1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bandung adalah ibu kota Provinsi Jawa Barat, saat ini Bandung merupakan salah satu kota besar ke tiga di Indonesia yang memiliki tingkat populasi yang tinggi, penduduk kota Bandung menurut Registrasi Penduduk pada tahun 2013 berjumlah hampir 2,7 juta jiwa dengan wilayah kota Bandung yang berkisar 167 km2. Dengan padatnya penduduk serta pertumbuhan penduduk yang tinggi kota Bandung tumbuh menjadi kota metropolitan dan menjadikannya sebagai kota tujuan wisata dan urbanisasi, sehingga tingkat perekonomian kota mengalami peningkatan. (www.bandung.go.id/penduduk). Dengan pertumbuhan penduduk yang tinggi serta wisatawan yang banyak mengunjungi Bandung, aktifitas di Bandung menjadi kurang kondusif, kondisi bandung pun semakin lama semakin kotor, banyaknya sampah menjadi persoalan serius yang dihadapi kota Bandung. Sampai saat ini Kota Bandung belum mampu mengelola sampahnya dengan baik karena kurangnya kesadaran masyarakat akan bahaya yang di timbulkan jika membuang sampah sembarangan. Penanganan dari pemerintah kota Bandung yang terbatas pun menjadi faktor penyebab belum terselesaikannya masalah sampah ini. Pengelolaan sampah seharusnya menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat. Pembagian tanggung jawab pengelolaan sampah dibagi menjadi dua yaitu pengelolaan sampah dari sumber hingga ke TPS menjadi tanggung jawab masyarakat, dan pengelolaan sampah dari TPS ke TPA menjadi tanggung jawab pemerintah. (Buku Panduan Pengelolaam Kebersihan Kota Bandung, PD Kebersihan, 2002).
Berdasarkan data di Dinas Lingkungan Hidup Kota Cimahi, setiap harinya, volume sampah yang dibuang ke TPA Leuwigajah mencapai 4.000 m3.
Volume sampah tertinggi pun berasal dari kota Bandung yaitu sekira 2.500 m3/hari, sedangkan Kab. Bandung sekira 1.000 m3/hari. Sementara itu, sampah yang berasal dari kota Cimahi sendiri hanya sekira 460 m3. Dengan kondisi yang
2 ada saat ini, TPA Leuwigajah diperkirakan hanya bertahan antara empat sampai dengan lima tahun lagi. (http;//www.pikiranrakyat.com/cetak/0504/25/0106.htm.).
Untuk mencapai keberhasilan pengelolaan sampah kota Bandung terdapat lima aspek yang saling berhubungan satu sama lainnya. diantaranya adalah, aspek kelembagaan, aspek peraturan, aspek pembiayaan, aspek teknik dan operasional, serta peran masyarakat.. Dari ke lima aspek tersebut PD Kebersihan Kota Bandung mengharapkan peran aktif masyarakat untuk membantu menanggulangi sampah kota Bandung. Karena, peran masyarakat sangat dibutuhkan agar permasalahan sampah bisa terselesaikan. (Buku Panduan Pengelolaam Kebersihan Kota Bandung, PD Kebersihan, 2002).
Walikota Bandung bapak Ridwan Kamil yang akrab disapa Kang Emil mencanangkan kebijakan baru kepada warganya agar berperan aktif dalam penanggulangan sampah dikota Bandung agar aspek-aspek pengelolaan sampah bisa berjalan dengan baik. Kang Emil telah mencanangkan program Bandung Juara. Salah satu program Bandung Juara adalah program Gerakan Pungut Sampah yang bertujuan untuk menanggulangi sampah di kota Bandung. Program Gerakan Pungut Sampah telah dicanangkan pada 14 Juli 2014 lalu. Gerakan Pungut Sampah atau disingkat menjadi GPS merupakan program untuk mengubah kultur masyarakat untuk lebih mencintai kota Bandung. Kang Emil ingin merubah kultur yang sudah melekat di masyarakat kota Bandung yang acuh terhadap sampah menjadi aktif untuk mencintai kebersihan. GPS saat ini telah diterapkan 3 hari dalam seminggu yaitu, hari Senin, Rabu, dan Jumat. Program GPS dilakukan oleh semua kalangan masyarakat kota Bandung mulai dari kecamatan yang ada di Bandung sampai ke sekolah-sekolah SD, SMP, dan SMA. Dengan adanya kampanye sosial GPS ini diharapkan akan memberi dampak positif terhadap perilaku masyarakat terhadap sampah. Akan tetapi, program GPS kurang berjalan dengan baik karena Perusahaan Daerah Kebersihan Kota Bandung yang ditugaskan Pemerintah Kota Bandung untuk mengelola persoalan sampah tidak dapat mengurus hal-hal yang sifatnya rutin seperti kampanye sosial ini.
Dalam hal ini penulis ingin ikut berpartisipasi untuk membantu mewujudkan Kota Bandung yang bersih melalui kampanye sosial Gerakan Pungut
3 Sampah yang termasuk dalam program Bandung Juara. Target sasaran yang akan penulis tuju adalah kepada anak-anak Sekolah Dasar yang berada dikota Bandung, alasan penulis untuk mengkampanyekan GPS kepada anak-anak SD adalah masa inilah masa dimana pembentukan karakter seseorang dibentuk, sehingga kampanye sosial GPS diharapakan dapat menjadikan masyarakat peduli akan sampah dan kesehatan dimulai sejak kecil. Untuk itu penulis merasa tertantang untuk membantu mengkampanyekan program Gerakan Pungut Sampah ini dengan merancang media komunikasi yang tepat untuk kampanye sosial GPS bagi target sasaran sehingga harapan yang diinginkan bisa tercapai. Dan media yang sudah jadi nantinya akan digunakan sebagai sarana untuk membantu kampanye sosial Gerakan Pungut Sampah yang dicanangkan oleh Pemerintah Kota Bandung.
1.2 Permasalahan
1.2.1 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas. Maka, permasalahan yang dihadapi diantaranya :
a) Peningkatan jumlah penduduk yang tinggi serta kurangnya tanggung jawab masyarakat tentang pengelolaan sampah menyebabkan masalah sampah belum terselesaikan.
b) Masyarakat belum sadar akan pentingnya budaya pungut sampah
c) Dengan terbatasnya kinerja Pemerintah kota, maka kampanye Gerakan Pungut Sampah kurang berjalan dengan baik.
1.2.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas, maka permasalahan yang dihadapi dalam perancangan Tugas Akhir ini adalah sebagai berikut :
Bagaimana merancang sebuah kampanye sosial yang efektif agar masyarakat tergerak untuk berpartisipasi mengikuti program Gerakan Pungut Sampah ini?
4 1.3 Fokus
Untuk menghindari luasnya ruang lingkup masalah, maka fokus Tugas Akhir ini dibatasi pada perancangan dibidang desain komunikasi visual, dan batasan-batasan lainnya adalah sebagai berikut :
a) Kampanye sosial Gerakan Pungut Sampah ditujukan kepada anak- anak Sekolah Dasar dikota Bandung sehingga mampu menumbuhkan peduli akan sampah serta ikut berpartisipasi dalam program GPS.
b) Waktu untuk perancangan kampanye sosial GPS berlangsung pada bulan Agustus hingga Juli 2016.
c) Lokasi untuk kampanye sosial GPS adalah di Sekolah Dasar yang berada dikota Bandung.
1.4 Tujuan
Tujuan dari perancangan desain komunikasi visual sebagai sarana yang efektif untuk menunjang kampanye Gerakan Pungut Sampah di Kota Bandung ini adalah sebagai berikut:
Merancang kampanye sosial Gerakan Pungut Sampah yang efektif agar masyarakat tergerak untuk berpartisipasi mengikuti program tersebut.
1.5 Cara Pengumpulan Data dan Analisis
Cara pengumpulan data yang dilakukan penulis untuk memperoleh data- data yang dibutuhkan adalah dengan menggunakan metode-metode sebagai berikut:
a) Studi Pustaka
Studi kepustakaan adalah teknok pengumpulan data dengan mengadakan studi penelaahan terhadap buku-buku, literatur, catatan, dan laporan yang ada hubungannya dengan masalah yang dipecahkan (Nazir, 1998:111). Studi pustaka dilakukan untuk mencari data-data yang diperlukan untuk kegiatan tugas akhir ini yaitu dengan mencari buku-buka dan laporan yang berhubungan dengan objek yang akan diteliti.
5 b) Observasi
Observasi adalah metode pengumpulan data dimana peneliti mencatat informasi sebagaimana yang mereka saksikan selama penelitian. Penyaksian terhadap peristiwa-peristiwa itu bisa dengan melihat, mendengarkan, merasakan, yang kemudian dicatat seobyektif mungkin. (Gulo, 2002:116). Metode observasi ini penulis akan turun langsung ke lapangan guna mendapatkan data-data yang akurat terhadap objek penelitian agar mendaptakan data asli tentang pola prilaku target audience. Observasi dilakukan ke beberapa sekolah-sekolah dasar yang ada dikota Bandung untuk dijadikan sampel penelitian.
c) Wawancara
Wawancara adalah bentuk komunikasi langsung antara peneliti dan responden.
Komunikasi berlangsung dalam bentuk Tanya-jawab dalam hubungan tatap muka, sehingga gerak dan mimik responden merupakan pola media yang melengkapi kata-kata secara verbal. (Gulo, 2002:119). Wawancara akan dilakukan kepada Perusahaan Daerah Kebersihan Kota Bandung, relawan Bandung yang dinaungi oleh Bandung Clean Action, serta para ahli dibidang desain komunikasi visual.
Data yang diperoleh dari hasil wawancara akan diringkas menjadi suatu data yang lebih rinci.
d) Kuesioner
Kuesioner adalah alat pengumpulan data yang berbentuk pernyataan yang akan diisi atau dijawab oleh responden. Kuesioner digunakan untuk mengukur variable yang bersifat factual, untuk memperoleh informasi yang relevan dengan tujuan penelitian, dan untuk memperoleh informasi dengan validitas setinggi mungkin (Djaali & mujiono, 2008:64). Kuesioner berisikan pertanyaan seputar pemahaman akan manfaat dan bahaya tentang sampah kepada anak Sekolah Dasar yang berada dikota Bandung. Tujuannya agar mengetahui sejauh mana pengetahuan anak tentang sampah, yang selanjutnya akan dijadikan langkah untuk melakukan pendekatan yang tepat untuk melakukan kampanye ini.
Analisis data yang akan dilakukan penulis untuk kegiatan Tugas Akhir ini adalah menggunakan Perbandingan Matriks adalah tabel yang disusun di lajur dan jajaran sehingga butir-butir uraian yang diisikan dapat dibaca dari atas ke bawah dan dari kiri ke kanan (KBBI, Balai pustaka, 1999). Perbandingan matriks
6 digunakan untuk membandingkan media media komunikasi kampanye sosial yang sudah ada, serta membandingkan media mana saja yang lebih tepat sasaran.
1.6 Kerangka Perancangan
\
Kondisi Bandung yang kotor disebabkan oleh banyaknya penduduk serta kurangnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya sampah serta terbatasnya peran pemerintah dalam
hal kampanye sosial tentang sampah
Merancang kampanye sosial GPS agar masyarakat lebih peduli terhadap sampah
Pengumpulan data:
Studi pustaka Observasi Wawancara
Kuisioner Dokumentasi
Analisis data : Kuesioner Wawancara Matriks Perbandingan
konsep perancangan
Hasil perancangan kampanye sosial GPS yang sesuai dengan target audience
7 1.7 Pembabakan
a) BAB I Pendahuluan
Pada bab 1 pendahulan, penulis akan menjelaskan secara rinci mulai dari latar belakang masalah, identifikasi masalah, rumusan masalah, ruang lingkup, tujuan perancangan, cara pengumpulan data dan analisis, kerangka penelitian dan pembabakan sebagai awal dari perancangan Tugas Akhir.
b) BAB II Dasar Pemikiran
Bab ini akan menjelaskan tentang dasar pemikiran yang dilakukan dengan cara studi pustaka bertujuan mencari teori-teori yang relevan sesuai dengan topik dan permasalahan yang dihadapi. Teori ini yang nantinya akan dijadikan sebagai pijakan untuk menganalisis serta memecahkan permasalahan.
c) BAB III Data dan Analisis Masalah
Bab 3 akan menjelaskan mengenai uraian berbagai data yang diperoleh dari hasil survey, diantaranya adalah data institusi pemberi proyek, data produk (barang atau jasa atau ide yang akan digarap), data khalayak sasaran, data proyek sejenis yang pernah dilakukan dan penilaiannya, dan data-data hasil observasi, wawancara dan kuisioner. Kemudian setelah mendapatkan data selanjutnya dilakukan analisis yang akan menghasilkan konsep perancangan dari Tugas Akhir ini.
d) BAB IV Konsep dan Hasil Perancangan
Bab 4 berisi tentang konsep perancangan yang sebelumnya telah dianalisis terlebih dahulu. Konsep-konsep tersebut meliputi konsep pesan (ide besar), konsep kreatif (pendekatan), konsep media (media apa saja yang digunakan, perencanaan media, biaya media), konsep visual (jenis huruf,warna, bentuk, gaya visual). Kemudian dilakukan perancangan konsep bisnis atau konsep marketing communication yang akan
8 digunakan. Dan terakhir adalah hasil dari semua perancangan mulai dari sketsa hingga penerapannya pada media.
e) BAB V Penutup
Bab 5 berisikan penutup berupa kesimpulan dan saran terhadap hasil perancangan. Kesimpulan ini yang nantinya akan menjadi jawaban dari hasil penelitian pada bab sebelumnya.