang ini banyak dikalangan remaja yang tidak memiliki regulasi diri yang baik mereka tidak mampu mengendalikan diri mereka sebagai mana mestinya
.
Mempunyai regulasi diri yang baik itu bisa memudahkan individu dalam mencapai tujuannya. Menurut Zimmerman, Boekaerst, Printrich, dan Moshezeidner, (Rahman, 2005:68),
paling tidak ada tiga bentuk pengaturan yang harus dilakukan, yaitu covert regulation, behavioral regulation, dan environmental regulation. Covert regulation menunjuk pada pengaturan kognitif dan efektif sehingga mendukung atau tidak mengganggu proses tercapainya tujuan; behavioral regulation menunjuk pada pengaturan perilaku yang sekiranya menjadi prasyarat bagi tercapainya tujuan tersebut; dan environmental regulation menunjuk pada pengamatan dan pengelolaan lingkungan sehingga support terhadap proses tercapainya tujuan. Oleh sebab itu bahwa seseorang yang ingin tujuannya terwujud harus mempunyai komitmen, karena tanpa adanya komitmen, maka tujuan tersebut akan sulit untuk bisa terwujud. Strategi atau komitmen yang dapat dilakukan
adalah dengan menjadi seorang mahasiswa yang mempunyai keteraturan diri (self regulated learning).
Istilah self regulation mempunyai kemiripan dengan self control. Menurut
Vosh dan Baummeiter
(Rahman,2004:68), kedua istilah itu bisa digunakan untuk menunjuk pada konsep yang lebih umum mengenai perilaku- perilaku yang diarahkan pada pencapaian tujuan atau goal-directed behavior baik secara sadar maupun tidak sadar, sedang self controlsecara spesifik menunjuk pada penghendakian impuls secara sadar. Hal ini membuktikan bahwa betapa pentingnya regulasi diri yang baik pada diri seseorang/individu dalam mencapai suatu tujuan ataupun dalam belajar
Individu yang tidak memiliki regulasi diri yang baik akan merasa sangat kesulitan dalam menyesuaikan dirinya dalam belajar, yang terjadi mereka sering bermasalah dengan nilai.
Gejala individu yang tidak memiliki regulasi diri yang kurang baik ini umumnya dianggap ringan oleh individu yang mengalaminya karena tidak begitu terlihat awalnya, akan tetapi apabila tidak ditangani dengan cepat maka gejala-gejala tersebut akan semakin parah, dan akhirnya berdampak pada diri individu tersebut, bahkan lingkungan sekitar juga. Lingkungan tersebut bisa didalam lingkungan masyarakat, keluarga dan sekolah
.
Ketidakmampuan seseorang melakukan regulasi mempunyai dampak yang luas. Masalah personal maupun sosial, bisa muncul karena ketidakmampuan di dalam melakukan regulasi diri. Menurut Vosh dan Baummeiter, (Rahman, 2004:69) kasus- kasus seperti tindak kriminal, penggunaan obat terlarang, kecanduan rokok, korupsi, ataupun perselingkuhan berakar dari ketidakmampuan di dalam meregulasi diri. Akibat dari kasus tersebut individu tidak akan mampu berkompetisi atau bersaing dengan individu-indidu lainnya yang mempunyai regulasi diri yang baik dan tidak terlibat dengan kasus seperti itu
.
.Jadi dapat disimpulkan bahwa regulasi diri yang baik sangat diperlukan pada diri seseorang baik mahasiswa yang hanya kuliah saja maupun mahasiswa yang kuliah sambil bekerja. Karena dengan adanya regulasi diri yang baik pada diri seseorang tersebut maka dia akan mudah menggapai cita-citanya dengan mudah
Saat ini, kompetisi yang terjadi telah berlaku di segala bidang, termasuk di dalamnya bidang karir. Indonesia sebagai Negara yang berkembang sangat memerlukan individu yang berkualitas. Kesempatan untuk mendapatkan pendidikan di perguruan tinggi akan lebih mudah bila individu tersebut mempunyai regulasi diri yang baik, serta kondisi mahasiswa yang bekerja sambil kuliah memiliki tantangan dalam proses pendidikan pada masa perkuliahan.
Penelitian Furr & Elling (2000:443) menunjukan bahwa mahasiswa yang bekerja cenderung memiliki tingkat stres yang lebih tinggi dibandingkan dengan mahasiswa yang tidak bekerja dan juga jarang terlibat pada aktifitas kampus dan aktifitas sosial. Jika hal tersebut terus terjadi tentunya dapat mempengaruhi afeksi, pikiran dan tingkah laku mahasiswa dalam penerapan regulasi diri untuk menunjang prestasi belajar yang memuaskan.
Berdasarkan hasil observasi awal peneliti di kampus STKIP PGRI SUMBAR pada mahasiswa jururusan Bimbingan dan Konseling peneliti melihat mahasiswa mempunyai berbagai macam permasalahan, baik mahasiswa bekerja maupun mahasiswa yang hanya fokus kuliah saja.
Berdasarkan hasil wawancara dengan mahasiswa yang kuliah sambil bekerja pada tanggal 21 Oktober 2015, diperoleh informasi bahwa mahasiswa tersebut bisa mengendalikan dirinya dengan situasi yang sulit, karena keinginan untuk kuliah sangatlah tinggi.
Walapun dengan keadaanya bekerja mahasiswa tersebut tetap bisa meneruskan kuliahnya dengan baik.
Peneliti juga melakukan wawancara kepada mahasiswa yang hanya fokus kuliah saja pada tangga 21 oktober 2015 yang mana hasilnya adalah, mahasiswa ini sangat bagus dalam pengendalian dirinya, karena orang tua yang memberi kepercayaan terhadapnya tidak disia-sia kan. Selain itu G ini terus berusaha menjadi yang terbaik untuk kedua orang tuanya.
Berdasarkan fenomena dan permasalahan yang ditemukan, sehingga peneliti tertarik untuk melakukan penelitian di STKIP PGRI Padang, dengan judul: Pebedaan Regulasi Diri Dalam Belajar Pada Mahasiswa Bekerja Dan Mahasiswa Tidak Bekerja Di Program Studi BK STKIP PGRI SUMBAR
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dijelaskan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan:
1. Gambaran regulasi diri mahasiswa yang bekerja.
2. Gambaran regulasi diri mahasiswa yang tidaj bekerja.
3. Perbrdaan regulasi diri dalam belajar pada mahasiswa bekerja danmahasiswa tidak bekerja.
Metode Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan yaitu deskriptif kuantitatif penelitian yang dilakukan termasuk penelitian kuantitatif yang menghasilkan data deskriptif. Penulis membedakan regulasi diri dalam belajar mahasiswa bekerja dan regulasi diri mahasiswa tidak bekerja. Penelitian deskriptif kuantitatif adalah penelitian yang dilakukan untuk menggambarkan dua atau lebih fakta dan sifat objek yang diteliti.
Penelitian yang dilakukan untuk membandingkan persamaan dan perbedaan dua atau lebih fakta tersebut berdasarkan kerangka pemikiran tertentu.
Teknik pengumpulan data adalah cara-cara yang ditempuh peneliti untuk memperoleh data, dalam penelitian ini peneliti langsung melakukannya dengan melihat ke lapangan untuk mendapatkan sejumlah data yang dibutuhkan. Ada beberapa teknik yang digunakan peneliti untuk melengkapi data dalam membahas masalah ini yaitu penyebaran angket.
Membagikan angket kepada sampel penelitian, ini dilakukan untuk mengumpulkan data yang dibutuhkan dan informasi langsung dalam penelitian.
Menurut Yusuf (2005: 252) angket adalah suatu rangkain pertanyaan yang berhubungan dengan topik tertentu yang diberikan kepada sekelompok individu dengan maksud untuk memperoleh data.
Angket dirancang sesuai dengan pertanyaan penelitian yaitu untuk mengungkapkan motivasi mahasiswa dalam menyusun skripsi di program studi bimbingan dan konseling.
Riduwan (2010: 71) tujuan penyebaran angket adalah mencari informasi yang lengkap mengenai suatu masalah dan responden tanpa merasa khawatir bila responden memberikan jawaban yang tidak sesuai dengan kenyataan dalam pengisian daftar pernyataan dan disamping itu, responden mengetahui informasi tertentu yang diminta.
Hasil dan Pembahasan
Secara umum hasil penelitian mengenai perbedaan regulasi diri dalam belajar mahasiswa bekerja dan mahasiswa tidak bekerja.
1. Regulasi Diri Dalam Belajar Mahasiswa Bekerja
Analisis hasil penelitian ini mengenai perbedaan regulasi diri dalam belajar mahasiswa bekerja dan mahasiswa tidak bekerja di program studi bimbingan dan konseling stkpi pgri sumbar yang akan digambarkan sesuai dengan tujun penelitian, berdasarkan penyebaran angket dan pengolahan data yang telah dilaksanakan, kepada mahsiswa sebagai sampel di lapangan, mengenai regulasi diri dalam belajar pada mahasiswa bekerja dan mahasiswa tidak bekerja, yang diketahui bahwa regulasi diri dalam belajar terbagi dalam tiga aspek yaitu keterampilan regulasi diri dalam belajar dilihat dari aspek metakognitif, regulasi diri dalam belajar dilihat dari aspek motivasi, regulasi diri dalam belajar dilihat dari aspek perilaku.
Berikut ini hasil penelitian yang akan diuraikan sesuai dengan tujuan penelitian sebagai berikut ini;
(a) Regulasi diri dilihat dari aspek metakognitif
Berdasarkan gambar di atas hasil analisis deskriptif menyatakan regulasi diri dalam belajar mahasiswa bimbingan konseling dilihat dari aspek metakognitif dikategorikan baik.
(b) Regulasi diri dalam belajar dilihat dari aspek motivasi
Berdasarkan gambar di atas hasil analisis deskriptif menyatakan regulasi diri dalam belajardilihat dari aspek motivasi dikategorikan baik.
(c) Regulasi diri dalam belajar dilihat dari aspek perilaku
Berdasarkan gambar di atas hasil analisis deskriptif menyatakan regulasi dirinya dalam belajar dikategorikan baik.
2. Regulasi diri dalam belajar mahasiswa tidak bekerja
Analisis hasil penelitian ini mengenai
perbedaan regulasi diri dalam belajar mahasiswa bekerja dan mahasiswa tidak bekerja di program studi bimbingan dan konseling stkpi pgrisumbar yang akan digambarkan sesuai dengan tujun penelitian, berdasarkan penyebaran angket dan pengolahan data yang telah dilaksanakan, kepada mahsiswa sebagai sampel di lapangan, mengenai regulasi diri dalam belajar pada mahasiswa bekerja dan mahasiswa tidak bekerja, yang diketahui bahwa regulasi diri dalam belajar terbagi dalam tiga aspek yaitu keterampilan regulasi diri dalam belajar dilihat dari aspek metakognitif, regulasi diri dalam belajar dilihat dari aspek motivasi, regulasi diri dalam belajar dilihat dari aspek perilaku.
Berikut ini hasil penelitian yang akan diuraikan sesuai dengan tujuan penelitian sebagai berikut ini;
(a) Regulasi diri dalam belajar dilihat dari aspek metakognitif
Berdasarkan gambar di atas hasil analisis deskriptif menyatakan regulasi diri dalam belajar mahasiswa bimbingan konseling dilihat dari aspek metakognitif dikategorikan baik.
(b) Regulasi diri dalam belajar dilihat dari aspek motivasi
Berdasarkan gambar di atas hasil analisis deskriptif menyatakan regulasi diri dalam belajar dilihat dari aspek motivasi dikategorikan baik.
(c) Regulasi diri dalam belajar dilihat dari aspek perilaku
Berdasarkan gambar di atas hasil analisis deskriptif menyatakan regulasi dirinya dalam belajar dikategorikan baik
3. Perbedaan regulasi diri dalam belajar pada mahasiswa bekerja dan mahasiswa tidak bekerja
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dijabarkan di atas mengenai regulasi diri dalam belajar dilihat dari aspek metakognitif, motivasi maupun perilaku pada masing-masing kelompok kelas yaitu pada kelompok mahasiswa bekerja dengan kelompok mahasiswa tidak bekerja, setelah dijabarkan di atas, kemudian peneliti juga akan menjabarkan bagaimana perbedaan regulasi diri dalam belajar diantara kedua kelompok mahasiswa tersebut, hal ini sesuai dengan hasil pengolahan yang telah dilakukan oleh peneliti. Sebelumnya, peneliti akan menjabarkan terlebih dahulu jumlah total yang diperoleh dari hasil jawaban yang telah diisi oleh kelompok sampel, kemudian yang akan diuji kebenarannya sesuai dengan pengujian hipotesis yang telah diajukan oleh peneliti, untuk uji hipotesis dipilih analisis statistik dengan teknik T Test dengan bantuan program SPSS versi 20
.
Kesimpulan dan Saran A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian tentang perbedaan regulasi diri dalam belajar pada mahasiswa bekerja dan mahasiswa tidak bekerja di prodi bk stkip pgri sumbar, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Regulasi Diri Dalam Belajar Mahasiswa Bekerja, baik itu Aspek Metakognitif, Motivasi maupun Perilaku dikategorikan baik artinya
pada ketiga aspek tersebut regulasi diri mahasiswa dalam belajar dikatakan baik. Hal tersebut terjadi karena, sebagaian mahasiswa dalam meregulasi dirinya dalam belajar secara baik hal ini tentu untuk menerima sebuah perubahan yang akan membawa suatu kebaikan dan keberhasilan dalam belajar.
2. Regulasi Diri Dalam Belajar Mahasiswa Tidak Bekerja baik itu aspek Metakognitif, Motivasi maupun Perilaku tergolong cukup baik artinya pada reguglasi diri dalam belajar mahasiswa tidak bekerja dikategorikan cukup baik serta mampu untuk meregulasi dirnya dalam belajar dengan baik.
3. Terdapat perbedaan yang signifikan antara keterampilan belajar peserta didik kelas unggul dengan peserta didik kelas reguler dengan hasil thit
lebih besar dari ttabel berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara keterampilan belajar yaitu sebanyak 5.948.
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka menyarankan kepada berbagai pihak yang terkait, sebagai berikut:
1. mahasiswa, disarankan kepada mahasiswa untuk dapat meregulasi dirinya dalam belajar secara baik dan selalu optimis dan rajin terhadap kegiatan yang dilakukannya, untuk dapat lebih baik lagi dalam meregulasi diri dalam belajar serta dapat mengenali kemampuan belajarnya masing-masing khususnya untuk mahasiswa bekerja.
Sehingga mahasiswa dapat meraih prestasi masing-masing, maka tidak terjadi perbandingan dalam memperoleh keberhasilan dalam prestasi di Kampus.
2. Dosen prodi, Berdasarkan hasil temuan penelitian terungkap bahwa masih ditemukan perbandingan regulasi diri dalam belajar diantara mahasiswa bekerja dan tidak bekerja, diharapkan kepada dosen program studi bimbingan konseling agar dapat meningkatkan pelayanan
kepada semua mahasiswa khususnya untuk mahasiswa yang bekerja mengenai regulasi diri dalam belajar, sehingga mahasiswa dapat meregulasi dirinya dalam belajar secara baik. Seperti memberikan pelayanan informasi, layanan bimbingan kelompok dan lain- lainya
.
3. Pengelola program studi bk, Berdasarkan hasil temuan penelitian secara gambaran umum yang mana berada pada kategori baik, dalam arti memberikan pengajaran dan penyelenggaraan pelayanan Bimbingan dan Konseling di kampus, sehinggga pengelola program studi BK dapat menerjunkan para konselor muda yang dapat memberikan pengajaran serta penyelenggaraan pelayanan BK secara berkualitas dan kuantitas, sehingga dapat membentuk dan menanamkan kepribadian yang lebah baik kepada mahasiswa di kampus.
4. Peneliti selanjuynta, diharapkan agar bisa dijadikan sebagai pedoman, arahan dan menambah kajian teori untuk penelitian yang berkaitan dengan regulasi diri dalam belajar pada mahasiswa. Untuk penelitian
selanjutnya, agar dapat meneliti bagaimana pengaplikasian regulasi diri dalam belajar ini terhadap mahasiswa.
Kepustakaan
Fur & Elling. (2000). The Influens of Work
on College Student
Development.NASPA Journal, Vol. 37, 454-470.
Riduwan. (2012). Belajar Mudah Penelitian untuk Guru-Karyawan dan Peneliti Pemula. Bandung:
Alfabeta.
Yusuf. A. Muri. 2007. Metodologi Penelitian. Padang: UNP Press.
Zimmerman, B. 1989. A Social Cognitive View of Self Regulated Academic Learning.Journal of Educational Psychology, 3, 329- 339.
.