1373 Vol. 3, No 1, Januari 2023| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam Tema:
PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS XI
PEMBELAJARAN PAI DI SMKN 1 DADAHUP KARTASIAH
ABSTRAK
Motivasi merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi belajar dan hasil belajar, akan tetapi kuat dan lemahnya motivasi seseorang berbeda hal itu dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kondisi siswa, kondisi lingkungan, dan upaya guru dalam menggunakan metode atau media dalam pembelajaran.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran PAI setelah menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL).
Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas (PTK). Pada setiap siklus dilakukan empat tahapan yaitu dimulai dari rencana (planning), tindakan (action), observasi (observing), dan refleksi (reflecting). Pengumpulan data yaitu menggunakan angket. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI SMKN 1 Dadahup yang berjumlah 15 orang siswa terdiri dari 9 siswa perempuan dan 6 siswa laki-laki.
Hasil penelitian yaitu Model pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan motivasi belajar siswa pada pembelajaran PAI siswa kelas XI SMKN 1 Dadahup tahun pelajaran 2022-2023, diperoleh motivasi siswa rata-rata pada siklus I secara klasikal sebesar 56,66 % kategori cukup dan motivasi siswa rata-rata pada siklus II secara klasikal sebesar 75,64 % kategori baik mengalami peningkatan motivasi siswa sebesar 18,98 %. Sehingga dapat dikatakan bahwa pada pembelajaran PAI materi Beriman kepada kitab-kitab Allah SWT meningkatkan motivasi belajar siswa.
Kata kunci: Motivasi siswa, model pembelajaran problem based learning, PAI
1374 Vol. 3, No 1, Januari 2023| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam Tema:
PENDAHULUAN
Pentingnya Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) sebagai salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah memiliki peranan sangat strategis untuk membentuk kepribadian umat dan bangsa (siswa) yang tangguh. Baik dari segi moralitas maupun dari aspek sains dan teknologi. Namun, kenyataan pembelajaran PAI di sekolah menjadi sorotan para pakar pendidikan. Mereka menilai PAI kurang berhasil dalam menanamkan nilai-nilai moral dan agama kepada peserta didik. Disamping itu, pengembangan pembelajaran PAI sekarang kurang merespon perkembangan zaman revolusi industri 4.0. Padahal apabila kita lihat realitanya, peserta didik sekarang umumnya sangat akrab dengan alat digital. Seperti handphone, laptop, dan alat digital lainnya.
Sebagai pendidik PAI yang responsif, harusnya bisa inovatif dan kreatif mengembangkan strategi pembelajaran yang sesuai dengan dunia anak-anak sekarang, guru diharapkan mampu membuat rencana pembelajaran Pendidikan agama Islam di sekolah yang bertujuan menumbuhkan, mengembangkan dan meningkatkan keimanan melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengamalan peserta didik tentang ajaran agama Islam. Sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan, ketakwaannya, berbangsa dan bernegara, serta dapat melanjutkan pada jenjang pendidikan lebih tinggi. Oleh karena itu, berbicara pendidikan agama Islam, baik makna dan tujuannya harus mengacu pada penanaman nilai-nilai Islam. Tidak dibenarkan melupakan etika dan moralitas sosial.
Motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak dalam diri peserta didik yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan kegiatan belajar.
Sehingga tujuan yang dikehendaki oleh peserta didik dapat dicapai (Trygu, 2020). Sedangkan motivasi belajar menurut Hamzah B. Uno adalah dorongan internal dan eksternal pada siswa yang sedang belajar untuk mengadakan tingkah laku, pada umumnya dengan berupa indicator atau unsur-unsur yang mendukung. Indikator-indikator tersebut, antara lain adanya hasrat dan keinginan, dorongan dan kebutuhan dalam belajar, harapan dan cita-cita masa depan, penghargaan dalam belajar dan lingkungan belajar yang kondusif (Uno 2009: 23).
Guru harus mampu mewujudkan pembelajaran aktif. Artinya peserta didik diikutsertakan dalam berbagai kegiatan pembelajaran. Dapat mampu meningkatkan keterlibatan mental peserta didik dalam proses pembelajaran, emosional, spiritual dan intelektual. Selain itu guru harus menjadi mitra belajar bagi peserta didik. Guru bertanggung jawab meningkatkan situasi yang dapat
1375 Vol. 3, No 1, Januari 2023| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam Tema:
mendorong prakarsa, motivasi dan tanggung jawab peserta didik dalam suasana aktif. Sehingga pembelajaran akan mudah dipahami dan berpusat pada siswa.
Tujuan dari Penelitian adalah mengetahui penerapan model Problem Based Learning untuk meningkatkan motivasi belajar siswa kelas XI pembelajaran PAI di SMKN 1 Dadahup. Adapun hipotesis tindakan penelitian ini adalah penerapan model Problem Based Learning mampu meningkatkan motivasi belajar siswa Kelas XI pembelajaran PAI di SMKN 1 Dadahup.
Tingkat motivasi siswa dalam pembelajaran mempengaruhi perkembangan belajar dan hasil belajar siswa. Anak yang memiliki motivasi tinggi dalam belajar, memiliki tingkat perkembangan belajar dan hasil belajar yang baik (Tasiwan dkk, 2014:44). Indikator keberhasilan motivasi siswa yaitu memasuki rentang nilai rata-rata indikator > 70 % dengan kategori baik. Dapat dilihat pada tabel persentasi tingkat motivasi belajar siswa sebagai berikut:
Tabel 1.1
Tingkat Persentasi Motivasi belajar siswa
Rentang Nilai Kategori
<40 Sangat Rendah
41-55 Rendah
55-70 Cukup
71-85 Baik
86-100 Sangat Baik
METODOLOGI PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK merupakan terjemahan dari Classroom Action Research, yaitu suatu Action Research yang dilakukan di dalam kelas (Wardhani, dkk. 2012:1.3). PTK adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri melalui refleksi diri dengan tujuan memperbaiki kinerjanya sehingga hasil belajar siswa meningkat. Menurut Sanjaya PTK adalah proses pengkajian masalah pembelajaran di dalam kelas melalui refleksi diri dan upaya untuk memecahkannya dengan cara melakukan berbagai tindakan yang terencana dalam situasi nyata serta menganalisis setiap pengaruh dari tindakan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif yang berdasarkan tingkat kealamiahannya termasuk metode penelitian yang dilaksanakan dalam bentuk quasi eksperimen. Metode eksperimen merupakan metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu.
Tempat penelitian tindakan kelas ini dilakukan di SMKN 1 Dadahup Kecamatan Dadahup, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah. Subjek
1376 Vol. 3, No 1, Januari 2023| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam Tema:
%
100
= N P f
N X=
Xdari penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas XI SMKN 1 Dadahup, Jumlah siswa sebanyak 15 orang, yang terdiri dari 9 orang perempuan dan 6 orang laki-laki.
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas adalah lembar observasi, angket yaitu quisioner berupa pernyataan. Adapun indikator motivasi dapat dilihat pada angket berikut:
Tabel 3.1
Angket Motivasi Belajar Siswa
No Indikator yang diamati SS S KS TS 1 Tekun mengerjakan tugas yang
diberikan
2 Saya senang mengikuti pembelajaran PAI setiap pertemuan
3 Saya cepat bosan mengerjakan tugas PAI
4 Saya menyampaikan pendapat dan tidak bergantung pada orang lain saat diberi tugas 5 Saya senang mencari dan
memecahkan masalah soal PAI
Persentase data motivasi siswa dihitung dengan menggunakan rumus dari Sudijono (2008) adalah sebagai berikut:
Keterangan:
P = angka persentase
f = frekuensi yang sedang dicari persentasenya N = jumlah frekuensi/banyaknya individu
Perhitungan angket setiap akhir siklus yang dinyatakan dalam bentuk persentase menyatakan motivasi siswa dalam pembelajaran. perhitungan persentasi motivasi siswa berdasarkan angket siswa yang memilih sangat setuju dan setuju mendapatkan point 1, dan siswa yang memilih kurang setuju dan tidak setuju mendapatkan point 0. Untuk menghitung nilai rata-rata hasil belajar siswa menggunakan rumus dari Sudjana (2008), yaitu:
Keterangan:
X = rata-rata (mean)
1377 Vol. 3, No 1, Januari 2023| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam Tema:
X = jumlah seluruh skor N = banyaknya subjekHASIL PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2022 selama 4 kali pertemuan yang dibagi menjadi dua siklus sehingga terdapat 2 kali pertemuan pada siklus I dan 2 kali pertemuan pada siklus II, dengan 2 kali praktik mengajar dan 1 kali evaluasi pada siklus I dan pada siklus II praktik mengajar 1 kali dan evaluasi 1 kali untuk mengetahui Motivasi siswa kelas XI pada mata pelajaran PAI materi pokok Beriman pada Kitab-kitab Allah.
Pelaksanaan Siklus I
Siklus I dilaksanakan 2 kali pertemuan. Pada pertemuan pertama dan kedua, siswa diberikan materi tentang beriman kepada kitab-kitab Allah dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning. Materi yang disajikan pada pertemuan pertama adalah tentang pengertian iman kepada kitab Allah, pertemuan kedua tentang . Untuk pertemuan ketiga diadakan evaluasi hasil belajar siklus I.
Siklus I terdiri dari 4 tahapan tindakan dan tahapan-tahapannya adalah sebagai berikut:
a. Rencana Tindakan
Rencana tindakan yang dilakukan pada siklus I yaitu:
(1) Menyiapkan perangkat pembelajaran seperti rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), dan materi untuk memudahkan guru dalam menyajikan pelajaran (RPP dan LKPD) dapat dilihat pada lampiran,
(2) Menyiapkan instrumen penelitian yaitu lembar observasi dan angket motivasi siswa dan soal evaluasi siklus I
b. Pelaksanaan Tindakan
Kegiatan pada tahap ini merupakan kegiatan pembelajaran dengan prosedur sebagai berikut:
(1) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran,
(2) Guru memberikan apersepsi dan motivasi untuk menggali pengatahuan dan rasa ingin tahu siswa serta menginformasikan prosedur pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning,
(3) Guru menyampaikan inti materi yang akan di bahas bersama
(4) Pada tahap ini dilaksanakan sesuai dengan tahap perencanaan yang ada dalam RPP, kegiatan pembelajaran dengan menggunakan Problem Based Learning sesuai dengan tahap perencanaan yang telah dibuat Pada model Problem Based Learning terdapat lima tahap/sintaks utama
1378 Vol. 3, No 1, Januari 2023| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam Tema:
(5) Orientasi siswa kepada masalah yaitu menjelaskan tujuan pembelajaran, dan menjelaskan logistik yang dibutuhkan, serta memotivasi siswa untuk terlibat dalam pemecahan masalah yang dipilihnya.
(6) Mengorganisasi siswa untuk belajar yaitu membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan kegiatan pembelajaran yang berhubungan dengan masalah tersebut, dengan membentuk kelompok dengan anggota 4-5 orang dalam 1 kelompok.
(7) Membimbing penyelidikan Individual maupun kelompok yaitu mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai. Siswa berdiskusi berbagi informasi setelah mencari dan mengumpulkan informasi yang diperlukan dari berbagai sumber untuk memecahkan masalah.
(8) Mengembangkan dan Menyajikan hasil karya yaitu membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, yang membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya. Siswa menampilkan karyanya/menjelaskan hasil kegiatan pemecahan masalahnya.
(9) Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah yaitu membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.
c. Observasi dan Evaluasi
Observasi dan evaluasi dilakukan agar dapat mengetahui hasil belajar dan motivasi siswa, berikut uraian observasi motivasi siswa siswa siklus I, pertemuan I dan pertemuan II.
Hasil observasi pada pertemuan pertama, tidak semua siswa antusias dalam mendengarkan dan mendiskusikan pelajaran. Masih ada anggota dalam pasangan siswa tidak mau untuk mengerjakan tugas yang telah diajukan. Hanya siswa yang tergolong pandai saja yang aktif mendengarkan dan mengerjakan tugas. Anggota kelompok kurang memeriksa ketepatan jawaban kelompoknya.
Hasil pengamatan, pembelajaran di kelas pada pertemuan pertama mengalami beberapa kendala. Guru terlihat kesusahan dalam mengatur kerja kelompok karena siswa masih belum terbiasa dengan model pembelajaran Problem Based Learning ini. Diharapkan pada pertemuan berikutnya guru harus lebih sering berkeliling untuk mengontrol motivasi siswa dalam pasangannya. Pengelolaan waktu saat pembelajaran berlangsung agar lebih ditingkatkan. Siswa mengalami kesulitan saat memecahkan masalah
Hasil observasi pada pertemuan kedua, motivasi siswa sudah dapat dirasakan meningkat. Sebagian siswa sudah mulai aktif dalam mendengarkan pembahasan materi dengan gurunya dan mendengarkan saat diskusi.
1379 Vol. 3, No 1, Januari 2023| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam Tema:
Anggota-anggota dari pasangan siswapun sudah mulai aktif dalam bekerja sama. Oleh karena itu, siswa mulai mengambil giliran dan berbagi tugas pada saat diskusi berlansung dan berani dalam menyampaikan tugas. Siswa yang bekerja sama mulai merasa bertanggungjawab atas ketepatan jawaban mereka. Setelah dianalisis, secara keseluruhan motivasi siswa saat pembelajaran berlangsung pada pertemuan kedua siklus I dapat dikatakan berada pada kategori cukup.
d. Refleksi
Berdasarkan hasil observasi dan evaluasi selama pelaksanaan siklus I, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan, ditingkatkan dan diperbaiki karena kegiatan pembelajaran menggunakan model Problem Based Learning belum sepenuhnya berjalan sesuai dengan yang diharapkan.
Permasalahan-permasalahan yang terjadi pada siklus I ini perlu didiskusikan dan dicari solusinya agar proses belajar mengajar menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning dapat berjalan sebagaimana yang telah direncanakan sebelumnya. Hasil diskusi tersebut diantaranya yaitu guru sebagai pengelola pembelajaran di kelas harus lebih memberikan pengawasan agar siswa lebih aktif dalam diskusi. Guru harus bisa menciptakan kondisi agar siswa dapat menjawab pertanyaan diskusi yang diajukan secara mandiri bersama kelompoknya. Guru memotivasi siswa untuk lebih mengemukakan pendapat pada saat diskusi dalam kelompok. Untuk pengelolaan waktu pembelajaran diusahakan seefektif mungkin dan sesuai dengan rencana yang telah dibuat. Karena motivasi siswa secara klasikal pada siklus I pertemuan pertama dan pertemuan kedua dengan nilai rata-rata sebesar 56,66 % dengan kategori cukup, maka penelitian dilanjutkan ke siklus II dengan materi yang berbeda atau melanjutkan materi yang telah disampaikan pada siklus I.
Pelaksanaan siklus II
Siklus II dilaksanakan 2 kali pertemuan, pada dasarnya proses pembelajaran siklus II sama seperti siklus I. Pada pertemuan pertama disajikan materi PAI a. Rencana Tindakan
Berdasarkan refleksi pada siklus I, maka pada siklus II ini direncanakan kembali tindakan untuk memperbaiki hal-hal yang dianggap masih kurang optimal pada siklus I, diantaranya:
(1) Sebaiknya guru lebih sering berkeliling memberikan bimbingan dalam memantau kegiatan siswa dalam kelompok sehingga mereka merasa diperhatikan dan tidak ada lagi siswa yang tidak aktif pada saat diskusi berlangsung.
(2) Sebaiknya guru harus bisa menciptakan kondisi agar siswa dapat menjawab pertanyaan diskusi yang diajukan secara mandiri bersama kelompok.
1380 Vol. 3, No 1, Januari 2023| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam Tema:
(3) Sebaiknya guru memotivasi siswa untuk lebih mengemukakan pendapat pada saat diskusi dengan cara bertanya kepada siswa tentang hal lain yang masih berkaitan dengan kegiatan diskusi pada LKPD.
(4) pengelolaan waktu perlu lebih diperhatikan lagi agar pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan rencana.
Selain memperbaiki hal-hal yang dianggap kurang optimal, tindakan yang direncanakan pada siklus II ini adalah sebagai berikut:
(1) RPP dan LKPD siklus II dapat dilihat pada lampiran . (2) Lembar observasi berupa angket, soal evaluasi siklus II b. Pelaksanaan Tindakan
Pada tahap ini guru kembali melakukan kegiatan pembelajaran menggunakan model pembelajaran problem based learning sesuai dengan rencana yang telah dibuat. Pada siklus II prosedur pelaksanaannya sama seperti siklus I.
c. Observasi dan Evaluasi
Observasi dan evaluasi siklus II sama seperti siklus I, yaitu dilakukan agar dapat mengetahui motivasi siswa, berikut uraian observasi motivasi siswa siswa siklus I dan siklus II. Observasi terhadap motivasi siswa dilakukan oleh siswa setelah proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning berlangsung.
Berdasarkan hasil dan penilaian terhadap motivasi siswa diperoleh data bahwa semua siswa cukup antusias mengikuti pelajaran, siswa lebih bersemangat dalam mendengarkan dan aktif dalam memecahkan masalah yang diberikan pada kegiatan diskusi. Setelah dianalisis, hasil observasi motivasi siswa pada siklus II ini secara keseluruhan berada pada kualifikasi baik. Berdasarkan pengamatan, pembelajaran yang dilakukan oleh guru pada siklus II ini secara keseluruhan berlangsung dengan lancar.
Pembahasan Hasil Penelitian
Hasil pelaksanaan penelitian pada siklus I dan II mengalami peningkatan baik dari segi hasil observasi motivasi siswa maupun hasil evaluasi disetiap siklusnya.
Pada siklus I, motivasi siswa secara klasikal sebesar 56,66 % Pada dasarnya jika dilihat dari nilai rata-rata, nilai tersebut tidak memenuhi indikator keberhasilan hal ini dikarenakan pada saat proses pembelajaran siswa cenderung pasif sebab siswa masih belum terbiasa dengan model pembelajaran Problem Based Learning. Pada siklus II, motivasi siswa rata-rata sebesar 75,64 % dengan peningkatan rata-rata motivasi siswa secara klasikal dari siklus I ke siklus II sebesar 18,98 %. Peningkatan ini terjadi karena siswa mulai terbiasa dengan penerapan model pembelajaran Problem Based Learning, terlihat pada saat proses pembelajaran siswa sudah aktif berdiskusi, siswa memahami dan
1381 Vol. 3, No 1, Januari 2023| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam Tema:
memperhatikan penjelasan guru dari kegiatan awal sampai dengan kegiatan akhir, kemampuan siswa dalam memahami dan mengerjakan soal dalam diskusi sudah baik, minat dalam pembelajaran sudah baik, adanya perasaan senang dalam mengerjakan tugas dengan baik, kemampuan menyampaikan pendapat sudah baik, dan senang mencari solusi untuk dapat memecahkan soal saat pembelajaran berlangsung. Selain itu bagi siswa yang memiliki motivasi belajar yang baik akan mendapatkan hasil belajar yang baik pula (hasil belajar dapat dilihat pada lampiran), hal ini dapat dilihat dari peningkatan kategori motivasi dari tiap pertemuan pada tabel 4.4 yaitu sebagai berikut:
Tabel 4.4
Peningkatan motivasi siswa setiap pertemuan pada siklus I dan II Siklus Pertemuan
ke-
Kategori motivasi siswa
I 1 Rendah
2 Cukup
II 1 Baik
Berdasarkan peningkatan yang terjadi pada motivasi siswa tersebut, dapat disimpulkan bahwa hipotesis tindakan yang menyatakan hasil belajar PAI siswa kelas XI SMKN 1 Dadahup melalui model pembelajaran Problem Based Learning tahun pelajaran 2022-2023 mengalami peningkatan dapat diterima.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dari penelitian maka diperoleh beberapa kesimpulan yaitu Model pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan motivasi belajar siswa pada pembelajaran PAI siswa kelas XI SMKN 1 Dadahup tahun pelajaran 2022-2023, diperoleh motivasi siswa rata-rata pada siklus I secara klasikal sebesar 56,66 % kategori cukup dan motivasi siswa rata-rata pada siklus II secara klasikal sebesar 75,64 % kategori baik mengalami peningkatan motivasi siswa sebesar 18,98 % .
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, S., Suhardjono, dan Supardi. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT Bumi Aksara. 2008.
http://p4tkmatematika. https://bertema.com/langkah-langkah-problem-based- learning-pbl-dalam-proses- pembelajaran
https://www.ruangguru.com/blog/tingkatkan-keaktifan-siswa- dengan- metode-pembelajaran-problem-based-learning
1382 Vol. 3, No 1, Januari 2023| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam Tema:
http//repository.stei.ac.id. https//www.detik.com. Buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti/Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan .--.Edisi Revisi Jakarta: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017.
https://sumber.belajar.kemdikbud.go.id/repos/FileUpload/Beriman%20kepada%2 0Kitab%20Allah%20swt/topik1.html
Kunandar. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Guru. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. 2008.
Nanang Hanafiah dan Cucu Suhana. Konsep Strategi Pembelajaran, Bandung:
Refika Aditama. 2012.
Malikah, Luthful. “Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Terhadap Pelajaran Pendidikan Agama Islam melalui Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berfikir di Kelas VIII SMP N Satu Atap Olak. Skripsi. Pdf. 2010.
Rahmayanti, Carina. “Motivasi Siswa Dalam Pembelajaran Pai Pada Masa Pandemi Covid-19 Di SMPN 1 Sampit Kotawaringin Timur”. Skripsi. Pdf. 2021.
Sri Wardhani. Perbedaan Indikator Pencapaian Kompetensi dan Tujuan Pembelajaran. 2008.
Trianto. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta: Kencana. 2009.
www.detikpendidikan.id. https://www.silabus.web.id/problem-based- learning, hhtps://j-cup.org
https://goeroendeso.wordpress.com/2018/03/18/mengenal-siklus-dalam- penelitian-tindakan-kelas/
https://akhmadsudrajat.wordpress.com/2009/09/17/indikator-pencapaian- kompetensi/
Zasti, Yasyfatara. “Peningkatan Motivasi Belajar PAI Melalui Metode
Pembelajaran Questions Students Have Pada Peserta Didik Kelas IV SDN I Hajimena”. Skripsi. Pdf. 2016