• Tidak ada hasil yang ditemukan

Modal Budaya Pendidikan.pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Modal Budaya Pendidikan.pdf"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Peran Modal Budaya Bagi Pendidikan Masyarakat Tapal Batas

Oleh : Rahman Malik

Era otonomi daerah sudah bergulir. Secara ekonomis era otonomi daerah ini menjadikan daerah sebagai tambang emas bagi pembangunan di masa depan. Tambang emas itu berupa ekonomi di sektor pertambangan, pertanian, perkebunan, perikanan, perindustrian, dan pariwisata. Untaian emas semua tersebut sebenarnya bisa dinikmati, bila sumber daya manusia (SDM) nya cukup mendukung ke arah itu.

Berbeda dengan sektor disebutkan di atas, sektor pendidikan dalam pengembangan SDM ini, bukanlah emas yang diperoleh. Namun berupa manusia yang terdidik (educated man) dengan berbagai variasi kualitasnya. Untuk menghasilkan manusia yang terdidik itu tidak begitu mudah memperolehnya. Hal itu karena memerlukan waktu yang relatif lama, membutuhkan sarana dan prasarana serta dukungan lain yang memadai, tidak seperti menanam kelapa sawit yang dapat dikontrol dan dalam waktu tiga - empat tahun bisa dipetik buahnya.

Membicarakan soal pendidikan maka sudah tentu tak terlepas dari semua upaya yang dilakukan untuk mengembangkan kualitas sumberdaya manusia. Maka

sebagaimana rumusan nasional tentang “Pendidikan” dinyatakan bahwa pendidikan

adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan. Spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara ( UU RI No 20. Tahun 2003 ).

(2)

komponen bangsa terutama yang berkompeten dan terkait benar-benar memberikan kontribusinya secara sungguh-sungguh. Karenanya pemerintah Indonesia telah terpicu untuk mengejar ketertinggalan itu, yaitu dengan membulatkan tekad dan menetapkan arah kebijakan baru bagi pembenahan jalur dan jenjang pendidikan nasional. Karenanya saat ini pembenahan jalur pendidikan diarahkan untuk menunjang perbaikan peringkat Human Development Index (HDI) dimaksud.

Saat ini bisa dikatakan bahwa pendidikan kita sangat tertinggal jauh dari negara-negara ASEAN. Di ASEAN sendiri saat ini kualitas pendidikannya berada di posisi kelima dari 11 negara ASEAN dengan skor 0,603. Sedangkan kualitas pendidikan kita di dunia berada di posisi 108 dunia. kualitas pendidikan kita masih sangat jauh dari kata kualitas pendidikan yang bermutu. Kualitas mutu pendidikan kita tertinggal jauh dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya seperti Singapura yang berada di posisi nomor satu di ASEAN, kualitas mutu pendidikan Singapura diberi skor 0,768 yang artinya Singapura memiliki sistem pendidikan berkualitas terbaik di ASEAN bahkan di dunia. Kemudian di posisi kedua negara ASEAN yang memiliki tingkat kualitas pendidikan terbaik di ASEAN adalah Brunei Darusssalam. Negara ini mendapat indeks pendidikan sebesar 0,692 yang menempatkan kualitas pendidikan Brunei juga berada di posisi 30 dunia. sedangkan di posisi ketiga ditempati oleh Negeri Jiran yakni Malaysia, Indeks pendidikan Malaysia diberi skor 0,671 dan menempatkan negara itu juga berada di posisi 62 dalam daftar pendidikan terbaik di dunia.

(3)

Dari peta kualitas pendidikan yang ada diatas posisi kualitas pendidikan kita hanya lebih baik dari Filipina dan Vietnam dari daftar ranking kualitas pendidikan di dunia. bahkan yang lebih miris lagi kualitas pendidikan kita masih kalah dibawah negara-negara seperti Palestina, Samoa, dan Mongolia. Seperti yang kita ketahui bahwa negara Palestina saat ini sedang dilanda perang berkepenjangan dengan Israel. Miris kita melihatnya ketika mengetahui bahwa negara yang dilanda perang malah justru kualitas pendidikannya jauh lebih baik dari negara kita yang tidak sedang dilanda perang.

Hal ini tentunya menyebabkan kita bertanya-tanya apa yang salah dari sistem pendidikan kita sehingga mutu kualitas pendidikan kita masih berada jauh dari kata layak? Menurut hemat saya saat ini permasalahan pendidikan yakni ketimpangan kualitas pendidikan yang menjadi sorotan utama permasalahan pendidikan di negara ini. Ketimpangan pendidikan ini dapat dilihat pada timpangnya kualitas pendidikan antara kota dan desa pedalaman yang di Indonesia (termasuk dalam hal ini desa-desa yang berada di daerah perbatasan).

Kita melihat bahwa sarana dan prasarana pendidikan yang ada di kota saat bisa dikatakan sudah cukup memadai sedangkan di daerah perbatasan dan di desa-desa terpencil keadaan ini malah berbalik 180 derajat. Kita melihat bahwasannya potret pendidikan di kota-kota sudah maju dan sudah dibekali dengan sarana dan prasarana yang berbau teknologi sedangkan di desa atau di daerah perbatasan, jangankan terknologi, listrik pun belum tentu ada di sekolah mereka. Jadi tidak salah jika mendengar banyaknya sekolah yang rubuh di daerah perbatasan, banyaknya guru yang lebih memilih mengajar ke negara tetangga, dan yang lebih ironisnya lagi banyaknya anak-anak yang putus sekolah dan tidak mau sekolah yang lebih memilih bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Pembahasan

(4)

disana benar-benar adanya. Bukan mitos belaka jika kita menemukan banyaknya anak-anak yang putus sekolah dan menganggur di daerah perbatasan. Banyaknya cerita-cerita dari masyarakat di daerah perbatasan yang menceritakan banyaknya guru dari Indonesia yang lebih memilih mengajar di negara tetangga untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik. Tak jarang juga kita sering mendengarkan banyak bangunan sekolah yang tidak di aliri listrik dan banyaknya bangunan sekolah yang hampir rubuh disana. Itulah potret pendidikan negara kita di daerah perbatasan yang langsung berbatasan dengan negara lain. Miris memang mendengarkan bagaimana potret ketimpangan pendidikan antara di kota dan di daerah-daerah perbatasan.

Melihat kondisi sistem pendidikan di Indonesia saat ini, sulit untuk membuat gambaran secara umum dan terperinci untuk menjelaskan situasi sebenarnya yang terjadi pada daerah perbatasan mengenai pendidikan. Saat ini tak banyak lembaga-lembaga terkait atau stakeholder terkait yang peduli tentang nasib anak-anak bangsa ini di daerah perbatasan. Banyak anak-anak yang berada di daerah perbatasan yang bernasib tidak beruntung karena tidak dapat memperoleh pendidikan yang bermutu sebagaimana mestinya. Di beberapa kampung atau dusun misalnya yang berada di Kalimantan yang langsung berbatasan dengan Malaysia, anak-anak disana harus menempuh perjalanan dengan jalan kaki menuju ke sekolah, akses yang begitu sulitlah yang membuat anak-anak tersebut harus menerima kenyataan yang ada untuk menempuh pendidikan mereka.

(5)

tentunya jika ini terus dibiarkan. Inilah yang menjadi dampak buruk yang sebenarnya terjadi apabila pendidikan dan kesejahteraan masyarakat di daerah perbatasan diabaikan. Hal ini tentunya lambat laun akan mengikis rasa nasionalisme yang bukan tidak mungkin akan mengacam kedaulatan negara ini.

Berbicara pendidikan di daerah perbatasan tentunya hal ini juga akan membicarakan sinergi antara masyarakat dan pendidikan (sekolah) di daerah perbatasan. Nasution (1999) berbicara sinergi masyarakat dan sekolah yang menyatakan bahwa sekolah yang berorientasi penuh kepada kehidupan masyarakat disebut community school atau “sekolah masyarakat”. Sekolah ini berorientasi pada masalah-masalah kehidupan dalam masyarakat seperti masalah usaha manusia melestarikan alam, memanfaatkan sumber daya alam dan manusia, masalah kesehatan, kewarganegaraan, komunikasi dan lain sebagainya (Nasution, 1999: 149).

Melihat apa yang telah disampaikan Nasution dalam bukunya bahwa sinergi antara masyarakat dan pendidikan (sekolah) bisa memperbaiki kesenjangan kewarganegaraan. Permasalahan ketimpangan pendidikan yang terjadi di daerah perbatasan ini tidak terlepas juga dari disorientasi kewarganegaraan masyarakat yang berada di daerah perbatasan. Maka sebab itulah sebenarnya yang harus dilakukan adalah kesinergian masyarakat sekitar dan sekolah untuk membangun dan mendidik anak-anak yang ada di daerah perbatasan agar pengetahuan kewarganegaraan mereka bertambah tentang bangsa ini sehingga dikemudian hari rasa nasionalisme mereka mengakar kuat dan tidak mudah dipengaruhi oleh kelompok-kelompok tertentu yang ingin menghancurkan rasa nasionalisme mereka terhadap bangsa ini.

(6)

Melihat apa yang dimaksud Bourdieu tentang modal budaya yang menjelaskan bahwa modal budaya itu meliputi kualitas individu, pendidikan, pekerjaan, kesamaan kultur dan pembawaan, peneliti menggaris bawahi kualitas individu, pendidikan, dan pekerjaan seperti yang Bourdieu katakana sangat berhubungan erat dengan kualitas mutu pendidikan di daerah perbatasan yang menyebabkan terjadinya ketimpangan pendidikan antara kota-kota di Indonesia dengan daerah perbatasan Indonesia sebagai pintu gerbang negara.

Jika kita melihat kondisi potret pendidikan yang berada di daerah perbatasan seperti yang sudah digambarkan diatas, kualitas individu masyarakat kita di daerah perbatasan sangat memprihatinkan. Mengapa demikian ? karena untuk menciptakan kualitas individu yang baik sejatinya masyarakat di daerah perbatasan harus mendapatkan juga hak-hak pendidikan mereka secara baik dan layak, tetapi yang terjadi malah sebaliknya, masyarakat di daerah perbatasan sangat terbatas mendapatkan akses pendidikan di desa mereka. Sebagai contoh sangat terbatasnya masyarakat perbatasan di dalam mendapat kualitas mutu pendidikan yang baik adalah:

1. Susahnya akses jalan menuju sekolah mereka.

2. Banyaknya sekolah yang mau rubuh dan tidak memiliki listrik. 3. Terbatasnya tenaga pengajar

4. Terbatasnya buku-buku pelajaran untuk penunjang para siswa.

Melihat kondisi yang seperti ini di daerah perbatasan negara kita, bukan suatu hal yang aneh lagi jika banyak kualitas individu masyarakat di daerah perbatasan yang mengalami keterbelakangan pendidikan. Bourdieu sendiri mengatakan jika seorang individu ingin mendapatkan pengakuan yang baik di dalam masyarakat, maka ia tentunya harus memiliki kualitas individu yang baik juga di dalam dirinya yang berguna untuk memobilasi individu lainnya terhadap dirinya.

(7)

banyak juga dari mereka yang putus sekolah di tengah jalan, dan ada yang bahkan tidak mau sekolah sama sekali dan lebih memilih untuk bekerja membantu perekonomian keluarganya. Potret seperti ini menggambarkan secara jelas bahwa pendidikan yang dimiliki oleh masyarakat di daerah perbatasan sangatlah kurang sehingga ini berpengaruh juga pada kualitas individu mereka. Sebenarnya pendidikan dan kualitas individu ini sangat berkaitan erat di dalam modal budaya Pierre Bourdieu ini.

Pekerjaan pun juga demikian, dikarenakan rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat di daerah perbatasan hal ini ditandai dengan rendahnya pendidikan yang mereka miliki, maka pekerjaan mereka pun di daerah perbatasan bisa dikatakan kurang layak untuk bisa menghidupi keluarganya. Karena tingkat pendidikan mereka yang rendah, masyarakat di daerah perbatasan tidak bisa melamar kerja pada instansi-instansi pemerintahan setempat. Kebanyakan dari mereka bekerja serabutan, seperti berdagang ke Malaysia, sebagai buruh bangunan, nelayan, dan banyak juga yang tidak memiliki pekerjaan alias pengangguran. Miris memang potret pendidikan masyarakat di daerah perbatasan yang seharusnya masyarakat maju, melek akan pendidikan, dan makmur dari segi pekerjaan mereka, tapi pada kenyataannya mereka hidup dibawah garis kemiskinan dan keterbelakangan di dalam hal pendidikan. Semoga potret pendidikan yang terjadi di daerah perbatasan ini bisa menjadi pelajaran bagi pemerintah untuk terus memberikan perhatian lebih pada masyarakat di daerah perbatasan terutama di dalam masalah pendidikan.

Kesimpulan

(8)

Daftar Pustaka

(BUKU)

Bourdieu, Pierre, 1997, Outline of a Theory Practise, London,Cambrige University Pres

Halim, Abdul, Politik Lokal :Pola, Aktor dan Dramatikalnya, Lembaga Pengkajian Pembangunan Bangsa (LP2B) Yogyakarta

Referensi

Dokumen terkait

Keragaman sosial budaya merupakan modal penting dalam pembangunan nasional. Kekayaan sumber daya alam tidak akan menjamin kesejahteraan

Penerapan budaya fanatik meliputi penilaian indikator-indikator a) fanatik terhadap kultur teknis, b) fanatik terhadap target dengan bentuk implementasinya adalah setiap

Kajian ini bertujuan melihat persediaan guru pelatih Pendidikan Islam Universiti Teknologi Malaysia (UTM) bagi memenuhi keperluan modal insan yang meliputi keterampilan,

Adapun relevansi yang lebih luas dari diapresiasinya nilai-nilai demokrasi kepada akar budaya Banjar di atas adalah usaha untuk menginventarisir kembali modal sosial

Bagi investor dapat melihat semakin tinggi tingkat pengaruh modal intelektual yang diukur dengan efisiensi modal fisik (VACE) karena berpengaruh terhadap kinerja keuangan

Dalam penelitian ini juga ingin melihat “SMA” Senjoyo sebagai arena yang strategis dan merupakan arena perebutan sesuai dengan arena menurut Pierre Bourdieu..

3.3.3 Landasan Kultural Kultur dalam pendidikan terdapat keterkaitan dan timbal balik, jadi kultur budaya dapat dilestarikan/ menumbuhkan rasa cinta tanah air dengan cara memberikan/

Pengembangan kawasan strategis kota dari sudut kepentingan sosial budaya sebagaimana dimaksud meliputi: a pemugaran bangunan cagar budaya meliputi perbaikan dan peningkatan