• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

5

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Diabetes Melitus

Menurut pendapat Smeltzer dan Bare (2008) menyatakan bahwa penyakit diabetes mellitus merupakan yang menyebabkan kerusakan pada metabolisme tubuh, penyakit diabetes mellitus mempunyai karakterisitik kadar glukosa darah yang tinggi dan melebihi batas normal. Penyakit diabetes mellitus disebabkan oleh adanya gangguan pada sekresi insulin dan atau adanya gangguan pada resistensi insulin yang beralangsung dalam waktu yang lama. Hal tersebut mengakibatkan terjadi kerusana pada fungsi organ lain, seperti pada organ mata, jantung, saraf, pembuluh darah dan ginjal (Hasriani, 2018). Sedangkan menurut pernyataan American Diabetes Association (2010) diabetes mellitus tipe 2 dapat terjadi apabila insulin yang diproduksi oleh pankreas tidak cukup atau dapat disebabkan oleh sel lemak maupun sel otot tubuh menjadi kebal terhadap insulin, hal ini mengakibatkan dapat terjadi gangguan terhadap pengirimin gula kepada sel tubuh.

Kurangnya aktivitas, obesitas dan penuaan tubuh dapat menyebabkan terjadi resistensi insulin. Penyakit diabetes tipe 2 juga bisa disebabkan oleh berlebihannya produksi gula hepatic, tetapi tidak terjadi kerusakan gangguan sel- sel B langerhans yang terjadi secara autoimun seperti pada diabetes tipe 2.

Diabetes tipe 2 hanya akan bersifat relative dan tidak absolut apabila hanya disebabkan oleh kurangnya fungsi insulin (Harding dkk, 2004). Diabetes tipe pertama terbentuk apabila sistem imunisasi badan memusnahkan sel beta kelenjar pankreas, satu-satunya jenis sel yang menghasilkan hormon insulin yang digunakan untuk membantu glukosa masuk sel yang digunakan untuk tenaga.

Diabetes ini sering dijumpai pada golongan anak-anak dan remaja yang memerlukan beberapa suntikan insulin setiap hari, atau menggunakan cadangan insulin, untuk terus hidup.

Penderita yang berisiko mengidap kencing manis jenis I adalah serangan system imunisasi sendiri (autoimmune), genetik, dan alam sekeliling. Pengidap diabetes tergantung insulin perlu disuntik sebelum makan dan kadangkala insulin tambahan perlu disuntik pada waktu malam sebelum tidur. Kekurangan dan

(2)

kelebihan kadar gula dalam darah dapat menyebabkan hal buruk terjadi pada pederita diabetes, karena terlalu banyak insulin diambil atau disuntik, keadaannya bisa hipoglisemia disebabkan kekurangan glukosa (Nugroho 2012).

2.2 Etiologi Diabetes Mellitus

Berdasarkan pendapat Hasriani (2018) diabetes mellitus disebabkan oleh turunnya kecepatan dari insulin oleh sel-sel beta langerhans pancreas. Terjadinya penurunan sensitivitas dari insulin (resistensi insulin) atau terjadi produksi insulin juga dapat menyebabkan timbulnya diabetes mellitus tipe 2. Faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan terjadinya diabetes tipe 2 yaitu sebagai berikut : obesitas, riwayat keluarga dan usia (Hasriani, 2018).

2.3 Faktor Resiko Diabetes Mellitus

Berdasarkan pendapat dari Soegondo (2015) bahwa penyakit diabetes mellitus disebabkan oleh beberapa faktor, berikut adalah faktor yang dapat menyebabkan penyakit diabetes mellitus:

1. Adanya kelainan dari genetik pada penderita diabetes dapat menurun pada keluarga yang mengidap diabetes, karena gen tersebut dapat mengakibatkan tubuh tidak dapat memproduksi insulin dengan baik. Fatmawati (2010) pernah melakukan penelitian di RSUD Sunan Kalijaga Demak. Hasil penelitian tersebut mengatakan bahwa riwayat keluarga menjadi faktor yang berhubungan dengan kejadian Diabetes Melitus Tipe 2. Orang yang memiliki riwayat keluarga mengidap penyakit Diabetes Melittus akan mempunyai risiko 2,97 kali untuk mengidap Diabetes Melitus Tipe 2 dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki riwayat keluarga dengan pengidap penyakit ini.

2. Faktor usia atau umur pada penderita Diabetes Melittus tipe 2 mengalami perubahan fisiologi yang drastis, Diabetes Melitus tipe 2 biasanya sering muncul setelah menginjak usia 30 tahun keatas dan juga pada mereka yang memiliki berat badan berlebihan akan membuat tubuhnya tidak peka terhadap insulin. Umur merupakan faktor yang tidak bisa diubah ataupun dikendalikan, oleh sebab itu sebaiknya apabila seseorang telah menginjak lebih dari 40 tahun rutin dalam mengecek kadar glukosa darah, melakukan olahraga

(3)

dengan teratur dan mengatur pola makan, seingga kadar glukosa darah dapat terkontrol dengan baik.

3. Stress kronis akan membuat orang cenderung untuk mengkonsumsi makanan yang manis, hal tersebut dilakukan untuk meningkatkan kadar lemak serotonin otak. Serotonin memiliki efek penenang sementara dalam meredakan stresnya, tetapi glukosa dan lemak akan berbahaya bagi mereka yang memiliki resiko mengidap penyakit Diabetes Melitus tipe 2.

4. Pola makan yang salah pada penderita diabetes melitus tipe 2 akan mengakibatkan terjadinya obesitas (gemuk berlebihan) yang akan berdampak pada gangguan kerja insulin (resistensi insulin). Obesitas bukan terjadi karena mengkonsumsi makanan yang manis atau kaya lemak, tetapi karena jumlah konsumsi yang terlalu banyak, sehingga mengakibatkan cadangan glukosa darah yang tersimpan di dalam tubuh akan sangat berlebihan. Sekitar 80%

pasien yang mengidap penyakit Diabetes Melittus tipe 2 adalah mereka yang tergolong gemuk.

2.4 Pencegahan Diabetes Mellitus

Menurut Sujaya (2009) Pencegahan penyakit diabetes melitus dibagi menjadi empat bagian yaitu:

1. Pencegahan Premordial

Pencegahan premodial adalah upaya untuk memberikan kondisi pada masyarakat yang memungkinkan penyakit tidak mendapat dukungan dari kebiasaan, gaya hidup dan faktor risiko lainnya. Prakondisi ini harus diciptakan dengan multimitra. Pencegahan premodial pada penyakit DM misalnya adalah menciptakan prakondisi sehingga masyarakat merasa bahwa konsumsi makan kebarat-baratan adalah suatu pola makan yang kurang baik, pola hidup santai atau kurang aktivitas, dan obesitas adalah kurang baik bagi kesehatan.

2. Pencegahan Primer

Pencegahan primer adalah upaya yang ditujukan pada orang-orang yang termasuk kelompok risiko tinggi, yaitu mereka yang belum menderita DM, tetapi berpotensi untuk menderita DM diantaranya:

a. Kelompok usia tua (>45tahun)

(4)

b. Kegemukan (BB(kg)>120% BB idaman atau IMT>27 (kglm2)) c. Tekanan darah tinggi (>140i90mmHg)

d. Riwayat keiuarga DM

e. Riwayat kehamilan dengan BB bayi lahir > 4000 gr.

f. Disiipidemia (HvL<35mg/dl dan atau Trigliserida>250mg/dl).

g. Pernah TGT atau glukosa darah puasa tergangu (GDPT)

Untuk pencegahan primer harus dikenai faktor-faktor yang berpengaruh terhadap timbulnya DM dan upaya untuk menghilangkan faktor-faktor tersebut.

Oleh karena sangat penting dalam pencegahan ini. Sejak dini hendaknya telah ditanamkan pengertian tentang pentingnya kegiatan jasmani teratur, pola dan jenis makanan yang sehat menjaga badan agar tidak terlalu gemuk dan risiko merokok bagi kesehatan.

3. Pencegahan Sekunder

Pencegahan sekunder adalah upaya mencegah atau menghambat timbulnya penyulit dengan tindakan deteksi dini dan memberikan pengobatan sejak awal penyakit. Dalam pengelolaan pasien DM, sejak awal sudah harus diwaspadai dan sedapat mungkin dicegah kemungkinan terjadinya penyulit menahun. Pilar utama pengelolaan DM meliputi:

a. penyuluhan

b. perencanaan makanan c. latihan jasmani

d. obat berkhasiat hipoglikemik.

4. Pencegahan Tersier

Pencegahan tersier adalah upaya mencegah terjadinya kecacatan lebih lanjut dan merehabilitasi pasien sedini mungkin, sebelum kecacatan tersebut menetap.

Pelayanan kesehatan yang holistik dan terintegrasi antar disiplin terkait sangat diperlukan, terutama dirumah sakit rujukan, misalnya para ahli sesama disiplin ilmu seperti ahli penyakit jantung, mata, rehabilitasi medis, gizi dan lain-lain

2.5 Gejala Diabetes Mellitus

Berdasarakan pendapat dari Tandra (2015) bahwa gejala pasiena yang

(5)

menderita diabetes mellitus adalah mengalami gangguan kulit: seperti gatal dan bisul-bisul, mengalamin kelainan gen: seperti terjadi keputihan, pasien akan mengalami kesemutan pada bagian tubuhnya, tubuh pasien yang menderit diabetes mellitus akan lemah, apabila bagian tubuh pasie mengalami luka akan susah untuk sembuh, dan pada pasien yang penderita diabetes mellitus akan mengalami infeksi pada saluran kencing.

Pada penderita diabetes mellitus juga terdapat gejala-gejala lain yang perlu diberikan perhatian khusus pada saat menegakkan diagnosis pada pasien penderita diabetes melittus, berikut adalah gejala yang muncul pada penderita diabetes mellitus:

1. Adanya gangguan penglihatan.

Fase permulaan terjadinya penyakit diabetes melittus sering dijumpai dengan gangguan penglihatan pada penderitanya, hal ini membuat penderita mengganti kaca matanya berulang kali supaya bisa melihat dengan baik.

Kejadian tersebut dalam jangka waktu yang pendek, menyebabkan kecurigaan terhadap seseorang yang mengidap diabetes melittus.

2. Penurunan berat badan dan astenia.

Terjadinya penurunan berat badan yang drastis diikuti dengan kehilangan jaringan lemak serta jaringan otot, hal tersebut terjadi karena kekurangan insulin yang menyebabkan tubuh menjadi kehilangan glukosa secara terus- menerus. Sedangkan astenia (rasa lemah) diakibatkan karena badan penderita kehilangan air dan juga elektrolit yang menyertai glukosaria pada proses diuresis melalui osmosis pada hiperglikemi.

3. Meningkatnya pengeluaran urin (poliuria) terjadi karena ginjal memproduksi urin dengan jumlah banyak dan berlebihan, sehingga mengakibatkan sering buang air kecil dalam jumlah yang banyak.

4. Meningkatnya rasa haus (polidipsi) diakibatkan karena volume urin dan keluarnya air sangat besar sehingga menyebabkan terjadinya dehidrasi ekstrasel.

5. Meningkatnya rasa lapar (polifagis) disebabkan oleh keadaan setelah absorbtif yang kronis, katabolisme protein, katabolisme lemak dan kelaapran yang mengakibatkan terjadi penurunan berat badan.

(6)

6. Rasa lelah seta kelemahan otot terjadi karena Sebagian sel dalam tubuh tidak mampu untuk merubah glukosa menjadi energi, dan juga bisa disebabkan oleh katabolisme protein pada otot. Rasa lelah pada penderita diabetes juga dapat disebabkan oleh gangguan aliran darah.

7. Infeksi yang meningkat karena adanya gangguan imun, juga dapat disebabkan oleh peningkatan kadar glukosa darah di bagian sekresi mucus.

8. Kelainan kulit gatal-gatal, bisul. Gatal biasanya terjadi di daerah ginjal, lipatan kulit seperti di ketiak dan dibawah payudara, biasanya akibat tumbuhnya jamur.

9. Kelainan ginekologis, keputihan dengan penyebab tersering yaitu jamur terutama candida.

10. Kesemutan rasa baal akibat neuropati. Regenerasi sel mengalami gangguan akibat kekurangan bahan dasar utama yang berasal dari unsur protein.

Akibatnya banyak sel saraf rusak terutama bagian perifer.

11. Kelemahan tubuh

12. Penurunan energi metabolik/penurunan BB yang dilakukan oleh sel melalui proses glikolisis tidak dapat berlangsung secara optimal.

13. Luka yang lama sembuh, proses penyembuhan luka membutuhkan bahan dasar utama dari protein dan unsur makanan yang lain. Bahan protein banyak diformulasikan untuk kebutuhan energi sel sehingga bahan yang diperlukan untuk penggantian jaringan yang rusak mengalami gangguan.

14. Laki-laki dapat terjadi impotensi, ejakulasi dan dorongan seksualitas menurun karena kerusakan hormon testosteron.

15. Mata kabur karena katarak atau gangguan refraksi akibat perubahan pada lensa oleh hiperglikemia.

2.6 Patofisiologi Diabetes Mellitus

Insulin adalah hormone yang diproduksi oleh sel beta pancreas. dalam metabolism tubuh, insulin berfungsi untuk mengirim glukosa ke dalam sel-sel yang kemudian glukosa tersebut dimanfaatkan sebagai energi. Pada kondisi normal, reseptor insulin yang ada pada permukaan sel otot akan menangkap insulin, selanjutnya membuka pintu masuk sel supaya glukosa bisa masuk ke sel untuk dirubah menjadi energi. Hal inilah yang membuat kadar glukosa pada darah

(7)

menjadi tetap normal

DM Tipe I DM Tipe II

Reaksi Autoimun Idiopatik, Genetik, Usia

Sel β Pancreas Hancur Jumlah Sel Pancreas

Menurun

Definisi Insulin

Hiperglekimia Katabolisme Protein

Meningkat Liposis Meningkat

Flesibilitas Darah Merah

Pelepasan O2

Hipoksia Perifer

Nyeri

Pembatasan Diet

Intake Tidak Kuat

Poliuri Deficit Volume

Cairan

Perfusi Jaringan Perifer tidak Aktif

Penurunan BB

Resiko Nutrisi Kurang

Gambar 2.1 Pathway Diabetes Melitus.

2.7 Pemeriksaan Penunjang

Untuk penegakan diagnosis DM tipe II yaitu dengan pemeriksaan glukosa darah dan pemeriksaan glukosa peroral (TTGO). Sedangkan untuk membedakan DM tipe II dan DM tipe I dengan pemeriksaan C-peptide. Berikut adalah pemeriksaan penunjang untuk diabetes (Hasriani, 2018):

1. Pemeriksaan glukosa darah a. Glukosa Plasma Vena Sewaktu

Pemeriksaan gula darah vena sewaktu pada pasien DM tipe II dilakukan pada pasien DM tipe II dengan gejala klasik seprti poliuria, polidipsia dan polifagia. Gula darah sewaktu diartikan kapanpun tanpa memandang terakhir kali makan. Dengan pemeriksaan gula darah sewaktu sudah dapat menegakan

(8)

diagnosis DM tipe II. Apabila kadar glukosa darah sewaktu ≥ 200 mg/dl (plasma vena) maka penderita tersebut sudah dapat disebut DM. Pada penderita ini tidak perlu dilakukan pemeriksaan tes toleransi glukosa

b. Glukosa Plasma Vena Puasa

Pada pemeriksaan glukosa plasma vena puasa, penderita dipuasakan 8-12 jam sebelum tes dengan menghentikan semua obat yang digunakan, bila ada obat yang harus diberikan perlu ditulis dalam formulir. Intepretasi pemeriksan gula darah puasa sebagai berikut: kadar glukosa plasma puasa < 110 mg/dl dinyatakan normal, ≥126 mg/dl adalah diabetes melitus, sedangkan antara 110-126 mg/dl disebut glukosa darah puasa terganggu (GDPT). Pemeriksaan gula darah puasa lebih efektif dibandingkan dengan pemeriksaan tes toleransi glukosa oral.

c. Glukosa 2 jam Post Prandial (GD2PP)

Tes dilakukan bila ada kecurigaan DM. Pasien makan makanan yang mengandung 100gr karbohidrat sebelum puasa dan menghentikan merokok serta berolahraga. Glukosa 2 jam Post Prandial menunjukkan DM bila kadar glukosa darah ≥ 200 mg/dl, sedangkan nilai normalnya ≤ 140. Toleransi Glukosa Terganggu (TGT) apabila kadar glukosa > 140 mg/dl tetapi < 200 mg/dl.28

d. Glukosa jam ke-2 pada Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO)

Pemeriksan Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) dilakukan apabila pada pemeriksaan glukosa sewaktu kadar gula darah berkisar 140-200 mg/dl untuk memastikan diabetes atau tidak. Sesuai kesepakatan WHO tahun 2006, tatacara tes TTGO dengan cara melarutkan 75gram glukosa pada dewasa, dan 1,25 mg pada anak-anak kemudian dilarutkan dalam air 250-300 ml dan dihabiskan dalam waktu 5 menit. TTGO dilakukan minimal pasien telah berpuasa selama minimal 8 jam. Penilaian adalah sebagai berikut; 1) Toleransi glukosa normal apabila ≤ 140 mg/dl; 2) Toleransi glukosa terganggu (TGT) apabila kadar glukosa > 140 mg/dl tetapi < 200 mg/dl; dan

e. Toleransi glukosa ≥ 200 mg/dl disebut diabetes melitus.

(9)

2. Pemeriksaan HbA1c

HbA1c merupakan reaksi antara glukosa dengan hemoglobin, yang tersimpan dan bertahan dalam sel darah merah selama 120 hari sesuai dengan umur eritrosit.

Kadar HbA1c bergantung dengan kadar glukosa dalam darah, sehingga HbA1c menggambarkan rata-rata kadar gula darah selama 3 bulan. Sedangkan pemeriksaan gula darah hanya mencerminkan saat diperiksa, dan tidak menggambarkan pengendalian jangka panjang. Pemeriksaan gula darah diperlukan untuk pengelolaaan diabetes terutama untuk mengatasi komplikasi akibat perubahan kadar glukosa yang berubah mendadak.

• HbA1c < 6.5 % Kontrol glikemik baik

• HbA1c 6.5 -8 % Kontrol glikemik sedang

• HbA1c > 8 % Kontrol glikemik buruk

2.8 Penatalaksanaan Diabetes Melitus 1. Melakukan Kontrol

Tujuan jangka pendek dari kontrol yang dilakukan pada pasien dengan diabetes mellitus yaitu untuk mengurangi maupun menghilangkan gejala dan untuk mempertahankan perasaan nyaman serta perasaan sehat bagi penderita.

Untuk tujuan jangka Panjang dilakukan kontrol terhadap pasien diabaetes mellitus ialah untuk mencegah miroangiopati dan neuropati, sehingga dapat menurunkan angka kematian karena diabetes mellitus dan menurunkan angka individu yang terkena penyakit diabetes mellitus. Cara paling ampuh untuk melakukan control terhadap diabetes melitus adalah dengan memeberkan edukasi tentang diabetes mellitus kepada masyarakat, meberikan edukasi dalam perencanaan makan dan memberikan edukasi tentang obat yang berkhasiat menurunkan hipoglikemik.

2. Terapidiet

Berdasarkan pendapat Beck (2011) terapidiet bertujuan untuk menjaga kadar glukosa dalam darah pada batas normal, mengurangi perubahan besarnya kadar glukosa dalam darah, mempertahankan atau memulihkan berat badan pada kondisi normal.

(10)

3. Exercise (latihan fisik/olahraga)

Penderita diabetes mellitus dianjurkan untuk melakukan olahraga selama 30 menitan dengan frekuensi 3-4 kali dalam satu pekan, olahraga yang dilakukan harus sesuai dengan CRIPE (continuous, rhythmical, interval, progressive, endurance). Contoh olahraga bagi pasien penderita diabetes mellitus seperti jalan kaki (Fatimah, 2015).

4. Pendidikan Kesehatan

Memberikan Pendidikan kepada masyarakat tentang diabetes mellitus merupakan salah satu cara yang paling ampuh untuk mencegah terjadinya resiko diabetes. Menurut pendapat Fatimah (2015) bahwa pencegahan ada 3 macam, yaitu pencegahan primer ditunjukkan kepada masyarakat dengan resiko diabetes mellitus tinggi, pencegahan sekunder ditujukan kepada pasien yang baru mangalami diabetes mellitus dan pencegahan tersier ditujukan kepada pasien dengan penyakit diabetes mellitus yang sudah lama.

5.

Obat

Penggunaan obat dalam mengatasi diabetes mellitus sebaiknya dilakukan apabila penggunaan metode relaksasi tidak berhasil dalam mengendalikan kadar glukosa dalam darah (Fatimah, 2015).

Referensi

Dokumen terkait

Hasil pengamatan size (ukuran) udang pada penelitian ini pada perlakuan B menunjukkan nilai yang rendah pada perlakuan pakan yang diberi ekstrak meniran serta menunjukkan

babinskin. Masalah : Yaitu keadaan yang menyertai saat bayi baru lahir.. Kebutuhan : Pada kasus BBLR terdapat kebutuhan yang sesui. yaitu menjega suhu bayi tetap hangat

Hasil penelitian menunjukkan proses penanganan pada anak autis yang mengalami tantrum menggunakan teknik peyisihan sesaat ( Time-out ) diantaranya adalah (1) Guru atau

diberikan angket untuk menunjukkan respon siswa terhadap asesmen written feedback. Beberapa indikator komentar yang digunakan dalam pembelajaran asesmen written. feedback

Pengukuran Waktu kerja ( Time Study ) pada dasarnya merupakan suatu usaha untuk menentukan lamanya waktu kerja yang diperlukan oleh seorang operator untuk

Pada relevansi antara konsep ijma Imam syafi’i dengan perkembangan hukum islam dimana kita ketahui bersama dapat berubah mengikuti perubahna masyarakat yang semakin kristis

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan yang dapat diambil dalam penelitian pemodelan variabel α pada hidrograf satuan sintetik Nakayasu (studi banding dengan hidrograf

Aktivitas siswa di kelas VII-B SMP Negeri 1 Kertasemaya dalam pembelajaran Sejarah dengan menggunakan metode foxfire, dapat dilihat dari hasil observasi aktivitas