• Tidak ada hasil yang ditemukan

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN BIRO KERJA SAMA DAN HUBUNGAN MASYARAKAT. NOTA DINAS Nomor: KS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN BIRO KERJA SAMA DAN HUBUNGAN MASYARAKAT. NOTA DINAS Nomor: KS"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

1 BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN

BIRO KERJA SAMA DAN HUBUNGAN MASYARAKAT

NOTA DINAS

Nomor: KS.01.02.23.231.11.21.869 Yth. : Kepala Biro Hukum dan Organisasi

Dari : Kepala Biro Kerja Sama dan Humas Lampiran : 2 (dua) berkas

Hal : Penyampaian Rancangan Perjanjian Kerja Sama antara Balai POM di Kupang dengan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) dan Kamar Dagang Industri Indonesia (Kadin) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT)

Tanggal : 24 November 2021

Merujuk pada pokok nota dinas diatas, bersama ini disampaikan hal-hal sebagai berikut:

1. Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat telah menerima usulan kerja sama dari Balai POM di Kupang dengan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) dan Kamar Dagang Industri Indonesia (Kadin) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

2. Kerja sama dengan Aprindo Provinsi NTT akan dimanfaatkan untuk meningkatkan efektivitas pengawasan Obat dan Makanan, meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap keamanan serta mutu Obat dan Makanan, serta meningkatkan kapasitas sarana distribusi ritel di bidang pengawasan Obat dan Makanan, terutama pada ritel modern.

Kajian manfaat kerja sama dengan Aprindo sebagaimana Lampiran 1.

3. Sedangkan kerja sama dengan Kadin Provinsi NTT akan dimanfaatkan untuk meningkatkan efektivitas pengawasan Obat dan Makanan, meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap keamanan serta mutu Obat dan Makanan, dan meningkatkan pemenuhan keamanan dan mutu serta daya saing UMK pangan olahan, obat tradisional dan kosmetik. Kajian manfaat kerja sama dengan Kadin sebagaimana Lampiran 2.

4. Adapun rancangan PKS telah direviu secara substansi, sebagaimana Lampiran 3 dan 4, antara lain:

PKS dengan APRINDO Provinsi NTT

a. Judul PKS “Pengawasan dan Pembinaan Peredaran Obat dan Makanan di Ritel Modern”

b. Ruang lingkup PKS, meliputi:

1) penguatan pengawasan dan pembinaan Obat dan Makanan;

2) pemanfaatan dan pembaharuan yang berkelanjutan terhadap materi komunikasi, informasi dan edukasi terkait keamanan serta mutu Obat dan Makanan;

(2)

2 3) pembinaan dan pendampingan anggota PIHAK KEDUA, melalui pelatihan, penyuluhan, bimbingan teknis, workshop di bidang keamanan serta mutu Obat dan Makanan; dan

4) pemanfaatan data dan/atau informasi di bidang pengawasan Obat dan Makanan

c. Jangka waktu PKS: diusulkan 5 (lima) tahun PKS dengan KADIN Provinsi NTT

a. Judul PKS “Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah di Bidang Pangan Olahan, Obat Tradisional dan Kosmetik”

b. Ruang lingkup:

1) penyelenggaraan Komunikasi, Informasi dan Edukasi di bidang pangan olahan, obat tradisional dan kosmetik bagi UMKM serta masyarakat.

2) pendampingan UMKM pangan olahan, obat tradisional dan kosmetik dalam rangka peningkatan daya saing.

3) pengembangan jejaring usaha dalam rangka meningkatkan promosi/pemasaran produk UMKM.

4) pengembangan akses terhadap permodalan bagi UMKM.

5) pertukaran informasi terkait UMKM serta akses pemasaran produk domestik dan ekspor

c. Jangka waktu PKS: diusulkan 5 (lima) tahun

5. Sebagai perkenan informasi MoU Badan POM dengan KADIN telah berakhir pada tanggal 21 November 2021 dan saat ini sedang dilakukan pembahasan untuk perpanjangan kerja sama. Terkait dengan usulan PKS di atas, diusulkan ditandatangani setalah MoU dengan KADIN diperpanjang.

6. Berkenaan dengan hal tersebut, mohon kiranya kedua rancangan PKS tersebut dapat diproses lebih lanjut.

Demikian disampaikan. Atas perhatian dan kerja sama yang baik, diucapkan terima kasih.

Noorman Effendi

Tembusan:

Plt. Sekretaris Utama

(3)

KAJIAN MANFAAT KERJA SAMA

ANTARA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN DENGAN ASOSIASI PENGUSAHA RITEL INDONESIA (APRINDO)

1. Latar Belakang

Ritel merupakan lokasi perdagangan produk obat dan makanan yang banyak tersebar di masyarakat. Ritel modern sangat mudah ditemukan di lingkungan pemukiman maupun komersial. Dapat dikatakan bahwa ritel adalah pihak yang berhubungan langsung dengan konsumen yang membeli produk obat dan makanan. Oleh karena itu, para pelaku bisnis ritel perlu memiliki pengetahuan yang baik tentang keamanan dan mutu obat dan makanan agar dapat menjalankan bisnisnya dengan bertanggung jawab, mengedarkan obat dan makanan yang legal dan aman, dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan terkait pengawasan obat dan makanan.

Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) berdiri pada tahun 1994 dan memiliki 150 anggota perusahaan ritel local maupun jaringan internasional, yang tersebar di 45.000 gerai. Kepengurusan Aprindo terdiri dari 32 Dewan Perwakilan Daerah dan 97 Dewan Perwakilan Cabang. Aprindo telah beberapa kali mengadakan kegiatan bersama BPOM, diantaranya adalah Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) Obat dan Makanan. Aprindo juga berpartisipasi dalam Reformasi Birokrasi di lingkungan BPOM, misalnya dengan memberikan dukungan pada pelaksanaan Reformasi Birokrasi dan Pembentukan Zona Integritas. Sebagai asosiasi yang menaungi ratusan perusahaan ritel di Indonesia, Aprindo memiliki jaringan luas se-Indonesia dan didukung oleh pengurus yang tersebar di berbagai provinsi. Salah satunya adalah DPP APRINDO Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

2. Kerja Sama BPOM dan Aprindo

Kerja sama BPOM dengan Aprindo telah dituangkan dalam Kesepakatan Bersama (MoU) Nomor KS.01.02.1.23.08.19.3045 dan Nomor 01/MoU/DPP-8/VIII/2019 tentang Kerja Sama di Bidang Pengawasan dan Pembinaan Dalam Rangka Peredaran Obat dan Makanan di Ritel Modern.

MoU ditandatangani pada tanggal 28 Agustus 2019 untuk jangka waktu 3 (tiga) tahun. Implementasi MoU ini meliputi dukungan terhadap Program Nasional

“Ayo Ceklik sebelum Belanja” yang dilaksanakan di Pusat dan 55 di Unit Pelaksana Teknis (UPT) dengan total keterlibatan 257 sarana ritel pada tahun 2019 dan 2020. Selain itu juga telah dilaksanakan bimbingan teknis cara ritel yang baik di 15 UPT dengan total 202 peserta dari sarana ritel.

Kerja sama dengan Aprindo memberikan manfaat dalam dukungan terhadap pelaksanaan penyebaran informasi dan penerapan cara ritel yang baik, terutama untuk ritel produk pangan olahan serta dalam mewujudkan konsumen cerdas memilih produk Obat dan Makanan dengan budaya Ceklik.

(4)

3. Rencana Implementasi dan Manfaat Kerja Sama

Dalam konteks Badan POM, kerja sama dengan APRINDO akan diimplementasikan dan dimanfaatkan sebagai berikut:

No. Ruang lingkup Rencana Implementasi Manfaat a. penguatan pengawasan

dan pembinaan Obat dan Makanan;

Pengawasan mandiri maupun bersama di sarana ritel

Meningkatkan efektivitas

pengawasan Obat dan Makanan b. pemanfaatan dan

pembaharuan yang berkelanjutan terhadap materi komunikasi, informasi dan edukasi terkait keamanan serta mutu Obat dan Makanan;

Pembaharuan

informasi terkait peraturan, data sarana, atau materi KIE lain terkait ritel dan pengawasan Obat dan Makanan

Meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap

keamanan serta mutu Obat dan Makanan

c. pembinaan dan pendampingan anggota PIHAK KEDUA, melalui pelatihan, penyuluhan, bimbingan teknis, workshop di bidang keamanan serta mutu Obat dan Makanan

pelatihan, penyuluhan, bimbingan teknis, workshop di bidang keamanan serta mutu Obat dan Makanan

Meningkatkan pemenuhan ritel modern terhadap ketentuan di bidang keamanan serta mutu Obat dan Makanan

d. pemanfaatan data dan/atau informasi di bidang pengawasan Obat dan Makanan

Pemanfaatan data sarana ritel anggota APRINDO yang menjadi objek pengawasan Badan POM

Meningkatkan efektivitas

pengawasan Obat dan Makanan

4. Kesimpulan dan tindak lanjut

Mempertimbangkan bahwa DPP APRINDO Provinsi NTT memiliki kewenangan di tingkat provinsi, serta mempertimbangkan kesetaraan antara pimpinan DPP APRINDO dengan Balai Besar/Balai POM, diusulkan agar kerja sama (PKS) disusun di tingkat Provinsi, dengan koordinator/narahubung mencantumkan pejabat APRINDO yang ditunjuk.

(5)

KAJIAN MANFAAT KERJA SAMA

ANTARA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN DENGAN KAMAR DAGANG DAN INDUSTRI INDONESIA (KADIN)

1. Latar Belakang

Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) adalah wadah bagi pengusaha Indonesia dan bergerak dalam bidang perekonomian1. Tujuan Kadin adalah:

a. Membina dan mengembangkan kemampuan, kegiatan, dan kepentingan pengusaha Indonesia di bidang usaha negara, usaha koperasi, dan esaha swasta dalam kedudukannya sebagai pelaku-pelaku ekonomi nasional dalam rangka mewujudkan kehidupan ekonomi dan dunia usaha nasional yang sehat dan tertib berdasarkan Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945;

b. Menciptakan dan mengembangkan iklim dunia usaha yang memungkinkan keikutsertaan yang seluas-luasnya bagi pengusaha Indonesia sehingga dapat berperan serta secara efektif dalam Pembangunan Nasional.

Visi Kadin: Menjadikan KADIN sebagai pilihan pertama dan utama dalam mewakili suara dan kepentingan dunia usaha beserta seluruh stakeholders-nya, berkaitan dengan pembuatan dan implementasi kebijakan ekonomi di seluruh Indonesia.

Misi Kadin:

a. Struktur dan komposisi organisasi KADIN yang kuat di Pusat dan daerah sehingga menjadi mitra yang strategis dan efektif bagi pemerintah dan dunia usaha.

b. Reputasi dan kemandirian KADIN yang ternama sebagai sebuah organisasi dunia usaha dari segala aspek: institusi, keuangan, kepemimpinan, pelayanan masyarakat, dukungan politik, dan kerja sama internasional.

c. Anggota, stakholders, sumber daya, dan pembiayaan yang bergerak seirama dan bersama untuk mempercepat program reindustrialisasi perekonomian nasional, melahirkan local champion yang berpotensi menjadi global citizen.

d. Kerjasama dengan komunitas bisnis internasional yang paling relevan dan strategis dalam program reindustrialisasi perekonomian nasional. Foreign Direct Investment (FDI), ekspor, dan transfer of knowledge and technology yang signifikan.

e. KADIN bersama serikat pekerja dan dunia pendidikan menciptakan sebanyak- banyaknya “tenaga siap pakai” dengan kualifikasi internasional.

1 https://kadin.id/tentang-kami/uu-ad-art-kadin/19/undang-undang-tentang-kamar-dagang-dan-industri-kadin

(6)

f. KADIN bersama pengusaha kreatif menciptakan sebanyak-banyaknya “inovasi dan teknologi siap pakai”

g. Sumber pendanaan dalam negeri dalam skala massif, berjangka panjang, dan signifikan dalam membangun industri di sektor-sektor yang paling strategis (pangan, perumahan, infrastruktur, energi, dsb).

Saat ini Kadin dipimpin oleh M. Arsjad Rasjid P.M. serta memiliki lebih dari 100 anggota asosiasi, diantaranya Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO).

2. Kerja Sama BPOM dan Kadin

Kerja sama BPOM dengan Kadin telah dituangkan dalam Kesepakatan Bersama (MoU) Nomor HK. 08.1.23.1.1.6.4026 dan Nomor MoU/203/DP/XI/2016 tentang Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah di Bidang Pangan, Obat Tradisional dan Kosmetika. MoU ditandatangani pada tanggal 21 November 2016 untuk jangka waktu 5 (lima) tahun. Pembahasan usulan rancangan perpanjangan MoU telah dilaksanakan pada tanggal 9 Maret 2021 dan saat ini masih dalam proses finalisasi dari pihak Kadin. Kerja sama dengan Kadin telah diimplementasikan, diantaranya:

• Diskusi Publik (Webinar) dengan tema “Semangat Membangun Negeri dalam Harmoni Keberagaman Indonesia” yang diselenggarakan oleh Universitas Indonesia bersama Harmoni Indonesia2

• Koordinasi dengan BBPOM di Pontianak 3

• Kick Off duta IKM/UMKM go to Export di Manado4

• Pengembangan Industri dan Daya Saing Cokelat Indonesia5

• MEA Expo 20166

3. Rencana Implementasi dan Manfaat Kerja Sama

Dalam konteks Badan POM, kerja sama dengan APRINDO akan diimplementasikan dan dimanfaatkan sebagai berikut:

No. Ruang lingkup Rencana Implementasi Manfaat a. penyelenggaraan

Komunikasi, Informasi

bimbingan teknis di bidang pangan olahan,

Meningkatkan kesadaran

2 https://www.pom.go.id/new/view/more/berita/23914/Kepala-Badan-POM--Pandemi-COVID-19-Jadi- Momentum-Kebangkitan-Kemandirian-Riset-dan-Inovasi-Tanah-Air.html

3 https://www.pom.go.id/new/view/more/berita/21384/Bangun-Koordinasi--Wujudkan-Sinergi-BBPOM-di- Pontianak-dan-Kadin-Kota-Pontianak-.html

4 https://www.pom.go.id/new/view/more/berita/19830/BBPOM-di-Manado-serahkan-Sertifikat-Izin-Edar- Badan-POM-bagi-UMKM-Pangan-Olahan-dalam-acara-Kick-Off-duta-IKM-UMKM-go-to-Export.html

5 https://www.pom.go.id/new/view/more/berita/17183/BADAN-POM-RI-TURUT-DUKUNG- PENGEMBANGAN-INDUSTRI-DAN-DAYA-SAING-COKELAT-INDONESIA.html

6 https://www.pom.go.id/new/view/more/berita/12271/Kadin-Riau-MEA-Expo-2016.html

(7)

No. Ruang lingkup Rencana Implementasi Manfaat dan Edukasi di bidang

pangan olahan, obat tradisional dan kosmetik bagi UMKM serta masyarakat.

obat tradisional dan kosmetik bagi UMKM binaan PARA PIHAK

masyarakat

terhadap keamanan serta mutu Obat dan Makanan

b. pendampingan UMKM pangan olahan, obat tradisional dan kosmetik dalam rangka peningkatan daya saing.

Pembentukan Fasilitator Keamanan Pangan, Duta Jamu Aman, dan Duta Kosmetik Aman;

Peningkatan pemenuhan

keamanan dan mutu serta daya saing

UMK pangan

olahan, obat tradisional dan kosmetik

c. pengembangan jejaring usaha dalam rangka meningkatkan

promosi/pemasaran produk UMKM.

pelatihan, penyuluhan, bimbingan teknis, workshop dalam rangka promosi/pemasaran produk UMKM

Peningkatan pemenuhan

keamanan dan mutu serta daya saing

UMK pangan

olahan, obat tradisional dan kosmetik

d. pengembangan akses terhadap permodalan bagi UMKM.

pelatihan, penyuluhan, bimbingan teknis, workshop dalam rangka permodalan bagi UMKM

Peningkatan pemenuhan

keamanan dan mutu serta daya saing

UMK pangan

olahan, obat tradisional dan kosmetik

e. pertukaran informasi terkait UMKM serta akses pemasaran produk domestik dan ekspor

Pemanfaatan informasi anggota Kadin yang memproduksi pangan olahan, obat tradisional dan kosmetik dan berpotensi

dibina/diberdayakan, serta tindak lanjut hasil pengawasan

Meningkatkan efektivitas

pengawasan Obat dan Makanan

4. Kesimpulan dan tindak lanjut

Mempertimbangkan bahwa DPP Kadin Provinsi NTT memiliki kewenangan di tingkat provinsi, serta mempertimbangkan kesetaraan antara pimpinan DPP Kadin dengan Balai Besar/Balai POM, diusulkan agar kerja sama (PKS) disusun di tingkat Provinsi, dengan koordinator/narahubung mencantumkan pejabat Kadin Provinsi/Kab/Kota yang ditunjuk.

(8)

PERJANJIAN KERJA SAMA ANTARA

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN DENGAN

ASOSIASI PENGUSAHA RITEL INDONESIA PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

TENTANG

PENGAWASAN DAN PEMBINAAN PEREDARAN OBAT DAN MAKANAN DI RITEL MODERN

NOMOR : ...

NOMOR : ...

Pada hari ini, ………, Tanggal ……….. Bulan …….. Tahun ... bertempat di …….., yang bertanda tangan di bawah ini :

1. Tamran Ismail, S.Si., MP., Kepala Balai Pengawas Obat dan Makanan di Kupang, dalam hal ini bertindak untuk dan atas nama Badan Pengawas Obat dan Makanan, berkedudukan di Jalan Raden Ajeng Kartini, Kupang, Nusa Tenggara Timur selanjutnya disebut PIHAK KESATU.

2. Mario Tanur, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia Kabupaten Belu, dalam hal ini bertindak untuk dan atas nama Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Timur, berkedudukan di Jalan Sukarno Nomor 36, Atambua, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, selanjutnya disebut PIHAK KEDUA.

PIHAK KESATU dan PIHAK KEDUA selanjutnya disebut dengan PARA PIHAK, terlebih dahulu menerangkan sebagai berikut :

(9)

a. Bahwa PIHAK KESATU merupakan Unit Pelaksana Teknis di lingkungan Badan Pengawas Obat dan Makanan yang melaksanakan tugas teknis operasional di bidang pengawasan Obat dan Makanan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang – undangan;

b. Bahwa PIHAK KEDUA merupakan asosiasi yang menaungi ritel modern Indonesia ... didirikan sesuai akta notaris Nomor... tanggal ...

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dan untuk menindaklanjuti Kesepakatan Bersama antara Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan dengan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia Nomor KS.01.02.1.23.08.19.3045 dan Nomor 01/MoU/DPP-8/VIII/2019 tentang Kerja Sama di Bidang Pengawasan dan Pembinaan Dalam Rangka Peredaran Obat dan Makanan di Ritel Modern, PARA PIHAK sepakat untuk menyusun Perjanjian Kerja Sama dengan ketentuan sebagai berikut:

Pasal 1

MAKSUD DAN TUJUAN

(1) Maksud Perjanjian Kerja Sama ini dimaksudkan sebagai pedoman bagi PARA PIHAK dalam mewujudkan pelaksanaan kerja sama di bidang pengawasan dan pembinaan dalam rangka peredaran Obat dan Makanan di ritel modern di Kabupaten Belu.

(2) Perjanjian Kerja Sama ini bertujuan untuk :

a. meningkatkan efektifitas dan efisiensi pengawasan Obat dan Makanan, dengan memanfaatkan sumber daya, sesuai dengan tugas, fungsi dan kewenangan yang dimiliki PARA PIHAK;

b. meningkatkan efektifitas dan efisiensi pembinaan terhadap pelaku usaha ritel modern yang menjadi anggota PIHAK KEDUA, dengan memanfaatkan sumber daya, sesuai dengan tugas, fungsi dan kewenangan yang dimiliki PARA PIHAK; dan

c. meningkatkan keamanan, mutu, dan gizi pangan hasil produksi industri rumah tangga pangan; dan

(10)

d. meningkatkan pengetahuan dan kepedulian masyarakat dalam memilih produk Obat dan Makanan yang aman, berkhasiat/bermanfaat, dan bermutu di ritel modern yang menjadi anggota PIHAK KEDUA, dengan memanfaatkan sumber daya, sesuai dengan tugas, fungsi dan kewenangan yang dimiliki PARA PIHAK.

Pasal 2

OBJEK DAN RUANG LINGKUP

(1) Objek Perjanjian Kerja Sama meliputi obat, obat tradisional, kosmetik, suplemen kesehatan dan pangan olahan.

(2) Ruang lingkup Perjanjian Kerja Sama ini meliputi :

a. penguatan pengawasan dan pembinaan Obat dan Makanan;

b. pemanfaatan dan pembaharuan yang berkelanjutan terhadap materi komunikasi, informasi dan edukasi terkait keamanan serta mutu Obat dan Makanan;

c. pembinaan dan pendampingan anggota PIHAK KEDUA, melalui pelatihan, penyuluhan, bimbingan teknis, workshop di bidang keamanan serta mutu Obat dan Makanan; dan

d. pemanfaatan data dan/atau informasi di bidang pengawasan Obat dan Makanan.

Pasal 3 PELAKSANAAN

(1) Pelaksanaan Perjanjian Kerja Sama ini akan diatur lebih lanjut dalam Rencana Aksi yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Perjanjian Kerja Sama ini.

(2) Untuk kelancaran dan koordinasi dalam pelaksanaan Perjanjian Kerja Sama ini, PARA PIHAK menunjuk koordinator.

(3) Segala hal sehubungan dengan Perjanjian Kerja Sama ini disampaikan secara tertulis melalui surat dan/atau surat elektronik kepada koordinator sebagai berikut:

(11)

PIHAK KESATU

Koordinator : ………

Alamat : ………

Telepon/HP : ………

Faximili : ………

Email : ………

PIHAK KEDUA

Koordinator : ………..

Alamat : ………

Telepon : ………

Faksimili : ………

e-mail : ………

Pasal 4 PEMBIAYAAN

Segala biaya yang timbul dalam pelaksanaan Kesepakatan Bersama ini dibebankan kepada anggaran PARA PIHAK sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing berdasarkan ketentuan peraturan perundang- undangan.

Pasal 5 JANGKA WAKTU

(1) Perjanjian Kerja Sama ini berlaku untuk jangka waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak ditandatangani oleh PARA PIHAK dan dapat diubah, diperpanjang, dan diakhiri berdasarkan kesepakatan PARA PIHAK.

(2) Dalam hal salah satu pihak berkeinginan mengubah, mengakhiri, atau memperpanjang Perjanjian Kerja Sama ini, sebelum jagka waktu sebagaimana ayat (1) maka pihak tersebut wajib memberitahukan secara tertulis kepada pihak lainnya paling lambat 3 (tiga) bulan sebelum tanggal berakhirnya Perjanjian Kerja Sama ini.

(12)

Pasal 6

PERBEDAAN PENAFSIRAN

Segala perbedaan penafsiran yang timbul sebagai akibat dari pelaksanaan Perjanjian Kerja Sama ini diselesaikan oleh PARA PIHAK secara musyawarah untuk mufakat.

Pasal 7

MONITORING DAN EVALUASI

PARA PIHAK sepakat untuk melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan Bersama ini secara berkala paling sedikit dilakukan 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun.

Pasal 8

KEADAAN MEMAKSA (FORCE MAJEURE)

(1) Dalam hal salah satu pihak tidak dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawab berdasarkan Perjanjian Kerja Sama ini dikarenakan keadaan memaksa (force majeure) maka pihak yang mengalami force majeure harus memberitahukan secara tertulis disertai bukti-bukti yang sah kepada pihak lainnya paling lambat 7 (tujuh) hari kalender setelah hari pertama tertundanya pelaksanaan kewajiban.

(2) Keadaan memaksa (force majeure) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi bencana alam, perang, huru-hara, pemogokan, pemberontakan, sabotase, kebijakan pemerintah, dan/atau peristiwa lainnya yang mengakibatkan tidak dapat terlaksananya Kesepakatan Bersama ini.

(3) Akibat yang timbul karena kondisi keadaan memaksa (force majeure) dibebankan kepada PARA PIHAK yang mengalami kondisi tersebut.

(4) Keadaan memaksa (force majeure) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak menyebabkan Kesepakatan Bersama ini berakhir, kecuali ditentukan lain berdasarkan kesepakatan PARA PIHAK.

(13)

Pasal 9 PENUTUP

(1) Hal-hal yang belum diatur dalam Perjanjian Kerja Sama ini akan diatur dan ditetapkan kemudian berdasarkan kesepakatan PARA PIHAK dalam bentuk adendum yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Perjanjian Kerja Sama ini.

(2) Perjanjian Kerja Sama ini dibuat dan ditandatangani dalam rangkap 2 (dua) asli di atas kertas bermeterai cukup dan masing-masing memiliki kekuatan hukum yang sama bagi PARA PIHAK.

PIHAK KEDUA PIHAK KESATU

Mario Tanur Tamran Ismail, S.Si., MP

(14)

PERJANJIAN KERJA SAMA ANTARA

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN DENGAN

KAMAR DAGANG DAN INDUSTRI INDONESIA PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

TENTANG

PEMBERDAYAAN USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH DI BIDANG PANGAN OLAHAN, OBAT TRADISIONAL DAN KOSMETIK

NOMOR : ...

NOMOR : ...

Pada hari ini, ………, Tanggal ……….. Bulan …….. Tahun ... bertempat di

…….., yang bertanda tangan di bawah ini :

1. Tamran Ismail, S.Si., MP., Kepala Balai Pengawas Obat dan Makanan di Kupang, dalam hal ini bertindak untuk dan atas nama Badan Pengawas Obat dan Makanan, berkedudukan di Jalan Raden Ajeng Kartini, Kupang, Nusa Tenggara Timur, selanjutnya disebut PIHAK KESATU.

2. Ir. Abraham Paul Liyanto, Ketua Kamar Dagang Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Timur, dalam hal ini bertindak untuk dan atas nama Kamar Dagang Indonesia, berkedudukan di Jalan ..., Kupang, Nusa Tenggara Timur, selanjutnya disebut PIHAK KEDUA.

PIHAK KESATU dan PIHAK KEDUA selanjutnya disebut dengan PARA PIHAK, terlebih dahulu menerangkan sebagai berikut :

a. Bahwa PIHAK KESATU merupakan Unit Pelaksana Teknis di lingkungan Badan Pengawas Obat dan Makanan yang melaksanakan tugas teknis operasional di bidang pengawasan Obat dan Makanan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang – undangan;

(15)

b. Bahwa PIHAK KEDUA merupakan ... Indonesia...

didirikan sesuai akta notaris Nomor... tanggal ...

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, PARA PIHAK sepakat untuk mengadakan Perjanjian Kerja Sama berdasarkan prinsip kemitraan dan saling memberikan manfaat, sebagai tindak lanjut Kesepakatan Bersama antara Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia dan Kamar Dagang dan Industri Indonesia Nomor … dan Nomor … tentang ..., PARA PIHAK sepakat untuk menyusun Perjanjian Kerja Sama dengan ketentuan sebagai berikut:

Pasal 1

MAKSUD DAN TUJUAN

(1) Maksud Perjanjian Kerja Sama ini adalah sebagai pedoman bagi PARA PIHAK dalam rangka mewujudkan sinergi program Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) pangan olahan, obat tradisional, dan kosmetik.

(2) Tujuan Perjanjian Kerja Sama ini adalah:

a. meningkatkan pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan dari UMKM binaan terkait keamanan dan mutu pangan olahan, serta manfaat obat tradisional dan kosmetik;

b. meningkatkan pemenuhan persyaratan keamanan dan mutu pangan olahan serta manfaat obat tradisional dan kosmetik dalam rangka meningkatkan daya saing produk UMKM;

c. meningkatkan akses informasi, teknologi, permodalan dan pemasaran bagi UMKM pangan olahan, obat tradisional dan kosmetik; dan

d. meningkatkan peran Fasilitator Keamanan Pangan, Duta Jamu Aman, dan Duta Kosmetik Aman.

Pasal 2

OBJEK DAN RUANG LINGKUP

(1) Objek Perjanjian Kerja Sama ini meliputi pangan olahan, obat tradisional, dan kosmetika.

(2) Ruang lingkup Perjanjian Kerja Sama ini meliputi :

a. penyelenggaraan Komunikasi, Informasi dan Edukasi di bidang pangan olahan, obat tradisional dan kosmetik bagi UMKM serta masyarakat.

(16)

b. pendampingan UMKM pangan olahan, obat tradisional dan kosmetik dalam rangka peningkatan daya saing.

c. pengembangan jejaring usaha dalam rangka meningkatkan promosi/pemasaran produk UMKM.

d. pengembangan akses terhadap permodalan bagi UMKM.

e. pertukaran informasi terkait UMKM serta akses pemasaran produk domestik dan ekspor

Pasal 3

TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB

(1) PIHAK KESATU mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai berikut:

a. berkoordinasi dengan PIHAK KEDUA dalam menetapkan UMKM sebagai peserta Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE), bimbingan teknis dan/atau pendampingan di bidang pangan olahan, obat tradisional, dan kosmetik;

b. menyelenggarakan KIE, bimbingan teknis dan/atau pendampingan di bidang pangan olahan, obat tradisional, dan kosmetik;

c. menyediakan narasumber dan/atau menyiapkan materi KIE, bimbingan teknis, ToT, dan/atau pendampingan di bidang pangan olahan, obat tradisional dan kosmetik; dan

d. merekomendasikan UMKM yang dapat memperoleh fasilitas bantuan terkait promosi/pemasaran dan/atau akses permodalan.

(2) PIHAK KEDUA mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai berikut:

a. menyediakan informasi profil UMKM dan akses pemasaran produk domestik dan ekspor;

b. memberikan rekomendasi anggota KADIN Provinsi Nusa Tenggara Timur dan/atau UMKM yang akan diberikan KIE, bimbingan teknis, dan/atau pendampingan oleh PIHAK KESATU;

c. memberikan usulan peserta ToT dalam rangka pembentukan Fasilitator Keamanan Pangan, serta peserta bimbingan teknis dalam rangka pembentukan Duta Jamu Aman dan Duta Kosmetik Aman;

d. memberikan informasi hasil kegiatan oleh Fasilitator Keamanan Pangan, Duta Jamu Aman, dan Duta Kosmetik Aman;

(17)

e. melakukan fasilitasi UMKM dalam peningkatan jaringan dan/atau akses terhadap promosi/pemasaran, design kemasan produk, permodalan, dan lain-lain; dan

f. membantu pengembangan usaha melalui akses permodalan bagi UMKM terpilih.

Pasal 4 PELAKSANAAN

(1) Pelaksanaan Perjanjian Kerja Sama ini dapat menyertakan Kelompok Kerja yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Perjanjian Kerja Sama ini.

(2) Untuk melaksanakan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), PARA PIHAK menunjuk wakil-wakilnya sebagai Koordinator, yaitu:

a. PIHAK KESATU u.p : Alamat : Nomor Telepon :

Nomor Faximile: - E-mail : b. PIHAK KEDUA

u.p. : Alamat : Nomor Telepon : Nomor Faximile : E-mail :

Pasal 5 PEMBIAYAAN

Segala biaya yang timbul untuk pelaksanaan Perjanjian Kerja Sama ini menjadi tanggung jawab PARA PIHAK sesuai dengan tugas dan fungsi berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.

(18)

Pasal 6 JANGKA WAKTU

(1) Perjanjian Kerja Sama ini berlaku untuk jangka waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak ditandatangani oleh PARA PIHAK dan dapat diubah, diperpanjang, dan diakhiri berdasarkan kesepakatan PARA PIHAK.

(2) Dalam hal salah satu pihak berkeinginan mengubah, mengakhiri, atau memperpanjang Perjanjian Kerja Sama ini, sebelum jangka waktu sebagaimana ayat (1) maka pihak tersebut wajib memberitahukan secara tertulis kepada pihak lainnya paling lambat 3 (tiga) bulan sebelum tanggal berakhirnya Perjanjian Kerja Sama ini.

Pasal 7

PERBEDAAN PENAFSIRAN

Segala perbedaan penafsiran yang timbul sebagai akibat dari pelaksanaan Perjanjian Kerja Sama ini diselesaikan oleh PARA PIHAK secara musyawarah untuk mufakat.

Pasal 8

MONITORING DAN EVALUASI

PARA PIHAK sepakat untuk melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan kerja sama ini secara berkala paling sedikit dilakukan 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun.

Pasal 9

KEADAAN MEMAKSA (FORCE MAJEURE)

(1) Dalam hal salah satu pihak tidak dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawab berdasarkan Perjanjian Kerja Sama ini dikarenakan keadaan memaksa (force majeure) maka pihak yang mengalami force majeure harus memberitahukan secara tertulis disertai bukti-bukti yang sah kepada pihak lainnya paling lambat 7 (tujuh) hari kalender setelah hari pertama tertundanya pelaksanaan kewajiban.

(19)

(2) Keadaan memaksa (force majeure) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi bencana alam, perang, huru-hara, pemogokan, pemberontakan, sabotase, kebijakan pemerintah, dan/atau peristiwa lainnya yang mengakibatkan tidak dapat terlaksananya Kesepakatan Bersama ini.

(3) Akibat yang timbul karena kondisi keadaan memaksa (force majeure) dibebankan kepada PARA PIHAK yang mengalami kondisi tersebut.

(4) Keadaan memaksa (force majeure) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak menyebabkan Kesepakatan Bersama ini berakhir, kecuali ditentukan lain berdasarkan kesepakatan PARA PIHAK.

Pasal 10 PENUTUP

(1) Hal-hal yang belum diatur dalam Perjanjian Kerja Sama ini akan diatur dan ditetapkan kemudian berdasarkan kesepakatan PARA PIHAK dalam bentuk adendum yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Perjanjian Kerja Sama ini.

(2) Perjanjian Kerja Sama ini dibuat dalam rangkap 2 (dua) asli, masing – masing bermaterai cukup dan memiliki kekuatan hukum yang sama setelah ditandatangani PARA PIHAK.

PIHAK KEDUA PIHAK KESATU

Ir. Abraham Paul Liyanto Tamran Ismail, S.Si., MP

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian vitamin D terhadap kecepatan konversi sputum pada pasien TB paru beretnis

a) Aktivitas peneliti telah menunjukkan tingkat keberhasilan pada kriteria sangat baik. Oleh karena itu tidak diperlukan pengulangan siklus. b) Aktivitas siswa telah

Laporan sebagaimana dimaksud dalam huruf j beserta tanggapan para pihak/salah satu pihak disanpaikan kepada Panitia Daerah untuk perselisihan hubunglan industrial dan

Dari pengertian sistem dan prosedur dapat diambil kesimpulan bahwa suatu sistem terdiri dari jaringan prosedur, sedangkan prosedur merupakan urutan kegiatan

Setelah selesai penjelasan dokumen pengadaan, bila dianggap perlu dilanjutkan dengan peninjauan lokasi rencana pekerjaan/kegiatan, dan semua calon peserta pengadaan

[r]

[r]

Dalam penerapan model pendidikan karakter tidak dapat sepenuhnya berjalan dengan baik, terdapat berbagai hambatan seperti faktor pribadi siswa, budaya yang telah