Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Evaluasi Program Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kinerja Guru di SD Gugus Bangsa Kecamatan Kaloran Kabupaten Temanggung

23  Download (0)

Teks penuh

(1)

1

Evaluasi Program Kepala Sekolah dalam

Meningkatkan Kinerja Guru di SD

Gugus Bangsa Kecamatan Kaloran

Kabupaten Temanggung

JURNAL

Oleh:

Yusia Sri Prajoko 942015026

MAGISTER MANAJEMEN PENDIDIKAN UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

5 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

(7)

6 Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 13 Tahun 2007 bahwa Kepala Sekolah mempunyai 5 kompetensi yang dijadikan penilaian kinerja Kepala Sekolah. 5 kompetensi tersebut antara lain 1) kompetensi kepribadian; 2) kompetensi manajerial; 3) kompetensi kewirausahaan; 4) kompetensi supervisi; 5) kompetensi sosial. Kepala sekolah memiliki tanggung jawab atas keberhasilan proses pendidikan dan mutu pendidikan pada suatu sekolah sehingga kemampuan kepala sekolah dalam memimpin sistem sekolah sangat berpengaruh terhadap terselenggaranya menejemen yang baik.

Dengan kualitas kepemimpinan kepala sekolah yang baik maka akan bisa menciptakan kinerja guru yang maksimal sehingga dapat meningkatkan mutu pendidikan sesuai tujuan yang diharapkan. Kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu faktor yang dapat membentuk sebuah kinerja guru yang baik demi dapat memperoleh kualitas pendidikan yang baik.

(8)

7 Guna mengevaluasi sebuah program, dibutuhkan model yang tepat. Adapun model yang tepat digunakan dalam penelitian ini adalah model CIPP, karena dalam penelitian ini terdapat perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan yang sejalan dengan model CIPP yang berorientasi konteks program, input, proses dan produk. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi program kepala sekolah dalam menjalankan peran dan fungsinya sebagai pemimpin sekolah untuk memajukan sekolah. Adapun hasilnya diharapkan dapat menjadi rujukan bagi sekolah untuk melakukan evaluasi diri sekolah dan direkomendasi untuk melakukan program tindak-lanjut. Setelah dievaluasi, maka akan diketahui mana program yang harus diganti dan mana program yang masih bisa dilanjutkan.

(9)

8 kualitatif, menggunakan model CIPP. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Pada aspek konteks, lingkungan SD Negeri 1 Tegorejo Pegandon sudah sangat mendukung dan kondusif. (2) Pada aspek input, pelaksanaan program supervisi akademik sudah berjalan baik (3) Pada aspek proses, perencanaan dan pelaksanaan program supervisi akademik perlu direncanakan dengan baik. (4) Pada aspek produk, secara umum pelaksanaan supervisi berjalan dengan baik, hanya ada beberapa guru yang pada waktu pelaksanaan belum siap tetapi program ini harus dilaksanakan, karena supervisi akademik merupakan serangkaian kegiatan yang dapat membantu meningkatkan kinerja mengajar guru sehingga mencapai tujuan pembelajaran yang optimal dan siswa berprestasi.

(10)

9 tujuan program pengembangan profesionalisme guru sudah kategori baik. Sedikit catatan pada perumusan visi dimana perumusan misi masih kurang sempurna, karena visi dari pelaksanaan program pengembangan profesionalisme guru merupakan implementasi dari visi dan misi madrasah yang mengacu pada program tahunan dan Renstra madrasah. 2) Dari komponen Input, menunjukkan bahwa input tim, guru, kurikulum serta sarana dan prasarana sudah kategori baik. Sedikit catatan pada input sarana dan prasarana masih perlu adanya peninjauan terkait pengembangan profesionalisme guru. 3) Dari komponen Process, penggunaan metode, media, materi, dan waktu pembelajaran dalam pengembangan profesionalisme guru sudah kategori baik. Sementara untuk waktu pengembangan profesionalisme guru perlu dioptimalkan. 4) Komponen Product sudah kategori baik.

(11)

10 Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan kepala sekolah yang dilakukan oleh peneliti di SD Kemiri 1, SD Kemiri 2, dan SD Tepusan Kecamatan Kaloran Kabupaten Temanggung, di mana ketiga sekolah yang masih berakreditasi B ini dapat dikatakan sekolah yang baik di gugus bangsa Kecamatan Kaloran. Dalam tiga tahun terakhir ketiga sekolah ini juga mulai memperoleh prestasi dibidang akademik maupun non akademik. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan mutu sekolah di gugus bangsa, di mana pada tahun-tahun sebelumnya pada bidang akademik belum terjadi peningkatan. Penerimaan siswa di tahun pelajaran baru juga bisa dikatakan tidak ada perubahan, siswa baru hanya diperoleh dari masyarakat sekitar dengan alasan mendaftarkan anaknya di sekolah tersebut bukan berdasarkan mutu pendidikannya melainkan beralasan karena dekat dengan rumah.

(12)

11 B. Metode Penelitian

Penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif evaluatif. Metode penelitian kualitatif adalah metode

penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivme, digunakan untuk meneliti pada kondisi

obyek yang alamiah, Sugiyono (2010:15). Penelitian ini menggunakan pendekatan CIPP (Context, Input, Process, Product).

C. HASIL PENELITIAN

Hasil penelitian yang dilakukan pada bulan Oktober 2016 sampai dengan bulan April 2017 pada SD di gugus bangsa Kecamatan Kaloran Kabupaten Temanggung yang terdiri dari 5 SD yaitu SD Negeri Kemiri 1, SD Negeri Kemiri 2, SD Negeri Tepusen 1, SD Negeri Tepusen 2, dan SD Negeri Tempuran. Akan tetapi atas rekomendasi dari kepala sekolah yang menjadi ketua gugus bangsa, peneliti melakukan penelitian pada 3 SD dengan kualitas sama dalam memperoleh nilai akreditasi B, yaitu SD Negeri Kemiri 1, SD Negeri Kemiri 2, dan SD Negeri Tepusen 2.

(13)

12 meningkatkan kinerja guru, yaitu program supervisi kepala sekolah. Peneliti juga melihat dokumen program supervisi, jadwal supervisi, instrumen penilaian supervisi, hasil supervisi. Ini sesuai dengan teknik pengumpulan data yang disebutkan dalam tujuan observasi lapangan, wawancara terhadap pengawas sekolah, Kepala sekolah, dan Guru SD Negeri 1 Kemiri, SD Negeri Tepusen 2 dan SD Negeri Kemiri 2, serta dokumentasi yang dimiliki oleh sekolah.

Data yang diperoleh kemudian dianalisis, diolah dan dideskripsikan untuk mengetahui hasil evaluasi menggunakan model CIPP, karena dalam CIPP berorientasi pada konteks, input, proses, dan produk. Hasil evaluasi nantinya akan dijadikan sebagai landasan rekomendasi demi peningkatan kinerja Kepala Sekolah dalam menjalankan tugasnya sebagai pimpinan sekolah, untuk meningkatkan kinerja guru, sebagaimana pendapat Mulyasa (2007:98) bahwa fungsi kepala sekolah adalah sebagai educator, manajer, administrator, supervisor, leader, inovator,

dan motivator.

D. Pembahasan

Analisa Konteks Program

(14)

13 bangsa dilaksanakan setiap semester. Adapun evaluasi Pengawas Sekolah untuk meningkatkan kinerja Kepala Sekolah berguna untuk meningkatkan kinerja kepala sekolah dan guru baik secara administrasi maupun KBM. Hal ini sesuai dengan pendapat Wahjosumidjo (2007:83) bahwa kepala sekolah adalah seorang tenaga fungsional guru yang diberi tugas untuk memimpin suatu sekolah di mana diselenggarakan proses belajar mengajar, atau tempat di mana terjadi interaksi antara guru yang memberi pelajaran dan murid yang menerima pelajaran. Adapun salah satu program kerja pengawas sekolah untuk mengevaluasi program kerja kepala sekolah adalah melalui kegiatan supervisi.

Input Program

Input program supervisi adalah ketersediaan dokumen berupa program supervisi pengawas sekolah, program supervisi Kepala Sekolah, dan program KKG. Pengawas Sekolah dan Kepala Sekolah juga memiliki dokumen pelaksanaan KKG, supervisi guru dan hasil penilaian kinerja kepala sekolah serta kinerja guru. Hal ini sesuai dengan fungsi Kepala Sekolah yaitu sebagai educator, manajer, administator, supervisor, dan inivator.

(15)

14 Proses Program

Proses program supervisi adalah pelaksanaan supervisi berdasarkan observasi adalah semua guru di SDN Kemiri 1, SDN Kemiri 2, dan SDN Tepusen telah disupervisi setiap semester, sehingga dalam tiga tahun terakhir masing-masing guru sudah mengalami supervisi 6 kali, berarti 100% guru sudah di supervisi oleh kepala sekolah meskipun menemui kendala yaitu waktu, akan tetapi kendala itu bisa teratasi, yaitu dengan membuat kesepakatan ulang.

Setiap kepala sekolah harus memiliki keterampilan teknis berupa kemampuan menerapkan teknik-teknik supervisi pembelajaran yang tepat. Kepala sekolah dapat menggunakan teknik individual atau kelompok.

a. Teknik supervisi individual

(16)
(17)

16 individual yang bersifat informal, yang secara kebetulan bertemu dengan guru; 4). Observational visitation, yaitu percakapan individual yang dilaksanakan setelah pengawas sekolah melakukan kunjungan kelas atau observasi kelas. Kunjungan antar kelas adalah guru yang satu berkunjung ke kelas yang lain di sekolah itu sendiri. Tujuannya adalah untuk berbagi pengalaman dalam pembelajaran. Sedangkan menilai diri sendiri adalah penilaian diri yang dilakukan oleh diri guru itu sendiri secara obyektif.

b. Teknis supervisi kelompok

Teknik supervisi kelompok adalah cara melaksanakan program supervisi yang ditujukan kepada dua orang guru atau lebih. Supervisi ini dilakukan kepada kelompok guru yang memiliki masalah atau kebutuhan atau kelemahan-kelemahan yang sama. Supervisi kelompok, yaitu: supervisi yang dilakukan terhadap kegiatan kepanitiaan, kerja kelompok, laboratorium, membaca terpimpin, demonstrasi pembelajaran, darmawisata, kuliah/ studi, diskusi panel, perpustakaan, organisasi profesional, pertemuan guru, lokakarya atau konferensi kelompok.

Produk Program

(18)

17 program supervisi kepala sekolah di gugus bangsa terhadap guru, rekap pelaksanaan program evaluasi, hasil evaluasi/ supervisi berupa catatan temuan pada saat supervisi, baik kekurangan maupun kelebihannya, persentase pelaksanaan program evaluasi kinerja kepala sekolah dan guru, serta kegiatan KKG.

Dalam program supervisi guru sesuai hasil penelitian sudah baik, sehingga tidak perlu ada yang dihilangkan, akan tetapi program itu perlu ditindak lanjuti.

E. Simpulan dan Saran Simpulan

Berdasarkan deskripsi pembahasan hasil penelitian evaluasi terhadap kepemimpinan Kepala Sekolah di gugus bangsa pada Tahun 2016 dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Pada konteks evaluasi program Kepala Sekolah terhadap kinerja guru SD di gugus bangsa, bahwa program kepala sekolah sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

(19)

18 sekolah, hasil penilaian kinerja guru, jadwal pelaksanaan supervisi, dan instrumen penilaian dengan menyediakan sarana prasarana dan biaya untuk melaksanakan program sesuai mekanisme yang ada.

3. Dari proses evaluasi kepemimpinan Kepala Sekolah terhadap kinerja guru SD di gugus bangsa sudah terlaksana, adapun hambatannya adalah waktu yang dijadwalkan berbenturan dengan tugas yang sangat penting dan segera diselesaikan, namun hambatan itu bisa di atasi dengan mengganti pada waktu lain.

4. Dari produk evaluasi kepemimpinan Kepala Sekolah terhadap kinerja guru SD di gugus bangsa, Kepala Sekolah telah membuat program supervisi, menyusun lembar penilaian evaluasi, rekap data pelaksanaan evaluasi, rekap hasil evaluasi, persentase ketercapaian hasil program evaluasi dan kegiatan KKG gugus bangsa.

Saran

Dalam penelitian ini saran yang peneliti sampaikan kepada Pengawas Sekolah, Kepala Sekolah dan guru SD di gugus bangasa untuk peningkatan kualitas sekolah adalah :

(20)

19 dengan melibatkan pihak terkait, yaitu pemerintah dan masyarakat yang diwakili oleh komite sekolah.

2. Pengawas Sekolah hendaknya memprioritaskan waktu untuk mengevaluasi kepemimpinan Kepala Sekolah untuk meningkatkan kinerja guru, agar Kepala Sekolah dan guru lebih termotivasi untuk meningkatkan kualitas sekolahnya.

3. Kepala Sekolah dan guru harus menggali potensi guru dan melengkapi sarana prasarana untuk meningkatkan kualitas sekolahnya.

(21)

20 F. DAFTAR PUSTAKA

Adeyemi, T. O. 2010. Principals leadership styles and

teachers job performance in senior secondary schools in Ondo State, Nigeria. International Journal of Educational Administration and Policy Studies, 2(6), 83-91.

Anastasia Lismawati (2015). Evaluasi Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Kinerja Guru SD Negeri Wates 01 Kecamatan Ngaliyan Kota Semarang.

Aunurrahman. 2010. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.

Gumilar, D. 2013. Pengaruh Kepemimpinan Tranformasional Kepala Sekolah dan Motivasi Berprestasi Guru Terhadap Kinerja Mengajar Guru SMK Negeri di Wilayah Bandung Barat. Repository UPI. http://repository.upi.edu/576/.

Hadari Nawawi dan M. Martini Hadari. 2006. Kepemimpnan yang efektif. Yoyakata: Gadjah Mada University Press.

Hadi, H. 2010. Kontribusi Kompetensi Emosional dan Praktik Kepemimpinan Tranformasional Kepala Sekolah Terhadap Keberdayaan Guru Sekolah Menengah Kejuruan. Jurnal ilmu pendidikan. http://journal.um.ac.id/index.php/jip/article/vie w/2726/1374

Hikmat. 2009. Manajemen pendidikan. Bandung: Pustaka Setia.

(22)

21 Kependidikan, Direktorat Tenaga, et al. "Penilaian

Kinerja Kepala Sekolah." (2007): 04-A2.

Maman Ukas. 2004. Manajemen. Bandung: Agini.

Mangkunegara, A.A. Anwar Prabu. 2001. Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan. Bandung: Remaja Rosdakarya

Muksin Wijaya, 2005. Kepemimpinan Transformasional Di Sekolah Dalam Meningkatkan Outcomes Peserta Didik. Jurnal Pendidikan Penabur No.05/ Th.IV.

Mulyasa. 2007. Manajemen berbasis sekolah, konsep strategi dan implementasi kinerja organisasi.

Nana Sudjana. 2007. Penilaian Hasil Proses Belajar Mangajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Novitasari. A, Wahyudin. A, dan Setayani. 2012. Pengaruh kepemimpinan kepala sekolah, lingkungan kerja, pendidikan, dan pelatihan terhadap kinerja guru. Economic education

analisys journal.

http://journal.unnes.ac.id/artikel_sju/eeaj/666

Permendiknas No. 13 tahun 2007. Tentang standar kepala sekolah/madrasah

Pidarta. M. 2003. Manajemen Pendidikan Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Rahman (at all). 2006. Peran Strategis Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan.

Jatinangor: Alqaprint.

(23)

22 Setyawan, D. H. 2014. Pengertian Guru Menurut Pakar Pendidikan, zona ilmu pendidikan. http://zonainfosemua.blogspot.co.id/2014/03/p engertian-guru-menurut-pakar-pendidikan.html

Soekarto Indrafachrudi. 1993. Mengantar bagaimana memimpi sekolah yang baik. Jakarta : Ghalia Indonesia.

Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif Kualitatif dan R&D, Bandung: Alfabeta.

Suharsimi Arikunto. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rajawali Press

Suharsini Arikunto. 2009. Evaluasi Program Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara

Suparno Sudarwan Danim. 2009. Manajemen dan kepemimpinan traformasional kepala sekolah. Jakarta : Rineka Cipta.

Usman Husaini. 2013. Manajemen Teori, Praktik, dan Riset Pendidikan. PT Bumi Aksara

Wahjosumidjo. 2002. Kepemimpinan dan Motivasi. -- : Ghalia Indonesia.

Wahjosumidjo. 2007. Kepemimpinan Kepala Sekolah. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Wirawan. 2009. Evaluasi Kinerja Sumber Daya Manusia. Jakarta: Salemba

Wirawan. 2011. Evaluasi : teori, model, standar, aplikasi, dan profesi. PT. Rajagrafindo Persada

Figur

Memperbarui...

Referensi

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di