• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aek Mengalir Dari Bukit Poring Ka Hitok

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Aek Mengalir Dari Bukit Poring Ka Hitok"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

` Aek Mengalir Dari Bukit Poring Ka Hitok Sampek Ka Hilek : Sebuah Studi Ekologi Pasca Bencana Masyarakat Nek Lalau di Hulu Sungai

Embuan, Kecamatan Meliau, Sanggau, Kalimantan Barat

(Aloysius G. Dimas Bintarta R.)1

Abstrak

Masyarakat, lingkungan dan bencana merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Adaptasi sebagai jalan utama untuk bertahan hidup tidak selamanya bertumpu pada kemampuan individual manusia. Mereka memerlukan faktor-faktor lain dalam membentuk adaptasi yang sempurna. Peran lingkungan sendiri menjadi penting dalam hal ini. Populasi manusia yang hidup dalam sebuah wilayah ekosistem juga berpengaruh terhadap kondisi alam lingkungan tersebut. Warga Nek Lalau yang sejak lama hidup sebagai orang Pelaman mengalami masa-masa adaptasi dan hidup tanpa struktur dalam komunitas bebas.

Melalui kebebasan berinteraksi dengan alam masyarakat telah peka terhadap bencana. Tetapi dalam pemulihan bencana masyarakat masih belum dapat melakukannya sendiri. Perlunya akses kehidupan yang layak merupakan kebutuhan utama dalam pemulihan itu. Efek bencana yang tidak hanya menyerang fisik dan materi tetapi juga psikologis masyarakat membuat keberadaaan akses jalan, listrik dan sarana lain menjadi dibutuhkan untuk daerah rawan bencana seperti Nek Lalau yang letaknya terpencil.

Maka dari itu melalui pemenuhan pemberdayaan masyarakat lokal terdapat prasyarat yang harus dipenuhi yaitu ruang hidup yang memadai, pengelompokan sosial, keikutsertaan dalam jaringan sosial, alokasi waktu yang mencukupi, penguasaan informasi, peralatan produksi, keterampilan dan ang terpenting adalah akses terhadap sumber finansial. Semua hal itu harus dipenuhi untuk membentuk Nek Lalau menjadi dusun mandiri yang benar-benar mampu berdiri sendiri tanpa diskriminasi atau peminggiran secara struktural.

Kata kunci: Masyarakat, lingkungan,bencana

(2)

I. Latar Belakang

Letak dusun Nek Lalau atau Lalau Agung yang berada pada wilayah

utama sumber air Sungai Embuan menjadikan dusun ini perlu diperhatikan

lingkungannya. Hal itu juga terkait dengan keberadaan Nek Lalau sebagai dusun

pemekaran baru yang akan menjadikan wilayah ini sebagai wilayah dengan

kekuasaan otonom dalam pertumbuhan, distribusi dan komposisi penduduknya2

.

Bukit Poring yang menyimpan cadangan air untuk Sungai Embuan merupakan

ikon dusun ini. Tanggung jawab moral bagi masyarakat Nek Lalau yang notabene

adalah masyarakat hulu sungai untuk menjaga lingkungan menjadi suatu

kewajiban yang sudah pasti berpengaruh terhadap dusun-dusun yang dialiri

Sungai Embuan.

Kejadian tanah longsor tahun 2011 di Bukit Poring telah banyak merubah

kondisi hulu sungai Embuan.Bencana alam yang waktu itu dikatakan sebagai

bencana terbesar di Kabupaten Sanggau menyebabkan pendangkalan sungai yang

cukup parah di bagian hulu. Selain itu banyak pohon tumbang yang kemudian

melintang pada aliran hulu sehingga menyebabkan penghambatan aliran air

menuju dusun Nek Lalau. Saya sendiri mengamati dampak ini melalui perjalanan

susur sungai di hari minggu pertama Saya di sana. Berawal dari Suak Ng’Kawang

yang merupakan titik riam (air terjun) yang terdampak bencana longsor tersebut.

Melalui perjalanan susur sungai tersebut Saya temui pohon tumbang

yang menghambat aliran sungai bahkan membuat alirannya hanya berpusat pada

salah satu sisi sungai saja, padahal di hulu lebar sungai atau riam kira-kira 6 meter

lebih. Namun, yang teraliri air hanya sekitar 1 sampai 2 meter di sisi kiri atau

(3)

kanan sungai. Pepohonan tumbang ini memiliki interval kurang lebih 5-7 meter

mulai dari bawah riam hingga rimba yang terdekat dengan pemukiman warga.

Sedangkan kondisi lain yang berubah akibat longsor adalah mengendapnya pasir

pada dasar sungai bahkan pengendapan maksimal terjadi di pemukiman warga

karena relaitf datar. Semakin ke hilir pengendapan semakin berkurang. Kondisi air

sungai sendiri terlihat jernih namun akan menjadi keruh beberapa saat ketika

hujan deras. Hal ini dipengaruhi kontur tanah Nek Lalau yang menurun ke arah

sungai sehingga ketika hujan tiba semua kotoran3

dari arah atas turun semua ke

sungai.

Melihat kondisi ini Saya memiliki beberapa pertanyaan yang terkait

dengan kondisi Nek Lalau sebagai dusun paling yang paling dekat dengan lokasi

sumber air. Selain itu karena masyarakat Nek Lalau tinggal di kampung yang

pertama dialiri sungai Embuan maka mereka memiliki kewajiban moral untuk

menjaga sungai demi kesehatan sungai bagi masyarakat yang berada di

dusun-dusun di bawahnya. Kondisi ini yang menarik untuk Saya teliti lebih lanjut,

bagaimana suatu dusun dengan jumlah kepala keluarga sangat sedikit dibanding

dusun-dusun lain di Desa Kunyil dapat hidup berdampingan dengan sungai dan

dekat dengan bencana.

Dalam tulisan ini Saya harap dapat menjelaskan bagaimana

kehidupan mereka dan interaksi mereka dengan alam melalui kegiatan pertanian,

perdagangan, maupun pendidikan . Hal itu juga akan mempengaruhi beberapa

bagian lain dari kehidupan masyarakat Nek Lalau baik pendidikan, ekonomi

maupun religi. Melalui latar belakang itulah Saya terinspirasi untuk mengamati

kehidupan masyarakat Nek Lalau ini.

II. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

(4)

Nek Lalau atau Dusun Lalau Agung merupakan dusun pemekaran baru

dari Desa Kunyil yang baru resmi menjadi dusun sejak tahun 2011. Letaknya

berada diluar garis jalan poros Desa Kunyil sehingga tidak dilalui aliran listrik.

Jarak Nek Lalau dari pusat desa sendiri sekitar 11 kilometer dengan 3 bukit dan 3

sungai serta bentangan luas kebun sawit yang menjadi jembatan antara Kunyil

dengan Nek Lalau. Nek Lalau sendiri awalnya merupakan pelaman4

yang dihuni

oleh beberapa orang dari dusun Embuan Tua. Konon Embuan Tua adalah dusun

yang tertua di Embuan.

Nek Lalau, dinamakan demikian dengan pengartian Nek berarti nenek atau yang dituakan atau tua, sedangkan Lalau adalah jenis pohon raksasa yang terdapat di rimba sekitar Bukit Poring. Menurut Pak Doyok5

kepala dusun Lalau

Agung dahulu di pelaman ini terdapat banyak pohon Lalau raksasa yang konon tingginya bisa mencapai puluhan meter dengan diameter mencapai lima peluk

tangan laki-laki dewasa. Pohon Lalau ini menjadi kegenda karena proses

penebangannya6

dibutuhkan royokng7

atau kerja seluruh kampung. Laki-laki

melakukan kegiatan penebangan sedangkan para perempuan menyiapkan

makanan untuk para laki-laki. Kegiatan ini juga harus diawali dengan upacara

4 Pelaman merupakan sebutan kampung pedalaman yang dibuka oleh beberapa orang untuk menjaga kebun dengan rumah-rumah semi permanen.

5 Nama asli beliau adalah Rudi Hartono, dalam panggilan kekerabatan sub suku bangsa Dayak Desa panggilan untuk seorang ayah disesuaikan dengan nama anak pertamanya.Rudi Hartono dipanggil Pak Doyok berarti “Bapak dari Doyok”, jadi anak pertama Rudi Hartono adalah Doyok.

6 Teknik penebangan Pohon Lalau ada dua cara yaitu Julai dan Mengkarak. Julai dilakukan dengan menggunakan tangga yang sesuai tingginya dengan ketinggian pohon lalu pohon ditebang perlahan, teknik ini digunakan untuk pohon Lalau yang relatif lebih muda atau kecil. Mengkarak sendiri dilakukan dengan cara membuat semacam tatanan kayu disekitar pohon Lalau yang hendak ditebang untuk tempat duduk para penebang, hal ini dikarenakan besar pohon dan diameternya yang lebih besar. Teknik ini dipakai untuk pohon Lalau yang sudah tua dan besar, konon diperlukan lilin untuk menerangi bagian dalam phon ketika batangnya sudah terpotong setengah, hal ini dikarenakan cahaya di dalam batang sangat minim.

(5)

potong babi sebagai korban dan memohon keselamatan saat dilakukannya

penebangan.

Penebangan pohon Lalau saat itu dilakukan untuk kepentingan

masyarakat umum dikarenakan dari satu pohon Lalau dapat menghasilkan banyak

balok kayu. Penebangan dilakukan berkelompok dengan pembagian kerja yang

efisien. Saat ini mayoritas penduduk Nek Lalau adalah petani ladang dan beberapa

orang menjadikan penghasilannya dalam berladang untuk membuka toko, saat ini

tercatat ada dua buah toko di Nek Lalau. Letak geografis Nek Lalau yang berada

diantara kebun sawit luas dan hutan rimba serta dikelilingi oleh beberapa bukit

membuat pertanian sistem ladang menjadi pilihan dalam bercocok tanam.

Ada dua sungai yang mengalir di dalam dusun Nek Lalau ini yaitu

Sungai Embuan dan Sungai Embuan Atap, sedangkan beberapa sungai yang

mengelilingi dusun ini antara lain Sungai Senangkau, Sungai Ng’kawang (riam),

Sungai Buluh, Sungai Kembawang, Sungai Bobotang, dan Sungai Pemande

Modai/ Batu Bapalong (riam), serta Nek Geyong (riam). Kebun sawit yang

mengelilingi Nek Lalau pada umumnya adalah milik PT BHD, sedangkan agak

jauh ke arah Senangkau terdapat hutan luas yang baru dibuka oleh PT SJAL. Sisi

timur Nek Lalau dibatasi Bukit Poring dan sebelah baratnya adalah hutan berbukit

yang konon akan tembus ke jalan poros Kunyil-Nek Ayoh (Balai Tanjung).

Kondisi jalan di Nek Lalau adalah tanah kuning kemerah-merahan

dengan kontur tidak beraturan. Mudah terjadi erosi saat hujan datang sehingga

kondisi jalan bisa dikatakan tidak bersahabat dengan kendaraan. Hal itu yang

menyebabkan pihak KUD Pang Linggan sebagai pihak yang mengangkut hasil

panen sawit hanya masuk Nek Lalau sebulan dua kali saja. Tempat ibadah sendiri

di Nek Lalau ada dua buah gereja, satu milik Protestan dan satu lagi milik Katolik.

Sarana pendidikan ada sebuah sekolah di ujung selatan dusun berjenis sekolah

kelas jauh dari Sekolah Dasar Negeri 04 Kunyil. Sekolah ini terdiri dari 4 ruang, 1

ruang untuk tempat tinggal seorang guru dan kelluarganya, dan 3 ruang untuk

(6)

Kampung ini dibelah oleh jalan kampung tapi mayoritas rumah berdiri di

sebelah timur jalan atau mendekati hulu, sedangkan hanya ada sekitar 9 rumah

dan satu tidak berpenghuni di sisi barat jalan, termasuk rumah kepala dusun. Pada

umumnya rumah-rumah di Nek Lalau terbuat dari papan kayu, namun beberapa

rumah seperti dua toko dan rumah kepala dusun terbuat dari tembok dan sudah

berlantai porselin. Kebanyakan rumah lain masih berbentuk panggung dengan

ruang di bawahnya untuk kandang ternak. Sedangkan rumah dengan kamar mandi

hampir tidak ada, hanya ada toilet khusus untuk buang hajat yang dibuat

dibeberapa rumah bertembok tadi. Namun toilet tersebut juga tidak sepenuhnya

dipakai, biasanya hanya dipakai kalau larut malam saja, selebihnya mereka

menggunakan sungai sebagai toilet umum.

Ada beberapa titik untuk mandi masyarakat Nek Lalau baik di Sungai

Embuan maupun Sungai Embuan Atap. Di Sungai Embuan ada dua titik utama

untuk mandi dan satu titik utama untuk buang hajat. Titik utama untuk mandi

berada di ujung timur atau hulu sungai yang berbatasan langsung dengan hutan,

sedangkan satu lagi berada di dekat jembatan kampung. Titik untuk buang hajat

sendiri terletak di ujung barat atau hilir sungai. Sarana umum lain adalah makam

atau yang disebut masyarakat setempat sebagai pasar, tempat ini terletak agak jauh di hilir.

Letak Nek Lalau yang berada pada cekungan dengan letak sungai tepat di

tengah cekungan membuat masyarakat tidak begitu khawatir dengan banjir.

Namun untuk rumah yang tepat berada di tepian sungai banjir adalah tamu yang

siap datang tiba-tiba. Letak gereja berada di sisi utara tanjakan tinggi arah keluar

dusun menuju Kunyil sedangkan sekolah dasar berada di tanjakan sebelah selatan

dusun yang mengarah ke Senangkau dan Bobotang. Hal itu menyebabkan air

hujan akan mengalir menuju sungai secara langsung dan tidak menggenang di

pemukiman warga. Bahkan ketika hujan sangat deras jalan dusun yang memisah

(7)

Jika dibandingkan dengan dusun-dusun disekitarnya seperti Kunyil dan

Nek Ayoh maka keberadaan Nek Lalau bisa dibilang tertinggal. Hal ini

dipengaruhi oleh akses jalan sebagai faktor utama perkembangan suatu wilayah.

Letaknya yang melintang ke timur dari jalan poros membuat Nek Lalau sedikit

terasing dari lalu lintas utama desa. Kondisi jalan yang rusak parah dengan

jembatan di beberapa titik sungai hanya berupa balok-balok kayu yang ditata

membuat kendaraan tidak bisa terlalu sering menuju Nek Lalau khususnya truk

dan roda empat. Jumlah kepala keluarga yang hanya berkisar 40-an saja juga

membuat dusun ini terlihat kurang diperhitungkan. Hanya ada tiga kelas untuk

sekolah dengan satu guru juga merupakan gambaran betapa terpinggirnya dusun

ini. Namun, faktor ini juga tidak lepas dari awal mula keberadaan Nek Lalau

hanya sebagai pelaman.

Kondisi tata dusun dan keseharian masyarakat di Nek Lalau juga berbeda

dengan dusun-dusun lain. Di Nek Lalau para lelaki berpakaian hanya dengan

memakai celana di siang hari dengan alasan cuaca yang terik. Hal ini akhirnya

juga menjadi kebiasaan bagi Saya sendiri. Bahkan ketika berjalan menuju Kunyil

terlihat bagaimana warga sekitar melihat kami yang tidak berbaju dengan tatapan

aneh. Bahasa sehari-hari yang dipakai di Nek Lalau adalah bahasa Desa8

sama

seperti yang digunakan di Kunyil, Embuan Tua, Nek Ayoh, Tabodak, Nek Sawak

dan beberapa dusun lain yang masih dekat wilayah Desa Kunyil.

Sub suku Dayak yang berada di sekitar Kunyil sendiri antara lain

Kancing Ketior dan Kualan. Sedangkan di Nek Lalau selain orang Dayak Desa

juga ada seorang Madura, Sambas, dan beberapa orang Kualan, Ta’ba dan orang

Chin9

. Pernikahan di Nek Lalau selalu melibatkan orang luar dusun atau bahkan

luar desa karena pada dasarnya mereka semua di Nek Lalau adalah saudara

sedarah. Langkah itu diambil untuk menghindari inses sehingga bentuk

8 Bahasa daerah untuk sub suku Dayak Desa, bahasa antar sub suku Dayak hampir berbeda sama sekali, teritorial per sub suku biasanya dibatasi oleh batas-batas desa.

(8)

perkawinan di Nek Lalau adalah eksogami10

. Perkawinan eksogami ini juga

dilakukan lintas agama. Nek Lalau sendiri mayoritas agama masyarakat adalah

Katolik setelah itu Protestan lalu Muslim yang hanya bebeberapa orang saja.

Namun pada umumnya wanita mengikuti agama suaminya.

“Ya kalau aku ni Bang, kutanya calon istriku yatn sidak mau kah tidak kawin dengan aku dan ikut agamaku. Mamakku Protestan Bang, aku ndirik yang pilih Katolik, jadi istri aku yatn masuk Katolik Bang”

(Wawancara dengan Bang Aban,27 tahun, di rimba saat berburu buah, 30

Juni 2014 )

(“ Kalau Saya ini Bang, Saya tanya calon istri Saya dia mau atau tidak

menikah denganku dan ikut agamaku. Ibu Saya Protestan tapi Saya

memilih masuk Katolik, jadi istri Saya itu masuk Katolik”)

Tidak hanya Bang Aban yang menikah beda agama, banyak pasangan

yang lebih tua dan menikah beda agama. Bahkan Pak Deni menikah dengan ibu

Deni yang merupakan seorang muslim dari Madura. Mereka memiliki tiga orang

anak dengan Deni sebagai anak sulung. Ibu Deni mengaku pada Saya kalau dia

masih menunaikan shalat meski jarang, selain itu dia juga mengajari putri

ungsunya untuk shalat dan sedikit mengaji. Dia juga berusaha menjaga diri untuk

tidak sering memakan daging babi. Namun karena kondisi masyarakat di

sekitarnya dan anak-anaknya akhirnya dia juga mengikuti pola konsumsi

disekitarnya,

Dua orang lagi yang beragama muslim adalah seorang pria Lawai yang

kawin dengan perempuan Nek Lalau dan Mamak Pino. Mamak Pino sendiri

merupakan adik Pak Lala, seorang pemimpin umat Katolik di Nek Lalau. Namun

karena menikah dengan orang Chin muslim maka dia masuk Muslim. Dari semua

warga Muslim menurut pengamatan Saya keluarga Mama Pino ini yang paling

menjaga ajaran Muslim. Pino adalah anak yang paling jarang Saya lihat bermain

(9)

di kampung, dan dia selalu terlihat bersih jika dibandingkan teman-temannya.

Mama Pino selalu menjaga anaknya agar tidak terlalu dekat bermain dengan babi.

Pada saat Saya tinggal di sana bertepatan dengan bulan puasa dan Mama Pino

beberapa kali Saya tanya dia juga menunaikannya meski tidak penuh.

Perbedaan agama ini tidak menimbulkan konflik serius antar masyarakat

Nek Lalau. Hal itu juga terlihat saat hari Minggu dua tempat ibadah di ujung

utara Nek Lalau itu juga tidak penuh. Banyak warga yang memilih pergi ke ladang

atau belanja ke pasar desa daripada beribadah. Hanya anak-anak saja yang sering

terlihat di gereja. Permasalahan yang agak serius hanyalah masalah pandangan

warga muslim atau yang mereka sebut sebagai Melayu dalam memandang

orang-orang Dayak yang makan babi.

“Kalau orang Lawai yatn Bang jijik lihat orang Dayak macam kamek tog, gara-gara makan babi ja. Padahal kitu sudah menjauh, mana pernah kamek ajak mereka” (Wawancara dengan Pak Doyok (Kepala Dusun) dan Pak Lala (pemimpin umat Katolik, tanggal29 Juni 2014)

(Kalau orang Lawai (Melayu/Muslim) itu Bang jijik lihat orang Dayak

seperti kami ini gara-gara makan babi. Padahal kita sudah menjauh, mana

pernah kami ajak mereka)

Kegiatan lain dari masyarakat Nek Lalau selain berkebun sawit dan

berladang adalah berburu hewan di rimba dan mencari buah saat musim buah.

Masyarakat Nek Lalau berburu dengan memadukan teknik tradisional dan

perlengkapan yang cukup modern. Teknik pembagian tugas untuk berburu hewan

besar seperti babi hutan, landak, dan trenggiling membutuhkan sekitar tiga orang.

Untuk membuat perangkap dan menembak hewan buruan baik memeakai senapan

lantak maupun senapan angin. Berbeda dengan kegiatan berburu hewan-hewan

(10)

Beberapa orang yang rutin berburu biasanya telah membuat peralatannya

sendiri secara sederhana. Seperti merakit lampu senter yang dapat tahan air

digunakan untuk nyolapm. Selain itu juga terdapat kaca yang terbuat dari tutup toples yang diberi lobang tengahnya lalu diberi kaca atau plastik bening untuk

menjadi kacamata saat nyolapm. Hampir seluruh masyarakat Nek Lalau bisa berenang dan menyelam serta terbiasa dengan hutan dan sungai. Bahkan mandi

lebih dari dua kali sehari sudah menjadi hal biasa bagi masyarakat Nek Lalau.

Kehidupan di Nek Lalau dimulai sekitar pukul sempat atau setengah lima pagi.

Para penoreh gotah (karet) bersiap untuk pergi ke rimba untuk mengambil gotah

karena getah karet akan mengalir ke penampungan dengan sempurna saat

matahari belum terbit. Setelah itu dengan bantuan cuka sintas mereka mengencarkan getah karet untuk kemudian ditampung dalam bak kayu berbentuk

balok yang biasanya diletakkan di dekat dengau.

Sistem pertanian masyarakat Nek Lalau sendiri memakai sistem ladang

(dry field). Untuk membuka lahan mereka terlebih dahulu menebangi bagian hutan yang akan dipakai ladang lalu diberi batas tertentu untuk kemudian dibakar.

Membakar lahan ini dapat dilakukan seorang diri atau kelompok11

. Pada mulanya

pembuka lahan akan menebang pohon-pohon yang ada di area yang hendak

dibuka untuk ladang12

, setelah itu pohon-pohon dan semak yang telah dibabat

dibiarkan kering sekitar tiga bulan sampai setahun (saat musim hujan). Setelah

dipastikan kering maka dilakukanlah pembakaran lahan, pembatasan lahan yang

akan dibakar dan hutan dilakukan dengan memasang pagar kayu yang relatif

basah sehingga tidak mudah tersulut api. Dalam memulai penyulutan api hanya

dilakukan pada semak-semak kering, daun dan ranting-ranting saja, lalu api

dibiarkan menjalar dengan sendirinya.

11 Upah untuk buruh ladang dalam membuka lahan atau pembakaran lahan ini berkisar rata-rata dua puluh ribu rupiah per orang.

(11)

Tanaman ladang masyarakat Dayak Desa13

di Nek Lalau saat Saya tinggal

di sana adalah padi ladang dan umbi-umbian. Jenis padi yang ditanam dan

dipanen saat Saya di sana adalah padi Ambor dan padi Munggu. Padi Ambor

merupakan padi yang ditanam pada tanah rawa dengan kadar air tinggi, cenderung

lebih berisi dan kecoklatan. Padi Munggu (Ds:Munggok) merupakan padi yang ditanam di tanjakan atau bukit-bukit dengan mengandalkan tadah hujan sebagai

sumber airnya, warnanya cenderung lebih cerah dan kurang berisi. Sekali panen

untuk padi ladang ini hanya sekitar 500 kuintal. Dengan jumlah demikian maka

sudah dipastikan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan satu keluarga dalam

setahun14

.

Komposisi penduduk Nek Lalau terdiri dari 49 kepala keluarga dengan

total jumlah penduduk 175 jiwa. Penduduk beragama Islam 7 jiwa, Katolik 111

jiwa, dan Protestan 57 jiwa. Hanya ada dua rumah ibadah di Nek Lalau, yaitu

gereja Katolik Xaverius dan gereja protestan. Seorang pendeta dari Kunyil yang

tinggal tidak menetap menjadi pemimpin agama Protestan di Nek Lalau.

Sedangkan untuk peribadatan umat Katolik dilayani oleh seorang pastor dari

Meliau yang datang sekitar tiga minggu sampai sebulan sekali, sehingga seorang

pemimpin umat dipilih untuk memimpin ibadah mingguan sederhana, pemimpin

13 Dayak Desa atau Deva merupakan bagian dari sub suku Dayak Klemantan atau Dayak Darat. Mereka berdekatan dengan Dayak Taba, Kancing, Kuwalan, dan Ketiyur (Lontaan, 1975:56). Namun jika diruntut dari sejarah asal Kecamatan Meliau yang dahulu merupakan kerajaan Meliau masyarakat di wilayah ini masih keturunan orang Jawa (Lontaan, 1975:167), hal ini diperkuat dengan tanggapan keras dari masyarakat Nek Ayoh yang menegaskan bahwa mereka bukan orang Dayak tetapi Orang Desa, dan mereka bukan sub suku Dayak tetapi berdiri sendiri karena mereka berasal dari nenek moyang berbeda (pengikut Putera Brawijaya). Hal itu disampaikan oleh ibu kepala dusun Nek Ayoh (Balai Tanjung) saat perpisahan dengan kami, meski di Nek Lalau tidak ada pendapat semacam ini tetapi Saya berasumsi bahwa hal ini tetap berhubungan.

(12)

umat Katolik di Nek Lalau adalah Pak Lala, seorang musisi kampung yang lahir

di Kunyil dan menetap di Nek Lalau. Mayoritas penduduk bertani ladang dan

buruh kebun sawit. Mayoritas masyarakat berpendidikan sekolah dasar atau tidak

tamat, bahkan bapak kepala dusun sendiri berhenti sekolah sejak kelas satu

sekolah dasar. Hanya ada satu bangunan sekolah dengan tiga kelas yang semula

merupakan swadaya masyarakat untuk memudahkan anak-anak mereka menuntut

ilmu, sekolah dimulai pukul 12.00 WIB dan berakhir pukul 15.00 WIB. Itulah

gambaran umum lokasi penelitian Saya di Dusun Nek Lalau, Desa Kunyil,

Kecamatan Meliau , Kabupaten Sanggau.

III. Isi

“Manusia adalah makhluk, dan seperti makhluk lainnya, harus menjaga hubungan adaptasi dengan ekosistem mereka agar bisa bertahan hidup . Walaupun mereka mencapai adaptasi ini pada prinsipnya melalui medium budaya, prosesnya sangat bergantung pada hukum-hukum yang sama dari seleksi alam yang mengatur adaptasi biologis” (Meggers, 1971:4 ; dalam Keesing, 1999:146)

Adaptasi merupakan suatu hal penting yang menjadi tumpuan dasar

manusia untuk bisa bertahan hidup pada suatu tempat. Hal ini dipengaruhi juga

oleh budaya yang ada melingkupi tempat tersebut, budaya tidak berevolusi tapi

manusialah yang berevolusi karena manusia selalu mencari cara untuk bertahan

hidup (Vayda and Rappaport 1968:494). Oleh sebab itu budaya sebagai

gagasan-gagasan manusia hidup beriringan dengan hubungan manusia dengan

lingkungannya. Hubungan itu dipengaruhi oleh jumlah pertumbuhan, distribusi,

(13)

tanah dan udara; serta faktor teknologi, organisasi sosial dan faktor kultural

(Hunter, 2000; dalam Kutanegara, 2014:21).

Peran manusia dalam hubungannya dengan lingkungan tentu sudah

dijelaskan oleh Julian H. Steward dalam pengamatannya pada masyarakat Indian

Shoshone dan menemukan bahwa suatu kebudayaan memiliki cultural core atau inti kebudayaan. Inti kebudayaan ini menurutnya terdiri dari teknologi dan

organisasi kerja atau (dalam Steward, 1955:37) disebut subsistence activities and economic arrangements. Dalam kedua hal itu mencakup banyak hal seperti pola sosial, pilitik, dan religi. Beberapa hal itu yang mendasari Steward yang

berasumsi bahwa cultural core menentukan corak adaptasi kebudayaan terhadap lingkungannya. Melalui interaksi antara cultural core dengan lingkungan sekitarnya suatu kebudayaan melakukan sebuah perubahan atau evolusi.

Steward menuturkan,

"differs from the relativistic and neo-evolutionis conceptions of culture history, in that it introduces the local environment as the extra cultural factor in the fruitless assumption that culture comes from culture" (1955 : 36).

Berdasarkan pendapat Steward di atas dapat kita lihat peran lingkungan

dalam proses perkembangan manusia dan pertumbuhan budaya sangat

berpengaruh. Begitu pula pengaruh sungai dan hutan terhadap masyarakat Nek

Lalau yang masih melakukan kegiatan food gahering disamping food producing

dengan teknik bercocok tanam slash and burn. Pemberian waktu pemulihan lahan dalam rentang waktu tertentu terhadap tanah yang telah diambil zat haranya

merupakan tindakan sirkularitas antara budaya dan lingkungan yang dilakukan

oleh masyarakat Nek Lalau (Kaplan, 2002:112). Adaptasi semacam ini juga akan

membantu masayarakat Nek Lalau untuk melangsungkan reproduksi kehidupan

secara lancar.

Populasi manusia memiliki kedudukan setara dengan hal-hal lain yang

(14)

ekosistem (Vayda dan Rappaport dalam Kaplan, 2002:116). Hal itulah yang dapat

Saya asuumsikan mendasari terbentuknya Nek Lalau sebagai dusun. Dari yang

semulanya merupakan pelaman dengan beberapa dengau atau gubuk non-permanen kini menjadi dusun resmi dengan bangunan-bangunan non-permanen.

Berdasarkan gambaran Vayda dan Rappaport di atas maka dapat Saya simpulkan

bahwa penghuni pelaman Nek Lalau pada awal mula telah melakukan adaptasi secara efektif dengan ekosistem hutan dan sungai Embuan. Selain melakukan

reproduksi mereka juga menyebabkan distribusi penduduk dari luar Nek Lalau15

menuju Nek Lalau. Distribusi penduduk kemudian berlanjut melalui sistem

perkawinan eksogami.

Pada awalnya masyarakat pelaman berbentuk sebagai komunitas kecil yang tidak memiliki struktur (Winangun, 1990:49). Mereka tak terbedakan,

sama-sama sebagai manusia yang bertahan hidup melalui alam, baik hasil hutan maupun

sungai. Saat itu mereka hidup dengan berlimpah hasil alam meski terasing dari

masyarakat dengan struktur sosial yang jelas. Hal itu membuat masyarakat lain

tertarik untuk masuk ke pelaman Nek Lalau mengikuti keluarganya atau kerabat dekat. Saya berasumsi bahwa distribusi penduduk ini berawal dari keluarga karena

menyangkut pengakuan kepemilikan tanah nantinya.

Dalam memperlakukan hutan sendiri masyarakat juga memiliki caranya

sendiri. Mereka melakukan upacara Umpan Buah atau di Jawa hal itu seperti

Labuhan. Umpan Buah dilakukan sesudah musim buah. Musim buah sendiri adalah saat dimana semua pohon yang memiliki buah di rimba mulai berbuah dan

dapat dikonsumsi oleh masyarakat secara bebas. Tidak ada batasan kepemilikan

pokok buah di rimba. Hal itu menunjukan bahwa tidak ada struktur kepemilikan

lahan yang dapat membatasi manusia secara alami dalam memenuhi

kebutuhannya yang disediakan oleh lingkungan alamnya.

(15)

Melalui upacara Umpan Buah masyarakat menghaturkan rasa terima

kasih terhadap lingkungan alam yang telah memberi kehidupan setiap harinya.

Terima kasih tadi ditujukan kepada para ”penunggu” hutan yang telah menjaga

hutan untuk tetap berproduksi untuk masyarakat.Hal itulah yang membuat

kegiatan food gathering melalui berburu atau pun mengumpulkan hasil hutan tetap dilakukan oleh masyarakat Nek Lalau. Selain hal-hal positif dari lingkungan

yang selalu dinikmati masyarakat terdapat pula ancaman yang akan selalu datang

yaitu bencana alam. Bencana ini terkadang tidak pernah terbayangkan

sebelumnya, tidak pernah terpikirkan bagaimana manusia yang bergantung pada

alam tiba-tiba mendapati alamnya menghancurkan kehidupan mereka. Setidaknya

hal itu pandangan awal tentang bencana dalam sudut pandang masyarakat pada

umumnya.

Namun, masyarakat Nek Lalau memiliki mitos tersendiri yang secara

turun temurun disampaikan terkait bencana alam ini. Sejak lama masyarakat Nek

Lalau sudah tahu bahwa Bukit Poring (Pring) merupakan sumber air sungai

Embuan. Bukit curam itu tentunya rawan longsor, sehingga suatu saat bisa saja

terjadi bencana itu. Jika dahulu masyarakat pelaman hidup di rimba dengan membuat dengau dan memiliki pola rumah berpencar maka bencana seperti itu tidak berakibat parah secara massal. Namun kondisi Nek lalau sekarang yang

rumah-rumahnya cenderung membelakangi sungai membuat kejadian bencana

berakibat lebih parah.

Muncul mitos dan cerita rakyat setempat mengenai Ular Sawak Betandok

dan Seekor Naga. Konon Naga tersebut adalah penjaga Bukit Poring dan hutan

rimba disekelilingnya. Dia memiliki lima kepala dalam satu tubuh. Menurut

masyarakat baik orang paruh baya dan anak-anak yang Saya tanya mengenai hal

ini bertutur bahwa Naga ini sepanjang hidupnya bertempur melawan Ular Sawak Betandok dalam mempertahankan ekosistem Bukit Poring. Ular tersebut merupakan gambaran dari iblis yang hendak menyengsarakan manusia yang

(16)

lalu terjadi tanah longsor dari Bukit Poring. Bencana itu disebut-sebut sebagai

bencana terbesar di kabupaten Sanggau saat itu.

“ Tanah longsor yatn Bang seperti gunung meletus ja. Duarrrr... suaranya jadi satu dengan suara guntur yatn. Hujan deras semalaman Bang. Warga sudah Bapak umumkan untuk mengungsi ke atas yatn, tapi tetap ja hewan ternak macam bebi, ayam dan harta benda hanyut lah ke aek”

(Wawancara dengan Pak Doyok, Kepala Dusun Nek Lalau (Lalau Agung),

5 Juli 2014)

Menurut cerita warga malam itu suasana mencekam. Hujan deras

semalaman dengan bunyi guntur yang menggelegar. Walaupun tidak ada korban

jiwa namun tetap saja kerugian harta benda yang menurut Pak Doyok berkisar

ratusan juta hanyut bersama lumpur. Beberapa rumah panggung yang pondasinya

berada tepat di tepi sungai ikut rubuh atau menjadi sarang lumpur yang

mengendap. Tentu saja permasalahan tidak hanya pada materi dan fisik tetapi

juga secara mental warga menjadi trauma. Trauma pertama adalah karena bencana

tanah longsor yang sedemikian rupa dan yang kedua adalah ketakutan yang dibuat

oleh cerita rakyat Bukit Poring. Asumsi-asumsi tentang rusaknya lingkungan

hutan di hulu sungai menjadi ketakutan warga karena khawatir tidak dapat

menggantungkan kehidupannya pada hasil hutan lagi.

Marvin Harris menanggapi hal semacam ini mengutarakan pendapat

yang menjadi tujuannya dalam mengembangkan materialisme budaya.

“... to strengthen the barriers against mystification and obscurantism in

contemporary social science” ( 1979:xii).

Memahami hal semacam ini secara ilmiah adalah tujuan dari materialisme budaya

dalam menengahi masalah sosial yang disangkutpautkan dengan mitos sebagai

(17)

“ Communication, including speech, serves a vital instrumental role in

coordinating infrastructural, structural, and superstructural activities”

(1979:54).

Hal itu menunjukan bahwa komunikasi melalui bahasa setempat merupakan pintu

utama dalam memahami masalah supranatural yang masuk dalam skema tripartit

struktural materialisme tersebut. Kedudukan cerita rakyat tentang Bukit Poring

sebagai kontrol perilaku agara masyarakat Nek Lalau tidak mengeksploitasi lahan

rimba secara berlebihan adalah hal supranatural yang dapat dijelaskan secara

lugas.

Selain itu pantangan-pantangan lain juga terdapat di Nek Lalau. Seperti

pantangan dilarang membakar ikan kolek atau lele serta mencampur ikan teri dengan telor juga merupakan pantangan dalam masyarakat. Konon ada

“penunggu” hutan dan sungai yang disebut Juaran , dia dapat menghirup aroma masakan apa saja yang terbuat dari bahan dasar yang didapat dari hutan atau

sungai. Juaran akan marah jika manusia mencampur dua atau lebih bahan makanan yang berasal dari dua habitat hidup berbeda, seperti telor dan ikan teri.

Hal yang sama juga berlaku untuk ikan kolek dengan alasan hewan yang hidup di air tidak boleh langsung dimasak dengan api tanpa perantara. Jadi, membakar ikan

lele di Nek Lalau atau sekitar sungai Embuan Hulu merupakan hal yang tabu.

Bahkan sudah ada beberapa orang meninggal karena melanggar pantangan ini

seperti almarhum Kek Budu (Pak Musa).

Selain pantangan itu, ada pula pantangan dilarang membakar terasi dan

membakar kayu Kembayau. Untuk masalah terasi alasannya hampir sama karena

terasi berasal dari udang dan udang habitatnya di air. Namun untuk kayu

Kembayau ini alasannya adalah karena dapat menyebabkan kerasukan roh jahat

jika membakar kayu Kembayau ini. Hal ini menurut Saya cukup logis sebagai

pantangan karena keberadaan pohon Kembayau sendiri sudah jarang ditemui,

(18)

Keberadaan sungai Embuan sebagai akses transportasi air sendiri sudah

berhenti sejak akhir tahun 90-an. Dahulu masyarakat Nek Lalau masih

menggunakan perahu kecil bermesin Dongson untuk menuju ke Kunyil. Tapi

kemudian akses itu beralih ke akses jalan darat. Pendangkalan sungai menurut

Saya menjadi salah satu alasan juga hal ini bisa terjadi. Apalagi setelah tanah

longsor endapan pasir menjadikan sungai bagian hulu hingga pemukiman warga

menjadi lebih dangkal daripada sebelumnya. Tumbangnya pepohonan besar ke

arah sungai juga membuat aliran sungai tidak lancar dan membuat beberapa

bagian sungai tidak teraliri air. Hal ini Saya amati ketika menyusuri sungai dari

Suak Ng’Kawang tempat longsor utama di lereng Bukit Poring yang berjarak

sekitar tiga kilometer dari kampung hingga sungai perbatasan rimba dengan

kampung dan kebun sawit.

“Daripada warga ini bersihkan sungai , lebih mau mereka bersihkan jalan tog Bang” (Wawancara dengan Pak Doyok, 5 Juli 2014)

Jawaban itulah yang Saya dapat ketika bertanya pada bapak kepala dusun

mengenai usaha masyarakat membersihkan sungai pasca longsor. Memang,

kondisi pohon tumbang yang memiliki jarak antar pohon tumbang sekitar 5-7

meter saja membuat warga menyerah. Jumlah pohon tumbang sendiri sampai

puluhan batang. Dengan ukuran beragam bahkan ada yang cukup besar dan dibuat

jembatan oleh warga untuk melintas sungai di dalam rimba. Hal ini yang membuat

perhatian Saya terhadap kehidupan warga Nek Lalau pasca bencana tanah longsor.

Kepedulian warga Nek Lalau terhadap lingkungan kini terhambat akses

dan sarana. Dengan populasi dan tata letak rumah yang lebih padat daripada awal

mula terbentuknya pelaman Nek Lalau sudah semestinya permaslahan kompleks yang bersifat struktural akan menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat Nek

Lalau yang kini sudah menjadi dusun yang berdiri sendiri. Kutanegara (2014:22)

menyebut hal semacam ini sebagai produk peminggiran secara struktural.

Dikarenakan letak Nek Lalau yang menyimpang cukup jauh dari jalan poros dan

(19)
(20)

IV. Kesimpulan dan Saran

Dalam pemberdayaan masyarakat lokal terdapat prasyarat yang harus

dipenuhi yaitu ruang hidup yang memadai, pengelompokan sosial, keikutsertaan

dalam jaringan sosial, alokasi waktu yang mencukupi, penguasaan informasi,

peralatan produksi, keterampilan dan ang terpenting adalah akses terhadap sumber

finansial (Friedman, 1992; dalam Kutanegara, 2014:22). Masyarakat Nek Lalau

yang merupakan masyarakat terdampak dan terbayang-bayangi bencana tidak bisa

terus hidup dalam kehidupan terasing dari akses terhadap sumber finansial (dalam

hal ini jalan raya. Melalui jalan raya yang baik tentunya akses informasi juga

lancar. Hal itu juga akan memulai pembangunan aliran llistrik ke Nek Lalau yang

sampai saat ini belum teraliri listrik.

Selain itu peran pemerintah untuk membantu masyarakat dalam

normalisasi sungai juga menjadi hal penting. Melalui normalisasi itu diharapkan

berimbas pada dusun-dusun di bawah Nek Lalau yang berada lebih di hilir.

Kelancaran aliran air membuat kotoran tidak mengendap terlalu lama. Pasir-pasir

yang mengendap di dasar sungai juga perlu dikeruk untuk kemudian

mengembalikan kedalaman sungai seperti semula. Mengembalikan habitat

ikan-ikan yang lebih besar untuk hidup di sungai Embuan Hulu. Akses jalan tadi juga

akan membantu perkembangan pendidikan di Nek Lalau yang sekarang dapat

dibilang sangat memprihatinkan.

Melalui pembentukan askses yang cukup baik maka ketakutan warga

Nek Lalau terhadap bencana dan keterasingan menjadi berkurang. Pendidikan,

listrik dan air bersih juga perlu diperjuangkan. Memudahkan pula pengangkutan

hasil panen baik sawit, karet maupun panen ladang. Pihak KUD Pang Linggan

yang biasanya hanya masuk Nek Lalau dua kali sebulan dapat lebih efektif dan

(21)

jalan cepat. Penghasilan warga juga terbantu, serta akses menuju puskesmas yang

berada di pusat desa juga semakin mudah. Setidaknya hal itulah yang diperlukan

warga Nek Lalau dalam menekan resiko keterasingan dan ketakutan akan bencana

selanjutnya.

V. Daftar Pustaka

Anonim. 2013. Data Penduduk Dusun Lalau Agung Desa Kunyil Kecamatan Meliau Kabupaten Sanggau. Pemerintah Dusun Lalau Agung

Brewer, Anthony. 1999. Kajian Kritis Das Kapital Marx. Jakarta:Teplok Press Darmawan, Eko.P. 2005. Agama Itu Bukan Candu: Tesis-tesis Feurbach, Marx

dan Tan Malaka. Yogyakarta:Resist Book

Hall, Derek. 2012. Rethinking Primitive Accumulation: Theoretical Tensions and Rural Southeast Asian Complexities. Antipode Vol. 44 No. 4 2012 ISSN 0066-4812, pp 1188–1208

James, Scott. 1993. Perlawanan Kaum Tani. Jakarta:Yayasan Obor

Malaka, Tan. 1974. Madilog:Materialisme, Dialektika, Logika. Jakarta:LPPM Tan Malaka

Scheltema, A.M.P.A. 1985.Bagi Hasil di Hindia Belanda. Jakarta:Yayasan Obor Geertz, Clifford. 1992. Tafsir Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius

Geertz, Clifford.2000. Negara Teater. Yogyakarta:Bentang Budaya

Harris, Marvin. 1968. The Rise of Anthropological Theory:A History of Theory of Culture. New York:Harper & Row (e-book)

(22)

Kaplan, David. 2002. Teori Budaya. Yogyakarta:Pustaka Pelajar

Keesing, R.M. dan Gunawan, S. 1999. Antropologi Budaya:Suatu Perspektif Kontemporer. Jakarta:Erlangga

Koentjaraningrat. 1998. Pengantar Antropologi II:Pokok-pokok Etnografi. Jakarta:Rineka Cipta

Kutanegara, Pande Made. 2014. Manusia, Lingkungan, dan Sungai: Traansformasi Sosial Kehidupan Masyarakat Sempadan Sungai Code. Yogyakarta:Ombak

Lontaan, J.U. 1975. Sejarah Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat.

Pemerintah Daerah Tingkat I Kalimantan Barat

Steward, Julian H. 1955. Theory of Culture Change: The Methodology of Multilinear Evolution. Illinois: University of Illinois Press

Winangun, Y.W. Wartaya. 1990. Masyarakat Bebas Struktur:Liminalitas dan Komunitas Menurut Victor Turner. Yogyakarta:Kanisius

VI. Daftar Laman

Anonim.2010. http:// issuu.com/ptkpost/docs/01102010/32 (diunduh tanggal 27 Januari 2015 pukul 23.32 WIB)

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian Senovita (2008), jumlah NaOH yang dibutuhkan untuk proses peleburan akan selalu lebih banyak dari jumlah monasit karena setiap fosfat

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan: (1) penerapan metode Struktural teknik Kancing Gemerincing dapat meningkatkan keaktifan siswa pada mata pelajaran IPS bagi siswa

Mampu mengenal Jenis-jenis jembatan dan mengidentifikasi bagian-bagian struktur dari masing - Mampu mengenal Jenis-jenis jembatan dan mengidentifikasi bagian-bagian

Perencanaan perangkat lunak menggunakan Arduino UNO sebagai pusat kontrol dan sensor DHT11 sebagai pembaca suhu dan kelembaban pada ruangan dan modul wifi ESP8266

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Boyolali pembelajarannya telah mengacu pada kurikulum 2013, madrasah juga sudah menerapkan strategi

Sehingga pada tahun 2013 dan 2014 rasio kualitas laba yang dihasilkan oleh PT hanjaya mandala sampoerna mendekati 1 artinya pada tahun 2013 Rp 1 laba bersih

Bantuan yang akan diserahkan ke masyarakat berupa barang-barang yang dibutuhkan sesuai dengan tema kegiatan yang diusung oleh masing-masing pengabdi, pembelian dan

(2) Secara bersama-sama (simultan) variabel tradisi adat, kebiasaan kemasyarakatan, pergaulan di lingkungan sekolah dan di lingkungan rumah memiliki pengaruh signifikan