• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROPOSAL SKRIPSI ANALISIS PERMAINAN TRADISIONAL PETAK UMPET SEBAGAI UPAYA PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER PADA SISWA SEKOLAH DASAR.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PROPOSAL SKRIPSI ANALISIS PERMAINAN TRADISIONAL PETAK UMPET SEBAGAI UPAYA PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER PADA SISWA SEKOLAH DASAR."

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

PROPOSAL SKRIPSI

ANALISIS PERMAINAN TRADISIONAL PETAK UMPET SEBAGAI UPAYA PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER PADA SISWA

SEKOLAH DASAR

Oleh

YANIKA SRIYAHANI NIM 201833015

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MURIA KUDUS 2021

(2)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Siapakah yang tidak mengenal permainan tradisional petak umpet?

Pasti sebagian besar orang pernah memainkannya. Permainan tersebut sangat populer dari generasi ke generasi. Namun, seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi, permainan yang sering dimainkan oleh anak-anak sekolah dasar mayoritas telah berubah drastis. Hal tersebut dapat kita lihat dari kenyataan yang telah terjadi, bahwa permainan tradisional yang dulu pernah eksis dan sering dimainkan oleh anak-anak, kini telah berganti menjadi permainan modern yang sebagian besar telah berubah menjadi permainan yang berbasis teknologi contohnya adalah game online, video game, dan lain sebagainya. Mengutip dari seorang peneliti mainan dan permainan tradisional Mohamad Zaini Alif mengatakan bahwa dari sekian banyaknya permainan berbasis teknologi yang popular dan sering digunakan tersebut tidak semuanya memberikan hal yang positif bila di mainkan secara terus menerus, karena faktanya memang permainan berbasis teknologi tujuan utamanya adalah sebuah kemenangan. Jika seorang pemain belum merasakan yang namanya kemenangan, atau dalam arti lain ia mengalami kegagalan, ia akan mencoba lagi dan lagi. Dari kejadian tersebut mengakibatkan pengguna harus mengeluarkan pundi-pundi rupiah yang banyak untuk mencapai kemenangan jika permainan modern itu berbayar.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa mengakses permainan modern sekarang sangat mudah ketika sudah memiliki handpone sendiri, tinggal menginstal aplikasi yang sudah tersedia di Play Store tidak usah pergi ke warnet atau tempat game, apalagi rata-rata siswa sekolah dasar sekarang sudah lincah memainkan layar gadget. Tetapi untuk bermain game online pastinya membutuhkan kouta internet supaya bisa dimainkan. Jika tidak memiliki kouta internet dan si anak telah kecanduan maka orangtua juga yang

(3)

mengalami kesusahan untuk membelikannya kouta internet, apalagi di musim pandemi seperti sekarang ini ekonomi kian menyusut dan sulit untuk mendapatkan pekerjaan. Memang tidak sepenuhnya beragaram jenis permainan modern memiliki dampak yang negatif, karena bermain menggunakan atau memanfaatkan teknologi yang ada dapat membuat seseorang meningkatkan keterampilannya, dapat berlatih memecahkan masalah dan berlatih menghadapi tantangan yang ada (Dampak Permainan Anak Modern). Akan tetapi yang menjadi permasalahan adalah ketika seseorang telah kecanduan dengan permainan modern yang bisa diakses kapan saja dan dimana saja, maka waktu yang ia punya akan terbuang sia-sia karena ia akan malas belajar dan tidak mau mengerjakan tugas yang diberikan oleh gurunya karena keasyikan bermain game sampai larut malam untuk mendapatkan sebuah kemenangan. Tentunya jika hal tersebut terus terjadi, maka akan berdampak pada kurangnya konsentrasi anak ketika proses pembelajaran berlangsung. Kebiasaan buruk menatap layar ponsel dengan jarak pandang yang terlalu dekat dalam kurun waktu terus menerus atau bisa dikatakan setiap hari juga tidak baik untuk kesehatan mata dan pastinya akan membuat prestasi anak di sekolah menurun (Riza, Permainan Modern VS Permainan Tradisional).

Permainan tradisional tentunya berbeda dengan permainan modern, sebab permainan tradisional memiliki berbagai jenis permainan yang mampu membentuk karakter positif pada diri anak ketika dimainkan (Akhmad Mukhlis dan Sadid Al Muqrim). Jika ditelaah lebih dalam lagi, banyak sekali nilai-nilai positif yang terkandung dalam permainan tradisional, akan tetapi permainan tradisional sekarang ini sangat susah dan jarang sekali dimainkan oleh anak-anak. Mungkin anak-anak beranggapan bahwa permainan tradisional merupakan permainan jadul dan tidak mengikuti trend. Seperti yang kita ketahui bahwa segala sesuatu di dunia ini pasti memiliki sisi positif dan sisi negatif. Sama halnya seperti permainan modern, permainan tradisional juga memiliki sisi negatif diantaranya adalah lupa waktu karena keasyikan bermain hingga mengabaikan perintah orangtua. Akan tetapi sisi positif yang terdapat

(4)

dalam permainan tradisional tidak sebanyak yang ada di permainan modern.

Menurut Siti Fathimah Azka menuturkan bahwa ketika anak bermain permainan tradisional dapat menanamkan sikap dan keterampilan seperti nilai kejujuran, kesetiakawanan, kerja sama, kebersamaan dan musyawarah (mufakat). Nilai-nilai tersebut secara tidak langsung akan menimbulkan interaksi sosial antar pemain. Hal tersebut tentunya berbeda dengan permainan modern yang tidak bisa melakukan interaksi sosial secara langsung, melainkan hanya melalui dunia maya. Interaksi sosial sangat penting dilakukan secara, karena melalui hal tersebut anak bisa belajar bagaimana caranya berkomunikasi dengan baik dan bagaimana caranya berdaptasi dengan lingkungan sekitar. Dengan bermain bersama dengan teman sebayanya secara langsung, anak akan belajar bagaimana caranya bersenda gurau, bagaimana caranya anak mengerti perasaan orang lain supaya tidak menjadikan dirinya sebagai makhluk hidup yang individualis. Oleh karena itu, permainan tradisional perlu di lestarikan kembali dan diperkenalkan kembali kepada anak- anak usia sekolah dasar supaya eksistensi permainan tradisional tetap terjaga di masa yang akan datang. Karena melestarikan permainan tradisional akan memperoleh banyak manfaat. Permainan tradisional juga dianggap sebagai aset budaya karena memberikan pengaruh yang begitu besar terhadap perkembangan jiwa, sifat dan kehidupan social anak, hal ini tentunya akan membuat karakter anak akan terbentuk secara alami dan karena permainan tradisional terdapat nilai-nilai pendidikan karakter yang dapat dijadikan bekal dan pedoman hidup anak di masa depan (Sukirman Dharmamulya).

Berdasarkan uraian di atas, permainan tradisional memiliki peran penting dalam membentuk pendidikan karakter anak usia sekolah dasar. Dari sekian banyaknya permainan tradisional yang ada, permainan tradisional petak umpet merupakan jenis permainan tradisional yang masih dimainkan oleh siswa SD Negeri Sitimulyo 01, Kecamatan Pucakwangi, Kabupaten Pati.

Ketika melakukan pengamatan, peneliti melihat anak-anak SD sangat menikmati permainan tradisional petak umpet. Hasil pengamatan yang telah diamati peneliti menunjukkan bahwa permainan tradisional petak umpet

(5)

tersebut secara tidak langsung membentuk pendidikan karakter karena di dalamnya ada kekompakan serta kesetiakawanan dan pastinya masih ada nilai- nilai pendidikan karakter lainnya yang terdapat di dalamnya. Hal tersebutlah yang membuat peneliti tertarik untuk melakukan penelitian nilai-nilai pendidikan karakter apa saja yang ada di dalam permainan petak umpet.

Pendidikan karakter dapat di ajarkan di sekolah, di rumah ataupun di lingkungan sekitar. Tanpa kita sadari di dalam permainan tradisional juga terdapat pendidikan karakter, karena pendidikan karakter sangat penting diterapkan mulai dari usia sekolah dasar. Meskipun membentuk karakter itu sulit, tidak dapat langsung dirasakan sesaat setelah pendidikan tersebut diberikan. Pendidikan membangun karakter merupakan proses panjang yang harus dimulai sejak dini pada anak-anak dan baru akan dirasakan setelah anak- anak tersebut tumbuh menjadi dewasa. Sebagai orangtua ataupun pendidik maka perlu untuk menuntun anak untuk senantiasa memiliki nilai-nilai pendidikan karakter. Oleh karena itu, melalui permainan tradisional petak umpet diharapkan dapat memberikan penguatan pendidikan karakter siswa supaya menjadi pribadi yang lebih baik lagi pada diri sendiri maupun pada teman sebaya.

Meskipun telah ada penelitian yang berhubungan dengan penelitian ini antara lain oleh

1. Wardatun Nafisah (2016) dari Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang dengan judul Pengaruh Permainan Tradisional Petak Umpet dan Lompat Tali Terhadap Pembentukan Karakter Demokratis dan Disiplin Pada Anak Usia Sekolah Dasar di SDN Pakukerto 1 Sukorejo Kabupaten Pasuruan. Jenis pendekatan dan penelitiannya adalah menggunakan pendekatan kuantitatif dan berjenis korelasional untuk menentukan hubungan variable. Hasil penelitiannya adalah karakter demokratis siswa SDN Pakukerto 1 Sukorejo Kabupaten Pasuruan

(6)

berada pada kategori sedang di mana jumlah responden 30 siswa dari 46 siswa dengan prosentase 63%. Sedangkan untuk karakter disiplin sebanyak 35 siswa dari 46 siswa dengan prosentase 76%. Permainan tradisional lompat tali dan petak umpet telah memberikan kontribusi dalam mempengaruhi karakter demokratis sebanyak 10,7% dan 9,6% dalam mempengaruhi karakter disiplin. Dari hasil analisis data penelitian yang telah dilakukan terdapat pengaruh yang signifikan hal ini ditunjukkan dengan koefisien regresi sebesar 2, 301 dengan signifikansi p = 0,026 < 0,05 untuk permainan tradisional petak umpet dan lompat tali terhadap karakter demokratis dan 2,161 dengan signifikasi p = 0,036 < 0,05 untuk permainan tradisional petak umpet dan lompat tali terhadap karakter disiplin.

2. Ernina Lusiana (2012) dari Universitas Negeri Semarang dengan judul Membangun Karakter Kejujuran Melalui Permainan Tradisional Jawa Pada Anak Usia Dini di Kota Pati. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif eksperimental. Hasil penelitiannya dapat disimpulkan bahwa rata-rata hasil test membangun karakter kejujuran pada kelompok kontrol adalah nilai thitung sebesar 1,852 < ttabel sebesar 2,120. Hal tersebut menunjukkan HO

diterima dan Ha ditolak. Dari data tersebut menunjukkan perubahan yang tidak signifikan yaitu tidak ada perbedaan karakter kejujuran saat pretest dan posttest pada kelompok kontrol. Sedangkan kelompok eksperimen adalah nilai thitung sebesar 10,985 < ttabel sebesar 2, 120. Hal tersebut menunjukkan bahwa HO ditolak dan Ha diterima. Maka dapat disimpulkan bahwa data tersebut menunjukkan perubahan yang signifikan karena adanya perbedaan karakter kejujuran saat pretes dan posttes pada kelompok

(7)

eksperimen sehingga dapat dikatakan bahwa permainan tradisional Jawa dalam penelitiannya efektif digunakan untuk membangun karakter kejujuran pada anak usia dini.

Tetapi penelitian ini berbeda yaitu membahas tentang nilai-nilai pendidikan karakter apa saja yang terdapat dalam permainan tradisional petak umpet. Oleh karena itu penulis ingin menghasilkan sebuah penelitian yang baru bahwa permainan tradisional khususnya petak umpet di dalamnya terdapat nilai-nilai pendidikan karakter yang bisa di berikan kepada siswa sekolah dasar SD Negeri Sitimulyo 01.

Peneliti tertarik untuk meneliti analisis permainan tradisional petak umpet sebagai upaya penguatan pendidikan karakter pada siswa sekolah dasar karena menurut peneliti masalah yang diangkat tersebut menarik untuk diteliti dan bisa di teliti dalam kondisi daring maupun non-daring, selain itu objek penelitian juga sangat mendukung untuk diteliti dilengkapi juga dengan adanya fasilitas-fasilitas yang tersedia dan mendukung pelaksanaan penelitian. Melihat dari analisis permasalahan di atas, maka peneliti mengangkat judul “Analisis Permainan tradisional Petak Umpet Sebagai Upaya Penguatan Pendidikan Karakter Pada Siswa Sekolah Dasar SD Negeri Sitimulyo 01 Kecamatan Pucakwangi Kabupaten Pati”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalahnya adalah sebagai berikut.

1. Nilai-nilai apa saja yang ada pada permainan tradisional petak umpet ? 2. Bagaimana dampak permainan tradisional petak umpet terhadap penguatan

pendidikan karakter siswa SD Negeri Sitimulyo 01 Kecamatan Pucakwangi Kabupaten Pati ?

(8)

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk.

1. Mengetahui nilai-nilai apa saja yang ada pada permainan tradisional petak umpet

2. Mengetahui dampak permainan tradisional petak umpet terhadap penguatan pendidikan karakter siswa SD Negeri Sitimulyo 01 Kecamatan Pucakwangi Kabupaten Pati.

1.4 Manfaat Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian di atas, maka dapat diperoleh manfaat penelitian.

Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut.

1.4.1 Manfaat teoritis

Memberi masukan dalam meningkatkan upaya penguatan pendidikan karakter.

1.4.2 Manfaat praktis 1.4.2.1 Bagi Anak

Permainan tradisional petak umpet diharapkan mampu untuk memberikan penguatan pendidikan karakter pada anak sekolah dasar.

1.4.2.2 Bagi Peneliti

Untuk menambah wawasan dan pengetahuan yang diperoleh selama duduk di bangku perkuliahan dan dapat menerapkannya di kehidupan nyata yang dihadapi dalam dunia pendidikan, serta memberikan dapat solusi yang tepat.

1.4.2.3 Bagi Sekolah

Dengan adanya hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman kepada pihak sekolah, bahwa permainan tradisional petak umpet juga bisa digunakan sebagai bahan media atau model

(9)

pembelajaran dalam penguatan pendidikan karakter kepada siswa sekolah dasar.

1.4.2.4 Bagi Fakultas

Dapat digunakan sebagai bahan referensi atau pengembangan pengetahuan serta bahan perbandingan bagi pembaca yang ingin melakukan penelitian, khususnya penelitian yang mengarah tentang permainan tradisional petak umpet sebagai upaya penguatan pendidikan karakter pada siswa sekolah dasar.

(10)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Deskripsi Konseptual

Pada bab ini mengkaji teori atau menjelaskan secara lebih rinci tentang apa yang berkaitan dengan penelitian, meliputi : (1) Pengertian permainan tradisional;

(2) Permainan tradisional petak umpet; (3) Nilai-nilai yang ada pada permainan tradisional petak umpet;

2.1.1 Pengertian Permainan Tradisional

Kata “permainan” sendiri berasal dari kata dasar “main” yang berarti melakukan suatu perbuatan untuk bersenang-senang (Purwaningsih, 2006).

Sedangkan menurut Battelheim dalam Hurlock (1978: 322), Permainan dan olahraga itu saling berkaitan dimana olahraga merupakan permainan bagi anak kecil karena kemenangannya tidak untuk diperhitungkan, tetapi tujuannya hanya untuk kesenangan.

Istilah tradisional dari kata tradisi. Menrurut buku kamus besar bahasa Indonesia tersebut, arti tradisi adalah adat kebiasaan yang turun-temurun dan masih dijalankan di masyarakat; atau penilaian/ anggapan bahwa cara-cara yang telah ada merupakan cara yang paling baik. Adat adalah aturan berupa perbuatan dan sebagainya yang lazim diturut atau dilakukan sejak dahulu kala. Kebiasaan adalah sesuatu yang bisa dilakukan. Namun adat berarti pula wujud gagasan kebudayaan yang terdiri atas nilai-nilai budaya, norma, hukuman dan aturan- aturan yang satu dengan lainnya berkaitan menjadi satu sistem. Sedang tradisional mempunyai arti sikap dan cara berfikir serta bertindak yang selalu berpegang teguh pada norma dan adat kebiasaan yang ada secara turun menurun.

Namun tradisional mempunyai arti pula menurut tradisi. Maka permainan tradisional mempunyai makna sesuatu (permainan) yang dilakukan dengan berpegang teguh pada norma dan adat kebiasaan yang ada secara turun-menurun dan dapat memberikan rasa puas atau senang bagi si pelaku (Direktorat Permuseuman, 1998: 1).

(11)

Permainan tradisional anak-anak di Jawa misalnya, dikatakan mengandung nilai-nilai budaya tertentu serta mempunyai fungsi melatih pemainnya melakukan hal-hal yang akan penting nantinya bagi kehidupan mereka di tengah masyarakat, seperti misalnya melatih cakap hitung menghitung, melatih kecakapan berfikir, melatih bandel (tidak cengeng), melatih keberanian, melatih bersikap jujur dan sportif dan sebagainya (Tashadi, 1993: 57-59) dalam Dharmamulya (2008: 27).

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa permainan tradisional adalah permainan yang sudah ada sejak zaman dahulu yang diwariskan secara turun menurun dari generasi ke generasi kepada masyarakat dan biasanya terdapat di pedesaan. Permainan tradisional bisa dimainkan dengan menggunakan alat dan ada yang tidak menggunakan alat, biasanya permainan tradisional ini membutuhkan tempat yang luas untuk bermain.

2.1.2 Permainan Tradisional Petak Umpet

Permainan tradisional petak umpet merupakan salah satu jenis permainan yang aktif dan populer di Indonesia. Permainan ini seringkali dimainkan oleh anak-anak dari berbagai penjuru nusantara sehingga nama permainan petak umpet berbeda di setiap daerah. Anak-anak di daerah Sitimulyo Pucakwangi Pati, biasa menyebut permainan petak umpet dengan sebutan dolanan dhelikan.

Dolanan dhelikan bisa dimainkan minimal dua orang, tetapi jika permainan ini dilakukan lebih dari dua pemain maka permainan akan terasa lebih menyenangkan. Permainan tradisional petak umpet sangat digemari karena sangat menyenangkan dan banyak manfaatnya selain itu memainkannya tidak memerlukan alat melainkan hanya dengan memanfaatkan pemain yang banyak dan lingkungan sekitar untuk bermain.

Anak-anak yang telah berkumpul untuk memainkan dhelikan biasanya setelah berkumpul, membuat dan harus menyepakati beberapa peraturan sederhana yang telah di tentukan, misalnya, pembatasan wilayah ketika bermain, tidak diperkenankan bersembunyi di dalam rumah (jika bermain di luar rumah), harus melihat sungguh-sungguh dan harus menyebut nama pemain (dor...nama)

(12)

yang ditunjuk, waktu menutup mata tidak boleh melirik melalui sela-sela lengan tengan, harus urut ketika berhitung, tidak boleh terus-menerus menjaga pangkalan (jogo benteng), dan sebagainya. Jika mereka sudah membuat peraturan sederhana dan telah menyepakati bersama, setelah itu mereka memilih sebuah pangkalan untuk dijadikan pusat dhelikan, misalnya tiang rumah, pohon, tembok gapura, atau lain sebagainya.

Sebelum memulai dhelikan semua pemain wajib melakukan hompimpa dan suit untuk menentukan pihak mana yang kalah dan wajib menjadi penjaga.

Penjaga wajib menutup mata pada pos atau benteng yang telah ditentukan selanjutnya menjaga menghitung sesuai kesepakatan yang telah disepakati hitungan tersebut merupakan kesempatan para pemain untuk menentukan lokasi bersembunyi setelah hitungan berakhir penjaga berkeliling untuk mencari pemain yang bersembunyi sambil menjaga agar benteng atau posnya tidak disentuh oleh pemain, pemain yang pertama kali ditemukan dengan kalimat

"dhor (Nama) misalnya "dhor Nina". Pemain yang pertama kali ditemukan oleh penjaga merupakan calon penjaga selanjutnya dengan catatan semua pemain yang bersembunyi harus ditemukan oleh penjaga

Seorang anak menjadi “penjaga”, yaitu orang yang bertugas menutup mata dan menghitung sebanyak kesepakatan. Selesai menghitung, penjaga boleh membuka mata dan mencari teman-temannya yang bersembunyi. Misalnya bila waktu sudah habis ternyata belum bisa menemukan juga, maka penjaga akan kalah dan bertugas menjaga kembali. Pelajaran moral yang dapat diambil melalui permainan jenis ini: disiplin, menghormati orang lain, keadilan. Dalam permainan petak umpet ini juga mengandung nilai kejujuran, dimana anak pada saat berjaga tidak boleh mengintip dan harus benar-benar menutup matanya.

Menurut Misbach (2006), permainan tradisional Petak Umpet yang ada di Nusantara ini dapat menstimulasi berbgai aspek perkembangan anak, seperti : 1) Aspek motorik: melatih daya tahan, daya lentur, sensorimotorik, motorik kasar,

motorik halus.

(13)

2) Aspek kognitif: mengembangkan imajinasi, kreativitas, problem solving, strategi, antisipatif, pemahaman kontekstual.

3) Aspek emosi : mengasah empati, pengendalian diri.

4) Aspek bahasa: pemahaman konsep-konsep nilai.

5) Aspek sosial: menjalin relasi, kerjasama, melatih kematangan social dengan teman sebaya dan meletakkan pondasi untuk melatih keterampilan sosialisasi berlatih peran dengan orang yang lebih dewasa/masyarakat.

6) Aspek spiritual: menyadari keterhubungan dengan sesuatu yang bersifat agung (transcendental).

7) Aspek ekologis: memahami pemanfaatan elemen-elemen alam sekitar secara bijaksana.

8) Aspek nilai-nilai moral: menghayati nilai-nilai moral yang diwariskan dari generasi terdahulu kepada generasi selanjutnya.

Jika digali lebih dalam, ternyata makna di balik nilai-nilai permainan tradisional mengandung pesan-pesan moral dengan muatan kearifan local (local wisdom) yang luhur.

Pastinya permainan petak umpet mempunyai nilai-nilai yang terkandung di dalamnya misalnya ketika menentukan pos jaga hal yang dilakukan adalah bermusyawarah sedangkan dalam mencari tempat persembunyiannya pemain harus pintar dan cekatan kesabaran merupakan hal penting dalam permainan ini karena penjaga harus bersabar dalam mencari pemain yang bersembunyi sedangkan para pemain juga harus bersabar dan berani mereka harus mengetahui waktu yang aman dan tepat untuk keluar dari tempat persembunyiannya, selain itu pemain harus memiliki rasa setia kawan melalui permainan ini anak belajar untuk memahami dan mentaati peraturan peraturan sederhana yang telah ditentukan mereka akan menikmati permainan bersama mereka juga belajar mengantisipasi apa yang akan dilakukan orang lain selanjutnya dalam permainan ini, ketika memainkan dolanan dhelikan kesenangannya terletak pada saat memainkannya bukan pada memenangkannya, selain itu anak-anak juga akan memperoleh nilai lebih ketika bermain petak umpet antara lain mengarang sudut-sudut rumah mengenal lingkungan sekitar mengajarkan anak untuk

(14)

membuat keputusan (akan mencari tempat persembunyiannya dimana) melatih ketangkasan dan kecermatan anak dalam mencari sesuatu.

2.1.3 Nilai-Nilai yang Ada Pada Permainan Tradisional Petak Umpet Ada beberapa nilai yang bisa didapat dari permainan tradisional.

Menurut Dharmamulya dalam Purwaningsih (2006) terdapat unsur-unsur nilai budaya yang terkandung di dalam permainan tradisional yaitu sebagai berikut.

1) Nilai kesenangan dan kegembiraan, dunia anak adalah dunia bermain dan anak-anak akan merasakan kesenangan apabila diajak bermain. Rasa senang yang ada pada anak mewujudkan pula suatu fase menuju pada kemajuan.

2) Nilai kebebasan, seseorang yang mempunyai kesempatan untuk bermain tentunya merasa bebas dari tekanan yang ia rasakan, sehingga ia akan merasa senang dan gembira ketika bermain.

3) Rasa berteman, seorang anak yang mempunyai banyak teman untuk bermain tentunya akan merasa senang, bebas, tidak bosan dan dapat saling bertukar pikiran dengan teman sebayanya. Selain itu, dengan mempunyai teman berarti anak akan belajar untuk saling mengerti dan memahami karakter teman-temannya, menghargai teman dan belajar untuk bersosialisasi.

4) Nilai demokrasi, artinya di dalam suatu permainan setiap pemain mempunyai kedudukan yang sama, tidak memandang apakah kulitnya putih atau hitam, tidak memandang anak orang kaya atau anak orang miskin, tidak memandang tinggi atau pendek, tidak memandang anak pandai atau bodoh.

5) Rasa tanggung jawab, dalam permainan yang bertujuan memperoleh kemenangan, biasanya pelaku memiliki tanggung jawab penuh, sebab mereka akan berusaha memperoleh kemenangan.

6) Nilai kebersamaan dan saling membantu, dalam permainan harus dimainkan lebih dari satu pemain, pemain yang banyak inilah yang dinamakan kebersamaan, karena jika bermain dan banyak pemainnya maka permainnanya akan semakin menyenangkan.

(15)

7) Nilai kepatuhan, dalam setiap permainan tentunya ada syarat atau peraturan sederhana di mana peraturan itu ada yang umum atau yang disepakati bersama. Setiap pemain harus mematuhi peraturan yang telah di sepakati bersama.

8) Melatih cakap dalam berhitung, yaitu pada permainan dhelikan. Setiap pemain harus cakap menghitung.

9) Melatih kecakapan berpikir, seperti dalam permainan dhelikan, penjaga secara terus menerus dilatih untuk berpikir, gerak langkah mencari pemain dan harus menjaga benteng supaya tidak disentuh pemain untuk mendapatkan suatu kemenangan maka penjaga harus cermat dan jeli.

10) Nilai kejujuran dan sportivitas, dalam bermain dhelikan dituntut kejujuran dan sportivitas. Pemain yang tidak jujur akan mendapatkan hukuman, seperti dicaci teman-temannya, atau mendapat hukuman kekalahan untuk berjaga kembali.

2.2 Kajian Penelitian Relevan

1. Wardatun Nafisah (2016) dari Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang dengan judul “Pengaruh Permainan Tradisional Petak Umpet dan Lompat Tali Terhadap Pembentukan Karakter Demokratis dan Disiplin Pada Anak Usia Sekolah Dasar di SDN Pakukerto 1 Sukorejo Kabupaten Pasuruan”. Jenis pendekatan dan penelitiannya adalah menggunakan pendekatan kuantitatif dan berjenis korelasional untuk menentukan hubungan variable. Hasil penelitiannya adalah karakter demokratis siswa SDN Pakukerto 1 Sukorejo Kabupaten Pasuruan berada pada kategori sedang di mana jumlah responden 30 siswa dari 46 siswa dengan prosentase 63%. Sedangkan untuk karakter disiplin sebanyak 35 siswa dari 46 siswa dengan prosentase 76%. Permainan tradisional lompat tali dan petak umpet telah memberikan kontribusi dalam mempengaruhi karakter demokratis sebanyak 10,7% dan 9,6% dalam mempengaruhi karakter disiplin. Dari hasil analisis data penelitian yang telah dilakukan terdapat pengaruh yang signifikan hal ini ditunjukkan dengan koefisien regresi sebesar 2, 301 dengan signifikansi p = 0,026 < 0,05 untuk permainan

(16)

tradisional petak umpet dan lompat tali terhadap karakter demokratis dan 2,161 dengan signifikasi p = 0,036 < 0,05 untuk permainan tradisional petak umpet dan lompat tali terhadap karakter disiplin.

2. Ernina Lusiana (2012) dari Universitas Negeri Semarang dengan judul

“Membangun Karakter Kejujuran Melalui Permainan Tradisional Jawa Pada Anak Usia Dini di Kota Pati”. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif eksperimental. Hasil penelitiannya dapat disimpulkan bahwa rata-rata hasil test membangun karakter kejujuran pada kelompok kontrol adalah nilai thitung sebesar 1,852 < ttabel sebesar 2,120. Hal tersebut menunjukkan HO diterima dan Ha ditolak. Dari data tersebut menunjukkan perubahan yang tidak signifikan yaitu tidak ada perbedaan karakter kejujuran saat pretest dan posttest pada kelompok kontrol. Sedangkan kelompok eksperimen adalah nilai thitung sebesar 10,985 < ttabel sebesar 2, 120. Hal tersebut menunjukkan bahwa HO ditolak dan Ha diterima. Maka dapat disimpulkan bahwa data tersebut menunjukkan perubahan yang signifikan karena adanya perbedaan karakter kejujuran saat pretes dan posttes pada kelompok eksperimen sehingga dapat dikatakan bahwa permainan tradisional Jawa dalam penelitiannya efektif digunakan untuk membangun karakter kejujuran pada anak usia dini

2.3 Kerangka Berpikir

Kerangka berpikir merupakan bagan atau alur berpikir yang menjadi dasar dari sebuah penelitian. Kerangka berpikir digunakan untuk memahami alur pemikiran dan memberikan arahan bagi pembaca dalam terlaksananya penelitian.

Membangun karakter bukanlah merupakan suatu yang instant dan tidak dapat langsung dirasakan sesaat setelah pendidikan tersebut diberikan. Pendidikan membangun karakter merupakan proses panjang yang harus dimulai sejak dini diajarkan pada anak-anak dan baru akan dirasakan setelah anak-anak tersebut tumbuh menjadi dewasa. Permainan tradisional dhelikan merupakan unsur-unsur kebudayaan yang tidak dapat dianggap remeh, karena permainan ini memberikan pengaruh yang tidak kecil terhadap perkembangan kejiwaan, sifat, dan kehidupan

(17)

social anak di kemudian hari. Selain itu, permainan anak-anak ini juga dianggap sebagai salah satu unsur kebudayaan yang memberi ciri atau warna khas tertentu pada suatu kebudayaan yang dimiliki disetiap daerah. Oleh karena itu permainan tradisional anak-anak juga dapat dianggap sebagai aset budaya yang harus dilestarikan keberadaannya, sebagai modal bagi suatu masyarakat untuk mempertahankan keberadaannya dan identitasnya di tangah kumpulan masyarakat yang lain (Sukirman, 2004). Menurut Purwaningsih (2006) permainan tradisional mengandung unsur-unsur nilai budaya. Menurut Dharmamulya (2008), unsur-unsur nilai budaya yang terkandung dalam permainan tradisional adalah nilai kesenangan atau kegembiraan, nilai kebebasan, rasa berteman, nilai demokrasi, nilai kepemimpinan, rasa tanggung jawab, nilai kebersamaan, nilai kepatuhan, melatih cakap dalam berhitung, melatih kecakapan berpikir, nilai kejujuran dan sportivitas.

Anak Bosan di Rumah

Mencari teman untuk bermain bersana

Bermain Permainan Tradisional Petak

Umpet

Kesehatan Jasmani dan Perasaan Bahagia

Nilai-Nilai Pendidikan Karakter

(18)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Tempat & Waktu Penelitian

3.1.1 Tempat Penelitian

Penelitian ini di adakan di halaman rumah warga desa Sitimulyo Kecamatan Pucakwangi Kabupaten Pati.

3.1.2 Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan ketika siswa sekolah dasar bersama dengan teman sebaya nya memainkan permainan tradisional dhelikan.

3.2 Pendekatan & Jenis Pendekatan

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif karena data yang disajikan berupa kata-kata. Selanjutnya, apabila dilihat dari permasalahan yang diteliti maka penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif merupakan penelitian pengumpulan data untuk mengetes pertanyaan penelitian atau hipotesis yang berkaitan dengan keadaan dan kejadian sekarang, melaporkan keadaan objek atau subjek yang teliti sesuai dengan apa adanya (Sukardi, 2003:

157).

Penelitian deskriptif adalah penelitian yang bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan suatu keadaan, peristiwa, objek, apakah orang atau segala sesuatu yang terkait dengan variabel-variabel yang dijelaskan baik dengan angka- angka maupun kata-kata (Punaji Setyosari, 2010: 33). Penelitian ini untuk mendeskripsikan suatu keadaan, melukiskan dan menggambarkan nilai-nilai pendidikan karakter apa saja yang terdapat di dalam permainan tradisional petak umpet. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang disajikan secara deskriptif. Oleh karena itu, penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif.

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah suatu penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, sikap, kepercayaan, persepsi, pemikiran orang secara individual maupun kelompok (Sukmadinata, 2007: 60). Penelitian ini bermaksud mengungkap nilai-nilai pendidikan karakter apa saja yang terdapat di dalam permainan

(19)

tradisional petak umpet. Penelitian kualitatif dianggap tepat karena penelitian ini memberikan gambaran nyata tentang penelitian yang akan dilakukan.

3.3 Peranan Peneliti

Kehadiran peneliti dilapangan merupakan suatu keharusan karena dalam penelitian kualitatif peneliti merupakan instrumen penelitian yang utama. Untuk itu peneliti harus hadir sendiri di lapangan untuk mengumpulkan data yang diperlukan dalam situasi yang sesungguhnya. Kecuali itu, peneliti harus sadar bahwa dirinya merupakan perencana, pelaksana pengumpulan data, dan sekaligus menjadi pelapor dari hasil penelitian (Moloeng 2007: 98).

Spradley (dalam Harsono, 2008: 158) menyatakan kedudukan peneliti adalah sebagai instrumen penelitian dan siswa. Kedudukan peneliti dalam penelitian ini sebagai instrumen penelitian dimaksudkan sebagai alat pengumpul data.

3.4 Data dan Sumber Data

Data adalah tulisan-tulisan atau catatan-catatan yang sifatnya penting mengenai segala sesuatu yang didengar, dilihat, dialami dan bahkan yang dipikirkan oleh peneliti selama kegiatan pengumpulan data dan merefleksikan kegiatan tersebut ke dalam naratif. Menurut Lofland, sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain (Moleong, 2007: 157).

Menurut Spradley (dalam Harsono, 2008: 160), sumber data dalam penelitian berupa kata dan tindakan orang yang diamati atau yang diwawancarai, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan foto.

3.5 Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Tanpa mengetahui metode pengumpulan data maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data yang ditetapkan (Sugiyono, 2009: 137). Metode yang

(20)

digunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi.

1. Wawancara

Wawancara adalah percakapan antara dua orang atau lebih dengan maksud tertentu.

Percakapan dilakukan oleh dua pihak yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu (Moleong, 2007: 186). Penggunaan wawancara dengan mengajukan pertanyaan- pertanyaan terbuka yang memungkinkan narasumber memberikan jawaban secara luas.

2. Observasi

Observasi langsung sering juga disebut obeservasi partisipatif. Peneliti berperan aktif dalam lokasi studi, sehingga bnar-benar terlibat dalam kegiatan yang ditelitinya (Harsono, 2008: 165). Peneliti mengamati secara langsung, baik secara formal maupun informal. Observasi dilakukan untuk memperoleh gambaran data mengenai kodisi fisik siswa, dan alat pendukung lainnya.

Kegiatan pengamatan dilakukan dengan tiga tahap yaitu (a) pengamatan deskriptif;

pengamatan untuk mengeksplorasi data secara umum; (b) pengamatan terfokus;

pengamatan untuk menunjang analisis; (c) pengamatan terseleksi; pengamatan untuk menunjang komponen. Peneliti mengambil beberapa kegiatan yang secara detail sehingga kegiatan tersebut patut dijadikan contoh.

3. Dokumentasi

Dokumentasi adalah laporan tertulis dari suatu peristiwa yang isinya terdiri atas penjelasan dan pemikiran terhadap peristiwa itu dan ditulis dengan sengaja untuk menyimpan atau merumuskan keterangan-keterangan mengenai peristiwa yang telah diperoleh tersebut. dokumentasi adalah teknik pengumpulan data dengan menghimpun dan menganalisis dokumen-dokumen tertulis, gambar maupun elektronik (Sukmadinata, 2007: 221). Metode dokumentasi dipakai untuk mengumpulkan data dari sumber-sumber dokumen yang mungkin mendukung atau

(21)

bahkan berlawanan dengan hasil wawancara (Harsono, 2008: 165). Dokumen tersebut meliputi foto anak anak ketika bermain dhelikan.

3.6 Keabsahan Data

Pengujian keabsahan data menggunakan empat kriteria sebagaimana yang dikemukakan oleh Sugiyono (2009: 269-277), yaitu kepercayaan (credibility), Keteralihan (transferability), Kebergantungan (dependability), dan Kepastian/dapat dikonfirmasi (confirmability)

3.6.1 Kredibilitas

Penetapan kriteria derajat kredibilitas pada dasarnya validitas internal pada penelitian kualitatif. Kriteria ini berfungsi melaksanakan penelitian sedemikian rupa sehingga tingat kepercayaan penemuannya dapat dicapai dan mempertunjukkan derajat kepercayaan hasil penemuan dengan jalan pembuktian oleh peneliti pada kenyataan yang diteliti. Untuk memperoleh data yang sahih dalam penelitian ini, peneliti melakukan perpanjangan pengamatan, peningkatan ketekunan dalam penelitian, analisis kasus, menggunakan bahan referensi dan pengecekan data yang diperoleh peneliti kapada pemberi data (Sugiyono, 2009:

270).

3.6.2 Transferabilitas

Keteralihan (transferability), pada dasarnya merupakan validitas eksternal pada penelitian kualitatif. Dapat terpenuhi dengan memberikan deskripsi secara rinci dan mendalam tentang hasil dan konteks penelitian. Keteralihan bergantung pada kesamaan konsep antar konteks pengirim dan penerima. Tujuan dari keteralihan ini agar orang lain dapat memahami hasil penelitian yang telah dilakukan, maka peneliti dalam membuat laporannya harus memberikan uraian yang lebih rinci, jelas, sistematis, dan dapat dipercaya (Sugiyono, 2009: 276).

3.6.3 Dependabilitas

Dependabilitas dalam penelitian kualitatif disebut reliabilitas. Suatu penelitian dikatakan dependabilitas apabila orang lain dapat mengulangi atau mereplikasi proses penelitian tersebut. Dalam penelitian kualitatif, uji dependabilitas dilakukan

(22)

dengan cara melakukan audit terhadap keseluruhan proses penelitian. Caranya dilakukan oleh auditor yang independen atau pembimbing untuk mengaudit keseluruhan aktivitas peneliti dalam melakukan penelitian (Sugiyono, 2009: 277).

3.6.4 Konfirmabilitas

Pengujian konfirmabilitas dalam penelitian kualitatif disebut dengan uji obyektifitas penelitian. Penelitian dikatakan obyektif apabila hasil penelitian disepakati oleh banyak orang. Dalam penelitian kulitatif, uji konfirmabilitas mirip dengan uji dependabilitas, sehingga pengujiannya dapat dilakukan secara bersamaan. Uji konfirmabilitas adalah menguji hasil penelitian yang dikaitkan dengan proses yang dilakukan. Apabila hasil penelitian yang dilakukan merupakan fungsi dan proses penelitian yang dilakukan, maka penelitian tersebut telah memenuhi standar konfirmabilitas. Uji kepastian dapat diperoleh dengan cara mencari persetujuan beberapa orang termasuk dosen pembimbing terhadap pandangan, pendapat tentang hal-hal yang berhubungan dengan fokus penelitian, dalam hal ini adalah data-data yang diperlukan (Sugiyono, 2009: 277).

Dalam penelitian ini keabsahan data dilakukan dengan menggunakan analisis kasus. Analisis kasus yaitu proses pencarian pengetahuan yang tujuannya untuk menyelidiki serta meneliti fenomena-fenomena kasus yang terjadi di kehiudpan nyata. Penelitian mencari sebuah topik penelitian, topik tersebut akan dicari jawaban maupun solusinya untuk menyelesaikan kasus yang ada dalam penelitian kualitatif. Hal tersebut dapat dicapai dengan jalan antara lain:

1. Menganalisis data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara.

2. Menganalisis apa yang dikatakan orang tentang situasi saat penelitian dengan apa yang dilihat sepanjang waktu.

3. Menganalisis hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.

3.7 Analisis Data

Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan sejak sebelum memasuki lapangan, selama memasuki lapangan, dan setelah selesai dari lapangan. Untuk menyajikan data agar mudah dipahami, maka langkah-langkah analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analysis interactive model dari Miles dan

(23)

Huberman (dalam Sugiyono, 2009: 247-252), yang membagi langkah-langkah dalam kegiatan analisis data dengan beberapa bagian yaitu pengumpulan data (data collection), reduksi data (data reduction), penyajian data (data display), dan penarikan kesimpulan atau verifikasi (conclusions).

1. Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam penelitian kualitatif bersifat interaktif, berlangsung dalam lingkaran yang saling tumpang tindih (Sukmadinata, 2007:

114). Lebih lanjut Sukmadinata (2007: 147) menyatakan bahwa peneliti mengumpulkan data yang berkenaan dengan pelaksanaan kegiatan yang menjadi fokus masalah. Dalam penelitian ini data yang dikumpulkan antara lain hasil wawancara dan dokumentasi.

2. Reduksi Data

Reduksi data adalah merangkum, memilih hal-hal pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya serta membuang yang tidak perlu. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang jelas dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya (Sugiyono, 2009: 247).

Reduksi data merupakan suatu bentuk analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu dan mengorganisasikan data sedemikian rupa sehingga dapat ditarik suatu kesimpulan akhir atau verifikasi. Reduksi data ini berlangsung secara terus menerus selama penelitian berlangsung. Setelah pengumpulan data selesai dilakukan, semua catatan dibaca, dipahami dan dibuat ringkasan kontak yang berisi uraian hasil penelitian terhadap catatan lapangan, pemfokusan dan penjawaban terhadap masalah yang diteliti.

Dalam reduksi data peneliti berusaha untuk merangkum data-data yang telah diperoleh dari wawancara, observasi dan dokumentasi. Karena dari data tersebut akan memberikan gambaran yang lebih jelas dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya dan mencarinya bila diperlukan.

(24)

3. Penyajian Data

Penyajian data/display data dimaksudkan untuk menemukan pola-pola yang bermakna serta memberikan kemungkinan adanya penarikan simpulan serta memberikan tindakan. Penyajian data dalam penelitian ini juga dimaksudkan untuk menemukan suatu makna dari data-data yang telah diperoleh, kemudian disusun secara sistematis, dari bentuk informasi yang kompleks menjadi sederhana namun selektif. Data yang diperoleh dari penelitian kualitatif dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori flowchart dan sejenisnya. Yang paling sering menyajikan data dalam penelitian kualitatif adalah teks yang bersifat naratif (Sugiyono, 2009: 249). Dalam penyajian data dibuat dalam bentuk narasi dari data-data yang telah diperoleh sebelumnya, sebagai contoh hasil wawancara dengan orangtua siswa disajikan dalam bentuk narasi.

4. Penarikan Kesimpulan

Penarikan kesimpulan/verifikasi dilakukan setelah analisis data. Selama pengumpulan data dan setelah pengumpulan data selesai dilakukan analisis data untuk menarik suatu simpulan, sehingga dapat menggambarkan suatu pola tentang peristiwa yang terjadi. Analisis data yang terus menerus dilakukan mempunyai implikasi terhadap pengurangan dan atau penambahan data yang dibutuhkan.

Sugiyono (2009: 252), menyatakan langkah ketiga dalam analisis data kualitatif adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Dari reduksi data dan penyajian data/data display inilah selanjutnya apabila kesimpulan dan verifikasi pada awal telah didukung oleh bukti-bukti valid dan konsisten, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel. Kesimpulan dalam penelitian kualitatif diharapkan merupakan temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada.

Referensi

Dokumen terkait

The Relation of Acculturation, Problem Solving Appraisal, and Career Decision Making Self Efficacy to Mexican American High School Students’ Educational Goals.. High

Selang waktu data yang masih dapat danggap up-to date, adalah apabila perubahan yang terjadi tidak terlalu besar dan memiliki terkaitan dengan waktu1. Sifatnya relatif,

Semua perangkat lunak bebas adalah perangkat lunak sumber terbuka, tapi sebaliknya perangkat lunak sumber terbuka belum tentu perangkat lunak bebas,

Oleh karena itu peneliti mengadakan analisis framing (kualitatif) untuk mengetahui realitas yang akan dibingkai oleh media serta kecenderungannya dalam pemberitaan. Pada

Puskesmas dengan cakupan rendah dalam pelaksanaan IVA menunjukkan sikap dan komitmen mengesampingkan program deteksi dini kanker serviks, karena bukan salah satu program

Pada tulisan ini, akan dibahas bagaimana menemukan solusi dalam pencarian lintasan terpendek dari kasus romania dengan menggunakan algoritma pencarian Breadth Fisrt

Berbeda dengan dua informan lainnya (informan I dan informan III) dimana mereka selalu bersedia menyediakan waktu untuk membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan perbedaan

PKBI Sumatera Barat menggunakan konsep Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) untuk memperkenalkan ide-ide baru berkenaan dengan hidup sehat kepada