LAPORAN PRAKTIKUM
PEMULIAAN TANAMAN
ACARA III
HIBRIDISASI TANAMAN MENYERBUK SENDIRI
Semester: Genap 2017
Oleh : Listiana Novitasari
NIM A1D015180 Rombongan 8
KEMENTRIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN PURWOKERTO
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hibridisasi termasuk salah satu metode yang ada dalam pemuliaan tanaman dengan tujuan memperoleh kombinasi genetik yang diinginkan melalui persilangan dua atau lebih tetua yang berbeda genotipenya. Hibridisasi merupakan perkawinan antara berbagai varietas atau spesies diharapkan dapat menghasilkan kombinasi baru genetika dari tanaman tetua yang diharapkan sifat unggulnya. Salah satu macam hibridisasi yaitu hibridisasi menyerbuk sendiri. Hibridisasi jenis ini dilakukan pada tanaman yang memiliki tipe penyerbukan sendiri. Penyerbukan yang terjadi pada tanaman dapat digunakan sebagai dasar untuk dilakukannya proses hibridisasi. Penyerbukan merupakan proses bertemunya antara serbuk sari dengan kepala putik, jika proses ini berhasil maka akan menghasilkan biji.
untuk tanaman menyerbuk silang. Metode yang dikembangkan secara seksual berbeda dengan yang dikembangkan secara aseksual.
Persilangan padi secara buatan dilakukan dengan campur tangan manusia. Persilangan padi secara buatan pada umumnya menghasilkan tanaman yang relatif pendek, berumur genjah, anakan produktif banyak, dan hasil tinggi. Sementara itu persilangan secara alami menghasilkan tanaman yang relatif tinggi, berumur panjang, anakan produktif sedikit, dan produktivitas rendah. Persilangan pada tanaman padi merupakan proses penggabungan sifat melalui pertemuan tepung sari dengan kepala putik dan kemudian embrio berkembang menjadi benih. Secara teknis persilangan padi secara buatan dimulai dengan pemilihan tetua pada pertanaman petak hibridisasi, dilanjutkan dengan kastrasi, hibridisasi, isolasi, dan pemeliharaan.
B. Tujuan
Tujuan dilaksanakan praktikum ini adalah untuk:
1. Menghilangkan kepala sari sebelum bunga membuka dengan maksud untuk mencegah terjadinya pembuahan sendiri.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Berbagai metode pemuliaan tanaman dapat dilakukan pada tanaman menyerbuk sendiri. Penyerbukan sendiri pada tanaman akan memunculkan galur-galur. Galur yang terbentuk pada dasarnya adalah kelompok populasi yang secara genetik berbeda. Penerapan atau pemilihan suatu metode pemuliaan untuk suatu komoditas tanaman memerlukan pengetahuan dasar yang cukup karena banyak faktor atau hal yang perlu diketahui, seperti keragaman genetik. Keragaman genetik tanaman dapat diupayakan melalui cara introduksi, hibridisasi, dan mutasi (Soegianto et al., 2014).
Hibridisasi adalah persilangan antar tanaman (dalam spesies sama) yang memiliki sifat-sifat genetik yang berbeda. Tujuan diadakannya proses hibridisasi adalah agar menghasilkan perpaduan genetik antara kedua tanaman sehingga diharapkan akan menghasilkan rekombinasi baru (Soeranto, 2003). Secara genetik, persilangan akan menaikkan persentase heterosigositas dan variansi genetik. Tujuan lain persilangan adalah pembentukan bangsa baru, grading up, dan pemanfaatan heterosis. Melakukan persilangan harus betul-betul diperhatikan keunggulan dan kelemahan dari kedua tetua yang akan disilangkan serta tujuan yang ingin dicapai. Selain itu hal penting dalam melakukan persilangan yaitu menjaga kelestarian plasma nutfah (Matondang dan Rusdiana, 2013).
akibat pertambahan jumlah penduduk yang besar, serta berkembangnya industri pangan dan pakan (Wahid, 2003). Tanaman padi merupakan tanaman jenis rumput-rumputan. Klasifikasi tanaman padi adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Spesies : Oryza sativa (Herawati, 2012).
Padi secara alami merupakan tanaman menyerbuk sendiri yang kemampuan menyerbuk silangnya (outcrossing) sangat rendah (0,5-6,8%). Pada pemuliaan padi hibrida peningkatan kemampuan menyerbuk silang antara tetua diharapkan dapat meningkatkan produksi benih. Keberhasilan produksi benih hibrida antara lain ditentukan oleh karakter bunga, kesesuaian waktu pembungaan kedua tetua, dan karakter morfologi yang lain yang mempengaruhi transfer tepungsari dari tetua jantan (galur B atau R) ke tetua betina (galur A). Beberapa karakter agronomi padi seperti jumlah anakan produktif per rumpun, jumlah spikelet per malai, tinggi tanaman, daun bendera yang sempit dan pendek, serta eksersi malai juga dapat mempengaruhi tingkat serbuk silang padi (Widyastuti et al., 2012).
adalah kleistogami. Kleistogami yaitu kondisi saat terjadi penyerbukan pada bunga yang belum mekar atau tidak terbuka, misalnya pada kedelai, padi, tembakau dan lain-lain. Jumlah penyerbukan silang yang mungkin terjadi pada tanaman-tanaman tersebut berkisar antara 0%-4 atau 5% (Nasir, 2001).
III. METODE PRAKTIKUM
A. Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu tanaman padi. Alat yang digunakan yaitu gunting, peniti atau tusuk gigi, senter, crossing set, label persilangan dan kantong kertas.
B. Prosedur Kerja
Hibridisasi buatan akan dilakukan pada tanaman padi dengan cara kerja sebagai berikut:
1. Beberapa malai yang masih tertutup oleh daun bendera yang akan digunakan sebagai tetua betina dipilih dengan ketentuan bahwa malai yang keluar dari daun bendera baru sekitar 10%-20%. Bunga yang sudah diserbuki atau belum siap diserbuki dibuang.
2. Benang sari di emaskulasi. Sepertiga bagian dari palea dan lemma digunting, kemudian gunting didorong ke atas sehingga anternya terbuang semua dan tinggal kepala putiknya saja. Benang sari yang tersisa dibuang dengan gunting.
3. Beberapa malai yang sudah mekar yang akan digunakan sebagai tetua jantan dipilih.
4. Penyerbukan dilakukan dengan menggoyang-goyangkan malai bunga jantan di atas bunga betina yang telah diemaskulasi.
kemudian label mengenai informasi yang diperlukan dari persilangan tersebut dicantumkan.
6. Keberhasilan persilangan diamati dan tingkat keberhasilan dihitung dengan rumus sebagai berikut:
7. Keberhasilan persilangan diamati dan tingkat keberhasilan dihitung dengan rumus sebagai berikut :
Tingkat Keberhasilan (%) = Jumlah persilangan yang berhasil Jumlah total persilangan yang dilakukan
x
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Tanggal Polinasi : 11 Mei 2017 Tanggal Pengamatan : 1 Juni 2017
Tetua : Tetua Betina x Tetua Jantan
Ciherang Inpago Unsoed 1
Keberhasilan = Jumlah persilangan yang berhasil
Jumlah total persilangan yang dilakukan
x 100%
=
5
15×100
= 33,33%
Kesimpulan: Jadi, tingkat keberhasilan dari menyerbuk silang ini sebesar 33,33%. Gambar hasil persilangan:
B. Pembahasan
Hibridisasi merupakan suatu perkawinan silang antara berbagai jenis spesies pada setiap tanaman yang mempunyai tujuan untuk memperoleh organisme dengan sifat-sifat yang diinginkan dan dapat bervariasi jenisnya (Tanto, 2002). Hibridisasi merupakan teknik yang potensial dalam upaya meningkatkan daya hasil suatu komoditas tanaman dengan karakter yang dikehendaki. Pendugaan daya gabung (combining ability) merupakan cara yang efektif dan efesien dalam menyeleksi suatu galur/tetua dalam hibridisasi sehingga dapat diperoleh hibrida dengan daya hasil tinggi serta memiliki karakter baik lainnya sesuai yang dikehendaki (Dogra dan Kanwar, 2011). Soenarto (1997) menyatakan bahwa hibridisasi merupakan suatu perkawinan silang antara berbagai jenis spesies setiap tanaman yang bertujuan untuk memperoleh organisme dengan sifat-sifat yang diinginkan.
Tahapan dalam melakukan proses kegiatan hibridisasi tanaman menyerbuk sendiri dari tetua betina varietas Ciherang dengan tetua jantan varietas Inpago Unsoed 1 dengan menggunakan teknik tempel, yaitu sebagai berikut:
1. Kastrasi
Hal tersebut sangat membantu dalam pembuangan benang sari. Kegiatan katrasi dikakukan pada pukul 5 pagi sebelum tanaman padi melakukan penyerbukan sendiri.
Gambar 1. Kegiatan kastrasi
2. Emaskulasi
Emaskulasi dilakukan setelah proses kastrasi dengan cara membuang alat kelamin jantan (benang sari). Masing-masing bunga padi memiliki enam benang sari yang harus dibuang. Pembuangan harus dilakukan secara hati-hati agar tidak merusak bagian putik. Emaskulasi bertujuan agar tidak terjadi penyerbukan sendiri dan dilakukan pagi hari sebelum bunga padi mekar.
3. Penyungkupan
Bunga yang telah bersih disungkup dengan kantong kertas transparan yang bertujuan agar menghindarkan putik diserbuki oleh serbuk sari dari tanaman lain yang tidak dikehendaki.
Gambar 3. Penyungkupan tanaman tetua betina
4. Pengumpulan serbuk sari
Pengumpulan serbuk sari dari tanaman padi varietas Inpago Unsoed 1 dilakukan pada siang hari dengan cara menggoyang-goyangkan malai padi yang serbuk sarinya telah pecah di atas kertas.
5. Hibridisasi
Hibridisasi atau persilangan adalah suatu teknik mengawinkan bunga dengan meletakkan serbuk sari pada stigma pada waktu polinasi. Kegiatan hibridisasi dilakukan pukul 12.00 dengan memasukkan serbuk sari dari tetua jantan (Inpago Unsoed 1) menggunakan jarum pada tetua betina (Ciherang).
Gambar 5. Hibridisasi varietas Ciherang dan Inpago Unsoed 1
6. Penyungkupan
Bunga yang telah dilakukan hibridisasi selanjutnya disungkup menggunakan kantong kertas agar lingkungan bunga padi sesuai saat masih mempunyai lemma dan palea yang utuh.
7. Pelabelan dan pemberian etiket
Etiket berisi data nama penyerbuk, tanggal mengerjakan, dan nama/nomor jenis tanaman betina dan jantan. Kegiatan ini bertujuan untuk menjaga kekeliruan setelah melakukan persilangan.
Gambar 7. Pelabelan dan pemberian etiket
Proses persilangan tanaman padi secara buatan menurut Masniawati et al (2015) yaitu:
1. Kastrasi
2. Emaskulasi
Emaskulasi merupakan proses pembuangan serbuk sari pada tetua betina yang dilakukan pada pagi hari hingga pukul 08.00 dengan suhu rendah dan udara yang cukup lembab. Kepala sari pada saat itu biasanya masih tertutup rapat sehingga mudah untuk membuang benang sari dalam keadaan utuh. Pengambilan kepala sari memerlukan kehati-hatian dan ketelitian yang tinggi agar tidak terjadi kerusakan pada stigma.
3. Penutupan
Bunga yang telah bersih dari benang sari ditutup dengan glacine bag atau kertas transparan untuk menghindari jatuhnya serbuk sari yang tidak diinginkan.
4. Pengumpulan serbuk sari
Bunga jantan diambil dari lapangan sekitar pukul 09.00 pagi kemudian disimpan dalam bak plastik yang telah disiapkan, selanjutnya ditunggu hingga kepala sari membuka.
5. Hibridisasi
Bunga betina yang sudah dikastrasi dibuka tutupnya lalu dikakukan hibridisasi pada siang hari sekitar pukul 10.30 siang. Hibidisasi dilakukan dengan menabur tetua jantan ke kepala putik dengan cara menggoyangkan bunga jantan di atas bunga betina.
Setelah tanaman selesai dihibridisasi selanjutnya pembungkusan (cover off) pada malai. Pembungkusan harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak
mengganggu pembuahan dan perkembangan embrio. Pembungkusan dilakukan untuk menciptakan lingkungan yang diharapkan menyerupai saat putik terbungkus oleh lemma dan palea.
7. Pemberian etiket
Malai yang telah terbungkus dipasang etiket yang mencantumkan tanggal silang, nama tetua, jumlah malai yang disilangkan, dan dapat juga dicantumkan nama yang menyilangkan. Penulisan identitas sangat penting untuk legitimasi genotipe baru yang dihasilkan.
Pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi dikelompokkan menjadi tiga fase yaitu:
1. Fase vegetatif (vegetative stage)
2. Fase reproduktif (reproductive stage)
Fase reproduktif adalah fase dimana tanaman mengalami pemanjangan beberapa ruas teratas batang tanaman, berkurangnya jumlah anakan, munculnya daun bendera, bunting, dan pembungaan. Inisiasi primodia malai dimulai 30 hari sebelum heading dan waktunya hampir bersamaan dengan pemanjangan ruas-ruas batang yang terus berlanjut hingga tanaman padi berbunga (Makarim dan Suhartatik, 2009). Penyediaan nitrogen yang cukup pada fase generatif sangat penting juga dalam memperlambat proses penuaan daun mempertahankan fotosintesis selama fase pengisian gabah dan peningkatan protein dalam gabah (Patty et al., 2013).
3. Fase pemasakan/pematangan (ripening stage)
Fase pematangan merupakan fase tanaman berbunga hingga gabah siap panen. Fase ini terdiri dari pembentukan bunga, pembentukan pasta, matang kuning, dan matang penuh. Hasil asimilasi selama fase pemasakan akan mempengaruhi bernas atau tidaknya gabah (Mungara et al., 2013). Arafah (2009) menyatakan bahwa periode pemasakan bulir terdiri dari empat stadia masak yaitu:
b. Stadia masak kuning ditandai dengan seluruh tanaman yang tampak kuning dan hanya buku-buku sebelah atas yang masih hijau. Isi gabah sudah keras, tetapi mudah pecah dengan kuku.
c. Stadia masak penuh ditandai dengan buku-buku sebelah atas berwarna kuning, sedangkan batang-batang mulai kering. Isi gabah sukar dipecahkan. Varietas-varietas yang mudah rontok saat masuk stadia ini belum terjadi kerontokan.
d. Stadia masak mati ditandai dengan isi gabah keras dan kering. Varietas-varietas yang mudah rontok saat masuk stadia ini sudah mulai rontok. Stadia masak mati terjadi setelah ± 6 hari setelah masak penuh.
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan diperoleh tingkat keberhasilan persilangan padi antara varietas Ciherang dengan Inpago Unsoed 1 tergolong rendah. Teknik yang digunakan dalam praktikum yaitu teknik tempel dengan total bunga yang diserbuki sebanyak 15 bunga dan total biji yang terbentuk 5 biji dengan presentase keberhasilan sebesar 33,33%. Persilangan yang dilakukan dapat dikatakan berhasil karena terdapat bunga yang berhasil dibuahi walaupun presentasenya sangat rendah. Ardian et al (2012) menyatakan bahwa persilangan yang berhasil ditandai dengan terbentuknya biji pada bunga yang telah diserbuki.
buatan yang kemudian diikuti pembuahan dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah kompatibilitas tetua, ketepatan waktu reseptif betina dan antesis jantan, kesuburan tanaman serta faktor lingkungan. Masniawati et al (2015) menyatakan bahwa metode penyerbukan menentukan keberhasilan persilangan. Serbuk sari digoyang-goyang diatas putik yang siap diserbuki dengan harapan serbuk sari dapat mencapai putik sari dan membuahi. Putik yang matang atau siap diserbuki apabila diserbuki dengan serbuk sari yang matang akan menghasilkan embrio. Persilangan terkadang tidak terjadi pembuahan walaupun stigma telah diserbuk oleh serbuk sari dari bunga yang sama dikarenakan adanya ketidakserasian fisiologis atau ketidakserasian sendiri (Syukur et al., 2009).
Gambar 8. Hasil proses hibridisasi tanaman padi varietas Ciherang dengan Inpago Unsoed 1
Gambar 9. Hasil persilangan padi varietas Pare Mandoti dan Ciherang Sumber: Masniawati et al., 2015
Keberhasilan dalam pelaksanaan persilangan ditentukan oleh faktor manusia, alat yang digunakan serta faktor lingkungan. Peran pelaksana (manusia) dalam memperbesar keberhasilan persilangan terutama ditentukan oleh keterampilan dan pengetahuan. Faktor alat lebih berhubungan pada kebersihan alat, sedangkan faktor lingkungan adalah seperti adanya serangan hama dan penyakit serta sifat genetik dari tanaman yang akan disilangkan (Ambarwati et al., 2015). Selain itu suhu, curah hujan, serta hama dan penyakit merupakan faktor lingkungan yang dapat menginfeksi bunga (Widiastuti et al., 2008).
fase yang paling sensitif terhadap suhu. Suhu tinggi saat pembungaan dapat menghambat pembengkakan tepung sari sedangkan suhu rendah pada saat fase bunting dapat menghambat pertumbuhan benang sari (Matsui et al., 2000). Oleh karena itu, faktor yang menyebabkan pecahnya kotak sari adalah pembengkakan butiran tepung sari. Cekaman suhu dengan suhu >350C atau <200C dapat
menurunkan persentase pecahnya kotak sari pada saat pembungaan yang menyebabkan penyerbukan bunga akan terhambat (Matsui dan Kagata, 2003).
Syukur et al (2009) menyatakan bahwa faktor yang dapat mempengaruhi
hibridisasi dapat dibedakan menjadi dua yaitu:
1. Faktor internal a. Pemilihan Tetua
Ada lima kelompok sumber plasma nutfah yang dapat dijadikan tetua
persilangan yaitu 1) varietas komersial, 2) galur-galur elit pemuliaan, 3)
galur-galur pemuliaan dengan satu atau beberapa sifat superior, 4) spesies
introduksi tanaman dan, 5) spesies liar. Peluang menghasilkan varietas
unggul yang dituju akan menjadi besar bila tetua yang digunakan
merupakan varietas-varietas komersial yang unggul yang sedang beredar,
galur-galur murni tetua hibrida, dan tetua-tetua varietas sintetik.
b. Waktu tanaman berbunga
Kegiatan persilangan yang harus diperhatikan yaitu: 1) penyesuaian
waktu berbunga, waktu tanam tetua jantan dan betina harus diperhatikan
supaya saat anthesis dan represif waktunya bersamaan, 2) waktu
diperhatikan, seperti pada bunga kacang tanah, padi harus pagi hari, bila
melalui waktu tersebut polen telah jatuh ke stigma, serta waktu
penyerbukan harus tepat ketika stigma reseptif. Jika antara waktu
anthesis bunga jantan dan waktu reseptif bunga betina tidak bersamaan,
maka perlu dilakukan sinkronisasi. Caranya dengan membedakan waktu
penanaman antara kedua tetua, sehingga nantinya kedua tetua akan siap
dalam waktu yang bersamaan. Tujuan sinkronisasi diperlukan informasi
tentang umur tanaman berbunga.
2. Faktor eksternal
a. Pengetahuan tentang organ reproduksi dan tipe penyerbukan
Organ reproduksi yang diketahui maka dapat menduga tipe penyerbukan,
yaitu tipe menyerbuk silang atau menyerbuk sendiri.
b. Keadaan cuaca saat penyerbukan
Kondisi panas dengan suhu tinggi dan kelembaban udara terlalu rendah
menyebabkan bunga rontok, serta jika ada angin kencang dan hujan yang
terlalu lebat.
c. Pelaksanaan
Pemulia yang melakukan hibridisasi harus serius dan
bersungguh-sungguh dalam melakukan kegiatan hibridisasi karena jika pemulia
V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Salah satu langkah dalam hibridisasi tanaman menyerbuk sendiri adalah emaskulasi. Emaskulasi adalah proses pembersihan kelamin jantan (benang sari) pada betina agar tidak terjadi penyerbukan sendiri. Tetua betina yaitu varietas Ciherang diemaskulasi sebelum bunga membuka agar tidak terjadi penyerbukan sendiri.
2. Bunga betina yang telah diemaskulasi selanjutnya diserbuki dengan benang sari dari tetua jantan yaitu varietas Inpago Unsoed 1 hingga terkena kepala putiknya secara hati-hati.
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
Ambarwati A. D., Agus Purwito., M. Herman., S. M. Sumaraow., dan H. Aswidinnoor. 2015. Analisis Integrasi dan Segregasi Gen Ketahanan terhadap Hawar Daun pada Progeni F1 Hasil Persilangan Tanaman Kentang Transgenik dengan Non Transgenik. Jurnal Agro Biogen. Vol 5(1).
Arafah. 2009. Pengelolaan dan Pemanfaatan Padi Sawah. Bumi Aksara, Bogor. Ardian, Riki., Dewi Indriyanti Roslim., dan Herman. 2012. Persilangan Padi
(Oryza sativa L.) Varietas IR64 dan Siam Siantur. Karya Ilmiah. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Riau, Riau.
Brar, D. S., dan Khush G. S. 1986. Wide Hybridization and Chromosome Manipulation in Cereal. Hand Book Of Plant Cell Culture. Vol IV. Macmillan Publ, UK.
Dogra, B. S., dan M. S. Kanwar. 2011. Exploitation of Combining Ability in Cucumber (Cucumis sativus L.). Research Journal of Agricultural Sciences. Vol 2(1): 55-59.
Herawati, D. W. 2012. Budidaya Padi. Javalitera, Yogyakarta.
Kalsim, D. K. 2007. Rancangan Operasional Sistem Irigasi untuk Pengembangan SRI. Seminar KNI-ICD, Jawa Barat.
Makarim, A. K., dan Suhartatik, E. 2009. Morfologi dan Fisiologi Padi. Balai Besar Tanaman Padi, Subang.
Masniawati, A., Baharuddin., Tri Joko., dan A. Abdullah. 2015. Pemuliaan Tanaman Padi Aromatik Lokal Kabupaten Enrekang Sulawesi Selatan. Jurnal Sainsmat. Vol. 4(2): 205-213.
Matondang, R. H., dan Rusdiana, S. 2013. Langkah-Langkah Strategis Dalam Mencapai Swasembada Daging Sapi Atau Kerbau. Jurnal Litbang Pertanian. Vol. 32(3):131-139.
Matsui, T. dan H. Kagata. 2003. Characteristic of Floral Organs Related to Reliable Self-Pollination In Rice (Oryza Sativa). Annals of Botany. Vol. 91: 473-477.
Matsui, T., K. Omasa and T. Horie. 2000. High Temperature at Flowering Inhibit Swelling of Pollen Grains, a Driving Force for Thecae Dehiscence in Rice (Oryza sativa L.). Plant Production Sci. Vol 3: 430-434.
Mungara, E., D. Indradewa., dan R. Rogomulyo. 2013. Analisis Pertumbuhan dan Hasil Padi Sawah (Oryza sativa L.) pada Sistem Pertanian Konvensional, Transisi Organik dan Organik. Vegetalika. Vol 2(3): 1-12.
Nasir, M. 2001. Pengantar Pemuliaan Tanaman. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta.
Patty, P. S., E. Kaya., dan C. H. Silahooy. 2013. Analisis Status Nitrogen Tanah dalam Kaitannya dengan Serapan N oleh Tanaman Padi Sawah di Desa Waimital, Kecamatan Kairatu, Kabupaten Seram Bagian Barat. Agrologia. Vol 2(1): 51-58.
Soegianto, A., dan S. Purnamaningsih. 2014. Perakitan Varietas Tanaman Buncis (Phaseolus vulgaris L.) Berdaya Hasil Tinggi dengan Sifat Warna Polong Ungu dan Kuning. Seminar Nasional. Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Malang.
Soenarto. 1997. Pemuliaan Tanaman. IKIP Semarang Press, Semarang.
Soeranto, H. 2003. Peran IPTEK Nuklir dalam Pemuliaan Tanaman untuk Mendukung Industri Pertanian. Jurnal Pemuliaan Tanaman. Vol 3(1). Syukur, M., S. Sujiprihati, dan R. Yunianti. 2009. Teknik Pemuliaan Tanaman.
Tanto. 2002. Pemuliaan Tanaman dengan Hibridisasi (Allogam). Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Tubur, H. W., M. A. Chozin., E. Santosa., dan Ahmad, J. 2012. Respon Agronomi Varietas Padi terhadap Periode Kekeringan pada Sistem Sawah. Jurnal Agronomi Indonesia. Vol 40(3): 167-173.
Wahid, A. S. 2003. Peningkatan Efisiensi Pupuk Nitrogen pada Padi Sawah dengan Metode Bagan Warna Daun. Jurnal Litbang Pertanian. Vol 22(4): 156-161.
Welsh, J. R. 1991. Dasar-Dasar Genetika dan Pemuliaan Tanaman. Erlangga, Jakarta.
Widiastuti., Alfin., dan P. E. Retno. 2008. Viabilitas Serbuk Sari dan Pengaruhnya terhadap Keberhasilan Pembentukan Buah Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.). Biodiversitas. Vol 9(1).
Lampiran 2. Gambar Praktikum
Gambar 1. Kegiatan kastrasi tanaman padi varietas Ciherang
(tetua betina)
Gambar 3. Penyungkupan dan pemberian etiket
Gambar 4. Hasil persilangan padi varietas Ciherang dan Inpago