LAPORAN PRAKTIKUM
PEMULIAAN TANAMAN
ACARA II
KORELASI ANTARA DUA SIFAT
Semester: Genap 2017
Oleh : Listiana Novitasari
NIM A1D015180 Rombongan 8
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN PURWOKERTO
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Seleksi terhadap karakter yang memiliki keunggulan ekonomi tidak selalu
dapat dilakukan karena nilai heritabilitas yang dimilikinya rendah atau baru dapat
dilakukan saat panen sehingga memerlukan banyak biaya, waktu, dan tenaga
untuk pemeliharaannya. Seleksi dapat dilakukan dengan menggunakan karakter
lain selain karakter yang ingin diperbaiki. Syarat seleksi yaitu antar karakter yang
digunakan sebagai kriteria seleksi dengan karakter yang ingin diperbaiki
mempunyai nilai korelasi yang tinggi. Korelasi adalah suatu analisis untuk
mengukur derajat keeratan hubungan linear di antara kedua karakter atau lebih.
Korelasi antara dua karakter dapat berupa korelasi genotipe atau korelasi
fenotipe. Analisis korelasi sering ditujukan untuk karakter kuantitatif yang sulit
memberikan gambaran kemampuan genetik karena adanya pengaruh dari
lingkungan. Bila ada hubungan yang erat antara karakter penduga yang tidak
dituju dengan karakter yang diinginkan yang menjadi tujuan maka pekerjaan
seleksi dapat menjadi lebih efektif. Korelasi antar sifat merupakan fenomena
umum yang terjadi pada tanaman, tetapi analisis korelasi saja tidak cukup untuk
menggambarkan hubungan antarkarakter. Hal ini disebabkan antarkomponen hasil
saling berkorelasi dan pengaruh tidak langsung melalui komponen hasil dapat
lebih berperan dibanding pengaruh langsung.
Derajat hubungan antara dua sifat tanaman biasanya dinyatakan dengan
-1 sampai +1. Koefisien korelasi negatif bila nilai derajat hubungan antara dua
sifat menunjukkan hal yang berlawanan, artinya bertambahnya nilai sifat yang
satu diikuti oleh berkurangnya nilai sifat yang lain. Koefisien korelasi positif bila
nilai derajat hubungan antara dua sifat menunjukkan hal yang nyata, artinya
bertambahnya nilai sifat yang satu diikuti oleh bertambahnya nilai sifat yang lain,
begitu pula sebaliknya. Sedangkan apabila korelasi sama dengan 0 berarti tidak
ada hubungan sama sekali antara kedua sifat tersebut.
B. Tujuan
1. Mengetahui derajat hubungan antara dua sifat pada tanaman.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Korelasi diantara sifat-sifat dapat disebabkan oleh pengaruh lingkungan
ataupun pengaruh genetik. Suatu pengetahuan tentang besar dan tanda dari
koefesien korelasi genetik diantara sifat-sifat dapat digunakan sebagai kriteria
seleksi. Perkiraan ini berguna dalam menduga apakah seleksi untuk sifat tertentu
akan memberi pengaruh menguntungkan atau tidak pada sifat yang lain
(Miftahorrachman et al., 2000). Korelasi merupakan analisis sifat-sifat tanaman, tetapi pada umumnya korelasi tidak memperhatikan faktor sebab dan akibat.
Korelasi hanya memperhatikan faktor sifat tersebut mempunyai
perubahan-perubahan yang masing-masing dicari kerapatannya (Singh dan Chaudhary,
1979).
Analisis korelasi berkenaan dengan upaya mempelajari keeratan hubungan
antar variabel. Dengan demikian dalam analisis korelasi tidak diperlukan pembeda
antara variabel tergantung dan variabel bebas. Analisis korelasi dapat
dipergunakan untuk menentukan besarnya keeratan hubungan antara variabel
tergantung dengan variabel tergantung, variabel tergantung dengan variabel bebas,
dan variabel bebas dengan variabel bebas. Analisis korelasi sering ditujukan untuk
karakter kuantitatif yang sulit memberikan gambaran kemampuan genetik karena
adanya pengaruh dari lingkungan (Solimun, 2001).
Ditinjau dari sifat-sifat yang berhubungan, korelasi dapat dibedakan menjadi
A. Korelasi sederhana, yaitu bila satu sifat dipengaruhi oleh satu sifat yang lain,
misalnya panjang malai dengan banyaknya gabah per malai pada tanaman
padi.
B. Korelasi partial, yaitu bila dua sifat dipengaruhi oleh sifat-sifat yang lain, misalnya tingginya produksi dan tingginya sterilitas biji dipengaruhi oleh
bobot malai dan serangan penyakit.
C. Korelasi berganda, yaitu bila satu sifat dipengaruhi oleh banyak sifat yang
lain, misalnya daya hasil dipengaruhi oleh sifat banyak anakan, ketahanan
rebah, ketahanan terhadap hama penyakit, respon terhadap pemupukan dan
sebagainya.
Koefisien korelasi digolongkan menjadi dua macam yaitu koefisien korelasi
negatif dan koefisien korelasi positif. Koefisien korelasi negatif bila derajat
hubungan antara dua sifat menunjukkan hal yang berlawanan. Artinya
bertambahnya nilai sifat yang satu akan diikuti oleh berkurangnya nilai sifat yang
lain (Solimun, 2001). Koefisien korelatif positif bila derajat hubungan antara dua
sifat tanaman menunjukkan hal yang nyata, artinya bertambahnya nilai sifat satu
diikuti oleh bertambahnya nilai sifat yang lain. Sebaliknya, berkurangnya nilai
sifat yang satu akan diikuti oleh berkurangnya nilai sifat yang lain. Sedangkan
apabila koefisien korelasi = 0 berarti tidak ada hubungan sama sekali antara kedua
sifat tersebut. Khusus sifat-sifat kualitatif pada koefisien korelatif = 1 (Susanti et al., 2011).
Pada bidang pertanian pengetahuan mengenai korelasi antara sifat-sifat
seleksi simultan pada beberapa sifat (Musa, 1978). Korelasi merupakan analisis
untuk mengukur kerapatan hubungan yang terjadi antara sifat tanaman yang satu
dengan sifat yang lainnya. Misal terdapat rxy = 0.98, maka dapat dikatakan bahwa
antara sifat X dan Y terdapat hubungan yang erat positif, yaitu kenaikan nilai X
akan diikuti oleh kenaikan nilai Y hampir secara proporsional. Dengan demikian
dapat dikatakan bahwa koefisien korelasi dapat digunakan untuk menilai
perubahan suatu sifat/variabel berdasarkan perubahan variabel lain. Akan tetapi
dalam penelitian tersebut hanya dapat memberikan prakiraan (prediksi) yang
bersifat kualitatif (Warwick et al., 1990).
Somaatmadja (1985) menyatakan bahwa korelasi genotipik berguna untuk
mengetahui apakah dua sifat dapat diperbaiki bersama-sama atau tidak, dimana
sifat-sifat yang berkorelasi positif nyata dapat diperbaiki secara bersamaan.
Pengetahuan adanya korelasi antara sifat merupakan hal yang sangat penting
dalam program pemuliaan tanaman, karena untuk memilih suatu bahan tanaman
unggul diperlukan seleksi dua atau tiga sifat secara bersama-sama. Apabila
diketahui adanya korelasi yang erat antar sifat maka pemilihan sifat tertentu secara
tidak langsung telah memilih sifat lain yang diperlukan dalam usaha memperoleh
bahan tanaman unggul. Manfaat korelasi antar sifat selain untuk memprediksi
correlated respons, juga penting dalam penerapan seleksi tak langsung (indirect selection). Cara ini diterapkan apabila sifat primer atau sifat I sulit diukur dan dievaluasi. Sedang sifat II yang berkorelasi dengan I mudah diukur dan dievaluasi
atau sifat I heritabilitasnya rendah dan sifat II heritabilitasnya tinggi (Poerwoko,
III. METODE PRAKTIKUM
A. Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam praktikum yaitu koefisien korelasi antara dua
sifat tanaman. Alat yang digunakan adalah penggaris, timbangan, counter, dan tabel frekuensi.
B. Prosedur Kerja
1. Bahan-bahan dan sifat-sifat yang hendak dicari koefisien korelasinya diamati
dengan cara diukur, dihitung dan ditimbang.
2. Semua hasil pengamatan, pengukuran, penimbangan dan perhitungan ditulis
dengan baik pada tabel.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Tabel 1. Data Perhitungan Koefisien Korelasi X dan Y (X= bobot biji dan Y= jumlah biji)
1. 4,62 253 2,02 4,08 96,2 9254,44 194,324 2. 1,94 117 -0,66 0,43 -39,8 1584,04 26,268 3. 1,48 122 -1,12 1,25 -34,8 1211,04 38,976 4. 2,14 130 -0,46 0,21 -26,8 718,24 12,328 5. 2,86 162 0,26 0,06 5,2 27,04 273,248 ∑ 13,08 784 0,04 6,03 0 12794,8 273,248
Rata-rata 2,60 156,8 0,008 1,20 0 2558,96 54,65
Kesimpulan: t hitung > t tabel 9,8 > 3,18
Jadi, korelasi antara bobot biji dan jumlah biji adalah berbeda nyata.
Tabel 2. Data Perhitungan Koefisien Korelasi X dan Z (X= bobot biji dan Z= pajang malai)
17. Kesimpulan: t hitung > t tabel 18. 2,83 > 3,18
20.
21.
100. Kesimpulan: t hitung > t tabel 101. 2,83 > 3,18
102. Jadi, tidak ada korelasi antara bobot biji dan panjang malai.
103.
104.
105.
B. Pembahasan
106. Korelasi adalah studi yang membahas tentang derajat hubungan
antara dua variabel atau lebih. Besarnya tingkat keeratan hubungan antara dua
variabel atau lebih dapat diketahui dengan mencari besarnya angka korelasi yang
biasa disebut dengan koefisien korelasi (Telussa et al., 2013). Korelasi antara dua karakter dapat berupa korelasi genotipe atau berupa korelasi fenotipe. Analisis
korelasi sering ditujukan untuk karakter kuantitatif yang sulit memberikan
gambaran kemampuan genetik karena adanya pengaruh dari lingkungan yang
mengaburkan. Bila ada hubungan yang erat antara karakter penduga yang tidak
dituju dengan karakter yang diinginkan yang menjadi tujuan maka pekerjaan
seleksi dapat menjadi lebih efektif (Falconer dan Mackay, 1996).
107. Soemartono et al (1992) menyatakan bahwa ada beberapa jenis korelasi antar sifat tanaman, yaitu :
1. Korelasi genetik atau korelasi genotipe adalah korelasi antar sifat yang hanya
ditimbulkan oleh faktor genetik total
2. Korelasi genetik additif atau korelasi additif adalah korelasi antar sifat yang
3. Korelasi lingkungan adalah korelasi antara dua sifat pada suatu tanaman
karena adanya perubahan lingkungan. Misalnya korelasi lingkungan positif
bisa terjadi antara tinggi tanaman dan tinggi tongkol pada tanaman jagung,
karena perubahan lingkungan mikro yang memperbaiki tinggi tanaman juga
memperbaiki tinggi tongkol.
108. Korelasi berdasarkan sifat-sifat hubungannya dibedakan menjadi
tiga yaitu:
1. Korelasi sederhana
109.Korelasi yang digunakan untuk mengetahui keeratan hubungan
antara dua variabel dan untuk mengetahui arah hubungan yang terjadi.
Koefisien korelasi sederhana menunjukkan seberapa besar hubungan yang
terjadi antara dua variable. Korelasi sederhana melibatkan satu variabel
terikat (dependent) dan satu variabel bebas (independent). Misalnya panjang malai dengan banyaknya gabah per malai pada tanaman padi (Sugiarto,
1992).
2. Korelasi parsial
110. Analisis korelasi parsial merupakan suatu metode yang digunakan
untuk mengidentifikasi kuat lemahnya hubungan antar variabel bebas dan
variabel terikat, dimana variabel bebas lainnya dikontrol atau dianggap
berpengaruh. Korelasi parsial bukan hanya dapat menggunakan satu variabel
kontrol saja tapi bisa lebih dari satu variabel (Telussa et al., 2013). Korelasi parsial digunakan untuk mengetahui derajat hubungan antara suatu variabel
bebas lainnya dibuat tetap/konstan. Misalnya, tingginya produksi dan
tingginya sterilitas biji dipengaruhi oleh bobot malai dan serangan penyakit
(Sugiarto, 1992).
3. Korelasi berganda
111. Korelasi antara dua atau lebih variabel bebas secara bersama-sama
dengan suatu variabel terikat. Misalnya daya hasil dipengaruhi oleh sifat
banyak anakan, ketahanan rebah, ketahanan terhadap hama dan penyakit,
respon terhadap pemupukan dan sebagainya (Sugiarto, 1992).
112. Jenis korelasi yang paling bermanfaat bagi pemuliaan tanaman
adalah korelasi berganda, karena salah satu unsur tanaman yang paling diminati
petani adalah tanaman dengan hasil produksi tinggi. Kegiatan produksi dapat
memperoleh hasil yang maksimal dengan memperhatikan faktor atau variabel
yang mempengaruhi hasil produksi. Hal ini menjadi penting karena dengan
mengetahui hubungan dari setiap variabel dengan hasil produksi maka diharapkan
dapat meningkatkan serta memaksimalkan hasil produksi baik dari segi kualitas
maupun kuantitas. Korelasi berganda membantu pemulia tanaman dalam menduga
apakah seleksi untuk sifat tertentu akan memberi pengaruh menguntungkan atau
tidak pada sifat lain. Astari et al (2016) menyatakan bahwa hubungan antar suatu sifat dengan sifat lainnya pada tanaman mempunyai arti penting dalam program
pemuliaan tanaman. Informasi korelasi antar variabel hasil dengan hasil biji
(produksi) penting dalam penentuan seleksi. Apabila nilai koefisien korelasi
tinggi, maka seleksi akan lebih efektif karena sifat satu dengan sifat lainnya saling
113. Korelasi sangat penting dalam pemuliaan tanaman. Korelasi antar
sifat berfungsi untuk mengukur derajat hubungan antara sifat-sifat pada tanaman
dan bentuk hubungan yang ada diantara sifat-sifat tersebut. Koefisien korelasi
dapat digunakan untuk mengetahui tingkat kemiripan dalam variabilitas antara
tanaman induk dengan keturunannya, misal sifat daya hasil tinggi, jumlah anakan
dan sebagainya. Korelasi antar karakter tersebut dapat membantu mengetahui
hubungan antara dua sifat dalam melakukan seleksi. Analisis korelasi dari
sifat-sifat tersebut akan dapat diketahui tingkat kemiripan antara tetua dan
keturunannya.
114. Korelasi antar sifat berfungsi untuk mengukur derajat keeratan
hubungan antara sifat-sifat pada tanaman. Pendugaan sifat-sifat korelasi genotip
dan fenotip berguna dalam perencanaan dan evaluasi di dalam program-program
pemuliaan tanaman. Korelasi antar sifat penting dan yang kurang penting dapat
mengungkapkan bahwa beberapa dari sifat yang penting berguna sebagai
indikator bagi satu atau beberapa sifat lain yang kurang penting (Johnson et al., 2006).
115. Koefisien korelasi genetik di antara sifat-sifat dapat digunakan
sebagai kriteria seleksi. Perkiraan ini berguna dalam menduga apakah seleksi
untuk sifat tertentu akan memberi pengaruh menguntungkan atau tidak pada sifat
lain. Informasi korelasi antar variabel hasil dengan hasil biji penting dalam
penentuan seleksi. Apabila nilai koefisien korelasi tinggi, maka seleksi akan lebih
genetik diantara sifat-sifat dapat digunakan sebagai kriteria seleksi. Perkiraan ini
berguna dalam menduga apakah seleksi untuk sifat tertentu akan memberi
pengaruh menguntungkan atau tidak pada sifat lain (Atsari et al., 2016).
116. Korelasi telah banyak digunakan dalam berbagai penelitian.
Penelitian Munawaroh et al (2016) yang menjelaskan tentang karakter morfologi dan fisiologi yang berkaitan dengan efisiensi pemakaian air varietas padi gogo.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa:
1. Efisiensi pemakaian air biologis berkorelasi positif dengan jumlah gabah
bernas, bobot gabah bernas, bobot kering akar, bobot kering tajuk, jumlah
anakan, jumlah biji per malai, lebar daun bendera dan jumlah daun. Hal ini
mengindikasikan bahwa dengan meningkatnya efisiensi pemakaian air
biologis akan meningkatkan jumlah gabah bernas, bobot gabah bernas, bobot
kering akar, bobot kering tajuk, jumlah anakan, jumlah biji per malai, lebar
daun bendera dan jumlah daun.
2. Efisiensi pemakaian air (EPA) memiliki korelasi positif dengan tinggi
tanaman, volume akar dan panjang malai. Hal ini mengindikasikan bahwa
dengan meningkatnya nilai EPA akan meningkatkan tinggi tanaman, volume
akar dan panjang malai.
3. Nilai EPA berkorelasi negatif dengan luas daun yang berarti dengan semakin
sempitnya luas daun akan meningkatkan nilai EPA. Berdasarkan penelitian
Supijatno et al (2012) varietas padi yang paling efisien dalam penggunaan air memiliki daun yang tebal serta indeks luas daun yang kecil. Hal tersebut
4. Berdasarkan karakter fisiologi, EPA berkorelasi positif dengan
evapotranspirasi dan nilai kehijauan daun, serta berkorelasi negatif dengan
waktu berbunga. Hal tersebut mengindikasikan bahwa dengan meningkatnya
nilai EPA maka akan meningkatkan nilai evapotranspirasi, nilai kehijauan
daun serta mempercepat waktu berbunga.
117. Hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa karakter
morfologi, agronomi dan fisiologi padi gogo hemat air adalah tanaman lebih
tinggi, malai lebih panjang, volume akar lebih besar, daun lebih sempit,
evapotranspirasi lebih tinggi, waktu berbunga lebih cepat, daun lebih hijau,
jumlah daun dan jumlah anakan lebih banyak, bobot kering brangkasan lebih
berat, jumlah gabah lebih banyak, bobot 100 butir dan bobot gabah kering lebih
berat. Fraksi air tersedia yang diserap pada fase inisiasi bunga, fase primordia, dan
panen untuk menghasilkan gabah kering 3.39 ton ha-1 masing-masing adalah
83.36%, 137.14% dan 116.65%.
118. Berdasarkan penelitian Wardana et al (2014) yang bertujuan untuk mempelajari keragaman hasil, pewarisan sifat dan korelasi antara hasil dan
komponen hasil tanaman kedelai generasi F3. Data koefisien korelasi yang
disajikan sebagai berikut:
119.
120.
122. 123.
124. Hasil penelitian analisis koefisien korelasi pada tanaman kedelai
generasi F3 empat kombinasi tanaman yaitu:
1. Jumlah buku subur per tanaman terhadap jumlah polong isi per tanaman pada
empat kombinasi persilangan generasi F3 membentuk hubungan korelasi
positif. Hal ini mengindikasikan bahwa jumlah buku subur per tanaman
berpengaruh nyata terhadap jumlah polong isi per tanaman. Hubungan
korelasi yang sangat kuat pada persilangan Anjasmoro x Tanggamus,
Anjasmoro x AP dan Anjasmoro x UB. Sedangkan pada persilangan
Anjasmoro x Grobogan mempunyai hubungan korelasi cukup.
2. Jumlah buku subur per tanaman terhadap berat kering biji per tanaman pada
empat kombinasi persilangan generasi F3 membentuk hubungan korelasi
positif. Artinya jumlah buku subur per tanaman berpengaruh nyata terhadap
berat kering biji per tanaman. Hubungan korelasi yang sangat kuat pada
persilangan Anjasmoro x Tanggamus dan Anjasmoro x UB.
3. Jumlah polong isi dan berat kering biji per tanaman menunjukkan korelasi
positif yang kuat pada persilangan Anjasmoro x Tanggamus, Anjasmoro x AP
dan Anjasmoro x UB. Sedangkan pada persilangan Anjasmoro x Grobogan,
terdapat korelasi positif yang sangat lemah antara jumlah polong isi dan berat
biji per tanaman. Hal ini mengindikasikan bahwa setiap peningkatan pada
variabel jumlah polong isi per tanaman selalu diikuti oleh peningkatan berat
125. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa produksi biji ditentukan
oleh beberapa variabel hasil salah satunya yaitu jumlah polong isi per
tanaman dan berat/indeks biji. Variabel pengamatan jumlah buku subur
dan jumlah polong isi per tanaman pada seluruh kombinasi persilangan F3
membentuk korelasi positif yang kuat dengan variabel berat kering biji per
tanaman, kecuali pada persilangan Anjasmoro x Grobogan.
126. Penelitian Magdalena et al (2014) tentang “Uji Pertumbuhan dan Hasil Beberapa Genotipe Tanaman Tomat (Lycopersicum esculentum Mill) di Dataran Rendah. Hasil penelitian analisis koefisien korelasi menunjukkan bahwa:
1. Tinggi tanaman berkorelasi positif dengan panjang buah, bobot total
pertanaman dan tebal daging buah. Hal ini mengindikasikan bahwa terdapat
hubungan yang erat antara tinggi tanaman dengan panjang buah, bobot total
pertanaman dan tebal daging buah.
2. Diameter batang berkorelasi positif nyata dengan diameter buah dan bobot
per buah. Hal ini mengindikasikan bahwa diameter batang memberikan
kontribusi yang baik dalam meningkatkan bobot buah tomat. Semakin besar
batang tomat maka bobot buah tomat makin tinggi.
3. Umur berbunga berkorelasi positif dengan diameter batang, diameter buah
dan bobot total buah per tanaman. Hal ini mengindikasikan bahwa terdapat
hubungan yang erat antara umur bunga variabel dengan diameter batang,
diameter buah dan bobot total buah per tanaman. Picken (1984) menyatakan
bobot buah dipengaruhi oleh fruitset. Fruitset yang terbentuk juga sangat
mudah gugur. Jadi, walaupun klaster yang terbentuk banyak, tetapi bunganya
banyak yang gugur maka hasil bobot buah akan menjadi rendah.
4. Umur panen genotipe berkorelasi positif dengan tinggi tanaman, bobot total
per tanaman, jumlah rongga buah, tebal daging buah, dan jumlah biji buah.
Hal ini mengindikasikan bahwa terdapat hubungan yang nyata antara umur
panen genotipe dengan tinggi tanaman, bobot total per tanaman, jumlah
rongga buah, tebal daging buah, dan jumlah biji buah.
5. Panjang buah berkorelasi positif nyata dengan bobot total per tanaman. Hal
ini mengindikasikan bahwa tanaman yang berbuah panjang akan
menghasilkan bobot buah per tanaman yang tinggi.
6. Diameter buah berkorelasi positif dengan bobot per buah. Hal ini
mengindikasikan bahwa meningkatnya luas diameter buah akan berpengaruh
terhadap peningkatan bobot buah.
7. Jumlah rongga buah berkorelasi positif dengan tebal daging buah dan jumlah
biji buah. Hal ini mengindikasikan bahwa jumlah rongga buah pada setiap
buah tanaman menentukan tebal daging buah dan jumlah biji per buah.
8. Jumlah biji atau buah berkorelasi positif dengan bobot buah total per
tanaman. Hal ini mengindikasikan bahwa banyaknya jumlah biji atau buah
akan mempengaruhi bobot buah total per tanaman.
127. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa genotipe yang diuji
berpengaruh nyata terhadap parameter yang diamati yaitu: umur berbunga,
buah, jumlah rongga buah, tebal daging buah, jumlah biji dan buah, bobot
per buah dan bobot total per tanaman.
128. Korelasi antara dua sifat telah dilakukan uji korelasi menggunakan
tanaman padi dengan sifat-sifat yang dibandingkan yaitu panjang malai (X)
dengan jumlah biji (Y), panjang malai (X) dengan bobot biji (Z), dan jumlah biji
(Y) dengan bobot biji (Z). Alasan penggunaan ketiga sifat tersebut adalah karena
ditinjau dari segi perkembangan morfologi, anatomi dan fisiologi, ketiganya dapat
digunakan untuk menentukan jenis padi yang bersifat unggul. Uji korelasi
dilakukanuntuk mengetahui derajat hubungan yang dimiliki antara sifat-sifat
tersebut (Siregar, 1981).
129. Nilai koefisien antara jumlah biji dan bobot biji adalah 9,8. Hasil
ini jika dibandingkan dengan t tabel yang nilainya 3,18 didapatkan nilai t hitung >
t tabel. Hasil menunjukkan korelasi positif antara jumlah gabah total per malai
dengan bobot gabah. Artinya tanaman dengan jumlah gabah total per malai yang
banyak akan memiliki bobot yang tinggi. Sutoro et al (2015) menyatakan bahwa hasil biji sebagai salah satu bagian dari sink tanaman ditentukan oleh komponen hasil, seperti ukuran/bobot biji, malai yang berasal dari anakan padi primer,
sekunder, tersier, dan malai anakan selanjutnya. Dilaporkan terdapat perbedaan
kemampuan menghasilkan anakan (tiller) di antara genotipe, jumlah gabah total per malai (panicle) berkorelasi positif dengan hasil biji.
130. Nilai koefisien antara bobot biji dan panjang malai adalah 2,83.
Hasil ini jika dibandingkan dengan t tabel yang nilainya 3,18 didapatkan nilai t
panjang malai. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Watto et al (2010) bahwa tidak ada korelasi antara karakter hasil dengan karakter persentase gabah isi per
malai (bobot biji) dan panjang malai. Artinya tidak ada hubungan antara
persentase gabah isi per malai dan panjang malai.
131. Nilai koefisien antara jumlah biji dan panjang malai adalah 3,182.
Hasil ini jika dibandingkan dengan t tabel yang nilainya 3,18 didapatkan nilai t
hitung < t tabel. Hasil menunjukkan tidak ada korelasi antara jumlah biji dengan
panjang malai. Hal ini tidak sesuai dengan Safitri et al (2011) yang menyatakan bahwa karakter panjang malai berkorelasi positif sangat nyata dengan jumlah biji
per rumpun sehingga karakter ini dapat digunakan sebagai kriteria seleksi untuk
meningkatkan hasil biji. Rohaeni dan Permadi (2012) juga menyatakan bahwa
malai yang panjang menjamin adanya jumlah gabah bernas yang lebih banyak.
Beberapa kasus daun bendera yang panjang pada tanaman padi cenderung
menyebabkan kedudukan daun bendera akan terkulai. Hal ini menyebabkan
efektivitas proses fotosintesis berkurang sehingga dapat menurunkan jumlah biji
yang berisi dan berakibat terjadinya penurunan hasil biji per rumpun (Peng et al., 2008).
132.
133.
134.
135.
136.
138.
139.
140.
141.
142.
143.
144. V. KESIMPULAN DAN SARAN
145. A. Kesimpulan
146. Berdasarkan hasil praktikum dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Korelasi merupakan studi yang membahas tentang derajat hubungan antara
dua variabel atau lebih. Hasil perhitungan bobot biji dan jumlah biji adalah t
hitung 3,182 > t tabel 3,182. Hasil perhitungan bobot biji dan panjang malai
adalah t hitung 2,83 < t tabel 3,182. Hasil perhitungan jumlah biji dan
panjang malai adalah t hitung 2,83 < t tabel 3,182.
2. Nilai korelasi antara bobot biji dan jumlah biji adalah berbeda nyata, artinya
terdapat hubungan antara bobot biji dengan jumlah biji. Sedangkan nilai
korelasi antara bobot biji dan panjang malai serta jumlah biji dan panjang
malai tidak berbeda nyata, arinya tidak ada pengaruh dari kedua karakter
tersebut.
147.
149. Sebaiknya perhitungan hasil menggunakan software microsoft excel supaya kegiatan praktikum lebih cepat dan lebih akurat.
151. DAFTAR PUSTAKA
152. Astari, R. P., Rosmayanti., M. Basyuni. 2016. Kemajuan Genetik, Heritabilitas dan Korelasi Beberapa Karakter Agronomis Progeni Kedelai F3 Persilangan Anjasmoro dengan Genotipe Tanah Salin.
Jurnal Pertanian Tropik. Vol 3(1): 52-61. 153.
154. Falconer, D. S., dan T. F. C. Mackay. 1996. Introduction to Quantitative Genetics. Fourth Edition. Longman, London.
155. Jambormias, E., S. H. Sutjahio., M. Jusuf., Suharsono. 2007. Keragaan, Keragaman Genetik dan Heritabilitas Sebelas Sifat Kualitatif Kedelai (Glycine max L. Merrill) pada Generasi Seleksi F5. Jurnal Pertanian Kepulauan. Vol 3(2): 115-124.
156.
157. Johnson, H. W., H. F. Robinson., dan R. C. Comstock. 2006. Genotipe and Phenotipic Correlation in Soybean and Their Aplication in Selection. Agriculture Journal. Vol 160: 447-483.
158.
159. Magdalena, L., Adiwirman., E. Zuhry. 2014. Uji Pertumbuhan dan Hasil Beberapa Genotipe Tanaman Tomat (Lycopersicum esculentum
Mill) di Dataran Rendah. JOM Faperta. Vol 1(2): 1-10. 160.
161. Miftahorrachman., Mangindan, H. F., dan H. Novarianto. 2000. Analisis Lintas Karakter Vegetatif dan Generatif Kelapa. Zuriat.Vol 2(1): 11-17. 162.
163. Munawaroh, L., E. Sulistyono., Lubis, I. 2016. Karakter Morfologi dan Fisiologi yang Berkaitan dengan Efisiensi Pemakaian Air pada Beberapa Varietas Padi Gogo. Jurnal Agronomi Indonesia. Vol 44(1): 1-7.
164.
165. Musa, M.S. 1978. Ciri Kestatistikan Beberapa Sifat Agronomi suatu Bahan Kegenetikan Kedelai (Glycine max [L.] Merr). Institut Pertanian Bogor, Bogor.
166.
167. Peng, S., G.S. Khush, P. Virk, Q. Tang, Y. Zou. 2008. Progress in Idiotype Breeding to Increase Rice Yield Potential. Field Crops Research. Vol 108: 32–38.
168.
171. Poerwoko, M. S. 1995. Efektifitas dan Efisiensi Analisi Lintas Dalam Seleksi Simultan Zuriat Kedelai Melalui Persilangan Dialel Lengkap.
Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran, Bandung. 172.
173. Rohaeni, W. R., dan Permadi, K. 2012. Analisis Sidik Lintas Beberapa Karakter Komponen Hasil Terhadap Daya Hasil Padi Sawah Pada Aplikasi Agrisimba. Jurnal Agrotop. Vol 2(2): 185-190.
174.
175. Safitri, H., B. S. Purwoko., Dewi, I. S., B. Abdullah. 2011. Korelasi dan Sidik Lintas Karakter Fenotipik Galur-Galur Padi Haploid Ganda Hasil Kultur Antera. Widyariset. Vol 14(2): 295-304.
176.
177. Singh, R. K dan B. D Chaudhary. 1979. Biometrical Methods Quantitative Genetics Analysis. Kalyani PublisherLudiana, New Delhi. 178.
179. Siregar, H. 1981. Budidaya Tanaman Padi di Indonesia. Sastra Hudaya, Bogor.
180.
181. Soemartono., Nasrullah., dan H. Hartiko. 1992. Genetika Kuantitatif dan Bioteknologi Tanaman. Program PAU Bioteknologi UGM,
186. Sugiarto. 1992. Tahap Awal Dan Aplikasi Analisis Regresi. Andy Offset, Yogyakarta.
187.
188. Susanti, D., Suwarto., dan T. A. D. Haryanto. 2011. Evaluasi Karakter Penduga Hasil Pada Populasi Genotipe F3 Persilangan Silugonggo X Milky Rice Berdasarkan Sidik Lintas. Agromika. Vol 11(2) : 136-143. 189.
190. Sutoro., Suhartini, T., Setyowati, M., K. R. Trijatmiko. 2015. Keragaman Malai Anakan dan Hubungannya dengan Hasil Padi Sawah (Oryza sativa). Buletin Plasma Nutfah. Vol 21(1): 9-16.
191.
192. Telussa, A. D., Persulessy, E. R., Leleury, Z. A. 2013. Penerapan Analisis Korelasi Partial untuk Menentukan Hubungan Pelaksanaan Fungsi Manajemen Kepegawaian dengan Efektivitas Kerja Pegawai.
Jurnal Barekeng. Vol 7(1): 15-18. 193.
max L. Merril) Varietas Anjasmoro dengan Varietas Tanggamus, Grobogan, Galur AP dan UB. Jurnal Produksi Tanaman. Vol 3(3): 182-188.
195.
196. Warwick, E. J., J. M. Astuti., dan W. Hardjosubroto. 1990. Pemuliaan Ternak. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
197.
198. Wattoo., J. Iqbal., A. S. Khan., Z. Ali., M. Babar., M. Naeem., M. Amanullah., dan N. Hussain. 2010. Study of Correlation Among Yield Related Traits and Path Coefficient Analysis in Rice (Oryza sativa L.).
African Jurnal of Biotechnology. Vol9(46): 7853-7856. 199.
200. Yitnosumarto, S. 1994. Dasar-Dasar Statistika. Raja Grafindo Persada, Jakarta.