• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGUATAN LITERASI BARU BAGI TENAGA PENDIDIK PAUD DAN DIKMAS DI ERA INDUSTRI 4.0

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENGUATAN LITERASI BARU BAGI TENAGA PENDIDIK PAUD DAN DIKMAS DI ERA INDUSTRI 4.0"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Jurnal Ilmiah PATITA –BPPAUD dan Dikmas Maluku Vol.7 Ed.1, 2020 | 31

PENGUATAN LITERASI BARU BAGI TENAGA PENDIDIK PAUD DAN DIKMAS DI ERA INDUSTRI 4.0

Verliany Riasty Vindy

Mahasiswa Pasca Sarjana Fak.Theologi UKIM Ambon

Abstract

PAUD and Dikmas educators are one of the educational components that determine the success or failure of the teaching and learning process in the PAUD and Dikmas Units. Facing the Industrial era 4.0 in learning at PAUD and Dikmas Units requires PAUD and Dikmas educators who have new literacy skills which include data / digital literacy related to the ability to read, analyze and make thinking conclusions based on data and information (big data) obtained. Technological literacy is related to the ability to understand how machines work. Technology applications and work based on technology products to get maximum results. Human literacy is related to communication, collaboration, critical thinking, creative and innovative skills. New literacy strengthening for PAUD and Dikmas educators can be carried out through technical guidance, implementation of education and training as well as workshops and other synergistic activities.

Keywords: New Literacy, Dikmas PAUD Educators, Industry 4.0

PENDAHULUAN

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) menekankan perlunya peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) melalui pendidikan. Peningkatan kualitas SDM terkait dengan upaya mengantisipasi dampak globalisasi serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menuntut semua bangsa di dunia dapat menyesuaikan diri serta tanggap terhadap setiap kemajuan peradaban di berbagai bidang.. Pengembangan pendidikan bagi masyarakat dapat diperoleh melalui jalur formal, nonformal dan informall.

Penyelenggaraan pendidikan jalur nonformal (PNF) bagi masyarakat berfungsi sebagai pelengkap, pengganti, dan penambah pendidikan sekolah. Para peserta didik pendidikan non formal terdiri atas masyarakat yang belum pernah sekolah, putus sekolah atau

tamat sekolah tertentu dan ingin menambah pengetahuan/keterampilan, serta masyarakat yang telah bekerja, tetapi masih membutuhkan tambahan pengetahuan dan keterampilan untuk meningkatkan kualitas hidupnya.

Salah satu komponen yang sangat penting dalam penyelenggaraan pendidikan non formal adalah pendidik dan tenaga kependidikan atau dikenal dengan sebutan PTK-PNF. Pendidik dan tenaga kependidikan Pendidikan Non Formal terdiri atas pegawai negeri sipil (PNS) dan bukan-Pegawai Negeri Sipil. Pendidik dan tenaga kependidikan yang berstatus PNS adalah pamong belajar dan penilik, sedangkan yang berstatus bukan-PNS adalah Tutor, Fasilitator, Fasilitator Desa Binaan Intensif (FDI), Tenaga Lapangan Dikmas (TLD), Narasumber Teknis, pendidik dan tenaga kependidkan pada lembaga PAUD non formal, inisiator pemuda, dan sebagainya.

(2)

Jurnal Ilmiah PATITA –BPPAUD dan Dikmas Maluku Vol.7 Ed.1, 2020 | 32 Pengembangan sumber daya pendidik

dan tenaga kependidikan Pendidikan non formal atau saat ini dikenal dengan PTK PAUD dan Dikmas perlu terus ditingkatkan agar berdampak positif terhadap peningkatan program pembelajaran dan kualitas peserta didik. Pendidik dan Tenaga Kependidikan dituntut untuk membantu peserta didik menjadi pelajar yang mandiri dan belajar seumur hidup. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dewasa ini dalam era industri 4.0, maka penting artinya bagi PTK PAUD dan Dikmas terutama para pendidik untuk terus mengembangkan kompetensi dan kualifikasinya. Hal ini disebabkan dunia pendidikan saat ini dituntut mampu membekali para peserta didik dengan keterampilan abad 21. Keterampilan ini adalah keterampilan peserta didik yang mampu untuk berfikir kritis dan memecahkan masalah, kreatif dan inovatif, ketrampilan berkomunikasi dan kolaborasi.

Selain itu keterampilan mencari, mengelola dan menyampaikan informasi serta terampil menggunakan teknologi dan informasi.

Penyelenggaraan program pendidikan anak usia dini yang merupakan fondasi dasar perkembangan anak melalui bimbingan, pembinaan dan rangsangan sejak dini guna meningkatkan kesehatan, perkembangan fisik dan mental yang akan berdampak pada kesiapan belajar pada akhirnya anak akan lebih mampu untuk mandiri dan mengoptimalkan potensi yang sudah ada dan dimilikinya, maka dalam menghadapi era insustri 4.0 anak sejak usia dini harus dikenalkan pembelajaran berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) atau dengan kata lain harus dibekali kompetensi abad 21. Hal yang samapun harus dilakukan dalam penyelenggaraan program

pendidikan masyarakat diantaranya program pendidikan kesetaraan (Paket A,B,C), program pendidikan kecakapan hidup dan program sejenis lainnya bagi masyarakat, sehingga akan menghasilkan sumber daya manusia yang bermutu atau berkompetensi pada era industri 4.0

Guna melaksanakan proses pembelajaran pada program PAUD dan Dikmas di era industri 4.0 yang ditandai dengan berbagai perkembangan yang terjadi, maka peranan pendidik PAUD dan Dikmas sangatlah penting. Hal ini mengingat pendidik atau guru merupakan salah satu komponen pendidikan yang menentukan bagi berhasil atau tidaknya proses belajar mengajar di lembaga pendi- dikan, oleh karena itu para pendidik dituntut untuk memperhatikan dan melaksanakan tugasnya dalam mengajar dengan baik.

Pada era industri 4.0. keberadaaan para pendidik bermakna strategis, karena mengemban tugas sejati bagi proses kemanu- siaan, pemanusiaan, pencerdasan, pembuda- yaan, dan pembangun karakter bangsa. Dalam pembelajaran di lembaga pendidikan pada era industri 4.0 harus ada sosok “Pendidik PAUD dan Dikmas literasi” yang mampu membelajarkan peserta didik mencapai literasi tinggi sehingga kemampuan literasi tidak sekadar pada kemampuan literasi membaca, menulis, dan berhitung, namun sudah pada tahap menganalisi data, teknologi, dan humanisme. Dengan demikian penguatan kemampuan para pendidik terutama pada kemampuan literasi baru berupa literasi data, literasi teknologi, dan literasi manusia merupakan hal yang sangat diperlukan.

Para pendidik PAUD dan Dikmas harus mampu memanfaatkan dan mengolah data,

(3)

Jurnal Ilmiah PATITA –BPPAUD dan Dikmas Maluku Vol.7 Ed.1, 2020 | 33 menerapkannya ke dalam teknologi dan harus

memahami penggunaan teknologi serta dapat memahami interaksi dengan sesama pendidik, peserta didik dan masyarakat yang menciptakan dalam penyelenggaraan program PAUD dan Dikmas, sehingga secara kompre- hensif penyelenggaran program PAUD dan Dikmas akan memberikan makna dan manfaat bagi para peserta didik di era industri 4.0.

PEMBAHASAN

Era Industri 4.0 dan Literasi Baru

Istilah "Revolusi Industri" diperkenalkan oleh Friedrich Engels dan Louis-Auguste Blanqui di pertengahan abad ke-19. Revolusi industri ini pun sedang berjalan dari masa ke masa. Dekade terakhir ini sudah dapat disebut memasuki fase keempat 4.0. Perubahan fase ke fase memberi perbedaan artikulatif pada sisi kegunaaannya. Fase pertama (1.0) bertempuh pada penemuan mesin yang menitikberatkan (stressing) pada mekanisasi produksi. Fase kedua (2.0) sudah beranjak pada etape produksi massal yang terintegrasi dengan quality control dan standarisasi. Fase ketiga (3.0) memasuki tahapan keseragaman secara massal yang bertumpu pada integrasi komputerisasi. Fase keempat (4.0) telah menghadirkan digitalisasi dan otomatisasi perpaduan internet dengan manufaktur (Suwardana, 2017 :102-110). Sementara itu Yahya (2018:2) mengutip dari pernyataan Lee et al (2013) yang menjelaskan bahwa ada empat faktor yang menandai lahirnya Industri 4.0, adapun ke empat faktor tersebut antara lain sebagai berikut; (1) peningkatan volume data, kekuatan komputasi dan konektivitas; (2) munculnya analisis, kemampuan dan

kecerdasan bisnis; (3) adanya interaksi antara manusia dengan mesin; dan (4) adanya tranfer digital ke dunia fisik seperti robotika.

Revolusi industri 4.0 atau era industri 4.0 sering juga disebut sebagai era disrupsi, era inovasi atau juga disebut sebagai ancaman bagi incumbent (Kasali, 2018: 14). Incumbent dalam konteks ini bisa berarti gejala yang selama ini telah ada. Mengapa disebut sebagai ancaman? Karena biasanya incumbent tidak siap dengan adanya perubahan perubahan yang akan terjadi. inovasi dapat didefinisikan sebagai suatu aktivitas kreatif yang dapat menghasilkan ide, gagasan, kegiatan, objek atau benda yang baru sehingga bermanfaat bagi manusia (Sasongko dan Sahono, 2016:56).

Fenomena disrupsi (disruption) mem- berikan gambaran tentang situasi dimana pergerakan dunia industri atau persaingan kerja tidak lagi linear. Perubahannya sangat cepat, fundamental dengan mengacak-acak pola tatanan lama untuk menciptakan tatanan baru.

Basis dari era Industri 4.0 adalah dgitalisasi dengan menggunakan analisa data menyeluruh sehingga diperlukan literasi baru selain literasi lama. Literasi merupakan kemampuan membaca dan menulis. Perkembangan literasi menjadi sangat penting diperhatikan, karena literasi merupakan kemampuan awal yang harus dimiliki oleh setiap individu untuk menjalani hidup di masa yang akan datang.

Dalam era industri 4.0 sekarang ini, tidak hanya dituntut untuk melakukan literasi lama seperti membaca, menulis, ataupun kemam- puan matematika/berhitung untuk bersaing dalam kehidupan global yang begitu ketat, tetapi juga perlu memiliki literasi baru “new literacy”. Literasi baru tersebut antara lain

(4)

Jurnal Ilmiah PATITA –BPPAUD dan Dikmas Maluku Vol.7 Ed.1, 2020 | 34 literasi data, literasi teknologi, dan literasi

manusia. Literasi baru yang mencakup literasi data/digital terkait dengan kemampuan membaca, menganalisis dan membuat konklusi berpikir berdasarkan data dan informasi (big data) yang diperoleh. Literasi teknologi terkait dengan kemampuan memahami cara kerja mesin. Aplikasi teknologi dan bekerja berbasis produk teknologi untuk mendapatkan hasil maksimal. Literasi manusia terkait dengan kemampuan komunikasi, kolaborasi, berpikir kritis, kreatif dan inovatif (Yani dan Ikhsan, 2019 : 100-104).

Tiga keterampilan literasi baru diprediksi menjadi keterampilan yang sangat dibutuhkan di masa depan atau di era industri 4.0.Literasi digital/data diarahkan pada peningkatan kemampuan membaca, menganalisis, dan menggunakan informasi di dunia digital (Big Data), literasi teknologi bertujuan untuk memberikan pemahaman pada cara kerja mesin dan aplikasi teknologi, dan literasi manusia diarahkan pada peningkatan kemampuan berkomunikasi dan penguasaan ilmu desain, sehingga literasi baru yang hadir seiring dengan perkembagan industri 4.0 diharapkan menyempurnakan gerakan literasi lama yang hanya fokus pada peningkatan kemampuan membaca, menulis, dan matematika.

Dengan demikian literasi baru merupakan literasi usaha untuk mendapatkan pengetahuan dan menjawab tantangan zaman dengan aspek kompetensi literasi data/digital, teknologi dan SDM/humanisme, sehingga literasi baru akan senantiasa menjadi penguat bagi literasi lama (membaca, menulis, berhitung) dan menjadi sebuah kebutuhan penting bagi setiap individu/warga masyarakat saat ini di era

industri 4.0 termasuk para tenaga pendidik PAUD dan Dikmas dalam penyelenggaraan program PAUD dan Dikmas bagi masyarakat.

Literasi Baru dalam Dunia Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat Pendidikan merupakan instrumen vital bagi kemajuan suatu bangsa. Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengamanatkan pendidikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Melalui jalan pendidikan, manusia Indonesia diharapkan mampu mengoptimalkan segala potensi dalam dirinya untuk berkontribusi bagi tatanan kehidupan sosial yang lebih luas juga diharapkan mampu mengoptimalkan segala potensi dalam dirinya untuk berkontribusi bagi tatanan kehidupan sosial yang lebih luas.

Potensi ini mengacu pada beberapa ranah yakni sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

Bloom dalam Arikunto (2018:63), mengungkap bahwa terdapat 3 (tiga) domain besar dalam pendidikan yakni ranah kognitif yang berkaitan dengan pengetahuan, ranah afektif yang berkenaan dengan sikap/mental, serta ranah psikomotorik yang berupa keterampilan. Cakupan ranah tersebut dapat menjadi output dari suatu proses pendidikan yang dialami oleh peserta didik, selama mengenyam pendidikan.

Pada era ini, pendidikan diarahkan pada peningkatan kemampuan peserta didik dalam mengaplikasikan teknologi baru yang akan membantu siswa dalam menghadapi perubahan zaman. Dibutuhkan keterampilan yang berbeda

(5)

Jurnal Ilmiah PATITA –BPPAUD dan Dikmas Maluku Vol.7 Ed.1, 2020 | 35 dari era sebelumnya agar peserta didik mampu

bersaing di dunia kerja. Pendidikan yang mendasar pada era pendidikan 4.0 bukanlah sekadar pendidikan yang mementingkan bagaimana membaca dan menulis saja, tetapi lebih daripada itu. Beberapa solusi yang bisa dilakukan antara lain di era industri 4.0 antara lain: 1)kesesuaian kurikulum dan kebijakan dalam pendidikan, 2)kesiapan SDM dalam memanfaatkan ICT, mengoptimalkan kemam- puan peserta didik, dan mengembangkan nilai - nilai (karakter) peserta didik, serta, 3)kesiapan sarana dan prasarana pendidikan (Syamsuar dan Reflianto,2018)

Literasi di dunia pendidikan muncul secara resmi melalui program pemerintah.

Program literasi dalam pembelajaran selama ini masih berporos pada aspek membaca saja, padahal hal itu dalam literasi lama belum cukup karena mengharuskan kemampuan menulis dan membaca. Pada akhir Januari 2018, Kemristek Dikti mengeluarkan gagasan literasi baru. Wacana ini terkait kesiapan Indonesia dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0. Menghadapi Revolusi Industri 4.0 diperlukan “literasi baru” selain literasi lama.

Perlu adanya reorientasi baru dalam penyelenggaraan pendidikan. Literasi baru merupakan literasi usaha untuk mendapatkan pengetahuan dan menjawab tantangan jaman dengan aspek kompetensi literasi data, teknologi dan SDM/humanisme. Literasi baru menjadi penguat dari literasi lama (membaca, menulis, berhitung).

Literasi baru yang diberikan diharapkan menciptakan lulusan yang kompetitif dengan menyempurnakan gerakan literasi lama yang hanya fokus pada peningkatan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. Adaptasi gerakan literasi baru dapat diintegrasi dengan melakukan penyesuaian kurikulum dan sistem pembelajaran sebagai respon terhadap era

industri 4.0. Adaptasi gerakan literasi baru dapat diintegrasi dengan melakukan penyesu- aian kurikulum dan sistem pembelajaran sebagai respon terhadap era industri 4.0 (Yahya, 2018:72). Selain itu keberadaan teknologi yang semakin canggih di era digital dalam Industri 4.0 semakin memudahkan dalam memenuhi kebutuhan pengeta-huannya dengan mencari, mengevaluasi, mengatur, dan mengkomunikasikan informasi yang diperoleh untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi dalam dunia pendidikan dan memudahkan berlangsungnya proses pembe- lajaran. Keberadaan teknologi menjadikan pendidikan bergeser dari model konvensional yang mengharuskan melakukan tatap muka dengan siswa menjadi pembelajaran yang lebih fleksibel.

Dalam konteks penyelenggaraan pendi- dikan anak usia dini dan pendidikan masyarakat kebutuhan akan keterampilan literasi baru di era industri 4.0 tak dapat dihindarkan. Anak-anak usia dini telah bergelut dengan dunia gadget atau gaming yang begitupn para peserta program Dikmas yang juga tak terlepas dari perkembangan era digital yang ada. Oleh sebab itu dalam penyelenggaraan pendidikan bagi anak usia dini yang adalah generasi masa depan tentunya perlu dibekali dan diberikan stimulus, sehingga kemampuan literasi anak akan terus meningkat dalam mengahadapi era industri 4.0 terutama untuk hal-hal yang positif demi dan untuk tumbuh kembang anak di masa yang akan datang. Peranan pendidik PAUD sangatlah strategis untuk melakukan hal ini. Pendidik PAUD dapat memanfaatkan berbagai kempuan literasi data untuk membaca, menganalisis dan membuat konklusi berpikir berdasarkan data

(6)

Jurnal Ilmiah PATITA –BPPAUD dan Dikmas Maluku Vol.7 Ed.1, 2020 | 36 yang ada bagi pemberian stimulus yang tepat

bagi anak usia dini di era industri 4.0 dan banyak hal lainnya yang dapat dilakukan dalam pemanfaatan teknologi untuk proses pembelajaran sedangkan pada program pendidikan masyarakat maka para pendidik dikmas dapat juga mengelola data dan informasi maupun penggunaan teknologi dalam penyelenggaran program pendidikan masyarakat. Selain itu upaya-upaya memper- siapkan generasi masa depan maupun masya- rakat yang beradab, humanis, teloran, berjiwa nasionalisme maka pemahaman literasi manusia sangatlah penting bagi para pendidik PAUD dan Dikmas. Dengan demikian kemampuan para pendidik PAUD dan Dikmas perlu untuk ditingkatkan dalam memahami tentang literasi data, teknologi maupun manusia

Upaya Penguatan Literasi Baru bagi Pendi- dik PAUD dan Dikmas di Era Industri 4.0

Pada era revolusi industri 4.0, diperlukan pendidikan yang dapat membentuk sumber daya manusia yang kreatif, inovatif, serta kompetitif, maka dalam konteks penyiapan manusia yang unggul, lembaga pendidikan melalui para pendidik mengambil peran yang sangat vital untuk mengupayakan terwujudnya pendidikan yang berkualitas sehingga pendidikan tetap memiliki daya relevansi yang tinggi dalam era revolusi industri 4.0, maka para pendidik dituntut menguasai keahlian, kemampuan beradaptasi dengan teknologi baru dan tantangan global. Dalam situasi ini, setiap lembaga pendidikan harus memper- siapkan oritentasi dan literasi baru dalam bidang pendidikan.

Perkembangan Pendidikan anak usia dini dan pendidikan masyarakat belum bisa secara optimal mengikuti kecepatan akibat revolusi industri, tetapi salah satu upaya yang perlu dilakukan untuk menghadapi tantangan revolusi industri 4.0 ini adalah melalui peningkatan kualitas para Pendidik PAUD dan Dikmas agar mampu mengajarkan materi dengan pendekatan penerapan penggunaan Teknologi informasi (TI) dalam proses belajar mengajar kalau tidak maka akan semakin jauh ketinggalan oleh jaman dan ini berefek pada mutu lulusan atau kualitas lulusan/output yang dihasilkan. Suatu lembaga pendidikan dapat dikatakan bertanggung jawab, berwibawa, dan memiliki keperanan-aktif jika didalamnya terdapat tenaga-tenaga kependidikan khususnya tenaga pendidik yang memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi, profesional dibidangnya serta memiliki lekatan nilai-nilai moral untuk dapat diakui sebagai guru yang berwajah berwibawa. Jabatan guru sebagai suatu profesi menuntut keahlian dan keterampilan khusus dibidang pendidikan dan pengajaran (Rohani dan Ahmat, 1990:103)

Peran pendidik PAUD dan Dikmas secara utuh tidak akan bisa digantikan sepenuhnya dengan kecanggihan teknologi.

Karena sentuhan seorang pendidik kepada para peserta didik memiliki kekhasan yang tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang atau digantikan teknologi. Meskipun para pendidik PAUD dan Dikmas tidak mendapatkan pengaruh secara signifikan dengan adanya revolusi industri 4.0, namun tidak boleh terlena dengan kondisi yang ada, harus terus meningkatkan kualitas diri agar bisa menjadi pendidik yang mampu menghasilkan sumber

(7)

Jurnal Ilmiah PATITA –BPPAUD dan Dikmas Maluku Vol.7 Ed.1, 2020 | 37 daya manusia yang lebih berkualitas, sehingga

dalam menghadapi Industri 4.0.

Sumber daya manusia pada era 4.0 haruslah memiliki keterampilan yang sesuai.

Menurut Dewi Finita (2015:3) keterampilan abad 21 atau Era Industri 4.0 ke terdiri dari empat kategori yaitu, (1) cara berpikir : terdiri dari kemampuan kreatifitas dan inovasi, berpikir kritis, memecahkan masalah, mengambil keputusan, dan belajar untuk belajar; (2) cara untuk bekerja: terdiri dari kemampuan berkomunikasi dan bekerjasama;

(3) alat untuk bekerja: terdiri pengetahuan umum dan keterampilan teknologi, informasi, dan komunikasi; (4) cara untuk hidup karir : tanggung jawab pribadi dan sosial serta kesadaran akan budaya dan kompetensi, sedangkan menurut Zubaidah Siti (2017:2) mengutip dari Wagner dan Change Leadership dari Universitas Harvard mengidentifikasi keterampilan yang perlu dimiliki peserta didik dalam mengahadapi abad 21 atau Era Industri 4.0 menekankan pada tujuh keterampilan, yakni (1) keterampilan berpikir kritis dan keterampilan memecahkan masalah; (2) kolaborasi dan kepemimpinan; (3) ketangkasan dan kemampuan beradaptasi; (4) mampu berinisiasi dan memiliki jiwa interpreneur; (5) mampu berkomunikasi.

Sejalan dengan itu tuntutan sebagai pendidik PAUD dan Dikmas tidak hanya menguasai pengetahuan yang akan ditransformasikan kepada peserta didik, melainkan bagaimana membuat peserta didik memahami, menghayati, dan menghasilkan suatu keterampilan yang menunjang di era revolusi industri 4.0 atau abad 21. Oleh karena itu, para pendidik PAUD dan Dikmas harus mendayagunakan empat kompetensi yang

wajib dimiliki agar mampu memfasilitasi peserta didik menjadi pribadi yang tanggap dalam menghadapi era revolusi 4.0.

Kompetensi wajib yang harus dimiliki oleh para pendidik PAUD dan Dikmas yakni kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan kompetensi professional. Dalam kaitannya dengan kompetensi wajib dalam penguatan literasi baru bagi para pendidik PAUD dan Dikmas maka hal yang patut menjadi penguatan bagi para pendidik antara lain : a. Penguatan Literasi data

Literasi data yaitu kemampuan membaca, menganalisis dan memanfaatkan informasi big data dalam dunia digital. Jadi, Penguatan literasi data merupakan penguatan literasi bagi para pendidik PAUD dan Dikmas yang terkait dengan kemampuan membaca, menganalisis dan membuat konklusi berpikir berdasarkan data yang ada. Literasi data fokus dalam membaca data, menulis data, dan mengarsipkan data. Literasi data ini harus benar-benar harus orisinil, hasil karya ilmiah, ada datanya, bukan data yang abal- abal. Dalam literasi data, penyajian data dilarang melakukan plagiasi, duplikasi, falsifikasi (pemalsuan), dan pabrikasi (pemabrikan data) untuk mendukung data yang baik. Ini berarti bahwa pendidik PAUD dan Dikmas harus mampu mengelola data dengan sebaik mungkin dengan sumber terpercaya agar informormasi yang digunakan dalam proses pembelajaran PAUD dan Dikmas dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.

b. Penguatan Literasi Teknologi.

Literasi teknologi yaitu kemampuan dalam hal memahami cara kerja mesin,

(8)

Jurnal Ilmiah PATITA –BPPAUD dan Dikmas Maluku Vol.7 Ed.1, 2020 | 38 pengaplikasian teknologi (coding, artificial

intellegence, dan engineering principles).

Literasi digital merupakan kemampuan seseorang dalam membaca dan memahami materi informasi secara efektif, mengum- pulkan, menggunakan dan menyajikan informasi, serta membangun jaringan komunikasi menggunakan berbagai program digital. Pendidik PAUD dan Dikmas harus turut serta mengambil peran sebagai agen perubahan serta yang bersentuhan langsung dengan para peserta didik. Langkah strategis adalah pendidik PAUD dan Dikmas beradaptasi dengan kemampuan literasi teknologi/digital yang disertai dengan memberdayakan kemam- puan berpikir tingkat tinggi yang dapat dilakukan oleh para pendidik PAUD dan Dikmas melalui; pembiasaan personal, implementasi pembelajaran, dan pengembangan dalam berbagai kegiatan pendidikan. Dalam artian yang sederhana maka penguasaan teknologi bagi para pendidik PAUD dan Dikmas, merupakan dasar bagi penguatan literasi teknologi yang menjadi kebutuhan dalam proses pembelajaran di era digital.

c. Penguatan Literasi manusia

Dalam mengembangan sumberdaya manu- sia untuk mampu menghadapi Industri 4.0 maka Pendidik PAUD dan Dikmas harus memiliki kemampuan untuk menanamkan rasa jiwa nasionalis kepada para peserta didik dengan menanamkan pemahaman tentang Pancasila, Kebinekaan, NKRI, dan UUD 1945, anti radikalisme, anti korupsi, anti narkoba, pemahaman pluralisme, serta bijak dalam menggunakan media komu- nikasi agar terhindar dari penyebaran hoax,

war proxy, cyberbullying yang akan merusak kedamaian. Pendidik PAUD dan Dikmas harus mampu meningkatkan kemampuan kognisi, yaitu higher order mental skills, berfikir kritis, kolaborasi, kreatif inovatif dan sistemik dengan memiliki keterampilan kepemimpinan (leadership), dan bekerja dalam tim (team work). Hal ini penting dilakukan sebab pendidikan anak usia dini merupakan peletakan dasar utama untuk keberlanjutan pendidikan di masa yang akan datang sehingga sejak usia dini memerlukan sosok pendidik yang mampu untuk mengembang- kan hal-hal yang positif bagi anak dalam masa-masa pertumbuhan dan perkemba- ngannya, selain itu juga peran pendidik terkait dengan membangun manusia yang cakap melalui program pendidikan masyarakat yang dikembangkan sehingga tumbuh nilai-nilai kemanusiaan yang penting bagi para peserta program pendidikan masyarakat.

Guna menguatkan kemampuan para pendidik PAUD dan Dikmas dalam menghadapi perubahan penyelenggraan pendidikan di era Industri 4.0 dari cara yang lama ke cara yang baru yaitu literasi baru, maka dapat dilakukan melalui bimbingan teknis, pelaksanaan pendidikan dan latihan maupun workshop dan penyelenggaraan kegiatan lainnya yang sinergis bagi penguatan literasi baru para pendidik PAUD dan Dikmas yang dapat dilaksanakan oleh lembaga-lembaga pemerintah antara lain Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, BP PAUD dan Dikmas tingkat Provinsi ataupun pada tingkat Pusat melalui Direktorat Jenderal terkait.

(9)

Jurnal Ilmiah PATITA –BPPAUD dan Dikmas Maluku Vol.7 Ed.1, 2020 | 39 PENUTUP

Pada era industri 4.0. keberadaaan para pendidik bermakna strategis, karena mengem- ban tugas sejati bagi proses kemanusiaan, pemanusiaan, pencerdasan, pembudayaan, dan pembangun karakter bangsa. Dalam pembelajaran di lembaga pendidikan pada era industri 4.0 harus tersedia tenaga pendidik PAUD dan Dikmas yang mampu membelajarkan peserta didik mencapai literasi tinggi sehingga kemampuan literasi tidak sekadar pada kemampuan literasi membaca, menulis, dan berhitung, namun sudah pada tahap menganalisi data, teknologi, dan humanisme. Pendidik PAUD dan Dikmas dituntut untuk tidak hanya menguasai pengetahuan yang akan ditransformasikan kepada peserta didik, melainkan bagaimana membuat peserta didik memahami, menghayati, dan menghasilkan suatu keterampilan yang menunjang di era revolusi industri 4.0 atau abad 21. Oleh karena itu, para pendidik PAUD dan Dikmas harus mendayagunakan empat kompetensi yang wajib dimiliki yakni kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan kompetensi professional agar mampu memfasilitasi peserta didik menjadi pribadi yang tanggap dalam menghadapi era revolusi 4.0 dengan penguatan kemampuan literasi data, teknologi dan manusia.

Penguatan kemampuan para pendidik PAUD dan Dikmas dalam menghadapi perubahan penyelenggraan pendidikan di era Industri 4.0 dari cara yang lama ke cara yang baru yaitu literasi baru, maka dapat dilakukan melalui bimbingan teknis, pelaksanaan pendidikan dan latihan maupun workshop dan

kegiatan lainnya yang sinergis bagi penguatan literasi baru para pendidik PAUD dan Dikmas.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2018. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan Edisi 3. Jakarta:

Bumi Aksara

Dewi Finita. 2015. Proyek Buku Digital:

Upaya Peningkatan Keterampilan Abad 21 Calon Guru Sekolah Dasar Melalui Model Pembelajaran Berbasis Proyek”.

Metode Didaktik, Vol 9 No.2. 2015.

[Online] dalam www.academia.Edu.

Diakses pada 10 Januri 2020.

Kasali, R. 2018. Disruption (9th ed.). Jakarta:

Gramedia.

Rohani A dan Ahmad Abu, 1990 Pedoman Penyelenggaraan Administrasi Pendidikan Sekolah. Semarang : Bumi Aksara.

Sasongko, R. N dan Sahono, B. 2016. Desain Inovasi Manajemen Sekolah. Edisi 1.

Jakarta Pusat: Shany Publiser

Suwardana Hendra, 2017 Revolusi Industri 4. 0 Berbasis Revolusi Mental, JATI UNIK, Vol.1, No.2.

Syamsuar dan Reflianto 2018. Pendidikan Dan Tantangan Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi Di Era Revolusi Industri 4.0, Jurnal Ilmiah Teknologi Pendidikan. Universitas Negeri Padang.

Vol,6. No.2. 2018

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

Yahya, M. 2018. Era Industri 4.0: Tantangan dan Peluang Perkembangan Pendidikan Kejuruan Indonesia.. Pidato Pengukuhan Penerimaan Jabatan Professor Tetap dalam Bidang Ilmu Pendidikan Kejuruan

(10)

Jurnal Ilmiah PATITA –BPPAUD dan Dikmas Maluku Vol.7 Ed.1, 2020 | 40 Fakultas Teknik Universitas Negeri

Makassar

Yani Fitriani dan Ikhsan Abdul Aziz. 2019.

Literasi Era Revolusi Industri 4.0.

Prosiding SENASBASA. Universitas Muhammadiyah Sukabumi. Edisi 1.

Zubaidah Siti. 2017 Keterampilan Abad ke 21:

Keterampilan yang Diajarkan melalui Pembelajaran”. Universitas Negeri Malang. Disampaikan pada Seminar Nasional Pendidikan 10 Desember 2016 di Progam Studi Pendidikan Biologi STKIP Persada Khatulistiwa Sintang Kalimantan Barat. 2017. [Online]

Tersedia dalam https: //www.

researchgate.net . Diakses pada 10 Januari 2020.

Referensi

Dokumen terkait

Analisis yang dilakukan uji perbedaan dua rata-rata gain dengan menggunakan uji-t, menggunakan Compare Mean Independent Samples Test, Berdasarkan hasil analisis data dan temuan

Pada penelitian terdahulu (Sudrimo, 2015) telah dibahas peramalan data penumpang Bandara Juanda tahun 2008-2014 dengan metode pemulusan eksponensial triple, pada penelitian ini

Diharapka ami keterkaitan gkungan, dan si belajar dan an untuk me sanaan model an yang dila engan menera ya sendiri Menurut Gulo (2 latihkan siswa nggi, sehingga bih menggu

Model basis data yang umum digunakan untuk mengorganisasikan skema pada saat ini adalah model relasional yang telah dapat mewakili semua informasi yang terdapat dalam bentuk tabel

Penulis ingin melakukan penelitian penjadwalan dengan menggunakan algoritma suatu sistem informasi yang digunakan untuk mengolah data serta mudah dioperasikan dan

Untuk mengetahui mutu pelayanan yang diberikan kepada mahasiswa adalah dengan cara melakukan evaluasi, salah satu cara evaluasi yang dapat dilakukan adalah dengan

Dalam konteks itulah jika negara kita mau membangun pemerintahan yang maju setidaknya memperhatikan masalah secara khusus yang berkaitan dengan kesetaraan gender (World Bank,

polen dan inti sel telur harus sehat dan subur, polen juga harus mempunyai daya tumbuh atau kecepatan tumbuh tabung polen yang tinggi (Darjanto dan Satifah, 1990). Faktor luar