• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENELITIAN MODEL PENGELOLAAN BENCANA BANJIR DI BENGAWAN SOLO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENELITIAN MODEL PENGELOLAAN BENCANA BANJIR DI BENGAWAN SOLO"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

PENELITIAN MODEL PENGELOLAAN BENCANA BANJIR DI BENGAWAN SOLO

Tahun Anggaran 2011

(2)

PENELITIAN

MODEL PENGELOLAAN BENCANA BANJIR DI WILAYAH BENGAWAN SOLO

1. Latar Belakang

Banjir merupakan permasalahan yang selalu terjadi setiap tahun. Upaya penanggulangan dan pengendalian banjir tidak akan pernah dapat menghilangkan banjir sama sekali, tetapi harus dilakukan karena untuk mengurangi besaran banjir dan mengurangi dampak kerugian manusia maupun infrastrukturnya.

Sebagai tindakan antisipasi terhadap kejadian banjir Bengawan Solo di setiap tahun maka disamping penanganan secara structural dengan meneruskan pembangunan pengendalian banjir sesuai dengan Master Plan Bengawan Solo, juga dilakukan pengelolaan banjir terpadu secara struktural maupun non structural.

Guna dapat memberikan masukan dalam hal pengendalian dan pengelolaan bencana banjir di wilayah Sungai Bengawan Solo, maka Balai Sungai melakukan kegiatan Penelitian untuk mendapatkan hasil Model Pengelolaan Bencana Banjir di Wilayah Bengawan Solo, dan penelitian ini dari tahun 2009 sampai tahun 2012.

2. Tujuan

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan model pengelolaan bencana banjir di Wilayah Sungai Bengawan Solo yang dapat diaplikasikan di wilayah sungai lainnya.

3. Output Tahun 2009

a) ARR dan AWLR terpasang di Sungai Bodiran.

b) Laju erosi tanah permukaan DAS Keduang.

c) Kapasitas serta volume sedimen pada waduk-waduk kecil pada daerah tangkapan air Waduk Wonogiri.

d) Peta genangan banjir Sungai Bengawan Solo di antara Cepu - Babat.

Tahun 2010

a) Model sistem berupa informasi efektifitas reboisasi DAS Keduang dan Waduk Wonogiri.

b) Model sistem berupa pemodelan numerik hujan_limpasan dan hidrodinamika aliran banjir.

c) Model sistem berupa peta informasi genangan banjir di seluruh DAS Bengawan Solo.

d) Model sistem berupa data base genangan banjir Bengawan Solo yang berisi data.

(3)

Tahun 2011

a) Naskah ilmiah penerapan IPTEK berupa identifikasi kinerja bangunan utama.

b) Model Sistem berupa identifikasi sistem pengendali banjir Bengawan Solo c) Model Sistem Berupa Permodelan Numerik Aliran Banjir.

d) Model sistem berupa pembuatan peta zonasi kerentanan banjir, peta kerentanan banjir dan peta informasi bahaya banjir (flood hazard map) Wilayah Sungai Bengawan Solo

Tahun 2012

a) Model sistem berupa penyusunan peta resiko banjir.

b) Penerapan IPTEK berupa diseminasi dan sosialisasi kepada masyarakat melalui rembuk desa.

c) Model sistem berupa perencanaan lokasi pemasangan peralatan pemantau banjir dan sistem peringatan dini.

d) Model sistem berupa konsep pedoman model pengelolaan bencana banjir.

Keterkaitan dengan Stake Holder (Ditjen SDA)

 Diharapkan dapat menjadi bahan masukan untuk menentukan kebijakan dalam pengelolaan bencana banjir

 Diharapkan dapat melengkapi database yang sudah ada

4. Lingkup Kegiatan

Lingkup kegiatan penelitian yang dilakukan dari tahun 2009 sampai tahun 2012 meliputi hal-hal sebagai berikut:

Tahun 2009

1) Pengumpulan dan pengolahan data: hujan, kebutuhan minimum jumlah pos hujan untuk analisis banjir, debit, dan karakteristik basin yang meliputi tataguna lahan, kemiringan lahan, jenis tanah, panjang sungai, luas DAS, dll guna analisis laju erosi DAS Keduang serta efektifitas reboisasinya.

2) Pemasangan ARR dan AWLR di DAS Keduang.

3) Identifikasi lokasi dan data waduk kecil di dalam DAS Bengawan Solo.

4) Analisis DAS Keduang dan waduk kecil di atas Waduk Wonogiri. . Tahun 2010

1) Pengukuran debit untuk updating rating curve dan kalibrasi.

2) Indentikasi demplot reboisasi Keduang.

3) Identifikasi lokasi dan data waduk kecil di dalam DAS Bengawan Solo.

(4)

4) Persiapan peta dasar dalam bentuk digital (GIS).

5) Pengukuran geometri sungai guna melengkapi data yang tidak ada.

6) Survei dan ground chek data-data teknis yang diperlukan.

7) Analisis waduk- waduk kecil.

8) Analisis DAS Keduang dan efektifitas Waduk Wonogiri.

9) Analisis data hujan.

10) Analisis banjir kejadian.

11) Model Numerik 1 dimensi dan 2 dimensi dengan Mike 21.

12) Pembuatan Peta Banjir.

13) Penyusunan database berupa data dan peta.

Tahun 2011

1) Persiapan, meliputi tahapan kegiatan:

 Menyiapkan rencana pelaksanaan pekerjaan berdasarkan jadwal pelaksanaan.

 Melakukan konsolidasi tim pelaksana kegiatan serta melakukan koordinasi dengan pihak- pihak yang terkait dengan kegiatan.

2) Pengumpulan data pelengkap:

 Pengumpulan data topografi, hidrologi, dan geometri, sesuai dengan kubutuhan data hasil analisis pada kegiatan tahun 2010.

 Pengumpulan data pada instansi terkait

3) Pengukuran geometri sungai (Cepu – Ujung Pangkah).

4) Pemodelan numerik 1D & 2D:

 Penyempurnaan kompilasi data topografi.

 Analisis banjir dengan model numerik hidrodinamik utnuk menyusun berbagai skenario penanggulangan .

5) Uji Model Hidraulik Fisik Sedayu Lawas 6) Pembuatan Zonasi Rawan Bencana Banjir

7) Pembuatan peta informasi bahaya banjir (flood hazard map).

8) Penyusunan Naskah Ilmiah Penerapan IPTEK

9) Penyusunan Konsep Model Pengelolaan Bencana Banjir 10) Penyusunan database

Tahun 2012

1) Penyusunan konsep pedoman pengelolaan bencana banjir.

2) Sosialisasi.

(5)
(6)
(7)
(8)

RANGKAIAN KEGIATAN PENELITIAN MODEL PENGELOLAAN BENCANA BANJIR DI BENGAWAN SOLO TA 2011

(9)

5. Program kegiatan TA 2011

Adapun rincian kegiatan untuk tahun 2011 adalah sebagai berikut :

1). Survei dan pengumpulan data untuk identifikasi infrastruktural serta sistem pengendalian banjir yang ada.

2). Pengukuran geometri sungai dari Cepu-Muara

3). Penyusunan pengumpulan data sosial dan analisis sosek daerah genangan banjir untuk mengetahui potensi daerah genangan.

4). Pembuatan peta genangan banjir (dengan data geometri sungai 2010 – 2011)

5). Pembuatan UMH Fisik floodway Sedayu Lawas untuk optimalisasi dan efektifitas salah satu sarana pengendalian banjir.

6). Pembuatan zonasi kerentanan banjir, peta kerentanan banjir dan peta informasi bahaya banjir (flood hazard map) Wilayah Sungai Bengawan Solo.

7). Penyusunan Naskah Ilmiah Penerapan IPTEK

8). Penyusunan Konsep Model Pengelolaan Bencana Banjir 9). Penyusunan database

5.1. UMH-Fisik Food Way Sedayu Lawas (Bengawan Solo Hilir)

Mengingat bangunan Flood Way Sedayu Lawas yang tujuan awalnya untuk mengurangi banjir B.

Solo hilir (untuk mempercepat lama genangan di daerah hilir) ternyata ada kendala:

1) Debit yang diharapkan setelah adanya bangunan Flood way ( debit yang mengalir di hilir mulut Flood Way untuk B. Solo maksimum 2500 m3/s) atau setidak-tidaknya debit yang lewat ke Flood Way 650 m3/s ternyata debit yang lewat Flood Way maksimum kurang lebih 350 m3/s.

2) Terjadi pengendapan sediment di hulu bendung Karet, sehingga mengurangi kapasitas alur sungai.

Dari judul penelitian Model Pengelolaan Bencana Banjir di Bengawan Solo Balai Sungai melibatkan masalah ini untuk pendayagunan B.Solo. dengan melakukan uji model hidrolik fisik yang bertujuan:

- Meningkatkan kapasitas debit yang mengalir ke Flood Way.dengan cara memodifikasi bentuk mulut Flood Way

(10)

UMH- Fisik INLET. Di Flood Way Sedayu LawasB. Solo hilir

- Mengurangi sedimentasi di hulu bangunan Bendung Karet, dengan cara membuat saluran pembilas .

UMH – Fisik Saluran Bilas di Flood Way Sedayu Lawas B. Solo Hilir

Progres UMH- Fisik Inlet dan Saluran bilas di Flood Way Sedayu Lawasdi B. Solo hilir:

- Pengumpulan data yang berkaitan penelitian UMH Fisik al:

. Gambar situasi Flood Way beserta bangunan Inlet dan Rubber Dam . Debit aliran kenyataan di lapangan

. S O P bangunan Flood Way B. Solo

Rencana Modifikasi mulud Flood Way

Q. Flood Way Bang. In let

Q. B. Solo

Rumah Pompa

Rubber Dam

Sedimentasi Flood Way

Renc Saluran Bilas

(11)

- Baru tahap pembuatan model fisik alur Flood Way.

Hasil kurang lebih 7,5 % dari penelitian UMH- Fisik Kendala sementara belum ada

Gambar Pelaksanaan Pembuatan UMH- Fisik Inlet dan Rubber Dam di Flood Way Sedayu Lawas B. Solo Hilir

5.2. Identifikasi data infrastruktur

Pengumpulan data infrastruktur sudah mulai dilaksanakan dengan cara pengumpulan data sekunder ke beberapa instansi terkait. Untuk hambatan belum ada. Segera akan dilakukan pengumpulan data primer.

5.3. Naskah ilmiah untuk IPTEK

Pengumpulan data penelitian untuk menunjang penyusunan naskah ilmiah sudah mulai dilaksanakan dengan cara pengumpulan data sekunder ke beberapa instansi terkait.

5.4. Model sistem model numerik

Inputing data untuk model numerik sudah mulai, dan data pendukung sudah mulai dilaksanakan dengan cara pengumpulan data sekunder ke beberapa instansi terkait.

B.Solo Flood Way

AS. Inlet Rubber Dam

Gambar

Gambar Pelaksanaan Pembuatan UMH- Fisik Inlet  dan Rubber Dam di  Flood Way   Sedayu Lawas  B

Referensi

Dokumen terkait

Minyak kelapa merupakan bagian yang paling berharga dari buah kelapa dan banyak digunakan sebagai bahan baku industri atau sebagai minyak goreng.. Minyak kelapa dapat diekstraksi

Yang dimaksud dengan “Surat Keterangan Pencatatan Sipil” adalah surat keterangan yang diterbitkan oleh lembaga yang berwenang sebagai pengganti sementara kutipan akta

diharapkan dapat mempertahankan dan meningkatkan kualitas komunikator dan kualitas pesan dalam memberikan sosialisasi karena telah terbukti bahwa keduanya mempunyai pengaruh yang

 Lumpur Lapindo Brantas yang memiliki densitas dan viskositas masing-masing 2.5 g/cc dan 5 cp akan dipindahkan dari Porong-Sidoarjo (sumber lumpur) menuju 2 buah Sungai (A dan

Kesimpulan terkait faktor intelijensi pemasaran yang dilakukan perusahaan berskala besar yaitu: (1) Beberapa perusahaan seperti yang dijelaskan di pem- bahasan data menggunakan

Dari pelaksanaan kegiatan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL), maka dapat disimpulkan bahwa kegiatan PPL dapat memberikan pengalaman kepada mahasiswa dalam

Hasil analisis regresi menunjukkan hubungan yang erat antara kadar tanin gambir dengan kadar tanin terikat pada kulit tersamak (r = 0,980), dimana semakin meningkat

Penginderaan jauh ialah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang obyek, daerah atau gejala dengan jalan menganalisis data yang diperoleh dengan menggunakan