• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menelusuri Jejak Perkembangan dan Proble

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Menelusuri Jejak Perkembangan dan Proble"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

Menelusuri Jejak Perkembangan dan Problematika Demokrasi Oleh: Sutrisno, M.Si.*)

A. Prolog

Peradaban kontemporer pada dasarnya adalah kelahiran kembali suatu peradaban karena kontribusi minoritas kreatif dalam merespon tantangan lingkungan secara positif, demikian diungkapkan oleh Toynbee.1 Demokrasi sebagai sebuah konsep mengalami dialektika seiring dengan dinamika intlektual dan perkembangan masyarakat. Demokrasi sebagai bangunan peradaban lahir dan ditransmisikan melalui proses sosial dan kontribusi sejumlah intlektual terkemuka. Gambaran ini tertuang dalam buku karya Leslie Lipson, The Democratic Civilization (New York: Oxford University Press). Perkembangan demokrasi secara spesifik tergambar pada bagian I dan II buku tersebut. Bagian I The Criteria Of Democracy mengupas tentang Kriteria demokrasi klasik dan modern (hal. 13-21). Bagian II The Democratic Society membahas tentang Masyarakat Demokrasi, terutama dengan fokus kelebihan dan kelemahan demokrasi. Secara lengkap pokok-pokok pemikiran tersebut akan disajikan ulang. Kemudian, dalam kedudukannya sebagai bahan critical review, tulisan Leslie Lipson ini akan dianalisis dari berbagai perspektif yang relevan, dan diakhiri dengan kesimpulan (epilog).

Bagian I Kriteria Demokrasi B. Tradisi Klasik

Kehadiran sebuah definisi di bagian awal kadang-kadang kurang berarti ataupun tidak dibutuhkan di bagian akhir, sehingga dapat dihilangkan. Ini sesuai dengan ungkapan Yunani Kuno “call no man happy until he is dead” (tidak ada orang yang disebut bahagia hingga ajal menjemput), atau seorang penulis mengingatkan dirinya sendiri dalam ungkapan “Define nothing, until you have reached the last page” (Tidak ada definisi hingga anda menyelesaikan halaman terakhir). Namun definisi dibutuhkan untuk suatu sketsa, suatu

*)Mahasiswa Program Doktor Ilmu Politik UI

(2)

kerangka dasar atau seperangkat karakteristik. Ketika membahas demokrasi yang dibutuhkan adalah suatu gagasan tentang arti demokrasi. Paling tidak diawali dengan standar-standar yang plural, bukan tunggal karena demokrasi adalah sesuatu yang kompleks yang tidak bisa direduksi dalam suatu prinsip tunggal.

Masalah dalam bagian ini mudah dinyatakan tetapi sulit pecahkan. Terdapat pertanyaan: apakah esensi dasar dari demokrasi? Cara terbaik untuk menjawab pertanyaan ini adalah dengan memeriksa masyarakat yang menganggap dirinya demokratis dan telah memperoleh pengakuan dari masyarakat lainnya. Saat ini, cara terbaik untuk melacak praktik demokrasi adalah dengan mempelajari catatan sejarah.

C. Rakyat Athena Kuno

Dasar-dasar demokrasi terbentuk di Yunani Kuno. Bukan hanya kata demokrasi, tetapi sistem demokrasi juga terbangun di Yunani antara abad ke 6 hingga abad ke-4 sebelum masehi, terutama di Negara-Kota Athena. Tentu saja, di negara-negara lain sebelum Athena terdapat demokrasi dengan ciri khasnya sendiri. Hal itu karena di dalam politik tidak ada sesuatu yang sepenuhnya baru. Praktik demokrasi di Athena selama dua setengah abad tersebut dianggap lebih operasional dan membangun mesin demokrasi daripada yang terjadi di negara lain sebelum abad ke-17 masehi.

Apa yang terjadi selama dua setengah abad mengenai demokrasi di Athena sudah cukup untuk menggambarkan pemerintahan demokrasi dibanding yang terjadi pada negara dan kota sebelum abad 17 Masehi. Prinsip-prinsip dari masyarakat yang baik adalah hasil diskusi dari berbagai kelompok masyarakat.

(3)

mengatasi kebuntuan kebijakan dan kecerdasan untuk mengambil keputusan praktis. Diskusi ini merupakan warisan budaya Athena kepada generasi penerus hingga sekarang ini. Tidak ada pencapaian atas nama demokrasi sejak Abad Ke Empat sebelum masehi yang tidak berutang utang kepada rakyat Athena. Oleh karena itu, perhatian khusus perlu diberikan kepada para penulis Yunani kuno.

D. Analisis Demokrasi Di Athena

Cara untuk membahas demokrasi Athena adalah dengan mempelajari gagasan dan penyelidikan sistematis para filsuf Yunani abad ke-4 sebelum masehi. Karya Plato dan Aristoteles mengambil manfaat dari observasi yang dilakukan oleh Herodotus dan Thucydides. Herodotus fokus pada tiga bentuk pemerintahan dengan bersandar pada pertanyaan: berapa banyak lembaga yang harus memegang kedaulatan? Herodotus memberikan beberapa jawaban, yaitu bisa tunggal, beberapa atau banyak pihak. Kemudian masing-masing disebut monarki, aristokrasi dan demokrasi. Dalam pembahasan mengenai demokrasi diidentifikasi tiga prinsip, yaitu: persamaan dalam penerapan hukum; partisipasi warga negara dalam administrasi dan pembuatan hukum; persamaan (kebebasan) berpendapat. Herodotus adalah intelektual Yunani yang secara jelas memberikan pendapat tentang bentuk pemerintahan demokratis.

Ilmuwan lainnya adalah Thucydides yang merupakan ahli sejarah Perang Pelonnesia (431-404 s.m.), perang sengit antara Athena dan Sparta. Catatan sejarahnya menggambarkan penurunan atas pencapaian demokrasi gemilang Athena. Pujian terhadap esensi demokrasi dapat kita jumpai dalam laporan Thucydides tentang ucapan seorang negarawan besar Athena abad 431 s.m., Pericles. Pericles mengidntifikasi demokrasi sebagai pemerintahan oleh banyak pihak bukan beberapa. Dalam ranah privat, hukum berlaku sama untuk semua orang. Namun dalam urusan negara, tidak peduli seberapa miskin seseorang, sepanjang dia memiliki kontribusi untuk kota, maka partisipasinya tidak dapat dilarang. Kami mengatur urusan publik dalam semangat manusia bebas, demikian seru Pericles2.

(4)

Setelah Pricles meningal dunia, kepemimpinan Athena mengalami penurunan drastis menuju level terendah dari segi bakat dan karakter. Akhirnya, keutamaan Athena dihancurkan oleh kecamuk perang. Kehancuran Athena lebih banyak disebabkan karena kesalahan sendiri daripada keutamaan musuh. Kondisi itu kadang dijadikan alasan untuk menggambarkan demokrasi Athena. Konsep demokrasi sebagai dokumen juga dicela pada era tersebut. Kritikan lengkap atas demokrasi tersebut diberikan oleh filsuf besar Plato.

Asumsi filsafat politik Plato sederhana tetapi penting. Plato mengungkapkan, “apakah lebih baik kita memiliki musuh jahat yang tangguh di kota yang mempersatukan kita? Ataukah orang baik yang membuat kita bersatu? Bukan, itu bukan pilihan kita.” Di dalam demokrasi, kondisi yang mempersatukan bukanlah dicapai dengan cara demikian, tetapi pada prinsipnya bersandar pada sistem. Sebagai contoh, pada demokrasi yang berpusat pada kebebasan ala Plato, merupakan serangkaian konsekuensi yang tidak diinginkan. Plato berargumentasi bahwa semua kebebasan itu terdiri dari berbagai jenis pola kepribadian yang berkembang. Keragaman ini, atau variasi, dan pembagian akan tampak jelas dalam politik, dengan hasil bahwa persatuan tidak akan pernah tercapai.

Plato menambahkan bahwa demokrasi terpengaruh dengan penyakit kesetaraan. Prinsip-prinsip kesetaraan berarti bahwa masyarakat miskin akan membunuh beberapa orang kaya dan mengusir orang lain. Kondisi tersebut menunjukkan suatu anarki atau dengan kata lain ketiadatertiban. Akibatnya akan membuat kecenderungan untuk memilih Tiran. Padahal dalam catatan sejarah, pemberontakan melawan oligarki kaya, biasanya didahului tirani, daripada pengenalan demokrasi.

Plato menerima klasifikasi pemerintahan Heroditus yang terdiri dari Monarki, Aristokrasi dan Demokrasi. Aristotoles sebagai murid Plato melengkapi gagasan tersebut dengan secara lebih rinci menyebutkan 6 klasifikasi sistem politik dan deviasinya. Monarki, Aristokrasi dan Polity atau pemerintahan yang menegakkan konstitusi. Gagasan aristoteles ini bila dibuat formulasinya, maka akan tergambar sebagai berikut:

(5)

Dipimpin beberapa orang Aristokrasi Oligarki Dipimpin banyak orang Polity Demokrasi

Bagi Aristoteles, demokrasi adalah bentuk deviasi dari polity. Kelompok penguasa menurut Aristoteles adalah rakyat miskin. Dengan alasan jumlah mereka banyak. Ini menunjukkan bahwa demokrasi berbeda dengan oligarki. Rakyat miskin memiliki sejumlah keutamaan, antara lain: persamaan, kebebasan dan aturan mayoritas. Dengan mendasarkan pada konteks sosial, sistem pemerintahan dan filsafat, maka dapat diidentifikasi kriteria demokrasi yang berlaku di Yunani Kuno sebagai berikut:

Konteks sosial  Aturan oleh Masyarakat Miskin

 Eksploitasi kaya

 Penghapusan perbudakan utang dan kualifikasi properti untuk jabatan politik

 Peluang untuk bakat individu, tanpa memperhatikan status keluarga, atau kekayaan.

Sistem

Pemerintahan  Musyawarah umum dan keputusan oleh semua warganegara, sehingga kekuasaan mayoritas

 Mayoritas kantor diisi oleh banyak, atau secara kebetulan

 Semua pejabat bertanggung jawab

 juri warga Besar Cita-cita

filosofis  KesetaraanKesetaraan (kebebasan) berbicara; dipandang negatif sebagai dominasi ketidaktahuan

 Kebebasan dan kemampuan beradaptasi, dipandang negatif sebagai kebebasan yang berlebihan dan gangguan,

 Ketaatan kepada otoritas hukum dan pejabat publik

 Partisipasi terus menerus dalam kegiatan sipil

E. Demokrasi Oleh Hobbes dan Rousseau

(6)

antara lain raja, parlemen dan warga negara. Kedaulatan yang dipegang oleh warga negara disebut demokrasi. Ide ini kemudian diikuti oleh John Locke dan Montesqueau.

Agak berbeda dengan Hobbes, Rousseau mendefinisikan demokrasi sebagai kondisi dimana rakyat memerintah melalui wakil-wakilnya. Dia berkesimpulan bahwa rakyat berkuasa atas dirinya sendiri. James Madison perumus Konstitusi Amerika 1787, sebagaimana Rousseau memperkenalkan istilah demokrasi dan republik. Demokrasi adalah pemerintahan secara langsung, sementara republik adalah pemerintahan dengan sistem perwakilan. Demokrasi berlaku pada area yang sempit, sementara republik berlaku untuk area yang luas.

F. Kelahiran Kembali Modernitas

Hadirnya revolusi Amerika dan Perancis di pengujung abad ke-18 menjadikan definis dan interprestasi demokrasi pada waktu sebelumnya kehilangan makna. Dua peristiwa itu memberikan semangat dan vitalitas makna demokrasi. Dengan landasan filsafat baru, esensi demokrasi hadir dalam pertanyaan: bagaimana dan dari mana memulainya?

G. Otoritas Individu

Antara abad ke 17-20 tidak ada filsuf yang secara khusus mengidentifikasi mengenai demokrasi. Salah satu poin pentingnya adalah mengenai otoritas individu. Pokok analsisinya adalah: (1) persatuan masyarakat berisi individu-individu, (2) indivudu menciptakan masyarakat secara bersama-sama. Kedua hal itu menghasilkan kesimpulan yang berbeda. Dalam era Yunani Kuno, individu adalah bagian dari masyarakat, tidak dipertentangkan. Plato dan Aristoteles berpendapat bahwa masyarakat adalah unit, dasarnya adalah warga bukan individu.

(7)

tuan tanah sebagai penentu kebijakan. Era ini berlalau dengan berkembangnya nasionalisme, perubahan teknologi dan perubahan metode kerja serta persaingan agama dan aristokrasi. Kondisi ini mendorong kewenangan menyampaikan protes. Inilah titik tolak kewenangan individu memilih pangeran atau ratu.

H. Individu Dalam Teori Hobbes Dan Rousseau

Hobbes berpandangan bahwa diperlukan aturan yang ketat untuk melindungi warga negara. Asumsinya, pemerintah akan mampu melindungi warganya apabila pemerintah dipatuhi warganya, tetapi individu hilang dalam kepatuhan. Pertanyaannya adalah siapa yang mampu memberikan perlindungan secara memadai? Kesimpulannya adalah individu sebagai warga negara. Teori Hobbes, dimulai dengan kebutuhan untuk mengontrol warga negara dan diakhiri dengan penilaian kelayakan pemerintah.

Berbeda dengan Hobbes, Rousseau berpendapat bahwa partisipasi langsung di era baru dengan cakupan bangsa yang besar mustahil melakukan partisipasi langsung. Solusinya adalah membangun lembaga-lembaga demokrasi. Hal itu berkaitan dengan karakteristik abad ke-19 dan 20 yang ditandai dengan kondisi perubahan masyarakat. Perubahan itu sistemik, beragam, cepat dimulai dari Eropa Barat dan Amerika Utara. Terjadi pergulatan ideologi, liberalisme berhadapan dengan konservatisme, kapitalisme berhadapan dengan sosialisme, imperalisme diserang nasionalisme, dan nasionalisme oleh internasionalisme. Tema sentral filsafat politik adalah kedudukan individu di masyarakat, dan hubungan individu dengan pemerintahnya dan pemerintah negara lain, juga fungsi pemerintah dalam memperjuangkan kepentingan umum.

I. Demokrasi, Liberalisme dan Nasionalisme

(8)

kompetisi. Konsekuansinya adalah munculnya pemerang dan yang kalah. Dalam pandangan ekonomi klasik, kebasan ini akan menghadirkan perluasan produktivitas. Demokrasi mempengaruhi munculnya gagasan nasionalisme. Dengan melihat dunia luar, maka akan terasa sentarlisasi kekuasaan nasional. Kolonalisme tidak menjamin kebebasan. Oleh karena itu muncul gagasan untuk memerdekaan diri.

Bagian II Masyarakat Demokrasi

J. Kelemahan dan Kelebihan Demokrasi

Demokrasi adalah salah satu konsep penting dalam sistem politik. Untuk memahami demokrasi, diperlukan pembelajaran terhadap konsep dan lembaga-lembaga demokrasi yang sudah lama terbangun. Hal itu dibutuhkan untuk memperoleh gambaran utuh mengenai sejarah aktual pencapaian dan kemunduran demokrasi. Pada bagian berikut ini akan diuaraikan mengenai lingkungan sosial negara demokrasi.

K. Dari Revolusi Menuju Evolusi

Dalam demokrasi modern, revolusi yang mengandung kekerasan tidak dibutuhkan, karena perubahan sudah diatur secara konstitusional. Perubahan secara damai terakomodasi dalam sistem demokrasi. Kebutuhan para intlektual terwadahi di dalamnya. Hal itu dibuktikan pada Yunani Kuno era Solon, atau pada abad ke-17 dan 18 saat Belanda melawan Spanyol, Perang Sipil di Inggris, Perang Kemerdekaan Amerika dan Revolusi Perancis. Hanya dengan tegaknya prinsip-prinsip demokrasi, maka kekerasan dapat dikurangi. Ciri khas dari demokrasi adalah partisipasi massa di bidang politik. Dimulai pada abad ke 19 hingga 20 baik pria maupun wanita dewasa memiliki suara yang sama.

L. Perubahan Bertahap Inggris Sebagai Contoh

(9)

tepatnya liberalisme dan demokrasi pada abad ke-18 Inggris telah berubah menjadi demokrasi massa. Terjadi tiga kali perubahan undang-undang (1832, 1867, 1884) yang memberikan kewenangan memilih bagi laki-laki dewasa. Dua undang-undang lagi (1867 dan 1884) memperluas hak pilih bagi warga dewasa Inggris. Ini menggambarkan perkembangan demokrasi di Inggris.

M. Demokrasi Sebagai Suatu Phenomena

Kecenderungan demokrasi massa di Eropa Kontinental marak sejak berakhirnya perang Napoleon 1815 dan Perang Dunia I. Hal itu dikarenakan perbedaan sistem sosial dan konstitusi tiap-tiap negara. Amerika adalah contoh keberhasilan penerapan demokrasi yang dapat bertahan hingga hari ini. Demokrasi di Amerika diawali dengan revolusi yang kemudian diikuti oleh evolusi politik secara gradual. Adopsi institusi baru dan prosedurnya, penerimaan terhadap kelompok baru dan kelas-kelas dalam masyarakat berhasil dilakukan dengan perlahan dan terencana.

N. Keterkaitan Demokrasi dengan Imperialisme

Fakta sosial lain yang perlu diingat adalah hubungan dekat antara demokrasi dan imperalisme setidaknya hingga Perang Dunia II, antara demokrasi internal dan imperlaisme eksternal. Imperialisme telah menjajah teritori dan penduduknya dengan aturan sendiri. Hal itu berbeda dengan aturan dan kebebasan pemerintahannya sendiri. Sebagai suatu indikator hubungan antara demokrasi dan imperialisme ditunjukkan antara lain oleh Belgia, Perancis, Inggris dan Belanda.

O. Survey Demokrasi Pada Tahun 1939

Ketika Jerman menyerbu Polandia pada tahun 1939 dan dibandingkan dengan periode 1960, pada tahun 1939 terdapat beberapa pemerintah yang menerapkan demokrasi:

1. di Amerika Utara : Canada dan Amerika Serikat 2. di Amerika Tengah dan Selatan : Costa Rica

(10)

Belanda, Norwegia, Swedia dan Swiss

4. Asia dan Afrika : Tidak ada

P. Perkiraan Kontemporer

Terdapat dua perbedaan mendasar sistem politik hari ini dan dan 30 tahun lalu. Pertama, terjadi peningkatan jumlah negara yang diperintah oleh partai Komunis Eropa Timur dan Asia Timur. Tidak satupun negara-negara tersebut yang menggambarkan secara absolut hilangnya demokrasi, kecuali Cekoslovakia yang kurang beruntung mendapat serangan bertubi-tubi dari Hitler pada 1938-39 dan Uni Soviet pada 1948 dan 1949. Kedua, beberapa negara lembaga demokrasinya masih lemah. Negara-negara baru dia Asia dan Afrika banyak yang melakukan pembenahan internal berhadapan dengan kekuatan tradisional, biasanya menggunakan metode otoriter.

Q. Lingkungan Sosial dari Sistem Politik

Sebuah sistem politik tidak akan demokratis bila karakter tatanan sosialnya tidak mendukung. Terdapat tiga karakteristik dasar yang berkaitan dengan demokraisi. Pertama adalah rakyat yang menyangkut ras, agama, bahasa yang harus diperhitungkan. Kedua adalah masyarakat yang terorganisasi yang menyangkut masalah geografi. Ketiga adalah situasi ekonomi menyangkut ketersediaan sumber daya alam dan teknologi. Perpaduan masing-masing karakter berbeda untuk tiap-tiap negara.

Bagian III Q. Analisis

(11)

budaya, yang dianggap terbaik bagi negara bangsa.3Dalam konteks pembahasan ini kita kembali kepada pertanyaan dasar yang hendak dijawab oleh Leslie Lipson, yaitu: apakah esensi dasar dari demokrasi? Pada bagian berikutnya, Lipson berkesimpulan bahwa demokrasi sebagai bentuk pemerintahan yang dapat meningkatkan martabat manusia, menjamin keberlanjutan pendidikan kewargaan dan membantu manusia menjadi lebih beradab. Berikut kutipan lengkapnya:

Finally, there strong argument in favor of democracy: it is form of goverments that has a claim to our allegiance for the reasons that it heightens human dignity, supplies a continuing civic education and, by that education helps humanity in becoming more civilezed.4

Persoalannya apakah demokrasi ini merupakan rejim terbaik yang berlaku universal untuk semua masyarakat? Lipson menjawab tidak, dengan mengajukan tiga variabel lingkungan demokrasi. Namun Lipson menggambarkan optimisme demokrasi dalam membangun masyarakat. Padahal, dalam perspektif postmarxis-Postmodern Ernesto Laclau dan Cantal Mouffe, demokrasi liberal dianggap gagal dalam memahami realitas sosial politik yang plural dalam masyarakat kontemporer. Demokrasi liberal bersifat paradoks, yaitu di satu sisi memperjuangkan persamaan dan keadilan, namun di sisi lain mengeklusi nilai-nilai plural dalam artikulasi politik. Kebijakan-kebijakan politik liberal belum spenuhnya menjamin persamaan politik bagi kelompok-kelompok minoritas.5 Untuk itu, Will Kymlica menawarkan gagasan tentang politik multikulturalisme. Hadirnya partai lokal Aceh, misalnya perlu dikaji dalam konteks ini, ataupun juga tentang substitusi perwakilan golongan dengan DPD di legislatif.

Dalam melihat perkembangan demokrasi Huntington berbeda dengan Lipson. Huntington mempercayai bahwa demokrasi akan menyebar ke seluruh dunia melalui proses ‘gelombang demokratisasi’. Gelombang pertama, masa revolusi Perancis dan Revolusi Amerika 1928. Gelombang

3 Ramlan Surbakti, Memahami Ilmu Politik (Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia, 1992) hal. 23-24

4 Leslie Lipson hal. 249

5 Boni Hargens, Demokrasi Radikal, Memahami Paradoks Demokrasi Modern Dalam Perspektif

(12)

Kedua, terjadi sekitar masa perang Dunia II. Gelombang Ketiga, diawali dengan runtuhnya kediktatoran Portugis tahun 1974 melalui ‘Revolusi Bunga’ yang kemudian diikuti negara di Eropa, Asia dan Amerika Latin.6

Namun Lipson dan Huntington memiliki persamaan, yaitu demokrasi berkembang menurut alur sejarah dan memiliki sumber yang tunggal, yaitu demokrasi liberal. Lipson mengajak mempelajari esensi demokrasi dengan pelacakan sejarah. Kalau kita lacak dalam kenyataan sejarah Indonesia, demokrasi Liberal ini tidak populer dan diidentikkan dengan Kapitalisme yang tidak terkendali.7Selo Sumarjan, memberikan gambaran yang spesifik tentang penolakan masyarakat atas demokrasi liberal karena dianggap tidak sesuai dengan konteks kebudayaan juga pendidikan masyarakat. Mereka sulit menyesuaikan diri dengan pemerintahan kolektif yang anggota-anggotanya adalah wakil-wakil dari partai-partai. Partai-partai yang ada saat itu justru menjadi sumber pertikaian. Sebab itu, masyarakat lebih mudah menerima demokrasi terpimpin.8

Dengan menggunakan analisis Huntington, kita akan memahami tulisan Lipson. Huntington juga percaya tentang pentingnya agen dalam setiap transisi menuju demokrasi: "demokrasi diciptakan bukan oleh sebab (causes), tetapi oleh causers (agen)". Bagi Huntington transisi demokrasi didasarkan pada pilihan elit, persepsi, keyakinan dan tindakan, sementara konsolidasi berikutnya didasarkan pada pakta elit dan konsensus.9 Ini pada akhirnya membenarkan tesis bahwa demokrasi penuh dengan kontradiksi. Pertama, keterlibatan elit akan memudahkan terjadinya oligarki (sebagian mewakili semua). Kedua, adanya sumber-sumber kekuasaan menjadikan distrisbusi kekuasaan yang tidak merata Michael Parenti menyebutnya Power dan Powerless. Sumber keuasaan berasal dari kekayaan, kemakmuran, prestise sosial, legitimasi sosial, jumlah pengikut, pengetahuan, kecakapan

6 Samuel P. Huntington, The Third Wave, Democratization in The Last Twetieth Century (Norman dan London: University of Oklohama Press, 1991) hal. 3-30

7 Herberth Feith dan Lance Catles (Ed.), Pemikiran Politik Indonesia 1945-1965 (Jakarta: LP3S, 1988) hal. 227

8 Selo Sumardjan, “Demokrasi Terpimpin dan Tradisi Kebudayaan” dalam Herberth Feith dan Lance Catles (Ed.), Pemikiran Politik Indonesia 1945-1965 (Jakarta: LP3S, 1988) hal. 114

(13)

memimpin, kontrol informasi, penguasaan teknologi, dan kemampuan menggunakan kekuatan dan kekerasan. Jelas sumber-sumber ini dimiliki elit.10Artinya terdapat peluang demokrasi menjadi elitis.

Dalam konteks itu, demokrasi sebagai suatu sistem tidak serta merta menjamin kesetaraan dalam segala bidang. Hal itu dikarenakan pluralitas merupakan realitas sosial yang tidak bisa dihilangkan. Masalah lainnya adalah bagaimana demokrasi mengelola pluralitas? Sejarah mencatat bahwa tidak ada jaminan bahwa lembaga-lembaga demokrasi mampu menjamin antagonisme (enemy relation) menjadi agonisme (friendly relation) dalam masyarakat yang plural, sejarah Indonesia melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959 telah membuktikan itu. DPR dan Dewan Konstituante sebagai lembaga demokratis yang dipilih melalui Pemilu 1955, akhirnya kandas di tangan pemilik power yaitu Sukarno. Kondisi ini juga menjelaskan bahwa asumsi teori modernisasi yang menyatakan negara hanyalah pelaksana dari kepentingan warganya tidaklah benar.

Dengan memperlajari karya Lipson dan realitas demokrasi dalam konteks kekinian, kiranya perlu diberikan beberapa catatan tambahan. Pertama, demokrasi harus dilembagakan dalam konteks rejim terbaik dan nilai-nilai kultural masyarakat yang bersangkutan. Ini dibutuhkan untuk menjamin suksesnya konsolidasi demokrasi, sehingga sejarah demokrasi dalam membangun peradaban berkembang dengan konteks kesejarahan, filosofi, sosiologis dan psikologis yang bervariasi. Kedua, demokrasi sangat rentan terhadap oligarki, karena itu ketergantungan massa terhadap elit harus dalam hubugan simbiosis mutualisme. Konsep yang paling tepat adalah masyarakat madani. Kondisi ini mensyaratkan adanya pendidikan politik yang berkelanjutan. Ketiga, demokrasi meniscayakan partisipasi dan kontrol masyarakat. Oleh karena itu perluasan partisipasi masyarakat melalui infrasturktur politik perlu diupayakan hingga ke tingkat partisipan dalam level budaya politik.

Tambahan catatan di atas dimaksudkan untuk mendukung pandangan Lipson bahwa demokrasi adalah sistem terbaik untuk membangun peradaban

(14)

manusia. Esensi peradaban adalah relasi manusia yang setara dan berkeadilan sosial sebagai anak tangga mencapai kebahagiaan hidup. Sekalipun dalam kebijaksanaan Yunani kebahagiaan itu ada setelah manusia meninggal, paling perlu diupayakan secara dinamis dan dialektis. Setelah 49 tahun karya Lipson ini, paling tidak telah terjadi banyak perubahan di bidang sosial dan politik. Demokrasi perlu diberikan definisi baru dan indikator-indikatornya perlu dirumuskan supaya menjadi lebih jelas dan terukur.

R. Epilog

Pelajaran dari penelusuran sejarah tentang demokrasi Lipson, ini memberikan suatu ilham bahwa tidak ada suatu konsep yang paripurna. Hanya saja dunia Barat dimulai dari Yunani memiliki keberanian menerapkan ide dan gagasan mereka tentang masyarakat terbaik ke dalam tingkatan realitas. Dalam konteks Indonesia, konsesus nasional Indonesia tentang demokrasi Pancasila perlu direvitalisasi terus menerus secara lebih operasional. Misalnya ide tentang persatuan, harus diterjemahkan dalam kebijakan politik untuk mengelola perbedaan dalam membangun kesetaraan dan keadilan sosial.

(15)

Lipson, Leslie. 19664. The Democratic Civilization. New York: Oxford University Press.

B. Pendukung

Hargens, Boni. 2006. Demokrasi Radikal, Memahami Paradoks Demokrasi Modern Dalam Perspektif Postmarxis-Post Dalam perspektif postmarxis-Postmodern Ernesto Laclau dan Cantal Mouffe. Jakarta: Parrhesia.

Herberth Feith dan Lance Catles (Ed.). 1988. Pemikiran Politik Indonesia 1945-1965. Jakarta: LP3S.

Huntington, Samuel P. 1991. “Democracy Third Wave” dalam The Journal Of Democracy, 2 (2), hal. 107

Huntington, Samuel P. 1991. The Third Wave, Democratization in The Last Twetieth Century. Norman dan London: University of Oklohama Press.

Parenti, Micahel. 1933. “Power and Powerless” dalam Philip Green (Eds.), Key Concept in Critical Theory Democracy. New Jersey: Humanities Press.

Suhelmy, Ahmad. 2007. Pemikiran Poltik Barat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Sumardjan, Selo. 1988. “Demokrasi Terpimpin dan Tradisi Kebudayaan” dalam Herberth Feith dan Lance Catles (Ed.). 1988. Pemikiran Politik Indonesia 1945-1965. Jakarta: LP3S.

Referensi

Dokumen terkait

Kondisi pada kuadran II ini merupakan kondisi yang cukup rawan karena akan menjadi ajang kepentingan banyak pihak, termasuk pihak asing untuk berebut memanfaatkan (eksploitasi)

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN DENGAN APLIKASI PENGISIAN PARTOGRAF OLEH MAHASISWA TINGKAT II.. SEMESTER IV KEBIDANAN WIRA HUSADA NUSANTARA

Nilai flowrate quench air ini merupakan nilai optimum quench air yang dialirkan ke sistem TOx untuk menjaga agar TOx tetap berada pada kondisi temperature normal (1600 o F)..

[r]

MANFAAT PENGGUNAAN JOBSHEET PADA KEGIATAN PRAKTIKUM DASAR BOGA DI SMKN 9 BANDUNG.. Universitas Pendidikan Indonesia| repository.upi.edu

Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) Untuk mengetahui perbedaan pembelajaran matematika metode Numbered Heads Together (NHT) dan Think Pair Share (TPS)

Hasil imp ortunce p e rfo nna nce analy si s pelayanan |amsoskes di puskesmas pembina menunjukkan bahwa ruta-rata tingkat kesesuaian antara kinerja dan

Water treatment system dengan menggunakan rawa buatan merupakan salah satu inovasi teknologi alternatif pengolahan limbah rumah tangga dengan menggunakan konsep