• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH PEMBIASAAN MENGANALISIS ARTIKEL docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGARUH PEMBIASAAN MENGANALISIS ARTIKEL docx"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PEMBIASAAN MENGANALISIS ARTIKEL ILMIAH TERHADAP KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA KELAS X SMA

NEGERI 106 JAKARTA

Akbar Alfarisyi*)

*)Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA

e-mail: [email protected]

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pembiasaan menganalisis artikel ilmiah terhadap keterampilan proses sains siswa di kelas X IPA 2 SMA Negeri 106 Jakarta pada materi Ekosistem. Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 106 Jakarta, pada bulan Mei 2014. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Kuasi Eksperimen dengan menggunakan desain Randomized

Pretest-Posttest Control Group Design. Populasi sebanyak 106 siswa pada kelas X

IPA dan sampel yang digunakan melalui tahapan teknik cluster random sampling

diperoleh kelas kontrol yaitu kelas X IPA 1 jumlah sampel sebanyak 36 siswa dan kelas X IPA 2 jumlah sampel sebanyak 35 siswa. Teknik pengumpulan data meggunakan teknik tes objektif pilihan ganda (multiple choice) yang disesuaikan dengan 5 indikator KPS yang digunakan yaitu: Mengajukan Pertanyaan, Inferensi, Klasifikasi, Komunikasi, dan Aplikasi. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa terdapat perbedaan nilai gain yang diperoleh dari selisih hasil pretes dan postes masing-masing siswa antara kelas eksperimen dan kelas kontrol yaitu 0,29 pada kelas eksperimen dan 0,11 pada kelas kontrol. Kemudian Untuk kelas eksperimen rata-rata KPS pretesnya adalah 63,9% dan kelas kontrol adalah 66,5%, sedangkan rata-rata KPS postesnya adalah 74,5% untuk kelas eksperimen dan 71,5% untuk kelas kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa kelas eksperimen memiliki keterampilan proses sains yang lebih baik dari pada kelas kontrol. Setelah dilakukan uji hipotesis menggunakan Uji Wilcoxon menunjukkan, Whitung yang diperoleh sebesar 28, dan W0,01 sebesar 107,27 dengan n = 30. Dapat dikatakan bahwa, Whitung < W0,01(30), yang bermakna tolak H0 pada taraf signifikansi = 1%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa, terdapat pengaruh pembiasaan menganalisis artikel ilmiah terhadap keterampilan proses sains siswa kelas X.

Kata kunci: Artikel Ilmiah, Problem Based Learning, Keterampilan Proses Sains, Ekosistem

ABSTRACT

(2)

pretest-posttest design randomized control group design. The population is 106 students in the class X IPA and samples used by stage cluster random sampling technique was obtained in the control class class X IPA 1 the total sample are 36 students and the experiment class is X IPA 2 the total sample are 35 students. The data collection techniques using multiple choice objective test (multiple choice) were adjusted to 5 indicators of process skils used are: Asking Questions, Inferences, Classification, Communication, and Application. The results showed that there are differences in the value of the gain obtained from the difference between pretest and posttest results of each student between the experimental class is 0.29 and the control class is 0.11. For the pretest stage, the average of process skills in the experiments class is 63.9% and control class was 66.5%. And then after giving posttes stage, the average of process skills in the experiments class is 74.5% and 71.5% for the control class. This suggests that the experimental class science process skills is better than the control class. After hypothesis testing using the Wilcoxon test showed, the value of Whit is 28, and W0,01 is 107.27 with n = 30 can be said that, Whit <W0,01 (30), which H0 was rejected at significance level = 1 %. It can be concluded that, there is the effect of habituation analyze scientific articles on science process skills students in grade X.

Keywords: Scientific Articles, Problems Based Learning, Study Process Skills Science, Ecosystem

PENDAHULUAN

Proses pembelajaran berdasar-kan kurikulum 2013 tidak cukup hanya menambah pengetahuan, melainkan peserta didik harus mempunyai kemampuan berpikir kreatif-kritis dan berkarakter kuat, mampu bertanggung jawab, memiliki jiwa sosial, toleran, produktif, adaptif, serta kemampuan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (DIKBUD, 2014: 8). Sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi menegaskan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan (Depdiknas, 2006).

Sains atau IPA memiliki cara-cara khusus dalam melakukan observasi, berpikir, bereksperimen dan memvalidasi yang menampilkan aspek mendasar tentang hakikat IPA dan mencerminkan bagaimana IPA berbeda dari sekedar pengetahuan. Sund (1985)

dalam Hariyatmi (2011: 3) menyatakan

bahwa “Science is both a body of knowledge and a process”. Jelaslah bahwa yang dimaksud sains (IPA) adalah kumpulan dari pengetahuan fakta, konsep, proses dan bagaimana proses untuk mendapatkan pengetahuan itu. Sains atau IPA mengandung tiga dimensi utama yaitu produk ilmiah, proses ilmiah, dan sikap ilmiah (Bundu, 2006: 4).

(3)

serangkaian proses ilmiah. Interaksi di antara kedua komponen Sains tersebut sangat erat dan tidak dapat dipisahkan. Produk ilmiah yang dihasilkan dari proses ilmiah pada gilirannya akan menjadi dasar bagi proses ilmiah berikutnya untuk menghasilkan produk ilmiah yang baru.

Untuk memudahkan proses pembelajaran baik di dalam kelas ataupun di luar kelas diperlukan kemampuan membaca, mengidentifi-kasi, dan menganalisis suatu literasi. Hasil penilaian internasional yang dilakukan oleh PISA (Programe International for Student Assessment) tahun 2009 diperoleh bahwa sebanyak 61,6% pelajar Indonesia memiliki pengetahuan sains yang sangat terbatas, sedangkan yang memiliki kemampuan melakukan penelitian sederhana sebanyak 27,5%. Persentase pelajar yang memiliki kemampuan mengiden-tifikasi masalah-masalah ilmiah hanya 9,5%, sedangkan yang mampu memanfaatkan sains untuk kehidupan sehari-hari hanya sebesar 1,4%. Secara rata-rata, skor penilaian PISA menunjukan bahwa Indonesia berada di peringkat ke 57 dari 65 negara untuk kualitas membaca dengan skor 402 dari 556 dan peringkat ke 60 untuk kemampuan sains dengan skor 383 dari skor tertinggi 575 (PISA, 2006: 9).

Data-data di atas menggambar-kan bahwa kualitas membaca dan sains siswa di Indonesia tergolong kurang baik. Hal ini dikarenakan bahwa kurangnya minat pelajar untuk membaca literasi dan menganalisisnya menggunakan nalar mereka. Dalam arti luas, membaca juga dimaksudkan untuk meramalkan, mengetahui, menduga, memperhitungkan, dan memahami sesuatu. Karena membaca, akan me-munculkan rasa ingin tahu (curiousity)

yang akan mendorong suatu pertanyaan dalam diri siswa. Sebagaimana di-katakan oleh Rustaman (2003: 2) bahwa jika pertanyaan tersebut di-pecahkan dengan menggunakan suatu eksperimen atau observasi, maka pertanyaan tersebut menjadi pertanyaan ilmiah yang berhubungan dengan keterampilan proses sains.

Keterampilan proses sains sangat erat dalam kegiatan ilmiah untuk pemecahan masalah dan terangkum dalam suatu artikel ilmiah. Artikel ilmiah disusun berdasarkan penelitian yang dilakukan dengan dasar perkembangan ilmu pengetahuan melalui proses scientific research. Carin dan Sund, (1985) mengungkapkan bahwa proses saintifik tersebut diawali dengan observasi, identifikasi masalah, perumusan kerangka pemikiran, perumusan hipotesis, pengujian hipotesis, pengumpulan data, analisis data, interpretasi data, dan penarikan kesimpulan serta bersifat kritikal dan objektif yang memiliki tujuan untuk menemukan jawaban atau pemecahan atas satu atau beberapa masalah yang diteliti (Bundu 2006: 5). Selain itu dalam artikel ilmiah terdapat alat berpikir seperti tabel, gambar dan garafik yang dapat dijadikan sebagai alat belajar untuk meningkatkan keterampilan menginterpretasi pada siswa, sehingga kegiatan belajar dalam kelas menjadi lebih efektif. Untuk itulah dengan menganalisis artikel ilmiah dapat melatih siswa untuk meningkatkan keterampilan proses yang dimiliki oleh mereka.

(4)

(Pembelajaran berbasis masalah). Menurut Barrows & Tamblyn (1980) menjelaskan strategi PBL ini merupakan sebuah strategi pembelajaran yang didasarkan pada prinsip bahwa masalah (problem) dapat digunakan sebagai titik awal untuk mendapatkan atau mengintegrasikan ilmu (knowledge) baru (Cheong, 2007: 142). Masalah yang digunakan untuk mengembangkan keterampilan proses sains siswa berupa artikel ilmiah Artikel ilmiah akan membuat siswa belajar dan diintergrasikan dengan metode pembelajaran Problem Based Learning (PBL) yang didasarkan pada prinsip bahwa masalah (problem) dapat digunakan sebagai titik awal untuk mendapatkan atau membangun ilmu baru.

Dapat disimpulkan bahwa metode PBL sangat menunjang terjadinya kondisi lingkungan belajar yang memusatkan pada siswa dan masalah yang terkait, dimana siswa akan memulai untuk memikirkan dan menganalisisnya menggunakan keterampilan ilmiah mereka menjadi suatu informasi dan pengalaman yang baru. Dengan demikian, pengalaman tersebut diperlukan untuk membelajarkan diri merekan dalam pengembangan pola pikir dan pola kerja di kehidupan mereka sehari-hari. Sehingga penulis tertarik untuk mengetahui sejauh manakah artikel imliah berpengaruh terhadap keterampilan proses sains siswa.

Berdasarkan analisis di atas maka penelitian merumuskan masalah yaitu, “Apakah terdapat pengaruh pembiasaan menganalisis artikel ilmiah terhadap keterampilan proses sains siswa kelas X SMA Negeri 106 Jakarta pada materi Ekosistem?“ dan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui

pengaruh pembiasaan menganalisis artikel ilmiah terhadap keterampilan proses sains siswa kelas X pada materi Ekosistem.

METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 106 Jakarta Timur. Adapun waktu penelitian ini dilakukan pada semester II tahun ajaran 2013-2014 dan dilaksanakan pada tanggal 1 Mei 2014 s/d 28 Mei 2014. Menggunakan metode penelitian Quasy Eksperiment yaitu metode yang tidak memungkinkan peneliti melakukan pengendalian penuh terhadap variabel dan kondisi eksperimen. Siswa terbagi menjadi dua kelompok, pada kedua kelompok tersebut diberikan perlakuan yang berbeda, dengan tujuan untuk menyelidiki kemungkinan saling keterkaitan antara variabel bebas dan variabel terikat. Desain penelitian menggunakan model Desain Kelompok Kontrol Pretes-Postes Beracak (Randomized Pretest-Posttest Control Group Design). Pada desain ini dua kelompok yang dipilih secara random kemudian diberi pretest untuk mengetahui keadaan awal pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.

Pelaksanaan penelitian ini, penulis menggunakan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Siswa (LKS), Lembar Pertanyaan (LP) yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran di kelas kontrol, dan ditambahkan Artikel Ilmiah di kelas eksperimen. Sedangkan untuk mengukur keterampilan proses sains siswa pada materi pembahasan ekosistem, penulis menggunakan instrumen tes KPS.

(5)

ganda (multiple choice), yang terdiri dari 30 butir soal. Winkel (1996) menjelaskan bahwa metode penilaian yang dapat digunakan dalam penilaian proses yaiu dapat berupa membuat daftar pernyataan bisa dalam bentuk pilihan ganda (Bundu, 2006: 62). Selain itu tes dalam bentuk pilihan ganda lebih praktis, lebih mudah diperiksa dan sesuai dengan kriteria penilaian proses sains yang dikemukakan oleh Mason (1988) antara lain, mempermudah dalam mengamati, mengklasifikasi, mengukur, menarik kesimpulan dan dapat dibuat berdasarkan asil eksperimen (Bundu, 2006: 66). Soal tes dibatasi untuk mengukur indikator-indikator KPS mengaplikasi, menginferensi, mengklasifi-kasi, mengkomunikasi, dan mengajukan petanyaan. Setiap soal terdiri atas 5

option alternatif jawaban dengan satu jawaban yang paling benar. Tes diberikan sebelum (Pretes) dan setelah (Postes) siswa mempelajari materi pembahasan ekosistem. Dalam hal ini, kegiatan pembelajaran menggunakan pembiasaan menganalisis artikel ilmiah dalam metode problem based learning

pada kelas eksperimen dan pembelajaran strategi pembelajaran

problem based learning di kelas

kontrol. Di mana bentuk tes yang digunakan untuk kedua kelas tersebut sama.

Berdasarkan teknik analisis dan interpretasi tes hasil belajar menurut Purwanto (2013: 118), untuk mengetahui apakah 41 soal tersebut memenuhi syarat soal yang baik, maka dilakukan pengujian validitas, reliabilitas, taraf kesukaran, dan daya pembeda soal.

Suatu butir soal dikatakan valid jika rbis soal tersebut yang diperoleh

dari perpotongan nilai PL dan PU

berdasarkan tabel Normalized Biseral Coefficient of Correlation lebih besar dari 0,20. Kemudian untuk menentukan validitas suatu perangkat instrumen tes yang dinyatakan dengan angka korelasi koefisien (rxy) menggunakan rumus

product momment correlation metode Pearson (Akbar, 2011: 55) sebagai berikut:

Keterangan:

rxy = angka korelasi product momment

x = nilai deviasi dari skor ganjil, y = nilai deviasi dari skor genap,

Selanjutnya untuk mengetahui reliabilitas tes dihitung menggunakan rumus korelasi Spearman-Brown berikut,

Keterangan:

= Koefisien korelasi antara belahan tes,

= Koefisien reliabilitas yang sudah disesuaikan.

Untuk menghitung daya pembeda dari suatu soal tes ialah bagaimana kemampuan soal itu untuk membedakan siswa-siswa yang termasuk kelompok pandai (upper

group) dengan siswa-siswa yang

(6)

Keterangan: DP

U

L

T

= Daya Pembeda

= Jumlah siswa (dalam kelompok upper group) yang menjawab benar untuk tiap soal

= Jumlah siswa (dalam kelompok lower group) yang menjawab benar untuk tiap soal

= Jumlah siswa keseluruhaan dalam kelompok lower dan upper group

Kemudian untuk Untuk menghitung taraf kesukaran soal dari suatu tes dipergunakan rumus sebagai berikut:

Keterangan :

TK U

L

T

= Tingkat atau taraf kesukaran yang dicari

= Jumlah siswa (dalam kelompok upper group) yang menjawab benar untuk tiap soal

= Jumlah siswa (dalam kelompok lower group) yang menjawab benar untuk tiap soal

= Jumlah siswa keseluruhaan dalam kelompok lower dan upper group

Setelah dilakukan analisis setelah kegiatan pretes dan postes teernyata, sejak awal kedua kelas ini telah memiliki perbedaan keterampilan

proses dalam belajar. Untuk itu peneliti memutuskan menggunakan analisis nilai gain agar tidak terjadi kesalahan dalam pengujian hipotesis dan interpretasi perolehan KPS siswa. Selain itu juga uji nilai gain yang digunakan peneliti untuk melihat seberapa besar penguasaan konsep yang diperoleh siswa setelah pembelajaran dilakukan.

Nilai gain menggunakan rumus gain terormalisasi, dari Hake (2002: 1) sebagai berikut.

Keterangan:

g = rata-rata gain yang ternormalisasi G = rata-rata gain aktual

Gmax = gain maksimum yang mungkin terjadi

Sf = rata-rata skor postes (final score) Si= rata-rata skor pretes (initial score)

Kemudian dilakukan uji prasyarat analisis menggunakan uji normalitas. Uji normalitas data ini dilakukan untuk mengetahui apakah sampel yang diteliti berdistribusi normal atau tidak. Uji kenormalan yang digunakan adalah uji chi-kuadrat (χ2) menggunakan rumus sebagai berikut.

Keterangan

X2 = Chi Kuadrat

f0 = Frekuensi Observasi fe = Frekuensi Ekspektasi

(7)

karena kedua data dari kelas kontrol dan eksperimen berdistribusi tidak normal. Untuk menguji hipotesis di atas dengan taraf nyata α = 0,01 atau α = 0,05, nilai J yang diperoleh di atas dibandingkan dengan J yang diperoleh dari lampiran 14. Jika J dari perhitungan lebih kecil atau sama dengan J dari tabel (J Kritis) berdasarkan taraf nyata yang dipilih maka H0 ditolak (Whitung ≤ Wtabel, H0 ditolak). Dalam hal lainnya H0 diterima. Jika ukuran sampel lebih dari 25 dapat dihitung menggunakan rumus

Dimana: W n x

= Nilai Kritis J = Jumlah sampel = konstanta :

- untuk taraf signifikansi 1%, x = 2,5758, sedangkan - untuk taraf signifikansi

5%, x = 1,96

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei 2014 di SMA Negeri 106 Jakarta Timur. Sampel penelitian yaitu kelas X IPA 2 sebagai kelas eksperimen yang mendapatkan pengajaran mengenai pokok bahasan Ekosistem berupa menggunakan Artikel Ilmiah dalam pembelajaran menggunakan strategi pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Sedangkan, kelas X IPA 1 sebagai kelas kontrol yang mendapatkan pengajaran mengenai pokok bahasan Ekosistem menggunakan strategi pembelajaran

Problem Based Learning (PBL).

Jumlah siswa yang terdapat dalam masing-masing kelas tersebut adalah 35 siswa pada kelas eksperimen dan 36

siswa pada kelas kontrol. Berikut penjelasan mengenai data-data yang diperoleh dari penelitian.

a. Kelas Eksperimen

1) Hasil Pretes dan Postes KPS

Berdasarkan kegiatan pretes dan postes, terdapat siswa kelas eksperimen yang tidak mengikuti kegiatan tersebut, sehingga hanya terdapat 30 siswa yang memenuhi syarat untuk dijadikan sampel (nt). Hasil analisis keterampilan proses siswa kelas eksperimen pada kondisi awal dengan standar deviasi 8,195 dan diperoleh rata-rata skor pretes yaitu 64,13 dengan nilai terendah 50 dan nilai teringgi 80, sedangkan pada postes kelas eksperimen memiliki Standar deviasi 6,004 dan diperoleh rata-rata skor postes sebesar 74,60 dengan nilai terendah 60 dan nilai tertinggi 87. Dengan demikian terlihat bahwa kelas eksperimen mengalami rata-rata peningkatan hasil belajar dalam pembelajaran dengan selisih yaitu sebesar 10,47.

Berdasarkan nilai pretes dan postes, diperoleh analisis hasil indikator keterampilan proses sains yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut:

Tabel. 1. Persentase Keterampilan Proses Sains Kelas Eksperimen

(8)

2) Nilai Gain KPS

Untuk melihat seberapa tinggi keterampilan proses sains siswa di kelas eksperimen berdasarkan pretes dan postes yang dilakukan, peneliti menggunakan rumus Gain Ternormalisasi. Setelah dilakukan perhitungan nilai gain rata-rata siswa kelas eksperimen ialah 0,29 dan termasuk dalam kategori rendah. Sedangkan untuk melihat keterampilan proses sains masing-masing siswa secara keseluruhan berdasarkan nilai Gain dapat dilihat pada lampiran 8 halaman 166. Hal ini menunjukkan bahwa keterampilan proses sains siswa kelas eksperimen mengenai materi ekosistem meningkat sebesar 29% saat pembelajaran menggunakan pembiasaan menganalisis artikel ilmiah.

b. Kelas Kontrol

1) Hasil Pretes dan Postes KPS

Berdasarkan kegiatan pretes dan postes, terdapat siswa kelas kontrol yang tidak mengikuti kegiatan tersebut, sehingga hanya terdapat 30 siswa yang memenuhi syarat untuk dijadikan sampel (nt). Hasil analisis keterampilan proses siswa kelas kontrol pada kondisi awal dengan Standar deviasi 13,991 dan diperoleh rata-rata skor pretes yaitu 67,67 dengan nilai terendah 37 dan nilai teringgi 90, sedangkan postes kelas kontrol yang memiliki standar deviasi 9,474 dan diperoleh rata-rata skor postes yaitu 71,33 dengan nilai terendah 53 dan nilai tertinggi 93. Dengan demikian terlihat bahwa kelas eksperimen mengalami peningkatan keterampilan proses sains dalam

pembelajaran dengan selisih yaitu sebesar 3,66.

Berdasarkan nilai pretes dan postes, diperoleh hasil analisis indikator keterampilan proses sains yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut:

Tabel. 2. Persentase Keterampilan Proses Sains Kelas Kontrol

N

O INDIKATOR KPS

PERSENTASE KPS SISWA PADA PRETES POSTES

1 Aplikasi 59% 77%

2 Inferensi 64% 74%

3 Klasifikasi 73% 89%

4 Komunikasi 72% 68%

5 Mengajukan Pertanyaan 69% 41%

RATA-RATA 66.5% 71,5%

Secara keseluruhan keteram-pilan proses sains siswa kelas eksperimen meningkat dari 66,5% pada tahapan pretes menjadi 71,5% pada tahapan postes. Hal ini menunjukkan terdapat peningkatan keterampilan proses sains sebesar 5% pada pembelajaran tanpa menggunakan pembiasaan menganalisis artikel ilmiah. Sehingga dapat dikatakan bahwa dengan menggunakan strategi pembelajaran berbasis masalah tanpa menggunakan artikel ilmiah sebagai sumber belajar dapat meningkatkan keterampilan proses sains siswa kelas X.

2) Nilai Gain

(9)

kelas kontrol berdasarkan pretes dan postes yang dilakukan, peneliti menggunakan rumus Gain Ternormalisasi. Setelah dilakukan perhitungan nilai gain rata-rata siswa kelas eksperimen ialah 0,11 dan termasuk dalam kategori rendah. Sedangkan untuk melihat keterampilan proses sains masing-masing siswa secara keseluruhan berdasarkan nilai Gain dapat dilihat pada lampiran 9 halaman 169. Hal ini menunjukkan bahwa keterampilan proses sains siswa kelas eksperimen mengenai materi ekosistem menurun sebesar 11% saat pembelajaran tanpa menggunakan pembiasaan menganalisis artikel ilmiah.

c. Perbandingan KPS kedua kelas sampel.

Setelah dilakukan analisis data pada pembahasan di atas dapat dikatakan bahwa kelas eksperimen memiliki nilai rata-rata KPS yang lebih baik tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol. Perbedaan KPS yang diperoleh dapat tersaji pada gambar di bawah ini.

Gambar 1.

Perbandingan nilai rata-rata KPS kelas eksperimen dan kelas kontrol

Berdasarkan kegiatan pretes yang dilakukan diperoleh hasil analisis persentase keterampilan proses sains siswa pada kedua kelas sampel. Terdapat perbedaan yang menunjukkan bahwa kelas kontrol memiliki keterampilan proses sains yang lebih baik pada setiap indikator. Tetapi pada indikator menginferensi, kelas eksperimen memiliki keterampilan proses yang lebih baik dibandingkan dengan kelas kontrol. Gambar di bawah ini menyajikan selengkanya perbandingan persentase keterampilan proses sains siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol setelah dilakukan pretes.

Gambar 2.

Perbandingan keterampilan proses sains yang dimiliki oleh siswa pada

kelas kontrol dan kelas eksperimen sebelum perlakuan. A = Aplikasi, I =

Infrensi, Kl = Klasifikasi, Ko = Komunkasi, MP = Mengajukan

(10)

Berdasarkan kegiatan postes yang dilakukan diperoleh hasil analisis persentase keterampilan proses sains siswa pada kedua kelas sampel. Terdapat perbedaan yang menunjukkan bahwa kelas eksperimen memiliki keterampilan proses sains yang lebih baik pada setiap indikator. Tetapi pada indikator mengklasifikasi, kelas kontrol memiliki keterampilan proses yang lebih baik dibandingkan dengan kelas eksperimen. Gambar di bawah ini menyajikan selengkanya perbandingan persentase keterampilan proses sains siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol setelah dilakukan postes.

Gambar 3.

Perbandingan keterampilan proses sains yang dimiliki oleh siswa pada kelas kontrol dan kelas eksperimen sesudah perlakuan. A = Aplikasi, I =

Infrensi, Kl = Klasifikasi, Ko = Komunkasi, MP = Mengajukan

Pertanyaan.

Setelah dilakukan uji normalitas pretes, postes, dan gain kedua kelas sampel. Berdasarkan analisis data tersebut terdapat perbedaan nilai rata-rata kelas kontrol dan kelas eksperimen. Untuk menghindari interpretasi data yang salah maka digunakanlah nilai gain dalam pengujian hipotesis. Dari tabel di atas terlihat bahwa hasil pengujian untuk kelas eksperimen pada pokok

bahasan Ekosistem diperoleh harga χ2

hitung

= 11,66. Sedangkan χ2

tabel = 11,34 yang

diperoleh dari tabel harga kritis chi-kuadrat untuk nt = 30 dengan db = 3 pada taraf signifikan α = 0,01. Kesimpulan hasil

perhitungan diatas ialah χ2

hitung = 11,66 > χ2

tabel = 11,34, maka H0 diterima yang

berarti data sampel kelompok eksperimen berasal dari populasi yang berdistribusi tidak normal. Sedangkan, pengujian untuk kelas kontrol pada pokok bahasan

Ekosistem diperoleh harga χ2

hitung = 11,97.

Sedangkan χ2

tabel = 11,34 berasal dari tabel

harga kritis chi-kuadrat untuk nt = 30 dengan db = 3 pada taraf signifikan α = 0,01. Kesimpulan hasil perhitungan diatas

ialah χ2

hitung = 11,97 > χ2tabel = 11,34, maka

Ho diterima, yang berarti data sampel kelompok kontrol berasal dari populasi yang berdistribusi tidak normal. Dengan demikian, karena data dari kedua kelas sampel berdistribusi tidak normal, untuk pengujian hipotesis maka digunakanlah

statistik non-parametrik yaitu Uji

Wilcoxon. Rangkuman hasil pengujian

(11)

Tabel. 3. Hasil Uji Normalitas

Pengujian hipotesis yang dilakukan untuk mengetahui pengaruh pembiasaan menganalisis artikel ilmiah menggunakan nilai gain siswa, untuk menghindari kesalahan interpretasi data yang didapatkan. Setelah dilakukan Uji Wilcoxon diperoleh hasil pengujian hipotesis penelitian yang tersaji pada tabel di bawah ini.

Tabel. 4. Hasil Uji Hipotesis

Untuk menentukan penolakan H0

digunakan Whitung yang di ambil dari nilai

terkecil antara kedua rank. Jika Whitung <

Wtabel , maka H0 ditolak, dan

sebaliknya Jika Whitung > Wtabel , maka

H0 diterima. Dari hasil pengujian

hipotesis dengan menggunakan uji non-parametrik uji W, diperoleh Whitung = 437 pada jumlah rank yang bertanda postitif dan Whitung = 28 pada jumlah

rank yang bertanda negatif. Kemudian, dari perhitungan nilai Wtabel yang pada taraf signifikansi dengan α = 0,01 diperoleh Wtabel = 107,27. Sehingga Whitung < Wtabel , atau H0 ditolak.

Dengan demikian, penerapan pembiasaan menganalisis artikel ilmiah dapat meningkatkan keterampilan proses sains siswa

PEMBAHASAN

Analisis uji gain yang dilakukan menunjukkan adanya peningkatan keterampilan proses sains siswa kelas eksperimen eksperimen sebesar 29% yang jika dibandingkan dengan kelas kontrol hanya sebesar 11%. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan KPS pada kelas eksperimen mengalami peningkatan setelah mengikuti pembelajaran dengan menerapkan pembiasaan menganalisis artikel ilmiah.

(12)

materi pelajaran yang mereka dapatkan. Hal tersebut sesuai dengan penjelasan Limba (2004) dalam Rustaman (2005: 15) bahwa keterampilan proses sains dan penguasaan konsep akan meningkat secara signifikan pada siswa melalui proses penemuan (inkuiri). Keterampilan proses sains digunakan dalam artikel ilmiah yang merupakan karya tulis ilmiah yang disusun berdasarkan penelitian. Suatu penelitian merupakan kegiatan ilmiah yang bersifat eksperimetal dengan menggunakan kemampuan ilmiah (Etkina et al. 2006, dalam Akbar, 2010: 4), dan keterampilan-keterampilan dasar yang dikenal dengan keterampilan proses sains (Rustaman, 2005, dalam Akbar, 2011: 27). Diantaranya ialah aplikasi, inferensi, komunikasi, klasifikasi, mengajukan pertanyaan, hipotesis, observasi, hipotesis, prediksi, dan eksperimen (Rustaman, 2007: 9).

Artikel ilmiah memiliki data yang bersifat faktual yang dapat dijadikan sebagai bahan untuk memahami suatu konsep ilmiah yang dipakai dalam memecahkan masalah. Peneliti menggunakan strategi pembelajaran

Problem Based Learnig (PBL) karena memiliki keunggulan dalam hal membangun lingkungan pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk membangun pengetahuan secara mandiri melalui media diskusi dan dapat membangun keterampilan serta sikap generik pada siswa seperti mengingat, mendengarkan, kerja sama, menghargai pendapat, kemampuan

evaluasi kritis, dan memiliki kemampuan presentasi (Wood, 2003: 8). Artikel ilmiah digunakan sebagai sumber pembelajaran (triggers material) sebagaimana dikatakan oleh Wood (2003: 8) bahwa artikel ilmiah yang dimuat di surat kabar atau jurnal ilmiah merupakan contoh sumber pembelajaran atau “masalah pemicu” dalam strategi pembelajaran PBL. Kemudian strategi pembelajaran PBL ini mengutamakan pembelajaran yang bersifat student centerd, generic competencies, integration, motivation,

deep learning, dan constructivist

approach (Wood, 2003: 8). Kemudian

berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Fadiawati dan Diawati (2011: 38) menunjukkan bahwa strategi pembelajaran berbasis masalah ini dapat meningkatkan keterampilan proses mengelompokkan dan mengkomunikasikan. Hal inilah yang menjadi landasan yang digunakan untuk memahami konsep Ekosistem dan meningkatkan keterampilan proses sains yang berasal dari artikel ilmiah. Dari lima indikator KPS yang digunakan, dengan pembiasaan menganalisis artikel ilmiah, siswa kelas eksperimen memiliki ketarampilan proses sains lebih baik dibandingkan dengan kelas kontrol. Beberapa temuan yang kami dapatkan berdasarkan penelitian yang telah dilakukan sebagai berikut.

(13)

mengalami perbeddaan dan berdasarkan hasil selisih tersebut, kelas eksperimen memiliki keterampilan komunikasi yang lebih baik dibandingkan dengan kelas kontrol. Hal ini dikarenakan dalam artikel ilmiah mengandung alat berpikir yaitu berupa diagram, grafik, hasil analisis statistik dan matematis (Suryana, 2010: 13). Alat berpikir tersebut digunakan oleh siswa dalam diskusi sesamanya untuk menghubungkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya dengan pengetahuan baru dalam artikel ilmiah menjadi sebuah pengetahuan lengkap. Kemudian dengan kemampuan berkomunikasi siswa mematangkan ilmu pengetahuan yang dimiliki melalui diskusi sesamanya dengan mengidentifikasi masalah pada artikel ilmiah yang mereka pelajari. Seperti yang dikatakan Lawrence (2003) dalam Lasa (2009: 6) bahwa seorang anak hanya mampu mengingat 10% dari yang didengarnya, 50% dari yang dilihat/dibaca, 70% dari yang dikatakannya. Dan dijelaskan oleh Rustaman (2007: 3) bahwa dalam membangun gagasan ilmiah pada diri siswa melalui penyelidikan bebas diperlukan media diskusi sesamanya.

Kedua, Keterampilan mengajukan pertanyaan pada kelas eksperimen menjadi lebih baik dibandingkan dengan kelas kontrol. Hal ini dikarenakan dengan pembiasaan menganalisis artikel ilmiah memungkinkan siswa seperti sorang ilmuan karena mengajak siswa dalam mendata, menganalisis dan

(14)

bagaimana hal itu ditemukan (Rustaman, 2007: 17).

Dengan demikian penerapan pembiasaan menganalisis artikel ilmiah dapat meningkatkan keterampilan proses sains siswa kelas X SMA Negeri 106 Jakarta pada pokok bahasan Ekosistem yang materinya berkaitan langsung terhadap objek dan peristiwa yang ada di alam. Deskripsi di atas menunjukkan bahwa baik secara teori dan empiris, pembiasaan menganalisis artikel ilmiah terbukti oleh data dan didukung oleh teori yang ada dapat meningkatkan keterampilan proses sains komunikasi, inferensi, klasifikasi, aplikasi, dan mengajukan pertanyaan. KESIMPULAN

Berdasarkan data yang telah penulis analisis di atas maka penulis menarik kesimpulan, yaitu:

1. Ada pengaruh pembiasaan menganalisis artikel ilmiah terhadap keterampilan proses sains siswa kelas X SMA Negeri 106 Jakarta. 2. Setelah diterapkan pembiasaan

menganalisis artikel ilmiah, kegiatan belajar di dalam kelas menjadi lebih aktif dan penguasaan konsep yang dimiliki oleh siswa menjadi lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

Akbar, B. & Rustaman, N. Y. 2010.

Penguasaan Keterampilan Proses

Sains Guru SD. J. Educatio

Indonesiae, 18 (1) : 1-16.

Akbar, B. 2011. Efektivitas Pembekalan Kompetensi Mahasis-wa Calon Guru SD Dalam

Asesmen IPA. [Disertasi]. Program

Studi Pendidikan IPA. Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidik-an Indonesia.

Amirulloh, A. W., Rosdiana, R., Budiana, S. 2013. Kemampuan Menganalisis Fungsi Unsur-unsur Kalimat Pada Artikel Surat Kabar Kompas Siswa Kelas XI SMA Plus

PGRI Cibinong. Program Studi

Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonseia. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Pakuan.

Bundu, P. 2006. Penilaian Keterampil-an Proses Sains dKeterampil-an Sikap Ilmiah dalam Pembelajaran Sains – SD. Jakarta: Direktorat Ketenagaan Dirjen Dikti Depdiknas.

Cheong, F. 2007. Using a Problem Based Learning Aprroach to teach an Intelligent Systems Course.

Proceedings of The Computer Science and IT Education Conference, p : 143-153

Depdiknas. 2006. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 dan 23 Tahun 2006. Jakarta

Devi, P. K. 2010. Keterampilan Proses Sains untuk Siswa SMP. Jakarta: PPPPTK IPA.

DIKBUD. 2014. Mendidik Sejak Dini,

Sekolah Setinggi Mungkin,

Menjangkau Lebih Luas. Jakarta: Majalah Edisi No. 1, Tahun V. Fadiawati, N., & Diawati, C. 2011. The

Problem-Based Learning Model To Increase Students Skills in

Communication, Classification,

and Comprehension of Acid-Base

Concept. Seminar Nasional

Pendidikan MIPA, Universitas Lampung.

Hake, R. R. 2002. Assessment of Student Learning in Introductory

(15)

Ecology: Lessons from the physics education reform effort. 5 (2): 28. Tersedia [Online]: http://www.eco logyandsociety.org/vol5/iss2/art28. Diakses: 7/20/2014. 06:54 AM. Hariyatmi. 2010. Pendekatan

Keterampilan Proses. Pembelajar-an PKP. Universitas PendidikPembelajar-an Indonesia: Bandung

Harlen, W. 2006. Exploratorium, Workshop II: Assessing Process

Skills. San Fransisco :

Exploratorium and The Institute Of Inquiry

Harlen, W. 2008. UNESCO Sourcebook for Science in The Primary-School, A Workshop Aproach to Teacher Education: Developing Understan-ding and Skills for Teaching

Primary-School Science.

UNESCO. Terseda:. http://www.te india.nic.in/Files/Teacher_Trg_Mo dule/19_UNESCO_Sourcebook.pd f. Diambil: 7/11/2014, 11:17 AM. Haryanto. 2009. Upaya Meningkatkan

Kemampuan Membaca dan

Menulis Permulaan Dengan Media

Gambar. [Tesis]. Program

Pascasarjana Universitas Sebelas Maret: Surakarta

Karamustafaoğlu, S. 2011. Improving the Science Process Skills Ability of Science Student Teachers Using I Diagrams. Eurasian Journal of Physics and Chemistry Education. 3 (1): 26-38. dan Penulis Dalam Peningkatan Minat Baca Masyarakat. J. Visi Pustaka, 11 (2): 6-14

Mayer, R. E. 2002. Rote Versus

Meaningful Learning. J. Theory

Into Practice, 41 (4): 226-232 Mennin, S. 2007. Small Group Problem

Based Learning as a Complex

General Physics Classroom.

Hamline University: Saint Paul, Minnesota.

Ngalimun. 2013. Strategi dan Model

Pembelajaran. Yogyakarta:

Aswaja Presindo.

Pardjono & Wardaya. 2009.

Peningkatan Kemampuan Analisis, Sintesis, dan Evaluasi Melalui

Pembelajaran Problem Solving.

Cakrawla Pendidikan. 28 (3): 257-269

PISA. 2009. Programme for Internatio nal Student Assessment (PISA); Highlights of Ontario Student

Results. Education Quality and

Accountability Office (EQAO). Purwanto, M. Ngalim. 2013.

Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi

Pengajaran. Bandung: Remaja

Rosdakarya Offset.

Rusmono. 2012. Strategi Pembelajaran

Problem Based Learning. Bogor:

Ghalia Indonesia.

Rustaman, N. Y. 2003. Kemampuan Proses Ilmiah Dalam Pembelajar an Sains. Universitas Pendidikan Indonesia: Bandung.

. 2005. Perkembangan Peneliti an Pembelajaran Berbasis Inkuiri

dalam Pendidikan Sains. FP MIPA

Universitas Pendidikan Indonesia. . 2007. Keterampilan Proses

Sains. Sekolah Pasca Sarjana

(16)

Samsudin, A. 2010. Statistika Non-Parametrik: Uji Tanda, Uji

Wilcoxon, dan Kolmogrov

Smirnov. Jurusan Pendidikan

Fisika FPMIPA. Universitas Pendidikan Indoneisa.

Siahaan, S. 2012. Modul Pelatihan Diklat Pengembangan teknologi Pembelajaran: Penulisan Karya Tulis Ilmiah (Pemahaman Tentang Artikel Ilmiah/Karya Tulis Ilmiah). Jakarta: Pusat Teknologi Informasi Dan Komunikasi Pendidikan, Kemendikud.

Silberman, M. 2013. Pembelajaran Aktif: 101 Strategi untuk Mengajar Secara Aktif. Jakarta: Indeks. Subali, B. 2011. Pengukuran

Kreativitas Keterampilan Proses Sains Dala Konteks Assessment

For Learning. Cakrawala

Pendidika, 30 (1) : 130-144.

Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta

Suryana. 2010. Metode Penelitian:

Model Praktis Penelitian

Kuantitatif dan Kualitatif. Buku Bahan Ajar. Bandung: Unversitas Pendidikan Indonesia.

Suyatno. 2008. Metode Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based

Learning). Tersedia [online].

http://garduguru.blogspot.com/200 8/12/ metodepembelajaranberbasis-masalah.html. Diakses; 7/15/2014, 10:15 AM.

Wardani, S. 2008. Pengembangan Keterampilan Proses Sains Dalam Pembelajaran Kromatografi Lapis Tipis Melalui Praktikum Skala Mikro. Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia, 2 (2) : 317-322.

Wildatin, H. 2012. Teknik Menulis Artikel Ilmiah. Pelatihan Penulisan Produk Pengetahuan KMP PNPM

Mandiri Perkotaan Wilayah 1.

Tidak Dipublikasikan. Tersedia. http://www.pnpmperkotaan.org/pus taka/files/modulweb/TekniK_Men ulis_Artikel_Ilmiah.pdf.Diakses:7/ 20/ 2014, 05:20 AM

Wood, D. 2003. ABC – Learning and Teaching Medicine: Problem

Based Learning. London: BMJ

Publishing Group. p : 8-11

Gambar

tabel (J
Gambar 2. Perbandingan keterampilan proses
Perbandingan keterampilan proses Uji Gambar 3. statistik Wilcoxon. non-parametrik yaitu Rangkuman hasil pengujian
Tabel. 4. Hasil Uji Hipotesis

Referensi

Dokumen terkait

Pada penelitian ini, LKS berbasis problem solving Polya merupakan LKS non eksperimen bentuk questioning (membuat pertanyaan) yang menuntut siswa melakukan kegiatan

16 Dari 30 siswa yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler Paskibra terdapat 22 siswa membawa peci, 14 siswa membawa lencana burung garuda, dan 4 siswa tidak membawa keduanya.D.

Terlihat bahwa terdapat pengaruh dimana dengan mengunakan metode pembalajaran pada setiap kegiatan belajar mengajar disekolah siswa menjadi minat dalam mengikuti pelajaran

Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh pemahaman konsep dan keterampilan generik sains siswa pada kelas eksperimen yang mengikuti proses pembelajaran

Hal ini mengindikasikan, bahwa siswa yang terdapat pada kelompok belajar X MIPA3, X MIPA4 dan X MIPA 5 termotivasi untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar pada

Dilihat dari uraian di atas, diketahui bahwa terdapat 32 orang atau 86,48% siswa kelas eksperimen yang berhasil memenuhi keriteria ketuntasan minimal sekolah, yaitu 74 sehingga sesuai

“Pengaruh Pembiasaan Kegiatan Keagamaan terhadap Kedisiplinan Siswa SMP Al-Falah Dago Bandung.” Dalam Prosiding Pendidikan Agama Islam, Vol.. Bandung: Fakultas Tarbiyyah dan Keguruan,

Hal tersebut dapat dilihat dari aktivitas siswa dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar di dalam kelas bahwa dalam kelas eksperimen yang di terapkan model pembelajaran kooperatif tipe