• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUBUNGAN ANTARA GAYA BERBUSANA DENGANCAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "HUBUNGAN ANTARA GAYA BERBUSANA DENGANCAR"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

CARA BERPIKIR REMAJA AKHIR USIA 18 – 21

TAHUN

PROPOSAL

Diajukan Sebagai Tugas Akhir Mata Kuliah Metode Penelitian

Kuantitatif

OLEH:

MIYA ANNISA MEVLANI

141301025

FAKULTAS PSIKOLOGI

(2)

DAFTAR ISI

I. BAB I PENDAHULUAN...4

A. Latar Belakang...4

B. Rumusan Masalah...7

C. Tujuan Penelitian...7

D. Manfaat Teoritis... 7

E. Manfaat Praktis...8

F. Sistematika Penelitian...8

II. BAB II LANDASAN TEORI...9

A. Gaya Berbusana 1. Definisi Berbusana...9

2. Fungsi Berbusana...9

3. Busana Sebagai Identitas...11

B. Cara Berpikir Remaja 1. Definisi Berpikir...12

2. Aspek-Aspek Pemikiran Remaja...12

3. Faktor yang Mempengaruhi Cara Berpikir Remaja...15

C. Hubungan Antara Gaya Berbusana dengan Cara Berpikir Remaja...17

D. Hipotesa Penelitian...20

III. BAB III METODE PENELITIAN...21

A. Metode Penelitian...21

B. Identifikasi Variabel...21

C. Definisi Operasional 1. Gaya Berbusana...21

2. Cara Berpikir Remaja...21

D. Rancangan Penelitian...22

E. Populasi dan Sampel Penelitian 1. Populasi Penelitian...22

2. Sampel Penelitian...22

(3)

G. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur

1. Validitas Alat Ukur...24 2. Reliabilitas Alat Ukur...25 3. Uji Daya Beda Aitem...25 H. Prosedur Pelaksanaan Penelitian

1. Tahap Persiapan Penelitian...26 2. Tahap Pelaksanaan Penelitian...26 3. Tahap Pengolahan Data...27 I. Metode Analisis Data

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Berbusana sudah merupakan kebutuhan yang primer sesudah pangan. Manusia membutuhkan alat pelindung tubuhnya sejak adanya peradaban dan kebudayan, berfungsi sebagai penutup dan pelindung tubuh dari segala macam gejala dan ancaman alam seperti cuaca dan serangan binatang buas serta ancaman dari manusia lainnya, juga sebagai unsur keindahan bagi penampilan seseorang. Berawal dari kulit pohon dan kulit binatang, kemudian berkembangan sesuai dengan kemajuan zaman hingga akhirnya ditemukannya material pembuat busana, yaitu benang, yang kemudian ditenun dan akhirnya dijahit sesuai dengan pola dan model yang diinginkan [ CITATION Luc01 \l 1057 ].

Di Indonesia, dunia fashion sudah berkembang demikian pesatnya. Informasi mengenai trend mode yang sedang ‘in’ di belahan dunia sudah bisa diterima di sini pada saat yang hampir bersamaan dengan dikeluarkannya prediksi tersebut oleh para perancang busana dunia (terutama barat), melalui satelit sebagai alat komunikasi. Sudah barang tentu pula model busana yang ditawarkan begitu banyak dan sesuai dengan budayanya. Informasi ini sudah bisa didapatkan melalui media-media elektronik dan media masa yang dengan mudah dapat diakses oleh setiap orang. Begitu gencarnya informasi akibat dari arus globalisasi ini, sehingga memperngaruhi gaya hidup dan gaya berbusana masyarakat , terutama yang berada di kota besar [ CITATION Luc01 \l 1057 ].

Gaya berbusana para remaja merupakan objek yang cukup menarik untuk dijadikan sebagai materi pembahasan, mengingat para remaja atau Anak Baru Gede (ABG) ini mempunyai potensi yang sangat besar sebagai objek yang gampang dipengaruhi oleh hal-hal yang baru lalu cepat ditiru.

(5)

keinginan bebas untuk menentukan apapun untuk dirinya. Masa remaja (adolescense) merupakan masa transisi yakni masa peralihan dari masa kanak-kanak memasuki pada kehidupan masa dewasa Secara kronologis usia remaja berkisar antara 12 – 21 tahun [ CITATION Ago04 \l 1057 ]. Banyak perubahan yang dialami dalam diri remaja, yaitu meliputi aspek fisiologis, psikologis maupun sosialisasinya. Pada saat ini, upaya untuk mencapai kemandirian dan menemukan identitas menjadi isu yang menonjol. Pemikiran mereka menjadi lebih logis dan abstrak, dan idealis. [ CITATION Joh111 \l 1057 ].

(6)

deduktif, mencakup penciptaan sebuah hipotesis dan melalukan deduksi terhadap implikasinya, yang memungkinkan untuk menguji hipotesis. Dengan demikian, mereka akan mengembangkan hipotesis mengenai cara memecahkan masalah dan secara sistematis melakukan deduksi terhadap langkah terbaik yang harus diikuti untuk memecahkan masalah [ CITATION Joh111 \l 1057 ].

(7)

Dengan adanya imaginary audience, membuat remaja selalu ingin terlihat sempurna di mata orang yang melihatnya. Hal ini yang membuat remaja mulai memperhatikan gaya berbusananya.

Pikiran remaja, bisa dibaca dari cara berpakainnya atau gaya berbusananya. sebab pada hakikatnya, gaya berbusana seseorang menunjukkan apa yang sedang dipikirkannya saat ini. Menurut Oliver Spankovsky (2007) gaya berpakaian atau berbusana seorang wanita menunjukkan sesuatu yang ada dalam hatinya saat ini. Hal inilah yang mendorong Kym dan Cindy (2008) menulis tentang etos para remaja dalam menikmati gaya hidup yang eksotis dalam sebuah bukunya yang berjudul Ingin Secantik Artis-Artis Hollywood. Di sini, Kym menguraikan bagaimana seorang remaja mampu menarik perhatian orang lain, mulai dari penampilan, cara berjalan dan cara memoles pipi dengan lipstik [ CITATION AMu09 \l 1057 ].

Berdasarkan pemaparan di atas, maka peneliti tertarik untuk melihat hubungan antara gaya berbusana dengan cara berpikir remaja. Pada penelitian ini, peneliti fokus pada remaja yang memasuki masa akhir yaitu dengan usia 18 – 21 tahun. Selanjutnya proposal ini akan diajukan sebagai tugas akhir mata kuliah metode penelitian kuantitatif.

B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dari penelitian ini adalah “Apakah ada hubungan antara gaya berbusana dengan cara berpikir remaja akhir usai 18 – 21 tahun?”

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara gaya berbusana dengan cara berpikir remaja akhir usia 18 – 21 tahun.

(8)

Secara teoritis penelitian ini digunakan untuk melihat hubungan antara gaya berbusana dengan cara berpikir remaja akhir usia 18 – 21 tahun. Penelitian ini juga diharapkan dapat memberi sumbangan yang akan memperkaya ilmu pengetahuan psikologi, khususnya di bidang perkembangan kognitif remaja.

E. Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat membantu remaja untuk lebih teliti dalam mengekspresikan pikiran mereka melalui busana yang digunakan.

F. Sistematika Penulisan

Proposal ini dibagi atas tiga bab, dan masing-masing bab dibagi atas beberapa sub bab. Sistematika penulisan penelitian ini adalah:

1. Bab I: Pendahuluan

Bab ini akan memaparkan uraian singkat mengenai latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat teoritis, manfaat praktis serta sistematika penelitian.

2. Bab II: Landasan Teori

Bagian ini berisikan tinjauan teoritis yang menjadi acuan dalam pembahasan masalah. Teori pertama dibahas dalam penelitian ini adalah mengenai busana yang di dalamnya dijelaskan mengenai definisi busana, fungsi busana berdasarkan beberapa teori, dan mengenai busana sebagai identitas. Kemudian terori selanjutnya yaitu mengenai berpikir remaja, yang di dalamnya terdapat penjabaran mengenai definisi berpikir, aspek-aspek apa saja yang terdapat pada pemikiran remaja, faktor yang mempengaruhi cara berpikir remaja, bagaimana hubungan antara gaya berbusana dengan cara berpikir remaja, serta pemaparan mengenai hipotesa penelitian.

3. Bab III: Metode Penelitian

(9)

pengumpulan data, populasi dan sampel penelitian, metode pengumpulan data, validitas dan reliabilitas alat ukur, produser pelaksanaan penelitian, dan metode analisis data.

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Gaya Berbusana 1. Definisi Busana

Kata ”busana” diambil dari bahasa Sansekerta ”bhusana”. Namun dalam bahasa Indonesia terjadi penggeseran arti ”busana” menjadi ”padanan pakaian”. Meskipun demikian pengertian busana dan pakaian merupakan dua hal yang berbeda. Busana merupakan segala sesuatu yang kita pakai mulai dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Busana ini mencakup busana pokok, pelengkap (milineris dan aksesories) dan tata riasnya. Sedangkan pakaian merupakan bagian dari busana yang tergolong pada busana pokok. Jadi pakaian merupakan busana pokok yang digunakan untuk menutupi bagian-bagian tubuh [ CITATION Bei12 \l 1057 ].

a) Dalam konteks psikologi:

Psychologists are concerned with how the individual organism responds to specific stimuli (Horn & Gurel, 1981 : 3)

Teks di atas dapat diartikan: busana merupakan stimulus dan sekalis sebagai respons, yang diterima oleh manusia secara berbeda.

b) Dari sudut sosiologi:

(10)

2. Fungsi Busana

Tidak bisa dipastikan secara jelas mengapa dan kapan manusia mulai memakai busana. Tetapi seperti yang sudah dijelaskan pada di awal, bahwa manusia membutuhkan busana untuk melindungi tubuhnya dari segala macam ancaman fisik dari luar dan memperindah penampilan seseorang. Berikut fungsi busana digolongkan dalam empat teori menurut Horn & Gurel:

a) Teori Modesty

Bagi mereka yang menganut moralis berpendapat bahwa pakaian diperlukan manusia untuk menutupi tubuhnya dari pandangan orang lain, namun bagian-bagian tubuh mana yang harus ditutupi, berbeda bagi setiap manusia pada budaya yang berbea. Secara religi, ajaran Islam yang tertuang dalam berbagai ayat dan hadist, menganjurkan manusia untuk berpakaian menutupi aurat yaitu mulai dari kepala hingga kaki, wajah dan telapak tangan saja yang hanya boleh terlihat, dengan tujuan agar terhindar dari bahaya dan fitnah. Teori Modesty yang dalam terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia adalah teori kesopanan, memperlihatkan bahwa salah satu fungsi manusia berpakaian untuk menutupi bagian tubuhnya yang tidak patut dilihat oleh orang lain, karena manusia mempunya naluri malu. Perasaan malu yang berkaitan dengan berpakaian dengan tujuan untuk menutupi bagian-bagian tubuh, tidak sama di antara beberapa kelompok masyarakat, bahkan dalam budaya yang sama pun kadang-kadang terdapat perbedaan. Perbedaan ini biasanya ditandai oleh aspek jenis kelamin, umur, kelompok sub kultur, geografis dan persoalan situasi. Rasa malu yang berhubungan dengan berpakaian, tidak bisa digeneralisasikan berlaku bagi setiap manusia.

b) Teori Immodesty

(11)

tertentu yang tertutup tersebut. Berdasarkan teori ini, dalam berpakaian diharapkan menarik perhatian orang, termasuk menambah ketertarikan secara seksualitas.

c) Teori Proteksi

Teori yang menerangkan tentang proteksi dan busana yang fungsional. Busana di sini ditekankan sebagai benda perantara pelindung manusia dengan lingkungannya, yang melindungi dari unsur-unsur yang dapat menyakiti baik secara fisik maupun psikologi. Secara fisik, yaitu melindungi dari cuaca panas dan dingin, secara psikologi yaitu sebagai simbol keamanan dari roh jahat (di beberapa tempat pada masyarakat tradisional di aman hal ini lebih penting daripada hanya sekedar sebagai pelindung tubuh).

d) Teori Dekoratif

Teori dekorasi merupakan salah satu teori yang dapat diterima secara luas berkaitan dengan tujuan manusia berbusana, di aman manusia membutuhkan pengalaman estetis dalam penampilannya. Tujuan menurut teori ini bisa diartikan sebagai usaha untuk menarik perhatian dengan cara menghias atau memberikan sentuhan estetis. Termasuk di dalamnya adalah body painting, tato, kulit, dan deformasi.

3. Busana Sebagai Identitas

(12)

dapat diterima oleh sebuah komunitas tergantung pada luasnya jaringan simbol-simbol, di mana simbol tersebut mempunyai makna yang umum dan disepakati bersama dalam sebuah budaya. Meskipun sebagian besar simbol-simbol tersebut dikomunikasikan secara verbal, beberapa menerjemahkannya dengan tampilan secara kasat mata, misalnya gestur, gerakan dan objek.

Busana merupakan objek utama yang digunakan secara simbolik di dalam interaksi manusia. Penampilan membawa pesan simbolik bagi penerimanya, tetapi pesan yang diterima tidak selalu tepat. Tingkat konsistensi antara kedua pesan (yang disampaikan dan yang diterima) tersebut merupakan ukuran dan keefektifan dari interaksi tersebut.

B. Cara Berpikir Remaja 1. Definisi Berpikir

Arends (2000), berpikir merupakan kemampuan untuk menganalisis, mengkritik, dan mencapai kesimpulan berdasarkan pada inferensi atau pertimbangan yang seksama. Hal senada juga dikemukakan oleh Plato, berpikir adalah berbicara dalam hati, sedangkan Geiles mengartikan berpikir adalah berbicara dengan diri sendiri dalam batin, yaitu mempertimbangkan, merenungkan, menganalisis, membuktikan sesuatu, menunjukkan alasan-alasan, menarik kesimpulan, meneliti sesuatu jalan pikiran, dan mencari bagaimana berbagai hal itu berhubungan satu sama lain (Saragih, 2007:27). Ini berarti, berpikir merupakan suatu proses kegiatan untuk menemukan kebenaran.

2. Aspek-Aspek Pemikiran Remaja

Menurut Elkind, seorang psikolog Amerika Serikat ada beberapa aspek pemikiran yang dialami remaja, sebagai berikut [ CITATION Ago041 \l 1057 ]:

(13)

Sebagai seorang individu yang memiliki pertumbuhan fisik dengan ukuran yang mirip dengan orang dewasa, maka masyarakat mulai menuntut remaja untuk dapat berlaku, bersikap dan bertindak sebagaimana layaknya seorang anggota masyarakat lain yang telah dewasa. Ia diharapkan tidak merengek-rengek seperti anak-anak lagi. Sifat kekanak-kanakan seperti itu diharapkan sudah ditinggalkan dan harus bersikap dewasa. Kalau ada sesuatu yang mengganjal/menjadi pertanyaan, diharapkan langsung ditanyakan pada yang bersangkutan secara bertanggung jawab. Demikian pula dalam melakukan sesuatu, ia haus mengerjakan dengan kemampuan diri sendiri, tanpa harus merepotkan urusan orang lain.

b) Remaja Bersikap Kritis

Dalam kehidupan sosial masyarakat, remaja sering kali menanyakan hal-hal dianggapnya terasa janggal dan tidak masuk akal. Ia berusaha mencari penjelasan logis dari pihak-pihak yang bertanggung jawab, karena itu bila apa yang menjadi kecurigaan pertanyaannya tidak terjawab secara tuntas, maka ia biasanya bersikap memberontak dan mungkin diwujudkan dengan aksi protes, demo, atau bahkan pemogokan. demikian pula, dalam bidang ilmu pengetahuan, remaja biasanya tidak langsung menerima suatu informasi secara mentah-mentah. Ia mengkritiki terlebih dahulu nilai kebenaran, validasi, maupun reliabilitasnya.

c) Remaja Sering Mengajukan Argumentasi (Argumentativeness)

(14)

profesional, sehingga berkembang dengan baik untuk kemajuan hidupnya di masa depan. Sarana pertemuan ilmiah seperti; diskusi, lokakarya, seminar yang disenggarakan oleh lembaga pendidikan formal maupun nonformal, akan cukup membantu perkembangan intelektual remaja.

d) Remaja Bersikap Ragu-Ragu dalam bertindak (Indivieveness)

Walaupun kemampuan intelektual mulai berkembang dengan baik, namun seorang remaja sering kali masih dihinggapi oleh perasaan ragu-ragu, terutama dalam pengambilan keputusan.

e) Remaja Sering Bersikap Munafik (Hypocrisy)

Remaja sering kali bersikap munafik. Ia tidak menyadari perbedaan antara kenyataan hidup dengan keinginan-keinginan yang bersifat ideal. Mereka mungkin sering kali melakukan protes terhadap kenyataan sosial, misalnya pencemaran lingkungan hidup, penculikan aktivis politik, kerusuhan sosial tindakan kolusi, korupsi dan nepotisme; sementara mereka mungkin juga melakukan tindakan yang sama. Mereka bisa menilai atau mengetahui kesalahan orang lain, tetapi ketika dihadapkan pada suatu masalah, ternyata pikiran dan tindakannya tidak jauh berbeda dengan orang lain yang dikritikinya. Kemunafikan inilah yang sering kali tidak disadari atau pura-pura tidak disadari oleh remaja.

f) Remaja Memiliki Kesadaran Diri (Self – Counsciousness)

(15)

tindakan atau mengalami suatu keputusan, ia akan memikirkan akibat-akibatnya yang dirasakan oleh orang lain maupun dirinya sendiri. Ia mulai melihat perspektif atau cara pandang dari orang lain. Dengan demikian, hal ni akan dapat melatih kemampuan dalam pengambilan keputusan. Ini berarti akan mematangkan konsep pemikiran intelektualnya.

g) Remaja Menganggap Dirinya Kebal terhadap Segala Sesuatu (Assumption of Invulnerability).

Hal yang kadang masih menjadi sifat egosi pada diri remaja adalah adanya anggapan kalau dirinya mempunyai kekebalan terhadap hal-hal yang bersifat negatif dan cenderung merugikan. Bahwa segala peristiwa, kejadian atau pengalaman buruk boleh terjadi pada diri orang lain, tetapi hal itu tidak mungkin terjadi pada dirinya. Misalnya sakit – penyakit,kematian, kesengsaraan gempa bumi, bencana bisa dialami orang lain, tetapi hal itu tak mungkin terjadi pada diri atau keluarganya. Bila salah satu peristiwa itu ternyata benar-benar dialami oleh dirinya atau keluarganya, maka hal ini akan menyadarkan pemikirannya. Jadi pengalaman akan membuat dirinya makin mengerti akan keberadaan dirinya, bahwa segala sesuatu bisa dialami oleh siapa saja, termasuk dirinya sendiri.

3. Faktor yang Mempengaruhi Cara Berpikir Remaja

Cara berpikir remaja dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya [ CITATION Yud13 \l 1057 ]:

a) Keluarga

(16)

keluarga yang telah mampu melaksanakan fungsinya sebagaimana yang sudah dijelaskan. Di samping itu, keluarga yang fungsional.

Di samping itu juga di tandai oleh karakteristik Remaja : (1) Saling memperhatikan dan mencintai.

(2) Bersikap terbuka dan jujur

(3) Orang tua mau mendengarkan anak, menerima perasaannya, dan menghargai pendapatnya.

(4) Ada “sharing“ masalah atau pendapat di antara anggota keluarga.

(5) Mampu berjuang mengatasi masalah hidupnya. (6) Saling menyesuaikan diri dan mengakomodasi (7) Orang tua melindungi anak

b) Pola hubungan dengan anak

Karakteristik emosional dan pola perlakuan keluarga dengan elemen-elemen struktur kepribadian remaja, yaitu:

(1)Remaja memiliki “ego strength“ ( kematangan emosional dan keinginan untuk menyesuaikan diri dengan harapan – harapan masyarakat )

(2)Remaja memiliki “ superego “ ( berperilaku efektif yang dibimbing oleh kata hatinya )

(3)Remaja yang “ friendliness “ dan “ spontanetty “ berhubungan erat dengan iklim keluarga yang demokratis.

(4)Remaja yang bersikap bermusuhan dan memiliki perasaan gelisah atau cemas, berkaitan dengan keluarga yang otoriter.

c) Kelas Sosial dan Status Ekonomi

Menurut Pikunas ( 1976 : 72 ), mengemukakan kaitan antara kelas social dengan cara orang tua dalam mengatur anak, dapat mempengaruhi cara berpikirnya.

(17)

Menurut Harlock ( 1986 : 322 ), bahwa sekolah merupakan faktor penentu bagi perkembangan kepribadian anak baik dalam cara berpikir. Beberapa alasannya adalah :

(1)Para siswa harus hadir di sekolah.

(2)Sekolah memberikan kesempatan kepada siswa yang meraih sukses.

(3)Sekolah memberikan kesempatan pertama kepada anak untuk menilai dirinya dan kemampuannya secara realistik.

e) Kelompok Teman Sebaya

Aspek kepribadian remaja yang berkembang secara menonjol dalam pengalamannya bergaul dengan teman sebaya, adalah :

(1) Social Cognition : kemampuan untuk memikirkan tentang pikiran, perasaan, motif, dan tingkah laku dirinya dan orang lain. Kemampuan ini berpengaruh kuat terhadap minatnya untuk bergaul atau membentuk persahabatan dengan teman sebayanya ( Sigelman & Shaffer, 1995: 372,376 ).

(2) Konformitas : motif untuk menjadi sama, sesuai, seragam, dengan nilai – nilai, kebiasaan, kegemaran ( hobi ), atau budaya teman sebayanya. Konformitas kepada norma kelompok terjadi, apabila : (a)Norma tersebut secara jelas dinyatakan.

(b)Individu berada di bawah pengawasan kelompok. (c)Kelompok memiliki fungsi yang kuat.

(d)Kelompok memiliki sifat kohesif yang tinggi

(e)Kecil sekali dukungan terhadap penyimpangan dari normal

C. Hubungan Antara Gaya Berbusana dengan Cara Berpikir Remaja

(18)

yang menjadi frame pemikiran orang-orang di zaman modern. Pakaian dengan memperlihatkan lekuk tubuh menjadi tren mereka. Sehingga membuat orang yang melihatnya akan terpukau. Ada juga yang menggunakan rok mini sehingga paha mulus dapat terlihat jelas, atau rok mini dengan memaki kaus stocking yang memperlihatkan betis. Sepatu berhak tinggi serta rambut yang merumbai, akan menjadi perhatian tersendiri bagi seorang remaja perempuan. Cara berpakain seseorang terkhususnya wanita memiliki makna tersendiri yang bisa digali dan dimaknai sesuai dengan cara berpikir mereka. Oleh karena ini, berikut penyajian beberapa hal yang berkaitan dengan style yang berhubungan dengan cara berpikir, hati, dan krakternya [ CITATION Muc09 \l 1057 ]:

1. Make Up yang Berlebihan

Menurut Affan Markesot (1999), seseorang yang memakai make up berlebihan sesungguhnya ia ingin menyita perhatian orang yang melihatnya. Ia yakin, dengan penampilannya yang demikian akan menjadikannya lebih percaya diri dan tampil lebih modis daripada hanya berpenampilan biasa. Dengan memakai make up , seolah-olah ia merasa lepas. Tidak akan berpikir bahwa dirinya kurang nyaman ketika berhadapan dengan orang lain. Ia hanya ingin agar orang yang ada disekitarnya memalingkan pandang karena dirinya kurang bersih.

Menurut pandangan Barlow, seserorang yang merasa dirinya kurangmenarik ingin tampil dengan cara memakai make up. Cara ini dilakukan karena merek tidak memiliki energi dari dalam dirinya. Perempuan yang ingin menjadikan dirinya tampil menarik dengan dasar spiritnya, pasti tidak akan memakai make up yang berlebihan [ CITATION Muc09 \l 1057 ].

2. Pakaian Transparan

(19)

mencerminkan karakter orang yang menggunakannya. Seorang wanita menampilan personalitasnya melalui pakaian yang sedang dipakainya. Pakaian transparan dewasa ini banyak dipakai oleh para remaja. Style modernitas seakan merupakan style pakaian transparan yang memperlihatkan lekuk tubuh. Ada beberapa cara berpikir dan karakter orang yang berpakaian trasnparan [ CITATION Muc09 \l 1057 ].

a) Pola berpikirnya cendrung bersifat modern

b) Sebagian optimis, sebagian cerdas, dan sebagian manja c) Bersih, wangi, dan modis

d) Prinsipnya kurang kuat.

e) Ingin menunjukkan pada orang lain.

3. Rok Mini dengan Hak Tinggi dan Rambut Rebounding Merumbai

Seseorang yang memakai hak tinggi memiliki pesona yang lebih dari orang ain. Segala sesuatu yang menjadi nilai di kehidupannya selalu dicapainya dengan sangat keras. Ia memiliki semangat tinggi dalam mencapai segala keinginannya. Tidak semua orang bisa hidup sepertinya, mengingat corak dan gaya berpikirannya yang berbeda [ CITATION Muc09 \l 1057 ].

4. Pakaian Ketat dan Memakai Kerudung Setengah Kepala

Menurut Asrodi Syukur Jaya (2000), Karakter dan cara berpikir orang yang senang berkerudung setengah kepala adalah sebagai berikut:

a) Modis

b) Kurang konsisten

c) Kurang fokus ketika mengerjakan sesuatu

(20)

Beberapa hal yang berkaitan dengan pikiran orang yang memakai jilbab besar dan cadar adalah sebagai berikut:

a) Idealis

Apabila memiliki sebuah ide penting yang menurutnya harus dipertahankan, ia seolah-olah harus mempertahankan ode itu dengan baik. Ia selalu mencoba untuk tidak terpengaruh pada orang lain. Menurut Muhammad Syaifuddin (2007), ketika ide-ide dipertahankan dengan bentuk idealis, hal ini akan memperlihatkan adanya sebuah semangat yang luar biasa.

b) Optimis c) Sederhana

Ia hanya berpikir bagaimana mereka dapat membangun kehidupan yang kurang bermanfaat menjadi lebih bermanfaat.

d) Ramah dan tendensius e) Tidak mudah terpengaruh f) Keras dan kaku

Di sisi lain, orang tersebut memiliki sifat keras. Ia akan berjuang sedemikian rupa hingga menemukan sebuah keputusan yang cocok dan sesuai dengan apa yang dipikirkannya.

D. Hipotesa Penelitian

Dalam penelitian ini diajukan sebuah hipotesis sebagai dugaan sementara terhadap permasalahan yang telah dikemukakan. Adapun hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah :

(21)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Metode Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode penelitian korelasional yaitu metode penelitian yang bertujuan untuk melihat relasi hubungan di antara dua variabel tanpa mencoba memengaruhi variabel-variabel tersebut [ CITATION Mur14 \l 1057 ].

B. Identifikasi Variabel

Variabel-variabel yang terlibat dalam penelitian ini adalah: Variabel Bebas : Gaya Berbusana

Variabel Terikat : Cara Berpikir Remaja

C. Definisi Operasional 1. Gaya Berbusana

(22)

matahari, rasa dingin saat hujan, serta berfungsi untuk memperindah tampilan agar bagus dilihat oleh mata.

Instrumen yang digunakan dalam pembuatan skala adalah berdasarkan empat teori menurut Horn & Gurel tentang pandangan orang mengenai fungsi bagi dirinya.

2. Cara Berpikir Remaja

Cara berpikir remaja adalah tentang kemampuan remaja untuk menganalisis, mengkritik, dan menarik kesimpulan berdasarkan pertimbangan yang seksama. Hal ini merupakan suatu proses kegiatan untuk menemukan kebenaran. Cara berpikir remaja, terjadi karena adanya beberapa aspek dan dipengaruhi oleh beberapa faktor.

Pada variabel ini, skala dibuat berdasarkan skala cara berpikir remaja yang telah dikembangkan oleh peneliti.

D. Rancangan Penelitian

Rancangan penelitian adalah responden akan diberikan skala dan pelaksanaan penelitian ini sesuai dengan aturan-aturan dalam penelitian korelasional.

E. Populasi dan Sampel Penelitian 1. Populasi Penelitian

(23)

mahasiswa Fakultas Psikologi USU yang memiliki rentang usia 17 – 21 tahun (masih masuk ke dalam kategori Masa remaja).

2. Sampel Penelitian

Sampel adalah sebagian dari populasi yang terpilih dan mewakili populasi tersebut. Jika populasi memiliki karakteristik tertentu atau ciri tertentu, maka sebagian dan mewakili dalam hal ini hendaklah mencakup karakteristik tersebut [ CITATION Mur14 \l 1057 ]. Leedy (dalam Yusuf, 2014) mengemukakan bahwa sampel dipilih dengan hati-hati sehingga dengan melalui cara demikian peneliti akan dapat melihat karakteristik populasi.

Sampel dalam penelitian ini dipilih dengan menggunakan probability sampling (random), yaitu dengan teknik Simple Random Sampling (SRS). SRS merupakan dasar dalam pengambilan sampel random yang lain. SRS dilakukan dengan cara undian atau lottere. Teknik ini dilaksanakan dengan without repleacement, yaitu cara pengambilan sampel dengan tidak mengembalikan responden terpilih pada kelompok populasi. Pemilihan sampel tanpa pengembalian berarti setiap responden yang sudah terpilih sebagai sampel tidak punya hak lagi untuk dipilih lagi dalam periode berikutnya [ CITATION Mur14 \l 1057 ].

Sebelum melakukan random yang dilakukan terlebih dahulu adalah memperhatikan karakteristik populasi yang telah ditentukan. Setelah mendapatkan populasi yang sesuai karakteristik, barulah lakukan Simple Random Sampling (SRS). Jumlah sampel yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah 40 orang dan diharapkan hasilnya dapat mewakili populasi.

F. Metode Pengumpulan Data

(24)

\l 1057 ]. Pengumpulan data hendaklah dilakukan setelah berbagai langkah penelitian sebelumnya dirumuskan dengan baik [ CITATION Mur14 \l 1057 ]. Secara umum teknik pengumpulan data yang dapat dilakukan peneliti dalam penelitian kuantitatif, di antaranya; kuesioner, skala dan tes [ CITATION Mur14 \l 1057 ]. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode skala untuk memperoleh data penelitian. Metode atau teknik skala adalah suatu prosedur pengambilan data yang merupakan suatu alat ukur aspek afektif yang merupakan konstruk atau konsep psikologis yang menggambarkan aspek kepribadian individu [ CITATION SAz99 \l 1057 ]. Penelitian ini menggunakan skala model Likert. Model ini merupakan model penskalaan pernyataan sikap yang menggunakan distribusi respons sebagai dasar penentuan nilai sikap [ CITATION SAz99 \l 1057 ].

Penelitian ini menggunakan pemilihan alternatif jawaban sebagai berikut: SS = Sangat Setuju

S = Setuju R = Ragu-ragu TS = Tidak Setuju

STS = Sangat Tidak Setuju

G. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur 1. Validitas Alat Ukur

(25)

Validitas isi merupakan modal dasar dalam suatu instrumen penelitian, sebab kesahihan/validitas isi akan menyatakan keberwakilan aspek yang diukur dalam instrumen [ CITATION Mur14 \l 1057 ]. Validitas isi menunjukkan sejauh mana aitem-aitem yang dilihat dari isinya dapat mengukur apa yang dimaksudkan untuk diukur. validitas isi alat ukur ditentukan melalui pendapat profesional (professional judgement) dalam proses telaah soal sehingga aitem-aitem yang telah dikembangkan memang mengukur (representatif) bagi apa yang dimaksudkan untuk diukur [ CITATION SSu00 \l 1057 ].

2. Reliabilitas Alat ukur

Pengukuran yang memiliki reliabilitas tinggi disebut sebagai pengukuran yang reliabel (reliable). Ketetapan suatu hasil pengukuran/asessment dalam penelitian akan ditentukan oleh berbagai faktor, antara lain oleh konsistensi, stabilitas, atau ketelitian alat ukur/inventor yang digunakan. Realibilitas merupakan konsistensi suatu kestabilan skor suatu instrumen penelitian terhadap individu yang sama, dan diberikan dalam waktu yang berbeda [ CITATION Mur14 \l 1057 ].

Uji reliabilitas alat ukur menggunakan pendekatan konsistensi internal dengan produser hanya memerlukan satu kali penggunaan tes kepada sekelompok individu sebagai subjek. Pendekatan ini dipandang ekonomis, praktis dan berefisiensi tinggi Teknik yang digunakan adalah teknik reliabilitas Alpha dari Cronbach.

Reliabilitas dinyatakan oleh koefisien reliabilitas (rxx’) yang

(26)

penerimaan reliabilitas dianggap memuaskan apabila koefisiennya mencapai minimal 0,5 [ CITATION SAz99 \l 1057 ].

3. Uji Daya Beda Aitem

Uji daya beda aitem dilakukan untuk melihat sejauh mana aitem mampu membedakan antara individu yang memiliki atribut dengan yang tidak memiliki atribut yang diukur. Dasar kerja yang digunakan dalam analisis aitem ini adalah dengan memilih aitem-aitem yang fungsi ukurnya selaras dengan fungsi ukur tes atau memilih aitem untuk mengukur hal yang sama dengan yang diukur oleh tes sebagai keseluruhan (Azwar, 1999). Pengujian daya beda aitem dilakukan dengan komputasi koefisien korelasi antara distribusi skor pada aitem dengan suatu kriteria yang relevan yaitu skor total tes itu sendiri dengan menggunakan koefisien korelasi Pearson Product Moment atau yang dikenal dengan indeks daya beda aitem (Azwar, 1999). Dimana nilai rit =

0,30.

H. Prosedur Pelaksanaan Penelitian 1. Tahap Persiapan Penelitian

Pada tahap ini penelitian melakukan langkah-langkah sebagai berikut: a) Mengajukan izin penelitian kepada Dosen

b) Menyusun skala

c) Melakukan random terhadap populasi untuk mendapatkan responden (sampel)

d) Mendata responden dan membuat janji kepada sampel kapan dan di mana akan mengisi skala.

2. Tahap Pelaksanaan Penelitian

a) Peneliti menjelaskan tujuan penelitian, isi dan cara pengisian skala, dan prosedur penelitian kepada responden.

(27)

c) Responden mengisi skala dan memberi waktu responden untuk mengisinya dengan batas waktu maksimal 10 menit.

d) Setelah responden selesai mengisi skala, skala dikumpulkan kembali dan peneliti mengecek kelengkapannya. Jika terdapat pertanyaan yang tidak di isi atau data yang kurang lengkap, maka peneliti meminta kesediaan responden untuk melengkapinya.

e) Membagi reward kepada responden ketika responden mengumpulkan skala, sebagai tanda terima kasih.

f) Setelah semua data terkumpul, maka dilanjutkan dengan pengolahan skala.

3. Tahap Pengolahan data

Peneliti melakukan empat tahapan pengolahan data di mana menurut Hastono (2007) pengolahan data merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan setelah pengumpulan data di mana data diolah sedemikian rupa sehingga dapat menjadi informasi yang dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian. Proses pengolahan data yang dilakukan peneliti yaitu:

a) Editting

Peneliti melakukan kegiatan mengecek ulang kelengkapan pengisian formulir apakah sudah lengkap, jelas, relevan, dan konsisten. Apabila terdapat kekurangan dapat segera dilengkapi. b) Coding

Peneliti mengklasifikasikan jawaban-jawaban atau hasil-hasil yang ada menurut jenisnya.

c) Entry data

(28)

Proses ini dilakukan sebelum analisis data sehingga tidak terdapat kesalahan pembacaan kode pada data penelitian yang diperoleh saat analisis berlangsung.

I. Metode Analisis Data

Sebagai jenis penelitian korelasi, terdapat 2 uji asumsi yang harus dilakukan. Uji asumsi tersebut meliputi:

1. Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah data penelitian terdistribusi secara normal di dalam sebaran kurva normalitas. Uji formalitas ini dilakukan dengan menggunakan uji Kolmogorov Smirnov pada statistic non parametrics. Data akan diasumsikan normal jika nilai signifikan >0,05.

2. Uji Linearitas

Uji linearitas dilakukan untuk mengetahui hubungan antara variabel. Asumsi hndak melihat apakah hubungannya memenuhi asumsi garis linear. Bahwa kenaikan/penurunan nila variabel X akan diikuti oleh kenaikan/penurunan nilai variabel Y. Uji linearitas pada data ini dilakukan menggunakan uji test for liniearity (Compare Means dan Means). data tersebut akan dinyatakan linear jika nilai signifikasi p<0,05.

(29)

DAFTAR PUSTAKA

Amrin, M. (2009). Membaca Karakter Keprbadian dan Pikiran Perempuan. Jogjakarta: Garailmu.

Azwar, S. (1999). Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Azwar, S. (2006). Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Beibeth. (2012, April 15). Definisi Busana. Dipetik Juni 22, 2015, dari Blogspot:

http://beibethboutique.blogspot.com/2012/04/definisi-busana.html Dariyo, A. (2004). Psikologi Perkembangan Remaja. Bogor: Ghalia Indonesia. Hadi, S. (2002). Metodology Research. Jilid 1-4. Yogyakarta: Andi.

Ismael, S. S. (2011). Dasar-Dasar Metodelogi Penelitian Klinis. Jakarta: Sagung Seto.

Lutvia, L. (2001). Gaya Berbusana "ABG" Dewasa ini. Jurnal Seni Rupa & Desain Vol. 2 No.1 Maret 2001 , 1-2.

(30)

Savitrie, D. (2008). Pola Perilaku Pembelian Prodek Fashion pada Konsumen Wanita. 14-15.

Sugiyono. (2007). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Suryabrata, S. (2000). Metodologi Penelitian. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Yudanti, R. E. (2013, Januari 08). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Sikap

Remaja dalam Bersikap. Dipetik Juni 22, 2015, dari Blogspot:

http://riskieliyayudanti.blogspot.com/2013/01/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-sikap.html

Referensi

Dokumen terkait

Hal tersebut dikarenakan pada saat mulai memasuki masa remaja, seorang perempuan akan mengalami peningkatan lemak tubuh yang membuat tubuhnya semakin jauh dari bentuk tubuh

Berdasarkan pada latar belakang masalah yang telah dijelaskan diatas maka dapat disimpulkan bahwa remaja menganut gaya hidup hedonisme salah satu faktor yang

Definisi Operasional: Body image adalah evaluasi yang dilakukan wanita terhadap ukuran tubuh, berat badan ataupun aspek- aspek lain dari tubuhnya yang berhubungan

Apabila citra tubuh yang dibangun tidak sesuai dengan kenyataan tubuhnya, maka akan menyebabkan remaja merasa tidak puas pada citra tubuhnya sendiri dan hal

Tinggi rendahnya gaya hidup hedonis dan kecenderungan impulse buying terhadap produk pakaian imitasi pada pria homoseksual di Malang Raya dapat diketahui dari

Sedangkan pada mahasiswi dengan body image negatif adalah mahasiswi yang merasa tidak puas terhadap tubuhnya, menilai citra tubuhnya tidak ideal atau bentuk tubuh dan berat

Setelah perasaan negatif muncul, orang yang mengalami body dissatisfaction memiliki keyakinan bahwa tubuhnya tidak sesuai dengan yang diinginkannya dan men- ganggap bahwa

Pendekatan pengalaman berbahasa (PPB) menganut pandangan bahwa belajar membaca merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses perkembangan bahasa siswa. Oleh karenanya belajar