• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kata kunci: hasil belajar matematika, pembelajaran kooperatif, STAD

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Kata kunci: hasil belajar matematika, pembelajaran kooperatif, STAD"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

403

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD PADA SISWA KELAS VIII-F SMPN 12 SURABAYA TAHUN AJARAN 2012/2013

Tanzia Febrinawati1 Silmi Al Khoironi2 Aini Rochmawati3 [email protected] [email protected] [email protected]

Pendidikan Matematika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, UNIPA Surabaya

Abstrak

Selama ini guru hanya menggunakan model pembelajaran langsung, sehingga dalam proses pembelajaran siswa kurang dilibatkan. Salah satu model pembelajaran yang melibatkan siswa adalah model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Alasan dipilih model pembelajaran kooperatif tipe STAD karena model pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, dan merupakan model yang paling baik untuk permulaan bagi para guru yang baru menggunakan pendekatan kooperatif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada peningkatan hasil belajar matematika melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD siswa kelas VIII-F SMPN 12 Surabaya tahun ajaran 2012/2013. Subjek yang diselidiki adalah siswa kelas VIII-F SMPN 12 Surabaya tahun ajaran 2012/2013, obyeknya adalah hasil belajar matematika siswa. Keberhasilan penelitian dilihat dari adanya peningkatan hasil belajar siswa terhadap pelajaran matematika. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode dokumentasi, metode tes serta metode observasi. Analisis data yang digunakan adalah rata-rata kelas, ketuntasan belajar, dan prosentase rata-rata hasil pengamatan. Dari hasil penelitian diperoleh informasi sebagai berikut hasil pra siklus diperoleh prosentase ketuntasan sebesar 25,6%. Siklus 1 diperoleh prosentase ketuntasan 72,9% dengan rata-rata kelas 73,54 dan siklus 2 sebesar 94,8%, dengan rata-rata kelas 83,84. Simpulan dari penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII-F SMPN 12 Surabaya tahun ajaran 2012/2013.

Kata kunci: hasil belajar matematika, pembelajaran kooperatif, STAD

A. PENDAHULUAN

Selama ini guru hanya menggunakan model pembelajaran langsung, sehingga dalam proses pembelajaran siswa kurang dilibatkan sehingga hasil

(2)

404

belajar matematika siswa kurang maksimal. Salah satu model pembelajaran yang melibatkan siswa adalah model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Alasan dipilih model pembelajaran kooperatif tipe STAD karena model pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, dan merupakan model yang paling baik untuk permulaan bagi para guru yang baru menggunakan pendekatan kooperatif. Sehingga peneliti mengambil judul “Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Metamatika Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Pada Siswa Kelas VIII-F SMPN 12 Surabaya Tahun Ajaran 2012/2013”.

Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka permasalahan yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah “Apakah melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar metamatika siswa kelas VIII-F SMPN 12 Surabaya tahun ajaran 2012/2013? ”.

Tujuan penelitian ini adalah Untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan hasil belajar matematika melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD siswa kelas VIII-F SMPN 12 Surabaya tahun ajaran 2012/2013.

B. METODE PENELITIAN 1. Subjek & Lokasi Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII-F SMPN 12 Surabaya tahun ajaran 2012/2013. Adapun obyek penelitian adalah hasil belajar matematika siswa. Lokasi penelitian adalah SMPN 12 Surabaya Jl. Ngagel Kebonsari I Surabaya 60245.

2. Prosedur Penelitian

Penelitian tindakan kelas (PTK) menurut Arikunto (2008: 3) terdiri atas beberapa tahap yang merupakan satu siklus, sebagaimana digambarkan dalam siklus berikut:

(3)

405

Pada penelitian ini, peneliti melalukan Prasiklus untuk mengetahui kondisi awal siswa. Adapun tahapan penelitian yang digunakan peneliti sebagai berikut:

a. Pra Siklus

Pada tahap ini peneliti melakukan observasi yang berkaitan dengan penelitian yang akan dilakukan seperti model pembelajaran yang digunakan guru, hasil belajar matematika siswa sebelum dilakukan penelitian.

b. Siklus 1

1) Perencanaan

Pada tahap ini peneliti menentukan materi yang akan digunakan, memersiapkan rencana tindakan dengan menyiapkan perangkat pembelajaran berbasis STAD serta instrument penilaian seperti lembar observasi untuk guru, lembar observasi aktifitas siswa, membentuk kelompok serta menyusun tabel skor perkembangan siswa.

2) Pelaksanaan

Pada tahap ini peneliti melaksanakan kegiatan belajar-mengajar yang sesuai dengan skenario pembelajaran yang telah disusun. 3) Observasi

Pada tahap ini peneliti dibantu oleh observer melakukan pengamatan dan mencatat semua hal yang terjadi selama pelaksanaan tindakan yang berlangsung. Selain itu peneliti juga

PERENCANAA N PELAKSANAA N SIKLUS 1 OBSERVASI REFLEKSI PERENCANAA N ? OBSERVASI SIKLUS 2 REFLEKSI PELAKSANAA N

(4)

406

melakukan pengamatan terhadap hasil tes untuk mengetahui hasi belajar siswa.

4) Refleksi

Pada tahap ini, peneliti mengkaji, melihat serta mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan yang dilakukan berdasarkan lembar pengamatan. Rancangan yang direvisi berdasarkan hasil refleksi dari pengamatan, pengamat membuat rencana yang telah direvisi untuk dilaksanakan pada siklus berikutnya. Namun jika pada siklus I tujuan yang akan dicapai sudah tercapai maka siklus selanjutnya dinyatakan selesai.

3. Teknik Pengumpulan Data

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode tes, metode dokumentasi dan metode observasi.

a. Metode Tes

Tes digunakan untuk mengetahui hasil belajar matematika siswa setelah melakukan pembelajaran STAD. Jenis tes yang digunakan adalah tes subyektif.

b. Metode Dokumentasi

Metode dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data prestasi belajar siswa dan model pembelajaran guru yang digunakan pada saat Prasiklus.

c. Metode Observasi

Metode observasi digunakan untuk mengumpulkan data kegiatan aktivitas siswa serta kemampuam pemgelolaan pembelajaran guru. 4. Teknik Analisis Data

a. Rata-rata Kelas

Menurut Fitriana (2005: 40) menentukan nilai rata-rata hasil tes evaluasi digunakan rumus:

𝑋 = 𝑋𝑖 𝑛

(5)

407 Keterangan :

𝑋𝑖 = 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑡𝑒𝑠

𝑛 = banyaknya siswa yang mengikuti tes b. Ketuntasan belajar

Siswa dianggap tuntas belajar bila nilai ≥ KKM. Nilai KKM mata pelajaran Matematika pada siswa kelas VIII-F SMPN 12 Surabaya sebesar 75. Ketuntasan klasikal tercapai apabila paling sedikit 85 % siswa di kelas telah tuntas belajar atau nilai 75. Untuk mengetahui ketuntasan belajar klasikal digunakan rumus:

𝐸 = 𝑛

𝑁 𝑥 100% Keterangan :

E = Persentase ketuntasan belajar kelas n = Jumlah siswa yang tuntas belajar

N = Jumlah seluruh siswa (Depdikbud, 1994: 39) c. Hasil observasi

Menurut Subaktiningsih (2001: 62) data hasil observasi untuk kegiatan pembelajaran guru menggunakan skala penilaian sebagai berikut :

Skor rata-rata = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎 ℎ 𝑎𝑠𝑝𝑒𝑘 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑎𝑚𝑎𝑡𝑖𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎 ℎ 𝑠𝑘𝑜𝑟

Rata-rata dari aspek itu kemudian dikelompokkan sebagai berikut: 1 < SR ≤ 1,75 : Pembelajaran tidak baik

1,75 < SR ≤ 2,5 : Pembelajaran cukup 2,5 < SR ≤ 3,25 : Pembelajaran baik

3,25 < SR ≤ 4 : Pembelajaran sangat baik

Data hasil observasi aktivitas siswa menggunakan presentase sebagai berikut:

𝑆𝑖 =

𝑥𝑖

𝑁𝑥 100%

𝑆𝑖 = persentase aktivitas siswa butir ke i 𝑥𝑖 = jumlah frekuensi hasil pengamatan

butir ke i

(6)

408

Untuk mengetahui aktivitas siswa maka ditentukan kriteria sebagai berikut:

i. Jika prosentase aktivitas siswa aktif lebih besar dari presentase siswa tidak aktif maka siswa dikatakan siswa aktif dalam belajar.

ii. Jika prosentase aktivitas siswa aktif lebih kecil dari presentase siswa tidak aktif maka siswa dikatakan siswa tidak aktif dalam belajar.

C. HASIL PENELITIAN 1. Pra Siklus

Pada prasiklus diketahui bahwa selama ini guru masih menggunakan model pembelajaran langsung, selain itu diketahui bahwa kemampuan siswa kelas VIII-F SMPN 12 Suarabaya terhadap pelajaran matematika masih rendah. Hal ini dapat dilihat dapa tabel berikut :

Tabel Hasil Belajar Siswa Prasiklus

NO Uraian Hasil

1 Jumlah Siswa 39

2 Jumlah Siswa yang tuntas 10 3 Jumlah siswa yang tidak

tuntas 29 4 Prosentase ketuntasan belajar 10 39𝑥 100% = 25,6% 5 Rata-rata kelas 63,84

Dari hasil tabel diatas kelas tersebut belum mencapai ketuntasan klasikal karena prosentase ketuntasan kelas hanya 25,6%. Diharapkan dengan mengganti model pembelajaran siswa dapat mencapai ketuntasan secara klasikal.

(7)

409 2. Siklus 1

Obervasi dilaksanakan bersamaan dengan proses belajar mengajar. Karena peneliti berperan sebagai guru maka peneliti dibantu oleh 2 orang observer. Adapun hasil dari observasi pada siklus 1 sebagai berikut:

a. Hasil belajar matematika siswa terdapat pada tabel sebagai berikut: Tabel Hasil Belajar Siswa Siklus 1

Pada siklus 1 hanya memperoleh prosentase sebesar 72,9%dan rata-rata kelas 73,5. Sehingga belum mencapai ketuntasan klasikal maka akan dilanjutkan pada siklus 2.

b. Hasil pengamatan guru dalam mengelola pembelajaran terdapat pada tabel sebagai berikut :

Tabel Hasil Pengamatan Pengelolaan Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Teams Achievement Division) Siklus 1

NO ASPEK YANG DIAMATI Hasil 1 Jumlah aspek yang diamati 19 2 Jumlah nilai yang diperoleh 63 3 Skor rata – rata 3,47

4 Kriteria Sangat Baik

NO Uraian Hasil

1 Jumlah Siswa 39

2 Jumlah siswa yang hadir 37 3 Jumlah Siswa yang

tuntas

27

4 Jumlah siswa yang tidak tuntas 10 5 Prosentase ketuntasan belajar 27 37𝑥 100% = 72,9% 6 Rata-rata kelas 73,54

(8)

410

Dari tabel lembar pengamatan diatas maka diperoleh aktivitas guru dalam pengelolaan pembelajaran Kooperatif Tipe STAD sudah baik hal ini dapat dilihat dalam lembar pengamatan pengelolaan pembelajaran.

c. Hasil pengamatan aktivitas siswa dalam pembelajaran dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel Hasil pengamatan Aktivitas Siswa Siklus 1

No Uraian Hasil

1. Jumlah aspek yang diamati 11 2. Aktifitas siswa aktif 52,1% 3. Aktifitas siswa tidak aktif 47,9%

Bersadarkan dari tabel hasil pengamatan diatas siswa dikatakan aktif dalam belajar karena prosentase aktivitas siswa aktif lebih besar dari prosentase aktivitas siswa tidak aktif.

3. Siklus 2

Obervasi dilaksanakan bersamaan dengan proses belajar mengajar. Karena peneliti berperan sebagai guru maka peneliti dibantu oleh 2 orang observer. Adapun hasil dari observasi pada siklus 1 sebagai berikut:

a. Hasil belajar matematika siswa terdapat pada tabel sebagai berikut: Tabel Hasil Belajar Siswa Siklus 2

NO Uraian Hasil

1 Jumlah Siswa 39

2 Jumlah siswa yang hadir 39 2 Jumlah Siswa yang tuntas 37 3 Jumlah siswa yang tidak

tuntas 2 4 Prosentase ketuntasan belajar 37 39𝑥 100% = 94,8% 5 Rata-rata kelas 83,84

(9)

411

Karena pada siklus 2 telah mencapai ketuntasan jlasikal dengan prosentase 94,8% dan rata-rata kelas 83,84. Maka penelitian diberhentikan.

b. Hasil pengamatan guru dalam mengelola pembelajaran terdapat pada tabel sebagai berikut :

Tabel Hasil Pengamatan Pengelolaan Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Teams Achievement Division) Siklus 2

NO ASPEK YANG DIAMATI Hasil 1 Jumlah aspek yang diamati 19 2 Jumlah nilai yang diperoleh 69

3 Skor rata - rata 3,6

4 Kriteria Sangat Baik

Dari tabel lembar pengamatan diatas maka diperoleh aktivitas guru dalam pengelolaan pembelajaran Kooperatif Tipe STAD sudah baik hal ini dapat dilihat dalam lembar pengamatan pengelolaan pembelajaran.

c. Hasil pengamatan aktivitas siswa dalam pembelajaran dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel Hasil pengamatan Aktivitas Siswa Siklus 2

No Uraian Hasil

1. Jumlah aspek yang diamati 11 2. Aktifitas siswa aktif 53,8% 3. Aktifitas siswa tidak aktif 46,2%.

Bersadarkan dari tabel hasil pengamatan diatas siswa dikatakan aktif dalam belajar karena prosentase aktivitas siswa aktif lebih besar dari prosentase aktivitas siswa tidak aktif.

(10)

412 D. PEMBAHASAN

Pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari pencapaian ketuntasan belajar pada siklus 1sebesar 72,9% dengan rata-rata kelas 73,54 dan siklus 2 sebesar 94,8%, dengan rata-rata kelas 63,84. Peningkatan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran pada siklus 1 sebesar 3,47 dengan kriteria sangat baik dan pada siklus 2 sebesar 3,6 dengan kriteria sangat baik. Peningkatan aktivitas siswa pada siklus 1 memperoleh 52,1% siswa aktif dan siswa tidak aktif sebesar 47,9% sedangkan pada siklus 2 memperoleh 53,8% siswa aktif dan 46,2%.

E. SIMPULAN DAN SARAN

Penelitian dapat disimpulkan bahwa melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII-F SMPN 12 Surabaya tahun ajaran 2012/2013. Dilihat dari meningkatnya pencapaian ketuntasan belajar pada prasiklus memperoleh 25,6% rata-rata kelas 63,84. Siklus 1 sebesar 72,9% rata-rata kelas 73,54. Siklus 2 mencapai ketuntasan klasikal dengan memperoleh 94,8% rata-rata kelas 83,84.

Dalam melaksanakan pembelajaran kooperatif tipe STAD guru hendaknya memiliki komitmen yang tinggi dalam melaksanakan pembelajaran dengan menerapkan ilmu pengetahun yang diperoleh untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Guru juga disarankan menerapkan model pembelajaran ini pada materi berikutnya. Pihak sekolah hendaknya turut serta mendukung dalam meningkatkan hasil belajar siswa dengan menyediakan sarana dan prasarana yang memadai.

F. DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi, Suharjhono, Supardi. 2008. Penelitian Tindakan

Kelas. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Choviana, Yunaeni.2007. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif

Tipe NHT Pada Pokok Bahasan Sistem Persamaan Linier Dua Variabel Pada Kelas VIII-D SLTPPGRI 1 Karang Empat

(11)

413

Surabaya. Skripsi. Tidak dipublikasikan. Universitas PGRI Adi

Buana Surabaya

Depdikbud. 1994/1995. Kurikulum Pendidikan Dasar. Garis-Garis

Besar Program Pengajaran. Jakarta: Dirjen Pendidikan Tinggi;

BPPPGSD.

Fitriana, Ida Ulfah. 2005. Meningkatkan Hasil Belajar dan Sikap

Konstruktif terhadap pembelajaran waktu, jarak, dan kecepatan melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Team Achievement Division) pada siswa SMP2 Demak TAhun 2004/2005. Skripsi, Program Studi: Pendidikan Matematika,

Universitas Negeri Semarang.

(http://www.pustakaskripsi.com/download.php?file=765) diakses tanggal 17 Juni 2012.

Subaktiningsih, Tri. 2007. Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas VII A

SMPN Mejobo Kudus Tahun Pelajaran 2006/2007 Pada Materi Pokok Persamaan dan Pertidaksamaan Linier Satu Variabel Melalui Implementasi Model Pembelajaran Cooperative learning Tipe STAD. Skripsi, Program Studi: Pendidikan Matematika,

Universitas Negeri Semarang. (http://www.pustakaskripsi.com /download.php? file=2915) diakses tanggal 17 Juni 2012.

Tim Penyusun.2012. Pedoman Penulisan Skripsi. Surabaya: Universitas PGRI Adi Buana Surabaya.

Gambar

Tabel Hasil Belajar Siswa Prasiklus
Tabel Hasil Belajar Siswa Siklus 1
Tabel Hasil Belajar Siswa Siklus 2
Tabel Hasil  Pengamatan Pengelolaan Pembelajaran Kooperatif  Tipe STAD (Student Teams Achievement Division) Siklus 2

Referensi

Dokumen terkait

Peran masyarakat terdiri dari: penyediaan lahan, penyandang dana, pemberi masukan dalam penentuan lokasi, identifikasi potensi, kerjasama dalam penelitian dan pengembangan,

a. Tabel adalah kumpulan data yang diperlukan untuk membuat laporan, seperti daftar barang beserta harga masing-masing. Query adalah perintah untuk mengakses informasi

Keterangan : Notasi yang berbeda pada kolom yang menunjukan perlakuan memberikan pengaruh yang berbeda sangat nyata (P&gt;0,01)... Keterangan : Notasi yang berbeda pada kolom

Keywords: Rental Flats (Rusunawa) , Urban Poor People, Social Capital, Trust, Subjective

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui signifikansi pengaruh Produk, Harga, Promosi dan Tempat terhadap keputusan pembeli pada dealer nasmoco ringroad solo... Populasi

Gastroparesis atau ileus pasca operasi (IPO) merupakan kondisi yang normal, bersifat sementara, dan merupakan respon fisiologis pasca prosedur operasi abdominal.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis bahan bajak singkal yang dilapisi lembaran tembaga berbeda nyata terhadap efisiensi kerja, kebutuhan bahan bakar, dan kelengketan

Dengan diketahuinya hubungan dukungan sosial keluarga dengan kesepian pada lanjut usia, dapat dijadikan sebagai bahan untuk usaha kesehatan baik promotif maupun