• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan negara di Asia Tenggara yang kaya keanekaragaman hayati.

Salah satu hewan yang asli Indonesia yang sudah terdosmestikasi ialah Banteng (Bos javanicus). Di provinsi Bali, Banteng dikenal dengan sebutan Sapi Bali yang merupakan plasma nutfah yang perlu dipertahankan keberadaannya dan dilestarikan sebab memiliki beberapa keunggulan yang spesifik diantaranya memiliki sifat reproduksi dan kualitas karkas sangat baik, serta mempunyai fertilisasi yang tinggi (Supriyanto et al, 2008). Sapi Bali merupakan salah satu jenis sapi yang paling diminati, mengingat sapi jenis ini memiliki tulang yang relatif lebih kecil namun memiliki persentase daging yang jauh lebih tebal dibandingkan dengan sapi jenis lain. Maka dari itu diperlukan manajemen pemeliharaan yang baik. Apabila manajemen buruk maka mengakibatkan timbulnya penyakit hewan yang tentunya dapat menurunkan nilai ekonomis sapi.

Penyakit hewan merupakan salah satu faktor yang turut berpengaruh dalam usaha pengembangan ternak sebagai penghasil bahan pangan asal hewan. Penyakit hewan dapat dikategorikan sebagai penyakit non-infeksius dan penyakit infeksius (penyakit yang disebabkan oleh virus, bakterial, parasit dan jamur). Penyakit hewan banyak yang timbul karena dipengaruhi oleh banyak faktor yaitu permasalahan penyakit yang merupakan permasalahan sangat kompleks. Dari sekian faktor penyebab munculnya suatu penyakit, secara umum ada tiga faktor yang saling terkait, yaitu faktor agen penyakit, hospes (ternak itu sendiri) dan lingkungan (Suardana et al., 2007).

Bovine Ephemeral Fever merupakan salah satu penyakit virus pada sapi dan kerbau, seperti Bos taurus, Bos indicus dan Bos javanicus. Pada ruminansia lainnya infeksi BEF biasanya tidak menimbulkan gejala klinis. Penyakit BEF sering juga disebut `three days sickness', stiff sickness, dengue fever of cattle, bovine epizootic fever dan lazy man's disease.

Penyakit ini ditandai dengan demam selama tiga hari, kekakuan dan kelumpuhan, namun demikian dapat sembuh spontan dalam waktu tiga hari. Oleh karena itu, nama BEF atau demam tiga hari lebih sering digunakan (Yeruham et al. 2007; Zheng et al. 2011). Dari ciri-

(2)

2

ciri diatas, maka hal ini akan sangat merugikan dan mempengaruhi kesejahteraan para peternak-peternak yang ada di Bali khususnya di kabupaten Tabanan.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakangan di atas maka didapatkan rumusan masalah :

Bagaimanakah gambaran endemis Bovine Ephemeral Fever pada sapi di kabupaten Tabanan berdasarkan prevalensi dan wilayah penyebaran penyakit,

1.3 Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan laporan ini ialah untuk mengetahui gambaran kejadian Bovine Ephemeral Fever pada sapi di kabupaten Tabanan berdasarkan prevalensi dan wilayah penyebaran penyakit,

1.4 Manfaat Penulisan

Adapun manfaat dari penulisan laporan ini diharapkan dapat sebagai dijadikan dasar tindakan yang akan dilakukan untuk pencegahan dan penanganan penyaki Bovine Ephemeral Fever pada sapi bali.

(3)

3 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Etiologi

Penyakit Bovine Ephemeral Fever merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dari genus Ephemerovirus famili Rhabdoviridae. Virus ini merupakan virus RNA berantai tunggal dengan ukuran 80-140 mm, berbentuk peluru (bullet shaped), memiliki amplop.

Virus ini juga dapat diinaktifkan pada suhu 56°C selama 10 menit atau 37°C selama 18 jam (Della Porta dan Brown, 1979). Virus BEF tidak aktif pada pH 2,5 atau pH 12,0 selama 12 menit. Hasil karakterisasi isolat BEF dari beberapa negara menunjukkan bahwa isolat BEF asal Jepang, Taiwan, Cina, Turki, Israel dan Australia, memiliki kesamaan gen yang conserve.

Secara filogenetik, BEF memiliki kesamaan berdasarkan daerah atau negara yang terbagi dalam tiga kelompok klaster yaitu kelompok Asia, Australia dan Timur Tengah (Zheng dan Qiu, 2012). Tidak ada perbedaan yang jelas antara strain virus yang satu dengan yang lain, meskipun di Australia, isolat virus BEF yang diperoleh dari nyamuk berbeda dengan yang diperoleh dari ternak sapi yang terinfeksi. Isolat yang diperoleh hanya membedakan antara virus BEF virulen dan avirulen (Kato et al., 2009).

2.2.Epidemiologi

Bovine Ephemeral Fever (BEF), dilaporkan di beberapa Negara dalam beberapa tahun terakhir, antara lain Israel (Yeruham et al., 2002; 2005; 2010), Taiwan (Hsieh et al., 2005), Cina (Qiu et al., 2010; Zheng et al., 2009; Zhao et al., 2008), Jepang (Ogawa 1992), Australia (Uren et al., 1989), Saudi Arabia (Abu Elzein et al., 2006), Iran (Abu Elzein et al., 2006), Mesir (Zaher dan Ahmed 2011), Afrika (Davies et al., 1990; Walker 2005) dan Indonesia (Daniels et al., 1992; Ronohardjo dan Rastiko 1982).

BEF dilaporkan di Indonesia pertama kali pada tahun 1978 dengan gejala klinis serta menimbulkan kematian pada sapi dewasa. Setelah itu kasus BEF banyak dilaporkan, dan tingkat kematian saat itu mencapai 73% di Jawa Timur. Tingginya angka kematian tersebut

dimungkinkan karena merupakan kasus BEF pertama, atau merupakan komplikasi dengan infeksi bakteri Hemorrhagic Septicaemia (HS) (Ronohardjo dan Rastiko, 1982). Infeksi BEF

(4)

4

pada sapi memiliki morbiditas yang tinggi hingga mencapai 80% tetapi memiliki mortalitas yang rendah berkisar antara 0-2% (Yeruham et al., 2007; Zheng et al., 2011; Zaghloul et al., 2012).

BEF lebih banyak terjadi pada daerah beriklim panas dengan kelembaban tinggi (Yeruham et al., 2002; 2010; Thomson dan Connor, 2000). Indonesia termasuk daerah iklim tropis dan negara kepulauan yang luas dengan iklim yang bervariasi, mempunyai biodiversitas termasuk populasi vektor di masing-masing daerah yang sangat beragam.

Akibatnya perpindahan vektor dan ternak sering terjadi serta berakibat pada meningkatnya prevalensi penyakit.

BEF menyebar akibat perpindahan ternak terinfeksi dan vektornya (Yeruham et al., 2007). Perpindahan vektor dapat disebabkan oleh perubahan iklim atau terganggunya ekologi lingkungan. Perubahan iklim dapat mengakibatkan peningkatan jumlah populasi vektor yaitu nyamuk. Perubahan iklim juga dapat berdampak terhadap peningkatan populasi vektor yang akhirnya dapat menyebabkan peningkatan kasus BEF pada ternak. Sebaliknya peningkatan suhu yang mencapai overheat dapat menyebabkan stres pada ternak serta berdampak pada produksi ternak menurun. Untuk itu penempatan ras ternak di suatu daerah harus disesuaikan dengan kondisi sekitarnya, termasuk mengetahui epidemiologi penyakit dan data spesies vektornya sehingga prevalensi infeksi terhadap penyakit dapat diminimalkan.

2.3 Gejala Klinis

Gejala awal penyakit ini ialah hewan tidak nafsu makan. Dalam 12 hingga 24 jam suhu tubuh meningkat yang dapat mencapai mencapai 41-42°C dan tetap tinggi selama tiga hingga empat hari, nafsu makan berkurang, lemas, kelumpuhan, lakrimasi, leleran hidung, kekakuan terutama pada sendi-sendi sehingga tidak dapat berdiri. Kelumpuhan merupakan tanda klinis yang paling menonjol dan terlihat lebih jelas pada hari demam kedua.

Kepincangan dapat terjadi di bagian kaki hingga persendian atlanto-occipital (Momtaz et al., 2012). Pada sapi yang sedang laktasi, infeksi BEF dapat menyebabkan produksi susu berhenti total dan kembali berlaktasi setelah sembuh meskipun produksi susu tidak dapat kembali

normal seperti sebelum terinfeksi. Penurunan produksi susu dapat berkisar antara 34-95%

dengan rata-rata 46% (Momtaz et al., 2012).

(5)

5

Gejala klinis pada sapi betina bunting menyebabkan abortus, sedangkan pada sapi jantan dapat menyebabkan sterilitas sementara. Hal ini berakibat pada gagalnya reproduksi ternak baik melalui inseminasi buatan maupun kawin alam. Pada kasus tertentu dapat menimbulkan kematian dalam 1-4 hari setelah mengalami kelumpuhan (Nandi dan Negi, 1999), namun ternak dapat sembuh spontan setelah 3 hari yang dapat mencapai 97% dari kasus klinis.

2.4 Diagnosa dan Diagnosa Banding

Diagnosa dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan gambaran histopatologis.

BEF umumnya terjadi secara mendadak, berlangsung selama 2-5 hari dan sembuh secara spontan. Penyakit cenderung timbul secara musiman, disamping demam kekakuan persendian dan kepincangan merupakan gejala klinis yang menolong pada diagnosis secara klinis.

Berdasarkan gambaran histopatologis, gambaran persendian akan menunjukkan poliartritis serofibrosa, gambaran radang didominasi oleh sel netrofil. Arthritis yang tidak spesifik merupakan diagnose banding dari penyakit BEF. Uji laboratorium yang dapat digunakan untuk mendiagnosa BEF yaitu Elisa, real time PCR, dan uji serum netralisasi. Elzein et al., 2006; (Lim et al., 2007; Ogawa 1992; Ressang, 1988).

2.5 Pencegahan dan Penanganan

Pencegahan penyakit ini dapat dilakukan dengan pemberian vaksin dan mengontrol populasi vektor dengan menjaga lingkungan agar tetap bersih dan terhindar dari genangan air atau tempat-tempat yang dapat digunakan oleh vektor untuk berkembang biak. Sanitasi kandang dijaga baik dan jumlah ternak dalam satu kandang harus diatur agar tidak terlalu padat. Vaksin untuk penyakit BEF terdapat dua macam yakni vaksin mati dan vaksin hidup hasil atenuasi virus BEF. Vaksinasi dapat dilakukan pada sapi berumur di atas tiga bulan.

Pengobatan tidak terlalu efektif, namun pemberian antibiotik, antiinflamasi dan ruboransia dinilai efektif untuk mengurangi terjadinya infeksi sekunder yang dapat memperburuk kondisi hewan.

Berdasarkan laporan Ronohardjo dan Rastiko (1982), kasus BEF yang ada di Indonesia sering diperparah dengan adanya infeksi bakteri Haemorraghic Septicaemia (HS).

Untuk itu vaksinasi HS sangat dianjurkan, terlebih untuk daerah endemik BEF, mengingat infeksi tunggal BEF jarang menimbulkan kematian.

(6)

6

51467

51517

51567

51400 51420 51440 51460 51480 51500 51520 51540 51560 51580

Triwulan I Triwulan II Triwulan III

Populasi Sapi Bali

Populasi Sapi Bali

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil

3.1.1 Jumlah kasus Bovine Ephemeral Fever di Kabupaten Tabanan

Berdasarkan data dari Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan Kabupaten Tabanan, maka diperoleh informasi mengenai kasus Bovine Ephemeral Fever dari bulan Januari hingga September tahun 2015.

Tabel 1. Jumlah Populasi Sapi Bali dan Kasus BEF di Kabupaten Tabanan No Bulan Jumlah kasus BEF

pada Sapi Bali di Kabupaten Tabanan

Jumlah Populasi Sapi

Bali Tahun 2015

Prevalensi (%)

1. Triwulan I 177 51.467 ekor 0,34

2. Triwulan II 211 51.517 ekor 0,40

3. Triwulan III 198 51.567 ekor 0,38

Sumber: Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kabupaten Tabanan (2015)

Gambar 1. Diagram populasi Sapi Bali di Kabupaten Tabanan pada bulan Januari hingga September 2015

(7)

7

177

211

198

160 170 180 190 200 210 220

Triwulan I Triwulan II Triwulan III

Jumlah Kasus Bovine Ephemeral Fever

Jumlah Kasus Bovine Ephemeral Fever

Gambar 2. Diagram Jumlah Kasus Bovine Ephemeral Fever di Kabupaten Tabanan pada bulan Januari hingga September 2015

Tabel 2. Kasus Bovine Ephemeral Fever di Kabupaten Tabanan pada Triwulan I, Triwulan II, dan Triwulan III.

Kecamatan Triwulan I Triwulan II Triwulan III 1 2 3 1 2 3 1 2 3 Baturiti

Penebel Marga Kediri Tabanan Kerambitan Sel Tim Selemadeg Sel Bar Pupuan

14.401 6.129 8.311 2.463 2.379 3.105 5.763 3.302 4.629 985

42 0 18 23 23 10 8 12 33 8

0,29 0,00 0,22 0,93 0,97 0,32 0,14 0,36 0,71 0,81

14.406 6.134 8.316 2.468 2.384 3.110 5.768 3.307 4.634 990

93 1 7 21 20 3 4 10 29 23

0,65 0,02 0,08 0,85 0,84 0,10 0,07 0,30 0,63 2,32

14.411 6.139 8.321 2.473 2.389 3.115 5.773 3.312 4.639 995

62 2 4 19 24 2 0 0 35 4

0,43 0,03 0,05 0,77 1,00 0,06 0,00 0,00 0,75 0,40 Keterangan: Populasi ternak(1); Kasus BEF (2); Prevalensi BEF(3). Sumber: Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kabupaten Tabanan (Triwulan I, Triwulan II dan Triwulan III).

(8)

8

Gambar 3. Grafik perbandingan kasus BEF per Kecamatan di Kabupaten Tabanan pada Triwulan I, Triwulan II dan Triwulan III.

Gambar 4. Prevalensi kasus BEF per Kecamatan di Kabupaten Tabanan pada Triwulan I, Triwulan II dan Triwulan III.

42

0

18 23 23

10 8 12

33

8 93

1 7

21 20

3 4 10

29 23

62

2 4

19 24

2 0 0

35

4 0

10 20 30 40 50 60 70 80 90 100

Kasus BEF Triwulan I Kasus BEF Triwulan II Kasus BEF Triwulan III

0.29 0 0.22

0.93 0.97

0.32 0.14 0.36

0.71 0.81 0.65

0.02 0.08

0.85 0.84

0.1 0.07 0.3

0.63 2.32

0.43

0.03 0.05

0.77 1

0.06 0

0

0.75 0.4

0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4

Prevalensi Kasus BEF Triwulan I Prevalensi Kasus BEF Triwulan II Prevalensi Kasus BEF Triwulan III

(9)

9 3.2 Pembahasan

Penyakit Bovine Ephemeral Fever merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dari genus Ephemerovirus famili Rhabdoviridae. Virus ini merupakan virus RNA berantai tunggal dengan ukuran 80-140 mm, berbentuk peluru (bullet shaped), memiliki amplop.

Virus ini juga dapat diinaktifkan pada suhu 56°C selama 10 menit atau 37°C selama 18 jam (Della Porta dan Brown, 1979). Berdasarkan data yang telah dikumpulkan di Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan Kabupaten Tabanan pada Triwulan I, Triwulan II, dan Triwulan III di tahun 2015 terdapat 586 kasus Bovine Ephemeral Fever pada sapi bali. Kasus BEF terjadi pada triwulan I yaitu sebanyak 177 kasus, pada triwulan II sebanyak 211 kasus dan pada triwulan III ditemukan 198 kasus. Dari pemaparan diatas terlihat peningkatan jumlah kasus BEF pada setiap triwulan yaitu dari triwulan I sampai triwulan III di tahun 2015.

Kejadian BEF pada Triwulan I, Triwulan II, dan Triwulan III di tahun 2015 jika dihitung berdasarkan prevalensi dan ratio akan didapat hasil sebagai berikut, yaitu :

Prevalensi = Jumlah Hewan Sakit x 100%

Populasi yang Beresiko

a. Prevalensi BEF Triwulan I = 177 x 100% = 0,34%

51.467

b. Prevalensi BEF Triwulan II = 211__ x 100% = 0,40%

51.517

c. Prevalensi BEF Triwulan III = 198__ x 100% = 0,38%

51.567

Proporsi jumlah kejadian kasus tertinggi dan terendah yang terjadi di setiap Kecamatan di Kabupaten Tabanan pada Triwulan I, II, & III. Dengan mengamati proporsi ini dapat dilihat apakah terjadi perbedaan yang nyata antara kecamatan dengan kejadian kasus tertinggi dan terendah. Kejadian tertinggi terjadi di kecamatan Baturiti dengan jumlah kasus 197 ekor, sedangkan yang terendah terjadi di kecamatan Penebel dengan kasus kurang dari 10 ekor. Setelah diuji menggunakan program SPSS Chi-square Test maka disimpulkan bahwa berbeda nyata (P<0,05) antara kejadian penyakit BEF pada Triwulan I, II, III di Kabupaten Tabanan. BEF lebih banyak terjadi pada daerah beriklim panas dengan kelembaban tinggi (Yeruham et al., 2002; 2010; Thomson dan Connor, 2000). Indonesia termasuk daerah iklim tropis dan negara kepulauan yang luas dengan iklim yang bervariasi, mempunyai biodiversitas termasuk populasi vektor di masing-masing daerah yang sangat beragam.

(10)

10

Akibatnya perpindahan vektor dan ternak sering terjadi serta berakibat pada meningkatnya prevalensi penyakit.

Pencegahan dan penanganan yang dapat dilakukan oleh Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan Kabupaten Tabanan bersifat causatif dan supportif, dimana pada terapi secara causatif diberikan obat-obatan untuk mengurangi resiko BEF. Untuk terapi secara suportif diberikan vitamin yang bertujuan untuk daya tahan tubuh ternak terhadap infeksi penyakit.

Obat-obatan lain yang diberikan yakni antibiotika yang umumnya diberikan untuk mencegah adanya infeksi sekunder. Tindakan pencegahan melalui biosekuriti, sanitasi kandang telah dilakukan oleh peternak dalam upaya mengurangi tingkat kejadian ini. Upaya lain dapat dilakukan dengan mengadakan sosialisasi kepada peternak dan disarankan kepada peternak agar segera melapor kepada Dinas Peternakan atau Dokter Hewan setempat jika pada ternaknya ditemukan gejala penyakit yang mengarah ke BEF agar dapat dilakukan tindakan pengobatan secepat mungkin.

(11)

11 BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Kejadian penyakit Bovine Ephemeral Fever pada sapi di kabupaten Tabanan tahun 2015, menyebar secara endemis dengan prevalensi tertinggi di Kecamatan Baturiti (0.40%), terendah di Kecamatan Penebel (0.34%).

4.2 Saran

Tindakan pencegahan melalui biosekuriti, sanitasi kandang perlu dilakukan oleh peternak dalam upaya mengurangi tingkat kejadian penyakit. Upaya lain dapat dilakukan dengan mengadakan sosialisasi kepada peternak dan disarankan kepada peternak agar segera melapor jika pada ternaknya ditemukan gejala penyakit yang mengarah ke BEF agar dapat dilakukan tindakan penangangan secepat mungkin.

(12)

12

DAFTAR PUSTAKA

Abu-Elzein EM, Al-Afaleq AI, Housawi MF, Al-Basheir AM. 2006. Study on Bovine Ephemeral Fever involving sentinel herds and sero-surveillance in Saudi Arabia. Rev Sci Tech. OIE 25:1147-1151.

Daniels PW, Soleha E, Sendow I, Sukarsih. 1992. Bovine Ephemeral Fever in Indonesia. In:

St George TD, Uren MF, Young PL, Hoffmann D, editors. Proceedings of the 1st International Symposium on Bovine Ephemeral Fever and Related Rhabdoviruses.

Beijing, 25-27 August 1992. Canberra (Aust): Australian Centre for International Agricultural Research.

Davies FG, Ochieng P, Walker AR. 1990. The occurrence of ephemeral fever in Kenya 1968- 1988. Vet Microbiol. 22:129-136.

Della-Porta AJ, Brown F. 1979. The physiochemical and chemical characterization of Bovine Ephemeral Fever

Hsieh YC, Chen SH, Chou CC, Ting LJ, Itakura C, Wang FI. 2005. Bovine Ephemeral Fever in Taiwan (2001- 2002). J Vet Med Sci. 67:411-416.

Kato T, Aizawa M, Takayoshi K, Kokuba T, Yanase T, Shirafuji H, Tsuda T, Yamakawa M.

2009. Phylogenetic relationships of the G gene sequence of Bovine Ephemeral Fever virus isolated in Japan, Taiwan and Australia. Vet Microbiol. 137:217-223.

Momtaz H, Nejat S, Moazeni M, Riahi M. 2012. Molecular epidemiology of Bovine Ephemeral Fever virus in cattle and buffaloes in Iran. Revue Méd Vét. 163:415- 418.

Nandi S, Negi BS. 1999. Bovine Ephemeral Fever: a review comparative immunology.

Microbiol Infect Dis. 22:81-91.

Ressang, A. A. 1988. Penyakit Viral Pada Hewan. Jakarta. Universitas Indonesia University Press.

Ronohardjo P, Rastiko P. 1982. Some epidemiological aspects and economic loss of Bovine Ephemeral Fever outbreak in Tuban and surrounding areas East Java, Indonesia.

Penyakit Hewan 14:25-29.

Sutherst RW. 2004. Global change and human vulnerability to vector-borne diseases. Clinical Microbiology Journal Rev 17.

Uren MF, St. George TD, Zakrzewski H. 1989. The effect of anti-inflammatory agents of the clinical expression of Bovine Ephemeral Fever. Vet Microbiol. 19:99-111.

Walker PJ. 2005. Bovine Ephemeral Fever in Australia andthe world. Curr Top Microbiol Immunol. 292:57-80.

(13)

13

Yeruham I, Braverman Y, Yadin H, Van-Ham M, Chai D, Tiomkin D, Frank D. 2002.

Epidemiological investigations of outbreaks of Bovine Ephemeral Fever in Israel. Vet Rec. 151:117-121.

Yeruham I, Yadin H, Abramovitch I, Shama Z. 2005. Bovine Ephemeral Fever in a dairy cattle herd in the Jordan Valley. Vet Rec. 156: 284-286.

Yeruham I, Gur Y, Braverman Y. 2007. Retrospective epidemiological investigation of an outbreak of bovine ephemeral fever in 1991 affecting dairy cattle herds on the Mediterranean coastal plain. Vet J. 173:190-193.

Yeruham I, Van-Ham M, Stram Y, Friedgut O, Yadin H, Mumcuoglu KY, Braverman Y.

2010. Epidemiological investigation of Bovine Ephemeral Fever outbreaks in Israel.

Res Vet Med Int. Volume 2010, Article ID 290541, 5 pages. Januari 2013.

Zheng FY, Qiu CQ. 2012. Phylogenetic relationships of the glycoprotein gene of Bovine Ephemeral Fever virus

(14)

14

(15)

15

(16)

16

Gambar

Tabel 1. Jumlah Populasi Sapi Bali dan Kasus BEF di Kabupaten Tabanan  No  Bulan  Jumlah kasus BEF
Gambar 2. Diagram Jumlah Kasus Bovine Ephemeral Fever di Kabupaten Tabanan pada  bulan Januari hingga September 2015
Gambar 3. Grafik perbandingan kasus BEF per Kecamatan di Kabupaten Tabanan pada  Triwulan I, Triwulan II dan Triwulan III

Referensi

Dokumen terkait

Aklimatisasi dilakukan agar bibit rumput laut yang dihasilkan secara in vitro dapat ber- adaptasi dengan lingkungan budidaya, se- dangkan propagasi di tambak dilakukan untuk

Secara umum akurasi yang didapat dikatakan sudah baik dengan akurasi maksimal 86,87% menggunakan pengambilan titik puncak pada Transformasi Hough sebesar 10,

Mengenai kebenaran beliau, Hadrat Masih Mau'ud ‘alaihis salaam menulis: 'Aku melihat bahwa orang yang mau mengikuti alam dan hukum alam telah diberikan kesempatan bagus oleh

Memiliki sertifikat Cara Pembuatan yang Baik sesuai dengan bentuk sediaan yang diimpor dengan masa berlaku paling singkat 1 tahun pada saat registrasi. Sertifikat Cara Pembuatan

Iklan dapat diartikan sebagai berbagai bentuk presentasi nonpersonal atas ide, produk atau jasa yang dibiayai oleh pihak sponsor (perusahaan), sedangkan word of mouth lebih

anita usia subur - cakupan yang tinggi untuk semua kelompok sasaran sulit dicapai ;aksinasi rnasai bnntuk - cukup potensial menghambat h-ansmisi - rnenyisakan kelompok

Dengan demikian dapat disimpulkan dari hasil tes diketahui bahwa produk yang digunakan dapat membantu memfasilitasi proses pembelajaran dan efektif digunakan dalam

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan indeks Internet Financial Reporting (IFR), indeks komponen content, timeliness, technology dan user support antara