• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sejarah Panjang Suara Perempuan dalam Hi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Sejarah Panjang Suara Perempuan dalam Hi"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Sejarah Panjang “Suara” Perempuan dalam Historiografi Indonesia Eka Ningtyas

[email protected]

A. Pendahuluan

Ada sebuah diskusi menarik mengenai kapan “suara-suara” perempuan hadir dalam

penulisan sejarah di Indonesia? Tentu saja untuk menjawab pertanyaan ini perlu menjawab pula mengenai, sejak kapan sebenarnya “suara-suara” perempuan ini hadir di dunia? Apakah “suara

-suara” perempuan di Indonesia ini mendapat pengaruh dari luar? Atau telah menjadi sebuah

perjalanan pandang yang berpusat dari dalam Indonesia itu sendiri? Mengapa suara perempuan harus dihadirkan dalam penulisan sejarah Indonesia? Apakah memang perempuan benar-benar tersubordinasi tidak hanya dalam kehidupan sosial, namun sampai masuk hingga dalam ranah tulisan sejarah? Mengapa harus mengkotak-kotakkan ini tulisan suara laki-laki dan ini tulisan suara perempuan dalam historiografi Indonesia? Mengapa harus ada istilah sumber patriarki? Apa yang membedakan sumber patriarki dengan sumber matriarki?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu bermunculan dalam benak saya, menghantarkan saya untuk memahami terlebih dahulu akar mula suara perempuan benar-benar hadir dalam memperjuangkan kesetaraan gender dengan laki-laki. Seperti dalam buku Irwan Abdullah1, Sangkan Paran Gender yang memberikan gambaran mengenai konsep nature-culture pada hubungan antara laki-laki dan perempuan. Perempuan digambarkan sebagai nature yang memiliki sifat alam seperti melahirkan, mendidik anak, mengurus urusan dalam rumah tangga saja, harus ditaklukkan atau ditundukkan oleh laki-laki supaya lebih berbudaya culture. Penjelasan dari Irwan Abdullah mengenai gambaran gender laki-laki dan perempuan ini tentu saja menyiratkan bagaimana posisi perempuan pada awalnya kurang menguntungkan dan bersifat domestic, sedangkan laki-laki lebih pada public. Pergumulan gender ini tentu saja masih terasa terkadang sampai hari ini, hal ini erat kaitannya dengan norma adat, budaya serta ajaran agama yang juga turut andil besar dalam konstruksi sosial mengenai gender ini.

Pada awalnya saya bingung hendak mencari buku seperti apa yang menyuarakan perempuan dalam tulisan sejarah? apakah tulisan kartini yang melegenda dan dianggap terlalu canggih untuk alam budaya pada masa itu? Ataukah tulisan pramudya anantatoer yang banyak mengambil setting feodalisme dalam menggambarkan perempuan? namun bila menggunakan tulisan-tulisan Pramudya Anantatoer, maka saya akan dihadapkan pada permasalahan, apakah bisa karya sastra dipergunakan sebagai sumber sejarah? karena menurut saya tidak semua karya

(2)

Pramudya Anantatoer dapat dipergunakan sebagai sumber sejarah2. ataukah tulisan-tulisan yang memang telah direkomendasikan oleh ibu Mutiah Amini seperti tulisan Linda Nicholson3, dan Joan Wallach Scoot4? Beberapa hari yang lalu Ronnie Hayley memberikan sebuah buku karya Jared Diamond5 yang dianggapnya terlalu laki-laki bahkan sama sekali tidak menyuarakan perempuan disitu, semakin membuat saya bertanya-tanya bagaimana sebenarnya membedakan tulisan laki-laki dan perempuan pada hakikatnya?

Keterbatasan pemahaman teoritis saya mengenai sejarah perempuan, dengan konsep-konsepnya yang berbau sangat antropologi sekali, menjadikan ketakutan tersendiri bagi saya tidak bisa membedakan mana kajian sejarah dan mana kajian antropologi. Karena memang kajian yang banyak membicarakan mengenai perempuan saat ini banyak dikaji oleh antropolog-antropolog. Sehingga dalam hal ini, saya akan mencoba menjelaskan sebisa saya mengingat belum banyaknya teori sejarah perempuan yang saya dapatkan dari matakuliah ini, karena memang teori akan diberikan setelah ujian tengah semester. Saya akan berusaha membuat konsep kerangka pemikiran saya.

B. Gerakan Perempuan = Suara Perempuan

Untuk menuju pada jawaban itu, saya akan mencari akar mula gerakan perempuan hadir dahulu melalui periodisasi. Saya membaginya menjadi dua gelombang pergerakan kesadaran kaum perempuan di Indonesia, yaitu pada akhir abad ke-19 dan pada tahun 1960-an. Dalam karya Saparinah Sadli6 menyebutkan mengenai pergerakan yang bertujuan untuk memajukan kaum perempuan yang terjadi di berbagai negara Barat pada akhir abad ke-19 yang biasa disebut sebagai gerakan kaum suffrage. Tema gerakan suffrage ini bersumber pada pikiran kaum sosialis yang menyadari bahwa dalam masyarakat masih ada suatu golongan manusia yang belum terfikirkan nasibnya. Golongan masyarakat yang terabaikan ini adalah kaum perempuan. Pemikiran dari kaum suffrage tentu saja membawa pengaruhnya sampai ke Hindia Belanda pada

2 Karya sastra memang benar dalam alam paradigma post-modernisme dapat dipergunakan sebagai sumber

sejarah, namun yang menjadi masalah sekarang ketika novel digunakan sebagai sumber sejarah. Karya sastra dapat dijadikan sumber sejarah selama karya tersebut merupakan wujud refleksi sosial yang terjadi pada masa tertentu dan biasanya penulis memiliki jiwa jaman yang khas dalam menghadirkan refleksinya tersebut. Sastra digunakan untuk menjelaskan realitas sejarah itu sendiri, karena didalam karya sastra juga terdapat frame of thought jika boleh mengutip istilah yang digunakan oleh Sartono Kartodirjo. Frame of thought yang ada dalam karya sastra tentunya berbentuk plot yang digunakan untuk mengatur alur cerita. Seperti dalam novel Kuartet dan cerita Minke dalam bukunya Pram, tidak bisa dijadikan sumber sejarah namun bisa digunakan untuk membangun imajinasi mengenai periode tahun itu.

3 Linda Nicholson, Gender and History: The Limits of Social Theory in the Age of the Family (New York:

Columbia University Press, hardback edition, 1986; paperback edition 1988).

4 Joan Wallach Scott, Gender and Politics History, Colombia University Press, 1988.

5 Jared Diamon, Guns, Germs, and Steel : the fates of human societies, (New York: W.W. Norton, 2005)

(3)

masa itu. Kartini yang hidup diakhir abad ke-19 melalui tulisan-tulisannya yang menuntut kesetaraan gender dalam hal pendidikan banyak terinspirasi dari tulisan seorang perempuan India bernama Pandita Rambai. Kartini beranggapan tulisan-tulisan Rambai sebagai perempuan non-Barat mampu mengutarakan pikiran-pikirannya secara gambling, khususnya mengenai nasib kaum perempuan di India. Dari situlah Kartini mulai banyak menghasilkan tulisan-tulisan yang menggebrak dan terlalu canggih untuk jamannya, seperti kita ketahui kartini lahir dalam keluarga feodal yang tentu saja sangat patriarki, karena itulah boleh dikatakan Kartini sebagai seorang feminis.

Gayung pun bersambut, politik etis mulai diberlakukan oleh Wilhelmina pada tahun 1901 di Hindia Belanda yang membuka peluang besar bagi pribumi untuk menuntut ilmu dalam pendidikan barat, tentu saja jumlah perempuan yang berpartisipasi masih sangat kecil dan dalam golongan tertentu saja yang bisa mengakses pendidikan pemerintah7. Dari sini kemudian kesadaran mengenai pendidikan dan kesetaraan gender mulai diperdengarkan dan feodalisme sedikit demi sedikit walau tidak seluruhnya, mulai longgar. Kesadaran-kesadaran itu kemudian membawa kita pada Angkatan Balai Pustaka yang bertahan sejak tahun 1920 hingga tahun 1930an dengan karya-karyanya yang melegenda seperti novel-novel karya Muhammad Yamin (Ken Arok Ken Dedes), Abdul Muis (Salah Asuhan), Marah Rusli (Siti Nurbaya), dan Merari Siregar (Azab dan Sengsara) yang bisa saya tarik garis memiliki kesamaan mengenai keadaan percintaan yang tentu saja tetap membuat posisi perempuan menjadi subordinasi laki-laki. Namun novel-novel diatas hadir dengan nilai-nilai yang tentu saja sesuai dengan jiwa jamannya pada masa itu. Bentuk perjuangan menuju kesetaraan dari perempuan-perempuan pada masa itu tentu saja berbeda dengan yang saat ini kita ketahui, berbeda pula value-nya.

Seperti dalam kisah Siti Nurbaya dan Kartini yang memiliki kesamaan pola, disaat mereka sedang memperjuangkan sesuatu yang tidak mudah dipenuhi pada jamannya (cinta dan masa depan), mereka harus mengalah dan menyerah ketika dihadapkan pada pilihan “ayah”, digambarkan Siti Nurbaya tunduk dan mau menikahi Datuk Maringgih karena rasa hormatnya yang begitu besar pada ayahnya, dan supaya ayahnya tidak dipenjarakan karena tidak sanggup membayar hutang. Sedikit berbeda dengan Kartini namun masih dalam pola yang sama, ketika Kartini melakukan kritik pada kehidupan feodalisme yang dijalaninya dalam surat-suratnya yang dikirimkan pada Mevrouw Abendanon, namun juga Kartini begitu menghormati ayahnya walau menjadikan ibunya yang dinikahinya pertama ketika masih menjabat sebagai wedana kemudian posisinya menjadi kedua setelah menjadi Bupati Jepara dan menikah lagi dengan perempuan yang sederajat dengan posisi barunya itu. Kartini harus memanggil dan memposisikan ibunya lebih rendah dari pada dia dan harus hormat kepada ibu keduanya. Protes-protes yang diajukan Kartini dengan kehidupan poligami seketika runtuh saat ayah yang sangat dihormatinya

7 Sekolah-sekolah swasta dari Misionaris Katolik dan Zending Kristen lebih longgar dalam aturan

(4)

memintanya menikah dengan Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat sebagai istri ketiga, ketika Kartini memprotes feodalisme dan kebiasaan berpoligami, namun ketika dihadapkan pada rasa hormat pada ayah (dalam konteks ini sebut saja sebenarnya kartini sangat Patriarkal), dia tidak bisa berbuat apa-apa. Sehingga bisa saya katakan semangat kartini memang luar biasa dan cerdas untuk jamannya bahkan menginspirasi hingga hari ini, namun Kartini tidak benar-benar berhasil menyuarakan emansipasinya dalam kehidupan pribadinya.

Gelombang gerakan kedua datang pada tahun 1960an yang ditandai dengan gerakan women’s lib di Amerika Serikat yang bersifat gerakan feminism walau untuk negara-negara Barat tertentu merupakan gerakan sosial-politik. gerakan women’s lib ini lebih kearah gerakan akademis untuk memikirkan nasib perempuan yang kemudian pengaruh dari women’s lib ini sampai juga di Indonesia dengan banyaknya studi-studi kajian perempuan, di Indonesia yang dimulai dari LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia). Dari dua gelombang kesadaran

“menyuarakan” perempuan ini dapat menjawab pertanyaan saya mengenai banyaknya tulisan

yang muncul mengenai perempuan, seperti novel-novel Balai Pustaka dan dari Pramudya Anantatoer maupun kajian-kajian perempuan yang dilakukan pada masa orde Baru dan setelah orde baru yang masih berjalan hingga hari ini. Represi yang dilakukan rezim orde baru sedikit banyak memberi pengaruh pada mandulnya kajian perempuan oleh penulis Indonesia dalam dekade tersebut.

Penulis sejarah disibukkan dengan perubahan sentrisme dalam kaitannya dengan semangat nasionalisme Indonesia. Namun saya berhasil menemukan dua buah buku dimana Elisabeth Locher-Scholeten8 menjadi editor dalam kedua buku tersebut9. Buku ini hadir sebagai bentuk tulisan gelombang gerakan perempuan kedua yang banyak mengkaji mengenai perempuan di Indonesia dengan mengumpulkan artikel-artikel dari penulis-penulis feminis. Tulisan yang saya anggap menarik datang dari tulisan Jean Gelman Taylor sebagai seorang sejarawan sosial yang menuliskan mengenai kehidupan sosial di Batavia dan memberikan contoh penulisan sejarah perempuan dimulai dari hal-hal yang kecil seperti dalam artikelnya yang berjudul Women as mediators in VOC Batavia.

Dalam paper ini menjelaskan mengenai aspek medias yang dil;akukan oleh perempuan Eurasia untuk komunitas pada kota perdagangan Batavia pada abad ke-17 dan ke-18. Perempuan mediator dalam paper ini merupakan anggota atau bagian dari elit perkotaan dan mereka menjadi mediator antara laki-laki imgran Eropa dengan orang-orang Asia yang didatangkan oleh Belanda ke Batavia. Mediasi budaya didalamnya melingkupi pengenalan imigran pria Eropa dengan bahasa di Batavia yang menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa utama hingga kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan orang Asia meliputi pakaian, makanan, konsep higienitas, kepercayaan dan hiburan dan kepaa keanggotaan dengan kelompok sosial ras campuran.

8 Sita van Bemmelen, Madelon Djajadiningrat-Nieuwenhuis, Elisabeth Locher-Scholten, Elly

Towen-Bouwsma, Women and Mediation in Indonesia, (Leiden: KITLV, 1992)

9 Elisabeth Locher-Scholten dan Anke Nienhof, Indonesian Women in Focus Past and Present Notion,

(5)

Tentu saja mediator perempuan ini membawa perempuan-perempuan Asia pada hubungan dengan orang-orang Eropa sebagai Istri, Pengasuh anak, budak dan simpanan. Beberapa orang Asia mengalami konversi agama menjadi Kristen, mempelajari kebudayaan Belanda, kemudian mengadopsi beberapa bagian dan pakaian Eropa dan menjalani hubungan okupasi atau pernikahan dengan pengusa kulit putih. Menurut Jean Gelman Taylor, yang menjadi perempuan mediator bukan perempuan Belanda tapi perempuan Eurasi yang merupakan produk pertemuan antara Barat dan Timur. Menariknya mereka tidak menghubungkan antara laki-laki Eropa dengan perempuan pribumi yang berasal dari keluarga ningrat atau yang berasal dari tradisi yang kuat namun lebih pada perempuan Asia dari kelompok sosial kebanyakan, yang berasal dari kelas buruh yang termasuk komunitas non-muslim.

Pada bagian awal paper ini menjelaskan mengenai regulasi yang diberlakukan VOC pada emigrasi orang-orang Eropa dan penerimaan hubungan perkawinan imigran Belanda dan orang Asia. Batavia itu sendiri merupakan subordinasi dari pemerintah VOC di Belanda (Heren XVII), sehingga semua keputusan yang dibuat di Batavia harus mendapat konfirmasi resmi dari VOC di Belanda, termasuk dalam regulasi perkawinan.

Dituliskan dalam paper itu bahwa laki-laki yang belum menikah dikirim untuk tinggal di barak-barak dan digambarkan oleh Jean Gelman Taylor makan di meja bersama-sama dan memiliki kecenderungan melakukan seks dengan para budak wanita. Hubungan seperti ini kemudian menghasilkan keturunan campuran yang dianggap memiliki daya tahan tubuh lebih menghadapi daerah tropis dan dianggap lebih sehar dari pada imigran Eropa yang di datangkan dari Belanda. Banyak kasus menyebutkan bahwa beberapa imigran tersebut meninggal dalam perjalanan karena tidak kuat daya tahan tubuhnya. Dan dari ras campuran ini kemudian jika menjadi sfatt VOC akan ditempatkan pada posisi yang berbeda dengan level yang lebih rendah. Beberapa pendapat mengatakan bahwa VOC mengirimkan perempuan Belanda totok untuk dipersiapkan sebagai istri pegawai VOC di Timur, namun praktik semacam ini tidak berjalan lama karena terlalu mahal serta tingkat kematian perempuan Belanda dan bayinya juga cukup tinggi.

Menurut saya, artikel ini cukup menyuarakan perempuan karena menggambarkan bagaimana perempuan pada masa VOC di Batavia menjadi agen mediator yang menengahi dua kebudayaan Barat dan Timur. Tulisan Taylor ini merupakan tulisan yang dibuat pada tahun 1990an, sehingga masuk dalam kategorisasi pembabakan waktu yang kedua. Walaupun konteks tulisan yang dibuatnya pada temporal dan spasial VOC di Batavia, namun tulisan ini cukup menyuarakan perempuan Eurasia di Batavia pada waktu itu. Perempuan mampu hadir sebagai agen sosial, yang tentunya untuk ukurang pada masa itu cukup sulit dilakukan terutama pada perempuan-perempuan yang masih terikat kuat dengan budaya feodalisme.

C. Kesimpulan

(6)

masih cukup baru dalam mengkaji sejarah perempuan. Saya mendapat beberapa teori yang diberikan oleh ibu Dr. Anna Marie Wattie dalam matakuliah seksualitas, kebudayaan dan masyarakat di jurusan pascasarjana Antropologi, namun tentu saja hal ini sangat berbeda dengan konteks sejarah perempuan, walau sama-sama mengkaji perempuan. Sehingga dari tulisan ini, bisa menggambarkan bagaimana kekosongan pengetahuan saya mengenai sejarah perempuan dengan konsep-konsep maupun pembabakan waktu ataupun sumber tertentu yang digunakan untuk membedakan antara sumber yang bersifat laki-laki dan yang perempuan. Kemudian supaya kekosongan itu diisi melalui matakuliah sejarah perempuan ini.

D. Daftar Pustaka

Elisabeth Locher-Scholten dan Anke Nienhof, Indonesian Women in Focus Past and Present Notion, Leiden: KITLV, 1987.

Jared Diamon, Guns, Germs, and Steel : the fates of human societies, New York: W.W. Norton, 2005.

Joan Wallach Scott, Gender and Politics History, Colombia University Press, 1988.

Irwan Abdullah, Sangkan Paran Gender, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1997

Iswanti, Jaman Emansipasi : Perempuan Katolik Pionir dari Mendut 1908-1943, Yogyakarta: Kanisius, 2005

Linda Nicholson, Gender and History: The Limits of Social Theory in the Age of the Family, New York: Columbia University Press, hardback edition, 1986; paperback edition 1988.

Saparinah Sadli, Berbeda Tetapi Setara, Jakarta : Penerbit Buku Kompas, 2010.

Referensi

Dokumen terkait

Analisa teknikal memfokuskan dalam melihat arah pergerakan dengan mempertimbangkan indikator-indikator pasar yang berbeda dengan analisa fundamental, sehingga rekomendasi yang

pelanggaran dan dosa, bahwa perlindungan hanya dari Allah semata, dan sekaligus menyadari bahwa segala sesuatu sudah ditentukan takdir baik dan buruknya;

Selain itu Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) juga merupakan salah satu mata kuliah yang wajib diikuti oleh mahasiswa program kependidikan di Universitas Negeri Semarang

(Sumber: Data primer diolah tahun 2015).. lukis” yang berlokasi di wilayah Tamansari. Produk dengan keunikan dan originalitas nggi tersebut banyak dibuat

Az UNCTAD adatai szerint 2014-ben a közvetlen mûködôtôke-állomány Oroszországban valamivel kevesebb mint 380 milliárd dollár volt, ha ehhez viszonyítjuk a kínai 8,7

Apabila Perseroan tidak dapat atau terlambat menerbitkan Sertifikat Jumbo Obligasi dan/atau memberi instruksi kepada KSEI untuk mengkreditkan Obligasi pada

Setelah menerapkan pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think Pair Share), diperoleh hasil penelitian kemampuan berpikir kritis siswa mengalami peningkatan pada setiap siklus,