• Tidak ada hasil yang ditemukan

STRATEGI PENINGKATAN PRODUKSI JAGUNG DAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "STRATEGI PENINGKATAN PRODUKSI JAGUNG DAN"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

STRATEGI PENINGKATAN PRODUKSI JAGUNG DAN

MENJAMIN KETERSEDIAAN JAGUNG BERKUALITAS

SANTA LUSYA SIMANJUNTAK D24100026

PENDAHULUAN

Jagung merupakan tanaman pangan kedua setelah padi dan sebagai sumber utama karbohidrat setelah beras. Jagung selain digunakan untuk bahan pangan juga digunakan sebagai pakan ternak dan bahan baku industri pakan. Tiga puluh tahun yang lalu, penggunaan jagung masih didominasi untuk pangan. Sejak awal tahun 1970-an, jagung mulai dimanfaatkan sebagai bahan pakan sumber energi untuk pakan unggas. Permintaan jagung untuk pakan terutama pakan unggas terus meningkat seiring berkembangnya industri pakan unggas (Tangendjaja, 2011).

Produksi jagung nasional tidak seimbang dengan kebutuhan jagung nasional yang terus meningkat seiring peningkatan industri pangan dan pakan. Produksi jagung di Indonesia berdasarkan data BPS (2013) menunjukkan bahwa produktivitas jagung tahun 2010 sebesar 44,36 Ku/Ha dengan produksi 18.327.636 ton. Pada tahun 2011, produktivitas jagung mengalami peningkatan menjadi 45,65 Ku/Ha. Tetapi, produksi jagung menurun menjadi 17.643.250 ton. Tahun 2012*

produktivitas jagung meningkat menjadi 48,93 Ku/Ha dengan produksi 19.377.030 ton. Pada tahun 2013, produksi jagung nasional diproyeksikan menjadi 26 juta ton pipilan kering (PK) (SEGNEG, 2013).

Jumlah populasi unggas yang diperkirakan 630 juta ekor per tahun ayam kampung, 1 milyar ekor per tahun ayam broiler dan petelur, dan plus puluhan juta bebek, burung dan lain-lain. Populasi unggas yang sangat banyak memerlukan penyediaan pakan ternak memadai (DKP, 2009). Menurut Tangendjaja (2007), produksi pakan Indonesia sebanyak 85-90% ditujukan untuk pakan unggas. Jagung merupakan bahan baku utama pakan unggas (sekitar 50% dari ransum). Permintaan jagung khususnya jagung hibrida untuk pakan ternak yang sangat tinggi

(2)

Permasalahan yang dijumpai dalam pengembangan jagung adalah fluktuasi produksi, harga, kualitas. Menurut Tangendjaja et al., (2011) permasalahan yang sering dijumpai pada jagung lokal adalah kadar air, mikotoksin, jagung pecah dan benda asing, serta variasi kandungan gizi.

PELUANG DI MASA MENDATANG Peningkatan Produktivitas

Peningkatan produktivitas dapat dicapai melalui perbaikan mutu benih (penggantian varietas komposit ke hibrida dan komposit unggul), pemupukan yang berimbang, pengendalian organisme penggangu tanaman (OPT), pengairan,

penggunaan alsintan untuk menekan kehilangan hasil pada saat panen. Jenis jagung yang digunakan untuk pakan adalah jenis hibrida. Jagung hibrida mirip dengan jagung impor. Jagung yang dikembangkan adalah jagung unggul (komposit unggul) yang biasa digunakan sebagai bahan baku pakan ayam petelur (Tangendjaja, 2011). Selain jagung hibrida, jagung hasil rekayasa genetik banyak dikembangkan untuk mendapatkan jagung yang berkualitas. Jagung hasil rekayasa genetik memiliki keunggulan yakni tahan terhadap serangga. Salah satu contoh jagung hasil rekayasa genetik adalah jagung Bt yang mampu mengurangi pencemaran mikotoksin

(Tangendjaja, 2011).

Beberapa jagung jenis baru dapat dikembangkan untuk meningkatkan produksi jagung yang berkualitas. Jagung jenis baru tersebut antara lain jagung berkadar lisin tinggi (High Lysine Corn), jagung berkadar fitrat rendah, jagung berkadar minyak tinggi, dan jagung Bacillus thuringiensis (Bt) (Tangendjaja, 2011). Kelemahan jagung kuning adalah rendahnya kandungan asam amino triptopan, lisin, metionin (Scott et al., 1982). Kekurangan asam amino lisin dapat diatasi dengan menggunakan jagung berkadar lisin tinggi. Namun, jagung berkadar lisin tinggi produksinya relatif lebih rendah dibandingkan jagung hibrida. Jagung berkadar minyak tinggi memiliki keunggulan yaitu kandungan energi metabolisme lebih tinggi dibandingkan jagung biasa, EM sebesar 3.560 kkal (Optimum, 1998).

Peningkatan produksi jagung dapat dilakukan melalui perluasan area

(3)

jagung juga sudah dilakukan di beberapa provinsi sentra produksi menurut ekosistem dan musim tanam. Peningkatan areal tanam di luar Jawa terutama Sumatera dan Sulawesi adalah konstributor penting dalam peningkatan produksi jagung di Indonesia (DKP, 2009).

Substitusi Jagung

Untuk mengatasi masalah ketersediaan jagung yang fluktuatif, maka dapat diupayakan melalui subtitusi jagung dengan bahan pakan lain yang kandungan energinya tinggi. Bahan pakan sebagai substitusi jagung antara lain sorgum, gaplek atau singkong, dedak padi, minyak (CPO). Sorgum dapat digunakan sebanyak 10% untuk menggantikan jagung karena keterbatasan produksi dan tidak tersedia

sepanjang tahun. Sorgum memiliki permasalahan kandungan tanin yang berpengaruh negatif terhadap unggas sehingga penggunaannya dalam jumlah sedikit. Singkong atau gaplek juga dapat menggantikan jagung. Namun, kandungan protein gaplek relatif rendah sehingga perlu penambahan sumber protein lain yang dapat menyebabkan biaya pakan menjadi mahal. Dedak padi juga dapat menggantikan jagung. Penggunaan dedak padi memiliki masalah pemalsuan dengan sekam. Sekam padi tidak memiliki nilai gizi sama sekali untuk unggas, sehingga penambahan sekam padi sebesar 20-40% dari total dedak padi sangat menurunkan nilai gizi dedak padi (Tangendjaja, 2007).

Inovasi Teknologi

Upaya peningkatan produksi dan produktivitas jagung dapat dilakukan dengan teknologi. Menurut SEGNEG (2013), teknologi tersebut dalam bentuk : 1. Fisik materi (bahan) seperti varietas unggul, pupuk (formulasi pupuk/ pupuk hayati), dan pestisida.

2. Rekomendasi teknologi diantaranya pemupukan, pengendalian organisme pengganggu tanaman (hama), dan penggunaan air.

3. Teknologi proses yakni produksi benih, produksi pupuk hayati, dan produksi pestisida hayati atau nabati.

(4)

KESIMPULAN

Jagung merupakan bahan pakan sumber energi yang paling banyak digunakan dalam ransum unggas. Fluktuatif produksi jagung, harga, variasi kandungan gizi adalah masalah yang sering djumpai. Masalah tersebut dapat diatasi dengan

(5)

DAFTAR PUSTAKA

Kasryno, F. 2005. Perkembangan produksi dan konsumsi jagung dunia dan implikasinya bagi Indonesia. Dalam: F. Kasryno, E. Pasandaran, dan A.M. Fagi (Eds.). Ekonomi jagung Indonesia, cet. II. Badan Litbang Pertanian. Jakarta.

Tangendjaja, B. 2007. Inovasi teknologi pakan menuju kemandirian usaha ternak unggas. WARTAZOA, Vol. 17. No. 1.

Ministry of State Secretariat of the Republic of Indonesia. 2013. Peran Teknologi Pertanian dalam Meningkatkan Produktivitas Tanaman Jagung.

http://www.setneg.go.id/index.php?

option=com_content&task=view&id=4360&Itemid=29. Diakses tanggal [ 21 April 2013 ].

BPS. 2010-2012. Produktivitas dan produksi jagung di Indonesia. BPS. Jakarta.

Dewan Ketahanan Pangan. 2009. Kebijakan Umum Ketahanan Pangan 2010-2014. Jakarta.

Optimum. 1998. Your Link to the Future of Poultry Production. Optimum Quality Grain Des Moines, Iowa.

Tangendjaja, B. dan E. Wina. 2011. Limbah tanaman dan produk sampingan industri jagung untuk pakan. Balai Penelitian Ternak, Bogor.

Kasryno, F., E. Pasandaran, dan A.M. Fagi. 2005. Dinamika produksi dan pengembangan sistem komoditas jagung Indonesia. Dalam: F. Kasryno, E. Pasandaran, dan A.M. Fagi (Eds.). Ekonomi jagung Indonesia, cet. II. Badan Litbang Pertanian. Jakarta.

Scott, M. L., M. C. Nesheim and R. J. Young. 1982. Nutrition of The Chicken . 3rd

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini mempunyai tujuan yaitu untuk menguji dan menganalisis pengaruh kompetensi fiskus dan kualitas pelayanan secara simultan maupun parsial terhadap kepuasan Wajib

diperoleh terdiri atas 16 buah judul iklan dengan 232 dialog. Berdasarkan analisis dapat disimpulkan bahwa ragak bahasa yangt terdapat dalam iklan acara di radio RRI Surakarta

DAN CSR AWARENESS DALAM MEMBENTUK BRAND EQUITY PRODUK ROKOK (Studi Deskriptif Kuantitatif tentang Kekuatan Merek Produk Rokok Kretek, Kretek Filter, Mild dan Rokok Putih di

Perdagangan Perancis secara keseluruhan yang meliputi ekspor dan impor di tahun 2002 bila dibandingkan dengan nilai perdagangan pada periode yang sama tahun 2001 mengalami kenaikan

d. Sebelah selatan desa Api-Api tidak terdapat bahasa. Sebelah timur desa Sotek berbahasa Bugis. Sebelah barat desa Sotek berbahasa Dayak. Sebelah utara desa Sotek berbahasa

Mengevaluasi struktur internal dari suatu tes berarti mengevaluasi validitas secara keseluruhan. Struktur internal ini sama dengan validitas konstrak. Struktur

3) Penyelesaian dan penerbitan akta kelahiran adalah 3 hari kerja, terhitung sejak diterimanya berkas persyaratan di kantor UPTSA. Pihak pengguna layanan wajib memenuhi

lay anan pemindahan no_tiket no_badge nama_pelanggan alamat_pelanggan nama_komplek distrik telpon_pelanggan email_pelanggan nama_paket paket_baru tgl_pemindahan