• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN TAHUNAN Pengembangan Self Helpin

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "LAPORAN TAHUNAN Pengembangan Self Helpin"

Copied!
66
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN TAHUNAN

PENELITIAN UNGGULAN PERGURUAN TINGGI

Pengembangan

Self-Helping Model

pada Kelompok

Masyarakat Miskin Produktif untuk Pengentasan

Kemiskinan

Tahun ke 1 dari rencana 2 tahun

MG. Westri Kekalih Susilowati SE., ME. NIDN: 0624046901

Dr. Angelina Ika Rahutami MSi. NIDN: 0622026802

Dr. A. Rachmad Djati Winarno, MSc. NIDN :0607086101

UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA

SEMARANG

(2)
(3)
(4)

v

penurunan, namun tetap rentan untuk bertambah dan berkurang karena adanya gejolak ekonomi, misalnya gagal panen dan kenaikan harga BBM akan dengan cepat mendorong kenaikan kemiskinan. Pertumbuhan ekonomi yang diharapkan akan mengurangi kemiskinan, dalam kenyataannya pertumbuhan ekonomi justru terkadang mengabaikan kaum miskin dan termarjinalkan. Oleh karena itu, kebijakan pokok penanggulan kemiskinan yang poor, pro-job dan pro-growth menjadi penting.

Penelitian mencoba untuk mengekplorasi karakter sosial psikologi kelompok miskin produktif menurut tipologi pedesaan dan perkotaan. Hasil penelitian ini mengidentifikasi dua karakter sosial psikologi penduduk miskin. Terdapat kelompok miskin yang menerima kondisi miskin sebagai takdir, dan terdapat kelompok miskin yang beranggapan konsisi miskin dapat diubah jika seseorang memilki kesempatan untuk mengenyam pendidkan yang baik. Hasil penelitian ini digunakan sebagai dasar pengembangan model pengentasan kemiskinan yang bertumpu pada potensi orang miskin itu sendiri. Model pengentasan yang dikembangkan bertitiktolak pada potensi orang miskin.

Puji syukur kepada Tuhan yang Maha Esa karena atas kasih dan rahmatNya penelitian ini terselesaikan dengan baik dan lancar. Ucapan terimakasih juga kami sampaikan kepada DIKTI yang telah membiayai penelitian ini, pimpinan Universitas Katolik Soegijapranata dan jajarannya, para responden dan narasumber serta berbagai pihak yang telah mendukung penelitian ini.

Semarang, 25 November 2013 MG Westrie Kekalih S

(5)

vi

1.2 Urgensi (Keutamaan) Penelitian 1

BAB II. STUDI PUSTAKA DAN ROADMAP PENELITIAN 5

2.1. Kemiskinan dan Program Pengentasan Kemiskinan 5

2.2. Pertumbuhan Inklusif 6

2.3. Knowlegde Based Economy 7

2.4. Miskin Produktif 9

2.9.Budaya dan Masyarakat Miskin 9

2.5. Motivasi dan Self-efficacy 10

2.6. . Roadmap Penelitian. 13

BAB III TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN 14

3.1. Tujuan Penelitian 14

3.2. Manfaat Penelitian 14

BAB IV. METODE PENELITIAN 16

4.1. Jenis Penelitian 16

4.2. Lokasi Penelitian 16

4.3. Jenis dan Teknik Pengumpulan Data 17

4.4. Populasi dan Sampel Penelitian 18

4.5. Teknik Analisis. 18

4.6. Kerangka Pikir Penelitian 19

BAB V.HASIL DAN PEMBAHASAN 20

5.1. Gambaran Umum Wilayah Penelitian 20

5.1.1. Kabupaten Klaten 20

5.1.2. Kabupaten Wonosobo 22

5.2. Gambaran Umum Kemiskinan Kabupaten Klaten dan

Kabupaten Wonosobo 23

5.3. Identifikasi Profil Kelompok Miskin Produktif di Kabupaten

Klaten dan Kabupaten Wonosobo. 29

5.4. Identifikasi Karakter Kemiskinan Menurut Cara Pandang 34

5.5. Kearifan Lokal Pengentasan Kemiskinan 41

5.6. Pengembangan Model Self-helping Pengentasan Kemiskinan

Sesuai Karakter Kemiskinan 42

BAB VI. RENCANA TAHAP BERIKUTNYA 43

6.1. Jenis Penelitian (tahun ke 2) 44

6.2. Lokasi Penelitian (tahun ke 2) 44

6.3. Teknik Pengumpulan Data (tahun ke 2) 44

6.4. Populasi dan Sampel Penelitian (tahun ke 2) 44

6.5. Teknik Analisis (tahun ke 2) 44

(6)
(7)

viii

Tabel 5.1. Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Klaten 2006-2008 21 Tabel 5.2. Perkembangan Kemiskinan Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten

Klaten 2010-2011 25

Tabel 5.3. Distribusi Penduduk Miskin menurut Tingkat Pendidikan 27 Tabel 5.4. Persentase Pengeluaran Perkapita untuk Makanan Menurut

Kabupaten/Kota dan Status Miskin, Tahun 2011 28 Tabel 5.5. Persentase Rumah Tangga Miskin Menurut Kabupaten/Kota dan Luas

Lantai Perkapita, Tahun 2011 28

Tabel 5.6. Distribusi Responden Menurut Tingkat Pendidikan (%) 29 Tabel 5.7. Distribusi Responden menurut Jumlah tanggunan Keluarga (%) 31

Tabel 5.8. Alasan Merasa Miskin (%) 38

Tabel 5.9. Jenis Upaya Keluar dari Kemiskinan (%) 38 Tabel 5.10. Jenis Program/bantuan yang diharapkan (%) 39

(8)

ix

Gambar 5.1. Peta Kabupaten Klaten 20

Gambar 5.2. Peta Kabupaten Wonosobo 22

Gambar 5.3. Perkembangan Pra Keluarga Sejahtera Kab. Wonosobo 24 Gambar 5.4. Distribusi Responden Menurut Status Marital (%) 30 Gambar 5.5. Distribusi Responden menurut Jumlah Keluarga Dalam Satu

Rumah (%) 31

(9)

x

Lampiran 3 Personalia tenaga peneliti beserta kualifikasinya Lampiran 4 Blueprint Modul Model Pengentasan Kemiskinan

(10)

1

Pengembangan Self-Helping Model pada Kelompok Masyarakat Miskin Produktif untuk Pengentasan Kemiskinan

1.1.Latar Belakang

Kemiskinan merupakan masalah yang dihadapi semua provinsi di Indonesia tak terkecuali Jawa Tengah. Menurut BPS Jawa Tengah jumlah penduduk miskin di Provinsi Jawa Tengah pada Bulan Maret 2011 sebesar 5,107 juta orang (15,76 persen). Jumlah ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan Maret 2010. Meskipun saat ini masyarakat miskin Jawa Tengah mengalami penurunan, namun pada dasarnya masyarakat tetap rentan sehingga jumlah kemiskinan mudah bertambah dan berkurang. Adanya gejolak ekonomi, misalnya gagal panen dan kenaikan harga BBM akan dengan cepat mendorong kenaikan kemiskinan.

Untuk menanggulangi kemiskinan maka arah kebijakan pokok penanggulan kemiskinan di Jawa Tengah dilaksanakan melalui program pro-poor, pro-job dan

pro-growth. Pertumbuhan ekonomi yang diharapkan akan mengurangi kemiskinan,

dalam kenyataannya pertumbuhan ekonomi justru terkadang mengabaikan kaum miskin dan termarjinalkan, sehingga menghasilkan peningkatan inequality ( Ifzal Ali and Hyun Hwa Son, 2007). Peningkatan inequality dapat membawa implikasi berupa turunnya tingkat pengurangan kemiskinan, stabilitas politik dan sosial serta penurunan pertumbuhan itu sendiri.

(11)

2

Pengembangan Self-Helping Model pada Kelompok Masyarakat Miskin Produktif untuk Pengentasan Kemiskinan

1.2.Urgensi (Keutamaan) Penelitian

Pertumbuhan inklusif adalah pertumbuhan yang menciptakan kesetaraan bagi seluruh masyarakat. Salah satu tujuan utama dari pertumbuhan inklusif adalah pengurangan kemiskinan. Namun demikian, pengentasan kemiskinan yang bersifat parsial dan cenderung seragam sebenarnya menjadi permasalahan tersendiri.

Jawa Tengah juga menghadapi tantangan yang besar dalam mengatasi kemiskinan. Meskipun dari tahun ke tahun kemiskinan di Jawa Tengah cenderung menurun, namun di beberapa kantong kemiskinan, proses kemiskinan ini masih terus terjadi. Berdasarkan data dari Berita Resmi Statistik BPS Jawa Tengah No 37/07/33, Th. V, 1 Juli 2011, diketahui bahwa jumlah penduduk miskin (penduduk yang berada dibawah Garis Kemiskinan) di Provinsi Jawa Tengah pada bulan Maret 2011 sebesar 5,107 juta orang (15,76 persen). Kondisi ini menunjukkan adanya penurunan sebanyak 261,80 ribu orang jika dibandingkan dengan penduduk miskin pada Bulan Maret 2010 yang berjumlah 5,369 juta orang (16,56 persen). Data lain juga menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan di daerah pedesaan sama parahnya dengan tingkat kemiskinan di perkotaan. Hal ini ditunjukkan oleh Nilai Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) baik di perkotaan maupun pedesaan adalah 0,66.

Berdasarkan uraian tersebut, maka penelitian ini penting untuk dilakukan karena:

1. Adanya pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul dalam isu pengurangan kemiskinan yaitu strategi apa yang lebih efisien. Karena dalam beberapa tahun terakhir ini, ekonomi pembangunan mulai menengok pada masalah sosial dan institusional untuk mengatasi masalah kemiskinan (Michael Woolcock, 2004), maka penelitian ini menggunakan pendekatan ekonomi dan sosio-kultural.

(12)

3

Pengembangan Self-Helping Model pada Kelompok Masyarakat Miskin Produktif untuk Pengentasan Kemiskinan 3. Pembuatan model pemberdayaan diri sendiri (self-helping model)

merupakan model yang dihipotesiskan paling tepat1. Untuk mendapatkan model ini, maka harus dilakukan penelitian dengan pendekatan yang komprehensif.

4. Pemberdayaan masyarakat miskin memerlukan penghapusan rintangan institusi formal dan informal dalam melakukan tindakan untuk meningkatkan kesejahteraan mereka baik secara individual maupun kolektif dan untuk mengurangi keterbatasan pilihan mereka. Pemberdayaan juga merupakan perluasan dari aset dan kapabilitas dari masyarakat miskin untuk berpartisipasi dalam, bernegosiasi dengan, mengontrol akuntabilitas institusi yang mempengaruhi kehidupan mereka.

5. Penelitian ini juga penting dilakukan karena pemerintah provinsi Jawa Tengah berniat untuk menekan angka kemiskinan pada periode berikutnya. Penelitian ini menjadi lebih unggul dibanding penelitian sebelumnya karena penelitian ini mencakup empat hal berikut:

1. Memasukkan unsur pertumbuhan inklusif yang berkelanjutan. Konsep pertumbuhan inklusif bertujuan untuk menjamin bahwa kesempatan ekonomi yang dihasilkan dari pertumbuhan tersedia bagi semua orang, termasuk kaum miskin.

2. Menggunakan knowledge-based economy (KBE) sebagai dasar dalam mendisain self-helping program. Konsep KBE menggunakan pengetahuan dan teknologi dalam mendorong produktivitas dan pertumbuhan ekonomi, dimana manusia sebagai human capital dan teknologi memegang peran utama dalam pembangunan. Kearifan dan pengetahuan lokal juga menjadi dasar pengembangan model, sehingga karakter positif yang ada dalam masyarakat miskin mendapat tempat dan dikembangkan dalam model

1Pemberdayaan diri sendiri (self-helping model) merupakan hal yang dihipotesiskan paling tepat,

(13)

4

Pengembangan Self-Helping Model pada Kelompok Masyarakat Miskin Produktif untuk Pengentasan Kemiskinan tersebut. Penggunaan konsep KBE ini diharapkan akan dapat memberikan manfaat yang lebih luas, karena di dalamnya terdapat difusi pengetahuan, perbaikan kondisi human capital, dan mendorong perubahan organisasional (OECD, 1996).

3. Menggunakan model self-helping program yang diharapkan akan semakin menguatkan karakter positif yang dimiliki oleh masyarakat miskin produktif, dan mengurangi perilaku yang cenderung mengharapkan bantuan dalam bentuk cash transfer.

(14)

5

Pengembangan Self-Helping Model pada Kelompok Masyarakat Miskin Produktif untuk Pengentasan Kemiskinan

2.1. Kemiskinan dan Program Pengentasan Kemiskinan.

Pengertian umum mengenai kemiskinan adalah mengacu pada suatu kondisi dimana terdapat ketidakmampuan atau ketidakberdayaan dalam memenuhi kebutuhan, bahkan kebutuhan dasar seperti pangan, sandang, papan, pendidikan dan kesehatan. Berdasarkan literatur, terdapat beberapa pengertian mengenai kemiskinan antara lain:

1. Kemiskinan absolut; kemiskinan yang mengacu pada kondisi dimana seseorang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar minimum seperti pangan, sandang, papan, pendidikan dan kesehatan. Dalam hal ini, penduduk miskin adalah mereka yang pendapatannya dibawah garis kemiskinan. Ukuran umum yang biasa digunakan antara lain menurut Bank Bunia, yakni US$ 1 per hari dan US$2 per hari.

2. Kemiskinan relatif; yakni kemiskinan yang mengacu pada kondisi distribusi pendapatan dalam masyarakat. Dengan demikian, orang miskin selalu hadir dalam kehidupan

3. Kemiskinan struktural; merupakan kemiskinan yang disebabkan karena struktur ataupun tata kehidupan masyarakat

4. Kemiskinan budaya, adalah kemiskinan yang diakibatkan oleh faktor-faktor adat dan budaya.

Mengacu pada beberapa jenis kemiskinan tersebut maka dapat dikatakan bahwa kemiskinan bukan merupakan masalah ekonomi saja, namun merupakan fenomena sosial yang sangat kompleks, multidimensional.

(15)

6

Pengembangan Self-Helping Model pada Kelompok Masyarakat Miskin Produktif untuk Pengentasan Kemiskinan Kemiskinan adalah bukan hal yang baru. Sudah sejak lama pemerintah melakukan berbagai upaya untuk menanggulanginya, menekan angka kemiskinan. Pada semua rezim pemerintahan telah menempatkan masalah kemiskinan sebagai prioritas. Beberapa upaya yang dilakukan oleh pemerintah antara lain penyusunan strategi penanggulangan kemiskinan, dengan disponsori oleh Bank Dunia disusun program di tingkat kecamatan dan urban poor, Kredit Usaha Tani (KUT), hingga kini dengan beras miskin (Raskin), jaring pengaman sosial (JPS), kartu gakin (keluarga miskin), pendidikan bagi siswa miskin, KUR, P2KP, Bantuan Langsung Tunai (BLT), PNPM dan lain sebagainya.

Bukan karena pemerintah gagal, namun karena berbagai hal angka kemiskinan seolah tidak berubah. Satu hal yang bisa dicermati dalam program-program pengentasan kemiskinan adalah bahwa program-program tersebut merupakan inisiatif pemerintah, dengan subsidi penuh dari Pemerintah. Pendekatan demikian

cenderung menempatkan “si miskin” sebagai obyek. Terdapat beberapa hal yang kurang tepat dalam program penanggulangan kemiskinan (Abu Huraerah, 2006), (1) cenderung berorientasi pada aspek ekonomi, belum multidimensional, (2) bernuansa karitatif (kemurahan hati) dan bukan produktivitas, (3) menempatkan rakyat miskin sebagai objek bukan, subjek, (4) posisi pemerintah lebih sebagai penguasa daripada fasilitator. Suharto (2003) menyatakan perlunya paradigma baru

dalam pengentasan kemiskinan, yakni menekankan “apa yang dimiliki orang miskin” bukan “apa yang tidak dimiliki orang miskin”. Oleh karena itu, program pengentasan kemiskinan harus bersifat multidimensional, mendorong produktivitas, melibatkan kelompok miskin sebagai subyek dalam seluruh rangkaian program dan memberdayakan. Dengan demikian, kelompok ini diharapkan mampu membantu dirinya sendiri dari belenggu kemiskinan.

2.2. Pertumbuhan Inklusif

(16)

7

Pengembangan Self-Helping Model pada Kelompok Masyarakat Miskin Produktif untuk Pengentasan Kemiskinan Kesenjangan pendapatan dalam masyarakat menjadi semakin lebar. Sebagai akibatnya, terdapat sekelompok masyarakat yang tidak dapat ikut serta dalam proses pembangunan atau menikmati hasil-hasil pembangunan dan timbul kemiskinan. Menyadari hal tersebut, maka dalam perencanaan pembangunan yang bertujuan mengakselerasi pertumbuhan ekonomi hendaklah tetap memperhatikan masalah kemiskinan. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dengan kemiskinan merupakan hal yang tak terpisahkan.

Inclusive growth/growth for all (pertumbuhan inklusif), merupakan konsep

pertumbuhan yang mengacu pada suatu pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dimana peluang ekonomi yang dihasilkan dapat dinikmati atau terdistribusi ke semua lapisan masyarakat, termasuk kaum miskin dan termarjinalkan, baik sekarang maupun masa yang akan datang. Dengan demikian terdapat dua hal pokok dalam pertumbuhan inklusif, (1) Inklusi (penyertaan), yang berarti terdapat adanya difusi peluang bagi semua, yang berarti juga memberikan peluang ekonomi kepada mereka yang dalam pertumbuhan saat ini tersingkirkan, (2) pertumbuhan yang berkelanjutan, yang berarti bahwa proses tidak akan berhenti pada saat ini tetapi juga pada masa yang akan datang.

Pertumbuhan inklusif merupakan strategi yang efektif untuk mengurangi kemiskinan. Hal ini disebabkan karena pengurangan kemiskinan yang didasarkan hanya pada satu kriteria dan kriteria pendapatan absolut akan mengabaikan isu ketimpangan dan risiko terkait, namun sebaliknya dengan strategi pertumbuhan inklusif. Strategi pertumbuhan inklusif fokus pada penciptaan kesempatan dan penjaminan akses yang setara. Akses yang setara terhadap kesempatan akan menjadi dasar yang meningkatkan kapasitas manusia termasuk masyarakat miskin, yang memiliki aset utama tenaga kerja. Secara umum pertumbuhan inklusif fokus pada proses peningkatan kesempatan akan mengurangi kemiskinan secara efektif, dan biasanya akan memperhatikan masalah ketimpangan.

2.3. Knowlegde Based Economy

(17)

8

Pengembangan Self-Helping Model pada Kelompok Masyarakat Miskin Produktif untuk Pengentasan Kemiskinan komunikasi serta globalisasi. Secara khusus terkait dengan tata ekonomi, perekonomian lama yang cenderung resource based yakni perekonomian yang mengandalkan kekayaan dan keragaman sumber daya alam diganti dengan perekonomian baru yakni knowledge based economy (KBE) perekonomian yang berbasis pada ilmu pengetahuan yang juga sering disebut dengan digital economy. Dalam KBE tersirat adanya pengakuan bahwa manusia sebagai sumberdaya dan teknologi merupakan faktor utama dalam pertumbuhan ekonomi. Sumberdaya manusia merupakan sumberdaya yang dominan.

Peran KBE terhadap pertumbuhan ekonomi tercermin dalam tren perekonomian OECD yang menunjukkan adanya keterkaitan antara investasi yang high-technology, high technology industry, highly skill labor serta produktivitas (OECD, 1996). Karena berbasis pada ilmu pengetahuan, KBE memungkinkan organisasi dan masyarakat memperoleh, berkreasi, diseminasi dan memanfaatkan ilmu pengetahuan secara lebih efektif untuk meningkatkan pembangunan ekonomi dan sosial. Peran ilmu pengetahuan dalam pembangunan ekonomi antara lain melalui (1) Pengetahuan Produksi (knowledge production), yakni mengembangkan

dan menyediakan pengetahuan baru terkait dengan produksi/sistem produksi, (2)

knowledge transmission, yakni melakukan edukasi dan pengembangan

sumberdaya manusia dan (3) knowledge transfer, menyebarluaskan ilmu

pengetahuan serta penyelesaian masalah.

(18)

9

Pengembangan Self-Helping Model pada Kelompok Masyarakat Miskin Produktif untuk Pengentasan Kemiskinan suatu negara. Oleh karena itu, penguasaan ilmu pengetahuan, baik secara individual maupun kelembagaan menjadi sangat penting dan strategis dalam menyelesaikan berbagai masalah dalam perekonomian, baik masalah pengangguran, kemiskinan, ketersediaan barang dan jasa dalam perekonomian, keterbatasan kapasitas produksi dan lain sebagainya.

2.4. Miskin Produktif.

Terkait dengan upaya penanggulangan kemiskinan, Presiden Susilo Bambang Yudoyono telah mengeluarkan Perpres No. 15 Tahun 2010 tentang Percepatan Penanggulangan Kemiskinan. Tujuan utama dari Perpres tersebut adalah menurunkan angka kemiskinan hingga 8 – 10% pada akhir tahun 2014. Dalam perpres tersebut telah disinggung istilah miskin produktif. Menurut pengertian dalam perpres tersebut, miskin produktif atau keluarga miskin produktif adalah orang yang sama sekali tidak mempunyai sumber mata pencaharian dan tidak mempunyai kemampuan memenuhi kebutuhan pokok yang layak bagi kemanusiaan atau orang yang mempunyai sumber mata pencaharian, tetapi tidak dapat memenuhi kebutuhan pokok yang layak bagi kemanusiaan; Keluarga Miskin yang mengalami penurunan pendapatan dan kesejahteraannya atau mengalami penghentian penghasilan.

Selain itu, dalam berbagai program penanggulanan kemiskinan juga sering didasarkan pada kelompok umur. Hal tersebut dimaksudkan untuk memberikan program penanggulangan kemiskinan yang sesuai. Berdasarkan pengelompokan umur, yang dimaksud dengan miskin produktif adalah kelompok umur 15 – 55 tahun. Kelompok miskin produktif ini selanjutnya dijadikan fokus penanggulangan kemiskinan.

2.5. Budaya dan Masyarakat Miskin

(19)

10

Pengembangan Self-Helping Model pada Kelompok Masyarakat Miskin Produktif untuk Pengentasan Kemiskinan kontrol sosial yang ketat, gotong-royong, dan pola kehidupan yang lebih sederhana. Demikian juga karakter masyarakat kota yang heterogen dan tidak mengutamakan relasi akrab serta adanya toleransi yang lebih tinggi akan berpengaruh pada kehidupan orang miskin kota (Hartomo & Aziz, 2008).

Ahli teori belajar sosial, Albert Bandura, berpendapat bahwa perilaku manusia tidak lepas dari pengaruh lingkungan dan individu itu sendiri (Bandura, 1977). Dalam proses belajar ini hubungan antara lingkungan, individu, dan perilakunya bersifat reciprocal (timbal-balik). Menurut teori ini dapat diasumsikan bahwa usaha ekonomi produktif individu juga tidak lepas dari lingkungan di mana individu hidup dan karakteristik personal individu yang bersangkutan. Ini berarti terjadi saling mempengaruhi antara ketiga unsur, yakni lingkungan, individu, dan perilakunya.

Lingkungan, baik sosial maupun fisik, memberi berbagai kemungkinan maupun batasan bagi individu untuk berperilaku. Perilaku tersebut pada gilirannya juga berpengaruh pada individu yang bersangkutan dan lingkungan di mana ia hidup. Dalam konteks masyarakat miskin, kondisi kemiskinan dan karakter kultur atau sub-kultur dapat dipahami masing-masing orang secara berbeda. Berdasarkan pemahaman tersebut dan pandangan orang miskin tersebut terhadap dirinya sendiri maka akan muncul (atau tidak muncul) usaha untuk mengatasi kondisi kemiskinan yang ada. Usaha tersebut secara timbal balik akan berpengaruh terhadap individu dan lingkungan masyarakat. Pengaruh ini tidak sebatas pada perubahan kondisi ekonomi tetapi juga terhadap karakter orang yang bersangkutan termasuk kemampuan dan ketrampilan, pengetahuan dan motivasi.

2.5. Motivasi dan Self-efficacy

(20)

11

Pengembangan Self-Helping Model pada Kelompok Masyarakat Miskin Produktif untuk Pengentasan Kemiskinan paling dasar, yakni kebutuhan untuk bertahan hidup (survival). Survival needs ini bersifat fisiologis. Dapat diasumsikan bahwa orang-orang miskin lebih banyak berjuang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar ini.

Kebutuhan memunculkan dorongan dalam individu untuk melakukan kegiatan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Ini yang disebut dengan motivasi. Motivasi adalah dorongan yang membuat individu berperilaku secara tertentu. Motivasi berperan dalam berbagai bidang kehidupan walaupun dalam banyak studi sering dikaitkan dengan performance maupun achievement (Woolfolk, 2004; Gage & Berliner, 1984). Dengan demikian perilaku masyarakat miskin untuk mengatasi kemiskinannya juga tidak lepas dari motivasi ini. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa motivasi yang kuat akan berpengaruh pada usaha serta performance dan capaian seseorang maupun kelompok (e.g. Colquitt et.al., 2000).

Dalam usaha untuk keluar dari kondisi yang kurang (yang menimbulkan kebutuhan) individu sering menghadapi berbagai kendala baik dari dalam maupun dari luar individu. Kendala dari dalam individu mencakup kemampuan dan kemauan individu tersebut serta faktor individual lainnya. Kendala juga datang dari luar dirinya, termasuk dari kelompoknya sendiri. Ini yang disebut dengan motivational gravity (Carr et.al., 1995). Motivational gravity adalah seberapa kuat lingkungan mendukung atau menghambat individu anggota kelompok untuk mengubah dirinya dan dengan demikian nampak menonjol dibandingkan anggota-anggota kelompok lainnya. Motivational gravity ini dapat berasal dari sesama (peer) maupun atasan. Di dalam masyarakat miskin peer mereka adalah sesama anggota masyarakat yang miskin. Yang berfungsi sebagai pimpinan adalah tokoh-tokoh masyarakat dan orang-orang yang secara sosial-ekonomi lebih mampu. Motivational gravity akan mempengaruhi usaha dan keberhasilan orang yang berusaha untuk keluar dari kondisinya saat ini.

Bandura (1997) memperkenalkan apa yang disebutnya dengan

self-efficacy,yakni persepsi individu tentang kemampuannya untuk berperilaku secara

(21)

12

Pengembangan Self-Helping Model pada Kelompok Masyarakat Miskin Produktif untuk Pengentasan Kemiskinan berperan dalam berbagai tahapan perilaku seseorang, mulai dari pemunculan ide dan perencanaan perilaku hingga ke perilaku nyata serta proses recovery ketika terjadi kegagalan dalam perilaku. Dalam kaitannya dengan usaha masyarakat miskin perilaku yang dimaksud adalah perilaku konkrit untuk keluar dari kondisi miskin yang dialaminya saat ini. Sejauh mana orang akan berusaha sangat tergantung juga bagaimana orang memandang dirinya sendiri, apakah dia mampu atau tidak untuk melakukan usaha tersebut. Bandura (1992) juga mengemukakan bahwa selain self-efficacy ada juga collective efficacy, yakni keyakinan atas kemampuan sebagai kelompok untuk secara bersama melakukan suatu tindakan dalam situasi tertentu. Collective efficacy terkait dengan budaya masyarakat yang bersifat kolektif (Schaubroek et.al., 2000). Dalam masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat pedesaan, sangat mungkin juga berkembang collective efficacy, di samping juga self-efficacy pada anggota masyarakat secara individual. Collective efficacy ini sangat berperan penting di dalam proses perkembangan suatu masyarakat sebagai masyarakat, bukan sebagai individu.

(22)

13

Pengembangan Self-Helping Model pada Kelompok Masyarakat Miskin Produktif untuk Pengentasan Kemiskinan

ROADMAP

Penelitian terkait yang telah dilakukan Penelitian terkait yang sedang

(23)

14

Pengembangan Self-Helping Model pada Kelompok Masyarakat Miskin Produktif untuk Pengentasan Kemiskinan 3.1.Tujuan Penelitian

Masalah kemiskinan yang bersifat multi dimensional di Jawa Tengah tidak cukup diatasi dengan pemberian subsidi atau bantuan tunai kepada masyarakat miskin. Salah satu cara terbaik untuk keluar dari jerat kemiskinan adalah adanya pemberdayaan diri sendiri. Berdasarkan hal tersebut, maka secara umum tujuan penelitian ini adalah mengembangkan model pemberdayaan diri sendiri atau self- helping program untuk keluar dari masalah kemiskinan.

Penelitian ini akan dilakukan dalam dua tahun. Tujuan khusus pada tahun pertama adalah:

1. Mengidentifikasi karakter kelompok masyarakat miskin 2. Mengidentifikasi kelompok miskin produktif.

3. Mengindentifikasi pengetahuan/kearifan lokal yang dapat dikembangkan.

4. Mengembangkan model self-helping program disesuaikan dengan kearifan lokal yang ada yang tepat dan sesuai dengan potensi serta karakter positif, yang dimiliki oleh kelompok miskin produktif.

Tujuan khusus pada tahun kedua adalah:

1. Melakukan implementasi model self-helping program 2. Mengevaluasi model

Keluaran yang diharapkan dari penelitian ini adalah:

1. Model self-helping program yang diharapkan akan dapat diterapkan pada daerah/kelompok yang memiliki karakteristik yang sama dengan model yang dibangun. 2. Rekomendasi kepada pemerintah mengenai model pengentasan kemiskinan yang

mampu mendukung tercapainya pertumbuhan inklusif yang berkelanjutan. 3. Jurnal yang merupakan sarana diseminasi pengetahuan kepada masyarakat luas.

3.2. Manfaat Penelitian

(24)

15

Pengembangan Self-Helping Model pada Kelompok Masyarakat Miskin Produktif untuk Pengentasan Kemiskinan

1. Bagi kaum miskin dan termarjinalkan: Meningkatkan akses terhadap hasil-hasil pembangunan. Karena model yang akan dikembangkan adalah model pemberdayaan yang unsur pertumbuhan inklusif yang berkelanjutan. Konsep pertumbuhan inklusif bertujuan untuk menjamin bahwa kesempatan ekonomi yang dihasilkan dari pertumbuhan tersedia bagi semua orang, termasuk kaum miskin.

2. Bagi Pendamping, NGO, Lembaga Donor: Diperoleh metode pendampingan yang komprehensif karena penelitian ini menggunakan pendekatan ekonomi dan sosio-kultural. Pengembangan model dalam penelitian ini menggunakan knowledge-based economy (KBE) sebagai dasar dalam mendisain self-helping program.

3. Bagi Pemerintah: Sebagai masukan untuk pemberdayaan masyarakat miskin yang memerlukan penghapusan rintangan institusi formal dan informal dalam melakukan tindakan untuk meningkatkan kesejahteraan mereka baik secara individual maupun kolektif dan untuk mengurangi keterbatasan pilihan mereka. Pemberdayaan juga merupakan perluasan dari aset dan kapabilitas dari masyarakat miskin untuk berpartisipasi dalam, bernegosiasi dengan, mengontrol akuntabilitas institusi yang mempengaruhi kehidupan mereka.

(25)

16

Pengembangan Self-Helping Model pada Kelompok Masyarakat Miskin Produktif untuk Pengentasan Kemiskinan 4.1. Jenis Penelitian.

Desain penelitian ini menggunakan desain penelitian eksploratif dengan bertujuan untuk memetakan karakter kelompok miskin secara multidimensional seperti halnya sifat kemiskinan. Karakter utama yang digali adalah potensi, yakni segala sesuatu yang bersifat positif yang dimiliki oleh kelompok miskin sebagai dasar pengembangan model yang memberdayakan kelompok itu sendiri. Dikatakan multi dimensional karena dalam penelitian ini akan dieksplor sifat karakter positif, potensi ekonomi, kearifan maupun pengetahuan lokal atau meliputi aspek ekonomi, sosio-kulural dan ekologi.

4.2.Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Jawa Tengah yang difokuskan pada daerah-daerah yang merupakan kantong kemiskinan. Dalam penelitian ini akan diambil dua daerah dengan indeks keparahan kemiskinan tertinggi namun didukung oleh potensi daerah yang tinggi. Mengenai persoalan pengentasan kemiskinan, tidak cukup hanya melihat jumlah penduduk miskin saja, namun juga harus dilihat bagaimana kondisi tingkat kedalaman kemiskinan/poverty gap index (P1) maupun indeks keparahan kemiskinan/Distributionally sensitive (P2). Kedua indeks tersebut menjadi penting karena P1 merupakan ukuran rata-rata kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap batas kemiskinan dan penyebaran pengeluaran diantara penduduk miskin itu sendiri. Semakin tinggi nilai indeks ini berarti kehidupan ekonomi penduduk miskin semakin buruk. Sementara itu, P2 menunjukkan gambaran mengenai peningkatan pada P1 berarti terjadi peningkatan rata-rata kesenjangan pengeluaran penduduk miskin terhadap garis kemiskinan dan hal tersebut berarti kehidupan masyarakat miskin pada tahun tersebut semakin terpuruk. Atas dasar hal tersebut, dalam penelitian ini akan diambil dua wilayah sampel yakni dua kabupaten termiskin di propinsi Jawa Tengah baik dari dimensi persentase, P1 maupun P2 sebagai berikut:

1. Kabupaten Wonosobo 2. Kabupaten Klaten

(26)

17

Pengembangan Self-Helping Model pada Kelompok Masyarakat Miskin Produktif untuk Pengentasan Kemiskinan

Kota Penduduk

4.3. Jenis dan Teknik Pengumpulan Data

Untuk dapat mencapai tujuan penelitian dengan baik, dalam penelitian ini digunakan baik data primer dan sekunder. Data primer meliputi karakter positif, potensi ekonomi, kultur (adat istiadat), harapan, kearifan dan pengetahuan lokal serta peran pemerintah. Sumber utama dari data primer adalah kelompok miskin sasaran. Sementara itu data sekunder meliputi: data-data terkait dengan kemiskinan seperti perkembangan kemiskinan, indeks kadalaman kemiskinan, indeks keparahan kemiskinan serta berbagai program dan kebijakan pengentasan kemiskinan.

Guna memperoleh data-data dimaksud, beberapa teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini :

a. Teknik dokumentasi, metode ini digunakan untuk memetakan kondisi kemiskinan

saat ini, proyeksi serta mengidentifikasi berbagai program yang telah dilakukan oleh pemerintah.

(27)

18

Pengembangan Self-Helping Model pada Kelompok Masyarakat Miskin Produktif untuk Pengentasan Kemiskinan

seperti tokoh masyarakat, akademisi dan pemerintah. 4.4.Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi penelitian adalah pihak-pihak yang terlibat dalam upaya pengentasan kemiskinan, utamanya adalah kelompok miskin produktif. Sedangkan sampel dalam penelitian ini akan diambil untuk masing masing kabupaten dua kelompok sampel, dimana kelompok sasaran akan ditentukan teknik convenience sampling.

4.5.Teknik Analisis

Untuk menganalisis data dalam penelitian ini menggunakan metode atau teknik analisis kuantitatif dan kualitatif dengan deskriptif model. Sedangkan tahapan penelitian yang dilakukan sebagai berikut:

1. Melakukan studi pendahuluan peta kemiskinan di Jawa Tengah.

Tahapan ini sebagai tahap awal untuk memetakan kondisi karakter dan potensi kelompok miskin. Tahapan ini dilakukan dengan studi literatur/dokumentasi dan studi lapangan untuk memperoleh pemahaman mengenai karakter kelompok miskin di Jawa Tengah.

2. Mengidentifikasi karakter positif, potensi ekonomi, kearifan dan pengetahuan lokal kelompok masyarakat miskin produktif

Studi lapangan dilakukan dengan cara melakukan pendekatan secara personal pihak-pihak terkait untuk memahami dan mengidentifikasi karakter positif dan segala sesuatu yang dimiliki oleh kelompok miskin produktif sebagai basis pemodelan pengentasan kemiskinan yang memberdayakan. Dalam melakukan identifikasi ini akan digunakan teknik face to face interview dengan bantuan pertanyaan yang sederhana agar mudah dipahami karena responden adalah kelompok miskin yang kecenderungannya tingkat pendidikan rendah.

3. Pengembangan model

(28)

19

Pengembangan Self-Helping Model pada Kelompok Masyarakat Miskin Produktif untuk Pengentasan Kemiskinan

lapangan. Selanjutnya pola ini kan dikonfirmasikan ke berbagai pihak/stakeholder yang kompeten untuk memantapkan model yang akan dikembangkan melalui Focus Group

Discussion (FGD)

4.6.Kerangka Pikir Penelitian

Gambar 3.1. Kerangka Pikir Penelitian

Permasalahan: Berbagai program pengentasan kemiskinan telah dilakukan oleh pemerintah, namun tingkat kemiskinan tetap tinggi dan sering menciptakan

ketergantungan. Oleh karena itu sangat penting untuk menyusun model pengentasan kemiskinan yang memberdayakan, sehingga mereka dapat membantu

dirinya sendiri keluar dari belenggu kemiskinan.

Tahun 1

Menyusun pemodelan untuk penguatan kelompok miskin produktif sesuai dengan karakter dan potensinya

Penyusunan Model Penguatan karakter yang mendorong gerakan

membantu diri sendiri keluar dari belenggu kemiskinan Penggalian karakter kelompok

Miskin Produktif sasaran

Mengidentifikasi karakter positif, potensi Ekonomi, kearifan dan

pengetahuan lokal yang dapat dikembangkan

Studi literatur dan studi lapangan

(29)

20

Pengembangan Self-Helping Model pada Kelompok Masyarakat Miskin Produktif untuk Pengentasan Kemiskinan 5.1.Gambaran Umum Wilayah Penelitian

5.1.1. Kabupaten Klaten

Secara geografis, Kabupaten Klaten terletak pada 110° 30’ –110° 45’ Bujur Timur dan

7°30’ – 7°45’ Lintang Selatan. Di sebelah utara berbatasan langsung dengan Kabupaten Boyolali, sebelah timur berbatasan langsung dengan Kabupaten Sukoharjo, di sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Gunung Kidul (DIY) dan di sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Sleman (Provinsi DIY). Kabupaten Klaten berada diantara 3 kota besar, yaitu Kota Yogyakarta (30km), Kota Surakarta (36km), dan Kota Semarang (100km).

Sumber: Kabupaten Klaten Dalam Angka, 2012. Gambar 5.1. Peta Kabupaten Klaten

Wilayah Kabupaten Klaten terbagi menjadi 3 (tiga) dataran :

(30)

21

Pengembangan Self-Helping Model pada Kelompok Masyarakat Miskin Produktif untuk Pengentasan Kemiskinan

Gunung Kapur.

3. Dataran Gunung Kapur yang membujur di sebelah selatan meliputi sebagian kecil sebelah selatan Kecamatan Bayat dan Cawas.

Melihat keadaan alamnya yang sebagian besar adalah dataran rendah dan didukung dengan banyaknya sumber air maka daerah Kabupaten Klaten merupakan daerah pertanian yang potensial disamping penghasil kapur, batu kali dan pasir yang berasal dari Gunung Merapi.

Jumlah penduduk pada tahun 2012 sebanyak 1.461.706 jiwa, dengan rincian jumlah penduduk laki-laki sebanyak 724.785 jiwa, dan perempuan sebanyak 736.921 jiwa. Penambahan penduduk sebanyak 150.685 jiwa, dengan Kepadatan penduduk 2.230 jiwa/km2. Berdasarkan PPLS jumlah RTS sebanyak 137.771 jiwa. Untuk menanggulanggi hal tersebut Pemerintah Kabupaten Klaten melaksanakan program-program, diantaranya: 1). Program Raskin 130.007 sasaran, 2). Jamkesmas 557.929 peserta, dan 3). Jamkesda sebanyak 25.000 peserta. Pengentasan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PPMKS) juga merupakan salah satu fokus pembangunan daerah di Kabupaten Klaten hingga saat ini. Program kegiatan yang telah dilaksanakan dalam rangka peningkatan perlindungan sosial belum dapat mengatasi permasalahan PMKS secara keseluruhan, namun telah menunjukkan perkembangan ke arah yang positif. Hal tersebut dilihat dari penurunan jumlah penyandang PMKS dari tahun ke tahun.

Salah satu indikator pembangunan manusia adalah IPM (Indeks Pembangunan Manusia). IPM ini dapat digunakan sebagai suatu ukuran yang mengaitkan antara pertumbuhan ekonomi dengan kualitas fisik untuk menggambarkan tingkat kualitas hidup dan kesejahteraan.

Tabel 5.1. Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Klaten 2006-2008

Sumber: Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Klaten

(31)

22

Pengembangan Self-Helping Model pada Kelompok Masyarakat Miskin Produktif untuk Pengentasan Kemiskinan

5.1.2. Kabupaten Wonosobo

Wonosobo berada pada rentang 250 dpl – 2.250 dpl dengan dominasi pada rentang 500 dpl – 1.000 dpl. Sebesar 50% (persen) dari seluruh areal, menjadikan ciri dataran tinggi.

Kabupaten Wonosobo terletak pada 70.43’.13” dan 70.04’.40” garis Lintang Selatan (LS) serta 1090.43’.19” dan 1100.04’.40” garis Bujur Timur (BT), dengan luas 98.468 ha (984,68 km2)

atau 3,03 % luas Jawa Tengah. Secara administratif Wonosobo berbatasan langsung dengan enam kabupaten, yaitu: Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Kendal dan Kabupaten Batang; Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Magelang; Sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Purworejo dan Kabupaten Kebumen; Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Kebumen.

(32)

23

Pengembangan Self-Helping Model pada Kelompok Masyarakat Miskin Produktif untuk Pengentasan Kemiskinan

1. Melanjutkan praktik pemerintahan partisipatif dan demokratis menuju masyarakat yang lebih sejahtera.

2. Meningkatkan kemajuan pembangunan menuju kemandirian daerah

3. Meningkatkan pelayanan sosial dasar untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. 4. Meningkatkan perekonomian daerah yang berbasis pada potensi unggulan daerah. 5. Meningkatkan dimensi keadilan dan meniadakan kekerasan dalam semua bidang. Sedangkan prioritas pembangunan tahun 2012 adalah:

1. Percepatan penyediaan dan perbaikan Infrastruktur untuk mendukung terciptanya kemandirian daerah;

2. Peningkatan potensi ekonomi kerakyatan melalui pendekatan komoditas serta kawasan dengan peningkatan pemberdayaan masyarakat;

3. Peningkatan Akses Pelayanan Sosial Dasar untuk memenuhi hak dasar masyarakat dalam penanggulangan kemiskinan; dan

4. Peningkatan dan perbaikan tata kelola pemerintahan dan pelayanan publik dalam pelaksanaan reformasi birokrasi.

(33)

24

Pengembangan Self-Helping Model pada Kelompok Masyarakat Miskin Produktif untuk Pengentasan Kemiskinan

Sumber: Wonosobo Dalam Angka 2012.

Gambar 5.3. Perkembangan Pra Keluarga Sejahtera Kab. Wonosobo

Seperti telah diungkapkan dalam bab terdahulu, dalam memandang kemiskinan suatu wilayah tidak cukup hanya dengan melihat penduduk miskin secara kuantitas saja. Oleh karenanya, dalam upaya pengentasan kemiskinan tidak cukup hanya melihat jumlah penduduk miskin saja. Kondisi yang terkait dengan kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap batas kemiskinan serta bagaimana gambaran penyebaran pengeluaran diantara penduduk miskin itu sendiri merupakan hal penting dalam formulasi kebijakan pengentasan kemiskinan. Kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap batas kemiskinan disebut dengan kedalaman kemiskinan yang diukur dengan indeks kedalaman kemiskinan/poverty gap index (P1). Sedangkan bagaimana gambaran penyebaran pengeluaran diantara penduduk miskin disebut dengan yang diukur dengan indeks keparahan kemiskinan/Distributionally sensitive index (P2). Semakin tinggi nilai indeks kedalaman kemiskinan berarti kehidupan ekonomi penduduk miskin semakin buruk. Sebab, Peningkatan pada P1 berarti terjadi peningkatan rata-rata kesenjangan pengeluaran penduduk miskin terhadap garis kemiskinan dan hal tersebut berarti kehidupan masyarakat miskin pada tahun tersebut semakin terpuruk.

(34)

25

Pengembangan Self-Helping Model pada Kelompok Masyarakat Miskin Produktif untuk Pengentasan Kemiskinan

2011

Sumber: BPS Provinsi Jawa Tengah 2012.

Mengenai karakteristik rumah tangga miskin, Dra. Hesti Asriwandari, M.Si, Drs. Syafiizal, M.Si dan Prih Wahyuningsih, S.Sos dalam penelitiannya tentang Karakteristik Kemiskinan Dan Perilaku Hidup Sehat Pada Masyarakat Miskin Studi di Desa Buluhcina Kecamatan Siak Hulu Kabupaten Kampar menemukan secara khusus mengenai karakteristik kemiskinan antara lain: a) ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic need) seperti pangan, gizi, sandang, papan pendidikan dan kesehatan ; b) Inaccessibility, yaitu ketidakmampuan menjangkau sumberdaya sosial dan ekonomi baik akibat rendahnya daya tawar (bargaining position) maupum keterbatasan modal, teknologi dan sumber daya manusia ; c)Vulnerability, mudah jatuh dalam kemiskinan (rentan) akibat berbagai resiko seperti penyakit, bencana alam, kegagalan panen, dan sebagainya, sehingga harus menjual asset produksinya. Kerentanan ini sering disebut poverty rackets atau roda penggerak kemiskinan. Sementara itu, Weri Nova Afandi (2009) melihat karakter keluarga miskin menurut karakter sosial demografi, pendidikan Kepala Rumah Tangga, ketenagakerjaan Kepala Rumah Tangga dan karakteristik Rumah Tinggal. Karakter demografi meliputi jumlah anggota rumah tangga, kepala rumah tangga perempuan, konsumsi protein, rasio konsumsi terhadap pengeluaran rata-rata per bulan, usia kepala rumah tangga dan aktivitas bepergian Kepala Rumah Tangga. Secara sosial demografis, dalam penelitian tersebut teridentifikasi bahwa:

(35)

26

Pengembangan Self-Helping Model pada Kelompok Masyarakat Miskin Produktif untuk Pengentasan Kemiskinan

wanita sebagai kepala keluaga mencapai 12,9 persen, sedangkan untuk rumahtangga tidak miskin tercatat 13,5 persen.

3. Mengenai konsumsi protein diketahui bahwa Rumah Tangga miskin cenderung mengkonsumsi protein kurang dari tiga kali dalam satu minggu

4. Rasio konsumsi terhadap rata-rata pengeluaran perbulan pada keluarga miskin cenderung lebih besar dibanding keluarga tidak miskin

5. Usia kepala rumah tangga cenderung lebih muda

6. Aktivitas bepergian kepala rumah tangga miskin cenderung lebih rendah dibandingkan aktivitas bepergian kepala rumah tangga tidak miskin.

Dilihat dari karakteristik pendidikan Kepala Rumah Tangga, rata-rata lama bersekolah kepala rumah tangga kelompok miskin hanya 6,20 tahun sedangkan kepala rumah tangga tidak miskin adalah 8,15 tahun. Berdasarkan karakteristik ketenagakerjaan Kepala Rumah Tangga, kelompok Kepala Rumah Tangga yang tidak punya usaha, berusaha sendiri, berusaha sendiri dengan dibantu buruh tidak/tetap/tidak dibayar menjadi yang paling banyak dan rumah tangga dengan kategori miskin. Sedangkan karakteristik tempat tinggal (Perumahan), persentase rumah tangga tidak miskin yang memiliki rumah sendiri lebih besar dari pada rumah tangga miskin.

Salah satu faktor penyebab utama dari timbulnya kemiskinan adalah rendahnya tingkat pendidikan. UU No.20/2003 tentang sistem pendidikan Nasional, tercantum pengertian pendidikan: “pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar

dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya sehingga memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,

akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan oleh dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”

(36)

27

Pengembangan Self-Helping Model pada Kelompok Masyarakat Miskin Produktif untuk Pengentasan Kemiskinan

masyarakat memiliki potensi (daya) yang dapat dikembangkan, (2) memperkuat potensi atau daya yang dimiliki masyarakat, dan (3) memberdayakan. Pendidikan, adalah jawaban untuk menciptakan kondisi tersebut. Pendidikan memungkinkan terjadinya mobilitas sosial vertikal mobilitas sosial ke atas karena beberapa alasan antara lain karena memungkinkan seseorang memiliki kenaikan penghasilannya.

Karakteristik rumah tangga miskin menurut tingkat pendidikan pada kedua kabupaten yang diamati dapat dilihat bahwa sebagian besar penduduk miskin hanya mengenyam pendidikan sampai dengan sekolah dasar (SD). Di Kabupaten Wonosobo, penduduk miskin dengan tingkat pendidikan sampai dengan SD mencapai 94,64 persen dari keseluruhan penduduk miskin. Sementara itu, di Kabupaten Klaten mencapai 82,73 persen. Jumlah penduduk miskin dengan tingkat pendidikan sampai dengan SLTA di Kabupaten Wonosobo sebanyak 1,36 persen dari total penduduk miskin. Di Kabupaten Klaten, jumlah penduduk miskin di Kabupaten Klaten mencapai 17,27 persen penduduk miskin. Hal demikian justru menjadi menarik. Seseorang dengan tingkat pendidikan sampai dengan SLTA akan lebih mudah menerima berbagai program pengentasan kemiskinan karena memiliki pola pikir yang cukup sistematis.

Tabel 5.3. Distribusi Penduduk Miskin menurut Tingkat Pendidikan.

No Kabupaten / Kota <SD Tamat SD/SLTP SLTA

1 Kabupaten Wonosobo 42.90 55.74 1.36

2 Kabupaten Klaten 32.75 49.98 17.27

Sumber: BPS Provinsi Jawa Tengah

(37)

28

Pengembangan Self-Helping Model pada Kelompok Masyarakat Miskin Produktif untuk Pengentasan Kemiskinan

tersebut tercermin pada kecenderung konsumsi seseorang atau marginal prospensity to consume (MPC). Semakin besar pendapatan seseorang, akan memiliki MPC yang semakin kecil. Sebab, seseorang akan mengalokasikan sebagian kenaikan pendapatan tersebut untuk menambah pengeluaran yang lain, misalnya untuk memperbesar tabungan (saving/S). Teori ini terbukti pada penelitian ini. Data statisik yang digunakan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa semakin tinggi pengeluaran perkapita untuk makanan pada kelompok penduduk miskin lebih besar dibanding kelompok penduduk tidak miskin. Pada kelompok penduduk miskin di Kabupaten Wonosobo memiliki pengeluaran perkapita rata-rata untuk makanan sebesar 66,12 persen dari seluruh pengeluaran. Sementara itu, pengeluaran perkapita rata-rata untuk makanan pada kelompok penduduk tidak miskin hanya sebesar 57,96 persen dari seluruh pengeluaran. Di Kabupaten Klaten, pengeluaran rata-rata perkapita untuk makanan pada kelompok penduduk miskin sebesar 62,47 persen pengeluaran dan pada kelompok tidak miskin hanya sebesar 58,06 persen.

Tabel 5.4. Persentase Pengeluaran Perkapita untuk Makanan Menurut Kabupaten/Kota dan Status Miskin, Tahun 2011

No Kabupaten / Kota Miskin Tidak Miskin Miskin+Tidak Miskin

1 Kabupaten Wonosobo 66.12 57.96 59.94

2 Kabupaten Klaten 62.47 57.10 58.06

Sumber: BPS Provinsi Jawa Tengah, 2012.

Berdasarkan kondisi rumah tinggal, penduduk miskin di Kabupaten Wonosobo memiliki luas lantai perkapita antara 8 – 15 m2 (45,44 persen). Kondisi yang lebih baik untuk Kabupaten Klaten. Penduduk miskin di Kabupaten Klaten pada umumnya memiliki luas lantai perkapita lebih 15 m2.

Tabel 5.5. Persentase Rumah Tangga Miskin Menurut Kabupaten/Kota dan Luas Lantai Perkapita, Tahun 2011

No

Kabupaten / Kota Luas Lantai Perkapita(m2)

<=8 8< Luas <=15 >15

1 Kabupaten Wonosobo 15.13 45.44 39.43

2 Kabupaten Klaten 4.47 21.49 74.05

(38)

29

Pengembangan Self-Helping Model pada Kelompok Masyarakat Miskin Produktif untuk Pengentasan Kemiskinan

Pengertian miskin produktif dalam penelitian ini, selain didasarkan pada kelompok

umur usia produktif (15 – 55 tahun) juga mempertimbangkan kondisi potensi saat ini untuk

dapat dikembangkan, misalnya orang yang mempunyai sumber mata pencaharian, tetapi tidak dapat memenuhi kebutuhan pokok yang layak bagi kemanusiaan; Keluarga miskin yang mengalami penurunan pendapatan dan kesejahteraannya atau mengalami penghentian penghasilan.

Dalam paparan berikut disajikan karakter umum kelompok miskin produktif pada

kedua kabupaten yang diamati, yaitu Kabupaten Wonosobo yang mewakili potret karakter

kemiskinan di pedesaan dan Kabupaten Klaten yang mewakili protret kaakter kemiskinan

perkotaan.

1. Karakteristik Pendidikan

Berdasarkan tingkat pendidikan yang pernah ditempuh, sebagian besar responden memiliki tingkat pendidikan hanya sampai dengan sekolah dasar (SD). Jumlah responden dengan tingkat pendidikan SD ke bawah sebesar 74,00 persen untuk Kabupaten Klaten dan 88,00 persen untuk Kabupaten Wonosobo. Kondisi demikian pada dasarnya mencerminkan adanya keterkaitan yang erat antara tingkat pendidikan dengan masalah kemiskinan. Rendahnya tingkat pendidikan seseorang menyebabkan produktivitasnya rendah. Sebagai akibatnya, kemampuan dalam menghasilkan pendapatan juga rendah. Akibat selanjutnya adalah timbul situasi ketidakmampuan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari atau miskin.

Tingkat pendidikan dan kemiskinan adalah “lingkaran setan”. Tingkat pendidikan yang rendah

merupakan salah satu penyebab timbulnya kemiskinan. Kemiskinan adalah salah satu penyebab utama seseorang tidak mampu mengenyam pendidikan tinggi.

Tabel 5.6. Distribusi Responden Menurut Tingkat Pendidikan (%)

Tingkat Pendidikan Klaten Wonosobo

Tidak Sekolah/tdk Lulus SD 26,00 30,00

(39)

30

Pengembangan Self-Helping Model pada Kelompok Masyarakat Miskin Produktif untuk Pengentasan Kemiskinan

terkait status marital. Namun demikian, distribusi responden yang dapat dihimpun dalam penelitian ini sebagian besar adalah responden dengan status menikah dan merupakan kepala keluarga. Di Kabupaten Klaten, sebanyak 88,00 persen responden memiliki status menikah, sedangkan di Kabupaten Wonosobo sebanyak 98,00 persen.

Sumber: data primer, diolah.

Gambar 5.4. Distribusi Responden Menurut Status Marital (%).

3. Jumlah Keluarga dalam Satu Rumah dan Jumlah Tanggungan

(40)

31

Pengembangan Self-Helping Model pada Kelompok Masyarakat Miskin Produktif untuk Pengentasan Kemiskinan

Sumber: Data Primer, diolah.

Gambar 5.5. Distribusi Responden menurut Jumlah Keluarga Dalam Satu Rumah (%)

Tabel 5.7. Distribusi Responden menurut Jumlah tanggunan Keluarga (%)

Jumlah tanggungan

% Terhadap Total Responden

Klaten Wonosobo

0 2,00 6,25

1 8,00 8,33

2 30,00 37,50

3 26,00 25,00

4 22,00 6,25

5 2,00 12,50

6 2,00 0,00

7 4,00 2,08

8 2,00 0,00

9 2,00 2,08

100,00 100,00

Sumber: Data primer, diolah.

4. Kepemilikan Jaminan

(41)

32

Pengembangan Self-Helping Model pada Kelompok Masyarakat Miskin Produktif untuk Pengentasan Kemiskinan

Sumber: Data primer, diolah.

Gambar 5.6. Distribusi Responden menurut Kepemilikan Jaminan (%)

5. Jumlah Pencari Nafkah dan Status Pekerjaan.

(42)

33

Pengembangan Self-Helping Model pada Kelompok Masyarakat Miskin Produktif untuk Pengentasan Kemiskinan

Sumber: Data primer, diolah.

Gambar 5.7. Distribusi Responden menurut Jumlah Pencari Nafkah (%)

Sumber: Data primer, diolah.

Gambar 5.8. Distribusi Responden menurut Status Pekerjaan (%)

6. Penghasilan dan Pengeluaran

(43)

34

Pengembangan Self-Helping Model pada Kelompok Masyarakat Miskin Produktif untuk Pengentasan Kemiskinan

Sumber: Data primer, diolah.

Gambar 5.9. Distribusi Responden menurut Penghasilan dan Pengeluaran (%)

5.4.Identifikasi Karakter Kemiskinan Menurut Cara Pandang

Upaya pengentasan kemiskinan tidak cukup hanya mengandalkan pola bantuan, atau pun pemberdayaan masyarakat miskin yang dilakukan secara seragam atau generik. Pengurangan kemiskinan perlu melihat terlebih dahulu karakter dan pola-pola spesifik yang terjadi dalam masyarakat miskin, agar diperoleh model pengurangan kemiskinan yang komprehensif. Untuk setiap karakter yang berbeda akan membutuhkan pola penanganan yang berbeda. Program pengentasan kemiskinan yang tepat untuk kelompok yang satu belum tentu tepat bagi kepompok yang lain karena adanya perbedaan karakter.

(44)

35

Pengembangan Self-Helping Model pada Kelompok Masyarakat Miskin Produktif untuk Pengentasan Kemiskinan

merasa penghasilannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan. Hal tersebut terungkap pada beberapa pernyataan sebagai berikut:

a. “....saya merasa miskin karena kadang-kadang tidak dapat mencukupi kebutuhan, apalagi saat kebutuhan tersebut bareng-barang, misalnya bayar sekolah, bayar ujian, listrik, air dan lan-lain...”

b. “...terkadang penghaslan tidak mencukupi kebutuhan, padahal kebutuhan kami

tidak neko-neko (aneh-aneh), itu saja saya sudah dibantu oleh istri yang bekerja

pada penjual soto di pasar...”

c. “...penghasilan tidak mencukupi kebutuhan, saat ini saya menanggung kebutuhan

ibu dan adik-adik...”

d. “...saya merasa miskin karena gajian yang saya terima mingguan, tetapi selalu habis sebelum gajian lagi..., jumlah tanggungan keluarga ada enam, tetapi yang

bekerja hanya dua...”

Selain ketidakcukupan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan, dalam penelitian ini juga mengungkapkan bahwa seseorang merasa keluarganya miskin karena kondisi rumahnya, yakni ukuran rumah kecil, tidak bagus dan bangunan tidak dari tembok (batu bata).

Kondisi miskin juga dilihat dari tidak dimilikinya pekerjaan tetap yang dapat menjadi sumber penghasilan tetap dan ketidakmampuannya untuk dapat mengenyam pendidikan yang lebih tinggi atau menyekolahkan anaknya dengan baik.

Untuk Kabupaten Wonosobo dengan lokasi penelitian merupakan wilayah pedesaan, penduduk miskin juga mengukur kemiskinan dari kepemilikan lahan pertanian atau sawah. Penduduk merasa miskin karena memiliki luas lahan yang kecil, atau bahkan tidak punya sawah dan hanya menjadi buruh.

(45)

36

Pengembangan Self-Helping Model pada Kelompok Masyarakat Miskin Produktif untuk Pengentasan Kemiskinan

Tidak dapat menyekolahkan anak 2,00 8,00

Tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok (pangan dan sandang

18,00 24,00

Tidak memiliki tempat tinggal yang layak 20,00 16,00

Tetangga saya lebih kaya 32,00 22,00

Penghasilan tidak tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari

62,00 58,00

Tidak bisa membayar biaya kesehatan 6,00 12,00

Lain-lain (banyak Utang) 2,00 4,00

Sumber: Data primer, diolah. 2) Penyebab Kemiskinan

Faktor pendidikan. Faktor utama penyebab kemiskinan yang terungkap dalam penelitian ini faktor pendidikan. Pada semua narasumber mengandaikan jika dirinya punya kesempatan untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi maka pasti situasi akan lebih baik, atau tidak miskin. Oleh karena itu, dalam kondisi yang sangat terbatas beberapa narasumber yang sudah menikah dan punya anak berusaha menyekolahkan anaknya sampai jenjang pendidikan setinggi mungkin dalam batas kemampuannya.

Faktor budaya. Faktor budaya memiliki peran dalam menciptakan situasi miskin. Dalam hal ini, responden menceritakan pengalaman pribadi mengenai kondisi kemiskinannya. Narasumber tersebut memiliki tingkat pendidikan sampai dengan SMA dan suaminya adalah seorang sarjana. Pada mulanya, suami sempat bekerja sebagai dosen di Jakarta dan Kalimantan (masih honorer). Namun pada akhirnya kesempatan menjadi dosen tersebut tidak bisa diambil karena orang tua melarangnya pergi

merantau. Konsep “Mangan ra mangan kumpul”/(makan atau tidak makan yang penting berkumpul), masih dipegang oleh orang tuanya. Karena dilarang oleh orang tuanya maka yang bersangkutan membuka usaha bengkel motor.

Faktor takdir. Faktor takdir sebagai salah satu penyebab kemiskinan tersirat pada beberapa pernyataan sebagai berikut:

a. “....bagaimana ya...bagi saya seperti sudah digariskan oleh Yang di atas (Tuhan).... , saya dulu punya usaha salon, tetapi kena gempa..., sekarang

mau buka lagi belum punya modal...ya jadi miskin begini...”

(46)

37

Pengembangan Self-Helping Model pada Kelompok Masyarakat Miskin Produktif untuk Pengentasan Kemiskinan

Faktor Perilaku. Terdapat satu narasumber yang mengakui bahwa ia menjadi miskin adalah akibat dari perilaku konsumtifnya. Narasumber tersebut sebelumnya adalah pedagang sepatu keliling. Namun pada akhirnya kehabisan modal karena hasil dagangannya digunakan untuk membeli rokok. Pada akhirnya, modal pun tergerus untuk konsumsi dan habis.

Membandingkan karakter miskin menurut cara pandang terhadap faktor penyebab kemiskinan, terdapat perbedaan yang sangat kuat antara bagaimana penduduk miskin di Klaten dan Wonosobo. Untuk Kabupaten Klaten, faktor penyebab kemiskinan yang teridentifikasi cukup beragam, namun yang paling banyak disebutkan oleh narasumber dan dinyatakan sebagai penyebab utama kemiskinan adalah faktor pendidikan. Oleh karena itu, jika sekarang mereka tidak punya kesempatan menempuh pendidikan tinggi, mereka berusaha agar anak-anaknya dapat sekolah setinggi-tingginya dalam batas kemampuan mereka. Sementara itu, penduduk miskin di Kabupaten Wonosobo cenderung menerima kondisi miskin sebagai takdir. Hal demikian menyebabkan kurang adanya daya dorong untuk hidup lebih baik. Menjadi kaya hanyalah keinginan, namun tidak diupayakan.

3) Rencana Tindakan untuk keluar dari Kemiskinan

Cara pandang terhadap kemiskinan mempengaruhi cita-cita atau rencana tindakan serta keinginannya untuk berupaya keluar dari situasi miskin.

Sumber: Data primer, diolah.

(47)

38

Pengembangan Self-Helping Model pada Kelompok Masyarakat Miskin Produktif untuk Pengentasan Kemiskinan

pada kedua kabupaten memiliki perbandingan yang cukup berbeda. Untuk Kabupaten Klaten, telah berupaya keluar dari kemiskinan dinyatakan oleh sebanyak 87,76 persen responden. Sedangkan Kabupaten Wonosobo hanya dinyatakan oleh 67,35 persen responden. Bentuk upaya keluar dari kemiskinan secara terperinci disajikan pada tabel 5.9. berikut:

Tabel 5.9 Jenis Upaya Keluar dari Kemiskinan (%)

Jenis Upaya Keluar dari Kemiskinan Klaten Wonosobo Ganti pekerjaan yang lebih baik 11,63 18,18 Hutang/mencari bantuan modal usaha 37,21 57,58

Membuka usaha 39,53 30,30 dilakukan oleh sebagian besar penduduk miskin di Kabupaten Klaten maupun Wonosobo. Mengenai upaya keluar dari kemiskinan dengan mengusahakan minimal satu anggota keluarga mengenyam pendidikan tinggi lebih banyak dilakukan oleh penduduk miskin di Klaten. Hal demikian sejalan dengan pemikiran mereka mengenai penyebab kemiskinan. Responden penduduk miskin Kabupaten Klaten cenderung melihat bahwa penyebab utama kemiskinan adalah faktor pendidikan. Sementara itu, responden penduduk miskin di kabupaten Wonosobo cenderung melihat kemiskinan sebagai takdir.

4) Program yang diharapkan.

Perbedaan karakter kemiskinan juga dapat dilihat dari macam program/bantuan yang diharapkan oleh penduduk miskin.

(48)

39

Pengembangan Self-Helping Model pada Kelompok Masyarakat Miskin Produktif untuk Pengentasan Kemiskinan

mengakses pendidikan. Pada kelompok responden di Kabupaten Wonosobo cenderung mengharapkan bantuan dalam bentuk bantuan konsumsi, yaitu sembako dan pembangunan rumah. Mereka yang mengharapkan bantuan dalam bentuk modal usaha hanya sebesar 23,53 persen. Harapan bantuan ini juga sesuai dengan pandangan mereka yang menganggap kemiskinan sebagai takdir.

Tabel 5.10 Jenis Program/bantuan yang diharapkan (%)

Jenis Program/bantuan yang diharapkan Klaten Wonosobo

Bantuan sekolah/pendidikan 17,39 5,88

Bantuan bangunan layak/rumah 6,52 17,65

Bantuan modal usaha (uang, ternak, bibit, peralatan) 60,87 23,53

Bantuan kesehatan 8,70 0,00

Bantuan sembako (raskin dan sembako lainnya) 2,17 41,18

Lowongan pekerjaan 0,00 5,88

Pelatihan keahlian 4,35 5,88

Jumlah 100,00 100,00

Sumber: Data primer, diolah.

(49)

40

Pengembangan Self-Helping Model pada Kelompok Masyarakat Miskin Produktif untuk Pengentasan Kemiskinan

digambarkan sebagai berikut:

1. Kelompok Miskin A, memiliki sifat: a. Menerima kemiskinan sebagai takdir b. Cenderung apatis

c. Kurang sadar pendidikan

d. Intensitas interaksi sosial dengan masyarakat luar relatif rendah

e. Memiliki komunitas yang cenderung homogen (antara lain dalam hal tingkat pendidikan, status ekonomi, mata pencaharian, budaya)

f. Tinggal di lingkungan dengan fasilitas umum maupun fasilitas sosial kurang memadai/terbatas

g. Sarana dan prasarana mobilitas relatif rendah. h. Bekerja untuk sekedar bertahan hidup (subsisten) 2. Kelompok Miskin B, memiliki sifat:

a. Kemiskinan bukan takdir, sehingga dapat diubah.

b. Memiliki keyakinan dan bersemangat untuk hidup lebih baik c. Sadar pendidikan, pendidikan adalah kunci keluar dari kemiskinan d. Intensitas interaksi sosial dengan masyarakat luar relatif tinggi

e. Memiliki komunitas yang cenderung heterogen (antara lain dalam hal tingkat pendidikan, status ekonomi, mata pencaharian, budaya)

f. Tinggal di lingkungan dengan fasilitas umum maupun fasilitas sosial cukup memadai

g. Sarana dan prasarana mobilitas relatif tinggi.

h. Mengalokasikan sebagian pendapatannya agar dapat hidup lebih baik pada masa yang akan datang (menabung untuk mengumpulkan modal usaha, mengalokasikan anggaran untuk pendidikan)

Pada dasarnya pemerintah telah berperan atau memfasilitasi masyarakat miskin untuk dapat leuar dari kemiskinannya. Namun, responden pada kedua Kabupaten memiliki reaksi yang berbeda terhadap program pengentasan kemiskinan yang diselenggarakan oleh pemerintah.

(50)

41

Pengembangan Self-Helping Model pada Kelompok Masyarakat Miskin Produktif untuk Pengentasan Kemiskinan

bahkan bantuan seragam dan sepatu tidak menjadi daya tarik bagi anak-anak untuk sekolah maupun orang tua untuk mendorong anaknya sekolah. Peran tokoh masyarakat di wilayah ini juga relatif rendah dalam hal pengentasan kemiskinan karena tokoh masyarakatnya pun memiliki tingkat pendidikan yang relatif rendah. Selain itu, program pelatihan melalui PNPM mandiri juga kurang efektif. Beberapa pelatihan ketrampilan yang telah diselenggarakan memang cukup diminati, namun tidak ada tindak lanjutnya. Tidak berlanjutnya program PNPM Mandiri ini disebabkan karena faktor akses ke pasar dirasa sangat sulit, sementara daya juang relatif rendah sehingga menimbulkan rasa malas. Pemerintah juga pernah mengucurkan bantuan modal, namun tidak dipantau penggunaan maupun perkembangannya, sehingga pada akhirnya macet. Masyarakat di wilayah penelitian ini juga cenderung konsumtif atau kurang memiliki semangat kewirausahaan dalam arti lebih suka membeli barang jadi dari pada membuat sendiri.

Berbeda dengan penuturan narasumber FGD di Kabupaten Wonosobo, narasumber di Kabupaten Klaten mengatakan bahwa masyarakat miskin sangat terbantu dengan program pengentasan kemiskinan. Bantuan pendidikan dan bantuan modal adalah program yang paling diharapkan. Narasumber juga menilai bedanya kemajuan masyarakat yang cukup pesat dalam hal kesejahteraan. Masyarakat setempat cenderung memiliki semangat kerja yang tinggi dan pantang menyerah. Beberapa pelatihan ketrampilan melalui PNPM Mandiri ditindaklanjuti oleh peserta dan beberapa ada yang berhasil. Bantuan modal cenderung sungguh-sungguh dibukakan untuk membuka usaha atau mengembangkan usaha. Terhadap masalah pendidikan, seolah-olah ada hukum wajib bahwa anak harus sekolah.

5.5.Kearifan Lokal Pengentasan Kemiskinan

(51)

42

Pengembangan Self-Helping Model pada Kelompok Masyarakat Miskin Produktif untuk Pengentasan Kemiskinan

masyarakat.

Mengenai kearifan lokal terkait dengan upaya pengentasan kemiskinan di Kabupaten Wonosobo, dalam penelitian ini tidak teridentifikasi adanya kearifan lokal yang berkaitan secara langsung dengan permasalahan pengentasan kemiskinan. Namun demikian, seperti halnya Suku Jawa lainnya, masyarakat Kabupaten Wonosobo memiliki kearifan lokal yakni gotong royong dan kepatuhan pada tokoh masyarakat terutama tokoh agama. Oleh karena itu, dalam membuat perancangan program pengentasan kemiskinan perlu dipertimbangkan kedua kearifan lokal tersebut.

Mengenai kearifan lokal yang terkait pengentasan kemiskinan di Kabupaten Klaten teridentifikasi antara lain:

1. Adanya kepedulian kerabat yang kaya terhadap kerabat yang miskin. Kerabat yang kaya ini biasanya memberi bantuan kepada kerabat yang miskin misalnya menyekolahkan anaknya.

2. “Ngenger”, yakni, orang miskin menitipkan anaknya pada saudara atau tetangga yang kaya. Terdapat dua jenis “Ngenger “. Pertama, keluarga miskin menitipkan anaknya pada kerabat/saudara yang kaya tanpa si anak harus membantu pekerjaan rumah tangga. Kedua, keluarga miskin menitipkan anaknya pada kerabat atau tetangga yang kaya untuk membantu pekerjaan rumah tangga, tidak dibayar namun disekolahkan.

3. Secara kelembagaan, di mesjid aau gereja memiliki rekening khusus untuk menampung dana sosial dari masyarakat yang mampu untuk disalurkan pada masyarakat yang kurang mampu dalam bentuk bantuan sekolah atau bantuan modal. Di gereja disebut

dengan “tabungan cinta kasih”.

5.6. Pengembangan Model Self-helping Pengentasan Kemiskinan Sesuai Karakter

Kemiskinan

(52)

43

Pengembangan Self-Helping Model pada Kelompok Masyarakat Miskin Produktif untuk Pengentasan Kemiskinan

lingkungan fisik dan sosial, termasuk di dalamnya budaya masyarakat setempat. Oleh karena itu untuk mengembangkan self-helping model perlu pemahaman yang lebih mendalam tentang masyarakat itu sendiri.

Penelitian ini dilakukan pada kelompok masyarakat miskin produktif di dua lokasi yang memiliki karakteristik berbeda, yakni Kabupaten Klaten dan Kabupaten Wonosobo. Kabupaten Klaten merupakan sampel dari masyarakat miskin kota, sedangkan Kabupaten Wonosobo menjadi sample masyarakat miskin pedesaan. Sebagai bagian dari masyarakat sebuah kota (walaupun merupakan kota kecil) masyarakat Klaten memiliki akses yang lebih banyak dibandingkan masyarakat Wonosobo dalam bidang-bidang pendidikan, transportasi, berbagai bentuk kegiatan ekonomi, kesehatan, dan lain sebagainya.

(53)

44

Pengembangan Self-Helping Model pada Kelompok Masyarakat Miskin Produktif untuk Pengentasan Kemiskinan

terhadap pendidikan.

(54)

45

Pengembangan Self-Helping Model pada Kelompok Masyarakat Miskin Produktif untuk Pengentasan Kemiskinan

6.1. Jenis Penelitian (Tahun 2).

Desain penelitian dalam tahun kedua menggunakan desain penelitian eksperimen yang akan dilakukan dengan metode simulasi, sebagai upaya untuk mengimplementasikan alternatif model, melakukan evaluasi serta penyempurnaan model.

6.2. Lokasi Penelitian (Tahun 2)

Lokasi penelitian pada penelitian tahap 2 atau tahun ke 2 ini sama dengan lokasi penelitian tahap 1 atau tahun 1. Penelitian ini dilakukan di Jawa Tengah yang difokuskan pada daerah-daerah yang merupakan kantong kemiskinan. Dalam penelitian ini akan diambil dua kabupaten yakni:

1. Kabupaten Wonosobo 2. Kabupaten Klaten

6.3. Teknik Pengumpulan Data (Tahun 2)

Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi atas implementasi model sebagai proses untuk melakukan konfirmasi melalui simulasi.

6.4. Populasi dan Sampel Penelitian (Tahun 2)

Populasi penelitian adalah pihak-pihak yang terlibat dalam upaya pengentasan kemiskinan, utamanya adalah kelompok miskin produktif. Sampel dalam penelitian ini akan diambil untuk masing masing daerah dua kelompok sampel, dimana kelompok sasaran akan ditentukan teknik convenience sampling.

6.5. Teknik Analisis (Tahun 2).

Gambar

Tabel 4.1. Sepuluh Kabupaten Termiskin Di Propinsi Jawa Tengah tahun 2008
Gambar 3.1. Kerangka Pikir Penelitian
Gambar 5.1. Peta Kabupaten Klaten
Tabel 5.1.  Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Klaten 2006-2008
+7

Referensi

Dokumen terkait

Setiap kali salah satu Pihak membutuhkan kerjasama da ri pihak lain di luar Republik Indonesia dan Republik Kuba untuk set i ap usaha komersial yang dihasilkan

karena atas berkat rahmat, taufik, dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul: Pengaruh Penggunaan Media Gambar Timbul Terhadap Hasil

Atas dasar tersebut maka pemerintah melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PMK.03/2010 Tentang Tata Cara Pengem- balian Kelebihan Pajak Pertambahan Nilai atau

Berdasarkan hasil penelitian, simpulan yang dapat diambil bahwa ‘starfungs’ mampu mempengaruhi keberadaan Escherichia coli, akan tetapi tidak dapat mempengaruhi

Investasi, belanja modal, infrastruktur jalan, dan infrastruktur listrik merupakan variabel indepnden dalam penelitian ini dimana variable tersebut berpengaruh

Teknologi stimulasi untuk pemijahan ikan menggunakan hormon, khususnya hormon gonadotropin untuk merangsang induk-induk ikan agar dapat ovulasi dan spermiasi. Teknologi ini

Menunjukkan bahwa terdapat 13 responden yang mengalami beban berat dan memiliki kemampuan tidak baik dalam merawat pasien perilaku kekerasan.. Hasil uji

3) Menghadiri pertemuan public yang terbuka untuk umum untuk memperoleh informasi publik. 4) Menyebarluaskan Informasi Publik sesuai dengan peraturan Perundang- undangan. Setiap